Anda di halaman 1dari 10

Apr 21, '09

Hasan Al Banna Bukan Sufi (Apalagi Sufi Bathiniyah) 1:48 AM


for everyone

http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/84
Syaikh Hasan Al Banna,
Seorang Sufi?
Oleh: Farid Nu’man Hasan

Mukadimah

Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah telah mendapatkan serangan dari sisi ini. Mereka telah
menyebutnya sebagai seorang sufi, bathini, pengikut tarekat, dan seterusnya. Sebenarnya tidak menjadi
masalah jika ‘sekedar’ disebut sufi, sebab tidak semua sufi bermasalah. Berapa banyak sufi-sufi yang
mendapat sanjungan ulama seperti Abu Sulaiman Ad Darani, Abdullah Sahl At Tastari, Junaid bin
Muhammad, bahkan Abdul Qadir Jaelani pendiri tarekat Qadiriyah telah mendapat sanjungan Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah sebagai sufi yang salafi. Mereka pun disebut oleh Syaikhul Islam dengan doa,
Radhiallahu ‘anhum.

Sedangkan Syaikh Hasan Al Banna, ada seorang ulama Mesir yang menyebutnya sufi yang salafi.
Pandangan Beliau terhadap tasawwuf adalah pandangan seimbang, beliau mengkritik yang perlu dikritik,
namun mengakui kebaikan yang ada pada tasawwuf. Pandangan seimbang inilah yang nampaknya sulit
diterima oleh sebagian manusia yang memang menaruh kebencian luar biasa terhadap tasawwuf.

Memang sangat aneh jika dikatakan Syaikh Hasan Al Banna adalah seorang sufi, padahal di
negerinya sendiri, Beliau dan Ikhwanul Muslimin disebut sebagai wahabi oleh kaum sufi sendiri, lantaran
mengingkari dzikir-dzikir mereka. Keanehan semakin menjadi-jadi ketika faktanya adalah Syaikh Hasan Al
Banna terjun ke dalam dunia politik dan kiprahnya menjadi ancaman paling serius bagi pemandu status
quo saat itu. Nah, adakah sufi yang berpolitik? Padahal biasanya sufi mengharamkan politik?

Lucunya lagi, Ikhwanul Muslimin juga mereka tuduh terlalu berlebihan dalam dunia politik, dan
tidak memberikan perhatian terhadap masalah aqidah. Ini adalah tuduhan yang kontradiksi. Di satu sisi
menuduh Ikhwan adalah perkumpulan sufi, di sisi lain mereka menuduh Ikhwan berlebihan dalam dunia
politik. Sekali lagi, apakah ada sufi yang berpolitik?

Namun, yang benar adalah Ikhwan memperhatikan tarbiyah ar ruhiyah was suluk (pembinaan
spiritual dan perilaku) dan juga perhatian dengan nasib bangsa dan negaranya. Jika yang satu dikatakan
sufi, dan yang satu lagi dikatakan berlebihan dalam dunia politik, maka namakanlah semau Anda!

Mengenal Tasawwuf

Harus diakui, sikap manusia terhadap tasawwuf tidak sama. Hal itu lerjadi karena perbedaan
kadar pengetahuan, interaksi, dan performance para sufi yang membuat pandangan manusia berbeda-beda.
Kaum muslimin ada yang menghina tasawwuf dan ahlinya (sufi) secara keseluruhan tanpa kecuali.
Tabdi'(tuduhan sebagai ahli bid'ah) selalu diarahkan kepada pengikut tasawwuf. Tidak ada kebaikan sedikit
pun pada mereka. Sekali pun ada, kebaikan ahli bid'ah masih lebih buruk dibanding keburukan ahli
maksiat. Mereka menganggap agama kaum sufi bukanlah dinullah (agama Allah) melainkan dinussufi
(agama kaum sufi). Artinya, kaum sufi memiliki cara beragama sendiri menurut hawa nafsu pendiri
thariqah-nya. Pemuka-pemuka tasawwuf dipandang hina, bahkan lebih hina dibanding pengikutnya karena
merekalah yang menyebabkan tersebarnya bid'ah tasawwuf.
Kelompok itu menaruh kebencian luar biasa kepada tasawwuf dan sufi. Mereka membuka mata
lebar-lebar terhadap segala kekurangan tasawwuf, tetapi menutup mata rapat-rapat terhadap segala
kebaikan yang ada padanya.

Sementara itu, di sisi lain. Ada kaum muslimin yang memuji tasawwuf setinggi langit, bahkan
lebih. Kaum sufi—kata mereka—adalah manusia paling mulia setelah para Nabi. Merekalah Ahlus Sunnah
sebenarnya. Bahkan merekalah para shiddiqin, muqarrabin, dan ahludzdzkri. Sering kita mendengar mereka
menganggap ulama syariat (fuqaha) menimba ilmu dari yang pasti mati (manusia), sedangkan sufi
menimba ilmu langsung dari Yang Tidak Pernah Mati (Allah). Memang, kaum sufilah yang sebenarnya
malas mencari ilmu, bahkan menghina mata airnya sehingga banyak di antara mereka melecehkan ahli ilmu
dan murid-muridnya. Oleh karena itu ibadah mereka pun takalluf (berIebihan/memberatkan) dan aneh
karena tidak ada ilmu di dalamnya. Kelompok ini menilai kesalahan kaum sufi adalah kesengajaan agar
orang-orang awam tidak menyucikannya. Sungguh, ini adalah apologi yang kerdil dan perangkap setan
bagi mereka. Kedua sikap itu sama-sama keliru dan tidak mencerminkan kealiman seorang ulama dan
kearifan seorang dai. Seharusnya manusia menahan lisannya dari memaki dan memuji secara berlebihan.
Sikap tawazun (seimbang) dan tawasuth (pertengahan) terhadap kekeliruan dan kebaikan manusia adalah
sikap yang terbaik tanpa menyalahkan yang benar dan tidak membenarkan yang salah serta tidak membuka
yang seharusnya tertutup dan tidak menutup yang seharusnya terbuka. Itulah sikap kita: adil, seimbang, dan
tepat.

