Anda di halaman 1dari 84

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak adalah individu unik dan aset utama yang sebagian besar
aktivitasnya adalah bermain. Anak merupakan generasi muda penerus cita-cita
bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Pembangunan
nasional

bertujuan

meningkatkan

kualitas

sumber

daya

manusia

yang

berkelanjutan dan berkesinambungan. Sumber daya manusia dapat dikembangkan


sedini mungkin bahkan sejak manusia itu sendiri masih di dalam kandungan
ibunya. Dalam upaya pembangunan manusia yang berkualitas tersebut faktor
perkembangan anak juga menjadi perhatian khusus pemerintah. Anak menjadi
potensi dan penerus cita-cita bangsa. Anak termasuk individu yang masih
bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, artinya membutuhkan
lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan
untuk belajar mandiri (Supartini, 2004). Anak yang sejahtera karena perhatian dan
kasih sayang dari lingkungan sekitarnya akan bertumbuh dan berkembang
menjadi manusia yang berkualitas pada masa yang akan datang.
Perawatan dan pendidikan merupakan rangsangan dari lingkungan yang
lebih berpengaruh dalam kehidupan anak menuju kedewasaan (Suherman, 2000).
Dalam paradigma keperawatan anak, lingkungan internal dan eksternal sangat
berperan dalam perubahan status kesehatan anak seperti turunan, jenis kelamin,
peran orang tua, saudara, teman sebaya dan masyarakat. Apabila lingkungan di

sekitar anak tidak mendukung maka status kesehatan anak tidak akan mencapai
kesejahteraan dan anak cenderung mengalami sakit (Hidayat, 2008).
Menurut Potter dan Perry (2005), Anak prasekolah adalah mereka yang
berusia 3 sampai 6 tahun. Ketika anak memasuki masa prasekolah (3-6 tahun)
kemampuan interaksi sosialnya lebih luas. Jangkauan pergaulan anak sampai di
lingkungan tetangga di mana anak akan bertemu dengan anak lain dan orang
dewasa. Keingintahuan mereka dan inisiatif yang berkembang mengarah pada
eksplorasi aktif terhadap lingkungan, perkembangan ketrampilan baru dan
memiliki teman baru. Anak prasekolah akan bekerja sama dengan anak lain dalam
permainan.
Penyakit dan hospitalisasi sering menjadi krisis pertama yang harus
dihadapi anak.

Ini disebabkan karena perawatan di rumah sakit memaksa anak

berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasih sayang dan
menyenangkan. Umumnya pada anak yang mengalami hospitalisasi akan muncul
perasaan marah, takut, sedih, cemas, menarik diri dari orang lain dan rasa
bersalah. Reaksi-reaksi tersebut sangat dipengaruhi oleh usia perkembangan anak,
pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia, dan
kemampuan koping yang dimiliki (Wong, 2008). Pada anak usia prasekolah
sering menunjukkan perilaku-perilaku menolak makan, sering bertanya,
menangis, takut, perilaku menyerang, berontak, melarikan diri, ketergantungan
pada orang tua, tidak mau bekerja sama dengan perawat dan dokter. Di sini
diperlihatkan bahwa anak tidak bisa berinteraksi sosial dengan orang-orang di
sekitarnya termasuk dengan dokter dan perawat yang memberikan pelayanan,

sehingga memengaruhi proses pemberian tindakan keperawatan dan medik serta


memperlambat penyembuhan anak yang pada akhirnya rencana pemulangan
ditunda dan hari rawat bertambah.
Salah satu fungsi perawat adalah meringankan respon hospitalisasi, dengan
cara menghibur, klien dan memenuhi segala kebutuhannya, seperti memberikan
suatu lingkungan yang dapat menghilangkan kecemasan yang disebabkan oleh
penyakit dan lingkungan rumah sakit. Salah satu cara meminimalkan kecemasan
anak yaitu dengan bermain, karena dengan bermain akan berdampak penting bagi
kesehatan mental, emosional, dan sosial (Nursalam, 2005).
Bermain merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan alat
paling efektif untuk mengatasi stress pada anak. Melalui bermain anak dapat
mengekspresikan pikiran, perasaan, fantasi serta daya kreasi dengan tetap
mengembangkan kreatifitasnya dan beradaptasi lebih efektif terhadap berbagai
sumber stres. Selain itu dengan bermain juga anak dapat belajar mengungkapkan
isi hati melalui kata-kata, belajar dan mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, obyek bermain, waktu, ruang, dan orang. Menurut Hidayat
(2008), bermain dapat meningkatkan sosialisasi anak dan proses sosialisasi dapat
terjadi melalui permainan. Dalam penggunaan alat permainan pada anak, usia
tumbuh kembang juga perlu diperhatikan karena setiap tahap usia tumbuh
kembang memiliki tugas perkembangan masing-masing. Salah satu jenis
permainan yang dilakukan oleh anak usia prasekolah adalah dramatic play, di
mana permainan ini akan memainkan peran sebagai orang lain melalui permainan,
misalnya: berperan sebagai dokter dan perawat. Hal ini sesuai dengan

perkembangan sosial anak prasekolah. Menurut Wong (2008) bermain di rumah


sakit bermanfaat untuk meningkatkan interaksi dan perkembangan yang positif
terhadap orang lain, sebagai alat untuk mencapai tujuan terapeutik. Bila anak yang
mengalami hospitalisasi dapat berinteraksi sosial dengan temannya, pengunjung,
perawat, dokter, dan petugas lainnya di rumah sakit maka semua tindakan
keperawatan dan medik dapat diberikan sesuai dengan yang direncanakan serta
hari rawat pasien tidak bertambah panjang.
Anak mempunyai daya tahan tubuh yang sangat rendah dibandingkan orang
dewasa sehingga anak sering mengalami sakit. Hampir semua rumah sakit
menyediakan tempat untuk perawatan anak. Berdasarkan data yang diperoleh dari
Rekam Medik RSUD Umbu Rara Meha Waingapu jumlah anak usia prasekolah
(3- 6 tahun), tahun 2011 berjumlah 567 orang dan pada 6 bulan terakhir antara
Januari sampai Juni 2012 berjumlah 238 orang. Hasil dari studi pendahuluan
yang dilakukan peneliti di Ruangan Anggrek Rumah Sakit Umum Umbu Rara
Meha Waingapu, 18-25 Agustus 2012, melalui observasi pada 10 anak umur 3-6
tahun yang pertama kali mengalami hospitalisasi, diruangan kelas 2 dan 3. Dari
hasil observasi didapatkan data bahwa 5 dari 10 orang anak prasekolah semua
tidak kooperatif terhadap tindakan keperawatan yang diberikan seperti pada saat
pemeriksaan fisik, injeksi, pemasangan infus, pengambilan sampel laboratorium,
saat perawat membawa obat, 3 orang menunjukkan persoalan ketergantungan
yang sangat tinggi, 2 orang menunjukkan peersoalan ketergantungan sedang
dengan orang tua atau pengasuh utama di rumah, terutama ibunya.

Hal ini

ditunjukkan dengan anak tidak menjawab pertanyaan perawat atau orang yang

baru ditemui, anak menangis, selalu minta pulang dan rewel, anak selalu
digendong dan terlihat takut pada perawat yang datang. Hal ini membuat perawat
cukup kesulitan dalam melakukan tindakan keperawatan. Orang

tua pasien

mengatakan bahwa tidak biasa membiarkan anak bermain selama anaknya


dirawat. Hal ini disebabkan alat dan tempat bermain yang dimiliki orang tua dan
rumah sakit terbatas, sehingga anak cenderung diam tanpa melakukan apapun saat
sakit. Orang tua juga melarang anak bermain selama sakit karena beranggapan
bila beraktifitas penyakit anak semakin parah, sehingga anak tidak boleh
beraktivitas karena sakit. Selain itu orang tua memiliki kebiasaan membiarkan
anak bermain sendiri tanpa jelas maksud dan tujuan bermain, sedangkan usia 3-6
tahun termasuk dalam golden periode. Bila orang tua kurang memperhatikan hal
tersebut akan memberikan dampak kurang baik pada anak di masa yang akan
datang dalam perkembangan fisik, psikologis maupun sosialnya. Di RSUD Umbu
Rara Meha Waingapu khususnya Ruangan Anggrek memiliki Ruang bermain
tetapi tidak atau jarang dipergunakan, hanya digunakan bila ada mahasiswa D3
Keperawatan yang praktek saja.
Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian guna mengetahui Pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap
interaksi sosial anak prasekolah yang dirawat di ruangan Anggrek Rumah Sakit
Umum Umbu Rara Meha Waingapu Kabupaten Sumba Timur Propinsi NTT.
Dari pemikiran tersebut maka penelitian ini dilakukan pemberian terapi bermain
terhadap beberapa anak prasekolah dan dilakukan observasi untuk melihat
pengaruh yang ditunjukkan terhadap interaksi sosial anak tersebut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian
adalah; Apakah ada pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi
sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RSUD Umbu Rara Meha
Waingapu tahun 2012?

C. Tujuan Penelitian
1.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi

sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RSUD Umbu Rara Meha
Waingapu tahun 2012.
2.

Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi interaksi sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi


sebelum diberikan terapi bermain dramatic play.
b. Mengidentifikasi interaksi sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi
setelah diberikan terapi bermain dramatic play.
c. Menganalisa pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi sosial
anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi sebelum diberi terapi bermain
dan sesudah di beri terapi bermain dramatic play.

D. Manfaat Penelitian
1.

Manfaat Teoritis

a.

Secara umum memberikan masukan kepada rumah sakit, khususnya ruangan


Anggrek dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak prasekolah
dengan memberikan terapi bermain, sehingga anak dapat berinteraksi sosial
dalam perawatan.

b.

Bahan masukan dalam memperkaya asuhan keperawatan pada anak


prasekolah, apabila dengan pemberian terapi bermain, anak dapat berinteraksi
sosial, sehingga diharapkan proses penyembuhan anak dapat berjalan dengan
cepat dan anak dapat melanjutkan kegiatannya.

c.

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkaya


pengetahuan keperawatan khususnya bidang perawatan anak untuk mengenal
masalah terhadap dampak hospitalisasi.

2.

Manfaat Praktis

a.

Bagi peneliti.
Menambah pengetahuan bagi peneliti terkait terapi bermain dramatic play
dan perkembangan anak prasekolah.

b.

Bagi institusi pelayanan kesehatan. Menjadi rekomendasi bagi perawat untuk


melaksanakan terapi bermain dramatic play dalam meminimalkan dampak
hospitalisasi bagi anak prasekolah.

c.

Bagi profesi keperawatan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah


informasi serta memperkuat teori tentang terapi bermain dan perkembangan
anak dalam hal ini interaksi sosial anak prasekolah.

d.

Bagi masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk


menambah pengetahuan masyarakat khususnya keluarga dan anak prasekolah
tentang terapi bermain dan interaksi sosial dan mampu mengaplikasikannya.

E. Keaslian Penelitian
1.

Lutht, Arifah (2007), Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kecemasan Anak


Prasekolah yang Dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Sarila Husada
Sragen. Jenis penelitian pre-eksperimen menggunakan rancangan static group
comparison. Jumlah sampel 20 pasien, dengan hasil (p<0,05).

2.

Rahmawati, Lely lusmilasari, Sri hartini (2006), Pengaruh Bermain Simbolik


Terhadap Perilaku Kooperatif Anak Selama Menjalani Rawat Inap di RSUP
Dr.Sarjito. Dengan metode Quasy eksperimental dengan teknik time series,
jumlah sampel 23 orang. Hasilnya (p=0,047).

3.

Elfira, Eqlima (2011), Pengaruh Terapi bermain dengan Teknik Bercerita


Terhadap Kecemasan Akibat Hospitalisasi pada Anak Usia Prasekolah di
Ruang Perawatan RSUP H Adam Malik Medan. Jenis penelitian
praeksperimen dengan desain postes only design, jumlah responden 13 orang.
Hasilnya (p=0,001).

4.

Simanjuntak, Ferdina. K.J.A (2010), Pengaruh Terapi bermain terhadap


Tidakan Kooperatif Anak dalam Menjalani Perawatan di RSUP H Adam
Malik Medan. Dengan metode Quasi Experiment desain Control Times Series
design, jumlah responden 60. Hasilnya (p=0,001).
Dalam penelitian ini yang berjudul: Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play
Terhadap Interaksi Sosial Anak Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi di

RSUD Umbu Rara Meha Waingapu, menggunakan metode Non Probability


Sampling dengan teknik purposive sampling, dengan jumlah sampel 30
orang, menggunakan uji Wilcoxson Signed Rank Test.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Perkembangan Anak Prasekolah


1.

Pengertian Perkembangan
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill)

dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan
dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut
adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan
sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat
memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan
tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 2008).
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada
masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan
berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional dan inteligensia
berjalan sangat cepat. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan
dan interaksi antara anak dengan orang tuanya. Perkembangan anak akan optimal
bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai
tahap perkembangan.
Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang di tunjang oleh faktor
lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju
kedewasaan dari lingkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak

10

11

menuju dewasa. Perkembangan menandai maturitas dari organ-organ dan sistemsistem, perolehan ketrampilan, kemampuan yang lebih siap untuk beradaptasi
terhadap stress dan kemampuan untuk memikul tanggung jawab maksimal dan
memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan kreativitas.
2.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan

a.

