Anda di halaman 1dari 5

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Saya bungsu dari empat bersaudara. Berasal dari sebuah keluarga yang tergolong menengah ke
bawah, ibu hanya penjual gorengan, sedangkan ayah cukup lama pensiun dari perusahaan minyak
goreng. Dengan kondisi demikian, praktis saya tidak pernah membayangkan kehidupan yang muluk-
muluk. Punya HP 3G, kendaraan roda dua terbaru, laptop, bahkan sekedar menyimpan kartu ATM,
bagi saya saat itu merupakan suatu impian yang mustahil diwujudkan.
Sampai suatu saat, ketika Allah swt mengijinkan saya untuk kuliah di salah satu Fakultas di
Univ. Jember, semuanya sedikit demi sedikit mulai berubah. Dimulai dengan menerima beasiswa PPA
(Peningkatan Prestasi Akademik), sehingga mengharuskan saya membuka rekening di salah satu bank.
Pada akhirnya menjadikan saya untuk pertama kalinya memiliki dan mengenal ATM.
Dari sini interaksi saya dengan dunia perbankan mulai tumbuh. Lebih-lebih di saat saya memiliki
kegiatan jual beli komputer di kalangan mahasiswa, dunia bank sepertinya menjadi salah satu atmosfer
dalam kehidupan saya, seperti beberapa peristiwa yang bisa saya tuturkan pada tulisan beriku ini.
Transfer Yang Pertama
Sebagai upaya menambah uang saku bulanan, mencari berbagai pekerjaan sampingan merupakan
cara paling baik selain dengan mengajukan beasiswa di Universitas. Lembaga bimbingan belajar, toko
- toko komputer, foto copy center, warnet, merupakan beberapa tempat favorit bagi mahasiswa untuk
menambah pemasukan selain dari beasiswa atau kiriman orang tua.
Saya sendiri memilih ikut ajakan seorang teman yang sudah bekerja sampingan di sebuah
perusahaan katering. Selain itu, ada satu sumber pemasukan lain yang bisa saya kerjakan, yaitu
membantu orang membelikan seperangkat komputer, biasanya yang paling sering adalah anak-anak
mahasiswa, terutama dari Fakultas Kedokteran Gigi atau Kedokteran.
Pada awalnya cara yang saya lakukan masih begitu sederhana, menerima uang muka, kemudian
berangkat ke Surabaya mencari barang, kemudian membawanya sendiri naik kereta. Sampai suatu
ketika, ada pesanan yang datang bersamaan dengan UAS. Dari sini semuanya berawal, karena saya
dihadapkan pada suatu permasalahan sepele yang seharusnya tidak terjadi jika saja saya sudah terbiasa
dengan dunia perbankan.
“Bagaimana cara melakukan transaksi jarak jauh ? Bagaimana membayarnya ?” Pikir saya saat
itu. Ya, sebuah permasalahan yang seharusnya tidak pantas dihadapi bagi seorang mahasiswa Jurusan
Ilmu Administrasi Niaga. Namun demikianlah kenyataannya, bukannya anti terhadap bank. Hanya
saja, ada sedikit ketakutan jika terjadi kesalahan mengirim, tentunya akan berakibat uang kita akan
menguap begitu saja. Seperti yang terjadi pada putranya bude di Jakarta.
Sampai akhirnya saya beranikan menelephon mbak Rini, Customer Service Surabaya Computer.
“Assalamu’alaikum, mbak Rini, gimana khabarnya ? sehat mbak ?, Mbak, kalo saya membayarnya
ditransfer bisa ? Ada no rekeningnya ? Berapa lama sampainya ?” Langsung serentetan pertanyaan
mengalir dari bibir saya, karena berharap segera menemui jalan keluarnya.
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik, mas Adi gimana ? Insya Allah bisa, kalo banknya sama,
langsung sampai, tapi kalo banknya beda sekitar satu dua hari. Lebih enak transfer lho mas, ga perlu
capek-capek ke Surabaya”. Jawaban mbak Rini tadi seakan membuka kebuntuan atas permasalahan
yang saya hadapi.
Segera saya catat no rekeningnya, setelah itu meluncur ke bank yang dimaksud oleh mbak Rini.
