Anda di halaman 1dari 99

Pengendalian

Mutlr
Beton
SffiTru
gNI, ACI dAN ASTM

\J\)

9
S

s
\

t\

$
\)
\Q

A)

\\
a -\\

s"s $s''N
F<

sNe

ssL
tc\

\S
S

Ketenangan Gambar
di Sampul Depan
Gambar grafik Proses Pengerasan menunjukkan nilaikuat tekan silinder
beton bila pemeliharaan kelembaban dilakukan berbeda-beda.
I{erucut slump adaiah a}ar cctak kerucut beton segar yang digunakan untuk
mengukur nilai "slump" sebagai ukuran keseragaman kelecakan beton
Silinder adalah bentuk benda uii beton berukura 150 x 300 mm vang diberi
identitas:
' Huruf E menunjukkan identitas kelompok komponen smuktur beton
bcrtr.rlang 1,ang muru betonnya dirvakili oleh silinder beto n#3adan3b
. Angka 3 adalah nomor silincler sedang a clan b menunjtrkkan
pasangaflnya

. Angka I / 10 dan 9.30 berturut-turut berarti silindcr dibu at pada tanggal 8

Oktobcr pada pukul 9.30

&$**i#&@*"

Disusun oleh

Puio Aii lr. MT. Dr. techn.

Rachmat Purwono lr. MSc. Prof. lP-U HAKI

201 0
Sirspress

PENGENDALIAN MUTU BETON


Sesuai SNl, ACl, dan ASTM

Penulis

Puio Aii lr' MT' Dr'techn'

Penyunting

Rachmat Purwono lr' MSc' Prof' lP-U HAKI


PuioAiilr. MT. Dr'Techn'

DesainSamPul

Nila Permatasari

o 2o1o, lTSPress, SurabaYa

Daftar Isi

Didistribusikan oleh;
CV. Putra

Media Nusantara

Perum Gunung Sari lndah AZ'24


Surabaya - 6o223
Telp: o31-6o9o9556
e-mail: crewol@Ymail.com

Prakata

Hak cipta dilindungi Undang-undang

10

Diterbitkan Pertama kali oleh:


Penerbit lTSPress SurabaYa

Komponen Pembentuk Beton dan Faktor-Faktor


yang Mempengaruhi Kekuatan Beton

lsBN 978-979-8897-56-6

IS8il

X?ff

1.1 Definisi
L.2 Kuat Tekan Beton dan Faktor-Faktor

-1?1-$S1?-5t;*b

Sanksi Pelanggaran Pasal

Undang-Undang Nomor
Tentang Hak CiPta:

t.

zl

19

Tahun zoot

melakukan perbuatan
Barangsiapa dengan sengaia dan tanp.a hak
(t) dan ayat
pasal z ayat(1) atau Pasal 49 ayat
seUaglimana dimJksud dalim
t:,t')
mising-masi' g
penlara
pidana
(z) dipidana dengan
l'l:ng .t'lg|<1,:lf
atau
rupian),
(satu
iuta
iulan aan/ atau d-enda paling sedikit Rpr.ooo.ooo,oo
banyak
paling
denda
atau
t'i'nliahun dan/
pidana peniara patini

Rp5.ooo'ooo.ooo,oo (lima milyar rupiah)'


mengedarkan
Barangsiapa dengan sengaia menyiarkan' memamerkan'
pelanggaran
hasil
barang
atau rieniuat repiaa umu"m suatu ciptaan atau
(t) dipidana
ayat
pada
dimaksud
Hak cipta atau Hak r"ir.uit sebagaiman
paling banyak
denda
atau
dan/
tahun
(liria)
f"u
5
dengan peniara parinj
Rp5"oo.ooo'ooo,oo (lima ratus iuta rupiah)'

Dicetak oleh

vang l\{em-

7.2.1 Sifat darr Proporsi Carnpuran


7.2.2 Kondisi Pemeliharaan

15

Beton

L.2.3 Iraktor Perrguiian

L*"i

2.

L2

perrgaruhi Kekuatan

illl lililllllill lli Iill il il


9117897?8ir897566'r

ITS Press

lnstitutTeknologi Sepuluh NopemberSurabaya

atau memperbanyak sebaglrrr


Dilarang keras meneriemahkan, memfotokopi'
atau selirruh isi buku lni tanpa izin

tertulis dari penerbit

Beton
2.1 Pendahuluan
...\.
.....
2.2 Bulletin LB3-ITS no.l Sept 2008
2.3 Bulletin LB3-ITS no.2 Okt 2008
2.4 Bulletin LB3-ITS no.li Nop 2008
Masalah Praktek Evaluasi Kualitas

1,2

16

20
21

28
28
29
:\2
:17

DAFTAR ISI

2.5

Bulletin LB3-ITS no.4 Des

DAI IAII I:;I

2008

43

Pemilihan Kekuatan Beton Secara Statistik

3.1
3.2
3.3

Distribusi Kuat Tekan Beton dan Maknanya.

(;.')

6.3

Pemilihan Proporsi Campuran Beton

6.4

Perancangan Proporsi Campuran Berdasarkan


Pengalaman Lapangan dan/atau Hasil Campuran

49

74

49

Pemilihan Kekuatan Beton untuk Desain Campuran 52

uji..

Evaluasi dan Penerimaan Beton

6.4.7

Pedoman Pemakaian Bahan dan Kualitas Beton

4.1 Pendahuluan
4.2 Pengujian Bahan
4.3 Semen
4.4 Agregat
4.5 Air
Persyaratan Keawetan Beton

5.1 Pendahuluan
5.2 Rasio Air-Semerr
5.3 Pengaruh Lingkungan
5.4 Pengaruh Lingkungan mengandung sulfat
5.5 Perlindungan Terhadap Korosi

59

77

6.4.2 Kuat Rata-Rata Perlu

80

6.5

Pencatatan data kuat rata-rata

81

6.6

Perancangan Campuran Tanpa Berdasarkan Data


Lapangan atau Campuran Percobaan .

83

Evaluasi dan Penerinlaan Beton

84

6.7.1

85

60
61
61

76

Deviasi Standar

55

59

75

6.7

Evahrasi

62

65
65
66

67
67

85

6.7.3

Syarat penerimaan beton

86

6.7.4

Perawatan benda uji di lapangan

87

6.7.5 Penyelidikan untuk hasil uji kuat beton


yang rendah.

88

- Laporan data uji kuat


Contoh 6.2 - Pemilihan rasio air-semen
Contoh 6.1

92

untuk su-

69

atu mutu dan keawetan beton

97

Kualitas dan Pemilihan Campuran

73

Contoh 6.3 Pemilihan proporsi beton dengan


Campuran Percobaan

99

6.1

7:t

Pendahuhran

Contoh

6.4

Frekuensi Pengujian

103

t)At tAil

DAFTAR ISI

Perrgujian

Contoh 6.5

Flekuensi

Contoh 6.6

..-

Penerirrraan Beton Sesuai Persyaratanl0B

106

Contoh 6.7 * Penerimaan Beton Sesuai Persyaratanll0

Pengendalian Mutu Dikaitkan dengan Prosedur


Disain Proporsi Campuran Beton
115

7.L Pendahuhriur
.....115
7.2 Prosedrrr dan Diskrmi Disain Carrrpurau
ll7
Beton Saat Segar

130

8.1 Pendahuluan
130
8.2 IJnrunr
.....732
8.3 Karakteristik Beton Segar dan N{aknarrya, . . . . . 13:l
8.4 Pengarnanan Beton Segar
. . 140
Evaluasi Kekuatan Struktur Yang Telah

Berdiri
....

9.1 Evaluasil{ekuatan-UN'IuNI
9.2 Penentuiln Dirnensi Struktur cla,n Sifat Balur,n yang

148
149

Diperlukan

151

9.3

Prosetlur Uji Bebtur

15,4

9.4

Syarat Penerirraan

757

9.5

Ketentuan Untuk Tingkat Pernbebzrnan yarrg LeLrih


Rendah

160

Kcnrnanan

160

9.6

tr,t

LarrrJrirau

L62

t62

SNI 03-2847-2002

DAFTAR CiAMBNR

9.3

Kriteria Uji Beban untuk elemen dengan tebal


mln

Daftar Gambar
2.1 Contoh model kubus dan silinder beton
2.2 Sepasang silinder lengkap dengan tanda

29

kodenya

33

3.1

Pengaruh s Pada

fl

50

3.2

Pengaruh s Pada

fl"

50

3.3

Kriterial ..

3.4

Kriteria

3.5

Kriteria

6.1

Kurva kuat tekan campuran percobaan

9.1

di apPengaruh arching/melengkung ketika beban


Iikasikan

54

'

g.2 Kriteria Uji Beban untuk elemen dengan

54
55

101

156

bentang
159

200
159

DAFlnt r

Daftar Tabel

Hasil suatu pengetesan beton

108

6.6

Hasil suatu pengetesan beton

i10

7.1

Mix Disain dan Diskusinya


Harga rekomendasi slump untuk berbagai

t7

7.3

28

hari
f

.3 Sumber

utarna
bervariasi besar

18

penyebab kuat tekan

2.1 Nilai /j, untuk nilai s > 3.5 MPa


2.2 Standar deviasi dikaitkan .dengan mutu
pekerjaan beton

25
38

40

2.3 Nilai .fl, bila tidak tersedia data s

42

6.1 Faktor koreksi kuat tekan beton inti


6.2 Perhitungan kuat tekan dan kuat tekan rata-

90

rata 3 silinder

92

6.3

Perhitungan deviasi standar

9.1

6.4

Data hasil campuran percobaan

100

6.5

7.2

1.1 Tipe semen dan fungsinya


L.2 Tipe semen dan kekuatannya pada umur

rAlI

Proses

tipekonstruksi
Perkiraan air campuran dan

118

...

L28

persyaratan
kandungan udara dengan variasi nilai slump
dan ukuran maksimum agregat

724

7.4 Hubungan rasio air-semen dan kekuatan


tekanbeton
.....12b
7.5 Rasio maksimum a/c untuk kondisi lingkunganagresifl
.....126
'7.6 Volume agregat kasar per unit volume
beton l2T
7.7 Estimasi awal dari Beton segar
. . . . . 128

9.1 PerbandinganFaktorReduksi

.....

1bS

DAF

DAFTAR TABEL

Prakata
Di Indonesia, <liramalkan di waktu-waktu yang akan datang akan
membutuhkan lebih dari 30 juta rn3 bahan beton tiap tahun untuk
pembangunan infrastuktur ekonominya. Karena itu buku kecil
yang praktis ini berdedikasi bagi praktisi dunia industri kontnrksi
pemakai bahan beton yang selaiu berusaha membuat beton yang
lebih awet di samping lebih kuat dan lebih ekonomis. Beton yang
ekonomis juga akan berkontribusi pada reduksi emisi karbon.

sebagian besar pengetahuan fisik beton saat ini diakui bukan


hasil studi teoritis, tapi merupakan hasil laboratorium dan pengalaman lapangan. Karena itu pola kerja produksi beton muIai dari disain campuran (termasuk spesifikasi bahan-bahannya),
proses pencampuran, pengangkutan sampai dengan pemadatan
di tempatnya yang terakhir harus konsisten mengikuti pedoman
dan tata cara nQrmatip yang berlaku yaitu SNI, ACI dan ASTM
yang relevan.

Buku ini memfokuskan diri pada kegiatan pengendalian rnutu


beton, karena itu buku ini membatasi diri dalam memberi

pedoman-pedoman preventif yang dapat mgrugikan mutu fisik beton setelah menjadi keras.

IAil r^ill

Selarrjutrrya Bab 6 berlbkus pada apa arti dari standar deviasi


bagi kinerja perusahaan, evaluasi dan penerirnaan beton dan disertai contoh-contoh aplikasinya.

Praktisi pengendali mutu tentu akan lebih ya,kin'akan tugasnya bila mengetahui dasar alasan tindakannya karena itu Bab 7
menjelaskan secara singkat. Dasar-dasar ini dijelaskan lebih lanjut di Bab 8 yang menguraikan realisasinya dalam bentuk karakteristik beton segar'. Buku ini mengakhiri tulisannya di Bab g
yang memfokuskan pedornan evahrasi kekuatan struktur bila uji
non destruktip tidak memberikan pemecahan masalah.

Dalam penulisan buku ini penulis sangat berterimakasih


kepada: pertarna pada SNI, ACI dan ASTM yang memberikan
ijin pemakaian berbagai publikasinya; kedua para praktisi industri konstrtftsi baik kontraktor, konsultan, teknisi lab dan bahkan
mahasiswa di Teknik Sipil yang rnemberikan masukan berharga
dan ketiga pada ITS Press atas kesediaan penerbitan buku ini.
Akhirnya To erris human, demikian ada peribahasa yang
menunjukkan sebagai ma,nusia kita bisa melakukan kesalahan oleh
karena itu penulis akan sangat berterimakasih bila ada kritik dan
saran sehingga materi buku ini dapat ditingkatkan kualitasnya
dari waktu ke waktu. Selamat memanfaatkan.

Bab 1, 2 d,an 3 mulai menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh pada kekuatan beton dan prinsip-prinsip evaluasi mutu beton sesuai tata cara baru. Bab 1, 2 dan 3 ini ditulis sebagai
respons dari masyarakat industri yang masih menggunakan tata
cara Iama (PBI 1971)
Bab 4 dan 5 merupakan catatan tambahan dari pasal 5 dan 6
SNI 2847 yang mengingatkan mempertahankan' kelecakan lretort
segar dan batasan rasio a/c sebagai syarat pengamh lingkungan'

10

Pujo Aji
Rachmat Purwono
Surabaya, Desember 2009

t1

1.1. Dtt lN[;r

akan dipakai dalam pembahasan beton dan kornponen-komponen


penting pembentuk beton dalam tulisan ini.

BETON adalah suatu komposisi ba-

Bab.

han yang terdiri


terutama dari me-

Komponen Pembentuk
Beton dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi
Kekuatan Beton
KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN: Kenali "Kunci
Kata" dan faktor yang berpengaruh pada kekuatan beton

1.1

Fahanni dahulu definisi kata-latal


heton, agregatn rnortar, semenr heton
mutu rcildah, brton mutu nonnal,
beton rmutu tinggi, patita semen dan
bahan tamhahan

dia pengikat yang didalamnya tertanam


partikel atau pigmen
agregat. Pada beton dengan semen hidraulis, pengikat terbentuk oleh campuran
semen hidraulis dan air.

AGREGAT adalah bahan berbutir, seperti pasir, kerikil , batu


pecah, yang dipakai bersama media pengikat untuk membentuk
beton.
Disebut AGREGAT KASAR (AK) bila partikel agregat lebih beNo. 4) dan disebut AGREGAT HALUS
(AH) bila ukuran partikel itu lebih kecil dari 4.75 mm tetapi lebih
besar dari 0.75 mm (ayakan no 200). KERIKIL adalah AK hasil
dari disintegrasi alam dan abrasi batu atau proses pemecahan
batu besar. Istilah PASIR biasanya dipakai pada agregat halus
hasil dari disintegrasi dan abrasi batu. BATU PECAH adalah
produk industri pemecah batu atau batu besar.
sar dari 4.75 mm (avakan

MORTAR adalah ca,rrlpuran dari pasir,'semen dan air. Ini sesungguhnya adalah beton tanpa pakai AK. sedangkan PASTA SEMEN

Definisi

Berikut ini adalah definisi kuncikuuci kata dalam teknologi beton


yang dipakai oleh ASTM C125 (Standard Definition of Ttrrms
Relating to Concrete and Concrete Technology) yurrg seltrnitttnva

L2

adalah campuran dari sernen dan air saja.

SEMtrN adalah bahan bcrbutir halus hasil gilingan, yang bukan


merupakan pengilcrt, l,a,pi rriorrjadi bersifat pengikat sebagai hasil
hidratasi (yaitrr rulksi kirrriir antara semen dan air). Semen

l:t

2. Kr,Al il hnN ttt I0N

KEKI.'AIAN

I)NN

IAKIOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1.1. DEFINISI

IJcl,orr rrurtu rnoderat biasa disebut beton normal, biasanya

hidraulis yang biasanya paling banyak dipakai adalah SEMEN


PORTLAND.

dipakai untuk pekerjaan struktural. Beton berkekuatan tinggi


dipakai urltuk pekerjaan spesial seperti untuk konstruksi beton

Ada suatu kelompok komponen pembentuk beton lain yaitu


bahan tambahan (admixtures) yang hampir selalu dipakai pada
pembuatan beton modern. Admixture ini adalah bahan selain
semen) agregat dan air, yang ditambahkan pada awal atau se-

prategang.

waktu proses pencampuran. Sesuai SNI2847 yang nlemakai pedoman ASTM C494, ada 7 jenis admixture sesuai tujuan pemakaian
dalam beton, yaitu:

o Tipe A: Reduksi Air

o Tipe B: Menghambat hidratasi (retarding)


o Tipe C: Mempercepat hidratasi
o Tipe D: Reduksi Air dan Retarding

o Tipe E: Reduksi Air dan Percepat Hidratasi


o Tipe F: Reduksi Air, High Range

o Tipe G: Reduksi Air, High

range dan Retarding

Mutu beton normal yang merniliki berat volume +

2400

l*3 dan paling banyak dipakai sebagai tujuan struktural rlibagi


dalam 3 kategori berdasarkan kekuatan tekan yaitu:
kg

o Beton mutu rendah: kurang dari 20 MPa


Beton mutu moderat: 20 -_ 40 MPa

Beton berkekuatan tinggi: lebih dari 40 MPa

1.2 Kuat Tekan Beton dan Faktor-Faktor


yang Mempengaruhi Kekuatan
Kekuatan karaktcristik beton (.fl) dipandang sangat penting
Banyak sifat flsik kons,trukri heton
oleh insinyur peren- hertulang dinyatakan datarn nilai kuat
cana dan pengendali
tekan karakteristlk heton, $'", ktrrna
mutu. Betapa tidak
Itu baik porencana maupun
karena banyak sifatpengendf,li mutu beton berfokur pada
sifat fisik utama benilai fl" ini
ton dapat ditentukan
dari data kuat tekan beton (fl), misalkan modulus elastisitas beton (8"), kuat geser beton (7"), kuat tarik belah beton (flr),
syarat keawetan beton, syarat kedap air,. dsb. Dengan adanya
korelasi ini, maka kontrol terhadap sifat fisik beton itu dapat difokuskan pada kuat tekan beton.

Literatur teknologi beton menyatakan bahwa sebagian besar


pengetahuan sifat-sifat beton dan faktor-faktor yang mempengaruhi yang menjadi dasar tata cara disain campuran beton saat
ini bukan berasal dari studi teoritis tapi dari pengalaman laboratorium dan lapangan. Terutama mengenai kuat tekan beton,
sudah jelas sangat cliperrgaruhi oleh rasio air/semen yang akan
menciptakarr porosittrs di pasta semen dan tingkat ikatannya dengan agregat. Ntrutrrrr <lala,rn rnunentukan langsung porositas int5

14

1 .2. KUAT TEKAN BETON DAN FAKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KEKUATAN

dividual komponen struktural dianggap tidak praktis, karena itu


model porositas untuk menaksir kekuatan beton tidak bisa dikem-

bangkan. Sebaliknya, setelah lewat beberapa waktu ditemukan


banyak hubungan empiris yang bermanfaat bagi penggunaan
praktis yang memberikan cukup informasi tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi kekuatan beton. Dibawah ini diberikan pengaruh faktor-faktor itu secara kualitatif sedangkan pengamh yang
bersifat kuantitatif dapat ditemui di tabel-tabel disain proporsi
campuran beton (Bab 7).
Faktor-faktor yang berpengaruh pada kekuatan beton ini,
sesuai dengan latar belakang penyebabnya, dibedakan dalam tiga
kelompok vaitu:

I.2, KIJAI II

2. Kondisi pemeliharaan

III I()N I)NN INKIOH FAK'TOB

YANG MEMPENGARUHI

1. Rasi<-r air'/scrnen Sejak larna para ahli dan praktisi sangat faharn bahwa peningkatan rasio air/semen akan mendapatkan
hasil kuat beton lebih rendah. Pengalaman laboratorium menunjukkan kenaikan rasio air/semen : 0.35 berturut menjadi 0.6b
.akan menurunkan kekuatan beton hampir secara linier meniadi
50% (pada kondisi campuran lain yang sama). Peningkatan jumIah pemakaian air bisa disebabkan oleh berbagai sebab antara
lain:
o Kontrol pemakaian air jelek
o Variasi kelembaban dan absorbsi agregai

o
1. Sifat dan proporsi campuran beton

hAN

KEKL,IAIAN

Perubahan gradasi agregat

2. Tipe Semen SNI 75-2049-1994 dan ASTM C150 mengenalkan 5 tipe semen Portland (SP) (tanpa pakai ai,r-entrained)
(lih. Tabel 1.1).

3. Faktor pengujian

Tabel. 1.1: Tipe semen dan fungsinya

1.2.L Sifat dan Proporsi Campuran Beton


Tipe SP Keterangan

Penentuan proporsi

campuran

beton
adalah tindakan per-

tama dalam

proses

I
$ermom Tipe I (normal) dianggap
menrapai 100% kekuatannya pada
umilr fB hari" Semrn Tipe ll, lV dan V
haru pada uflrur 9CI hari

disain campuran unmencapai mutu


yang diinginkan.
Walau diakui bahwa pengaruh masing-masing komponen pembentuk beton pada kekuatan beton bersifat interdependen, tlamun pengaruh dominan dibawah ini perlu diperhitungkan.

tuk

16

SP

Normal atau untuk Tujuan Umum

II
III
ry

Panas Hidratasi Rendah

Tahan Sulfat

Panas Hidratasi Moderat dan Tahan Sulfat Moderat

Kekuatan Awal Tinggi

t7

KUAT TEKAN BETON DAN FAKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


.1 :2:
KEKUATAN

Ditinjau

dari

pertumbuhan kekt
Al( nraupun AH harus
atannya, puau r.orl-Grading syarut gradasi tmttnttr"
disi temperatur dan memgikuti
alau peruhalun
kelembaban yans

-*1:*IiTpangan
gradasi akan rnenurunlam kuat tekan
sama, pada ,-ri
henda uii
9o hari semua Tipe
SP akan mencapai 100% kekuatannya. Namun pada umur 28
hari, masing-masing Tipe SP akan mencapai kuat tekan yang
berbeda-beda (lih. Tabel 1.2).
Tabel. 1.2: Tipe semen dan kekuatannya pada umur 2g hari

Tipe SP Kuat Tekan


I
700%

III

110%

II, IV, V

<t00%

3. Agregat Bila

sifat-sifat

seperti ukuran, bentuk, tekstur per-

mukaan dan komposisi mineralogi telah

Air untrk carnpuran dam pemeliharean hetom paling haik'adalah


yang layak diminum, biL tidak akan
*"r!r.*gakr.t hkan dan merusak

memenuhi syarat un, .


tuk dipakai sebagai komponen p"*b",rt,,ff[:L" (]ih SNI 2tt47,
Pasal 5.3) maka kekuatan beton sangat ditentukan oleh gradasi
(distribusi ukuran partikel) agregat.

18

KNN

III I()N

I)NN IAKIOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

I)clrrba,ltur gradasi, tanpa ada perubahan ukuran maksimum


AK dan rasio air/semen, akan menyebabkan penurunan kuat
tekan beton terutama bila ada tanda/kenaikan slump. Karena itu
ko,sistensi pemakaian grading sesuai ketentuan disain-campuran
harus secara rutin dijaga terhadap penyimpangan. Grading agregat kasar dan halus harus memenuhi grading ASTM CB3 dan
c136.

4. Air Campuran Air

untuk kebutuhan campuran dan kemudian juga pemeliharaan beton tidak boleh mengandung bahanbahan yang merusak beton. Jadi hanrs bersih dan tawar.
Air
PDAM
adalah air yang paling ideal untuk ini,

narnun air sungai


juga boleh dipakai
asalkan tidak men-

gandung

agregat

I.2, KI,lAI II
KEKIjN IAN

Ada 7 Tlpe bahan tanrbahan {ASTM


C494! dengan ciri ryie*ifik
kegunaannya. Nam$n $muanya tidak
menguhah kekuatan akhir henda uii

lumpur,
sisa-sisa bahan organik dan atau mengandung larutan kimia
(air buangan dari pabrik dan atau air laut). Pengalaman menunjukkan, pemakaian air yang kurang bersih itu akan menurunkan
kuat tekan beton secara signifikan. Dalam hal menemui keraguan
atas kualitas air, maka baiknya diperiksa dahulu kandungan
kimianya atau diadakan uji percobaan kekuatan dahulu untuk
mengetahui layak tidaknya air campuran.

5. Bahan Tambahan (admixture) Pengaruh bahan tambahan pada kekuatan beton tentunya tergantung pada tipe admixture. Pada rasio air/semen tertentu, pemakaian admixture yang
mereduksi air dan mempercepat/melambatkan proses hidratasi
jelas berpenganrh besar pada laju pengerasan beton, tapi tidak
berpengaruh parla kr:krrtrtiln akhir beton yang direncanakan.
t9

1.2. KUATTEKAN BETON DAN FAKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KEKUATAN

L.2.2 Kondisi Peineliharaan

ltl

beton diartikan

atau perawatan beton dalam keadaarr

se-

bagai prosedur yang


harus dipatuhi untuk
proses

Penyimpangar df,ri standar ku*t tekan


sillnder teriadi pada:

hiclratasi semen, r
'yaitu pengendalian
waktu, temperatur

'
kelembaban segera setelah '
beton selesai dicor
dan kondisi

dalam cetakannya.
Semua prosedur

l( )N l)AN I AKfOH FAKTOR YANG MEMPENGARUHT

I)crrrrrliIrilru,inr

Istilah pemeliharaan

melantarkan

1,2. Kt,Al I I l\AN


KEKI.JAIAN

Umur uii te*am khih dariyang

ditohrand
fvaluasi uii tekan gilinder < 7 hari
yang t(onfl rinar matahari langsung
Uii lruat $ilinder dilakukan lama
*etelah diangkat keluar daritenrpat
lembab

di atas adalah jaminarr agar

proses pengerasan

beton (kekuatan) berlangsung lancar.

1. Waktu
Harus diingat bahwa pencapaian standar target kekuatan
rata-rata silinder beton pada umur 28 hari pada umumnya
memakai anggapan pada kondisi lembab/b.asah dan temperatur
tertentu QA"C).

Bila dalam waktu kurang dari 28 hari beton berada dalam


keadaan kering sehingga air dalam beton akan menguap keluar,
maka peningkatan kekuatan beton akan terhambat. Bila sejak awal tidak di rawat dalam keadaan basah, kekuatan be-ton
hanya akan mencapai *50% dari kuat rencana. Kemudian waktu
melakukan uji tekan umur benda uji harus tidak melampaui toleransi waktu yang ditentukan (ASTM C39/C39M,01) dan benda
uji silinder harus masih dalam keadaan lembab.

2. Kelembaban
20

basah dapat diIakukan dengan

Bentuk, goomatrifi dan ulcr1ran bendr


uii tekan $aryat mcmpcrqgaruhi hasil
kuat lelnn beton. SNl2847 msmahi
hemda uii tekan bsbentuk silinder
herukuran I5{l x 3{lO nrrn

menyrram
atau merendam atau
menutup permukaan beton dengan karung goni yang terus dipelihara dalam keadaan basah. Di lapangan struktur beton yang
baru dicor disarankan untuk dipelihara secara terus menerus
dalam keadaan basah/lembab selama sedikitnya 7 hari.

.jalan

Bila selanjutnya tidak dalam lembab, pada umur 28 hari beton ini akan hanya mencapai +55% dari yang lembab. Bila beton tidak dipelihara lembab sama sekali pada umur 28 hari akan
hanya mencapai 50 %

3. Temperatur Silinder Di negara tropis seperti Indonesia


yang bertempartur udara antara 20" 3brc, masalah temperatur hanya berpengaruh memberi perbedaan kekuatan beton awal
(umur < 7 hari) Namirn pada umur 28 hari, bila perawatan
dilakukan dengan baik dan beton selalu berada pada ternperatur antara 20o - 35"C,,perbedaan kekuatan beton hanya kecil.
Karena itu, bila diperlukan kuat uji pada umur bbton ( 7 hari
harus dijaga benda uji jangan terkena langsung sinar matahari
yang menyebabkan benda uji bertemperatur tinggi (> B5rC) dan
menghasilkan kuat tekan awal lebih tinggi.
L.2.3 Faktor Pengujian
Sering kali dilupakan bahwa hasil kudt tekan beton sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor benda uji dan kondisi pembebananya.

2t

1.2. KUATTEKAN BETON DAN FAKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KEKUATAN

1.2. Kt,lAI II KAN III ION DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KEKUATAN

Faktor benda uji termasuk ukuran , geometri, kondisi umur dan


keadaan kelembaban; kondisi pembebanan rneliputi tingkat dan
kecepatan pembebanan

1. Faktor benda uji


Benda uji berbentuk silinder ukuran 150 x300 mm (yang dipakai oleh SNI 2847 2002) tentu berbeda kuat tekan yang diperoleh dari benda uji berbentuk kubus berukuran 150 mm. Benda
uji kubus biasanya menghasilkan kuat tekan 10 15% lebih tinggi
dari benda uji silinder.Ini bukan disebabkan oleh campuran beton yang berbeda, melainkan oleh perbedaan ukuran benda uji.
Faktor lain yang penting dijaga adalah ketentuan yang rrengharuskan benda uji umur 28 hari masih dalam keadaan lembab pada waktu diuji tekan. Observasi pada uji tekan beton
mencatat bahwa benda uji kering mempengaruhi kuat tekan 20
sampai 25% lebih besar dibanding yang dalam kondisi lembab.

2. Kondisi IJrnur Sudah diketahui secara umum bahwa kuat


tekan beton, khususnya silinder uji beton, akan meningkat dengan
pertambahan umurnya, karena itu Chapter 7.3 ASTM C3gM-01
menetapkan waktu toleransi yang diijinkan untuk memperoleh
kuat tekan silinder beton pada berbagai umur sebagai berikut:
Umur Uji

jam
3 hari
7 hari
28 hari
90 hari
24

Toleransi diijinkan
+

0.5

iam atat 2.17o

2 jarn atau 2.B

jam atat 3.6 Yo

20

Yo

jam atau 3 %

hari atau 2.2

Yo

ASTM

c3e/c39M

01

menentukan pen
gujian tekan silirder harus secepatnya dilakukan setelah benda uji di-

ambil dari

Faktor penguiian yang mempngfr ruhi


kuat tekan silinder:

r
'

Waktu dir{i tekan, silinder tidak


dalanr keadaan lemhah dan suhu
norfiral
lfucepatan prflirylutan heban tidailr
sesuai Peraturan

tempat
rendaman/tempat
pemeliharaan yang lembab. Sedangkan Chapter 5.1.5, ACI 30b R
mensyaratkan, selama benda uji menunggu ke fasilitas pengujian,
benda uji harus tetap dalam keadaan lembab, dilindungi dan
dipindah-pindah secara hati-hati., Benda uji itu harus disirupan
dalam keadaan lembab pada suhu 23 + L.7 C sampai saat <liuji.

Sudah tentu bila waktu tolerarrsi yang diijinkan tersebut dilampai akan memberikan hasil uji tekan lebih besar dari nilai normatipnya.

3. Kondisi Pernbebanan
Semua buku mengenai beton teknologi

mencatat bahwa ni-

lai kuat tekan beton (dalam hal ini

benda uji tekan) sangat tergantung pacla,

Pengendali mutu heton olsh


pelalaana lapangan dan pietugar
laboratorium haruo konsistan wi$pada
pada penyehab variari hafil uii tekan

kecepatan perningka,t,arr lrcbnn yang dikenakan pada benda uji.


Makin tinggi ltrjrr k<x:cpa.tarr pembebanan makin tinggi kekuatan yang didtrpal. K;lrcrrir, il,rr apabila semua persyaratan teknis

22
.).)

1.2, KI]AI I I KAN III I()N DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1.2. KUAT TEKAN BETON DAN FAKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KEKUATAN

KEKUATAN

aparatus/mesin penguji sudah dipenuhi, dipersyaratkan jaminan

Tabel. 1.3: Sumber utama penyetrab kuat tekan bervariasi besar

kesanggupan pembatasan peningkatan pembebanan antara 0.15

sampai 0.35 MPa per detik atau rata-rata 0.25 MPa per detik.
Ini berarti untuk f'., : 33 MPa akan perlu waktu *132 detik
x 2.2 menit.

Dalam Tabel 2.1 SNI 03-6815-2002 menyajikan secara komprehensif data faktor-faktor utama yang menyebabkan kuat tekan
benda uii beton bervariasi.

VARIASI OLEH SIFAT


PONEN BETON

KOM- VARIASI OLEH METODE

UJI TEKAN
* Perubahan rasio air/semen * Prosedur pembuatan benda
disebabkan oleh:
uji kurang baik
o Kontrol pemakaian air jelek
o Kelernbaban AK dan AH
sangat bervaria"si

Mengubah kelecakan

* Variasi dalam kebutuhan air: * Variasi oleh sebab Teknik


r Perubahan gradasi agregat, Fabrikasi:
o Kualitas bahan cetak jelek
absorbsi, bentuk partikel
o Pemindahan, penyimpanan
o Perubahan sifat senren dan
dan pemeliharaan benda uji
bahan tambahan
baru
o Waktu penyerahan dan temperatttr beton

* Variasi karakteristik dan pro- * Perubahan dalam Perneliporsi komponen beton:


haraan:
o Variasi Temperatur
r Agregat

o
o

o Bahan sementirs
o Bahan tambahan

24

')i

Variasi kontrol kelembaban


Terlarnbat mengirim silinder
ke laboratorium

1.2. KUAT TEKAN BETON DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KEKUATAN

* Variasi dalam perbandingan

Prosedur pengujian kurang

bahan campuran, pengadukan,


transportasi, pengecoran dan

baik:

o Penanganan benda uji,

pernadatan.

1.2. KUAI tt KAN

o Penempatan kurang baik di

dan pemeliharaan

1.

2.

mesin uji

26

DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Mengapa kuat tekan karakteristik beton, /j, penting sekali


bagi perencarla dan ahli pengendali mutu?