Faktor Intrinsik
Faktor instrinsik yang mempengaruhi kegagalan berkembang terutama
berkaitan dengan terjadinya penyakit pada anak, yaitu:
1) Kelainan kromosom (misalnya sindroma Down dan sindroma Turner).
2) Kelainan pada sistem endokrin, misalnya kekurangan hormon tiroid,
kekurangan hormon pertumbuhan atau kekurangan hormon lainnya.
3) Kerusakan otak atau sistem saraf pusat yang bisa menyebabkan kesulitan
dalam pemberian makanan pada bayi.
4) Kelainan pada sistem jantung dan pernafasan yang bisa menyebabkan
gangguan mekanisme penghantaran oksigen dan zat gizi ke seluruh
tubuh.
5) Anemia atau penyakit darah lainnya. Kelainan pada sistem pencernaan
yang bisa menyebabkan malabsorbsi atau hilangnya enzim pencernaan
sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.

12

b.

Faktor Ekstrinsik
Yang merupakan faktor ekstrinsik:
1) Faktor psikis dan sosial, (misalnya tekanan emosional akibat penolakan
atau kekerasan dari orang tua).
2) Depresi, bisa menyebabkan nafsu makan anak berkurang. Depresi bisa
terjadi jika anak tidak mendapatkan rangsangan sosial yang cukup,
seperti yang dapat terjadi pada bayi yang diisolasi dalam suatu inkubator
atau pada anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya.
3) Faktor ekonomi, (dapat mempengaruhi masalah pemberian makanan
kepada anak, tempat tinggal dan perilaku orang tua). Keadaan ekonomi
yang pas-pasan dapat menyebabkan anak tidak memperoleh gizi yang
cukup untuk perkembangan dan pertumbuhannya.
4) Faktor lingkungan, (termasuk pemaparan oleh infeksi, parasit atau
racun). Lingkungan merupakan faktor yang menentukan tercapai atau
tidaknya

potensi

bawaan.

Lingkungan

yang cukup

baik

akan

memungkinkan tercapainya potensi bawaan sedangkan lingkungan yang


kurang baik

akan menghambatnya. Lingkungan ini merupakan

lingkungan bio-psiko-fisiko-sosial yang mempengaruhi individu setiap


hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.

c.

Faktor Pendukung
Faktor faktor pendukung perkembangan anak, antara lain :
1) Terpenuhi kebutuhan gizi pada anak tersebut.
2) Peran aktif orang tua.

13

3) Lingkungan yang merangsang semua aspek perkembangan anak.


4) Peran aktif anak.
5) Pendidikan orang tua (Soetjiningsih, 2008).
3.

Karakteristik Perkembangan Anak Prasekolah.


Anak usia prasekolah merupakan perkembangan individu yang terjadi sekitar

usia 3-6 tahun, pada usia ini anak berusaha mengendalikan lingkungan dan mulai
belajar menyesuaikan diri secara rasional. Usia ini juga sering disebut dengan
masa pancaroba, karena pada umumnya anak pada masa ini dorongan
keingintahuannnya sangat kuat. Diantara perkembangan-perkembangan yang
terjadi pada usia ini antara lain :
a.

Perkembangan Fisik. Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan


perkembangan berikutnya. Dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh, baik
menyangkut ukuran berat dan tinggi, maupun kekuatannya memungkinkan
anak untuk dapat lebih mengembangkan ketrampilan fisiknya, dan eksplorasi
terhadap

lingkungannya

dengan

tanpa

bantuan

dari

orangtuanya.

Perkembangan sistem syaraf pusat memberikan kesiapan kepada anak untuk


lebih dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan terhadap tubuhnya.
b.

Perkembangan Intelektual. Menurut Pieget, perkembangan kognitif pada usia


ini berada pada periode preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum
mampu menguasai operasi mental secara logis. Yang dimaksud dengan
operasi adalah kegiatan-kegiatan yang diselesaikan secara mental bukan fisik.
Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional, atau symbolic
function, yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk merepresentasikan

14

(mewakili) sesuatu yang lain dengan simbol (kata-kata, bahasa gerak, dan
benda). Dapat juga dikatakan sebagai semiotic function, kemampuan untuk
menggunakan simbol-simbol (bahasa, gambar, tanda/isyarat, benda dan
peristiwa) untuk melambangkan suatu kegiatan, benda yang nyata, atau
peristiwa. Melalui kemampuan di atas, anak mampu berimajinasi atau
berfantasi tentang berbagai hal. Dia dapat menggunakan kata-kata peristiwa
dan benda untuk melambangkan sesuatu.
c.

Perkembangan Emosional. Pada usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari


akunya, bahwa akunya (dirinya) berbeda dengan orang lain. Kesadaran ini
diperoleh dari pengalamannya, bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi
orang lain atau benda lain. Dia menyadari bahwa keinginannya berhadapan
dengan keinginan orang lain, sehingga orang lain tidak selamanya memenuhi
keinginannya. Bersamaan dengan itu, berkembang pula perasaan harga diri
yang menuntut pengakuan dari lingkungannya. Jika lingkungannya (terutama
orang tuanya) tidak mengakui harga diri anak, seperti memperlakukan dengan
anak secara keras, atau kurang menyayanginya, maka pada diri anak akan
berkembang sikap-sikap : keras kepala/menentang, atau menyerah menjadi
penurut yang diliputi rasa harga diri kurang dengan sifat pemalu.
Beberapa emosi yang berkembang pada masa anak, yaitu sebagai berikut:
1). Takut, yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang dianggap
membahayakan. Rasa takut terhadap sesuatu berlangsung melalui
tahapan: mula-mula tidak takut, karena anak belum sanggup melihat
kemungkinan bahaya yng terdapat dalam objek, timbul rasa takut setelah

15

mengenal adanya bahaya, dan rasa takut bisa hilang kembali setelah
mengetahui cara-cara menghindar dari bahaya.
2). Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada
objeknya. Kecemasan ini muncul mungkin dari situasi-situasi yang
dikhayalkan, berdasarkan dari pengalaman yang diperoleh, baik
perlakuan orang tua, buku-buku bacaan/komik, radio atau film.
3). Marah, merupakan perasaan tidak senang, atau benci baik terhadap orang
lain, diri sendiri, atau objek tertentu, yang diwujudkan dalam bentuk
verbal (kata-kata kasar/ makian/ sumpah serapah) atau non verbal (seperti
mencubit, memukul, menendang dan merusak). Perasaan marah ini
merupakan reaksi terhadap situasi frustasi yang dialaminya, yaitu
perasaan kecewa atau perasaan tidak senang karena adanya hambatan
terhadap pemenuhan keinginannya.
4). Cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang
dipandang telah merebut kasih sayang dari seseorang yang telah
mencurahkan kasih sayang kepadanya.
5). Kegembiraan, kesenangan, kenikmatan, yaitu perasaan yang positif,
nyaman, karena terpenuhi keinginannya. Kondisi yang melahirkan
perasaan gembira pada anak, diantaranya terpenuhinya kebutuhan
jasmaniah (makan dan minum), diperolehnya kasih sayang, ada
kesempatan untuk bergerak (bermain secara leluasa), dan memiliki
mainan yang disenanginya.

16

6). Kasih sayang, yaitu perasaan senang untuk memberikan perhatian, atau
perlindungan terhadap orang lain, hewan atau benda.
7). Phobi, yaitu perasaan takut terhadap objek yang tidak patut ditakutinya
(takut abnormal). Perasaan ini muncul akibat orang tua yang suka
menakut-nakuti anak, sebagai cara orang tua untuk menghukum, atau
menghentikan perilaku anak yang tidak disenanginya.
8). Ingin tahu, yaitu perasaan ingin mengenal, mengetahui segala sesuatu
atau objek-objek, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Perasaan ini
ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak.
Perkembangan
keberhasilan

belajar

emosi
anak.

yang
Oleh

sehat

sangat

karena

itu,

membantu
dalam

bagi
rangka

mengembangkan emosi anak yang sehat, guru-guru supaya memberikan


bimbingan kepada mereka, agar mereka dapat mengembangkan hal-hal
berikut:
a) Kemampuan untuk mengenal, menerima, dan berbicara tentang
perasaan-perasaannya.
b) Menyadari bahwa ada hubungan antara emosi dengan tingkah laku
sosial.
c) Kemampuan menyalurkan keinginannya tanpa menggangu perasaan
orang lain.
d) Kemampuan untuk peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang
lain.
d.

Perkembangan Bahasa. Perkembangan bahasa anak usia prasekolah, dapat


diklasifikasikan ke dalam dua tahap yaitu sebagai berikut :
1) Masa 2,0-2,6 tahun yang bercirikan :

17

a) Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.


b) Anak sudah mampu memahami tentang perbandingan. Misalnya,
anjing lebih besar dari kucing.
c) Anak banyak menanyakan nama dan tempat: apa, di mana, dan dari
mana.
d) Anak sudah banyak mengunakan kata-kata yang berawalan dan
berakhiran.
2) Masa 2,6-6,0 tahun yang bercirikan:
a) Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak
kalimatnya.
b) Tingkat berfikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan
soal waktu, sebab-akibat melalui pertanyaan-pertanyaan: kapan, ke
mana, mengapa, dan bagaimana. Untuk membantu perkembangan
bahasa anak, atau kemampuan berkomunikasi maka orang tua dan
guru seyogianya memfasilitasi, memberi kemudahan, atau peluang
kepada anak dengan sebaik-baiknya, berbagai peluang itu antara
lain:
(1) Bertutur kata yang baik dengan anak.
(2) Mau mendengarkan pembicaraan anak.
(3) Menjawab pertanyaan anak (jangan meremehkan).
(4) Mengajak dialog dengan hal-hal sederhana di sekolah, anak
dibiasakan untuk bertanya, mengekspresikan keinginannya,
menghafal dan melantunkan lagu dan puisi.

18

e.

Perkembangan Sosial
Pada usia prasekolah, perkembangan sosial anak sudah tampak jelas,
karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya.
Tanda-tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah :
1) Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga
maupun dalam lingkungan bermain.
2) Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
3) Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.
4) Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain, atau teman sebaya
(peer group).
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio-psikologis
keluarganya. Apabila di lingkungan keluarga tercipta suasana yang
harmonis, saling memperhatikan, saling membantu dalam menyelesaikan
tugas-tugas keluarga, terjalin komunikasi antar anggota keluarga, maka
anak akan memiliki kemampuan atau penyesuaian sosial dalam
hubungan dengan orang lain.

f.

Perkembangan Kepribadian
Masa ini lazim disebut masa Trotzalter, periode perlawanan atau masa
krisis ini terjadi karena ada perubahan yang hebat dalam dirinya, yaitu dia
mulai sadar akan aku-nya, dia menyadari bahwa dirinya terpisah dari
lingkungan dan orang lain. Dengan kesadaran ini anak menemukan bahwa
ada dua pihak yang berhadapan, yaitu (aku-nya) dan orang lain (orang tua,
saudara, guru dan teman sebaya). Dia mulai menemukan bahwa tidak semua

19

keinginannya dipenuhi orang lain. Pertentangan antara kemauan diri dan


tuntutan lingkungannya, dapat mengakibatkan ketegangan dalam diri anak,
sehingga tidak jarang anak meresponsnya dengan sikap membandel atau
keras kepala. Bagi anak usia ini, sikap membandel itu merupakan suatu
kewajaran, karena perkembangan pribadi mereka sedang bergerak dari sikap
dependence independen. Pada masa ini, berkembang kesadaran dan
kemampuan untuk memenuhi tuntutan dan tanggung jawab. Oleh karena itu,
agar tidak berkembang sikap membandel, pihak orang tua perlu
menghadapinya secara bijaksana, penuh kasih sayang, dan tidak bersikap
keras. Meskipun mereka mulai menampakkan keinginan untuk bebas dari
tuntutan orang tua, namun pada dasarnya mereka masih sangat membutuhkan
perawatan, asuhan, bimbingan, dan curahan kasih sayang orang tua.
g.

Perkembangan Moral
Pada masa ini anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas
terhadap kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui
pengalaman berinteraksi dengan orang lain. Anak akan belajar memahami
tentang kegiatan atau prilaku mana yang baik/boleh/diterima disetujui atau
buruk/tidak boleh/ditolak/tidak disetujui. Berdasarkan pengalamannya itu,
maka pada masa ini anak harus dilatih atau dibiasakan mengenai bagaimana
dia harus dilatih atau dibiasakan mengenai bagaimana dia harus bertingkah
laku. Karena itu perlu melakukan upaya-upaya:
1). Memberikan contoh atau teladan yang baik, dalam berprilaku atau
bertutur kata.

20

2). Menanamkan

kedisiplinan

kepada

anak,

dalam

berbagai

aspek

kehidupan, seperti memelihara kebersihan atau kesehatan, dan tata karma


atau budi pekerti luhur.
3). Mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral kepada anak, baik
melalui pemberian informasi, atau melalui cerita.
h.

Perkembangan Kesadaran Beragama


Kesadaran beragama pada anak usia ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai
berikut:
1.

Sikap keberagamaannya bersifat reprensif (menerima) meskipun banyak


bertanya.

2.

Pandangan ketuhanannya bersifat antropormorph (dipersonifikasi).

3.

Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam)


meskipun mereka telah melakukan atau berpartisipasi dalam berbagai
kegiatan ritual.

4.

