Anda di halaman 1dari 13

CRUDE OIL SEBAGAI BAHAN BAKAR TRANSPORTASI

Proses pengolahan minyak bumi sendiri terdiri dari dua jenis proses utama, yaitu Proses Primer d
an Proses Sekunder. Sebagian orang mendefinisikan Proses Primer sebagai proses fisika, sedang
kan Proses Sekunder adalah proses kimia. Hal itu bisa dimengerti karena pada proses primer bias
anya komponen atau fraksi minyak bumi dipisahkan berdasarkan salah satu sifat fisikanya, yaitu
titik didih. Sementara pemisahan dengan cara Proses Sekunder bekerja berdasarkan sifat kimia ki
mia, seperti perengkahan atau pemecahan maupun konversi, dimana didalamnya terjadi proses p
erubahan struktur kimia minyak bumi tersebut.
Dalam Kimia Organik bahwa senyawa hidrokarbon, terutama yang parafinik dan aromatik, mem
punyai trayek didih masingmasing, dimana panjang rantai hidrokarbon berbanding lurus dengan titik didih dan densitasnya.
Semakin panjang rantai hidrokarbon maka trayek didih dan densitasnya semakin besar. Nah, sifat
fisika inilah yang kemudian menjadi dasar dalam Proses Primer.
Jumlah atom karbon dalam rantai hidrokarbon bervariasi. Untuk dapat dipergunakan sebagai bah
an bakar maka dikelompokkan menjadi beberapa fraksi atau tingkatan dengan urutan sederhana s
ebagai berikut :
1. Gas
Rentang rantai karbon : C1 sampai C5
Trayek didih : 0 sampai 50C
Peruntukan : Gas tabung, BBG, umpan proses petrokomia.
2. Gasolin (Bensin)
Rentang rantai karbon : C6 sampai C11
Trayek didih : 50 sampai 85C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar penerbangan bermesin piston, umpan proses petro
komia
3. Kerosin (Minyak Tanah)
Rentang rantai karbon : C12 sampai C20
Trayek didih : 85 sampai 105C

Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar penerbangan bermesin jet, bahan bakar rumah tan
gga, bahan bakar industri, umpan proses petrokimia
4. Solar
Rentang rantai karbon : C21 sampai C30
Trayek didih : 105 sampai 135C
Peruntukan : Bahan bakar motor, bahan bakar industri
5. Minyak Berat
Rentang rantai karbon dari C31 sampai C40
Trayek didih dari 130 sampai 300C
Peruntukan : Minyak pelumas, lilin, umpan proses petrokimia
6. Residu
Rentang rantai karbon diatas C40
Trayek didih diatas 300C
Peruntukan : Bahan bakar boiler (mesin pembangkit uap panas), aspal, bahan pelapis anti bocor.
Bahan bakar untuk transportasi terbentuk dari proses distilasi Kerosin(minyak tanah), Biasanya,
kerosin didistilasi langsung dari minyak mentah membutuhkan perawatan khusus, dalam sebuah
unit Merox atau, hidrotreater untuk mengurangi kadar belerangnya dan pengaratannya. Kerosin d
apat juga diproduksi oleh hidrocracker, yang digunakan untuk mengupgrade bagian dari minyak
mentah yang akan bagus untuk bahan bakar minyak.
Bensin
Bensin digunakan untuk bahan bakar utama kendaraan bermotor. Sebagian besar bensin tersusun
dari hidrokarbon alifatik yang diperkaya dengan isooktana atau benzena untuk menaikkan nilai oktan.
Janis-jenis bensin :
1. Premium
Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Premium m
erupakan BBM untuk kendaraan bermotor yang paling populer di Indonesia. Premium di Indones
ia dipasarkan oleh Pertamina dengan harga yang relatif murah karena memperoleh subsidi dari A
nggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Premium merupakan BBM dengan oktan atau Research

