Anda di halaman 1dari 7

JENIS KEWIRAUSAHAAN DAN KEMITRAAN

Disusun oleh :
Septy Amorrinda
I1A111029

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2014

JENIS KEWIRAUSAHAAN DAN KEMITRAAN

Kata kewirausahaan (entrepreneurship) berasal dari Bahasa Perancis, yakni


entreprendre yang berarti melakukan (to under take) dalam artian bahwa
wirausahawan adalah seorang yang melakukan kegiatan mengorganisir dan
mengatur. Istilah ini muncul di saat para pemilik modal dan para pelaku ekonomi di
Eropa sedang berjuang keras menemukan berbagai usaha baru, baik sistem
produksi baru, pasar baru, maupun sumber daya baru untuk mengatasi kejenuhan
berbagai usaha yang telah ada. Kewirausahaan merupakan kemauan dan
kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai resiko dengan mengambil
inisiatif untuk menciptakan dan melakukan hal-hal baru melalui pemanfaatan
kombinasi berbagai sumberdaya dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang
terbaik kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dan memperoleh
keuntungan sebagai konsekuensinya. Jenis-jenis wirausaha:
1.

Wirausaha Bisnis. Wirausaha bisnis adalah mereka yang tekun menganalisis


kebutuhan-kebutuhan selera masyarakat terhadap barang-barang dan jasa.

2.

Wirausaha uang. Wirausaha uang adalah mereka yang menjalankan kegiatan


menyalurkan dan mengumpulkan dana yang bergerak dalampasar uang
dan modal.

3.

Wirausaha vak. Wirausaha vak adalah mereka yang memiliki keahlian khusus
dalam bidang produksi tertentu. Wirausaha ini dalam membaktikan prestasinya
adalah dalam bidang teknik, melakukan penemuan-penemuan baru, peniruan
dan perbaikan kualitas atas hasil barang produksinya

4.

Wirausaha manajer. Wirausaha manajer adalah mereka yang dapat melakukan


usahanya

dengan

menggunakan

pengetahuan

bisnis modern dan

memperhitungkanya dengan cara efisien


5.

Wirausaha Social Engineer. Wirausaha social engineer adalah mereka yang


berusaha mengikat para pekerja melalui karya sosialitas dan pertimbangan atas
moral dan kebenaran.
Selain itu, jenis kewirausahaan (Williamson, 1961) dapat dituliskan sebagai

berikut ini.
1.

Innovating

Entrepreneurship.

Bereksperimentasi

mempraktekkan transformasi-transformasi atraktif.

secara

agresif,

trampil

2.

Imitative Entrepreneurship. Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating


Entrepreneur.

3.

Fabian Entrepreneurship. Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal


tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali,
apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi
relatif pada industri yang bersangkutan.

4.

Drone Entrepreneurship. Drone= malas. Penolakan untuk memanfaatkan


peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus
produksi sekalipun hal tersbut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan
dengan produsen lain.
Di banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang

lain yang disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi
disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente). Selain itu, menurut Ir. Ciputra jenis
kewirausahaan dapat dibagi menjadi:
1.

Necessity Entrepreneur yaitu menjadi wirausaha karena terpaksa dan desakan


kebutuhan hidup.

2.

Replicative Entrepreneur,yang cenderung meniru-niru bisnis yang sedang


ngetren sehingga rawan terhadap persaingan dan kejatuhan.

3.

Inovatip Entrepreneur,wirausaha inovatip yang terus berpikir kreatif dlm melihat


peluang dan meningkatkannya.
Kemitraan adalah suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau

organisasi untuk bekerjasama mencapai tujuan, mengambil dan melaksanakan serta


membagi tugas, menanggung bersama baik yang berupa resiko maupun
keuntungan, meninjau ulang hubungan masing-masing secara teratur dan
memperbaiki kembali kesepakatan bila diperlukan. Selain itu, kemitraan juga dapat
dikatakan sebagai suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih
dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip
saling membutuhkan dan saling membesarkan. Sedangkan menurut PP No. 44
Tahun 1997 tentang Kemitraan, kemitraan adalah kerja sama usaha antara usaha
kecil dengan usaha menengah dan atau usaha besar dengan memperlihatkan
prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.
Kemitraan usaha baik dalam skala usaha kecil maupun skala besar pada
akhirnya tidak hanya sekedar memberi keuntungan pada pihak yang bermitra, tetapi

pula akan berdampak pada pihak-pihak lain atau masyarakat secara umum. Dalam
Kemitraan usaha, dapat Dilihat dari posisi pelaku yang bermitra, maka kemitraan
dapat dibedakan atas:
1.

Kemitraan vertical. Kemitraan antara beberapa perusahaan yang memiliki tahap


atau tingkatan kegiatan produksi yang berurutan, dari tahap paling awal sampai
tahap produksi akhir. Contoh: Kemitraan antara perusahaan yang tergabung
dalam usaha yang menghasilkan produk tas dari bahan enceng gondok.

2.

Kemitraan horizontal. Kemitraan dari sejumlah perusahaan yang memiliki


kegiatan usaha atau yang menghasilkan produk sejenis. Contoh: Kemitraan
antara perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk tas.
Berikut adalah pola kemitraan usaha:

1.

