Anda di halaman 1dari 95

dietrichgerry

Main menu
Skip to content

Home

About

PENGARUH KECEPATAN
SENTRIFUGASI TERHADAP
KARAKTERISTIK BIODIESEL
JARAK PAGAR (Jatropha
curcas L.)
POSTED ON NOVEMBER 29, 2012 BY DIETRICHGERRY

PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP


KARAKTERISTIK BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
Oleh
ANDIKA PUTRI LISTIAWATI
F34103031
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Andika Putri Listiawati. F34103031. Pengaruh Kecepatan Sentrifugasi
terhadap Karakteristik Biodiesel Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Di bawah
bimbingan Ani Suryani.
RINGKASAN
Biodiesel dari minyak jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah salah satu
sumber bahan bakar diesel alternatif potensial. Proses produksinya melalui
reaksi esterifikasi-transesterifikasi yang menghasilkan campuran heterogen
antara fasa hidrofobik (biodiesel) dan fasa hidrofilik (gliserol). Kedua senyawa
ini memiliki perbedaan berat jenis. Campuran heterogen biodiesel-gliserol
umumnya dipisahkan secara settling yang memakan waktu selama 8-12 jam.
Aplikasinya dalam sistem kontinyu dapat menghambat proses produksi
secara keseluruhan. Oleh karena itu, dibutuhkan proses sentrifugasi untuk

mempercepat waktu pemisahan. Biodiesel yang diperoleh dari hasil separasi


masih mengandung sisa katalis basa sehingga proses pencucian biodiesel
diperlukan dalam proses untuk menghilangkan sisa katalis tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan sentrifugasi
terhadap karakteristik biodiesel jarak pagar serta mengetahui apakah proses
sentrifugasi ini dapat mengefisienkan proses pencucian katalis basa pada
biodiesel. Penelitian ini meliputi penelitian pendahuluan untuk mengetahui
karakteristik minyak jarak pagar, dan penelitian utama untuk mengetahui
pengaruh kecepatan sentrifugasi terhadap karakteristik biodiesel. Perlakuan
yang diberikan dalam penelitian utama adalah kecepatan sentrifugasi 500
rpm (30 g), 1000 rpm (120 g), 1500 rpm (270 g), dan 2000 rpm (480 g).
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian utama adalah
Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal.
Parameter utama dalam penelitian utama adalah viskositas kinematik,
densitas, dan kadar katalis basa biodiesel. Ketiga parameter ini dibandingkan
dengan biodiesel hasil settling selama 12 jam. Karakteristik biodiesel yang
diperoleh setelah sentrifugasi selama satu menit berupa viskositas kinematik
(4,61 4, 71 cSt), densitas (0,8823 0,8848 g/cm3), kadar katalis KOH (714
982 ppm), perolehan biodiesel setelah sentrifugasi (77,37 81,49 %v/v),
kadar air (0,0129 0,0168 %b/b), bilangan asam (0,81 0,93 mg KOH/ g
biodiesel), kadar asam lemak bebas (0,41 0,47%), bilangan iod (87,00
87,87 g I2/100 g biodiesel), bilangan penyabunan (192,62 195,95 mg KOH/g
biodiesel), dan angka setana (54,47 54,95). Selain itu juga dilakukan uji
kromatografi gas-spektrometrik massa yang menunjukkan bahwa biodiesel
hasil sentrifugasi dengan kecepatan 500 rpm (30 g) selama satu menit
mengandung 97,25% (b/b) metil ester.
Hasil uji t-student menunjukkan bahwa viskositas kinematik, densitas, dan
kadar KOH biodiesel yang diperoleh dengan cara sentrifugasi lebih baik
daripada biodiesel hasil settling selama 12 jam. Kecepatan sentrifugasi
sebesar 500 rpm (30 g) selama satu menit sudah dapat mengefisiensikan
proses pencucian katalis basa yang umumnya dilakukan sebagai tahap
pemurnian biodiesel setelah separasi. Proses sentrifugasi juga dapat
mereduksi waktu settling biodiesel kasar setelah transesterifikasi yang
menghambat proses produksi biodiesel pada skala kontinyu.
Andika Putri Listiawati. F34103031. The Effects of Centrifugation Velocity to
Biodiesel Based on Purging Nut (Jatropha curcas L.) Characteristics.
Supervised by Ani Suryani.
SUMMARY

Biodiesel from purging nut oil (Jatropha curcas L.) is an alternative potential
source for diesel fuel. It is made from esterification-transesterification
reaction that form suspension between hydrophobic phase (biodiesel) and
hydrophilic phase (glycerol). This two substances have different density that
make them separate in 8-12 hours by settling. Long period for settling can
hamper whole production process in continuous system. Therefore,
centrifugation process is needed to make shorter separation time. Biodiesel
from separation process still contain alkaline catalyst residue, so washing
process is needed to remove it.
The aim of this research is to know the effects of centrifugation velocity to
purging nut biodiesel characteristics and to know the efficiency of
centrifugation process to remove alkaline catalyst residue. This research
consist of introductary research to determine characteristics of purging nut
oil, and main research to know the effects of centrifugation velocity to
biodiesel characteristics. Experimental design used in main research is
Complete Randomized Design with single factor (centrifugation velocity).
Centrifugation velocity consist of four level: 500 rpm (30 g), 1000 rpm (120
g), 1500 rpm (270 g), and 2000 rpm (480 g). One minute is used as
centrifugation time in main research.
Main parameters in the research are kinematic viscosity, density, and
measurement of alkaline catalyst of biodiesel. This three parameters
compared with biodiesel from 12 hours settling. Biodiesel characteristics from
one minute centrifugation consist of kinematic viscosity (4,61 4, 71 cSt),
density (0,8823 0,8848 g/cm3), alkaline catalyst content (714 982 ppm),
measurement of biodiesel after centrifugation (77,37 81,49 %v/v), water
content (0,0129 0,0168 %b/b), acid number (0,81 0,93 mg KOH/ g
biodiesel), free fatty acid content (0,41 0,47%), iodine number (87,00
87,87 g I2/100 g biodiesel), saponification number (192,62 195,95 mg
KOH/g biodiesel), and cetane number (54,47 54,95). Test of Gas
Chromatography-Mass Spectrometric (GC-MS) shows that biodiesel from
centrifugation process within 500 rpm in one minute contain 97,25% (w/w) of
methyl ester.
Test of t-student shows that kinematic viscosity, density, and alkaline catalyst
content of biodiesel from centrifugation process are better than biodiesel
from 12 hours settling. Centrifugation velocity in 500 rpm (30 g) for one
minute can reduce water amount for removing alkaline catalyst in washing
process. Centrifugation process also can reduce settling time to separate
crude biodiesel after transesterification which hamper biodiesel production

process in continuous system.


SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul
Pengaruh Kecepatan Sentrifugasi terhadap Karakteristik Biodiesel Jarak
Pagar (Jatropha curcas L.) adalah hasil karya saya sendiri, dengan arahan
dosen pembimbing. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Agustus 2007
Andika Putri Listiawati
F34103031
PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP
KARAKTERISTIK BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
ANDIKA PUTRI LISTIAWATI
F34103031
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP
KARAKTERISTIK BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
ANDIKA PUTRI LISTIAWATI
F34103031
Dilahirkan di Cianjur, 6 Januari 1985

Tanggal lulus: 22 Agustus 2007


Menyetujui,
Bogor, 24 Agustus 2007
Dr. Ir. Ani Suryani, DEA.
Pembimbing Akademik
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji serta syukur penulis panjatkan ke hadirat Bapa di Surga atas
kasih setia, karunia yang melimpah, dan tuntunan yang tak pernah henti bagi
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan sebaikbaiknya. Perjuangan bersama-Nya selalu terasa indah dan berharga. Adapun
skripsi dengan judul Pengaruh Kecepatan Sentrifugasi terhadap Karakteristik
Biodiesel Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) ini disusun untuk memenuhi
persyaratan ujian Strata-1 di Departemen Teknologi Industri Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
Melalui kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih
yang tulus kepada:
1. Mama dan Papa tercinta yang telah memberikan dorongan dan motivasi
bagi penulis, Andre dan Anggi yang senantiasa memberikan semangat serta
seluruh keluarga yang senantiasa mendoakan penulis. Terima kasih atas doa,
dukungan, dan perhatian yang dapat penulis rasakan hingga saat ini dan
nanti.
2. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA. selaku dosen pembimbing akademik yang telah
berkenan meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan
penulis selama kuliah hingga penyusunan skripsi.
3. Dr. Ir. Liesbetini Hartoto, MS. dan Dr. Ir. M. Yani, MEng. selaku dosen penguji
yang telah memberikan banyak saran bagi kesempurnaan skripsi ini.
4. Agung Marsubowo atas perhatian, doa, dan dukungannya hingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Gunawan, Ibu Ega, Ibu Rini, Ibu Sri, dan Bapak Edi beserta staf
Departemen Teknologi Industri Pertanian lainnya yang telah bersedia
membantu penulis selama penelitian.
6. Kosi dan Rohmat selaku teman sebimbingan akademik.
7. Vivi, Feny, Mas Tarwin, Silvi, dan Ningrum serta teman-teman seperjuangan
semasa penelitian lainnya.
8. Ana, Ratih, Windi, Idesh, Endah, Endang atas kebersamaannya selama ini
serta rekan-rekan TIN 40 lainnya yang telah memberikan semangat selama
penulis menjalani studi hingga skripsi ini terselesaikan.

iv
9. Muti, Ika, Teti, Dini yang telah memberikan semangat dan bantuan pada
penulis.
10. Seluruh pihak lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
yang telah senantiasa mendukung penulis hingga saat ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki kekurangan-kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis
harapkan. Akhir kata, semoga setiap bagian dari skripsi ini dapat bermanfaat
bagi dunia ilmu pengetahuan dan bagi para pembaca.
Bogor, Agustus 2007
Penulis
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berdasarkan data tahun 2005 tercatat kebutuhan atau pemakaian solar
nasional sebesar sekitar 27,5 milyar liter, dimana penggunaan solar ini lebih
banyak dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar minyak lain
(premium 17,5 milyar liter, minyak tanah 11,3 milyar liter, minyak diesel 9,0
milyar liter, dan minyak bakar 4,7 milyar liter) (Prihandana et al., 2006).
Walaupun produksi dari segi jumlah minyak mentah, Indonesia sanggup
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, impor minyak solar harus
dilakukan karena kapasitas kilang minyak yang tersedia tidak mencukupi
untuk memenuhi seluruh permintaan solar dalam negeri. Di masa mendatang
kebutuhan akan minyak solar dipastikan terus meningkat seiring dengan
pertumbuhan penduduk dan volume kegiatan ekonomi. Upaya peningkatan
kapasitas kilang bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan dalam waktu
relatif singkat karena kilang merupakan investasi yang bersifat capital
intensive atau padat modal.
Kondisi di atas, disertai dengan semakin menipisnya jumlah bahan bakar fosil
(nonrenewable resources), mengharuskan Indonesia untuk terus mengurangi
penggunaan sektor energi yang berbasis bahan bakar fosil dengan cara
mengoptimasi penggunaan energi yang terbarukan, salah satunya adalah
biodiesel. Biodiesel merupakan jenis bahan bakar cair alternatif yang mampu
memberikan kontribusi untuk pemenuhan kebutuhan minyak solar di
Indonesia mengingat porsi konsumsi minyak solar untuk sektor transportasi
terus meningkat setiap tahunnya (Tabel 1).
Tabel 1. Porsi Konsumsi Minyak Solar Sektor Transportasi Tahun 1995-2010
Tahun

1995
2000
2005
2010
Transportasi (milyar liter)
6,91
9,69
13,12
18,14
Total (milyar liter)
15,84
21,39
27,05
34,71
Porsi (%)
43,62
45,29
48,50
52,27
Sumber: Hariyadi et al. (2005)
2
Biodiesel adalah bahan bakar diesel alternatif potensial yang berasal dari
minyak nabati, minyak hewani atau minyak bekas dengan cara mentransesterifikasi minyak atau lemak dengan menggunakan alkohol seperti
metanol atau etanol. Salah satu tanaman penghasil minyak nabati untuk
biodiesel yang berpotensi di Indonesia adalah tanaman jarak pagar. Biji jarak
pagar (Jatropha curcas L.) sebagai bahan baku biodiesel memiliki kadar
minyak yang cukup tinggi, yaitu sekitar 40-60%. Penggunaan minyak jarak
pagar ini tidak terfokus sebagai minyak pangan karena kandungan toksinnya.
Biodiesel yang dihasilkan dari minyak jarak pagar bersifat ramah lingkungan
dan proses pembuatannya tidak sulit.
Biodiesel berupa metil ester dari minyak jarak pagar dapat diperoleh melalui
reaksi transesterifikasi menggunakan metanol dengan katalis basa pada suhu
60-70C selama 1-2 jam. Proses transesterifikasi minyak jarak pagar
menghasilkan campuran heterogen yang terdiri dari fasa hidrofobik (sebagian
besar komponennya biodiesel) dan fasa hidrofilik (sebagian besar
komponennya gliserol). Umumnya, setelah didiamkan selama 15 menit
gliserol dan biodiesel mulai memisah dan membentuk dua fraksi karena

adanya perbedaan berat jenis. Agar diperoleh rendemen metil ester yang
besar, maka proses settling untuk mengenapkan gliserol diteruskan hingga 812 jam. Kondisi pemisahan campuran heterogen yang memakan waktu lama
ini tentu saja dapat mengakibatkan bottle neck pada proses produksi
biodiesel sistem kontinyu sehingga diperlukan metode pemisahan lain yang
lebih baik dibandingkan settling. Proses sentrifugasi dapat mengefisiensikan
waktu separasi yang diperlukan sehingga gliserol akan terpisah dari biodiesel
dalam waktu yang relatif singkat.
Pada prinsipnya gliserol adalah fasa yang bersifat hidrofilik, sedangkan
biodiesel adalah fasa hidrofobik. Oleh karena itu, setelah terjadi pemisahan
pada campuran heterogen gliserol-biodiesel kasar, beberapa senyawa
pengotor biodiesel yang diperoleh dari hasil proses transesterifikasi akan
larut di dalam biodiesel atau gliserol berdasarkan berat jenis ataupun
kepolarannya. Senyawa-senyawa pengotor biodiesel di antaranya metanol,
sisa katalis basa, air, trigliserida yang tidak bereaksi, dan senyawa antara
3
berupa mono- dan digliserida. Sebagian besar pengotor berupa sisa katalis
basa akan terdapat pada gliserol, sedangkan sebagian kecilnya yang terdapat
pada biodiesel umumnya dihilangkan melalui proses pencucian biodiesel
dengan menggunakan larutan asam lemah dan air secara berulang-ulang
hingga pH air yang diperoleh netral.
B. TUJUAN
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh kecepatan sentrifugasi biodiesel hasil
transesterifikasi terhadap karakteristik biodiesel setelah sentrifugasi,
khususnya densitas biodiesel, viskositas kinematik biodiesel, dan kadar
katalis KOH dalam biodiesel.
2. Mengetahui apakah teknik sentrifugasi dapat meminimalisasi proses
pencucian katalis KOH dalam biodiesel.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. TANAMAN JARAK PAGAR
Tanaman jarak pagar termasuk famili Euphorbiaceae, satu famili dengan
karet dan ubi kayu. Klasifikasi tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiaceae
Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha curcas Linn.
Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1-7 m, bercabang tidak
teratur. Batangnya berkayu, silindris, dan bila terluka mengeluarkan getah
(Hambali et al., 2006). Tanaman jarak pagar tumbuh dengan cepat, kuat, dan
tahan terhadap panas, lahan tandus, dan berbatu. Menurut Azam et al.
(2005), tanaman ini dapat tumbuh di tempat dengan curah hujan 250-1200
mm/tahun serta mudah beradaptasi terhadap kondisi tanah kering atau semikering. Tanaman jarak pagar juga dapat tumbuh di tanah yang cukup basa
dan asam serta tanah erosi atau terdegradasi. Buahnya berbentuk elips
dengan panjang satu inchi, memiliki dua hingga tiga biji dengan kadar
minyak dalam inti biji 54,2% atau sekitar 31,5% dari berat total biji. Umur
lima bulan tanaman jarak pagar sudah mulai berbuah dan produktivitas
tertinggi dicapai ketika tanaman berumur lima tahun. Umur produktif
tanaman jarak pagar mencapai 50 tahun. Morfologi tanaman jarak pagar
dapat dilihat pada Gambar 1.
Jarak pagar dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar biofuel,
tanaman obat, tanaman penahan erosi, juga sebagai penyerap polusi udara
karena jarak pagar mampu menyerap gas karbondioksida dari atmosfer
sebesar 1,8 kg/kg bagian kering tanaman (Prihandana dan Hendroko, 2006).
Bagian dari tanaman jarak pagar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan
bakar adalah
biji, dimana komposisi kimianya dapat dilihat pada Tabel 2. Potensi dan aneka
kegunaan tanaman jarak pagar dapat dilihat pada Gambar 2.
(a) (b) (c)
Gambar 1. Morfologi Tanaman Jarak Pagar (a: pohon, b: buah, c: biji)
Tabel 2. Komposisi Kimia Inti, Kulit, dan Ampas Biji Jarak Pagar
Parameter
Inti Biji
Kulit Biji
Ampas Biji
Kadar bahan kering (%)
94,2 96,9
89,8 90,4
100
Komposisi (% bahan kering)
Protein kasar

22,2 27,2
4,3 4,5
56,4 63,8
Lemak
56,8 58,4
0,5 1,4
1,0 1,5
Abu
3,6 4,3
2,8 6,1
9,6 10,4
Serat deterjen netral
3,5 3,8
83,9 89,4
8,1 9,1
Serat deterjen asam
2,4 3,0
74,6 78,3
5,7 7,0
Lignin deterjen asam
0,0 0,2
45,1 47,5
0,1 0,4
Total energi (MJ/kg)
30,5 31,1
19,3 19,5
18,0 18,3
Sumber: Gbitz et al. (1999)
5
Daun Makanan ulat sutra Kegunaan medis Anti peradangan Getah
Penyembuh luka (protease curcain) -Kegunaan medis Jatropha curcas Linn.
Pengendali erosi Tanaman pelindung -Kayu bakarBuah Biji Insektisida
Makanan ternak (varietas non-toksik) Daging Buah Bahan bakar Pupuk
hijau -Produksi biogas Minyak Biji Produksi sabun Bahan bakar
Insektisida Kegunaan medis Bungkil Biji Pupuk Makanan ternak (varietas
non-toksik) Produksi biogas Cangkang Biji Bahan bakar
Sumber: Gbitz et al. (1999)
Gambar 2. Potensi dan Aneka Kegunaan Tanaman Jarak Pagar

B. MINYAK JARAK PAGAR


Komoditas perkebunan penghasil minyak nabati di Indonesia yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel cukup banyak, di antaranya
minyak kelapa sawit, kelapa, dan jarak pagar. Namun, mengingat minyak
kelapa sawit dan minyak kelapa banyak dimanfaatkan sebagai minyak
makan, maka peluang pemanfaatan minyak jarak pagar sebagai bahan baku
biodiesel lebih besar. Hal ini dikarenakan minyak jarak pagar tidak termasuk
dalam kategori minyak makan (Hambali et al., 2006). Inti biji, yang menjadi
bagian penting tanaman jarak pagar dan memiliki potensi terbesar untuk
kegunaannya, mengandung 40-60% minyak (Makkar et al., 1997).
Kandungan asam lemak esensial dalam minyak jarak pagar cukup tinggi
sehingga sebenarnya dapat dikonsumsi sebagai minyak makan, asalkan
toksin yang
6
7
berupa phorbol ester dan curcin dapat dihilangkan (Openshaw, 2000).
Komposisi asam lemak dari minyak jarak pagar dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Asam Lemak dari Minyak Jarak Pagar
Asam Lemak
Komposisi (% b/b)
Asam miristat (14 : 0)
0 0,1
Asam palmitat (16 : 0)
14,1 15,3
Asam stearat (18 : 0)
3,7 9,8
Asam arakidat (20 : 0)
0 0,3
Asam behenat (22 : 0)
0 0,2
Asam palmitoleat (16 : 1)
0 1,3
Asam oleat (18 : 1)
34,3 45,8
Asam linoleat (18 : 2)
29,0 44,2
Asam linolenat (18 : 3)
0 0,3

Sumber: Gbitz et al. (1999)


Ada dua metode dasar untuk memperoleh minyak jarak pagar dari biji, yaitu
pengepresan dan ekstraksi pelarut. Proses pengepresan biasanya dilakukan
dengan pengepres hidrolik atau ulir yang digerakkan secara manual atau
dengan mesin. Proses pengepresan biasanya meninggalkan ampas yang
masih mengandung 7-10% minyak, sedangkan proses dengan ekstraksi
pelarut mampu mengambil minyak optimal sehingga ampasnya hanya
kurang dari 0,1% berat keringnya (Syah, 2006). Standar mutu minyak jarak
pagar berbeda-beda tergantung dari cara pengolahannya. Beberapa sifat fisik
dan kimia minyak jarak pagar dapat dilihat pada Tabel 4.
8
Tabel 4. Sifat Fisik dan Kimia Minyak Jarak Pagar
Sifat Fisik dan Kimia
Satuan
Nilai
Densitas pada 15C
g/cm3
0,920
Viskositas pada 30C
cSt
52
Titik nyala (Flash point)
C
240
Angka netralisasi
mg KOH/g
0,92
Monogliserida
%b/b
Tidak terdeteksi
Digliserida
%b/b
2,7
Trigliserida
%b/b
97,3
Kadar air
%b/b

