Anda di halaman 1dari 14

PORTOFOLIO PRAKTIKUM KIMIA FARMASI

COFFEINUM (Kofeina) dan Theophylin

OLEH :
ADONAI EPI FANIA / 13.003
AKAFARMA 2A

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN
YAYASAN PUTRA INDONESIA
Jl. Barito No.5 Malang

5 Malang .PORTOFOLIO PRAKTIKUM KIMIA FARMASI COFFEINUM (Kofeina) dan Theophylin OLEH : IKNEWATI MR / 13. Barito No.024 AKAFARMA 2A AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN YAYASAN PUTRA INDONESIA Jl.

Karena sangat pentingnya obat maka diperlukan adanya sebuah penelitian serta identifikasi mengenai sediian. dalam bentuk tumbuh-tumbuhan dan mineral telah ada jauh lebih lama dari manusianya sendiri. Banyak sekali obat-obatan yang beredar dipasaran.1996). tidak diragukan lagi sudah berlangsung jauh sebelum adanya sejarah mengenai obat secara tertulis. Baik obat-obatan sinstesis ataupun alami seperti jamu. Obat merupakan kebutuhan primer bagi sebagian orang.. Karena naluri orangorang primitive untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan merendamnya dengan air dingin atau menempelkan daun segar pada luka tersebut (Howard C Ansel. Penggunaan obat-obatan walaupun dalam bentuk yang sederhana.(Auterhoff. Obat-obatan dalam bentuk sederhana. BAB II Dasar Teori 2. setelah bertahun-tahun membawa pada penemuan-penemuan. 1996). Untuk keperluan tersebut identitas atau cirri khas obat dan komponen penyusun obat harus diketahui. Identitas ini diungkap dengan berbagai cara lalu hasil diungkapkan dicocokkan atau dibandingkan dengan identitas yang telah diketahui yang biasanya tercantum dalam literature resmi seperti Farmakope. 2005). gugus fungsi atau molekul inti.BAB I Pendahuluan Dewasa ini penggunaaan obat di masyarakat semakin meningkat.1 Kofein . Identifikasi obat-obatan merupakan bagian dalam Farmasi analisi yang bertujuan untuk mengetahui atau menemukan komponen penyusun suatu obat. zat aktif dalam obat agar kesalahan dalam penggunaan obat dapat diminimalisir. Kadang-kadang identitas dapat di lihat dari sifat terapeuletik dan aktifitas biologiknya (Auterhoff. Identitas zat dapat diramalkan dari sifat fisika dan kimia penyusun senyawa seperti : unsure ion. Penyakit pada manusia dan nalurinya untuk memepertahankan hidup.

tidak berbau. meningkatkan aliran darah melalui arteri koroner. dan ginjal. atau setelah kira-kira 12-16 jam dari waktu ketika terakhir kali mengkonsumsinya.4. kopi (1-1. didapat dengan beberapa cara seperti meningkatkan aliran darah dalam ginjal dan kecepatan filtrasi glomerulus. Pengaruh pada sistem syaraf pusat terutama pada pusat-pusat yang lebih tinggi.7-3. Ketiga senyawa tersebut mempunyai daya kerja sebagai stimulan sistem syaraf pusat. larut dalam 75 bagian etanol (95%) dalam 50 bagian aseton P. dan biji kola(2. rasa pahit (FI edisi 3. rasa pahit. rasa manis. 175) Kofein : serbuk hablur putih.5 %).1. relaksasi otot polos bronki. Bersama-sama dengan teobromin dan teofilin. Nama resmi : Coffenium Nama lain : Kofeina RM/BM : C8H10N4O2/194. stimulan otot jantung. Mudah larut dalam kloroform P. Kafein meningkatkan kinerja dan hasil kerja otot. dan dalam 900 bagian eter P. putih.19 Pemerian : Serbuk atau hablur bentuk jarum mengkilat biasanya menggumpal. Kofein-Na-benzoat : bubuk putih amorf. otot termasuk otot jantung.Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid terkandung secara alami pada lebih dari 60 jenis tanaman terutama teh (1. Kafein bekerja pada sistem syaraf pusat.1 Monografi Kofein Kofeina mengandung tidak kurang dari 98. dan aktif sebagai diuretika. Daya kerja sebagai diuretika dari kafein. tidak berasa Kofein-Na-salisilat : bubuk putih amorf. meningkatkan kecepatan dan kedalaman napas. daya kerja sebagai stimulan sistem syaraf pusat dari kafein sangat menonjol sehingga umumnya digunakan sebagai stimulan sentral. Kebanyakan produksi kafein bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri minuman. 2. Suhu lebur : 234o – 239oC .8 %). Kelarutan :Sukar larut dalam air. rasa pahit dan asam. Kafein diproduksi secara komersial dengan cara ekstraksi dari tanaman tertentu serta diproduksi secara sintetis. tapi terutama sebagai akibat pengurangan reabsorpsi tubuler normal. yang menghasilkan peningkatan aktivitas mental dan tetap terjaga atau bangun. Kafein juga digunakan sebagai penguat rasa atau bumbu pada berbagai industri makanan. Dan.6 %). tidak sama dengan yang lain. tidak berbau. kafein.0% C 8H10N4O2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Kafein dapat mengakibatkan ketagihan ringan. Kofein sitrat : bubuk kristal putih. termasuk ke dalam senyawa kimia golongan purin. merangsang pusat pernapasan.0% dan tidak lebih dari 101. Orang yang biasa minum kopi atau teh akan menderita sakit kepala pada pagi hari. dengan tingkatan yang berbeda.

