Anda di halaman 1dari 16

LABORATORIUM SATUAN PROSES

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015

MODUL
: Reaksi Saponifikasi
PEMBIMBING : Iwan Ridwan ST, MT
Praktikum : 16 September 2014
Penyerahan : 30 September 2014
(Laporan)

Oleh
Kelompok
Nama

Kelas

:V
: 1. Nisa Mardiyah
131424018
2. Nova Puspita
131424019
3. Puteri Aulia Rahmah
131424020
: 2A Teknik Kimia Produksi Bersih

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014

I.

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sabun merupakan barang kebutuhan dalam setiap rumah tangga yang digunakan
sebagai bahan pembersih.
Bahan baku sabun adalah campuran asam lemak (hewani maupun nabati) dicampur
dengan kalium hidroksida (KOH)/natrium hidroksida (NaOH) yang akan membentuk
larutan kental. Hasil samping dari pembentukan sabun ini adalah gliserin. Untuk
menambah nilai ekonomi, dapat ditambahkan berbagai zat aditif seperti: pewangi,
pewarna, pengisi, anti bakteri, pelembut, dan lainnya.
Di industri, proses saponifikasi dilakukakn dalam pembuatan sabun padat yang
digunakan sebagai sabun cuci maupun pembersih muka dan badan.
1.2.Tujuan Percobaan
1. Menjelaskan variabel-variabel yang berpengaruh dalam proses saponifikasi
2. Menenetukan komposisi yang tepat dalam pembuatan sabun padat dan bahan
aditif yang ditambahkan
3. Menganalisis produk sabun padat yang didapat

II. LANDASAN TEORI


2.1.Pengertian dan Prinsip Saponifikasi
Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan
alkali yang menghasilkan sabun dan gliserol. Istilah saponifikasi dalam literatur berarti
soap making. Akar kata sapo dalam bahasa Latin yang artinya soap / sabun. Prinsip
dalam proses saponifikasi, yaitu lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan
gliserol dan sabun mentah. Proses pencampuran antara minyak dan alkali kemudian
akan membentuk suatu cairan yang mengental, yang disebut dengan trace. Pada
campuran tersebut kemudian ditambahkan garam NaCl. Garam NaCl ditambahkan untuk
memisahkan antara produk sabun dan gliserol sehingga sabun akan tergumpalkan sebagai
sabun padat yang memisah dari gliserol (Gebelin, 2005).
Sabun adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam lemak.
Sabun mengandung terutama garam C16 dan C18, namun juga mengandung beberapa
karboksilat dengan bobot atom lebih rendah. (Fessenden, 1999).
Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang
dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti
natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80100 C melalui suatu proses yang dikenal
dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun
mentah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sabun).
Sabun dibagi menjadi 2 jenis yaitu sabun kalium dan sabun natrium. Sabun kalium
merwujud cair/lunak, biasanya digunakan untuk sabun bayi atau sabun mandi cair.
Sedangkan sabun natrium berwujud padat dan keras, biasanya digunakan untuk sabun
mandi batangan.
Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah reaksi
trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan gliserin.
Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut:

