Anda di halaman 1dari 13

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
NOMOR : ....................
TENTANG
DIVESTASI SAHAM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
Menimbang :

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 99


Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Petambangan Mineral dan
Batubara, perlu menetapkan Peraturan Menteri tentang
Divestasi Saham;

Mengingat :

1.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang


Penanaman
Modal
(Lembaran
Negara
Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4724);

2.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang


Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4756);

3.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang


Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);

4.

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang


Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5111);
MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA


MINERAL TENTANG DIVESTASI SAHAM.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.

Badan usaha swasta adalah badan usaha yang bergerak


di bidang pertambangan dan berbadan hukum Indonesia
yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh
swasta.

2.

Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP,


adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan.

3.

Izin usaha pertambangan khusus, yang selanjutnya


disebut IUPK, adalah izin untuk melaksanakan usaha
pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan
khusus.

4.

IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan


setelah selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk
melakukan tahap kegiatan operasi produksi.

5.

IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan


setelah selesai pelaksanaan IUPK Eksplorasi untuk
melakukan tahapan kegiatan operasi produksi di wilayah
izin usaha pertambangan khusus.

6.

Badan usaha milik negara, yang selanjutnya disebut


BUMN, adalah BUMN yang bergerak di bidang
pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

7.

Badan usaha milik daerah, yang selanjutnya disebut


BUMD, adalah BUMD yang bergerak di bidang
pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

8.

Badan usaha swasta nasional adalah badan usaha, baik


yang berbadan hukum maupun yang bukan berbadan
hukum, yang kepemilikan sahamnya 100% (seratus
persen) dalam negeri.

9.

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orangseorang


atau
badan
hukum
koperasi
dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi
sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar
atas asas kekeluargaan.

10. Perseorangan adalah orang perseorangan, perusahaan


firma, atau perusahaan komanditer Indonesia.
11. Divestasi saham adalah jumlah saham asing yang harus
ditawarkan untuk dijual kepada peserta Indonesia.
12. Rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya
disebut RUPS, adalah Organ Perseroan yang mempunyai
wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau
Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam
Undang-Undang Perseroan Terbatas dan/atau anggaran
dasar.

13. Penawaran langsung adalah penjualan saham divestasi


secara langsung kepada Pemerintah atau pemerintah
daerah.
14. Lelang adalah penjualan saham divestasi terbuka untuk
BUMN/BUMD atau badan usaha swasta nasional dengan
penawaran harga secara tertulis yang semakin
meningkat untuk mencapai harga tertinggi yang
didahului dengan pengumuman lelang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
15. Panitia lelang adalah orang yang khusus diberi
wewenang oleh Menteri untuk melaksanakan penjualan
saham divestasi secara lelang.
16. Pengumuman Lelang adalah pemberitahuan kepada
BUMN/BUMD atau badan usaha swasta nasional
tentang akan adanya lelang divestasi saham dengan
maksud untuk menghimpun peminat lelang dan
pemberitahuan kepada pihak yang berkepentingan.
17. Berita acara adalah berita acara pelaksanaan lelang
divestasi saham yang dibuat oleh panitia lelang, memuat
penetapan pemenang lelang yang merupakan akta
otentik dan mempunyai kekuatan pembuktian sempurna
bagi para pihak.
18. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah
adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
19. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau
walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
20. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pertambangan mineral dan
batubara.
21. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang tugas
dan tanggung jawabnya di bidang mineral, batubara dan
panas bumi.
BAB II
PELAKSANAAN DIVESTASI SAHAM
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 2
(1) Badan usaha swasta pemegang IUP Operasi Produksi dan
IUPK Operasi Produksi yang komposisi sahamnya kurang
dari 20% dimiliki oleh BUMN, BUMD, badan usaha swasta
nasional,
koperasi,
dan/atau
perseorangan
wajib
melakukan divestasi saham dalam jangka waktu paling

lambat 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak 5 (lima)