Inti plasma. Pola ini merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra
dengan perusahaan mitra, yang didalamnya perusahaan mitra bertindak
sebagai inti dan kelompok mitra sebagai plasma. Usaha besar sebagai inti
membina dan mengembangkan usaha kecil dalam hal penyediaan dan
penyiapan lahan, penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis produksi dan
manajemen usaha, perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi,
pembiayaan, pemasaran, penjaminan, pemberian informasi dan bantuan lain
untuk peningkatan efisiensi dan produktifitas dan wawasan usaha. Beberapa
keunggulan kemitraan pola inti plasma antara lain :
a.

Memberi manfaat timbal balik antara perusahaan besar atau menengah


sebagai inti dengan usaha kecil sebagai plasma melalui cara pengusaha
memberikan pembinaan serta pemasaran

b.

Sebagai upaya pemberdayaan pengusaha kecil di bidang teknologi, modal,


kelembagaan, dan lain-lain, sehingga pasokan bahan baku dapat lebih
terjamin dalam jumlah dan kualitas sesuai standar yang diperlukan

c.

Beberapa usaha kecil yang dibimbing usaha besar / menengah mampu


memenuhi skala ekonomi, sehingga dapat dicapai efisiensi

d.

Pengusaha besar / menengah yang mempunyai kemampuan dan kawasan


pasar yang lebih luas dapat mengembangkan komoditas yang mempunyai
keunggulan dan mampu bersaing di pasar dalam negeri maupun untuk
ekspor

2.

Sub kontrak. Pola sub kontrak merupakan hubungan kemitraan antara


kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang didalamnya kelompok mitra
memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari
produksinya. Usaha besar memberikan dukungan berupa:
a. Mengerjakan sebagian produksi dan/atau komponennya;
b. Memperoleh bahan baku yang di produksi secara berkesinambungan dengan
jumlah dan harga yang wajar.
c. Bimbingan dan kemampuan teknis produksi atau manajemen.
d. Perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi.
e. Pembiayaan dan pengaturan sistem pembayaran yang tidak merugikan salah
satu pihak.
f. Tidak melakukan pemutusan hubungan sepihak.

3.

Waralaba. Hubungan kemitraan, yang di dalamnya pemberi waralaba


memberikan hak penggunaan lisensi, merek dagang, dan saluran distribusi
perusahaannya kepada penerima waralaba dengan disertai bantuan bimbingan
manajemen
a. Pemberi waralaba dan penerima waralaba mengutamakan penggunaan
barang dan bahan hasil produksi dalam negeri.
b. Pemberi waralaba wajib memberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan,
bimbingan

operasional

manajemen,

pemasaran,

penelitian

dan

pengembangan kepada penerima waralaba.


4.

Perdagangan umum. Pola dagang umum merupakan hubungan kemitraan


antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang didalamnya perusahaan
mitra memasarkan hasil produksi kelompok mitra atau kelompok mitra memasok
kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra.
a. Kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan
dari usaha kecil secara terbuka.
b. Kebutuhan barang dan jasa yang diperlukan usaha besar dilakukan dengan
mengutamakan pengadaan hasil produksi usaha kecil atau mikro.
c. Sistem pembayaran dilakukan dengan tidak merugikan salah satu pihak.

5.

Distribusi dan keagenan. Pola keagenan merupakan hubungan kemitraan, yang


didalamnya kelompok mitra diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan
jasa usaha perusahaan mitra. Usaha besar atau usaha menengah memberikan

hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa kepada usaha mikro atau
usaha kecil.
6.

Bentuk kemitraan lain. Modal patungan dengan pihak asing berlaku ketentuan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

7.

Mitra diam (silent partner) adalah mitra yang tetap berbagi dalam keuntungan
dan kerugian pada usaha, tetapi tidak terlibat dalam mengelola usaha atau
keterlibatan mereka dalam usaha tidak diketahui umum. Mitra diam biasanya
hanya menyediakan modal

DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Koperasi dan UMKM RI. 2007. Modul Seri Kewirausahaan: Kemitraan
Usaha. Jakarta: Koperasi dan UMKM.
Kuswidanti. 2008. Gambaran Kemitraan Lintas Sektor Dan Organisasi Di Bidang
Kesehatan Dalam Upaya Penanganan Flu Burung Di Bidang Komunikasi
Komite Nasional Flu Burung Dan Pandemi Influenza (Komnas Fbpi) Tahun
2008. Depok: Universitas Indonesia.
Margaretta H. 2013. Pola-Pola Kemitraan dalam Bisnis. Palembang: Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi Multi Data Palembang.
Rukka RM. 2011. Buku Ajar Kewirausahaan-1. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Sanusi A. 2012. Jenis-Jenis dan Pola Kemitraan Usaha. Mataram: Badan Koordinasi
Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan.
Simatupang L. 2011. Penerapan Pola Kemitraan Dengan Sistem Gaduhan
Terhadap Kesejahteraan Petani/Peternak Di Kecamatan Pantai Cermin
Kabupaten Serdang Bedagai. Medan: Universitas Sumatera Utara.