Anda di halaman 1dari 2

Angkringan Pak Gino

Usaha angkringan dimulai pada tahun 2002. Sebelumnya hanya membantu orangtua di
rumah.

Latar belakang memulai usaha berjualan angkringan karena prospeknya bagus, angkringan
sifatnya merakyat dan khas di Jogja. Persaingan usaha serupa masih sedikit.

Modal awal usaha diperoleh dari meminjam dari orangtua dan teman.

Usaha angkringan Pak Gino Berjaya pada tahun 2002 2005 karena belum banyak pesaing
di daerah sana. Pesaing yang dimaksud adalah warung makan dan burjo.

Di awal usahanya, Pak Gino membuat 10 gerobak angkringan. Kemudian disewakan kepada
teman-temannya yang berniat menjalankan usaha serupa seharga 5.000 ribu rupiah setiap
harinya.

Pernah membuat gerobak angkringan yang ditandemkan dengan sepeda, sehingga dapat
berjualan berkeliling tempat dan tidak menetap (nomaden).

Lokasi awal memulai usaha angkringan ini adalah di daerah Paingan, tepatnya di depan
Kampus Instiper. Harga sewa lahan yang dikenakan pada saat itu adalah 3 juta rupiah setiap
tahunnya. Sekarang dikenakan biaya sewa beserta rumah dibelakangnya, seharga 15
juta/tahun, namun rumahnya tidak ditempat hanya dioper kontrak lagi.

Sekarang Pak Gino berjualan tepat di depan Kampus III Sanata Dharma, tempat sewa gratis
karena hanya memanfaatkan lahan kosong.

Pada tahun 2005 ke atas, ekonomi masyarakat di daerah Paingan meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah mahasiswa Kampus Instiper dan Kampus III Sanata Dharma. Hal ini
menyebabkan usaha angkringan Pak Gino mengalami penurunan karena mulai munculnya
pesaing seperti warung makan, warung burjo, warung tenda penyetan yang harganya
hampir sama dengan angkringan.

Jumlah gerobak serta karyawan yang dipekerjakan Pak Gino mulai berkurang, beberapa
diberikan kepada tetangga di desa yang berniat menjalani usaha angkringan secara mandiri.

Daganan yang dijajakan Pak Gino.


o

Jumlah nasi yang dipesan = 150-200 (nasi tempe dan nasi sambel teri). Malam hari
tersedia nasi bakar. Saat Sabtu dan Minggu, jumlah nasi yang dipesan dikurangi
porsinya.

Lauk-lauk di angkringan ada yang membuat sendiri, ada yang titipan.

Modal per harinya adalah 500 ribu.

o
-

Keuntungan per harinya rata-rata 200 ribu (fluktuatif/tidak tetap).

[SWOT}. Strength. Lokasi strategis. Angkringan adalah icon Jogja yang khas sehingga banyak
peminatnya, baik penggemar maupun sekedar mencoba. Harga tidak berbeda jauh dengan
makanan di warung makan. Keramahan dari penjual sendiri (Pak Gino).

[SWOT]. Weakness. Pak Gino sendiri kadang merasa jenuh.

[SWOT]. Ancaman. Dinamika di daerah kampus, dimana kegiatan kampus hanya efektif
sekitar empat bulan setiap semesternya.

Harga
o

Sate 1000

Gorengan 500

Nasi 1500

Minum 1500