Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN..2
1.1. Latar Belakang Masalah......2
1.2. Perumusan Masalah.2
1.3. Tujuan..3
1.4. Manfaat3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA4
2.1. Nata de Coco...4
2.2. Konsep Produksi Bersih......5
BAB III. METODOLOGI7
3.1. Kerangka Pemikiran7
3.2. Pemilihan Responden..7
3.3. Metode Pengumpulan Data.....7
3.4. Metode Pengelolahan Data..7
3.5. Lokasi Penelitian.8
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN9
4.1. Gambaran Umum Perusahaan.9
4.2. Strutur Organisasi Perusahaan.9
4.3. Tata Letak Ruang Produksi.9
4.4. Bahan Baku...10
4.5. Bahan Penolong.11
4.6. Peralatan Produksi.11
4.7. Proses Produksi dan Opsi Produksi Bersih...13
4.8. Deskripsi Produk...14
4.9. Studi Kelayakan Opsi Produksi Bersih.15
4.10. Prioritas Penerapan Opsi.18
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...20
5.1. Kesimpulan20
5.2. Saran..20
DAFTAR PUSTAKA21

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Kelapa yang dibudidayakan di Indonesia pada umumnya adalah kelapa dalam dan kelapa
hibrida. Buah kelapa terdiri dari kulit luar, sabut, tempurung,kulit daging (testa), daging buah, air
kelapa dan lembaga. Setiap butir kelapa dalam dan hibrida mengandung air kelapa masingmasing sebanyak 300 dan 230 ml dengan berat jeni rata-rata 1,02 dan pH agak asam (5,6). Air
kelapa mengandung sedikit karbohidrat, protein, lemak dan beberapa mineral. Kandungan zat
gizi ini tergantung kepada umu buah. Disamping zat gizi tersebut, air kelapa juga mengandung
berbagai asam amino bebas.
Air kelapa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan nata de coco. Usaha
ini selain berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan usaha yang mampu menyerap tenaga
kerja dan memberikan tambahan penghasilan. Akhir-akhir ini pemanfaatan bahan baku air kelapa
untuk agroindustri nata de coco mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari banyaknya
agroindustri yang membuat nata de coco. Untuk wilayah Bogor, agroindustri nata de coco
terdapat di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, jumlah perusahaan yang terlibat dalam produksi
nata de coco sebanyak 23 perusahaan di Kota Bogor dan sebanyak 15 perusahaan di Kabupaten
Bogor, dimana semuanya masih merupakan industri kecil (Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota dan Kabupaten Bogor, 2003).
Perkembangan jumlah agroindustri nata de coco akan mengakibatkan semakin besarnya
limbah yang dihasilkan dari industri ini. Berdasarkan tinjauan di lapangan, limbah yang paling
banyak dihasilkan berupa cairan (limbah cair) dan limbah padat. Limbah yang dihasilkan ini
dapat menimbulkan kerusakan bagi lingkungan jika dibuang bukan pada tempatnya. Limbah ini
bisa mengakibatkan terjadinya pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran lahan pertanian
dan sebagainya.
Limbah yang dihasilkan dari aktivitas industri nata decoco pasti ada dan sulit untuk
dihindari, untuk penanganan limbah ini biasanya butuh biaya yang besar, sehingga banyak
perusahaan yang mengabaikan bahaya dari limbah ini. Sebenarnya besarnya jumlah dan
intensitas limbah yang muncul bisa dikurangi dengan menerapkan konsep produksi bersih pada
industri nata de coco. Penerapan konsep produksi bersih ini akan memberikan keuntungan bagi
perusahaan dan mengurangi aktivitas penanganan limbah. Oleh karena itu, industri nata decoco
sebagai salah satu industry yang banyak terdapat di wilayah Bogor perlu melakukan upaya untuk
menerapkan konsep produksi bersih yang sebaik-baiknya.
1.2.Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimana proses pengolahan nata decoco?
2. Bagaimana penanganan limbah pada proses pengolahan ,produk yang dihasilkan,sisa
produksi,kegagalan produksi dan kesalahan
3. Bagaimana penanganan limbah yang diterapkan ?