Sabun di buat dari campuran senyawa alkali (NaOH, KOH) dan minyak (Trigliserida).
Trigliserida terdiri dari tiga gugus asam lemak yang terikat pada gugus gliserol. Asam
lemak terdiri dari rantai karbon panjang yang berakhir dengan gugus asam karboksilat
pada ujungnya. Gugus asam karboksilat terdiri dari sebuah atom karbon yang berikatan
dengan dua buah atom oksigen. Satu ikatannya terdiri dari ikatan rangkap dua dan
satunya merupakan ikatan tunggal. Setiap atom karbon memiliki gugus asam karboksilat
yang melekat, maka dinamakan tri-gliserida.
Apabila trigliserida direaksikan dengan alkali (sodium hidroksida atau kalium
hidroksida), maka ikatan antara atom oksigen pada gugus karboksilat dan atom karbon
pada gliserol akan terpisah. Proses ini disebut saponifikasi. Atom oksigen mengikat
sodium yang berasal dari sodium hidroksida sehingga ujung dari rantai asam karboksilat
akan larut dalam air. Garam sodium dari asam lemak inilah yang kemudian disebut sabun.
Sedangkan gugus OH dalam hidroksida akan berikatan dengan molekul gliserol, apabila
ketiga gugus asam lemak tersebut lepas maka reaksi saponifikasi dinyatakan selesai.
Trigliserida biasanya disebut juga fat atau lemak jika berbentuk padat pada suhu
kamar, dan disebut minyak (oil) bila pada suhu kamar berbentuk cair. Trigliserida tidak
larut dalam air, hal ini dapat dibuktikan bila kita mencampurkan air dan minyak, akan
terlihat keduanya tidak akan bercampur.
Sabun disebut sodium stearat dengan rumus kimia C17H35COO Na + dan merupakan
hydrocarbon rantai panjang dengan 10 sampai 20 atom Carbon. Dapat digunakan untuk
membersihkan karena bersifat polar, merupakan komponen ionik yang larut dalam air,
dan tidak larut dalam larutan organik, yaitu minyak.
Lemak dan minyak yang digunakan untuk membuat sabun terdiri dari 7 asam lemak
yang berbeda. Apabila semua ikatan karbon dalam asam lemak terdiri dari ikatan tunggal
disebut asam lemak jenuh, sedangkan bila semua atom karbon berikatan dengan ikatan
rangkap disebut asam lemak tak jenuh. Asam lemak tak jenuh dapat dikonversikan
menjadi asam lemak jenuh dengan menambahkan atom hydrogen pada lokasi ikatan
rangkap. Jumlah asam lemak yang tak jenuh dalam pembuatan sabun akan memberikan
pengaruh kelembutan pada sabun yang dibuat.
Bentuk sabun menjadi bermacam-macam, yaitu :
1. Sabun cair
Dibuat dari minyak kelapa
Alkali yang digunakan KOH
Bentuk cair dan tidak mengental dalam suhu kamar
Sabun lunak

Dibuat dari minyak kelapa, minyak kelapa sawit atau minyak tumbuhan yang
tidak jernih
Alkali yang dipakai KOH
Bentuk pasta dan mudah larut dalam air
2. Sabun keras
Dibuat dari lemak netral yang padat atau dari minyak yang dikeraskan dengan
proses hidrogenasi
Alkali yang dipakai NaOH
Sukar larut dalam air
2.2.Sabun kalium dan natrium
Sabun kalium (ROOCK) disebut juga sabun lunak dan umumnya digunakan untuk
sabun mandi cair, sabun cuci pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Sedangkan sabun
natrium (RCOONa), disebut sabun keras dan umumnya digunakan sebagai sabun cuci,
dalam industri logam dan untuk mengatur kekerasan sabun kalium (Solomons, 2004).
2.3.Perbedaan sabun dan detergent
Sabun adalah hasil proses penetralan asam lemak dengan menggunakan alkali.
Deterjen adalah campuran zat kimia dari sintetik maupun alam yang memiliki sifat dapat
menarik zat pengotor dari media. Berikut merupakan reaksi pembentukkan detergen.

2.4.Syarat Mutu Sabun Mandi


Syarat mutu sabun mandi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel Syarat Mutu Sabun Mandi
No.
Uraian
1.
Kadar air
2.
Jumlah asam lemak
3.
Alkali bebas (dihitung
sebagai NaOH)
4.
Asam, lemak bebas dan

Satuan
%
%
%
%

Tipe I
Maks. 15
>10
Maks. 0,1

Tipe II
Maks. 15
64-70
Maks. 0,1

Superfat
Maks. 15
>70
Maks. 0,1

< 2,5

< 2,5

2,5 - 7,5

atau netral
Minyak mineral
Sumber : SNI 06-3532-1994

5.

III.

negatif

PERCOBAAN
3.1.Alat dan Bahan
Alat
Kuantitas
Hotplate
1 buah

Batang Pengaduk
Gelas kimia
Termometer
Buret
Gelas Ukur
Cetakan
Erlemeyer

negatif

negatif

Bahan
Minyak Goreng Bimoli
(mengandung asam lemak)
NaOH
Air mendidih
NaCl
Amylum
Parfum
Indikator p.p.
HCl 0,5N

1 buah
3 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Kuantitas
20 ml
10 gr
10 ml
0,1 gram
0,5 gram
0,5 ml
4 tetes
50 ml

