Anda di halaman 1dari 20

Proses Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Pada dasarnya setiap bangsa berhak mengatur pemerintahannya sendiri tanpa campur
tangan bangsa asing. Adanya intervensi bangsa lain berakibat terjadi perombakan dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bangsa Indonesia yang mengalami intervensi bangsa
asing selama 350 tahun tersebut telah menimbulkan dampak fisik maupun mental yang sampai
sekarang masih membekas. Perjuangan yang memakan waktu yang sangat panjang tersebut,
akhirnya sampai pada titik puncaknya yaitu proklamasi kemerdekaan Indonesia.
A. Alasan Jepang Membentuk BPUPKI
Keterlibatan Jepang masa Perang Dunia II mampu mengubah peta kekuasaan negara-
negara Eropa di Asia Pasifik. Sejak serangannya ke Pearl Harbour tahun 1941, Jepang
dapat merebut satu persatu daerah kekuaasaan negara-negara Eropa di Asia Pasifik. Dimulai
dari Guam, Bismark, Hongkong, Indocina, Philipina, Birma, Malaya, Singapura dan
Indonesia. Kemenangan Jepang tersebut ternyata tidak berlangsung lama, karena Amerika
Serikat dan sekutunya mengadakan serangan balik dengan membentuk pertahanan bersama
yaitu ABDA Com dan front ABCD yang dipusatkan di Australia.
Sebenarnya sasaran Jepang yang terakhir adalah Australia, tetapi dapat dihadang oleh
blok sekutu di Laut Karang tanggal 7 Mei 1942. Sejak kekalahannya di Laut Karang
tersebut, Jepang mulai terdesak sehingga mengubah strategi perang dari ofensif ke defensif.
Tindakan ini berakibat satu persatu pangkalan militer Jepang dapat dikuasai oleh blok
sekutu. Bulan Pebruari 1944, pangkalan Jepang di kepulauan Marshall jatuh. Selanjutnya
tanggal 19 Juni 1944 pangkalan angkatan laut di Guam jatuh dan puncaknya 9 Juli 1944
pangkaln militer di Saipan (kepulauan Mariana) dapat dikuasai sekutu. Sejak saat itu satu
persatu wilayah jajahan Jepang dapat dikuasai lagi Blok sekutu.
Kondisi kekalahan Jepang tersebut berakibat terjadinya pergolakan dalam kabinet di
Jepang, sehingga Perdana Mentri Tojo diganti dengan Perdana Mentri Koiso Kuniaki.
Menyadari kondisi Jepang yang selalu terdesak di medan pertempuran, maka pemerintah
Jepang berusaha menarik simpati Bangsa Indonesia dengan melancarkan program
propagandanya yang antara lain ;
 mengikutsertakan para pemimpin Bangsa Indonesia dalam pemerintahan
 pada tanggal 7 September 1944, PM Koiso mengeluarkan janji dalam pidatonya
di depan parlemen Jepang yaitu akan memberikan kemerdekaan kepada Bangsa
Indonesia dikelak kemudian hari.
Untuk merealisasi janji tersebut, maka tanggal 1 Maret 1945 Jepang mengumumkan
akan didirikannya Dokuritsu zyunbi Tyosakai (BPUPKI) yang bertugas mempelajari,
mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pembentukan negara Indonesia. Bahkan
perwira angkatan laut Jepang yaitu Laksamana Maeda mendukung sepenuhnya perjuangan
Bangsa Indonesia antara lain dengan cara ; membiayai perjalanan pidato keliling Soekarno-
Hatta ke berbagai wilayah di Indonesia diantaranya Makasar (April 1945), Bali dan
Banjarmasin (Juni 1945).
Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II tersebut memberikan dampak yang besar
bagi Bangsa Indonesia. Dalam kondisi focum of power, Bangsa Indonesia mampu
memanfaatkannya dengan baik untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Dibalik Peristiwa
Perdana Mentri Tojo
Hideki Tojo lahir di Iwate tahun 1884 yang merupakan anak dari seorang jenderal.
Ia lulus dari akademi militer tahun 1905 dan Seskoad tahun 1915. Pada tahun 1921, ia
dikirim ke Jerman dan menjadi perwira penghubung serta akhirnya menjadi wakil
komandan Akademi Militer tahun 1933. Karier selanjutnya, Tojo menjadi Kepala Staf
tentara Kwantung dan pemimpin operasi militer terhadap pasukan Cina di wilayah
Chahar.
Puncak karier dari Hideki Tojo terjadi tahun 1941, ia diangkat menjadi Perdana
Mentri yang sekaligus sebagai mentri peperangan. Ia seorang jendral yang berhaluan
keras, sehingga mendukung bergabungnya Jepang dalam blok fasis bersama dengan Italia
dan Jerman.Tindakan agresifnya diwujudkan dalam penyerangan Jepang ke Pearl
Harbour(Hawai)sehingga Jepang melibatkan didi dari PD II. Setelah Jepang kalah dalam
PD II, ia dicap sebagai tokoh penjahat perang dan tahun 1948 menjalani hukuman
gantung.

