Anda di halaman 1dari 22

Konsep dasar dari model kognitif depresi adalah bahwa depresi dikarakteristikan dengan

pemikiran negatif. Orang-orang depresi jmemiliki kepercayaan negatif tentang dirinya, dunia,
dan masa depannya. Pemikiran negatif juga bermanifestasi menjadi kesalahan dalam logika,
overgeneralisasi, penarikan kesimpulan global dari satu fakta, yang merupakan suatu kesalahan.
Terapi kognitif mencakup usaha untuk memperbaiki pola pemikiran negatif pasien, dimana,
diperkirakan akan membantu mereka mengatasi gejala depresif tersebut. Meskipun terdapat
beberapa psikoterapi perilaku kognitif untuk depresi, peneliti fokus terutama pada Becks CT.
Becks CT merupakan terapi jangka pendek dan terstruktur. Teknik CT dibagi menjadi tiga
kelas. Terapi perilaku dipergunakan untuk memfasilitasi peran serta pasien dalam aktivitas yang
memberikan mereka suatu perasaan senang, juga untuk menguji kepercayaan (contoh. Saya
bahkan tidak bisa bangun pagi pada pagi hari). Teknik kognitif dipergunakan untuk
memberikan pasien semangat untuk menyembuhkan fungsi kognitif mereka. Seorang yang
depresi dapat belajar untuk menantang pemikiran saya tidak memiliki keahlian apapun dengan
mempertimbangkan bukti relevan dan spesifik. Pada tahap lanjut dari terapi, pasien diyakinkan
untuk mengenal dan mengubah pola dari pemikiran negatif. Melalui aplikasi dari teknik ini,
pasien diharapkan dapat mengalami gejala depresi yang lebih ringan dan mempelajari teknik
yang diajarkan dalam terapi terhadap kehidupan sehari-harinya.
The Cognitive Behavioral Analysis System of Psychotherapy (CBASP) merupakan terapi yang
relatif baru yang ditemukan oleh James McCullough untuk bentuk kronis depresi. Namun, tidak
seperti model CT untuk depresi, model CBASP untuk depresi menempatkan bahwa pasien
depresi berpikir sebelum bertindak dan hal ini merupakan kontributor utama bagi depresi pasien
yakni bahwa hal ini menyebabkan rasa stres pada kehidupannya masing-masing. Teknik CBASP
spesifik telah dikembangkan untuk menghadapi masalah ini. Meskipun baru dikembangkan,
CBASP telah diujipada percobaan kontrol acak besar dari pasien depresi kronik. Temuan utama
adalah bahwa CBASP dan farmakoterapi merupakan secara ekuivalen efektif dalam jangka
pendek (12 minggu), dan kombinasi dari CBASP dan farmakoterapi secara signifikan lebih
efektif daripada salah satu terapi saja.

Bukti terkuat untuk efikasi Becks CT didapatkan berdasarkan percobaan klinis acak yang
membandingkan CT dengan farmakoterapi. Pada empat penelitian mayor utama, peneliti gagal
menemukan manfaat yang signifikan untuk farmakoterapi. Penelitian lain yang fokus terhadap
depresi rekuren, juga mengemukakan tidak terdapat perbedaan dalam hal keefektivan antara CT
dan farmakoterapi.
Belakangan ini, terdapat kontroversi mengenai CT sesuai untuk dipergunakan sebagai terapi lini
pertama untuk depresi berat. The treatment of depression collaborative research program
(TDCRP) gagal menemukan perbedaan signifikan antara CT dan farmakoterapi diantara semua
sampel. Namun, analisis lain menunjukkan bahwa farmakoterapi masih lebih baik dibandingkan
dengan CT diantara orang-orang dengan depresi berat. Namun, pada penelitian metanalisis
termasuk penelitian TDCRP menemukan keuntungan yang tidak signifikan dari CT
dibandingkan dengan farmakoterapi.
Beberapa penelitian telah menemukan bahwa terdapat penurunan jumlah relaps pada CT
dibandingkan dengan farmakoterapi dalam 1 atau 2 tahun seletah penghentian pengobatan. Pada
satu tahun setelah pengobatan, 19% responder CT mengalami relaps. Dua tahun setelah
pengobatan, 46% mengalami relaps. Namun, 27% dari pasien yang diberikan kondisi CT telah
sembuh dan tetap sehat dalam 2 tahun. Berdasarkan temuan-temuan ini, menunjukkan bahwa
selain memberikan penyembuhan jangka panjang hanya pada minoritas pasien, CT tampaknya
relatif memiliki efek profilaksis dibandingkan dengan farmakoterapi jangka pendek.

