Anda di halaman 1dari 17

BAB I

ILUSTRASI KASUS

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
STATUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
SMF PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSPAD GATOT SOEBROTO

STATUS PEMERIKSAAN PASIEN


I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. E

Umur

: 37 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Cileungsi, Bogor

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Tanggal Periksa

: 24 April 2013

ANAMNESIS
Diambil dari
Keluhan Utama
Keluhan Tambahan

: Autooanamnesis tanggal 24 April 2013 pukul 10.30 WIB


: Bercak-bercak putih di lengan kiri atas bagian luar
: Gatal bila sedang berkeringat.

Riwayat Perjalanan Penyakit :


Sejak 1 tahun yang lalu timbul bercak bercak putih di daerah lengan kiri atas
bagian luar. Awalnya bercak tersebut berjumlah 1 buah dan berukuran kecil namun
semenjak 6 bulan terakhir ini jumlahnya bertambah serta menjadi meluas. Saat ini
pasien mengaku kadang terasa gatal apabila sedang berkeringat. Pasien mengaku
keluhannya ini belum pernah diobati.
1

Pasien mengaku mandi 2 kali sehari akan tetapi sering memakai handuk yang
sama bergantian dengan suaminya. Selalu mengganti baju setelah mandi dan tidak
pernah menggunakan baju secara bergantian dengan anggota keluarga lain maupun
orang lain. Namun saat pasien berkeringat pasien jarang mengganti bajunya. Baju
pasien dicuci bersama dengan pakaian anggota keluarga yang lain.
Riwayat Penyakit Dahulu

: Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga

: Pasien mengaku tidak ada yang mengalami keluhan


seperti ini di keluarganya.

III.

STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Keadaan gizi

: BB : 68 kg
: TB : 163 cm
BMI : 25,5 = Overweight

Tanda Vital

: TD: 110/70 mmHg

Nadi: 88x/menit

: RR: 18x/menit

Suhu: Afebris

Kepala

: Normochepali, rambut hitam, distribusi merata

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Bentuk normal, deviasi septum tidak ada, sekret (-)

Tenggorokan

: Faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang

Leher

: Tidak ada pembesaran KGB,tiroid membesar (-/-)

Toraks

: Simetris saat statis dan dinamis

Paru

: SD vesikuler, Rh (-), Wh (-)

Jantung

: BJ I-II murni reguler. Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen

: datar, BU (+) normal, supel, timpani seluruh lapang


abdomen

Ekstremitas

IV.

: Akral hangat, CRT < 2, edema(-/-)

STATUS DERMATOLOGIKUS
Lokasi

: Regio brachii sinistra.

Efloresensi

: Terdapat bercak-bercak hipopigmentasi, multiple, ukuran lentikuler


sampai numular, berbatas tegas, dengan skuama halus diatasnya.

Lengan kiri atas bagian luar

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Lampu Wood (+) dengan fluoresensi kuning keemasan

KOH 10% diambil dari bercak hipopigmentasi di lengan kiri atas.

Pemeriksaan KOH 10%

Terlihat hifa pendek dengan spora berkelompok.

VI.

RESUME
Pasien Ny. E, seorang perempuan usia 37 tahun datang dengan keluhan bercak
putih pada lengan kiri atas bagian luar yang sudah dirasakan sejak 1 tahun lalu. Sejak
6 bulan terakhir bercak bertambah banyak dan semakin meluas. Keluhan lain berupa
gatal dirasakan terutama saat berkeringat. Pasien mempunyai kebiasaan sering
menggunakan handuk untuk mandi yang sama dengan suaminya serta jarang
mengganti pakaiannya bila berkeringat. Pada status generalis dalam batas normal dan
status dermatologikus pada lengan kiri atas bagian luar terdapat bercak-bercak
hipopigmentasi, multiple, ukuran lentikuler sampai numular, berbatas tegas, dengan
skuama halus diatasnya. Pada pemeriksaan penunjang dengan menggunakan lampu
Wood didapatkan fluoresensi kuning keemasan, dan dengan pemeriksaan KOH 10 %
terlihat hifa pendek dengan spora berkelompok.

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Pitiriasis Versicolor.

VIII. DIAGNOSIS BANDING


Tidak Ada.
IX.

PEMERIKSAAN ANJURAN
Tidak ada

X.

PENATALAKSANAAN
1.

Non Medikamentosa

Menjaga kebersihan badan.

Tidak menggunakan handuk secara bersamaan dengan orang lain.

Menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan hindari


pakaian yang terlalu ketat.

2.

Bila sedang berkeringat maka pakaian harus segera diganti.