Octane Number (RON) terendah di antara BBM untuk kendaraan bermotor lainnya, yakni hanya
88. Pada umumnya, Premium digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensi
n, seperti: mobil, sepeda motor, motor tempel, dan lainlain. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau petrol. Penggunaan Premium dalam
mesin berkompresi tinggi, akan menyebabkan mesin mengalami knocking atau ngelitik. Sebab
, Premium di dalam mesin kendaraan akan terbakar dan meledak tidak sesuai dengan gerakan pis
ton. Knocking menyebabkan tenaga mesin berkurang, sehingga terjadi inefisiensi.
2. Pertamax
Pertamax adalah bahan bakar minyak andalan Pertamina. Pertamax, seperti halnya Premium, ada
lah produk BBM dari pengolahan minyak bumi. Pertamax dihasilkan dengan penambahan zat adi
tif dalam proses pengolahannya di kilang minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tahun
1999 sebagai pengganti Premix 98 karena unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Selain
itu, Pertamax memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium.
3. Pertamax Plus
Pertamax Plus adalah bahan bakar minyak produksi Pertamina. Pertamax Plus, seperti halnya Per
tamax dan Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi, dihasilkan dengan pena
mbahan zat aditif dalam proses pengolahannnya di kilang minyak. Pertamax Plus merupakan bah
an bakar yang sudah memenuhi standar performa International World Wide Fuel Charter (IWWF
C). Pertamax Plus adalah bahan bakar untuk kendaraan yang memiliki rasio kompresi minimal 1
0,5, serta menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve Timing Intelli
gent (VVTI), (VTI), Turbochargers, dan catalytic converters.
Karena memiliki oktan tinggi, maka Pertamax Plus bisa menerima tekanan pada mesin berkompr
esi tinggi. Sehingga dapat bekerja dengan optimal pada gerakan piston. Hasilnya, tenaga mesin y
ang menggunakan Pertamax Plus lebih maksimal, karena BBM digunakan secara optimal. Sedan
gkan pada mesin yang menggunakan Premium, BBM terbakar dan meledak tidak sesuai dengan
gerakan piston. Gejala ini yang dikenal dengan knocking atau mesin ngelitik.
Avtur
Avtur merupakan bahan bakar pesawat terbang jenis jet. Avtur sering disebut dengan JetA. avtur merupakan jenis kerosin. Avtur adalah bahan bakar dari fraksi minyak bumi yang diranc
ang sebagai bahan bakar pesawat terbang yang menggunakan mesin turbin atau mesin yang mem
iliki ruang pembakaran eksternal (External Combustion Engine). Kinerja atau kehandalan avtur t
erutama ditentukan oleh karakterisasi dari kebersihan, pembakaran, dan performanya pada tempe
rature rendah. Berdasarkan spesifikasi tersebut, Avtur harus memenuhi persyaratan yang dibutuh

kan, seperti memiliki titik beku maksimum 470C dan titik nyala minimum 380C. titik didihnya antara 150 300 0C
Syarat Syarat avtur
a. Syarat Kenampakan
Syarat kenampakan dari avtur adalah apabila dilihat dengan mata telanjang avtur tetap jernih, te
mbus sinar, bebas dari partikel
partikel padat dan cair yang tidak terlarut pada susunan sekeliling yang normal.
a. Syarat Komposisi Senyawa Senyawa Kimia
Secara kimiawi avtur tersusun atas senyawa hidrokarbon (berupa parafin, naften, dan aromat) da
n senyawa impirities dalam jumlah kecil serta additive. Senyawaan tersebut tersebut dibatasi keb
eradaannya didalam avtur, hal ini erat kaitannya dengan sifat
sifat avtur baik mutu bakar, stabilitas pada penyimpanan dan pemakaian maupun sifat korosifita
s avtur tersebut.
Komposisi senyawa kimia dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan:
1. Jumlah Keasaman
2. Aromatik
3. Jumlah Sulfur
4. Sulfur Mempekatkan
b. Syarat Penguapan
Sifat penguapan sifat kecenderungan bahan avtur berubah fase cair ke fase gas. Didalam hidrokar
bon yang kompleks. Seperti avtur mempunyai trayek didih atau daerah suhu pendidihan atau ke
mudahan menguap tertentu, sesuai dengan komposisi hidrokarbon yang terkandung didalamnya.
Sifat penguapan dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan:
1. Destilasi