3.2.Prosedur Percobaan
3.2.1. Pembuatan sabun padat
10 gram NaOH

10 mL air mendidih
Gelas Kimia

Panaskan dan aduk sampai NaOH larut

Sampai mengental (terbentuk emulsi) antara


minyak dan air tercampur

20 mL minyak yang telah


dipanaskan terlebih
dahulu (60-70) 0C

0.1 gram NaCl


Setelah 10 menit dan tercampur rata
0.5 gram amylum

Aduk sampai tercampur kemudian tambahkan 0,5 ml parfum


dan aduk kembali selama 5 menit

Cetak kedalam cetakan yang telah diberi paraffin dan tutup


menggunakan alumunium foil. Diamkan selama 1-2 hari

Uji kualitas sabun dengan analisa

3.2.2. Analisa sabun padat


a. Alkali bebas (%) dihitung sebagai NaOH
Prosedur percobaan:
1 gram sabun
dimasukan kedalam
erlemeyer

tambahkan 20 ml
alkohol netral

tambahkan 2 tetes
indikator p.p.

titrasi dengan larutan


HCl 0,5 N

panaskan hingga
mendidih selama 10
menit

b. Asam lemak bebas


Prosedur percobaan:
10 gram sabun yang
telah diiris
dimasukkan kedalam
erlemeyer

tambahkan 50 ml
alkohol netral

panaskan hingga
larut

didihkan selama 10
menit dengan
pendingin reflux
(tetap cair)

tambahkan 2 tetes
indikator p.p.

titrasi dengan larutan


NaOH 0,5 N

3.3.Tabel Data
Persiapan:
No.
Bahan
1. Larutan NaOH
2. Minyak Goreng
3. NaCl
4. Amylum
5. Parfum
Proses pencampuran
Waktu
Bahan
(menit)

Berat/Volume
10 gr
20 ml
0,1 gram
0,5 gram
0,5 ml

Tempat

Masa Molekul
40 gr/mol
282 gr/mol
58,5 gram/mol
162x gram/mol

Pengamatan

Rumus
NaOH
NaCl
(C6H10O5)x

Keterangan

Minyak +
larutan
NaOH

Gelas
kimia
100 ml

Setelah minyak yang


telah
dipanaskan
hingga 600C dan
larutan
NaOH
dicampurkan terdapat
2
lapisan
yang
terbentuk

sda

sda

Minyak dan larutan


NaOH
tercampur
homogen
(sudah
tidak ada minyak
yang mengapung)

10

sda + garam
0,1 gram

sda

Campuran
terlihat
berubah
wujud
menjadi
emulsi
(seperti susu kental)

20

sda +
amylum 0,5
gram
sda + parfum
0,5 ml

sda

Campuran semakin mengental


namun
warnanya tetap sama
Campuran semakin
mengental
sambil
terus
diaduk,
warnanya
semakin
pucat.

30

sda

35

sda

sda

Campuran
yang
sudah mengental dan
harum diberhentikan
pemanasannya,
didinginkan sebentar,
lalu dicetak pada
cetakan yang telah
diberi paraffin

Analisa Sabun Padat:


a. Alkali Bebas
HCl yang dipakai untuk titrasi sebanyak 10,5 ml
b. Asam Lemak Bebas
NaOH yang dipakai untuk titrasi sebanyak 2,0 ml
IV.

KESELAMATAN KERJA
Dalam percobaan ini digunakan NaOH (kaustik soda) yang merupakan basa kuat dan
bersifat korosif. Untuk menghindari terluka perlu mengetahui sifat-sifatnya yang dibaca pada
MSDS (Material Safety Data Sheet). Dalam pemakaian dengan NaOH perlu dilengkapi
sarung tangan karet dan kacamata pelindung.
4.1.MSDS NaOH
SIFAT FISIKA dan KIMIA :
Keadaan fisik dan penampilan: Solid. (Deliquescent padat.)
Bau: berbau.
Molekul Berat: 40 g / mol
Warna: Putih.
pH (1% soln / air): [. Dasar] 13,5
Titik Didih: 1388 C (2530,4 F)
Melting Point: 323 C (613,4 F)
Spesifik Gravity: 2.13 (Air = 1)
Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air.
Kelarutan: Mudah larut dalam air dingin.