1.3.Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui secara rinci proses pengolahan nata de coco.
2. Mengidentifikasi kemungkinan munculnya limbah pada proses pengolahan, produk yang
dihasilkan, sisa produksi, kegagalan produksi dan kesalahan
manajemen perusahaan.
3. Memberikan alternative pemecahan masalah limbah yang muncul dengan menerapkan
konsep produksi bersih.
1.4. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah memenuhi tugas mata kuliah
Teknologi Bersih yaitu penerapannya dalam dunia industri khususnya pada industri Nata
de Coco.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Nata de Coco
Nata de coco berasal dari Filipina. Hal ini bisa dipahami karena Filipina merupakan salah
satu negara penghasil kelapa yang cukup besar di dunia. Filipina termasuk negara yang paling
banyak mendapatkan devisanya dari produk kelapa (Warisno, 2004).
Nata de coco merupakan suatu pertumbuhan yang menyerupai gel yang terapung pada
permukaan medium yang mengandung gula dan asam yang dihasilkan mikroorganisme
Acetobacter xylinum. Nata de coco merupakan makanan rendah kalori yang cocok untuk
penderita diabetes (Astawan dan Astawan, 1991). Nata de coco adalah selulosa bakterial yang
mengandung air kurang lebih 98% dengan tekstur yang agak kenyal (Theodula, 1976).
Berdasarkan hasil penelitian dari Balai Mikrobiologi Puslitbang Biologi LIPI Bogor
menyebutkan bahwa nata de coco mengandung nilai nutrisi seperti padaTabel(1).
Tabel 1. Nilai Nutrisi Nata de Coco per 100 gram bahan
No
Nutrisi
Kandungan nutrisi
1
Kalori
146 kal
2
Lemak
0,2 persen
3
Karbohidrat
36,1 mg
4
Kalsium
12 mg
5
Fosfor
2 mg
6
Fe (zat besi)
0,5 mg
Bahan Baku
Air kelapa yang dipakai berasal dari kelapa yang sudah tua. Air kelapa yang akan
dijadikan nata de coco jangan tercampur dengan benda lain. Jika bercampur dengan air, kualitas
nata de coco yang dihasilan akan rendah. Jika bercampur dengan garam, tidak akan terbentuk
nata de coco karena bakteri Acetobacter xylinum tidak bisa tumbuh dalam media yang asin. Air
kelapa bisa diperoleh dari pabrik-pabrik kopra,pasar tradisional dan tempat-tempat pemarutan
kelapa (Warisno,204). Setiap satu liter akan menghasilkan 1 kg nata.
Bahan Penolong
Bahan penolong pada pembuatan nata de coco adalah:
1.
2.
3.
4.

Gula pasir
Pupuk ZA atau Diamonium phospat
Asam cuka
Bibit nata de coco (LIPI,2000)

Peralatan Produksi
Peralatan yang digunakan untuk kegiatan produksi nata de coco adalah:
4

1. Panic stainless steel


2. Baki plastik
3. Sendok sayur besar
4. Saringan
5. Kertas roti / kertas koran
6. Kain kasa
7. Karet gelang
8. Kompor
9. Ember
10. Jerigen (LIPI,2000)
2.2 Konsep Produksi Bersih
Produksi bersih ( cleaner production ) merupakan suatu upaya mencegah dan
mengurangi munculnya dampak lingkungan dari suatu system pengolahan akibat adanya
penggunaan bahan-bahan berbahaya, kesalahan pada proses pengolahan, serta lemahnya
pengendalian proses dan produk. Dampak yang dimaksud adalah terjadinya pencemaran
lingkungan serta inefisiensi penggunaan bahan baku dan energi.
Menurut UNEP (2003), produksi bersih merupakan strategi pengelolaan lingkunagn yang
bersifat pencegahan dan terpadu yang diterapkan secara terus mnerus pada proses produksi,
produk dan jasa untuk meminimalkan terjadinya resiko terhadap manusisa dan lingkungan.
menurutPudjiastut (1999), produksi berish diterapkan pada unsur-unsur sebagai berikut:
1. Proses produksi
Pada bagian proses produksi, produksi bersih mencakup peningkatan efisiensi dan
efektivitas dalam pemakaian bahan baku, eneregi dan sumberdaya lainnya serta
mengganti atau mengurangi penggunaan bahan berbahaya dan beracun sehingga
mengurangi jumlah dan toksisitas limbah dan emisi yang dikeluarkan.
2. Produk
Pada bagian produk,produksi bersih memfokuskan pada upaya pengurangan dampak
keseluruhan daur hidup produk, mulai dari bahan baku sampai pembuangan akhir setelah
produk tidak digunakan.
3. Jasa
Untuk jasa, produksi bersih menitikberatkan pada upaya penggunaan proses 3R ( Reduce,
Reuse dan Recycle ) pada seluruh kegiatannya, mulai dari penggunaan bahan bakau
sampai dengan ke pembuangan akhir.
Menurut USAID (1997), manfaat yang bisa diperoleh dari pelaksanaan produksi bersih
adalah :
1.Pengurangan biaya operasi, pengolahan dan pembuangan limbah.
2.Peningkatan mutu produk.
3.Penghematan bahan baku.
4.Peningkatan keselamatan kerja.
5.Perbaikan kesehatan umum dan lingkungan hidup.
6.Penilaian konsumen yang positif.
7.Pengurangan biaya penanganan limbah

Produksi bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmoniskan upaya perlindungan


lingkungan dengan kegiatan pembangunan atau pertumbuhan ekonomi, mencegah terjadinya
pencemaran lingkungan, memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka
panjang, mendukung prinsip environmental equality, mencegah atau memperlambat terjadinya
proses degradasi lingkungan dan pemanfaaatan sumberdaya alam melalui penerapan daur ulang
limbah dan memperkuat daya saing produk dipasar internasional (Pudjiastuti, 1999).
Teknologi produksi bersih merupakan gabungan teknik pengurangan limbah pada sumber
pencemar (source reduction) dan teknik daur ulang (USAID,1997).
Menurut Forlink (2003), beberapa kendala dalam penerapan produksi bersih adalah:
1.
Kendala ekonomi
Kendala ekonomi timbul bila kalangan usaha tidak merasa akan mendapatkan
keuntungan dalam penerapan produksi bersih.
Contoh hambatan:
Biaya tambahan peralatan
Besarnya modal/investasi dibanding control pencemaran secara konvensional
sekaligus penerapan produksi bersih
2. Kendala teknologi
Kurangnya penyebaran informasi tentang konsep produksi berih.
Penerapan system baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan
atau malah menyebabkan gangguan
Tidak , memungkinkannya tambahan peralatan, terbatsnya ruang kerja/produksi.
3. Kendala sumberdaya manusia
Kurangnya dukungan dari pihak manajemen puncak
Keengganan untuk berubah baik secara individu maupun organisasi
Lemahnya komunikasi intern tentang proses produksi yang baik.
Pelaksanaan manajemen organisasi perusahaan yang kurang fleksibel.
Birokrasi yang sulit terutama dalam pengumpulan data primer.
Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi.