Encyclopedia CBT 2005:


7
Freeman A, Felgoise SH, Nezu AM, Nezu CM, Reinecke MA. Encyclopedia of Cognitive
Behavior Therapy: Depression-General. USA: Springer Science + Business media,Inc.
2005.p.158-60.

Pada prakteknya, pengobatan kognitif dan perilaku biasanya digabungkan dengan istilah CBT
(Cognitive Behavior Therapy). Terdapat bukti yang baik akan efikasi dari CBT pada banyak
penyakit:

Pada kelainan depresi ringan hingga sedang, CBT setidaknya sama efektif dengan obat
antidepresan

Pada kelainan panik dan cemas fobia, CBT sepertinya merupakan pengobatan yang
paling efektif; manfaatnya lebih bertahan lama daripada anxiolitik dan mencegah
kekambuhan kelainan tersebut

Terdapat bukti yang baik akan efikasi pada neurosis lain termasuk kelainan somatoform
dan OCD

Bentuk yang dimodifikasi dari CBT merupakan pengobatan yang paling efektif pada
bulimia nervosa

CBT memiliki beberapa efek terhadap gejala psikotik pada skizofrenia

Terdapat bukti yang tidak konsisten bahwa CBT mencegah relaps pada kelainan bipolar

Lecture notes, ed 11
5
Gulati G, Lynall M, Lynall E, Saunders K. Psychiatry Lecture Notes: Treatment. UK:
Willey Blackwell. 11th ed.p.79

CBT menggambungkan aspek terapi perilaku dan kognitif untuk membentuk suatu pengobatan
yang dapat lebih efektif dibandingkan salah satunya. Hal ini dapat memberikan manfaat, dengan
mengurangi penghindaran, tetapi juga akan menimbulkan gejala fisik (palpitasi) dan pemikiran
negatif otomatis. Hal ini dapat dipergunakan sebagai dasar untuk intervensi kognitif sederhana,
mempergunakan rekaman pikiran disfungsional, yang dapat membantu pasien mendapatkan
kendali kembali akan pemikiran cemas mereka. Hal ini meningkatkan persepsi diri akan
pengendali yang akan mempermudah pajanan lebih lanjut. Penelitian perilaku dapat
dipergunakan untuk menguji kepercayaan terhadap pasien mengenai bagaimana tubuhnya dan
dunia di sekitarnya bekerja (contoh: berlari naik dan turun tangga untuk meningkatkan laju nadi
dan mencetuskan palpitasi dan untuk menunjukkan demonstrasi penyebab ringan dari
palpitasi) pengobatan CBT dapat membantu pasien menganalisa bentuk-bentuk yang berbeda
dari hal-hal yang dihindarkan pada kehidupan mereka. Penghindaran termasuk penghindaran
yang terlihat dan tak terlihat (termasuk perilaku berhati-hati). Hal ini merupakan suatu cara
personal mengurangi perasaan takut.

CBT membutuhkan latihan khusus, dan generalis hanya perlu mengetahui prinsip pengobatan
dan alasan utama rujukan. Bagaimanapun, terdapat beberapa prosedur sederhana yang dapat
dipergunakan untuk non-spesialis, seperti relaksasi, pajanan bertingkat, dan pengendalian cemas
Prinsip dari CBT

Pendekatan umum untuk CBT adalah terapis membantu pasien terutama untuk menjadi
sadar, dan kemudian mengubah pemikiran dan perilaku maladaptifnya

Pengobatannya bersifat kolaboratif dan pasien diperlakukan sebagai pasangan yang aktif
dan handal

Pasien melatih cara baru berpikir dan berlaku diantara sesi pengobatan; hal ini disebut
pr

Instruksi tertulis seringkali dipergunakan untuk memberikan penjelasan oleh terapis


selama masa pengobatan, karena penting bagi mereka untuk mengerti prosedur dengan
jelas

Gejala, kognisi, dan perilaku yang terkait dimonitor dengan merekam mereka dalam
rekam pikiran disfungsional, dimana ditandai kemunculan gejala, pemikiran dan kejadian
yang mendahului atau kemungkinan mencetuskan gejala, dan pemikiran dan kejadian
yang mengikuti dan kemungkinan meningkatkan gejala

Pengobatan membutuhkan bentuk dari serangkaian tugas bertingkat dan aktivitas tertentu
dimana pasien memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi masalah yang lebih ringan
sebelum mencoba masalah yang lebih berat

Tugas dan aktivitas tampak sebagai penelitian dimana pencapaian tujuan merupakan
tindakan sukses, dimana apabila tidak tercapai tidak dianggap kegagalan tetapi
kesempatan untuk belajar lebih banyak dengan menganalisa dengan baik dimana terjadi
kesalahan. Metode ini membantu mencegah kehilangan semangat dan mempertahankan
motivasi