Sesampainya di dalam, seorang satpam menyambut dengan ramah. “Bisa dibantu mas ?” “Saya mau
transfer uang, tapi belum punya rekening disini”. “Tidak apa-apa mas, silahkan isi blangko setoran non
bank, kemudian ambil nomor antrian, dan bisa ditunggu di sebelah sana.” Demikianlah, pada akhirnya
saya tidak kesulitan lagi melakukan transaksi jarak jauh.
Tetapi ternyata transfer yang saya lakukan merupakan cara transfer yang konvensional. Ada cara
lain yang lebih mudah, cara ini saya ketahui lagi-lagi ketika menemui kesulitan saat bertransaksi.
Ceritanya, pada hari Jum’at ada seseorang yang ingin pesan komputer, dan ia butuhnya cepat,
sedangkan saat ia pesan waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Tentunya bank sudah tutup, dan
tidak mungkin transfer lewat bank pada hari Sabtu.
Di saat seperti itu, secara kebetulan seorang teman remaja masjid menghubungi lewat SMS.
“Ass, mas Adi sy bsa titip flashdisk 4 GB dua buah ? Insya Allah besok sy ambil brgnya,mksih”.
Tanpa banyak pertimbangan, langsung saya jawab, “Wass, wah kalo bsk g bsa, dana sy g ckup, msih
ada keperluan yg lain soalnya.”
Tanpa saya duga, teman saya kembali membalas, “Gpp mas, hbis ni sy stransfer 300rb,ok trims”.
“Transfer, sore ini”. Pikir saya masih belum paham. Karena merasa penasaran, apalagi lagi butuh
transfer uang juga, saya pun memberanikan diri bertanya, “Jam sgini trnsfer dmana dek ?”. “He…
ndeso.. Via ATM mas, pilih transaksi lainx, transfer, nanti tinggl masukkan kode bankx,sdh ad dftar
bankx”. O..saya baru sadar, selama ini menggunakan ATM hanya sebatas untuk mengambil uang saja,
ternyata bisa digunakan untuk transfer juga.
Yes…saya iyakan pesanan komputernya, kemudian langsung menghubungi mbak Rini untuk
disiapkan satu set komputer Dual Core besok hari Sabtu. Sabtu paginya saya bergegas pergi ke ATM,
saya ikuti petunjuk dari adek remas, “Oya..ini sebelah kanan bawah, transaksi lainnya, trus pilih
transfer, masukkan sandi bank, nah ini daftar banknya, benar juga kata adek remas.” “Terus masukkan
no rekeningnya, ada konfirmasi pemilik rekeningnya, jawab Ya, Ok, transaksi selesai”. Kriik…bunyi
kertas print outnya, Alhamdulillah, akhirnya berhasil.
“Ass,mbk Rini, barusn sy transfer 3jt, klo bsa hari ni dkirim,trims”. Langsung saya kirim SMS
ke mbak Rini selesai melakukan transfer. “Wass, iy mas, nanti sy cek, Insya Allah nanti siang
dikirim,mksih”. Jawaban mbak Rini tidak lama kemudian. Dan mulai saat itu saya begitu merasakan
banyak manfaat dari memiliki ATM sebuah bank, padahal saya yakin, masih banyak fasilitas yang
sebenarnya belum saya gunakan. Bukan apa-apa, karena memang masih belum tahu.
Sebuah Godaan
Pagi ini cuaca begitu mendukung untuk melakukan berbagai aktivitas. Padahal kemarin hujan
turun begitu lebatnya, bahkan membuat beberapa pohon di pinggir jalan menjadi tumbang. Keganasan
guyuran hujan di hari sebelumnya seakan tergantikan dengan terpaan sinar matahari yang tidak begitu
menyengat, dengan lapisan awan yang tipis, rasanya begitu nyaman untuk memulai suatu pekerjaan.
Tetangga sebelah pun sudah bersiap – siap mengeluarkan motornya, karena dia harus mengantarkan
putranya yang paling besar ke sekolah, sebelum dia sendiri berangkat kerja di sebuah kantor kelurahan
di Surabaya Barat.
Saya sendiri sudah mempunyai beberapa agenda yang harus saya kerjakan pada hari ini.
Mengambil uang di bank, transfer sejumlah uang untuk seorang teman di Wonosobo yang uangnya
sempat saya pinjam. Dilanjutkan pergi ke Hi Tech Mall untuk membeli seperangkat komputer,
kemudian mengantar ke Wiedas, sebuah jasa pengiriman yang terkenal murah, untuk dikirim kepada
pemesan di Jember.