Sebut 3 (tiga) pemakaian air berlebihan selain rasio a/c


yang ditetapkan dalam disain campuran yang dapat merye-

o Mesin uji tidak dikalibrasi


r Kecepatan uji tekan salah

Dengan adanya informasi faktor dan sumber penyebab variasi


kuat tekan benda uji beton (Tabel 1.3) diharapkan para pelaksana
di lapangan dan petugas di laboratorium dapat lebih mengusahakan mutu beton lebih baik lagi. Ukuran pengendalian mutu
beton ini akan tercermin oleh nilai deviasi standar (s) yang dihasilkan (lihat Bab 6)

IoN

Evaluasi Kompetensi Anda

transportasi dan capping

* Variasi dalam temperatur

II

KEKUATAN

babkan penurunan kekuatan beton!


3.

Sebut kemungkinan sebab-sebab kenaikan slump yang


diukur setelah proses pencampuran selesai dilakukan!

4.

Apakah benefit pemakaian bahan tambahan?

5.

Sebut kondisi-kondisi pemeliharaan yang dapat menyebabkan hasil uji tekan lebih besar dari yang dilakukan sesuai
ketentuan normatip!

3 Faktor Pengujian yang masing-masing bila ketentuannya tidak dipenuhi akan rnenghasilkan kuat uji lebih
tinggi dari nilai normatipnya!

6. Sebut

'27

2.2. BUt

t-

tN t

tllt

II

t; No.1 sEpT 2008

ITS rnencoba memberikan penyuluhan perihal masalah faktorfaktor atau indikator QC (Quality Control) Beton dan produksi
beton yang ekonomis sesuai SNI 03-2847-2002.

Bab.

2.2 Bulletin

LB3-ITS no.1 Sept 2008

Topik: Kekuatan Beton Ditentukan Menggunakan


Kubus atau Silinder?

Masalah Praktek
Evaluasi Kualitas Beton

"Beton saya memiliki kekuatan K250", ini adalah ungkapan yang


sering ada di lingkungan masyarakat yang ditujukan untuk mem-

KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN: "Paham


prinsip-prinsip evaluasi mutu beton sesuai tata cara

Pola penyebutan kekuatan beton yg menggunakan ,,K,, tidak


lain dipengaruhi oleh peraturan lama yang masih terasa yaitu
PBI 71 (Peraturan Beton Indonesia 1971).

baru dan usaha produksi beton yang ekonomis"

berikan informasi tentang kekuatan material beton. K250 berarti


beton kekuatannya dinyatakan dalam bentuk benda uji Kubus
dengan satuan kg f cm2.

2.L

<]**-tr

Pendahuluan

ffi

+--g-+

Berikut ini akan disajikan beberapa topik permasalahan yapg


banyak ditemui di lapangan dan sempat dibahas dalam empat
bulletin Laboratorium Beton dan Bahan Bangunan ITS (disingkat LB3-ITS). Topik-topik tersebut di mulai dengan pembahasan mengenai seringnya pemakaian sample/benda uji berbentuk kubus yang dipakai untuk menentukan kekuatan beton. Hal
ini tentunya tidak tepat lagi mengingat SNI-2847 selalu menggunakan silinder sebagai acuan mutu beton. Selain itu Bulletin LB328

rffi ffi IGbr. 2.1:

Orxrt,olr truldel kubus dan silinder beton

29

2.2. BUt t I
2.2. BULLETIN LB3-ITS NO.1 SEPT

Gbr 2.1 menunjukkan model kubus dan silinder. Dimana ukuran standard dari kubus adalah S : 15 crn, sedangkan silinder
memiliki ukuran D : 15 cm dan H : 30 cm

Pada

peraturan
Indonesia yang baru (SNI
03-2847-2002) keku-

ton dinyatakan

oleh

Kekuatan tekan beton saat ini


dinyatakan oleh krat tekan rah-ratil
seFasanH silinder herukuran
150 x 300 mm

kuat tekan benda uii


berbentuk silinder dengan simbol /j dengan satuan MPa. Perubahan ini disebabkan pada saat ini (SNI 2847) peraturan beton
mengacu kepada peraturan ACI 318.
Perlu diketahui bahwa peraturan baru ini tidak hanya memt afat:
dari kubus ke silinder saja namun ternyata ada banyak hal lain
yang juga berubah seperti:
bawa dampak pada perubahan penyebutan dari K menjadi f

1. perhitungan penentuan kuat tekan karakteristik

2. prosedur mix design dalam hal penentuan Kuat rata-rata


perlu,

rN I

tt:t

il:i

No r SEPT 2008

1. Untuk keperluan disain bangunan baru: dilakukan

sosial-

isasi (bisa lewat kursus/training) kepada civitas akademik


dan masyarakat tentang /l sebagai acuan kekuatan material
beton.

2. Untuk keperluan

beton di

atan material be-

2OO8

assessment bangunan lama: bila istilah K


dipakai maka harus dikonversikan menjadi fl.

Berkaitan dengan konversi dari harga K Kubus ke


Iangkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Silinder

1. konversikan satuan kgf cm2 menjadi MPa dengan mengalikannya dengan 0.098.

2. harga K yang sudah dalam satuan MPa kita istilahkan sebagai f.1, dan selanjutnya gunakan rumus dibawah ini untuk
mengubah menjadi

fl:

fl:

Q.To + o.2o

* to,s1ff11 * y"t

(2.r)

Dengan cara ini marilah kita siapkan untuk menggunakan peraturan baru seutuhnva

fl,

3. evaluasi kuat tekan beton


Dengan melihat informasi di atas dapat disimpulkan bahwa
peraturan baru di Indonesia tidak mengenal istilah K ataupun
menggunakan kubus sebagai tolak ukur kekuatan matcriiil beton.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri masih barryak insinyur
yang terbiasa menggunakan K untuk mendefinisikan kckrratan beton.

Dari informasi di atas dapat disimpulkan:


.l 1
,rf

30

fl

i
I

2.3. BULLETIN LB3.ITS NO.2 OKT

2.3 Bulletin

2OO8

LB3-ITS no.2 Okt 2008

Topik: Pelaksanaan Quality Control (QC) Mutu Beton


Inti dari QC beton adalah pembahasan mengenai langkah apa
saja yang bisa dilakukan untuk menjamin bahwa mutu beton pad,a
saat proses pengecoran berlangsung sesua,i mutu beton yang di, rencanakan.

Sebagai kontraktor profesional, kiranya sangat ingin tahu


pasti perihal pengertian-pengertian penting eC mutu beton
berdasarkan peraturan beton yang baru (SNI - OZ - 2847 -2002,
Pasal 7) yaitu antara lain:

1. Notasi mutu beton:

2.3. BUt I

I llN I llr ill;

N()1r

oKI

2008

Berr<ltr u.ii yang

diuii tekan adalah sample beton yang diambil


dari beton yang dipakai untuk pembuatan sekelompok komponen
struktur beton.

Bila kuat

tekan

yang diperoleh dari


sample itu memenuhi

syarat kuat tekan,


maka mutu betorr
kelompok komponen
tadi akan dinyatakan
OK ptia.

Silirder harur dihnglopi idemtitas


hagian rtruhur yang diwalcili,
pf,$antsannya dan nial$u

Bila terjadi sebaliknya, maka mutu beton kelompok komponen


tadi menjadi tidak memenuhi syarat. Oleh sebab itu pembertan
kode pada benda uji silinder wajib dilakukan sebagai berikut:

Dalam peraturan baru yang berlaku saat ini, mutu beton dinyft dannilai kuat tekannya dinyatakan dalam
MPa
atakan dengan notasi

2. Jumlah benda uji untuk kuat tekan:


Hasil uji kuat tekan beton diperoleh dari rata-rata kuat
tekan 2 (dua) buah (atau sepasang) benda uji berbentuk silinder berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm yang telah berurnur
28 hari. Mengapa perlu 2 (dua) buah, tak lain untuk menjamin
kesahihan kualitas pembuatan benda uji & proses uji tekannya.

Bila hasil uji dari benda uji berbeda jauh, maka akan memberi
indikasi ada yang tidak baik pada kualitas benda uji atau dalam
proses penekanannya.

Gbr. 2.2:

Sepasang silinder lengkap dengan tanda kodenya

Gbr 2.2 menunjukkan 2 buah silinder suatu proyek yang telah


diberi kode dirrrana kodenya memiliki arti sebagai berikut:

3. Arti hasil uji f'. dan kode benda uji:

32

:i3

2.3. BULLETIN LBS-ITS NO,2 OKT

2.3. BUt t r ltN t tt:t tlri N().2 oKT 2008

2OO8

Contoh: 'Iabel berikut ini menunjukkan hasil uji kuat tekan beton
bermutu f'. : 30 MPa dari suatu proyek.

7a dan 7b

menunjukkan nomor benda uji dan pasangannya

mencatat lokasi kelompok komponen struktur yang diwakili oleh silinder 7a k 7b

6/8

Ifurttokm

Sample benda

?.6.3.3

Kult
Tgl

No

|uat

utt rffinder

Berarti dibuat pada pukul 8 lebih lima puluh menit

4. Flekuensi pengujian:

Syrr$ Prrd

h.rt
Rrtr2

berarti dicor tanggal 6 Agustus

8.50

UE

uji (untuk tiap mutu

SillIxdcr

Xomnonen I

Teken 3

Rrtd

0/0E/tl8

30.5

25.8

28.2

uo8/0s

33.8
31.4

34.3

s/08108
8108i08

E
F

34.8

3
4

35.9

33:1

c
il

29.6

33.3
13.4

r8/08/08

beton) diambil tidak kurang (ambil yang lebih besar) dari:

Kebmpok Slltrnder

28.5

r.5

3r.0

Sllinder

Syrrrl
(r)

OK
OK
32.0 OK
JJ.I OK
32.4 OK

Syrnt

ft)

OK

or(
OK

o satu pasang untuk tiap hari pengecoran


satu pasang untuk tiap 720 rn3
satu pasang untuk tiap 500 rn2 luasan lantai atau dinding

5. Kuat tekan yang


7.6.3.3)

memenuhi syarat (SNI 2847 Pasal

Bila hasil uji beton telah terkumpul


disusurr

sesuai urutan tang-

gal

pembuatannya,

lumlah berda uii silirder yang dihuat


terganturg pada frekuensi penguiian.
Tidek herus heriumlah 30 atau 20

salahan dalam pembuatan silinder no

kuat tekan kelompok


beton yang diwakili oleh benda uji silinder dianggap memenuhi
syarat bila dua hal berikut ini dipenuhi:
(a) Tidak ada nilai kuat uji tekan (rata-rata dari kuat tekan
silinder) yang lebih kecil dari # - 3.5 MPa

(b) Tidak ada nilai kuat uji tekan rata-rata dari 3 uji tekan yang
berurutan yang lebih kecil dari /j
34

26.5 MPa

Evaluasi:

* Kuat tekan silinder


tanggal 10/8/08 :
25.8 MP, cenderung
disebabkan oleh ke-

dan telah

Menurut syarat SNI ps 7.6.3.3:


Batas dari syarat (a) adalah : 30 - 3.5
Batas dari syarat (b) adalah : 30 MPa

Bih suatu henda uii tidd( nremenuhi


Syaral (aI atau (b), maka hanya hagian
struldur yang ediwakili' yanf, tidak
rnemenuhl syerat

1b.

Beton di semua kelompok komponen memenuhi syarat mutu


beton (syarat (a) dan syarat (b))
Kesimpulan: Beton kelompok D s/d H memenuhi syarat.

6. Manfaat Uji Tekan Beton:


Di Laboratorittnt lJeton permintaan uji tekan
35

beton

2.3. BULLETIN LB3-ITS NO.2 OKT

2OO8

disyaratkan memasukkan sample uji maksimum sebanyak 10


buah silinder. Pimpinan proyek diharapkan memanfaatkan uji
tekan ini seperti yg dicontohkan di Butir 5 di atas yg dapat
menunjukkan kondisi mutu beton yang diwakili oleh 5 pasang
bend-a uji dari 5 kelompok komponen struktur yaitu: D, E, F, G,
H.

catatan: untuk memenuhi kuat tekan silinder pada umur 2g hari,


laboratorium harus melakukan uji tekan pada hari yang berbeda
disesuaikan dengan tanggal pembuatan benda uji.

2.4. BUt t t I lN I lrit I lri

N( ) ir NOP 2008

2.4 Bulletin LB3-ITS no.3 Nop 2008


Topik: Produksi Beton yang Ekonomis
Setelah

membahas

mengenai QC (Quality Control) pembu-

atan beton selanjutnya akan membahas

f* yang hesar oleh scbab nllai s


mrupakan indikasi prcmf produkri
yang lturang sfisien

mengenai "Produksi
Beton yang Ekonomis", dimana dalam pembahasan akan dikonsentrasikan pada pengaruh dari penentuan standard deviasi
terhadap biaya produksi.

Tiap konstraktor dalam pelaksanaan struktur beton bertulang tentunya merasa bertanggung jawab atas hasil pembuatan
komponen-komponen struktur tersebut yaitu terutama dalam aspek antara lain:
Kualitas mutu beton,

fl

sesuai rencana gambar.

Mutu dan detailing pemasangan tulangan baik tulangan


pokok maupun tulangan transversalnya.

o Kepadatan dan kemulusan hasil pengecoran betonnya.


Dalam sub bab berikutnya kita akan sharing pengetahuan
mengenai faktor-faktor yang berpengaruh pada pembuatan beton vang lebih ekonomis.

36

:17

2.4. BULLETIN LB3-ITS NO.3 NOP

2OO8

2.4. BULLEI tN t tJ:| il t; No.3 NoP 2008

Pengaruh Nilai Standard Deviasi

Untuk design campuran beton, yaitu pada proses penenr;uan per_


bandingan berat dari campuran komponen beton pc:AH:AK dan
faktor af c, makabiasanya didahului dengan penentuan kuat tekan
beton rata-rata, fl. yung sanggup dibuat oleh kontraktor yang
bersangkutan. Lazimnya nilai fl ini lebih tinggi dari mutu beton

fl.

sNI 2847 Pasal 7.3.2.1 menentukan nilai f t, adalahnilai terbesar dari hasil 2 buah rumus dibawah ini:

fl, :

fl+t.z+*s

(2.3)

Bila standar deviasi s bernilai > 3.b Mpa maka hasil rumus (2.3)yang menentukan. Tabel 2.1 dibawah ini menunjukkan
nllai f I bila proyek menuntut fl:25 Mpa dengan s yang blrvari_
asi > 3.5 MPa.

No

Mpa

Dari uraian ini


dapat disimpulkan
bahwa beton akan
lebih ekonomis bila
rasio f!,/ f! atau s

bernilai,

serendah-

Nilai standar deviari, s, nurupakan


ukuran efektivitac QC dan eltonomi
produki heton

rendahnya. Marilah selanjutnya kita telaah apa itu s dan


gapa s bisa membesar.

(2.2)

f'", : f'.+Z.Zgxs-8.5

Tabel. 2.1: Nilai

Analisa awal menunjukkan bahwa tiap kenaikan /j, sebesar


akan butuh tambahan PC sebanyak + 6.09 kgl*3 beton.

/j,

untuk nilai s > B.E Mpa


Standard Deviasi s (Mpa) fl,

3.5

29.65

1.19

4.5

32

t.2B

33.15

1.33

37.81

1.51

Apakah

Arti s itu?

Standard deviasi (s)


adalah suatu istilah statistik yang dil(etelitinn Qf, tertermin prda dhlplin
pakai sebagai ukuran
aplikasi 4 spmifilnsi campuran beton
tingkat variasi suatu
sssuai derian campuran
hasil produk tertentu
(dalam hal ini produksi beton). variasi yang dinilai diwakili oleh
kuat tekan silinder 150x300 mm.

Menurut SNI 2847 Pasal 7.3.1, bila kontraktor atau fasilitas


produksi (perusahaan ready mix) memiliki catatan minimal 30
hasil uji secara berturutan, standard deviasi, s boleh dihitung
dengan formula berikut ini:

Tabel 2.1 menunjukkan makin besar nilai s, maka r.trkin besar


/ir. Makin besar fl, berarti makin mahal p.r r,;| beton.

(2.4)

tuntutan

38
39

2.4. BULLETIN LB3-ITS NO.3 NOP

2OO8

2.4. BULLETIN LBII II S NO.3 NOP

dimana:
i

fri:

nilai uji kuat tekan individual (sepasang silinder)

J,-

;_

rata-rata n hasil uji

n:

jumlah (> 30) uji kekuatan berturutan

2OO8

beton dalam menjaga aplikasi 4 (empat) spesifikasi unsur campuran beton yang telah ditentukan oleh design campuran sbb:

o Ketepatan perbandingan berat campuran beton yaitu


PC:AH:AK

o Kedisiplinan

dalam pemakaian jumlah air campuran (faktor

alc)
Rumus (2.4) di atas jelas menunjukkan bahwa bila variasi r;
besar (beda satu dengan yang lain besar) maka akan diperoleh
nilai s yang tinggi pula.

Notes On ACI 318 - 99 Chapter 4 memberikan arti nilai s


terkait dengan indikasi ketelitian QC dalam produksi beton sebagai berikut:
Tabel. 2.2: Standar deviasi dikaitkan dengan mutu pekerjaan
beton

Standard deviasi s

(MPa) Indikator eC

2.7 2.8

Istimewa

2.8 3.5

Baik

3.5-4.3

Sedang

>

4.3

Jelek

Tabel 2.2 inimengidentifikasikan fasilitas produksi boton yang


> 4.3 harus memperbaiki ()C produksi
betonnya, karena QC yang jelek.

punya "track record" s

Ketelitian QC dinilai dari konsistensi tim pel.ks^rr., lrrotruksi


40

o Pemakaian AH dan AK terus menerus sesuai spesifikasi


(gradasi, berat volume dan kadar butir lembut)
o Air campuran selalu memperhitungkan kelembaban AH dan
AK
Jadi bila diinginkan menurunkan nilai s dan kemudian /j", maka
empat faktor QC di atas harus dilaksanakan. Bersamaan dengan
hal di atas, rajin-rajinlah pula membuat catatan hasil uji silinder beton untuk mengukur kemajuan nilai standard deviasi, yang
nantinya mendukung harga beton makin ekonomis.

Data Deviasi Standard dari Kontraktor

Tahukah

Anda,

bahwa sebagian besar kontraktor pada


waktu membuat mix
design tidak mencantumkan harga s dari

Pelalsanaan produloi farry tak punya


etandar deviari. $nuai Tabel 2,X,
maka fl., akan terkena tambahan
2.5 * 5.S MPa

pengalaman rnerektr.
Hal ini akan rncrrgnkitratkan berlakunya peraturan SNI 2847
Tabel 5 yang rncrrcl,ir.Jrkarr harga fl, bilamana tidak tersedia data
s sebagai berikrrt,:
41

2.4. BULLETIN LB3.ITS NO.3 NOP

2.5. BULLETIN I I]3 IIS NO.4 DES 2OO8

2OO8

Tabel. 2.3: Nilai ,fJ" bila tidak tersedia data

ft

<27

ft
f,.+7

21-35 f'" +

A.S

>35 f,"+to
Tentu,ya nilai f!, tidak perlu setinggi di Tabel 2.3, hal ini
bisa dicapai bila tersedia nilai s < 4.8, bukan?
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada sub bab berikutnya.

42

2.5 Bulletin LB3-ITS no.4 Des 2OO8


Topik: Fokus Usaha Produksi Beton yang Ekonomis
Menyambung pembahasan mengenai beton yang ekonomis, pada
ini di perlihatkan fungsi dari Pengawas dan pengawasan
yang akan mempengarui terhadap ekonomis tidaknya produksi
beton.
sub bab

Selain itu dibahas juga "keterangan penting" (doket) yang


harus dicantumkan oleh produsen beton sebagai wujud komitmen
untuk menjaga mutu produksi betonnya.

Dalam sub bab sebelumnya sedikitnya terdapat 4 kesirnpuIan penting yang berpengaruh pada usaha produksi beton yang
ekonomis yaitu:
1.

Probability mencapai mutu beton yang direncanakan (fl)


dilakukan dengan rencana campuran beton yang menghasilkan kuat tekan rata-rata fl, > f'" (lihat rumus (1) dan
(2) Bulletin no 3. Nop 2008).

2.

Makin besar nilai standard deviasi s akibat ketelitian QC


yang rendah akan membawa tuntutan nilai ft, yang makin
besar (lihat Tabel 2.1 Bulletin no 3. Nop 2008).

3.

Diperkirakan bahwa tiap kenaikan fl, sebesar 1 MPa akan


butuh tambahan PC sebanyak * 6.09 kg per rns beton.

4.

Reduksi nilai s hanya bisa dicapai melalui disipli,n pada


proses pro<iuksi untuk secara konsisten pakai rasio campu*
ran baharr, faktor a/c; spesifikasi AH dan AK sesuai hasil
mix desigrr.

4:l

2.5. BULLETIN LB3-ITS NO.4 DES

2OO8

2.5. BULLEI tN t uu

Selanjutnya, dibawah ini akan disajikan pedoman atau aturan


normatif yang berkaitan dengan pencapaian butir 4 diatas, yaitu
pada sNI 2847 Pasal5.1.3; sNI 03-4433-199T dan ASTM c685
(yurrg disyaratkan oleh SNI 2847 pasal 7.g)

I Si

NO.4 DES 2o0B

kan pedornan-pedoman "Quality Assurance,, beton yang dicatat


dibawah ini.

Pedoman Pembuatan Beton Bermutu


Penanggung Jawab Mutu Beton

Tahukah

Tercapainya mutu beton yang direncanakan adalah salah satu


pekerjaan penting dalam semua proyek yang menggunakan beton
bertulang sebagai rangka strukturnya. Karena itu ACI31g mulai
tahun 1999, dalam chapter 3.1.3 telah menetapkan pergeseran
tanggung jawab pemeliharaan catatan uji material konstruksi beton dari "Perencana atau Arsitek,, ke ,,pengawas,,.

Prrnrtrahan ini
rlibrtlt kzrrerra kenyata,arurya Perenr:ana
rla.rr Arsitek biasanya

tidak

mengawasi

mrrtu beton,

gkan

sedan*

"Pengawas"

SNI X8{7 Fasal S"I.l jelae


menetapkan prnansgung jaurtab
pencapaian mutu bttsn adaleh
TEN6AWA$ pnoffifi

secara khusus memang ditugaskan

untuk tujuan

itu.

Chapter
pada
Pengawas selain berhak merintahkan diadakan pengujian setiap
bahan yang digurrakan di proyek juga untuk ,r,"rryiirpun semua
catatan pengujian bahan dan pengujian beton clan harus dapat
menunjukkan untuk pemeriksaan selama proyek berlangsung dan
pada masa 2 tahun setelah selesainya pembangunan.

itu, yang dimuat di SNI 2842 pasal 5.1.3, mewajibkan

Nah, dengan adanya kejelasan penanggung jawab ini, pen_


gawas diharapkan benar-benar dapat fokus pada mengetrap-

44

Anda,
Laboratorium Beton dan Bahan Bangunan ITS
rata-rata tiap tahun

bahwa

menerima2s/d3kali

Kuasai QC Produki beton dengan


menguasni SNI CI3-4433-1997 dan
ASTM C 685

tugas melakukan pengujian kuat tekan beton inti (core dri,ll). Ini
disebabkan karena di proyek itu telah terjadi variasi kuat tekan
beton yang lebih rendah dari (/l - B.b) Mpa. Alangkah baiknya
kalau ini dapat dihindarkan, bukan?

Agar beton mempunyai kualitas yang seragam dan


memuaskan, maka contoh-contoh uji yang diambil dari porsi
adukan yang berbeda itu seyogyanya masing-masing harus mempunyai berat satuan, slump, dan memiliki spesifikasi agregat yang
sama. Untuk mencapai irri SNI 2847 Pasal7.8 menentukan untuk
memakai SNI 03-4433-1997 atau ASTM C685 sebagai pedoman
kerja dalam pengadaan beton. Keduanya dimaksudkan sebagai
acuan dan pegangan dalam proses produksi, pengav/asan dan
penyerahan beton siap pakai (beton segar)

Syarat Penerimaan Beton Segar


Dari uraian di

ata,s rliketahui, ada banyak faktor yang berpengaruh untuk rnt:nr:npai rrurtrr yang seragam dan memuaskan. Bul-

4lt

2.5. BULLETIN LB3.ITS NO.4 DES

2.5. BULLEITN ilt:t il1;N()4 t)FS 2008

2OO8

letin ini tidak membahas secara mendetail faktor-faktor


but, namun akan merangkum keterangan penting yang
dicantumkan dalam
/-\

AsrM

harus

U/

"delivery ticket"

(istilah

terse-

C685)

atau *doket"
lah sNr 4433)

(isti-

Fefihara motivasi e( yang


mtrlruaskan dengan celiu merilrima
"ddet" p"L ti"p derivery
beton segar

vang
disertakan oleh pro-

dusen beton untuk


setiap batch adukan beton yang diserahkan pada konsumen.
Keterangan itu berisi "reminder" komitmen yang harus selalu
diingat dan dilaksanakan oleh produsen beton yaitu:
f

. identifikasi proyek/customer

2. identifikasi produsen dan no "delivery ticket,,


3. tanggal, waktu mulai mencampur beton

Delivery ti<rkct irri harus diserahkan dan dikontrol untuk persetujuan Pengawas, sebelum beton dituang.

Keterangan di
atas akan bermanfaat bila dari awal Fek*rana produsem beton senantiasa

Pengawas telah
mempunyai data ren-

$Bcara kontinu melaksanakan


pedoman pngavsasan mutu

cana butir 5 s/d 10,


kriteria yang seyogyanya dicantumkan pada dokumen pemesanan
beton.

Pedoman Pengawas Mutu Beton


Inspeksi oleh Pengawas lapangan (lihat ASTM C 685) untuk menjamin pencapaian uniformitas kuat tekan beton disediakan 3 pedoman yaitu untuk:

(awas batas waktu

setting)

1. Pemeriksaan uji slump, dan berat AH dan AK per m3 beton


saat beton masih segar

4. jumlah rn3 beton

5. mutu dan jenis beton

2. Sampling & pengujian kuat tekan beton

6. slump disyaratkan

3. Toleransi penyimpangan yang masih cliijinkan.

7. ukuran maksimum AK
8. jenis dan nama admixture bila pakai.

Kiranya sebagai pengalvas perlu untuk memahami isi 3 pedornan ASTM C 685 ini.

9. Berat dari masing-masing ingredien beton per m3 beton


(perbandingan campuran beton) dan asal usul dan gradasi

AH dan AK
10. jumlah minimum PC per rn3 beton dan jenisnya
46

47

2.5. BULLETIN LB3.ITS NO.4 DES

2OOB

Evaluasi Kompetensi Anda


1. Beri penjelasan mengapa u.ji kuat tekan beton harus diper_
oleh dari kuat rata-rata dari satu pasang benda uji silinder!

2. Tiap benda uji silinder selain diberi identitas tanggal pem_


buatan, harus mencantumkan pula 3 (tiga) identitas lain.
Sebutkan dan jelaskan kegunaannya!

3. Apabila dalam empat hari total mengecor 220 m3, apakah


cukup dibuat dua pasang silinder? Beri alasaan jawaban
Anda!

4. Apakah suatu proyek sampai selesai wajib membuat

30

pasang silinder? Beri opini jawaban Anda!

Bab.

Pemilihan Kekuatan
Beton Secara Statistik

5. Apa syaratnya agar standar deviasi (s) Anda dapat dipakai


'untuk
menghitung J'", provek lain anda?
6. Sebut 4 faktor utama QC produksi beton yang dapat menghasilkan nilai s rendah!
7.

8.

Sesuai peraturan baru, apa kerugian Anda bila

tidak memiliki standar deviasi untuk perencanaan disain campuran be_


ton Anda?
Anda kenal "delivery ticket,, atau ,,doket,,, bukan? pilih 3
informasi dari 10 item di doket yang Anda anggap penting
untuk konstruksi beton yang sedang anda laksanakan. Beri
alasan pilihan Anda itu!

9. Adakah tersedia pedoman inspeksi untuk pengawas eC


ton di suatu proyek? Sudahkan Anda membacanya?

48

KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN: "Paham latar

belakang nilai karakteristik beton

3.1

fl"

Distribusi Kuat Tekan Beton dan Maknanya

Data uji kuat tekan beton dari suatu proyek besar dengan banyak

uji menunjukkan bahwa distribusi kuat tekan benda uji beton


(untuk satu mutu beton) itu berbentuk yang di ilmu statistik
disebut lengkung distribusi normal.

be-

Lengkung distrilxrsi ini rnempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


1. Pusat lengkrrrrgan lrt-,rzxla di kuat tekan rata-rataft",

49

3.1. DISTRIBUSI

KUAT TEKAN BETON DAN MAKNANYA

3.1. DISIFlIBT'I;I Kt.lAI

Il

KAN BErON DAN MAKNANYA

2. Luas di [r.w,]r lengkung distribusi merupakan 100% dari seluruh hasil uji

3. Bentuk lengkungan distribusi mele-

fr

$),St

bar bila standar deviasi (s1, sz, se) makin


besar (variasi kuat
tekan besar)

Standar deviari yang memhesar


herpengaruh negatif terha&p
penapahn fl., maup*rn f"

4.

f"l for

Pada campuran beton yang menuntut kuat tekan rata-rata


dan p yang sama, maka standar deviasi yang lebih besar akan
menghasilkan kuat beton yang lebih kecil (/j, < fl, < /j1) (lih
Gbr. 3.1).

P"r

Gbr. 3.1: Pengaruh s pada /j

/,\i'rst

5. Sebaliknya, pada beton yang menuntut syarat kuat tekan dan


p yang sama, maka standar deviasi yang lebih besar akan mem_
butuhkan kuat tekan rata-rata (f'"*) yang lebih besar (ftc"r1 <
ftc.,z I f'c",s) (lih Gbr. 8.2)
dimana:
s1 ,

standar deviasi yang berbeda-beda nilainya, Mpa

s2, s3

faktor probabilitas terkait

Yo

kuat tekan yang lebih

rendah

kuat tekan rata-rata benda uji, MPa

'",

f'"r, l'.2,

fi,

kuat tekan beton karakteristik yang berbeda nilainya,


MPa

50
I-r

3.2. PEMILIHAN KEKUATAN BETON UNTUK DESAIN CAMPURAN

3.2

3.2, PEMILIHAN Kt

Pemilihan Kekuatan Beton untuk Desain Campuran

Adalah

fl
p

kewajiban

'.,

:
:
:

perencana struktur

untuk menetapkan
kuat tekan beton

f*iakin benar nilai standar deviasi


nnakln beffir syarat f", untuk podoman
dirain campuran heton

yang dipakai untuk


perencanaan kekriatan strukturnya. Kirat tekan itu di tata cara perhiturrgan
struktur beton disebut kuat tekan beton karakteristik ata:u speci,fied strengfh (selanjutnya disingkat

fl)

Melihat variabilitas atau distribusi kuat tekan beton (/f,,)


berbentuk lengkung distribusi normal, maka perencana struktur
beton bertulang tidak memakai kuat tekan rata-rata (disingkat
fl.) sebagai kuat tekan beton karakteristik, karena pilihan ini
akan berarti di dalam struktur yang direncanakan terdapat 50%
krrat tekan beton (f'.") yurg bernilai kurang dari nilai karakteristiknya. Tentu ini membahayakan kestabilan struktur.
Jadi vang ideal adalah kuat tekan karakteristik (fl) itu harus
terletak cukup signifikan disebelah kiri dari /j,, dengan probabilitas (P7) kuat tekan yang lebih kecil dari fl cukup rendah. Nilai
ftcr it:u dapat dinyatakan dalam persamaan berikut ini:

KTJAIAN IJ[: tON UNTUK DESAIN CAMPURAN

kuat tekarr rata-rata yang diperlukan, MPa


kuat tekan beton karakteristik, MPa

faktor probabilitas berdasarkan persentasi


yang lebih kecil dari /j

Ilustrasi
makain kurva

uji

tekan

pe-

dis-

tribusi normal untuk


memperoleh ft, yang
disyaratkan dapat di
lihat di Gbr.3.3 s/d
Gbr.3.5

Krlterla pemilihan f* di SNI 2s47 ini


sangat berheda dengan kriteria yang
dipakai PSI 1971. SNI 2847
menghasilkan fl., yang lehih kecil

Dengan pengertian di atas ACI 214-3R-BB menentukan 3 kriteria untuk menentukan nilai fl, sebagai ukuran kuat tekan ratarata beton untuk disain campuran beton yaitu:

1. P[f '." < f l] < 10% menghasilkan f l, >

2. P[f'"" <
2.326s

f! -t t.282s

(f'.* 3.5)] < 1% menghasilkan fl, > ff'. -

3. P[rata-rata flu dari 3 uji berturut < f'.]

3.5) +

1% menghasilkan

f'.,> f'.+t.z+zs

f'.,: fl*p,rs

(3.1)

Secara grafis

kriteria di atas digambarkan pada Gbr.3.3 s/d

Gbr.3.5
dimana:

Melihat krito'ria ll rnr:rrghasilkan nilai fl, yung lebih tinggi dari


kriteria 1, maka tat,a <:ara, lrrrrhitrrrrgan konstruksi beton ini hanya
52

I-rll

3.2. PEMILIHAN KEKUATAN BETON UNTUK DESAIN CAMPURAN


3.3. EVALUASI

DN

N 1'I, NERIMAAN BETON

2.3'26

stJi-134

1.282 s

iY17'"",slrl5l

Gbr. 3.5: Kriteria

memakai kriteria 2 dan 3, yaitu:


2.326 s

f,., : f,c*l.Z4s
fl, : f'"+Z.ggs-Z.S

(3.2)
(3.3)

Pemilihan fb diambil dari nilai yang lebih besar dari


Pers.(3.2) dan (3.3). Pers.(3.3) hanya dipakai bila standar

deviasis>3.5MPa
(r"

3.5)

f*.

Gbr. 3.4: Kriteria 2

3.3

Evaluasi dan Penerimaan Beton

Setelah kuat tekan rata-rata (ft,) ditetapkan, tahap berikutnya


adalah memilih proJrorsi ('arnprrran yang akan menghasilkan kuat
rata-rata paling

54
j-rlr

3,3. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

sedikit

3.3. EVALUASI DAN I'I NLHIMAAN BETON

l-rahwa benda

sebesar

kuat rata-rata yang


Hila ada benda uii tldak nrelnenuhi
clitetapkan. Hal irii
sfarat maka btton yary tidak
akan diperiksa dari
mernenuhi $yarat lranya pada hagian
benda uji silinder struktur yang diwakili oleh henda uii
yang dibuat selama
itu, hukan semuannya
pembuatan beton.
Tata cara evaluasi dan penerimaan beton diperoleh dari ACI
214-3R-88, yaitu mengikuti kriteria 2 dan 3 tersebut di Bab 3.2.

uji silinder yang tidak memenuhi syarat itu

jelas terlihat identitas bagian dari struktur yang mutu betonnya


diwakili oleh silinder tersebut.