Penelitian perilaku dapat dipergunakan untuk menguji prediksi pasien akan apa yang
akan terjadi dalam kondisi tertentu

CBT untuk kelainan depresi:

Pemikiran intrusif, biasanya pada tipe yang merendahkan diri (contoh: saya adalah orang
yang gagal). Saat mereka lemah, pemikiran tersebut dapat dinetralkan dengan pengalihan
perhatian, namun saat mereka kuat, akan sangat sulit untuk dikendalikan

Kesalahan logika mengacaukan pemikiran saat mengalami pengalaman, dan


mempertahankan pemikiran intrusif. Terapis membantu pasien mengenali cara pikir
irasional ini dan mengubahnya menjadi pemikiran yang lebih realistik

Asumsi yang maladaptif seringkali mengenai penerimaan sosial; sebagai contoh, asumsi
bahwa hanya seseorang yang sukses atau memiliki tambilan baik disukai oleh orang lain.
Pasien dibantu untuk memeriksa bagaimana ide seperti ini mempengaruhi dimana mereka
hanya berpikir mengenai dirinya sendiri dan orang lain.

Pasien depresi cenderung menarik diri atau mengundari aktivitas sosial dan pekerjaannya dan
mengarahkan kepada kehidupan yang tak terstruktur dan tak aktif. Terapis menggunakan
intervensi perilaku, penjadwalan aktivitas, untuk membantu pasien meningkatkan tingkat
aktivitas dengan membangun aktivitas yang memuaskan atau menyenangkan pada
kehidupannya.

Psikiatri oxford 137 ed 4


4

Geddes J, Price J, Mcknight R.Psychiatry: Behavioural and Cognitive Treatments. UK: Oxford
University Press. 4th ed. 2012.p.137-9

Terapi kognitif-menurut pencetusnya, Aaron Beck didasarkan pada rasional teoritis yang
mendasari bahwa afek dan perilaku seseorang sebagian besar ditentukan oleh cara ia menstruktur
dunia. Penstrukturan seseorang terhadap dunia didasarkan pada kognisi, yang berdasarkan
anggapan (skema yang dikembangkan dari pengalaman sebelumnya). Menurut Beck, jika
seseorang menginterpretasikan semua pengalamannya dalam hal apakah ia kompeten atau
adekuat, pemikirannya dapat didominasi oleh skema, saya gagal kecuali saya melakukan segala
sesuatu dengan sempurna. Akibatnya, ia bereaksi terhadap situasi secara adekuat ketika situasi
tersebut tidak terkait dengan apakah ia secara pribadi kompeten

Pertimbangan umum
Terapi kognitif merupakan terapi struktur jangka pendek yang menggunakan kolaborasi aktif
antara pasien dan terapis untuk mencapai tujuan terapeutiknya, yang ditujukan pada masalah saat
ini serta penyelesaiannya. Terapi biasanya dilakukan secara individual, meskipun metode
kelompok kadang-kadang berguna. Seorang terapis juga dapat meresepkan obat sebagai
tambahan terapi
Gangguan depresif (dengan atau tanpa gagasan bunuh diri) merupakan fokus utama terapi
kognitif; meskipun medikian, terapi kognitif juga digunakan pada keadaan lain, seperti gangguan
panik, gangguan obsesif kompulsif, gangguan kepribadian paranoid, dan gangguan somatofom.
Terapi depresi dapat berfungsi sebagai paradigma pendekatan kognitif
Teori kognitif depresi
Menurut teori kognitif depresi, disfungsi kognitif merupakan inti dari depresi, dan perubahan
afektif serta fisik dan ciri depresi yang terkait lainnya merupakan akibat disfungsi kognitif.
Contohnya, apati dan energi yang rendah merupakan akibat dugaan seseorang akan kegagalan di