Namun, meski sinar matahari sudah mulai terasa menyengat, karena jam sudah menunjukkan
pukul 09.30 WIB, saya masih asyik tidur – tiduran sambil menghitung – hitung pengeluaran di dalam
kamar. Semua agenda tadi sepertinya tertahan , transfer uang dari pemesan yang ada di Jember tak
kunjung masuk. Sang pemesan masih belum mengabarkan bahwa dia telah mengirim sejumlah uang.
“Nit … nit … nit”, bunyi si – emen C-45 yang dari tadi berada di samping bantal agak
mengagetkan diriku. Bunyi HP kuno yang begitu setia menemani aktivitasku itu menandakan ada SMS
yang masuk. Kuletakkan bulpen yang ada di tangan, segera kuraih HP mungil yang bandel itu.
Ternyata dugaan saya benar, ada sebuah SMS dari Joko Jember, pemesan komputer yang sejak
kemarin saya tunggu transfernya.
“Ass, mas Adi uangx sdh sy krim Rp 4jt, tlong dkasih progrm yg lengkp y, skalian game yg
kcil2, trims”. Demikian pesan singkat dari Joko Jember yang sudah lama saya tunggu. SMS tadi
seakan membangkitkan kembali gairah kerja pada diriku, yang entah kenapa dari tadi merasa begitu
suntuk. Barangkali merasa pesanan dari Joko akan dibatalkan.
“Mas Agung kontaknya ditaruh mana ?” Teriakku pada kakakku yang nomor tiga, satu – satunya
orang di rumah yang memiliki motor. “Coba lihat di atas lemari buku, kalo tidak ada cari di saku
celana yang saya jemur di luar”. Sahut kakakku yang hari ini hanya tidur – tiduran di kamar, tidak
masuk kerja karena mengeluh sakit kepala. Mungkin karena kemarin habis kehujanan sepulang kerja.
“Jalannya pelan – pelan aja ya, bannya sudah tipis soalnya”. Kakakku mengingatkan kembali,
kulihat wajahnya agak meringis menahan sakit di kepalanya yang tak kunjung berkurang.
“Ok, Insya Allah nanti saya belikan parasetamol mas”. Balasku sambil menuntun motor keluar
halaman.
Dapat lima menit perjalanan, saya sudah berada di area parkir bank. Karena jarak rumah dengan
bank memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 400 meter. “Tumben siang mas”, sapa Cak To dengan
senyumnya yang khas. Penjaga parkir bank itu kemudian menghampiriku sambil membawa beberapa
lembar karton yang biasa beliau gunakan untuk menutupi motor saat cuaca panas.
“Ada pesanan lagi ya mas, wah tambah ramai saja ordernya”, tanya Cak To sejurus kemudian
sebelum saya berjalan masuk ke dalam bank. “Alhamdulillah Cak, meski cuma satu”. Kataku singkat,
kemudian langsung menuju pintu bank, karena bisa lama jika harus melayani pembicaraan dengan
Cak To. Karena masih banyak agenda yang harus saya selesaikan saat ini.
Begitu masuk ke dalam, hembusan udara AC yang sejuk langsung membelai kulitku yang sudah
basah oleh keringat. Seorang satpam dengan santun menyambutku, “Bisa dibantu pak ?” Katanya
menawarkan diri, “Saya mau menarik uang tabungan”, jawabku. “Silahkan isi dulu blangko penarikan,
dan ini no antriannya, silahkan di tunggu di sana”, demikian satpam tadi mengarahkan dengan baik
sambil menunjuk beberapa deret tempat duduk yang berjajar rapi.
“Nomor seratus sebelas, di loket nomor dua”, Alhamdulillah, akhirnya sampai juga giliran saya,
kata saya dalam hati. “Bank memang salah satu perusahaan yang jarang salah memilih karyawannya”,
pikirku, karena saat ini aku.berhadapan dengan wanita yang bisa menggetarkan hati setiap pria,
Subhanallah !
“Tanda tangan dulu dua kali di baliknya” Pintanya kepada saya. Selang beberapa saat, “Ini,
empat juta rupiah, coba dihitung kembali”. Kata sang kasir kembali sambil memberikan empat ikat
uang ratusan ribu. “Iya mbak cukup, terima kasih”, kataku, kemudian segera pergi, karena semakin
banyak nasabah yang berdatangan.