Menyarankan pasien untuk mengurangi berat badan.

Medikamentosa

Topikal
Mikonazole nitrate cream 2% dioleskan 2x sehari untuk lesi 2 sampai 3
minggu.

XI.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

bonam

Quo ad functionam

bonam

Quo ad sanationam

bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PITIRIASIS VERSIKOLOR

A.

B.

SINONIM : 1

Tinea Versikolor

Kromofitosis

Dermatomikosis

Liver spots

Tinea flava

Pitiriasis versikolor flava

Panau

DEFINISI

Pityriasis versicolor yang disebabkan Malassezia furfur merupakan penyakit


jamur superfisial yang kronik yang menyerang stratum korneum2, biasanya tidak
memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih
sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang dapat menyerang
ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala berambut.1

C.

EPIDEMIOLOGI

Pitiriasis versicolor adalah penyakit universal dengan prevalensi dilaporkan


bahwa pitiriasis versicolor lebih sering terjadi di daerah dengan suhu tinggi dan
kelembaban relatif yang lebih tinggi. Di Amerika Serikat, tinea versicolor paling
sering terjadi pada orang usia 15-24 tahun, ketika kelenjar sebaceous lebih aktif.
Terjadinya tinea versicolor sebelum pubertas atau setelah usia 65 tahun ini jarang
terjadi. Di negara-negara tropis, frekuensi usia lebih bervariasi; banyak kasus
melibatkan orang-orang
8

berusia 10-19 tahun yang tinggal didaerah lebih hangat, lembab, seperti Liberia dan
India.2

D.

ETIOLOGI
Malassezia dikenal sebagai agen etiologi dari Pitiriasis Versicolor. Tinea
versicolor disebabkan oleh organisme dimorfik lipofilik, dalam genus Malassezia,
sebelumnya dikenal sebagai Pityrosporum. Sebelas spesies diakui dalam klasifikasi
jamur ini. Malassezia globosa dan Malassezia furfur adalah spesies dominan terkait
dengan tinea versicolor. Malassezia secara alami ditemukan pada permukaan kulit
banyak binatang, termasuk manusia. Memang, dapat dipisahkan dalam 18% bayi dan
9-10% dari orang dewasa. Ada tujuh spesies diusulkan dalam genus Malassezia
berdasarkan molekul, morfologi dan profil biokimia: tergantung jenis lipid yaitu enam
M.furfur, M.sympodialis, M. globosa, M.obtusa, restricta M. dan M.slooffiae dan satu
lipid independen spesies, Malassezia pachydermatis. 3,4,5
Meskipun Malassezia adalah komponen flora normal, juga bisa menjadi
patogen oportunistik. Organisme ini dianggap sebagai faktor dalam penyakit kulit
lainnya, termasuk Pityrosporum folikulitis, anak sungai dan retikular papillomatosis,
dermatitis seboroik, dan beberapa bentuk dermatitis atopik, reticular papillomatosis,
capitis pityriasis dan psoriasis serta infeksi sistemik.2
Penyebab pityriasis versicolor adalah Malassezia furfur, jamur lipid-dependent
dimorfik yang ada pada kulit yang sehat pada fase jamur dan menyebabkan lesi klinis
hanya ketika pertumbuhan hifa besar terjadi. Lembab dan panas lipidcontaining
sekresi sebasea mendorong pertumbuhan berlebih cepat.5 M.furfur (sebelumnya
dikenal sebagai Pityrosporum ovale, P. orbiculare) adalah ragi lipofilik yang biasanya
berada di keratin kulit dan rambut individu pada pubertas dan seterusnya. Ini
merupakan

organisme

oportunistik,

menyebabkan

pityriasis

versicolor

dan

folliculitis.3
E.

PATOFISIOLOGI

Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya pitiriasis
versikolor oleh Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau Pityrosporum
9