semua area. Demikian juga, paralisis keinginan berasal dari pesimisme seseorang serta perasaan
putus asa. Trias kognitif depresi adalah persepsi diri yang negatif yaitu orang melihat diri mereka
defektif, tidak adekuat, kekurangan, tidak berharga, dan tidak diinginkan; mereka memiliki
kecenderingan untuk merasakan dunia sebagai sesuatu yang negatif, menuntut, merusak diri serta
mengharapkan kegagalan maupun hukuman; dan mereka memiliki dugaan atau kesukaran,
penderitaan, kekurangan, serta kegagalan yang terjadi terus menerus
Tujuan terapi adalah memperbaiki depresi dan mencegah kekambuhannya dengan membantu
pasien mengidentifikasi dan menguj kognisi negatif, mengembangkan skema alternatifdan lebih
fleksibel, serta melatif kognitif dan respons perilakuan. Mengubah cara berpikir orang dapat
memperbaiki gangguan depresif.
Strategi dan teknik
Terapi relatif singkat dan berlangsung hingga kira-kira 25 minggu. Jika pasien tidak membaik
pada waktu ini, diagnosis sebaiknya dievaluasi ulang. Terapi rumatan dapat dilakukan selama
beberapa tahun. Seperti pada psikoterapi lain,perlengkapan terapis penting untuk keberhasilan
terapi. Mereka harus memberikan kehangatan, memahami pengalaman hidup masing-masing
pasien, dan benar-benar tulus serta jujur dengan diri mereka sendiri maupun pasien. terapis harus
dapat berhubungan secara terampil dan interaktif dengan pasiennya. Terapis kognitif menyusun
agenda diawal setiap sesi, menugaskan pekerjaan rumah untuk dilakukan di antara sesi, dan
mengajarkan keterampilan baru. Terapis dan pasien secara aktif berkolaborasi. Ketiga komponen
terapi kognitif adalah aspek didaktik, teknik kognitif, dan teknik perilaku.

Aspek didaktik
Aspek terapi didaktik mencakup penjelasan pada apsien trias kognitif, skema, dan gangguan
logika. Terapis harus memberi tahu pasien bahwa mereka akan memformulasikan hipotesis
bersama dan mengujinya selama terapi berlangsung. Terapi kognitif memerlukan penjelasan
penuh hubungan antara depresi dan berpikir, afek, serta perilaku, juga rasional untuk semua
aspek terapi. Penjelasan ini bertentangan dengan terapi berorientasi psikoanalitik yang
membutuhkan sedikit penjelasan.

Teknik kognitif
Pendekatan terapi kognitif mencakup empat proses:

Mencetuskan pikiran otomatis


Pikiran otomatis, juga disebut distorsi kognitif, adalah kognisi yang timbul antara
peristiwa eksternal dna reaksi emosional seseorang terhadap peristiwa. Sebagai contoh,
keyakinan bahwa orang akan menertawakan saya ketika melihat betapa jeleknya
permainan bowling saya merupakan pikiran otomatis yang timbul pada seseorang ketika
diajak bermain bowling dan berespon negatif. Contoh lain adalah pikiran seseorang
bahwa ia tidak menyukai saya ketika seseorang melewati orang tersebut tanpa
menbyapa. Setiap gangguan psikopatologis memiliki profil gangguan pikiran kognitifnya
sendiri, yang jika diketahui, memberikan kerangka kerja untuk intervensi kognitif khusus

Menguji pikiran otomatis


Dengan berperan sebagai guru, seorang terapis membantu pasien menguji validittas
pikiran otomatis. Tujuannya adalah mendorong pasien untuk menolak pikiran yang tidak
akurat atau berlebihan setelah pemeriksaan yang teliti. Pasien sering menyalahkan diri
mereka sendiri ketika sesuatu yang berada di luar kendalinya berjalan tidak sesuai yang
diharapkan. Terapis mengkaji ulang keseluruhan situasi dengan pasien dan membantu
menempatkan kembali kesalahan atau penyebab peristiwa yang tidak menyenangkan.
Menciptakan penjelasan alternatif untuk peristiwa-peristiwa adalah cara lain untuk
meruntuhkan pikiran otomatis yang tidak akurat dan terganggu

Mengidentifikasi dugaan maladaptif


Saat pasien dan terapis terus mengidentifikasi pikiran otomatis, pola biasanya menjadi
jelas. Pola ini menunjukkan peraturan atau dugaan maladaptif umum yang memandu
kehidupan pasien. contoh-contoh peraturan tersebut adalah agar bahagia, saya harus
sempurna dan jika orang tidak suka saya, berarti saya tidak dicintai. Peraturan seperti
itu tidak dapat dihindari akan menimbulkan kekecewaan dan kegagalan serta akhirnya
depresi.

Menguji validitas dugaan maladaptif

Menguji keakuratan dugaan maladaptif serupa dengan menguji validitas pikiran otomatis.
Di dalam uji yang sangat efektif, terapis meminta pasien mempertahankan validitas
dugaan mereka. Contohnya, pasien dapat menyatakan bahwa mereka harus selalu melatih
potensinya, dan terapis dapat bertanya,mengapa hal itu begitu penting bagi anda