0,07
Kadar fosfor
mg/kg
290
Kadar kalsium
mg/kg
56
Kadar magnesium
mg/kg
103
Kadar besi
mg/kg
2,4
Asam lemak bebas (FFA)*
%
1,9
Nilai kalor total**
MJ/kg
39,65
Sumber: Gbitz et al. (1999)
*= Haas dan Mittelbach (2000)
**= Makkar et al. (1997)
C. BIODIESEL JARAK PAGAR
Biodiesel didefinisikan sebagai bahan bakar mesin diesel yang berasal dari
sumber lipida alami terbarukan (Soerawidjaja, 2001). Secara kimiawi,
biodiesel adalah monoalkil ester dari rantai panjang asam lemak yang
berasal dari bahan baku yang dapat diperbarui, seperti minyak nabati atau
lemak hewani, untuk digunakan dalam mesin diesel (Meher et al., 2004).
Biodiesel umumnya berupa metil ester atau etil ester, yang mana kedua
substansi tersebut adalah senyawa yang relatif stabil, cair pada suhu ruang
(titik leleh antara 4-18C), non-korosif, dan titik didihnya rendah. Dalam
beberapa penggunaan, metil ester lebih banyak disukai daripada etil ester
karena lebih ekonomis, viskositasnya lebih rendah serta penggunaan ulang
(recovery) metanolnya dapat menggunakan suhu rendah (Sonntag, 1982).
9
Biodiesel, sebagai bahan bakar alternatif, memiliki banyak manfaat, di
antaranya berasal dari bahan baku yang dapat diperbarui (renewable) serta
merupakan sumber daya domestik, dapat menggantikan bahan bakar diesel

dan turunannya dari petroleum, dan bersifat biodegradable. Dibandingkan


petroleum diesel, biodiesel memiliki emisi bahan bakar (gas buang) yang
lebih baik, seperti emisi karbon monoksida dan SOx yang rendah.
Karbondioksida yang diproduksi oleh pembakaran biodiesel dapat digunakan
kembali (recycle) untuk fotosintesis, sehingga meminimalisir efek rumah kaca
akibat pembakaran. Biodiesel memiliki titik nyala yang relatif tinggi (150C)
sehingga aman bagi alat transportasi atau lebih mudah ditangani daripada
petroleum diesel. Biodiesel juga memberikan sifat lubrikasi yang dapat
mengurangi pemakaian pelumas mesin memperpanjang umur mesin. Secara
singkat, kegunaan ini membuat biodiesel menjadi alternatif pengganti bahan
bakar petroleum yang memegang peranan penting dalam penggunaannya di
berbagai negara, terutama di daerah yang sensitif lingkungan (Zhang et al.,
2003).
Pryde (1983) di dalam Ma dan Hanna (1999) memaparkan keuntungan dari
penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar diesel adalah bentuknya
berupa zat cair alamiah yang mudah ditransportasikan, kandungan kalornya
sebesar 80% dari bahan bakar diesel, mudah didapatkan, dan dapat
diperbarui. Kekurangannya adalah viskositas tinggi, volatilitas rendah, dan
sifat reaktif dari rantai hidrokarbon tak jenuh. Kualitas biodiesel ditentukan
oleh kemurnian senyawa alkil ester di dalam biodiesel. Senyawa selain alkil
ester (kontaminan) yang terdapat di dalam biodiesel dapat menyebabkan
masalah ketika biodiesel digunakan pada mesin. Kontaminan dapat
menyebabkan timbulnya kerak pada mesin, penyumbatan pada saluran
injeksi, dan kerusakan pada biodiesel. Kontaminan yang terdapat dalam
biodiesel dapat berupa asam lemak bebas, gliserol serta mono-, di-, dan
trigliserida yang masih terdapat pada biodiesel (Knothe, 2006). Standar mutu
biodiesel Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.
10
Tabel 5. Standar Mutu Biodiesel Indonesia
Parameter dan Satuannya
Batas Nilai
Metode Uji
Massa jenis (kg/m3, 40C)
850-890
ASTM D 1298
Viskositas kinematik (40C, cSt)
2,3-6,0
ASTM D 445

Angka setana
Min. 51
ASTM D 613
Titik nyala (C)
Min. 100
ASTM D 93
Titik kabut (C)
Maks. 18
ASTM D 2500
Korosi bilah tembaga (3 jam, 50C)
Maks. No. 3
ASTM D 130
Residu karbon (%-b)
Maks. 0,05
ASTM D 4530
Air dan sedimen (%-vol.)
Maks. 0,05
ASTM D 2709
Temperatur distilasi 90% (C)
Maks. 360
ASTM D 1160
Abu tersulfatkan (%-b)
Maks. 0,02
ASTM D 874
Belerang (mg/kg)
Maks. 100
ASTM D 5453
Fosfor (mg/kg)
Maks. 10
AOCS Ca 12-55
Angka asam (mg KOH/g)
Maks. 0,8
AOCS Ca 3-63
Gliserol bebas (%-b)
Maks. 0,02
AOCS Ca 14-56
Gliserol total (%-b)
Maks. 0,24

AOCS Ca 14-56
Kadar ester alkil (%-b)
Min. 96,5
Dihitung
Angka iodium (g I2/100 g)
Maks. 115
AOCS Cd 1-25
Uji Halphen
Negatif
AOCS Cb 1-25
Sumber: Forum Biodiesel Indonesia di dalam Hambali et al. (2006)
Biodiesel terdiri atas asam-asam lemak metil ester yang dapat diperoleh dari
trigliserida dalam minyak nabati melalui proses transesterifikasi dengan
metanol. Biodiesel akhir yang diperoleh dari proses ini memiliki karakteristik
utama yang sama dengan bahan bakar diesel konvensional (Meher et al.,
2004). Menurut Darnoko dan Cheryan (2000), bilangan setana, kandungan
energi, viskositas, dan perubahan fasa biodiesel serupa dengan bahan bakar
petroleum diesel. Perbandingan biodiesel jarak pagar dengan standar kualitas
biodiesel menurut ASTM (American Society for Testing and Materials) dan
European Normalization (EN) dapat dilihat pada Tabel 6.
11
Tabel 6. Karakteristik Biodiesel Jarak Pagar dan Standar Kualitas Biodiesel
Parameter
Satuan
Biodiesel
Jarak Pagar
EN 14214
ASTM
D 6751
Densitas (15C)
g/cm3
0,879
0,86 0,90
Viskositas kinematik (40C)
cSt
4,84a
3,5 5,0

1,9 6,0
Flash point
C
191
Min. 120
Min. 130
Bilangan asam
mg KOH/g
0,24
Maks. 0,5
Maks. 0,8
Abu sulfat
% m/m
0,014
Maks. 0,02
Maks. 0,02
Angka setana
51
Min. 51
Min. 47
Conradson carbon residue
% b/b
0,025
Maks. 0,03
Maks. 0,05
Copper strip corrossion
1
Maks. No. 3
Cloud point*
C
dihitung
Pour point
C
Maks. 0

Bilangan iod
g I2/100 g
Maks. 120
Kandungan metil ester
% b/b
99,6
Min. 96,5
Monogliserida
% b/b
0,24
Maks. 0,8
Digliserida
% b/b
0,07
Maks. 0,2
Trigliserida
% b/b
tidak terdeteksi
Maks. 0,2
Kadar metanol
% b/b
0,06
Maks. 0,2
Kadar air
% b/b
0,16
Maks. 500b
Maks. 0,05c
Kadar gliserol bebas
% b/b

0,015
Maks. 0,02
0,02
Kadar gliserol total
% b/b
0,088
Maks. 0,25
0,24
Fosfor
mg/kg
17,5
Maks. 10
Maks. 0,001d
Kalsium
mg/kg
6,1
Maks. 5
Magnesium
mg/kg
1,4
Maks. 5
Besi
mg/kg
0,9
Natrium/kalium
mg/kg
Maks. 5
Maks. 5
Sulfur
mg/kg
Maks. 10
Maks. 0,0015e

Sumber: Knothe (2006)


Gbitz et al. (1999) untuk biodiesel jarak pagar
Keterangan: a = viskositas pada 30C d = dalam satuan % massa
b = dalam satuan mg/kg e = dalam satuan % massa
c = dalam satuan % volume
Teknologi proses produksi biodiesel yang berkembang saat ini dapat
dikelompokkan menjadi proses satu tahap (transesterifikasi) dan proses dua
tahap (esterifikasi-transesterifikasi). Reaksi satu tahap (transesterifikasi)
dipakai apabila minyak nabati memiliki nilai FFA di bawah 1 persen,
sedangkan minyak yang memiliki nilai FFA di atas 1 persen, seperti minyak
jarak pagar, sebaiknya menggunakan proses dua tahap (esterifikasitransesterifikasi). Menurut Lele (2004), transesterifikasi hanya bekerja
dengan baik terhadap minyak yang mempunyai kualitas yang tinggi. Minyak
yang mengandung asam lemak bebas lebih dari 1 persen akan membentuk
formasi emulsi sabun yang menyulitkan pada saat pemisahan biodiesel.
Esterifikasi merupakan reaksi antara asam lemak bebas dengan alkohol
sehingga membentuk ester dan melepaskan molekul air (Sonntag, 1982).
Reaksi esterifikasi dapat terjadi dengan bantuan katalis asam, seperti H2SO4
atau HCl. Proses yang terjadi dalam reaksi esterifikasi dapat dilihat pada
Gambar 3.
R1COOH + CH3OH R1COOCH3 + H2O
Asam lemak Metanol Metil Ester Air
bebas Katalis (Biodiesel)
asam
Gambar 3. Reaksi Esterifikasi Asam Lemak Bebas dan Metanol
Reaksi esterifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah
jumlah pereaksi, waktu reaksi, suhu, konsentrasi katalis, dan kandungan air
pada minyak. Semakin tinggi asam lemak bebas dan jumlah metanol yang
digunakan, maka semakin tinggi pula rendemen metil ester yang dihasilkan
dan semakin kecil kandungan asam lemak bebas pada produk (Canakci dan
Gerpen, 2003). Katalis asam selain mengesterifikasi asam lemak bebas juga
mengkonversi trigliserida menjadi metil ester, tetapi kecepatannya lebih
rendah dibandingkan dengan transesterifikasi menggunakan katalis basa
(Freedman et al., 1984 di dalam Canakci dan Gerpen, 2003).
Menurut Lepper dan Friesenhagen (1986) di dalam Canakci dan Gerpen
(2001), perlakuan pendahuluan terhadap minyak yang mengandung asam
lemak tinggi melalui proses esterifikasi menggunakan metanol dan katalis
asam dapat menghasilkan minyak dengan FFA kurang dari 0,5% b/b sebelum

dilakukan transesterifikasi basa. Gerpen et al. (2004) menambahkan


12
bahwa esterifikasi dengan katalis asam terhadap minyak FFA tinggi dan telah
dikeringkan terlebih dahulu memerlukan alkohol dalam jumlah banyak (20:1),
suhu 60C, dan waktu 1-2 jam. Apabila suhu dinaikkan menjadi 135C, maka
waktu dapat dipersingkat menjadi 45 menit.
Tahapan proses untuk memperoleh biodiesel setelah esterifikasi adalah
transesterifikasi berkatalis basa. Secara kimia, transesterifikasi (juga disebut
alkoholisis) berarti mengambil molekul trigliserida atau kompleks asam
lemak, menetralisir asam lemak bebas, menghilangkan gliserol, dan
membentuk alkil ester. Reaksi ini dapat dilihat pada Gambar 4. Katalis
biasanya digunakan untuk memperbesar laju reaksi dan rendemen. Secara
teoritis, reaksi transesterifikasi adalah reaksi kesetimbangan. Dalam reaksi ini
sejumlah besar alkohol digunakan untuk mengarahkan reaksi ekuilibrium ke
kanan dan memproduksi metil ester, produk akhir yang diinginkan, dalam
jumlah tinggi (Demirba, 2003). Alkohol adalah monohidrat alifatik primer
atau sekunder yang memiliki 1-8 atom karbon. Beberapa jenis alkohol yang
dapat digunakan untuk reaksi transesterifikasi adalah metanol, etanol,
propanol, dan butanol. Metanol dan etanol adalah jenis yang paling sering
digunakan, terutama metanol karena harganya murah serta menguntungkan
sifat fisik dan kimianya, yaitu memiliki rantai alkohol terpendek. Sifat metanol
ini menyebabkannya cepat bereaksi dengan trigliserida serta membuat NaOH
lebih mudah larut di dalamnya (Ma dan Hanna, 1999).
OHO
R1 C O C H R1 C O R HO CH2
O O 13
R2 C O C H + 3R OH R2 C O R + HO CH
OO
R3 C O C H R3 C O R HO CH2
H Katalis bas
Minyak atau lemak Alkohol Biodiesel Gliserol
(Trigliserida) (Alkil ester)
14
Gambar 4. Reaksi Transesterifikasi Trigliserida dengan Alkohol
Untuk memenuhi stoikiometrik transesterifikasi, dibutuhkan rasio mol alkohol
dan trigliserida sebesar 3:1. Dalam prakteknya rasio tersebut harus lebih
besar untuk mendorong reaksi memperoleh rendemen ester maksimum.
Reaksi transesterifikasi dapat dikatalisa oleh alkali, asam atau enzim. Katalis

alkali terdiri atas NaOH, KOH, karbonat, dan sodium atau potasium alkoksida
seperti sodium metoksida, sodium etoksida, sodium propoksida, dan sodium
butoksida. Asam sulfat, asam sulfonat, dan asam hidroklorin biasanya
digunakan sebagai katalis asam. Lipase juga dapat digunakan sebagai
biokatalis. Transesterifikasi yang dikatalisa alkali lebih cepat daripada
transesterifikasi yang dikatalisa asam, dan lebih sering digunakan secara
komersial. Untuk reaksi transesterifikasi yang dikatalisa alkali, gliserida dan
alkohol harus bersifat anhidrous karena air dapat menyebabkan reaksi
saponifikasi yang menghasilkan sabun (Wright et al., 1944).
Trigliserida yang mengandung asam lemak bebas dalam kadar rendah
diperlukan dalam proses transesterifikasi yang dikatalisa alkali. Jika
trigliserida mengandung asam lemak bebas dan kadar air yang tinggi,
transesterifikasi yang dikatalisa asam dapat digunakan terlebih dahulu (Keim,
1945 di dalam Ma dan Hanna, 1999). Transesterifikasi terdiri atas sejumlah
reaksi reversibel yang berurutan. Trigliserida dikonversi secara bertahap
menjadi digliserida, monogliserida, dan akhirnya gliserol. Dari setiap tahap
akan dihasilkan metil ester, laju konversi monogliserida menjadi metil ester
lebih cepat daripada digliserida dan trigliserida. Hal tersebut terjadi karena
monogliserida lebih mudah larut dalam fase polar (gliserol) tempat katalis
berada (Darnoko dan Cheryan, 2000). Gambar 5 memperlihatkan mekanisme
transesterifikasi berkatalis basa NaOH (Ma dan Hanna, 1999).
Mekanisme reaksi untuk transesterifikasi berkatalis basa dapat
diformulasikan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah penyerangan atom
karbon karbonil dari molekul trigliserida oleh anion alkohol (ion metoksida)
untuk membentuk senyawa antara. Di tahap kedua, senyawa antara bereaksi
dengan alkohol (metanol) untuk meregenerasi anion alkohol (ion metoksida).
Di tahap terakhir, pembentukan kembali senyawa antara dihasilkan dalam
bentuk ester asam lemak dan digliserida. Ketika NaOH, KOH, K2CO3 atau
katalis sejenis lainnya dicampur dengan alkohol, katalis sebenarnya (grup
alkoksida) terbentuk. Sejumlah kecil air, akibat reaksi transesterifikasi, dapat
menyebabkan terbentuknya sabun selama transesterifikasi, reaksinya dapat
dilihat pada Gambar 6 (Ma dan Hanna, 1999). Menurut Rodica dan Caprita
(2005), adanya sabun akan mengurangi rendemen ester karena sabun akan
mengikat metil ester dengan air.
Pre-step:
15
Tahap 1:
Tahap 2:

Tahap 3:
OR R1COOR + RO R1 C O OR ROH+ R1 C O R1COOR + ROH OR
OR ROH+ R1 C O + ROH R1 C O + RO OR OR OH + ROH RO +
H2O atau RONa RO + Na+
Dimana ROH digliserida, R1 grup alkil berantai panjang, dan R grup alkil
berantai pendek
Gambar 5. Mekanisme Transesterifikasi Trigliserida (Ma dan Hanna, 1999)
Metanolisis berkatalis basa memerlukan minyak dengan syarat tertentu. Sifat
dasar minyak yang harus dipenuhi adalah bersih, tanpa air, dan netral secara
substansial. Kegagalan reaksi ini menghasilkan sabun yang dapat
mengurangi kebasaan katalis dan membentuk lapisan gel yang dapat
mempersulit pemisahan dan pengendapan gliserol (Canakci dan Gerpen,
1999). Reaksi transesterifikasi berkatalis basa dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksernal. Faktor internal di antaranya kualitas minyak itu sendiri
seperti kadar air dan asam lemak bebas yang dapat mempengaruhi reaksi.
Faktor eksternal dapat berupa jenis katalis, rasio mol antara alkohol dan
minyak, suhu, waktu reaksi, dan parameter-parameter pascatransesterifikasi
(Gerpen dan Knothe, 2004).
CH2 O CO R1 CH2 OH R1 COOCH3
CH O CO R2 CH OH + R2 COOCH3
CH2 O CO R3 CH2 OH R3 COOCH3
Trigliserida Gliserin Metil ester
(Biodiesel)
16
CH2 O CO R1 CH2 OH R1 COONa
CH O CO R2 CH OH + R2 COONa
CH2 O CO R3 CH2 OH R3 COONa
NaOH
CH3OH
NaOH
H2O
Trigliserida Gliserin Sabun
Gambar 6. Reaksi Penyabunan Saat Transesterifikasi (Ma dan Hanna, 1999)
Untuk reaksi transesterifikasi, katalis basa yang dapat dipakai adalah 1,0%
bobot minyak atau kurang dan rasio mol metanol terhadap minyak adalah
6:1. Tidak ada peningkatan rendemen yang signifikan jika kedua variabel
tersebut ditingkatkan. Reaksi ini menghasilkan 95% metil ester dalam waktu
1 jam pada suhu 65C (Freedman et al., 1984). Kusdiana dan Saka (2003)

mengklaim bahwa minyak dan alkohol dapat direaksikan tanpa katalis


sehingga mengurangi kebutuhan untuk tahap pencucian air dan katalis.
Namun reaksi ini membutuhkan temperatur tinggi dan ekses metanol yang
besar (42:1), sehingga ongkos produksi pun akan meningkat. Proses untuk
memperoleh biodiesel dengan cara ini disebut supercritical methanol
transesterification method.
Dengan demikian, tahapan proses pembuatan biodiesel dari minyak jarak
pagar dengan cara transesterifikasi berkatalis basa dapat digambarkan
dalam diagram alir seperti terlihat pada Gambar 7.
17
Biodiesel Recovery metanolGliserol Purifikasi Separasi Biodiesel kasar
Pencampuran Transesterifikasi Pemanasan Minyak jarak Katalis Metanol
Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jarak
(Hambali et al., 2006)
D. GLISEROL
Gliserol adalah senyawa golongan alkohol polihidrat dengan tiga buah gugus
hidroksil dalam satu molekul (alkohol trivalen). Rumus kimia gliserol adalah
C3H8O dengan nama kimia 1,2,3-propanatriol. Berat molekul gliserol sebesar
92,10 dengan massa jenis 1,23 g/cm3 (Winarno, 1992). Gliserol bersifat
mudah larut dalam air, dapat meningkatkan viskositas larutan, mengikat air,
menurunkan aw bahan, merupakan cairan dengan rasa pahit-manis yang
mempunyai kelarutan tinggi, yaitu sebesar 71 g/100 g air pada suhu 250C
(Gaman dan Sherrington, 1992). Appleby (2004) mengatakan bahwa gliserol
banyak terdapat di alam sebagai ester asam lemak pada minyak
18
atau lemak. Istilah gliserol diaplikasikan hanya pada bahan campuran kimia
murni 1,2,3-propanatriol, sedangkan istilah gliserin diaplikasikan pada
produk komersial yang umumnya mengandung lebih dari 95% gliserol setelah
proses pemurnian. Beberapa sifat fisik gliserol dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Sifat-sifat Fisik Gliserol
Parameter
Nilai
Titik cair (C)
18,17
Titik didih (C)
0,53 kPa
1,33kPa
13,33 kPa