BAB III
METODOLOGI
3.1

Kerangka Pemikiran
Industri nata de coco merupakan salah satu industri pangan yang mengolah air kelapa
dijadikan nata baik yang siap dikonsumsi maupun yang dijual kembali dalam bentuk mentah
untuk digunakan oleh industri lain. Kegiatan produksi dari industri nata banyak menghasilkan
limbah yang jika dibuang akan membahayakan bagi lingkungan.
Limbah yang dihasilkan merupaka salah satu industri nata dapat ditangani dengan
menerapkan konsep produksi bersih, sehingga mengurangi biaya penanganan limbah,mengurangi
kerusakan lingkungan bagi industri nata de coco. Upaya penerapan produksi bersih ini dapat
dilakukan dalam seluruh kegiatan perusahaan.
Penerapan produksi bersih dilakukan terhadap sumber timbulnya limbah ataupun
terhadap limbah itu sendiri. Ketepatan dalam memperhitungkan limbah yang ditimbulkan dari
suatu kegiatan produksi dengan melakukan perhitungan neraca massa yang menggambarkan
jumlah input-output dalam setiap tahapan proses produksi untuk menghasilkan nata de coco.
Berdasarkan kegiatan produksi yang sudah diamati, maka dapat ditawarkan opsi produksi
berih yang mungkin dilaksanakan oleh industri nata de coco. Setiap opsi ini lebih lanjut harus
dilakukan studi kelayakan secara teknis untuk melihat kemudahan dalam pelaksanaannya, studi
kelayakan secara ekonomi untuk melihat apakah opsi tersebut menguntungkan atau tidak dan
studi kelayakan secara lingkungan untuk melihat apakah opsi tersebut memberikan pengaruh
yang nyata terhadap lingkungan. Opsi yang mendapat prioritas utama merupakan opsi yang
direkomendasikan untuk terlebih dahulu dilaksanakan dibandingkan opsi yang lainnya.
3.2

Pemilihan Responden
Pada penelitian ini digunakan responden pakar yang dianggap memiliki pengetahuan
tentang industri nata de coco. Responden pakar yang digunakan sebanyak 5 orang yang terdiri
dari akademisi (1 orang), birokrat (2 orang) dan praktisi industri (2 orang ).
3.3

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Pengumpulan data primer, yaitu dengan melakukan wawancara dan pengisian kuisioner
oleh para pakar, serta melakukan pengamatan langsung di lapangan pada industri nata de
coco untuk melihat secara langsung aktivitas yang berkaitan dengan produksi bersih.
b. Pengumpulan data sekunder, yaitu melalui penelusuran data internal dan penelusuran
buku-buku, hasil-hasil penelitian, majalah, jurnal dan sumber-sumber lain yang
berhubungan.

3.4

Metode Pengolahan Data


Metode pengolahan data dengan menggunakan konsep produksi bersih kemmudian
dilakukan penilaian kelayakan secara teknis, ekonomi dan lingkungan.
Konsep produksi bersih dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a. Melakukan investigasi terhadap kegiatan perusahaan.
b. Melakukan inspeksi keseluruh bagian produksi.
c. Mangamati titik-titik yang diduga sebagai sumber masalah (sumber timbulnya limbah).
7

d. Mengumpulkan data kuantitatif dan membuat neraca massa (kesetimbangan inputoutput).


e. Mengidentifikasi dan membuat langkah-langkah penerapan produksi bersih.
f. Melakukan studi kelayakan teknis, ekonomi dan lingkungan terhadap langkah-langkah
atau opsi produksi bersih.
Studi Kelayakan Teknis
Studi kelayakan teknis berkaitan dengan pelaksanaan opsi tersebut, disini dilakukan
analisa bagaimana cara penerapan opsi tersebut dengan menyesuaikannya dengan kondisi
perusahaan. Pada analisa ini, setiap opsi dinilai dengan skala 1 = sulit untuk dilaksanakan, 3 =
mudah untuk dilaksanakan dan 5 = sangat mudah untuk dilaksanakan. Skala yang digunakan ini
untuk menentukan berapa skor yang diperoleh oleh setiap opsi produksi bersih.
Studi Kelayakan Ekonomi
Studi kelayakan ekonomi dilakukan dengan menghitung keuntungan dan payback period
yang diperoleh oleh setiap opsi produksi bersih.
Keuntungan = Penghematan + penghasilan - Biaya

Payback period = Total Investasi / Keuntungan

Opsi yang memperoleh keuntungan tertinggi akan mendapatkan skor tertinggi dan opsi
yang memiliki paybackperiod tercepat memperoleh skor tertinggi.
Studi Kelayakan Lingkungan
Studi kelayakan lingkungan berkaitan dengan pengaruh pelaksanaan opsi tersebut
terhadap lingkungan, disini dilakukan analisa manfaat penerapan opsi tersebut terhadap
lingkungan. Pada analisa ini, setiap opsi dinilai dengan skala 1 = tidak ada manfaatnya
(pengaruhnya) terhadap lingkungan, 3 = besar manfaatnya (pengaruhnya) terhadap lingkungan
dan 5 = sangat besar manfaatnya (pengaruhnya) terhadap lingkungan.
3.5 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada suatu industri nata de coco yang terletak di Kabupaten
Bogor.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Gambaran Umum Perusahaan