Teknik perilaku
Teknik kognitif dan perilau sangat terkait: teknik perilaku menguji dan mengubah kognisi yang
maladaptive dan tidak akurat. Keseluruhan tujuan teknik tersebut adalah membantu pasien
mengerti ketidakakuratan dugaan kognitif mereka dan mempelajari strategi dan cara baru untuk
menghadapi masalah tersebut
Teknik perilaku di dalam terapi kognitif antara lain menjadwalkan aktivitas, penguasaan dan
kesenangan, tugas bertahap, latihan kognitif, pelatihan untuk bergantung pada diri sendiri,
bermain peran, dan teknik diversi. Menjadwalkan aktivitas jam per jam adalah salah satu hal
pertama yang dilakukan di dalam terapi. Pasien mencatat aktivitas dan mengkajinya dengan
terapis. Disamping aktivitas membuat jadwal, pasien diminta untuk memberi nilai pada
penguasaan dan kesenangan yang diberikan oleh aktivitas tersebut. Pasien sering terkejut ketika
mengetahui bahwa mereka memiliki lebih banyak penguasaan dan menikmatinya lebih dari
yang mereka pikirkan.
Untuk yang menyederhanakan situasi dan untuk memungkinkan pencapaian terkecil, terapis
sering memecah tugas menjadi subtugas, seperti pada tugas bertahap, untuk menunjukkan
kepada pasien bahwa mereka bisa berhasil. Di dalam latihan kognitif, pasien membayangkan dan
melatih berbagai langkah di dalam menemui dan menguasai tantangan.
Pasien, terutama pasien rawat inap, didorong untuk menjadi bergantung pada diri sendiri dengan
melakukan hal-hal sederhana seperti membereskan tempat tidurnya sendiri, berbelanja sendiri,
dan menyiapkan makanannya sendiri. Proses ini disebut latihan bergantung pada diri sendiri.
Bermain peran terutama merupakan teknik yang berguna untuk menimbulkan pikiran otomatis
dan mempelajari perilaku baru. Teknik diversi berguna untuk membantu pasien melalui masamasa sulit dan mencakup aktivitas fisik, kontak sosial, pekerjaan, bermain, dan pembayangan
visual.

Pembayangan

Efek pembayangan pada perilaku pertama kali didskusikan oleh paul schilder di dalam bukunya.
The image and appearance of the human body. Schilder mendeskripsikan citra memiliki
komponen fisiologis: ketika seseorang membayangkan mereka berlaari, mereka mengaktifkan
otot yang sama dengan yang digunakan saat berlari dan reaksi ini dapat diukur dengan
elektromiografi. Fenomena ini digunakan di dalam pelatihan olahraga, disini atlet
membayangkan setiap peristiwa yang dapat dipikirkan di dalam sebuah pertandingan dan
mengembangkan daya ingat otot untuk setiap aktivitas. Suatu kombinasi teori perilaku dan
kognitif dapat membantu menguasai anxietas dan menghadapi situasi yang ditakuti.
Penghentian pikrian dapat menerapi perilaku impulsif atau obsesif. Contohnya, pasien
membayangkan tanda stop dengan petugas polisi berada di dekatnya atau bayangan lain yang
memncetuskan inhibisi pada waktu yang sama saat mereka yang mengenali impuls atau obsesif
yang asing bagi ego. Demikian juga, obesitas dapat diterapi dengan membuat pasien
membayangkan diri mereka sendiri sebagai orang yang kurus, atletik, langsing, berotot bagus,
dan kemudian melatih mereka untuk membayangkan hal ini ketika mereka memiliki dorongan
utnuk makan. Hipnosis atau pelatihan autogenik dapat meningkatkan pembayangan seperti itu.
Di dalam teknik yang disebut pembayangan yang dipandu, terapis mendorong pasien untuk
memiliki khayalan yang dapat diinterpretasikan sebagai pemenuhan keinginan atau upaya untuk
menguasai afek atau impuls yang mengganggu

Efektivitas
Terapi kognitif dapat digunakan sendiri dalam terapi gangguan depresif ringan hingga sedang
atau bersamaan dengan obat anti-depresan untuk gangguan depresif berat. Sejumlah studi dengan
jelas menunjukkan bahwa terapi kognitif efektif dan pada beberapa kasus menandingi atau setara
dengan penggunaan obat saja. Terapi ini merupakan salah satyu intervensi psikoterapeutik untuk
gangguan depresif paling bermanfaat saat ini dan menjanjikan untuk terapi gangguan lain
Terapi kognitif juga telah dipelajari sebagai cara untuk meningkatkan kepatuhan dengan lithium
(eskalith) pada pasien dengan gangguan bipolar I dan sebagai tambahan terapi putus heoin.