Meletakkan tasawwuf pada tempatnya akan menentukan arah sikap kita terhadapnya. Ada baiknya
kita mencermati dahulu perjalanan tasawwuf. Syaikh Hasan al Banna bercerita:

‫ وكللثرت فتوحاتهللا وأقبلللت الللدنيا علللى‬،‫حين اتسع عمران الدولة السلمية فللي صللدر القللرن الول‬
‫ وكان خلفيتهم بعد ذك يقول للسحابة في كبد‬،‫ وحببت إليهم ثمرات كل شيء‬،‫المسلمين من كل مكان‬
‫ وكان طبيعيا أن يقبلوا عللى هلذه اللدنيا‬.‫ شرقي أو غربي فحيثما وقع قطرك جاءني خراجه‬:‫السماء‬
‫ وكللان‬،‫يتمتعون بنعيمها ويتذوقون حلوتها وخيراتها في اقتصاد أحيانا وفي إسراف أحيانللا أخللرى‬
‫ من تقشف عصر النبوة الزاهر إلى لين الحيللاة ونضللارتها فيمللا‬،‫طبيعيا أمام هذا التحول الجتماعي‬
‫ أن يقوم من الصالحين التقياء العلماء الفضلء دعاة مللؤثرون يزهللدون النللاس فللي متللاع‬،‫بعد ذلك‬
‫ “وإن الللدار الخللرة لهلي‬:‫ ويللذكرونهم بملا قللد يسللره مللن متللاع الخللرة البللاقي‬،‫هذه الحياة اللزائل‬
- ‫ المام الواعظ الجليل‬- ‫الحيوان لو كانوا يعلمون” ومن أول هؤلء الذين عرفت عنهم هذه الدعوة‬
‫ فكللانت طائفللة فللي النللاس‬،‫ وتبعه على ذلللك كللثير مللن أضللرابه الللدعاة الصللالحين‬،‫الحسن البصري‬
‫ وتربية النفوس على طاعة الل‬،‫ والزهادة في الدنيا‬.‫معروفة بهذه الدعوة إلى ذكر ال واليوم الخر‬
‫ وطرأ على هذه الحقائق ما طرأ على غيرها من حقائق المعللارف السلللمية فأخللذت صللورة‬.‫وتقواه‬
‫ مراحلله اللذكر والعبلادة ومعرفلة‬:‫العلم الذي ينظم سلوك النسان ويرسم له طريقا من الحياة خاصا‬
‫ ونهايته الوصول إلى الجنة ومرضاة ال‬،‫ال‬

"Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama,
penaklukan berbagai negara pun banyak berlangsung, masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan
perhatiannya kepada kaum muslimin. Segala jenis buah telah tergenggam dan bertumpuk di tangan mereka.
Khalifah ketika itu berkata kepada awan dan langit, 'Barat maupun Timur entah bagian bumi manapun yang
mendapat tetesan air hujan-Mu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti'.

Suatu hal yang lumrah jika ada umat manusia ketika menerima nikmat dunia, mereka menikmati
kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan. Ada pula yang
menikmatinya dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah pula perubahan sosial itu terjadi. Dari
kesahajaan hidup masa kenabian, kini telah sampai pada masa kemewahan.
Melihat kenyataan itu, bangkitlah dari kalangan ulama yang soleh dan bertakwa serta para da'i
yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi
yang fana sekaligus mengingatkan mereka pada berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat
akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna jika
mereka mengetahui.

Satu yang saya ketahui adalah seorang Imam pemberi petuah yang mulia, Hasan al Bashri. Meski
akhirnya diikuti pula sekian banyak orang soleh lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok di
tengh-tengah umat yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu menging Allah Swt dan mengingat
akhirat, zuhud di dunia, serta men-tarbiyah diri untuk selalu menaati Allah Swt dan bertakwa kepada-Nya.

Dari fenomena itu lahirlah format keilmuan seperti disiplin ilmu keislaman lainnya. Dibangunlah
suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik.
Tahapan jalan itu adalah zikir, ibadah, dan ma'rifatullah, sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan
ridha'Nya." (Imam Hasan Al Banna, Mudzakkirat Ad Da’wah wad Da’iyyah, Hal. 24)

Demikianlah tasawwuf. Pada mulanya, ia adalah suatu yang mulia. la mengisi kekosongan yang
dilupakan fuqaha (ahli fiqh), muhaddits (ahli hadis), dan mutakallimin (ahli kalam), yaitu kekosongan
ruhiyah (jiwa) dan akhlak. Secara jujur harus diakui, inti ajaran Islam adalah akhlak yang menjadi tujuan
diutusnya Rasulullah Saw untuk menyempurnakannya. Penerapan syariat Islam dari lingkup terkecil,
individu, sampai terbesar, pergaulan antarbangsa, dan semuanya memiliki dimensi akhlak. Pada
hakikatnya, tasawwuf adalah akhlak. Siapa yang bertambah baik akhlaknya, bertambah baik pula
tasawwuf-nya. Demikian kata Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah.

Jika demikian adanya, bukan tasawwuf-nya yang layak dikecam, melainkan oknum-oknum yang
merusak tasawwuf dan menyebarkan kerusakan yang ada padanya. Jadi, kritiklah sesuai haknya tasawwuf
yang lepas dari jalan Islam yang benar. Kekeliruan mereka memiliki bobot yang berbeda, ada yang cukup
di-bid'ah-kan, ada pula yang layak untuk dikafirkan.

Penyimpangan pada tasawwuf pernah dipertontonkan al Hallaj yang terpedaya setan. la berkata,
"Ana Allah" (Aku Allah). la berpendapat Allah Swt bereinkarnasi dengan makhluk. Begitu pun Ibnu 'Arabi
dengan filsafat wihdatul wujud. la beranggapan tidak ada Khaliq (pencipta) dan makhluq (ciptaan). Tidak
ada Rabb (Tuhan) dan hamba. Merekalah contoh musibah dalam dunia Tasawwuf.

Sebaliknya, pujilah sesuai haknya: tasawwuf yang lurus dan jalannya sesuai syariat dengan
pemahaman salafush shalih yang tumbuh dan berkembang bersih dari bid'ah, khurafat, takhayul, qubury,
zindiq, dan syirk. Itulah tasawwuf yang selamat dan pernah dilalui Al Junaid bin Muhammad, Abu Hafs,
Abu Sulaiman ad Darani, dan Sahl bin Abdullah at Tastary seperti yang dikatakan Imam Ibnul Qayyim
dalam Madarijus Salikin.

Sufi Generasi Pertama Menyeru Kepada Al Quran dan As Sunnah

Imam Ibnul Qayyim telah mengutip berbagai perkataan kaum sufi generasi awal, yang
menunjukkan bahwa mereka merupakan kaum yang sangat perhatian dengan sunnah. Bahkan mereka
mengatakan bahwa jalan yang mereka tempuh (tasawwuf) harus berpijak pada Al Quran dan As Sunnah.

