Anda di halaman 1dari 12

HEPATITIS B KRONIK

dr. Armon Rahimi SpPD, KPTI

Hepatitis B kronik merupakan masalah


kesehatan besar terutama di asia dimana
terdapat sedikitnya 75% dari seluruhnya 300
juta individu HBsAg + menetap diseluruh
dunia.

PATOGENESIS
Virus hepatitis B masuk kedalam tubuh secara
parenteral. Dari peredaran darah partikel dane
masuk kedalam hati dan terjadi proses
replikasi virus. Selanjutnya sel-sel hati akan
memproduksi dan mensekresi partikel dane
utuh, parikel HBsAg bentuk bulat dan tubuler,
dan HBeAg yang tidak ikut membentuk patikel
virus.

GAMBARN KLINIS
Secara sederhana dapat dikelompokkan
menjadi 2 :
Hepatitis B kronik masih aktif
Carier VHB inaktif

PENATALAKSANAAN
Saat ini dikenal 2 terapi untuk hepatitis B
kronik :
Kelompok Imunomodulasi
Interfefon
Timosin alfa 1
Vaksinasi terapi

Kelompok Terapi antivirus


Lamivudin
Adefovir dipivoksil

HEPATITIS C
dr. Armon Rahimi, SpPD, KPTI

Patogenesis
Studi mengenai mekanisme kerusakan sel-sel
hati VHC masih sulit dilakukan karena
terbatasnya kultur sel untuk VHC dan tidak
adanya hewan model kecuali simpanse yang
dilindungi. Kerusakan sel hati akibat VHC atau
partikel virus secara langsung masih belum
jelas. Namun beberapa bukti menunjukkan
adanya mekanisme imunologis yang
menyebabkan kerusakan sel-sel hati.

Diagnostik
Infeksi oleh VHC dapat diidentifikasi dengan
memeriksa antibodi yang dibentuk tubuh
terhadap VHC bila virus ini menginfeksi
pasien. Antibodi ini akan bertahan lama
setelah infeksi terjadi dan tidak mempunyai
arti protektif. Walaupun pasien dapat
menghilangkan infeksi VHC pada infeksi akut,
namun antibodi terhadap VHC masih terus
bertahan bertahun-tahun.

Epidemiologi
Infeksi VHC didapatkan diseluruh dunia.
Dilaporkan lebih kurang 170 juta orang di
seluruh dunia terinveksi virus ini. Prevalensi
VHC berbeda-beda diseluruh dunia.
Umumnya transmisi terbanyak berhubungan
dengan transfusi darah terutama yang
didapatkan sebelum dilakukannya penapisan
donor darah untuk VHC oleh PMI

Penatalaksanaan
Pengobatan hepatitis C kronik dengan
menggunakan interferon alfa dan ribavirin.
Untuk interferon alfa yang konvensional
diberikan setiap 2 hari atau 3 kali seminggu.
Pemberian interferon diikuti dengan
pemberian ribavirin dengan dosis pada berat
badan <50 kg 800 mg setiap hari, 50-70 kg
1000 mg/hari dan >70 kg 1200 mg/hari dibagi
dalam 2 pemberian.