Kaplan n saddock indo 452-454


2

Saddock BJ, Saddock VA. Kaplan & Saddock Buku Ajar Psikiatri Klinis: psikoterapi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.edisi kedua. 2014.hal.452-4

CBT adalah suatu gabungan proses berpikir, pelatihan, dan peningkatan perilaku positif. CBT
membantu orang-orang mengidentifikasi pola kognirif atau pemikiran dan emosi yang terkait
dengan perilaku.
Hal-hal yang diperlukan dalam melaksanakan terapi CBT:

Kualitas dari hubungan terapetik


Hubungan antara praktisi CBT dan individu yang membutuhkan pengobatan yaitu
kolaboratif. Mereka bekerja bersama-sama untuk mencoba mengerti kesulitan seseorang
dan apa yang mempengaruhi hal tersebut. Praktisi merupakan seseorang yang ahli
dibidang CBT dimana individu merupakan seseorang yang ahli dalam kehidupan dan
pengalaman hidupnya. Selama terapi, keduanya bekerja bersama untuk menciptakan dan
mencoba cara baru untuk orang tersebut dalam berpikir dan berlaku. Pada CBT,
hubungan terapetik terkadang terlihat seperti pelatihan; praktisi menggunakan
keahliannya untuk menantang pemikrian orang tersebut dan membimbing mereka untuk
mencari alternatif yang bervariasi

Penetapan tujuan
Setelah mengidentifikasi masalah individu, penting halnya bagi praktisi dan individu
menetapkan tujuan bersama untuk mengatasi masalah ini.

Fokus terhadap saat ini


Masa lalu tidak dapat diubah, namun cara pemikiran kita akan masa lalu dapat kita ubah.
Seringkali adanya persoalan pada masa kini dan harapan akan masa depan yang membuat
individu mengikuti pengobatan. CBT fokus terutama pada bagaimana perasaan individu
dan bagaimana mengatasi masalah tersebut. Bagaimanapun, perasaan dan perilaku
seringkali ditentukan oleh pengalaman masa lalu. Dengan membicarakan ketakutan
individu, dan faktor-faktor yang mempengaruhi ketakutan tersebut, individu dapat
mencoba kepercayaan alternatif dan perilaku baru untuk merasakan hal yang berbeda

Struktur
Sesi dari CBT secara tipikal memiliki waktu selama 1 jam, yang terstruktur dengan
agenda, dan seringkali ditentukan sebelumnya dalam angka. Pada awal dari setiap sesi,
praktisi CBT dan individu membuat agenda tentang topik yang akan mereka bahas dan
kemudian mencoba bekerja sesuai dengan agenda tersebut secara sistematis. Latihan
diantara sesi juga terstruktur, seperti harapan masa depan, untuk mencapai tujuan spesifik
orang tersebut selama masa pengobatan.

Formulasi
Dengan bantuan individu yang membutuhkan pengobatan, praktisi CBT membuat suatu
model rangkaian dari masalah individu dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah
tersebut. Hal ini disebut dengan formulasi, yang seringkali dikembangkan dengan
menggunakan rekam yang diisi sendiri oleh individu tersebut. Rekam ini dapat
menggambarkan pikiran, perasaan, perilaku, perubahan tubuh, kejadian-kejadian, dan
perilaku orang lain. Formulasi melihat hubungan antara elemen-elemen ini untuk
menjelaskan apa yang membuat terjadinya masalah tersebut.dapat terdapat beberapa
formulasi apabila individu memiliki lebih dari satu masalah. Formulasi dapat berubah
apabila individu datang dengan informasi dan pengalaman baru selama sesi pengobatan.

Pencegahan relaps
CBT dibatasi oleh waktu. Meskipun jumlah sesi seringkali ditentukan sebelumnya, hal ini
dapat dinegosiasi bergantung pada praktisi, sifat dari masalah seseorang, dan perubahan
kejadian dalam hidup. Pengobatan didesain untuk membantu mencegah relaps di masa
yang akan datang. Hal ini bertujuan untuk memberikan persiapan lebih kepada seseorang
dengan kemampuan yang mereka butuhkan untuk menghadapi masalah masa depan
dengan kemampuan dirisendiri atau bantuan orang lain.

Prinsip
CBT dapat dianggap memiliki beberapa prinsip utama. Prinsip ini adalah bahwa terapi
ini:
o Didasarkan oleh model perilaku-kognitif dari kelainan emosional
o Singkat dan dibatasi oleh waktu
o Membutuhkan hubungan terapetik yang baik dan membutuhkan usaha kolaboratif

o Individu diarahkan untuk menemukan cara baru berpikir untuk dirinya sendiri
dengan pertanyaan spesifik
o Terstruktur, mengarahkan, dan berorientasi masalah
o Seringkali berdasarkan model edukasi
o Bergantung pada metode induksi, pendekatan ilmiah menggunakan logika dan
pemikiran
o Menggunakan latihan diantara sesi sebagai ciri utama. Perilaku yang baru dicoba
terlebih dahulu pada situasi yang aman