ovale yang berbentuk ovale. Keduanya merupakan organism yang sama, dapat
berubah sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu, media, dan kelembaban.1
Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Faktor predisposisi
menjadi pathogen dapat secara endogen maupun eksogen. Endogen dapat disebabkan
di antaranya oleh defisiensi imun. Eksogen dapat karena faktor suhu, kelembaban
udara, dan keringat. 1 Organisme ini dapat ditemukan pada kulit yang sehat dan pada
daerah kulit yang menunjukkan penyakit kulit. Pada pasien dengan penyakit klinis,
organisme ditemukan di kedua tahap yaitu jamur (spora) dan bentuk berserabut
(hyphal). Faktor-faktor yang mengarah pada konversi jamur saprophytic ke bentuk,
morfologi parasit miselium termasuk kecenderungan genetik; hangat, lingkungan
lembab; imunosupresi, malnutrisi, dan penyakit Cushing. Human peptide cathelicidin
LL-37 berperan dalam pertahanan kulit terhadap organisme ini. Meskipun Malassezia
adalah komponen flora normal, juga bisa menjadi patogen oportunistik.
Kulit penderita tinea versicolor dapat mengalami hipopigmentasi atau
hiperpigmentasi. Pada kasus hipopigmentasi, inhibitor tyrosinase [hasil dari aksi/kerja
inhibitor tyrosinase dari asam dicarboxylic yang terbentuk melalui oksidasi beberapa
asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acids) pada lemak di permukaan kulit] secara
kompetitif menghambat enzim yang diperlukan dari pembentukan pigmen
melanocyte. Pada kasus panu dengan makula hiperpigmentasi, organisme memicu
pembesaran melanosom yang dibuat oleh melanosit di lapisan basal epidermis.
Dalam kondisi yang belum sepenuhnya dijelaskan, jamur mengalami konversi
ke bentuk miselium, yang kemudian dapat menyerang stratum korneum, penetrasi
baik antara dan melalui corneocytes. Kerja terkini, bagaimanapun, telah ditemukan
bahwa tidak semua isolat Malassezia dapat mengalami transformasi yeast mycelium
ini.5

F.

GAMBARAN KLINIS1

Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama


di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni, bentuk tidak
teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut berfluoresensi
bila dilihat dengan lampu Wood. Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walaupun

10

jarang. Kelainan biasanya asimtomatik sehingga adakalanya penderita tidak


mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut.
Kadang-kadang penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan
alasan berobat. Pseudoakromia, akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan
pengaruh toksin jamur terhadap pembentukan pigmen, sering dikeluhkan penderita.
Penyakit ini sering dilihat pada remaja, walaupun anak-anak dan orang tua
tidak luput dari infeksi. Menurut BURKE (1961) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi infeksi, yaitu faktor herediter, penderita yang sakit kronis atau yang
mendapat pengobatan steroid dan malnutrisi.

Gambar Bercak hipopigmentasi pada orang kulit berwarna gelap

11

Gambar Bercak hiperpigmentasi pada orang berkulit putih

G.

DIAGNOSIS 1,4,5

Diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran klinis, pemeriksaan fluoresensi lesi


kulit dengan lampu Wood, dan sediaan langsung.

Wood lamp yang menghasilkan cahaya dapat digunakan untuk menunjukkan


fluoresensi tembaga-jingga atau juga keemasan (coppery-orange) pada tinea
versicolor. Namun, dalam beberapa kasus, lesi tampak lebih gelap dari kulit
yang tidak terpengaruh di bawah lampu Wood, tetapi mereka tidak berpendar.

Diagnosis biasanya dikonfirmasi dengan pemeriksaan kerokan kulit dengan


kalium hidroksida (KOH), yang menunjukkan karakteristik pendek. Hasil
pemeriksaan dengan

KOH tampak spora dengan miselium pendek yang

disebut sebagai spaghetti and meatballs. Untuk visualisasi yang lebih baik
dapat ditambahkan tinta biru, tinta Parker, methylene blue, atau cat SwartzMedrik dengan persiapan KOH.

12

Gambaran sediaan langsung dengan KOH memperlihatkan hifa pendekpendek dengan spora yang bergerombol.

Pemeriksaan Biakan.
Pemeriksaan dengan biakan jamur tidak terlalu bernilai secara diagnostik
karena memerlukan waktu yang lama. Pemeriksaan ini menggunakan media
biakan agar malt atau Saborauds agar. Koloni yang tumbuh berbentuk soliter,
sedikit meninggi, bulat mengkilap dan lama kelamaan akan kering dan
dibawah mikroskop terlihat yeast cell bentuk oval dengan hifa pendek.

13

H.

I.

DIAGNOSIS BANDING1

Dermatitis seboroika

Eritrasma

Sifilis II

Achromia parasitic dari Pardo-Castello dan Dominiquez

Morbus Hansen

Vitiligo

Pitiriasis alba

PENATALAKSANAAN

1.

