Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH HARGA BEBAN NORMAL TERHADAP DEFORMASI PLASTIS

PADA KONTAK DUA BENDA
B.S. Hardjuno1), J.D. Setiawan2), R. Ismail2), dan J. Jamari2)
1)

Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Semarang
Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang
1)
E-mail: Sighh22@yahoo.com

2)

Abstract
Running-in is a term to express effectively tolerance in rolling and sliding function between two
components. There are several parameter change during running-in, which are chemical aspect
or mechanical aspect. But, majority change in micro-geometric due to wear or plastic
deformation. Contact deformation occur when two solid surface pressed and slided each other.
Friction and wear are not properties of material but effect of the way to operate and its depend
on its material.This paper studies on plastic deformation due to normal force acting between
two surface. Two weight 8000 N and 11000 N respectively used in this research. The result
shows the weight of 11000 N has more effect in plastic deformation then the weight of 8000 N.
Keywords: Deformation, rasio radius, rolling contact, running-in
PENDAHULUAN
Running-in adalah suatu cara yang efektif untuk
penyesuaian kontak dua komponen dalam situasi
fungsional rolling dan atau sliding. Ada banyak
perubahan parameter selama running-in, kimiawi
atau mekanis. Namun, perubahan geometri-mikro
karena keausan atau deformasi plastis dominan
(Jamari, 2006).
Dua istilah yang terkait dengan running-in adalah
pemotongan (truncation) asperiti dan pemerasan
(shakedown) elastis. Dalam pemotongan asperiti,
kebanyakan studi telah dilakukan dengan
pemodelan statistik pada permukaan komponen.
Bentuk perubahan kurva distribusi amplitudo
setelah running-in ditunjukkan dalam Gambar 1.
Orang akan berharap perubahan parameter
permukaan seperti kekasaran statistik rata-rata,
kekasaran root-mean-square, tinggi puncak ke
lembah, lereng, dan sebagainya selama running-in.
Namun, perubahan topografi permukaan sebenarnya
tidak hanya distribusi tinggi (satu dimensi) tetapi
perubahan dalam tiga dimensi agar sesuai satu sama
lain.
Dalam sebagian besar kontak mekanik permukaan,
koefisien gesek dan keausan yang menurun karena
proses running-in. Deformasi plastis menyebabkan
peningkatan area kontak dan sebagai hasilnya,
penurunan tekanan kontak rata-rata atau daya
dukung beban meningkat. Perlu dicatat bahwa jika

110

terjadi deformasi plastis makroskopik, perubahan
dari diameter roller di bantalan rol misalnya, akan
ada kegagalan fungsi. Tetapi jika terjadi deformasi
plastis mikroskopis, yaitu pada tingkat kekasaran,
kinerja fungsi dari komponen-komponen mesin
akan meningkat.

Gambar 1. Pengaruh running-in pada profil
permukaan, (Whitehouse, 1994).
Ketika dua permukaan benda padat saling menekan
selalu akan terjadi deformasi kontak, berdasar
peninjuan skala yang digunakan, deformasi kontak
dapat dikategorikan sebagai macro contact atau
micro contact. Kebanyakan permukaan benda padat
adalah tajam pada skala mikro. Titik titik tertinggi
(microprotrusions), biasa disebut asperiti, ada pada
semua permukaan padat, lihat Gambar 2.
Pada permukaan yang tidak dilumasi, ketika
permukaan tersebut saling menekan, kontak yang
nyata terjadi pada asperiti. Jumlah asperiti pada area
kontak semakin banyak seiring meningkatnya