101,3 kPa
14,9
166,1
222,4
290
Berat jenis, 25/25C (g/cm3)
1,262
Tekanan uap
50C
100C
150C
200C
0,33
526
573
6100
Tegangan permukaan (20C, mN/m)
63,4
Viskositas (20C, mPa.s)
1499
Sumber: Appleby (2004)
Menurut Kirk dan Othmer (1964) di dalam Agustina (2004), gliserin dapat
berasal dari industri sabun, oleokimia, dan dapat juga berasal dari industri
kimia. Penggunaan gliserol sangat kompleks, terutama dalam industri.
Sebagian besar gliserol digunakan dalam obat-obatan, kosmetika, pasta gigi,
busa uretan, resin sintetik, dan gum ester. Industri berbahan baku tembakau
dan pangan juga menggunakan gliserol dalam jumlah besar.
Gliserol merupakan produk samping yang prospektif dari proses pembuatan
biodiesel karena harganya lebih tinggi daripada reaktan metanol. Fasa
gliserol dihasilkan dari proses transesterifikasi minyak dan alkohol,
19
dimana pada akhir proses akan terpisah dengan metil ester (biodiesel) akibat
adanya perbedaan berat jenis. Selain itu, sifat gliserol yang tidak mudah larut
dalam metil ester juga mempermudah dan mempercepat proses pemisahan
kedua fasa tersebut, baik dengan cara pengenapan (settling) atau
sentrifugasi. Gliserol yang diperoleh setelah proses pemisahan ini
mengandung sebagian kecil ekses metanol dan sebagian besar sisa katalis
serta sabun (Gerpen dan Knothe, 2004). Gliserol harus dipisahkan dari

biodiesel karena gliserol dapat membentuk senyawa akrolein dan


terpolimerisasi menjadi senyawa plastis yang agak padat. Senyawa ini akan
membentuk deposit pada pompa injektor sehingga menyebabkan kerusakan
pada mesin diesel (Prihandana et al., 2006).
E. SENTRIFUGASI
Proses separasi memiliki peranan penting dalam industri, termasuk
penghilangan zat-zat pengotor dari bahan baku, pemurnian produk, separasi
produk recycle, dan penghilangan kontaminan dari fluida gas dan air. Sejauh
ini, proses separasi mengkonsumsi sebesar 40-70% dari biaya operasi dan
kapital di industri serta penggunaannya yang tepat dapat menurunkan biaya
produksi dan meningkatkan keuntungan (Humphrey dan Keller, 1997).
Proses separasi dengan cara pengenapan atau settling membutuhkan waktu
yang lama karena gaya gravitasi yang dibutuhkan akan dilawan oleh gaya
difusi dan gerak Brown dari globula-globula dalam suspensi (Ford dan
Graham, 1991). Rickwood (1984) menambahkan bahwa kecepatan
pengenapan fasa terdispersi dalam suspensinya tidak hanya tergantung pada
sifat fisik fasa tersebut, tetapi juga sifat fisik media dimana fasa terdispersi
tersuspensi serta besarnya gaya yang digunakan. Seperti terlihat pada
Gambar 8, gaya yang sebenarnya dialami globula fasa terdispersi tidak
hanya ditentukan oleh gaya gravitasi (g), tetapi juga efek flotasi yang
menunjukkan perbedaan densitas antara media kontinyu dan globula fasa
terdispersi. Oleh karena itu, laju pengenapan perlu ditingkatkan dengan
menggunakan gaya sentrifugal.
Sentrifugasi merupakan suatu cara mekanis untuk memisahkan komponenkomponen dari campuran cairan atau campuran cairan dan partikel
padat dengan menggunakan gaya pemusingan (sentrifugal) yang lebih besar
daripada gaya gravitasi sehingga mempercepat laju pengenapan fasa
terdispersi. Umumnya, sentrifugasi digunakan untuk memisahkan komponen
tak larut (insoluble) dari media cair (Ford dan Graham, 1991; Ruthven, 1997).
Buoyancy
Molekular Interaksi
Settling
Gambar 8. Mekanisme Gaya pada Globula Fasa Terdispersi dalam Larutan
Prinsip pemisahan sentrifugasi didasarkan pada perbedaan berat jenis dari
komponen-komponen yang ada. Cairan tak larut (fasa terdispersi) dalam fase
cair kontinyu akan terenap hingga kecepatan konstan akhir tercapai.
Hubungan antara komponen tak larut, media, dan medan sentrifugal
ditunjukkan dalam Persamaan 1.

d2(p l)2r
v = Persamaan 1
18
Keterangan: v = kecepatan pengenapan fasa terdispersi
d = diameter globula fasa terdispersi
p = berat jenis globula fasa terdispersi
l = berat jenis media cair (kontinyu)
= kecepatan angular
r = jari-jari yang diukur dari pusat rotor
= viskositas media kontinyu
Dari Persamaan 1 dapat dilihat bahwa laju pengenapan fasa terdispersi
besarnya proporsional terhadap ukurannya serta terhadap perbedaan berat
20
21
jenis antara fasa terdispersi dan berat jenis media kontinyu. Laju sedimentasi
akan menurun jika viskositas media kontinyu meningkat, dan akan meningkat
jika gaya sentrifugal meningkat (Ford dan Graham, 1991).
Dalam prakteknya gaya sentrifugal yang menggerakkan globula fasa
terdispersi menjauh dari sumbu rotasi jumlahnya jauh lebih besar daripada
gaya gravitasi bumi. Selain gaya apung dan settling, globula fasa terdispersi
juga dipengaruhi oleh gaya molekul dari media sekitarnya. Jika globula
berukuran kecil, maka gaya sentrifugal yang besar diperlukan untuk
meniadakan gaya molekul ini dan membuat globula terenap. Suspensi
dimasukkan ke dalam tabung sentrifus yang ditempatkan di dalam rotor yang
berputar dengan kecepatan dan waktu yang dapat dikendalikan. Rotor
digerakkan dari pusat sumbu sentrifus dengan jari-jari tertentu. Jari-jari
diukur dari pusat rotasi sampai bagian tengah cairan dalam tabung sentrifus
sehingga untuk mendapatkan hasil yang akurat, kecepatan sentrifugasi (rpm)
dikonversikan ke dalam satuan gravitasi (g). Adapun besarnya g dinyatakan
sebagai RCF (relative centrifuce force) yang dinyatakan dalam Persamaan 2.
Persamaan 2 menunjukkan bahwa gaya sentrifugal yang bekerja pada
partikel berbanding lurus dengan jumlah kuadrat dari kecepatan sentrifugasi
dan jarak dari sumbu rotasi (Rickwood, 1984).
RCF = 11,1810-6 (r) (N)2 Persamaan 2
Keterangan: r = jari-jari yang diukur dari pusat rotor (sumbu rotasi)
N = kecepatan dalam satuan rpm (revolutions per minute)
Pada prinsipnya transesterifikasi adalah reaksi reversibel, walaupun dalam
produksi metil ester dari minyak nabati, reaksi berbalik arah tidak terjadi atau

tidak berpengaruh besar karena gliserol yang terbentuk tidak larut dalam
produk (metil ester). Dengan demikian, akan terbentuk sistem dua fasa.
Secara alami fasa terdispersi dalam suspensi dapat dipisahkan dengan cara
pengenapan (settling) yang memanfaatkan gaya gravitasi sehingga substansi
berdensitas tinggi mengendap di bagian bawah, tetapi proses ini
membutuhkan
22
waktu yang lama dan globula-globula yang halus tetap tersuspensi dalam
cairan.
Pemisahan sistem cairan-cairan, seperti metil ester-gliserol, dapat dipercepat
dengan cara sentrifugasi, prinsipnya sama seperti pemisahan partikel padat
dalam cairan (www.centrifuges.net). Separasi kedua fasa ini dapat dilihat
secara visual setelah 10 menit dan berakhir setelah dua jam melalui proses
pengenapan (settling). Proses settling untuk memperoleh hasil yang
sempurna dapat menghabiskan waktu selama 20 jam (Demirba, 2003).
Substansi yang mengenap ke bagian bawah pada saat sedimentasi adalah
campuran dari gliserol, metanol, sabun, dan larutan katalis basa. Sebagian
besar katalis basa terdapat di lapisan ini
(www.journeytoforever.org/biofuel/glycerin).
23
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah labu leher tiga,
erlenmeyer, gelas piala, neraca analitik, buret, pipet volumetrik, gelas ukur,
hot plate stirrer, kondensor, penangas air, termometer, Hitachi centrifuge
tipe CR21G, viskosimeter Cannon-Fenske, piknometer, cawan aluminium,
oven, dan desikator. Bahan-bahan yang digunakan adalah minyak jarak pagar
dan metanol yang berasal dari SBRC (Surfactant and Bioenergy Research
Center) Bogor, katalis KOH, alkohol netral 95%, kloroform, larutan Hanus,
larutan KI 20%, larutan Na2S2O3 0,1 N, larutan KOH 0,1 N, larutan KOHalkohol 0,5 N, larutan HCl 0,5 N, larutan aseton 2%, larutan HCl 0,01 N,
indikator fenolftalein (PP), indikator kanji, dan aquades.
B. METODE PENELITIAN
Kajian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh kecepatan putaran sentrifugasi terhadap karakteristik biodiesel
jarak pagar serta mengetahui apakah proses sentrifugasi dapat
meminimalisir tahapan pencucian katalis KOH dalam biodiesel. Metode
penelitian meliputi penelitian pendahuluan untuk mengetahui karakteristik

minyak jarak pagar dan penelitian utama untuk mengetahui pengaruh


kecepatan sentrifugasi dan menganalisis karakteristik biodiesel yang
diperoleh.
1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menganalisis karakteristik minyak
jarak pagar sebelum proses estrans. Analisa tersebut meliputi densitas,
viskositas kinematik, kadar air, bilangan asam, kadar asam lemak bebas,
bilangan iod, dan bilangan penyabunan minyak jarak pagar.
24
2. Penelitian Utama
Penelitian utama meliputi proses esterifikasi dan transesterifikasi minyak
jarak pagar untuk membuat biodiesel, mengetahui pengaruh kecepatan
sentrifugasi biodiesel setelah transesterifikasi terhadap karakteristiknya, dan
analisa biodiesel yang diperoleh setelah sentrifugasi. Proses pembuatan
biodiesel diawali dengan mengisi labu leher tiga dengan minyak jarak,
kemudian dipanaskan di atas hot plate stirrer hingga suhu minyak berkisar
55-60C. Katalis asam H2SO4 sebanyak 1% dari bobot minyak dilarutkan
dalam metanol (rasio mol metanol:minyak = 20:1). Campuran katalis asam
dan metanol dimasukkan ke dalam labu leher tiga berisi minyak jarak pagar,
kemudian proses esterifikasi dilakukan selama satu jam. Setelah melalui
proses esterifikasi, dilakukan penyaringan produk yang didapat dengan
menggunakan kapas untuk menyaring kotoran-kotoran padat yang mungkin
terbentuk selama reaksi.
Selanjutnya untuk memperoleh metil ester (biodiesel), dilakukan proses
transesterifikasi selama satu jam dalam kisaran suhu yang sama dengan
proses esterifikasi, hanya saja dalam proses transesterifikasi digunakan
katalis basa berupa KOH sebanyak 1% dari bobot minyak jarak awal dan rasio
mol metanol:minyak = 6:1. Pengadukan dengan magnetic stirrer selama
proses esterifikasi dan transesterifikasi menggunakan kecepatan pengadukan
skala 6-7 pada alat hot plate stirrer LabTech model LMS 3006. Setelah proses
transesterifikasi selesai, dilakukan sentrifugasi untuk memisahkan gliserol
dari metil ester yang terbentuk. Contoh penghitungan jumlah metanol dan
katalis yang dibutuhkan untuk proses esterifikasi dan transesterifikasi dapat
dilihat pada Lampiran 1.
Tahap akhir penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan
sentrifugasi terhadap karakteristik biodiesel, terutama densitas, viskositas
kinematik, dan kadar katalis KOH biodiesel. Pada tahap ini sampel diberikan
empat buah perlakuan kecepatan sentrifugasi, yaitu 500 rpm, 1000 rpm,

1500 rpm, dan 2000 rpm. Sentrifugasi dilakukan selama satu menit
berdasarkan waktu minimum yang dapat dicapai oleh alat. Umumnya satuan
kecepatan sentrifugasi (rpm) dikonversikan ke dalam
25
relative centrifuce force yang dinyatakan dalam satuan gravitasi (g). Contoh
penghitungan konversinya dapat dilihat pada Lampiran 2.
Analisa biodiesel yang diperoleh setelah sentrifugasi berupa viskositas
kinematik, densitas, kadar katalis KOH, penghitungan perolehan biodiesel
setelah sentrifugasi, kadar air, bilangan asam, kadar asam lemak bebas,
bilangan iod, bilangan penyabunan, dan angka setana. Selain itu juga
dilakukan uji Gas Chromatography-Mass Spectrometric untuk biodiesel hasil
sentrifugasi dengan kecepatan terendah dan menghasilkan karakteristik
biodiesel terbaik. Prosedur untuk analisa karakteristik minyak jarak pagar
maupun biodiesel dapat dilihat pada Lampiran 3. Diagram alir penelitian
utama dapat dilihat pada Gambar 9.
C. RANCANGAN PERCOBAAN
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian utama adalah
Rancangan Acak Lengkap dengan pengamatan satu faktor perlakuan, yaitu
kecepatan sentrifugasi. Faktor ini terdiri dari empat taraf dengan tiga kali
ulangan untuk masing-masing taraf perlakuan. Bentuk model linier
rancangan percobaan yang digunakan dapat dituliskan sebagai berikut:
Yij = + i + ij
Yij = pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
= rataan umum (nilai tengah populasi)
i = pengaruh kecepatan sentrifugasi taraf ke-i (i = 1, 2, 3, 4)
i = pengaruh galat pada perlakuan ke-i ulangan ke-j (j = 1, 2, 3)
Perlakuan terdiri dari:
S1 = 500 rpm (30 g)
S2 = 1000 rpm (120 g)
S3 = 1500 rpm (270 g)
S4 = 2000 rpm (480 g)
Berdasarkan model rancangan percobaan yang digunakan, maka jumlah
satuan percobaan penelitian ini adalah 43 = 12 satuan percobaan.
Gambar 9. Diagram Alir Penelitian Utama
H2SO4(1% dari bobot minyak) Metanol (Rasio mol metanol:minyak=20:1)
Analisa Selesai Minyak jarak pagar Mulai Pemanasan hingga suhu 5560CEsterifikasi (55-60C, 1 jam) Penyaringan (kapas) Transesterifikasi (5560C, 1 jam) Sentrifugasi (25C, 1 menit, 500 rpm, 1000 rpm, 1500 rpm,

2000 rpm) Gliserol kasar Metil ester (biodiesel) kasar KOH (1%dari bobot
minyak) Metanol (Rasio mol metanol:minyak=6:1) Kotoran padat
26
27
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. PENELITIAN PENDAHULUAN
Penelitian pendahuluan dilakukan salah satunya untuk mengetahui
karakteristik minyak jarak pagar sebelum diproses menjadi metil ester
(biodiesel). Hasil karakterisasi minyak jarak pagar dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Hasil Karakterisasi Minyak Jarak Pagar dan Pembanding
Parameter
Hasil
Analisis
Karakteristik
Pembanding
Kadar air (%b/b)
0,0025
0,07
Densitas (15C, g/cm3)
0,92
0,92
Viskositas kinematik (30C, cSt)
35,84
52
Bilangan asam (mg KOH/g minyak)
10,39
0,92
Kadar asam lemak bebas (%)
5,22
0,45
Bilangan penyabunan (g KOH/g minyak)
207,63
202,6*
Bilangan iod (g I2/100 g minyak)
96,44
96,5**
Sumber: a = Gbitz, et al. (1999)
* = Hambali et al. (2006)

** = Azam et al. (2005)


Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa kadar air minyak jarak lebih rendah
dibandingkan kadar air pada karakteristik pembanding. Perbedaan ini
dipengaruhi oleh perlakuan pascapanen terhadap biji jarak pagar sebelum
diekstrak minyaknya. Kadar air minyak jarak yang tinggi dapat menyebabkan
proses pembuatan biodiesel terhambat karena minyak akan mengalami
hidrolisis selama proses berlangsung. Proses hidrolisis minyak dan lemak
merupakan suatu proses pembentukan gliserol dan asam lemak bebas
melalui pemecahan molekul lemak dengan penambahan elemen air. Lebih
lanjut, Sonntag (1979) mengatakan bahwa hidrolisis dapat dikatalisa oleh
asam, senyawa yang mengandung sabun asam lemak, beberapa emulsifier,
dan senyawa lainnya, termasuk enzim lipolitik. Oleh karena itu sebelum
diekstrak
28
menjadi minyak, biasanya biji jarak pagar dikeringkan dengan cara dijemur di
bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air yang terdapat dalam biji.
Densitas atau berat jenis minyak jarak pagar yang diperoleh dari hasil
pengukuran sama besarnya dengan densitas pembanding, yaitu sebesar 0,92
g/cm3. Semakin tinggi bobot molekul asam lemak dan gliserida dan semakin
rendah ketidakjenuhannya, maka semakin besar densitasnya (Formo, 1979).
Komposisi asam lemak tidak jenuh terbesar dari minyak jarak pagar adalah
asam oleat (18:1) yang secara otomatis mempengaruhi densitas minyak
jarak.
Viskositas kinematik minyak jarak pagar yang digunakan sebagai bahan baku
dalam penelitian lebih rendah daripada viskositas minyak jarak pembanding.
Hal ini dipengaruhi oleh komposisi masing-masing jenis asam lemak yang
terdapat pada minyak jarak pagar. Minyak menunjukkan viskositasnya yang
relatif tinggi terhadap tingkah laku intermolekular dari rantai panjang
molekul-molekul gliserida. Secara umum, viskositas minyak menurun dengan
semakin tingginya ketidakjenuhan, dan meningkat dengan adanya
hidrogenasi. Minyak yang mengandung asam-asam lemak berbobot molekul
rendah cenderung memiliki viskositas lebih rendah dibandingkan minyak
dengan derajat ketidakjenuhan sama yang hanya mengandung asam-asam
lemak berbobot molekul tinggi (Formo, 1979). Viskositas minyak jarak yang
tinggi ini menjadi salah satu kendala dalam penggunaannya secara langsung
terhadap mesin diesel.
Bilangan asam dan kadar asam lemak bebas (ALB) menunjukkan besarnya
kandungan asam lemak bebas pada minyak jarak pagar. Dari hasil

karakterisasi terlihat bahwa minyak jarak pagar yang digunakan dalam


penelitian memiliki kandungan asam lemak bebas cukup tinggi dibandingkan
karakteristik pembanding. Perbedaan nilai bilangan asam dan kadar ALB ini
dapat dipengaruhi oleh lama waktu dan suhu penyimpanan minyak jarak
pagar sebelum diolah. Asam lemak bebas dapat terbentuk akibat adanya
proses hidrolisis antara minyak (trigliserida) dan air, seperti terlihat pada
Gambar 10.
katalis
CH3H5(OOCR)3 + 3HOH C3H5(OH)3 + 3HOOCR
Gambar 10. Reaksi Hidrolisis antara Minyak dan Air
Bilangan penyabunan minyak jarak pagar menggambarkan besarnya bobot
molekul minyak, dimana keduanya berbanding terbalik. Semakin tinggi bobot
molekul minyak, maka bilangan penyabunan akan semakin rendah,
sedangkan semakin rendah bobot molekul minyak, maka semakin tinggi
bilangan penyabunan. Hasil karakterisasi menunjukkan bilangan penyabunan
minyak jarak yang lebih tinggi dibandingkan pembanding. Bilangan
penyabunan minyak jarak pagar yang cukup tinggi disebabkan minyak jarak
mengandung asam lemak bebas dalam jumlah besar. Asam-asam lemak
bebas ini memiliki bobot molekul yang lebih rendah dibandingkan
trigliseridanya. Kandungan lainnya seperti monogliserida dan digliserida yang
juga berbobot molekul lebih rendah daripada trigliserida juga mempengaruhi
tingginya bilangan penyabunan minyak jarak.
Karakteristik lain yang diamati pada bahan baku adalah bilangan iod, yang
menyatakan tingkat ketidakjenuhan minyak. Minyak jarak pagar
mengandung asam-asam lemak tidak jenuh seperti asam palmitoleat, oleat,
linoleat, dan linolenat. Asam oleat (18:1) dan linoleat (18:2) memiliki kadar
terbesar dari komposisi asam-asam lemak yang terdapat dalam minyak jarak.
Bilangan iod minyak jarak yang digunakan dalam penelitian jumlahnya tidak
jauh berbeda dibandingkan minyak jarak pembanding.
29
B. PENELITIAN UTAMA
Penelitian utama mencakup proses pembuatan metil ester (biodiesel) dari
minyak jarak pagar dan perlakuan sentrifugasi untuk pemisahan biodiesel
dari by product pada fasa hidrofiliknya. Meher et al. (2004) mengatakan
bahwa asam lemak bebas dan kadar air adalah parameter-parameter penting
dalam menentukan proses pembuatan biodiesel. Untuk memasuki tahap
transesterifikasi, kadar asam lemak bebas dalam minyak harus kurang dari
satu persen. Semakin tinggi keasaman minyak, maka semakin rendah