Hal ketuhanan dipahamkan secara ideosyncritis (menurut khayalan


pribadinya) sesuai dengan taraf berfikirnya yang masih bersifat
egosentrik (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya). Pengetahuan
anak tentang agama terus berkembang berkat: mendegarkan ucapanucapan orang tua, melihat sikap dan prilaku orang tua dalam
mengamalkan ibadah, dan pengalaman dan meniru ucapan dan perbuatan
orang tuanya.

21

B. Interaksi Sosial Anak Prasekolah


1.

Pengertian Interaksi Sosial


Ditilik dari asal usulnya, interaksi social berasal dari bahasa inggris
social interaction, yang mengandung pengertian saling tindak (inter action)
yang di bangun, dipertahankan dan atau diubah oleh dua orang atau lebih.
Interaksi sosial adalah hubungan sosial dinamis yang menyangkut hubungan
antar individu, antar kelompok manusia, maupun antar orang perorangan
dengan kelompok manusia (Badrujaman, 2008).

Menurut Walgito B

(Sunaryo, 2004), interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan
individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau
sebaliknya. Sedangkan menurut Bonner H (Sunaryo, 2004), interaksi sosial
adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana
kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki
kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.
2.

Faktor-Faktor yang Mendasari Terjadinya Interaksi Sosial


Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada beberapa faktor,
antara lain:
a.

Imitasi (Peniruan). Imitasi adalah proses belajar dengan cara meniru atau
mengikuti prilaku orang lain. Faktor imitasi memiliki peranan yang
sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya
adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi
kaidah-kaidah dan nilai yang berlaku. Misalnya: seorang anak mencontoh
seorang dewasa untuk bersikap sopan santun terhadap orang lain. Selain

22

itu, imitasi mungkin pula mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negatif,


dimana hal-hal yang ditiru adalah tindakan yang menyimpang, tidak
sesuai dengan norma, etika dan moral sosial. Misalnya: seorang anak
menjadi pecandu narkoba karena meniru dan bergaul dengan kelompok
pemakai narkoba.
b.

Sugesti. Sugesti adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh


oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang
tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh tersebut tanpa berpikir
panjang atau suatu proses interaksi sosial ketika individu menerima suatu
pandangan atau pedoman perilaku satu individu lain tanpa kritik terlebih
dahulu.

c.

Identifikasi, adalah kecenderungan atau keinginan dalam seorang untuk


menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam
dari pada imitasi. Oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas
dasar proses ini. Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya
(secara tidak sadar), maupun dangan sengaja oleh karena seringkali
seseorang

memerlukan

tipe-tipe

ideal

tertentu

didalam

proses

kehidupannya. Walaupun dapat berlangsung dengan sendirinya, proses


identifikasi berlangsung dalam keadaan dimana seseorang yang
beridentifikasi benar-benar mengenal pihak lain (yang menjadi idealnya),
sehingga pandangan, sikap, maupun kaidah-kaidah yang berlaku pada
pihak lain tadi dapat melembaga dan bahkan dijiwainya.

23

d.

Simpati. Simpati adalah perasaan tertarik yang timbul dalam diri


seseorang dan membuatnya merasa seolah-olah berada dalam keadaan
yang lain. Didalam proses ini, perasaan memegang peranan yang sangat
penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk
memahami pihak lain dan bekerja sama dengannya.

3.

Bentuk Interaksi Sosial


Menurut Soekanto (cit Sunaryo, 2004), ada empat bentuk interaksi
social, yaitu: kerja sama (cooperation), persaingan (competition), pertentangan
atau pertikaian (conflict), akomodasi atau penyesuaian diri (accommodation).
a.

Kerja Sama (cooperation).


Kerja sama merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang utama.
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorang atau
kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.

b.

Persaingan (competition).
Persaingan adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok
manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang kehidupan yang
pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatiaan umum dengan cara
menarik perhatian publik atau mempertajam prasangka yang telah ada

c.

Pertentangan atau pertikaian (conflik)


Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses sosial dimana individu
atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan
menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan atau kekerasan.

24

d.

Akomodasi Atau Penyesuaian Diri (accommodation)


Akomodasi atau penyesuaian diri adalah adanya suatu keseimbangan
(equilibrium) dalam interaksi antara orang perorangan atau kelompok
manusia dalam kaitannya dengan norma sosial dan nilai sosial yang
berlaku didalam masyarakat.

4.

Jenis Interaksi Sosial


Ada tiga jenis interaksi sosial menurut Sunaryo (2004), yaitu; interaksi
antara individu dan individu, interaksi antara individu dan kelompok, interaksi
antara kelompok dan kelompok
a. Interaksi Antara Individu Dan Individu
Interaksi ini terjadi pada saat dua individu bertemu, walau pertemuan
tersebut tanpa tindakan apa-apa.
b. Interaksi Antara Individu Dan Kelompok
Interaksi ini bentuknya berbeda-beda sesuai keadaan. Interaksi ini mencolok
manakala

terjadi

benturan

antara

kepentingan

perorangan

dengan

kepentingan kelompok.
c. Interaksi Antara Kelompok dan Kelompok
Kelompok sebagai satu kesatuaan. Ciri-ciri kelompok tersebut: ada pelaku
dengan jumlah lebih dari satu, ada komunikasi antara pelaku dengan
menggunakan simbol, ada dimensi waktu yang menentukan sifat aksi yang
sedang berlangsung, ada tujuan tertentu.

25

5.

Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial


Menurut Soekanto (cit Sunaryo, 2004) dan didukung oleh Badrujaman
(2008), suatu interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi
dua syarat yaitu;
a.

Adanya kontak sosial. Kontak sosial merupakan aksi individu atau


kelompok dalam bentuk isysrat yang memiliki makna bagi si pelaku dan
si penerima membalas aksi itu dengan reaksi.

b.

Adanya komunikasi. Arti terpenting dari komunikasi adalah bahwa


seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud
pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap, perasaan-perasaan
disampaikan oleh orang tersebut. Dalam komunikasi, dituntut adanya
pemahaman makna dari pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Komunikasi hampir sama dengan kontak, tetapi adanya kontak belum
tentu terjadi komunikasi. Kontak lebih ditekankan orang atau kelompok
yang berinteraksi, sedangkan pada komunikasi yang dipentingkan adalah
pembrosesan pesan. Dengan adanya komunikasi, sikap dan perasaan
suatu kelompok manusia atau orang perorang dapat diketahui oleh
kelompok-kelompok lain atau orang lainnya.

6.

Interaksi Sosial Anak Usia Pra Sekolah


Ketika anak sudah memasuki usia pra sekolah (3-6 tahun),
kemampuan interaksi sosialnya menjadi lebih luas dan mempersiapkan diri
memasuki dunia sekolah (Supartini, 2004). Rasa inisiatif mulai menguasai
anak, dan anak sudah mulai diikutsertakan sebagai individu atau membantu

26

orang tua dan lingkungan. Dalam hal ini anak sudah mulai memperluas ruang
lingkup pergaulannya (Riyadi & Sukirman, 2009). Menurut Satyanegara &
Wijaya (2004), perkembangan sosial anak pra sekolah yaitu anak semakin
lebih tahu dan peka terhadap perasaan dan tindakan orang lain, dia secara
bertahap berhenti berkompetisi dan akan belajar bekerjasama saat bermain
dengan temannya. Anak akan masuk dalam kelompok tertentu dan mulai
berteman dengan kelompok tersebut. Dalam kelompok kecil dia akan belajar
bergantian dan berbagi mainan, walaupun dia tidak selalu melakukannya.
Bahkan dia memiliki teman akrab. Idealnya mereka mempunyai teman di
lingkungan rumahnya atau di lingkungan taman kanak-kanak.

C. Konsep Terapi Bermain


1.

Pengertian bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk
memperoleh kesenangan. Bermain adalah cermin kemampuan fisik,
intelektual, emosianal dan sosial, bermain merupakan media yang baik untuk
belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat
dilakukannya, mengenal waktu, jarak dan suara (Wong, 2000). Menurut
Suherman (2000) bermain adalah tindakan atau kesibukan suka rela yang
dilakukan dalam batas-batas tempat dan waktu, berdasarkan aturan yang
mengikat tetapi diakui secara suka rela dengan tujuan yang ada dalam dirinya
sendiri, disertai perasaan tegang dan senang serta dengan pengertian bahwa
bermain merupakan suatu yang lain dari kehidupan biasa. Bermain
merupakan cara ilmiah bagi seorang anak untuk mengungkapkan konflik

27

yang ada dalam dirinya, yang pada awalnya anak belum sadar bahwa dirinya
sedang mengalami konflik (Riyadi & Sukarmin, 2009). Menurut champbell
dan Glaser (Supartini, 2004) menyatakan bahwa bermain sama dengan
bekerja pada orang dewasa dan merupakan aspek penting dalam kehidupan
anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stress
pada anak dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan
kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena
bemain sama dengan bekerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan
stress anak, media yang baik bagi anak untuk belajar berkomunikasi dengan
lingkungan, belajar mengenal dunia sekitar kehidupannya dan penting untuk
meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.
2.

Fungsi Bermain
Menurut Supartini (2004) yang didukung oleh Suherman (2000) ada
beberapa fungsi bermain pada anak ada 7, antara lain:
a.

Merangsang Sensorik Dan Perkembangan Motorik


Pada saat bermain, aktifitas sensorik motorik merupakan komponen
terbesar yang di gunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk
perkembangan fungsi otot. Stimulasi visual, pendengaran, sentuhan, dan
ativitas otot yang diperoleh lewat permainan dapat meningkatkan
perkembangan sensorik dan motorik anak.

28

b.

Merangsang Perkembangan Intelektual


Pada saat bermain anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap
segala sesuatu di lingkungan sekitarnya terutama mengenai warna,
bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Anak belajar
memecahkan masalah dengan mengeksplorasikan mainannya. Untuk
mencapai

kemampuan

ini

anak

menggunakan

daya

pikir

dan

imajinasinya semaksimal mungkin.


c.

Merangsang Perkembangan Sosial


Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Bermain dengan orang lain dapat membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah
dalam hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak
belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan
belajar nilai sosial yang ada pada kelompoknya.

d.

Merangsang Perkembangan Kreativitas


Beraksi

adalah

kemampuan

untuk

menciptakan

sesuatu

dan

mewujudkannya ke dalam bentuk objek dan atau kegiatan yang


dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar bereaktif dan
mencoba untuk merealisasikan ide-idenya.
e.

Merangsang Perkembangan Kesadaran Diri


Melalui bermain, anak akan mengembangkan kemampuannya dalam
mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya
lalu membandingkan dengan orang lain, menguji kemampuannya dengan

29

mecoba peran baru, mengetahui kelemahannya serta mengetahui dampak


tingkah laku terhadap orang lain.
f.

Merangsang Perkembangan Moral


Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungan orang tua dan
guru. Dalam bermain, anak berkesempatan untuk menerapkan nilai-nilai
tersebut. Melalui kesempatan bermain juga anak belajar nilai moral dan
etik, belajar membedakan mana ysng benar dan mana yang salah, serta
belajar bertanggung jawab atas apa yang talah dilakukan.

g.

Sebagai Terapi
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalangami perasaan
yang tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri.
Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami
anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada di lingkungan rumah
sakit. Permainan dapat melepaskan anak dari ketegangan, karena melalui
permainan, anak akan mengalihkan rasa sakitnnya pada permainan.
Dengan demikian permainan adalah media komunikasi anak dengan
orang lain, termasuk perawat dan petugas kesehatan di rumah sakit.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bermain


Menurut Supartini (2004) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi terapi bermain adalah sebagai berikut:
a.

Tahap perkembangan anak.

Aktivitas bermain yang tepat dilakukan

anak, sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak usia


prasekolah. Dengan demikian orang tua dan perawat harus mengetahui

30

dan memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap tahap


perkembangan dan pertumbuhan anak.
b.

Status Kesehatan. Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi


untuk bermain dibandingkan dengan anak yang kurang sehat, sehingga
anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang
membutuhkan banyak energi.

c.

Jenis kelamin. Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang


menghabiskan banyak energi. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak
perempuan kurang sehat dibandingkan anak laki-laki. Pada usia
prasekolah biasanya enggan bermain dengan anak perempuan, mereka
sudah bisa membentuk komunitas sendiri, dimama anak perempuan
bermain dengan anak perempuan dan anak laki-laki bermain dengan anak
laki-laki. Tipe dan alat permainan pun berbeda.

d.

Lingkungan yang mendukung.


mempengaruhi

pola

Lokasi dimana anak berada sangat

permainan

anak.

Anak

yang

dibesarkan

dilingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu dan ruang


bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.
Di kota-kota besar anak jarang bermain layang-layang, karena tidak ada
tanah lapang iuntuk bermain, mereka hanya bermain game. Sedangkan di
desa banyak tempat kosong bisa bermain layang-layang.
e.

Alat dan jenis permainan yang cocok. Orang tua harus bijaksana dalam
memberikan alat permainan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang

31

anak. orang tua dan anak dapat memilih permainan bersama-sama, tetapi
harus diingat alat permainan harus aman bagi anak.

4. Jenis- Jenis Permainan pada Anak Pra Sekolah


Supartini (2004) mengklasifikasikan jenis permainan berdasarkan isi
permainan, karakter sosial, dan kelompok usia anak. Teori ini didukung oleh
Hidayat (2008), Riyadi & Sukarmin (2009).:
a.

