Anda di halaman 1dari 33

PENGARUH TERAPI BERMAIN DRAMATIK PLAY TERHADAP

INTERAKSI SOSIAL ANAK PRASEKOLAH YANG MENJALANI


HOSPITALISASI DI RUANGAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH UMBU RARA MEHA WAINGAPU TAHUN 2012

OLEH
MARLINA MEDO MARA
NIM 1102115026

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Anak : unik, aset
bangsa, penerus
cita2 bangsa

Faktor
perkembangan
anak menjadi
perhatian
pemerintah

Reaksi
Hospitalisasi

hospitalisasi

Mempengaruhi
Tumbang

Anak Prasekolah :
3-6 thn : interaksi
sosial luas

Rentan Sakit

Terapi
Bermain
Next

STUDI PENDAHULUAN
1.Pada bulan Agustus thn 2012 melalui
observasi dan wawancara didapatkan bahwa 5
dari 10 anak tidak kooperatif terhadap
tindakan keperawatan yang diberikan seperti :
pemeriksaan fisik, injeksi, pemasangan infus
dan pengambilan sampel laboratorium
2. Di ruangan anggrek tersedia ruangan bermain
tetapi tdk pernah digunakan, hanya digunakan
apabila mahasiswa praktek

RUMUSAN MASALAH
Apakah ada pengaruh terapi
bermain dramatic play terhadap
interaksi sosial anak prasekolah
yang menjalani hospitalisasi di
RSUD
Umbu
Rara
Meha
Waingapu tahun 2012?

Umum

Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi sosial
anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RSUD Umbu Rara Meha Waingapu
tahun 2012.

Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik responden.
b. Mengidentifikasi interaksi sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi
sebelum diberikan terapi bermain dramatic play.
c. Mengidentifikasi interaksi sosial anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi
setelah diberikan terapi bermain dramatic play.
d. Menganalisa pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi sosial
anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi sebelum diberi terapi bermain dan
sesudah di beri terapi bermain dramatic play.

Manfaat Penelitian
1. Teoritis
1) Memberikan masukan kepada rumah sakit, khususnya ruangan Anggrek dalam
memberikan asuhan keperawatan pada anak prasekolah dengan memberikan terapi
bermain
2) Bahan masukan dalam memperkaya asuhan keperawatan pada anak prasekolah
3) sebagai sarana untuk memperkaya pengetahuan keperawatan khususnya bidang
perawatan anak

2. Praktis
1) Menambah pengetahuan bagi peneliti
2) Menjadi rekomendasi bagi perawat untuk melaksanakan terapi bermain dramatic play
dalam meminimalkan dampak hospitalisasi
3) Dapat menambah informasi serta memperkuat teori tentang terapi bermain dan
perkembangan anak dalam hal ini interaksi sosial
4) Dapat berguna untuk menambah pengetahuan masyarakat khususnya keluarga dan
anak prasekolah tentang terapi bermain dan interaksi sosial

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Perkembangan Anak
Prasekolah
1.
2.
3.
4.

Pengertian
Faktor yg mempengaruhi
Jenis Perkembangan
Karakteristik Perkembangan

C. Konsep Terapi Bermain


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengertian
Fungsi
Faktor yg mempengaruhi
Jenis-jenis permainan
Prinsip2 dlm aktivitas bermain
Bermain bagi anak yg dirawat

B.Hospitalisasi

1. Pengertian
2. Dampak
3. Upaya Mengurangi
D. Interaksi Sosial
1. Pengertian
2. Faktor2
yg
mendasari
terjadinya interaksi
3. Bentuk interaksi
4. Jenis interaksi
5. Syarat terjadinya interaksi
6. Interaksi sosial anak

E. Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play terhadap interaksi sosial


anak prasekolah yg menjalani hospitalisasi

BAB III
KERANGKA KONSEP

KERANGKA KONSEP

KERANGKA KONSEP.docx

Variabel Penelitian
Variabel independen :

Terapi bermain

Variabel dependen :

Interaksi sosial anak prasekolah yang


menjalani hospitalisasi.