Dosis maksimum : Sekali 500 mg.1. Zat uji + 2 ml amonia 10 % → kocok → diamkan (bandingkan dengan turunan xantin lain) 3. Reaksi kristal dengan Dragendorf → amati kristal di bawah mikroskop 6. diperkuat 2. Tempatkan cawan terbalik di atas bejana yang berisi beberapa tetes amonia P. + beberapa tetes 6N NH3. Dipanaskan di penangas air sampai kering. dengan oksidasi. sisa berwarna violet yang hilang dengan penambahan larutan alkali. tambahkan 50 mg kalium klorat P. Reagen-reagen dalam Identifikasi Kofein Reaksi Mureksid 1. 2.Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik. kofein. Zat uji + 1 ml NaOH → panaskan → setelah dingin + reagen sulfanilat + beberapa tetes NaNO2 10% +NaOH hingga basa → warna merah ungu 5. Larutan jenuh zat uji + larutan iod → tidak terjadi endapan coklat (bandingkan dengan turunan xantin lain) 4. Bila ada senyawa purin (etofilin. teofilin) terbentuk warna merah-ungu.Sewaktu menguap.2 Identifikasi Kofein A. 10 mg zat + 1. warna sudah terbentuk. teobromin. Zat uji + 1 ml amonia pekat + 2 ml AgNO3 → endapan seperti gelatin Endapan gelatin + 2 ml HNO3 → endapan larut B.5 ml H2O2 + 5 tetes H2SO4 (P). 4. Khasiat/penggunaan : Stimulan syaraf pusat. sehari 1. Lebih kurang 5 mg larutkan dalam 1 ml asam klorida P dalam cawan porselin. Cara Identifikasi 1. Gambar rumus struktur Kofeina : 2. kardiotonikum. 3. AgNO3 2 mg zat + 1 ml air + AgNO3 tidak terjadi endapan / keruh Larutan Tannin Larutan zat + larutan Tannin dalam air  ↓ putih yang larut dengan reagen berlebih Larutan I2 Larutan dalam air + I2 tidak terjadi endapan .5 g. uapkan di atas tangas air kering.