efisiensi
30
konversi transesterifikasi berkatalis basa. Minyak yang mengandung asam
lemak bebas dalam jumlah besar tidak dapat dikonversi menjadi biodiesel
dengan menggunakan katalis basa karena dapat membentuk formasi sabun
yang menyulitkan pemisahan biodiesel dari gliserol selama proses
berlangsung. Alternatif prosesnya adalah menggunakan katalis asam yang
tidak akan membentuk sabun. Oleh karena itu, pembuatan biodiesel dari
minyak jarak pagar terdiri atas dua tahap proses, yaitu esterifikasi
dilanjutkan dengan transesterifikasi (estrans). Proses esterifikasi terlebih
dahulu dilakukan untuk menurunkan kadar asam lemak bebas pada minyak
mengingat bilangan asam minyak jarak yang digunakan cukup tinggi.
Reaksi esterifikasi terjadi antara asam lemak bebas dan alkohol sehingga
menghasilkan ester dan air. Reaksi ini merupakan reaksi reversibel dan
kebalikan dari reaksi hidrolisis. Alkohol yang digunakan (baik untuk proses
esterifikasi maupun transesterifikasi) dalam penelitian berjenis metanol,
berdasarkan pertimbangan ekonomis dan keuntungan sifat fisikokimianya.
Metanol untuk proses esterifikasi ditambahkan dengan perbandingan rasio
mol metanol:minyak=20:1. Reaksi esterifikasi membutuhkan energi aktivasi
yang sangat tinggi sehingga diperlukan katalis untuk mempercepat reaksi,
biasanya digunakan katalis asam. Keberadaan katalis asam ini dapat
mengganggu proses esterifikasi jika kadar air minyak berada dalam kisaran
yang tinggi karena trigliserida minyak akan terhidrolisis menjadi asam lemak
bebas dan gliserol. Namun, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh karena
kadar air minyak jarak pagar yang digunakan dalam penelitian sangat
rendah, yaitu sebesar 0,0025%.
Katalis asam yang digunakan untuk proses esterifikasi berupa H2SO4 (asam
sulfat) sebanyak satu persen dari bobot minyak jarak. Asam sulfat dapat larut
dalam pelarut polar seperti air dan alkohol serta memiliki berat jenis yang
lebih besar dibandingkan metil ester sehingga lebih mudah dipisahkan dalam
proses akhir. Menurut Sonntag (1982), katalis asam sulfat memberikan
kecepatan konversi yang baik dalam reaksi esterifikasi. Suhu reaksi untuk
proses estrans dikondisikan pada kisaran 55-60C, di bawah titik didih
metanol (65C) sehingga bejana reaksi tidak perlu diberikan tekanan
31
udara. Ma dan Hanna (1999) mengatakan bahwa suhu dan kecepatan reaksi
dapat ditingkatkan jika digunakan sistem tertutup atau reflux. Oleh karena
itu, dalam proses estrans digunakan kondensor untuk menjaga kekonstanan

suhu dan mencegah terjadinya penguapan metanol selama proses.


Selama proses estrans berlangsung minyak jarak dicampur dengan metanol
menggunakan magnetic stirrer. Proses pengadukan ini akan meningkatkan
kontak antara minyak, metanol, dan katalis sehingga meningkatkan
kecepatan reaksi pembentukan metil ester. Selain itu, adanya pemanasan
menyebabkan molekul-molekul minyak terdispersi dan terdistribusi ke dalam
molekul-molekul metanol dan bereaksi sehingga memutuskan ikatan gliserida
membentuk metil ester (Noureddini dan Zhu, 1997). Gunadi (1999)
menambahkan bahwa pemanasan akan meningkatkan pergerakan molekulmolekul yang terdapat dalam campuran minyak dan metanol sehingga
menyebabkan terjadinya tumbukan antarmolekul dan memberikan energi
yang cukup untuk mencapai kompleks aktivasi, akibatnya terjadilah reaksi
estrans. Selama proses esterifikasi sebenarnya juga terjadi perubahan
trigliserida menjadi metil ester, hanya saja kecepatan konversinya lebih
rendah dibandingkan saat transesterifikasi.
Proses selanjutnya setelah esterifikasi selama satu jam adalah
transesterifikasi. Transesterifikasi bertujuan untuk memecah dan
menghilangkan gliserida, menurunkan viskositas serta meningkatkan angka
setana minyak jarak. Proses transesterifikasi menggunakan katalis basa
berupa KOH (potasium hidroksida). Pemilihan katalis ini dikarenakan dengan
adanya katalis basa, reaksi akan berjalan lebih cepat dan dengan suhu
rendah dibandingkan penggunaan katalis asam. Potasium hidroksida bersifat
lebih elektropositif dibandingkan sodium hidroksida (NaOH) sehingga lebih
mudah mengion. Selain itu, potasium hidroksida merupakan jenis katalis
yang mudah didapat dan residu akhirnya dapat diolah kembali menjadi
pupuk potasium sehingga tidak terbuang percuma. Katalis yang sebenarnya
mempercepat reaksi transesterifikasi adalah potasium metoksida (KOCH3).
Katalis ini terbentuk ketika KOH dicampur dengan metanol (CH3OH) sebelum
larutan katalis alkali ditambahkan ke dalam minyak jarak.
Stoikiometri reaksi transesterifikasi adalah 3:1 (metanol:minyak), tetapi
karena reaksi ini reversibel, digunakan perbandingan 6:1 untuk mendorong
reaksi ke arah kanan. Menurut Sonntag (1982), reaksi transesterifikasi harus
menggunakan ekses metanol sebanyak 100% atau lebih untuk meningkatkan
rendemen metil ester. Transesterifikasi terdiri dari sejumlah reaksi reversibel,
dimana trigliserida dikonversi bertahap menjadi digliserida, monogliserida,
dan akhirnya gliserol (Gambar 11). Masing-masing tahap menghasilkan metil
ester. Reaksi ini berlangsung selama satu jam.
Trigliserida + ROH Digliserida + RCOOR1

Digliserida + ROH Monogliserida + RCOOR2


Monogliserida + ROH Gliserol + RCOOR3
Gambar 11. Reaksi Transesterifikasi Trigliserida dengan Alkohol
Setelah proses transesterifikasi selesai, produk yang diperoleh adalah
campuran metil ester, gliserol, metanol yang tidak bereaksi, katalis, sabun
serta tri-, di-, dan monogliserida yang tidak bereaksi sempurna menjadi metil
ester. Campuran tersebut kemudian disentrifugasi untuk memisahkan metil
ester kasar dengan gliserol dan senyawa-senyawa hidrofilik lainnya yang
diperoleh selama proses estrans. Sentrifugasi dilakukan pada suhu 25C
karena umumnya pemisahan metil ester dan gliserol dikondisikan pada suhu
ruang. Waktu yang digunakan untuk sentrifugasi adalah satu menit
berdasarkan waktu minimum yang dapat dicapai alat centrifuge yang
digunakan. Biodiesel yang telah terpisah dengan gliserol selanjutnya
dianalisis, baik sifat fisik dan kimianya, di antaranya viskositas kinematik,
densitas, dan kadar katalis KOH. Ketiga analisa tersebut akan dibandingkan
dengan biodiesel hasil pengenapan (settling) konvensional yang belum
mengalami proses pencucian. Selain itu juga perolehan biodiesel setelah
sentrifugasi, kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan asam, bilangan
iod, bilangan penyabunan, dan angka setana dianalisis sebagai data
tambahan untuk mengetahui karakteristik biodiesel yang diperoleh.
32
33
1. Viskositas Kinematik
Viskositas yang tinggi adalah kelemahan pokok minyak nabati karena nilainya
jauh lebih besar (10 kali lipat) dari viskositas solar sehingga akan
menyulitkan pemompaan bahan bakar dari tangki ke ruang bakar mesin.
Viskositas asam lemak lebih tinggi daripada metil atau etil esternya karena
adanya ikatan hidrogen intermolekular dalam asam di luar grup karboksil.
Viskositas metil ester tidak jenuh akan menurun dengan adanya
ketidakjenuhan, tetapi ikatan rangkap berturut-turut tidak terlalu
berpengaruh terhadap fluiditas daripada ikatan rangkap tunggal dalam rantai
asam lemak (Formo, 1979).
Knothe dan Steidley (2005) mengatakan bahwa viskositas kinematik akan
meningkat seiring dengan panjang rantai asam lemak dan alkohol dalam
ester asam atau dalam hidrokarbon alifatik. Percabangan memiliki efek yang
tidak signifikan terhadap viskositas kinematik dibandingkan adanya ikatan
rangkap, namun posisi ikatan rangkap tidak terlalu mempengaruhi viskositas.
Alkohol bercabang tidak mempengaruhi viskositas secara signifikan

dibandingkan rantai lurus, sedangkan adanya asam lemak bebas akan


meningkatkan viskositas secara nyata. Kisaran viskositas campuran asam
lebih besar daripada berbagai macam hidrokarbon yang terdapat dalam
petrodiesel.
Biodiesel adalah campuran dari ester-ester asam lemak, dimana masingmasing komponennya berkontribusi terhadap viskositas kinematik biodiesel
secara keseluruhan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa viskositas
biodiesel dipengaruhi oleh panjang rantai dan komposisi asam lemak, posisi
dan jumlah ikatan rangkap (derajat ketidakjenuhan) dalam biodiesel serta
jenis alkohol yang digunakan untuk proses estrans. Hasil uji viskositas
kinematik dapat dilihat pada Tabel 9.
Viskositas adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan
pemisahan gliserol dari biodiesel selain densitas. Gliserol merupakan salah
satu senyawa yang dapat meningkatkan viskositas biodiesel. Dari data yang
diperoleh terlihat adanya penurunan viskositas kinematik yang signifikan
setelah minyak jarak diolah menjadi biodiesel. Menurut
34
Openshaw (2000), solar adalah hidrokarbon dengan 8-10 atom karbon per
molekul, tetapi minyak jarak memiliki 16-18 atom karbon per molekulnya.
Oleh karena itu, minyak jarak jauh lebih viskous daripada diesel dan memiliki
kualitas pembakaran yang rendah.
Tabel 9. Hasil Uji Viskositas Kinematik Biodiesel (40C)
Kecepatan Sentrifugasi
Viskositas Kinematik (cSt)
500 rpm (30 g)
4,61
1000 rpm (120 g)
4,71
1500 rpm (270 g)
4,65
2000 rpm (480 g)
4,65
Viskositas biodiesel juga dipengaruhi oleh kandungan trigliserida yang tidak
bereaksi dengan metanol, komposisi asam lemak penyusun metil ester
biodiesel serta senyawa intermediet seperti monogliserida dan digliserida
yang mempunyai polaritas dan bobot molekul yang cukup tinggi. Digliserida
dan monogliserida merupakan senyawa yang mempunyai sifat aktif
permukaan atau menurunkan tegangan permukaan lebih baik daripada

trigliserida. Hasil ANOVA (=0,05) pada Lampiran 5(1) menunjukkan tidak


adanya perbedaan yang nyata dari perlakuan kecepatan sentrifugasi
terhadap viskositas kinematik biodiesel. Rata-rata viskositas kinematik
biodiesel yang diperoleh sudah memenuhi standar mutu biodiesel Indonesia
dan ASTM D 6751. Dibandingkan biodiesel hasil pengenapan (settling)
selama 12 jam (5,09 cSt), sesuai hasil uji t-student (Lampiran 6(1)), maka
viskositas kinematik biodiesel hasil sentrifugasi ini lebih baik. Dengan metode
sentrifugasi zat-zat pengotor yang dapat meningkatkan viskositas kinematik
metil ester hasil transesterifikasi, mengenap lebih sempurna daripada
pengenapan biasa. Zat-zat pengotor ini dapat berupa gliserol serta katalis
basa dan monogliserida yang bersifat lebih polar (larut dalam gliserol)
dibandingkan biodiesel.
35
2. Densitas
Parameter seperti densitas atau berat jenis minyak dan metil ester (biodiesel)
dipengaruhi oleh panjang rantai asam lemak, ketidakjenuhan, dan
temperatur lingkungan (Formo, 1979). Seperti halnya viskositas, semakin
panjang rantai asam lemak, maka densitas akan semakin meningkat.
Ketidakjenuhan juga mempengaruhi densitas, dimana semakin banyak
jumlah ikatan rangkap yang terdapat dalam produk akan terjadi penurunan
densitas. Biodiesel harus stabil pada suhu rendah, semakin rendah suhu,
maka berat jenis biodiesel akan semakin tinggi dan begitu juga sebaliknya.
Keberadaan gliserol dalam biodiesel mempengaruhi densitas biodiesel karena
gliserol memiliki densitas yang cukup tinggi (1,26 g/cm3) sehingga jika
gliserol tidak terpisah dengan baik dari biodiesel, maka densitas biodiesel
pun akan meningkat. Hasil uji densitas biodiesel hasil sentrifugasi pada suhu
15C dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Hasil Uji Densitas Biodiesel (15C)
Kecepatan Sentrifugasi
Densitas (g/cm3)
500 rpm (30 g)
0,8848
1000 rpm (120 g)
0,8832
1500 rpm (270 g)
0,8823
2000 rpm (480 g)
0,8831

Proses estrans dapat menurunkan densitas minyak jarak (0,92 g/cm3) karena
sebagian besar trigliserida telah terkonversi menjadi metil ester yang
memiliki densitas lebih kecil daripada minyak. Selama proses estrans rantairantai asam lemak dalam minyak jarak akan terpecah menjadi rantai metil
ester yang lebih pendek sehingga densitas pun akan menurun seiring dengan
penurunan bobot molekul.
Hasil uji ANOVA (=0,05) pada Lampiran 5(2) menunjukkan tidak ada
pengaruh kecepatan sentrifugasi terhadap densitas biodiesel yang diperoleh,
dimana rata-rata densitas biodiesel hasil sentrifugasi adalah sebesar 0,88
g/cm3. Namun, dari hasil uji t-student (Lampiran 6(2)) terlihat
36
adanya perbedaan nyata antara densitas biodiesel hasil sentrifugasi dan
biodiesel hasil settling selama 12 jam (0,89 g/cm3). Hal ini dapat disebabkan
karena senyawa-senyawa seperti sabun, katalis basa, dan metanol yang
mengenap bersama gliserol lebih maksimal hasilnya melalui proses
sentrifugasi. Kondisi tersebut menyebabkan berat jenis biodiesel hasil
sentrifugasi lebih rendah dibandingkan settling.
Dengan demikian, jika dipertimbangkan keuntungan waktu dan kecepatan
pemisahan campuran heterogen biodiesel-gliserol kasar hasil
transesterifikasi, maka proses sentrifugasi lebih baik dibandingkan settling
selama 12 jam. Standar biodiesel yang juga menggunakan suhu 15C adalah
standar negara Eropa (EN 14214), dimana angka rata-rata densitas biodiesel
kasar yang diperoleh dari perlakuan sentrifugasi memenuhi standar ini.
3. Kadar Katalis KOH
Parameter kandungan alkali bertujuan untuk mengukur sisa katalis basa yang
masih terkandung dalam produk. Schindlbauer (1998) mengatakan bahwa
pengotor dari sisa katalis KOH lebih banyak pengaruhnya pada nilai karbon
residu Conradson biodiesel daripada asam lemak bebas atau gliserida.
Standar yang telah ada umumnya menetapkan angka kandungan alkali
dalam biodiesel berkisar pada 5-10 ppm. Adanya katalis yang tidak bereaksi
dalam proses transesterifikasi dapat menyebabkan korosi pada mesin diesel.
Katalis yang tersisa setelah proses transesterifikasi dapat menghasilkan
reaksi ulang antara residu metanol dan molekul-molekul gliserida sehingga
perlu dilakukan penetralan dan pencucian metil ester yang sebaik-baiknya.
Hasil uji kadar KOH biodiesel hasil sentrifugasi dapat dilihat pada Tabel 11.
37
Tabel 11. Hasil Uji Kadar Katalis KOH dalam Biodiesel
Kecepatan Sentrifugasi

Kadar Katalis KOH (ppm)


500 rpm (30 g)
714
1000 rpm (120 g)
982
1500 rpm (270 g)
749
2000 rpm (480 g)
719
Berdasarkan uji ANOVA (=0,05) pada Lampiran 5(3), tidak terdapat
perbedaan yang nyata dari perlakuan kecepatan sentrifugasi terhadap hasil
uji kadar katalis biodiesel. Namun, uji t-student (Lampiran 6(3)) menunjukkan
adanya perbedaan yang nyata antara nilai kadar katalis KOH pada biodiesel
hasil sentrifugasi dan hasil settling selama 12 jam (1.714 ppm). Sebagian
besar sisa katalis KOH hasil transesterifikasi terdapat dalam gliserol yang
mengenap selama proses separasi karena sifat kepolarannya. Perbedaan
proses pemisahan gliserol dari metil ester kasar dapat mempengaruhi kadar
alkali dalam biodiesel hasil separasi, dimana proses sentrifugasi
menghasilkan karakteristik biodiesel yang lebih baik dibandingkan proses
settling dalam hal parameter kadar katalis basanya.
Parameter-parameter pasca transesterifikasi, seperti proses separasi dan
pencucian biodiesel setelah separasi adalah beberapa faktor yang
mempengaruhi kandungan logam alkali dalam biodiesel. Proses pencucian
biodiesel kasar, yang bertujuan untuk menghilangkan sisa katalis basa pada
biodiesel, biasanya diawali dengan penambahan larutan asam lemah seperti
asam asetat atau asam fosfat, kemudian disusul dengan penambahan air
hangat secara berulang-ulang hingga pH-nya netral. Jika dari hasil
sentrifugasi selama satu menit dengan kecepatan 500 rpm (30 g) dapat
memaksimalkan jumlah katalis basa yang mengenap dibandingkan dengan
cara settling, maka metode sentrifugasi ini dapat mengefisiensikan proses
pencucian biodiesel kasar hasil estrans. Dalam hal ini efisien dapat berarti
mereduksi jumlah penggunaan air untuk proses pencucian biodiesel dan juga
mempercepat proses pemisahan biodiesel dari gliserol.
38
Untuk mengetahui seberapa efisien proses sentrifugasi dalam
meminimalisasi penggunaan air pada tahap pencucian biodiesel, dilakukan
pencucian pada biodiesel hasil settling dan biodiesel hasil sentrifugasi.
Sampel biodiesel yang digunakan masing-masing sebanyak 10 ml, kemudian

ke dalam sampel ditambahkan larutan asam asetat 0,1 N sebanyak 10 ml


untuk menetralkan KOH pada biodiesel. Setelah larutan asam asetat
dicampur dengan biodiesel, dilakukan pemisahan secara settling hingga
larutan asam asetat mengenap dan dipisahkan dari biodiesel. Tahap
selanjutnya ialah penambahan air hangat bersuhu sekitar 50C sebanyak 50
ml pada biodiesel. Air hangat dicampur dengan biodiesel dan dibiarkan
mengenap, kemudian dipisahkan dari biodiesel dan pH-nya diukur. Jika pH air
yang diperoleh belum netral, maka biodiesel ditambahkan air hangat lagi
secara berulang-ulang hingga diperoleh pH air netral. Biodiesel yang
diperoleh dari hasil separasi secara settling selama 12 jam membutuhkan
tiga kali penambahan air hangat (350 ml) hingga diperoleh pH netral,
sedangkan biodiesel hasil sentrifugasi hanya membutuhkan satu kali
penambahan air hangat (50 ml) agar pH-nya netral.
4. Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi
Perolehan biodiesel dihitung untuk mengetahui jumlah biodiesel kasar yang
diperoleh setelah sentrifugasi dibandingkan terhadap total seluruh campuran
sebelum sentrifugasi (%v/v). Sentrifugasi dapat mempercepat pemisahan
produk gliserol dari biodiesel kasar. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan pemisahan tersebut adalah viskositas, perbedaan densitas antara
gliserol serta senyawa-senyawa hidrofilik lainnya dan biodiesel. Laju
pemisahan akan meningkat jika viskositas biodiesel rendah, sementara
viskositas bergantung pada temperatur. Hasil sentrifugasi yang dilakukan
menunjukkan bahwa suhu pada ruang sentrifugasi 25C menyebabkan
gliserol mengental atau dengan kata lain partikel-partikelnya membentuk
suatu agregat yang kompak dan padat. Akibatnya, gliserol serta partikelpartikel senyawa lain yang larut di dalamnya lebih mudah terpisah dari
biodiesel. Hal ini juga dipengaruhi
39
oleh densitas gliserol (1,26 g/cm3) yang memang lebih besar daripada
biodiesel serta sifatnya yang tidak larut dalam biodiesel. Pengaruh dari
kecepatan sentrifugasi diharapkan dapat memperbesar perolehan metil ester
atau memaksimalkan jumlah gliserol serta senyawa lain yang mengendap.
Hasil penghitungan dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Hasil Uji Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi
Kecepatan Sentrifugasi
Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi
(%v/v)
500 rpm (30 g)