Sumber : Majalah Dirgantara, Edisi Desember 2004

B. Penyusunan Dasar dan Konstitusi untuk Negara yang Akan Didirikan


Sejak PM Koiso mengeluarkan janji akan memberi kemerdekaan kepada Bangsa
Indonesia, maka Jepang memperbolehkan Bangsa Indonesia menggunakan Identitasnya,
diantaranya boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah
putih. Adapun wujud nyata dari janji tersebut adalah pendirian BPUPKI tanggal 29 April
1945 dengan diketuai oleh Dr. Rajiman Wedyodiningrat. BPUPKI beranggotakan 64 orang
termasuk ketua, ketua muda (2orang) dan Sekretaris. Keanggotaan BPUPKI merupakan
wakil dari berbagai pihak yaitu 4 orang dari Arab dan keturunan Belanda, 7 orang Jepang
dan lainnya berasal dari wakil-wakil Bangsa Indonesia.
Pada tanggal 28 Mei 1945 diselenggarakan upacara peresmian BPUPKI di gedung
Cuo Sangi In, Jl. Pejambon Jakarta yang dihadiri oleh Jendral Itagaki (Panglima Tentara
wilayah VII di Singapura) dan Letnan Jendral Nagano (Panglima Tentara XVI di Jawa).
Setelah diresmikan BPUPKI segera mengadakan sidang yang pertama tanggal 29 Mei-1
Juni 1945. Dalam sidang pertama yang membicarakan rumusan dasar negara ini muncul
tiga tokoh yang mengusulkan rancangan dasar negara yaitu Ir. Soekarno, Mr. Supomo, dan
Moh. Yamin.
Usulan pertama diajukan oleh Mr. Moh. Yamin yang disampaikan pada 29 Mei
1945 dengan rumusan lima azas sebagai dasar negara sebagai berikut :
- Peri kebangsaan
- Peri kemanusiaan
- Peri ketuhanan
- Peri kerakyatan
- Peri kesejahteraan rakyat
Pada tanggal 31 Mei 1945 Prof. Dr. Mr. Supomo mengusulkan gagasan dasar negara yaitu :
- Faham negara persatuan
- Kekeluargaan
- Keseimbangan lahir dan batin
- Musyawarah
- Keadilan rakyat
Usulan ketiga dalam Sidang BPUPKI disampaikan Ir. Soekarno tanggal 1 Juni
1945 yaitu rumusannya sebagai berikut :
- Kebangsaan Indonesia
- Internasionalisme atau peri kemanusiaan
- Mufakat atau demokrasi
- Kesejahteraan sosial
- Ketuhanan yang maha Esa
Kelima rumusan yang dikemukakan Ir. Soekarno tersebut setelah ada perubahan
dinamakan Pancasila sehingga sampai sekarang setiap tanggal 1 Juni dikenal sebagai
hari lahirnya Pancasila.
Setelah Sidang I selesai, BPUPKI membentuk panitia kecil yang bertugas
menampung saran-saran, usul-usul, dan konsepsi para anggotanya. Panitia tersebut
diketuai Ir. Soekarno dengan anggotanta sembilan orang. Sehingga dikenal dengan
istilah Panitia Sembilan, yaitu Ir. Soekarno, K.H Wahid Hasyim, Drs. Moh. Hatta,
Kahar Muzakir, Mr. A.A. Maramis, H. Agus Salim, Mr. Ahmad Soebarjo, Mr. Moh.
Yamin, dan Abi Koesno Tjokrosoejoso. Panitia Sembilan tersebut telah menghasilkan
rumusan tentang maksud dan tujuan pembentukan negara Indonesia yang akhirnya
diterima dengan suara bulat dan diberi nama Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada
tanggal 22 Juni 1945.
Di dalam Piagam Jakarta termuat rumusan dasar negara yaitu sebagai berikut :
- Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya.
- Kemanusiaan yang adil dan beradab.
- Persatuan Indonesia.
- Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dlam
permusyawaratan perwakilan.
- Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sidang BPUPKI yang kedua diselenggarakan tanggal 10-17 Juli 1945. Panitia
Sembilan melaporkan hasil kerjanya yang berupa rancangan hukum dasar negara
Indonesia dan disetujui dalam Rapat Pleno BPUPKI. Selanjutnya BPUPKI membentuk
panitia perancang UUD yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Panitia perancang tersebut
kemudian membentuk panitia kecil perancang UUD yang diketuai oleh Mr. Supomo.
Anggotanya adalah Wongsonegoro, Ahmad Subarjo, Maramis, Pandji Singgih, Agus
Salim, dan Dr. Sukiman. Tugas panitia kecil adalah menyempurnakan dan menyusun
kembali rancangan UUD yang telah disepakati berdasar Piagam Jakarta. Dan pada
tanggal 14 Juli 1945 panitia kecil tersebut berhasil merumuskan :
- Pernyataan Indonesia Merdeka
- Pembukaan UUD
- Batang tubuh UUD
Pernyataan Indonesia Merdeka dan rumusan pembukaan UUD diambilkan dari rumusan
Piagam Jakarta yang telah disempurnakan dan disepakati bersama. Dalam sidang
BPUPKI terjadi perselisihan pendapat antara golongan nasionalis dan agama mengenai
dasar negara terutama sila pertama. Golongan agama (Islam) menghendaki agar sila
pertama tetap seperti bunyi dalam piagam Jakarta, tetapi golongan nasionalis terutama
wakil dari Indonesia bagian timur keberatan dengan bunyi “kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluknya “.Meskipun terjadi perselisihan pendapat namun sidang
BPUPKI berhasil mencapai kesepakatan bersama dengan musyawarah mufakat.

Dibalik Peristiwa
Mohammad Yamin
Mohammad Yamin lahir di Sawahlunto, 23 Agustus 1903. Beliau seorang Sarjana
Hukum, tokoh politik dan sejarahwan yang sangat aktif diberbagai kegiatan yang
antara lain :
 Ketua Jong Sumatraen Bond (1926-1928)
 Tokoh Partindo (1932-1938
 Anggota Volksraad (1938-1942)
 Anggota penasehat organisasi Putera
 Penasehat Indonesia di KMB
 Mentri kehakiman (1951)
 Ketua Dewan Perancang Nasional
 Anggota DPR RI sejak 1950
 Penasehat Lembaga Pembinaan Hukum Nasional

C. Peranan PPKI dalam Proses Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Setelah tugas BPUPKI menyusun rancangan dasar negara dan UUD selesai, maka
badan tersebut dibubarkan dan tanggal 7 Agustus 1945 dibentuk PPKI. PPKI merupakan
badan yang bertugas untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan
kemerdekaan Indonesia. Keanggotaan PPKI mencerminkan wakil dari berbagai lapisan
dalam masyarakat, sehingga benar-benar merupakan wadah aspirasi bangsa Indonesia
dalam mewujudkan kemerdekaan.

PPKI yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan


pendirian suatu negara. PPKI yang tersebut atas dasar perintah dari Jendral Terauchi
(penguasa tertinggi di Asia Tenggara) yang berkedudukan di Saigon. Tanggal 9 Agustus
1945 Ir. Soekarno, Dr. Moh. Hatta, dan Dr. Rajiman dipanggil ke Dalat (Vietnam) oleh
Jendral Terauchi. Dalam pertempuran tersebut Jepang berjanji akan memberikan
kemerdekaan kepada bangsa Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945 dengan wilayahnya
bekas wilayah kekuasan Hindia Belanda. PPKI baru mengadakan sidang pada tanggal 18
Agustus 1945 sehari setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Sidang PPKI
membahas pemilihan presiden dan wakil, kelengkapan negara, pembagian daerah, dan
lain-lain.

PPKI adalah badan yang merupakan bentukan asli Bangsa Indonesia, karena
tanpa sepengetahuan Jepang, anggotanya yang semula hanya 21 orang ditambah 6
orang. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa PPKI bukan milik Jepang, tetapi
merupakan prakarsa Bangsa Indonesia sendiri untuk mempersiapkan kemerdekaan
Indonesia. Adapun susunan pengurus PPKI adalah sebagai berikut :
Ketua : Ir. Sukarno
Wakil Ketua : Drs. Mohammad Hatta
Anggota :
1. dr. Rajiman Wedyodiningrat 14. Dr. Ratu Langie
2. Oto Iskandardinata 15. Andhie Pangeran
3. Wachid Hasyim 16. Hamidhan
4. Ki Bagus Hadikusumo 17. Mr. I Goesti Ketoet Padja
5. Surjohadimidjojo 18. Mr. J. Latuharhary
6. Mr. Sutarjo K 19. Drs. Yap Tjwan Bing
7. R.P Suroso 20. Mr. Ahmad Subarjo
8. Mr. Supomo 21. Iwa Kusuma Sumantri
9. Abdul Kadir 22. Mr. Kasman Singodimejo
10.BPH. Purubojo 23. Ki Hajar Dewantoro
11.Drs. Moh. Amir 24. RAA. Wiranatakusuma
12.Teuku Moh. Hasan 25. Sayuti Melik
13.Mr. Abdul Abas
PPKI baru mengadakan pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan menghasilkan keputusan
sebagai berikut :
 Memilih dan mengangkat Sukarno-Hatta sebagai presiden dan wakil
presiden.
 Mengesahkan UUD 1945
 Membentuk sebuah Komite Nasional
Dalam sidang PPKI ternyata muncul perselisihan pendapat diantara anggotanya.
Hal ini merupakan manusiawi, karena pada dasarnya manusia memiliki sifat ingin
dihargai pendapatnya. Perbedaan pendapat dalam sidang tersebut ternyata dapat diatasi
dan terselesaikan dengan baik, sehingga muncul kesepakatan bersama.
Sidang PPKI merupakan sebuah cermin bahwa ternyata perjuangan para
pemimpin bangsa Indonesia membawa hasil yang gemilang dan mampu mengantarkan
bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Peran PPKI dalam rangka mewujudkan
pemerintahan Indonesia yang berdaulat sudah kelihatan sejak menjelang proklamasi
kemerdekaan Indonesia. Puncak dari peran PPKI terjadi sesudah proklamasi
kemerdekaan yaitu dengan mengadakan sidang-sidang PPKI sebanyak tiga kali.