2. Titik Nyala
3. Densitas
c. Syarat Pengaliran
Sifat pengaliran avtur dibatasi mengigat avtur harus dapat digunakan sebagai bahan bakar pesaw
at terbang yang beroperasi pada suhu maksimal
450C, avtur harus disemprotkan ke ruang bakar.
Sifat pengaliran dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan:
1. Freezing Point
2. Viskositas Kinetik pada 200C.
d. Syarat pembakaran
Sifat pembakaran sangat penting untuk mengetahui nilai kalori yang dihasilkan dalam pembakar
an yang sempurna dan untuk menghindari terjadinya radiasi panas yang berlebihan dari senyawa
yang terkandung dalam avtur. Sifat pembakaran dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan:
1. Energi Spesifik
2. Smoke Point
3. Naptalen
e. Syarat Pengkaratan
Sifat pengkaratan ini ditimbulkan adanya senyawa belerang yang reaktif yang akan menimbulka
n kerusakan
kerusakan pada sistem distribusi bakar maupun pada bagian yang lain dalam pesawat. Sifat peng
karatan dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan Coppet Strip Corrosion.
f. Syarat Kontaminasi

Kontaminasi yang dimaksudkan adalah adanya senyawa


senyawa pengotor yang keberadaannya tidak diinginkan, antara lain adanya kandungan air yang
teremulsi dalam avtur.
Adanya kontaminasi dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan:
1. Existen Gum
2. Water Reaktion Intertface
3. Microseparometer
g. Syarat Kestabilan
Syarat kestabilan avtur adalah kondisi avtur selama penyimpanan dan pemakaian. Hal ini diseba
bkan adanya suhu yang cukup tinggi yang cenderung dapat menimbulkan deposite. Sifat kestabil
an dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan termal stanbility.
h. Syarat Daya Hantar Listrik
Karena avtur termasuk fraksi minyak bumi yang mempunyai sifat mudah terbakar, maka kemung
kinan timbulnya bahaya kebakaran sangat besar. Bahaya kebakaran ini dapat terjadi akibat timbu
lnya listrik statis yang terakumulasi pada saat pemompaan avtur dengan kecepatan alir yang cuku
p tinggi. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan static disssipator additives ke dalam avtur.
Daya hantar listrik dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan electrical conductivity.
l. Syarat Pelumasan
Kehausan karena gesekan yang berlebihan mengakibatkan umur komponen menjadi pendek sepe
rti pada pompa fuel dan kontrol fuel, yang kadang
kadang dianggap berasal dari avtur kekurangan sifat pelumasan. Pelumasan pada avtur dapat dit
unjukkan dengan pemeriksaan lucbricity (Mudjirahardjo.2002).
Spesifikasi avtur adalah batasan
batasan yang harus dipenuhi oleh bahan bakar minyak, yang bertujuan agar bahan bakar tersebut
aman, nyaman serta ekonomis dalam pemakaiannya.

Spesifikasi tersebut biasanya berupa angka batasan minimum atau maksimum dengan mengguna
kan metode tertentu tergantung dari klasifikasi bahan bakar yang bersangkutan, khususnya yang
berhubunggan dengan keamanan dan keselamatan dalam penggunaannya. Karena avtur digunaka
n oleh pesawat terbang bermesin turbin (jet) yang mempunyai resiko keselamatan tinggi bila dib
andingkan dengan bahan bakar yang lainnya. Maka spesifikasi yang ditentukan terhadap avtur sa
ngat ketat sesuai dengan standar internasional.
Adapun tahapan proses pengolahan untuk mendapatkan avtur adalah :
1. Destilasi Atmosfir
Pada toping unit (Crude Destilation Unit CDU), Crude oil yang diolah merupakan campuran anta
ra Sumatra Light Crude (SLC) dan Duri Crude Oil (DCO), CDU bekerja pada temperatur 3500
C dan tekanan 1 atmosfir.
Dari proses destilasi ini dihasilkan produk antara lain :
1. Naptha
2. Kerosin
3. Light Gas Oil
4. Heavy Gas Oil
5. Long Residu
6. Destilasi Hampa (Vacum Destilation)
Long Residu yang dihasilkan CPU, digunakan sebagai umpan pada Heavy Vacum Unit pada teka
nan 40 mmHg temperatur 3900C.
Dari unit destilasi hampa ini menghasilkan produk yaitu :
1. Light Vacum Gas Oil (LVGO)
2. Heavy Vacum Gas Oil (HVGO), sebagai umpan pada unit Hydrocracking.