tahun berproduksi pada tahap kegiatan penambangan.
(2) Divestasi saham hanya dapat dilakukan terhadap saham
dengan hak suara.
(3) Saham yang ditawarkan di bursa saham tidak termasuk
dalam divestasi saham yang diatur dalam Peraturan
Menteri ini.
Pasal 3
(1) Divestasi saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
dilakukan kepada peserta Indonesia dengan cara:
a. penawaran langsung; atau
b. lelang.
(2) Penawaran langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a ditujukan kepada Pemerintah dan pemerintah
daerah secara berjenjang.
(3) Lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
ditujukan kepada BUMN, BUMD, dan/atau badan usaha
swasta nasional secara berjenjang.
Bagian Kedua
Persyarataan Divestasi Saham Bagi Badan Usaha Swasta
Pasal 4
(1) Badan usaha swasta pemegang IUP Operasi Produksi dan
IUPK Operasi Produksi yang akan melakukan divestasi
saham wajib menyampaikan rancangan divestasi saham
secara tertulis kepada Menteri dengan tembusan kepada
gubernur atau bupati/walikota setempat dalam jangka
waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari kalender
sebelum penawaran langsung sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dilakukan.
(2) Rancangan divestasi saham sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) wajib disetujui oleh Rapat Umum Pemegang
Saham atau Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.
(3) Dalam rancangan divestasi saham sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) wajib memuat:
a. waktu pelaksanaan divestasi saham;
b. jumlah saham yang akan ditawarkan atau dilelang
dalam rangka divestasi saham;
c. harga dasar saham yang tercantum dalam anggaran
dasar;
d. hasil keputusan RUPS;
e. laporan keuangan 5 (lima) tahun terakhir yang telah
diaudit akuntan publik; dan

f. anggaran dasar badan usaha swasta yang melakukan


divestasi saham.
Pasal 5
(1) Menteri menyampaikan tanda terima bukti penyerahan
rancangan divestasi saham sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (3) kepada badan usaha swasta pemegang IUP
Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya rancangan
divestasi saham.
(2) Dalam hal badan usaha swasta pemegang IUP Operasi
Produksi dan IUPK Operasi Produksi tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3),
Menteri mengembalikan rancangan divestasi kepada badan
usaha swasta pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK
Operasi Produksi untuk dilengkapi.
Bagian Ketiga
Mekanisme Penetapan Harga Divestasi Saham
Pasal 6
(1) Harga divestasi saham ditetapkan oleh Menteri.
(2) Harga divestasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan berdasarkan jumlah biaya investasi yang
dikeluarkan oleh pemegang IUP Operasi Produksi atau
IUPK Operasi Produksi sejak eksplorasi sampai dengan
tahun kelima tahap kegiatan penambangan dikurangi
depresiasi/amortisasi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Menteri menyusun rancangan harga divestasi saham
dalam jangka waktu 45 (empat puluh lima) hari kalender
sejak rancangan divestasi saham diterima.
(4) Menteri dalam menyusun rancangan harga saham
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) melakukan
konsultasi dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal
dan Badan Pengawas Pasar Modal.
(5) Menteri menetapkan harga divestasi saham dalam jangka
waktu 7 (tujuh) hari sejak jangka waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) berakhir.
(6) Menteri menyampaikan harga divestasi saham yang telah
ditetapkan kepada badan usaha swasta dengan tembusan
kepada gubernur atau bupati/walikota setempat dalam
jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah
penetapan harga divestasi saham sebagaimana dimaksud
pada ayat (5).
Bagian Keempat
Penawaran Langsung
Pasal 7

(1) Badan usaha swasta pemegang IUP Operasi Produksi dan


IUPK Operasi Produksi menyampaikan penawaran
langsung kepada pemerintah pada waktu yang telah
ditentukan dalam rancangan divestasi saham sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a.
(2) Pemerintah dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam
puluh) hari kalender setelah tanggal penawaran langsung
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
harus
menyampaikan pernyataan minat.
(3) Pernyataan minat sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
wajib disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan
jumlah saham yang akan dibeli.
(4) Dalam hal Pemerintah berminat terhadap sebagian atau
seluruh saham yang ditawarkan oleh badan usaha swasta,
pembayaran dan penyerahan saham dilaksanakan dalam
jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari
kalender setelah tanggal pernyataan minat.
(5) Dalam hal Pemerintah tidak menyampaikan pernyataan
minat dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kalender
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) maka Pemerintah
dianggap tidak berminat terhadap penawaran divestasi
saham.
(6) Dalam hal Pemerintah berminat sebagian atau tidak
berminat terhadap penawaran langsung sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) maka badan usaha swasta yang
akan melakukan divestasi saham wajib menyampaikan
penawaran langsung kepada pemerintah daerah provinsi
dan/atau pemerintah daerah kabupaten/kota setempat
dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja
setelah pernyataan berminat sebagian dari Pemerintah
atau jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berakhir.
Pasal 8
(1) Pemerintah daerah provinsi dan/atau pemerintah daerah
kabupaten/kota dalam jangka waktu paling lambat 60
(enam puluh) hari kalender setelah tanggal penawaran
langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (6)
harus menyampaikan pernyataan minat.
(2) Pernyataan minat sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
harus disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan
jumlah saham yang akan dibeli.
(3) Dalam hal pemerintah daerah provinsi dan/atau
pemerintah daerah kabupaten/kota berminat terhadap
sebagian atau seluruh saham yang ditawarkan oleh badan
usaha swasta, pembayaran dan penyerahan saham
dilaksanakan dalam jangka waktu paling lambat 90
(sembilan puluh) hari kalender setelah tanggal pernyataan
minat.
(4) Dalam hal pemerintah daerah provinsi dan/atau
pemerintah daerah kabupaten/kota tidak menyampaikan
pernyataan minat dalam jangka waktu 60 (enam puluh)

