Anda di halaman 1dari 27

I.

PENDAHULUAN
Beton merupakan bahan yang banyak digunakan dalam industri konstruksi, baik untuk
bangunan gedung, jalan, jembatan, saluran, bendungan, pelabuhan dan lainnya.
Hal ini dikarenakan beberapa keunggulan yang dimiliki diantaranya adalah mutu dapat
direncanakan, mudah dibentuk, relatif tahan terhadap lingkungan agresif dan suhu
tinggi, dapat diproduksi secara prabrikasi dan cor setempat, bahan baku terdapat
dimana-mana, dan sebagainya.
Untuk mendapatkan mutu beton yang baik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan beton antara lain pemilihan bahan yang baik, proporsi yang tepat,
cara pengerjaan sesuai dengan metode baku, yang meliputi cara penakaran bahan,
pengadukan, pengangkutan, pengecoran, pemadatan dan perawatan yang baik.
Beberapa kriteria beton yang baik diantaranya meliputi pemenuhan persyaratan
terhadap kemudahan pengerjaan, homogen, kuat, awet dan stabil. Beton yang mudah
dikerjakan biasanya akan mencapai tingkat kepadatan yang lebih baik, sehingga akan
lebih padat, kedap dan stabil, serta menjadi kuat dan awet karena lebih kompak dan
tidak mudah diserang oleh bahan-bahan yang dapat merusak kedalam beton.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dalam teknologi
beton juga banyak mengalami perubahan akibat ditemukannya bahan-bahan
pembentuk baru seperti penambahan fly ash dan silica fume sebagai mineral
admixture, penambahan serat organic untuk mempertinggi kekuatan tarik, dan
sebagainya, hal ini semuanya ditujukan untuk memperoleh sifat-sifat khusus sesuai
tujuan penggunaannya.
Secara umum penggunaan beton dalam konstruksi dibedakan atas jenis bangunan
dan kondisi lingkungan dimana konstruksi beton akan didirikan seperti didalam atau
luar ruang bangunan, kondisi korosif atau tidak, terlindung dari cuaca atau tidak, selalu
terendam air tawar atau laut, dan sebagainya, dimana semuanya akan mempengaruhi
terhadap sifat keawetannya sehingga perlu digunakan jenis semen yang sesuai
dengan jumlah yang cukup.
Keseragaman mutu beton baik yang diproduksi di lapangan maupun di pabrik
merupakan hal yang harus senantiasa dijaga karena akan menentukan kinerja dari
konstruksi secara menyeluruh dan untuk menghindari kegagalan struktur akibat
perlemahan disuatu tempat atau titik tertentu.

II. BAHAN PEMBENTUK BETON


Beton merupakan bahan yang diperoleh dengan mencampurkan beberapa bahan
baku seperti semen, agregat, air dan atau tanpa bahan tambahan lainnya di bentuk
sedemikian rupa sehingga didapatkan suatu masa yang kompak, padat, kuat dan
stabil.
Secara rinci bahan pembentuk beton dapat diuraikan sebagai berikut ;

Produk hidrasi

Semen yg tidak terhidrasi

Pasta

Rongga gel

Semen

Rongga kapiler

Rongga udara

Agregat halus

Agregat kasar

Mortar
Beton

Keseragaman mutu beton dalam suatu produk dalam industri konstruksi sangat
diharapkan untuk menjaga stabilitas konstruksi secara menyeluruh. Hal ini untuk
menjaga adanya perlemahan pada salah satu bagian/elemen yang dapat
mengakibatkan keruntuhan pada struktur tersebut.

1. Semen Portland
Semen sebagai bahan pengikat (bonding materials) dalam pembuatan beton,
memegang peranan penting karena selain akan menentukan karakteristik beton
yang dihasilkan juga dapat memberikan indikasi apakah beton cukup tahan terhadap
lingkungan agresif, pengaruh cuaca, dan sebagainya.
Untuk tujuan tersebut, maka semen Portland dibedakan atas 5 jenis selain juga
terdapat produk semen lainnya seperti semen portland pozolan, mixed Portland
cement, semen alumina, dan lainnya. Masing-masing jenis tersebut memiliki
karakteristik dan sifat yang berbeda sehingga dalam penggunaannya perlu
disesuaikan jenis konstruksi dan kondisi lingkungan dimana bangunan akan didirikan
sehingga tidak terjadi kesalahan teknis yang dapat merugikan.
Karena semen merupakan hasil pembuatan pabrik dengan pengendalian mutu yang
ketat, maka untuk menjaga kualitas dilapangan yang perlu diperhatikan adalah cara
penyimpanan yang baik dengan jangka waktu tertentu sehingga belum terjadi
perubahan sifat akibat pengaruh lembab. Sebagai acuan dalam pengendalian

mutu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standard lainnya yang berkaitan
dengan semen portland seperti ;

SNI No. 15-2049-1994 tentang Mutu dan cara uji Semen Portland

SNI No. 15-0302-1989 tentang Mutu dan cara uji Semen Portland Pozolan

ASTM C-150-95, BS-812-92 ATAU JIS R-5210 tentang Specification for Portland
cement.

2. Agregat
Agregat sebagai bahan pengisi dalam pembuatan beton mempunyai peranan
penting karena beberapa fungsi yang dimiliki diantaranya adalh untuk menambah
kekuatan, mengurangi penyusutan, dan mengurangi penggunaan semen. Mutu
agregat sangat menentukan kualitas beton yang dihasilkan, oleh karena itu harus
dilakukan pengendalian mutu (quality control) sebelum digunakan sebagai bagian
dari jaminan mutu (quality assurance) terhadap beton yang akan dihasilkan.
Klasifikasi agregat dapat dibedakan atas beberapa criteria misalnya berdasarkan
besar butirnya, berat jenis atau sumbernya.
Berdasarkan besar butir, agregat dibagi atas 2 jenis yaitu ;

Agregat halus, dengan ukuran butir antara 0,075 s/d 4,8 mm

Agregat kasar dengan ukuran butir antara 4,8 s/d 40 mm.


Berdasarkan sumbernya, agregat dibagi atas 3 jenis yaitu ;

Agregat alam, adalah hasil desintegrasi batuan alam

Agregat pecah adalah hasil pemecahan batuan alam

Agregat buatan yaitu hasil suatu proses pembakaran, dll.