Kuat tekan suatu mutu beton (fl) dapat diterima jika dua syarat
berikut ini dipenuhi:
dari 3 uji berturut < f'.) < 1% yang berarti:
setiap nilai rata-rata dari 3 uji kuat tekan beruntun harus (dengan
probabilitas uji tekan rendah 1 banding 100) bernilai > f'".

1. P[rata-rata

ft,

2. Plf'. < (fl - 3.5) S

1%l yang berarti: tidak ada satu nilai


uji tekan mempunyai nilai < (f'. - 3.5) (dengan probabilitas uji
tekan rendah l banding 100)

ACI

214R-3R-88
nrenetapkan bila satu
nilai uji tekan yang
tidak memenrrhi
salah satu syarat

tersebut

di atas be-

Tiap henda uji silinder harus diheri


tanda identitas dari hagian sfuktur
yang diwakili dan u,aktu pcmbuftten
silindernya

rarti bagian beton


yang diwakili kualitasnya oleh benda uji itu dinyatakan kritis
atau tidak memenuhi syarat kekuatan beton yang direncanakan
(fl) dan harus dikenai langkah-langkah pengarnanan seperlunya.
Perlu dicatat, bahwa satu nilai uji tekan adalah nilai ratarata dari dua hasil uji contoh silinder'. Dan hams pula diingat
56

harus

s7

3.3. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Evaluasi Kompetensi Anda


1. Mengapa kuat tekan beton rata-rata, fl,, tidak boleh dipakai sebagai kuat tekan karakteristik (fl)?

2. Kuat tekan rata-rata beton, f '"r, yang ditetapkan sesuai PBI


1971, selalu akan bernilai lebih besar dari f'", yurg ditentukan oleh SNI 2847. Mengapa? Dan apa kelemahannya

Bab. 4

dalam praktek?

3. Dalam menetapkan nilai kuat tekan karakteristik beton (fl),


ACI 274 menetapkan 3 kriteriaT namun hanya 2 yang dipakai. Sebut 2 kriteria itu!
4. Ada 2 rumus untuk menentukan flr, mengapa diperlukan

rumus itu?

5. Bila hasil uji tekan silinder beton tidak memenuhi syarat,


apa artinya ini sesuai ACI2L4?
6. Benda uji silinder beton harus menunjukkan sedikitnya
(ernpat) identitas, apa saja itu?

Pedoman Pemakaian
Bahan dan Kualitas
Beton

KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN: "Paham


faktor-faktor penentu kelecakan beton segar dan sumbersumber kandungan ion klorida"

4.L

Pendahuluan

Bab 4 rnerupakan catatan tambahan dari Pasal5 SNI2847, karena

itu Bab 4 baikrrya diba,ca bersamaan dengan pasal 5 itu. Sebelum


dilanjutkan berikut irri tcrcatat:

Pemutakhiran Tata Cara

58

2OO2:

l-rl )

4.2. PENGUJIAN BAHAN

4.3.

SEM,EN

1. SNI

tahun setelah penyelesaian proyek untuk digunakan bila kernudian timbul pertanyaan masalah kualitas bahan dan beton.
Penyelesaian proyek adalah tanggal saat pemilik menerima baik

2. Dikenalkan ketentuan baru antara lain berikut ini:

proyek atau ketika sertiflkat hunian diterbitkan,.digunakan tanggal yang terakhir. Persyaratan hukum lokal dapat mensyaratkan
penyimpanan yang lebih lama terhadap catatan itu.

03-2847-2002 ini rnemuat ketentuan-ketentuan mengenai bahan dan standar pengujian yang di SNI 03-284T lgg2
tidak ada danjuga berlainan dengan yang ada di PBI 1971.

(a) Benda uii memakai berrtuk silinder berdiameter 150


mm dan tinggi 300 mm
(b) Mutu beton dinyatakan dalam nilai karakteristik kuat
tekan beton silinder (/l) dengan < l% kemungkinan
adanya kuat tekan yang tidak memenuhi f'. J.b darr
atau ( 1% kemungkinan adanya kuat tekan rata-rata 3
benda uji silinder yang tidak memenuhi berturut-turut

nilai fl
(c) Satu hasil

uji

adalah hasil rata-rata dari

(satu)

pasang silinder.

(d) Standar deviasi dihitung dari

uji silinder,
bila kurang dikenai koreksi.
(e) Persetujuan mutu beton selama pelaksanaan konstruksi dilakukan secara sederhana oleh 2 kriteria
30 buah hasil

penerimaan.

4.2

Pengujian Bahan

4.3

Semen

Semen yang digunakan pada pekeriaan konstruksi harus


Fermakaian samen hartm dari tipe $P
sesuai dengan semen
yanB sama at*u scsuei rperifikari
yang dipakai pada diharur dari mrrnber tnrtentu
sain proporsi campuran. Ini secara sederhana dapat diartikan semen yang sama
tipenya atau boleh diartikan semen dari sumber yang sama.
Dalam kasus suatu proyek yang telah menentukan standar deviasinya dari hasil uji yang memakai semen dari beberapa sumber, maka yang disebut pertama akan berlaku. Sedangkan yang
terakhir berlaku bila standar deviasi uji kuat tekan beton yang
dipakai untuk menentukan target kuat tekan beton diclasarkan
pada tipe semen khusus dari satu sumber tertentu.

Laporan

lengkap
pengujian bahan dan
beton harus tersedia
untuk pemeriksaan
selama pekerjaan
berlangsung dan dis-

impan sedikitnya

4.4
Dakumen hasil pengujlan kuat {ekan
beton harus disimpan sedikitnya
dalam waktu 2(dua) tahun sstelah
proysk selesai

60

Agregat

Ukuran maksirnurn agrcga,t kasar tidak boleh melebihi;

1.

f jarak terkecil rLrrl,ara, sisi-sisi


(it

<:etakan

1{:

4.5. AtR

Z.

ketebalan pelat lantai

3. f jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan atau kawatkawat bundel tulangan atau tendon prategang atau selongsongselongsong.

Pembatasan

Int

dapat diabaikan
jika kelecakan dan
metoda pemadatan beton adalah

Untulr rneniamiil ldecahan dan


kepadatan penelnpatan bfion fegar
perftatitrun ukuran nrakrinrum AK
yang didinkan

AIR

vang <licor rliill,a.s cetakan tetap dari metal galvanized harus tak
rnengandung jumlah ion klorida yang membahayakan. Kekuatiran utama pada kandungan tinggi klorida dalam air adalah kemungkinan efek ion klorida pada tulangan atau tendon prategang
yang tertanam. Pembatasan kandungan ion klorida yang dikonstribusikan oleh unsur-unsur dalam beton termasuk dari air, agregat, semen dan bahan tambahan diberikan di Tabel3, Pasal6 SNI
2847.

sedemikian sehingga
beton dijamin dapat
dicor tanpa terjadi sarang lebah ataupun rongga.perencana waiib memutuskan apakah pembatasan ukuran maksimum agregat
tersebut boleh diabaikan.

4.5 Air
Hampir semua air
alami yang dapat
diminum dan tidak

mempunyai

rasa

atau bau yang mencolok akan memenuhi

syarat sebagai air

Perneriksaan kandungan ion klorlda


dalam beton fidak hanya hersunrher
dalam air saja tapi juga terkandung di
agrgat, semafi dan hahan tambahan

campuran pembuatan beton. Ketidak murnian air (mengandung


oli, asam, alkali, garam, bahan organik dll.) dapat mempengaruhi
ticlak hanya kuat beton dan stabilitas volume, tetapi dapat juga
mengakibatkan florescence atau korosi tulangan.

Air yang dipakai untuk struktur beton (prategang atau non


prategang) atau pada beton yang pada dasar aluminium atau
(;:t

62

4.5. AtR

Evaluasi Kompetensi Anda


1.

Sebut 3 dari 5 tata cara baru 2002 yang Anda pandang


sangat rnengubah nilai kuat tekan karakteristik beton dari

PBI
2.

1971!

Menurut opini Anda, mengapa dokumen hasil pengujian


tekan beton perlu disimpan sampai 2 tahun setelah proyek

Bab.

selesai?

, Apa yang

t).

harus Anda waspadai pada bahan air adukan


bila beton dicor di atas cetakan tetap dari alumunium atau
metal galvanized? Mengapa?

Persyaratan Keawetan
Beton
KOMPETENSI YANG DIHARAPI{AN: "Paham
keawetan beton ditentukan oleh syarat-syarat rasio mak-

simum air/semen dan kuat tekan beton /j minimum


untuk menghadapi pengaruh lingkungan"

5.1

Pendahuluan

Bab 5 ini baiknya dibaca bersamaan dengan Pasal 6 SNI 2847.


Kondisi pengaruh lingkungan khusus yang diatur oleh tata cara
ini berada di Pasal 6 yang menekankan pentingnya pengaruh
Iingkungan pacla keawctan beton. Pasal 7 mengatur mengenai kualitas) pcrrcarrrpttr:rn dan pengecoran menekankan bahwa
pemilihan prolrorsi (:il,lnl)llra,n beton dihasilkan harus memenuhi
2 syarat ini ytrit,rr:
64

(il-r

5.2. RASIO AIR.SEMEN

1. Ketahanan terhadap pengaruh lingkungan khusus yang ada


di Pasal 6 dan

2.

Sesuai dengan syarat kekuatan dari pasal 7.

Ketahanan pengamh
sulfat diatur di Pasal
6.3, sedangkan perlindungan tulangan terhadap korosi
diatur di Pasal 6.4.

Tergantung pada
syarat desain dan

lingkungan

yang

rnengandung

Disaln campuran he&on harus diawali


dangrn penstapan fiyarat-cyerat untuk
nronianriil lreawetan strukur heton
terhadap pergaruh lingkungan

pengaruh lingkungan, maka harus dipilih rasio air_semen yang


Iebih rendah yang disyaratkan oleh clesain struktural dan yang
untuk kondisi pengaruh lingkungan.

5.3.

PENGAHTJ}I I IN( iKI'N( iAN

dalam rasio air'-sclnerr yang disyaratkan pada Tabel 1 dan 2 Pasal


6 SNI 2847 iri, harus dihitung berat semen (sesuai ASTM C 150,
ASTM C 595, atau ASTM C 845), ditambah dengan berat bahan
bersifat semen seperti abu terbang dan bahan pozzolan lainnya
(sesuai ASTM C 618), kerak (sesuai ASTM C 9S9) dan silica
fume (sesuai ASTM C 1,240) bilamana digunakan.

5.3

Pengaruh Lingkungan

Pada waktu melakukan


adalah merupakan
keharusan untuk
memperhitungkan

Rasio Air-Semen

Dalam tata cara


bahasa Inggris istilah tradisional ra-

sio

"

water-cernent"

flasio ah-semen di ACI dicehut swalrr


camentitioil$ rfliliCIr, fadi *srmen"
atau ncemsntitiou$n dalann tata cara
haru ini b*rarti jurnlah hsrat somen +
hahan berslfat sefimn

telah diubah menjadi


"water cementitious
ratio". Untuk dipahami dalam kata
cementitious ini tercakup berat semen (sp) dan bahan bersifat
semen lain yang diijinkan oleh suatu tata cara. Bahan bersifat
semen ini berfungsi untuk memenuhi pembatasan ratio air-semen
bagi keawetan beton. Dengan kata lain, iumlah berat semen di
66

ampuran

beton,

Froses dirain rarnpuran heton haru*


diawali aleh ryarat perctapan syarat
keawetan struktur beton bertulang

kondisi beton yang


akan mengalami pen-

garuh

5.2

disain

lingkungan
seperti air, bahan mengandung klorida atau air laut. Disain
campuran harus mememrhi syarat rasio maksimum air-semen
dan kuat tekan /j minimum (lihat Tabel 1 dan 2 Pasal 6 SNI
2847) untuk memberikan jarninan tambahan agar tujuan umur
pakai provek terpenuhi.

5.4

Pengaruh Lingkungan

mengandung

sulfat
Ancaman keawetarr beton terhadap pengaruh sulfat dapat ter-

jadi apabila betorr terckspose oleh tanah, air laut, air tanah
yang memiliki ka,rr<lrrrrgtln tinggi sulfat. Tindakan untuk mengurangi serangiul irri

l,<'r'r

rrir,srrk pernakaian semen

$7

penahan-sulfat.

5.4. PENGARUH LINGKUNGAN MENGANDUNG

SULFAT

5.5. PERLINDt,N(iAN

Kepekaan terhadap serangan sulfat terjadi lebih tinggi pada beton


yang terekspos oleh kelembaban, seperti pada pondasi dan pelat
yang langsung terletak di atas tanah dan pada struktur-struktur
yang langsung terekespos pada air laut.

Untuk struktur
beton yang akan

iuga

r
.

Dalam memilih tipe semen tahan-sulfat, pertimbangan prin_

sipiil adalah pada kandungan tricalcium aluminat (CsA).

rendah, pemadatan yang cukup, keseragaman penutup tulangan


dan perawatan lembab yang cukup baik.

Perlindungan Terhadap Korosi

Chloride dapat berada dalam beton melalui bahan pembentuk beton seperti: air, agregat) semen dan bahan tambahan atau melalui
paparan dengan air laut atau udara yang mengandung garam di
lingkungan pantai. Batas kandungan ion chloride yang tertera
di Tabel 3 Pasal 6 SNI 2847 dimaksudkan pada chloride yang
terdapat dalam bahan pembentuk beton, bukan chloride pada
lingkungan yang ada di sekitar beton itu.

Batas ion chloride adalah tanggung jawab fasilitas produksi beton, yang harus menjamin bahwa bahan pembentuk beton (semen, air, agregat dan bahan tambahan)
yang menghasilkan beton masih dalam batas-batas kandungan ion chloride untuk berbagai paparan lingkungan.

Se_

men dengan%o c3A rendah memiliki ketahanan sulfat khusus ter-

hadap tanah dan air yang mengandung sulfat. Bila peningkatan


terhadap serangan sulfat moderat'dipandang penting, seperti
distruktur-struktur drainase dimana konsentrasi sulfat dalam air
tanah lebih tinggi dari normal tetapi bukan termasuk berat (0.10
- 0.20 persen), maka semen portland tipe II (sesuai ASTM C150
mengandung CsA maksimum 8 %) harus dipakai.

Tipe-tipe semen lain yang dihasilkan dengan kandungan C3A


rendah juga dapat dipakai pada kasus-kasus paparan lirrgkungan

sulfat moderat sampai yang berat. Ketahanan terhadap sulfat

68

KoHOSI

berta.rrrlrtr,h oleh rasio air-semen rendah, kekuatan, slump

5.5

terekspos oleh seranKeawetalr heton dicapai dengan


gan sulfat dari tanah
rnsmakai a/c rninimum dan fl"
atau air, pemakaian
maksimurn nrenghadapi:
semen tahan sulfat
harus ditentukan.
pengaruh liqg&unganl lihat Tahel 1
Tabel 2Pasal 6SNI
prngaruh sulfaft lihat Tabel
2847 mencantumkan tipe seme4 tahan sulfat yang tepat, rasio
air-semen maksim,m dan kuat beton minimum yang diperlukan
untuk berbagai kondisi pengaruh lingkungan. Tingkat pengaruh
lirrgkungan didasarkan atas banyaknya konsentrasi surfat yang
dapat larut dalam air di dalam tanah atau banyaknya konsentrasi
sulfat di dalam air.

il lilt^l)Al,

Bila uji dilakukan

untuk

menentukan
kandungan ion chloride dari masingmasing bahan pem-

bentuk beton

aLau

Ferlindungan tulangan terhadap


korosi teqgantung pada konsentrasi
malaimurn ion klorida (lihat Tabcl tI
terdapat dalam bahan pemhenhrk
beton dan yang larut dalam air

sampel-sampel dari
beton yang telah rnengeras, maka prosedur pengujian harus
sesuai ASTM C1218, sobagairnana ditentukan oleh pasal 6.4.1
SNI 2847 Chlori<lc lrarlir <lalam jumlah bervariasi dalam bahan pembentuk lrcl,orr. Baik t:hloride yang dapat larut maupun
(i1)

5.5. PERLINDUNGAN TERHADAP KOROSI

5.5. PERLINDUNGAN ILI]HADAP KOROSI

yang tidak larut dalam air ada didalamnya; narnun hanya chloride yang larut dalam air yang dapat menimbulkan korosi.

Uji bahan dapat dilakukan untuk


menentukan kandungan chloride larut
dalam air atau total kandungan kedua

Konkol lundungan ion klodda yang


larut dalam afu haiknya dilakukan
pada hahan-hahan pemhentuk beton
daripada beton yar6 sudeh rrrcngeras

chloride (yang larut


* tidak larut). Uji chloride larut dalam air butuh banyak waktu
dan sulit terkontrol, dan karena itu lebih mahal dari uji total
chloride. Evaluasi awal kandungan chloride boleh dilakukan atas
kandungan total chloride yang ada di bahan-bahan pembentuk
beton. Bila total kandungan chloride lebih kecil dari data yang
tersebut di Tabel 3, maka kanrlungan chloride yang larut dalam
air (pada beton yang telah mengera,s) tak perlu dicari.

rnerupakan chlori<le yang larttt dalam air, sisanya tidak larut.


Sesuai Pasal 6.4.1 SNI 2847, beton yang telah mengelas harus
berumur sedikitnya 28 hari untuk diuji'

Material dan konclisi yang berpotensi terkena chloride termasuk: pemakaian air laut sebagai air adukan atau pencuci agregat, karena air laut mengandung jumlah sulfat dan chloride yang
signifikarr; pemakaian agregat dari dasar laut, karena agregat
demikian sering mengandung garam; pemakaian bahan tambahan
yang Inenganclung chloridc, seperti kalsium chloride' Kondisikondisi tersebut di atas urewajibkan pemenuhan syarat nilai rasio
air-senren dan kuat beton pada Tabel 1 sNI 2847 darn persyaratan
tebal selimut pada SNI 2847 Pasal 9.7'

Bila

kandungan
total chloride melampaui batas nilai yang

diijinkan, uji kandun-

garl chloride

pada
yang
telah mengeras yang

contoh beton

Kontrol kandungan ion klorida pada


hrton ynng sudsh mongerao dilakukan
bila kandungan ion klorida dari
bahan-bahan penrbentuk beton
tnelehihi hatas Tabel S

larut dalam air perlu


dilakukan untuk perbandingan langsung batas nilai di Tabel 3.
Perlu diketahui bahwa sebagian dari chloride yang larut dalam
air dari bahan pembentuk beton akan bereaksi dengan semen
selama proses hidratasi dan menjadi tak larut, ini berarti merrgurangi kandungan ion chloride larut dalam air yang merupakan
penyebab korosi. Dari total kandungan chloride yang berada
dalam beton yang telah rnengeras, hanya ada kira-kira 50 - 85%
70
71

5.5. PERLINDUNGAN TERHADAP KOROSI

Evaluasi Kompetensi Anda


1. Walau dalam peraturan baru
2002, tetap memakai istilah
rasio air-semen, namun SNI 2002
ini mengartikan itu sama
dengan istilah ,'ater cementitious
ratio,, yang dipakai oleh
ACI. Mengapa ACI memakai kata ,,cementitious,,
itu?
2. Kalau konstruksi kita harus tahan
air laut, apakah kita
boleh memakai beton dengan rasio
air_semen : 0.b dan
mutu beton fl : 2S Mpa? Berikan
nilai_nilai y.rrg
vv )
r --o t"ru4
menurut tatacara yang berlaku!

3. Untuk struktur.saluran drainase, biasanya


PC harus menjadi pertimbangan demi pemakaian tipe
keawetan struk_
turnya. Berikan pendapat AnJa!
Selain tip" pa, fu,f.tor_
faktor lain aparagi yang harus diwujudkan

Bab.

Kualitas dan Pemilihan


Campuran

dalam pcrak_

sanaan?

4. Faktor keawetan beton terhadap


pengaruh lingkungan
diatur dalam bentuk pembatasa.,
rusio af c danmutu beton
di Tabel 2 pasal 6 SNI 2847. pertirJrrrgu,
terhadap korosi
tulangan diatur oleh pembatasan
kadar ion chloride yarrg
larut dalam air. Dalam praktek, ion
chlo.ide itu berada
^ Bagaimana
d_ibahan apa saja?
cara mengontrol keberadaan

chloride jtu?

KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN: ((Tlampil


menghitung s: f'.r,, rnenentukan jumlah benda uji dan
mengevaluasi mutu produksi tretonnya sesuai tata cara

baru"

6.1

Pendahuluan

Bab 6 ini merupakan catatan dari pedoman yang diatur oleh sebagian SNI 2847 Pasal T. Dalam Tata Cara 2002 itu diisi ketentuan
kualitas, pencampuran dan pengecoran yang belum diatur oleh
tata cara 1992. Tata Cara 2002 ini menganut tata cara yang
berlaku di Arrrcrikn Sr:rikat, berbeda dengan tata cara yang dianut oleh PBI 1971 yarrg krbih berorientasi ke Eropa, karena itu
terjadi ketentrra,rr-kcl,crrl,ruln vang berbeda pula.
72

a,)
I 'l

6.2. UMUM

6.3. PEMILIHAN PROPORSI CAMPURAN BETON

Persyaratan proporsi campuran beton didasarkan pada filosofi


bahwa beton keras harus memberikan baik keawetan (sNI 2g47
Pasal 6) rnaupun kekuatan yang cukup. Kriteria penerimaan beto. didasarkan pada filosofi bahwa tata cara berrnaksud untuk
melindungi keamanan publik. sNI 2g4z pasal 7 ini mengatur kriteria nilai umum untuk pencampuran dan pengecoran beton de,gan kekuatan yang cukup dan rnemberi prosedur evaluasi
kuaritas
beton pada saaLdan setelah pengecoran di tempat kerja.

Untuk pengendalian mutu beton, kiranya prinsip-prinsip


pengetahuan tersebut di atas wajib dipahami.

6.2

lJmum

Kuat tekan

beton

harus dirancang

se-

hingga menghasilkan
2 syarat kuat tekan

Mutu minimurn beton untuk


barryunan adalah f'. ) l7"E Mpa yang
diukur dari kuat teftan silinder
berumur 28 hari

rata-rata, fl, yang


ditentukan oleh SNI
2847 Pasal7.3.2 dan
juga harus mernenuhi syarat-syarat keawetan dalam sNI 2B4z
Pasal 6' Ditekankan bahwa kuat tekan rata-rata dari J pasang
uji
kuat tekan dari beton yang diprocluksi harus seraru urerampaui
nilai kuat tekan karakteristik yang disyaratkan yaitu
flyang di_
gunakan dalam disain struktur. Hal ini didasarkan pada konsep
probabilistik (lihat Bab 3) dan climaksudkan unt,k menjamin
cukup kuat tekan beton untuk struktur yang sedang dibangun.
Nilai fl minimum vang digunakarr pada bangunan sesuai tata
cara ini tidak boleh kurang dari 17.5 Mpa. Ketentrran untuk rnenilai /" harus didasarkan atas uji kuat tekan silinder yang dibuat
74

, dirawat dan diuji

sebagaimana yang disebut dan disyaratkan


pada SNI 2847 Pasal 7.6.3. Perrentuan nilai fl ini dilakukan pada
penguiian beton yang telah berumur 28 hari.

6.3

Pemilihan Proporsi Campuran Beton

Desain carrrpuran beton di proporsi untuk mencapai kekuatan


berdasa,rkan konsep probabilistik yang ditujukan untuk rnenjamin
pencapaian kekuatan beton yang cukup memudskan. Di Pasal
57.3.2 SNI 284Tdijelaskan konsep probabilistik itu dan telah dijelaskan secara mendeta,il di Bab 3 buku ini. Disarnping syarat
kekuatan, hasil proporsi material untuk campuran beton harus
mememrhi syarat-syarat sebagai berikr-rt:

1. kelecakan dan konsistensi yang menjadikan beton mudah dicor tanpa terjadi kekeroposanT segregasi dan bleeding vang
berlebihan.

2. ketahanan terhadap berbagai pengaruh lingkunan tersebut


di SNI 2847 Pasal 6.
3.

sesuai syarat

uji kekuatan SNI

2847 Pasal 7.6.

Pengendali mutu beton wajib menjaga rnutu beton yang


mememrhi 3 syarat ini.

7lt

6.4. PERANCANGAN PRO-POFISI CAMPURAN BERDASARKAN PENGALAMAN


LAPANGAN DAN/ATAU HASIL CAMPUFIAN UJI

6.4 Perancangan Proporsi

Campuran
Berdasarkan Pengalaman Lapangan
danf atau Hasil Campuran Uji

Pada tata cara ini, pemilihan campuran beton dilakukan dalarn


3(tiga) tahap.

1. Tahap Pertama adalah penentuan standar deviasi

t.

Tahap Kedua menetapkan kuat tekan rata_rata

f!,

3. Tahap Ketiga Pemilihan proporsi campuran untuk


hasilkan ft, dan 3 syarat tersebut di Butir 6.3.

meng_

6.4. PERANCANGAN I'I.IOPOI'ISI CAMPURAN BERDASARKAN PENGALAMAN


LAPANGAN DAN/ATAU }IASIL CAMPUFIAN UJI

6.4.L Deviasi Standar


Nilai deviasi standar
s merupakan ukuran
ketelitian proses proStandar devlari, s, harus ditenilukan
duksi beton dan pedrri track rccCInd prose$ produksl
nentu ekonomis camyeng $flme, dari ? 30 huah haril uii
puran beton. Nilai
yamg tsrfr(unrpul dalam 45 hari
deviasi standar dapat
dihitung bila fasilitas produksi beton memiliki catatan hasil uji
beton yang rnemenuhi ketentuan:
1. jenis material, prosedur pengendalian rrrutu dan kondisi adalah
serupa dengan di proyek dimana beton akan diproduksi.

Pemilihan proporsi ini boleh di-

2. catatan mutu hasil uji beton berasal dari mutu beton yang
7 MPa dafi ft" yang akan diproduksi

lakukan baik dengan


Hasil dirain sampuran selian krkuatan
prosedur carnpuran heton
hanm rnememuhi:
coba-coba kouvensional atau dengan 1" Mudah dicor iampa ada kropos,
catatan pen6Jalarnan uegregani dan hleeding (syarat
yang sesuai. Gam- kelecakan)

3. catatan hasil uji beriumlah sekurang-kurangnya 30 buah berurutan atau dari dua kelompok pengujian yang jumlahnya mini-

bar 1 (lihat Pasat 2. Tahan terhadap pengaruh


7, SNI 2847 tertam- li*Elungannya {awet}

rnurn juga 30 contoh pengujian seperti vang ditetapkan pada SNI


2847 Pasal 7.6.2.4, kecuali sebagaimana ditentukan pada SNI 2847
Pasal 7.3.1.2

Deviasi standar dihitung dengan formula berikut:

* 4'1+
L "-1

lI

pir) menyajikan sebuah diagram alir yang memberikan urutan

pemilihan campuran dan prosedur dokumentasi.

Pemilihan campuran harus berdasarkan pada hasil k,at uji


rata-rata yang lebih tinggi dari fl. Tingkat kelebihan ini memperhitungkan variabilitas yang dinyatakan oleh nilai standar deviasi pada penetapan tahap pertama pemilihan campuran beton
tersebut di atas.
76

(,,

dimana,
s : deviasi starrdtrr, MPa
r.; : uii ktta,t tcka,n individual seperti didefinisikan dalam
7.6.2.4

i :

rat,a-t'ata rr lrir,sil rt.li kckrttrttltt


77

ILApANGAN
1:, ?.E_EANCANGAN

Ro^p.oRSt CAM PURAN BE R DASAR KAN pE NGALAMAN

DAN/ATAU HASTL

72

cAMpunnrrt

uji --"

jumlah u.ji kuat tekan berturutan

Deviasi standar
ini digunakan untuk
menetapkan kuat
rata-rata f '", yang
disyaratkan pada
Pasal 7.3.2.1 SNI
2847.

Nilai

6.4. PERANCAN(iAN I,II()I '0I IiiI (;NMI'[-'IIAN BERDASARKAN PENGALAMAN


LAPANGAN DAN/AIAI' IIN:iII (;N MI'I.JHAN UJI

rlalarrr periorla wiLktu tidak kurang dari 45 hari kalender. Deviasi


slandar dari 2 kelompok hasil uji itu dilakukan sebagai berikut:

5:
dimana,

s ( 2"8,MFa: lstirnewa

5 : deviasi standar

(nz

(ry+nz-2)

1)

(.'z)2

? 4.9 Mfra: lelek/tturang

deviasi

standar ya,g diperoleh dari suatu fasilitas produksi beton


dapat dipakai sebagai indikator ukuran kontror kualitas produksi
dilapangan sebagai berikut: (SNI 03_6g1 b_2002)

rata-rata stat istik di-

mana dua

uji

[Mpa]

Indikasi
Kontrol Kualitas Istimewa
Kontrol Kualitas Sangat Baik

1.7)

- 4.2 (1.7 - 2.1)


4.2 - 4.9 (2.1 - 2.4)

Kontrol Kualitas Cukup

> 4.9 (>

Kontrol Kualitas Kurang

3.5

catatarr

digunakan untuk

mengestimasi deviasi
standar.

Ptnenftran e boleh terdiri dari 2


kelompok haril uii asalkan $peflfika$i
rnattrial nI dan n2 sarna, b*da mutu
r 7 MPa,

n=nl +n2?3CI,

nI dan n! dipercleh dalanr S,l5 hari


deviasi sLandar dihitung dari dua
catatan uji berturut-turut, setelah mengalami koreksi oleh faktor
modifikasi pada Tabel 4 (SNI 2847 PasalT).
SL 52

< 2.8 (<1.4)


2.8 , 3.5 (1.4 "

lndikator ketelitian psrgendaliar


kualitae produfioi be{on;

Deviasi Standar

(r, - 1)(r,)2 *

rlt, TLz: jumlah uii berturut-turut dalam setiap kelompok catatan


uji-l(yaitu sebanyak 15 sampai 29)

Kontrol Kualitas Baik

2.4)

Standard deviasi
S, 51 maUpUn S2
yang diperoleh dari

jumlah uji
catatan: angka dalam kurung berlaku untuk produksi di raboratorium. sNI 2847 Pasal 7-3.1.2 mengijinkan penentuan deviasi

standar dari 2 kelompok catatan hasil uji masing-masing


berjum-

lah 15 - 29 hasil uji secara berurutan. Hasil uji iiu adalah


dari beton yang memenuhi syarat (a) dan (b) SNI 2847 pasal
7'3'1.1 dan pengujian-pengujian

kurang
dari 30 tetapi paling
sedikit 15 uji, hanrs

Standar deviari s, q dan E yang


diperoleh dari tS #d 29 huah uii
tekan harus dikenai faktor modiflkasi
dalarn Tabel4

ditingkatkan dengarr
faktor modifikasi rlal;rrrr Tabel 4 (SNI 2847 Pasal

itu telah dilakukan berurutan


79

78

T).

6.4. PERANCANGAN PROPORS] CAMPUHAN BERDASARKAN


PLN(iALAMAN
LApANGAN oAN/ATAU HASIL cAMFunalr [ii "-"'

6.5. PENC^T InN l)AlA KUAI lt^lA

6.4.2 Kuat Rata-Rata perlu


Kuat tekan rata-rata
perlu /j, yurrg Jig.,-

nakan sebagai dasar


pemilihan campuran
beton (lihat Contoh

Ferryaratam nrutu beton (f,") ini lebih


rilgan dari tata cara p$l I97I (o,b*).
Akibatnya diperoleh kuat tekan ralirata (f*) lebih kecil/ekoncmis

6.2) harus diambil sebagai rrilai terbesar


dari Pers.(6.1) atau Pers.(6.2) dengan nilai deviasi standard

s tersebut di atas:

atau

f,., : fl+t.Sl"

(6.1)

: f,.+Z.lZs-

(6.2)

atau

f'",_

. {sal usul Pers.(6.1)

hal Bab 3). yaitu:

S.S

Bila fasilitas produksi beton tidak

memiliki catatan
hasll uji lapaugarr
sebagaimana diten-

Produsen heton yang tidak nnerfiiliki


ca1;tam standar deviari, harus pal6i
fl.. tercehut di Tahd 5

tukan oleh SNI 2847


Pasal 7.3.1.1 atau 7.3.7.2 maka kuat rata-rata perlu fl, harus
ditetapkan berdasarkan Tabel. 5 SNI 2847. Disini nampak persyaratan fl, ditetapkan lebih konservatip berdasarkan deviasi
standar > 4.2 NIPa.

6.5
/

atau

p[fl"

<

2' Hanya 1 ilari 100 hasil uji ctari rata-rata 3,ji boreh berada
di bawah f! atat p[rata-rata f!, dari 3 uji berturut <

fl]

lYo atau
N.[.fl,:, JS) se]ringga fl, >
:/

ll*

Karr:ntr syarat 2. rnemberikan fl, sedikit lebih besar dari


syarat 1. maka syarat 2. dan 3. dipakai untuk menentukan
fl. dirnana:
f'.u: ktat uji individual silinder beton
f '"ut : rata-r'ata kuat uji dari 3 buah fl,

dan pers.(6.2) diperoleh clari 3 syarat (li_

1. Hanya 70 % dari hasil uji boleh clibawah


.f l) S t0% sehingga f,", > flf
1.28s

f'", >

IIATA

fI + 2.226(s/ t/z)

Pencatatan data kuat rata-rata

Dari SNI

produksi ntutu beton sebesar fl telah


disyaratkan

atau

1.34s

2847

Pasal 7.3.2 dipahami


bahwa untrtk tnem-

f'.,

digunakan

yung

sebagai

Usul proporsi oampuran betott untuk


rnencapaifl., boleh berdasa*an atas
data uii tekan di lapangan atau hasil
uii campuran percobaan di
lahoratoriurn

dasar pemililtatt t'rrt npuran beton. Perrtililta,tt calnpuran beton ini harus menghasilkan
kuat rata-rata pirlitrg sc<likit sebesar kuat rata-rata yang juga

3. Hanya t Yo dari hasil uji boleh dibawah (fl _ 3.5) ataLr


P[f l" < Ul - Z.b)] ( 1% seshingga diperoleh
f'", > ff|- 3.5) * 2.33s
BO

81

6.5.