Industri nata de coco yang terletak di Kabupaten Bogor ini berdiri tahun 1994 dengan
tujuan awal untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk yang berada disekitar lokasi
industri. Pada awal berdirinya, industri ini hanya berproduksi sebesar 250-300 gelas plastik
dalam sehari, namun sekarang sudah memproduksi sebesar 1000-1200 gelas plastik dalam sehari
dan memiliki berbagai macam pilihan rasa dan warna, yaitu rasa strawberry (warna merah), rasa
nenas (warna kuning), rasa melon (warna hijau) serta rasa leci, vanilla cocopandan dan melon
(tidak bewarna atau bening). Selain dalam bentuk siap dikonsumsi (gelas plastik), industri ini
juga menjual nata de coco mentah yang telah dipotong-potong. Harga jual produk nata de coco
dalam bentuk kemasan gelas plastik adalah Rp.12.000Rp. 12500 per dus (24 cup), sedangkan
harga jual nata de coco mentah adalah Rp. 2000-2500 per kg.
Produk nata de coco dari industri ini dijual ke wilayah Bogor, Tangerang, Jakarta dan
Bekasi. Penjualan produk tersebut dilakukan dengan dua cara yaitu diantarkan langsung ke
konsumen atau dengan cara konsumen yang datang ke lokasi pabrik untuk membeli produk yang
mereka inginkan. Selain menjual produk nata de coco, dalam kondisi tertentu, industri ini juga
membeli lembaran nata de coco dari home industri yang berada di wilayah Bogor, hal ini
dilakukan jika kebutuhan akan bahan baku meningkat atau terjadinya kegagalan dalam produksi
Jumlah tenaga kerja pada perusahaan ini sebanyak 20 orang yang bertugas pada pembuatan
starter, pencucian peralatan, pembuatan nata de coco, pembersihan nata, pemotongan nata,
pembuatan sirop nata, pengepakan dan penjualan nata atau mendistribusikan nata hasil produksi
kepada konsumen diberbagai wilayah pemasaran.
4.2

Struktur Organisasi Perusahaan


Struktur organisasi perusahaan nata de coco ini masih sederhana, yaitu terdiri dari
seorang pimpinan yang dipegang oleh pemilik usaha dan merangkap bendahara, seorang
sekretaris serta 20 orang tenaga kerja. Pimpinan perusahaan dalam hal ini memiliki peranan yang
sangat dominan, karena beliaulah pengambil keputusan terhadap semua kegiatan perusahaan,
mulai dari produksi sampai pemasaran produk.
4.3

Tata Letak Ruang Produksi


Ruangan produksi terletak di dua tempat, yaitu tempat produksi nata de coco (mulai dari
pembuatan starter dan nata sampai pemanenan) dan tempat pengemasan hasil produksi (mulai
dari pemotongan sampai dengan pengepakan produk siap untuk dijual). Jarak antara kedua
tempat kegiatan industri ini lebih kurang 1 km, dimana tempat produksi nata lebih dekat ke jalan
raya, hal ini agar lebih memudahkan dalam penerimaan bahan baku.
Adapun tata letak ruang produksi dan ruang pengemasan pada perusahaan nata de coco
ini dapat dilihat pada Gambar(1a)danGambar(1b).

Gambar 1a. Tata Letak Ruang Produksi Nata de Coco

Gambar 1b.Tata Letak Ruang Pengemasan Hasil Produksi Nata de Coco


4.4 Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan pada pembuatan nata de coco adalah air kelapa. Air
kelapa yang digunakan pada industri ini diperoleh dari pabrik kopra dan dari pasar - pasar
tradisional. Biasanya air kelapa ini diperoleh dari wilayah Jakarta dan Bogor. Harga air
kelapa ini bervariasi tergantung ketersediaan di lokasi pembelian, biasanya berkisar
antara Rp. 5000-Rp. 6000 per jerigen plastik (kapasitas 40 liter). Penggunaan bahan baku
air kelapa ini sebanyak 1500 liter per hari.
Perusahaan memperoleh bahan baku ini dengan datang langsung ke lokasi
penjualan bahan baku. Bahan baku ini dibawa dengan menggunakan jerigen plastik
(kapasitas 40 liter) dengan menggunakan mobil bak terbuka untuk kemudian ditampung
dalam drum plastik besar (kapasitas 150 liter). Untuk sumber bahan baku terbanyak
berasal dari Jakarta yaitu dari Cipulir, Pintu Air dan Bendungan, sedangkan dari pasar pasar tradisional di wilayah Bogor yaitu dari Pasar Bogor, Pasar Gunung Batu dan Pasar
Ciampea, jumlahnya terbatas.