“Rp. 5.650.000,- ?, Tidak salah ini ?”, saya sedikit terperanjat saat membaca saldo akhir hasil
print out di buku tabungan, sehingga tanpa sadar berhenti cukup lama di depan pintu masuk. Padahal
saldo terakhir adalah Rp. 1.650.000,-, jadi harusnya saldonya tidak jauh dari angka tersebut saat ini.
Saya masih keheranan, saya amati kembali beberapa transaksi yang terekam dalam print out
buku tabungan. “Ehm, Subhanallah, ada transfer empat juta rupiah dua kali”, saya berguman dalam
hati. “Dari sapa transfer yang kedua ini ?” Pikiran saya mencoba mencari jawaban, karena setahu saya
memang hanya Joko saja yang memesan komputer.
“Cak To”, panggilku sambil menyodorkan selembar uang ribuan ke tukang parkir yang ramah
tadi, kemudian bergegas meninggalkan bank, tanpa berharap Cak To mengajak basa basi lagi. “Suwun
mas”, teriak Cak To, karena saya tidak mengharap uang kembaliannya.
“Wah akhirnya bisa untuk beli Astrea grand ’93, atau laptop second pentium 4”, pikiranku
dipenuhi keinginan yang macam-macam selama perjalanan ke Hi Tech Mall. “Ada apa mas, kok
kelihatan seneng”, tanya mbak Rini, customer service Surabaya Computer yang murah senyuman.
“Tidak ada mbak, ini pesan satu set komputer Core 2 Duo”, kataku sambil menyodorkan spesifikasi
komputer yang saya butuhkan.
“Semuanya berapa mbak ?” tanyaku kemudian, karena tidak ingin berlama – lama di sana. “Tiga
juta empat ratus ribu”, jawab mbak Rini sambil memberikan perinciannya. “Yang benar mbak, ndak
salah hitung ?”, saya kaget untuk yang kedua kalinya. Karena dengan harga tiga juta enam ratus ribu
rupiah saja sudah sangat murah bagi saya. “Subhanallah, dapat lebihan lagi.” Sulit rasanya
menggambarkan perasaan saya saat itu. Tanpa menawar lagi, langsung saya berikan sejumlah uang
yang tertera di nota sementara yang diberikan oleh mbak Rini. “Ini mbak uangnnya, sekalian titip di
paketnya pake Wiedas ya”, setelah dihitung, segera saya berpamitan, karena sudah banyak pembeli
yang mengantri di belakang.
Sampai malam cuaca masih cerah, sambil tiduran pikiran saya masih terpaut pada empat juta
hasil trasfer yang kedua. “Ini bukan dari saudara atau teman, atau pesanan orang, Subhanallah, ini pasti
kesalahan petugas bank”. Saya terus berpikir, “Baiklah, kalo sampai besok saldonya masih tetap, coba
akan saya tanyakan asal usulnya ke pihak bank, karena jika saya ambil uangnya sekarang, saya takut
menyusahkan petugas bank yang melakukan kesalahan tadi”.
Keesokan paginya, saya bergegas berangkat menuju ATM terdekat, sekalian mengambil Rp.
100.000,- untuk keperluan biaya balik ke Jember, sebab uang enam ratus ribu kembalian belanja
komputer sudah saya pake untuk membeli beberapa flashdisk pesanan. Saat print out keluar, entah
kenapa hati terasa bedebar-debar. Kuambil secarik kertas yang keluar dari ATM, kuamati saldo yang
tertera di kertas itu, “Ya, Rp. 1.550.000, -“, gumanku dalam hati sedikit kecewa. Tapi syukurlah, saya
terhindar dari memakan harta yang bukan hak saya, sekaligus menyusahkan banyak pihak.
Beberapa hari kemudian saat menabung, baru saya ketahui adanya koreksi terhadap transfer yang
kedua, dari print out yang ada di buku tabungan. Jadi kesimpulannya, kasirnya telah mengirim dua
kali. Cuma terkadang terasa tidak adil, sebab, jika yang melakukan kesalahan adalah nasabah,
misalnya seorang nasabah salah kirim, maka ia tidak dapat merubah rekening yang menjadi tujuan
kiriman. Dari sini saya juga menyadari, secanggih-canggihnya sistem komputerisasi perbankan,
ternyata masih sangat bergantung dengan operatornya atawa orang yang mengendalikannya.