PENANGANAN
Kontak Mata:
Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus terjadi kontak, segera
siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air dingin dapat
digunakan. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kontak Kulit :
Dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama
15 menit dengan mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi
kulit yang teriritasi dengan yg sesuatu melunakkan. Air dingin mungkin dapat

digunakan pakaian.cuci sebelum digunakan kembali. benar-benar bersih sepatu


sebelum digunakan kembali. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kulit Serius :
Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan krim
anti-bakteri. Mencari medis segera
Inhalasi:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan segera perhatian medis.
Serius Terhirup:
Evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Longgarkan pakaian yang ketat
seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. jika sulit bernapas, beri
oksigen. Jika korban tidak bernafas, lakukan pernafasan dari mulut ke mulut.

PERINGATAN
Ini mungkin berbahaya bagi orang yang memberikan bantuan lewat mulut ke mulut
(resusitasi) bila bahan dihirup adalah racun, infeksi atau korosif. Cari bantuan medis
segera.
Tertelan:
JANGAN mengusahakan muntah kecuali bila diarahkan berbuat demikian oleh
personel medis. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada korban
yang sadar. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau
ikat pinggang. Dapatkan bantuan medis jika gejala muncul.

4.2.MSDS NaCl
SIFAT FISIKA dan SIFAT KIMIA
Keadaan fisik dan penampilan: Solid. (Bubuk kristal padat.)
Bau: Sedikit.
Rasanya: Garam.
Berat Molekul: 58,44 g / mol
Warna: Putih.
pH (1% soln / air): Netral 7
Titik Didih: 1413 C (2575,4 F)
Melting Point: 801 C (1473,8 F)
Spesifik Gravity: 2.165 (Air = 1)
Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air.
Kelarutan:
Mudah larut dalam air dingin, air panas. Larut dalam gliserol, dan amonia. Sangat
sedikit larut dalam alkohol. tidak larut dalam Asam klorida.

PENANGANAN :
Kontak Mata:
Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus terjadi kontak, segera
siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air dingin dapat
digunakan. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kontak Kulit :
Dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama
15 menit dengan mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi
kulit yang teriritasi dengan yg sesuatu melunakkan. Air dingin mungkin dapat
digunakan pakaian.cuci sebelum digunakan kembali. benar-benar bersih sepatu
sebelum digunakan kembali. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kulit Serius :
Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan krim
anti-bakteri. Mencari medis segera
Inhalasi:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan segera perhatian medis.
Serius Terhirup:
Evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Longgarkan pakaian yang ketat
seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. jika sulit bernapas, beri
oksigen. Jika korban tidak bernafas, lakukan pernafasan dari mulut ke mulut.

PERINGATAN:
Ini mungkin berbahaya bagi orang yang memberikan bantuan lewat mulut ke mulut
(resusitasi) bila bahan dihirup adalah racun, infeksi atau korosif. Cari bantuan medis
segera.
Tertelan:
JANGAN mengusahakan muntah kecuali bila diarahkan berbuat demikian oleh
personel medis. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada korban
yang sadar. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau
ikat pinggang. Dapatkan bantuan medis jika gejala muncul.

4.3.MSDS Indikator PP
Indikator asam basa adalah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya
berubah. Indikator pp yang memiliki trayek PH sebesar 8,9-9,6 termasuk juga
kedalam indikator satu macam warna yang berwarna merah dalam keadaan basa
tetapi tidak berwarna dalam keadaan asam. Rumus molekul
C20H14O4, massa
molar 318,32 g mol-1, titik leleh 262,5 OC, dan massa jenis 1,377 g/cm3 pada 320C
(Anonim, 2010 ).
4.4.MSDS HCl
SIFAT FISIKA dan KIMIA
Keadaan fisik dan penampilan: Cairan.

Bau: pedas. Iritasi (Strong.)