hari kalender sebagaimana dimaksud pada ayat (2) maka


pemerintah daerah provinsi dan/atau pemerintah daerah
kabupaten/kota dianggap tidak berminat terhadap
penawaran divestasi saham.
(5) Dalam hal pemerintah daerah provinsi dan/atau
pemerintah daerah kabupaten/kota berminat sebagian
atau tidak berminat terhadap penawaran langsung
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka badan usaha
swasta
yang
akan
melakukan
divestasi
saham
menyampaikan pemberitahuan kepada Menteri untuk
membentuk panitia lelang divestasi saham dalam jangka
waktu 5 (lima) hari kerja setelah pernyataan berminat
sebagian dari pemerintah daerah provinsi dan/atau
pemerintah daerah kabupaten/kota atau jangka waktu
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berakhir.
Pasal 9
(1) Dalam hal jumlah saham divestasi yang diminati oleh
pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah
kabupaten/kota melebihi jumlah saham yang ditawarkan
oleh badan usaha swasta pemegang IUP Operasi Produksi
dan IUPK Operasi Produksi maka penentuan jumlah
saham yang dapat dimiliki oleh masing-masing pemerintah
daerah dilakukan melalui musyawarah untuk mufakat.
(2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (1) tidak tercapai mufakat maka
pemerintah daerah provinsi dan/atau pemerintah daerah
kabupaten/kota dianggap tidak berminat terhadap
penawaran divestasi saham.

Bagian Kelima
Lelang Saham
Paragraf 1
Pembentukan Panitia Lelang
Pasal 10
(1) Menteri membentuk panitia lelang divestasi saham untuk
pelaksanaan lelang divestasi saham paling lambat 10
(sepuluh) hari kerja setelah pemberitahuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (5).
(2) Panitia lelang divestasi saham sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
Pasal 11
Panitia lelang divestasi saham yang dibentuk oleh Menteri
berjumlah gasal dan paling sedikit beranggotakan 5 (lima)
orang yang terdiri atas wakil dari:
a. Direktorat Jenderal;
b. pemerintah provinsi setempat;
c. pemerintah kabupaten/kota setempat;
d. Badan Pengawas Pasar Modal; dan/atau

e. Badan Koordinasi Penanaman Modal.


Pasal 12
Tugas dan wewenang panitia lelang divestasi saham
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 meliputi:
a. menyiapkan lelang saham;
b. menyusun jadwal lelang saham;
c. mengumumkan waktu pelaksanaan lelang saham;
d. melaksanakan lelang saham; dan
e. membuat berita acara hasil pelaksanaan lelang saham dan
menetapkan pemenang lelang saham.
Pasal 13
Pengumuman pelaksanaan lelang saham dilaksanakan oleh
panitia lelang secara terbuka melalui:
a. paling sedikit 1 (satu) media cetak lokal dan 1 (satu) media
cetak nasional, dan/atau media elektronik;
b. kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang mineral dan batubara; dan
c. kantor
pemerintah
provinsi
dan
pemerintah
kabupaten/kota.
Paragraf 2
Lelang Saham Kepada BUMN dan BUMD
Pasal 14
(1) Panitia lelang divestasi saham wajib melakukan
pengumuman lelang saham kepada BUMN dan BUMD
paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah panitia lelang
ditetapkan oleh Menteri.
(2) Pengumuman lelang saham dilaksanakan secara terbuka
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.
(3) Pengumuman lelang saham sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berisi:
a. komposisi saham yang ditawarkan;
b. harga saham yang ditawarkan;
c. jangka waktu pernyataan minat dan penawaran harga
dari BUMN atau BUMD; dan
d. tanggal penentuan pemenang.
(4) Jangka waktu pernyataan minat dan penawaran harga
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c ditetapkan
oleh panitia lelang paling lambat 60 (enam puluh) hari
kalender setelah tanggal pengumuman lelang saham.
Pasal 15
(1) BUMN dan/atau BUMD memasukkan penawaran harga
dalam satu sampul dengan ketentuan pada sampul
dicantumkan alamat panitia lelang saham dengan frasa
DOKUMEN PENAWARAN HARGA LELANG SAHAM dalam
jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat
(4).