Non medikamentosa
Selain dengan terapi topikal dan sistemik, perlu diberikan edukasi pada pasien
untuk menjaga kebersihan kulit dan lingkungan, memakai pakaian dari katun,
tidak ketat dan dianjurkan tidak bertukar pakaian dengan orang lain. Kebersihan
pribadi dengan mandi teratur menggunakan sabun ringan dan menjaga agar kulit
yang sakit tetap kering.4 Menghindari faktor predisposisi seperti berkeringat
meningkat, berbagi handuk dan pakaian, kekurangan gizi, pakaian sintetis akan
membantu untuk mengontrol penyakit ini.4
Pasien harus diberitahu bahwa tinea versicolor disebabkan oleh jamur yang
biasanya terdapat di permukaan kulit dan karena itu tidak dianggap menular.
Kondisi ini tidak meninggalkan bekas luka permanen apapun atau perubahan
pigmen, dan perubahan warna kulit ke semula dalam waktu 1-2 bulan setelah
pengobatan telah dimulai. Biasanya terjadi sehingga perlu terapi profilaksis dapat
membantu mengurangi tingkat kekambuhan tinggi.3

2.

Medikamentosa1,3,5
Pengobatan dapat dilakukan secara topikal dan sistemik.
Topikal : terutama ditujukan untuk lesi yang minimal

Salep Whitfield yang mengandung asam salisilat 3-6% dan asam


benzoat 6-12%
14

Selenium sulfida 2,5% yang dioleskan pada lesi, lalu dibiarkan selama
10 menit sebelum mandi kemudian dibersihkan. Dilakukan 2-3 kali
seminggu selama 2-4 minggu. Selenium sulfid ini memiliki
kekurangan yaitu bau yang kurang sedap serta kadang bersifat iritatif,
sehingga menyebabkan pasien kurang taat berobat.

Obat golongan azol : semua preparat azol efektif dalam mengobati


pitiriasis versikolor. Klotrimazol 1%, mikonazol nitrat 2%, sulkonazol
1%, ketokonazol 2%, ekonazol nitrat 1%, bifonazol 2,5% krim,
tiokonazol 1%, oksikonazol 1% dan sertakonazol. Dioleskan 1-2 kali
sehari selama 2-3 minggu.

Terbinafine solution 1 % dioleskan 2 kali sehari pada lesi selama 7


hari.

Sodium Thiosulfat lotio 25% dioleskan 2 kali sehari pada lesi selama 4
minggu.

Sistemik : digunakan pada kondisi tertentu yaitu adanya resistensi terhadap


obat topikal, lesi yang luas, dan sering kambuh.
1.

Ketokonazol dengan dosis 200 mg sehari selama 7-10 hari atau 400 mg
dosis tunggal.

2.

Itrakonazol dengan dosis 200-400 mg per hari secara oral selama 3-7
hari.
Itrakonazol bersifat keratinofilik dan lipofilik. Merupakan obat anti
jamur derivat trazol dengan spektrum luas dan lebih kuat dari
ketokonazol dan disarankan untuk kasus yang relaps atau tidak
responsif terhadap pengobatan lain. Pengobatan harus diteruskan 2
minggu setelah flouresensi negatif dengan pemeriksaan lampu wood
dan sediaan langsung negatif. Pitiriasis versikolor tidak memberi
respon yang baik terhadap pengobatan dengan griseofulvin.

J.

PENCEGAHAN
Untuk pencegahan, dapat dilakukan dengan selalu menjaga higienitas
perseorangan, hindari kelembaban kulit yang berlebihan, dan menghindari kontak
langsung dengan penderita.
15

K.

PROGNOSIS

Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten.


Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan
pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif.1 Kriteria sembuh pada pasien
Pitiriasis Versikolor dapat ditegakkan melalui pemeriksaan klinis dan mikologis.
Dengan terapi yang benar, menjaga kebersihan kulit, pakaian dan lingkungan,
prognosis tinea versicolor adalah baik. Penting juga untuk menghilangkan sumber
penularan untuk mencegah reinfeksi dan penyebaran lebih lanjut.

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Budimulja, U., 2008. Mikosis. Dalam: Djuana, A., (ed). Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal: 100-101.
2. Abdoreza Salahi-Moghaddam et al, 2009. Evaluation of Pityriasis Versicolor in
Prisoners: A cross-sectional study. Di unduh dari : http://www.ijdvl.com/
aboutus.asp. pada tanggal 25 April 2013
3. Kristanty, Ade, 2010. Identifikasi Malassezia pada Pasien Tinea versicolor. Di unduh
dari: http: www.lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/abstrakpdf. tanggal 25 April 2013
4. Mansjoer, Arif, dkk. 2010. Pitiriasis Versikolor Dalam Kapita Selekta Kedokteran
Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Hal : 103-105
5. Janik MP, Haffernan MP. Yeast Infection: Candidiasis and Tinea Versicolor. Dalam
Fitzpatrick TB, Eizen AZ, Woff K, Freedberg IM, Auten KF, penyunting:
Dermatology in General Medicine, 7th ed, New York: Mc Graw Hill. 2008 : 18221830.

17