DEFENISI OPERASIONAL

DEFENISI OPERASIONAL.docx

HIPOTESIS
Ada pengaruh terapi bermain dramatic
play terhadap interaksi sosial anak
prasekolah yang menjalani hospitalisasi
di RSUD Umbu Rara Meha Waingapu
tahun 2012.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

JENIS PENELITIAN
eksperimen dengan rancangan penelitian yang
digunakan adalah pra-eksperimen dengan one
group pre-post test design
KERANGKA KERJA
KERANGKA KERJA.docx

BAB V
HASIL PENELITIAN
DAN PEMBAHASAN

HASIL
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin

b. Karasteristik Responden Berdasarkan Umur

Hasil Pengamatan Terhadap Objek


Penelitian
a. Interaksi Sosial Anak Prasekolah Sebelum Diberikan Terapi
Bermain Dramatic Play.

b. Interaksi Sosial Anak Prasekolah Setelah Diberikan Terapi


Bermain Dramatic Play.

Analisis Pengaruh Terapi Bermain Dramatic


Play Terhadap Interaksi Sosial Anak Prasekolah
yang Menjalani Hospitalisasi
No

Interaksi Sosial
Sebelum Terapi
Bermain

Sesudah
Terapi
Bermain
(Baik)

Sesudah
Terapi
Bermain
(Cukup)

Sesudah
Terapi
Bermain
(Kurang)

Total

Baik

100%

3,3%

Cukup

18,3%

18,7%

53,3%

Kurang

38,5%

53,8%

7,7%

43,3%

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh terapi


bermain dramatic play terhadap interaksi sosial anak
prasekolah, maka dilakukan uji statistik Wilcoxon
signed rank Test dengan bantuan media komputer
dimana hasilnya menunjukkan bahwa tingkat
kemaknaan = 0,05, dengan nilai (p) yang diperoleh
sebesar 0,000 dengan demikian H1 diterima. Maka
dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang
signifikan terapi bermain dramatic play play
terhadap interaksi sosial anak prasekolah yang
menjalani hospitalisasi di ruangan Anggrek RSUD
Umbu Rara Meha waingapu tahun 2013.

Pembahasan
1. Pola Interaksi Sosial Anak Usia Prasekolah yang Menjalani
Hospitalisasi Sebelum Pemberian Terapi Bermain Dramatic Play.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa interaksi sosial anak
usia prasekolah sebelum diberikan terapi bermain dramatic play di
ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha adalah sebagian besar
cukup (53,3%), sedangkan interaksi sosial baik hanya 1 orang (3,3%).
Hal ini disebabkan hospitalisasi yang dialami anak, dimana anak
harus berhadapan dengan lingkungan yang baru yaitu rumah sakit
dan berpisah dari lingkungan rumahnya serta dilakukan segala
macam prosedur di rumah sakit sehingga anak merasa takut, stres,
dan marah. Dengan demikian tidak dapat berinteraksi dengan
dokter, perawat, dan pasien lain di ruang rawat.
Stres karena penyakit biasanya membuat anak menjadi kurang
mampu menghadapi perpisahan, akibatnya mereka menunjukkan
banyak perilaku cemas dan protes (Supartini, 2004).

2. Pola Interaksi Sosial Anak Usia Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi


Setelah Pemberian Terapi Bermain Dramatic Play.
Interaksi sosial anak setelah diberikan terapi bermain dramatic play di
ruang Anggrek RSUD Umbu Rara Meha sebagian besar baik yaitu
sebanyak 19 responden (63,3%). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang
menjalani hospitalisasi memperlihatkan karakteristiknya yang sebenarnya
sebagai anak usia prasekolah. Dalam hal ini sebagian besar anak tersebut
dapat berinteraksi dengan dokter, perawat dan pasien lain di ruang rawat.
Pola interaksi sosial yang kurang juga masih ada setelah diberikan terapi
bermain yaitu satu orang (3,3%). Hal ini masih dipengaruhi oleh
hospitalisasi yang dialami anak tersebut, sehingga timbul perasaan takut
dan cemas. Khusus anak ini didapatkan informasi bahwa kedua orang
tuanya sedang bekerja di luar daerah dan selama perawatan didampingi
neneknya. Ini berarti anak merasa kehilangan orang yang paling dekat
dengannya yaitu orang tuanya.
Menurut Supartini (2004), salah satu faktor yang mempengaruhi reaksi
anak selama hospitalisasi adalah sistem pendukung yang tersedia.