beban yang diberikan. tergantung material yang digunakan dan kondisi pengoperasian. Tegangan lokal pada titik kontak jauh lebih tinggi dari pada tegangan nominal. elastis-plastis atau plastis (fully plastic). energi mekanik terkonversi. Oleh karena itu deformasi plastis lokal pada umumnya ditemukan pada kontak permukaan yang tajam. tetapi permukaan menjadi lebih halus dan asperiti rata. 1989). J. PENGARUH HARGA BEBAN NORMAL TERHADAP. MEKANISME RUNNING-IN Selama perioda running-in. Selama interaksi.D. Masalah ini merupakan dasar pemahaman mengenai running-in kaitannya dengan proses running-in. Setelah periode running-in.. 2006). Sebagai konsekuensi alami suatu interaksi dua permukaan yang saling bergerak relative akan berlangsung gesekan dan keausan antar muka.didefinisikan sebagai kondisi sistem tribo (tribo-system) ditentukan dimana koefisien gesek dinamis rata-rata. sehingga menurunkan temperatur permukaan. dimana tegangan timbul akibat pembebanan. laju keausan menurun menuju keadaan setimbang (steady state). Asperiti-asperiti yang lebih tinggi seolah-olah digosok. laju keausan. Seperti diketahui prinsip dasar kontak rolling adalah kontak statis (stationary contact). Laju keausan menurun hingga mencapai laju keausan normal yang stabil (steady-state) untuk suatu desain pasangan kontak.. sifat fisika dan kimia material yang saling berinteraksi diubah. Asperiti pada benda padat kadang-kadang dianggap sebagai bentuk bola pada puncaknya dengan ukuran berbeda beda sedemikian sehingga studi tentang kontak dua permukaan dapat disederhanakan sebagai deretan kontak bola yang terdeformasi pada ujungnya (Jamari. Tergantung beban yang ditahan oleh asperiti dan sifat makanik bahan. Setiawan.…( B. beban diarahkan. J. lembah-lembah terisi dan semua bentuk menjadi saling selaras/sesuai (matching). Deformasi terjadi pada daerah kontak. deformasi asperiti disini ditinjau dari kontak rolling. Istilah posisi mantap (steady state). Kontak rolling salah satu solusi yang digunakan untuk mengendalikan gesekan dan keausan kaitannya dengan pembebanan antar permukaan pada dua permukaan yang dipisahkan oleh suatu bentuk roll. dimana jangka waktu tanpa alternatip tergantung pada sistem tribologi (tribo-system). asperiti ditekan kebawah. Gesekan dan keausan bukanlah sifat material. Skema representasi dari perilaku keausan sebagai fungsi dari waktu (Jamari.S. perubahan topografi permukaan tergantung beban dan arah gerakan. 2006). Hardjuno. P. Jamari) 111 . Kapasitas kemampuan menahan beban meningkat ke desain operasi. Ada dua mekanisme utama dalam periode running-in. Kerugian gesekan umumnya menurun selama periode ini dan celah antar permukaan (clearance) bertambah. Mekanisme deformasi plastis mirip penghalusan bola (roller burnishing). R. puncak-puncak kekasaran hasil akhir proses pemesinan berkurang dengan mekanisme aliran plastis. J. deformasi plastis dan pengausan lembut (mild wear) (Whitehouse. dan parameter khusus lain sudah tercapai dan merawat suatu tingkatan yang konstan (Blau. kondisi-kondisi layanan penuh dapat diterapkan tanpa peningkatan laju keausan secara mendadak. yang mana deformasi asperiti adalah salah satu mekanisme dalam proses running-in. Pada dasarnya ilmu tribologi dapat dimengerti melalui pemahaman sifat interaksi dan pemecahan masalah teknologi hubungannya dengan gejala antar permukaan. Paper ini membahas deformasi plastis pada kontak dua benda kaitannya dengan pengaruh perbedaan harga pembebanan normal yang diberikan. Gambar 3. Temperatur lebih tinggi umumnya disebabkan karena laju keausan (wear rate) lebih tinggi. tetapi sifat sistem. D. 2006). (Jamari. 1980). asperiti akan terdeformasi elastis. Ismail. Permukaan benda dan asperiti. Gambar 2. J. Rezim mantap rendah (steady low) laju keausan menjaga untuk umur operasi yang direncanakan.