RANGKUMAN

 Jepang mulai terjepit sejak kekalahannya dalam pertempuran di Laut Karang dan
puncaknya setelah dua kota penting yaitu Hirosima dan Nagasaki dibom oleh sekutu.
Kondisi Jepang tersebut menguntungkan Bangsa Indonesia karena Jepang membentuk
BPUPKI yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
 BPUPKI merupakan badan yang sangat penting bagi persiapan kemerdekaan
Indonesia. Melalui BPUPKI pemimpin Bangsa Indonesia berhasil menyusun rumusan
dasar negara dan UUD 1945. Dengan adanya PPKI Bangsa Indonesia berhasil
memproklamasikan kemerdekaan.
 Peran PPKI sangat penting bagi perjuangan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh PPKI
berhasil merumuskan naskah proklamasi, bahkan berperan dalam pembentukan alat-alat
kelengkapan negara.

PENGAYAAN

Piagam Jakarta atau Jakarta Charter

 Tanggal 22 Juni 1945 sudah terbentuk panitia sembilan yang terdiri dari : Ir. Sukarno,
Drs.Moh.Hatta, Mr. Muhammad Yamin, Mr.Ahmad Subarjo, Mr.AA.Maramis, Abdul
Kadir Muzakir, Wachid Hasyim, H.Agus Salim, dan Abi Kusno Tjokrosujoso. Panitia
tersebut berhasil mengeluarkan “ Piagam Jakarta” atau Jakarta Charter.
 Piagam Jakarta adalah hasil kesepakatan dari anggota BPUPKI yang menggambarkan
rumusan dasar negara yang telah diproses oleh Panitia Sembilan. Adapun Rumusan
dasar negara yang terdapat dalam Piagam Jakarta adalah sebagai berikut :
1). Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.
2). Kemanusiaan yang adil dan beradab
3). Persatuan Indonesia
4).Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
Perwakilan
5). Keadilan sosial bagi rakyat Indonesia

GLOSSARIUM
 Defensif : strategi perang dengan cara mundur ke pertahanan.
 Dokuritsu Junbi Cosakai : BPUPKI
 Dokuritsu Junbi Inkai : PPKI
 Ofensif : strategi perang dengan cara gerak cepat dan maju
 Jakarta Charter : Piagam Jakarta yang memuat dasar negara
 Panitia kecil : Panitia penyusun dasar negara yang berjumlah 9 orang
 Pocum of power : kekosongan kekuasaan
 Ultimatum : peringatan keras

Peristiwa Sekitar Proklamasi dan Proses Terbentuknya


Negara Kesatuan Republik Indonesia

A. Perbedaan Perspektif Antar Kelompok Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.


Sejak lahirnya Budi Utomo sudah diwarnai perbedaan pendapat antara golongan tua
dengan golongan muda. Golongan tua pada umumnya terdiri dari tokoh-tokoh yang ikut
duduk dalam pemerintahan, sedangkan golongan muda terdiri dari pemuda-pemuda yang
radikal tidak mau bekerjasama dengan penjajah. Perselisihan kedua golongan tersebut
terjadi sampai menjelang proklamasi kemerdekaan.
1. Perbedaan Perspektif antar Kelompok Sekitar Proklamasi
Pada masa pendudukan Jepang sudah terbentuk kelompok pemuda yang
melancarkan gerakan Ilegal. Mereka berjuang dengan cara memanfaatkan fasilitas-
fasilitas yang diberikan Jepang untuk menanamkan nasionalisme ke generasi muda.
Kelompok tersebut antara lain :
Kelompok Syahrir
Kelompok ini memanfaatkan Asrama Indonesia Merdeka untuk mendidik generasi
muda dengan ajaran sosialis, demokrat dan nasionalisme.
b. Kelompok Sukarni
Kelompok Sukarni melancarkan gerakan ilegal dengan memanfaatkan asrama
angkatan baru Indonesia. Mereka menginginkan kemerdekaan Indonesia
diumumkan secepat mungkin, tanpa campur tangan dari pihak Jepang.
c. Kelompok Ahmad Subarjo
Kelompok ini terdiri dari pemuda yang bekerja di dinas angkatan laut Jepang.
Mereka menanamkan nasionalisme ke generasi muda dengan memanfaatkan asrama
Indonesia Merdeka dengan mendatangkan guru yang antara lain Iwa Kusuma
Sumantri, Ir.Sukarno dan Mohammad Hatta.
d. Kelompok Chaerul Saleh
Caerul Saleh memanfaatkan BAPERPPI ( Badan Permusyawaratan Perhimpunan
Pelajar Indonesia) untuk mendidik para pemuda dan pelajar dalam rangka persiapan
kemerdekaan.
e. Kelompok Pelajar dan Mahasiswa
Kelompok ini diwakili mahasiswa dari fakultas kedokteran Jakarta yang dipimpin
oleh Johar Nur. Mereka berhasil menyatukan mahasiswa dan pelajar dengan
menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.
Menjelang proklamasi antara golongan tua dengan golongan muda menunjukkan
sikap yang berbeda dalam menghadapi kondisi focum of Power. Golongan tua yang
sifatnya lamban dan teerlalu hati-hati, bersikap tidak tergesa-gesa untuk
memproklamasikan kemerdekaan. Golongan muda yang sifatnya radikal dan emosional
menghendaki agar kemerdekaan secepatnya diumumkan.
2. Peristiwa Rengasdengklok
Pada tanggal 6 Agustus 1945 kota Hirosima dibom oleh sekutu dan berikutnya 9
Agustus 1945 kota Nagasaki dibom. Pengeboman tersebut berakibat lumpuhnya
kekuatan Jepang, sehingga Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus
1945. Kondisi Jepang tersebut yang semula ditutup-tutupi akhirnya terdengar juga oleh
Bangsa Indonesia, apalagi Jepang sebelumnya telah mempersiapkan bangsa Indonesia
dengan membentuk BPUPKI yang dilanjutkan dengan pemanggilan Sukarno-Hatta ke
Dalat di Vietnam tanggal 9 Agustus 1945. Di Dalat mereka diterima oleh Masekal
Terauchi dan sepakat menandatangani 2 agenda penting yaitu;
a. tentang waktu Indonesia merdeka
b. pembahasan kembali batas-batas wilayah Indonesia yaitu bekas wilayah jajahan
Hindia Belanda.
Keputusan terakhir dalam pertemuan tersebut adalah setuju bahwa kemerdekaan akan
diumumkan secara resmi setelah sidang PPKI yang direncanakan tanggal 18 Agustus
1945.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Sukarno-Hatta baru sampai di Indonesia dan
sementara itu Syahrir sudah mendengar berita bahwa Jepang telah menerima ultimatum
dari sekutu agar segera menyerah. Selanjutnya Syahrir menemui Bung Hatta dan
menceritakan keadaan Jepang tersebut. Syahrir dan Bung Hatta akhirnya pergi
kediaman Bung Karno untuk mendesak Bung Karno melaksanakan proklamasi di luar
acara PPKI. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan
Jepang ke blok sekutu. Peristiwa tersebut didengar oleh para pemuda seperti Chaerul
Saleh, wikana, Abu Bakar Lubis dan lain-lainnya.