77,37
1000 rpm (120 g)
78,82
1500 rpm (270 g)
80,20
2000 rpm (480 g)
81,49
ANOVA (=0,05) tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata akibat
perlakuan kecepatan sentrifugasi yang diberikan terhadap hasil perolehan
biodiesel (Lampiran 5(4)). Rata-rata perolehan biodiesel hasil sentrifugasi
lebih tinggi dibandingkan hasil settling selama 12 jam (74,44%). Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh dapat dibuat neraca massa kasar biodiesel
dengan proses separasi secara sentrifugasi (Lampiran 7).
5. Kadar Air
Kadar air biodiesel mempengaruhi penyimpanan biodiesel dan juga proses
pencampuran dengan solar karena sifatnya yang higroskopis. Metil ester
dapat mengandung air sampai 1600 ppm yang terlarut sempurna dengan
biodiesel (Schindlbauer, 1998 di dalam Hariyadi et al., 2005). Kadar air
biodiesel yang tinggi dapat menyebabkan mikroba mudah tumbuh sehingga
mengotori biodiesel, korosi pada mesin, dan pada suhu rendah menyebabkan
pemisahan biodiesel murni maupun blending. Hasil uji kadar air ditunjukkan
dalam Tabel 13.
40
Tabel 13. Hasil Uji Kadar Air Biodiesel
Kecepatan Sentrifugasi
Kadar Air (%b/b)
500 rpm (30 g)
0,0129
1000 rpm (120 g)
0,0144
1500 rpm (270 g)
0,0168
2000 rpm (480 g)
0,0152
Peningkatan kadar air minyak jarak setelah menjadi biodiesel disebabkan
adanya akumulasi air pada minyak sebelum proses estrans dengan air
sebagai hasil samping proses esterifikasi. Peningkatan kadar air ini dapat
mendorong terjadinya proses hidrolisis antara trigliserida dan molekul air

sehingga membentuk gliserol dan asam lemak bebas. Secara tidak langsung
proses sentrifugasi setelah transesterifikasi mempercepat pemisahan air dari
biodiesel kasar. Densitas air yang lebih tinggi daripada biodiesel
menyebabkannya mengenap ke bawah bersama gliserol. Hal ini diperkuat
dengan sifat kepolaran antara keduanya.
Hasil ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 5(5)) menunjukkan
tidak adanya perbedaan yang nyata terhadap hasil uji kadar air dalam
biodiesel dengan perubahan kecepatan sentrifugasi. Hal ini dikarenakan
kadar air biodiesel lebih banyak dipengaruhi oleh karakteristik fisik minyak
awal dan kondisi proses estrans daripada oleh faktor kecepatan sentrifugasi.
Secara keseluruhan sifat fisik berupa kadar air biodiesel yang diperoleh telah
memenuhi standar ASTM D 6751.
6. Bilangan Asam dan Kadar Asam Lemak Bebas (ALB)
Bilangan asam dan kadar ALB menggambarkan jumlah asam lemak bebas
dari sampel dalam basis yang berbeda. Bilangan asam adalah miligram KOH
yang dibutuhkan untuk menetralkan grup karboksil bebas dari satu gram
sampel. Kadar ALB merupakan kandungan asam oleat yang terdapat pada
sampel yang dinyatakan dalam persen (Sonntag, 1982). Asam lemak bebas
pada minyak maupun metil ester akan meningkat dengan adanya proses
hidrolisis yang dikatalisa asam, terutama jika
katalis
katalis
katalis
produk memiliki kadar air yang tinggi. Proses hidrolisis juga dipercepat oleh
peningkatan suhu. Selama hidrolisis terjadi pemecahan ikatan ester yang
menghasilkan asam lemak bebas, monogliserida, dan digliserida. Reaksinya
dapat dilihat pada Gambar 12. Hasil uji bilangan asam dan kadar ALB terlihat
pada Tabel 14.
Trigliserida + H2O digliserida + ALB
Digliserida + H2O monogliserida + ALB
Monogliserida + H2O gliserol + ALB
Trigliserida + 3H2O gliserol + 3ALB
Gambar 12. Proses Hidrolisis Trigliserida dan Air
Tabel 14. Hasil Uji Bilangan Asam dan Kadar ALB Biodiesel
Kecepatan
Sentrifugasi
Bilangan Asam
(mg KOH/g)

Kadar ALB
(%)
500 rpm (30 g)
0,93
0,47
1000 rpm (120 g)
0,81
0,41
1500 rpm (270 g)
0,85
0,43
2000 rpm (480 g)
0,82
0,41
Penurunan kadar ALB dari minyak jarak pagar setelah proses estrans terjadi
karena pada proses esterifikasi asam-asam lemak bebas dalam minyak
sebagian besar terkonversi menjadi metil ester. Selain metil ester, dari proses
esterifikasi dihasilkan air. Air inilah yang menyebabkan proses hidrolisis
terjadi, terutama pada saat transesterifikasi, ditambah dengan adanya
peningkatan suhu selama proses. Hidrolisis asam lemak tidak jenuh seperti
asam oleat dan linoleat lebih mudah terjadi karena kelarutannya dalam air
cukup tinggi. Adanya kandungan asam lemak bebas pada produk saat
transesterifikasi menyebabkan terbentuknya sabun yang akan menyulitkan
proses pemisahan metil ester dari gliserol karena sifat pengemulsinya.
41
42
Uji ANOVA (=0,05) pada Lampiran 5(6-7) menunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang nyata pada hasil-hasil yang diperoleh akibat perlakuan
kecepatan sentrifugasi yang diberikan karena pada dasarnya kedua
parameter ini tidak dipengaruhi oleh proses separasi gliserol dari biodiesel.
Keasaman biodiesel dapat menyebabkan korosi dan kerusakan pada mesin
diesel sehingga hal ini menjadi salah satu faktor penting dalam penentuan
proses pembuatan biodiesel. Rata-rata bilangan asam biodiesel hasil
sentrifugasi belum memenuhi syarat biodiesel yang diharuskan oleh ASTM D
6751. Hal tersebut dikarenakan pada proses esterifikasi asam-asam lemak
bebas pada minyak belum terkonversi secara sempurna menjadi metil ester.
7. Bilangan Iod
Bilangan iod adalah ukuran dari jumlah ketidakjenuhan minyak atau lemak.

Minyak dengan bilangan iod tinggi akan menghasilkan ester dengan daya
aliran dan pemadatan pada suhu rendah. Bilangan iod biodiesel dipengaruhi
oleh faktor-faktor seperti persentase konsentrasi komponen asam lemak tidak
jenuh, bobot molekul masing-masing komponen tersebut, dan jumlah ikatan
rangkap di dalamnya (Azam et al., 2005). Metil ester asam lemak yang
memiliki derajat ketidakjenuhan tinggi tidak cocok digunakan sebagai
biodiesel karena molekul tidak jenuh akan bereaksi dengan oksigen dari
atmosfer dan terkonversi menjadi peroksida. Akhirnya terjadi ikatan silang
pada sisi tidak jenuh dan menyebabkan biodiesel terpolimerisasi, terutama
jika suhu meningkat. Sebagai akibatnya terjadi pembentukan deposit pada
mesin diesel. Hasil uji bilangan iod biodiesel setelah sentrifugasi dapat dilihat
pada Tabel 15.
43
Tabel 15. Hasil Uji Bilangan Iod Biodiesel
Kecepatan Sentrifugasi
Bilangan Iod (g I2/100 g)
500 rpm (30 g)
87,87
1000 rpm (120 g)
87,82
1500 rpm (270 g)
87,00
2000 rpm (480 g)
89,74
Berdasarkan uji ANOVA (=0,05) pada Lampiran 5(8), tidak terdapat
perbedaan yang nyata pada biodiesel akibat pengaruh kecepatan
sentrifugasi. Pada prinsipnya derajat ketidakjenuhan biodiesel ditentukan
oleh proses produksinya, bukan oleh proses separasinya. Minyak jarak pagar
mengandung asam-asam lemak tidak jenuh seperti asam palmitoleat (16:1),
oleat (18:1), linoleat (18:2), dan linolenat (18:3). Keberadaan komponen
asam lemak tidak jenuh dalam biodiesel dapat membatasi proses pemadatan
biodiesel. Penurunan bilangan iod minyak jarak pagar setelah menjadi
biodiesel disebabkan karena selama proses estrans terjadi pemutusan ikatan
rangkap dari asam-asam lemak minyak jarak. Noureddini dan Zhu (1997)
mengatakan bahwa pemanasan yang dilakukan pada saat estrans dapat
meningkatkan energi aktivasi reaksi sehingga ikatan rangkap asam lemak
terputus akibat hidrolisis. Asam-asam lemak yang mengalami pemutusan
ikatan rangkap ini terbentuk menjadi metil ester setelah bereaksi dengan

metanol. Bilangan iod biodiesel yang diperoleh dalam penelitian memenuhi


standar mutu biodiesel Indonesia yang mengharuskan bilangan iod biodiesel
maksimal sebesar 115 g I2/100 g biodiesel.
8. Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan didefinisikan sebagai miligram KOH yang dibutuhkan
untuk bereaksi sempurna dengan semua grup reaktif dalam satu gram
sampel. Karena uji ini dilakukan dengan KOH-alkohol dalam suhu reflux
selama 30 menit, dapat dikata
an bahwa KOH dikonsumsi tidak hanya untuk menyabunkan semua
trigliserida, digliserida, dan
44
monogliserida dalam sampel, tetapi juga untuk menetralkan asam lemak
bebas dalam sampel (Sonntag, 1982). Bilangan penyabunan bergantung
pada bobot molekul dan persentase konsentrasi komponen asam lemak yang
terdapat di dalam minyak atau biodiesel. Semakin rendah bobot molekul,
maka semakin tinggi bilangan penyabunan, juga sebaliknya.
Tabel 16. Hasil Uji Bilangan Penyabunan Biodiesel
Kecepatan Sentrifugasi
Bilangan Penyabunan (mg KOH/g)
500 rpm (30 g)
195,95
1000 rpm (120 g)
192,63
1500 rpm (270 g)
193,55
2000 rpm (480 g)
192,62
Tabel 16 merupakan hasil uji bilangan penyabunan terhadap biodiesel hasil
sentrifugasi sebagai produk akhir dalam penelitian, dimana berdasarkan hasil
uji ANOVA pada tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 5(9)) tidak terdapat
perbedaan yang nyata pada biodiesel akibat perlakuan kecepatan
sentrifugasi yang diberikan. Terjadi penurunan bilangan penyabunan setelah
minyak jarak pagar mengalami proses estrans. Hal ini disebabkan karena
asam-asam lemak bebas yang memiliki bobot molekul rendah telah
terkonversi menjadi metil ester pada saat esterifikasi berlangsung. Asamasam lemak bebas yang terdapat dalam jumlah besar dalam minyak jarak
awal membutuhkan lebih banyak alkali untuk menetralkannya, akibatnya
bilangan penyabunan minyak menjadi semakin tinggi.

Bilangan penyabunan biodiesel juga dipengaruhi oleh senyawa-senyawa


intermediet yang terbentuk selama estrans, seperti monogliserida yang
cenderung larut pada fasa polar dan digliserida. Kedua senyawa ini
menyebabkan bilangan penyabunan biodiesel menjadi lebih rendah karena
bobot molekulnya yang lebih tinggi dibandingkan metil ester. Metil ester
memiliki bobot molekul lebih rendah dibandingkan mono-, di-, dan trigliserida
sehingga bilangan penyabunan pun nilainya lebih tinggi.
45
Kandungan senyawa intermediet yang tinggi dalam biodiesel dapat
dipengaruhi oleh konsentrasi katalis, rasio molar metanol:minyak, dan
pengadukan selama proses estrans.
9. Angka Setana
Angka setana adalah kemampuan bahan bakar untuk menyala dengan cepat
setelah diinjeksi. Semakin tinggi nilainya, semakin baik kualitas pembakaran
bahan bakar tersebut. Angka setana adalah salah satu parameter penting
yang menentukan apakah suatu metil ester asam lemak dapat digunakan
sebagai biodiesel atau tidak. Hariyadi, et al. (2005) menyatakan bahwa
angka setana merupakan ukuran yang dipakai untuk menyatakan kualitas
pembakaran bahan bakar dalam ruang bakar mesin. Angka setana adalah
fungsi dari banyaknya CH2 dan CH3 dalam komposisi bahan bakar (rasio
CH2:CH3). Semakin tinggi rasio antara keduanya, maka semakin tinggi angka
setana biodiesel yang diperoleh. Hasil penghitungan angka setana dapat
dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Hasil Penghitungan Angka Setana Biodiesel
Kecepatan Sentrifugasi
Angka Setana
500 rpm (30 g)
54,47
1000 rpm (120 g)
54,87
1500 rpm (270 g)
54,95
2000 rpm (480 g)
54,47
Standar mutu biodiesel Indonesia dan Eropa (EN 14214) mensyaratkan angka
setana biodiesel minimal 51. Hasil penghitungan memiliki rata-rata angka
setana biodiesel sebesar 54,69 sehingga telah memenuhi persyaratan
biodiesel ini. Walaupun hasil yang diperoleh tidak dari pengujian angka

setana secara langsung, tetapi prediksi ini akurat (r=0,9) dan jika
dibandingkan dengan hasil penghitungan yang dilakukan oleh Azam et al.
(2005) untuk biodiesel jarak pagar, hasilnya tidak jauh berbeda. Azam et al.
(2005) memperoleh hasil angka setana untuk
46
biodiesel jarak pagar sebesar 52,31 dengan penghitungan yang sama. Rumus
penghitungannya adalah sebagai berikut:
Angka setana = 46,3 + (5458/bil. penyabunan) (0,225xbil. iod)
Angka setana berbanding terbalik dengan bilangan iod, semakin tinggi angka
setana, semakin rendah bilangan iod yang berarti derajat ketidakjenuhannya
semakin rendah. Hal ini sehubungan dengan semakin panjangnya rantai
karbon dalam biodiesel atau dengan kata lain CH2 yang terbentuk semakin
banyak sehingga angka setanapun meningkat seiring peningkatan rasio
CH2:CH3. Dapat dikatakan pula dengan semakin rendahnya ketidakjenuhan
biodiesel, maka semakin tinggi bobot molekul asam-asam lemaknya sehingga
bilangan penyabunan biodiesel yang dihasilkan rendah. Jika bilangan
penyabunan rendah, maka biodiesel yang dihasilkan akan memiliki angka
setana yang tinggi.
10. Gas Chromatography-Mass Spectrometric (GC-MS)
Uji GC-MS dilakukan untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang
terdapat pada biodiesel. Kualitas biodiesel ditentukan oleh kemurnian
senyawa alkil ester di dalam biodiesel. Berdasarkan hasil uji GCMS (Lampiran
8), kandungan metil ester yang terdapat pada biodiesel hasil sentrifugasi
adalah sebesar 97,25% (b/b). Nilai ini telah memenuhi standar biodiesel
Indonesia yang mensyaratkan kadar alkil ester dalam biodiesel minimal
96,5% (b/b). Walaupun demikian, nilai kandungan metil ester ini diperoleh
dari biodiesel jarak pagar hasil sentrifugasi yang belum melalui tahap
pemurnian lebih lanjut sehingga kemungkinan besar masih terdapat
pengotor-pengotor di dalamnya.
Komposisi metil ester yang teridentifikasi di antaranya metil oleat (55,18%),
metil linoleat (23,22%), metil palmitat (16,22%), metil palmitoleat (1,33%),
metil arakidat (0,39%), metil linolenat (0,32%), metil risinoleat (0,16%), metil
behenat (0,10%), metil miristat (0,09%), dan metil stearat (0,03%). Selain itu
juga terdapat asam lemak bebas dalam jumlah 0,87%, yang terdiri atas asam
oleat (0,36%), asam linoleat (0,29%), asam
47
palmitat (0,17%), dan asam stearat (0,05%). Komponen lainnya adalah
metanol sebesar 0,69% yang berasal dari ekses metanol yang digunakan

untuk proses estrans. Nilai kadar metanol ini masih lebih tinggi dari standar
biodiesel EN 14214 untuk kadar metanol (0,2%b/b). Kadar metanol yang
cukup tinggi ini dikarenakan biodiesel hasil sentrifugasi belum melalui tahap
penguapan metanol untuk pemurnian biodiesel.
48
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Karakteristik biodiesel yang diperoleh setelah sentrifugasi selama satu menit
dengan kecepatan 500, 1000, 1500, dan 2000 rpm berupa viskositas
kinematik (4,61 4,71 cSt), densitas (0,8823 0,8848 g/cm3), kadar katalis
KOH (714 982 ppm), perolehan biodiesel setelah sentrifugasi (77,37
81,49%), kadar air (0,0129 0,0168%), bilangan asam (0,81 0,93 mg
KOH/g), kadar ALB (0,41 0,47%), bilangan iod (87,00 87,87 g I2/100 g),
bilangan penyabunan (192,62 195,95 mg KOH/g), dan angka setana (54,47
54,95).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa viskositas kinematik, densitas, dan
kadar katalis KOH biodiesel yang diperoleh dengan cara sentrifugasi selama
satu menit lebih baik daripada biodiesel hasil settling selama 12 jam.
Perlakuan kecepatan sentrifugasi sebesar 500, 1000, 1500, dan 2000 rpm
tidak berpengaruh nyata terhadap variabel respon viskositas kinematik,
densitas, dan kadar KOH biodiesel. Kecepatan sentrifugasi sebesar 500 rpm
(30 g) selama satu menit sudah dapat mengefisienkan proses pencucian
katalis yang umumnya dilakukan untuk pemurnian biodiesel setelah separasi
serta mereduksi waktu settling biodiesel-gliserol kasar yang menghambat
proses produksi biodiesel pada sistem kontinyu. Kadar metil ester yang
terdapat pada biodiesel hasil sentrifugasi dengan kecepatan 500 rpm (30 g)
adalah sebesar 97,25% (b/b).
B. SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diberikan saran perlunya
dilakukan variasi terhadap kecepatan sentrifugasi dalam kisaran yang lebih
rendah dari 500 rpm (30 g) sehingga terlihat adanya perbedaan pada
karakteristik biodiesel yang diperoleh dan lebih efisien dalam aplikasinya.
49
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, S. 2004. Kajian Proses Aktivasi Ulang Arang Aktif Bekas Adsorpsi
Gliserin dengan Metode Pemanasan. Tesis. Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor.
AOCS Cc 17-79. 1979. Measurement of Alkaline Catalyst. American Oil
Chemists Society, Champaign, Illinois.

Appleby, D. B. 2004. Glycerol. Di dalam The Biodiesel Handbook. AOCS Press,


Champaign, Illinois.
ASTM D 6751-445. Kinematic Viscosity. American Society for Testing and
Materials, Philadelphia.
Azam, M. M., A. Warris, dan N. M. Nahar. 2005. Prospects and Potential of
Fatty Acid Methyl Esters of Some Non-traditional Seed Oils for Use as
Biodiesel in India. Biomass and Bioenergy 29:293-302.
Canakci, M. dan J. V. Gerpen. 1999. Biodiesel Production Via Acid Catalysis.
Am. Soc. of Agri Engineers 42(5):1203-1210.
Canakci, M. dan J. V. Gerpen. 2001. Biodiesel Production from Oils and Fats
with High Free Fatty Acids. American Society of Agricultural Engineers
44(6):1429-1436.
Canakci, M. dan J. V. Gerpen. 2003. A Pilot Plant to Produce Biodiesel from
High Free Fatty Acid Feedstocks. American Society of Agricultural Engineers
46(5):945-954.
Centrifuges Unlimited Inc. 2004. What Is A
Centrifuge? http://www.centrifuges.net. [15 Desember 2006].
Darnoko, D. dan M. Cheryan. 2000. Kinetics of Palm Oil Transesterification in
A Batch Reactor. JAOCS Vol. 77 No. 12:1263-1267.
Demirba, A. 2003. Biodiesel Fuels from Vegetable Oils Via Catalytic and Noncatalytic Supercritical Alcohol Transesterifications and Other Methods: A
Survey. Energy Conversion and Management 44:2093-2109.
Ford, T. C. dan J. M. Graham. 1991. An Introduction to Centrifugation. Bios
Scientific Publishers, Oxford.
Formo, M. W. 1979. Physical Properties of Fats and Fatty Acids. Di dalam
Baileys Industrial Oil and Fat Products Vol. I, 4th Ed. John Wiley and Sons,
New York.
50
Gaman, P. M. dan K. B. Sherrington. 1992. Ilmu Pangan: Pengantar Ilmu
Pangan, Nutrisi, dan Mikrobiologi Edisi Kedua. Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Gerpen, J. V. dan G. Knothe. 2004. Basic of The Transesterification Reaction.
Di dalam The Biodiesel Handbook. AOCS Press, Champaign, Illinois.
Gerpen, J. V., B. Shanks, R. Pruszko, D. Clements, dan G. Knothe. 2004.
Biodiesel Production Technology. Laporan Penelitian. National Renewable
Energy Laboratory, Colorado.
Gbitz, G. M., M. Mittlebach, dan M. Trabi. 1999. Exploitation of The Tropical
Oil Seed Plant Jatropha curcas L. Bioresource Technology 67:73-82.