10

4.5

Bahan Penolong
Bahan penolong yang digunakan dalam pembuatan nata de coco ini adalah gula pasir,
pupuk ZA, asam cuka dan starter/bibit nata. Adapun jenis bahan penolong dan keguanaannya
dalam pembuatan nata de coco dapat dilihat pada Tabel(2).
Tabel 2. Bahan Penolong yang Digunakan dalam Pembuatan Nata de Coco
No
1

Jenis bahan penolong


Gula pasir

Pupuk ZA

Asam Cuka

4
5

Biakan Murni
Starter

Kegunaan
Membuat starter / bibit nata de coco (merupakan
media tumbuh bakteri Acetobacter xylinum)
Bahan pencampur dalam pembuatan starter dan
nata de coco
Membuat sirop nata
Membersihkan air kelapa dari berbagai kotoran
Bahan pencampur dalam pembuatan starter dan
nata de coco
Menurunkan pH media menjadi pH optimum
untuk pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum
(pH 4,0)
Bahan pencampur dalam pembuatan starter dan
nata de coco
Membuat starter
Mengumpulkan air kelapa hingga menjadi nata
de coco

*Hanya digunakan dalam starter


4.6. Peralatan Produksi
Alat-alat yang digunakan oleh perusahaan ini dalam pembuatan nata de coco dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Daftar Peralatan yang Digunakan pada Proses Produksi Nata de Coco
No

Jenis Alat

Kegunaan

Saringan

Menyaring kotoran yang terdapat dalam air kelapa

Jerigen Plastik (kapasitas


Mengangkut air kelapa dari pusat pembelian bahan baku.
40 liter)

Menampung air kelapa dan mengirim nata de coco yang


Drum plastik (kapasitas
telah dipanen dalam bentuk lembaran ataupun nata de
150 liter)
coco yang telah dipotong-potong.

11

Dandang besar

Tempat merebus air kelapa

Kompor Pompa minyak Merebus bahan-bahan pembuat starter/bibit nata dan


tanah
bahan-bahan pembuat nata.

Pengaduk

Untuk mencampur semua bahan yang sedang direbus

Corong plastik

Memasukkan starter kedalam botol Kaca

Botol kaca

Tempat menyimpan starter/bibit nata

Baki atau Loyang plastik

Sebagai wadah media tumbuh nata (wadah fermentasi)

10

Gayung plastik

Menuangkan bahan-bahan nata de coco yang telah


direbus ke dalam baki-baki plastik atau loyang

11

Kertas koran bekas

Menutup bahan nata de coco yang sudah diperam dalam


baki atau loyang plastik di ruang fermentasi

12

Karet gelang

Mengikat lembaran koran bekas yang menutupi baki atau


loyang plastik

13

Mesin Pemotong nata

Memotong lembaran nata de coco menjadi bentuk kubus


kecil-kecil

14

Baskom besar

Menampung air untuk mencuci peralatan dan lembaran


nata

15

Kain lap

Mengeringkan dan membersihkan baki/loyang yang


telah dicuci serta untuk membersihkan kulit lembaran
nata de coco.

16

Gelas plastik

Wadah untuk kemasan gelas/cup

17

Sealer manual

Menutup atau merekatkan kemasan gelas plastik

18

Isolasi

Menutup karton tempat pengepakan nata de coco dalam


gelas plastic
12

19

Pisau silet

Memotong merek kemasan dan membuang sisa plastik


dari kemasan gelas/cup.

4.7 Proses Produksi dan Opsi Produksi Bersih


Untuk produksi nata de coco, terlebih dahulu telah dipersiapkan starter yang akan
digunakan dalam fermentasi. Proses produksi nata de coco itu sendiri terdiri dari penyaringan,
perebusan, penempatan dalam wadah fermentasi, pendinginan, penambahan starter, fermentasi
(pemeraman), pemanenan, pembersihan kulit, pemotongan, perebusan dan pengemasan. Proses
produksi ini dapat dilihat pada Gambar (2). Berdasarkan proses produksi pembuatan nata de
coco dan starter, maka opsi produksi bersih dan limbah yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel
(4).
Tabel 4. Opsi Produksi Bersih dan Total Limbah untuk setiap Opsi
Jumlah Limbah Perhari
No
Opsi
Proses
Total
1
Pemanfaatan
kotoran
hasil Pembuatan starter
1.02 lt
penyaringan,
perebusan
dan
0.511 lt
pembersihan kulit untuk pembuatan Pembuatan Nata
15 lt
pupuk.
7.463 lt
1 kg . 1.25 liter
58.811 kg
1 liter . 0.8 kg
78.0062 kg
Total
2
Pemanfaatan kembali sisa cairan Pembuatan Nata
7.704 lt
fermentasi
3
Pemanfaatan
kembali
air
sisa Pembuatan Nata
720 lt
rendaman, air pembersihan kulit dan
1500 lt
pencucian, sisa air perendam potongan
720 lt
nata serta air perebusan potongan nata
540 lt
3480 lt
Total
4
Pemanfaatan sisa potongan nata untuk Pembuatan Nata
167.612 kg
pembuatan minuman jelly drink
5
Pemanfaatan sisa potongan nata untuk Pembuatan Nata
167.612 kg
pembuatan pupuk
6
Menjual sisa plastik pengemasan
Pembuatan Nata
0.8 kg
Selain dari opsi-opsi di atas, terdapat juga peluangpeluang untuk menerapkan Good
Housekeeping di industri nata de coco ini, yaitu :
1.
Menghindari tumpahan air kelapa pada saat penyaringan, yaitu dengan tidak
menggunakan gayung dalam memindahkan air kelapa dari wadah awal ke wadah
penyaringan, tapi menggunakan selang atau aliran kran sehingga tumpahan air kelapa
dapat dihindari.
2.
Menghindari terjadinya tumpahan bahan-bahan pembuat nata de coco dan pembuat
starter pada saat memasukkannya ke dalam wadah perebusan atau pada saat memasukkan
ke dalam wadah fermentasi.
3.
Menghemat aliran energi dengan cara mematikan aliran listrik sealer pada saat tidak
digunakan, tapi tetap mempertimbangkan waktu pemanasan sealer tersebut (15 menit).
13

4.
5.