Sedangkan berdasarkan beratnya, agregat dibagi atas 3 jenis yaitu ;

Agregat ringan dengan berat jenis s/d 1,8

Agregat normal dengan berat jenis 1,8 s/d 2,7 dan

Agregat berat dengan berat jenis diatas 2,7

Agregat Halus/Pasir
Agregat halus dapat berupa pasir alami atau pasir buatan dari proses pemecahan
batuan dengan kehalusan butir lolos saringan 4,8 (5,0) mm. Pasir harus memenuhi
syarat SNI No. 03-1750-1990 dengan bagian yang lolos saringan 0,3 mm tidak

kurang dari 15 % agar dapat berfungsi dengan baik terhadap sifat workabilitas dan
kepadatan adukan.
Agregat halus harus bersih dari kotoran organic dengan kandungan lumpur
maksimum 5,0 %, mempunyai gradasi yang baik, keras, kekal dan stabil.
Beberapa standar lainnya yang dapat digunakan sebagai acuan adalah ;

ASTM C-33-93, tentang Specification for concrete aggregate

JIS A-1102, tentang Specification for concrete aggregate

BS-882-92, tentang Specification for concrete aggregate

Dan standar padanan lainnya.

Agregat Kasar/Kerikil
Agregat kasar dapat berupa kerikil alami atau pecah dari proses pemecahan batu
gunung

dengan kehalusan butir lolos saringan 38 (40,0) mm. Kerikil harus

memenuhi syarat SNI No. 03-1750-1990 tentang spesifikasi agregat untuk beton,
dengan kadar Lumpur maksimum 1,0 %. Agregat kasar harus mempunyai gradasi
yang baik, keras, kekal dan stabil.
Beberapa standar lainnya yang dapat digunakan sebagai acuan adalah ;

ASTM C-33-93, tentang Specification for concrete aggregate

JIS A-1102, tentang Specification for concrete aggregate

BS-882-92, tentang Specification for concrete aggregate

Dan standar padanan lainnya.

3. Air
Air yang dimaksud disini adalah air sebagai bahan pembantu dalam konstruksi
bangunan yang meliputi kegunaannya untuk pembuatan dan perawatan beton,
pemadaman kapur, pembuatan adukan pasangan dan plesteran dan sebagainya.
Air harus memenuhi persyaratan SK SNI No. S-04-1989-F yang meliput ;

Air harus bersih, dengan PH antara 6 8,

Tidak mengandung Lumpur, minyak dan bahan terapung lainnya yang dapat
dilihat secara visual,

Tidak mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gr/lt,

Tidak mengandung garam yang dapat merusak beton, seperti Cl maks. 500 ppm
dan SO4 maks. 1.000 ppm,

Kuat tekan mortar dari air contoh minimum 90 % dari kuat tekan mortar yang
menggunakan air suling,

Khusus untuk beton pratekan, kadal Cl maksimum 50 ppm.

Semua jenis air yang meragukan harus diperiksa di laboratorium.

4. Bahan Tambahan
Bahan tambahan untuk beton dapat berupa bahan kimia (chemical admixtures) atau
bahan mineral (mineral admixtures) yang dicampurkan kedalam adukan beton untuk
memperoleh sifat-sifat khusus dari beton seperti kemudahan pengerjaan, waktu
pengikatan, pengurangan air pencampur, peningkatan keawetan dan sifat lainnya.

Bahan tambahan kimia (Chemical Admixtures)


Bahan kimia pembantu dapat diklasifikasikan menjadi 5 jenis, yaitu ;
Jenis A

: Untuk mengurangi jumlah air yang dipakai,

Jenis B

: Untuk memperlambat proses pengerasan,

Jenis C

: Untuk mempercepat proses pengerasan,

Jenis D

: Gabungan dari jenis A dan B.

Jenis E

: Gabungan dari jenis A dan C.

Pemakaian bahan kimia pembantu harus hati-hati dan disesuaikan dengan


kebutuhan yang cocok, agar tidak mengakibatkan kerusakan terhadap beton.
Beberapa standar yang digunakan sebagai acuan dalam penggunaan bahan
tambahan adalah ;

ASTM C-494-92, BS.5075-1, JAAS.5.T-401, tentang Specification for chemical


admixtures for concrete,

ASTM C- 260-95, BS.5075-2, tentang Specification for air-entraining admixtures


for concrete,

BS 5075-3, tentang Specification for super plasticizing dmixture

Bahan tambahan mineral (Mineral Admixtures)


Bahan tambahan mineral yang telah umum digunakan misalnya Fly Ash dan Mikro
Silika (Silica Fume). Bahan ini berbentuk bubukan halus (powder) dengan
kandungan utamanya adalah silica yang reaktif terhadap kapur sehingga akan
menangkap kapur bebas dalam adukan beton dan membentuk permukaan yang

padat, kompak dan kedap air sehingga beton dengan tambahan bahan tersebut
akan lebih awet karena susah ditembus oleh bahan perusak beton.
Mikrosilika merupakan produk sampingan dari suatu proses industri Silikon Metal
sebagai hasil pembakaran Quartz (>99% SiO2)dalam tungku listrik, dengan hahan
pembantu charcoal berkualitas.
Bila ditambahkan dalam adukan beton bubukan tersebut akan tersebar dalam poripori beton membentuk struktur dalam beton menjadi padat, kompak sekaligus
meningkatkan daya lekat antara pasta semen dengan agregat sehingga porositas
beton menjadi kecil.
Reaksi mikrosilika dalam adukan beton dapat diilustrasikan sebagai sberikut ;
C2S C3S + H2O

CSH Gel + Ca (OH)2

Semen
SiO2 + Ca (OH2)

3 CaO.2SiO2.3H2O
Kalsium-silikat hidrat

III. SIFAT-SIFAT BETON


Beberapa sifat beton yang baik diantaranya harus memenuhi ;

1. Kemudahan pengerjaan (Workabilitas)


Campuran beton yang mudah diaduk, dituangkan, disalurkan, dimampatkan dan
diselesaikan dengan tanpa timbul pemisahan berarti mempunyai tingkat kemudahan
pengerjaan yang baik. Sifat kemudahan pengerjaan ini dalam praktek dapat diamati
dengan menguji kekentalannya atau kelecakannya dengan melakukan tes slump.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemudahan pengerjaan beton adalah ;

Jumlah relatif pasta dan agregat,

Keplastisan pasta,

Gradasi agregat,

Bentuk dan sifat permukaan agregat,

Suhu dan kelembaban udara,

Dan factor lingkungan lainnya.

2. Homogenitas
Keseragaman dan kekompakan adukan akan mempengaruhi masa pelaksanaan
pekerjaan beton, serta beton menjadi kuat, kedap air dan stabil.