Pada tanggal 15 Agustus dibawah pimpinan Chaerul Saleh, pemuda mengadakan


rapat di ruang lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur. Hasil dari keputusan rapat
tersebut adalah mendesak Bung Karno untuk segera mengumumkan kemerdekaan
Indonesia. Wakil dari pemuda (Wikana) mendapat tugas untuk menemui Bung Karno
agar segera mengumumkan kemerdekaan. Permintaan Wikana tersebut ditolak oleh
Bung Karno dan Hatta. Mereka tetap berpendirian akan menepati janjinya dengan
Terauchi. Bung Karno dan Hatta berkeyakinan jika kemerdekaan diumumkan di luar
PPKI berarti musuh yang mereka hadapi dua sekaligus yaitu Jepang dan Sekutu.
Berbeda jika proklamasi diumumkan atas nama PPKI berarti Jepang tidak
memusuhinya. Alasan pemuda juga kuat, mereka berpendapat bahwa kemerdekaan
adalah masalah rakyat Indonesia sendiri tidak boleh bergantung bangsa lain. Akhirnya
terjadi ketegangan antara golongan tua dengan muda sehingga sampai terjadi peristiwa
Rengasdengklok.
Peristiwa Rengasdengklok diawali dengan ketegangan antara Wikana dengan Bung
Karno. Wikana mendesak Bung Karno agar segera mengumumkan kemerdekaan, tetapi
Bung Karno menolaknya. Wikana mengancam jika tidak segera proklamasi maka akan
terjadi pertumpahan darah. Bung Karno menjadi marah, sehingga Belaiau berkata “ Ini
leher saya, seretlah saya ke pojok itu dan habisi nyawa saya tanpa menunggu besok “.
Ternyata Wikana dan para pemuda tidak berani bertindak apa-apa. Hal ini menunjukkan
bahwa mereka masih menghormati Bung Karno.
Selanjutnya para pemuda dipimpin Chaerul Saleh mengadakan rapat yang
membahas tindakan yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penolakan Bung
Karno tersebut. Keputusan dalam rapat tersebut adalah tanggal 16 Agustus 1945 pukul
04.00 WIB membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok untuk diamankan. Hal ini
dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut letaknya terpencil dan sudah berada
dibawah kekuasaan tentara Peta, sehingga mereka aman dari pengaruh Jepang. Di
Rengasdengklok para pemuda yang diwakili Sudanco Singgih tetap mendesak
Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan. Bung Karno bersedia
memproklamasikan kemerdekaan setelah kembali ke Jakarta.
Sikap tegas Bung Karno ini membuat para pemuda mencari upaya baru agar
kemerdekaan segera diumumkan. Yusuf Kunto dikirim ke Jakarta untuk melaporkan
sikap Sukarno-Hatta tersebut ke pemuda di Jakarta. Sementara Ahmad Subarjo sibuk
mencari informasi tentang kebenaran berita penyerahan Jepang kepada Sekutu.
Ternyata Ahmad Subarjo belum mengetahui bahwa Sukarno-Hatta diamankan di
Rengasdengklok. Setelah tahu maka ia segera menyusul ke Rengasdengklok dan
berhasil menyakinkan para pemuda bahwa proklamasi pasti segera diumumkan.
Sehingga malam hari pada tanggal 16 Agustus 1945 Sukarno-Hatta kembali dibawa ke
Jakarta.
Masalah Rengasdengklok tersebut ternyata berhasil diselesaikan berkat peran dari
Ahmad Subarjo yang berhasil mengadakan kesepakatan dengan para pemuda. Ahmad
Subarjo berhasil meredakan ketegangan antara golongan tua dengan golongan muda
dengan jaminan nyawanya sendiri.

Di Balik Peristiwa
Ahmad Subarjo
Lahir di Kerawang, 23 Maret 1896, pendidikan di Universitas Leiden bagian
hukum (1933).Ia mulai aktif dalam pergerakan kebangsaan Indonesia dart tahun 1919-
1921. Tahun 1927-1928 menjadi wakil delegasi Indonesia menghadiri konggres Anti
Imperialisme di Brussel. Masa pendudukan Jepang bekerja sebagai pembentu kantor
penasehat AD, Kepala Biro Riset AL Jepang. Menjelang proklamasi, Ia sebagai
anggota BPUPKI, anggota penetap lagu kebangsaan dan aktif dalam usaha
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada Tahun 1951 menjabat sebagai ketua
delegasi RI ke Konferensi San Fransisco untuk menandatangani perdamaian dengan
Jepang. Tahun 1957-1961 menjadi Dubes RI untuk Swiss.

Sumber: Ensiklopedi Indonesia Jilid 1, 1980

B. Kronologi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


Momentum yang paling bersejarah bagi suatu bangsa adalah keberhasilannya
melepaskan diri dari dari keterikatan dan penguasaan bangsa lain. Hal ini diwujudkan
dengan bentuk mengumandangkan pernyataan kemerdekaan yang disebarluaskan ke seluruh
dunia. Melalui perjalanan yang panjang, Bangsa Indonesia mampu mempersiapkan diri
untuk mengatur bangsanya sendiri melalui kemerdekaan. Adapun proses pernyataan
kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagai berikut :
1. Perumusan Teks Proklamasi
Setelah terjadi peristiwa Rengasdengklok, akhirnya para pemuda
mempercayakan masalah proklamasi kemerdekaan kepada Ahmad Subarjo yang
berhasil menengahi perselisihan antara golongan tua dengan golongan muda. Untuk itu
Ahmad Subarjo, Yusuf Kunto dan Sudiro bertolak ke Rengasdengklok untuk
menjemput kembali Sukarno-Hatta ke Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 (malam
hari). Mereka telah sepakat bahwa proklamasi akan dilaksanakan di Jakarta. Ahmad
Subarjo berjanji kepada para pemuda, bahwa proklamasi akan segera diumumkan
paling lambat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 12.00 WIB. Pemuda menyetujuinya,
sehingga komandan kompi Peta Subeno melepas Sukarno-Hatta dari Rengasdengklok.
Peran Ahmad Subarjo dalam peristiwa ini sangat penting, Ia dikenal sebagai
tokoh yang sangat dekat dengan golongan tua maupun muda, bahkan dengan perwira
AL Jepang yaitu Laksamana Maeda. Hal ini terbukti sewaktu menelpon hotel Des Indes
untuk digunakan sebagai tempat rapat ditolak, akhirnya Laksamana Maeda menawarkan
rumahnya. Laksamana Maeda ternyata sangat peduli dan mendukung perjuangan
Bangsa Indonesia, Ia menjamin keamanan selama berlangsungnya rapat meskipun
resikonya besar.
Di tempat kediaman Laksamana Maeda jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta itulah
naskah proklamasi mulai disusun. Adapun tokoh yang berperan dalam penyusunan
naskah proklamasi antara lain; Ir. Sukarno, Drs. Muhammad Hatta, dan Ahmad
Subarjo. Sedangkan golongan pemuda yang hadir antara lain; Sayuti Melik, Sudiro,
BM. Diah dan Sukarni. Teks Proklamasi mulai disusun dengan kalimat pertama
berbunyi “ Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami “.
Kalimat tersebut akhirnya dirubah oleh Ahmad Subarjo sehingga berbunyi “ Kami
Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Kalimat kedua
disusun oleh Ir. Sukarno yang berbunyi “ hal-hal yang mengenai pemindahan
kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya
serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” Kalimat tersebut ahkirnya
disempurnakan oleh Drs. Muhammad Hatta sehingga bunyinya menjadi teks proklamasi
yang kita miliki sekarang ini, termasuk kata “tempoh” diganti “tempo”, wakil bangsa
Indonesia diganti “atas nama Bangsa Indonesia”, serta “Djakarta 17-8-05 diganti
Jakarta, hari 17 boelan 8 tahun 05”.