Resopsinya di usus buruk dan tidak teratur.2.0 % C 7H8N4O2. diketahui bahwa resorpsi dapat menjadi lebih sempurna bila digunakan dalam bentuk serbuk microfine (besarnya partikel 5-10 mikron). Untuk efek optimal diperlukan kadar dalam darah dari 10-15 mcg/ml. artinya dosis efektifnya terlerak berdekatan dengan dosis toksisnya.5 % dan tidak lebih dari 101. Oleh karena itu dianjurkan untuk menetapkan dosis secara individual atas tuntunan kadar dalam darah. Hijau – ungu) CuSO4 Zat + CuSO4 Hijau Aqua Brom (KOSONG) Zat + Aqua brom  Jingga tidak stabil Dragendrof (KOSONG) Zat + Pereaksi dragendrof  kuning – oranye Pereaksi Parri Zat + Co(NO3)2 / methanol + Ammonia Ungu (Teofilin) 2. dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan .1 Monografi Theophyllin : Mengandung tidak kurang dari 98. yang sangat peka terhadap overdose. tetapi memperlihatkan hubungan jelas dengan kadar darahnya (dan kadar di air liur). Efek bronchodilatasinya tidak berkorelasi baik dengan dosis. sedangkan pada 20 mcg/ml sudah terjadi efek toksis. Tidak terjadi endapan + HCl  ↓ coklat. Plasma-t ½ -nya 3-7 jam. 8. 6. 9. Itulah sebabnya mengapa bronchodilator tua ini (1935) dahulu jarang digunakan. 7. juga pada pasien gangguan hati dan ginjal. ekskresinya berlangsung sebagai asam metilurat lewat kemih dan hanya 10% dalam keadaan utuh. 10. Luas terapeutiknya sempit. Juga penggunaan sebagai larutan. 2. Baru pada tahun 1970-an.2 Theophyllin Obat ini banyak digunakan sebagai obat prevensi dan terapi serangan asma. Larutan HgCl2 Larutan jenuh + larutan 5% HgCl2 ↓ putih Kristalisasi kembali dengan pemanasan  kristal jarum panjang yang banyak Pereaksi Zwikker Cu-pyridin (5 tetes zat + 3 tetes pereaksi) Zat + pereaksi Zwikker Cu-pyridin  batang panjang tidak berwarna (Nb.5. Hal ini terutama perlu pada anak-anak dibawah usia 2 tahun dan pada manula diatas 60 tahun. larut dalam NaOH Keterangan: Uji iodium bertujuan untuk membuktikan adanya polisakarida. yang seperlunya ditambahkan alcohol 25%. Teofilin sebaiknya digunakan dalam sediaan ‘sustained release’ (walaupun hasilnya tidak begitu besar) yang memberikan resorpsi konstan dan kadar dalam darah yang lebih teratur.

5 mL hydrogen peroksida + 5 tetes H2SO4 (P). kofein. bila + NH3 ---warna ungu violet Reaksi murexid = positif 10 mg zat + 1. Bila ada senyawa purin (teofilin. Zat uji + 1 ml amonia pekat + 2 ml AgNO3 → endapan seperti gelatin → + 2 ml HNO3 → endapan larut 2.3-dimetilxantina 2.2. Larutan jenuh zat uji + larutan iod → tidak terjadi endapan coklat (bandingkan dengan turunan xantin lain) 3.2. yang kemudian diperkuat oleh oksidasi.2 Cara Identifikasi 1. lebih mudah larut dalam air panas.Kelarutan :Larut dalam lebih kurang 180 bagian air. warna sudah terbentuk.1 % Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik Khasiat/penggunaan S: pasmelitikum bronchial Dosis maksimum : sekali 500 mg. Tannin – endapan yang larut dalam reagen berlebih 3. tidak berbau. mudah larut dalam larutan alkali hidroksida dan dalam ammonia encer P Suhu lebur : kurang dari 2720C Susut pengeringan : tidak lebih dari 0. jenuh zat + lar. Pereaksi Tannin lar. Pereaksi Murexide Zat + HCl 25% + KCIO3 panas. Pereaksi Roux . Sewaktu menguap. sehari 1 g Pemerian : serbuk putih.3 Reagen Khusus untuk Identifikasi 1. larut dalam lebih kurang 120 bagian etanol (95%) P. teobromin) terbentuk warna merah-ungu.b –sisa kering merah coklat. kemudian dipanaskan di penangas air sampai kering. Zat uji + 2 ml amonia 10 % → kocok → diamkan (bandingkan dengan turunan xantin lain) 2. Sisa diberi beberapa tetes 6N NH3.5 % Sisa pemijaran : tidak lebih dari 0. Reaksi kristal dengan Dragendorf → amati kristal di bawah mikroskop 5. Zat uji + 1 ml NaOH → panaskan → setelah dingin + reagen sulfanilat + beberapa tetes NaNO2 10% +NaOH hingga basa → warna merah ungu 4. sedikit pahit Gambar Rumus Struktur Theophyllin : 1. di w. 2.