K. L. Suatu kontribusi penting kepada kerugian material/hilangnya material dikendalikan oleh pembebanan berulang dimulai. dan hasilnya disajikan pada Gambar 4. G. L. Jelas. 1986). dan Johnson.Laju keausan dapat naik sekali lagi ketika waktu operasi menjadi cukup lama untuk proses lelah ke terjadinya dalam lapisan atas permukaan yang terbebani.. Berdasarkan hipotesis ini. dan fragmentasi. T. No. dan Shercliff. Rasio deformasi plastis (ωp1/ ωp2) mengecil dengan kenaikan rasio radius (R1/R2) benda. K. pertumbuhan retak.3. KONTAK ROLLING Kontak rolling dapat ditemukan dalam berbagai aplikasi seperti bantalan rol. 1991).115 . teramati bahkan pada benda yang memiliki kekerasan yang sama. R. L. STUDI PUSTAKA Dari hipotesis Johnson. Q. (1992) yang menyatakan bahwa “ketika terjadi kontak asperiti dua benda yang memiliki kekerasan sama. Partikel dari seperti proses aus lelah (characteristically) sangat lebih besar dari pada gabungan fragment kecil dengan adhesive atau keausan abrasive (Williams.. Benda dengan radius lebih besar terdeformasi plastis lebih sedikit daripada benda dengan radius lebih kecil. 1994). (Jamari. E = 210 GPa dan ν = 0. EKSPERIMEN Garis besar alur eksperimen seperti pada Gambar 5. Pengamatan eksperimental telah menetapkan bahwa kontak rolling murni menghasilkan aliran “maju” dan gerakan permukaan progresif meluruh dengan meningkatnya jumlah guliran (rolling passes) (Hahn. R. 2006).3).. Desember 2012 :110 . dan Huang. Gambar 4. tidak terikat pada ukuran geometrinya”. H. Jamari (2006) melakukan ekperimen pada kontak antara dua bola baja keras (H = 8. Jelas bahwa deformasi plastis dekat-permukaan berkontribusi pada keausan sliding dan permulaan retak kelelahan kontak (Bower. kedalaman deformasi plastis adalah sama untuk masing-masing benda. dan Shercliff. ban. A. Sejumlah pasangan kontak dengan rasio radius yang berbeda telah dipilih. 112 Gambar 5 Diagram alir eksperimen TEKNIS Vol.. Rasio deformasi plastis sebagai fungsi dari rasio radius benda kontak. F. Saat beban kontak melebihi batas shakedown plastis. 7. K. J. tingkat deformasi plastis benda kontak tidak sama. A.3 GPa. siklus berkelanjutan (continuous cyclic) deformasi plastis terjadi dekat permukaan kontak. yang berbeda dengan hipotesis Johnson.. serta rel dan roda. Siklus deformasi mempromosikan perubahan mikro dan menghasilkan kegagalan elemen rol dalam bentuk permulaan retak... H. roda gigi.

Hardjuno. kemudian dikeringkan di udara bebas. ν = 0. Eksperimen dilakukan menggunakan 2 beban. Pembebanan tiap pasang spesimen dilakukan dengan menahan beban sebesar 8000 N selama 1 menit.5. Beban yang diberikan sebesar 8000 dan 11000 N selama 1 menit. 8. dikeringkan di udara bebas dan diukur arah axial seperti Gambar 8. kelompok pertama menggunakan beban 8000 N dan kelompok kedua 11000 N. Pada eksperimen ini menggunakan 7 macam perbandingan pasangan.84. R. 2:1.Prosedur Eksperimen Detail Eksperimen Eksperimen dilakukan pada mesin uji tekan. 3. J.5.3) dengan radius: 17. agar titik pengukuran tepat pada sumbu spesimen maka digunakan alat bantu penepat titik sumbu (center locator) seperti pada Gambar 8. PENGARUH HARGA BEBAN NORMAL TERHADAP. Sebelum melakukan eksperimen semua spesimen dibersihkan menggunakan alkohol. E = 96000 MPa.38. mulai dari pasangan spesimen yang memiliki perbandingan radius 1:1. Spesimen dipasang pada pemegangnya dengan suaian sliding sehingga menjamin keduanya sesumbu. Peralatan tersebut diletakan diantara rahang tetap dengan rahang gerak. 3:1. 4:1. Spesimen Bentuk setengah bola dibuat dari bahan brass (H = 0. sehingga ketika rahang gerak diberi beban maka kedua spesimen akan saling menekan. Jamari) 113 . Eksperimen dilakukan dengan kondisi kering (tanpa pelumas). 6:1. kemudian beban ditiadakan. 4. kedua spesimen masing-masing dipasang pada pemegangnya kemudian kedua pemegang beserta spesimennya dipasang pada pengarah dengan posisi saling berhadapan sehingga terjadi kontak di permukaan yang berbentuk setengah bola. masing-masing pemegang beserta spesimen dimasukan kedalam pengarah saling berhadapan sehingga kedua spesimen saling kontak seperti Gambar 6. Eksperimen dilakukan dengan cara menekan spesimen pada mesin uji tekan. J. agar kedua spesimen sesumbu maka hubungan pemegang dan pengarah dibuat suaian sliding. Ismail.5 mm.31 GPa. 5:1. kemudian baru dipasang pada mesin uji tekan untuk dilakukan pengujian. 2.D.S. 5. Gambar 8 Micrometer dan center locator. agar hasil eksperimen akurat tiap perbandingan pasangan dibuat 3 pasang spesimen. sebelum spesimen dipasang pada pengarah dibersihkan menggunakan alkohol terlebih dahulu.75. Gambar 7 Spesimen. Mesin uji tekan. Setiawan. Spesimen diukur arah axial menggunakan mikrometer. selisih panjang spesimen sebelum dengan setelah diuji merupakan besarnya deformasi yang terjadi pada masing masing spesimen. Setelah spesimen dilepas dari pemegangnya kemudian diukur lagi arah axial seperti Gambar 8. dan 7:1.92 dan 2.…( B. Gambar 6.