Bila hal tersebut tidak dapat dicapai maka adukan menjadi segregasi yang
disebabkan oleh beberapa factor ;

campuran kurus kurang semen,

campuran basah terlalu banyak air,

campuran kurang pasir atau filler,

adanya besar butir maksimum yang terlalu banyak dari agregat,

agregat kasar banyak yang berbentuk panjang dan pipih,

transportasi dan pengecoran yang kurang baik,

penggetaran yang terlalu lama,

kurang kompaknya agregat gabungan sehingga menimbulkan bleeding.

3. Kekuatan
Mutu dari beton dinilai dari keteguhannya yang dalam hal ini adalah kekuatan tekan
pada umur 28 hari yang diperoleh dari pemeriksaan benda uji. Dengan diketahui
kekuatan tekan, maka kekuatan lainnya dari beton senantiasa dapat dihitung
berdasarkan rumus empiris.
Kekuatan tekan dari beton terutama dipengaruhi oleh factor air semen dan derajat
kekompakan adukan, karenanya dalam perencanaan proporsi campuran harus
diperhatikan nilai factor air semen maksimum dan jumlah semen minimum untuk
kelas beton tertentu.

4. Kawetan
Keawetan beton merupakan fungsi dari kekedapannya, semakin kedap beton akan
semakin awet karena ketahanannya terhadap serangan dari luar semakin besar
berhubung sukar ditembus oleh zat-zat perusak yang dapat menimbulkan korosi
pada tulangan. Beton yang kurang awet dapat ditunjukkan dengan adanya nodanoda pada permukaan, timbulnya retak-retak karena pengaruh cuaca, zat kimia atau
pengaruh mekanik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keawetan beton adalah ;

adanya garam sulfat dan khlorida

temperatur dan kelembaban,

tekanan dan gesekan oleh gelombang air laut,

jenis semen dan agregat,

interaksi air-semen,

kadar pori-pori dan derajad kekompakan.

5. Kekekalan bentuk (stabilitas)


Yang dimaksud dengan kekekalan bentuk disini adalah kestabilan bentuk dan
ukuran selama masa perawatan dan pemakaian beton.
Perubahan bentuk beton disebabkan oleh adanya perubahan volume pada keadaan
tanpa beban yang disebabkan oleh adanya penyusutan, kontraksi karena panas dan
pengembangan.
Sedangkan perubahan bentuk karena pembebanan akan menimbulkan regangan
dan rangkak dan biasanya melalui proses yang cukup panjang, dan selanjutnya
akan menyebabkan defleksi dan retak pada bagian-bagian tertentu.

6. Hal-hal yang mempengaruhi mutu beton


Beberapa factor yang dapat mempengaruhi mutu beton antara lain;

mutu bahan,

proporsi campuran,

cara penakaran bahan,

cara pencampuran,

cara pengangkutan,

cara pengeroran dan pemadatan,

cara penyelesaian akhir dan cara perawatan.

Untuk memperoleh beton yang kuat, padat dan stabil diperlukan proporsi yang tepat,
dimana didalamnya terkandung butiran-butiran yang lengkap dari berbagai ukuran
sehingga dapat saling mengisi keseluruh rongga dengan baik serta mempunyai
kandungan mortar dan ultra finer yang cukup.
Pengertian mortar dalam campuran beton adalah seluruh bagian yang lolos pada
ayakan 2,4 mm atau mortar = agregat lolos 2,4 mm + semen + air + udara + filer
(liter/m3), sedangkan ultra finer (butiran sangat halus) adalah seluruh partikel yang
lolos ayakan 0,3 mm termasuk filer atau ultra fines = agregat lolos 0,3 mm + semen
+ filler (kg/m3).
Untuk menjaga kemudahan pengerjaan dan kepadatan yang optimal kandungan
mortar dalam beton yang dianjurkan dapat dilihat pada table 1.

Tabel. 1 Kandungan mortar dalam beton

No

Jenis pengecoran

Kandungan mortar

Dialirkan dg talang & digetar dg frekwensi tinggi, ... %

52 - 53

Pengecoran dengan pompa beton, %

54 55,5

Beton ekspose, . %

55,7 - 57

Beton dengan slump rendah, . %

56 - 58

Sedangkan kandungan ultra fines (butiran sangat halus) dalam beton yang dianjurkan
seperti table 2 berikut.
Tabel. 2 Kandungan Ultra Fines dalam Beton

No

Ukuran agregat maksimum (mm)

Kandungan ultra fines (kg/m3)

10

525

20

450

25

425

30

400

63

325

Permasalahan lain yang harus dijaga dalam produksi beton adalah penambahan air
campuran yang kadang-kadang tidak dapat dihindarkan dilapangan, karena adanya
penurunan kelecakan beton akibat pengaruh suhu udara dan lamanya proses
pengangkutang sebelum ditempatkan.
Bila hal tersebut terpaksa harus dilakukan, maka harus seizing tenaga ahli serta didasari
perhitungan yang tepat untuk menjamin bahwa mutu beton yang akan diperoleh masih
dapat memenuhi persyaratan. Sejauh mana pengaruh penambahan air serta prediksi
mutu beton yang akan diperoleh dapat diperkirakan melalui rumus sebagai berikut ;

untuk w/c = 40 50 %

28 = 131 + 136 c/w (kg/cm2)

untuk w/c = 50 70 %

28 = 195 + 300 c/w (kg/cm2)

Sehingga apabila terjadi penambahan air dari w/c 45 % menjadi w/c = 60 % maka akan
terjadi penurunan kekuatan sebesar ;

kekuatan rencana

= 28 = 131 + 136/0,45 = 433 (kg/cm2)

kekuatan yang diperoleh

= 28 = 195 + 300/0,60 = 305 (kg/cm2)

sehingga penurunan kekuatan adalah : 433 305

= 128 (kg/cm2)

IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN BETON


Untuk mendapatkan produk beton yang baik, perlu diikuti beberapa tahapan dalam
pembuatan beton diantaranya adalah ;
Pertama

: pemeriksaan mutu bahan yang cermat, untuk


mendapatkan bahan yang memenuhi syarat,

Kedua

: Penentuan proporsi campuran yang cermat, untuk


mendapatkan proporsi yang ekonomis dan tepat,

Ketiga

: Pelaksanaan pekerjaan yang ketat dengan penggunaan


peralatan yang tepat, untuk mendapatkan mutu beton
yang kuat,

Keempat

: Pengendalian mutu yang ketat, untuk mendapatkan mutu


beton yang memenuhi syarat.