Brom : endapan putih stabil 8. Reaksi Teofilidin : 10 mg zat dan 1. karena adanya cahaya akan menyebabkan brom berubah menjadi hydrogen bromide. kemudian direaksikan dengan beberapa tetes larutan AgNO3 5%. Pereaksi Parri 1.3 Pembuatan Reagen 1. 2 mg zat dilarutkan dalam 1 ml air dengan pemanasan.2 gram KI dilarutkan dalam 50 ml air. Uap dapat langsung ditampung pada tabung reaksi dingin (tercelup dalam air es).0 mL 3N NaOH dipanaskan sampai mendidih.5 mL Aquadest 500 mL 1. simpan ditempat yang gelap. Aq. tutup rapat 2. Fluorescensi Zat padat – biru muda (ungu) Dalam H2SO4 dilarutkan – biru 6.hijau stabil (satu-satunya alkaloida yang memberi reaksi terhadap Roux) 4. Selanjutnya dipanaskan secara perlahan. Kocok campurannya secara kuat. Pereaksi Parri zat + Co(NO3)2 / methanol + Ammonia  ungu 5. Atau dapat langsung dialirkan ke dalam botol coklat berisi aquadest (diperoleh air brom atau aqua-bromata) 4.H2O dilarutkan dalam 30% b/v HNO3 + 27. terbentuk endapan putih agak kental yang tidak larut dalam amoniak encer 7. Dilarutkan Kobalt Clorida 2 gr dalam 1 ml HCl(P) + 100 mL aquadest . 3. tuangi dengan brom cair. Larutan dibiarkan selama 24 jam. Larutan dalam air + Ammonia dilarutkan + AgNO3 – endapan seperti gelatin yang larut dalam HNO3. Sesudah dingin larutan direaksikan dengan asam sulfanilat terdiazotasi. terbentuk warna merah 2. 5. 3. Reagen Aqua Brom Br2 cair 5. Theobromin : kuning tidak stabil 9. Reagen Zwikker Cu-pyridin 3 mL larutan CuSO4 10% + 1 mL pyridin + 5 mL aquadest 2. Reagen Dragendrof 8gram Bi(NO3)3. Siapkan 500 mL aquadest di dalam botol coklat 5oo mL bertutup. Saring lalu ad aquadest sampai 100 mL. Permbuatan brom cair : tuangkan H2SO4 6M ke dalam campuran serbuk NaBr dan serbuk MnO2 (dengan perbandingan mol 2:1) 4.

dimasukan dalam botol cokelat. larutan diambil .2. disaring. Campur 5.Nitroprusid 10 gr Aquadest 100 ml NaOH 2 ml KMnO4 5 ml 1. Pereaksi Roux Na. Dilarutkan Na. akan terbentuk endapan. sebaiknya di buat baru. Ditambahkan NaOH dan KMnO4.Nitroprusid dengan aquadest 2. Reaksi Roux: 1 tetes NaOH + 1 tetes KMnO4 + 20 tetes Na nitroprusid larutan dan endapan. Kobalt Nitrat dilarutkan sebanyak 2 gr dalam 100 ml aquadest 3. 3.

Botol semprot 3. Lar. Teofilina. Serbuk Theophyllin 4. Reagen Parri : 3. Pipet tetes 2. Serbuk Coffein 3. Pada residu tersebut tambahkan 1 tetes amoniak pekat : terbentuk warna merah violet. AgNO3 16. Reaksi positif diberikan oleh senyawa turunan xantin atau yang berinti purin seperti : Aminofilin. Kofeina.2 Bahan : CuSO4 1. HgCl2 13.3 Pembuatan Reagen : 1. Batang pengaduk 4. FeCl3 15. CoNO3 6. Teobromin. Reagen Zwikker : Pembuatan CuSO4 10% : 5 g CuSO4 dilarutkan dengan aquadest hingga 3. . I2 12. Pyridin 5.5ml larutan H2O2 dan 5 tetes asam klorida pekat. Amonia (P) 18. H2O2 7.4 g CoNO3 dilarutkan dengan aquadest hingga 50 mL 2. HNO3 17. H2SO4 19. panaskan diatas penangas air sampai kering : residu berwarna kuning merah. NaOH 9. HCl 11. NaHCO3 14.BAB III Metode Penelitian 3.1 Alat : 1. Penjepit tabung reaksi 6. Peraksi Murexide Pada 10 mg zat tambahkan 1. Etofilin. HCl(P) 8. Beaker glass 5. 10. Amonia 10% 3. Tabung reaksi 3. Aquadest 2.

Bentuk b. Cara pengujian Organoleptis a.4 Tabel Pengamatan : Tabel Pengamatan : No. Dilarutkan dalam H2SO4 Theofilin Caffein Padatan Tidak berbau Putih Lebih pahit dari Caffein Padatan serbuk kasar Tidak berbau Putih Pahit Sukar larut Sedikit larut Berfluorecense (biru) Tidak bereaksi 4. Warna d. Rasa Zat +2 ml amonia 10% kocokdiamkan Fluorecense a. Pereaksi Zwikker 6. HgCl2 Larutan jenuh +iod +HCl +NaOH 11. 3. Zat + aceton + aquadest Larutan hijau kebiruan (hijau tosca) Zat larut Putih berkilau Larut Sedikit larut lebih kental Larutan kuning bening + larutan orange (gel) Tidak bereaksi Larutan bening Tidak bereaksi Kuningtidak berwarna Larutan biru bening Putih berkilau Larut Larutan kuning bening + larutan orange (gel) putih Larutan bening Tidak bereaksi Kuningtidak berwarna . Pereaksi Murexide Zat uji+ Amonia (P) + 2mL AgNO3 + 2mL HNO3 1. larutan pink Tidak Berfluorecense Tidak bereaksi putih.3. 8. 11. larutan pink keunguan 5. FeCl3 + NaHCO3 10. 7. 2. Zat padat b. Lar. dalam air+amonia+ AgNO3 9. Bau c. Pereaksi Parri putih.