524 0.115 20.319 Mean ωP1 ω P1 No L R 2o L R 2d 0.262 20.021 20.921 0.303 20.150 0.521 8.429 0.343 0.246 20.265 0.1 1.167 20.549 0.132 0.218 0.212 0.108 0.107 0.221 0.329 20.243 0.121 0.110 0.524 8.421 0.192 20.324 0.128 2 3 1 0.163 6.160 5. 114 6 7 Dari Tabel 1 dan Tabel 2 jika dibuat grafik ωP1+ωP2 vs pasangan R1 dan R2 dapat dilihat pada Gambar 11.1 2.131 20.462 5.277 0.017 20.133 4 Gambar 10.878 8.357 20.136 19.334 20.8 Kurva fitting Tabel 1.1 7.266 20. TEKNIS Vol.421 20.157 0.162 20.3.216 0.112 0.743 0.518 5.745 11.309 5. ω 0.348 8.1 1.1 7.6 ω P1 Hasil pengukuran spesimen sebelum dan setelah diuji dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.371 20.2 3.2 4.3 4.998 5.2 7.569 11.2 Rasio R=7 1.681 0.190 1.086 1.485 0.489 0.023 20.158 0.253 20.3 5.133 20.998 6.2 1.392 11. + 20.457 0.206 20.067 20.597 0.548 11. Grafik ωP1+ωP2 vs pasangan R1 dan R2 untuk beban 8000 N dan 11000 N.091 0.2 5.758 1.352 20.133 2 3 1 0.810 6.3 6. No.327 0.520 0.1 2.136 0.490 0.166 0.411 20.094 0.273 20.109 0.229 0.659 0.1 6.033 20.2 5.138 0.490 6.132 19.111 0.525 0.0 1 3 4 5 6 7 20.312 0.192 20.115 .601 0.145 20.409 0.305 0.853 11.229 20.227 0.0 8000 N 11000 N 0.021 4.2 7.180 20.313 0.3 7.946 20.Deformasi spesimen untuk beban 11000 N Mean Mean ω P 1/ R 1/R 2 No L R 1o L R 1d ω P 1 No L R2o L R 2d ω P 2 ωP1 ωP2 ωP2 ωP1+ ωP2 1 Kurva fitting 0.1 5.248 0. 7.612 5.129 0.133 20.224 1 2 3 4 5 6 7 20.138 0.890 5.208 8.770 6.434 4.296 8.512 8.3 2.706 0.419 0.1 6.135 0.594 0.986 6.321 0.095 0.294 11.664 0.244 20.976 0.3 3.497 5. Dari Gambar 11 terlihat deformasi spesimen meningkat ketika rasio radius spesimen meningkat.110 0.540 4.2 3. Desember 2012 :110 .650 0.629 5.232 20.779 0.419 20.158 6.157 6.283 6.128 20.420 0.6 P1 20.1 3.627 0.380 0.124 20.056 20.264 20.217 0.760 6.2 6.128 20.542 20.235 0.002 20.111 0.157 0.118 0.054 Dari Tabel 1 dan Tabel 2 jika dibuat grafik ωP1/ωP2 vs R1/R2 dapat dilihat pada Gambar 10.515 0.107 0.316 20.569 5.313 0.438 4.041 20.480 11.483 0.559 11.0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Pasangan spesimen (R 1 de ngan R 2) 11000 N 8000 N Kurva fitting Kurva fitting Gambar 11.2 4.309 7.570 0.2 2. 1.103 0.464 20.678 0.022 6.425 8.527 6.607 0.3 5.555 0.Kemudian dilanjutkan eksperimen kelompok 2 dengan langkah yang sama tetapi beban yang diberikan sebesar 11000 N.796 0.985 0.1 4.175 11.192 5.392 0.3 3.238 20.978 0.381 20.120 20.139 3 R 1 /R 2 Rasio R=4 Rasio R=6 Rasio R=5 Rasio R=6 0.007 20.151 0.194 20.504 0.766 5.837 6.201 19.577 8.112 0.121 0.143 2 3 5 Dari Gambar 10 terlihat rasio deformasi menurun ketika rasio radius meningkat.706 0.497 0.439 20.108 0.693 0.2 6.333 5.1 4.287 11.557 0.329 20.558 0.607 0.549 0.272 2 Rasio R=7 Rasio R=3 Rasio R=2 ω 2 1.397 20.251 0.157 0.3 20.564 0.811 0.395 7.392 6.3 6.031 20.308 20.674 6.113 0.480 8.114 0.925 6.135 2 3 1 0.387 20.957 0.163 0.408 11.538 5.3 0.063 0.314 0.147 0.024 0.259 0.004 20.248 20.363 8.108 0.419 20.110 0.484 0.1 3.065 20.107 0.452 5.513 0. /ω P2 HASIL DAN PEMBAHASAN Rasio R=4 0.402 11.608 0.450 20.2 0.371 0. 1.420 0.364 20.354 0.095 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 20.684 6.147 2 3 1 0.157 0.523 0.485 5.193 20.315 6.866 1.141 2 3 1 0.129 0.987 20.113 0.3 2.279 19.329 20.117 20.2 Tabel 2.3 7.382 20.2 1.730 0.4 0.114 0.1 5.139 0.087 20.568 0.156 0.132 0.138 0.169 0.332 20.343 20.153 20.250 20.081 Mean ω P 1/ ωP2 ω ω ωP1+ ωP2 P2 P2 0.112 20.107 0.123 0. Deformasi spesimen untuk beban 8000 N R 1/R 2 No L R 1o L R 1d 1.352 20.0 Rasio R=5 0.231 6.097 0.2 2.112 0.244 0.545 5.084 0.118 5.8 P2 1 0.821 6. Grafik ωP1/ωP2 vs R1/R2 untuk beban 8000 N dan 11000 N.987 20.368 20.149 20.507 0.109 0.322 20.123 0.033 20.154 0.3 4.825 6.306 20.284 0.109 0.135 0.912 7.176 20.363 0.105 0.215 0.475 20.200 20.222 0.903 0.748 5.640 0.843 8.995 20.255 0.200 0.967 0.144 0.765 0.120 0.366 20.290 20.117 2 3 1 0.989 5.137 20.4 Rasio R=1 Rasio R=1 Rasio R=2 Rasio R=3 0.422 0.