PENCATATAN DATA KUAT RATA.RATA

memenuhi persyaratan pengarllh lingkungan khusus dari SNI


2847 Pasal6.
Dokumen catatan uji kuat tekan itu dapat berupa cat,atarr
uii kuat tekan hasil campuran percobaan laboratorium atau

lapangarr,

nya

keduanmenggunakan

bahan dasar beton


yang sama seperti
yang dipakai untuk
menentukan deviasi

Desain campuran percobaan di


lahoratorium harus mrmenuhi 6
{enam) ketentuan Fasal 7.3.3.2

standar dipandang cukup bila sudah terseclia sedikitnya 10 contoh


uji secara berurutan yang menghasilkan kuat tekan rata-rata yang
disyaratkan, f !, dan catatan itu mencakup periode waktu tidak
kurang dari 45 hari seperti yang ditentukan di SNI 2842 pasal
7.3.3.1. Akan tetapi, bila catatn uji ini menunjukkan f,., yang
lebilr rendah atau lebih tiuggi dari f'., yurg disyaratkan, uraka
perubahan proporsi canrpulan lain mungkin perlu diadakan.

Bila tidak tersedia catatan hasil uji lapangan yang memenuhi


syarat, rnaka, proporsi campuran beton boleh diambilkan dari
hasil carnpuran percobaan yang memenuhi batasan-batasan
berikut ini: (lih. Contoh 6.3)

f|,

1.

Tentukan
2847)

2.

Kombinasi bahan, yang akan digunakan harus sama dengan


yang akan dipakai

r)-

yung disyaratkan sesuai Tabel. 5 (pasal Z SNI

Campuran percobaan yang harus dibuat menggunakan


sedikitnya tiga jenis rasio air-semen atau kandungan semen
yang berbeda-beda untuk menghasilkan kisaran (range)
ft",
vang disvaratkan.
82

6.6. PERANOAN(;nN ( :AMl',llllAN IANI'A tsEBDASARKAN DATA LAPANGAN ATAU


CAMPUBAN PLI-I(X )I IAAN

4. Calnpurarr uji

harus direncanakan untuk menghasilkan kelacakan dengan kisaran t 20 mm dari nilai maksimum yang

diijinkan.

5. Llntuk tiap rasio air-semen atau kadar semen) minimum


harus dibuat 3 buah silinderr uji dan dirawat sesuai SNI
03-2492-7991. Silinder harus diuji pada umur 28 hari.
6. Buat kurva yang memperlihatkan hubungan antara rasio
air-semen atau kadar serren terhadap kuat tekaprata-rata.

7. Dari krrva tersebut dapat diperoleh rasio air-semen rnaksimum atau kadar semen minimum untuk beton yang
digunakan pada proyek yang akan datang dengan bantuan
perpotongan f'", yang disyaratkan dengan kurva rata-rata
(lihat Contoh 6.3)

6.6

Perancangan Campuran Tanpa Berdasarkan


Data Lapangan atau Campuran Percobaan

Perancangan campltran dengan alternatif

ini dilakukan

bila
bidak ada data pen-

galanran

sebelunr-

nya (SNI 2847 Pasal


7.3.3.1) atau tak
tersedia data catrtpr rran percobaan (SNI

Bila sanra mlflli tida* tercdia data


pengalaman proporsi campurail
heton, maka proporsi f,ampuran yang
dipakai harus rnendapat persstuiuan
pirnpinan proyek dan nilai f", harut
rnengikuti Tahel S

rJ:i

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

6.7. EVALUAIJI I)N N I'I NI IIIMAAN BETON

lain boleh digunakan unmenentukan rasio air-semen. Namun pemilihan proporsi


campuran beton hanya diperkenankan bilamana disctujui oleh
pimpinan proyek (lihat SNI 2847 Pasal7.4). Karena bahan-bahan
pembentuk betonnya bisa sangat bervariatif maka alternatif perancangan ini hanya boleh dipakai untuk mutu beton f!. < 28
MPa dan kuat rata-rata yarrg disyaratkan /f" harus bersifat
konservatif, yaitu f'", > f! * 8.5 MPa. Bila, misalkan diinginkan
mutu beton f '. : 25 MPa maka kuat rata-rata untuk menentukan
propolsi camuran beton (rasio air-semen) harus didasarkan pada
flr:33.5 MPa. Dipanclang dari sudut ekonomi pernakaian material, pemakaian opsi ini sewajarnya dibatasi untuk proyek kecil
saja. Bila dituntut mutu beton yang lebih tinggi, maka syarat
perancangar] campuran berdasarkan pengalaman Iapangan atau
data campuran percobaan harus dipenuhi.

pr:rlorrran scra,trgkaian tindakan untuk

2847 Pasal 7-3.3.2) maka pengalarnan

tuk

Alternatip ini harus pula rnemenuhi svarat keawetan beton


(SNI 2847 Pasal 6) dan kriteria pengujian kuat tekan beton (SNI
2847 Pasal 7.6)

6.7.1 Evaluasi
Beton harus diuji

dengan

ketentuan
SNI 2847 Pasal 7.6.2
hingga 7.6.5. Teknisi

pengujian lapangan

harus melakukan
pengujian beton
segar

Evaluasi dan Penerimaan Beton

Dalam tata cara ini


telah disediakan sebuah dasar yang jelas
mernutuskan
apakah tiap konr-

untuk

porlen struktur beton bertulang yang

Tslmici lapangan dan laboratorium


harur nrelalmanakan tugas penguiian
heton herdasarkan SNI 03-2458-1 99I,
SNl CI3-48l0-1998 dan $Nl CI3-1e74I990

sedang dilaksanakan
dalam suatu proyek dapat diterima, begitu pula memberikan

B4

Harus diingat bahwa tiap haeil uii


tekaei sepnsang henda

uii (silind*r)

mewakili suatu hagian beton yang


dicor di proyek

di proyek, pntbuatan silinder yang diperlukan dan catatan

iderrtitas tiap silinder. Sedangkan teknisi laboratorium melakukan


semua pengujian laboratorium yang disyaratkan (lihat SNI 031974-1990 atau ASTM C39M-01)

6.7.2

6.7

diikuti bila hasil uii kuat

tekan tidak meutuaskan.

FYekuensi Pengujian

f l, yung dicapai oleh suatu campuran beton dilakukan berdasarkan prinsip probabilistik. Irri menEvaluasi kuat tekan rata-rata,

syaratkan bahwa harus ditentukan volume beton yangdapat diwakili oleh satu trasil uji tekan benda uji beton. Karena itu tersedia kriteria frekuensi rnininrum pembuatan benda uji berdasarkan
volume beton yang dicor tiap hari untuk masing-masing mutu beton yang <liprodrrksi.

Jumlah minirnrttrt rr.ii ktrat tekan per hari harus tidak kurang
dari (SNI 2847 Pasal 7.b.2.I):

1. Satu uji kuat,

(,r'kir,rr

pt't' ltari,
It5

6.7. EVALUA9I DAN PENERIMAAI.IJEIg!

BETON
6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN

pengecoran'
2. Satu uii kuat tekan per 120 rn3
atau
rn2 luas permukaan lantai
3. Satu uji kuat tekan per 500
dinding Yang di cor'

Ilustrasi kasus ini diberikan di

Contoh 6'4

kurang
tekan Per proyek harus tidak
Jurnlah minimum uji kuat
dari:

lirna uji kuat Yanb


diarnbil secara acak

dari lima

adukan
yang diPilih sebelumnya (SNI 2847 Pasal

- Ilustrasi kasus ini diberikan di

.6.2.2)

heton
frekuensi
Fenguiiil kuar telon
''
ter[antu ns fud Ii-tTl1,
"
nart
volume beton Yang dicor tiaP
minimal harus dibuat satu
namun
"p*r;rh-nda
uii te*an tiaP hari

;;;;r'i

rn3'

kurang'dari'4!
beton vang alan. 1i,'o:.,h3"a
oleh
dilakukan bila clisetujui
uji kuat tekan b";;-b"i;h tidak
Pasal7 '6'2'2)
pengawas lapangan (SNI 2847

6.7.g SYarat Penerimaan beton

beton'

dianggaP

memenuhi sYarat bila

<lua kriteria berikut


ini diPenuhi:
1. SetiaP nilai rata-

J;;;;";au
2. Tidak acla nilai

uii kuat tekan (Yaitu


uii kuat beton per
kuat tekan rata-rata lumlah rninimum
kurang dari lima
dari 2 hasil uji contoh proyek
-' -'iiharus tidak
tekan pw mutu heton
il#;;;"g diamtit ''
clari 1 (satu) adukan)
lawah
mempunyai nilai tli

Bih ada uii tekan tidak mernenuhi

*r."t*.i" bagian struktur beton


fidak memenuhi sYarat
,rin
t - ot"*"kili
hukan seluruh struktur
86

nrelebihi clari 3'5 MPa

/l

hasil uji kuat


memberikan ilustrasi
6'7
dan
6'6
Contoh
kuat" berturut-turut
au'

auput'iiili*Ji

I:'"* atas'
cara penerimaan di
tata
kriteria
berdasarkan

tekan "yang

ffi:Tl"i:,

Tingkat kuat te'kan


suatu kellas mutu

harus memPunYai
tekan yang trerurutan
kuat
uji
tiga
dari
rata
lebih besar dari fl

uji di lapangan
6.7.4 Perawatan trenda
kondisi lapangan
yang clirawat di bawah
silinder
tekan
Kuat
kecukupan
Uji
lapangan,untuk rnengecek
pengawas
oleh
yang sedang
bisa diminta
beton pada struktur
perawatan au" plilitiaungan
dilaksanakan'

Tata cara telah

menetapkan bah-wa

\U
n!r* 6a,6r.,t*n dan oedindungln

uffi*-u'*

Lrrrovv(r. b-',xl
uELUrr 5illffilX'ffiilii,i
oll"*0,,-1l,lli
:Hl:'
dungt oarl
"' '*---'Tbisa minta diperiksa

rr,tuk mensimulasi rmaka Pefigiwa yang dipelihara di


lapattgatt kuat henda uii
oraklek
'rurr* baik adalah
laPangan

dirawat set'.%',ullo:-.s*inder vang


yang dirawat
lrttkau' antara silinder

ill,.,.iilt .,tff"u,*ll]ls 't'ui


cara lembab di tttt"'tltt''itttrr'

titto,rt"tttt" '"U"uar
di lapangan an" "if":"u""*
87

fl'

Batasan 85%

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

tersebut tidak berlaku jika kuat tekan silinder beton yang dirawat
di lapangan itu menghasilkan nilai yang melebihi fl + S.S Upa,
meskipun gagal untuk mencapai 85% kuat silinder pasangannya
yang di rawat di laboratorium.

6.7.5 Penyelidikan untuk hasil uji kuat beton yang


rendah
Penyelidikan ini harus dilakukan bila benda uji silinder yang
dirawat di laboratorium menghasilkan kuat tekan kurang dari
(f'" - 3.5) MPa [ihat SNI 2847 Pasal 7.6.3.3(b)] atau bila uji
kuat tekan benda uji yang dirawat di lapangan menunjukkan kuat
tekan yang kurang dari 85% kuat tekan dari benda uji yang dirawat di laboratorium (lihat SNI 2847 Pasal 7.6.4.4). Tujuan
penyelidikan adalah untuk mendapatkan jaminan bahwa ketahanan struktur dalam memikul beban masih dalam batas-batas
yang aman.

Bila data
benda

kuat

uji beton yang

rendah seperti terseAda 2 ,macam profss pongujian kuat


but di atas diketahui
tekail beton intiyaitu dalanr kondisi
dan dari hasil perhikering dan hasah
tungan menunjukkan
fungsi ketahanan struktur menurun secara signifikan maka harus
dilakukan uji contoh beton uji yang diambil dari daerah bagian
komponen struktur yang diwakili oleh benda uii dimaksud sesuai
SNI 03-2492-1997. Pada uji contoh beton inti tersebut, harus diambil paling sedi,kit ti,ga benda uji untuk seti,aTt uji kuat tekan yang
terbukti mempunyai nilai kuat tekan kurang dari f!- 3.5 MPa.

88

6.7. EVALUASI DAN PLNEHIMAAN BETON

Ada dua nlacam


prosedrrr proses penHasil uii kuat tsilran beton inti harus
gujian kuat tekan dikorcksi bila rasio pnniang terhadap
benda uji beton inti
diameternya < I"00
(lihat SNI 2847 Pasal
7.6.5.3) yaitu pertama untuk struktur yang berada dalam kondisi
kering dalarn masa layan dan kedua yang selalu berada dalam
kondisi basah. Pada yang pertama benda uji beton inti harus
dibuat kering udara (pada temperatur 15 hingga 25"C, kelembaban relatif kurang dari 60%) selama 7 hari sebelum pengujian,
dan harus diuji dalam keadaan kering. Pada yang kedua, beton
inti harus direndam dalam air sekurang-kurangnya dalam waktu
40 jam dan diuji dalam keadaan basah.

Ketahanan komponen struktur yarrg


diwakili oleh 3 buah
Peagujian lapangan hanya dllakutr<an
beton inti itu dibila kuat tekan beton inti dan hanil
anggap cukup secara
analisa ketatranan rtruktrr tidak
struktural bila kuat
morfiuaskan
tekan rata-rata dari 3
beton inti sedikitnya bernilai 85% dari fi dan tidak ada satupun
dari beton inti itu yang kuat tekannya kurang dafi 75%fi. Tambahan pengujian beton inti yang diambil dari lokasi yang memperlihatkan hasil kuat tekan beton yang variatif diperbolehkan
(lihat SNI 2847 Pasal 7.6.5.4).
Ukuran bersih bcnda uji beton inti baiknya rnempunyai rasio
ukuran diameter terhtrdtrp tinggi 1 dibanding 2. Lakukan koreksi
dengan cara mengalikarr krrat tekan beton inti, apabila rasio perbandingan panitl,rtg t,<rrharlayr rliameter yang kurang dari 2 (lihat
ASTM C42M ), tlctrga,tr ftlkt,or koreksi di bawah ini (untuk nilai
diantaranya bisa, rlilirlirtl<irtr irrl,<rrltola'si):
81)

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Tabel. 6.1: Faktor koreksi kuat tekan beton inti

Rasio

l!"t"?s Faktor Koreksi Ku-

dzanleter

at Tekan

t.75

0.98

1.50

0.96

7.25

0.93

1.00

0.87

Bila kriteria kuat tekan beton inti tersebut di atas tidak


dipenuhi , apalagi bila hasil analisa ketahanan konrponen struktur
masih diragukan, maka pengawas lapangan dapat meminta untuk
dilakukan pengujian Iapangan sesuai dengan SNI 2847 Pasal 22
atau melakukan langkah-Iangkah lainnya vang dianggap tepat.
Umumnya pengujian lapangan cocok untuk komponen lentur,
tapi kadang-kadang diterapkan pada komponen lain.

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Mengurangi beban yang semula direncanakan pada tingkat


sesuai dengan kuat beton aktual.

Memperbesar atau mengubah dimensi komponen struktur sehingga diperoleh kapasitas semula. Ini bisa berupa
menambah komponen struktur baru.
Perlu dicatat disini, bahwa penyelidikan kuat tekan beton dan
struktur yang sudah jadi menurut ASTM 805-02 tidak bisa diperoleh dari hasil pantulan secara langsung dari alat Schmid Hammer
atau spring-driven steel hammer, tapi pantulan itu hanya akan
memberikan korelasi antara nilai pantulan pada struktur yang
bersangkutan dengan uji kuat tekan beton inti yang diambil dari
lokasi struktur yang sama.

Yang .jelas, pilguJran

Iapangan

adalah suatu usaha


khusus yang harus
dilakukan dan diinterpretasikan oleh se-

l(ekuat*n kornponen struktur yarry


kurang memadai hanya holeh dipaloi
dengan mengurangi hehan keria atau
diperku,at kapasitasnya

orang insinyur yang


menguasai teknik yang tepat. Dalam kasus pengujian lapangan
pada suatu komponen struktur yang ketahanan atau kestabilannya kurang memadai, maka alternatif yang memungkinkan dapat
dipakai adalah:

90

1)t

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Contoh 6.1 - Laporan data uji kuat

01 Juni 07

33.8
30.7
30.5
33.8
31.4
29.6
28.5
32.t
31.6
36.7
34.2
32.7
33.0

31.6

02 Juni 07

36.3

36.2

24

03 Juni 07

Tekan 28

25

06 Juni 07

Hari

26

08 Juni 07

27

10 Juni 07

28

13 Juni 07

29

15 Juni 07

30

16 Juni 07

38.8
37.8
33.6
34.8
35.7
34.3
30.3

Diketahui:
Kuat rata-rata 30 hasil uji di rabel. 6.2. Hasil perhitungan ini
akan dipakai untuk konstrukti beton yang memiliki nilai
fl:30
MPa.

Ditanyakan:
Ientukan standar deviasi dari hasil uji tersebut dengan ketentuan sNI 2847 Pasal 7.3.1 dan apakah hasil uji ini memenuhi
:
untuk
"fj 30 MPa

Tabel.6.2: Perhitungan kuat tekan dan kuat tekan rata-rata


3 silinder

Silinder

Uji No

Kuat Tekan 28 Hari


Tgl Buat Sil a Sil b rata-rata
Benda uji

Kuat
3

Silinder
berturut
1

10

April

07

11

April

07

13

April

07

16

April

07

19

April

07

23 April 07

24 April0T

27 Apri107

30 April 07

33.0
35.0
32.6
34.3
35.7
31.3
33.0
34.3
35.8
92

34 .0

.)o.,)

36.4
34.0

33.3

34.2

36.3

OO.

34.8

35.0

10

02 Mei 07

11

06 Mei 07

t2

10 Mei 07

i3

12 Mei 07

t4

15 Mei 07

15

18 Mei 07

16

19 Mei 07

L7

23 Mei 07

18

24Mei

19

27 Mei 07

20

29 Mei 07

21

20 Mei 07

22

07

35.0
29.3
25.8
34.8
35.9
33.3
33.4
36.1
34.6
39.7
37.8
35.4

39.2
38.2
34.0
35.9
34.8
33.3
31.3

34.4
30.0
28.r
34.3
33.6
3r.4
30.9
34.1
33.1
38.2
36.0
34.0
32.3

34.5
33.3
30.8
30.8
32.0
33.1

32.0
32.2
32.7
35.1
35.8
36.0
34.1
34.2

39.0
38.0
33.8
35.4
35.3
33.8
30.8

35.8
37.7
36.9
35.7
34.8
34.8
33.3

34.6

32.6

32.4

34.3

34.4

,lt

33.8

33.3

33.6

33.2

35.2

35.5

34.3

Jawaban & Diskusi:


Perhitungan kuat rata-rata dan deviasi standard dilakukan di
Tabel.6.3. Deviasi bernilai 2.48 MPa ini menunjukkan tingkat
kontrol kualitas yang lraik scka,li untuk mutu beton fl: Z\Mpa
f

)ii

6.7. EVALUASI DAN I,I NI IIIMAAN tsL]ON


6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Tabel. 6.3: Perhitunf1an deviasi standar

Uji No Kuat 28 Hari, ri - r MPa


r, MPa

(ro

*)2

19

28.2

-4.2

77.64

20

36.0

2.0

4.00

2L

34.0

0.0

0.00

22

32.3

-r.7

2.89

33.5

0.25

23

36.2

2.2

4.84

35.7

2.89

24

39 .0

5.0

25.00

33.3

0.49

25

38 .0

4.0

16.00

35.5

1.69

26

33.8

-0.2

0.04

35.3

1.69

27

35.4

L.4

1.96

32.4

2.59

28

qt ,
Jt .d

1.3

1.69

33.7

0.09

29

33.8

-0.2

0.04

33.6

0.16

30

30.8

-().a

,.\

10.24

35.5

2.25

10

34.4

0.16

11

30.0

16.00

L2

28.7

34.81

13

34.3

0.09

t4

33.6

0.16

15

31.4

12.96

16

30.9

16.81

t7

34.7

0.01

18

33.1

0.81

t78.22

1021

n:30

Kuat minimum:28.1 MPa


Kuat maksimum:38.2 MPa
Kuat tekan rata-rata : 13# : 34.03 = 34 MPa
Deviasi standar

: ,W
!

:2.4g

Tabel.6.2 menunjukkan bahwa pembuatan beton untuk konstruksi beton yang mensyaratkan mutu fl : 30 MPa telah
memenuhi syarat terscrbut di SNI 2847 Pasal7.6.3, tidak ada satu
pun hasil uji tekan (rata-ra,ta, rlari 2 silinder benda uji dan diuji
9i-r

94

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

6.7. EVALUASI IJAN l'l Nt lllMAAN tlt' ION

pada umur 28 hari) berada di bawah (fl - 3.5) MPa : 26.5 MPa
dan rata-rata dari kuat tekan 3 silinder uji berturut-turut bernilai
di atas "fj : 30 MPa.

Contoh 6.2 - Pemilihan rasio air-semen untuk suatu mutu dan keawetan beton

Terlihat di kolom 5 Tabel.6.2, hasil satu uji tekan yang


agak rendah (28.1 MPa), sebagai akibat kuat tekan silinder
b (25.8 MPa). Perbedaan mencolok antara silinder b dan
a ini mungkin disebabkan dalam massalah prosedur pembuatan benda uji dan pengujiannya. Namun hasil evaluasi
mutu beton tersebut di atas menunjukkan bahwa campuran
beton memenuhi syarat untuk konstruksi yang dilaksanakan.
Data statistik terse-

Diketahui:

but di Tabe1.6.3,
pada kesempatan

lfuat tekan rata-rata henda uji no 12


bernihi rndah (2S.1 MPa) merylrin
disehabkam oleh masalah prosedur
pembuaten dan penguiien rilinder
No.2

lain dapat digunakan


untuk memprediksi
desain campuran beton proyek lain yang
mensyaratkan rnutu
beton bernilai antara 23 - 37 MPa dan memiliki sifat-sifat bahan
dasar beton dan cara pelaksanaan yang sama. Standard deviasi
untuk proporsi campuran baru ini boleh memakai harga 2.48
MPa.

Dibutuhkan beton untuk konstruksi lantai dermaga yang


terkena pengaruh lingkungan air laut. Diperlukan beton mutu
pula akan
.fl, : 25 MPa untuk disain strukturnya. Ditentukan
maksimum
cligunakan senen Tipe 1 dan agregat biasa berttkura,
20 mm.

Ditanyakan:
Tentukan syarat-syarat desain campuran beton untuk lantai
derrnaga

Jawaban

& Diskusi:

Beton yarlS clikehendaki untuk struktur dermaga ini


harus tahan pengaruh lingkungan laut, maka Tabel'1 di
sNI 2847 Pasal 6.2 menentukan mutu beton minimurn harus
fl : 35 MPa dan faktor air-semen maksimum harus 0'4'

Mutu beton

35

MPa ini menentukan


walau desain strukturnya hanya perlu
f'.:25 MPa'

Rasio

Disain campurar heton harus


memperhitunglran PenEaruh
lingkurqan air laut, Yaitu raslo
a/c * 0.4 dan mutu f'" e 35 Mpa

air-senrert

0.4 dan mutu bctott


35 MPa harus dipakri rrrrtrrk menentukan proporsi campuran
berdasarkan carrtplrrirtt pcr<:rltlaan atau data lapangan dengan
menggunakan bahiut-l

rtt,l

ull r

a'ktttal lapangan yang sama'

Misalkan contolr (i.2 iili rrr<'rrggrurakan bahan-bahan dan kon96

97

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

6.7. EVALUASI DAN I't NI IIIMNNN

disi kualitas kontrol yang sama dengan Contoh


6.1, maka deviasi
standar sebesar 2.4g Mpa (lihat contoh
6.1) bisa dipakai dan
harga kuat tekan rata-rata
fl, yargharus dicapai oleh iercobaan
proporsi campuran harus lebih besar
dari:

35

Contoh 6.3 - Pemilihan proporsi beton dengan Campuran Percobaan


Diketahui:

f,., : fl+t.lq"

:
:

1.84(2.48)

38 MPa

Suatu struktur beton bertulang untuk bangunan kantor ditentukan spesifikasi betonnya sebagai berikut:

t f '.:

atau

fl, : f,.+Z.lSs_Z.S
: 35 + 2.33(2.48) : 37 NfPa
Dalam kasus ini

f'-:

E}ETON

22'5 MPa

o ukuran maksimum agregat 20 mm


3.b

J8 Mpa menentukan.

Untuk menyimpulkan pemenuhan kuat rata_rata proporsi

carnpuran, produsen beton cukup menyajikan


catatan irasil uji
yang kurang dari 30 contoh tetapi tidak
kurang dari 10 contoh
pengujian secara berurutan yang menunjukkan
nilai kuat tekan
rata-rata lebih besar dari 3g Mpa.

catatan: bila proyek tidak memiliki data ,,track record,,,


untuk
perhitungan standar deviasi, maka deviasi
standar ditetapkan
sebesar di rabel 5 dan proporsi campuran
beton harus memenuhi
ketentuan SNI 2842 pasal T.J.2.2.

o slump maksimum

100 mm

pasir dan agregat dari perushaan XYS, Pandaan (memenuhi


syarat gradasi ASTM C33)

o PC pakai Tipe

Anggap tidak ada data tekan uji untuk menentukan /j,, rasio
air-semen ditentukan dari hasil campuran percobaan (lihat SNI
2847 Pasal7.3.3.2)

Ditanyakan:
Tentukan rasio air-semen dan proporsi campuran beton vang
memenuhi syarat beton untuk disain konstruksi beton bertulang
yang memenuhi syarat tersebut di atas

Jawaban & Diskusi:


Menentukan

/j, dengan bantuan Tabel.5 (lihat SNI 2847 Pasat

: 2'2.5 MPa berlaku:


: ill MPa

7.3.2.2) untuk f'.


fL:22.s * 8.5
98

99

6.7. EVALUASI t)AN I't NI IIIMAAN

6,7. EVALUASI DAN PENEFIIMAAN BETON

Carnpuran percobaan memakai sumber bahan sesuai spesifikasi proyek. Dibuat tiga macam campuran beton dengan 3
macam rasio air-semen yang menghasilkan kuat rata-rata dalam
:
kisaran (range)
"fj, 31 NIPa.

Carnpuran

40

tsETON

'r

per-

cobaan harus punya


slump (100 + 20)
Bila dari data alrtual diperoleh nilai
atau (80 - 120) mm. hmbah leblh kecil dari iahel 5, maka
untuk tiap macam fl., bolah dikurangi uerd&saikan
campuran percobaan
pers(E.t) d;il (6.2)
harus dibuat tiga
buah silinder uji yang akan diuji pada umur 28 hari. Hasil proses
percobaan campuran ini dicatat di Tabel.6.4 dan selanjutnya
digambarkan dalam kurva di Gbr. 6.1.

mm

E:o
E

...+-Sil No.l
*,*.*Sil No.2

t
.I

;
i2s

---e*sil

-.llf

Tabel. 6.4: Data hasil campuran percobaan

Campuran Percobaan Adukan


Rasio a/c dipilih

1 Adukan 2 Adukan 3

0.46

0.56

0.66,

94

105

1i5

Silinder No.1

34.3

28.8

20.3

Silinder No.2

32.1

zl.l

21.4

Silinder No.3

33.6

26.9

2r.0

Rata-rata

33.3

27.8

20.9

Slump Terukur [mm]


Hasil

Uji

No",

.Re6-s313

[MPa]

Dari Gbr. 6.1 ini, sasaran f'.,

100

0.ir5

0.5

0.55

0.5

0.65

,lc
Gbr. 6.1: Kurva kuat tekan campuran

percobaan

31 MPa dinyatakan akan

101

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

tercapai pada rasio af c : 0.49, sehingga selanjutnya rasio 0.49


ini akan dipakai sebagai dasar menentukan proporsi beton.

. :Biasanya dengan rasio air-semen 0.49 untuk menghasilkan


fl 22.5 MPa, setelah dipraktekkan, akan dinilai ap1kuf, u;i
kuat tekan akan memberikan hasil rebih tinggi. seterah cukup
fl

tersedia data hasil uji aktual (lihat sNI 2B4T pasal z.3.3.1) dan
nilai tambah ternyata lebih kecil dari g.b Mpa sebagaimana ditentukan oleh rabel.s (sNI 2B4T), maka nilai
fl, bisa dikurangi

sehingga bisa diproduksi campuran betorr yang lebih ekonomis.

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Contoh 6.4 - Flekuensi Pengujian


Diketahui:
Suatu proyek untuk struktur beton bertulang berupa pur,
balok dan kolom butuh total 1400 rn3 beton yang harus dicor
selesai dalam waktu 8 hari. Beton dipesan dari perusahaan beton
siap campur (ready mir) dan diangkut oleh truk pengaduk beton
berkapasitas 7 rn3.

Ditanyakan:
Tentukan jumlah uji silinder yang harus dibuat agar
memenuhi syarat tata cara minimum frekuensi pengujian untuk uji kuat tekan. Contoh ini mengilustrasikan frekuensi uji
tekan yang lebih dari satu contoh uji per hari.
Jawaban

& Diskusi:

1. Total beton yarrg dicor

1400 m3

2. Sehari jumlah pengecoran

# :

L75 m3

> L20 rn3 (lihat

7.6.2.1)

3. Jumlah pengiriman beton

# :200 truk pengaduk

4. Jumlah truk pengaduk tiap hari yang perlu diambil contoh


beton silinder i# :1.f0 = 2 (lihat SNI 2847 Pasal 7.6.2.1)
5. Tiap hari ada dua tnrk adukan yang masing-masing harus
siap diambil betolr <rairnya untuk sedikitnya satu pasang
silinder uji.

6. Tfuk pengaduk yatrg rlirunbil contoh betonnya di proyek ini


102

I0:t

6.7, EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

berjumlah 2 x 8 : 16 pasang silinder yang dipilih secara


random dari 200 truk.

7. Jumlah total uji tekan yang disyaratkan untuk dibuat


proyek ini minimum : 16 pasang silinder (2 silinder per
1 uji tekan) : 32 silinder.

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

berjadi kuat tekan beton yang kurang memuaskan yang diidentifikasi oleh suatu silinder uii dapat dengan mudah diketahui lokasi
betonnya.

Perlu

diketahui
bahwa perhitungan
jumlah total silin- lumlah pengambilan $ilnrpcl uii te*an
der uji yang harus heton harus ditamhah bila diinginkan
dibuat pada proyek
mutu heton sehin yang berumur 28
ini adalah hanya unhari
tuk memenuhi syarat
minimum yang diperlukan untuk menentukan syarat penerimaan
mutu beton. Tambahan jumlah silinder uji mungkin diperlukan
untuk misalkan kontrol kekuatan beton pada umur 7 atau 14 hari
untuk kebutuhan pembukaan bekisting, atau untuk penegangan
Iebih awal tendon prategang, dan memelihara 1 ata:u 2 uji silinder
sebagai cadangan bila terjadi kuat tekan silinder yang rendah
pada umur 28 hari.

Catatan: Di depan
diterangkan bahwa
frekuensi pengujian
beton

ini didasarkarr

Penting seluli untuk buat catatan


tempat lokari beton dalam wtruktur
yan6 nrutunya diwakili oleh sepasang
benda uii silinder

pada kaidah statistik yang menentukan


tiap uji tekan beton
mewakili suatu jumlah beton tertentu yang dicor (contoh di atas
mewakili 720 m3). Karena itu adalah penting sekali tersedia
catatan lokasi di struktur beton bertulang yang dikerjakan yang
diwakili oleh tiap silinder uji tekan, agar dikemudian hari jika
t04

I ( )l-r

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Contoh 6.5 - Fbekuensi Pengujian

5. Hanrs acla 5 truk adukan secara acak cliambil silinder uji


(lihat SNI 2847 Pasal7.6.2.2).

Diketahui:

6. Total minimum uji silinrler untuk proyek


siliner/uji) : 10 silinder.

Untuk pengecoran suatu lantai seluas Tb\ m2 dengan tebal


20 cm, butuh beton sebanyak 750 m3. Beton di pesan pa.da
perusahaan ready r,';rix xyz dan diangkut truk pengaduk beton
berkapasitas 7 rn3.

Berapa minimum

memenuhi

syarat-

syarat

lumlah henda uji rilinder untuk


menilai mutu beton sangat terf,anfung
pada ryarat fielffen$i penguiian uii
kuat (SNl28/f7 pasal 7.62.2, namun
tak boleh kurarg dari lima

minimum
frekuensi pengujian
uji kuat. Contoh ini
mengilusLrasikan suatu proyek kecil dimana syarat jumlah minimum silinder uji
didasarkan pada kriteria frekuensi SNI 2847 Pasal T.6.2.2.

Jawaban

& Diskusi:
:750

1.

Jumlah luas lantai

2.

Jumlah beton yang di cor

.).

Jumlah 750 m3 beton dikirim oleh

4.

Jumlah truk yang diambil contoh silinder per hari diambil


yang paling besar dari nilai
ffi :7.25 atau ffi : 1.5 (lihat
Pasal 7.6.2.1), namun,

m2

106

(2

Sekali lagi dijelaskan, bahwa jumlah 5 uji atau 10 silinder itu


adalah jurnlah rninimum untuk proses penerirnaan kekuatan beton. .Iumlah ini bisa lebih untuk kebutuhan lain-lain.

Ditanyakan:
jumlah silinder yang
harus dibuat untuk

ini :

150 rn3

f :22 trtk.

I07

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Contoh 6.6

t.

Tidak ada nilai uji rata-rat dari dua silinder yang kurang dari

ffi,

- 35):

syaratan

Penerimaan Beton Sesuai Per-

Diketahui:
Tabel.6.5 menunjukkan daftar hasil uji silinder kuat beton dari
5 tmk adukan yang telah mengirirn beton ke tempat pekerjaan.
Dari tiap truk adukan telah dibuat 2 silinder dan diuji pada umur
:
28 hari. Mutu beton ditentukan
"fl 30 MPa.