Konsep naskah proklamasi tersebut, akhirnya disetujui oleh semua anggota PPKI
yang hadir dalam rapat tersebut. Selanjutnya muncul masalah mengenai siapa yang
akan menandatangani naskah proklamasi tersebut. Sukarni mengusulkan agar naskah
proklamasi ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Usul
tersebut diterima dan selanjutnya Sayuti Melik mengetik naskah tersebut dan
ditandatangani Sukarno-Hatta. Rapat berakhir pada pukul 03.00 dinihari dengan
menghasilkan sebuah naskah proklamasi yang resmi/autentik.

2. Pembacaan Teks Proklamasi


Setelah teks proklamasi selesai disusun, maka tinggal menentukan tempat untuk
membacakan naskah proklamasi tersebut. Sukarni mengusulkan agar naskah proklamasi
dibacakan di Lapangan Ikada dengan maksud agar seluruh Bangsa Indonesia segera
mengetahui proklamasi tersebut. Ir.Sukarno dan Hatta tidak setuju dengan
pertimbangan, jika dilaksanakan di Lapangan Ikada nanti akan memancing bentrokan
rakyat dengan militer Jepang. Ir. Sukarno mengusulkan agar naskah proklamasi
dibacakan di rumah kediamannya yaitu di jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, para pemuda, golongan tua yang antara lain; Ki
Hajar Dewantoro, KH. Mas Mansyur, Sam Ratulangi, Buntaran, Abi Kusno,
Mr.Sartono, AK. Pringgodigdo, Otto Iskandardinata dan masyarakat sudah berkumpul
di halaman kediaman Ir. Sukarno. Banyak juga pemuda dan masyarakat yang sudah
terlanjur berkumpul di lapangan Ikada karena dikiranya tempat pembacaan naskah
proklamasi di tempat tersebut. Masyarakat dengan tertib dan antusias menanti saat
dibacakan teks proklamasi. Sebelum naskah proklamasi dibacakan, terlebih dahulu Ir.
Sukarno menyampaikan pidato sambutan. Tepat pukul 10.00 WIB naskah proklamasi
dibacakan oleh Ir. Sukarno yang didampingi oleh Drs. Muhammad Hatta. Setelah
pembacaan selesai dilanjutkan pengibaran bendera merah putih oleh Suhut dan Latif
Hendraningrat. Secara spontan masyarakat yang hadir dalam acara tersebut
mengiringinya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Peristiwa tersebut berlangsung hanya kurang lebih satu jam, namun pengaruhnya
besar sekali bagi Bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut membuktikan bahwa perjuangan
Bangsa Indonesia sudah mencapai puncaknya dan berhasil dengan gemilang untuk
mewujudkan cita-citanya memperoleh kemerdekaan.
3. Makna Proklamasi
Proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia mempunyai makna yang sangat
mendalam, hal ini terlihat dalam bunyi naskah tersebut. Kemerdekaan yang diperoleh
Bangsa Indonesia bukan karena pemberian bangsa lain, akan tetapi merupakan hasil
jerih payahnya sendiri, berkat kegigihan dan keuletan dalam menghadapi segala bentuk
pemerasan dari penjajah. Proklamasi tersebut juga ditunjukkan kepada dunia luar bahwa
kemerdekaan adalah hak segala bangsa yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
Konsekuensinya dengan proklamasi tersebut, Bangsa Indonesia siap menghadapi
segala kemungkinan nanti yang muncul dan mengancam keberadaan Bangsa Indonesia
sebagai egara merdeka. Hal ini wajar, karena kenyataannya Jepang kalah terhadap
sekutu dan sekutu beranggapan berhak mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Apalagi
Belanda masih ingin berkuasa di Indonesia.
Kita sebagai Bangsa Indonesia harus bangga memiliki tokoh-tokoh pergerakan
nasional yang memiliki pikiran brilian yang berhasil menyusun naskah proklamasi dan
mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Kalimat demi kalimat yang tersusun dalam
naskah proklamasi membuktikan bahwa isi proklamasi tersebut mempunyai arti dan
makna yang mendalam bagi Bangsa Indonesia. Adapan makna proklamasi tersebut
dapat ditinjau dari dua segi yaitu :
a. Secara Hukum
Naskah proklamasi dapat menggantikan kedudukan hukum kolonial Barat dengan
hukum Indonesia.
b. Secara Politis
Dengan proklamasi berarti Bangsa Indonesia berhasil melepaskan diri dari
belenggu penjajahan bangsa asing, sekaligus berhasil membuat pemerintahan
sendiri. Secara defacto syarat terbentuknya negara sudah ada yaitu penduduk,
wilayah dan pemimpinnya.

Di Balik Peristiwa
Nama naskah pernyataan kebebasan bangsa
Setiap bangsa yang berhasil membebaskan diri dari kekuasaan bangsa lain sudah
pasti mengumumkan segera kemerdekaannya ke seluruh dunia sebagai bukti adanya
kebebasan mengatur pemerintahannya sendiri.Adapun naskah pernyataan
kemerdekaan setiap negara berbeda-beda namun maknanya sama, negara tersebut
antara lain :
~ Indonesia : Proklamasi
~ Amerika Serikat : Declaration of Independence
~ Perancis : Declaration des Droits it Hume du Citoyen
~ PBB : Universal Declaration of Human Rights