Imam Ibnul Qayyim, mengutip ucapan mereka sebagai berikut:

‫ الطرق كلها مسدودة على الخلق إل علللى ملن‬:‫قال سيد الطائفة وشيخهم الجنيد بن محمد رحمه ال‬
‫ من لم يحفظ القرآن ويكتب الحديث ل يقتدى به فللي هللذا المللر لن علمنللا‬:‫اقتفى آثار الرسول وقال‬
‫ مللن‬:‫ مذهبنا هذا مقيد بأصول الكتاب والسنة وقال أبو حفص رحمه اللل‬:‫مقيد بالكتاب والسنة وقال‬
‫لم يزن أفعاله وأحواله في كل وقت بالكتاب والسللنة ولللم يتهللم خللواطره فل يعللد فللي ديللوان الرجللال‬
‫ ربما يقع في قلبي النكتة من نكت القوم أياما فل أقبللل منلله إل‬:‫وقال أبو سليمان الداراني رحمه ال‬
‫ الكتاب والسنة‬:‫بشاهدين عدلين‬

Berkata pemimpin dan syaikhnya mereka, Al Junaid bin Muhammad Rahimahullah:


“"Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam.” Dia juga berkata: “Siapa yang tidak menghafal Al Quran dan Hadis, ia tidak boleh diteladani
dalam urusan tasawwuf karena ilmu kami terikat dengan Alquran dan As Sunnah." Dia juga berkata:
“Madzhab kami ini terikat oleh dasar-dasar Al Quran dan As Sunnah.”

Berkata Abu Hafsh Rahimahullah: “Barangsiapa yang tidak menimbang keadaan dan
perbuatannya setiap waktu dengan Al Kitab dan As Sunnah serta tidak memperhatikan suara hatinya, ia
tidak termasuk dalam golongan kami."

Abu Sulaiman Ad Darani Rahimahullah berkata, "Kadang-kadang, timbul suatu titik dalam
hatiku seperti titik-titik yang terdapat pada suatu kaum selama beberapa hari. Saya tidak dapat
memutuskannya kecuali dengan dua saksi yang adil, yaitu Al Quran dan As Sunnah." (Imam Ibnul
Qayyim, Madarijus Salikin, Bab Manzilatul ‘Ilmi, Hal. 464)

Abu Hafsh juga berkata:

‫ دوام الفتقار إليه على جميع الحوال وملزمة السنة فللي جميللع‬:‫أحسن ما يتوسل به العبد إلى ال‬
‫الفعال‬

“Sarana terbaik bagi seorang hamba kepada Allah Ta’ala adalah membiasakan sikap butuh
kepadaNya dalam segala keadaan, dan membiasakan diri dengan sunnah dalam semua perbuatan.” (Imam
Ibnul Qayyim, Madarijis Salikin, Bab Manzilatul Faqri, Hal. 441. Al Mausu’ah Asy Syamilah)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mencatat:

ُ‫ َوَقللاَل الجنيللد ْبلن‬. ‫طلٌل‬ ِ ‫سلّنُة َفُهلَو َبا‬


ّ ‫ب َوال‬ ُ ‫شَهُد َلُه اْلِكَتللا‬
ْ ‫جٍد َل َي‬ْ ‫ ُكّل َو‬: ‫ل التستري‬ ِّ ‫عْبِد ا‬ َ ‫ن‬ ُ ‫سْهُل ْب‬
َ َ‫َقال‬
‫عْلِمَنا‬
ِ ‫ن َيَتَكّلَم ِفي‬
ْ ‫ح َأ‬
ّ‫ص‬
ِ ‫ث َل َي‬ َ ‫حِدي‬َ ‫ب اْل‬
ْ ُ‫ن َوَيْكت‬
َ ‫ن َلْم َيْقَرْأ اْلُقْرآ‬
ْ ‫سّنِة ؛ َفَم‬
ّ ‫ب َوال‬
ِ ‫عْلُمَنا ُمَقّيٌد ِباْلِكَتا‬
ِ : ‫ُمحَّمٍد‬
“Berkata Sahl bin Abdillah At Tastari: “Semua intuisi (cinta, suka cita) yang tidak disaksikan
(dikuatkan) oleh Al Quran dan As Sunnah maka itu adalah batil.” Berkata Al Junaid bin Muhammad: “ilmu
kami terikat dengan Al Quran dan As Sunnah, maka barang siapa yang tidak membaca Al Quran dan tidak
menulis hadits, maka tidak sah berbicara tentang ilmu kami (yakni tasawwuf, pen).” (Imam Ibnu
Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 2, Hal. 435. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikianlah sikap para penempuh tasawwuf generasi pertama, mereka sangat terikat -dalam
meniti jalan tasawwuf- dengan Al Quran dan As Sunnah. Sehingga Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul
Qayyim memberikan apresiasi terhadap mereka semua.

Sementara itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, telah menyandingkan nama-nama sufi generasi
awal, dengan para imam ahli fiqih dan hadits, dengan sebutan: para imam pembawa petunjuk. Beliau
berkata (yang saya tebalkan adalah sufi, pen):