Handbook of Surface Metrology.. Disertasi Program Doktor. Hardjuno. T. (1994). pp. Setiawan. Williams. University of Twente. ‘‘Plastic Flow and Shakedown of the Rail Surface in Repeated Wheel-Rail Contact. Dari Gambar 11 dapat disimpulkan bahwa harga deformasi plastis untuk beban 11000 N lebih besar dari pada untuk beban 8000 N. and Huang.’’ Wear. J.. A. 1561–1572. K. Fundamentals of Tribology.KESIMPULAN Dari Gambar 10 terlihat kedua kurva fitting sesuai dengan peneliti sebelumnya yang ditunjukkan pada Gambar 4. J. Whitehouse. (1986). P. pp... H. Johnson.S. (1980). ‘‘Rolling Contact Deformation of 1100 Aluminum Disks. A. Jamari) 115 .” Int. Journal of Mech. D. G. K. Ismail. (1994). pp. The effect of surface topography on wear.. MIT. L. The Netherlands. (1992). edited by Suh and Saka. Institute of Physics Publishing. 17 – 52.…( B. R.. “Shakedown of 2-dimensional asperities in sliding contact. (2006). A. 1–18. 375 – 394. F. NJ. Whitehouse. Bower. pp. DAFTAR PUSTAKA Jamari. PENGARUH HARGA BEBAN NORMAL TERHADAP. (1989). J. Hahn.. and Shercliff. J. 114. Trans. Noyes. Blau.’’ Metall. Sciences 34. Q. and Johnson. (1991).D.L.. Running-in of rolling contacts. Oxford University Press. Park Ridge. Engineering Tribology. 17A. R. J. D. J. Friction and Wear Transitions of Materials.