Sumber : Sej Nas dan Dunia, 1997

C. Proses Penyebarluasan Berita Proklamasi Kemerdekaan


Makna proklamasi yang begitu besar terhadap Bangsa Indonesia, untuk itu berita
proklamasi harus segera diketahui oleh seluruh Bangsa Indonesia maupun bangsa lain di
dunia.
1. Proses Penyebarluasan Berita Proklamasi
Setelah naskah proklamasi berhasil dibacakan, selanjutnya ditunjuk tokoh-tokoh
yang mendapat tugas untuk menyebarluaskan berita proklamasi tersebut yaitu antara
lain; M. Yusuf, Ronodipuro, Suprapto, Bachtiar Lubis, dan Syahrudin. Penyebarluasan
berita proklamasi dimulai dengan cara menyerahkan fotocopy teks proklamasi ke
Syahrudin yang akan diteruskan ke kepala bagian radio (Waidan B.Palinewen). F. Wuz
seorang petugas penyiaran selanjutnya menyiarkan teks proklamasi tiga kali berturut-
turut pada pagi hari itu juga.
Jepang sebenarnya melarang penyiaran berita tersebut, tetapi berita proklamasi
tetap disiarkan sampai pukul 16.00 WIB, sehingga masyarakat luar Jakarta segera
megetahui berita tersebut. Jepang akhirnya menyegel pemancar radio tersebut pada
tanggal 20 Agustus 1945. Tindakan Jepang tersebut tidak mematahkan semangat para
pemuda, mereka justru mendirikan pemancar radio baru yang berhasil didirikan di
Menteng 31 sehingga berita proklamasi dapat disiarkan kembali. Selain pemancar radio
tersebut, ternyata berdiri juga pemancar radio Hoso Kanri Kyoku dengan tokohnya
Susilo Harjo, M. Yusuf, Ronodipuro, dan Bachtiar Lubis. Radio Voice of Indonesia
yang berada di kementrian penerangan juga ikut menyebarluaskan berita proklamasi.
Berita proklamasi juga disebarluaskan melalui surat kabar, pamflet, spanduk,
poster, pengeras suara dan sebagainya. Surat kabar yang memuat berita proklamasi
antara lain; surat kabar Niews Blad, Tjahaya Karya (bandung), Soeara Asia (Surabaya)
dan sebagainya. Peran percetakan Balai Pustaka dibawah Suparjo besar sekali karena
berhasil mencetak beribu-ribu eksemplar, begitu juga percetakan Asia Raya yang
dipimpin BM.Diah. Dampak yang dirasakan begitu besar dari proses penyebaran berita
proklamasi tersebut, sehingga satu persatu bangsa di dunia mau mengakui kemerdekaan
Bangsa Indonesia yang antara lain; Mesir, Libanon, India, Irak, Saudi Arabia.

2. Sikap Rakyat di berbagai Daerah terhadap Berita Proklamasi


Sejak mendengar berita proklamasi, masyarakat Indonesia menyambutnya dengan
rasa gembira. Rakyat meneriakkan pekik kemerdekaan “Merdeka atau Mati” dan
“Sekali Merdeka Tetap Merdeka”. Kegembiraan rakyat ini terjadi tidak hanya di
Jakarta, tetapi sampai juga di luar Jawa bahkan akhirnya rakyat seluruh Indonesia
mengetahuinya. Semua ini berkat media penyebaran berita proklamasi yang begitu
cepat dan utusan daerah yang membawa berita proklamasi. Meskipun ada sebagian
rakyat yang tidak percaya akan berita proklamasi tersebut.
Kaum muda menyambut berita proklamasi dengan suka cita, dan diwarnai rasa
kekhawatiran, karena serdadu Jepang masih berjaga-jaga di pos-pos penting di wilayah
Indonesia. Pemuda banyak yang akhirnya merebut tempat-tempat penting dari
penjagaan serdadu Jepang. Kekhawatiran tersebut beralasan karena Jepang disuruh oleh
sekutu untuk menjaga keamanan di Indonesia selama sekutu belum datang ke
Indonesia. Kondisi tersebut berakibat terjadinya bentrokan antara serdadu Jepang
dengan pemuda Indonesia.

D. Proses Terbentuknya Pemerintahan Republik Indonesia dengan Sidang PPKI


Denganproklamasi kemerdekaan yang diumumkan tanggal 17 Agustus 1945 tersebut
bukan berarti tugas dari PPKI berakhir. Justru PPKI memulai tugas baru dalam rangka
penyusunan badan kelengkapan negara. Syarat berdirinya sebuah negara sudah ada semua
kecuali ada satu yang belum terpenuhi yaitu pemerintahan yang berdaulat. Presiden dan
Wakil presiden baru diangkat tanggal 18 Agustus 1945, begitu juga UUD baru disyahkan
sehingga beleum terbentuk badan kelengkapan negara. Oleh karena itu sehari setelah
proklamasi PPKI mulai mengadakan sidang-sidang sebagai berikut ;
a. Sidang PPKI pertama diselenggarakan tanggal 18 Agustus 1945 dan berhasil
memutuskan antara lain :
1). Mengesahkan dan menetapkan UUD RI yang dikenal dengan nama UUD 1945.
2). Memilih Ir. Sukarno sebagai presiden, dan Drs. Muhammad Hatta sebagai wakil
presiden RI.
3). Sebelum terbentuknya MPR, pekerjaan presiden untuk sementara waktu dibantu oleh
Komite Nasional.
b. Sidang kedua diselenggarakan tanggal 19 Agustus 1945 dengan menghasilkan 2
keputusan yaitu :
1). Pembagian wilayah yang terdiri dari 8 propinsi yaitu (Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Borneo, Sulawesi, Maluku, Sunda Kecil dan Sumatra).
2). Menetapkan 12 kementrian dalam lingkungan pemerintahan yaitu (Kementrian
Dalam Negri, Kementrian Luar Negri, Kehakiman, Keuangan, Kemakmuran,
Kesehatan, Pengajaran, Sosial, Pertahanan, Penerangan, Perhubungan dan
Pekerjaan Umum).
c. Sidang PPKI yang ketiga diselenggarakan tanggal 22 Agustus 1945 dengan memutuskan
membentuk 3 hal yaitu :
1). Komite Nasonal
2). PNI
3). BKR