Gunadi, F. 1999. Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas sebagai Bahan Baku


Ester Metilat. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.
Haas, W. dan M. Mittelbach. 2000. Detoxification Experiments with The Seed
Oil from Jatropha curcas L. Industrial Crops and Products-An International
Journal 12:112-118.
Hambali, E., A. Suryani, Dadang, Hariyadi, H. Hanafie, I. K. Reksowardojo, M.
Rivai, M. Ihsanur, P. Suryadarma, S. Tjitrosemito, T. H. Soerawidjaja, T.
Prawitasari, T. Prakoso dan W. Purnama. 2006. Jarak Pagar, Tanaman
Penghasil Biodiesel. Penebar Swadaya, Jakarta.
Hariyadi, P., N. Andarwulan, L. Nuraida, dan Y. Sukmawati. 2005. Kajian
Kebijakan dan Kumpulan Artikel Penelitian Biodiesel. Lembaga Sumberdaya
Informasi IPB, Bogor.
Humphrey, J. L. dan G. E. Keller II. 1997. Separation Process Technology:
Performance, Selection, Scale-up. McGraw Hill Companies, New York.
Knothe, G. dan K. R. Steidley. 2005. Kinematic Viscosity of Biodiesel Fuel
Components and Related Compounds. Influence of Compound Structure and
Comparison to Petrodiesel Fuel Components. Fuel 84:1059-1065.
Knothe, G. 2006. Analyzing Biodiesel: Standards and Other Methods. JAOCS
83(10):823-833.
Kusdiana, D. dan S. Saka. 2003. Effects of Water on Biodiesel Fuel Production
by Supercritical Methanol Treatment. Bioresource Technology 91:289-295.
Lele, S. 2004. Biodiesel in India. http://www.svlele.com/biodiesel. [15
Desember 2006].
Ma, F. dan M. A. Hanna. 1999. Biodiesel Production: A Review. Bioresource
Technology 70:1-15.
51
Makkar, H. P. S., K. Becker, F. Sporer, dan M. Wink. 1997. Studies on Nutritive
Potential and Toxic Constituents of Different Provenances of Jatropha curcas.
J. Agric. Food. Chem. 45:3152-3157.
Meher, L. C., D. V. Sagar, dan S. N. Naik. 2004. Technical Aspects of Biodiesel
Production by Transesterification: A Review. Renewable and Sustainable
Energy Reviews 10:248-268.
Mittelbach, M. 1996. Diesel Fuel Derived from Vegetable Oils VI:
Specifications and Quality Control of Biodiesel. Bioresource Technology 56:711.
Noureddini, H. dan D. Zhu. 1997. Kinetics of Transesterification of Soybean
Oil. JAOCS 74(11):1457-1463.
Openshaw, K. 2000. A Review of Jatropha curcas: An Oil Plant of Unfulfilled

Promise. Biomass and Bioenergy 19:1-15.


Prihandana, R. dan R. Hendroko. 2006. Petunjuk Budi Daya Jarak Pagar. Agro
Media Pustaka, Jakarta.
Prihandana, R., R. Hendroko, dan M. Nuramin. 2006. Menghasilkan Biodiesel
Murah, Mengatasi Polusi dan Kelangkaan BBM. PT. Agromedia Pustaka, Depok.
Rickwood, D. 1984. The Theory and Practice of Centrifugation. Di dalam
Centrifugation (2nd Edition): A Practical Approach. IRL Press, Oxford.
Rodica, C. dan A. Caprita. 2005. Biodiesel Methyl Esters Produced by
Transesterification of Triglycerides. Zootehnie Si Biotehnologii Vol. 38:33-38.
Ruthven, D. M. 1997. Encyclopedia of Separation Technology Vol. I: A KirkOthmer Encyclopedia. John Wiley and Sons, Inc., New York, USA.
Soerawidjaja, T. H. 2001. Memanfaatkan Peluang yang Dibuka oleh
Penghapusan Subsidi Harga pada Energi Berbasis Fosil. Pusat Penelitian
Material dan Energi ITB, Bandung.
Sonntag, N. O. V. 1979. Physical Properties of Fats and Fatty Acids. Di dalam
Baileys Industrial Oil and Fat Products Vol. I, 4th Ed. John Wiley and Sons,
New York.
Sonntag, N. O. V. 1979. Reactions of Fats and Fatty Acids. Di dalam Baileys
Industrial Oil and Fat Products Vol. I, 4th Ed. John Wiley and Sons, New York.
52
Sonntag, N. O. V. 1982. Fat Splitting, Esterification, and Interesterification. Di
dalam Baileys Industrial Oil and Fat Products Vol. II, 4th Ed. John Wiley and
Sons, New York.
Standar Nasional Indonesia 01-3555-1998. 1998. Cara Uji Minyak dan Lemak.
Badan Standardisasi Nasional.
Syah, A. N. A. 2006. Biodiesel Jarak Pagar: Bahan Bakar Alternatif yang
Ramah Lingkungan. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
http://www.journeytoforever.org/biofuel/glycerin. [15 Desember 2006].
Zhang, Y., M. A. Dube, D. D. McLean, dan M. Kates. 2003. Biodiesel Production
from Waste Cooking Oil: Process Design and Technological Assessment.
Bioresource Technology 89:116.
53
LAMPIRAN
54
Lampiran 1. Penghitungan Jumlah Metanol dan Katalis untuk Proses Estrans
Bobot minyak jarak pagar = 600 g

Kadar asam lemak bebas = 5,22%


Esterifikasi
Jumlah katalis asam (H2SO4) yang ditambahkan = 1% x 600 g = 6,0 g H2SO4
Rasio mol metanol:minyak = 20:1
Jumlah asam lemak bebas yang harus dikonversi = 5,22% x 600 g = 31,32 g
Mol asam lemak bebas = 31,32 g/282 g/mol = 0,11 mol
Mol metanol yang dibutuhkan = 0,11 mol x 20 = 2,2 mol
Jumlah metanol yang dibutuhkan = 2,2 mol x 32 g/mol = 70,4 g metanol
Transesterifikasi
Jumlah katalis basa (KOH) yang dibutuhkan = 1% x 600 g = 6,0 g KOH
Rasio mol metanol:minyak = 6:1
Mol trigliserida = 600 g/884 g/mol = 0,68 mol
Mol metanol yang dibutuhkan = 0,68 mol x 6 = 4,08 mol
Jumlah metanol yang dibutuhkan = 4,08 mol x 32 g/mol = 130,56 g metanol
55
Lampiran 2. Penghitungan Konversi Satuan Kecepatan Sentrifugasi RPM
(Rotation Per Minute) ke Dalam RCF (Relative Centrifuce Force)
Rumus konversi: RCF = 11,1810-6 (r) (N)2
r = jari-jari rotor alat centrifuge = 10,733 cm
500 rpm 11,1810-6 (10,733) (500)2 = 29,998735 ~ 30 g
1000 rpm 11,1810-6 (10,733) (1000)2 = 119,99494 ~ 120 g
1500 rpm 11,1810-6 (10,733) (1500)2 = 269,988615 ~ 270 g
2000 rpm 11,1810-6 (10,733) (2000)2 = 479,97976 ~ 480 g
Lampiran 3. Prosedur Analisa
1. Densitas
Prinsip:
Bobot jenis pada suhu 25C adalah perbandingan antara bobot sampel dan
bobot air pada volume dan suhu yang sama.
Prosedur:
Bobot jenis ditentukan dengan menggunakan piknometer yang terlebih
dahulu dibersihkan dengan alkohol, kemudian dibilas dengan eter.
Piknometer kemudian ditimbang setelah kering dan diisi dengan aquades
sampai tanda tera, kemudian ditutup dan diusahakan agar tidak ada
gelembung udara di dalamnya. Piknometer didiamkan pada suhu kamar
selama 30 menit, kemudian dikeringkan dan ditimbang. Pengukuran terhadap
bobot jenis sampel dilakukan dengan cara yang sama.
Penghitungan:
WPO WP

Densitas (tC) = = D
VW
Densitas (15C) = D + f(t-15)
WPO = bobot piknometer dan minyak (g)
WP = bobot piknometer kosong (g)
VW = volume air (= bobot air) pada 25C (ml)
f = faktor koreksi bobot jenis sampel
2. Viskositas Kinematik (ASTM D 445)
Prosedur:
Viskosimeter Cannon-Fenske terlebih dahulu dibersihkan sebelum digunakan.
Sampel dimasukkan ke dalam viskosimeter dengan volume tertentu,
kemudian viskosimeter ditempatkan ke dalam bak dan dipanaskan sampai air
dan sampel mencapai suhu yang sama. Pompa sampel dalam kapiler dengan
bulb hingga mencapai tanda tera atas, lalu sampel dibiarkan mengalir
56
dalam pipa viskosimeter sehingga sampel turun di bawah pengaruh gravitasi.
Waktu sampel hingga mencapai tanda tera bawah dihitung dalam satuan
detik.
Penghitungan:
v=c
v = viskositas sampel (cSt)
c = konstanta = viskositas kinematik air pada suhu dan volum yang sama
dengan pengujian sampel
= waktu sampel hingga mencapai tanda tera bawah (detik)
3. Kadar Katalis KOH (AOCS Cc 17-79)
Prinsip:
HCl akan menetralkan katalis alkali sehingga ketika indikator PP
mengindikasikan bahwa larutan telah netral, maka kadar katalis dalam
sampel telah terhitung.
Prosedur:
Sampel metil ester yang belum dicuci sebanyak 5 gram dimasukkan dalam
erlenmeyer 250 ml, kemudian dilarutkan dalam 100 ml larutan aseton 2%. Ke
dalam larutan ditambahkan indikator PP, selanjutnya dititrasi dengan
menggunakan HCl 0,01 N hingga warna merah hilang.
Penghitungan:
A x 0,01 x 56,1
Kadar katalis (g KOH/g) =
1000 x W

A = jumlah ml HCl 0,01 N untuk titrasi


W = gram contoh
57
4. Perolehan Biodiesel
Prosedur:
Perolehan biodiesel dihitung dengan membandingkan volum metil ester yang
diperoleh setelah sentrifugasi dengan volum totalnya.
Penghitungan:
Volum metil ester (ml)
Perolehan biodiesel (%) = x 100%
Volum total (ml)
5. Kadar Air (SNI 01-3555-1998)
Prinsip:
Penguapan air dengan pemanasan pada suhu 105C, selisih bobot yang
hilang merupakan kadar air yang terdapat dalam sampel.
Prosedur:
Cawan aluminium dipanaskan di dalam oven pada suhu 105C selama 1 jam,
kemudian didinginkan dalam desikator selama 30 menit. Bobot cawan
kemudian ditimbang. Masukkan 5 gram sampel dalam cawan aluminium yang
telah diketahui bobotnya, kemudian dipanaskan di dalam oven suhu 105C
selama 1-2 jam. Cawan berisi sampel dikeluarkan dan didinginkan dalam
desikator selama 30 menit, kemudian ditimbang. Pemanasan dan
penimbangan diulangi sampai diperoleh bobot tetap.
Penghitungan:
(m1-m2)
Kadar air (%) = x 100%
m1
m1 = bobot sampel (g)
m2 = bobot sampel setelah pemanasan (g)
6. Bilangan Iod (SNI 01-3555-1998)
Prinsip:
Asam lemak tak jenuh yang terdapat dalam minyak memiliki kemampuan
untuk mengadsorbsi sejumlah iod, khususnya apabila dibantu dengan suatu
cairan seperti iodin atau iodin bromida sehingga membentuk suatu
persenyawaan yang jenuh. Jumlah iod yang diadsorbsi menunjukkan derajat
ketidakjenuhan minyak. Sejumlah sampel ditambahkan iod berlebih,
kelebihan iod dititrasi dengan natrium tiosulfat (Na2S2O3) sehingga iod yang
diadsorbsi oleh minyak dapat diketahui jumlahnya.

Prosedur:
Sebanyak 0,25 gram sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer 300 ml,
kemudian ditambahkan 15 ml kloroform dan 25 ml larutan Hanus dengan
menggunakan pipet volumetrik. Erlenmeyer kemudian ditutup dan disimpan
di tempat gelap selama 2 jam. Ke dalam larutan kemudian ditambahkan 10
ml 58
larutan KI 20% dan 100 ml air suling, kemudian erlenmeyer segera ditutup.
Larutan dikocok dan dititer dengan larutan Na2S2O3 0,1 N. Indikator yang
digunakan adalah larutan kanji.
Penghitungan:
12,69 x N x (Vo-V1)
Bilangan iod (g I2/100 g) =
m
Vo = volume Na2S2O3 0,1 N yang diperlukan untuk titrasi blanko (ml)
V1 = volume Na2S2O3 0,1 N yang diperlukan untuk titrasi sampel (ml)
N = normalitas larutan standar Na2S2O3 0,1 N
m = bobot contoh (g)
59
7. Bilangan Asam dan FFA (SNI 01-3555-1998)
Prinsip:
Bilangan asam didefinisikan sebagai jumlah miligram KOH yang dibutuhkan
untuk menetralkan asam-asam lemak bebas dari satu gram minyak atau
lemak. Bilangan asam dipergunakan untuk mengukur jumlah asam lemak
bebas yang terdapat dalam minyak atau lemak. Asam lemak bebas yang
terdapat dalam minyak atau lemak terjadi akibat proses hidrolisis yang
menyebabkan putusnya rantai trigliserida. Adanya asam lemak bebas dalam
lemak atau minyak ini merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya
ketengikan hidrolitik.
Prosedur:
Sampel yang akan diuji ditimbang sebanyak 2-5 gram di dalam erlenmeyer
250 ml, kemudian ke dalam sampel ditambahkan etanol netral 95% sebanyak
50 ml. Larutan ditambahkan 3-5 tetes indikator PP, kemudian dititrasi dengan
larutan standar KOH 0,1 N hingga berwarna merah muda konstan (tidak
berubah selama 15 detik). Jumlah KOH yang digunakan untuk titrasi dicatat
untuk menghitung bilangan asam dan kadar FFA.
Penghitungan:
AxNxB
Bilangan asam (mg KOH/g) =

G
MxAxN
Kadar asam lemak bebas (%) =
10 G
A = jumlah ml KOH untuk titrasi
N = normalitas larutan KOH
B = bobot molekul larutan KOH (yaitu sebesar 56,1)
G = gram contoh
M = bobot molekul asam lemak dominan, yaitu 282 untuk asam oleat
60
8. Bilangan Penyabunan (SNI 01-3555-1998)
Prinsip:
Penyabunan minyak dengan larutan kalium hidroksida dalam etanol di bawah
pendingin tegak hingga semua minyak tersabunkan. Kelebihan kalium
hidroksida ditritasi dengan asam klorida dengan menggunakan indikator PP.
Prosedur:
Timbang 2 gram sampel dengan ketelitian 0,0001 gram, kemudian
dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Ke dalam sampel ditambahkan 25
ml KOH alkohol 0,5 N dan beberapa butir batu didih. Erlenmeyer dihubungkan
dengan pendingin tegak di atas penangas air selama 1 jam, kemudian ke
dalam larutan ditambahkan 0,5-1 ml indikator PP. Larutan kemudian dititrasi
dengan HCl 0,5 N sampai warna indikator berubah menjadi tidak berwarna.
Penghitungan:
56,1 x N x (Vo-V1)
Bilangan penyabunan =
m
Vo = volume HCl 0,5 N yang diperlukan untuk titrasi blanko (ml)
V1 = volume HCl 0,5 N yang diperlukan untuk titrasi sampel (ml)
N = normalitas HCl 0,5 N
m = bobot contoh (g)
9. Angka Setana Biodiesel (Azam et al., 2005)
Penghitungan:
Angka setana = 46,3 + (5458/bilangan penyabunan) (0,225xbilangan iod)
61
Lampiran 4. Rekapitulasi Data Hasil Penelitian Utama
1. Viskositas Kinematik
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan

Hasil
1
4,35
2
4,57
3
4,91
500 rpm (30 g)
Rata-rata
4,61
1
4,76
2
4,52
3
4,85
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
4,71
1
4,61
2
4,56
3
4,77
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
4,65
1
4,60
2
4,53
3
4,81
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
4,65
Settling

Rata-rata
5,09
2. Densitas
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
0,8845
2
0,8857
3
0,8841
500 rpm (30 g)
Rata-rata
0,8848
1
0,8838
2
0,8813
3
0,8846
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
0,8832
1
0,8824
2
0,8814
3
0,8830
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
0,8823
1
0,8840
2
0,8807
3

0,8846
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
0,8831
Settling
Rata-rata
0,8922
62
3. Kadar Katalis KOH
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
4,6510-4
2
6,6910-4
3
1,0110-3
500 rpm (30 g)
Rata-rata
7,2310-4
1
7,4410-4
2
8,7610-4
3
1,3210-3
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
9,8210-4
1
4,9410-4
2
7,6610-4
3
9,8710-4
1500 rpm (270 g)
Rata-rata

7,4910-4
1
4,9410-4
2
6,6610-4
3
9,9610-4
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
7,1910-4
Settling
Rata-rata
1,7110-3
4. Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
76,97
2
74,85
3
80,28
500 rpm (30 g)
Rata-rata
77,37
1
77,37
2
79,02
3
80,07
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
78,82
1
78,27
2

80,66
3
81,68
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
80,20
1
78,68
2
81,49
3
84,29
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
81,49
Settling
Rata-rata
74,44
63
5. Kadar Air
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
0,0065
2
0,0225
3
0,0096
500 rpm (30 g)
Rata-rata
0,0129
1
0,0040
2
0,0232
3
0,0158

1000 rpm (120 g)


Rata-rata
0,0144
1
0,0085
2
0,0249
3
0,0171
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
0,0168
1
0,0111
2
0,0217
3
0,0127
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
0,0152
6. Bilangan Asam
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
0,81
2
1,05
3
0,93
500 rpm (30 g)
Rata-rata
0,93
1
0,93
2
0,81

3
0,70
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
0,81
1
0,80
2
0,81
3
0,93
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
0,85
1
0,82
2
0,81
3
0,81
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
0,82
64
7. Kadar Asam Lemak Bebas
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
0,41
2
0,53
3
0,47
500 rpm (30 g)
Rata-rata
0,47
1

0,47
2
0,41
3
0,35
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
0,41
1
0,40
2
0,41
3
0,47
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
0,43
1
0,41
2
0,41
3
0,41
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
0,41
8. Bilangan Iod
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
98,95
2
69,08
3
95,57
500 rpm (30 g)
Rata-rata

87,87
1
97,54
2
73,80
3
92,12
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
87,82
1
92,52
2
75,18
3
93,31
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
87,00
1
97,78
2
76,21
3
95,22
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
89,74
65
9. Bilangan Penyabunan
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
198,83
2
194,75
3

194,26
500 rpm (30 g)
Rata-rata
195,95
1
196,10
2
189,54
3
192,25
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
192,63
1
200,32
2
191,35
3
188,97
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
193,55
1
199,00
2
191,98
3
186,87
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
192,62
10. Angka Setana
Kecepatan Sentrifugasi
Ulangan
Hasil
1
51,50
2

58,78
3
53,14
500 rpm (30 g)
Rata-rata
54,47
1
52,19
2
58,49
3
53,93
1000 rpm (120 g)
Rata-rata
54,87
1
52,75
2
57,91
3
54,18
1500 rpm (270 g)
Rata-rata
54,95
1
51,75
2
57,58
3
54,08
2000 rpm (480 g)
Rata-rata
54,47
66
Lampiran 5. Analisa Sidik Ragam (ANOVA) Hasil Penelitian Utama ( = 0,05)
1. Viskositas Kinematik
Sumber
Keragaman

Jumlah
Kuadrat
Derajat
Bebas
Kuadrat
Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
0,01502722
3
0,00500907
0,14
4,07
Galat
0,28791085
8
0,03598886
Total
0,30293807
11
2. Densitas
Sumber
Keragaman
Jumlah
Kuadrat
Derajat
Bebas
Kuadrat
Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
0,0000097692
3
3,2564E-06
1,49
4,07

Galat
0,0000174400
8
0,00000218
Total
0,0000272092
11
3. Kadar Katalis KOH
Sumber
Keragaman
Jumlah
Kuadrat
Derajat
Bebas
Kuadrat
Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
0,000000141712
3
4,7237E-08
0,64
4,07
Galat
0,000000587997
8
7,3470E-08
Total
0,000000729709
11
4. Kadar Air
Sumber
Keragaman
Jumlah
Kuadrat
Derajat
Bebas