1. Pemeriksaan mutu bahan


Bahan-bahan terutama agregat yang akan digunakan dalam produksi beton harus
dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan apakah agregat tersebut
telah memenuhi persyaratan atau perlu perbaikan mutu (treatment) sebelum
digunakan.
Hal ini penting untuk menghindari kegagalan yang diakibatkan rendahnya mutu
bahan yang akan berpengaruh terhadap kekuatan dan stabilitas bangunan. Selain
sebagai pengendalian mutu, pemeriksaan agregat juga sangat diperlukan dalam
penentuan proporsi campuran (mix design), sehingga setiap sumber bahan dan jenis
agregat yang akan digunakan dalam pembuatan beton mestilah diketahui terlebih
dahulu kualitasnya.

2. Penentuan proporsi campuran


Rancangan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan proporsi yang tepat
dan ekonomis, dimana beton yang dihasilkan dapat memenuhi target yang
diinginkan dengan biaya yang proporsional. Beberapa ketentuan yang harus diikuti
dalam penentuan proporsi campuran seperti ;

Proporsi campuran bahan dasar harus ditetapkan agar beton yang dihasilkan
memenuhi target yang diinginkan,

10

Proporsi campuran termasuk factor air-semen harus ditentukan berdasarkan


pengalaman lapangan atau campuran coba sesuai bahan-bahan yang akan
digunakan,

Untuk beton dengan fc diatas 20 Mpa proporsi campuran harus mengacu pada
SNI 03-2834-1992 (Revisi 2001) tentang Tata Cara Pembuatan Rencana
Campuran Beton Normal.

3. Metode Pelaksanaan
Beberapa langkah yang harus diikuti dalam pelaksanaan pekerjaan beton sesuai
dengan SNI No. 03-3976-1995 tentang Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran
Beton, yang diantaranya adalah ;

Persiapan bahan, alat dan tempat kerja


Bahan-bahan yang akan digunakan dalam produksi beton perlu dipersiapkan
ditempat sedekat mungkin dengan lokasi pekerjaan dan sebaiknya terlingdung dari
pengaruh cuaca untuk menjaga kandungan air yang ada. Pastikan bahwa jumlah
bahan tersebut mencukupi untuk produksi beton dalam kurun waktu tertentu atau
jumlah beton yang akan dikerjakan.
Penyimpanan semen harus ditempat yang kering dan terlindung cuaca, sehingga
tidak mempengaruhi kualitasnya, sehingga menurunkan daya ikatnya. Hal-hal lain
yang perlu diperhatikan ;
Periksa bekisting dan penulangan apakah telah siap dicor atau belum,
Persiapakan organisasi tempat kerja sebaik mungkin sehingga memungkinkan
pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan baik,
Periksa alat Bantu lain seperti mesin aduk, alat pemadat, alat angkut, alat perata
dan alat/bahan perawatan beton,
Persiapkan pula alat uji beton segar sebagai pengendalian mutu seperti alat uji
slump, cetakan kubus/silinder, alat uji temperatur, dan sebaginya.

Penakaran dan Pengadukan


Untuk mendapatkan suatu campuran yang tepat, sebaiknya penakaran bahan
didasarkan terhadap berat atau volume yang telah dikorelasikan dari berat. Bila
terjadi perubahan kandungan air dalam agregat, maka perlu dilakukan koreksi
berdasarkan berat kering permukaan (SSD).

11

Pengadukan beton sedapat mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik


(mesin aduk.mixer) agar campuran yang dihasilkan cukup homogen dan tidak
melampaui batas waktu yang ditetapkan.

Beberapa ketetapan dalam pngadukan beton diantaranya adalah ;


Beton harus diaduk sedemikian rupa hingga tercapai penyebaran bahan yang
merata dan semua hasil adukannya harus dikeluarkan sebelum msin pengaduk
diisi kembali,
Waktu pengadukan sekurang-kurangnya selama 1,5 menit dan dilanjutkan 1,5
menit berikutnya setelah semua bahan dimasukkan kedalam mesin pengaduk,
Kekentalan adukan harus disesuaikan terhadap jarak pengangkutan,
Perekaman data adukan yang rinci meliputi ;
- waktu & tanggal pengadukan,
- proporsi campuran atau mutu beton yang diinginkan,
- jumlah atau nomor batch,
- lokasi pengecoran atau nama proyek yang dikerjakan.

Pengangkutan
Pada saat pengangkutan adukan beton hal-hal yang harus dijaga adalah ;
Hindari terjadinya segregasi,
Kekentalan beton harus tetap terjaga dengan baik,
Lama pengangkutan tidak boleh lebih dari 30 menit atau 90 menit bila digunakan
truck mixer.

Pengecoran, Pemadatan dan Perawatan.


Pengecoran sebaiknya dilakukan segera setelah selesai pengadukan, pada bagian
komponen yang telah dipersiapkan dengan memperhatikan ;
Cuaca dilokasi pekerjaan apakah cukup aman atau tidak, misalnya mendung,
hujan dan sebagainya yang dapat mengganggu jalannya pekerjaan dan kualitas
beton,
Persiapkan bahan dan alat Bantu sesuai organisasi tempat kerja yang telah
direncanakan,

12

Pekerjaan pengecoran sebaiknya dimulai pada pagi hari sehingga mempunyai


cukup waktu dan tenaga kerja dalam kondisi produktif,
Siapkan alat pelindung untuk menjaga terjadinya perubahan cuaca,
Segera setelah selesai pengecoran kemudian padatkan, ratakan dan rawatlah
permukaan beton dengan cara menutupi dengan bahan yang lembab dan dapat
menyerap air untuk menjaga terjadinya retak awal.
Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat penggetar/vibrator atau
alat lain yangsesuai dengan tingkat kelecakan dan ukuran elemen struktur,
Perawatan dengan cara menutupi permukaan beton dan dijaga lelembabannya
selama minimum 7 hari untuk beton normal dan 3 hari untuk beton berkekuatan
awal tinggi.

4. Pengendalian Mutu
Salah satu langkah penting dalam pekerjaan beton adalah pengendalian mutu, agar
produk yang dihasilkan tidak menyimpang dari rencana. Kegiatan ini dilakukan
secara bertahap seperti yang telah diuraikan diatas, mulai dari pemeriksaan mutu
bahan, penetapan proporsi campuran, pelaksanaan dilapangan yang mencakup
penakaran, pengadukan, pengangkutan, pengecoran, pemadatan, penyelesaian
dan perawatan.
Selanjutnya untuk mengetahui mutu beton dalam masa produksi dapat dilakukan
pengujian terhadap sifat-sifat beton segar seperti slump, temperatur, factor
pemadatan, berat jenis, kadar udara dan pembuatan benda uji berbentuk kubus atau
silinder.
Beberapa jenis pengujian dan kegunaannya dari beton segar dapat dilihat dalam
table 3 berikut ;
Tabel. 3 Jenis pengujian dan kegunaannya

No

Jenis Pengujian

Untuk Mengetahui

Kegunaan/efek

Slump

Tingkat kelecakan

Kemudahan pengerjaan

Kadar udara

Kandungan rongga

Kekompakan&Kekedapan

Temperatur

Suhu beton

Retak rambut

Bobot isi

Berat satuan

Beban mati struktur

Bliding

Kehilangan air adukan

Porositas

13

Pengujian beton keras dapat dilakukan dari contoh uji yang dicetak pada saat
pelaksanaan yang biasanya dilakukan setelah berumur 28 hari, tetapi dapat pula
pada umur 3 hari, 7 hari atau lainnya yang dapat dikonversikan kedalam umur 28
hari dengan rumus pendekatan ;
h

h =

28

4 + 0,85 h
dimana, h = umur beton (hari)
Untuk beton normal, hubungan antara umur dan kuat tekan dapat diperkirakan
sebagai berikut :
- umur 3 hari : 0,40
- umur 7 hari : 0,65
- umur 21 hari : 0,95 dan
- umur 28 hari : 1,00.