1. Pengesahan UUD 1945


UUD 1945 merupakan salah satu peraturan perundang-undangan yang dijadikan
pedoman penyelenggaraan suatu negara. UUD 1945 yang berhasil disyahkan oleh PPKI
tanggal 18 Agustus 1945 merupakan hasil rancangan dari panitia perumus rancangan
UUD yang diambilkan dari “Piagam Jakarta “. Ada beberapa perubahan yang
dirumuskan dari Piagam Jakarta antara lain Sila Pertama yang semula berbunyi
“Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” diganti menjadi “Ketuhanan
yang Maha Esa”. Selanjutnya pasal 6 yang semula berbunyi “Presiden adalah orang
Indonesia asli yang beragama Islam” diganti menjadi Presiden adalah orang Indonesia
asli”.
UUD 1945 tersebut terdiri dari :
a. Pembukaan yang terdiri 4 alenia
b. Batang tubuh yang terdiri dari 16 Bab, 37 pasal, 4 pasal
aturan peralihan dan 2 ayat aturan tambahan
c. Penjelasan UUD yang terdiri dari penjelasan umum
dan penjelasan pasal demi pasal.
2. Pemilihan dan Pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden
Menurut ketentuan pasal dalam UUD 1945yaitu pasal 4 ayat 1,”Pemimpin
pemerintah di Indonesia dipegang oleh seorang presiden”. Untuk itu keberadaan
presiden sangat penting dalam pengendalian roda pemerintahan. Karena MPR belum
terbentuk, maka PPKI yang berperan memilih dan mengangkat presiden maupun wakil
presiden. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal III aturan peralihan.
Dalam sidang PPKI yang pertama tanggal 18 Agustus 1945, atas usul dari Otto
Iskandardinata, aggota PPKI memilih Ir.Sukarno sebagai presiden dan Drs. Muhammad
Hatta sebagai wakil presiden. Keua tokoh tersebut peranannya sangat penting dalam
perjuangan memperoleh kemerdekaan.
3. Pembentukan Kabinet yang Pertama
Setelah presiden dan wakil presiden diangkat, perlu dibentuknya sustu kabinet
yang bertugas membantu penyelenggaraan suatu negara. Presiden Sukarno menugaskan
ke panitia kecil yang terdiri dari Ahmad Subarjo, Sutarto Kartahadikusumo dan Kasman
Singodimejo untuk membahas susunan kabinet. Rancangan susunan kabinet sudah
berhasil disusun oleh panitia kecil yang selanjutnya menyampaikan dalam sidang PPKI
tanggal 19 Agustus 1945. PPKI berhasil menetapkan 12 kementrian yang susunannya
sebagai berikut :
a. Mentri dalam Negri : RAA. Wiranata Kusuma
b. Mentri Luar Negri : Mr. Achmad Subarjo
c. Mentri Keungan : Mr. AA Maramis
d. Mentri Kehakiman : Prof. Dr.Mr. Supomo
e. Mentri Kemakmuran : Ir. Surachman Cokroadisuryo
f. Mentri Keamanan Rakyat : Supriyadi
g. Mentri Kesehatan : Dr. Buntaran Marmoatmojo
h. Mentri Pengajaran : Kihajar Dewantoro
i. Mentri Penerangan : Mr. Amir Syarifudin
j. Mentri Sosial : Mr. Iwa Kusumasumantri
k. Mentri Pekerjaan Umum : Abi Kusno Cokrosuyoso
l. Mentri Perhubungan : Abi Kusno Cokrosuyoso
Disamping 12 kementrian yang mengurusi departemen di atas, dibentuk pula 4
kementrian negara yaitu :
a. Mentri Negara : Wachid Hasyim
b. Mentri Negara : Dr. M. Amir
c. Mentri Negara : Mr. R.M. Sartono
d. Mentri negara : Otto Iskandardinata
Adapun 4 pejabat negara yang ikut membantu penyelenggaraan pemerintahan sebagai
berikut :
a. Ketua Mahkamah Agung : Dr.Mr. Kusuma Atmaja
b. Jaksa Agung : Mr. Gatot Tarunamiharja
c. Sekretaris Negara : Mr.A.G. Pringgodigdo
d. Juru Bicara Negara : Sukarjo Wiryopranoto

4. Pembagian Wilayah RI
Berdasarkan hasil sidang BPUPKI, wilayah RI adalah bekas wilayah jajahan
Hindia Belanda. Wilayah Indonesia yang sangat luas tersebut agar mudah dikelola dan
diatur, perlu dibagi menjadi wilayah-wilayah proponsi. Untuk itu presiden Sukarno
menugaskan panitia kecil yang dipimpin oleh Otto Iskandardinata untuk membahas
pembagian wilayah RI. Dan dalam sidang PPKI berhasil ditetapkan delapan propinsi
dengan gubernurnya masing-masing yaitu :
a. Propinsi Sumatra : Mr. Teuku Mohammad Hassan
b. Propinsi Jawa Barat : Sutarjo Kartokadikusumo
c. Propinsi Jawa Tengah : R. Panji Suroso
d. Propinsi Jawa Timur : R.A. Suryo
e. Propinsi Sunda Kecil : Mr. I. Gusti Ketut Puja
f. Propinsi Maluku : Mr. J. Latuharhary
g. Propinsi Sulawesi : Dr. G.S.SJ. Ratulangie
h. Propinsi Kalimantan : Ir. Pangeran Mohammad Noor
5. Pembentukan Komite Nasional, PNI dan BKR
a. Pembentukan Komite Nasional
Pembentukan komite ini berdasarkan aturan peralihan pasal IV UUD 1945
“Bahwa sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk menurut UUD ini, segala
kekuasaan dijalankan oleh presiden dengan bantuan sebuah komite nasional”.
Selanjutnya PPKI menyelenggarakan sidang tanggal 22 Agustus 1945 untuk
membahas masalah pembentukan komite nasional tersebut. Sidang berhasil
memutuskan dibentuknya komite nasional.
Komite nasional dibentuk di seluruh Indonesia dengan pusatnya di Jakarta.
Komite Nasional merupakan penjelmaan kekuatan dan cita-cita Bangsa Indonesia.
Komite nasional yang dibentuk tersebut terdiri dari Komite Nasional Indonesia
Pusat(KNIP) dan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). Keanggotaan KNIP
mencerminkan wakil dari masing-masing daerah, wakil golongan dan semua
lapisan masyarakat serta semua aliran dalam masyarakat. Adapun fungsi dari badan
ini sebagai DPR sebelum DPR hasil pemilu terbentuk.
Tanggal 29 Agustus 1945 anggota KNIP dilantik oleh Ir. Sukarno,
selanjutnya PPKI dibubarkan karena tugasnya dianggap selesai. KNIP diketuai oleh
Mr. Kasman Singodimejo. Pada tanggal 16 Oktober 1945 KNIP menyelenggarakan
konggres di Malang dan menyetujui maklumat wakil presiden No. X/1945 yang
isinya antara lain :
1. Sebelum DPR/MPR terbentuk, KNIP diserahi kekuasaan legislatif dan ikut
menetapkan GBHN.
2. Berhubung situasinya genting, maka pekerjaan KNIP sehari-hari dijalankan
oleh Badan Pekerja KNIP yang diketuai oleh Sutan Syahrir.
b. Pembentukan PNI
Sidang PPKI yang ketiga 22 Agustus 1945 juga berhasil memutuskan tentang
pembentukan Partai Nasional Indonesia. PNI merupakan partai negara yang
menyatukan seluruh lapisan dan kekuatan dalam masyarakat. Adapun tujuan
dibentuknya PNI adalah untuk mewujudkan negara Republik Indonesia yang
berdaulat, adil dan makmur berdasarkan kedaulatan rakyat.
Pada tanggal 14 November 1945, kabinet presidensil diganti dengan kabinet
parlementer dengan Perdana Mentri pertama adalah Sutan Syahrir. Pemerintah
selanjutnya mengeluarkan maklumat tanggal 3 november 1945 yang isinya
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendirikan partai politik.
Akibatnya muncullah beberapa partai politik misalnya Masyumi, PBI, Partai
Sosialis Indonesia, Partai Kristen Indonesia dan lain-lain.
c. Pembentukan BKR(Badan Keamanan Rakyat)
BKR dibentuk 23 Agustus 1945 dengan tujuan untuk menjaga keamaan
negara. BKR bukanlah tentara nasional, karena pertimbangan pemerintah jika
dibentuk tentara akan menimbulkan kecurigaan dan permusuhan dengan pihak
sekutu. Hal ini jelas karena menuruk ketentuan perang, sekutulah yang berkuasa di
Indonesia. Akan tetapi keberadaan BKR sangat penting bagi negara Indonesia yang
baru dibentuk. Anggota BKR terdiri dari para pemuda bekas anggota Peta, KNIL,
Heiho, Keibodan, Seinendan dan sebagainya. Sebagian pemuda yang kecewa
terhadap pembentukan BKR tersebut, mendirikan badan perjuangan sendiri yang
antara lain;
Angkatan Pemuda Indonesia (API)
Barisan Rakyat Indonesia (BARA)
Barisan Buruh Indonesia (BBI)
Barisan Banteng
Hizbullah
Sabillilah
Angkatan Muda Indonesia
Tentara Pelajar
Pemuda Sosialis Indonesia (PSI)
Setelah kondisi keamanan terancam dari pihak Belanda dan sekutu, maka
pemerintah menerima usul dari Mayor Oerif Soemoharjo untuk menyusun tentara
nasional. Maka tanggal 5 Oktober 1945 BKR diubah menjadi TKR (Tentara
Keamanan Rakyat). Pimpinan tertinggi TKR dipercayakan kepada Supriyadi yang
ternyata tidak pernah muncul, sehingga diadakan pemilihan pemimpin baru dan
yang terpilih adalah Kolonel Sudirman. Pada tanggal 18 Desember 1945 Sudirman
dilantik menjadi Panglima Besar TKR dengan pangkat jenderal, sedangkan Oerip
Soemoharjo terpilih menjadi Kepala Staf Umum TKR.