Berdasarkan Isi Permainan

1) Social Affective Play, inti dari permainan ini adalah hubungan


interpersonal antara anak dan orang lain, dalam permainan ini orang lain
yang berperan aktif, anak hanya berespon terhadap stimulasi sehingga
akan memberi kesenangan dan kepuasan bagi anak. Contohnya:
permainan ciluk ba, berbicara sambil tersenyum atau tertawa. Disini
bayi akan tersenyum, tertawa atau mengoceh.
2) Sense of pleasure play, permainan ini menggunakan alat yang
menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan.
Misalnya: anak bermain pasir dan air, dia akan senang dan tertawa. Ciri
khas permainan ini semakin lama semakin asyik bersentuhan dengan alat
permainan sehingga sulit untuk dihentikan.
3) Skill play, permainan ini meningkatkan ketrampilan anak khususnya
motorik kasar dan halus. Misalnya : bermain sepeda, ketika dia bisa dia
akan mengulanginya secara berulang sampai trampil.
4) Games atau permainan, jenis permainan ini menggunakan alat tertentu
untuk perhitungan atau skor. Misalnya ular tangga, puzzle.

32

5) Unoccupled Behavior, dalam permainan ini menggunakan situasi dan


obyek yang ada disekelilingnya sebagai alat main. Misalnya: pada saat
tertentu anak terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit,
bungkuk mainkan kursi, meja atau apa saja yang ada disekelilingnya.
Disini anak tampak senang dengan situasi yang ada.
6) Dramatic play, melalui bermain, anak-anak belajar untuk menegaskan
diri mereka sendiri dengan cara membangun kompetensi (Elkind, 2009).
Bermain drama mempunyai kontribusi
perkembangan sosial anak.

yang sangat kuat bagi

Permainan drama adalah penggambaran

kehidupan seperti apa yang terlihat oleh sang aktor. Pada anak prasekolah
tidak memerlukan tulisan untuk dihafal, pola prilaku yang terstruktur
untuk ditiru, dan tidak memerlukan penonton, mereka hanya perlu aman,
lingkungan yang menarik dan kebebasan untuk bereksperimen dengan
peran, konflik, dan pemecahan masalah. Bermain dramatis memperluasa
kesadaran diri anak dalam hubungannya dengan orang lain dan
lingkungan (Smililansky, 2008). Pada permainan ini akan memainkan
peran sebagai orang lain melalui permainannya. Sifat permainan ini anak
dituntut untuk aktif dalam memerankan sesuatu. Misalnya: berperan
sebagai dokter, perawat, ibu guru, ayahnya, ibunya dan sebagainya yang
ingin dia tiru. Ada beberapa aturan permainan:
a). Jumlah anak jangan terlalu banyak (2-5 orang) dalam satu kelompok.
b). Satu orang pemimpin dan beberapa pendamping permainan

33

c). Lakukan ditempat yang sama yang familiar dengan anak yaitu di
ruang bermain atau ruangan tempat anak di rawat.
d). Terapi bermain dilakukan selama 2- 3 kali dalam seminggu dengan
tema yang sudah di tentukan, mudah dimengerti anak dengan
menggunakan alat bantu.
e). Durasi permainan kurang lebih 30 menit.
f). Pemimpin

dan

pendamping

permainan

bertugas

untuk

memperhatikan anak agar fokus bermain. Jika konsentrasi anak


sudah pecah dan susah di atur, segera akhiri permainan.
g). Jika anak sulit dipisahkan dari orang tua atau pengasuhnya maka
boleh didampingi masuk ke tepi area bermain tetapi tidak boleh ikut
campur dalam permainan.
h). Jika untuk penelitian lakukan permainan pada hari ke dua dan ketiga
perawatan agar instine bermainnya masih alami.
i). Persiapan tenaga dan dana yang cukup.

b.

Berdasarkan Karaktek Sosial


Berdasarkan karakter sosialnya, permainan terdiri dari lima macam.
1) Onnloker play, pada permainan ini anak hanya mengamati temannya
yang sedang bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi
dalam permainan. Anak bersifat pasif tetapi ada proses pengamatan
terhadap permainan yang sedang dilakukan oleh temannya dan
mempunyai kepuasan sendiri dengan mengamatinya.

34

2) Solitary play, pada permainn ini anak tanpak berada dalam kelompok
permainan, tetapi anak bermain sendiri dengan alat permainan yang
dimilikinya dan alat permainan tersebut berbeda dengan alat
permainan yang digunakan temannya, tidak ada kerja sama atau
komunikasi dengan teman di sekitarnya.
3) Parallel play, permainan ini menggunakan alat permainan yang sama
tetapi anak memiliki bola, maka dia akan bermain dengan bolanya
sendiri tanpa menghiraukan temannya. Ini biasanya terjadi pada usia
toddler.
4) Associative play, Pada permainan ini sudah terjadi komunikaasi antara
satu anak dengan anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada
pemimpin atau memimpin permainan, mereka bermain sesuai
keinginan mereka dan tujuan permainan tidak jelas. Misalnya :
bermain boneka, bermain hujan-hujanan, bermain masak-masak, dan
sebagainya.
5) Cooperative play, dalam permainan ini anak bermain secara bersamasama, permainan sudah terorganisir dan terencana, dan ada aturan
mainnya. Misalnya: permainan sepak bola.
c.

Berdasarkan Kelompok Usia Anak


Berdasarkan kelompok usia anak, jenis permainan dapat di bagi
menjadi lima yaitu:
1)

Usia Bayi (0-9 bulan), Karakteristik permainan adalah interaksi yang


menyenangkan antara bayi dan orang tua atau orang dewasa sekitarnya.

35

Permainan yang di pilih dapat menstimulasi pendengaran, penglihatan.


Jenis permainan ini adalah sense of pleasure play.
2) Usia toddler (> 1 tahun sampai 3 tahun). Jenis permainan yang tepat
adalah: solitary play dan parallel play. Karasteristik usia toddler adalah
banyak bergerak, tidak bisa diam, mulai mengembangkan otonomi dan
kemampuannya untuk dapat mandiri, rasa ingin tahu besar. Sehingga
mainannya sering dibongkar bangkir.
3) Usia prasekolah (>3 tahun sampai 6 tahun). Anak prasekolah mempunyai
kempuan motorik halus dan kasar lebih matang. Anak lebih aktif, kreatif,
dan imajinatif. Jenis permainan yang sesuai adalah asosiative play,
dramatic play dan skill play.
4) Usia sekolah (6 tahun sampai 12 tahun). Anak usia sekolah lebih mampu
bekerja sama dengan teman sepermainannya. Mereka mulai belajar tentang
norma baik atau buruk. Karakteristik permainan dibedakan menurut jenis
kelamin.
5) Usia remaja (13-18 tahun). Anak usia remaja berada pada masa peralihan
dari masa anak-anak ke masa dewasa. Di masa pada usia ini mereka
mengalami krisis identitas. Sehingga jenis permainan yang cocok adalah
yang dapat menyalurkan minat, bakat dan aspirasi sehingga mereka dapat
menemukan identitasnya.

36

5. Prinsip-Prinsip dalam Aktivitas Bermain


Sortjiningsih (cit Nursalam, 2005) mengatakan bahwa ada beberapa
hal yang perlu di perhatikan agar aktivitas bermain bisa menjadi stimulasi
yang efektif, antara lain perlu:
a.

Perlu Ekstra energi.


Bermain memerlukan energi yang cukup, sehingga anak memerlukan
nutrisi yang memadai, asupan yang kurang menurunkan gairah anak.
anak yang sehat memerlukan aktivitas bermain yang bervariasi, baik
bermain aktif maupun bermain pasif, untuk menghindari rasa bosan atau
jenuh. Pada anak sakit, keinginan bermain umumnya menurun karena
energi yang ada digunakan

untuk mengatasi penyakitnya. Aktivitas

bermain anak sakit adalah bermain pasif, seperti menggambar dan


menonton TV.
b.

Waktu yang Cukup.


Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga stimulasi
yang diberikan dapat optimal. Selain itu anak akan mempunyai
kesempatan yang cukup untuk mengenal alat-alat permainannya. Pada
permainan dramatic play menggunakan durasi kurang lebih 15 menit.

c.

Alat Permainan.
Alat permainan yang di gunakan harus disesuaikan dengan usia dan tahap
perkembangan anak.

37

d.

Ruangan Bermain.
Aktivitas bermain dapat dilakukan dimana saja, diruang rawat, di
ruangan perawat kalau memungkinkan, di teras rumah sakit bila
memungkinkan, bahkan di ruang tidur. Bila memungkinkan disediakan
ruangan atau tempat khusus untuk bermain, dimana ruangan tersebut
menjadi tempat untuk menyimpan mainan. Syarat ruang bermain;
menarik dan menyenangkan, bersih, aman dan nyaman bagi anak.

e.

Pengetahuan Cara Bermain.


Anak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri, meniru temantemannya, atau diberitahu oleh orang tuanya. Cara yang terakhir adalah
yang terbaik karena anak lebih terarah dan lebih berkembang
pengetahuannya dalam menggunakan alat-alat permainan tersebut.

f.

Teman Bermain.
Dalam bermain anak memerlukan teman, bisa teman sebaya, saudara,
atau orang tuanya. Bermain yang dilakukan bersama orang tuanya akan
mengakrabkan hubungan dan sekaligus memberi kesempatan pada orang
tua untuk mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh anaknya.
Bermain dengan teman diperlukan untuk mengembangkan sosialisasi
anak dan membantu anak dalam memahami perbedaan.

6. Bermain Bagi Anak yang Dirawat di Rumah Sakit


Perawatan anak di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh
stress, baik bagi anak maupun orang tua. Beberapa bukti ilmiah menunjukkan
bahwa lingkungan rumah sakit itu sendiri penyebab stress bagi anak dan orang

38

tuanya. Perasaan takut, cemas, tegang, nyeri dan perasaan tidak menyenangkan
lainnya sering dialami anak. bermain adalah media yang paling efektif untuk
mengekspresikan perasaan dan pikiran anak, mengalihkan perasaan nyeri dan
relaksasi.
Terapi bermain adalah suatu bentuk terapi yang menggunakan media
unik sebagai bagian integral dari masa anak-anak untuk mengembangkan
ketrampilan bahasa ekspresif, ketrampilan komunikasi, perkembangan
emosional,

ketrampilan

sosial,

kemampuan

memberi

keputusan

dan

perkembangan kognisi pada anak.


Menurut Supartini (2004), aktifvitas bermain yang dilakukan perawat
pada anak di rumah sakit akan memberi keuntungan sebagai berikut :
a).

Meningkatkan hubungan antar klien (anak dan keluarga) dan perawat.


Dengan

melaksanakan

kegiatan

bermain,

perawat

mempunyai

kesempatan untuk membina hubungan yang baik dan menyenangkan


dengan keluarganya. Bermain merupakan alat komunikasi yang efektif
antara perawat dan klien.
b).

Memulihkan perasaan mandiri pada anak.

c).

Memberikan

rasa

senang

pada

anak

dan

membantu

anak

mengekspresikan perasaan cemas, takut, sedih, tegang dan nyeri.


d).

Permainan yang terapeutik dapat meningkatkan kemampuan anak untuk


menilai tingkah laku yang positif.

e).

Permainan yang memberi kesempatan pada anak berkompetisi secara


sehat, akan dapat menurunkan ketegangan pada anak dan keluarga.

39

Wong (2008) mengatakan bahwa bermain di rumah sakit


mempunyai banyak manfaatnya, antara lain : memberi pengalihan dan
menyebabkan relaksasi, membantu anak merasa lebih aman di tempat
yang asing, membantu mengurangi stress akibat perpisahan dan perasaan
rindu rumah, sebagai alat melepaskan ketegangan dan ungkapan
perasaan, meningkatkan interaksi dan perkembangan sikap yang positif
terhadap orang lain, sebagai alat ekspresi dan minat, sebagai alat untuk
mencapai tujuan terapeutik, menempatkan anak pada peran aktif dan
memberi kesempatan pada anak untuk menentukan pilihan serta merasa
mengendalikan.
Kegiatan bermain bagi anak di rumah sakit tetap mengacuh pada
tahap tumbuh kembang anak dan prinsip bermain di rumah sakit.
Menurut Wong (2008), materi bermain untuk anak-anak di rumah sakit
harus sesuai dengan usia, minat, dan keterbatasannya. Adapun beberapa
prinsip permainan pada anak di rumah sakit menurut Supartini (2004)
antara lain :
a.

Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang


dijalankan pada anak.
Apabila anak harus tirah baring, harus pilih permainan yang dapat
dilakukan di tempat tidur, dan anan tidak boleh diajar untuk bermain
dengan kelompoknya di tempat khusus yang ada di ruangan rawat.
Misalnya : sambil tiduran di bacakan buku cerita, diberikan komik
tentang anak-anak, mobil-mobilan yang tidak pakai remote control.

40

b.

Permainan tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan


sederhana.

c.

Pilih mainan yang tidak melelahkan anak, menggunakan mainan


yang ada pada anak dan atau yang tersedia di ruangan. Kalaupun
membuat suatu alat permainan pilih mainan yang sederhana supaya
tidak melelahkan anak, seperti menggambar atau mewarnai, bermain
boneka, membaca buku cerita, alat berdandan.

d.

Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak. Permainan


yang aman untuk anak, tidak tajam, tidak merangsang anak untuk
berlari-lari, dan bergerak secara berlebihan.

e.

Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama.


Apabila permainan dilakukan khusus di kamar bermain secara
kelompok. Permainan harus dilakukan pada kelompok umur yang
sama. Misalnya; permainan mewarnai pada umur prasekolah.

f.

Melibatkan orang tua.


Suatu hal yang harus diingat bahwa orang tua mempunyai kewajiban
untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuh kembang pada
anak walaupun sedang di rawat di rumah sakit, termasuk aktivitas
bermain anaknya. Pelaksanan aktivitas bermain di rumah sakit,
memerlukan keterlibatan petugas kesehatan, termasuk tenaga
perawat yang bertugas di ruangan anak. Untuk itu perlu upaya-upaya
sebagai berikut:

41

a). Menyediakan alat permainan.


b). Menyediakan tempat bermain.
c). Dalam pelaksanaannya aktivitas bermain di rumah sakit
merupakan tanggung jawab petugas kesehatan dengan bantuan
orang tua.
D. Hospitalisasi
1.

Pengertian Hospitalisasi
Hospitalisasi adalah suatu proses karena sesuatu alasan yang
berencana atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit,
menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya ke rumah (Supartini,
2004). Supartini (dalam Wong, 2000) berbagai perasaan yang sering muncul
pada anak, yaitu cemas, marah, sedih, takut dan rasa bersalah.

2.

Dampak Hospitalisasi
Perawatan anak usia prasekolah di rumah sakit memaksa anak untuk
berpisah dari lingkungan yang diharapkannya aman, penuh kasih sayang dan
menyenangkan. Lingkungan tersebut adalah rumah, permainan, dan teman
sepermainan. Stress karena penyakit biasanya membuat anak menjadi kurang
mampu menghadapi perpisahan, akibatnya mereka menunjukkan banyak
perilaku cemas dan protes. Pada umumnya, reaksi anak terhadap sakit adalah
kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri.
Reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi tersebut bersifat individual, dan
beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi anak terhadap hospitalisasi sangat
tergantung pada tahapan usia perkembangan, pengalaman sebelumnya

42

terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia, dan kemampuan koping


yang dimiliki (Supartini 2004). Menurut Wong (2004), anak-anak, terutama
selama tahun-tahun awal kehidupan sangat rentan terhadap krisis penyakit
dan hospitalisasi karena: pertama, stress akibat perubahan dari keadaan sehat
biasa dan rutinitas lingkungan. Kedua, anak memiliki jumlah mekanisme
koping yang terbatas untuk menyelesaikan stressor.
Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak prasekolah adalah
menolak makan, sering bertanya, menangis walau secara perlahan,
mengalami sulit tidur, menangis diam-diam karena kepergian orang tua, dan
tidak mau bekerja sama dengan orang lain. Mereka dapat mengungkapkan
rasa marah secara tidak langsung dengan memecahkan mainan, memukul
anak lain, dan menolak kerja sama dalam aktivitas perawatan diri dengan
petugas kesehatan. Perawatan di rumah sakit sering kali dipersepsikan anak
prasekolah sebagai hukuman sehingga anak akan merasa malu, bersalah atau
takut. Ketakutan anak terhadap perlukaan muncul karena anak menggangap
tindakan dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya. Oleh karena itu,
hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak, ekspresi
verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama dengan
perawat dan ketergantungan pada orang tua. Menurut Wong (2008),
kekuatiran akan mutilasi memuncak pada usia prasekolah. Kehilangan bagian
tubuh kepada perawat pergi dari sini, saya benci kamu atau tolong saya
jangan di suntik. Ekspesi non verbalnya mendorong orang yang melakukan
tindakan invasive, mengunci diri, dan mengamankan peralatan.

43

3.

Upaya untuk mengurangi dampak hospitalisasi


Usaha perawat untuk mengurangi reaksi hospitalisasi adalah :
a.

Partisipasi orang tua atau keluarga

b.

Pengaturan ruang perawatan seperti situasi di rumah

c.

Mengijinkan anak untuk membawa barang kesayangannya

d.

Memberikan kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan

e.

Menjelaskan kepada anak tindakan yang akan dilakukan padanya

f.

Memberi kesempatan anak untuk bersosialisasi dan bermain.

E. Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play Terhadap Interaksi Sosial


Anak Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi.
Pada saat dirawat di rumah sakit anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti: marah, takut, cemas, sedih
dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak hospitalisasi yang dialami
anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada di rumah sakit.
Beberapa kesimpulan dari hasil penelitian menyatakan bahwa ada
pengaruh terapi bermain terhadap interaksi sosial, seperti:
1.

Pengaruh terapi bermain dengan tehnik bercerita terhadap kecemasan


akibat hospitalisasi pada anak prasekolah di ruang perawatan anak RSUD
Kota Yogyakarta oleh Eka Suryaning Tyas, dengan hasil penelitian ada
pengaruh yang signifikan pada pemberian terapi bermain dengan tehnik
bercerita terhadap kecemasan akibat hospitalisasi terhadap anak
prasekolah di ruang perawatan anak RSUD Kota Yogyakarta.

44

2.

Pengaruh terapi bermain terhadap penerimaan tindakan invasive pada


anak prasekolah di ruang anak RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar oleh
Citra Widayasari, Hurun Ain, Ganif Djuwadi dengan hasil penelitian ada
pengaruh terapi bermain terhadap tindakan invasive pada anak
prasekolah di ruangan anak RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar sehingga
anak prasekolah yang diberikan terapi bermain lebih baik penerimaannya
daripada sebelum diberikan terapi bermain.

3.

Pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kooperatif selama menjalani


perawatan pada anak usia Pra sekolah (3 5 tahun) di rumah sakit Panti
rapih Yogyakarta oleh Rahmawati Dewi Handayani dan Ni Putu Dewi
Puspitasari, dengan hasil Pemberian terapi bermain dapat meningkatkan
perilaku kooperatif anak usia pra sekolah selama menjalani perawatan di
ruang CB 2 Anak kelas 2 dan 3 Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa terapi bermain adalah pemanfaatan
permainan sebagai media yang efektif oleh terapis untuk membantu klien
mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan
mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal melalui
eksplorasi dan ekspresi diri (Nuryanti, 2007). Kesimpulan yang diambil
dalam penelitian ini adalah: Ada pengaruh terapi bermain terhadap
tingkat kooperatif pada anak usia 3-5 tahun di Ruang CB2 Anak Rumah
Sakit Panti Rapih Yogyakarta.
Untuk itu anak memerlukan media yang dapat mengekspresikan
perasaannya.

Media yang paling efektif adalah melalui kegiatan

45

permainan. Permainan merupakan aktifitas yang sehat dan diperlukan


untuk tumbuh kembang anak, dimana bermain juga sangat penting untuk
kesehatan mental, emosional, dan sosial (Nursalam,2005).
Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak usia prasekolah di
rumah sakit akan memberikan keuntungan:
a.

Meningkatkan hubungan antara perawat dan pasien

b.

Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan


mandiri pada anak

c.

Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberi rasa


senang pada anak tetapi juga membuat anak mengekspresikan
perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih, tegang dan nyeri

d.

Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan


anak untuk mempelajari tingkah laku yang penting (Supartini 2004).
Sehingga anak dapat berinteraksi dengan orang yang ada di rumah
sakit.

BAB III
KERANGKA KONSEP

A.

Kerangka Konsep
Tahap yang penting dalam penelitian ini adalah penyusunan kerangka

konsep. Konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan
dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antara variabel (baik
variabel yang di teliti maupun tidak diteliti). Kerangka konsep dalam penelitian
ini, sebagai berikut:

46

47

Faktor yang mempengaruhi reaksi


anak terhadap hospitalisasi adalah;
1. Usia perkembangan
2. Pengalaman sebelumnya terhadap
sakit
3. Sistem pendukung yang tersedia
4. Kemampuan koping yang dimiliki

Anak Prasekolah menjalani


hospitalisasi

Reaksi anak prasekolah terhadap


hospitalisasi:
1. Menolak makan
2. Sering bertanya
3. Menangis diam-diam
4. Memecahkan mainan
5. Menolak
bekerja
sama
dengan dokter dan perawat
Terapi bermain
(dramatic play)
Interaksi Sosial

Baik

Bagan 3.1 :

Cukup

Kurang

Kerangka Konsep Penelitian: Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play Terhadap


Interaksi Sosial Anak Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi di RSUD Umbu Rara
Meha Waingapu.

Keterangan :
: variabel yang tidak diteliti
: Variabel yang diteliti
: Alur Pikir

Anak prasekolah adalah anak usia 3-6 tahun. Hospitalisasi merupakan


suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan
anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya ke rumah. Anak prasekolah menjalani hospitalisasi akan
menimbulkan reaksi-reaksi seperti: menolak makan, sering bertanya, sulit tidur,
menarik diri, menangis diam-diam, memecahkan mainan, menolak kerja sama

48

dengan dokter dan perawat. Disini diperlihatkan bahwa anak tidak dapat
berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitarnya termasuk dokter, perawat
dan pasien lain. Faktor yang mempengaruhi reaksi anak terhadap hospitalisasi
adalah: usia perkembangan, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem
pendukung yang tersedia, dan kemampuan koping yang dimiliki. Terapi bermain
adalah suatu bentuk terapi yang menggunakan media unik sebagai bagian integral
dari masa anak-anak untuk mengembangkan ketrampilan ekspresif, ketrampilan
komunikasi, perkembangan emosional, ketrampilan sosial, kemampuan membuat
keputusan dan perkembangan kognisi pada anak. Perawat menggunakan bermain
sebagai terapi bagi anak yang sedang menjalani hospitalisasi, dengan harapan
dapat meningkatkan interaksi sosial anak dengan dokter, perawat, dan pasien lain.
Dalam penelitian ini, yang di teliti adalah pengaruh terapi bermain dramatic play
terhadap interaksi sosial.

B. Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan objek atau apa yang menjadi titik perhatian
suatu penelitian. Dalam penelitian ini akan diteliti dua variabel yaitu:
1. Variabel Independen atau Bebas
Adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain. Variabel bebas
biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk diketahui hubungannya atau
pengaruhnya terhadap variabel lain (Nursalam, 2011). Variabel independen dalam
penelitian ini adalah terapi bermain.

49

2. Variabel dependen
Adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam,
2011). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah interaksi sosial anak
prasekolah yang menjalani hospitalisasi.

C. Defenisi Operasional Penelitian


Operasional merupakan bagian dari keputusan, dan mengandung aspek isi
dan luas (Nursalam, 2011). Perumusan defenisi operasional dalam penelitian ini
diuraikan dalam tabel 3.1

50

Tabel 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

No

Variabel

1.

Variabel
Independen

11

Terapi
bermain

2.

Defenisi
Operasional
Merupakan
kegiatan bermainan
yang
diberikan
perawat
kepada
anak
prasekolah
yang
menjalani
hospitalisasi dengan
jenis
permainan
dramatic play yaitu
anak meniru orang
lain dalam bermain.
Contoh: berperan
sebagai dokter dan
perawat dengan alat
bermain
berupa
boneka dan alat
medik (stetoskop,
thermometer
dan
spoit). Permainan
ini diberikan 2 kali
selama perawatan
di rungan bermain
dan
ruangan
perawatan, selama
45 menit.

Variabel
Hubungan
sosial
dependen:
anak
usia
Interaksi
prasekolah
yang
sosial anak menjalani
usia
hospitalisasi
prasekolah
dimana
terjadi
yang
interaksi
antara
menjalani
anak dengan dokter,
hospitalisasi perawat dan pasien
lain di dalan satu
ruangan.

Alat
Ukur dan
Parameter
Cara
Ukur
Pedoman
terapi SOP
bermain : dramatic pelaksan
play pada anak usia aan
prasekolah.
terapi
bermain.

Jumlah jawaban yang


diisi pada check list
interaksi sosial anak
prasekolah
yang
menjalani
hospitalisasi
menggunakan skala
Guttman,
yaitu
memberi
jawaban
tegas ya da tidak.

Check
list

Skala

Skor
.

dan

1=
Ordinal Skor 3: 14-20
Skor 2: 8-13
Skor 1: 0-7

51

D. Hipotesa
Hipotesa adalah suatu asumsi pernyataan tentang hubungan antara dua
atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu pertanyaan dalam riset
(Nursalam, 2011). Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan hipotesis
alternative (H1/Ha). H1: ada pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap
interaksi sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RSUD Umbu
Rara Meha Waingapu tahun 2012.

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan penelitian yang
digunakan adalah pra-eksperimen dengan one group pre-post test design. Ciri dari
tipe penelitian ini adalah mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara
melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek diobservasi sebelum
dilakukan intervensi, kemudian di observasi lagi setelah diberikan intervensi
(Nursalam, 2011). Dalam penelitian ini dipilih satu kelompok usia prasekolah
yang diawali dengan observasi interaksi sosial (pretest) pada hari pertama masuk
ruang anak. Setelah itu diberikan perlakuan berupa terapi bermain dramatic play
minimal 2 kali selama perawatan, kemudian dilakukan observasi lagi terhadap
interaksi sosialnya (posttest) pada hari ke 3 perawatan. Pengujian sebab akibat
dilakukan dengan cara membandingkan hasil pretest dan posttest. Adapun desain
dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada skema sebagai berikut (Notoatmodjo,
2005).