Tabel. 6.5: Hasil suatu pengetesan beton


No.Uji
Silinder
Silinder
Rata-Rata
R.ata-R.ata
Silinder
a
b
Uji Tekan
Uji Tekan
:t0.8

31.9

:11..4

28.8

30.4

29.6

33.1

33.4

,,

:17.4

28.6

28.0

30.3

34.3

34.4

31.9

:J4.6

(30

3.5)

27.5 MPa.

2. Setiap nilai rata-raLa dari 3 u.ji kuat tekan yang berurutan


:
rnempunyai nilai tidak kurang dari
"fj 30 MPa.
Hasil uji tekan silinder ditunjukkan di kolom 4 Tabel.6.5. Terlihat tiap uji tekan beton sernuannya berada lebih besar dari 27.5
MPa. Memang ada satu hasil uji (28 MPa) berada di bawah nilai
f'.: 30 MPa, tapi nilai ini (28 MPa) masih berada di atas 27.5
MPa.
5

Dalarn

kokrnr

Tabel.6.5 ditun-

jukkarr nilai

rata-

rata 3 rrji lekan. Nilai 31.4 adalah hasil


clari (31.4 + 29.6 +
33.2)

13,

kernudian

Ho Uii di kolom pertama Tahl 6.5


dan Tabel 6.6 menuniukkam tanda
nomor lokasi heton dl strulttur yang
diwakili oleh benda ujirilinder

nilai 30.3 diperoleh dari (29.6 + 33.2 + 28)13 dst. Terlihat semua
rrilai di kolorn 5 ini tidak ada yang lebih kecil dari 30 MPa.

.Iadi berdasarkan 2 syartrt penerirnaan di SNI 2847 Pasal


7.6.3.3 tersebut di atas, lirna lokasi komponen struktur yang diwakili oleh benda uji no.l s/d 5 itu dapat dinyatakan merrenuhi

Ditanyakan:
Apakah hasil uii
kuat beton ini dapat Mutu beton tiap bagian struktur heton
dikategorikan seba- hertlrlang dinilai haik hila rnemenuhi
gai memenuhi syarat 2 syarat (SNl 2847 Pasal 7.6.3.3)
rrntuk diterima,.

urutu beton yang ditentukan.

Jawaban & Diskusi:


Kualitas beton dapat dinyatakan diterima apabila memenuhi
2 syarat berikut ini (lihat Pasal 7.6.3.3):
108

I01)

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

Contoh

G.Z

syaratan

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

penerimaan Beton
Sesuai per-

Diketahui:
T3bel6'6 menunjukkan daftar hasil
uji s,inder kuat beton dari
5- truk adukan yang telah mengirim
beton ke tempat pekerjaan.
Dari tiap truk adukan telah dibuat
2 silinder dan diuji pada umur
28 hari. Mutrr beton ditentukan
fl : 2Z.b Mpa.

No.Uji
Silinder

Tabel. 6.6: Hasil suatu pengetesan


beton
Silinder
Silinder
Rata-R"ata
Rata-Rata
a
b

Uji

24.7

Tekan

Uji

25.0

24.5

27.4

28.0

28.7

27.6

27.9

26.8-

32.4

33.0

29.5

21.4

22.4"*

4
5

23.4

. Rata-Rata 3
Uji tekan rrremiliki nilai lebih renclah t)ari
** Rata-rata
f!(27.b)
u.ii tekan merniliki n,ai lebih rendah
3.5

f '.(22.s

J.b

2a1

lukan tindakan

Contoh 6.6 dan 6.7 mengilurtrasikan


nninirmum 5 uii tekan betom cutrrup
dipalcai untuk menilai $yarat
pen8rirfiran rflutu hotsn

unmeningkatkan
level kekuatan. Untuk penyelidikan kekuatan material yang rendah, posisi dari
beton yang bermasalah pada struktur harus diketahui sehirrgga
insinyur dapat melakukan evaluasi terhadap pengaruh rendahnya
kekuatan pada elemen struktur.

1. Tidak sempurrranya pengambilan sample

dan

proses

pengetesan

Mpa

dari

2. Penurunan kualitas beton karena kesalahan produksi atau


adanya penambahan berlebihan air ke dalam beton di tempat kerja yang disebabkan penundaan waktu pengecoran
atau permintaan untuk membuat beton dengan slump yang
lebih tinggi dari rencana.

uji di

Tabel

6.6

Jawaban & Diskusi:


Investigasi dari has, kuat teka,
yang rendah dibahas pa.a
110

dan sekali lagi dipcr-

Berdasarkan pengalaman, ada beberapa alasan pokok bila


hasil test tekan memberikan nilai yang rendah:

Ditanyakan;
Apakah mutu beton berdasarkan
hasil
memenuhi syarat SNI 2B4Z pasal
7.6.5

tur memiliki kekuatan yang cukup;


tuk

Tekan

SNI 2847 Pasal 7.6.5. Jika rata-rata 3 uji tekan bernilai dibawah
fl, maka harus dilakukan tindakan untuk meningkatkan kekuatan dari beton. Jika hasil pengetesan nilainya lebih kecil
dari 3.5 MPa dibandingkan f! maka kemungkinan ada masalah
vang lebih serius lagi yang membutuhkan penyelidikan untuk
Irremastikan stnrk-

Hasil pengetesan beton dari 5 buah truk nilainya dicatat di Tabel 6.6. Terlihat, sebagaimana di footnote,
ada 2 kriteria p<.rrcrirua,au yang tidak dipenuhi yaitu

llr

6-

v4lq4s

-E

-D_4[|EN

ER

TMAAN

BEroN

6.7. EVALUASI I)AN I't NTFIIMAAN BETON

Pers. (0.1)
tidak
clipenuhi oleh bencl

Hasil Uii tekan beron


diContoh 6.7
l,ji rlan
(6.2) ridak
heton di lokasi
llo*t
-._'n,.*"nyimpulkan:
dipenrrlri oJeh nilaj struktur
yang bertanda no r,
Z,Jiaan
rata-rata 3 uii tekan
5 ternyata kurang kuat
yzrng pertarna (26.8
N{pa) SNI 2847 pasal
7.6.3.3.
Catatan; pr:rhatikar
parl a t es t,,,;;il:.1"il:,T*:1,
i,xl ::?liil i,
hal ini dikarenakan kuaritas
i
,.,u,,, .rriir]aer barlvak
crite,tuka, orerr
variabel pernbuatan
sample am p".,g"iJsan
benda uji.

rlo

Lji i e2:

:ll t,1.*l

Evaluasi Kompetensi Anda


1. Nilai standar

clevia,si, s, yang

tinggi dikataktr.n akan menye-

babkan harga beton tidak ekonomis. Jelaskan!

2. Standar

deviasi boleh ditentukan dari hasil ctrtatan uji tekan


kelornpok proses produksi'/ Apa syaratnya?

3. Apa kerugian kontraktor bila tidak memiliki standar dcviasi, padahal akan memproduksi betorr sendiri?

4. Apabila Anda

perusahaan kontraktor yang pesan beton dari


perusahaarr ready mix, apakah Anda perlu memiliki standar
deviasi?,Ielaskan mengapa!

5.

Nzlengapa

suatu proyek tidak perlu buat 30 trji

terkan?

Berikan alasan jawaban Anda!

6. Bila silinder beton inti harus dibuat, bagaimana Anda


rneuentnkarr lokasi pengambilarr beton inti itu?
7. Ada 2 rnacarn proses pengujian kuat beton inti yaitu dalarn
kondisi [6:ring dan basah, .jelaskan masing-lnasing dipakai
urrtuk apa!
8.

Dalam Contoh 6.1 diberikan data hasil uji dari 30 pastrng


benda uji silinder lalu ditanyakan standar deviasi dan
apakah hasil uji itu memenuhi syarat nntuk "fl : 30 MPa.
Sekarang, anggap hanya tersedia data uji no 1 s/d 20 saja,
dan hitung berapaka,h standar deviasi s; Apakah data ini
tnemenuhi syarat f i. : 3(l MPa dan hitung kuat tekan ratarata ft", untuk disairr carnpurirn beton ,fl : 30 MPa!

9. Setelah rnernbtr<:tr/rucrrrpcltria,ri

Bab 6 dan Contoh 6.1 s/d


saja (sebelum dituang)

6.6, clata, slrersifikir,si lu'1,orr sogirr rrtr)a


772
I

l:t

6.7. EVALUASI DAN PENERIMAAN BETON

yang harus diberikan oleh perusahaan beton ready mix, agar


beton yang diserahkan memenuhi syarat struktur proyek?
10.

11.

Apu perbedaan perancangan proporsi

campuran
pengalaman
berdasarkan
lapangan dan hasil uji campuran percobaan? Apa perbedaan syarat persetujuan disain
campurannya?

Menurut Anda, apakah tujuan dan aturan frekuensi pengujian beton itu dan siapakah yang tepat bertanggung jawab
mengenai ini?

Bab.

Pengendalian Mutu
Dikaitkan dengan
Prosedur Disain Proporsi
Campuran Beton
KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN: "Pelaksana lapangan dan para petugas supervisi lebih yakin arti pengendalian mutu untuk mencapai mutu yang diinginkan"

7.L

Pendahuluan

Dalam usaha memperoleh beton dengan karakteristik fisik yang


diinginkan, pertama, clilakukan seleksi kornponen bahan, lalu
langkah berikutrrya arlaltr,h melakukan disain proporsi campu-

114

1l1r

7.1. PENDAHULUAN

7.2. PROSEDUI.I I)AN I)II;KIJSI I]ISAIN CAMPURAN

ran beton. Ini adalah suatu proses untuk mendapat kombi,asi yang baik dari semerrl agregat, air clan bahan tambaharr
untuk rrencapai ka'akteristik fisik tertentu. pengalaman rne-

mrnjukkan bahwa proscs i,i diarrggap merupakan suatu hasil


"seni" ketimbang "ilmu", banyak pcrloman-pecloman disain (bila
tidak ada yang lain) diatur oleh tabel-taber yang dihasilkan oleh
hasil pengalaman/eksperimen. Banyak ahli teknik merasa ku_
ra,g "puas" karena barryak hal kurang dapat clijelaskan secara
"ilmiah". Tetapi pengalama, telah menunj,kkan bahwa prosedur
disain carnpuran beton yang dikenal saat irri cukup andal untuk
rnencapai sasaran yang diirrginkan itu yaitu keseimbangan antara
sifat kelecakan, kekuatarr, keawetan clan pertimbangan harga vang
diinginkan.
Kare,a itu sangat pe,ting sckali seorang insinyur perlu r,eurahami larrgkah-langkah disain campuran beton itu dan dengan
cukup yakin melaksanakan proses pengenclalian mutunya untuk
lrcnr:apai karaktelistik betorr yang diinginkan itu.
Daliun Bab 7 ini, akan disajikan prosedu'disain czrrnpuran betorr kuat normal yang dikerralka, oleh ACI 211.1 "stand,a,rd practi,ce for Selecti.ng Propo,rt,ions for Normal, Heatry Weight and Mo,ss
Concrete". Kemudian dilengkapi oleh diskusi dan alasan pengen_
dalian mutunya. untuk rnernbatasi pada kebutuhan dasar-dasar
pedoman penge,dalian mutu, langkah-langkah disairl camplrran
irri tidak mencakup proses percobaan di'laboratorium.

7.2

Prosedur dan Diskusi Disain Campuran

Prosedur disain carnpuran beton rnentrrut ACI 211.1 ini hanya


akan disajikan 8 langkah (dari 9 keseluruhan langkah) yang dipandang cukup beri perrjelasan mengapa perlu bagi pengendalian
mutu pada proses penyediaan, penakaran dan pencampuran kornponen bahan beton.
Sedapatnva, data kornponen beton yang akan dipakai berikut
ini htrrus sudah tersedia sebelum disain campuran dimulai antara

lain:

1. Gradasi AK, AH dan modulus kehalusannya.

2. Berat Volume AK kering


3. Berat jenis dan % absorbsi Ak dan AH

4. Syarat khusus: rasio a/c maks, ukuran rnaks AK, slump dll.
5. Kelembaban AK dan AH

ini, pemesan beton memberikan speuntuk proyeknya berikut ini:


yang
akan
dipakai
sifikasi beton
Senada clengan pdoman

o Kuat tekan rata-rata ft"r:24MPa

dengan slump

75

100

mIII
Agregat kasar memiliki ukuran nominal maksimurn 37.5 mm
dan dry rodded rnass 1600 kgl*'
Pakai PC Tipe I dctrgan bcrat jenis 3.15

o Agregat kasar (rrurtttcttttlti


116

sya,rat kualitas dan batas gradasi

lt7

7.2, PROSEDUR OAN DISKUSI DISAIN CAMPURAN


7.2.

PROSEDU R DAN

DlsKuslqlg^lt''l IAI'I|URAN

sesuai ASTM C33) memiliki berat jenis 2.68 dan absorbsi


0.5%

Langkah ke-4: Tentuka'n Faktor

Agregat halus/pasir (rneme,nuhi syarat kualitas dan batas


gradasi sesuai ASTM C33) merniliki berat ienis 2.64, absorbsi O.Uo dan rnodulus kehalusan 2.8

a/c

sesuai syarat

gan 1", : 2i1 MPa diPeroleh dari


Tabel 7.4 adalah 0'62

Tabel 7.5 menetaPkan rasio a/c untuk nrenghadapi lingkungan (keawetan)

Tabel 7.4 merekomendasi rasio a/c

Faktor air-setnen untuk beton den-

Dibawah ini dicantumkan 8 langkah/prosedur disain cmpuran


beton untuk nrenghasilkan beton dengan fl, :24 MPa disertai
dengan diskusi/ulasan pengendalian mutunya.

Tabel. 7.1: Proses Mix Disain dan Diskusinya

LANGKAH-LANGKAH MIX
Langkah

DISKUSI KENDALI MUTU


DAN MAKNANYA

DISAIN

ke-l: Tentukan Slurnp

Slump diinginkan 75 sampai 100 nrm.

Tabel 7.2 rnerekomenasikan slump


(kelecakan) maks/min sesuai tipe
konstruksi agar terjamin homogenitas dan konsistensinya.

Langkah ke-2: Tentukan ukuran


agregat kasar (tergantung kerapatan susunan tulangan)

Jarrgan ubah ukurarr AK untuk terhindari dari honeycomb dan reduksi

kekuatan beton.

Agregat kasar yang dipakai merniliki


ukuran nominal maksimurn 37.5 mm.

Langkah ke-3: Tentukan Kebu-

tuhan Air Dari Tabel 7.3 kebutuhan air untuk slump 75 100 mm

dan ukuran agregat maksimum 37.5


mm adalah l8l kg/rn,3

berarti mengubah rasio a/c akan


rnengubah tujuan dari Tabei 7 '4 dan

Ili

atau Tabel 7.5

Langkah ke-5: Tentukan Kebutuhan PC

,Jumlah kebutuhan PC sebagai Penentu mutu beton terkait erat

Langkah ke-6: Tentukan Kebu-

Jangan pakai sembarang AH! Tabel


7.6 menunjukkan volume AK bila
ukuran rnaksimum AK dan P- diketahui untuk menghasilkan kuat tekan
rata-rata vang diinginkan'

ius kehalusart sebesar 2'8 dan ukurau

AK tlan AH yang rnemenuhi gradasi


ASTM C33 adalah sYarat tnutlak
dalam ilisain camPuran ini karena
itu pengawasa,n gradasi AK dan AH

Dari informasi vang dikembangkan di


Iangkah ke-3 dan ke-4, daPat dihitung jumlah sernen yang dibutuhkan
vaitrr 181/0.62 : 292 kS I rn"

tuhan Agregat I(asar


Kuantitas agregat kasar (Yu'g
memenuhi grade ASTM C33) ditaksir dengan b:r.ntuart Tabel 7'6'
Untuk agregat halus dengan rnodunominal

tnaksimum agiregat kasar

37.5 mm, tabel itu menetaPkan

Tabel 7.3 menunjukkan volume kebutuhan air carrpuran biia nilai

.iurnlah agregat kasar sehanyak 0'71


rn'' urrtuk I tn3 betou. Berat kering
yang dibutuhkan dengalr demikian

slump dan ukuran rnaksimuur AK

a6alah 0.21

* 1600 :

1136 kg.

sudah tertentu. Tabel 7.3 ini


mengisyaratkan bahwa mengubah
salah satu komponen itu akan rnengubah kebutuhan air.

118

fl

I l1)

tidak boleh diluPakan.

7.2. PROSEDUR DAN DISKUSI DISAIN CAMPURAN

Langkah ke-7: Tentukan Kebutuhan Agregat Halus


Dengan sudah diketahuinya jumlah
kebutuhan, PC dan agregat kasar,
rnaka sisa bahan untuk mernenuhi 1
m3 beton seharusnya berupa agregat

halus dan udara/void yang terkandung. Kebutuhan agregat halus

ini dapat ditentukan


lnASSA:

dengan agregat ukuran norninal


rlaksimum 37.5 rnrn ditaksir sebesar
2410 kg (untuk percobaan batch pertarna, penyesuaian secara eksak nilai

ini tidak kritikal untuk perbedaan biasa daiam slurnp, faktor scrnen dan
berat .ienis agregat). Massa yang sudah diketahui adalah:
Air (campuran bersih)
18 kg
PC
292 kg
Agregat Kasar
1136 kg
TOTAI,
1609 kg
Jadi massa (berat) agregat halus, di-

taksir:

- 1609:

tr'rer rn3

batch beton sbb:


PC

Agregat Kasar
Agregat Halus

lainnva.

Penyesuaian Be-

Dari pengujian % kadar kelembaban


diperoleh 27o dalan agregat kasar
dan 67a dalam apJregat halus. Bila
percobaan proporsi dipakai dasar berat , maka penyesuaian berat agregat
menjadi:

Agrcgal kasar (lembab)


1136 (1.02) : 1159 kc
Agregal halus (lembah)
801(1.06) : 849 kc

bersih)

18 kg
292 kg
1136 kg
801 kg

720

Disain Proporsi campuran disini rrrenunjukkan secara teliti rnemperhitungkan % kelembaban AK dan AH
yang akarr dipakai. Dalam pelaksaraan dituntut penyesuaian bila

terjadi perubahan % kelernbaban.


% kelembaban sangat berpengaruh
padtr jumlah air campuran yarrg dipakai.

:
Korrtrol volume air oleh perubahan
kelernbaban AK dan AH harus dilakukan secara teratur agar tuiuan

Tabel 7.4 terc:rpai.

Air dari kelernbaban ini belum d\rerhitungkan pada Langkah ke-3 didepan, karena itu air yang dibutuhkan

perlu disesuaikan. .ladi, air lembab dari kontribusi agregat kasar sebanyak 2-0.5 : l.5o/r:, <laln dari agregat halus sebesar 6 - 0.7 : 5.3%
harrrs dikrtrangkan dari campuran air
hasil langkah ke-3:
181 - 1136 (0.015) - 801 (0.053) :
122 kg.

801 kg

Didapat hasil akhir berat

Air (campuran

AH dan kornponen pembentuk beton

Langkah ke-8
rat Agregat

berdasarkan

Dengan bantuan Tabel 7.7, massa,


(berat) satu m3 beton yang dibuat

2470

Tabel 7.7 mengingatkan perubahan

pada ukuran maksirlum AK akan


mengubah rencana proporsi berat

7.2, PROSEDUR DAN DISKUSI DISAIN CAMPURAN

Taksiran bcral batch unluk l n" bcton adalah:


Air(yang dituang)
L22 kg
Semen

292 ks

Agregat kasar (lembab) 1159 kg


Agregat hahm (lembab) 849 kg

TOTAL

2422 kg

l2r

Perubaharr spesifikasi

kornporren

di lapangan akan
menghasilkan efek negatif pada
pembentuk beton

mutu pasta semen.

7.2. PROSEDUR DAN DISKUSIDISAIN CAMPURAN

Beberapa Tambahan Catatan Diskusi:


1. Bab 8.2 menjelaskan kuat tekan beton tergantung pada volume dan kualitas pasta semen yang berfungsi sebagai:

o Pengisi rongga antara butir-butir AK dan juga AH


o Pengikat butir AK dan AH

2-

PROSEDUR DAN DISKUSI DISAIN CAMPURAN

2. Proporsi jumlah pemakaian air, PC dengan syarat AK dan


AH harus memenuhi gradasi tertentu adalah untuk memperoleh volume dan kualitas pasta semen sebagai pengikat
AK clan AH yang optimal mendukung pencapaian /j,

3. Pembatasan rasio a/c untuk faktor lingkungan adalah untuk memperoleh pasta semen yang padat dan permeabilitas
beton vang rendah.

2. Volurne dan kualitas pasta semen untuk rnemenuhi kuat


tekan dan keawetan beton tergantung pada:
oflJCT

o Besar ukuran butir AK dan


o Gradasi AH dan -I,1,,
o Rasio af c atau slump
o Jumlah PC

Tabel. 7.22 IJrarga rekomendasi slump untuk berbagai tipe


konstruksi
Slumr mrn

gradasin5,a

3. Disain campuran beton di langkah 1 s/d B mt-:nggunakan


Tabel 7.2 sld 7.7 sebagai pedoman yang andal bila tidak
tersedia pengalaman lain.

4. Tabel 7.2 sld Tabel 7.7 merupakan pedornarr kuantitatif


proporsi normatip campuran beton bila slump, ukuran nraksimurn AK, gradasi AK dan AH, Fn, dari AI{ dan f!, sudalr
diketahui lebih dahulu.

Maks* Min

Tipe Konstruksi

Ponclasi Telapak, Kaison dan dinding


struktur dg Beton Polos

75

sub-

75

Balok dan Dinding Beton Bertulang

100

25

Kolom

100

25

Pavement dan pelatf slab

75

25

Mass Concrete

75

25

* Harga ini bisa ditambah 25 mm bila pemadatar yang tidak menggunakan


vibrator

KESIMPULAN:
1. Penetapan nilai slump, rasio a/c, gradasi AK dan AH, ukuran maksimum AK, F^ dari AH dan kemudian proporsi
jumlah air, PC, AK dan AH adalah untuk mencapai kuat
tekan raha-rala, f!r.
t22

Be-

Dinding Pondasi dan Pondasi Telapak


ton Bertulang

t'23

:.1

N.i

tJ
F

2.5
2

276
1.5

202
1

190

18i

166

0.5

178

169

154

0.3

160

145

130

0.2

124

113

U)

ilc.a

=:

TH

0q

il

{$,I
=

-p

^1

'

l:.-

[
+

PHP

?.

uY (J a
EPEP

r-ltD-

<

5p

t\')

CJI

6-

/,1p

0q

ffr*pq358 ;

;+-46 1E= Y3 >Iafi

,EE=3r53
iE
;*;D<C,-JK

='f q

= ^6- E d E r
;6Oq 5
r ai ; O
d
:oc f 3F "q*) EE=- Bs 3a'+

fr'g.o;99
e
S **
I o'o p
-o ;

g=

r iLlc, f &if

!.

A1 Uc-g=i^J.

3^=

H ?

E
3 6 r'
;DF--n+=.:i.5

!^.!i.+A!E
-E:sldlr-tDAF-.

sFLfrxd:- I, i;
P, x-

"t E i idi='Ftr
sSI
apipT**So=
=

T t + i; i x- r F
rEE;rEi++*
+ +t E g 6'=
=
rE;ix+;i,EE
36
aB sC 3 q:;
: * Hoc."
6

=5!Xl^AE
-.- X 0,

EET S1

-{o

-A{N)

HN)N.)C^JCiA
CTTOOTOOTO

A,

2o
PO

p
a

*P.
5*

0qo
p

EU.

o.:

b,

@t,

N,i

e.i

<E

F
o
,i

r_l

r_l

oc

'tr

_il

i..J

* Jumlah air campuran


untuk beton-dengan-udara berdasarkan pada persyaratan kandungan udara untuk kondisi moderat. Jumlah air
campuran ini dipakai untuk menghitung jumlah semen untuk ..-p....
cobr-coba (triaL ;.ir) pada suhu 20 s/d 2b derajat
tersebut bernilai minimum rrntuk agregat yang berbentuk tajam. Untuk agregat berbentuk buiat biasanya membutuhkan C. Harga
air 1g kg
lebih sedikit untuk beton-tanpa-udara dan 15 kg Iebih sedikit untuk betonldeigan-udara. Penggunaan uater-red,uci,ng
C 494) akan mengurangi jumlah air campuran 57o atat lebih. Volume dari caimn admixture diikutsertakan sebatai a.dmirture (ASTM
total
volume
camputan air.
+ Nil'i
beton yang
ukuran agregat lebih besar dari 4o mm didasarkan pada tes slump yang dibuat setelal,
'ntukbesar dari 4O memiliki
partikel "l"pyang lebih
mm dihilangkan dengan cara uet screenxng
$. lumlah air campuran
ini dipakai untuk menghitung faktor semen pada waktu membuat campuran coba-coba ketika agregat dengan
ukuran maksimum 75 mm atau 150 mm dipakai. Harga tersebut
harga rata-rata untuk agregat kasar dengan model yang
baik (ueLl-shaped, codrse aggregates) dan bergradmi baik dari kasar-eruprkarr
ke halus.
$ Rekomendasi tambahan lain untuk kandungan
udara dan toleransi yang diperlukan pada kandungan udara untuk proses kontrol
dilapangan dijelaskan pada dokumen ACI seperti ACI 201, 345, 318, 301 da;302. ASiM c94 untu-k beton ."ady
mi* juga membatasi
kandungan udara di beton. Peraturan pada dokumen lain tidak selalu sama sehingga pada waktu mencampur
beton pertigrbangan
harus diberikan untuk memilih kandungan udara yang memenuhi baik kebutuhan!'Lt".i...
dan persyaratan peraturan.

rl

!
C
I

(D

xC

U)

u
o

o
a
m
o

1l

:N

-u

228

193

179

175

205

190

udara, persen

s/d

216

199

z
a
@
x

a
n
o

o
(/)

-o

i"

-.1

Perkiraan udara yg terjebak didalam beton tanpa

150

243

228

100

s/d

75

207

Beton tanpa udara (non-air-entrained concrete)

9.5.

25 sld 50

Slump,mm

Air, kgf m3 dari beton untuk harga maksimum agregat nominal:


rr*$
12.5*
l-925J /.i)
50+150+$

Tabel. 7.3: Perkiraan air campuran dan persyaratan kandungan udara dengan variasi
nilai slump dan ukuran maksimum agregat

7,2. PROSEDUR DAN DISKUSI DISAIN CAMPURAN


7.2. PROSEDUR DAN DISKUSI DISAIN CAMPURAN

Tabel. 7.6: Volume agregat kasar per unit volume beton


Volurne d,rg rodd,ed, agregat kasar* per unit
volume beton yang memiliki modulus kehalusan (fineness mod,ulus+) agregat halus
yang berbeda-beda

Tabel. 7.5: Rasio maksimum


agresif

Ijkuran Maksirnurn

a/c untuk kondisi lingkungan


,
i

Struktur basah se
cara terus *"r.rrrl
dan di ekspose pada

Tipe Struktur

Penampang

Tipis (p"-

Struktur
di
ekspose pada
kondisi air laut

tl

2.40

2.60

2.80

3.00

9.5

0.50

0.48

0.46

0.44

12.5

0.59

0.57

0.55

0.53

19

0.66

0.64

0.62

0.60

aggregat, mm

kondisi beku-cair*

atau sulfat

25

0.7r

0.69

0.67

0.65

0.45

0.40$

37.5

o.75

0.73

o.7L

0.69

50

0.78

0.76

0.74

0.72

75

0.82

0.80

0.78

0.76

150

0.87

0.85

0.83

0.81

nampang dengan selimut

beton kurang dari

25

mm)

Struktur

lainnya

0.50

0.45$

* Berdasarkan pada
ACI 201-2R
+ Beton harus diisi udara

$ Bila

tahan sulfat (Tipe II atau Tipe V sesuai ASTM C 150)


dipakai, rasio ""me,
w/c yang diijinkan bisa di tingkatkan sebesar 0.0b.

" Volume berdasarkan pada agregat dalam kondisi drg rodded sesua\
dengan penjelasan ASTM C29.
Volume ini dipilih dengan menggunakan hubungan empiris untuk
menghasilkan beton dengan tingkat kemudahan pelaksanaan (w orkabi,lity)
yang sesuai untuk konstruksi beton yang umum. Untuk kondisi yang less
workable misalnya untuk pembuatan beton pauement volume tersebut dapat
ditingkatkan 10 persen. Untuk kondisi yang lebih workable seperti untuk
beton yang penempatannya menggunakan pompa, Harga volume dapat
dikurangi sampai 10 persen.
+ Lihat ASTM Metoda C136 untuk perhitungan fineness modulus.

127

126

7.2. PROSEDUR DAN DISKUSI DISAIN CAMPURAN

7.2. PROSEDUTI I)AN I)IIJKIISI IJISAIN CAMPURAN

Evaluasi Kompetensi Anda


Tabel. 7.7: Estimasi awal dari Beton segar

IJkuran maksimum Estimasi awal beton,


mm
kg/*t*

agregat,

9.5

2280

12.5

2310

19

2345

25

2380

37.5

2410

50

2445

(t)

2490

150

2530

* Harga yang
dihitung diperuntukkan untuk beton dengan kadar

semen medium (semen 330 kg per m3) dan slump medium


dengan agregat

yang memiliki spesifik gravity 2.2. persyaratan air berdasarkan


p.dJh..ga
slump dari 75 s/d 100 mm pada Tabel 7.4. Jika diinginkan estimasi
miLSSSa
dapat diperbaiki dengan cara berikut ini: jika informLi yang dibutuhkan
tersedia: untuk setiap perbedaan 5 kg air campuran dari raber
7.4untuk
slump 75 s/d 100 mm, perbaiki masa per m3 d"rgu, g kg pada arah yang
berlawanan; untuk setiap perbedaan 20 kg dari kud.. serier,330
kg,
perbaiki massa per m3 dengan 3 kg pada arah yang sama;
untuk setiap
perbedaan 0.1 dari spesifik gravity agregat 2.7, perbaiki
massa beton
sebesar 60 kg pada arah yang sama. untuk beton-diisi-udara
kadar uclara
untuk kondisi lingkungan agresif pada Tabel 7.5 dapat dipakai. Massa
dapat
ditingkatkan sebesar 1-persen untuk setiap reduksi kadar air.

t28

1.

Setelah mempelajari langkah disain campuran ini, sebut


syarat-syarat penting yang harus dikontrol dari bahan AK
dan AH sebagai bahan pembentuk beton! Mengapa?

2.

Bila Anda telah ditunjuk sebagai petugas pengendali mutu,


sebelum mulai tugas, data penting apa saja yang perlu dimiliki dari produsen beton supaya beton yang akan diterima
sesuai dengan rencana?

3.

Dalam praktek selalu dikatakan merubah spesifikasi atau


volume salah satu komponen campuran beton akan mengganggu pencapaian f t, karerta komponen campuran lain
perlu penyesuaian pula. Tunjukkan gejala ini dengan misalkan menurut rencana beton yang akan dipakai harus mempunyai slump antara 75 mm s/d 150 mm dan batu Ak maksimum 37.5 mm. Buktikan dengan menggunakan Tabel 7.3
dan 7.6, apa yang terjadi pada rencana campuran ini bila
butir maks AK yang semula pakai 37.5 mm diubah pakai 25

mm?
4.

Setelah memahami langkah-Iangkah disain campuran,


faktor-faktor apa yang perlu dikendalikan untuk mempertahankan fungsi pasta semen dan setelah itu juga kualitas
pasta semen?

129

:8-1. PENDAHULUAN

target itu mungkin akan hanya merupakan ilusi saja bila perhatian kurang diberikan pada "pengolahan" semasa "beton saat
segar".

Beton saat segar

Bab.

merupakan

kira-kira 2 hari seteIah beton diproduksi.


Tapi dalam periode

Beton Saat Segar


KOMPETENSI YANG DIHARApKAN: ..paham akan
bebagai operasi produksi beton yang merusak kelecakan
beton segar dan berakibat pada reduksi kekuatan dan
keawetan beton,,

8.1

lhraktrristik Utama hetsn seprr


prnrntu nrutu akhir heton adalalr

kehaakan, wafttu settirry dan


terjadi
kecepatan hidratasi $Gmen
berbagai persyaratan
yang harus dikenakan pada beton segar itu, yaitu misalkan pada
saat dalam proses penakaran, pencampuran, pengantaran ke
proyek, pengecoran dalam bekisting, pemadatan dan pemeliharaan (curing). Sernua proses ini tergantung pada karakteristik beton segar) yaitu kelecakan, waktu setting dan kecepatan
hidratasi semen. Karena kontrol untuk mencapai sifat-sifat beton
yang diinginkan ini sangat penting sekali maka semua kriteria
pengolahan itu telah ditetapkan di SNI 2847 Pasal 7.7 s1d7.72.

pendek

itu

Uraian

secara

mendetail mengenai

Pendahuluan

teknik pencampuran?

Tahap

pemilihan
campuran
dan disain proporsi
lerakteristik heton saal
campuran adalah Prngendalian
ssgar meniarnin pencapaian ilrutil
langkah-langkah
beton yang diinginkan
penting untrrk memperoleh hasil produksi beton yang diinginkan.
Kemudian meralui
karakteristik kelecakannya (workability) akan diperoleh
beton
yang kuat juga tahan terhadap pengaruh lingkungan.
Narnun,
baharr

130

pengadukan.

pengakatan, pengecoran,

Gradasi agregat $s6uai standar


menghasilkan kebuft.rhan pasta samen
yang rninimum dan kual

pemadatan dsb. dari


beton segar adalah diluar lingkup buku ini. Disini dicoba disajikan langkah-langkah mendasar, misalkan pentingnya kontrol
kelecakan, segregasi, pengantaran , perubahan slump, pemadatan dsb. yang dapat merugikan beton secara permanen dan
mengurangi umur pakainya.

131

8.2. UMUM

8.2

8.3. KARAKTEHI:; I lK uL IoN SEG4B

fJmurn

Beton adalah adukan agregat halus (AH) i agregat kasar (AK)


yang dibalut dan diikat menjadi satu oleh pasta semen (carnpuran semen dan air). Agregat iralus dan kasar adalah bahan-bahan
yang keras dan padat, sehingga dengan demikian sifat fisik beton keras (kekuatan, ketahanan terhadap lingkungan, susut dsb.)
sangat.tergantung pada kualitas dan banyaknya pasta sernen.
Namun demikian
berarti

ini tidak
bahwa
itu tidak

agregat
Makin kecil rasio airlsemsn rnakin
banyak
bailr ltualitao fisik panta remer
berperan. kenyataan
menunjukkan bahwa volume pasta sernen yang diperlukan sangat

tergantung pada susunan (gradasi) butir-butir agregat. Bila


suatu penampang beton diperiksa maka terlihat bahwa tiap butir
agregat kasar (AK) dibungkus oleh bahan mortar (campuran
AH + semen * air) dan juga mengisi ruang diantara butir AK
itu. Selanjutnya terlihat butir-butir AH dibungkus lapisan pasta
semen dan rnengisi ruangan dianatara AH itu. Dalam lapisan
pasta semen sendiri terlihat pori-pori kecil. Jumlah pori-pori
yang banyak adalah suatu tanda pemakaian air lebih dari yang
diperlukan untuk proses hidrasi. Uutuk ielasnya baik clipahami
dahulu 2 fungsi pasta semen berikut ini;

1. Pasta semen adalah pengikat butir-butir AK dan AH menjadi satu. Untuk itu diperlukan susunan pasta-semen yang baik.
makin kecil rasio air/semen makin baik kualitas fisik pasta semen.
Jadi harus diusahakarr rasio air/semen serendah rendahnya.

