Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI

BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMIRI
KECAMATAN KEMIRI KABUPATEN PURWOREJO
TAHUN 2013
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan
Program pendidikan Diploma III Kebidanan
Program Studi Kebidanan Magelang
Politeknik Kesehatan
Semarang

Disusun Oleh :
Heni Ashari
NIM 174 24 213 065

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PROGRAM STUDI KEBIDANAN MAGELANG
2013

1

karena nilai kesakitan merupakan cerminan dari lemahnya daya tahan tubuh bayi dan anak balita. Pemantauan status gizi dapat digunakan sebagai . infeksi dan kekurangan gizi. Tingginya angka kematian bayi di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. (Moehji. Angka kesakitan bayi menjadi indikator kedua dalam menentukan derajat kesehatan anak. (Hidayat. LATAR BELAKANG Angka kematian bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini. Angka kesakitan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh status gizi. usaha pencegahan dan perlindungan anak terhadap penyakit infeksi tertentu merupakan hal yang mutlak dalam memelihara kesehatan dan gizi anak. 2008) Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa banyak negara dua penyebab utama tingginya angka kematian bayi dan anak adalah gangguan gizi dan infeksi. 2003) Status gizi menjadi indikator dalam menentukan derajat kesehatan anak. Oleh karena itu mencukupi kebutuhan anak akan zat gizi melalui pemberian ASI dalam jumlah cukup dengan cara yang benar. Status gizi yang baik dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mencapai kematangan yang optimal.2 BAB I PENDAHULUAN A. diantaranya faktor penyakit.

psikomotorik dan bahasa (Aswin. Beberapa penelitian menurut Owen dalam Aswin (2008) mendukung asumsi bahwa ASI eksklusif dapat meningkatkan berat . karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. ASI bertindak sebagai makanan utama bayi. 2009). 2008). 2008). 2012). Guna memenuhi semua kebutuhan bayi. pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan manfaat bagi bayi (Prasetyono. maka ASI perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). terutama pada usia sebelum 2 tahun. sedangkan perkembangan optimal dapat dilihat dari adanya peningkatan kemampuan motorik. Setelah berumur 1 tahun. Pertumbuhan yang optimal dapat dilihat dari adanya penambahan berat badan sesuai umur. lebih tahan terhadap infeksi. sedangkan kenaikan berat badan bayi ASI eksklusif normal (Roesli. Penelitian menunjukkan bahwa kenaikan berat badan bayi yang diberi susu formula terlalu banyak.3 bentuk antisipasi dalam merencanakan perbaikan status kesehatan anak (Hidayat. Sebagai hasilnya bayi yang mendapat ASI secara eksklusif kelak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. tidak mudah terkena alergi dan lebih jarang sakit. Ketika bayi berusia 6-12 bulan. ASI dapat menghindarkan bayi dari kegemukan kelak bila ia besar. meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan memperoleh semua kelebihan ASI serta terpenuhi kebutuhan gizinya secara maksimal sehingga dia akan lebih sehat.

000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan sejak sejam pertama setelah kelahirannya tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan kepada bayi (Prasetyono. ASI eksklusif dapat menekan angka kematian bayi di Indonesia. 2012). 2007). jantung.3 juta jiwa di seluruh dunia. UNICEF menyatakan bahwa 30. hipertensi dan diabetes (Amirudin. Sementara itu menurut UNICEF. Berdasarkan data WHO tahun 2011. Sedangkan anak-anak yang tidak diberi ASI Eksklusif mempunyai kemungkinan lebih besar menderita kekurangan gizi dan obesitas serta ketika dewasa lebih mudah terjangkit penyakit kronis seperti kanker. termasuk 22% nyawa yang melayang setelah kelahiran. Bahiyatun (2009) menyatakan keuntungan yang diperoleh bayi dari mengonsumsi ASI yaitu mencegah terjadinya gizi yang salah (marasmus. kelebihan makanan. dan obesitas).4 badan bayi tanpa menimbulkan pengaruh buruk akibat kelebihan berat badan dikemudian hari. UNICEF (United Nations Children’s Fund) sebagai lembaga PBB berfokus pada kesehatan anakanak melaporkan tentang prosentase bayi dengan usia kurang dari 6 bulan yang telah mendapatkan ASI eksklusif pada tahun 2008 hanya 37% untuk Negara berkembang. . Sebuah analisis menerangkan bahwa memberikan ASI selama 6 bulan dapat menyelamatkan 1. total populasi di dunia didapatkan kurang dari 40% bayi di bawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif.