6.
7.
8.

9.
10.
11.

12.
13.

14.

Menghindari terjadinya tumpahan air rendaman nata de coco.


Membersihkan semua peralatan langsung pada saat telah selesai menggunakannya,
tanpamenunda-nunda, agar sisa bahan atau kotoran yang ada pada alat dapat segera
dihilangkansehingga umur pakai peralatan menjadi lama.
Mengatur setting peralatan sesuai standar agarsetiap tenaga kerja dapat mengoperasikan
peralatan dengan baik.
Menjaga kebersihan ruang produksi dan ruangkantor untuk meningkatkan kenyamanan
dalambekerja.
Menstandarisasi pakaian tenaga kerja termasuksepatu tenaga kerja untuk mengurangi
terjadinyakecelakaan kerja karena kemungkinan adanya tumpahan air yang
mengakibatkan ruangan menjadi licin.
Memberikan pengarahan kepada tenaga kerja tentang pentingnya kebersihan pada proses
produksi, karena ini juga akan mempengaruhi mutu nata de coco yang dihasilkan.
Melakukan material handling dengan baik untuk mencegah terjadinya tumpahan atau
bahan yang tercecer.
Melakukan pengendalian persediaan agar tidak ada bahan baku yang menumpuk yang
bisa mengakibatkan bahan baku terletak terlalu lama sehingga masam dan tidak dapat
digunakan lagi.
Melakukan pemisahan limbah padat, semi padat dan cair agar memudahkan dalam proses
pemanfaatannya.
Menghindari terjadinya kebocoran pada saat pengemasan dengan gelas yaitu dengan
memberikan pengarahan dan pelatihan pengemasan yang baik kepada tenaga kerja bagian
pengemasan.
Mencatat faktor-faktor penyebab terjadinya masalah dalam produksi, baik dalam
pembuatan starter maupun dalam pembuatan nata de coco, untuk kemudian dicari
pemecahannya. Membuat standar operasi proses produksi untuk memudahkan karyawan
yang ingin meninjau ulang agar tidak terjadi kesalahan dalam proses produksi. Selain itu,
melakukan pengawasan tehadap jalannya proses produksi

4.8 Deskripsi Produk


Produk yang dihasilkan berupa nata de coco yang telah dipotong-potong (masih mentah)
yang dijual dengan harga Rp. 2000 Rp 2500 per kg. Selain itu juga dihasilkan produk nata de
coco yang siap untuk dikonsumsi dengan dua merek (jumlahnya 10% dari hasil produksi per
hari), yang dijual dengan harga Rp. 12.000 Rp. 12500 per dus (berisi 24 gelas atau cup).
Produk nata de coco daam gelas ini memiliki aneka rasa yaitu rasa strawbery (warna merah), rasa
nenas (warna kuning), rasa melon (warna hijau) serta rasa leci, vanila, cocopandan dan melon
(tidak bewarna atau bening).

14

4.9 Studi Kelayakan Opsi Produksi Bersih


Penerapan cleaner production (produksi bersih) pada sebuah perusahaan didasarkan
kepada kelayakan dari opsi-opsi produksi bersih tersebut. Untuk pengambilan keputusan
mengenai opsi produksi bersih yang akan diterapkan, maka dilakukan studi kelayakan dari opsi
tersebut. Studi kelayakan yang dilakukan meliputi studi kelayakan teknis, studi kelayakan
ekonomi dan studi kelayakan lingkungan. Tujuan dari dilakukannya studi kelayakan dari
berbagai aspek tersebut adalah untuk menentukan opsi-opsi produksi bersih yang mungkin
15