3. Short Residu
4. Delayed Coker Unit (DCU)
Short residu yang dihasilkan dari heavy vacum unit, digunakan sebagai umpan pada delayed cok
er unit (DCU) yang bekerja pada temperatur 3200C dan tekanan 0.98 kg/cm2.
Dari Delayed Coker Unit(DCU) dihasiklkan produk antara lain :
1. Naptha
2. Kerosin
3. Light Coker Gas Oil (HCOGO), dipakai sebagai umpan Hydrocracking
4. Green Coke
Dengan spesifikasi tertentu produk produk diatas digunakan sebagai bahan baku dari avtur.
Pertamina berhasil mengubah Minyak Tanah menjadi Avtur, produk yang bernilai jual lebih ting
gi. Melalui secondary process, Minyak Tanah yang dihasilkan kilangkilang Pertamina yang berada di Dumai, Balikpapan dan Cilacap berhasil diolah menjadi bahan b
akar minyak untuk pesawat, karena spesifikasi kedua minyak ini tidak jauh beda.

Keberhasilan Pertamina mengekspor Avtur betul-betul merupakan berita gembira di tengahtengah krisis global yang tengah melanda dunia saat ini. Betapa tidak, Pertamina yang dulu meng
impor bahan bakar pesawat ini sebanyak 300.000 barel perbulan, kini berbalik menjadi perusaha
an yang melakukan eskpor. Direncanakan Pertamina akan melakukan eskpor Avtur bergantian se
tiap bulannya melalui kilang Dumai, Balikpapan dan Cilacap.

Minyak Diesel (Solar)

Bahan bakar solar tersusun atas ratusan rantai hidrokarbon yang berbeda, yaitu pada rentang 12
sampai 18 rantai karbon, yang mempunyai trayek didih antara 260315 oC. Hidrokarbon yang terdapat dalam minyak solar meliputi paraffin, naftalena, olefin dan a
romatic (mengandung 24% aromatic berupa benzene, toluene, xilena dan lainlain), dimana temperatur penyalaannya akan menjadi lebih tinggi dengan adanya hidrokarbon vo
latile yang lebih banyak.
Bahan bakar solar atau minyak solar adalah bahan bakar yang digunakan untuk mesin diesel puta
ran tinggi di atas 1000 rpm. Bahan bakar solar disebut juga High Speed Diesel (HSD) atau Auto
motif Diesel Oil (ADO). Mutu minyak solar yang baik adalah bahwa minyak solar harus memen
uhi batasan sifatsifat yang tercantum pada spesifikasi dalam segala cuaca. Secara umum minyak solar adalah mu
dah teratomisasi menjadi butiranbutiran halus, sehingga dapat segera menyala dan terbakar dengan sempurna sesuai dengan kondi
si dalam ruang bakar.
Berbeda dengan bensin yang memiliki rantai karbon lebih pendek, rantai karbon solar yang panja
ng menyebabkan besarnya energi yang diperlukan untuk menghancurkan seluruh ikatan molekul
er pada solar : timbulnya asap hitam yang khas pada saluran buang mesin diesel disebabkan tidak
semua partikel solar dapat dihancurkan.
Karakteristik Minyak Solar
Penggunaan minyak solar harus aman, tidak membahayakan manusia, tidak merusak mesin, haru
s efisien dalam penggunaanya serta tidak menimbulkan pencemaran bagi lingkungan. Untuk me
mberi jaminan mutu bagi pelanggan dalam hal keselamatan dan kenyamaan, minyak solar secara
cepat dapat dilihat dari sifat/spesifikasi.
a. Sifat Umum
Sifat umum minyak solar sangat erat hubungannya dengan pemuatan, kontaminasi, material bala
nce dan transaksi jual-beli.
Sifat umum minyak solar sesuai spesifikasi ditunjukkan pada pengujian :
-

Specific Gravity 60/60 oF, ASTMD 1298

Density 15 oC, ASTMD 1298

Sifat Mutu Pembakaran ( ignition quality)


