Anda di halaman 1dari 8

KESELAMATAN INDUSTRI DAN PENGOLAHAN

LIMBAH INDUSTRI

Oleh:
Pramudita nurul kartika aji
5213412020

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering disebut
dengan safety, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan
sebagai suatu pengetahuan dan penerpannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Di Indonesia keselamatan kerja diatur dalam UndangUndang Nomor 1 Tahun 1970. : (1) tempat kerja yang menggunakan mesin, pesawat,
perkakas, (2) tempat kerja pembangunan perbaikan, perawatan, pembersihan atau
pembongkaran gedung, (3) tempat usaha pertanian, perkebunan, pekerjaan hutan, (4)
pekerjaan usaha pertambangan dan pengelolahan emas, perak, logam, serta biji logam
lainnya, dan (5) tempat pengangkutan barang, binatang, dan manusia baik di daratan, melalui
terowongan, permukaan air, dalam air dan di udara. Sesuai dengan Undang-Undang
tersebut, maka tempat yang telah disebutkan harus dilakukan pelaksanaan prosedur K3.
Uraian Undang-Undang No1 Tahun 1970
Secara Etimologis : Memberikan upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga
kerja dan orang lain di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat dan agar setiap
sumber produksi perlu dipakai dan digunakan secara aman dan efisien
Secara Filosofi : Suatu konsep berfikir dan upaya nyata untuk menjamin kelestarian
tenaga kerja dan setiap insan pada umumnya beserta hasil karya dan budaya dalam upaya
mencapai adil, makmur dan sejahtera
Secara Keilmuan : Suatu cabang ilmu pengetahuan dan penerapan yang mempelajari
tentang cara penanggulangan kecelakaan di tempat kerja
Undang-undang ini mengatur tentang:

Kewajiban pengurus (pimpinan tempat kerja)


Kewajiban dan hak pekerja
Kewenangan Menteri Tenaga Kerja untuk membentuk Panitia
Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) guna mengembangkan kerja
sama, saling pengertian dan partisipasi aktif dari pengusaha atau pengurus dan pekerja
di tempat-tempat kerja, dalam rangka melancarkan usaha berproduksi dan
meningkatkan produktivitas kerja.
Ancaman pidana atas pelanggaran peraturan ini dengan hukuman kurungan selamalamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.100.000, (seratus ribu rupiah)
Tujuan K3:
1. Melindungi tenaga kerja, sehingga lebih mampu berproduksi secara maksimal dalam
bekerja.
2. Melindungi orang lain, sehingga jika berada di tempat kerja orang lain yang
didatanginya ia akan selamat dan sehat dalam bekerja.

3. Mengamani barang, bahan dan peralatan produksi, sehingga barang, bahan, serta alat
produksi akan lebih awet dan tahan lama.
4. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja, sehingga berkuranglah resiko dalam
bekerja misalnya terbakar, tersiram, tertumpah, tertindih, dan sebagainya.
5. Keamanan lingkungan kerja, sehingga kita betah dan tidak was-was hati bila berada di
tempat kerja.

Sistem Kerja dari K3


Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan kerja, dalam

melakukan pekerjaan perlu dipertimbangkan berbagai potensi bahaya serta resiko yang bisa
terjadi akibat sistem kerja atau cara kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan serta
lingkungan disamping faktor manusianya. Istilah hazard atau potensi bahaya menunjukan
adanya sesuatu yang potensial untuk mengakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau
kerugian yang dapat dialami oleh tenaga kerja atau instansi. Sedang kemungkinan potensi
bahaya menjadi manifest, sering disebut resiko. Baik hazard maupun resiko tidak
selamanya menjadi bahaya, asalkan upaya pengendaliannya dilaksanakan dengan baik.
Pada lingkungan kerja, kesehatan dan kinerja seorang pekerja dipengaruhi oleh:
1. Beban Kerja.
Berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya penempatan pekerja
yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.
2. Spesifikasi dan Kuantitas Pekerjaan.
Hal ini bergantung pada pendidikan, keterampilan, kesegaran jasmani, ukuran tubuh
dan sebagainya.
3. Lingkungan Kerja.
Faktor fisik, kimia, biologik, ergonomik, maupun aspek psikososial.
Manajemen resiko merupakan strategi penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di
tempat kerja, dalam mewujudkan lingkungan kerja yang aman, nyaman dan sehat serta