diterapkan atau tidak, baik ditinjau dari kemudahan dalam melaksanakan opsi tersebut, biaya
yang dikeluarkan, manfaat dari penerapan opsi dan pengaruhnya terhadap lingkungan setelah
opsi diterapkan.
Studi Kelayakan Teknis
Adapun cara penerapan masing-masing opsi dan skornya dapat dilihat pada Tabel (5).
Tabel 5. Cara Penerapan Masing-masing Opsi dan Skornya
No
Opsi
Cara pelaksanaannya
1. kotoran hasilpenyaringan, Kumpulkan semua kotoran (limbah) tersebut dalam
perebusan dan limbah
satu wadah, lalu campur dengan kapur tohor (100 kg
pembersihan kulit untuk
hasil panen yang gagal dicampur dengan 10 kg kapur
pembuatan pupuk.
tohor). Fungsi kapur tohor adalah untuk menetralkan
pH bahan pupuk. Setelah tercampur rata, biarkan
selam 2 jam, pupuk tersebut sudah siap
digunakan.
2. Pemanfaatan kembali sisa Kumpulkan semua sisa cairan fermentasi dalam
cairan fermentasi
dandang, kemudian direbus kembali, dimasukkan
kedalam botol, didinginkan, lalu tambahkan biakan
murni, setelah itu dilakukan pemeraman selama satu
minggu, maka starter sudah dapat digunakan.
3
Pemanfaatan kembali air
Air sisa dari berbagai proses tersebut diendapkan,
sisa rendaman, air
kemudian dituangkan ke drum penyaringan yang
pembersihan kulit dan
sudah berisi bahan penyaringan (pasir, kerikil, ijuk,
pencucian, sisa air
arang, batu bata, ijuk). Air hasil penyaringan ini bisa
perendam potongan nata
digunakan kembali.
serta air perebusan
potongan nata.
4. Pemanfaatan sisa
Sisa potongan nata direbus hingga hilang baunya dan
potongan nata untuk
bersih (bewarna putih), kemudian diblender sampai
pembuatan minuman jelly halus. Hasil blenderan ini direbus kembali dengan
drink
air, ditambahkan gula dan flavour. Kemudian
dikemas dalam kemasan gelas plastik.
5. Pemanfaatan sisa
Kumpulkan semua sisa potongan nata tersebut dalam
potongan nata untuk
satu wadah, lalu campur dengan kapur tohor (100 kg
pembuatan pupuk
hasil panen yang gagal dicampur dengan 10 kg kapur
tohor). Fungsi kapur tohor adalah untuk menetralkan
pH bahan pupuk. Setelah tercampur rata, biarkan
selam 2 jam, pupuk tersebut sudah siap digunakan.
6. Menjual sisa plastik
Kumpulkan semua sisa plastik dalam kantong,
pengemasan
kemudian jual ke tempat penjualan yang ada.

skor
5

16

Studi Kelayakan Ekonomi


Kelayakan opsi produksi bersih secara ekonomi dapat dilihat pada Tabel (6).
Tabel 6. Studi Kelayakan Ekonomi pada Opsi produksi Bersih di Perusahaan Nata de Coco
No Opsi dan kelayakan ekonomi
.
1. Pemanfaatan kotoran hasil penyaringan, perebusan dan pembersihan
kulit untuk pembuatan pupuk.
Total limbah yang diolah 78.0062 kg/ hari = 78.0062 x26 hari =
2028.1612 kg/bulan
KEUNTUNGAN Rp. 275632.36
PAY BACK PERIOD 0.5442 bulan = 16.326 hari
2. Pemanfaatan kembali sisa cairan fermentasi
Total limbah yang diolah 7.704 liter/ hari = 7.704 liter/hari x 26 hari =
200.304 liter/bulan = 200304ml/bulan
KEUNTUNGAN Rp. 82321.44
PAY BACK PERIOD 2.92 bulan
3. Pemanfaatan kembali air sisa rendaman, air pembersihankulit dan
pencucian, sisa air perendam potongan nata serta air perebusan
potongan nata
Total limbah yang diolah 3480 liter/ hari = 3480 liter/hari x 26 hari =
90480 liter/bulan
PAY BACK PERIOD 27.2866 bln
4. Pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatanminuman jelly drink
Total limbah yang diolah 167.612 kg/ hari = 167.612 kg/hari x 26 hari
= 4357.912 kg/bulan
KEUNTUNGAN Rp. 1728955.5
PAY BACK PERIOD 1.31 bulan
5. Pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan pupuk
Total limbah yang diolah 167.612 kg/ hari = 167.612kg/hari x 26 hari
= 4357.912 kg/bulan
KEUNTUNGAN Rp. 611582.4
PAY BACK PERIOD 0.4578 bulan
6. Menjual sisa plastik pengemasan
Total limbah plastik yang dijual 0.8 kg/ hari = 0.8kg/hari x 26 hari =
20.8 kg/bulan
KEUNTUNGAN Rp. 3460
Studi Kelayakan Lingkungan
Adapun manfaat masing-masing opsi bagi lingkungan dan penilaiannya dapat dilihat pada
Tabel (7).

17

Tabel 7. Manfaat Masing-masing Opsi bagi Lingkungan dan Skonya


No.
Opsi
Manfaat bagi lingkungkungan
1.

skor

Pemanfaatan kotoran hasil penyaringan,


perebusan dan limbah pembersihan kulit
untuk pembuatan pupuk.
Pemanfaatan kembali sisa cairan
fermentasi
Pemanfaatan kembali airsisa rendaman,
air pembersihan kulit dan pencucian, sisa
air perendam potongan nata serta air
perebusan potongan nata
Pemanfaatan sisa potongan nata untuk
pembuatan minuman jelly drink

Mengurangi pencemaran karena


limbah padat dan semi padat

Mengurangi pencemaran karena


limbah cair
Mengurangi pencemaran karena
limbah cair

Mengurangi pencemaran karena


semi padat

5.

Pemanfaatan sisa potongan nata untuk


pembuatan pupuk

Mengurangi pencemaran karena


semi padat.

6.

Menjual sisa plastik pengemasan

Mengurangi pencemaran karena


padat.

2.
3.

4.