Kekuatan beton dinyatakan mencapai yang disyaratkan bila nilai rata-rata yang
dihasilkan tidak kurang dari fc + 0,82 Sr, dimna Sr adalah standar deviasi, dan tidak
terdapat kekuatan dibawah 0,85 fc.
Bila diperoleh hasil yang meragukan sehingga kekuatan telah berkurang secara
mencolok, maka perlu dilakukan pengujian lanjutan seperti non destructive test
(dengan hammer test) dan semi destructive test (core drill) sebagai langkah
pembuktian kualitas beton terpasang.
Pengujian dengan palu beton bukan merupakan pengujian alternatif sebagai dasar
keputusan atas kualitas struktur tersebut, tetapi hanya digunakan sebagai prediksi
kekuatan yang ada dan langkah pengujian lanjutan yang perlu dilakaukan.
Sedangkan pengujian dengan core drill (cores) dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan atas kualitas struktur bersangkutan.
Bila langkah tersebut telah ditempuh dan masih timbul keraguan mengenai
kemampuan struktur, maka harus dilakukan uji beban (loading test) sebagai langkah
akhir sesuai Pd. M-17-1995-03 untuk mengetahui kapasitas beban dan perilaku
struktur yang sebenarnya, serta perhitungan beban rencana atau tingkat layannya
sesuai SNI 03-2847-1992.
Beberapa Standar nasional Indonesia (SNI) dan standar lainnya yang relevan untuk
pengujian beton dapat dilihat dalam abel 4 berikut ;

14

V. RANCANGAN CAMPURAN BETON


5.1 Umum
Rancangan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan proporsi yang tepat
dan ekonomis, dengan kualitas beton yang mencapai target kekuatan dan
persyaratan teknis lainnya.
Beberapa cara penentuan proporsi campuran yang telah kita kenal antara lain
:
- cara lama
: campuran ditetapkan, kekuatan ????????
- cara baru
: kekuatan ditetapkan, campuran dihitung.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi proporsi campuran antara lain :
1. gradasi agregat,
2. sifat agregat,
3. berat jenis bahan,
4. karakteristik semen,
5. tingkat kelecakan adukan, dan
6. faktor air semen atau target kekuatan.
Banyaknya air yang digunakan dalam suatu adukan dapat ditentukan berdasarkan
target slump yang ingin dicapai, sedangkan jumlah semen yang diperlukan dapat
diperoleh dari nilai faktor air semen yang besarnya sangat bergantung dari target
kuat tekan yang ditetapkan atau akan dicapai.
Secara sistematis metoda rancangan campuran beton dapat dilihat pada gambar 1,
sedangkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi mutu beton adalah :
1. mutu bahan,
2. proporsi campuran,
3. cara penakaran,
4. cara pencampuran,
5. cara pengangkutan,
6. cara pengecoran,
7. cara pemadatan/penyelesaian, dan
8. pemeliharaan.
5.2 Kriteria penentuan proporsi campuran.
1. Proporsi campuran bahan dasar beton harus ditentukan agar mutu beton
yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang ditetapkan,
2. Bila pada bagian konstruksi yang berbeda digunakan bahan yang berbeda
pula, maka setiap kombinasi bahan harus dilakukan penilaian secara
terpisah,
3. Proporsi campuran termasuk faktor air semen, harus ditentukan berdasarkan
pengalaman lapangan atau campuran coba sesuai bahan-bahan yang akan
digunakan,
4. Untuk beton dengan mutu fc diatas 20 Mpa, proporsi campuran coba serta
pelaksanaannya harus didasarkan pada penakaran berat, sesusi SNI 032834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal,
5. Untuk beton dengan mutu fc sampai dengan 20 Mpa, propduksinya boleh
dengan menggunakan penakaran volume yang diperoleh dari konversi berat,

15

6. Khusus untuk beton dengan mutu fc dibawah 10 Mpa, bila pertimbangan


praktis dari kondisi lapangan memungkinkan, produksi beton dapat dilakukan
dengan penakaran volume dengan perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil,
atau proporsi yang diseduaikan dengan kebutuhan struktur dan kondisi
lingkungan,
7. Penentuan proporsi campuran berdasar pengalaman lapangan atau
campuran coba.

TARGET
KUAT TEKAN

TARGET
SLUMP

FAKTOR
AIR-SEMEN

AIR
BEBAS

SEMEN

UDARA
1,5 %

BETON

PASIR &
FILLER

AGREGAT

KERIKIL

Gambar-1 Bagan alir rancangan campuran beton

16

VI. PELAKSANAAN DILAPANGAN


Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus mengajukan permohonan rencana
pelaksanaan pekerjaan dan menyampaikan data sumber bahan yang akan
digunakan disertai hasil pengujian bahan, proporsi campuran, hasil uji coba adukan
(trial mix) dan uji kuat tekan beton yang dilakukan dilaboratorium berwenang.
Dalam prakteknya pihak pelaksana pekerjaan harus senantiasa memperhatikan
arahan yang diberkan oleh tenaga ahli atau pengawas lapangan untuk menghindari
terjadinya penyimpangan kualitas sehingga tidak sesuai dengan persyaratan.
Berikut disajikan contoh rekomendasi sebagai acuan dalam pengendalian mutu
pekerjaan beton.