melindungi dan meningkatkan pemberdayaan pekerja yang sehat, selamat dan berkinerja
tinggi. Pada prinsipnya manajemen resiko merupakan upaya mengurangi dampak negatif dari
resiko yang dapat mengakibatkan kerugian pada aset organisasi baik berupa manusia,
material, mesin, metode, hasil produksi maupun finansial.
Ditempat kerja, potensi bahaya sebagai sumber resiko akan selalu dijumpai baik yang
berasal dari faktor fisik, faktor kimia, faktor biologis, aspek ergonomi, stressor, listrik dan
sumber energi lain, mesin, sistem manajemen perusahaan bahkan pelaksana atau operator.
Melalui analisis dan evaluasi semua potensi bahaya dan resiko, diupayakan tindakan
minimalisasi atau pengendalian agar tidak terjadi bencana atau kerugian lainnya. Langkahlangkah yang biasanya dilaksanakan dalam penilaian resiko, antara lain:
1. Menentukan tim penilai.
Penilai bisa berasal dari intern perusahaan atau dibantu pihak lain (konsultan)
di luar perusahaan yang memiliki kompetensi baik dalam pengetahuan, kewenangan
maupun kemampuan lainnya yang berkaitan.
2. Menentukan obyek atau bagian yang akan dinilai.
Obyek atau bagian yang akan dinilai dapat dibedakan menurut bagian atau
departemen, jenis pekerjaan, proses produksi dan sebagainya. Penentuan obyek ini
sangat membantu dalam sistematika kerja penilai.
3. Kunjungan atau inspeksi tempat kerja.
Kegiatan ini dapat dimulai melalui suatu walk through survey atau
inspection yang bersifat umum sampai kepada inspeksi yang lebih detail. Dalam
kegiatan ini prinsip utamanya adalah melihat, mendengar dan mencatat semua
keadaan di tempat kerja baik mengenai bagian kegiatan, proses, bahan, jumlah
pekerja, kondisi lingkungan, cara kerja, teknologi pengendalian, alat pelindung diri
dan hal lain yang terkait.
4. Identifikasi potensi bahaya.

Dapat dilakukan melalui informasi mengenai data kecelakaan kerja, penyakit


dan absensi. Laporan dari Panitia Pengawas Kesehatandan Keselamatan Kerja
(P2K3), supervisor dan keluhan yang dialami pekerja.
5. Mencari informasi atau data potensi bahaya.
Upaya ini dapat dilakukan misalnya melalui kepustakaan, mempelajari MSDS,
petunjuk teknis, standar, pengalaman atau informasi lain yang relevan.
6. Analisis resiko.
Dalam kegiatan ini, semua jenis resiko, akibat yang bisa terjadi, tingkat
keparahan, frekuensi kejadian, cara pencegahannya, atau rencana tindakan untuk
mengatasi resiko tersebut dibahas secara rinci dan dicatat selengkap mungkin.
7. Evalusi resiko.
Memprediksi tingkat resiko melalui evaluasi yang akurat merupakan langkah
yang sangat menentukan dalam rangkaian penilaian risiko. Konsultasi dan nasehat
dari para ahli seringkali dibutuhkan pada tahap analisis dan evaluasi resiko.
8. Menentukan langkah pengendalian
Apabila dari hasil evaluasi menunjukan adanya resiko membahayakan bagi
kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja perlu ditentukan
langkah pengendalian, seperti :
a. Memilih teknologi pengendalian seperti eliminasi, substitusi, isolasi, engineering
control, pengendalian administratif, pelindung peralatan/mesin atau pelindung diri.
b. Menyusun program pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
berkaitan dengan resiko.
c. Menentukan upaya monitoring terhadap lingkungan atau tempat kerja.
d. Menentukan perlu atau tidaknya survailans kesehatan kerja melalui pengujian
kesehatan berkala, pemantauan biomedik, audiometri dan lain-lain.

e. Menyelenggarakan prosedur tanggap darurat atau emergensi dan pertolongan


pertama sesuai dengan kebutuhan.
9. Menyusun pelaporan.
Seluruh kegiatan yang dilakukan dalam penilaian risiko harus dicatat dan
disusun sebagai bahan pelaporan secara tertulis.
10. Pengkajian ulang penelitian.
Pengkajian ulang perlu senantiasa dilakukan dalam periode tertentu atau bila
terdapat perubahan dalam proses produksi, kemajuan teknologi, pengembangan
informasi terbaru dan sebagainya, guna perbaikan berkelanjutan penilaian risiko
tersebut.
Contoh dan Aplikasi K3
Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja
sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di
sekelilingnya. Kewajiban itu sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departement Tenaga
Kerja Republik Indonesia Ada beberapa peralatan yang digunakan untuk melindungi
seseorang dari kecelakaan ataupun bahaya yang kemungkinan bisa terjadi. Peralatan ini wajib
digunakan oleh seseorang yang bekerja, seperti:
1. Pakaian Kerja
Tujuan pemakaian pakaian kerja adalah melindungi badan manusia terhadap
pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan.
2. Sepatu Kerja
Sepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap
pekerja perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bisa bebas berjalan
dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari
bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup kerja supaya kaki tidak terluka kalau
tertimpa benda dari atas.

3. Kacamata kerja
Kacamata digunakan untuk melindungi mata dari debu atau serpihan besi yang
berterbangan di tiup angin. Oleh karenanya mata perlu diberikan perlindungan.
Biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata adalah mengelas.
4. Sarung Tangan
Sarung tangan sangat diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan. Tujuan
utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari benda-benda keras
dan mengangkat barang berbahaya. Pekerjaan yang sifatnya berulang seperti
mendorong gerobak secara terus menerus dapat mengakibatkan lecet pada tangan
yang bersentuhan dengan besi pada gerobak.
5. Helm
Helm sangat penting digunakan sebagai pelindung kepala dan sudah
merupakan keharusan bagi setiap pekerja untuk menggunakannya dengan benar
sesuai peraturan.
6. Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan
menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1,8 meter.
7. Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff)
Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.
8. Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan
kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).
9. Pelindung wajah (Face Shield)
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja
(misal pekerjaan menggerinda).