Sedangkan menurut profil kesehatan puskesmas bulan April 2013. sejauh ini pencapaian cakupan pemberian ASI eksklusif masih jauh dari target yang diharapkan secara nasional.8% memberikan ASInya secara ekslusif.57%. Laporan bulanan Gizi kabupaten Purworejo bulan Desember 2012 melaporkan bayi 0-6 bulan yang sudah diberi ASI eksklusif sebesar 75. Namun. Sementara di Indonesia target pemerintah mengenai program pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan adalah 80 %. 2010).. Berdasarkan profil kesehatan Provinsi Jawa tengah..5 Dalam rangka penurunan angka kematian bayi dan kejadian gizi buruk Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada tahun 2001 merekomendasikan agar bayi baru lahir mendapat ASI eksklusif selama enam bulan karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna dan terbaik bagi bayi (Kervin et al. 2010. Roelants et al. hal ini masih terpaut jauh dari target nasional yang telah ditetapkan yaitu sebesar 80%. sepanjang tahun 2011 cakupan bayi yang mendapat ASI eksklusif hanya 57. Data tersebut menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif masih rendah bila . Hal ini disebabkan karena kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah (Depkes.67%.8% yang berarti bahwa total jumlah ibu menyusui adalah 57.3%. angka cakupan ASI Eksklusif di kecamatan Kemiri hanya mencapai 75. persentase bayi yang menyusui eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya 15. (Sriningsih.2011). 2011) Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan pemberian ASI di Indonesia saat ini memprihatinkan.

Dari laporan bulanan kegiatan UPGK Puskesmas Kemiri April 2013 diperoleh data jumlah bayi 0-6 bulan di desa Kedunglo sebanyak 30 bayi. Tujuan Umum Mengetahui hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo Tahun 2013?” . TUJUAN PENELITIAN 1. Sedangkan untuk status gizi buruk ada 2 balita. B. Oleh karena itu. yang mendapat ASI eksklusif 16 bayi (53.6 dibandingkan dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Nasional ASI eksklusif yaitu 80%. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan. maka didapatkan rumusan masalah : “Adakah hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan status gizi bayi usia 612 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo Tahun 2013?” C. status gizi kurang ada 11 balita dan status gizi lebih ada 1 balita dari 123 balita.3%). berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri kabupaten Purworejo tahun 2013.

2. Untuk menganalisa hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo tahun 2013. RUANG LINGKUP 1. c. Untuk menggambarkan distribusi frekuensi status gizi bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo tahun 2013. D. b.7 2. Untuk menggambarkan distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo tahun 2013. Tujuan Khusus a. Lingkup variabel penelitian Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai variabel bebas adalah pemberian ASI eksklusif dan sebagai variabel terikat adalah status gizi bayi usia 612 bulan. Ruang lingkup penelitian Penelitian ini adalah penelitian tentang status gizi bayi dan merupakan penelitian analitik korelasional. 3. Lingkup subyek .

b. E. Peneliti a. Bagi Masyarakat a. MANFAAT PENELITIAN 1. Lingkup waktu penelitian Penelitian dilakukan pada tanggal 23 Mei sampai dengan 15 Juni 2013. Memberikan pengalaman dalam pembuatan penelitian untuk bekal ke jenjang pendidikan selanjutnya 2. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang berkaitan dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan. Meningkatkan peran pelayanan kesehatan khususnya oleh bidan dan untuk pemantauan status gizi bayi. Meningkatkan pendidikan kesehatan tentang pentignya pemberian ASI Eksklusif. b. . 3. Bagi Instansi Kesehatan/Puskesmas a.8 Responden dalam penelitian ini adalah bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo. 4. Menambah sumber informasi bagi masyarakat tentang manfaat ASI Eksklusif terhadap status gizi bayi.

441 (P = 0. KEASLIAN PENELITIAN Penelitian yang dilakukan oleh Endang Widyastuti dengan judul “Hubungan Riwayat Pemberian ASI Eksklusif dengan Status Gizi bayi 6-12 Bulan di Provinsi NTB Tahun 2007” penelitian dilakukan dengan menggunakan desain kasus control tidak berpasangan. Bayi 6-12 bulan di Provinsi NTB yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif 2. F.256-0. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam dukungan pemberian ASI Eksklusif. Hasil yang diperoleh yaitu bayi 6-12 bulan di Provinsi NTB yang diberi ASI Eksklusif beresiko 0. .760) kali untuk menderita gizi kurang dibanding bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan penulis adalah hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan. Variabel bebas penelitian adalah pemberian ASI Eksklusif dan variabel terikat penelitian adalah status gizi bayi usia 6-12 bulan.003.9 b. CI 95% : 0. Penelitian dilakukan di wilayah kerja puskesmas Kemiri kecamatan Kemiri kabupaten Purworejo dengan menggunakan metode penelitian Restrospective dengan jumlah sampel 119 bayi dari 170 bayi 0-6 bulan per Mei di wilayah kerja puskesmas Kemiri.3 kali lebih beresiko untuk menderita gizi kurang dibanding bayi yang mendapat ASI Eksklusif.

10 .