Pretest

Perlakuan

01

Posttest

02

Keterangan :
01 : Sebelum perlakuan

: Perlakuan

02

52

: Sesudah perlakuan

53

B. Kerangka Kerja

Populasi: anak usia prasekolah yang


menjalani hospitalisasi pada tanggal 20
Desember 2012 sampai 20 Januari 2013
Kriteria inklusi

Kriteria eksklusi
Sampling: Non probability dengan teknik
purposive sampling

Sampel berjumlah 30 orang

Melakukan observasi pretest interaksi sosial


anak prasekolah pada hari pertama

37 orang.

Memberikan Terapi Bermain : Dramatic Play


pada anak prasekolah yang hospitalisasi
minimal 2 kali selama perawatan di
ruang anak, selama 45 menit.

Memberikan observasi posttest interaksi sosial


anak prasekolah pada hari ke tiga.

Analisa data: uji statistik Wilcoxon Signed


Rank Test (tingkat kemaknaan yang
digunakan (p) < 0,05).

Penyajian Hasil Penelitian

Bagan 4.1

Kerangka Kerja Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play Terhadap Sosial Anak
Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi di RSUD Umbu Rara Meha Waingapu
Tahun 2012

54

C. Tempat Dan Waktu Penelitian


1.

Tempat
Penelitian ini dilaksanakan diruangan Anggrek RSUD Umbu Rara Meha

Waingapu Kabupaten Sumba Timur NTT. Lokasi penelitian dipilih atas


pertimbangan bahwa RSUD Umbu Rara Meha Waingapu merupakan rumah sakit
terbesar di Pulau Sumba dan mudah dijangkau peneliti.
2.

Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2012 sampai 20

Januari 2013.

D. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling Penelitian


1.

Populasi
Populasi adalah keseluruhan suatu variabel menyangkut masalah yang

diteliti berupa orang, kejadian, perilaku, atau sesuatu lain yang akan dilakukan
peneliti, (Nursalam, 2011). Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian
(Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia prasekolah (3-6
tahun) yang menjalani hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha
Waingapu pada tanggal 20 Desember 2012 sampai 20 Januari 2013.
Data yang diambil oleh penulis dalam studi pendahuluan yang dilakukan
oleh peneliti didapatkan bahwa rata-rata pasien anak usia prasekolah yang
menjalani hospitalisasi di ruang anggrek setiap bulan adalah 32 orang.

55

2.

Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi, yang diambil menggunakan cara-cara

tertentu (Wasis, 2008). Menurut Hidayat (2008), sampel merupakan bagian


populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karasteristik yang dimiliki
oleh populasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak usia
prasekolah yang menjalani hospitalisasi di ruangan Anggrek RSUD Umbu Rara
Meha Waingapu pada tanggal 20 Desember sampai 20 Januari 2013.
Penentuan besar sampel berdasarkan rumus sebagai berikut ( Nursalam,
2011):
n =

1+ N(d)2
Keterangan:
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
d =tingkat signifikasi ( 0,05)
Jadi besar sampel yang dapat di gunakan dalam penelitian ini adalah:
n =

32
1+ 32(0,05)2

n=

32
1 + 32(0,0025)

n=

32
1+0,08

56

n=

32
1,08

n=

a.

29,62 = 30 orang

Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel

penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat, 2008). Kriteria inklusi
dalam penelitian ini adalah:
1). Semua anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang hospitalisasi.
2). Anak prasekolah yang sedang dirawat dirumah sakit dan belum pernah
mendapat terapi bermain dramatic play.
3). Anak yang masuk rumah sakit hari pertama.
4). Anak yang secara medik diperbolehkan diberikan terapi bermain dramatic
play.
5). Anak yang keluarga atau orang tuanya bersedia untuk diberikan terapi
bermain dramatic play.

b.

Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah kriteria dimana subjek peneliti tidak dapat

mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian


(Hidayat, 2008). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Anak yang kesadarannya menurun.
2) Anak dengan penyakit komplikasi.

57

Teknik Sampling.
Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan

sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan


subjek penelitian (Nursalam, 2011). Pengambilan sampel dilakukan dengan Non
Probability dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive
sampling, di mana peneliti menetapkan sampel dengan cara memilih sampel di
antara populasi sesuai dengan yang dikehendaki, sehingga sampel tersebut dapat
mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya. Sampel dalam
penelitian ini adalah anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi di Ruangan
Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu dari tanggal 20 Desember 2012
sampai 20 Januari 2013 berjumlah 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi.
E. Bahan dan Cara
a.

Bahan
Dalam penelitian ini disiapkan bahan yang diperlukan untuk mendukung

proses penelitian, antara lain tempat bermain satu ruang bermain, bisa juga di
lakukan di ruangan perawatan, pemimpin satu orang, fasilitator dua orang dan
fasilitas yang terdiri dari karpet, tikar. boneka, alat medik (stetoskop, termometer
dan spuit), dengan jumlah sesuai jumlah anak.

b.

Cara
Dalam penelitian ini terapi bermain dramatic play diberikan kepada sampel

dan waktu pemberiannya dibagi menjadi beberapa sesi dan tiap sesi terdiri dari

58

dua orang atau lebih dan maksimalnya enam orang. Hai ini disesuaikan dengan
jumlah anak dan keadaan ruang bermain. Waktu permainan 30 menit. Dalam
memberikan terapi bermain ada 4 tahap yang digunakan:
1) Tahap prainteraksi. Tahap ini adalah tahap persiapan, oleh karena itu hal yang
dilakukan pada tahap ini adalah fasilitator menyiapkan ruang bermain,
menyiapkan alat-alat permainan, memberitahu orang tua dan anak, waktu
ypang dialokasikan lima menit.
2) Tahap orientasi. Pada tahap ini fasilitator memberi salam dan memanggil
nama masing-masing anak, memperkenalkan diri kepada anak dan orang tua,
mengatur posisi anak yang nyaman, mengatur orang tua, menjelaskan tujuan
bermain, teknik dan lamanya bermain, memperkenalkan alat permainan alat
main kepada anak dan orang tua, dan menjelaskan prosedur bermain untuk
masing-masing alat main kepada anak dan orang tua. Waktu yang
dialokasikan lima menit.
3) Tahap kerja. Pada tahap ini fasilitator memberi kesempatan kepada anak dan
orang tua untuk bertanya sebelum kegiatan dilakukan, membagikan mainan
kepada anak sesuai jumlah anak, membiarkan anak bermain sambil
mengamati, meminta orang tua untuk membantu bila anak membutuhkan, bila
ada anak yang belum mengetahui teknik bermain langsung diajarkan oleh
fasilitator, melengkapi alat main yang mungkin rusak. Apabila anak sudah
selesai bermain, akhiri kegiatan bermain dengan meminta anak merapikan
kembali mainan. Waktu yang di alokasikan 30 menit.

59

4) Tahap terminasi. Fasilitator mengevaluasi hasil kegiatan bermain dengan


memberi pujian kepada anak, menyimpulkan hasil kegiatan bermain hari ini,
kontrak pertemuan selanjutnya, mengevaluasi perasaan anak. Waktu yang di
alokasikan lima menit.
F. Jenis Data Cara Pengumpulan Data
1.

Jenis Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.

Data

primer diperoleh dari sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi yang akan
diberikan

perlakuan

berupa

bermain

kemudian

dilakukan

pengamatan.

Pengumpulan data primer ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang interaksi
sosial anak sebelum melakukan aktivitas bermain dan setelah melakukan aktivitas
bermain. Sedangkan data sekunder diambil dari catatan medik, masing-masing
pasien yang dijadikan sampel diruang Anggrek. Pengumpulan data sekunder ini
bertujuan untuk mendapatkan data tentang umur anak, nama lengkap anak,
ruangan tempat anak di rawat dan nama orang tua anak.

2.

Cara pengumpulan Data


Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan

proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian


(Nursalam, 2008).
Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam prosedur penelitian ini
adalah sebagai berikut :
a.

Memperoleh surat permohonan ijin pelaksanan penelitian yang didapatkan


dari institusi pendidikan (PSIK FK Unud).

60

b.

Mengirimkan surat permohonan ijin penelitian dari PSIK FK Universitas


Udayana Denpasar yang di tandatangani oleh Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan ditujukan kepada Badan Kesbangpolimas kabupaten Sumba
Timur guna memperoleh surat ijin penelitian.

c.

Setelah surat ijin penelitian dikeluarkan oleh Badan Kesbanglimas, peneliti


melaporkan diri sekaligus menyerahkan surat ijin penelitian dari Badan
Kesbanglimas Kabupaten sumba Timur kepada Direktur RSUD Umbu rara
Meha waingapu.

d.

Setelah berkoordinasi dengan Direktur RSUD Umbu Rara Meha, dilanjutkan


melakukan pendekatan dengan bidang keperawatan dan kepala bangsal
Anggrek, maka penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap I

: melakukan seleksi calon responden peneliti, memberikan


penjelasan tentang tujuan penelitian dan jaminan kerahasiaan
dan meminta keluarga responden menandatangani surat
perjanjian.

Tahap II

: melakukan observasi pretest terhadap interaksi sosial anak


pada hari pertama masuk ruang anak.

Tahap III

: memberi terapi bermain dramatic play sesuai dengan tahaptahap dalam standar operasional prosedur bermain minimal 2
kali selama perawatan.

Tahap IV

: melakukan observasi posttest terhadap interaksi sosial anak


pada hari ke 3 perawatan.

61

Tahap V

: melakukan analisa interaksi sosial dengan membandingkan


hasil antara observasi pretest dengan posttest.
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti tidak melakukannya
sendiri tetapi dibantu oleh asisten peneliti yang berjumlah 3
orang. Asisten dalam hal ini adalah perawat di ruangan tempat
penelitian, berlatar belakang pendidikan 1 orang sarjana
keperawatan dan 2 orang diploma tiga keperawatan. Asisten
bekerja membantu dalam memberikan terapi bermain dan
mengumpulkan data. Sebelum melakukan penelitian, asisten
peneliti diberikan latihan tentang proses penelitian dari
observasi pretest, prosedur bermain, dan observasi posttest.
Setelah asisten dianggap memahami dan mampu melakukan
proses penelitian maka peneliti memberikan wewenang kepada
asisten untuk melakukan penelitian.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik
obsevasi langsung secara sistematis terhadap sampel yaitu
interaksi sosial anak prasekolah dengan panduan lembaran
observasi/check list yang telah disediakan.

3.

Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembaran standar

operasional prosedur terapi bermain dramatic play di rumah sakit sesuai konsep
teori terapi bermain pada anak prasekolah dan lembaran observasi/check list

62

interaksi sosial berdasarkan konsep teori interaksi sosial anak di rumah sakit
terhadap dokter, perawat dan pasien lain.
Isi lembaran standar prosedur operasional terapi bermain terbagi menjadi
empat bagian yaitu dari 23 item intervensi. Standar prosedur operasional terapi
bermain dapat dibaca pada lampiran.
Isi lembaran observasi/check list terhadap interaksi sosial terbagi menjadi dua
bagian, yaitu karakteristik anak dan respon interaksi sosial, yang terdiri dari 20
pertanyaan dengan format jawabannya menggunakan skala Guttman, yaitu;
memberi jawaban yang tegas ya atau tidak, skor satu jika jawaban ya dan skor nol
bila jawaban tidak, dengan total skornya dua puluh. Lalu dianalisa menjadi data
ordinal, yaitu sebagai berikut:
a.

Interaksi sosial anak baik

: Skor 14-20 (skor 3: baik)

b.

Interaksi sosial cukup

: Skor 8- 13 (skor 2: cukup)

c.

Interaksi sosial kurang

: Skor 0-7 (skor 1: kurang)

Check list interaksi sosial dapat di baca pada lampiran.


4.

Uji Validitas Dan Reliabilitas


Instrumen untuk mengukur interaksi sosial anak prasekolah yang
digunakan dalam penelitian ini telah dilakukan uji instrumen diruangan anak
Rumah Sakit Kristen Lindimara Waingapu pada tanggal 22-29 November
2012, setelah dianalisa dengan bantuan komputer instrumen yang digunakan
dinyatakan valid karena didapatkan nilai r hitung masing-masing item
pernyataan lebih besar dari r tabel untuk ukuran 20 sampel adalah 0,444 dan

63

instrument yang dinyatakan reliabel karena nilai Cronbachs alpha 0,763 >
0,05 (Hasil uji validitas dan reliabilitas terlampir).

G. Pengolahan Dan Analisa Data


1. Teknik pengolahan data
Pengolahan data adalah pengolahan karena data yang diperoleh masih
mentah, belum siap untuk disajikan. Dalam penelitian ini proses pengolahan data
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut (Hidayat, 2008) :
a. Editing
Editing merupakan upaya memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan. Langkah-langkah dalam editing adalah memeriksa
kembali lembaran observasi apakah sudah terjawab dengan lengkap, memasukkan
data yang penting/diperlukan saja, memilih data yang obyektif, menggumpulkan
data ulang untuk melengkapi

data yang kurang pada lembar observasi,

pengecekan logis.
b. Coding
Coding merupakan proses mengklarifikasikan/mengelompokkan data
sesuai dengan klasifikasinya dengan cara memberi kode tertentu. Disini lembar
observasi yang telah dilengkapi, jawabannya diberi kode/angka disesuaikan
dengan ketentuan pada defenisi operasional yaitu, kode satu untuk interaksi sosial
anak kurang, kode dua untuk interaksi sosial anak cukup, kode tiga untuk interaksi
sosial anak baik.

