Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

PENCARIAN KASUS (CASE FINDING)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah epidemiologi semester V

Di Susun Oleh :
1. Ari Sugiarti

(B1000535)

2. Windha Setyowati

(B1000544)

3. Riska Kusumawardani

(B1000546)

4. Anisa Amalia

(B1000548)

5. Rini Budiati

(B1000541)

6. Riang Aprilia

(B1000564)

7. Ayuning T

(B1000556)

8. Dwi S

(B1000541)

9. Ika W

(B1000558)

10. Retno M

(B1000554)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG

PRODI DIII KEBIDANAN
Tahun 2011/2012

Si. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. M.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. 3. Orang tua yang selalu memberikan support dan doanya. S. 2. oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan tugas ini. SKM . Gombong. Rekan-rekan seperjuangan yang telah memberikan dukungan dan kerjasama selama pembuatan tugas ini. November 2012 Penulis .T selaku Ketua Program Studi DIII Kebidanan. yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. selaku dosen dari Epidemiologi. Bapak Sarwono. 5. 4.Kes selaku Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong. Adapun makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Epidemiologi. Penulis menyadari bahwa tugas ini jauh dari sempurna. Ibu Hastin Ika Indriyastuti. Bapak Giatmo. Besar harapan penulis semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.

Subjek dan objek epidemiologi adalah tentang masalah kesehatan. Apabila suatu masalah kesehatan tidak . dilakukan berbagai upaya untuk menemukan serta merumuskan masalah kesehatan dimasyarakat. Yang paling penting adalah pelayanan masyarakat yang dimaksud harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk mengatasinya.BAB I PENDAHULUAN A. telah diperoleh semacam kesepakatan bahwa perumusan kebutuhan kesehatan dapat dilakukan jika diketahui masalah kesehatan dimasyarakat. dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan masyarakat perlulah disediakan dan diselenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services) yang sebaik-baiknya. banyak yang harus diperhatikan. pemahaman tentang masalah kesehatan berupa penyakit amatlah penting. Dengan kesepakatan yang seperti ini diupayakanlah menemukan masalah kesehatan yang ada dimasyarakat tersebut. Namun sekalipun terdapat kesesuaian yang seperti ini telah menjadi kesepakatan semua pihak. Untuk dapat menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan tersebut. Ditinjau dari sudut epidemiologi. berpedoman pada kesepakatan yang seperti ini. Demikianlah. Karena sebenarnya berbagai masalah kesehatan yang bukan penyakit hanya akan mempunyai arti apabila ada hubungannya dengan soal penyakit. penyebaran serta faktor-faktor yang mempengaruhi frekuansi dan penyebaran disuatu masalah kesehatan dimasyarakat tercakup dalam suatu cabang ilmu khusus yang disebut dengan nama Epidemiologi. Upaya tersebut dikaitkan dengan menentukan frekuensi. mencegah. Latar Belakang Telah diketahui bahwa untuk dapat memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. namun dalam praktek sehari-hari tidaklah mudah dalam menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dimaksud.

. TUJUAN a. Kepentingan dalam epidemiologi paling tidak untuk mengenal ada atau tidaknya suatu penyakit di masyarakat sedemikian rupa sehingga ketika dilakukan pengukuran tidak ada yang sampai luput atau tercampur dengan penyakit lainnya yang berbeda. maka perlulah dipahami dengan sebaik-baiknya hal ikhwal yang berkaitan dengan penyakit tersebut. maka pada lazimnya masalah kesehatan tersebut tidak terlalu diperioritaskan penanggulangannya. Tujuan Khusus  Mahasiswa mampu mengetahui apa itu case finding.sangkut pautnya dengan soal penyakit. Tujuan Umum Untuk mengetahui ilmu epidemiologi tentang penemuan masalah kesehatan melalui case finding dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah karena pentingnya soal penyakit ini. Mahasiswa mampu menerapkan penemuan masalah kesehatan melalui case finding dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. b.  Mahasiswa mampu memahami tentang case finding.. B.

Cara kerjanya dengan =screening. Hal ini merupakan bagian dari penanggulangan wabah. Ada dua (2) macam case finding yaitu: 1. Contoh Kasus 1. bedanya dengan skrining kelompok masyarakat yang di tuju adalah mereka yang dicurigai terkena penyakit. pencarian data hanya mengandalkan laporan yang ada. Penanggulangan Tuberkulosis (TB) Paru di Indonesia menggunakan strategi DOTS (Directly Observed .BAB II PEMBAHASAN A. Ada 2 macam active case finding yaitu : 1. Forward tracing (telusur ke depan)  Untuk mencari penduduk yang baru  Dikumpulkan data tentang orang-orang yang pernah berhubungan dengan penduduk setelah pppenduduk tersebut terserang penyakit. 2. 2. Pasive Case Finding. Active Case Finding Active Case Finding. Backward tracing (telusur ke belakang)  Tujuan umumnya mencari sumber penularan  Dikumpulkan data tentang orang-orang yang pernah berhubungan dengan penduduk sebelum penduduk itu sakit. Active Case Finding dalam penanggulangan TB Paru TB Paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pengertian Case Finding (pencarian kasus) merupakan penelusuran terhadap kasus yang ada untuk mencari sumber penularan dan atau mencari ada atau tidak ada penderita di masyarakat. B.