ِ‫سلِعيِد ْبلن‬ َ ‫ق ِفللي اُْلّملِة ِمْثلُل‬ ٍ ‫صلْد‬


ِ ‫ن‬ َ ‫ل َتَعاَلى َلُهلْم ِلسَللا‬
ُّ ‫جَعَل ا‬َ ‫ن‬ َ ‫لِم َوَأِئّمُة اْلُهَدى اّلِذي‬
َ‫س‬ْ ‫خ اِْل‬
ُ ‫شاِي‬َ ‫َأّنهُْم َم‬
‫ن َأْدَهلَم‬
ِ ‫س والوزاعللي َوِإْبَراِهيلَم ْبل‬ ٍ ‫ن َأَنل‬ ِ ‫ك ْبل‬
ِ ‫عْبلِد اْلَعِزيلِز َوَماِلل‬َ ‫ن‬ِ ‫عَمَر ْب‬
ُ ‫ي َو‬ّ ‫صِر‬ ْ ‫ن اْلَب‬
ِ‫س‬َ ‫ح‬َ ‫ب َواْل‬ِ ‫سّي‬َ ُ‫اْلم‬
‫حْنَبلٍل‬
َ ‫ن‬ِ ‫حَملَد ْبل‬
ْ ‫ن َوَأ‬َ ‫سلَلْيَما‬
ُ ‫ي َوَأِبلي‬ّ ‫شللاِفِع‬
ّ ‫ف الكرخي َوال‬ ٍ ‫ض َوَمْعُرو‬ ٍ ‫عَيا‬ ِ ‫ن‬ِ ‫ي والفضيل ْب‬ ّ ‫ن الّثْوِر‬ َ ‫َوسُْفَيا‬
ُ‫ ِمْثللل‬: ‫ن‬ َ ‫خِري‬ّ ‫ إَلى ِمْثِل اْلُمَتَأ‬. ‫صى َكْثَرٌة‬ َ ‫ح‬ ْ ‫ن َل ُي‬ ْ ‫ق البلخي َوَم‬ ٍ ‫شِقي‬َ ‫ك َو‬ِ ‫ن اْلُمَباَر‬ِ ‫ل ْب‬ِّ ‫عْبِد ا‬
َ ‫حاِفي َو‬ َ ‫شٍر اْل‬
ْ ‫َوِب‬
‫ إَلللى‬- ‫ن َبْع لَدُهْم‬ْ ‫ي َوَم ل‬ ّ ‫ن اْلَمّك‬
َ ‫عْثَما‬
ُ ‫ن‬ ِ ‫عَمرَ ْب‬ُ ‫ل التستري َو‬ ِّ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬ ِ ‫سْهِل ْب‬َ ‫حّمٍد القواريري َو‬ َ ‫ن ُم‬ ِ ‫الجنيد ْب‬
‫خ َأِبللي‬
ِ ‫ش لْي‬
ّ ‫ن َوال‬ ِ ‫خ َأِبي اْلَبَيللا‬ِ ‫شْي‬
ّ ‫ي َوال‬ ّ ‫خ عَِد‬ ِ ‫شْي‬ّ ‫عْبِد اْلَقاِدِر الكيلني َوال‬ َ ‫خ‬ ِ ‫شْي‬
ّ ‫ي إَلى ِمْثِل ال‬ ّ ‫ب اْلَمّك‬
ٍ ‫طاِل‬َ ‫َأِبي‬
‫لل‬ِّ ‫عْبلِد ا‬
َ ‫خ‬ِ ‫شلْي‬ّ ‫حيلِم َوال‬ ِ ‫عْبلِد الّر‬
َ ‫خ‬ ِ ‫شلْي‬ّ ‫ن َوال‬ َ‫ل‬ َ ‫سل‬
ْ ‫خ َر‬ِ ‫شلْي‬ّ ‫خ َأِبللي اْلَوَفللاِء َوال‬ِ ‫شلْي‬
ّ ‫عِقيٍل َوال‬ َ ‫خ‬ ِ ‫شْي‬ّ ‫ن َوال‬ٍ ‫َمِدي‬
‫صلَر‬ْ ‫ق َوِم‬ ِ ‫شللاِم َواْلِعلَرا‬ ّ ‫جلاِز َوال‬ َ‫ح‬ِ ‫ن َكلاُنوا ِباْل‬ َ ‫خ اّللِذي‬
ِ ‫شللاِي‬
َ ‫ي َوَأْمَثللاِل َهلُؤَلِء اْلَم‬ّ ‫شل‬ِ ‫خ اْلُقَر‬ِ ‫شْي‬
ّ ‫اليونيني َوال‬
. ‫ن والخرين‬ َ ‫ن اَْلّوِلي‬ْ ‫ن ِم‬َ ‫سا‬ َ ‫خَرا‬ُ ‫ب َو‬ ِ ‫َوالَْمْغِر‬
“Sesungguhnya mereka adalah para Syaikhul Islam, para Imam pembawa petunjuk, yang Allah
Ta’ala telah menjadikan untuk mereka lisan yang benar bagi umat, seperti Said bin Al Musayyib, Al Hasan
Al Bashri, Umar bin Abdil ‘Aziz, Al Auza’i, Malik bin Anas, Ibrahim bin Ad-ham, Sufyan Ats Tsauri,
Fudhail bin ‘Iyadh, Ma’ruf Al Karkhi, Asy Syafi’i, Abu Sulaiman Ad Darani, Ahmad bin Hambal,
Bisyr Al Hafi, Abdullah bin Al Mubarak, Syaqiq Al Balkhi, dan banyak lagi yang tidak terhitung. Juga
yang generasi selanjutnya: Al Junaid bin Muhammad, Sahl bin Abdillah At Tastari, Umar bin Utsman
Al Makki, dan orang-orang setelah mereka, hingga Abu Thalib Al Makki, hingga semisal Abdul Qadir
Al Jailani. Syaikh ‘Adi, Syaikh Abul Bayan, Syaikh Abu Madin, Syaikh ‘Aqil, Syaikh Abul Wafa’,
Syaikh Ruslan, Syaikh Abdurrahin, Syaikh Abdullah Al Yunaini, Syaikh Al Qurasyi, dan masyayikh
lain yang semisalnya baik di Hijaz, Syam, Irak, Mesir, Khurasan, baik generasi awal atau belakangan.”
(Imam Ibnu Tamiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 1, Hal. 197. Al Maktabah Asy Syamilah)

Sikap Pertengahan Imamain Dalam Menilai Tasawwuf

Sikap objektif adalah sikap terbaik walau itu sulit bagi sebagian orang, baik karena
ketidakmampuan atau ketidakmauan. Para Imam Ahlus Sunnah telah menampakkan sikap objektif terhadap
kaum sufi. Diantaranya adalah sikap imamain (dua imam), yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu
Qayyim Al Jauziyah.

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata tentang kaum sufi:

"‫ت‬ ْ ‫طاِئَف لٌة َذّم ل‬


َ ‫طِريِقِه لْم ؛ َف‬ َ ‫س ِفي‬ ُ ‫ع الّنا‬ َ ‫ع ِفيِه َتَناَز‬ ِ ‫جِتَهاِد َوالّتَناُز‬ ْ ‫ن اِل‬ ْ ‫جِل َما َوَقَع ِفي َكِثيٍر ِمْنُهْم ِم‬ ْ ‫َوَِل‬
‫ن الَِْئّمِة ِفللي‬ ْ ‫طاِئَفٍة ِم‬ َ ‫ن‬ ْ‫ع‬ َ ‫سّنِة َوُنِقَل‬ ّ ‫عنْ ال‬ َ ‫ن‬ َ ‫جو‬ ُ ‫خاِر‬َ ‫ن‬ َ ‫عو‬ ُ ‫ إّنُهْم ُمْبَتِد‬: ‫ َوَقاُلوا‬. " ‫ف‬ َ ‫صّو‬ َ ‫صوِفّيَة َوالّت‬ ّ ‫ال‬
‫ت ِفيِه لْم‬ ْ ‫غَل ل‬
َ ‫طاِئَف لٌة‬َ ‫ َو‬. ‫لِم‬ َ ‫ن َأْهِل اْلِفْق لِه َواْلَك‬ ْ ‫ف ِم‬ ُ ‫طَواِئ‬ َ ‫ك‬ َ ‫عَلى َذِل‬ َ ‫ف َوَتِبَعُهْم‬ ٌ ‫لِم َما ُهَو َمْعُرو‬ َ ‫ن اْلَك‬ ْ ‫ك ِم‬ َ ‫َذِل‬
‫ب " َأّنُه لْم‬ ُ ‫ص لَوا‬ ّ ‫ َو " ال‬. ‫ي َهِذِه اُْلُموِر َذِميٌم‬ ْ ‫طَرَف‬َ ‫ل‬ َ ‫ق َوَأْكَمُلُهْم َبْعَد اَْلْنِبَياِء َوِك‬ ِ ‫خْل‬
َ ‫ضُل اْل‬ َ ‫عْوا َأّنُهْم َأْف‬َ ّ‫َواد‬
‫جِتَهللاِدِه‬ ْ ‫با‬ ِ ‫س‬َ ‫ح‬ َ ‫ب ِب‬ُ ‫ق اْلُمَقّر‬ ُ ‫ساِب‬ ّ ‫ل َفِفيِهْم ال‬ ِّ ‫عِة ا‬ َ ‫طا‬َ ‫ن َأْهِل‬ ْ ‫غْيُرُهْم ِم‬ َ ‫جَتَهَد‬ ْ ‫ل َكَما ا‬ ِّ ‫عِة ا‬ َ ‫طا‬ َ ‫ن ِفي‬ َ ‫ُمجَْتِهُدو‬
ُ ‫ن ُيْذِن‬
‫ب‬ ْ َ‫ئ َوِفيِهْم م‬ ُ‫ط‬ ِ‫خ‬ ْ ‫جَتِهُد َفُي‬
ْ ‫ن َقْد َي‬ْ ‫ن َم‬ِ ‫صْنَفْي‬ّ ‫ن ال‬ ْ ‫ن َوِفي ُكّل ِم‬ ِ ‫ن َأْهِل اْلَيِمي‬ ْ ‫صُد اّلِذي ُهَو ِم‬ ِ ‫َوِفيِهْم اْلُمْقَت‬
‫ب إَلْيِهلْم‬ َ ‫سل‬َ ‫ َوَقلْد اْنَت‬. ‫ص ِلَرّبلِه‬ ٍ ‫علا‬ َ ‫سلِه‬ ِ ‫ظلاِلٌم ِلَنْف‬َ ‫ن ُهلَو‬ ْ ‫ن إَلْيِهلْم َمل‬ َ ‫سلِبي‬ِ ‫ن اْلُمْنَت‬ْ ‫ َوِمل‬. ‫ب‬ ُ ‫ب َأْو َل َيُتو‬ ُ ‫َفَيُتو‬
ً ‫ج َمَث‬
‫ل‬ ِ‫ل‬ ّ َ‫ َكللاْلح‬: ‫سوا ِمْنُهْم‬ ُ ‫ف َلْي‬ِ ‫صّو‬ َ ‫ن َأْهِل الّت‬ ْ ‫ن ِم‬ َ ‫حّقِقي‬َ ‫عْنَد اْلُم‬
ِ ‫ن‬ ْ ‫ع َوالّزْنَدَقِة ؛ َوَلِك‬ ِ ‫ن َأْهِل اْلِبَد‬
ْ ‫ف ِم‬ ُ ‫طَواِئ‬ َ
‫طاِئَفلِة‬ّ ‫سلّيِد ال‬
َ ‫حّملٍد‬ َ ‫ن ُم‬ِ ‫ الجنيللد ْبل‬: ‫ مِْثلُل‬. ‫ق‬ ِ ‫طِريل‬ ّ ‫ن ال‬ْ ‫عل‬َ ‫جللوُه‬ ُ ‫خَر‬ ْ ‫ق َأْنَكُروُه َوَأ‬ ِ ‫طِري‬ّ ‫خ ال‬ ِ ‫شاِي‬
َ ‫ن َأْكَثَر َم‬ ّ ‫؛ َفِإ‬
. ‫غْيِرِه‬َ ‫َو‬
“Oleh karena itu banyak pembicaraan dan pertentangan tentang jalan para ahli tasawwuf,
sebagian manusia mencela tasawwuf dan sufi, seraya berkata: “Sesungguhnya mereka adalah ahli-ahli
bid’ah yang keluar dari sunnah.” Ucapan seperti ini juga didapatkan dari sebagian imam sebagaimana
yang sudah diketahui, dan diikuti oleh berbagai kelompok ahli fiqih dan kalam.

Sedangkan golongan lain bersikap berlebihan terhadap ahli tasawwuf dan mendakwakan bahwa
ahli tasawwuf adalah makhluk paling utama dan paling sempurna setelah para nabi.
Kedua golongan itu keliru, dan yang benar adalah bahwa ahli tasawwuf berusaha keras dalam
mentaati Allah sebagaimana halnya orang lain juga berupaya keras mentaati Allah. Maka di antara mereka
ada yang berada di garis depan dan selalu dekat dengan Allah sesuai ijtihad dan usahanya, dan ada pula
yang sedang-sedang saja yang tergolong ahlul yamin (golongan kanan). Sementara itu, pada masing-
masing dua golongan ada pula yang kadang melakukan ijtihad dan ijtihadnya keliru, dan ada yang berbat
dosa, kemudian bertobat, dan ada pula yang tidak bertobat.

Di antara orang yang menisbatkan (menyandarkan) dirinya pada ahli tasawwuf, ada yang zalim
terhadap dirinya sendiri dan bermaksiat kepada Tuhannya. Dan ada pula kelompok-kelompok ahli bid’ah
dan zindik yang menyandarkan diri mereka kepada ahli tasawwuf, oleh para muhaqqiq (peneliti) mereka
tidaklah dianggap sebagai ahli tasawwuf, seperti Al Hallaj, sebab kebanyakan para masyayikh telah
mengingkarinya dan mengeuarkannya dari jalan tasawwuf, sebagaimana sikap Al Junaid sang pemuka Ath
Thaifah dan lainnya.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 2, Hal. 442. Al Maktabah Asy
Syamilah)

Inilah komentar sangat adil tentang sufi dan tasawwuf dari Imam Ibnu Taimiyah. Beliau pun
menyikap secara adil kitab tasawwuf, Ihya ‘ulumuddin, karya Imam Al Ghazali Rahimahullah. Sebagian
manusia mencela kitab ini, bahkan sampai dibakar karena berisi khurafat, bid’ah, filsafat yang merusak,
dan dibubuhi hadits-hadits dhaif, baik munkar maupun palsu. Ada juga yang menyanjung setinggi langit,
sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa kitab Al Ihya ini merupakan pedoman menuju surga.