64

c. Editing
Editing data adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan
kedalam database komputer.
d. Tabulasi
Tabulasi data adalah usaha untuk menyajikan data. Ada empat cara yang
umum dipakai untuk menyajikan data yaitu: tekstual (naratif), tabel dan pie chart.
Dalam penelitian ini penyajian data menggunakan tabel, pie chart dan naratif
2.

Teknik Analisa Data


Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

deskriptif dan analisis statistik inferensial menggunakan program SPSS 16,0.


Menurut Nursalam (2003), analisis deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan
data dengan menggambarkan dan meringkas data dengan cara ilmiah dalam
bentuk tabel atau grafik. Sedangkan analisis statistik inferensial bertujuan untuk
mengetahui ada/tidaknya pengaruh, perbedaan, hubungan antara sampel yang
diteliti pada taraf signifikansi tertentu. Untuk mengetahui distribusi frekuensi
dalam variabel penelitian ini maka peneliti menggunakan analisis deskriptif.
Sedangkan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh terapi bermain terhadap
interaksi sosial anak prasekolah, peneliti menggunakan analisis inferensial.
Dalam penelitian ini, yang diuji adalah interaksi sosial anak sebelum
diberikan terapi bermain dan setelah mendapat terapi bermain. Untuk mengetahui
pengaruh interaksi sosial anak prasekolah sebelum diberikan terapi bermain dan
setelah diberikan terapi bermain, peneliti menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank
Test, di mana uji ini digunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel

65

yang berkorelasi bila datanya berbentuk ordinal (Sugiyono, 2009). Tingkat


kemaknaan yang digunakan (p) < 0,05. Hal ini dipandu oleh program SPSS.

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Daerah Umbu Rara Meha Waingapu terletak di
Jalan Adam Malik No 54, Kelurahan Kambajawa Kecamatan Kota Waingapu
dengan luas lokasi 41.000 M2, luas bangunan 4.637 M2 . Merupakan rumah sakit
tipe D+ berada di Kabupaten Sumba Timur Propinsi NTT. Mulai beroperasi pada
tanggal 19 Desember 1983. Rumah sakit ini adalah rumah sakit pelayanan dan
non pendidikan. Dalam struktur organisasinya, Rumah Sakit Umum Daerah
Umbu Rara Meha Waingapu di kepalai oleh seorang Direktur dan membawahi 2
sub bidang yaitu: pertama bagian tata usaha yang meliputi: bagian umum dan
kepegawaian, bagian program dan evaluasi dan bagian keuangan, kedua kelompok
fungsional yaitu: pelayanan medik, keperawatan, informasi rekam medik dan
diklat. Pelayanan medik dan keperawatan di RSUD Umbu Rara Meha berada di
Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Bedah Sentral, Instalasi
gawat Darurat dan Klinik VCT. Dengan fasilitas penunjang pelayanan meliputi
radiologi, laboratorium dan UTD, farmasi, fisioterapi, gizi dan IPRS. Kulifikasi
SDM meliputi: dokter spesialis (anak 1 orang, anastesi 1 orang, bedah 2 orang,
obstetri 2 orang), dokter umum 9 orang, dokter gigi 4 orang perawat 109 orang,
tenaga penunjang 27 orang (profil RSUD Umbu Rara Meha Waingapu, 2011).
Ruang Anggrek merupakan unit perawatan bagian anak sebagai bagian
dari Instalasi Rawat Inap RSUD Umbu Rara Meha memiliki kapasitas 27 tempat

66

67

tidur (utama, kelas I, kelas II, kelas III dan isolasi), 1 ruangan bermain dimana
ruang bemain ini di pakai juga sebagai ruangan inap karena jumlah pasien yang
meningkat.
Stuktur organisasi unit perawatan anak ini dipimpin oleh kepala ruangan
dengan 1 orang ketua tim dan 14 orang perawat pelaksana (1 orang sarjana
keperawatan, 10 orang diploma tiga keperawatan, 5 orang pendidikan SPK saat ini
sementara IBEL), 1 orang petugas administrasi dan 2 orang petugas kebersihan.

2. Karakteristik Subjek Penelitian


Sampel pada penelitian ini adalah anak usia prasekolah (usia 3-6 tahun) yang
menjalani hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD umbu Rara Meha pada tanggal
20 Desember 2012 sampai dengan 20 Januari 2013 yang telah memenuhi kriteria
inklusi. Jumlah pasien anak yang masuk selama penelitian adalah 35 orang,
dimana 30 orang masuk kriteria inklusi, 5 orang masuk kriteria eksklusi dimana 3
orang tidak diijinkan oleh orang tuanya untuk diberikan terapi bermain dramatic
play dan 2 orang mengalami penurunan kesadaran. Adapun karakteristik anak
usia prasekolah yang telah diteliti adalah sebagai berikut:

68

a.

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin
Laki-laki

Perempuan

40%

60%

Gambar 5.1 Karasteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Anak Prasekolah
yang menjalani Hospitalisasi di Ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha
Waingapu Pada tanggal 20 Desember 2012 Sampai 20 Januari 2013

Gambar 5.1 menujukkan bahwa dari 30 responden yang di teliti, sebagian


besar berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 18 orang (60%) dan jenis
kelamin perempuan berjumlah 12 orang (40%).

69

b. Karasteristik Responden Berdasarkan Umur

Umur
3-4 Tahun

4-5 Tahun

5-6 Tahun

23%

50%

27%

Gambar 5.2 Karasteristik Responden Berdasarkan Umur Pada Anak Prasekolah yang
Menjalani Hospitalisasi di Ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu
Pada tanggal 20 Desember 2012 Sampai 20 Januari 2013.

Berdasarkan Gambar 5.2 dapat dilihat bahwa dari 30 responden yang diteliti
sebagian besar berumur 3-4 tahun dengan jumlah 15 orang (50%), usia >4-5
tahun berjumlah 8 orang (26,7%) dan hanya 7 orang (23,3%) berumur >5-6
tahun.

3. Hasil Pengamatan Terhadap Objek Penelitian


Anak prasekolah yang dijadikan sampel pada penelitian ini diberi
perlakuan berupa terapi bermain dramatic play. Sebelum dan setelah diberikan
perlakuan, peneliti melakukan pengamatan terhadap sampel yang akan di teliti.
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh adalah:

70

a.

Interaksi Sosial Anak Prasekolah Sebelum Diberikan Terapi Bermain


Dramatic Play.
Setelah dilakukan observasi/pengamatan melalui check list interaksi sosial
anak prasekolah sebelum terapi bermain dramatic play, maka didapatkan data
seperti berikut (Gambar 5.3):

Sebelum Terapi
Kurang

Cukup

Baik

3%

43%

54%

Gambar 5.3 Pola Interaksi Sosial Anak Prasekolah Sebelum Diberikan Terapi Bermain
Dramatic Play Di Ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu Pada
Tanggal 20 Desember 2012 Sampai 20 Januari 2013.

Gambar 5.3 menunjukkan bahwa dari 30 sampel anak prasekolah sebelum


di berikan terapi bermain dramatic play, sebagian besar memiliki pola
interaksi sosial yang cukup 16 orang (53,33%), pola interaksi sosial yang
kurang 13 orang (43,3%) dan hanya 1 orang (3,3%) yang interaksi
sosialnya baik.

71

b.

Interaksi Sosial Anak Prasekolah Setelah Diberikan Terapi Bermain


Dramatic Play.
Berdasarkan observasi/pengamatan melalui check list interaksi sosial
anak prasekolah setelah diberikan terapi bermain dramatic play, maka
didapatkan data seperti berikut (Gambar 5.4)

Sesudah Terapi
Kurang

Cukup

Baik

3%

33%

64%

Gambar 5.4 Pola Interaksi Sosial Anak Prasekolah Setelah Diberikan Terapi
Bermain Dramatic Play Di Ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha
Waingapu Pada Tanggal 20 Desember 2012 Sampai 20 Januari 2013.

Gambar 5.4 menunjukkan bahwa dari 30 sampel anak prasekolah setelah


diberikan terapi bermain dramatic play sebagian besar memiliki pola
interaksi sosial baik dengan jumlah 19 orang (63,3%), pola interaksi sosial
cukup 10 orang (33,3%) dan 1 orang (3,3%) yang interaksi sosialnya tetap
kurang.

72

4. Analisis Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play Terhadap Interaksi Sosial


Anak Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi
Penelitian ini diawali dengan melakukan pengamatan/observasi terhadap
30 responden, kemudian diberikan terapi bermain dramatic play, dan setelah itu
melakukan pengamatan/observasi lagi. Berdasarkan proses tersebut maka peneliti
mendapatkan data hasil analisis silang sebagai berikut (Tabel 5.1)
Tabel 5.1

Gambaran Perubahan Interaksi Sosial Anak Usia Prasekolah Setelah Diberikan


Terapi Bermain Dramatik Play Di Ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha
Waingapu Pada tanggal 20 Desember 2012 Sampai 20 Januari 2013
Interaksi Sosial Sesudah Terapi Bermain

Interaksi
Sosial
Sebelum
Terapi
Bermain

Baik

3,3%

3,3%

Cukup

13

43,3%

10,0%

16

53,3%

Kurang

16,7%

23,3%

3,3%

13

43,3%

Total

19

63,3%

10

33,3%

3,3%

30

100,0%

No

Baik

Cukup

Total

Kurang

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa seluruh responden yang interaksi sosialnya


baik sebelum terapi bermain dramatic play akan baik pula setelah diberikan terapi
bermain dramatic play, sedangkan dari 16 responden yang interaksi sosialnya
cukup sebelum terapi bermain dramatic play, 13 orang (43,3%) diantaranya
mengalami perubahan menjadi baik dan 3 orang (10,0%) responden interaksi
sosialnya tetap cukup. Kemudian terjadi perubahan dimana ada 13 responden
(43,3%) yang interaksi sosialnya kurang sebelum terapi bermain dramatic play, 5
orang (16,7%) mengalami perubahan menjadi baik, 7 orang (23,3%) berubah
menjadi cukup dan 1 orang (3,3%) interaksi sosialnya tetap kurang.
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh terapi bermain dramatic play
terhadap interaksi sosial anak prasekolah, maka dilakukan uji statistik Wilcoxon

73

signed rank Test dengan bantuan media komputer (dapat dibaca pada lampiran).
Dimana hasilnya menunjukkan bahwa uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test
pada tingkat kemaknaan = 0,05, dengan nilai (p) yang diperoleh sebesar 0,000
dengan demikian H1 diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang
signifikan terapi bermain dramatic play play terhadap interaksi sosial anak
prasekolah yang menjalani hospitalisasi di ruangan Anggrek RSUD Umbu Rara
Meha waingapu tahun 2013.

B. Pembahasan
1.

Pola Interaksi Sosial Anak Usia Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi


Sebelum Pemberian Terapi Bermain Dramatic Play.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa interaksi sosial anak
usia prasekolah sebelum diberikan terapi bermain dramatic play di ruang
Anggrek RSUD Umbu Rara Meha adalah sebagian besar cukup (53,3%),
kurang (43,3%) dan interaksi sosial baik hanya (3,3%). Hal ini disebabkan
hospitalisasi yang dialami anak, dimana anak harus berhadapan dengan
lingkungan yang baru yaitu rumah sakit dan berpisah dari lingkungan
rumahnya serta dilakukan segala macam prosedur di rumah sakit sehingga
anak merasa takut, stres, dan marah. Dengan demikian tidak dapat
berinteraksi dengan dokter, perawat, dan pasien lain di ruang rawat.
Supartini (2004), mengatakan bahwa reaksi anak prasekolah terhadap
hospitalisasi adalah menolak makan, sering bertanya, sulit tidur, menangis
diam-diam, memecahkan mainan, menolak bekerjasama dengan dokter dan

74

perawat. Reaksi anak terhadap pengalaman hospitalisasi tersebut bersifat


individual, dan sangat tergantung pada tahapan usia perkembangan,
pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia, dan
kemampuan koping yang dimiliki.
Hal ini didukung pula oleh hasil observasi pada penelitian ini, interaksi
sosial responden sebelum diberikan terapi bermain, di mana sebagian besar
(29 orang) anak tidak mau ditemani perawat saat orang tuanya pergi. Hal ini
menunjukkan bahwa pada saat hospitalisasi anak takut berpisah dari orang
yang paling dekat, yaitu orang tua, sehingga anak tidak bisa berinteraksi
dengan orang lain.
Hidayat (2008), mengungkapkan bahwa salah satu perkembangan adaptasi
sosial anak usia prasekolah adalah menunjukkan kecemasan terhadap adanya
perpisahan. Stres karena penyakit biasanya membuat anak menjadi kurang
mampu menghadapi perpisahan, akibatnya mereka menunjukkan banyak
perilaku cemas dan protes (Supartini, 2004).