Warna: tak berwarna menyala kuning.
pH (1% soln / air): Asam.
Titik Didih: 108.58 C @ 760 mmHg (untuk 20,22% HCl dalam air) 83 C @760
mmHg (untuk 31% HCl dalam air) 50,5 C (untuk 37% HCl dalam air)
Melting Point: -62,25 C (-80 F) (20,69% HCl dalam air) -46,2 C (31,24% HCl
dalam air) -25,4 C (39,17% HCl dalam air)
Spesifik Gravity: 1,1-1,19 (Air = 1) 1.10 (20% dan 22% HCl solusi) 1,12 (24% HCl
solusi) 1,15 (29,57% HCl solusi) 1,16 (32% HCl solusi) 1,19 (37% dan 38% HCl
solusi)
Tekanan Uap: 16 kPa (@ 20 C) rata-rata
Kepadatan uap: 1,267 (Air = 1)
Bau Threshold: 0,25 sampai 10 ppm
Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air, dietil eter.
Kelarutan: Larut dalam air dingin, air panas, dietil eter.
Stabilitas: Produk ini stabil.
Kondisi Ketidakstabilan: bahan yang tidak kompatibel, air
Ketidakcocokan dengan berbagai zat: Sangat reaktif dengan logam. Reaktif dengan
agen oksidasi, bahan organik, alkali, air.
Korosivitas: Sangat korosif di hadapan aluminium, tembaga, stainless steel (304),
dari stainless steel (316). Non-korosif terhadap kaca.
PENANGANAN :
Kontak Mata:
Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus terjadi kontak, segera
siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air dingin dapat
digunakan.
Dapatkan
perawatan
medis
dengan
segera.
Kontak Kulit :
Dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama
15 menit dengan mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi
kulit yang teriritasi dengan yg sesuatu melunakkan. Air dingin mungkin dapat
digunakan pakaian.cuci sebelum digunakan kembali. benar-benar bersih sepatu
sebelum digunakan kembali. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kulit Serius :
Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan krim
anti-bakteri. Mencari medis segera
Inhalasi:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan segera perhatian medis.
Serius Terhirup:
Evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Longgarkan pakaian yang ketat
seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. jika sulit bernapas, beri
oksigen. Jika korban tidak bernafas, lakukan pernafasan dari mulut ke mulut.

V.

PERINGATAN:
Ini mungkin berbahaya bagi orang yang memberikan bantuan lewat mulut ke mulut
(resusitasi) bila bahan dihirup adalah racun, infeksi atau korosif. Cari bantuan medis
segera.
Tertelan:
JANGAN mengusahakan muntah kecuali bila diarahkan berbuat demikian oleh
personel medis. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada korban
yang sadar. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau
ikat pinggang. Dapatkan bantuan medis jika gejala muncul.

PENGOLAHAN DATA
5.1.Perhitungan Analisis untuk Kondisi Operasi 600C
5.1.1. Alkali Bebas
Dik :
V.HCl = 10,5 mL
Konsentrasi HCl = 0,5 N
Dit : Alkali Bebas ?
Jawab :
(
)

Untuk mengetahui ada alkali bebasnya, sebelum penetapan sabun diuji dengan
indikator pp, jika berwarna ada alkali bebasnya.
5.1.2. Asam Lemak Bebas
Dik :
Gram Sabun = 10 gram
N.NaOH = 0,5 N
V.NaOH = 2 mL
Dit : Asam lemak bebas ?
Jawab :
(

Asam lemak dapat dihitung sebagai berikut :


Asam laurat, berat akivalen
= 200
Asam oleat, berat ekivalen
= 282
Asam stearat, berat ekivalen
= 284
Asam palmitat, berat ekivalen
= 256

5.1.3. Yield Sabun


%Yield Secara Teorotis
Dik :
Berat NaOH = 10 gram
Mr NaOH = 40 gram/mol
V. Minyak = 20 mL
.Minyak = 0,832 gr/mol
Mr.Minyak = 282 gr/mol
Dit : Yield ?
Jawab:

=
CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH + 3 NaOH 3 C18H33O2Na +C3H9O3
M:
0,058 mol
0,25 mol
B:
0,058 mol
0,174 mol
0,174 mol
0,058 mol
S:

0,076 mol

0,174 mol

Massa molekul sabun = 295 gr/mol


Massa sabun teori = mol x Mr = 0,174 mol x 295 gr/mol = 51,33 gram
Massa sabun percobaan = 33,52 gram

5.2.Perhitungan Analisis untuk Kondisi Operasi 700C


5.2.1. Alkali Bebas
Dik :
V.HCl = 9,1 mL
Konsentrasi HCl = 0,5 N
Dit : Alkali Bebas ?
Jawab :
(
)

0,058 mol

Untuk mengetahui ada alkali bebasnya, sebelum penetapan sabun diuji dengan
indikator pp, jika berwarna ada alkali bebasnya.
5.2.2. Asam Lemak Bebas
Dik :
Gram Sabun = 10 gram
N.NaOH = 0,5 N
V.NaOH = 1,4 mL
Dit : Asam lemak bebas ?
Jawab :
(

Asam lemak dapat dihitung sebagai berikut :