Minyak solar dapat memberikan kerja mesin yang memuaskan apabila dapat menghasilkan pemb
akaran sempurna dalam ruang bakar. Udara yang dikompresikan ke dalam ruang bakar mesin sa
mpai tekanan antara 20-30 kg/cm2 sehingga suhu dalam ruang bakar berkisar 650750oC. Pembakaran yang sempurna dapat dilakukan dengan menginjeksikan bahan bakar (berupa kabut) ke dalam ruang bakar yang di dalamnya terdapat udara panas s
ehingga mampu menyalakan bahan bakar. Pembakaran yang terjadi menyebabkan tekanan dalam
ruang bakar naik secara mendadak dan menimbulkan tenaga. Bila hal ini dipenuhi, maka tidak a
kan terjadi ketukan (knocking) di dalam mesin.
b. Sifat Pengkaratan (corrosivity)
Unsur-unsur dalam minyak solar di samping hidrokarbon, terdapat pula unsurunsur sulfur, oksigen, nitrogen, halogen dan logam. Senyawa unsur yang bersifat korosif adalah s
enyawa sulfur. Senyawasenyawa sulfur dalam minyak solar yang korosif dapat berupa hidrogen sulfida, merkaptan, tiofe
na. Pada pembakaran bahan bakar senyawaan sulfur akan teroksidasi oleh oksigen dalam udara
menghasilkan oksida sulfur. Bila oksida sulfur ini bereaksi dengan uap air akan menghasilkan as
am sulfat. Terbentuknya asam sulfat ini dapat bereaksi dengan logam, terutama dalam gas buang.
Terdapatnya senyawaan sulfur dalam minyak solar dapat juga ditunjukkan oleh tingkat keasama
n minyak solar itu. Makin tinggi sifat keasaman sifat pengkaratan makin besar terutama bila min
yak solar terdapat strong acid number. Sifat pengkaratan minyak solar sesuai spesifikasi ditunjuk
kan pada pengujian :
-

Kandungan sulfur, ASTM D. 1266

Copper strip corrosion, ASTMD 130

Strong acid number, ASTMD 974

Total acid number, ASTMD 974

c. Sifat Kebersihan (cleanless)

Sifat kebersihan minyak solar yang berhubungan dengan ada atau tidaknya kotoran yang terdapat
di dalam minyak solar, sebab kotoran ini akan berpengaruh terhadap mutu, karena dapat mengak
ibatkan kegagalan dalam suatu operasi dan merusak mesin. Kotoran itu dapat berupa air, lumpur,
atau endapan atau sisa pembakaran yang berupa abu dan karbon. Untuk itu makin kecil adanya k
otoran di dalam minyak solar makin baik mutu bahan bakar tersebut. Sifat kebersihan minyak sol
ar sesuai spesifikasi ditunjukkan pada pengujian :
1. Color ASTM, ASTMD 1500
2. Water content, ASTMD 96
3. CCR (10 % vol. bottom), ASTMD 189
4. Ash content, ASTMD 482
5. Sediment by Extraction, AST
d. Sifat Keselamatan
Sifat keselamatan minyak solar meliputi keselamatan di dalam pengangkutan, penyimpanan dan
penggunaan. Minyak solar harus memiliki salah satu sifat keselamatan yaitu bahwa minyak solar
tidak terbakar akibat terjadi loncatan api. Sifat keselamatan minyak solar sesuai spesifikasi ditun
jukkan pada pengujian : Flash Point, ASTMD 93
e. Sifat Kemudahan Mengalir
Sifat kemudahan mengalir minyak solar dinyatakan sebagai viskositas dinamik dan viskositas ki
netik. Viskositas dinamik adalah ukuran tahanan untuk mengalir dari suatu zat cair, sedang visko
sitas kinetik adalah tahanan zat cair untuk mengalir karena gaya berat. Bahan yang mempunyai v
iskositas kecil menunjukkan bahwa bahan itu mudah mengalir, sebaliknya bahan dengan viskosit
as tinggi sulit mengalir. Suatu minyak bumi atau produknya mempunyai viskositas tinggi berarti
minyak itu mengandung hidrokarbon berat (berat molekul besar), sebaliknya viskositas rendah m
aka minyak itu banyak mengandung hidrokarbon ringan.
Viskositas minyak solar erat kaitannya dengan kemudahan mengalir pada pemompaan, kemudah
an menguap untuk pengkabutan dan mampu melumasi fuel pump plungers. Penggunaan bahan b
akar yang mempunyai viskositas rendah dapat menyebabkan keausan pada bagian-