Aaron beck, mengembangkan terapi kognitif pada 1960 untuk mengobati depresi. Sejak saat ini,
kebanyakan psikoterapi untuk depresi memiliki dasar tersebut dalam pendekatan psikodinamik
yang terinspirasi dari pekerjaan Sigmund Freud. Pertama kali penelitian mengenai hasil dari
CBT untuk depresi dilakukan pada tahun 1977 dan sejak saat itu, banyak penelitian tentang
keefektivan CBT, telah dilakukan. CBT untuk depresi diberikan baik sebagai terapi tunggal
maupun kombinasi dengan medikasi

Isi terapi
CBT yang dilakukan pada depresi, bergantung kepada semua prinsip dasar CBT, termasuk
kolaboratif, berorientasi saat ini, dan fokus terhadap masalah. Secara tipikal, pengobatan
mencakup:

Membantu individu membuat aktivitas harian untuk menghasilkan struktur dan tujuan
pada langkah-langkah yang bertahap

Mendukung individu untuk mengetahui dan menantang karakteristik pikiran dan asumsi
negatif dari kedepresian mereka dan untuk mempertimbangkan bukti untuk melihat
pandangan yang lebih realistik dari pengalamannya

Membantu individu mengubah pusat pikiran dari gejala fisik dan mood negatif terkait
dengan depresi

Membantu individu kembali ke rutinitas aktivitas yang produktif dan dinikmati.

Pengobatan juga mencakup psikoedukasi mengenai depresi yang menormalkan gejala sebagai
bagian dari penyakit, dimana seseorang dapat melakukan sesuatu terhadap hal tersebut.
Seringkali termasuk mempelajari teknik untuk mengatasi masalah dan mencegah relaps.
Perasaan tak berguna diobati pada awal pengobatan karena hal tersebut berkaitan dengan
kejadian bunuh diri.
CBT untuk depresi telah berhasil diberikan kepada individu, kelompok, ataupun pasangan.
Individu yang memiliki penyakit kronis atau kambuhan seringkali membutuhkan intervensi
berulang, atau penggantian fokus, untuk menunjukkan pengalaman hidup sebelumnya juga
personalitas, hubungan interpersonal, dan masalah identitas

Efek terhadap gejala pada populasi pasien yang berbeda


Terdapat bukti yang meningkat bahwa cbt merupakan terapi yang efektif terhadap individu
dengan depresi akut, depresi kronis yang berlangsung lebih dari dua tahun, dan untuk depresi
rekuren. CBT telah terbukti efektif untuk anak yang berusia lebih dari 10 tahun, remaja, dan usia
tua. CBT dapat mencegah perkembangan depresi pada anak dan remaja. Terdapat banyak bukti
bahwa CBT merupakan terapi yang efektif untuk pengobatan gejala depresi pada individu
dengan kondisi-kondisi medis tertentu seperti artritis reumatoid, kanker, sklerosis multipel, dan
cedera otak.

Efek pada jumlah relaps


Selama pengobatan aktif, dampak dari CBT tampak sama efektifnya dengan medikasi.
Bagaimanapun, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa setelah pengobatan, jumlah relaps
tetap rendah untuk setidaknya selama 2 tahun untuk individu yang telah diberikan CBT
dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan medikasi tunggal. Lebih menarik lagi, pada
satu penelitian yang mengikuti perkembangan individu selama 6 tahun, individu yang menerima
CBT memiliki hanya satu episode relaps dimana mereka yang menerima medikasi dan diawasi
oleh psikiatri mengalami relaps berkali-kali. CBT yang dilanjutkan dengan sesi follow up
bulanan dapat membantu lebih jauh untuk mengurangi kemungkinan relaps, terutama pada

individu yang memiliki depresi pada onset dini atau gejala depresi yang tidak menghilang pada
akhir pengobatan

Efek pada pengukuran fungsi global


Selain mengurangi gejala , CBT untuk depresi juga tampaknya memiliki dampak pada aspek
fungsi yang lebih luas. Secara umum, fungsi seseorang dalam bekerja, sekolah, aktivitas rumah
dan hobi meningkatkan dan disertai dengan berkurangnya gejala depresi baik pada saat maupun
setelah sesi CBT.