Asam laurat, berat akivalen
= 200
Asam oleat, berat ekivalen
= 282
Asam stearat, berat ekivalen
= 284
Asam palmitat, berat ekivalen
= 256
5.2.3. Yield Sabun
%Yield Secara Teorotis
Dik :
Berat NaOH = 10 gram
Mr NaOH = 40 gram/mol
V. Minyak = 20 mL
.Minyak = 0,832 gr/mol
Mr.Minyak = 282 gr/mol
Dit : Yield ?
Jawab :

CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH + 3 NaOH 3 C18H33O2Na +C3H9O3


M:
0,058 mol
0,25 mol
B:
0,058 mol
0,174 mol
0,174 mol
0,058 mol
S:

0,076 mol

0,174 mol

0,058 mol

Massa molekul sabun = 295 gr/mol


Massa sabun teori = mol x Mr = 0,174 mol x 295 gr/mol = 51,33 gram
Massa sabun percobaan = 28,11 gram

5.3.Hasil Percobaan yang Disajikan


Tabel dan Hasil Analisis Produk dengan kondisi operasi 600C dan 700C
Nama Bahan
Keterangan
Lemak dan air
Tidak akan homogen jika dicampur
Sabun dan air
Sabun akan larut dalam air

VI.

Nama Produk
pH
Sabun
Basa

Jenis Analisa
Alkali Bebas

Nilai
21%;18,2%

Sabun

Asam Lemak
Bebas

2%;1,4%

Basa

Keterangan
Tidak sesuai
SNI yang
seharusnya
0,1%
Sesuai dengan
SNI yaitu <2,5

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN


6.1.Pembahasan
Pada pencampuran minyak dengan larutan NaOH terdapat 2 lapisan, yaitu lapisan
minyak yang terletak dibawah dan lapisan larutan NaOH yang berada di permukaan
cairan. Lapisan ini terjadi karena larutan NaOH yang dicampurkan kedalam minyak
yang telah dipanaskan. Akibat berat jenis NaOH yang lebih besar, larutan NaOH yang
berada di permukaan menjadi turun ke dasar cairan dan minyak naik ke permukaan
cairan
Produk sabun yang seharusnya dihasilkan dari percobaan adalah sebanyak 51,33
gram, namun pada akhir percobaan produk sabun dengan temperatur 600C yang
didapat adalah sebanyak 33,52 gram dan yieldnya 65,30%. Sedangkan produk pada
akhir percobaan dengan temperatur 700C didapat sebanyak 28,11 gram dan yieldnya
54,76%. Terlihat bahwa kondisi operasi percobaan mempengaruhi efisiensi
pembentukan produk sabun. Produk sabun yang didapatkan lebih banyak pada kondisi
operasi 600C dibandingkan dengan produk sabun pada kondisi operasi 700C.

Berdasarkan analisis produk sabun dengan kondisi operasi 600C dan 700C yang
didapat, kadar alkali bebas dan asam lemak bebas adalah 21%;18,2% dan 2%;1,4%.
Asam Lemak bebas yang terdapat dalam sabun memenuhi standar sabun yang
ditetapkan oleh pemerintah, sedangkan kadar alkali bebasnya tidak memenuhi
standar. Hal ini disebabkan karena proses saponifikasi yang tidak optimum sehingga
ion Na tidak berikatan dengan asam lemak secara optimum.
6.2.Kesimpulan
Suhu merupakan salah satu variabel yang memengaruhi proses saponifikasi
Untuk mengefisiensikan proses saponifikasi, suhu kondisi operasi yaitu (5060) 0C
Berdasarkan analisis, kadar alkali bebas dan asam lemak bebas pada produk
sabun dengan kondisi operasi 600C dan 700C adalah 21%;18,2% dan
2%;1,4%.
VII. PUSTAKA
Anonim. Laporan Reaksi Saponifikasi serta Pengujian Sifat Surfaktan Sabun dan Deterjen.
http://www.slideshare.net/kikiworo/laporan-reaksi-saponifikasi-serta-pengujiansifat-surfaktan-sabun-dan-deterjen. [Diakses 28 September 2014]
Anonim. Laporan Pembuatan Sabun Saponifikasi. http://www.blogkimia.tk/2014/03/laporanpembuatan-sabun-saponifikasi.html. [Diakses 28 September 2014]
Anonim. Laporan Kimia Organik Reaksi. http://velahumaira.blogspot.com/2014/03/laporankimia-organik-reaksi.html. [Diakses 28 September 2014]