Namun, lagi-lagi Imam Ibnu Taimiyah menampakkan objektifitas dalam menilai kitab tersebut,
katanya:

ُ ‫سلَفِة َتَتَعّلل‬
‫ق‬ ِ ‫ل‬
َ ‫لِم اْلَف‬
َ ‫ن َك‬
ْ ‫سلَدًة ِمل‬
ِ ‫ن ِفيِه مَلَواّد َفا‬
ّ ‫ َفِإ‬، ‫ن ِفيِه َمَواّد َمْذُموَمًة‬
ّ ‫ َلِك‬، ‫حَياُء ِفيِه َفَواِئُد َكِثيَرٌة‬
ْ ‫َواِْل‬
‫حيِد َوالّنُبّوِة َواْلَمَعاِد‬
ِ ‫ِبالّتْو‬

“Kitab Al Ihya, di dalamnya terdapat banyak faedah (manfaat), tetapi di dalamnya juga terdapat
materi-materi yang tercela, materi merusak yang berasal dari ucapan filsuf yang terkait masalah tauhid,
kenabian, dan akhirat.” (Imam Ibnu Tamiyah, Al Fatawa Al Kubra, Juz. 7, Hal. 156. Al Maktabah Asy
Syamilah)

Sikap Imam Ibnu Taimiyah ini, juga diwariskan oleh murid terdekatnya, Imam Ibnu Qayyim Al
Jauziyah. Ketika Beliau membuat syarah kitab tasawuf, Manazil Sairin, karya Syaikhul Islam Ismail Al
Harawi Al Hambali, Beliau mengomentari kesalahan Syaikhul Islam dalam kitab tersebut, dengan
ucapannya:

‫ول توجب هذه الزلة من شيخ السلم إهدار محاسنه وإسلاءة الظلن بلله فمحلله مللن العللم والماملة‬
‫والمعرفة والتقدم في طريق السلوك المحل الذي ل يجهل وكللل أحللد فمللأخوذ مللن قللوله ومللتروك إل‬
‫المعصوم صلوات ال وسلمه عليه والكامل من عد خطللؤه ول سلليما فللي مثللل هللذا المجللال الضللنك‬
‫والمعترك الصعب الذي زلت فيه أقدام وضلت فيه أفهام وافترقت بالسالكين فيلله الطرقللات وأشللرفوا‬
.‫إل أقلهم على أودية الهلكات‬

“Kesalahan Syaikhul Islam dalam masalah ini tidak dapat menghancurkan kebaikan-kebaikannya
dan tidak boleh mengakibatkan prasangka tidak baik kepadanya. Beliau adalah seorang ulama besar,
seorang imam, ahli ma’rifah, dan tokoh ilmu suluk. Setiap manusia boleh diambil pendapatnya dan
ditinggal perkataannya, kecuali Al Ma’shum (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Orang sempurna
adalah orang yang menyadari kesalahannya, terutama dalam masalah yang pelik dan seringkali
menggelincirkan kaki serta membingungkan pemahaman dan mengakibatkan para salik
(pengikut/penempuh jalan tasawwuf) terjerumus dalam kehancuran.” (Imam Ibnul Qayyim, Madarijus
Salikin, Bab Manzilah At Tadzkiran wa Huwa Qarin Al Inabah, Hal. 198. Al Mausu’at Asy Syamilah)

Sikap kedua imam ini adalah sikap elegan dan menunjukkan kualitas ilmu dan pemahaman
mereka, serta mampu memposisikan manusia sesuai tempatnya. Kritik yang mereka lakukan tidaklah
membutakan mereka dari kebaikan yang telah dihasilkan oleh pihak yang dikritiknya. Namun, ini adalah
hal yang sulit diikuti bagi manusia yang fanatik dengan hawa nafsu, kagum dengan diri sendiri, dan selalu
memandang manusia dengan pandangan rendah.

Bagaimana dengan Sikap Syaikh Hasan Al Banna?

Sikap Imam Hasan Al Banna dalam menilai tasawwuf adalah sama dengan kedua imam di atas.
Beliau juga memiliki pandangan orisinil yang menunjukkan objektifitasnya. Setelah Beliau menceritakan
sejarah tasawwuf, beliau memaparkan bagaimana tasawwuf yang benar dan lurus, serta tasawwuf yang
menyimpang. Sebagaimana yang diceritakan pula oleh dua imam sebelumnya.

Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah berkata:

‫ ل شك أنه من لب السلم‬،”‫ واسمه” علوم التربية والسلوك‬،‫وهذا القسم من علوم التصوف‬


‫ والطب لها والرقي‬،‫ ول شك أن الصوفية قد بلغوا به مرتبة من علج النفوس ودوائها‬،‫وصميمه‬
‫ ول شك أنهم حملوا الناس بهذا السلوب على خطة عملية‬،‫ لم يبلغ إليها غيرهم من المربين‬،‫بها‬
‫ وإن كان ذلك لم يخل من المبالغة‬،‫ وصدق التوجه إليه‬،‫من حيث أداء فرائض ال واجتناب نواهيه‬
‫ كالمبالغة في الصمت‬:‫في كثير من الحيان تأثرًا بروح العصور التي عاشت فيها هذه الدعوات‬
،‫ فالصمت أصله العراض عن اللغو‬،‫ ولذلك كله أصل في الدين يرد إليه‬..‫والجوع والسهر والعزلة‬
‫ والعزلة أصلها كف الذى عن النفس‬،‫ والسهر أصله قيام الليل‬،‫والجوع أصله التطوع بالصوم‬
‫ ولو وقف التطبيق العملي عند هذه الحدود التي رسمها الشارع لكان في ذلك‬..‫ووجوب العناية بها‬
‫ ولو وقفت عند هذا الحد‬،‫ولكن فكرة الدعوة الصوفية لم تقف عند حد السلوك والتربية‬.‫كل الخير‬
‫ ومزج‬،‫ ولكنها جاوزت ذلك بعد العصور الولى إلى تحليل الذواق والمواجد‬،‫لكان خيرا لها وللناس‬
،‫ فخلطت بذلك الدين بما ليس منه‬،‫ذلك بعلوم الفلسفة والمنطق ومواريث المم الماضية وأفكارها‬
‫وفتحت الثغرات الواسعة لكل زنديق أو ملحد أو فاسد الرأي والعقيدة ليدخل من هذا الباب باسم‬
‫التصوف والدعوة إلى الزهد والتقشف‬