Reaksi ini terutama positif untuk furosemida (biru kuat). beberapa fenol juga memberikan warna seperti kanabinoid. dan sakarin Na (berwarna biru hanya dengan perekasi Zwikker I). hidroklortiazida. sedang koffein Tidak Berfluorecense. sulfonamida dan alkaloid pada suatu senyawa. coffein membentuk larutan ungu. mefrosida (biru-kelabu). Uji Reagen Parri adalah uji untuk mengetahui adanya golongan barbital. Basa hidroksida atau basa fosfat membentuk warna biru-hijau yang setelah ditambahkan pereaksi Zwikker II berubah menjadi biru tua atau ungu. Untuk fluoresensi dengan dilarutkan dalam H2SO4 kedua zat tidak menunjukkan adanya perubahan warna. beberapa sulfonamida. hidantoin. yaitu putih tidak berbau serta berbentuk padatan. yang membedakan keduanya adalah rasa. Pada praktikum kali ini kami hanya melakukan pemanasan dengan penanggas air namun zat tidak . glutetimida. Kedua senyawa baik teofilin maupun coffein membentuk endapan putih. Senyawa xantin yang banyak digunakan adalah Kafein. Warna ungu diberikan oleh alkaloid ergot. kanabinoid dan beberapa cincin indol memberikan warna merah yang berubah menjadi ungu jika diencerkan. Uji Pereaksi Zwikker positif untuk barbiturat. Hasil positif akan ditunjukkan dengan perubahan warna menjadi warna merah ungu. theofilin memeiliki rasa lebih pait dari koffein. dan purin akan memberikan warna ungu erhadap pereaksi zwikker. Jiak teofilin akan membentuk larutan pink. dan Teofilin. Teofilinlebih sukar larut karena memiliki senyawa seperti aminofilin yang merupakan alkali kuat. Uji Pereaksi Murexide di gunakan untuk membuktikan adanya senya purin. Untuk teopilin menghasilkan warna hijau kebiruan sedangkan coffein memberikan warna biru bening. Uji Amoniak 10 % menunjukkan bahwa teofilin sukar larut dan koffein sedikit larut. Secara organoleptis koffein dan theopilin memiliki warna. Uji fluoresensi Fluorecense dengan zat padat menunjukkan bahwa teofilin Berfluorecense (biru). Teobromin. nipagin M. bau serta bentuk yang sama. Reaksi positif ditunjukkan dengan perubahan warna menjadi warna ungu.BAB IV Pembahasan Xantin merupakan turunan alamiah Purina.

Berarti negatif memiliki gugus fenol. Uji dengan AgNO3 untuk teofilin akan sedkit larut dengan meaknisme reaksi : Mekanisme reaksi dengan HNO3 Uji FeCl3 adalah uji adanya gugus fenol dalam suatu senyawa.sampai kering. Mekanisme kerja NaHCO 3 adalah sebagai berikut : Uji dengan HgCl2 menghasilkan endapan putih untuk coffein dan tidak bereaksi untuk teofilin. Pada percobaan kali ini FeCl3 di tambahkan dengan NaHCO3 maka kedua senyawa tersebut akan menghasilkan larutanm kuning bening. sehingga kami hanya dapat melihat kelarutan pada kedua zat ini. Untuk teofilin larut. HgCl2 memiliki mekanisme reaksi sebagi berikut : . sedang coffein tidak larut.

Uji ini perlu adanya penambahan HCl dan NaOH untuk memberikan suasana baik asam maupun basa. Adapun mekanisme reaksi iod adalah sebagai berikut . Pada praktikum kali ini kedua zat tidak mengalami perubahsaan saat ditambah HCl. namun pada saat ditambah NaOH zat menaglami warna kuning hilang.Uji iod adalah uji untuk mengetahui adanya polisakarida dalam suatu senyawa.