1. Umum
STATEMENT

PROSEDUR

INTRUKSI

Kontraktor akan menggunakan


beton sesuai dengan
spesifikasi , dan sebelum
pelaksanaan pekerjaan
dimulai akan menyampaikan
proporsi campuran sesuai uji
coba adukan (trial mixed) dan
cara produksi kepada
konsultan untuk
persetujuannya

Kontraktor harus mengajukan


permohonan penggunaan
bahan dan proporsi campuran
beton sebelum pekerjaan
dimulai.
Bila akan menggunakan beton
siap pakai, tempat produksi
beton harus disetujui terlebih
dahulu oleh konsultan dan
tidak diperbolehkan diganti
selama masa pelaksanaan.
Kualitas beton harus dikontrol
oleh konsultan dengan
melakukan pengujian
lapaangan dan laboratorium
yang disetujui.

Kualitas bahan yang akan


digunakan dan proporsi
campuran beton harus sesuai
dengan spesifikasi proyek.
Pengujian laboratorium harus
dilakukan terhadap semua
bahan yang digunakan berikut
hasil uji coba adukan untuk
mendapatkan persetujuan.

2. Campuran coba (trial mix) beton


STATEMENT

PROSEDUR

INTRUKSI

Campuran coba akan


dilakukan sedikitnya satu kali
untuk setiap campuran dan
hasilnya disampaikan kepada
konsultan sebelum pekerjaan
beton dimulai.

Kontraktor harus mengajukan


permohonan untuk melakukan
campuran coba kepada
konsultan untuk mendapatkan
persetujuan.
Campuran coba harus
dlakukan dilaboratorium yang
disetujui oleh konsultan.

Metoda pengambilan contoh


dan pengujian beton segar
harus sesuai standar yang
berlaku.
Jenis pengujian harus lengkap
yang terdiri slump, suhu, berat
jenis, kadar udara, dan kuat
tekan 28 hari.
Laporan campuran coba harus
dibuat setiap proporsi dan
disampaikan kepada
konsultan.

17

3. Pengadukan beton
STATEMENT

PROSEDUR

Kontraktor akan menggunakan


alat pengaduk beton sesuai
persetujuan dari konsultan.
Bila dengan type batch mixer
akan dibersihkan langsung
selambat-lambatnya 15 menit
setelah digunakan.

Kontraktor harus mengajukan


permohonan tentang metoda
pencampuran, jenis alat
pencampur (mixer) kapasitas
per batch kepada konsultan
untuk persetujuannya.
Pencampuran beton akan
dimulai setelah mendapat
persetujuan dari konsultan.

INTRUKSI
Metoda pencampuran beton
harus sesuai dengan standar
yang berlaku.
Setiap pencampuran harus
dibuat laporan berikut bahan
yang digunakan dan
disampaikan kepada
konsultan untuk mendapat
persetujuannya.

4. Pengangkutan(transportation) beton
STATEMENT

PROSEDUR

INTRUKSI

Beton akan diangkut dengan


segera dari tempat
pencampuran ketempat
pengecoran sambil terus
diaduk sesuai ketentuan,
untuk menghindari terjadinya
segregasi dan bliding serta
akan dijaga keseragamannya.

Kontraktor harus mengajukan


permohonan metoda
pengangkutan, jarak, dan
perkiraan waktu yang
diperlukan untuk mendapat
persetujuannya.

Metoda pengangkutan beton


harus sesuai dengan standar
yang belaku. Laporan
pengangkutan beton harus
mencakup waktu mulai dari
tempat pengadukan, dan
disampaikan kepada konsultan
untuk persetujuannya

STATEMENT

PROSEDUR

INTRUKSI

Beton akan dicorkan kurang


dari 30 menit setelah
dikeluarkan dari adukan, dan
tidak lebih dari 90 menit
setelah pemberian air adukan.
Maksimum tebal lapisan tidak
lebih dari 25 cm dan tinggi
jatuh tidak lebih dari 2 m.
Bila tinggi jatuh lebih dari 2 m
akan digunakan system tremie
atau lainnya yang disetujui.

Kontraktor harus mengajukan


permohonan metoda
pengecoran, tebal lapisan,
jenis peralatan, kapasitas
pompa beton, lama
pengecoran, dan sebagainya
kepada konsultan untuk
persetujuannya.
Bila diperlukan penambahan
air, harus dg persetujuan
terlebih dahulu oleh konsultan.

Metoda pengecoran beton


harus sesuai dengan standar
yang berlaku. Laporan
pengecoran beton harus
dibuat untuk setiap bagian
pekerjaan beserta data
pengujian yang dilakukan dan
diserahkan kepada konsultan.

STATEMENT

PROSEDUR

INTRUKSI

Seluruh beton akan


dipadatkan dengan alat
vibrator, penusukan atau
pukulan sesuai kondisi
lapangan sehingga didapatkan
beton yang padat, bebas dari
keropos dan rongga udara.

Kontraktor harus mengajukan


permohonan metoda
pemadatan yang akan
digunakan, jenis vibrator, lama
pengerjaan kepada onsultan
Pemadatan harus selesai
sebelum beton mulai
mengeras.

5. Pengecoran beton

6. Pemadatan beton

Metoda pemadatan beton


harus sesuai dengan stadar
yang berlaku. Laporan
pemadatan harus mencakup
setiap bagian pekerjaan,
lengkap dng jenis peralatan,
waktu dsb dan disampaikan
kepada konsultan

18

7. Perawatan beton
STATEMENT
Beton akan dijaga dalam
kondisi lembab, perubahan
temperatur yang tinggi,
getaran, dan gangguan
lainnya yang akan
mempengaruhi mutu beton.

PROSEDUR
Kontraktor harus
mempersiapkan rencana
perawatan beton sesuai
dengan kondisi cuaca
dilapangan dan
menyampaikan permohonan
kepada konsultan untuk
persetujuannya.

INTRUKSI
Metoda perawatan beton
harus sesuai dengan standar
yang berlaku. Laporan cara
perawatan beton harus
disampaikan kepada
konsultan.

8. Pembukaan bekisting
STATEMENT
Jangka waktu pembukaan
bekisting harus didasarkan
pada kekuatan beton yang
telah dicapai, dan kondisi
cuaca serta mendapat
persetujuan dari konsultan.

PROSEDUR
Kontraktor harus mengajukan
permohonan kepada
konsultan mengenai jangka
waktu pembukaan bekisting
untuk mendapat persetujuan.

INTRUKSI
Pembukaan bekisting harus
sesuai dengan stadar yang
berlaku. Laporan pembukaan
bekisting harus mencakup
setiap bagian pekerjaan,
lengkap dng data kekuatan
beton yang telah dicapai dan
disampaikan kepada
konsultan.