2. Mengisi ruangan antara butir agregat. Ruangan tersebut harus


diisi oleh suatu masa yang sepadat padatnya agar diperoleh be732

!4!-l!4MIy8

ton yang kuat dan awet' kualitas dan volume pasta-semen sangat
menentukan. Volume minimum pasta semen yang padat ternyata
sangat ditentukan oleh gradasi butir-butir agregat yang akan dipukui, cara pemadatan clan kuat tekan beton yang direncanakan'

Karena demikian
Xelecalan heton rogar harus
pelan
penting
sarnpai beton selesai
agregat
gradasi
dalam menentukan
volume pasta semen
serta air yang dibutuhkan, maka pada tiap disain proporsi campuran beton, syarat gradasi agregat itu ditentukan oleh standar
yang berlaku (SNI 03-2834-1993, ASTM C33-86 ) dan wajib
dipenuhi.
Satu hal lagi yang patut dipahami adalah bahwa sesungguhnya kebutuhan murni proses hidrasi semen sampai keras hanya
membutuhkan air dengan rasio air/semen sebesar 0'15' Bila
lebih,
clalam praktek sampai dipakai faktor air/semen: 0.40 atau
maka itu hanya untuk melnenuhi syarat kelecakan (workability)
beton segar.
Kelecakan ini selama kondisi beton masih segar harus dapat
pendipertahankan mulai dari proses pencampuran sampai saat
ernpatan beton segar pada tempat akhir sehingga diperoleh beton
yang padat dan tidak keroPos'

8.3 Karakteristik Beton Segar dan Maknanya

133

8.3. KARAKTERISTIK BETON SEGAB DAN MAKNANYA

Sebelum

mulai

MAKNANYA
8.3. KARAKTERISTIK BETON SEGAR DAN

bleeding atau segreKohesiP Yaitu tidak boleh terjadi gejala

dalam pembahasan Kehcakan(workability) rnrriamifi


dan diskusi perihal konsistrmi dan kohosiil netoi ssEar
pengolahan beton unfuk mencapai kekuatan dari
saat segar ini t".
'keawetan btton
baiknya memaharnr

b.

dulu beberapa karakteristik penting beton segar yang sangat


dominan perannya dalam menciptakan rnutu beton yang di-

memenuhi sYarat.

inginkan.

1. Kelecakan (Workability)
ASTM Q 125 mendefinisikan kelecakan sebagai berikut: "That
property determining the effort required to manipulate a freshly
mixed quantity of concrete with minimurn loss of homogeneity"

(sifat yang rneneutukan usaha yang

diperlukan

untuk

memanipulasi sejumlah beton segar agar


hanya kehilangarr ho-

mogenitas
mungkin).

serendah

Perhedaan tak normal uii slump


mrupakan indikasi ada peruhahan
propor$i carnpuran/grada$i aBrEgaU
kelembahan agrElet selain rasio
air-semen !

Yang dimaksud "manipulate" (atau memanipulasi) adalah operasi pengolahan beton antara lain pada proses pengecoran, ptrgantaran dan pemadatan.

Manipulasi untuk mencapai kelecakan beton segar mencakup


sedikitnya 2 (dua) komponen utama yaitu:

a.

Konsistensi yaitu mudah dapat mengalir urengisi ruang diantara tulangan (lihat SNI 2847 Pasal7.10).

t34

gasi.

akan tidak
Dua faktor ini, bila tidak dijaga cukup baik'
rian karakteristik keawemenghasilkan kekuatan struktur beton
tekan silindernya
iun lup"rti yang diharapkan, walau uji kuat
dilakukan dengan
Pengukuran kelecakan beton segar biasanya
dipahami' bahwa
Perlu
uji kemcut - slump (slurnp-cone test) '
dan sederhan untuk
uji slump ini merupakan rnetocle yang mudah
dalam beton segar dari
mengontrol keseragaman, kandungan air
pengaclukan Yang berbeda-beda'
tidak normal hasil uji
Namun harus diingat bahwa perbedaan
tak dinantikan dari
slump bisa disebabkan oleh adanya perubahan
karrdungan kelernproporsi campuran atau gradasi agregat atau
bahaya bagi petugas
tuUun bahan. Ini akanrnempakan tanda
penyelidikan dan perbaikan
pengendali mutu untuk mengadakan
seperlunya.
Slump (Slump Loss) Kehi)angan slump dapat

2. Kehilangan
didefinisikan sebagai kehilangan konsistensi beton seger
setelah lewat suatu
waktu tertentu. Ini

Untuk terhlndar kehilangan slumP


Yenq hrmasalah, etur PenemPatan
'dan"pemadatan beton segar dalam

sesungguhnYa suatu
wafirttr 1"5 ianr sefiudah Proces
pen&rnrpuran
gejala normal, Yaitu
camdalam
bebas
air
oleh absorPsi Pada
puran beton berkurang oleh reaksi hidratasi'
permukaan beton segar dan oleh penguapan'
dapat diabaikan bila
Dalam kondisi norrnal kehila,ngan slump

1i]l-r

8.3. KARAKTERISTIK BETON SEGAR DAN MAKNANYA

terjadi setengah jam setelah semen teraduk


dengan air, tapi akan
menunjukkan kehilangan slump yang cukup besar
setelah i.S;u_
oleh pengaruh pengadukan, pengurrL.u,
dan pengecoran.

Biasanya

pen-

gukuran slump dilakukan sesudah penMemperbeiki slump dmgan


campuran dan kemuntTtMPtf,lHG
haiknya berpedoman
dian sebelum beton
pada ACi I0S-9I Chapter i.S atau
segar dituang untuk
ASTM ({S4 bila pakai adnrixturr
memeriksa apakah
kimia
konsistensi beton sudah baik, bila tidak, maka akan diadakan penyesuaian
yang tepat
untuk menjamin cukup konsistensi bagi pemadatan
dan finrstring
beton yang dicor. untuk mengatasi ini tlmUut
praktek lapangan
seperti pada beton ready mix, dibuat slump lebih
tinggi dari ,"ncana sewaktu meninggalkan pabrik pengaduk
untukl-ompensasi
kehilangan slump yang diperkirakan, atau
menambah air (masih
dalam.rasio air/semen yang diijinkan), lalu beton
."gu, jiudrrk
ulang (remixing) sebaik-baiknya sebelum dituang.

Praktek tersebut

terakhir ini dikenal dengan kata

Penambahan air pada beton sqiar


retempering ( "diatur
oleh pekerja harus dilarang karlna
ulang"). Bagi yang
akan rnenimbulkan reuiko 6leedingt
memanfaatkan caracara ini baiknya menggunakan prosedur A
dan B yang tersedia
di Chapter 2.9 ACI305R-91. Dalam hal perbaika"
ir*p al
lakukan dengan pemakaian bahan tambahan
kima dianjr.t u,
berpedoman pada ASTM C4g4 .

Bila inspeksi lapangan dan kontrol mutu lemah, sering


kali
136

8.3. KARAKTERISTIK BETON SEGAR DAN MAKNANYA

terjadi pekerja lapangan melakukan praktek yang jelek dengan


menambah ekstra air pada beton segar, apakah itu perlu atau
tidak, dengan tujuan ingin memudahkan transportasi beton segar.
Sudah tentu ini harus dihindarkan karena retempering air berlebihan atau tidak diaduk ulang (remixing) sesuai aturan akan menyebabkan pengurangan kekuatan, keawetan dan sifat-sifat lemah
lain beton.

3. Waktu Pengikatan (Setting Time) Bila semen dicampur dengan air maka akan terjadi reaksi pengikatan (setting). Dibedakan 2 macam waktu pengikatan (setting) yaitu
awal pengikatan (setting) dan akhir pengikatan (setting).
Awal

waktu

pengikatan didefinisikan sebagai awal


perrgerasar (solidifikasi) pasta beton.

Waktu prnempatan dan pemadatan


heton segar harus terr,rdi sebelurn
walrtu ewal persiketan

Begitu juga akhir


waktu pengikatan didefinisikan sebagai akhir solidifikasi beton
segar.

Baik awal waktu pengikatan dan akhir waktu pengikatan beton ditentukan oleh metoda uji yang disebut metoda perlawanan
penetrasi (penetrati,on res'istance method). Khusus untuk waktu
pengikatan beton

segar diatur

oleh

ASTM C4O3 .

Yang

penting

bagi produsen beton adalah makna


dari 2 macam waktu
pengikatan

itu,

Waktu frwal pengikatan pa$ta ramon


dan beton $egar herbedi, balhnya
untuk heton ditentukan cendiri rcsuai
ASTM C
'003

vaitu awal waktu pengikatan adalah didefin-

l:17

8.3. KARAKTERISTIK BETON SEGAR DAN MAKNANYA

isikan sebagai BATAS PENGOLAHAN (limit of


hand,ting)
dan akhir waktu pengikatan sebagai permulaan pengemban_
gan kekuatan mekanis beton. Selanjutnya
ASTM C4O3-mengy_
atakan bahwa awal waktu pengikatan adalah kira_kira
waktu
dimana beton segar sudah tidak bisa/boleh diaduk,
ditem_
patkan dan dipadatkan secara baik; sedangkan
akhir waktu
pengikatan memberikan kira-kira waktu sesudah
itu proses
pengembangan kekuatan beton melaju
cukup cepat. Sudah
jelas, pengetahuan mengenai waktu pengikatan
ini sangat diper_
lukan dalam penjadwalan operasi konstruksi beton.
waktu
awal pengikatan diperoleh dari saat antara beton
dicampur
air dan saat terjadi perlawanan penetrasi sebesar 3.5 Mpa,
Faktor-faktor
utama yang berpengaruh pada waktu

pengikatan beton adalah komposisi semen, rasio


air/semen. temper-

Waktu pengikatan ewal beton $egar


sanga{ teryantung pad,a rasio air
smen tipe remrn dan hahan
campuran kimia

atur dan bahan tambahan campuran. Karena itu harus


diingat,
waktu pengikatan dari pasta semen bisa berbeda
dengan waktu
pengikatan beton yang mengandung jumlah
semen y:rrrg ,urn.
namun rasio air/semen berbeda. pada umumnya
makin tinggi
rasio air/semen, makin lama waktu pengikatan.
Memiliki data uji waktu pengikatan awal dengan
memperhi_
tungkan faktor-faktor di atas akan sangat bermanfaat
bagi op"r.ri
produksi beton ini. Kalau tidak ada, maka
akan berraku bahwa
afrar tetap memenuhi syarat kelecakan, beton
segar harus selesai
ditempatkan dan dipadatkan dalam waktu 1.5 jam
setelah selesai

proses pencampuran.

138

8.3. KARAKTERISTIK BETON SEGAR DAN MAKNANYA

Segregasi didefinisikan sebagai terjadinya pemisahan pada


komponen-komponen beton segar sehingga tidak lagi terdistribusi
secara homogen. Ada 2 macam segregasi, yaitu pertama karena
beton segar terlalu kering, terjadi pemisahan mortar dari badan
beton (seperti, karena penggetaran berlebihan) sedangkan yang
kedua didefinisikan sebagai f'enomena penampakan lapisan air
dipermukaan atas beton setelah penernpatan dan pemadatan beton segar tetapi sebelum mulai awal waktu peng.ikatan.

4. Segregasi dan Bleeding

Air adalah komponen paling ringan


dalam campuran beton segar, sehingga
bleeding a<lalah bentuk

segregasi karena

$egregasi dan hloeding htrkan hanya


masalah volume air, tapl iuga lndiltasi
kelalnan propor$i firmpuran dan
gPadasi

agregat yang lebih

agrryt

berat bergerak ke bawah oleh gaya gravitasi. Dalam praktek air


selain naik kepermukaan, banyak yang tertahan sebagai kantongkantong air diantara agregat kasar dan tulangan, dimana di
bagian atas kantong-kantong air itu lebih banyak dan lebih besar
dari bagian bawah sehingga bagian atas ini kurang kuat dibanding
bagian bawah.

Informasi ini
menjadi dasar kuat
bahwa segregasi
harus sedapatnya
dikurangi karena

Btton $egar yeng terlillu kering dan


atau bleeding atran menyebabknil
hasil beton kurang padat (kekuatan &
keawetan herkurang)

tidak mungkin beton


mencapai kekuatan
maksimum bila beton sudah dalam kondisi tidak padat.

1:t9

8.4. PENGAMANAN BETON SEGAR

8.4. PENGAMANAN BETON SEGAR

Masalah bleeding ini dapat dikurangi


atau dihindarkan
apabila semua ketentuan hasil disain
campuran, pengantaran,
pengecoran dan metoda penempatan
dipenuhl sebaik]baiknya.
Terutama pada segregasi oleh
kering, syarat gradasi
"u-p,rrrn
AK serta ukuran butir maksimumnya
dan gradasi AH nya jangan
dilanggar, walau kadang-karu .u-i,rrun
kering riapat dikurangi
dengan sedikit tambahan volume air (.etempering).
Bagi yang
berminat akan pengukuran laju bleeding
dan total kapasitas,
bleeding dari suatu campuran beton
segar dapat dipelajari di
ASTM C232 .

8.4

Pengamanan Beton Segar

proses pencampu_
ranr pengantaran,

a.

Perhatian khusus diberikan bahwa nilai slump harus sesuai

rencana disain campuran sebelum beton segar dibawa keluar dari

fasilitas produksi.

b. Slump mudah berubah bila ada perubahan pada kelembaban AK. Pengalaman menunjukkan perubahan 0.5Vo kelembaban
AK dapat menyebabkan perubahan slump sebesar 25 sld 50 mm.
Karena itu, operator cenderung mengurangi takaran air dan ditambah sedikit setelah tiba di lapangan.
Penggunaan bahan tambaharr retarding menunjukkan hasil
baik untuk memperpanjang waktu kelecakan beton segar. Pedoman pemakaian terdapat di ASTM C494, juga di ACI 212.3R.

Kontrol nilai dump mlesai


Te"n{almpur, untuk periksa pengaruh
kelembahan agnegat Arn pernaflaian
retarder

pengecoran, penem_
pemadatan
dan perawatan beton cair tidak boleh sampai
terjadi segregasi,
ini berarti bahwa kelecakan beton segar harus
burar-burrr."dijaga
agar terjamin memperoleh beton yang padat.
Diingatkan pula
(sNI 2847 Pasal 2.10.4) bahwa bettn
J"gu, vrrrg sudah melewati
yaktu awal pengikatan tidak boleh dicampur urang dan tidak
boleh digunakan.

patan,

1. Penakaran dan Pencampuran

c.

Secara jelas SNI 2847

Pasal 7.7 s/d 2.t2,


menekankan dalarn

pengantaran, penempatan dan pemeliharaanya. Dibawah ini ACI


305R menambahkan beberapa catatan:

AcI

305R-91 menyatakan pembuatan beton


didaerah
panas/tropis dapat dilakukan .u...u
memuaskan bila perhatian diberikan sebaik-baiknya pada proses penakaran,
produksi,

740

d. Untuk mencegah peningkatan temperatur beton (yurlg merryebabkan peningkatan kehilangan slump), jumlah dan kecepatan
pencampuran (mixing) hendaknya mengikuti pedoman dalam
ACT 2O7.4R.

2. Pengantaran (deliaery)

a. Waktu antara
pencampuran dan
penempatan beton(sperti diny-

Selama pengantaran
waspad& padat

atakan oleh SNI 2847


Pasal 7.9) harus
dibuat seminimum
mungkin. Ini karena

.
r
.

htoil

Kehilangan slump
Nemacgtan lalnr lintas

Hamhatrn p*nompatiln

141

ffiEar,

8.4. PENGAMANAN BEION SEGAR

8.4. PENGAMANAN BETON SEGAR

dalam waktu terseb,t terjadi hidratasi, kenaikan


temperatur dan
slump loss yang sangat mempengaruhi kelecakan
beton.
b' Harus ada koorainasi antara pemberangkatan truk pencampur
dan kecepatan penempatan beton segar agar
tidak terjadi keter_
lambatan. Jadi ha^r ada komunikasi yang baik
antara iroyek dan
fasilitas produksi beton.

dengan rencana maksimum dengan menambah air, sesuai maksimum diijinkan. Untuk keseragaman adukan, sedikitnya drum
pengaduk perlu tambahan 30 putaran (revolution).

c.
Penyesuaian
slump diiiinkan
dengan

pemakaian

penempatan beton ternyata lambat, pertimbangkarr


pe_
makaian bahan tambahan/retarding untuk
menghambat awal
waktu pengikatan (setting).

&rtcmpering harus herpodoman pada


tambahan
ACI 305-91. High rang* wirter
kimia, sepanjang rareducing admixture terbukti efektif
sio air/semen masih
nremelihara kelecakan hcton
sama atau tidak dilampaui dan tidak terjadi kemungkinan segregasi. Perlu diingat
bahwa untuk struktur beton bertulang, beton segar harus mempunyai slump 75 sld 100 mm.

3. Penyesuaian Slump

4. Retempering

a.

a.

c. Penempatan beton segar dalam volume besar harus


di_
jadwalkan pada periode-periode intensitas
lal, rintas rendah
(terutama diperkotaan).
d. Bila

Beton segar se-

lalu akan mengalarni

slump loss

karena

itu harus diadakarr

Cara penyesuaian ulump holeh dengan


cara mengurangi air waktu penakaian
dan ditamhah setelah tiba di lapangan
atau pakai hahan tamhahan kimia

estimasi perubahan
slump yang rnungkin
terjadi antara waktu
pengadukan dan penempatan beton.

b. Untuk

antisipasi kemungkinan kemacetan lalu lintas


dan keIambatan penempatan beton segar, operator
pengadukan perlu
mengurangi jumlah
air untuk dapat kondisi beton yang lebih
Untuk kehutuhan struktur heton
kering, dan setelah
bertuhnp heton ssgar harus
tiba di pekerjaan,
mempunyai slurnp 75 - I00 mm
slump disesuaikarr

742

bahan

Retempering didefinisikan ACI 116 ) sebagai ("menambah


air dan mengaduk ulang beton, atau mortar yang telah kehilangan cukup berarti kelecakannya itu menjadi konsistensi kembali"
Retempering harus dilakukan berpedoman pada ACi 305-91.

b.

Penambahan air
yang melebihi rasio
air/semen harus di- Pmamhahan air adukan tak terpncana
larang karena kelebiakan nrenguransi kekuatan dan
han air itu akan menkeawetan haton
gurangi kekuatan
dan sifat-sifat lain dari beton secara proporsibnal.

c. Penambahan bahan tambahan kimia, terutama high range water reducing admixture, bisa sangat efektif memelihara kelecakan
beton.

5. Penempatan dan pemeliharaan


143

8.4. PENGAMANAN BETON SEGAR

8.4. PENGAMANAN tsEION SEGAR

a. Untuk seminirnal mungkin terjadi segregasi, beton


segar harus
dituang sedekat mungkin rrengan posisi ukhi. b"to,
ybs Jan tidak
dipindah-pindah.

b.

Penempatan hen

daknya
dalam

dilakukal
lapisan-

lapisan horisontal
dengan ketebalan

Penempatan dan pqmadatam heton


segnr harus berpodornar pada ACi
3{19 f, lrntuli terhindar dari segregasi

sung dan tiupan angin kencang. Proses pemeliharaan harus dilakukan sedikitnya dalam waktu 7 (tujuh) hari. Pemeliharaan
balok-balok, kolom dsb. dilakukan dengan spraying dan lantai direncam air. yang penting permukaan beton yang sedang mengeras
itu tidak boleh sampai kering. Berbagai metoda pemeliharaan beton disediakan dalam ACI 308.

yang sama dan tiap


lapis dipadatkan sebelum lapisan berikutnya. Kecepatan
pen_
empatan lapis demi lapis ini dilakukan secepatnya
agar lapisan

dibawahnya masih dalam kondisi plastis sebagai


.yurrl pengatu_
ran yang baik. vibrator jangan dipakai untuk
memindah beton
segar ke arah horis.ntal karena ini clapat
me,yebabkan segregasi.
c. Pemampatan dengan vibrasi bertujuan agar beton segar
Prosm mernlihfrra mukr beton yang
bergerak dan memadat ke bawah dis- eodang nrengena$ dengan celalu d'alai.r
keadaan harah harur *edi&ifrrya
amping gerak vibradilalruhn dalam 7 hari dan
tor ke atas dan ke
hmpedoman padfi Afl l0S
bawah rnengeliminasi
gelembung-gelembung udara yang naik ke
atas. Efektifitas vibra_

tor sangat tergantung pada besar diameter kepalanya, frekuensi


dan amplitudonya. Rekomendasi mendetail untuk peralatan
dan
prosedur pemampatan diberikan di AcI30g
R. vibrasi yang sarah

rnalah akan menghasilkan segregasi, retak clan


kropos.

d. Setelah

pernadatan

dan penghalusan permukaan beton segar


selesai dikerjakan, rnaka usaha merindungi
beton segar terus di-

lakukan terhadap kehilangan kelembapan, sinar


matahari lang_

r44

I45

L1_!E!94U41{

8.4. PENGAMANAN BETON SEGAR

AN

ts:E

rgNr

tEe4r

segar yang rnyang rlibuat? Sebutkan 2 karakteristik beton


bila kita
gln iipertuhankan oleh tindakan ini dan akibatnva

Evaluasi Kompetensi Anda


1. Apa vang Anda pandang penting dari kelecakan beton?
Pada saat apakah sifat/karakteristik kelecakan ini dianggap
penting?

Bila pengadaan beton dilakukan melalui perusahaan ready


mix, kapan kontrol kelecakan diadakan? Apa rnetoda yang
dipakai untuk mengotrol kelecakan itu'/

, Apa tindakan yang perlu dilakukan bila slump

lalai!
sudah sesuai rencana?
11. untuk memastikan bahwa nilai slump
Sebut sebabsebut kapan saja uji slump harus dilakukan!
sebab PenYimPangan slumP!
akibat kehilangan
12. Sebut beberapa cara untuk mengatasi
dipakai!
harus
slump dan pedoman-pe<1oman yang

tidak

dipenuhi akibat kehilangau slurnp'/

sebab-sebabnya dan
13. Ada 2 macamsebab segregasi' Uraikan
kemungkinan akibatnYa!

4.

Terangkan sebab-sebab gejala berikut ini dan pengaruh


negatifnya setta cara mengatasi segregasi, bleecling dan
retempering!

mengatasi kehi14. Retenpering adalah salah satu cara untuk


dilakukanl
kapan
langarrslump. Terangkan caranya dan

5.

Apa saran Anda utrtuk mengurangi keirilangan

O,

slump?

Bagaimana rnengontrol kehilangan slump ini?


6.

Apakah makna dari waktu awal setting dan waktu akhir


setting beton segar? Sebutkan standar yang dipakai!
Dalanr praktek apa, danrpaknya bila kita menerirna beton
segar yang telah melampaui waktu awal setting?

8.

Apakah waktu setting pasta semen dapat dipakai sebagai


waktu setting beton segar? Mengapa?

9. Mengapa gradasi AK dan AH sangat penting dalam disain campuran beton? Apa yang ingin didapat dari syarat
gradasi itu?
10. Setelah beton segar dituang diternpat pekerjaan dari truk
pencarnpur, jelaskan mengapa beton segar itu harus secepatnya ditempatkan clan dipadatkan clikomponen strttktur
r46

747

9.1. EVALUASI KEKUATAN - UMUM

faktor reduksi yang lebih tinggi diberikan oleh tata cara ini untuk
evaluasi analitis kekuatan struktur yang ada.

Evaluasi

keku

atan struktur yarr;

Bab.

telah berdiri membu-

tuhkan

dan

pengalaman

pertimbangan

tekrris yang tepat.

Evaluasi Kekuatan
Struktur )Iang Telah

Berdiri

SHI 1847 fasal 12 ini memuat revisi


tatacara nromonitor rffipon perilaku
sbuktur relama dan sesudah uii behan

SNI 2847 5.22.1memberikan arahan untuk menginvestigasi keamanan struktur bila:

1. Material dari bangunan dianggap memiliki kualitas yang


kurang.

2. Terdapat bukti yang mengindikasikan terjadinya kesalahan


konstruksi

3. Bangunan mengalami kerusakan.

KOMPETENSI YANG DIHARApKAN: ..paham akan


prosedur dan syarat peneriman untuk memastikan
ban_
gunan bermasalah yang telah berdiri masih mampu
berfungsi dengan baikD

Pasal22 merupakan hasil revisi dari AcI 95 yang menekankan


perlunya selama uji beban untuk memonitor tidak
hlnya defleksi,
namun juga retak yang berhubungan dengan geser
dan/atau
lekatan, bersamaan dengan terkelupas dan pecahnya
beton. Lebih
jauh, syarat penerimaan juga memasukkan unsur
batas waktu.
Inspeksi secara berkala dan evaluasi ulang kekuatan
harus disebutkan/ditetapkan tergantung dari sifat kerusakan. Bila
dimensi
struktur, ukuran dan lokasi tulangan dan sifat material
diketahui.

148

4. Bangunan

akan digunakan untuk fungsi yang berbeda

5. Bangunan atau sebagian dari padanya tidak memenuhi persyaratan standar


Peraturan pada SNI 2847 Pasal22 tidak bolah dipakai untuk
menyetujui suatu desain dan konstruksi dari sistem khusus.

9.1

Evaluasi Kekuatan - UMUM

Evaluasi kekuatan dari struktur dapat dilakukan menggunakan


cara analitis maupun eksperimental. Pemakaian dari prosedur

I49

9.1. EVALUASI KEKUATAN, UMUM


9.2. PENENTUAN DIMENSI STRUKTUR DAN SIFAT BAHAN YANG DIPERLUKAN

analitis tergantung pada apakah sumber kerusakan


yang berpen_
garuh secara kritis pada struktur diakibatkan
oleh:

1. Lentur dan/atau beban aksial

2. Geser dan/atau lekatan.

Perilaku

darr

kekuatan struktur

beton yang terkena

lentur

dan/atau

beban aksial dapat secara akurat


diprediksi

menggunakan hipotesa Navier

Evaluasi kelru*tan dengan rnetode


analitis hanya holeh dilaliulan bila
dua kondisi dipenuhi, bila tidalr harur
dilaltukan uji fioik barqgunan

yaitu "penampanJ datar akan tetap datar


sebelum maupun setelah diberi beban.,,
Sebaliknya, teori_teori
yang ada tidak bisa secara tepat memprediksi
perilaku kekuatan
geser dan lekatan pada struktur beton.
Syarat peraturan yang

mernbahas geser satu dan dua arah, dan lekatan


didapat secara
semi-empiris' Kegagaran akibat geser dan rekatan
b"rrifut getas.

Evaluasi

keku-

atan dengan metoda


analitis dapat dipakai sebagai syarat
penerimaan apabila
dua kondisi berikut

l(ondiri pertarna: keadaan kritis hukan


oleh kuat Seffsr ntau leftatan.

Kondisl keduff data keadaan fisik


bangunan tercedia
tama, sumber kerusakan harus kritis pada kondisi
beban rentur,
aksial atau kombinasi rentur dan beban kuat
aksiar. Jadi tidak
akan jadi kiritis oleh kuat geser atau rekatan.
Kedua, harus
ada kemungkinan memperoleh ukuran sesungguhnya
dari bangu_
nan, dimensi dan ]okasi tulangan, Jika dua r.o"ai.i
ai atas iiaut

ini dipenuhi:

per-

dipenuhi, evaluasi kekuatan harus ditentukan dengan menggunakan uji beban seperti yang dijelaskan dalam Pasal 22.3 SNI
2847. Jlka penyebab kerusakan berhubungan dengan lentur atau
beban aksial, tetapi tidak mungkin mendapatkan sifat-sifat material, maka test fisik bangungan mungkin tepat. Evaluasi secara
analitis pada kekuatan geser tidak harus dilarang jika terdapat
"pemahaman yang sangat baik". Jika kekuatan geser dan lekatan
merupakan hal yang kritis, test fisik mungkin merupakan solusi
yang paling efisien. Sebisa mungkin, semua hasil dari uji beban
di dukung oleh analisa (SNI 2847 5.22.1.3).

9.2

Penentuan Dimensi Struktur dan Sifat


Bahan yang Diperlukan

Jika evaluasi dari bangunan menggunakan cara analitis, ukuran


sesungguhnya, Iokasi dan dimensi tulangan dan sifat material
harus didapatkan. Pengukuran harus dilakukan pada penampang

kritis dimana besar tegangan yang


diukur mencapai ni-

lai rnaksimum. Jika


terdapat shop drawirg, lakukan cek di
bagian-bagian ter-

tentu (spot

untuk

check)

Pada evaluasi kakuatan dengan cara

analitlsr trrcedia faktor redukci $


yang khih besar (lihat Tahel g.I) dari
yang di SNI 2947 Pasal 11"3.1 karona
$emua ftoadaan flrik mruai yang

trrukur

memastikan

lokasi dan dimensi tulangan yang tergambar di shop drawing.


Tersedia teknik NDT (Nondestructive Testing) untuk mendapatkan lokasi dan dimensi tulangan dan untuk mengestimasi
kekuatan dari beton. Kecuali apabila sudah diketahui, sifat

150
151

9.2. PENENTUAN DIMENSI STRUKTUR DAN SIFAT BAHAN YANG DIPERLUKAN

9.2. PENENTUAN DIMENSI STRUKTUR DAN SIFAT BAHAN YANG DIPERLUKAN

aktual dari tulangan dan tendon prategang harus di tentukan


dengan cara mengambil sample dari struktur.

Evaluasi

keku-

atan dengan cara


analitis membrrtuhkan pemakaian
faktor beban

yang

PenBaturan hehan uji lrarus yang


memhsri letdutan/togangan
maksimum dl daerah hritis
Behan uii perlu ditsntukan
mininrum 0.05 (I.4D + l.ILl
Komponen struHur diuii harur
berumur rminirnurm E6 hari

terdapat di SNI 2847


Pasal 11.2 dan faktor
reduksi yang terdapat di SNI 2847 Pasal
22.2.5. Salah satu Lujuan dipakainya faktor reduksi kekuatan dijelaskan di
sNI 2847
/
Pasal s.11.3.1 adalah untuk menampung probabilitas komponen
yang memiliki kekuatan kurang akibat variasi kekuatan material
dan dimensi . Bila harga aktuar dari dimensi komponen, ukuran
dan lokasi tulangan, dan sifat materiar beton dan tulangan didapat, sNI 2847 Pasal 22 memberikan faktor reduksi ketuatan
yang lebih tinggi. Perbandingan dari faktor red,ksi kekuata,n
yang terdapat pada sNI 2B4z pasar 22.2.5 terhadap sNI 2g47
Pasal 11.3 diberikan pada Tabel.9.1.
Rasio faktor reduksi sNI 2847 pasar 22 dibandingkan de,ga,
sNI2847 Pasal 11 di tampilkan pada kolom terakhir tabel. Untuk
evaluasi secara analitis, faktor reduksi / untuk kolom dan bernilai

20% lebih besar dari yang tertulis pada pasal 11.3, sedangkan
tumpuan memiliki nilailbYo lebih tinggi. untuk lentur pada balok
dan tarik aksial, terdapat kenaikan sebesar 13%, sedangkan untuk
geser dan puntir sebesar Z%

Tabel. 9.1: Perbandingan Faktor Reduksi


Faktor reduksi kekuatan

Keterangan
Pasal

22 Pasal 11 Pasal Z2fPasal

Lentur tanpa aksial

0.9

0.8

1.13

Tarik aksial dan tarik


aksial dengan lentur

0.9

0.8

1.13

0.85

0.7

7.21

0.8

0.65

t.23

0.8

0.75

1.07

0.75

0.65

1.15

Tekan aksial dan


tekan aksial dengan lentur:
Komponen Struktur
dengan tulangan spi-

ral

Komponen struktur
lain
Geser dan/atau pun-

tir
Tumpuan pada beton

Dengan naiknya harga faktor reduksi, seperti yang dican_


tumkan pada SNI 2847 Pasar 22.2.b, menghasilkan tarnbahan

752

153

11

9.3. PROSEDUR UJI BEBAN

9.3. PROSEDUR UJI BEBAN

kekuatan komponen. Kekuatan nominal tekan aksial kolom sebagian besar merupakan fungsi dari perkalian luas perampang
kolom
dan

kuat tekan
Karena

betorr.
kuat tekan

beton memiliki ni-

lai variabilitas

yang
tinggi, faktor reduksi
pada SNI 2847 Pasal
11 untuk aksial tekarr
memiliki nilai yang

Catatan respon awal strukfur harus


dilakukan paliqg lanrhat ratu iam
sebelum nrarlai uii pembebanan.
H indarkan teriadi pembehanan

lebih rendah dibandingkan untuk lentur. Karena untuk evaluasi


ini kuat tekan beton aktual sudah terukur , maka faktor recluksi
/ untuk kolom di sl{I 284T pasal 22.2.s ditentukan lebih tinggi
dari yang tercantum di SNI 2847 pasal 11.

9.3

Prosedur Uji Beban

Jumlah dan pengaturan pola bentangan atau pane I yang dibebani


harus
dipilih
sedemikian rupa agar
didapat lendutan Meningkatkan uji
beban dan mencafiat
dan tegangan rnaksistrulrtur
harur sedikitnya
- ryspon
mum di daerah yang
dalam waHu 14 iarn" |uga harurada
kritis dari komponen
pengufturan selama Id jam setelah
struktur yang kekubeban uii dilepaa
atannya diragukan
(sNI 2847 Pasal22.z.1). Jika terdapat elemen lain yang menyatu dan tidak dibebani namun memberikan kontribusi terhadap
kapasitas menahan beban, maka besar besar beban u.ji atau

r54

1>euernpatannya harus diubah a,ga1' nla,rryu rneruberikan korxlisi


yang konsisLen.