2. Pola Interaksi Sosial Anak Usia Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi


Setelah Pemberian Terapi Bermain Dramatic Play.
Interaksi sosial anak setelah diberikan terapi bermain dramatic play di
ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha sebagian besar baik yaitu sebanyak
19 responden (63,3%). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang menjalani
hospitalisasi memperlihatkan karakteristiknya yang sebenarnya sebagai anak
usia prasekolah. Dalam hal ini sebagian besar anak tersebut dapat berinteraksi
dengan dokter, perawat dan pasien lain di ruang rawat. Ketika anak sudah

75

memasuki usia prasekolah (3-6 tahun), kemampuan interaksi sosialnya


menjadi lebih luas dan mempersiapkan diri memasuki dunia sekolah
(Supartini, 2004). Menurut Satyanegara dan Widjaya (2004), perkembangan
sosial anak usia prasekolah yaitu sewaktu anak semakin lebih tahu dan peka
terhadap perasaan dan tindakan orang lain, dia secara bertahap berhenti
berkompetisi dan akan belajar bekerjasama saat bermain dengan temannya.
Anak akan masuk dalam kelompok tertentu dan mulai berteman dengan
kelompok tersebut. Dalam kelompok kecil dia akan belajar bergantian dan
berbagi mainan, walaupun dia tidak selalu melakukannya.
Soekanto (2004) dan didukung oleh Badrujaman (2008), mengatakan
bahwa suatu interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi
dua syarat, yaitu:
a).

Adanya kontak sosial. Kontak sosial merupakan aksi individu atau


kelompok dalam bentuk isyarat yang memiliki makna bagi si pelaku
dan si penerima membalas aksi itu dengan reaksi.

b). Adanya komunikasi. Arti terpenting dari komunikasi adalah bahwa


seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud
pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan
disampaikan oleh orang tersebut.
Interaksi sosial cukup setelah diberikan terapi bermain 3 orang (3,3%)
tetap cukup. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya terhadap
sakit. Ketiga anak ini diketahui sudah sering masuk rumah sakit dan sangat
takut terhadap tindakan pemasangan infus yang dilakukan setiap kali

76

masuk rumah sakit. Reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi tersebut


bersifat individual, dan beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi anak
terhadap hospitalisasi sangat tergantung pada tahapan usia perkembangan,
pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia,
dan kemampuan koping yang dimiliki (Supartini 2004).
Pola interaksi sosial yang kurang juga masih ada setelah diberikan
terapi bermain yaitu satu orang (3,3%). Hal ini masih dipengaruhi oleh
hospitalisasi yang dialami anak tersebut, sehingga timbul perasaan takut
dan cemas. Khusus anak ini didapatkan informasi bahwa kedua orang
tuanya sedang bekerja di luar daerah dan selama perawatan didampingi
neneknya. Ini berarti anak merasa kehilangan orang yang paling dekat
dengannya yaitu orang tuanya.
Supartini (2004), mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi reaksi anak selama hospitalisasi adalah sistem pendukung
yang tersedia. Sedangkan Wong (2008), mengatakan anak-anak, terutama
selama tahun-tahun awal kehidupan sangat rentan terhadap krisis penyakit
dan hospitalisasi karena:
(1) Stres akibat perubahan dari keadaan sehat biasa dan rutinitas
lingkungan.
(2) Anak memiliki jumlah mekanisme koping yang terbatas untuk
menyelesaikan stressor.
Hasil observasi terhadap responden setelah diberikan terapi bermain
dramatic play maka didapatkan data sebagian besar anak (19 orang) marah

77

pada saat perawat melakukan tindakan invasif seperti menyuntik,


memasang infus dan melakukan injeksi. Hal ini menunjukkan bahwa anak
sangat takut terhadap tindakan yang melukai tubuhnya karena anak tahu
hal ini menimbulkan nyeri. Supartini (2004), mengatakan pada umumnya,
reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan,
kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri. Ketakutan anak terhadap
perlukaan muncul karena anak menganggap tindakan dan prosedur
mengancam integritas tubuhnya. Hal ini menimbulkan reaksi agresif
dengan marah, berontak, ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata
marah, tidak mau bekerja sama dengan perawat, dan ketergantungan pada
orang tua. Menurut Wong (2008), kekuatiran akan mutilasi memuncak
pada usia prasekolah. Kehilangan bagian tubuh merupakan suatu ancaman
bagi mereka. Ekspresi verbal yang ditunjukan adalah dengan mengatakan
kepada perawat pergi dari sini, saya benci kamu atau tolang saya jangan
disuntik. Ekspresi non verbalnya adalah mendorong orang yang
melakukan tindakan, mengunci diri, dan mengamankan peralatan.
3.

Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play Terhadap Interaksi Sosial Anak


Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi.
Interaksi sosial yang terjadi pada anak usia prasekolah di ruang
Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu mengalami perubahan setelah
diberikan terapi bermain dramatic play (Tabel 5.1), di mana dari 16
responden yang interaksi sosialnya cukup sebelum diberikan terapi bermain,
sebagian besar 13 orang (43,3%) mengalami perubahan menjadi baik dan 3

78

(10,0%) tetap cukup karena . Kemudian dari 13 (43,3%) responden yang


interaksi sosialnya kurang sebelum diberikan terapi bermain, 5 orang (16,7%)
responden mengalami perubahan menjadi baik dan sebagian besar 7 orang
(23,3%) responden berubah menjadi cukup dan 1 orang (3,3%) tetap kurang.
Perubahan ini menunjukkan bahwa terapi bermain dramatic play sangat
berpengaruh terhadap interaksi sosial anak prasekolah yang sedang menjalani
hospitalisasi. Aktivitas bermain yang diberikan sangat membantu anak untuk
mengurangi rasa takut, cemas dan stres yang dialami di rumah sakit. Ketika
rasa takut, cemas dan stres berkurang maka anak dapat berinteraksi dengan
perawat, dokter dan pasien lain di rumah sakit. Melalui aktivitas bermain
anak dapat mengenal perawat, teman bermain, dan semua orang yang terlibat
dalam bermain termasuk lingkungan rumah sakit.
Dalam teori biologis, yang dikemukakan oleh Karl Gross dari Jerman
dan dikembangkan oleh Maria Montessori dari Italia (cit Suherman, 2000),
mengatakan bahwa permainan mempunyai tugas-tugas biologis untuk melatih
bermacam-macam fungsi jasmani dan rohani. Saat anak bermain merupakan
kesempatan yang sangat baik untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan
hidup atau hidup itu sendiri, serta dapat melatih jiwa dan raga untuk
menghadapi kehidupan yang akan datang.
Suherman (2000), mengatakan salah satu fungsi bermain adalah
merangsang perkembangan sosial. Perkembangan sosial ditandai dengan
kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Bermain dengan orang lain
akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan sosial dan belajar

79

memecahkan masalah dalam hubungan tersebut. Pada saat melakukan


aktivitas bermain, anak belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa
lawan bicara, dan belajar nilai sosial yang ada pada kelompoknya. Hal ini
didukung oleh Supartini (2004), yang mengatakan bahwa aktivitas bermain
yang dilakukan perawat pada anak di rumah sakit akan memberi keuntungan,
salah satunya meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan
perawat.
Pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi sosial anak
usia prasekolah telah dilakukan uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test pada
tingkat kemaknaan = 0,05 dengan nilai (p) yang diperoleh sebesar 0,000
dengan bantuan komputer. Karena nilai (p) lebih kecil dari nilai (), maka H1
diterima. Hal ini menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara terapi
bermain dramatic play terhadap interaksi sosial anak prasekolah.
Penelitian ini didukung oleh beberapa kesimpulan penelitian terdahulu
yang menyatakan bahwa ada pengaruh terapi bermain terhadap interaksi sosial
anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi, seperti:
Pengaruh terapi bermain dengan tehnik bercerita terhadap kecemasan
akibat hospitalisasi pada anak prasekolah di ruang perawatan anak RSUD
Kota Yogyakarta oleh Eka Suryaning Tyas, dengan hasil penelitian ada
pengaruh yang signifikan pada pemberian terapi bermain dengan tehnik
bercerita terhadap kecemasan akibat hospitalisasi terhadap anak prasekolah di
ruang perawatan anak RSUD Kota Yogyakarta.

80

Pengaruh terapi bermain terhadap penerimaan tindakan invasive pada


anak prasekolah di ruang anak RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar oleh Citra
Widayasari, Hurun Ain, Ganif Djuwadi dengan hasil penelitian ada pengaruh
terapi bermain terhadap tindakan invasive pada anak prasekolah di ruangan
anak RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar sehingga anak prasekolah yang
diberikan terapi bermain lebih baik penerimaannya sebelum diberikan terapi
bermain.
Pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kooperatif selama menjalani
perawatan pada anak usia Pra sekolah (3 5 tahun) di rumah sakit Panti rapih
Yogyakarta oleh Rahmawati Dewi Handayani dan Ni Putu Dewi Puspitasari,
dengan hasil Pemberian terapi bermain dapat meningkatkan perilaku
kooperatif anak usia pra sekolah selama menjalani perawatan di ruang CB 2
Anak kelas 2 dan 3 Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Hal ini sesuai
dengan teori bahwa terapi bermain adalah pemanfaatan permainan sebagai
media yang efektif oleh terapis untuk membantu klien mencegah atau
menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal melalui eksplorasi dan ekspresi diri (Nuryanti,
2007). Kesimpulan yang diambil dalam penelitian ini adalah: Ada pengaruh
terapi bermain terhadap tingkat kooperatif pada anak usia 3-5 tahun di Ruang
CB2 Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.
Untuk itu anak memerlukan media yang dapat mengekspresikan
perasaannya. Media yang paling efektif adalah melalui kegiatan permainan.
Permainan merupakan aktifitas yang sehat dan diperlukan untuk tumbuh

81

kembang anak, dimana bermain juga sangat penting untuk kesehatan


mental, emosional, dan sosial (Nursalam,2005).
Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak usia prasekolah di
rumah sakit akan memberikan keuntungan:
1) Meningkatkan hubungan antara perawat dan pasien.
2) Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri
pada anak.
3) Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberi rasa senang
pada anak tetapi iuga membuat anak mengekspresikan perasaan dan pikiran
cemas, takut, sedih, tegang dan nyeri.
4) Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak
untuk mempelajari tingkah laku yang penting (Supartini 2004). Sehingga
anak dapat berinteraksi dengan orang yang ada di rumah sakit.

C. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti masih menemukan berbagai keterbatasan
penelitian. Keterbatasan penelitian di bagi menjadi 2 sebagai berikut:
1. Kelemahan
a.

Pada penelitian ini tidak menggunakan kelompok control sehingga tidak


dapat dilakukan perbandingan antara pengaruh perlakuan dan control.

b.

Dalam penelitian ini peneliti tidak mencantumkan lama perawatan anak


dalam lembaran observasi interaksi sosial anak yang dapat mempengaruhi
reaksi psikologis anak selama hospitalisasi.

82

2. Hambatan
a.

Pada saat melakukan terapi bermain dramatic play yang seharusnya di


ruangan bermain tidak dapat digunakan karena ruangan bermain yang
tersedia digunakan sebagai ruangan perawatan sehingga kegiatan terapi
bermain dilaksanakan di ruangan perawatan.

b.

Dalam pelaksanaan terapi bermain ada 3 orang anak yang tidak bisa ikut
bermain karena orang tua tidak mengijinkan pada hal ketiga anak tersebut
sudah pantas untuk menjalani terapi bermain.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pola interaksi sosial 30 responden anak prasekolah yang menjalani
hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu
sebelum diberikan terapi bermain dramatic play adalah interaksi sosial
baik 1orang(3,3%), interaksi sosial cukup 16 orang (53,3%) dan interaksi
sosial kurang 13 orang (43,3%).
2. Pola interaksi sosial 30 responden anak prasekolah yang menjalani
hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu setelah
diberikan terapi bermain dramatic play adalah interaksi sosial baik 19
orang (63,3%), interaksi sosial cukup 10 orang (33,3%) dan interaksi
sosial kurang 1 orang (3,3%).
3. Terapi bermain dramatic play mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap pola interaksi sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi
di ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu, dengan uji statistik
Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat kemaknaan = 0,05 dimana
nilai p = 0,000. Jadi dapat disimpulkan ada pengaruh pemberiana terapi
bermain dramatic play terhadap interaksi sosial anak prasekolah yang
menjalani hospitalisasi.

83

84

B. Saran
1.

Kepada perawat anak, hendaknya menerapkan terapi bermain dramatic play


dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak prasekolah yang menjalani
hospitalisasi.

2.

Kepada pihak rumah sakit, diharapkan menyediakan ruang dan fasilitas


bermain yang memadai dan sesuai untuk anak-anak yang sedang menjalani
hospitalisasi.

2.

Kepada orang tua yang anaknya menjalani hospitalisasi, diharapkan


memahami pentingnya bermain bagi anak yang sedang dirawat sehingga
dapat mendukung anak dalam bermain dengan cara bersedia mendampingi
anak pada saat bermain dan berperan serta dalam permainan.

3.

Untuk peneliti

berikutnya perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang

pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi sosial anak


prasekolah yang menjalani hospitalisasi dengan menggunakan rancangan
penelitian quasi experiment dengan desain control time series design dan
perlu ditambahkan lama perawatan anak dalam lembar observasi terhadap
anak karena mengingat semakin lama anak dirawat di rumah sakit, semakin
besar pula reaksi psikologis anak selama hospitalisasi. Bagi peneliti pemula
harus sering membaca buku-buku tentang penelitian dan bertanya kepada
orang yang sudah berpengalaman.