4.10 Prioritas Penerapan Opsi Produksi Bersih


Berdasarkan hasil analisa kelayakan dari masing-masing opsi diatas, maka dapat
ditentukan prioritas dari masing-masing opsi. Prioritas dari masing-masing opsi dapat dilihat
pada Tabel (8).
Berdasarkan Tabel (8), maka opsi pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan
pupuk menjadi opsi prioritas pertama untuk dilaksanakan oleh perusahaan, karena opsi ini secara
teknis sangat mudah dilaksanakan, memberikan keuntungan tertinggi dengan payback period
tercepat dan member manfaat yang sangat besar bagi lingkungan.
Tabel 8. Prioritas dari Masing-masing Opsi

18

Sedangkan proses pembuatan nata de coco adalah penyaringan, pecampuran, perebusan,


penempatan dalam wadah fermentasi, pendinginan, penambahan starter, fermentasi
(pemeraman), pemanenan, pembersihan kulit, pemotongan, perebusan dan pengemasan.
Pada proses produksi nata de coco dihasilkan limbah cair berupa sisa cairan fermentasi
dan sisa penggunaan air selama proses produksi. Limbah semi padat berasal dari kotoran
berbentuk lendir dari hasil perebusan, lapisan kulit nata dan sisa potongan nata de coco serta
hasil panen nata yang gagal (jika terjadi kegagalan panen). Sedangkan limbah padat berasal dari
kotoran pada waktu penyaringan, Koran penutup Loyang atau botol yang sudah tidak terpakai
dan plastik sisa penutup kemasan gelas plastik/cup.
Opsi produksi bersih yang bias dilakukan adalah pemanfaatan kotoran hasil penyaringan,
perebusan dan pembersihan kulit untuk pembuatan pupuk, pemanfaatan kembali sisa cairan
fermentasi, pemanfaatan kembali air sisa selama proses, pemanfaatan sisa potongan nata untuk
pembuatan pupuk dan menjual sisa plastik pengemasan.
Berdasarkan hasil studi kelayakan, opsi yang memperoleh prioritas tertinggi atau pertama
adalah opsi pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan pupuk, dengan total skor 15.5 serta
keuntungan Rp. 611582,4 dan payback period 0,4578 bulan. Sedangkan opsi yang mendapat
prioritas terendah adalah pemanfaatan kembali air sisa selama proses, karena nilai ekonomi yang
diberikan sangat rendah serta payback periodnya sangat lama yaitu 27.2866 bulan.

19

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Proses pembuatan nata de coco diawali dengan pembuatan starter atau bibit dengan
tahapan proses adalah penyaringan , pencampuran, perebusan . peniangan larutan kedalam botol,
pendinginan, penambahan bahan biakan dan pemeraman. Sedangkan proses pembuatan nata de
coco adalah penyaringan , pencampuran , perebusan , penempatan dalam wadah fermentasi,
pendinginan , penambahan starter , fermentasi , pembersihan kulit , pemotongan , perebusan dan
pengemasan.
Pada proses produksi nata de coco dihasilkan limbah cair berupa sisa cairan
fermentasidan sisa penggunaan air selama proses produksi. Limbah semi padat berasal dari
kotoran berbentuk lendir dari hasil perebusan , lapisan kulit nata dan sisa potongan nata de coco
serta hasil panen nata yang gagal (jika terjadi kegagalan panen). Sedangkan limbah padat berasal
dari kotoran pada waktu penyaringan, koran penutup loyang atau botol yang sudah tidak terpakai
dan plastik sisa penutup kemasan gelas plastik.
Opsi produksi bersih yang bisa dilakukan adalah pemanfaatan kotran hasil penyaringan,
perebusan dan pembersihan kulit untuk pembuatan pupuk, pemanfaatan kembali sisa cairan
fermentasi, pemanfaatan kembali air sisa selama proses, pemanfaatan sisa potongan nata untuk
pembuatan jelly drink, pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan pupuk dan menjual sisa
plastik pengemasan.
Berdasarkan hasil studi kelayakan, opsi yang memperolehprioritas tertinggi adalah opsi
pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan pupuk, dengan total nilai 15.5 dan
memperoleh keuntungan Rp. 6111582,4 dan payback period 0.4578 perbulan. Sedangkan opsi
yang mendapatkan prioritas terendah adalah pemanfaatan kembali air sisa selama proses , karena
nilai ekonomi yang diberikan sangat rendah serta payback periodnya sangat lama yaitu 27.28866
bulan.
5.2 Saran
Perusahaan nata de coco sebaiknya memanfaatkan limbah dari proses pembuatan nata de
coco sesuai dengan opsi yang ditawrkan. Opsi pertama sebaiknya adalah memanfaatkan sisa
potongan nata untuk pembuatan pupuk karena sangan mudah untuk dilaksanakan , memberi nilai
ekonomi tinggi dan berpengaruh sangat besar terhadap lingkungan. Selanjutnya yaitu penerapan
produksi bersih dalam bentuk goog housekeeping seperti yang telah diuraikan, perlu dilakukan
untuk meningkatkan efesien dan efektifitas perusahaan.

20

DAFTAR PUSTAKA

LIPI.1999. Pedoman Pembuatan Nata de Coco dari limbah air kelapa. Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia. Bogor : Puslitbang Bioteknologi.
Lapuz, MM., E.G . 1967 . The Nata Organism Cultural Requirement, Characteristic and
Identity. Philipe J.of Sci
Pudjiastuti, L.1999. Produksi Bersih. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
United States Agency for International Development (USAID). Panduan Pengintegerasi Produksi
Bersih kedalam Penyusunan Program Kegiatan Pembangunan Deprending. Jakarta.
Mempelajari Penerapan Produksi Bersih dan Penangan Limbah di PT.Great Gian
Pineapel Company , Lampung Tengah. Laporan Praktek Lapang . Fateta IPB. Bogor ,
1997.2000.
Warisno. 2004. Mudah dan Praktis Membuat Nata de Coco. Jakarta : Agromedia Pustaka

21