Total beba,n untuk uji bebau aclalali 0.85(1.4D + 1.7L), dirlarra D aclalah total beban rnati (rnornert atau gaya) dan L
didefinisikrn sebagai beba,n hidup (rnoruen atau gaya). Halga
total dari pembebanan sudah terrnasuk bebau mati yang sudah
acla pada struktur. Bagian struktur vaug akau di uji beban harus
paling ticlak berurnur 56 ha.ri, kecua,li semua, pihzr,k meuyetujui
untuk urengatlakan pengetesan di uruur varrg lebih rmtcla.

Kriteria Pembebanan

Kritclia

pcntb<r-

banan diatur cli SNI


2847 Persal 22..1. NiIai ir.rval Jlengukttran rospon struktur
(seperti lendrrt.an. r'otasi, rega,ulan slip,

lebar retak)

htrrus

Kegagalan uii heban dapat berupa


spalling atau beton Fecah/ Iendutan
berleblhan, rtak dan retak lekatan.
Kamponen struktur yans gagal dalam
uii beban dilarang dipakai lagi

tercatat dalarn rn'aktu tidak lerbih dari satu jarn sebelurn pembe>
banan.

Bila rnensimulasi beba,n terbagi rata, pengarnh lengkung


(arching) dari aplikasi beban harus dihindari. Gbr.9.1 mengilustra,sikan efek dari arching. Celah-celah dia.nta,ra timbunan bel"ran
harus cukup dibentuk agar ticlak terjadi singgungan, datt rnernbentuk arching kctika kompou<;n menga,lami leudrttau. Stabilitas
juga harus dijaga selaura pernbebanan dilakukan.
Uji beban harus diaplika"sikan ticlak kurang dari 4 kali tahap
peningkatan peurbebanan yarlg s:tlna,. Rangkaian pengujian dan

155

9.3. PROSEDUR UJI BEBAN

9.4. SYARAT PENERIMAAN

pengukuran respon di catat untuk rnasing-masing tahap pembebanan dan setelahtotal beban diaplikasikan paling sedikit selama
24 iarn. Rangkaian pengukuran akhir respon harus dicatat selama
24jarn sctclah beban uji dilepaskan.

9.4

Syarat Penerimaan

Tanda-tanda terjadirrva kegagalan dapat berupa pengelupasan/spalling atau pecahnya beton (SNI 2847 Pasal 22.5.1),

lendutan

yang

berlebihan (SNI 2847


Pasal 22.5.2). retak (SNI 2847 Pasal
22.5.3 dan SNI 2847
Pasal 22.5.4) dan
retak-lekatan(bond
ry i.r
I
i
I

Jaralo'gap ya"ng cukry yang cukup untuk


rnnucegah arching Botsieh dfteksi rrrjadi
ffi LJ

*J

i;; t;

HH ld

u ,.

F,{!q
!:i llr

l"^

B5

Baik

cracks) (SNI 2847


Pasal 22.5.5). Tidak ada aturan sederhana yang dapat dikembangkan untuk diaplikasikan pada semua tipe dan kondisi dari
stnrktur.

Namun, pada elemen tanpa tulangan transversal,


dari retak diagonal pada suatu sumbu paralel

proyeksi

terhadap sumbu lon-

gitudinal
Gbr' 9'1:

Perrgaruh arching/melengkung ketika beban di aplikasikan

156

Tatacara ini nrenyediakan kriteria


lendutan unaksimum dan syarat
ptrflsnta$i prmulihf,n lendutan yang
meme$uhi ujihehan

elemen

haruslah di monitor.
Jika proyeksi retak
diagonal lebih panjang dari tinggi komponen yang diukur
di posisi tengah pan-

Bila nvaluasi lcekuatan $ecfira tnalitis


menuniul*ar indikasi kurang kuat
atau lendutan atau retak terlalu hemr,
struktur holeh dipakai untuk
pemhehanan yang lehih rendah

r57

9.4. SYARAT PENERIMAAN

9.4. SYARAT PENERIMMN

jarrg retak, k.*rp.ne' sangat rmrngkiu leruah rri geser.


JikI
te{adi ke.rsakan r:ukup besar sehingga st^rktur telah ciauggap
g-agal menjala,kan uji itu. ,raka pengctesa, ula,g ticlak
cliijinka,
karo.a dianggap ko,rp<l,en yang rusak harus ticlak br:reh dipakai
meskipuu dongtu konclisi pembebanan yang ringan.

Kriteria lendutan harus memenuhi konclisi-kon<lisi berikut ini


(SllI 2847 P usa,l 22.tt.2) :

1.

Ketika defleksi rnaksi,*rm ,relebihi l?/(20000h,),

tes rrlang.

rci

Eil
312j
,:

zs%

cra,p,fi

mal i;;a;r";*;dcry;

Pe-1_syqptan..;99-o-v._qry

.C
si 8r
G
t b,
4i
ll

or

.'----'.-

'.,.--n: ----,-

50

xso

'a -

130

' '',''1,.'
200

r06

Ttbd el*mst{hL mm

Gbr. 9.2: Kriteria Uji

40

Reba,n untuk elemen dengan benta,ng 6 m

-,

35.
,&

'l

t:

l,-i*
TIO"

Check lendritan recovery, jika


ku144g 757e, bgleh di tepl ulang,

3:tt'
{ll

!.0

di

4. Pengetesan ula,g dapat dilakukan seterah kurun waktu T2 jant

Gbr. 9.3: Kriteria Uji

l3eban unluk elemeu clengan tebal 200 urm

r59
r58

jika

kura4g ?5%;boiet direst ritang

.*J

diabaikan

I10i

2. Ketika dcfleksi maksim,m kura,g dari rl/(20000rr). pcrsyaratarr pcnrulihan/recovery lencrutan criabaikan. Gbr. g.2 clan
Gbr. 9.3 mengilustra^sikan aplilar,si clari kriteria. ba,tas lei,rlutan
pada uji beban pertarna. Gbr. 9.2 mengilrrstrasikan batas lenclutan vs tebal u,tr.rk elemen yang merniliki be,ta,g 6 m. Gbr. g.B
mengga,rnbarkan batas lendutan vs berrtaug urrtuk ele[ren yang
memiliki tebal 200 mrn.
Elerrren vang gagal mcuremrhi syarat rocovery

18:

prosenttr^sc

penrulilran/recovery lendutan harus paliug seclikit TsTc setelah


24
janr. dirnana:
h : tebal total dari kornporren struktur
Ir : be,ta,g kompone, st.rkt*r ya,g di,ji, mrn (be,ta,g.yang
lebih pe,dek ,nt,k sistern perat dua artr,h). Benta,,g kon,ponen
struktur aclalah,ilai tcrrkecil clari (a) iarak a,tar pusat tumpua,,
dan (b) iarak bersih antar:r, t'mp,a,u dita'rbah rre,gan ti,ggi
kompone, struktur (h). Bentang untrik kantilever ha.rs ditent,kan sel:agai clua kali jarak clari tur,puan ke ujung ka,tilever.

3.

,t,

9.5. KETENTUAN UNTUKTINGKAT PEMBEBANAN YANG LEBIH BENDAH

9.6, KEAMANAN

setelah pelepasan beban-uji yang pertama. Dari pengetesan ulang

Evaluasi KomPetensi Anda

pemulihan lendutan harus 80%

9.5

Ketentuan

Untuk Tingkat Pembe-

banan yang Lebih Rendah


Jika evaluasi kekuatan secara analitis (SNI 2847 Pasal 22.7.2)
mengindikasikan bahwa struktur tidak cukup kuat, jika lendutan
(SNI 2847 Pasal22.5.2) terjadi berlebihan, atau jika persyaratan
retak (SNI 2847 Pasal22.5.3) tidak dipenuhi, struktur dapat dipakai untuk tingkat pembebanan yang lebih rendah bilamana disetujui oleh pejabat bangunan yang berwewenang.

9.6

pada waktu be1. Nlengapa pengaruh arch'ing harus dihindari

ban diaPlikasikan?
2.

lt1

menyelesaikan proses
Berapa waktu yang cliperlukan untuk
untuk menp"-n"Urrrun clan berapa waktu yang diperlukan
g,rt r. len<lutan setelah beban uii dilepas?

lendutan pada
Apakah diperbolelftan langsung mengukur
tidak berikan waktn
saat uji pembebanan dilakukan'? Bila
stmktur!
yang tepat untuk mengukur respon awal
terdapat in4. Apabila dari hasil evaluasi dengan cara anlitis
solusi apa yang
.likasi struktur tidak cukup kuat, kira-kira
bisa diambil?

Keamanan

Selama uji beban, perancah biasanya harus dipasang di bawah


elemen yang dibebani untuk menjamin keselarnatan. Perancah
tidak boleh rnenggarlggu prosedur test atau mempengaruhi hasil
uii beban. Selama uji beban struktur yang melendut tidak diperbolehkan menyentuh atau menumpu pada perancah.

160

161

il

l,iurrpilttrr

Lampiran A

sNI 03-2g47-2002

A liNl

0:l 2f{17-2002

Brhn

5.1

Pengujian bahan

t] Penganra* lapangan bsrhs* memerintahkan diedEkan @nguiiao pads estiap hahsn


yanq d*Sunakon pads pelak$an{an konstruksi beion untul mcfl4fttukan apakf,h bahm
tersebul mornpunyai mutu sosuai den$sn n:utu yafig lBlah ditstapkao.

2)

Fengujian bahan dan psogujiafl bsion harus dibuat ss3uai dsnSEB tata cara.late rara

lcng terdapal

3)

pada pasal 2.

Laporan longkap p*ngujian bahsrl

dan ponBujian b6ion hdruB tsrssdia

pomBrilraaan solEma poksrjaeo b*daftgsdlrrg

un'isk

d6'l pade mgse ? tohun seieiah golesainys

pembangunsn.

gafien

52
1

$ernen haruc mernEnuhi salah satu {,ari l(Btenluan bo{ikuti

{1} SNI 't5"2049"1994. Serr.6a po.rilcnd"


{2} '$pesitit<asi Mr.r,or d/efldad idnci,s' (ASTM C 595 }. kecu&ti

troe S d8n SA yaftg ridat(

dipGruntukkar ssbasei unsur p6n$i:kel uiama rtruktur bcton.

{3} "Spoo{ikosisemon }rdru/,,i oLssnsif {ASTM C 8{5}.

2)

Sofion yftftg digunakan pada pskcriasn koostruksi haruB s65r.,ai d$ngqn sorlBn ydne

digiinskan pada p8{ancangsn pfi}por3i earnpuran. Lihst 7.2.

5.3
1)

Agrogat

Agmga,l untut< bBton harua mednEnuhi salah satu dari ketofllusn berikut:

('l)

'Sposd"r,kas apregal unlilk

{2}

SN{ 03-34S1-1 99r. Sp6sryf*s.e, a!fl.egol,Tirgar? unru*

2)

Ukurcn maktimu,rF norninal agragst ksosr h&nrJs tidah nelsbihl:

(1) trSiarsk

[$Ior'

TASTM C 33].

telbfl

tErkecil Entam sbi3isi cetEk6n, siaupun

{2} lE krtebalan pelel laitai, stEupr..ro


(3) 3/a iarak bersih rninjrnum alllara $lafigan"tulangsn algu
alau i8ndon"l6ndon p{'aiBgang f,tcu solofi tsong-s{onBso{rg.

162

slrutrdur.

163

kawa!"kae*si, blJff 6l tulangsn.

Larrrpirarr

SNI 0:l-2lJ.l7-2(n)2

l,irrrrlririrtt

SNI 0:t

2t{ l7-2(X)2

5J Alr

5.0

1) At F{ dEu*& Fd. rllrff ffi. na! !.oar d- !.n- ori tcrDtd5


o xl fi! .E!.an4lg.I. si. .Lq !fr, hre oRoi( .tI r.tr.ntah.r
IJuFFrgm4.nffiS btqrtuuaE .

F t dau*- ,f t idr hG ftdryl F*tlls il$ar


p.'oMltprt
c
d-&,rri
2) t ,tlh kd.rhr'{ pe4o, bc'- r$\b.rn F! dhurd(r nb. mnsr d[
rraritr E{A..aBr ldrtd &n E F y-! m d.tm FlE dlf,Ln olcr
p rirr yg{dlrE r.n d.r.. lldrtxn pEgdi o ,ltr b.bn sd rrsl.& ?2.

p.Hr!l, Frc dlNLn Fdr t b. qlqxt! .!u o* !.n[ yxl! d


!rri- bde.rri{6. itrr8* rr r.B tiE 6r-d{rE dn o rvl.e.
{(t*bogrm'cabigl'rbcn"hBniuib,.,gs.d#r
L'd!"ql)
2) At

dttony.

!) ri

rrrc m* dt i dtrhN Ek

brlot( i.r!6u
(1) Psrr5 F!F.i

boldi

.AEr.,

!.16

t r.., rxd t r..trtr

sF/m !.5r h'u dLl.don td. crllr t-r


Msu5.,.tE.,,lt{yflE|.e.}B.n-hi.lEnF(s.{|Ji(0.l.ls14!l,..lE[l1lmrhlscs24gEi6l'
'rE
hrL.q, tu!.rr{
P, lrd F{!fnrd.6rrd..2rhnpd
.l.rl!{.rFl!g d*&ad rtin*M ha. nI!.nF rdql.r.d.E {lt(r-!n|o gE
d.,tE ,0* dri hrEts i-d. ui Fr! a!{t cr!- i ylrlt &pd.r6run.
P.t!.,nhe- {, l{lolat t i.t, te r*krhn D.d.dr*u
-qp., bd-rrl pd *
F !t4@, yrr.bt d d-tlrt suirrree xrd {&.lt t r urru irdbr$,|uoer( o$dr- lD.*mhihrdilgI ohrn fi !t) mf (Aei cr0)

t64

Bahsn

1) srt5

taftbthan

bmEtEn

a) K.b- udb.rrt hsad.,' !{E n,Errt , rddrdr ri.Ltbhtdlml5,r


p.n n br lrta-rq r.rr n b. d.E r.kt*irE nln tdi r.{ ldli i.btrFls e
dng.^ dE u*r^ b*ttng b.rr g.lr-h. Laa 6,q2rd3 &4(o

$t ad&i!i'ts"l.|t-'r*g15i4ror*fr'
6) Brrs }rb.rdr F.{unn.i. Ft$mad utjt dI. D.h., FrEr.ld Etd
h&-i hdor!. rarrq, Fn rEt.i d, pdrtErt.i 6*.tr,,ltd na.n llr !.lrErD
pr!Jr.!g.r d.r ,Ir*.{* n.ra h l i.b. hr. ltrMmrqp..*d,,.r*r
lrrtrr rdl drrr* D.irf ( stu c lg4} rll .gcllrrr 4,i* 6.re !rbl,
ttuisn*ma'dl.rl,s,tt*aas...*rr.rra dtir.GsTu c t0i7).

165

Lam;>irau

SNI 0J-2U.17-2002
Larnpiran A

SNI 03-2847-2002

Prfsyrrrlrn k6awGtln b6ton


Rc*!o air - semen

G-r

flesb ai..$ernon yacg

drisyara{(an p8da ?sbel 1 dan ?abel 2 harus dihil{.,r}g mengguna*an

beral 3am&n, sGsuai dsflgan ASIM C t50. ASTM C 5S5 N, artu ASTil{ C 845, diiambsh

8)

Abu tcbang atsu bshM por:rr6o lsinnya yang


{,i$unakafl Bobegai bahsn t&mbshdn

harus msmanufii ,.Spesrirtfi,s,

u$rr.rtr ebu loda4g dar, pozrolan arerni,nunni


afiru ,sr*ur.srrs,
onfuk d,guna&,n so,sgsi Aohsn ten,hao
mid&ra! Wda iefon sorn*n pffta/r.f

decgan ber&t ahu terbang da'l bahan of.zzolan,ainnya.Es*usl den{8n ASTM C 6t8, kBrat
sesuai dengan

ASf[4 C BBg, dEn slie8 funrs sesilsi dengafl ASl]'( C 1?48, bilamsna

digunakfin.

{ASIM C

61 8).

8^2 Pangtruhlingkurrgsrr

r)

yarg diperhrirus y8ng diguflaln sebrga!


brhan l8rnhahsn
"qpa'r{it*ssi untt* ka$k t4iltgrtu p&r
wfig diwrhstus,rffrr( dibur}**Ef, psds

xerat< &ngku pij:ar

r@menuhi

ddn nld'tar(AsTM

harue

Boton ysag sken meDoabmi pengaruh lingkungan sspDrti yaog diberil(sn psdu Tobl

oar,f,

harus rnsmEnuhi rosio air"sGmBn dan perEyaretEn kti8t tEkEfl kar3.ktarislik bEtofl yang

989).

ditetapkan pads tabel lorsabut.

8)

Bahan tarnbf,han yang diguneksfi p6da hstsn yang


mengandung sorflefl ekpan$il
(ASTil C 645) ha{us oocoh dangan san*n y,ng
digunskan

Tnb&l

re*eb$ dsft ms'0ha!,irken

pengsruh yang tidak rnorugiksn.

$) sdha ftram yang digunarkan sobagei bahan tombohen haru$ sasuai


6eng0n .spos,r,r(ds
un{d( sifics fu'no 0ilt$k *igunshut pada btton
dan mottars6.oro,"rilir.D*s" (AsrM c 1240)"

3.7
1)

Untuk porl*dun{an tutarg*n trxaeap fo<rxi

pada Seton yanq t8rpangaruh +ngturgan

Balron s6moo den agr6Eal haru$ dkimpan sod8mikian


rupa unll,lx

ke{usakEn, aiau intru!}i bohan yang rnsngggnggu,

2)

Soriap bahan yang talah:ergaftggrJ

Pgrsyeratrn untuk pcl}gnruh llngkungrn khurut

Bak,fi dsngr,l p8Eiliuabililss refidah yang


tort(ora p6,l1garuh lingtunsa* sir

Perrylmpinenbsfian.b.rhrn

pembuat&n haton.

mencogah

GATATAT{
1 . Dihitung iBrtfidap botdl. {r*n b6fi6hu snle,k $$!rbn nomE{
?. Un{$t t}slsr b6rBl $rm*i dan t&i5n bsral iiilEan

ariu t'rhofiEminasi tidak bobh digunai(ari ufiruk

0.1

Fnngarulr llogkungan yang mengandung rulfal

1)

Bot!fl yang dipBngaruhi

616lr lingkun*an ysng mongandur$ sutrfal

y8rq iorddpal drhrn

larulan slou tEnah trr8.us msm.$nuhi porlyarclsn pada Tonel Z, etau harus iErbut dsri
s'nan trhdn sulfgr dan rnernponygi raEb air"gdrnBn maksi nurn dan kual iorrcfl fi$nirnurn
6esuai dengs.r Tabel 2,

3)

Kakium klo.ida sbaga[ bshEn iambaian tidak boloh digunskan

pda

hrt.oo yaflu

diFaogaruhi oloh }irEkilngen sulfut ysng ber*itat berat hifigga rsnget berat, ssporti )rang

diioiaplsn pada Trbel 2.

166
167

03-2847-20(),2

T*bel

l,arnpiran

Porryarrt.n untuk bolofi ysr* dlp.nglruhl olch llnsfurgrrn yilng


monBan(hrng

SNI 03-2847-2002

Ku6lttffi, perioaflrPurEfii dan pingtcofan

rulfil

?.1

1)

Unnum

EBtrfl herus diranceng cBd8rniklan hhgEa msnghasillan kust tEkflfl rsts-rata soper{
dsr juga harus rlemenuhi kriterle ksfltsstan sepodi yenq

}"dng dtssbutksn datarn 7.3(El

t6rd5p6t delarn peeEl 6. Fr6kusnsi nilsi kust iaIE{} rstjs'rat8 yfing iatuh di bawah nalai f.
s8psrti yslrg ditsntultan dalarn ?.6(3(3)) h&ruslsh

EB$(o,cil

rnungkin, Sehin itu' nllai

f;

yarE

di0unalrsn pada b6ngu&an yarq diranE8n{lken gGaqEi d6ngan aturan*atuEfl d&lam tEta cara
ini. tk sk bolsh *iiran{ daripsds 17.5 Mpa.

2)

Kntentran untuk nilfli

f"

frarus didasGrirEn pada uii silifitor yary dlbud dan diuii

sabaEsimons )rafig diperByEratkan pada 7.8{3),

3)

6.4 Parlhdungon toteilgsrt tErhedep korotl

1)

unluk perlindungan tutangan $i dstsm boion tefiGdsp


komsi, konsenlrEsi isn k$oI*rs

nak'ismum yans dspst rsrut daiam air psda bs$n


ha.ros umur 2B hingga 42 hsri fid'k bo{6h
rnslsbihi Dstesan ysng dib*riksn peds Ta*, 3. ts*a
dirakukan pangurien unhrk msn@nrur,un
kandungerl iofl klorids yeng dapst laru{. dalam sir, prossdur
uji haru' sesue} dngan ASTlrfi C

1218.

Trbol

KxndungBn lon

khrtd: mrkrlmum untuk porlin fungio bJl tulingrn


terhadep ftomsl

ta

roa

tlsm o.fiho$trg

uod{.

T4:

Bdffi D@{F{ F.g E@E li"trkrym ta@ $tp.6 hlg ,


B?&rtrId

-i-". -_-

rwtFMle$oftia
Kffilli.'kld brrs bdrrrieq

rffi*y*

***

*- -*-l- ,I - -*- ****

2l

rfiH

po

r*m
Mdsmd@
o

(Gr-

rx

@a

E8rllbar rdflcsna ElEri spssmkffii l8knl*-

4l

Ellrmana prq66dur ptrsncansan mon8yarstlEn ponggunasfl

dinyetskEn dahm

deftgan 8illt-03-2461-1ggx,

,S@sf,fl(8s,r

manan{.ulffin hubunget! antsrE

f* don f,

5l

fd'

seb8g8imeGa

1.5(2{3}}, 13.2 d6n 14.?(4[ m&kr uji laborstorium h&flrs dilekul(En s68uei

agrugal r,n$fsfl unluk Oslon st urd,ur"

untuik

Uji kuat tsri* b6bt! bston tidsk bdEh dbi,n8ksn sdbflgsi ds68r pano[frnasn b6ton di

lapngan.

,
I

1.m

*- * '.-

,',..-..]

72 Ffinlflhafi

tttnfi,urefi hctsn

Psfsyartan nirai msio air-e'm'n dan kuet tekan


bt.n psde Tabst 1, dan porsyar.tan
t8bal sslimut b8mn pads g.T hsrus dipsnuhi epabile
botofi bdrtuhng 6kan bor&ds p6ds
lirqkungan yang fi@rryqnd'ng kloride yqng br*sEt
d&ri eir geram, ah tat t" atEU ciualan dari
srmber gar3m lars6bui. N-ihat keteniuan ?0. 16 unhlk
tendiln kabel Brategang tanpa l6kabn.

168

leri'

Eraha umur b6lsn untuk psngujbn tsrsstHJt herus sasuei d8ngan yang dimntuften

O,'5

-;;

K8sueli ditefltulien l6FI" makE pcnentuan nfiai fo herus dida*erleau pada psnguihn bctEn

yong tsl&h barurnur 28 hari, BSa urnur bsmn ysng d8unailB untul psnguiign hukan 28

) Proporsi rnatorial untuh carn{ffJran betofl harut dibntuksn untuk mengh8silkan $ifat'sifst:
{l } Kebcakan dsn kofisiatBnsi yaflg rnBnjadiln b8iofl mudah diEsr ke delam ostahafl dan
't

ke c6lsh di ssl$lilirE tulanBsft d6ngsn hGrbagsi ksndiei ps{skEanasn pang ootan ysng hsru3

dihl(ukoft, tanps tBrjaditlya sEgrBg&Ei

6trEu bl'so{rJhg

yang bertobih,

Kot8hsflan tefiadsp p6ngaruh lingkungan sBporli yang diByeratksn dal8rn p{sa! 6

{2)
{3} so$ra!

ddn6am p,asyaratan ujl ks*uatsn 7-6,

(;9

Lanrpiran A

-SNI

l,;rtnpiran

OB-2B.|T-2002

SNI O:t-28,17-2002

fsb4{

2)

Untuk soilap csmporsn b6!Dn ydng barb*da, bair(


dari Espek maledal yang digunskan
araupun prpporsi campurannya, harus dilak{rksft pengujian.

Filktol modmkr*i untuk d6ylssl rttrndflr.llhs iumlrh pfinBu,,lsn

-_

k_urgng

Jufflilh p6nsu1l'8"

3)

dyl

.
-i - go.nloh
r'ttii J'ainrt"-ilffi d;ili

-***Kd;nsdrrirba;tsh - -

Pmpor*i beion. tern'lasuk rasb a{r*sm6r}, dspat


dit.tapk60 sosuar dEngoo 7.3 aLxu
Eelagsi alt8maiif 7.4 drn haruB mefionuhi keicr{uan pa8al
6 (c6mbar 1}_

3_0

i
-i-'

stgnder

*-

dffihdf;b*i

-t

--i

li coriton
t. E
?0 Gofltsh
1,08
I
"-* * * *2dtrirrtdh * -* -- - - --- -- "
"- - s0cs*6h";i6;ffifl'- - - " i - - " " - l.oir
i;gdr

I.3 Fir&deanlin prnps$l crmpuran

bsrda$.srkar} pehgelsrnsn lapangan

danlatau harll campuran ujl

1)

it..

Oovia*i *tandar

{:drarall

!{lwldri

(1) Nilri deviasi $t ndar dsp* diF'mrett jika fosfiiia$ produk*i


h's,l uji' Dara tusir uji yang

axton diladikan sobagai dara

siandar haru!:

bh,r.r

ac,an uflruk parhitungan d',riasi

fon

a)

Mewak,i ianig materiar. prosedur pefigend&risn ihuiu


dan kondisi yafig serupa dcnsan
yong diharaptsn, dsn p'rubohan-perubahan podri
ma&dol atlupun pr'ror.* campuran
dala{il dera p.ngujian tidak per,u diboat rsb.tr keiat.defi yng
digunakan pada p'tsrjas' ysnt
&kan dllaaukan.

b)

i'{eufskili beton yonp dtporlirkan [ntuk n*,*m*nuhr


ketuaten ]4aog drsyarstk fi etsu kuat
tokaa t"' pada ki$ran 7 MFa dariyong dibnluksn
untilk pek*{iaan yang ar*n di*ak.,kiln.

e)

Tordlrf dad s*kursrq*ursn*nya 30 cofiioh pcngujia*


beruruian ot8u dr,ls hebmpok

r""""""""8ksn

rata-rate parru

f*

yarg diguflak'n sebsgai da56f p'rnilihan pr,po*i

t70

rilui.$iE. di

ffis

aiau perssms,n ?

(1)

r'i *4+g'lSe-1,5

{2}

(2) Eila taeiiifas p6EdukEi bstsn tidak mampunya* cetsten

h&Blil

uji

l8pdngen untuk

parhitungan dBlsia$i stsndar yan! tri)mGfiilhi hetBntuan pada 7.3(1(1Il ai;ail 7-3{'{PJJ, makE
kuet lgta-mta p6rlu

fd

harus dftBtapkeft hErdas8rlmn Tab@t 5 d6n psnc8taten

dfik

huat rata-

rat6 txflftls s8st &i d8nflan pGrsyaratan pads 7.3{3}.

Tabel

r't'
I

Nurt telmn reid-rf,tq

p@rl$ Jihfi datE tld6k

tcr8odts

Entul( menotepl(afi d6rylasl st8ndof

--'-"
Po]tyartirn tuat tckan, f;
MFe

L _ __

]
i

Kurang

drri?l

t
il

21 sarnpeidsngan 35

--Lobih

&ri

35

3J

Kuatrato-rauportu

{1) x.,,!

#im

6tSU

30 Frrtoh pBrryujian Eaporti yens


dilstapkan pada 7.6{2(4}), hocuali sabogaimana yang
d;t6fltuk8n pad6 7.it.t{A}},
(2) Jika fosiritas produksi boron rid&k $onpunyai
caratan hasir u.ii yaog m'menuhi 7.3t1(1i),
teltpi m'ompunyai csr&ti'n u,i dari p6fl*ujr6n *'bsflyak 15
conrotl sampai ug conrDh Esr're
berurubn. mska doei&si s!6ndar dRenlur(En *ebagfii hasil pBrkarion
unlar' nirsi d'tissi
ltlafldar ya,' dihirung dan faktor rnodilikasi pada
Tabor 4. Agar daptrr ditedma, ma,,u catatan
hasll pengujhn yan! dlgunaksn harus momsnuhri por$yoratan
{atr daft {b) dan ?.3{1t1}}, don
ho[ye ma1t6Lili calEton turtggst dari pcrtsuiiin-pcngujian yang
bazu.u!fin dalam pcrfud8
r,,.aku tilok kuraog dari 4I hari kslondor,

camgumn boto* h,ru$ diambir $eba,i niti tGrOSSr


d'ri perBam'an
dorEen nilri dsvissi frandar sesuai dsngan 7.S(i{1)}
atau 7.3{1{Z}}_

tso{p[de ]qr$ hruds di

f" +'1,34s

p6ngu$an bsru'lf.an yaftg jum&ahflya


$rl(urens"tureflgnys

2)

ffitu8. F&t!*r

,remp*nysi csiatan

Fanc*totan dats kuet rab-rata

Catetan Ffoporsi @mpurEfl botDn yang diffiulkan untuh rnsnghasilkan kua.t t6kan rats-rato
yang ssnre at6u labih b8s8r dsripodE klet i&ksn rats*rau pBr{u (lihst 7.3[E]] hE ile tGrdki dar*
safu uetaton hasil uji hpangan, hEborape c6tstBn t!8Eil

pfircobsan-

t77

i4................j

k:[lf,t lokan, eteu h8sil uii carnpuran

l,attrl>irarr

tll

l,;rnrlririrr ,\

SNI 0:l-28.17-2(102

lNl t):t Ji'i l7

Jlx)J

BilB catahn uli dimaksudhar untsk rnenunjukkao bahe{a proForsi campurun bGlofl yarry

diurulltsn skan rnsnghasill(en nihf kuat rata-rEta per&r

f-

(fihat

I.3(2["

rsake caiatan !ar6e-

b$t haruB flistffekili maisri8l dan kondisi }ra$g mirip dqngan kofldigl dimana campur8n tErBE-

hut akan digunakan. PE.ubehari pada nxarerial. hondbi, den proporBi dari cetstan i8rseb$t
tidak psrlu dibuat fiubih katat dari yang akon dihdspi pada pekorjaan ,r8ng atffin dihhr/ksn.
Untuk tuiuen pcncat&tan pot8nsial kuat rata-ratE, caiatan heBil uji yEng

tstapi tidak tffrang deri

lsfailo deri g0

cofitBh

0w l6l8'p[ qa HrrtuBn
{qrJir36)

r 3d Enttrt ujr btutum

contoh perEuiian socara berurutan dapat ditsrirna Belama catalari


p6nguiian tollBbul rrBnc6kup poriodo waktu tidak kirrang dari 4E h&ri. prBpo{Bi cBmpuran
'10

14$

{Tidse
-" eaa

eoa

untuk 8)

bston yang diporiufan dapat ditentukan melalui intGrpolasi kuat t8t(an Gsn pmposBi d,eri dua
l.i,tu0g s dam lffiksi

atau lobih mntoh rdi yang mssifiU-masirry marnonuhi perBy&ffii5n pade butir ini.

mr{*unahan T&* *

(2) Jika tidak torBsdia

cateasn irasit uji ysog marftGnutli kdt@r{s, rp"ah8 proporsi sampure{r


bBton yeng diFeno{eh dari campuran pBrEobflon iraflg momenuhi batasan"batasan bsdkut

dspat d$Eiuftaken:

g)

Kornbinasi bh&n yang digunakan harus sama dengan yang diguns,kan Ff,da pekErja&n

yang ar(nn dilakuh8n.

b)

Garnpuran pemobson yang rnsmimki proporEi csnipuran dsn konshtsnsi yanq diperlukan

untuk pBkorjsan yang akan dilakukan harus dibuai rflonggun8kan sekurtsng-l(.lrsngnya r.tgE
j6nk, rasio eir-errnsn elsu lndungan ssnnon yng b6rbEda,brda ufituk rnsrghesilk&n sr,iatu
klEaran luat tekan bBton yang m8ncahBF kuet rat&rale

c)

porlu ts

Carnpuran uji hsrus dir8ncaflakan unluk ms,nghasilkan

tdust tsd(an .a&B{&'la Fgrlu


Es6sssn 1 etE{ 2

Kdd h*Bn ratE-mtE Fqtlu


de 'I8bsl $

dm

Te6drwa Gmlan lB@nBBD dr 3Bhdr6f,gffiFdrdl hEerl uS bffirutw den0fln


bah6n ytrxg 88@ dfl P.adE

Es6t ffipu&n

llecakan dengafi

ki3arEn

Fffioba&n

,tsng

meng8qna*En gBk.rBnq-{ffingft ligE


reE!, dtr-Men 6l8u &adEr bahs sman
yEf,E h8tdd sesi P.3,{3i!}}

Z0

nihi rnekgirnurn )femg dliziniffin, den unt{,}k beton d@rE6n behen tr0rnb&hsn
penBmbah udara, ktsaren kandungan udaraflya dihatosi 0,516. rrari kdndunoafl udara
mrn deri

old

msl$imum ysng diiainksn.

glafik k"4

pmpoGi

Bmpff

Bsn EEqlIt lsfDdBD


dan guks iFtBrpolEe

unuA nB4raptktr k@1 hfiafl .ara#t6

d)

l-lntuk sotisp r8eio air.Ea{nan stau hadar Bernsn" se*urerE-fturfignya haruB dibua, tlga
buah oontoh sitindor uji untuk ma$ing-rnasing umur uii dan dirawat sEBUai dongan SNI 03.

@rlu

E4$2-1S91, lilol$de p8mouat8n dan porau,rclon bonds r4i bston di /a0rysfonurn. Silinder
hsrljs diuri pda umur 28 tiari atau pada umOr uii )aang dilatspk8n untuk penenfuan

e)

f.