000 penderita TB baru (44. TB Paru termasuk dalam 10 besar penyebab kematian pasien rawat inap di rumah sakit selama tahun 2000-2001 (Depkes. 2001).Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan WHO sejak tahun 1995 (Slamet H.9% dari 583. Penjaringan tersangka TB Paru dilaksanakan hanya pada penderita yang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan terutama Puskesmas sehingga penderita yang tidak datang masih menjadi sumber penularan yang potensial. Strategi passive case finding kurang maksimal untuk diterapkan terutama dalam percepatan penanganan penyakit TB yang telah menjadi bahaya global (Depkes. pemeriksaan dan pengobatan TB Paru sejauh ini masih belum diterapkan. TB Paru tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang dengan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi (Depkes. Penemuan penderita TB Paru dalam strategi DOTS dilakukan secara pasif (passive case finding). TB Paru menjadi penyebab kematian terbesar ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan saluran pernafasan (Suvei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995). 2004). Penemuan penderita TB Paru secara aktif di masyarakat sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut tetapi kendala di lapangan adalah jumlah tenaga kesehatan yang ada sangat terbatas.000 penderita TB baru) dan 140. yang setiap tahun terdapat 262. Program pemberantasan TB Paru menjadi sangat penting untuk dilakukan karena sejak tahun 1999 kasus TB Paru di Indonesia cenderung meningkat sehingga pelaksanaan DOTS secara passive case finding perlu ditinjau ulang. WHO memperkirakan pada tahun 2001 Indonesia merupakan negara dengan kasus TB terbesar ke-3 di dunia. . 2001). 2001).000 orang meninggal (Depkes. 2002). Metode active case finding yang dilakukan oleh kader masyarakat untuk meningkatkan angka cakupan (coverage) penemuan.

Peningkatan kasus TB Paru dari tahun ke tahun dan terbatasnya pelayanan petugas kesehatan. memotivasi dan melakukan supervisi terhadap pengawas menelan obat (PMO). 2001:40). Kader masyarakat di masing-masing wilayah diberikan pendidikan kesehatan mengenai TB Paru yang selanjutnya secara aktif mencari. Pemberdayaan kader masyarakat secara active case finding diharapkan . rumah sakit pemerintah. Alternatif program pemberantasan TB Paru adalah DOTS dengan Active Case Finding dengan melibatkan peran serta masyarakat. 2003). Penemuan penderita TB Paru secara aktif di masyarakat sangat diperlukan. kemudian 2002 meningkat menjadi 30% (target 40%). memerlukan adanya peran serta masyarakat dalam program pemberantasan TB Paru.Penanggulangan TB dengan strategi DOTS diharapkan memberi angka kesembuhan yang tinggi tetapi belum dapat menjangkau seluruh puskesmas. 2004). Pemerintah yang masih menekankan metode passive case finding mengakibatkan penderita TB Paru aktif di masyarakat akan semakin underreported (Tjandra YA. Cakupan DOTS pada tahun 19951998 mencapai 10% dan error rate pemeriksaan laboratorium belum dihitung meskipun cure rate lebih dari 85%. Penderita TB yang ditemukan dan diobati pada 2001 sekitar 19-20% (target 30%). Pemerintah menargetkan pada tahun 2004 pengobatan penderita TB Paru sebesar 60% dan 2005 sebesar 70% dengan angka kesembuhan 85% (Umar Fahmi.88%. Cakupan penemuan penderita TB Paru BTA positif di Propinsi Jawa Timur pada tahun 2000 sebesar 10. hal ini diasumsikan BP4 Paru tidak menyelenggarakan kegiatan proaktif keluar gedung (Dinkes Jatim. Program active case finding adalah cara menjaring penderita TB Paru dengan melibatkan peran kader masyarakat. dan pada 2003 mencapai 47% (target 50%). swasta dan unit pelayanan kesehatan lainnya.

.dapat meningkatkan cakupan penemuan. pemeriksaan dan pengobatan penderita TB Paru dalam strategi DOTS.

B. Pasive Case Finding. Active Case Finding Ada 2 macam active case finding yaitu :Backward tracing (telusur ke belakang) dan Forward tracing (telusur ke depan) b. pencarian data hanya mengandalkan laporan yang ada. Ada dua (2) macam case finding yaitu: a.BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Case Finding (pencarian kasus) merupakan penelusuran terhadap kasus yang ada untuk mencari sumber penularan dan atau mencari ada atau tidak ada penderita di masyarakat. Saran Diharapkan mahasiswa mampu menyelesaikan penemuan masalah kesehatan secara menyeluruh. .

DAFTAR PUSTAKA Budiarto. Jakarta: EGC . 2002: Pengantar Epidemiologi. 2002: Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta : EGC Dewi Anggraeni. Eko.