(2) BUMN dan/atau BUMD harus melakukan penawaran


terhadap seluruh komposisi saham yang ditawarkan oleh
panitia lelang.
(3) Nilai penawaran harga dicantumkan dengan jelas dalam
angka dan huruf.
(4) Pada sampul luar dokumen penawaran harga yang
diterima oleh panitia lelang disegel dan diberi catatan
tanggal, jam penerimaan, serta nomor register.
(5) Dokumen penawaran harga yang dimasukkan melewati
batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
diterima oleh panitia lelang.
Pasal 16
(1) Panitia lelang akan membuka sampul dokumen penawaran
harga lelang saham pada waktu yang ditetapkan yaitu 1
(satu) hari setelah batas akhir penyerahan dokumen lelang
dan penawaran harga sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14 ayat (4) untuk menetapkan pemenang lelang
berdasarkan penawaran harga tertinggi.
(2) BUMN dan/atau BUMD harus mengirimkan wakilnya
dengan surat kuasa pada pembukaan sampul dan
penetapan pemenang lelang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
(3) Apabila BUMN dan/atau BUMD tidak mengirimkan
wakilnya dianggap mengundurkan diri.
(4) Apabila terdapat nilai penawaran harga yang besarnya
sama, pemenang lelang ditentukan berdasarkan tanggal
dan jam pemasukkan dokumen penawaran harga.
(5) Penentuan pemenang lelang dituangkan dalam berita
acara yang ditandatangani oleh panitia lelang dan wakil
dari BUMN dan/atau BUMD.
(6) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sesuai
dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran I
Peraturan Menteri ini.
Pasal 17
Berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5)
disampaikan kepada Menteri dan badan usaha swasta
pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
oleh panitia lelang dalam jangka waktu paling lama 5 (lima)
hari kerja terhitung sejak tanggal penetapan pemenang
lelang.
Pasal 18
Pembayaran dan penyerahan saham dilakukan oleh BUMN
atau BUMD pemenang lelang dan badan usaha swasta
pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak
penetapan pemenang lelang.
Pasal 19
Dalam hal tidak ada BUMN atau BUMD yang ditetapkan
sebagai pemenang lelang, panitia lelang melakukan

penawaran kepada badan usaha swasta nasional paling


lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak hari penetapan
pemenang lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat
(1).
Paragraf 3
Lelang Saham Kepada Badan Usaha Swasta Nasional
Pasal 20
(1) Penawaran kepada badan usaha swasta nasional
dilakukan melalui pengumuman lelang saham yang
dilaksanakan secara terbuka sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13.
(2) Pengumuman lelang saham sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berisi:
a. komposisi saham yang ditawarkan;
b. harga saham yang ditawarkan;
c. jangka waktu pernyataan minat dan penawaran harga
dari BUMN atau BUMD; dan
d. tanggal penentuan pemenang.
(3) Jangka waktu pernyataan minat dan penawaran harga
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c ditetapkan
oleh panitia lelang paling lambat 30 (tiga puluh) hari
kalender setelah tanggal pengumuman lelang saham.
Pasal 21
(1) Badan usaha swasta nasional memasukkan penawaran
harga dalam satu sampul dengan ketentuan pada sampul
dicantumkan alamat panitia lelang saham dengan frasa
DOKUMEN PENAWARAN HARGA LELANG SAHAM dalam
jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat
(3).
(2) Badan usaha swasta nasional harus melakukan
penawaran terhadap seluruh komposisi saham yang
ditawarkan oleh panitia lelang.
(3) Nilai penawaran harga dicantumkan dengan jelas dalam
angka dan huruf.
(4) Pada sampul luar dokumen penawaran harga yang
diterima oleh panitia lelang disegel dan diberi catatan
tanggal, jam penerimaan, serta nomor register.
(5) Dokumen penawaran harga yang dimasukkan melewati
batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
diterima oleh panitia lelang.
Pasal 22
(1) Panitia lelang akan membuka sampul dokumen penawaran
harga lelang saham pada waktu yang ditetapkan yaitu 1
(satu) hari setelah batas akhir penyerahan dokumen lelang
dan penawaran harga sebagaimana dimaksud dalam Pasal
20 ayat (3) untuk menetapkan pemenang lelang
berdasarkan penawaran harga tertinggi.
(2) Badan usaha swasta nasional harus mengirimkan
wakilnya dengan surat kuasa pada pembukaan sampul