VII. PENGENDALIAN MUTU BETON


7.1 Umum
Pengendalian mutu beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang baik
sesuai yang direncanakan, yang dilaksanakan secara bertahap (multi step)
mulai dari pengujian bahan, rancangan campuran dan tahap pelaksanaan di
lapangan.
Proporsi campuran beton harus dirancang untuk mendapatpan beton yang baik
dan ekonomis. Dalam tahap pelaksanaan konstruksi, beton yang telah
dirancang campurannya harus diproduksi sedemikian rupa sehingga dapat
memperkecil kemungkinan penyimpangan yang bermuara pada mutu beton.
Mutu beton dinyatakan dapat tercapai apabila kedua persyaratan berikut dapat
terpenuhi :
1. fcr (dari 4 benda uji berurutan) minimum = fc + 0,82 Sr
2. tidak satupun dari hasil uji kuat tekan (rata-rata dari 2 silinder) kurang
dari 0,85 fc.

19

Persyaratan untuk fc harus didasarkan pada hasil pengujian benda uji silinder
dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, yang dibuat dan diuji
berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Bila benda uji terpaksa menggunakan kubus dengan sisi 150 mm, maka
dilakukan konversi kedalam kekuatan silinder dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
fc

= {0,76 + 0,210 log (fck/15)} fck.

7.2 Langkah Pengendalian


7.2.1

Rancangan campuran beton


1) Kuat tekan yang ditargetkan
Atau
Dimana

: fc

= fcr = fc + 1,64 Sr
fcr = fc + 12 MPa

= kuat tekan karakteristik yang disyaratkan

fcr

= kuat tekan yang ditargetkan

Sr

= deviasi standar rencana.

2) Rancangan campuran harus diperbaiki bila hasil uji coba adukan (trial
mixed) menunjukkan hasil :
fcr kurang dari fc + 1,26 Sr.
Dimana

: fc

= kuat tekan karakteristik yang disyaratkan

fcr

= kuat tekan yang didapat

Sr

= deviasi standar yang ditetapkan.

3) Mutu beton :
Mutu beton ditentukan oleh perencana, yang diseduaikan dengan
kemampuan dan keperluan dilapangan.
4) Deviasi standar

Deviasi standar produksi beton dihitung atau ditetapkan atas dasar 30


pasang hasil uji silinder.
Bila deviasi standar dihitung dari jumlah contoh kurang dari 30
pasang silinder, maka besarnya deviasi standar harus dikalikan
dengan faktor koreksi seperti tabel berikut

20

Tabel

Faktor koreksi standar deviasi


Jumlah benda uji

Faktor koreksi

Keterangan

< 15

Fcr = fc + 12 Mpa

15

1,16

20

1,08

25

1,03

30

1,00

5) Beton untuk kondisi lingkungan khusus ;


Agar beton memiliki keawetan terhadap kondisi lingkungan khusus,
maka harus memenuhi persyaratan

1. spesifikasi beton bertulang kedap air,


2. spesifikasi agregat untuk beton penahan radiasi,
3. spesifikasi kadar ion klorida dalam beton,
4. spesifikasi beton tahan sulfat,
5. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton.
6) Kuat tekan minimum

Mutu beton (fc) minimum untuk struktur beton bertulang tahan gempa
harus > 20 Mpa.

7.2.2

Jumlah pengembilan contoh uji.


1) Untuk satu mutu beton yang dikerjakan dalam satu hari, pengembilan
contoh beton tidak kurang dari 1 contoh yang terdiri dari 2 buah
benda uji.
2) Penentuan contoh dan jumlah benda uji ditetapkan berdasarkan sifat
pekerjaan beton sesuai tabel berikut ;
Kelas Beton
Uraian
Selang

pengambilan

contoh

setiap, ...........................................

Kelas 1

Kelas 2

Kelas 3

10 M3

20 M3

50 M3

atau

atau

atau

10 adukan

20 adukan

50 adukan

21

Keterangan

Beton kelas 1 adalah beton yang digunakan dalam komponen


struktural dan beton pratekan,

Beton kelas 2 adalah untuk struktur beton yang tidak termasuk kelas
1 dan kelas 3,

Beton

kelas

adalah

jenis

pekerjaan

beton

yang

lebih

mengutamakan faktor masa daripada faktor kekuatan.

7.2.3

Nilai hasil uji


Satu nilai contoh uji merupakan rata-rata dari dua buah hasil uji kuat
tekan benda uji yang diambil dari contoh beton yang sama dan diuji pada
umur 28 hari atau umur yang ditetapkan untuk menentukan fcr.

7.2.4

Pengembilan contoh dan pembuatan benda uji,


Pengambilan contoh dan pembuatan benda uji beton harus sesuai
dengan :
1) SNI 03-2458-1991, tentang Metode pengambilan Contoh untuk
Campuran Beton Segar,
2) SNI 03-2493-1991, tentang Metode Pembuatan dan Perawatan
Benda Uji Beton di Laboratorium,
3) SNI 03-4810-1998, tentang Metode Pembuatan dan Perawatan
Benda Uji Beton di Lapangan,

7.2.5

Cara uji
Pengujian kuat tekan sesuai SNI 03-1974-1990, tentang Metode
Pengujian Kuat Tekan Beton.

7.2.6

Kriteria penerimaan mutu beton


Tingkat kekuatan dari beton dinyatakan mencapai kekuatan tekan yang
disyaratkan (fc) apabila memenuhi ketentuan berikut :
1. Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yang masing-masing
terdiri dari empat hasil uji kuat tekan tidak kurang dari fc + 0,82 Sr,
dimana Sr adalah standar deviasi yang ditetapkan.

22

2. Tidak satupun dari hasil uji kuat tekan mempunyai nilai dibawah 0,85
fc.

7.2.7

Benda uji yang dirawat dilapangan


Benda uji yang dirawat dilapangan harus memenuhi ketentuan berikut :
1. Benda uji yang dirawat dilapangan harus dicetak pada saat yang
bersamaan dan diambil dari contoh yang sama dengan benda uji
yang dirawat dilaboratorium.
2. Prosedur untuk melindungi dan merawat beton harus ditingkatkan
apabila kekuatan dari contoh yang dirawat dilapangan kurang dari
0,85 dari contoh beton yang dirawat dilaboratorium, atau lebih kecil
dari fc + 4 Mpa.