Kombinasi antara pengobatan CBT dengan farmakologis


Pada prakteknya, CBT seringkali dipergunakan sebagai terapi adjunctive dari medikasi.
Penelitian telah membandingkan pengaruh dari CBT dan medikasi dengan terapi tunggal baik
CBT atau medikasi saja. Beberapa, tapi tidak semua, penelitian menunjukkan kombinasi CBT
dan medikasi bekerja lebih baik hanya pada kasus depresi berat atau kronis namun CBT tunggal
bekerja sama baiknya dengan terapi kombinasi untuk depresi ringan-sedang. Terapi kombinasi
juga mungkin dapat memberikan keuntungan yang lebih besar dalam memberikan terapi
terhadap depresi pada remaja. Diperkirakan bahwa terdapat perbedaan cara kerja CBT dan
medikasi pada kelompok yang berbeda pada individu yang mengalami depresi, meskipun
gagasan ini masih membutuhkan uji coba lebih lanjut

Perbandingandengan terapi intervensi non-spesifik dan psikologikal lain


Terdapat bukti bahwa CBT bekerja lebih baik dibandingkan dengan terapi psikologikal lain yang
juga dipergunakan untuk mengobati depresi. Namun, efektivitas dari terapi psikologikal lainnya
belum diteliti seekstensif CBT.

Terapi singkat dan responder cepat

Kebanyakan penelitian telah mengevaluasi CBT untuk depresi menggunakan sesi sebanyak
antara 12 hingga 20. Namun, proporsi individu tertentu berespon terhadap CBT dalam beberapa
sesi pertama terapi. Individu yang berrespon cepat terhadap CBT cenderung menerima model
kognitif dari depresi mereka pada awal-awal penyakit dan menunjukkan peningkatan harapan
untuk masa depan pada onset yang cukup cepat. Karena perubahan yang cepat yang dialami oleh
individu pada CBT, dan karena terapi yang lebih singkat juga lebih murah, bentuk cepat dari
CBT telah dievaluasi. Beberapa bukti bahwa 6 hingga 8 sesi cukup efektif. Meskipun tidak ada
penelitian membandingkan secara langsung CBT singkat dan standar untuk depresi, tampaknya
terapi yang lebih lama dari CBT lebih menguntungkan pada individu dengan depresi berat.

Membantu diri sendiri dan CBT


Depresi merupakan hal yang sering terjadi dan dapat diperbaiki dengan CBT, namun kebanyakan
kasus tidak diterapi. CBT untuk depresi telah berhasil diadaptasi dan divalidasi dalam format
self help menggunakan buku, program komputer, atau internet.

Apa yang dapat memperkirakan respon yang lebih baik terhadap CBT untuk depresi
Penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memprediksi individu
seperti apa yang akan mendapatkan dampak positif dari CBT. Sebagian besar dari faktor ini
terkait dengan penyakit yang kurang parah. Sebagai contoh, individu dengan penyakit yang tidak
berat, onset lebih akut, onset penyakit pada usia lebih tua, dan episode penyakit lebih sedikit
cenderung merespon CBT dengan baik. Diantara populasi dewasa, faktor demografik seperti
jenis kelamin, usia, dan edukasi secara umum tidak mempengaruhi dampak bagi CBT, meskipun
individu yang telah menikah menunjukkan hasil yangsecara umum lebih baik dibandingkan
individu yang belum menikah. Terdapat bukti bahwa anak-anak merespon lebih baik terhadap
CBT untuk depresi dibandingkan remaja

Peran keluarga

Partisipasi keluarga dalam pengobatan seseorang dengan depresi merupakan hal yang penting
untuk sejumlah alasan. Seringkali, terdapat riwayat keluarga dengan depresi. Juga, interaksi
keluarga dapat terganggu atau sulit apabila salah satu anggota keluarga mengalami depresi.
Mha cognitive behavioural therapy
1
Somers J, Queree M, Broderick J, Leung B. Cognitive behavioural Therapy: depression.
Columbia: CARMHA Faculty of Health Science Simon Fraser University. 2007.p.3-5, 15-22

CBT adalah terapi bicara dimana dapat membantu orang-orang melihat situasi yang berbeda dari
situasi orang tersebut berada, dan untuk mengerti pemikiran, emosi, dan perilakunya.
Gagasannya adalah bahwa pikiran, emosi, gejala fisik, dan perilaku dapat mempengaruhi satu
sama lain dan maka dapat membantu mempertahankan mood yang kurang baik, seperti depresi.
Model CBT menekankan bahwa bukanlah situasi yang menyebabkan kelainan emosional yang
dialami oleh individu. CBT meyakinkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh interpretasi atau
sudut pandang individu terhadap kejadian atau situasi tertentu. CBT bekerja dengan
memfokuskan pada pemikiran negatif dan mempelajari bagaimana cara menangani hal tersebut,
juga mempelajari cara merubah perilaku yang kurang baik seperti perilaku penghindaran

Cbt workshop booklet web


3
NHS Foundation Trust. Cognitive Behavioural Therapy Skills Training Workbook.

DSM:
6
American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders text
Revision. 4th ed. Washington DC: American Psychiatric Association. 2000. P.356.