dan penetapan pemenang lelang sebagaimana dimaksud


pada ayat (1).
(3) Apabila badan usaha swasta nasional tidak mengirimkan
wakilnya dianggap mengundurkan diri.
(4) Apabila terdapat nilai penawaran harga yang besarnya
sama, pemenang lelang ditentukan berdasarkan tanggal
dan jam pemasukkan dokumen penawaran harga.
(5) Penentuan pemenang lelang dituangkan dalam berita
acara yang ditandatangani oleh panitia lelang dan wakil
dari badan usaha swasta nasional.
(6) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sesuai
dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran II
Peraturan Menteri ini.
Pasal 23
Berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (5)
disampaikan kepada Menteri dan badan usaha swasta
pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
oleh panitia lelang dalam jangka waktu paling lama 5 (lima)
hari kerja terhitung sejak tanggal penetapan pemenang
lelang.
Pasal 24
Pembayaran dan penyerahan saham dilakukan oleh badan
usaha swasta nasional pemenang lelang dan badan usaha
swasta pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi
Produksi dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak
penetapan pemenang lelang.
Pasal 25
Dalam hal tidak ada badan usaha swasta nasional yang
ditetapkan sebagai pemenang lelang maka penawaran saham
akan dilakukan pada tahun berikutnya berdasarkan
mekanisme dalam Pasal 7 sampai dengan Pasal 24.
Bagian Keenam
Tata Cara Pembayaran dan Penyerahan Saham
Pasal 26
(1) Pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, atau
badan usaha swasta nasional yang membeli saham dari
divestasi saham secara penawaran langsung atau secara
lelang, wajib melakukan pembayaran divestasi saham
dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (4), Pasal 8 ayat (3), Pasal 18, dan Pasal 24.
(2) Pembayaran divestasi saham sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dilakukan secara:
a. tunai; atau
b. bertahap dalam jangka waktu yang telah ditentukan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4), Pasal 8
ayat (3), Pasal 18, dan Pasal 24.
(3) Pembayaran bertahap sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b tidak menyebabkan waktu penyerahan saham

melewati jangka waktu yang telah ditentukan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4), Pasal 8 ayat (3), Pasal 18,
dan Pasal 24.
Pasal 27
(1) Penyerahan saham dilakukan setelah pemegang IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi melakukan
pemberitahuan mengenai perubahan kepemilikan saham
kepada Menteri.
(2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus melampirkan:
a. hasil
keputusan
RUPS
mengenai
perubahan
kepemilikan saham;
b. bukti pelunasan pembayaran divestasi saham;
c. akte jual beli saham;
d. akte pendirian pemegang saham baru dan profil
perusahaan pemegang saham baru, apabila perubahan
kepemilikan saham kepada BUMN, BUMD, atau badan
usaha swasta nasional;
e. waktu penyerahan saham;
f. undangan untuk menghadiri penyerahan saham.
(3) Waktu penyerahan saham sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf e tidak melewati jangka waktu yang telah
ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4),
Pasal 8 ayat (3), Pasal 18, dan Pasal 24.
Pasal 28
(1) Menteri c.q. Direktorat Jenderal mengirimkan wakilnya
untuk menghadiri penyerahan saham berdasarkan
undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2)
huruf f.
(2) Penyerahan saham dituangkan dalam berita acara yang
ditandatangani oleh wakil dari Menteri c.q. Direktorat
Jenderal, wakil dari badan usaha swasta pemegang IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi, dan wakil
dari pembeli saham dari divestasi saham.
(3) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai
dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran III
Peraturan Menteri ini.
Bagian Ketujuh
Pasca Divestasi
Pasal 29
Dalam hal badan usaha swasta pemegang IUP Operasi
Produksi atau IUPK Operasi Produksi akan menambah modal
dengan menerbitkan saham baru maka komposisi saham
yang dimiliki oleh Pemerintah, pemerintah daerah, BUMN,
BUMD, badan usaha swasta nasional, dan perseorangan tidak
diperbolehkan kurang dari 20% dari total saham setelah
penerbitan saham baru.

BAB III
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 30
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal ............
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,

DARWIN ZAHEDY SALEH


Diundangkan di Jakarta
pada tanggal ................
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ..... NOMOR ......