bagian pompa bahan bakar. Apabila bahan bakar mempunyai viskositas tinggi, berarti tidak mud
ah mengalir sehingga kerja pompa dan kerja injektor menjadi berat.
Sifat kemudahan mengalir minyak solar sesuai spesifikasi ditunjukkan pada pengujian :
-

Viskositas Kinematik, ASTMD 445

Pour Point, ASTMD 97

Menurut jenisnya solar dibagi menjadi 3 :


1.

MFO (Marine fuel Oil)

Minyak Bakar bukan merupakan produk hasil destilasi tetapi hasil dari jenis residu yang berwarn
a hitam. Minyak jenis ini memiliki tingkat kekentalan yang tinggi dibandingkan minyak diesel.
Pemakaian BBM jenis ini umumnya untuk pembakaran langsung pada industri besar dan diguna
kan sebagai bahan bakar untuk steam power station dan beberapa penggunaan yang dari segi eko
nomi lebih murah dengan penggunaan minyak bakar. Minyak Bakar tidak jauh berbeda dengan
Marine Fuel Oil (MFO) Biodiesel Jenis Bahan Bakar ini merupakan alternatif bagi bahan bakar d
iesel berdasar petroleum dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak nebati atau hewan.
Secara kimia, ia merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran monoalkyl ester dari rantai panjang asam lemak. Jenis Produk yang dipasarkan saat ini merupakan pro
duk biodiesel dengan campuran 95 persen diesel petrolium dan mengandung 5 persen CPO yang
telah dibentuk menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Pertamina Dex Adalah bahan bakar me
sin diesel modern yang telah memenuhi dan mencapai standar emisi gas buang EURO 2, memili
ki angka performa tinggi dengan cetane number 53 keatas, memiliki kualitas tinggi dengan kand
ungan sulfur di bawah 300 ppm, jenis BBM ini direkomendasikan untuk mesin diesel teknologi i
njeksi terbaru (Diesel Common Rail System), sehingga pemakaian bahan bakarnya lebih irit dan
ekonomis serta menghasilkan tenaga yang lebih besar.
2.

High Speed Diesel (HSD)

Merupakan BBM jenis solar yang memiliki angka performa cetane number 45, jenis BBM ini u
mumnya digunakan untuk mesin trasportasi mesin diesel yang umum dipakai dengan sistem inje

ksi pompa mekanik (injection pump) dan electronic injection, jenis BBM ini diperuntukkan untu
k jenis kendaraan bermotor trasportasi dan mesin industri.
3.

Diesel Oil (IDO)

Merupakan hasil penyulingan minyak yang berwarna hitam yang berbentuk cair pada temperatur
rendah. Biasanya memiliki kandungan sulfur yang rendah dan dapat diterima oleh Medium Spee
d Diesel Engine di sektor industri. Oleh karena itulah, diesel oil disebut juga Industrial Diesel Oil
(IDO) atau Marine Diesel Fuel (MDF).
Sumber :
Rock Chemistry.blogspot.com
Collins, Chris (2007). Implementing Phytoremediation of Petroleum Hydrocarbons. Methods in
Biotechnology. 23. Humana Press. hlm. 100. ISBN 1588295419.
Our Products Indonesia. Shell Indonesia.
http://www.shell.co.id/home/content/idn/products_services/on_the_road/fuels/our_products/.
Media Pertamina No. 24, Tahun XLV, 15 Juni 2009
Rehmanisa.blogspot.com

TANGGALMARET 13, 2013


TAGAVTUR, BENSIN, CRUDE OIL, GEOLOGI, KEROSIN, MINYAK, MINYAK MENTAH, SOLAR, TUGAS
KOMENTARTINGGALKAN KOMENTAR