“Inilah bagian dari ilmu tasawwuf yang saya namakan ‘ulum at tarbiyah was suluk (ilmu-ilmu
pembinaan spiritual dan perilaku), tidak ragu lagi bahwa dia adalah bagian dari intisari Islam. Dan tidak
sangsi pula bahwa kaum sufi dengan ilmunya itu telah mencapai jenjang yang tidak dicapai oleh selain
mereka, walau para pendidik sekali pun, yakni jenjang terapi dan pengobatan jiwa.

Tidak ragu pula, bahwa mereka telah membawa umat manusia untuk melakukan amal nyata,
yaitu melaksanakan kewajiban yang dibenarkan Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya, serta benar-benar
menghadapkan diri kepadaNya sekalipun sering terjebak dalam tindakan berlebihan. Itu karena pengaruh
semangat perlawanan terhadap kondisi zaman.

Misalnya, berlebihan berdiam diri, menahan lapar, tidak tidur malam, ‘uzlah (mengasingkan
diri). Sebenarnya semua tindakan itu ada dasarnya dalam agama. Diam misalnya, berarti menghindarkan
diri dari laghwun (perilaku tidak berguna). Menahan lapar berarti ia puasa. Tidak tidur malam, berarti ia
qiyamul lail, dan ‘uzlah hakikatnya adalah memelihara diri. Jika saja pengamalannya proporsional, tepat
pada yang ditetapkan syara’, tentu hal itu merupakan gudang kebajikan.

Ternyata fikrah dakwah tasawwuf tidak hanya terhendti pada batas ilmu suluk dan tarbiyah. Jika
hanya berhenti pada batas itu, tentu manfaatnya akan banyak bagi mansia. Sayangnya, setelah abad-abad
pertama berlalu, tasawwuf berkembang melampaui batas wilayahnya (kajiannya, pen). Ia pada batas
memberi kebebasan liar pada dzauq (cita rasa) dan wajd (intuisi), disamping mencampur adukkan dengan
filsafat, manthiq (logika), serta warisan berpikir umat terdahulu yang bukan berasal darinya. Terbukalah
lubang-lubang yang cukup lebar bagi masuknya perilaku ateis, zindik, atau orang yang rusak pikiran dan
aqidahnya atas nama tasawwuf dan zuhud.” (Imam Hasan Al Banna, Mudzakkirat Ad Da’wah wa
Da’iyyah, Hal. 24-25)

Demikianlah pandangan Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah, ia memberikan pandangan apa


adanya tentang tasawwuf, berupa hal-hal yang baik atau yang buruk. Apa yang kita lihat dari tulisannya,
secara esensi, -qaddarullah- mirip dengan yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.
Pandangan yang adil, objektif, pertengahan, dan tidak berat sebelah. Amat berbeda dengan sebagian
manusia yang mengaku mengagumi Imam Ibnu Taimiyah tetapi mereka sama sekali tidak mewariskan
akhlak Imam Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu, mencela Syaikh Hasan Al Banna dalam sisi ini, sama juga
telah mencela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, semoga Allah meridhai
mereka semua.

Benarkah Syaikh Hasan Al Banna adalah seorang sufi?

Setelah kami uraikan apa dan bagaimana tasawwuf, serta pandangan adil dari para ulama. Kita
beranjak pada pembahasan, Benarkah Hasan Al Banna seorang sufi?

Pada mukadimah sudah saya sedikit sampaikan bahwa tidak sepantasnya Syaikh Hasan Al Banna
disebut sufi, dan memang hal itu jauh dari kenyataan. Seorang sufi dia hidup dan matinya tetap dalam
kesufiannya, namun tidak demikian dengan Syaikh Hasan Al Banna, tidak ada satu pun pemerhati dan
pengamat gerakannya, menyebutnya wafat dalam keadaan sufi. Bahkan mereka lebh sering membahas
bahwa beliau adalah seorang pemikir, mujahid, dan mujaddid (pembaharu), sebagaimana yang dikatakan
oleh Syaikh Muhamamd Al Ghazali Rahimahullah.

Untuk menilai sufi atau bukan terhadap Syaikh Hasan Al Banna, maka harus merujuk ke referensi
primer, bukan qiila wa qaala (dikatakan dan katanya). Banyak manusia yang terjebak dalam pemikiran
sempit, menilai tanpa mau mengkaji, memvonis tanpa mau bersabar meneliti, namun anehnya begitu
mudah menerima berita yang disimpangkan, baik dalam buku, majalah, internet, atau ceramah, yang
menjelek-jelekkan Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah. [1]

Perlu diketahui, sebenarnya tasawwuf hanyalah salah satu fase hidup dari Syaikh Hasan Al
Banna, yakni pada masa-masa remaja yang akhirnya dia tinggalkan di usia sebelum genap 17 tahun.
Sungguh, tidak dibenarkan menilai manusia dari masa lalunya, tanpa mau melihat fase-fase selanjutnya
yang berbeda. Menilai Syaikh Hasan Al Banna hanya dari fase remaja saja, tanpa mau melihat perubahan
hidupnya, adalah sikap zalim dan menunjukkan ketidakmampuan dalam menilai sejarah hidup manusia.
Apa yang dialami oleh Syaikh Hasan Al Banna juga pernah dialami para tokoh Islam sebelumnya. Seperti
Imam Abul Hasan Al Asy’ari, beliau mengalami tiga fase; mu’tazilah selama puluhan tahun, lalu menjadi
ahlus sunnah (tetapi masih mentakwil sifat-sifat Allah), lalu menjadi ahlus sunnah tulen, tanpa mentakwil
sifat-sifat Allah Ta’ala. Maka tidak pantas menilainya hanya dari ketika masih mu’tazilah! Begitu pula
yang dialami Sayyid Quthb, beliau mengalami tiga fase; fase Islami ketika remaja, fase sekuler ketika
muda, lalu kembali lagi ke Islam di sepertiga umurnya yang terakhir. Tentunya tidak benar hanya
menilainya ketika masih muda yang sekuler itu.
Kita lihat langsung, apa kata Syaikh Hasan Al Banna tentang hubungan dan fase hidupnya dengan
tasawwuf:

‫ ويقولللون إن‬،‫كانت أيام دمنهور ومدرسة المعلمين أيام الستشراق في عاطفللة التصللوف والعبللادة‬
‫ منهللا هللذه الفللترة الللتي صللادفت السللنوات الللتي أعقبللت الثللورة‬،‫حيللاة النسللان تنقسللم إلللى فللترات‬
‫ وكللانت سللني إذ ذاك مللن الرابعللة عشللرة إل‬. ‫ م‬1923 ‫ إلللى سللنة‬1920 ‫المصرية مباشرة من سنة‬
‫ ولم تخل مللن‬،‫ فكانت فترة استغراق في التعبد والتصوف‬،‫أشهرا إلى السابعة عشرة إل أشهرا كذلك‬
.‫مشاركة فعلية في الواجبات الوطنية التي ألقيت على كواهل الطلب‬
“Hari-hari di kota Damanhur dan Madrasah Al Mu’allimin adalah hari-hari yang tenggelam dalam
nuansa tasawwuf dan ibadah. Mereka mengatakan bahwa kehidupan manusia itu terbagi beberapa tahapan.
Di antaranya adalah tahapan-tahapan yang pernah saya alami pada tahun-tahun di mana saya mengalami
revolusi Mesir, dari tahun 1920 sampai 1923M. Saat itu usiaku 14 tahun kurang beberapa bulan, hingga
17 tahun kurang beberapa bulan. Ini merupakan fase di mana saya tenggelam dalam ibadah dan tasawwuf,
meskipun tetap ambil bagian dalam berbagai kewajiban sebagai warga negara, khususnya sebagai pelajar.”
(Imam Hasan Al Banna, Mudzakkirat Ad Da’wah wad Da’iyyah, Hal. 26)

Apa yang dikisahkan oleh Syaikh Hasan Al Banna tentang fase hidupnya ini, merupakan
sanggahan telak atas tudingan sebagian manusia terhadapnya. Justru anehnya, mereka yang suka menuding
itu pun merujuk pada kitabnya ini, Mudzakkirat Ad Da’wah wad Da’iyyah, apakah mereka tdak
membacanya, ataukah sengaja menutup-nutupinya kepada pembaca. Mereka berulang-ulang menyebut
Hasan Al Banna itu sufi! Nah, tulisan Beliau ini merupakan penyingkap kekeliruan –saya tidak
menyebutnya kebohongan- para penuduh, yang entah apa penyebabnya tidak mau jujur dalam menukil.

Selain itu, kelirunya tuduhan mereka semakin lengkap ketika Syaikh Hasan Al Banna mengatakan
bahwa jalan tasawwuf bukanlah jalan yang dipilihnya. Itulah yang menyebabkannya meninggalkan
tasawwuf ketika masih remaja, lantaran menurutnya tasawwuf adalah jalan yang ekslusif dan tidak
memberikan solusi. Berikut apa yang dikatakannya ketika masih remaja, dalam pelajaran Insya’ (karang
mengarang disekolahnya):

:‫ يسلك أيهما شاء‬،‫ لكل خواصه ومميزاته‬،‫والذي يقصد إلى هذه الغاية يعترضه مفرق طريقين‬

‫ وصرف القلب عللن الشللتغال‬،‫ الذي يتلخص في الخلص والعمل‬،‫ طريق التصوف الصادق‬:‫أولهما‬
.‫ وهو أقرب وأسلم‬.‫بالخلق خيرهم وشرهم‬

‫ ويفللارقه فللي الختلط‬،‫ الللذي يجللامع الول فللي الخلص والعمللل‬،‫ طريق التعليم والرشاد‬:‫والثاني‬
‫ وهللذه أشللرف عنللد ال ل‬.‫ وغشيان مجامعهم ووصف العلج الناجع لعللهم‬،‫ ودرس أحوالهم‬،‫بالناس‬
‫ وقد رجللح الثللاني – بعللد أن نهجللت‬.‫ ونادى بفضله الرسول الكريم‬،‫ ندب إليه القرآن العظيم‬،‫وأعظم‬
‫ وأجملهمللا بمللن فقلله‬،‫ ولنلله أوجللب الطريقيللن علللى المتعلللم‬،‫ وعظيللم فضللله‬،‫الول – لتعللدد نفعلله‬
.”‫شيئاً”لينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون‬
“Orang yang ingin meraih tujun ini, di hadaoannya terdapat dua jalan, yang masing-masing
memiliki karakter dan keistimewaan. Ia bisa memilih jalan mana yang dikehandakinya.

Pertama, jalan tasawwuf yang benar, yang tercermin dalam sikap ikhlas dan amal, serta
memalingkan hati dan kesibukkan sesama makhluk, yang baik maupun yang buruk. Jalan ini lebih dekat
dan lebih selamat.
Kedua, jalan ta’lim (pendidikan) dan irsyad (bimbingan) –sama seperti di atas- dalam hal sikap
ikhlas dan amal, namun berbeda dalam hal mempergauli manusia, mempelajari keadaan mereka,
menyelami perkumpulan-perkumpulan mereka, serta mencari tahu terapi macam apa yang tepat untuk
mengobati berbagai enyakit yang dialami oleh umat. Ini lebih mulia dan lebih agung karena Al Quran
menyarankannya dan Rasul pun menyatakan keutamaannya. Yang kedua ini lebih tepat, karena
manfaatnya yang berlipat ganda dan keutamaannya yang agung, setelah saya mengalami jalan yang
pertama.

Di antara dua jalan di atas, jalan kedua inilah yang lebih wajib bagi muta’allim (penuntut ilmu)
dan yang terbaik pula bagi yang sudah faqih (berilmu).

“Agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah (9): 122). (Selengkapnya, Imam Hasan Al
Banna, Ibid, Hal. 56-59)

Apa yang saya garis bawahi di atas membuktikan, dengan bukti yang sangat jelas, bahwa Beliau
bukanlah seorang sufi. Sebab, mana ada sufi yang memilih jalan selain tasawwuf seperti yang
dilakukannya? Mana ada sufi yang mengakui adanya jalan lain yang lebih utama dari jalan tasawwuf? Dia
memlilih jalan pendidikan dan bimbingan, dan itulah yang lebih utama, agung, dan layak diikuti.

Semoga uraian ini semua bermanfaat bagi yang ingin mendapatkan kebenaran. Wallahu A’lam.