Osri hasl| uli cantoh silkder L8rs6but harus diplot kurus yaog fir8mpor{lhattsn huburEan

aritara lasio air-Be$BBn atau hsdar s8rn8n l8rhadap kust tclmn

@a

umur uji yailg

[uB{ iskan r&la{6ia


> kuqi rata{lfr
oadu

Sri*h tssl rdi*iila


6F*lng so#& tfirrrsn cdn
urd
]rFrrhsi
dldrt

qm&mn
Iiffir*;*p"d;
runurut p&6Bl ?.( imsnbu*Ih-

k*-:::.**

diistapkan.

f)

Ra8io airEmafl maksirnuril atau ldar aomsn minirfluri untuk b6toD yang aksn
digunakan ptsd8 p6trari6an yang akan drleltukan tlaru* Mp6rli yang dForlihsu(an pada kurva
untuk m&nghssitkon kual ratrB-rala yang djsyaratkan oleh 7"3i2), kmueli bila rasio air-sarnBn
yang lebih mndah 6tau lrust tal*an yang lobih tiirggi di$.yaraflMfl olsh pas{l E. ganxbsr 1
m8mpadihstkan diaqrern alir untuk perilrlcangan FrDporEi campuran.

t72

ParBtuNs

Bembrr

Dlogtain sllr untr* Perancsngf,n proporBl c,tnpuron

17:t

Larrrpirarr

FiNI 0:1,2u.17-20O2
l,:rntlrit:r,tt A

7"4 Faffinoongrn cerfipurdn ta|tpd borda*srlun {tdt{


lipf,ngsfl
cafirpura& Fefs6b&8n

1)

Jika da& !,fiils dhraratha,, peda

r.r

tid*k t.r*Bdia, rnaka pmporsr campuran

dteu

baton

harue ditsntul{en hafldasoriffin per*ohoan


Etau inf,rnasi lEiruryfl, bilemana hal t*r$obut
disatujui olsh 'peng.urs& rapangan. Kuat tek,fi
reta-rate p6rtu,
neton yEng dihs*in(srx
dsrigsn bahan lreng mirip dsnos, yang akan
digunakan harua sqkurang-.kur*rrymys B,b Mpa
lob& beear dedpada kuat tsrn
yeng di*yoratkan. A,rt*rnaiif ini tidak
hor'h dqlunsr*n

6,

f.

untuk beton dongsn kuat kkan yEng disyErstkEil


l8bih bEsar {reri Eg MFa.

2)

Campuran boton yan6 di,rEnc6.ng rnanurut hutir

RdduliBl

d'ts

'@r'rn,

perskaons'n h*nstruN*,. mak, driz,i&kan


untuk meroduk'i

f,

yang di8yaraUffin, seliama:

1)

umtuk 38rti8p 1?0 rml boton,

Nr.msan

psnnukaan lant!fl atau

dinding.

E)

Pada *ualu pehernEen pBngEcGron, jiko \slurn6 [o,t8[ adeish tsd8rn{ki8r} liiriggf, frtshu6nsi

psrlgulian ysng disyara[ken o]Bh 7-6{2111} hanyo skan manghssill(sn 1{Im.lsh tIi hEkuetsfl
bsron ku.rang deii 5 untuk sudtu tnutu batsn, mdks (gntoh ttji horu8 disirnhil dad paling sGdikit
yang dlgunalcan adalah kurang deti llma.
nnutxl bslofl yeng diguflel<am kurong

fst'-rsta

(4) Suatu uji k&at &kan herua merupokon nileii ku8t trkan
eilind@r ysng bf,rasal dari aduksn beton yang

dfiri 40 mi},

nneka

ril@lsbihi kstentusn

d*via'i s&fidar Ea$uar dafl0an

)), atsu

3)

r6h-r@tie dari dua oontDh ui{

' ama dan diiuii psda

FadE umur uj, yEng ditslepk&n untuk paflsfltuaft f;

um,ur hGtln ?B heri etau

Bonda uii y8ng dir6$rat di l,Eboratorlum

{1} Contoh untuk

Uj{ hutst

iekan han,s d{ambll rinenuru[

SNtr

03-2458- lgg'1, M&lhdd p8ngEtl.dn

d6n psn6Effi&Ian contufi unftllk sampurEn &olon,sagor.

!)

T6rs@i8 15
hilngga t9 c*nloh da& hesir u.r'i, dan ha*ir uji
rata_rata mohbihi
''ntofi
k't*ntuen y,ng diEy.rEflran oloh /.J(z{{}} yamg
dihnun0 fi}enggurrsr,n d*\dssi sianu'r

ff)

Bonda uii sflindcr yang diUunffk8fl untuh

ulr,

kuat [sken harus dibfinrnjk dsn dir&r#at dl

lflhof8tErium rnenu,rut Str,ll 03"4810'1SBE, ,Welsde, pombualan dsn p6lEwefon asfldfi r# dr

soBuai deflpan ?rB(1{?)}, dan

Jspargsr'l dan diu.ii rinsnurut SNI 03-{974"1990. Mo{ade

3)

{3) Kuot LBken

Pereyaratan khu8us mBngsnai pengsruh


lingkungan pqds

?.S

@at

6 diponirhi.

Bston hanrs diu.li dsngan ketantusn I.B{?}


hinsgs 7.fi{5}. Tettnisi pEngujian tepangon
yang rnomsnufii hu&tifikasr herue rnorarrukan
Fangujian botBn segsf di rokasi konetruksr,
rnenyr{p,sfl cofitsh-o*ntoh uii ei$ind*r yang
diporXukan @n mencatat suihu b{ton Esgar
Fsds

sa6t ,'ie'yrepk,n cofiich uji uniurr psngurisfl kust


t6kan. Toknisi kaboraturium yang
m*rnpuoysi kuer*ii{esi hanrs rnalakr&an s6mue penflujisn-psngujisn
raboratorium yan}

diBy8rstkan.

SBtiap n{lal ratB-rEis dari tigo

alau l6bqh bes*r dani f.

b)

r.{i[

ku8/ Ia*sn &a{oo.

kllst tEkan ]Efig b@nirotsn nnempunyfli nilar ysng ssma

Tidak ada nilai uli kusi tBkan yang dihflung seb,agai nilai rata.rata dari dua haeil uji

contofi sitindsr msrnpunyai nilai di bswah

f;

mrdkbihi {rsri 3,5 [4P4,

{4J Jnka a{ah Batu dflri perByeratan pEda 7.6[3{3}} td6k terpanirhi. mska herus diembi*
langkethlangkEh ontuk menifigkas(an hmil uii kuat tfi*(an ffita-rat0 psda @ns$coran b#tori
berihubrya. Foreyarahn pada

I-6i5I haru$ diperhstifl(an jlka kstantusn 7"6{3{3b}} tid8k

tsrpen$hi"

774

psruuleIl

Euqtu mulu broten dopat dihatagoriknn rnomenuhi syarst jika dus hfil horikut

dipGnuhi;

8)
Evrlu,esl dari potior{fi{st& beton

1l

Er*-.

fi&k kilrang defi ratu ccntoh 4i

stsrj tidek kursmg dari sotl] Eafitrsh u]i untu[ .ss{iap 50O m}

disstujul 0l8h psfig6w6s bparqsn"

Tc*s*. 30 conlorx ahu rsbih d6t& hasif uii, dan h,sil uji
yenQ dkyerstr*n orsh r.B{z(I}} yaflg
dihitun0 msnggw*kan
(1

Pongulian kEkrr&tfin rnasing*masln8 rnutu bcton yEng di[or stsii]ap he,rinya hen,stloh dad

satu contffi uii p'or hsr,i, otau

psnguiliam lruat lEtr(8n lidsk !.eflu dilskukan bils bukli tery@muhinya ku&t t8tu8n dissrslrkan dan

he&arnilsi salisihentara fH terfisdap

7 3(1

Frskuenei @ngujisn

('l)

{3} Jlka wlume tflisl d&r{ *uatu

kufi ret5,reti

*enB*n t.rs.disnys

2)

5 adul(eft fang dip&l{h sroar& acEk atau dari masiflg"maslnu adukBn bilernsn6 i$rnhah aduli'an

ini harus mamafluhi po*yaratan

ksEw8tar ped& pas6$ 6 dan kritoria pery0u$an kuet


iekEn psds f.6.

?,5

sN I o:t 2ri.17,2(x)2

775

Lzrrnpirtr.rr A

4) Fera1trat&n benda ujidi lepangan


tI l Jfta diminta ol6h ocflga.#Es lapan$an, mal(a

():t-2,\

lT

2(X)2

takannYs kurang dsri


Eda salupufl bB.r'on inti yang kuat

hesil uii

kr.{at

tekao hflda uii silinder yans

inii }?ng diambil dari ichasi yang

?5!(

(?f Fercuatan benda u1i di lf,p&ogari han{e

meng,ilruti

SNi 03-4818[!S98,

&delode

pEfmiu'atua drn pordrilEtafl b6oda uf di l8psngsn.

(3] Bonda-banda uii ciiindor yan0 dirarrrat di iapangan harus dicor pada wBhtl{

ysr}E

borsarnaan dan diarnbi! dari cDntoh adulmn betofl yqfig sama dengan y6ng d8unslcsn untuk

pcngswa$ lepangan

mae{h tnar8gul(,en' rntsha


1'dak dipenuhi dan hila tahdnan struktur
Nahansn strLtktur
tapangen
pBnguiidn
dapat maminH Untuk di*Bkukan

boton s,$uai d*nsen

ps*r

(5) Bila kriteria 7.6(5{4}}

yang bErrnas.rsh ter'ebut, atsu


22 untuk bagisn_b'giail stfuktilr

ysng disftggap tEFat'


rnsla*ukan {angkarihldngkstt leifi nya

di ia'borct$riu.rF.

pEnyirnpsfisfl
P6rslaFan psrslstan dan tamp6t

?.?

bstoB yaflff dirEwer di lapsngan msnahssilkan nilai

bton mGliputi hsl berik'ut:


P6rEiaps.n sBbs{um pcngasomfi

di

yanq kur&og d8ri 8596 huat rsk8r

laborsloriurn Batassn

8sor'o

tersebui tidak bsrlaftu jika

kuat tekan boion ysng dirawat di lopBnfsn mBnghaeilt(en flf{ai yang rns.lebihi

f,

ssbsBsr

rninimal 3,5 MP6.

Sl

trEnyelidtkan untut hasi{ uji kuat lBken bBtoo yan0 rsndBh

{1) Jihasuatuujrku6tts.kanfiihal 7.8{2{4})} bendailii silindsryang{tirsHeldi

{'[

dan prnganskutan bstoff] hefiJs bemih


Sornua peralatan untuk peniarnpuran
ydrg ahsn diieiblsn'
dihitangtm dad *etskan
Semua sarnpah etau N(otaraft harus
diboflgkar'
mudah
n6hiflSga
penftuka'n
Ceteksn frarus dilapEi eol pelumas
sog6r h'arus daliarn
hoton
d6n8an
bersfltuhBn
dinding bata F8ngisi yEng aksn

(2)
(3)
(4) Bsakn

kondisi basah
{sborst{}rium

(5)

dari lBpisan yang mtsngganggu'


Tulangan harus hariar'bonar berBih

mengtlasilkem nilai di ba{s6h fo saboear minimsl 3,5 }ilpa Uihar 7.6{3{3b[1 atau bilE $ji kust

(81 Scbelum

lakan baBd8 uii yang dirayrat di tapangan

tfamlG.

msnun.Jukkan huranffnye parlindunEam dan

pera$ralan psda bend5 uJi ilthat 7.6{4i4)}1, maha harus drilekilhafl anaflieis untuk refljamift
behr/r,e

{2}

TsmbEhan Fengujiaft b8toil

b6ton inti yang tidsk


irnednpartiha&an hssit kBhuatan

(4) Prosdur unluk pei[induflgan dafi parawBtafi beton hBrus dip8rkBtat .iika kuat i8kan
bBtsn pBmbanding ysng dir5u,rEt

f;

bBraturn diperbclohhEfl '

dirayrat dl trapangan ha.rrs dEiapkan.

r,.ii

sNl

l,:rtttgritittt A

sN I ():t-2f{.17-2()(}2

tahenan struktur dslsrfi mem,hu{ bsuan rnasih dalafii bat{E yanB aman.

Jfka kepastiafl nilai kust lckan baton yeng rendah tBlah diito[ahui dan ha8il Frhirun0an

bila
dati mmpat parigecorart'kecuali
b@ton dicor, a*r halus dibuang

digunclsfl

\-

yEng h$ali'tssnye hur&ng


permukaan yarig dapat 16p65 6tsL/
Sarnua k8toran dan bagian
p@finukaan bstqn yaftg
pada
pngacoran laniulen dilakukan
baik hanns dibors*hkEn Babslurn

{7)

tolah mangsras.

rBonuniukkan bah\rna tahanan struhtur dalam m8rnik4Ji bebsn bsrkuraflg Beeara signitiL8n,
makE harus dilakuksn uii contoh bstcm uji !,tsfltg diarnbifi dsri da$rah yaflg digsrnrasaletlks0

sesuai

Sf"dil

03.?4SAlgg1, /t6lsdB psrlgsmbilan

{tatsd6 pefigujian

&LsJ

/skan &eton

lItli

b@rldo l4i bsto') ifiri dan SNl 03"3403"1994,

Pada uji conldt betoa inii tsrBabul haruB diambit

paling sddikit Uga benda uji untuk sBriap uji kuat tef{an yang msrnpunyai nil8i 3.5 MPs dt
bowsf, nilai parsyoratan

(3i

fi.

P6nctmPuran

eoluruhnya
sBcarB $Gksanna dan harus dituaogktn
Eanrua b8han hshn halus di8duk
sehelum pencampur diisi ksrnbali'

'l)

SNt 03'4433-199?'
dan dbntarl(a$ sesuai p@rsyaratan
Eoion Biap Falffii hsrus dicflmp'Lir
psfiatsran
yfrflg
dibunt
Dstsn
"spesfikasr ufl'tul(
'J"t?8/8ilJ'r
Sp6$fl&flsi beton si'p p8/'[ stEu

2)

Blla beton pada struktur bsmda datam kofldfBi ksring

uji bston inti harlr8 dlbuat kqflng uddrs (pada tfimpsretLir

masa layan. ftakE bcnd,a


hingga 25 eC. kelembebafi

s.@lan'ra

15'tr

re{stif kl{r&nt dari B0n6} EB[erna 7 hari sehelum pcfigl{jran, dan haru$ diuii dalam kondisr

koring. Eita belsn pada struklur harada pade kB&dasn sangat bseah selama mssa leyen.
maka bstori inti harus dirandafl1dalarn sir $sk,sfang"kurangnya

40 jam dan liaru* diuj, dalern

(Asflsrl C 6851
wirrms dan pcncsrnpilron rnsnsrus"
haru5 dib{6t s'ebagai berikut:
Aduksn helon yang dicarnpur di lapaflgaft
mt"n
rnfin0gufiakgn lanis p&Ilcatflpur 1L*g
daflgan
('l ) Poncompuran haru6 dilsisrhsn

3)

disotulu!.

kond*si bilsah.

(4)

,.8

Beton pada daBrah yeng dffdakili o{sh uii betBn,inti harusdionggap cuhup sscara struktur

jika kuat iokari rala"rats d&n tiga bston inli sdalah minirnal Ef,Ir,a dBnqan Bs+b

176

f;

dan tidak

yang dissrsilkEn olsn pahik


diputer dnEan l(ecEflaR
{2) Mesln pancampur harus
psmbuaL

177

l,arrrl>iliur A

sNI

0:t-28.17_20()2

{3) Fencarnpuran haius dirakuk,fi saqara tfif,s


rnanitr ssfs*aln s&mufi

bah,fl b,r,da dalam

/Tl&n&nJa saianra sokurang-hurangnya


1}g

\r{,sdsf, Fanrempur, ks{uali hila dspat


diperlthsr'ft bohv/e waktu yeng r*bih
singkat dspet msrnenuhr pers]amren $ji
ksser,gsf,en

cEtrprurax] SNI 0A"4430- I

SSI, Spmffiks6{ &Bler} siqp ps,kei_


Fongoliahan, ps,{ukaran, dan p*fluampura&
bah6n herue m*i},sflqhi atu{En yaftg beilEt{u
pe.dfl Sf',} 0E-4438- f gSI,
S,e@,sffifta$, beaorl

(4)

-qjep

{$} Eatamn riilEi herus disinpan

s)

oetflj-

dongen dsifl_daia yaa8 flrellFutij

bJ

prspnnei bahan yeftE digilnakffni


pErkirEan lokasi pomgecbrsn psds
Etrukiur:

Permukean ata8 c8taN(ao trBflikal 8sc&rs u{ilum trrxrus datar.

7l

JikEdisGrtuk naiarpElat(ssnaan,rflslcasatr?bungsnharusdibuatsseuaiS.4.

8)

Sumua bston harus dipadstkan sscre rnsnyeluruh dsfigon msfiggunak8n p8raletrn

yang s86usi Bsl6[fl4 pan{&Eoram dan hafl.rE diopsy&kan rn6ngbl Esl$lfling tu&*rEEn dBR
Beturuh Esl6h dsn m&stlk kts 8ernu8 sudut sataftsn"

7.r{

tanggal don rvaktu pEnsampuran daft pBr,fiseo.ran.

?.tl

Fongentarulr

Eernn hflrus di&nterksn ddri tGrpFat pBncarflpurarn


k6 lokaci p8ngE@rsn d8figan carE_
depfi rnenssgEh t8rjadifiys pBmisahfln
{segrqlasj} atau hitampn}a bfihafl.

2)

Psrslatfin pengantiar haru$ marnpu


nrenganbrkan betsm ko ternpat p@ngoeordfl
isftps
pemisahaft bahan dsfi lsnpfl
s6ie ysng dspat ff.engakib&tan hi$engny,e plaetisita$
carnffl{En_

l.{0

Psrerr5ilsfi bsti}il

B6lon {sstiain bEton kusl a$.4[ tiogQi] h&ruB direilrat psda suhu di ata& t0 @C defl dslsm
kondlsi lBrnbsh untuk sekjrang-kuraflgnya aa&Bma 7 had setBtah pruacqran- ks{r}ali jika
{

dir8$rEt rnBn0rut 7. I 1{5}.

cara y6flg

Batan kuat avrd tinggi heruE diral#st pada sutffl di s!68 I 0 'C dEn d*lsrfi kondi8i bmbsh
untu[ sekureng-kuran*ny8 sslarr]a 3 h8d pBrtiams kscuam jihE df8wat meiiurut 7,1 1{3}-

?f

3)
(1 |

F$ro#etan{ipsrcspEt
Parauretan dangan uo8 bcrtBlnen tilligi, psflSl.I8p8n pada telnsn atuno3fir, panss dan

lBrnbab, atau prosss lalnnlra y&rq dspat diletirn8" depgt d&lakuksn untuft rnempsrwgst
p6ningkatan kakuetEn dan rfiBn$urangi wakhj $elarvaten.

Frngecorun

1)

Befon h&ftls dicor sedskal mungkifl pada posisi


akhrmya untuk mefighindEri tffledinye
s@grou8s.i skibat panangsnan kBenbarli
atau ssgraga5l Ekitet pengal*mn_

2]

Pengemran betDfl haruc dilekuhan dengan


ketroFaton sedGiltildan hingga heton sslar
p*nseoar,n tsrsabut t*tAp dsl*rn
k*ildson prastis d6a dsngan mudah daper
m'ngri fusng di

&ntara tljlang&n.

3!

Beton !'a[,g t*rf,h ,rerxgEr&* sob,friafl


at&u bBtsn ysng i*i{rh terk,Brarniftasi or6h
bahan
ls4n tidak bsleh digurrlakEfl untuh pEngErfir8n.

4)

6)

jurnlah adukan yang dihssitkdfl,

t)
d|

'tr)

sN I 0;r-2fr,t7-2(X)2

l,rrrnpirirtt A

{I}

.ku8t l6han
Percopetan urglritu pBrat{aian her&ls mernborilifin

hqbn

@8

t6fi8p

p6mbBbanafl yang ditifijEu s6kuranB-hurangny estna dBngen kust sEnciila porhi

@B

hehsp psmbabafl an tersobut-

(3) Frosou

peretr,alEn harus s8domikisn hiflgg,s bston ysng diilssiksn momputly&i tingkat

ksawatan p8ling tidah same dsngan yang dihesitkan olBh rndtods prswatsn psda 7.rl{1)
ater, 7-'11{21.

4) 8ih

d.iperlulcan

d8n

Fan0i rr/ss hparlgsn" rn8ka depsl dihkukan pBnambahen uii kt El

tokafl b6!on se$.lai dsilgiafi 7.6{4} untuk rnonFunin h6hws pm88s p,Brswatefl

}ang

iknkukEn

tElEfi msmonuhi parEyarat&n"

Bet*n yong

ditBmbatt ain iagi flrau bstsn yEng telah


dicampur utaftS sEtelaill p.engikaton
ewal l$dak bo&h diuunaksfl, ketruali
bile dis&tuiui obh pet&awas lispangaa.

$)

Setslsil dimuiainya peEgecoran. mska pengficoraat


tersBbut f,snj.B diiskLrksn secsre
manarus hingga r*eogisi ee*ara pcnuh pon4l
alau psn,&mpeflg eampai batesnya, atau

ssrnbuirgsfl yang ditEtapksn sEba06{rnana


yanE diiein*(arc q[Eu dilarsng piah g.4.

178

?.{l FefiyrmtDncu6captn&
Sehrna cusca panas, p6tttatisn harus lqbh dihdln @a bshan das&r, cara IHEdul(Ei.
p*nang8nan, pangoc;onrn, prtindung8n" dan p6ra'rlatf,n iltrtuk mslxs8gsh t6risdiny&
tBrnpsratur b6ton atau ponuapan air yang b8rlet*han ysru dapat max&h6ri pBn$sruh nggstif
peda rnutu botom yang dihs8ilksn EtEu psd8 komampuar! l8yan kornponfift atau shuktur.

17!)

fndex
AH, B
AK, 8
MPa,25

fl,,
f'"r,

Air campuran,
BO5, 86

47
47

cL25,7,129
c136, 14, 722
c150, 12,63, 727
c232,735
c29,722
c31,120
c33, 113, 128
c3g, 15, 17
c403,132

f'", 47
n,r 35
rL1, 74

n2,74
p,48
s. 33. 34. 47.72,74
s1, 74

s2,74

C42M, 84
c4g4, g, 131
c685, 39-47

ACI
277.1,777
2t4-3R,48
305R, 131, 135
116, 138
318, 25, 35
Admixtures, g, 14
Agregat, 13,50
Agregat Halus, B
Agregat Kasar, 8, 56

14, bT

ASTM

cg4,77g
Awet, 60

Batu Pecah,

Keawetan Betorr, 60, 79


Kehilangan Slump, 130
Kekuatan, 9
Kelecakan, 78,725,129
Kelernbaban, 15

Definisi
agregat, 8
agregat halus,
agregat kasar,
beton, 8,727

Kerikil, B
Klorida, 58,
t27

Kornporren, 8

B,

127

Konsistensi,l29
Korosi, 61
Kualitas, 60, 73, 103
Kuat
Geser Beton, 10
Karakteristik Beton, 10
Tarik Belah Beton, 10
Kubus, 26

kerikil, B
mortar, 8
pasir,

semen,

Deliverv, 136
Delivery Ticket, 41
Distribusi Normal, 44
Doket, 38,41
Drurn Perrgaduk, 1l)8

Empiris,

62

B,

Lingkungan, 60
Lokasi, 86

11

Faktor pengujian, 16
Faktor variasi deviasi stanclar,
20

Media Pengikat, B
Mix Disain, 113
Modulus Elastisitas, 10

Mortar, B
Mrrtn, 27,

35

Frekuensi,28, 80
8

Beton, B
Beton Ekonomis, 32; 34, 38
Beton Normal, 10
Beton Segar, 40,126.
Bleeding. 134

lBi)

Carrrpuran, 50, 68
Cerrrentitious, 61
Clrernical admixtures, 9, 74
Contoh, 51

NDT,

146

Gradasi, 128

Hidrasi Semen, 128


Irrdikasi, 73
Inspeksi, 42

Pasir, B
Pasta, 127
Pasta Semen, B
PBI 7L,24
Pemarnpatan, 139

181

Penempatan,lZT
Penetrasi, 132
Pengantaran, 136
Pengawas, 29,42
Pengikat, 8
Pengikatan, 132

Syarat

Batas Ion Klorida, 64


Batas ion klorida, 5g
Keawetan beton, 60
menentukan f!,, 48
Penerimaan, 2g
Uji Beban, 143
{-}kuran maksimum AK, b6

Pengu.jian, 16

Percobaan, 7l, TT
Probabilitas, 46, 20,
Proporsi, 11, 50

Daftar Pustaka

B0

Quality Assurance, 40

Temperatur silinder. 16
Tipe semen, 12
Toleransi umur uji, 18

Rasio, 12

uji,

54, 55
Uji Beban, 143

Rasio air-semen, 12,61

Remixing, 131
Retarding, 136
Retempering, 131, 138

Vibrator,

13g

[1] ACI Comrnittee 211. ACI 211-1, Standard Practi'ce for Selecti,ng Proport'ions for Norrnal, Heauy Wei'ght and Mass
Concrete. ACI, 1991.
[2] ACI Committee 305. ACI 305R-91, Hot Weather Concreting'
ACI, 1991.
[3] ACI Committee 318. Notes on ACI 318-99, Bu'ildi,ng Code
Requi,rements for Structural Concrete wi'th Desi,gn Appli'cati,on. Portland Cement Association, 1999.

Segar, 40

Segregasi, 134
Segregation
See Segregasi, 134

[4] ASTM Committee C07. ASTM C 150-02, Standard Specifi'


cation for Portland Cement. ASTM International,2002'

Semen, 56
Semen Portland, 9

t5l

Sementitious, 61
Setting Time, 132
Silinder, 25,27, Gg
Slump, 130
Slump Loss, 130, 137
Standar Deviasi, 34
Standar deviasi, 33
Sulfat, 67, 62

t6l

T82

ASTM Committee C09. ASTM C 403M - 99, Standard Test


Method, for Ti.me of Setti,ng of Concrete Mi,rtures by Penetration Res'istance. ASTM International, 1999.

ASTM Committee COg. ASTM C 494M-99, Standard Speci,ficati,on for Chemi'cal Admi,rtures for Concrete. ASTM Interrrational, 1999.

183

[7] ASTM Committee Cl)g. ASTI,'[ C 1.?6 01, Stan.dard Test


Methorl for Si,eue Analysi,s of Fi,ne and Coarse Aggregates.
ASTN{ International, 2001.
[8] ASTM Committee C09. ASTM C 39lvt - 01, Standanl Test
Method for Com,press'iue Strerr,gth of Cyli,ndri,cal Concrete
Sytec'irn e'ns. ASTM International, 2001.

C09. ASTM C 685M 01, Standard


Concrete
Made by Volu,metri,c Batching a,nd
for
C ont'inuous Mi,ri.ng. ASTNI International, 200 1.

[9] ASTM Cornrnittee


Specifi,cation

[10] ASTM Committee C09. ASTA,I C 805 - 02, Stan,dard, Test


Method for Rebou,nd Nurnber of Ha'rdened Concrete. ASTM
International, 2002.

Umum' SNI 03-1974-1990' Metotla Pengu[16] Dinas Pekerjaan


PU' 1990'
.iian Kuat Tekan Betort'
Umum' SNI 03-/t810-1998' Metoda Pcrnf17] Dinas Pekerjaan
Beton tli Lo,panlan. PU,
buatan rlan Per,a,watan Bend,a Uji
1998.

Be'
SNI 03-/t433-1ggg' Spesi'fikasi'
Umum'
Pekerjaan
Dinas
[18]
ton SiaP Pakai'' PU, 1999'

Urnum' SNI 03-21Lgg-2002' Metoda Pem'bu[19] Dinas Pekerjaan


d'i' Laboratorht'm" PU '
atan d,un Pera'uatan Benda uj'i Beton
2002.

Umum'

SArl 03-6815-2002,
PU, 2002.
I[engeno,luasi' H asi'l Uii' K eku'atan

l20l Dinas Pekerjaan

[11] ASTN'f Committee C09. ASTM C 125-03, Standard Definiti,on of Terms Relati,ng to Concrete and Concrete Technology.
ASTNI Internal,ional, 2003.
[12] ASTM Comrnittee Ct)9. ASTM C 3J-0.?. Standard Spccificati,on, for Concrete Aggregates. ASTM International, 2003.
[13] Panitia Teknik Konstruksi dan Bangunan. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gernyta u.ntuk Bangunan GedrunQ (SNI A31726-2002). PU, 2002.
[14] N'Iehta, P.Kurnar, Monturo, and Paulo J.M. Concrete Structure, Propert'ies, and Matertuls. Prentice Hall, 2nd edition,
1993.

[t5] Purwono Rachrnat, Tavio, Imran Iswandy, and Raka I.G.P.


Tata Cara Perhi,tungan Struktu,r Beton u,ntuk Bangunan
G edtrng ( S N I 03 - 2 B lt 7 - 2 0 0 2 ) D i,len gk ap i, P e n j elas arr, ( S - 2 0 0 2 ).
ITS Press, Surabaya,

2007.

r84

185

Tata Cara

Ary4Pr..-.h4,
Prof [r. Racl'rnrat Puru,ono. NISc. tP-L] FL\KI
aclalah gurru Lrcsur lLrniritas biclang honstrrrksi
lJctr>n Bcrttrlang clan lJctr>r-r Pratesans di ITS
Sr-rral>a1,2. l.ahir cli Jomlranq pacla tahun 1932.

'l'cl.nik Sipil dipcrolch cli l'l'1) pacia


tahun 1954 1959, dzrn N{aeistcr (NISc)
ciitcnrpr-rh rli Univcrsirr' oi W'isc, rnsin,
N{aciison, pacla tahun 198()-1981. Di sarnprng
ffi
itu pcrnah mcnclapat pcncliclikzrn tambahzrn
entara lain satu tahun clalarr-r l>iclzing I{onstruksi Rctr>n llcrtr-rlang
(KBB) clan Bcton Prategang (KBP) cli Ttl Delft, I3elancla, pacla
tahnn 1967 /19(r8 clan satlr tehLrn )uua rlalan-r bichns lndustrial
N{anascment cli LPPNI Jal<arta rlan L-lrir,ich N{anagerncnt (lentrc cli
L<rncl<rn pacla tahr-ur 197 1 / 1972.
S'.rrjana

l)cngirn lzrtar bclakrrng pcncliclikan rcrscbr-rt cli atas, Prof. Rachmzrt


sclama bergaburnq di .Jurusan f'eknil< Sipil, FTSP lT'S, mulai tahun
1962 sampai pcnsion pacla trrhun 2()07 pct:nah mengajar matzr
pclajaran IitlB, KBP, Bcttin'l'el<nologi, l)asar-drrsurr Nlanaicrr-rcn clan
Pcrilakur Dzrktail Fllemcn dirn Struktur lleton llertulans.
Scmasa zrktif terscbr,rt, Prof-. Rachmat juga ikut bcrkontril>usi scbagai
lrn(qg()ta rlalam panitirt pcnYusuorn pcrr)turan pcraturan r.aitu (1)

Pctaturran Bcton lncioncsia (P1]l) 1971 dan (2) SNI 03-2847-2002 ;


(3) Tata (lirra llcban l)csrrin N{inimr-rtn untcrk Geduns clan Strlrktur
t.ain (1)SN R Stl-l 2)
Selama cli ITS, tugas institusional yang pcrnah cliiabat zrntara lain,
Pemlrantu Dekan I FT'SP, Ketua Pclaksana Ilarian [.APlTS, Iietua
Biclang Penscmbangar-r 1TS, I{epala Lab. Beton & Bahan l}.angr.rnan
Jr-rrusan Teknik Sipil I.1SP iTS, PR IV Bidang Pengembangan ITS,
Pirnpro P3-ITS, Depu4, Pr:ojcct N'Ianaser lT'S ADB clan PR 11

lllrlrrrrri,\.lrrrlrrrslr;r.,r I rrrrrrrr l'l'S. tlrrn lt,r.;r1, 1r1.st,1,,11,.11 \.rr.r I,rrrrl,,


l ,lrlr,r':rl.r'i Lrlrr lJr,lr )l) (lir) IJ;rlrrrrr ll:rrrurrrrrrrr, l,"l Sl,
l,l S.

Setclah pcnsir-rn, sclai, rrcr'LrsLrn btrkn ini, prrL llachm^[


tcl,rlr
menerbitkan 3 buku, \,zritr-r :
1. Pcrenca.naan Struliturr Bcton Bertulang Tahan (icmpa Sesuai
sNI-l726 dan sNI-2847 Tcrbaru, Tahun 2005, Ecrisi I{etiga
'Ihhun 2008, iTSprcss.
2. '[ata Cara Pcrhitungan Struktur Bcton
unftrli l]angunan

(ieclung (SNI

-).

03-2847-2002) DILF)NGKAPI
PIINJIiIASr\N (5-2002), Tahun 2007, tTSpress
E'ah-rasi Ccpzrt Sisten-r Ranglia pemiktrl N.{omc' Tahan

Gcmpa, Tahun 2007, ITSpress

l)t.

l'rr1,, \ti rrrtrrt.rrrlrrrlr 11 l:rr Sl tt.lirrili sipil


rli I'l'S ()7. 52 tli t'l'lJ 2002 rlarr sclar cloltor cli
Tcchr-rical []r-rir,crsitv ol (]raz tahun 2(X)(r.

Sejak tahun 1998 beiiau menjacii doscn retap


jutr-rsan tclinik sipil ITS clan saat ini rncngajar
rli SI rnrupun prscesarjrne.

Sctclah licmbali dari Grtz, bcliau sempar


ditunjr-rk mcr-rjadi seliertaris jurusan Tclinil<
Sipil, N{R (Nllanajcmcn Rcprcsentativc) IS() (International
()rganization for Stanclarcltzats<n) cli
Jurusan Teknik Sipil 200(r dan
I{epaia Laboratr>riurn Bcton dan Bahan Bangunan ITS di tzrhun
2007.
Pcngalaman provck ),ang telah clilakukan'diantaranva analisa struktur

bangunan bcton 4 lantai untuk bank dan rcstauran di Surabaya,


analisa perbaikan water tank di Riau, analisa strlrktur warchouse di
Jakarta dan analisa hontrol kualitas clari prolrsk pembangunan
chimncy cli Paiton.

Bebcrapa mata kuliah ),ang pernah cliampu

diantaran)ra:

pcmrograman komputer, mekanika bahan, mekanika statis teftcntu,


bcton pratekan, optimasi di tcknik sipil, artificial intclegencc dan
teknik pcnulisan ilmiah.
Selain rncnjacli anggota HAKI saar ini Dr. Pujo juga
anggota ACI (Amcrican Concrcte lnstitute).

aktif

sebagai

Anda mungkin juga menyukai