Kuadrat
Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
0,00002745
3
0,00000915
0,14
4,07
Galat
0,00052600
8
0,00006575
Total
0,00055345
11
67
5. Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi
Sumber Keragaman
Jumlah
Kuadrat
Derajat
Bebas
Kuadrat
Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
28,353692
3
9,451231
1,86
4,07
Galat
40,546400
8
5,068300

Total
68,900092
11
6. Bilangan Asam
Sumber Keragaman
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Kuadrat Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
0,02807243
3
0,00935748
1,16
4,07
Galat
0,06431261
8
0,00803908
Total
0,09238504
11
7. Kadar ALB
Sumber Keragaman
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Kuadrat Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
0,00706159
3
0,00235386
1,15
4,07
Galat
0,01638123

8
0,00204765
Total
0,02344282
11
8. Bilangan Iod
Sumber Keragaman
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Kuadrat Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
12,051638
3
4,017213
0,024
4,07
Galat
1332,709598
8
166,588700
Total
1344,761236
11
68
9. Bilangan Penyabunan
Sumber Keragaman
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Kuadrat Tengah
f-hitung
f-tabel
Kecepatan Sentrifugasi
22,140423
3
7,380141
0,33

4,07
Galat
180,138653
8
22,517332
Total
202,279076
11
69
Lampiran 6. Hasil Uji t-student (=0,05) Variabel Viskositas Kinematik,
Densitas, dan Kadar Katalis KOH Biodiesel
10. Viskositas Kinematik
Perlakuan
Rata-rata
t-hitung
t-tabel
500 rpm
4,61
4,38
1000 rpm
4,71
3,47
1500 rpm
4,65
4,02
2000 rpm
4,65
4,02
3,18
11. Densitas
Perlakuan
Rata-rata
t-hitung
t-tabel
500 rpm
0,8848
8,66
1000 rpm

0,8832
10,53
1500 rpm
0,8823
11,59
2000 rpm
0,8831
10,65
3,18
12. Kadar KOH
Perlakuan
Rata-rata
t-hitung
t-tabel
500 rpm
0,0007141
6,39
1000 rpm
0,0009817
4,68
1500 rpm
0,0007490
6,17
2000 rpm
0,0007186
6,36
3,18
Lampiran 7. Neraca Massa Proses Produksi Biodiesel
70
Lampiran 8. Hasil Uji Gas Chromatography-Mass Spectrometric Biodiesel Hasil
Sentrifugasi (500 rpm)
Senyawa
RT
Area (%)
Metil miristat
26,83
0,09
Metil palmitat

31,00 31,46
16,22
Metil palmitoleat
31,60
1,33
Metil oleat
34,91 36,09
55,18
Metil linoleat
36,15 36,81
23,22
Metil linolenat
36,97
0,32
Metil arakidat
37,94 38,20
0,39
Metil behenat
41,45 41,51
0,10
Asam palmitat
42,87
0,17
Metil risinoleat
45,47
0,16
Asam stearat
49,24
0,05
Asam oleat
50,09
0,36
Asam linoleat
52,28
0,29
71
Lampiran 9. Dokumentasi Penelitian
1. Minyak Jarak Pagar

2. Centrifuge Hitachi Tipe CR21G


72
3. Proses Pembuatan Biodiesel
4. Biodiesel dan Gliserol Ulangan 1
73
5. Biodiesel dan Gliserol Ulangan 2
6. Biodiesel dan Gliserol Ulangan 3
74
7. Hasil Proses Settling Selama 12 Jam
8. Hasil Proses Sentrifugasi Selama 1 Menit
75
9. Biodiesel dan Gliserol Hasil Settling Selama 12 Jam
76
PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP
KARAKTERISTIK BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
Oleh
ANDIKA PUTRI LISTIAWATI
F34103031
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP
KARAKTERISTIK BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
JURNAL PENELITIAN
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
ANDIKA PUTRI LISTIAWATI
F34103031
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP


KARAKTERISTIK BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
JURNAL PENELITIAN
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
ANDIKA PUTRI LISTIAWATI
F34103031
Menyetujui,
Bogor, Agustus 2007
Dr. Ir. Ani Suryani, DEA.
Pembimbing Akademik
PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP
KARAKTERISTIK BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
The Effects of Centrifugation Velocity to Biodiesel
Based on Purging Nut (Jatropha curcas L.) Characteristics
Andika Putri Listiawati 1)
Ani Suryani 2)
1) Peneliti, Departemen Teknologi Industri Pertanian
2) Staf Pengajar Departemen Teknologi Industri Pertanian, Dr. Ir., DEA.
ABSTRACT
Production process of purging nut biodiesel with esterificationtransesterification reaction will form suspension between hydrophobic phase
(biodiesel) and hydrophilic phase (glycerol). This two substances have
different density that make them separate in 8-12 hours by settling.
Centrifugation process can reduce settling time between biodiesel and
glycerol. Biodiesel from separation process still contain alkaline catalyst
residue and others contaminants, so washing process is needed to remove it.
The aim of this research is to know the effects of centrifugation velocity to
purging nut biodiesel characteristics and to know the efficiency of
centrifugation process to remove alkaline catalyst residue. Test of t-student
shows that kinematic viscosity, density, and alkaline catalyst content of
biodiesel from centrifugation process are better than biodiesel from 12 hours
settling. Centrifugation

velocity in 500 rpm (30 g) for one minute can reduce water amount for
removing alkaline catalyst in washing process.
Key words: biodiesel, centrifugation, glycerol
PENDAHULUAN
Berdasarkan data tahun 2005 tercatat kebutuhan atau pemakaian minyak
solar nasional sebesar sekitar 27,5 milyar liter, dimana penggunaan solar ini
lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar minyak lain
(premium 17,5 milyar liter, minyak tanah 11,3 milyar liter, minyak diesel 9,0
milyar liter, dan minyak bakar 4,7 milyar liter) (Prihandana, et al., 2006).
Walaupun produksi dari segi jumlah minyak mentah, Indonesia sanggup
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, impor minyak solar harus
dilakukan karena kapasitas kilang minyak yang tersedia tidak mencukupi
untuk memenuhi seluruh permintaan solar dalam negeri. Kondisi ini, disertai
dengan semakin menipisnya jumlah bahan bakar fosil (nonrenewable
resources), mengharuskan Indonesia untuk mengoptimasi penggunaan
energi yang terbarukan, salah satunya adalah biodiesel.
Secara kimiawi, biodiesel adalah monoalkil ester dari rantai panjang asam
lemak yang berasal dari bahan baku yang dapat diperbarui, seperti minyak
nabati atau lemak hewani, untuk digunakan dalam mesin diesel (Meher et al.,
2004). Peluang pemanfaatan minyak jarak pagar sebagai bahan baku
biodiesel cukup besar. Hal ini dikarenakan minyak jarak pagar tidak termasuk
dalam kategori minyak makan (Hambali et al., 2006). Inti biji tanaman jarak
pagar mengandung 40-60% minyak.
Teknologi proses produksi biodiesel yang berkembang saat ini dapat
dikelompokkan menjadi proses satu tahap (transesterifikasi) dan proses dua
tahap (esterifikasi-transesterifikasi). Reaksi satu tahap (transesterifikasi)
dipakai apabila minyak nabati memiliki nilai FFA di bawah 1 persen,
sedangkan minyak yang memiliki nilai FFA di atas 1 persen, seperti minyak
jarak pagar, sebaiknya menggunakan proses dua tahap (esterifikasitransesterifikasi). Proses transesterifikasi minyak akan menghasilkan
campuran heterogen yang terdiri dari fasa hidrofobik (sebagian besar
komponennya biodiesel) dan fasa hidrofilik (sebagian besar komponennya
gliserol). Selain itu juga terdapat senyawa-senyawa pengotor biodiesel
seperti metanol, sisa katalis basa, air, trigliserida yang tidak bereaksi, dan
senyawa intermediet berupa mono- dan digliserida. Sebagian besar pengotor
berupa sisa katalis basa akan terdapat pada gliserol, sedangkan sebagian
kecilnya yang terdapat pada biodiesel umumnya dihilangkan setelah separasi

melalui proses pencucian biodiesel.


Pemisahan campuran heterogen antara biodiesel dan gliserol setelah
transesterifikasi umumnya dilakukan secara settling yang memakan waktu 812 jam. Kondisi ini tentu saja dapat mengakibatkan bottle neck pada proses
produksi biodiesel skala kontinyu. Karena adanya perbedaan berat jenis dan
kepolaran, maka pemisahan campuran heterogen antara biodiesel dan
gliserol dapat dipercepat melalui proses sentrifugasi.
Sentrifugasi merupakan suatu cara mekanis untuk memisahkan komponenkomponen dari campuran cairan atau campuran cairan dan partikel padat
dengan menggunakan gaya pemusingan (sentrifugal) yang lebih besar
daripada gaya gravitasi sehingga mempercepat laju pengenapan fasa
terdispersi. Umumnya, sentrifugasi digunakan untuk memisahkan komponen
tak larut (insoluble) dari media cair (Ford dan Graham, 1991; Ruthven, 1997).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kecepatan
sentrifugasi terhadap karakteristik biodiesel setelah sentrifugasi, khususnya
viskositas kinematik, densitas, dan kadar katalis basa (KOH) biodiesel serta
mengetahui apakah teknik sentrifugasi dapat meminimalisir proses
pencucian katalis KOH pada biodiesel.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah labu leher tiga,
erlenmeyer, gelas piala, neraca analitik, buret, pipet volumetrik, gelas ukur,
hot plate stirrer, kondensor, penangas air, termometer, Hitachi centrifuge
tipe CR21G, viskosimeter Cannon-Fenske, piknometer, cawan aluminium,
oven, dan desikator.
Bahan-bahan yang digunakan adalah minyak jarak pagar dan metanol,
katalis KOH, alkohol netral 95%, kloroform, larutan Hanus, larutan KI 20%,
larutan Na2S2O3 0,1 N, larutan KOH 0,1 N, larutan KOH-alkohol 0,5 N, larutan
HCl 0,5 N, larutan aseton 2%, larutan HCl 0,01 N, indikator fenolftalein (PP),
indikator kanji serta aquades.
B. Metodologi
1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menganalisis karakteristik minyak
jarak pagar sebelum proses estrans. Analisa tersebut meliputi densitas,
viskositas kinematik, kadar air, bilangan asam, kadar ALB (asam lemak
bebas), bilangan iod, dan bilangan penyabunan minyak jarak pagar.
2. Penelitian Utama

Penelitian utama meliputi proses esterifikasi dan transesterifikasi minyak


jarak pagar, mengetahui pengaruh kecepatan sentrifugasi biodiesel kasar
setelah transesterifikasi terhadap karakteristiknya, dan analisa biodiesel yang
diperoleh setelah sentrifugasi. Proses pembuatan biodiesel diawali dengan
mengisi labu leher tiga dengan minyak jarak, kemudian dipanaskan di atas
hot plate stirrer hingga suhu minyak berkisar 55-60C. Katalis asam H2SO4
sebanyak 1% dari bobot minyak dilarutkan dalam metanol (rasio mol
metanol:minyak = 20:1). Campuran katalis asam dan metanol dimasukkan ke
dalam labu leher tiga berisi minyak jarak pagar, kemudian proses esterifikasi
dilakukan selama satu jam. Setelah melalui proses esterifikasi, dilakukan
penyaringan produk yang didapat dengan menggunakan kapas untuk
menyaring kotoran-kotoran padat yang mungkin terbentuk selama reaksi.
Selanjutnya untuk memperoleh metil ester (biodiesel), dilakukan proses
transesterifikasi selama satu jam dalam kisaran suhu yang sama dengan
proses esterifikasi, hanya saja dalam proses transesterifikasi digunakan
katalis basa berupa KOH sebanyak 1% dari bobot minyak jarak awal dan rasio
mol metanol:minyak = 6:1. Pengadukan dengan magnetic stirrer selama
proses esterifikasi dan transesterifikasi menggunakan kecepatan pengadukan
skala 6-7 pada alat hot plate stirrer LabTech model LMS 3006. Setelah proses
transesterifikasi selesai, dilakukan sentrifugasi untuk memisahkan gliserol
dari metil ester yang terbentuk.
Tahap akhir penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan
sentrifugasi terhadap karakteristik biodiesel, terutama viskositas kinematik,
densitas, dan kadar katalis KOH biodiesel. Pada tahap ini sampel diberikan
empat buah perlakuan kecepatan sentrifugasi, yaitu 500 rpm (30 g), 1000
rpm (120 g), 1500 rpm (270 g), dan 2000 rpm (480 g). Sentrifugasi dilakukan
selama satu menit berdasarkan waktu minimum yang dapat dicapai oleh alat.
Analisa biodiesel yang diperoleh setelah sentrifugasi berupa viskositas
kinematik, densitas, kadar katalis KOH, penghitungan perolehan biodiesel
setelah sentrifugasi, kadar air, bilangan asam, kadar asam lemak bebas,
bilangan iod, bilangan penyabunan, dan angka setana. Selain itu juga
dilakukan uji Gas Chromatography-Mass Spectrometric untuk biodiesel hasil
sentrifugasi dengan kecepatan terendah dan menghasilkan karakteristik
biodiesel terbaik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui karakteristik minyak
jarak pagar sebelum diproses menjadi metil ester (biodiesel). Hasil

karakterisasi minyak jarak pagar dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Hasil Karakterisasi Minyak Jarak Pagar
Parameter
Hasil
Analisis
Karakteristik
Pembanding
Kadar air (%b/b)
0,0025
0,07
Densitas
(15C, g/cm3)
0,92
0,92
Viskositas
(30C, cSt)
35,84
52
Bil. asam
(mg KOH/g minyak)
10,39
0,92
Kadar ALB (%)
5,22
0,45
Bil. penyabunan
(g KOH/g minyak)
207,63
202,6*
Bilangan iod
(g I2/100 g minyak)
96,44
96,5**
Sumber: Gbitz, et al. (1999)
*= Hambali et al. (2006)
**= Azam et al. (2005)
Dari Tabel 1 terlihat bahwa viskositas minyak jarak yang diperoleh cukup
tinggi, hal ini yang menjadi salah satu kendala dalam penggunaannya secara

langsung terhadap mesin diesel. Selain itu juga minyak jarak pagar yang
digunakan dalam penelitian memiliki kandungan asam lemak bebas (ALB)
cukup tinggi. Nilai bilangan asam dan kadar ALB ini dapat dipengaruhi oleh
lama waktu dan suhu penyimpanan minyak jarak pagar sebelum diolah. ALB
dapat terbentuk akibat adanya proses hidrolisis antara minyak (trigliserida)
dan air. Namun, hal ini kemungkinan besar tidak terlalu berpengaruh karena
kadar air minyak jarak yang diperoleh cukup rendah.
B. Penelitian Utama
Penelitian utama mencakup proses pembuatan metil ester (biodiesel) dari
minyak jarak pagar dan perlakuan sentrifugasi untuk pemisahan biodiesel
dari by product pada fasa hidrofiliknya. Meher et al. (2004) mengatakan
bahwa ALB dan kadar air adalah parameter-parameter penting dalam
menentukan proses pembuatan biodiesel. Semakin tinggi keasaman minyak,
maka semakin rendah efisiensi konversi transesterifikasi berkatalis basa.
Minyak yang mengandung ALB dalam jumlah besar tidak dapat dikonversi
menjadi biodiesel dengan menggunakan katalis basa karena dapat
membentuk formasi sabun yang menyulitkan pemisahan biodiesel dari
gliserol selama proses berlangsung. Alternatif prosesnya adalah
menggunakan katalis asam yang tidak akan membentuk sabun. Oleh karena
itu, pembuatan biodiesel dari minyak jarak pagar terdiri atas dua tahap
proses, yaitu esterifikasi dilanjutkan dengan transesterifikasi (estrans). Proses
esterifikasi terlebih dahulu dilakukan untuk menurunkan kadar ALB pada
minyak mengingat bilangan asam minyak jarak yang digunakan cukup tinggi.
Selama proses estrans berlangsung minyak jarak dicampur dengan metanol
dan katalis menggunakan magnetic stirrer. Proses pengadukan ini akan
meningkatkan kontak antara minyak, metanol, dan katalis sehingga
meningkatkan kecepatan reaksi pembentukan metil ester (biodiesel). Selain
itu, adanya pemanasan menyebabkan molekul-molekul minyak terdispersi
dan terdistribusi ke dalam molekul-molekul metanol dan bereaksi sehingga
memutuskan ikatan gliserida membentuk metil ester (Noureddini dan Zhu,
1997). Gunadi (1999) menambahkan bahwa pemanasan akan meningkatkan
pergerakan molekul-molekul yang terdapat dalam campuran minyak dan
metanol sehingga menyebabkan terjadinya tumbukan antarmolekul dan
memberikan energi yang cukup untuk mencapai kompleks aktivasi, akibatnya
terjadilah reaksi estrans.
Setelah proses transesterifikasi selesai, produk yang diperoleh adalah
campuran metil ester (biodiesel), gliserol, metanol yang tidak bereaksi,
katalis, sabun serta tri-, di-, dan monogliserida yang tidak bereaksi sempurna

menjadi metil ester. Campuran tersebut kemudian disentrifugasi untuk


memisahkan biodiesel kasar dengan gliserol
dan senyawa-senyawa hidrofilik lainnya yang diperoleh selama proses
estrans. Sentrifugasi dilakukan selama satu menit pada suhu 25C karena
umumnya pemisahan biodiesel dari gliserol dikondisikan pada suhu ruang.
Biodiesel yang telah terpisah dari gliserol selanjutnya dianalisis, baik sifat
fisik dan kimianya.
1. Viskositas Kinematik
Viskositas yang tinggi adalah kelemahan pokok minyak nabati karena nilainya
jauh lebih besar (10 kali lipat) dari viskositas solar sehingga akan
menyulitkan pemompaan bahan bakar dari tangki ke ruang bakar mesin.
Viskositas kinematik biodiesel dipengaruhi oleh panjang rantai dan komposisi
asam lemak, posisi dan jumlah ikatan rangkap (derajat ketidakjenuhan)
dalam biodiesel serta jenis alkohol yang digunakan untuk proses estrans.
Hasil uji viskositas kinematik dapat dilihat pada Tabel 2. Viskositas adalah
salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan pemisahan biodiesel dari
gliserol selain densitas. Gliserol merupakan salah satu senyawa yang dapat
meningkatkan viskositas biodiesel.
Tabel 2. Hasil Uji Viskositas Kinematik Biodiesel (40C)
Dari data yang diperoleh terlihat adanya penurunan viskositas kinematik
yang signifikan setelah minyak jarak diolah menjadi biodiesel. Menurut
Openshaw (2000), solar adalah hidrokarbon dengan 8-10 atom karbon per
molekul, tetapi minyak jarak memiliki 16-18 atom karbon per molekulnya.
Oleh karena itu, minyak jarak jauh lebih viskous daripada diesel dan memiliki
kualitas pembakaran yang rendah.
Viskositas biodiesel juga dipengaruhi oleh kandungan trigliserida yang tidak
bereaksi dengan metanol serta senyawa intermediet seperti monogliserida
dan digliserida yang mempunyai polaritas dan bobot molekul yang cukup
tinggi. Digliserida dan monogliserida merupakan senyawa yang mempunyai
sifat aktif permukaan atau menurunkan tegangan permukaan lebih baik
daripada trigliserida. Hasil ANOVA (=0,05) menunjukkan tidak adanya
perbedaan yang nyata dari perlakuan sentrifugasi terhadap viskositas
kinematik biodiesel. Rata-rata viskositas kinematik biodiesel yang diperoleh
sudah memenuhi standar mutu biodiesel Indonesia dan ASTM D 6751.
Dibandingkan biodiesel hasil pengenapan (settling) selama 12 jam (5,09 cSt),
sesuai hasil uji t-student, maka viskositas kinematik biodiesel hasil
sentrifugasi ini lebih baik. Dengan metode sentrifugasi zat-zat pengotor yang
dapat meningkatkan viskositas kinematik metil ester hasil transesterifikasi,

mengenap lebih sempurna daripada pengenapan biasa. Zat-zat pengotor ini


dapat berupa gliserol serta katalis basa dan monogliserida yang bersifat lebih
polar (larut dalam gliserol) dibandingkan biodiesel.
2. Densitas
Parameter seperti densitas atau berat jenis minyak dan metil ester
dipengaruhi oleh panjang rantai asam lemak, ketidakjenuhan, dan
temperatur lingkungan (Formo, 1979). Keberadaan gliserol dalam biodiesel
mempengaruhi densitas biodiesel karena gliserol memiliki densitas yang
cukup tinggi (1,26 g/cm3) sehingga jika gliserol tidak terpisah dengan baik
dari biodiesel, maka densitas biodiesel pun akan meningkat.Hasil uji densitas
biodiesel hasil sentrifugasi pada suhu 15C dapat dilihat pada Tabel 3.
Selama proses estrans rantai-rantai asam lemak dalam minyak jarak akan
terpecah menjadi rantai metil ester yang lebih pendek sehingga densitas pun
akan menurun seiring dengan penurunan bobot molekul.
Tabel 3. Hasil Uji Densitas Biodiesel (15C)
Perlakuan
Densitas (g/cm3)
500 rpm (30 g)
0,8848
1000 rpm (120 g)
0,8832
1500 rpm (270 g)
0,8823
2000 rpm (480 g)
0,8831
Hasil uji ANOVA (=0,05) menunjukkan tidak ada pengaruh nyata kecepatan
sentrifugasi terhadap densitas biodiesel yang diperoleh, namun dari hasil
Perlakuan
Viskositas Kinematik (cSt)
500 rpm (30 g)
4,61
1000 rpm (120 g)
4,71
1500 rpm (270 g)
4,65
2000 rpm (480 g)
4,65
uji t-student terlihat adanya perbedaan nyata antara densitas biodiesel hasil