7.2.8

Nilai hasil uji kekuatan rendah


Langkah-langkah yang perlu diambil bila terjadi hasil uji menunjukkan
kekuatan rendah adalah sebagai berikut :
1. Bila terjadi suatu hasil uji kekuatan rendah dan menunjukkan bahwa
kapasitas daya dukung beban telah berkurang secara mencolok,
maka diperlukan suatu uji bor inti pada daerah yang diragukan sesuai
SNI 03-2492-1991, tentang Metode Pengambilan dan Pengujian
Beton Inti,
2. Bila pada masa layannya bagian beton tersebut dalam kondisi kering,
benda uji beton inti harus dikering-udarakan selama 7 hari dan diuji
dalam kondisi kering. Bila bagian beton tersebut pada masa layannya
selalu dalam kondisi basah, pengujian beton inti dilakukan dalam
keadaan basah dan harus direndam terlebih dahulu selama tidak
kurang dari 40 jam.
3. Beton yang diwakili oleh hasil uji bor inti dapat dianggap memenuhi
struktural, bila hasil rata-rata kuat tekan tidak kirang dari 0,85 fc dan
tidak satupun dari benda uji mempunyai kekuatan kurang dari 0,75 fc.
4. Bila ketentuan dari butir 3 diatas tidak terpenuhi dan bila kemampuan
dari struktur tetap diragukan, maka harus dilakukan uji beban sesuai
yang ditetapkan pada SNI 03-2847-1992, tentang Tata Cara
penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.

23

KEPUSTAKAAN
1. Hansen T.C. (1978), Manual on Concrete Mix Design and Quality Controls, Technical
Report No. 21 - Bandung,
2. Ulla Kjaer dan Z. Aksa (1980), Pemeriksaan Mutu Beton dan Mutu Pelaksanaan
selama Pekerjaan Beton, Bandung.
3. Lanneke Tristanto (1984), Perencanaan dan Pengendalian Adukan Beton, Buku
Petunjuk Pelaksanaan Beton, Bandung.
4. Suhartopo (1996), Pengaruh Mortar dan Ultra Fines dalam Beton, PT. Beton Cilegon
Agung, Cilegon.
5. Lasino (1997) Report of Training Course on Building Materials for MSRB, Japan.
6. Lasino (1997), Quality Control of Concrete Works, Bandung
7. Pusat Pelatihan Jasa Konstruksi (1995), Beton dan Pembesian, Bahan pelatihan
tenaga mandor, Jakarta
8. Standar Nasional Indonesia, tentang Beton
9. Lasino (2006), Pengantar Teknologi Beton dan Pengendalian Mutu, Katalog dalam
Terbitan No. ISBN 979-8954-35-1, Jakarta Perpustaan RI.

24

DAFTAR ISI
Halamam
Kata Pengantar, .
Daftar isi, .
I. PENDAHULUAN, ...
II. BAHAN PEMBENTUK BETON
1. Semen,
2. Agregat, ..
3. Air,
4. Bahan tambahan, ..
III. SIFAT-SIFAT BETON
1. Kemudahan Pengerjaan, .
2. Homogenitas, .
3. Kekuatan,
4. Keawetan, ..
5. Kekekalan Bentuk, .
6. Hal-hal yang mempengaruhi mutu beton, .
IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN BETON
1. Pemeriksaan mutu bahan, ..
2. Penentuan proporsi campuran, ..
3. Metode Pelaksanaan,
(penakaran bahan, pencampuran, pengangkutan, pengecoran,
pemadatan, penyelesaian dan perawatan)
4. Pengendalian mutu, ..

i
ii
1
2
3
4
5

6
6
7
7
8
8

10
10
11

13

V. RANCANGAN CAMPURAN BETON


1. Umum, .
2. Kriteria penentuan proporsi campuran .. .

15
15

VI. PELAKSANAAN DI LAPANGAN


1. Umum, .
2. Campuran coba (Trial mix), ..
3. Pengadukan beton,
4. Pengangkutan,
5. Pengecoran,
6. Pemadatan, .
7. Perawatan, ..
8. Pembukaan bekisting, ..

17
17
18
18
18
18
19
19

VII. PENGENDALIAN MUTU BETON


1. Umum, .
2. Langkah pengendalian, .........

19
19

KEPUSTAKAAN, .

24

ii
25

KATA PENGANTAR
Makalah ini disusun sebagai upaya pemasyarakatan teknologi khususnya dalam
perencanaan campuran dan pengendalian mutu beton (concrete mix`design and quality
control) yang banyak diperlukan bagi para pelaksana, pengawas lapangan dan teknisi
laboratorium dalam merencanakan dan mengendalikan pekerjaan beton.
Diakui bahwa beton merupakan bahan yang banyak digunakan dalam industri
konstruksi, baik untuk bangunan gedung, jalan, jembatan, saluran, bendungan,
pelabuhan dan lainnya. Hal ini dikarenakan beberapa keunggulan yang dimiliki
diantaranya adalah mutu dapat direncanakan, mudah dibentuk, relatif tahan terhadap
lingkungan agresif dan suhu tinggi, dapat diproduksi secara prabrikasi dan cor setempat,
bahan baku terdapat dimana-mana, dan sebagainya.
Untuk mendapatkan mutu beton yang baik ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan beton antara lain pemilihan bahan yang baik, proporsi
yang tepat, cara pengerjaan sesuai dengan metode baku, yang meliputi cara penakaran
bahan, pengadukan, pengangkutan, pengecoran, pemadatan dan perawatan yang baik.
Berbagai usaha telah dilakukan dalam menghasilkan suatu produk yang lebih
baik, termasuk bidang industri konstruksi. Khusus dalam pekerjaan beton, rekayasa
teknologi telah banyak ditemukan seperti penggunaan bahan-bahan baru dan peralatan
yang lebih canggih, teknik pelaksanaan, sistem pengendalian mutu dan sebaginya.
Penerapan standar sebagai acuan dalam pengendalian mutu serta penyediaan
tenaga pelaksana yang sesuai dengan bidang tugasnya merupakan upaya dalam
memperoleh suatu produk yang lebih baik sehingga dalam pelaksanaannya tidak terjadi
pemborosan baik dari aspek waktu, bahan, dan biaya. Untuk meningkatkan
pemanfaatan teknologi dan pengenalan terhadap perkembangan standardisasi
berkaitan dengan bidang industri konstruksi bagi tenaga lapangan, maka dipandang
perlu untuk menyusun buku panduan ini yang dapat digunakan secara praktis.
Akhirnya disampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berupaya
menyumbangkan pemikirannya sehingga tersusunnya makalah ini.
Bandung, September 2007
Penyusun,

Lasino
NIP. 110019630

26

RANCANGAN CAMPURAN BETON


DAN PENGENDALIAN MUTU PEKERJAAN
DI LAPANGAN

Oleh :
Lasino
Pusat Litbang Permukiman Bandung

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
PUSAT PENELITI N

DAN

PENGEMBANGAN

PERMUKIMAN

Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten BANDUNG 40393 PO BOX

812

BANDUNG 40008 Telp/Phone 62-22-7798393 (4 lines) Fax 62-22-7798392, E-mail :


kapuskim@kimpraswil.go.id; kapuskim@bdg.centrin.net.id

27