3.

Pengaruh Terapi Bermain Dramatic Play Terhadap Interaksi Sosial


Anak Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi.
Interaksi sosial yang terjadi pada anak usia prasekolah di ruang
Anggrek RSUD Umbu Rara Meha Waingapu mengalami perubahan
setelah diberikan terapi bermain dramatic play, di mana dari 19
responden yang interaksi sosialnya cukup sebelum diberikan terapi
bermain, sebagian besar (18,3%) mengalami perubahan menjadi
baik. Kemudian dari 15 responden yang interaksi sosialnya kurang
sebelum diberikan terapi bermain, 38,5% responden mengalami
perubahan menjadi baik dan sebagian besar ( 53,8%) responden
berubah menjadi cukup. Perubahan ini menunjukkan bahwa terapi
bermain dramatic play sangat berpengaruh terhadap interaksi sosial
anak prasekolah yang sedang menjalani hospitalisasi.
Aktivitas bermain yang diberikan sangat membantu anak untuk
mengurangi rasa takut, cemas dan stres yang dialami di rumah sakit.

Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar


berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara,
dan belajar nilai sosial yang ada pada kelompoknya. Hal ini
didukung oleh Supartini (2004), yang mengatakan bahwa
aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak di rumah
sakit akan memberi keuntungan, salah satunya meningkatkan
hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat.
Pengaruh terapi bermain dramatic play terhadap interaksi
sosial anak usia prasekolah telah dilakukan uji statistik
Wilcoxon Signed Rank Test pada tingkat kemaknaan = 0,05
dengan nilai (p) yang diperoleh sebesar 0,000 dengan bantuan
komputer. Karena nilai (p) lebih kecil dari nilai (), maka H1
diterima. Hal ini menunjukkan ada pengaruh yang signifikan
antara terapi bermain dramatic play terhadap interaksi sosial
anak prasekolah.

BAB VI
KESIMPULAN DAN
SARAN

KESIMPULAN
1. Pola interaksi sosial 30 responden anak prasekolah
yang menjalani hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD
Umbu Rara Meha Waingapu sebelum diberikan
terapi bermain dramatic play adalah baik 3,3%,
cukup 53,3% dan kurang 43,3%.
2. Pola interaksi sosial 30 responden anak prasekolah
yang menjalani hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD
Umbu Rara Meha Waingapu setelah diberikan
terapi bermain dramatic play adalah baik 63,3%,
cukup 33,3% dan kurang 3,3%.

3. Terapi bermain dramatic play mempunyai


pengaruh yang signifikan terhadap pola
interaksi sosial anak prasekolah yang
menjalani hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD
Umbu Rara Meha Waingapu, di mana setelah
dilakukan uji statistik Wilcoxon Signed Rank
Test pada tingkat kemaknaan = 0,05
mendapat nilai p= 0,000. Signifikan apabila
nilai p < .

SARAN
1. Kepada
perawat
anak,
hendaknya
menerapkan terapi bermain dramatic play
dalam memberikan asuhan keperawatan
pada anak prasekolah yang menjalani
hospitalisasi.
2. Kepada pihak rumah sakit, diharapkan
menyediakan ruang dan fasilitas bermain
yang memadai dan sesuai untuk anak-anak
yang sedang menjalani hospitalisasi.

3. Kepada orang tua yang anaknya menjalani


hospitalisasi, diharapkan memahami pentingnya
bermain bagi anak yang sedang dirawat sehingga
dapat mendukung anak dalam bermain dengan cara
bersedia mendampingi anak pada saat bermain dan
berperan serta dalam permainan.
4. Kepada peneliti selanjutnya. Mengingat semakin
lama anak dirawat di rumah sakit, semakin besar
pula reaksi psikologis anak selama hospitalisasi,
maka dalam penelitian berikutnya perlu
ditambahkan lama dirawat bagi anak dalam lembar
observasi terhadap anak. Bagi peneliti pemula
harus sering membaca buku-buku tentang
penelitian dan bertanya kepada orang yang sudah
berpengalaman.