sentrifugasi dan biodiesel hasil settling selama 12 jam (0,8922 g/cm3). Hal ini
dapat disebabkan karena senyawa-senyawa seperti sabun, katalis basa, dan
metanol yang mengenap bersama gliserol lebih maksimal hasilnya melalui
proses sentrifugasi. Kondisi tersebut menyebabkan berat jenis biodiesel hasil
sentrifugasi lebih rendah dibandingkan sedimentasi.
3. Kadar Katalis KOH
Adanya katalis yang tidak bereaksi dalam proses transesterifikasi dapat
menyebabkan korosi pada mesin diesel sehingga perlu dilakukan penetralan
dan pencucian metil ester yang sebaik-baiknya. Hasil uji kadar KOH biodiesel
hasil sentrifugasi dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji Kadar Katalis KOH dalam Biodiesel
Perlakuan
Kadar Katalis KOH (ppm)
500 rpm (30 g)
714
1000 rpm (120 g)
982
1500 rpm (270 g)
749
2000 rpm (480 g)
719
Berdasarkan uji ANOVA (=0,05), tidak terdapat perbedaan yang nyata dari
perlakuan kecepatan sentrifugasi terhadap hasil uji kadar katalis biodiesel.
Namun, uji t-student menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara nilai
kadar katalis KOH pada biodiesel hasil sentrifugasi dan hasil settling selama
12 jam (1.714 ppm). Sebagian besar sisa katalis basa hasil transesterifikasi
terdapat dalam gliserol yang mengenap selama proses separasi karena sifat
kepolarannya.
Parameter pascatransesterifikasi, seperti proses separasi dan pencucian
biodiesel setelah separasi adalah beberapa faktor yang mempengaruhi
kandungan logam alkali dalam biodiesel. Proses pencucian biodiesel kasar
biasanya diawali dengan penambahan larutan asam lemah seperti asam
asetat atau asam fosfat, kemudian disusul dengan penambahan air hangat
secara berulang-ulang hingga pH-nya netral. Jika dari hasil sentrifugasi
selama satu menit dengan kecepatan 500 rpm (30 g) dapat memaksimalkan
jumlah katalis basa yang mengenap dibandingkan dengan cara settling,
maka metode sentrifugasi ini dapat mengefisiensikan proses pencucian
biodiesel kasar hasil estrans. Dalam hal ini efisien dapat berarti mereduksi

jumlah penggunaan air untuk proses pencucian biodiesel dan juga


mempercepat proses pemisahan gliserol dari biodiesel.
Untuk mengetahui seberapa efisien proses sentrifugasi dalam
meminimalisasi penggunaan air pada tahap pencucian biodiesel, dilakukan
pencucian pada biodiesel hasil settling dan biodiesel hasil sentrifugasi.
Sampel biodiesel yang digunakan masing-masing sebanyak 10 ml, kemudian
ke dalam sampel ditambahkan larutan asam asetat 0,1 N sebanyak 10 ml
untuk menetralkan KOH pada biodiesel. Setelah larutan asam asetat
dicampur dengan biodiesel, dilakukan pemisahan secara settling hingga
larutan asam asetat mengenap dan dipisahkan dari biodiesel. Tahap
selanjutnya ialah penambahan air hangat bersuhu sekitar 50C sebanyak 50
ml pada biodiesel. Air hangat dicampur dengan biodiesel dan dibiarkan
mengenap, kemudian dipisahkan dari biodiesel dan pH-nya diukur. Jika pH air
yang diperoleh belum netral, maka biodiesel ditambahkan air hangat lagi
secara berulang-ulang hingga diperoleh pH air netral. Biodiesel yang
diperoleh dari hasil separasi secara settling selama 12 jam membutuhkan
tiga kali penambahan air hangat (350 ml) hingga diperoleh pH netral,
sedangkan biodiesel hasil sentrifugasi hanya membutuhkan satu kali
penambahan air hangat (50 ml) agar pH-nya netral.
4. Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi
Sentrifugasi dapat mempercepat pemisahan produk gliserol dari biodiesel
kasar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pemisahan tersebut
adalah viskositas, perbedaan densitas antara gliserol serta senyawa-senyawa
hidrofilik lainnya dan biodiesel. Laju pemisahan akan meningkat jika
viskositas biodiesel rendah, sementara viskositas bergantung pada
temperatur. Hal ini juga dipengaruhi oleh densitas gliserol (1,26 g/cm3) yang
memang lebih besar daripada biodiesel serta sifatnya yang tidak larut dalam
biodiesel. Hasil penghitungan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil Uji Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi
Perlakuan
Perolehan Biodiesel Setelah Sentrifugasi (%v/v)
500 rpm (30 g)
77,37
1000 rpm (120 g)
78,82
1500 rpm (270 g)
80,20
2000 rpm (480 g)

81,49
ANOVA (=0,05) tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata akibat
perlakuan kecepatan sentrifugasi yang diberikan terhadap hasil perolehan
biodiesel. Rata-rata perolehan biodiesel hasil sentrifugasi lebih tinggi
dibandingkan hasil settling selama 12 jam (74,44%).
5. Kadar Air
Kadar air biodiesel yang tinggi dapat menyebabkan mikroba mudah tumbuh
sehingga mengotori biodiesel, korosi pada mesin, dan pada suhu rendah
menyebabkan pemisahan biodiesel murni maupun blending. Hasil uji kadar
air ditunjukkan dalam Tabel 6.
Tabel 6. Hasil Uji Kadar Air Biodiesel
Perlakuan
Kadar Air (%b/b)
500 rpm (30 g)
0,0129
1000 rpm (120 g)
0,0144
1500 rpm (270 g)
0,0168
2000 rpm (480 g)
0,0152
Peningkatan kadar air minyak jarak setelah menjadi biodiesel disebabkan
adanya akumulasi air pada minyak sebelum proses estrans dengan air
sebagai hasil samping proses esterifikasi. Secara tidak langsung proses
sentrifugasi setelah transesterifikasi mempercepat pemisahan air dari
biodiesel kasar. Densitas air yang lebih tinggi daripada biodiesel
menyebabkannya mengenap ke bawah bersama gliserol. Hal ini diperkuat
dengan sifat kepolaran antara keduanya.
Hasil ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan tidak adanya
perbedaan yang nyata terhadap hasil uji kadar air dalam biodiesel dengan
perubahan kecepatan sentrifugasi. Hal ini dikarenakan kadar air biodiesel
lebih banyak dipengaruhi oleh karakteristik fisik minyak awal dan kondisi
proses estrans daripada oleh faktor kecepatan sentrifugasi. Secara
keseluruhan sifat fisik berupa kadar air biodiesel yang diperoleh telah
memenuhi standar ASTM D 6751.
6. Bilangan Asam dan Kadar ALB
Asam lemak bebas pada minyak maupun metil ester akan meningkat dengan
adanya proses hidrolisis yang dikatalisa asam, terutama jika produk memiliki

kadar air yang tinggi. Proses hidrolisis juga dipercepat oleh peningkatan
suhu. Hasil uji bilangan asam dan kadar ALB terlihat pada Tabel 7. Penurunan
kadar ALB dari minyak jarak pagar setelah proses estrans terjadi karena pada
proses esterifikasi asam-asam lemak bebas dalam minyak sebagian besar
terkonversi menjadi metil ester.
Tabel 7. Hasil Uji Bilangan Asam dan Kadar ALB Biodiesel
Perlakuan
Bilangan Asam
(mg KOH/g)
Kadar ALB (%)
500 rpm
(30 g)
0,93
0,47
1000 rpm
(120 g)
0,81
0,41
1500 rpm
(270 g)
0,85
0,43
2000 rpm
(480 g)
0,82
0,41
Uji ANOVA (=0,05) menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata pada
hasil-hasil yang diperoleh akibat perlakuan kecepatan sentrifugasi yang
diberikan karena pada dasarnya kedua parameter ini tidak dipengaruhi oleh
proses separasi gliserol dari biodiesel. Rata-rata bilangan asam biodiesel hasil
sentrifugasi belum memenuhi syarat biodiesel yang diharuskan oleh ASTM D
6751. Hal tersebut dikarenakan pada proses esterifikasi asam-asam lemak
bebas pada minyak belum terkonversi secara sempurna menjadi metil ester.
7. Bilangan Iod
Bilangan iod biodiesel dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persentase
konsentrasi komponen asam lemak tidak jenuh, bobot molekul masingmasing komponen tersebut, dan jumlah ikatan rangkap di dalamnya (Azam et
al., 2005). Metil ester asam lemak yang memiliki derajat ketidakjenuhan

tinggi tidak cocok


digunakan sebagai biodiesel karena molekul tidak jenuh akan bereaksi
dengan oksigen dari atmosfer dan terkonversi menjadi peroksida. Akhirnya
terjadi ikatan silang pada sisi tidak jenuh dan menyebabkan biodiesel
terpolimerisasi, terutama jika suhu meningkat. Sebagai akibatnya terjadi
pembentukan deposit pada mesin diesel. Hasil uji bilangan iod biodiesel
setelah sentrifugasi dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Hasil Uji Bilangan Iod Biodiesel
Perlakuan
Bilangan Iod
(g I2/100 g biodiesel)
500 rpm (30 g)
87,87
1000 rpm (120 g)
87,82
1500 rpm (270 g)
87,00
2000 rpm (480 g)
89,74
Berdasarkan uji ANOVA (=0,05), tidak terdapat perbedaan yang nyata pada
biodiesel akibat pengaruh kecepatan sentrifugasi. Pada prinsipnya derajat
ketidakjenuhan biodiesel ditentukan oleh proses produksinya, bukan oleh
proses separasinya. Minyak jarak pagar mengandung asam-asam lemak tidak
jenuh seperti asam palmitoleat (16:1), oleat (18:1), linoleat (18:2), dan
linolenat (18:3). Asam-asam lemak yang mengalami pemutusan ikatan
rangkap ini terbentuk menjadi metil ester setelah bereaksi dengan metanol.
Bilangan iod biodiesel yang diperoleh dalam penelitian memenuhi standar
mutu biodiesel Indonesia yang mengharuskan bilangan iod biodiesel
maksimal sebesar 115 g I2/100 g biodiesel.
8. Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan bergantung pada bobot molekul dan persentase
konsentrasi komponen asam lemak yang terdapat di dalam minyak atau
biodiesel. Semakin rendah bobot molekul, maka semakin tinggi bilangan
penyabunan, juga sebaliknya. Terjadi penurunan bilangan penyabunan
setelah minyak jarak pagar mengalami proses estrans. Hal ini disebabkan
karena asam-asam lemak bebas yang memiliki bobot molekul rendah telah
terkonversi menjadi metil ester pada saat esterifikasi berlangsung.
Tabel 9 merupakan hasil uji bilangan penyabunan terhadap biodiesel hasil

sentrifugasi sebagai produk akhir dalam penelitian, dimana berdasarkan hasil


uji ANOVA pada tingkat kepercayaan 95% tidak terdapat perbedaan yang
nyata pada biodiesel akibat perlakuan kecepatan sentrifugasi yang diberikan.
Bilangan penyabunan biodiesel juga dipengaruhi oleh senyawa-senyawa
intermediet yang terbentuk selama estrans, seperti monogliserida dan
digliserida. Kedua senyawa ini menyebabkan bilangan penyabunan biodiesel
menjadi lebih rendah karena bobot molekulnya yang lebih tinggi
dibandingkan biodiesel.
Tabel 9. Hasil Uji Bilangan Penyabunan Biodiesel
Perlakuan
Bilangan Penyabunan
(mg KOH/g biodiesel)
500 rpm (30 g)
195,95
1000 rpm (120 g)
192,63
1500 rpm (270 g)
193,55
2000 rpm (480 g)
192,62
9. Angka Setana
Angka setana adalah kemampuan bahan bakar untuk menyala dengan cepat
setelah diinjeksi. Semakin tinggi nilainya, semakin baik kualitas pembakaran
bahan bakar tersebut. Angka setana adalah fungsi dari banyaknya CH3 dan
CH2 dalam komposisi bahan bakar (rasio CH2:CH3). Semakin tinggi rasio
antara keduanya, maka semakin tinggi angka setana biodiesel yang
diperoleh. Hasil penghitungan angka setana dapat dilihat pada Tabel 10.
Angka setana biodiesel dalam penelitian diperoleh melalui pendekatan
menggunakan nilai bilangan iod dan bilangan penyabunan (Azam et al.,
2005).
Tabel 10. Hasil Penghitungan Angka Setana Biodiesel
Perlakuan
Angka Setana
500 rpm (30 g)
54,47
1000 rpm (120 g)
54,87
1500 rpm (270 g)

54,95
2000 rpm (480 g)
54,47
Standar mutu biodiesel Indonesia dan Eropa (EN 14214) mensyaratkan angka
setana biodiesel minimal 51. Hasil penghitungan secara keseluruhan
memenuhi persyaratan biodiesel ini. Azam et al. (2005) memperoleh hasil
angka setana untuk biodiesel jarak pagar sebesar 52,31 dengan
penghitungan yang sama.
Angka setana berbanding terbalik dengan bilangan iod, semakin tinggi angka
setana, semakin rendah bilangan iod yang berarti derajat ketidakjenuhannya
semakin rendah. Hal ini sehubungan dengan semakin panjangnya rantai
karbon dalam biodiesel atau dengan kata lain CH2 yang terbentuk semakin
banyak sehingga angka setanapun meningkat seiring peningkatan rasio
CH2:CH3. Dapat dikatakan pula dengan semakin rendahnya ketidakjenuhan
biodiesel, maka semakin tinggi bobot molekul asam-asam lemaknya sehingga
bilangan penyabunan biodiesel yang dihasilkan rendah. Jika bilangan
penyabunan rendah, maka biodiesel yang dihasilkan akan memiliki angka
setana yang tinggi.
10. Gas Chromatography-Mass Spectrometric (GCMS)
Gambar 1. Hasil Uji GC-MS Biodiesel
Uji dengan alat GC-MS dilakukan untuk mengidentifikasi komponen metil
ester yang terdapat pada biodiesel. Kualitas biodiesel ditentukan oleh
kemurnian senyawa alkil ester yang terdapat di dalamnya. Berdasarkan hasil
uji GC-MS (Gambar 1), kandungan metil ester yang terdapat pada biodiesel
hasil sentrifugasi adalah sebesar 97,25% (b/b). Nilai ini telah memenuhi
standar biodiesel Indonesia yang mensyaratkan kadar alkil ester dalam
biodiesel minimal 96,5% (b/b). Walaupun demikian, nilai kandungan metil
ester yang diperoleh dari uji GC-MS merupakan nilai dari biodiesel jarak
pagar hasil sentrifugasi yang belum melalui tahap pemurnian lebih lanjut
sehingga kemungkinan besar masih terdapat pengotor (kontaminan) di
dalamnya.
Komposisi metil ester yang teridentifikasi di antaranya metil oleat (55,18%),
metil linoleat (23,22%), metil palmitat (16,22%), metil palmitoleat (1,33%),
metil arakidat (0,39%), metil linolenat (0,32%), metil risinoleat (0,16%), metil
behenat (0,10%), metil miristat (0,09%), dan metil stearat (0,03%). Selain itu
juga terdapat asam lemak bebas dalam jumlah 0,87%, yang terdiri atas asam
oleat (0,36%), asam linoleat (0,29%), asam palmitat (0,17%), dan asam
stearat (0,05%). Komponen lainnya adalah metanol sebesar 0,69% yang

berasal dari ekses metanol yang digunakan untuk proses estrans. Nilai kadar
metanol ini masih lebih tinggi dari standar biodiesel EN 14214 untuk kadar
metanol (0,2%b/b). Kadar metanol yang cukup tinggi ini dikarenakan
biodiesel hasil sentrifugasi belum melalui tahap penguapan metanol untuk
pemurnian biodiesel.
KESIMPULAN
Karakteristik biodiesel yang diperoleh setelah sentrifugasi selama satu menit
dengan kecepatan 500, 1000, 1500, dan 2000 rpm berupa viskositas
kinematik (4,61 4,71 cSt), densitas (0,8823 0,8848 g/cm3), kadar katalis
KOH (714 982 ppm), perolehan biodiesel setelah sentrifugasi (77,37
81,49%), kadar air (0,0129 0,0168%), bilangan asam (0,81 0,93 mg
KOH/g), kadar ALB (0,41 0,47%), bilangan iod (87,00 87,87 g I2/100 g),
bilangan penyabunan (192,62 195,95 mg KOH/g), dan angka setana (54,47
54,95).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa viskositas kinematik, densitas, dan
kadar katalis KOH biodiesel yang diperoleh dengan cara sentrifugasi selama
satu menit lebih baik daripada biodiesel hasil settling selama 12 jam.
Perlakuan kecepatan sentrifugasi sebesar 500, 1000, 1500, dan 2000 rpm
tidak berpengaruh nyata terhadap variabel respon viskositas kinematik,
densitas, dan kadar KOH biodiesel. Kecepatan sentrifugasi sebesar 500 rpm
(30 g) selama satu menit sudah dapat mengefisienkan proses pencucian
katalis yang umumnya dilakukan untuk pemurnian biodiesel setelah separasi
serta mereduksi waktu settling biodiesel-gliserol kasar yang menghambat
proses produksi biodiesel pada sistem kontinyu. Kadar metil ester yang
terdapat pada biodiesel hasil sentrifugasi dengan kecepatan 500 rpm (30 g)
adalah sebesar 97,25% (b/b).
DAFTAR PUSTAKA
Azam, M. M., A. Warris, dan N. M. Nahar. 2005. Prospects and Potential of
Fatty Acid Methyl Esters of Some Non-traditional Seed Oils for Use as
Biodiesel in India. Biomass and Bioenergy 29:293-302.
Ford, T. C. dan J. M. Graham. 1991. An Introduction to Centrifugation. Bios
Scientific Publishers, Oxford, United Kingdom.
Formo, M. W. 1979. Physical Properties of Fats and Fatty Acids. Di dalam
Baileys Industrial Oil and Fat Products Vol. I, 4th Ed. John Wiley and Sons,
New York.
Gbitz, G. M., M. Mittlebach, dan M. Trabi. 1999. Exploitation of The Tropical
Oil Seed Plant Jatropha curcas L. Bioresource Technology 67:73-82.
Gunadi, F. 1999. Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas sebagai Bahan Baku

Ester Metilat. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.


Hambali, E., A. Suryani, Dadang, Hariyadi, H. Hanafie, I. K. Reksowardojo, M.
Rivai, M. Ihsanur, P. Suryadarma, S. Tjitrosemito, T. H. Soerawidjaja, T.
Prawitasari, T. Prakoso dan W. Purnama. 2006. Jarak Pagar, Tanaman
Penghasil Biodiesel. Penebar Swadaya, Jakarta.
Makkar, H. P. S., K. Becker, F. Sporer, dan M. Wink. 1997. Studies on Nutritive
Potential and Toxic Constituents of Different Provenances of Jatropha curcas.
J. Agric. Food. Chem. 45:3152-3157.
Meher, L. C., D. V. Sagar, dan S. N. Naik. 2004. Technical Aspects of Biodiesel
Production by Transesterification: A Review. Renewable and Sustainable
Energy Reviews 10:248-268.
Openshaw, K. 2000. A Review of Jatropha curcas: An Oil Plant of Unfulfilled
Promise. Biomass and Bioenergy 19:1-15.
Noureddini, H. dan D. Zhu. 1997. Kinetics of Transesterification of Soybean
Oil. JAOCS 74(11):1457-1463.
Prihandana, R., R. Hendroko, dan M. Nuramin. 2006. Menghasilkan Biodiesel
Murah, Mengatasi Polusi dan Kelangkaan BBM. PT. Agromedia Pustaka, Depok.
Ruthven, D. M. 1997. Encyclopedia of Separation Technology Vol. I: A KirkOthmer Encyclopedia. John Wiley and Sons, Inc., New York, USA
Source :http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/11004
About
these
ads
SHARE
THIS:

Twitter

Facebook

Leave a Reply

Post navigation
Hello world!
Search

Recent Posts
PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP KARAKTERISTIK

BIODIESEL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)


Hello world!

Archives
November 2012

Categories
Uncategorized

Meta

Register

Log in

Entries RSS

Comments RSS

WordPress.com
Create a free website or blog at WordPress.com. The Forever Theme.
Follow

Follow dietrichgerry
Get every new post delivered to your Inbox.
Sign me up

Build a website with WordPress.com