Dibalik Peristiwa
Kronologis terbentuknya TNI
o 23 Agustus 1945 dibentuk BKR
o 5 Oktober 1945 BKR diubah menjadi TKR
o 1 Januari 1946 TKR diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat
o 25 Januari 1947 TKR diubah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia)
o 3 Juni 1947 TRI diubah menjadi TNI(Tentara Nasional Indonesia)
o TNI tersebut terdiri dari : TNI AD, TNI AL, TNI AU
Sumber : Sejarah ABRI, 1993

E. Dukungan dari Berbagai Daerah terhadap Pembentukan Negara dan Pemerintahan RI

Pemerintah RI yang baru dibentuk tak dapat mengembangkan kekuasaannya dengan


baik karena terhalang oleh tentara Jepang yang masih berada di Indonesia. Jepang jelas
tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia karena mereka telah menyerah kepada sekutu.
Sementara itu para pemuda ingin agar seluruh bangsa Indonesia bangkit serentak
mewujudkan kemerdekaan yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Jepang yang
menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia tersebut harus ditaklukkan dengan cara para
pemuda meluciti senjata Jepang dan merebut perkantoran yang masih dijaga Jepang. Hal ini
menimbulkan bentrok antara pemuda dengan tentara Jepang. Adapun peristiwa penting
yang merupakan dukungan terhadap pembentukan negara RI tersebut antara lain :
1. Rapat Raksasa di Lapangan Ikada
Meskipun berita proklamasi sudah disebarluaskan ke seluruh pelosok tanah air,
para pemuda merasa masih kawatir akan kedaulatan RI. Kenyataannya Jepang
masih berjaga-jaga di Indonesia dan sekutu akan datang mengambil alih
kekuasaan dari tangan Jepang. Menghadapi kenyataan tersebut para pemuda
merencanakan mengadakan rapat di lapangan Ikada. Para pemuda yang tergabung
dalam komite van aksi Menteng 31 tersebut mempelopori pengerahan massa ke
Lapangan Ikada. Adapun tujuan rapat tersebut untuk menghadirkan pemimpin
bangsa agar dapat berbicara di depan massa rakyat demi tegaknya kedaulatan
negara RI.
Rencana tersebut ternyata diketahui Jepang, sehingga Jepang berusaha
mencegah rapat tersebut dengan menyerukan kepada masyarakat Jakarta agar
tidak menghadiri rapat tersebut. Kabinet juga ditekan dan mengancam akan
menawan tokoh-tokohnya dalam kabinet tersebut. Ancaman Jepang ternyata tidak
menyurutkan semangat rakyat Jakarta untuk menghadiri rapat raksasa tersebut.
Pada tanggal 19 September 1945, rakyat berbondong-bondong menuju lapangan
Ikada. Selain masyarakat Jakarta, juga hadir masyarakat dari Bogor, Bekasi,
Tangerang dan lain-lainnya. Mereka yang hadir diperkirakan 200.000 orang yang
berjejal-jejal menunggu pidato pemimpinnya.

Bung Karno dan mentri-mentri lainnya datang ke Lapangan Ikada,


mereka tidak mempedulikan peringatan dari Jepang. Begiti juga masyarakat tidak
gentar menghadapi senapan mesin dan tank-tank Jepang yang berjaga di sekitar
Lapangan Ikada. Bung Karno langsung menuju panggung yang telah disediakan.
Beliau berpidato sangat singkat yang intinya meminta kepercayaan dan dukungan
rakyat terhadap pemerintahan RI dengan cara mematuhi perintah-perintahnya
dengan disiplin. Presiden selanjutnya membubarkan massa dan meminta rakyat
pulang dengan tertib. Rakyat pulang kerumah masing-masing dengan tekat yang
bulat untuk ikut mempertahankan kedaulatan pemerintah RI. Rapat raksasa di
Lapangan Ikada mengandung 2 makna yang penting yaitu :
a. Menunjukkan bukti bahwa pemerintah RI masih berwibawa di hadapan
rakyatnya.
b. Menunjukkan pada dunia internasional bahwa kemerdekaan RI memperoleh
dukungan dari rakyatnya.

2. Pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX


Kasultanan Yogyakarta mempunyai andil yang besar dalam kancah perjuangan.
Pada saat berita proklamasi mulai disebarluaskan ke seluruh pelosok tanah air, Sri
Sultan Hamengkubuwono IX dengan spontan menyatakan dukungannya terhadap
proklamasi. Sri Sultan Hamengkubuwono IX langsung memberi ucapan selamat kepada
presiden Sukarno. Ketegasan pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tersebut
dibuktikan dengan dikeluarkannya amanat yang ditujukan kepada rakyat Yogyakarta
tanggal 5 September 1945. Adapun bunyi amanat tersebut secara lengkap sebagai
berikut :

Kami, HAMENGKUBUWONO IX, Sultan Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat


menyatakan :
1. Bahwa negeri Ngayogyakarto Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah Daerah
Istimewa dari Negara Republik Indonesia.
2. Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri
Ngayogyakarto Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada
dewasa ini segala urusan pemerintah dalam Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat
mulai saat ini berada ditangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnya kami pegang
seluruhnya.
3. Bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat dengan
pemerintah pusat Negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kami
bertanggung jawab atas Negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Berdasarkan peryataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tersebut dapat disimpulkan


bahwa :
a. Kasultanan Ngayogyakarta merupakan Daerah Istimewa bagian dari negara RI.
b. Sultan bertanggung jawab kepada prediden.
c. Semua urusan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dipegang oleh Sultan.
3. Tindakan Heroik diberbagai Daerah
Rapat raksasa di lapangan Ikada meskipun tidak menimbulkan pertumpahan darah,
namun luapan kegembiraan para pemuda diwujudkan dengan merebut senjata dan
menduduki pos-pos penjagaan pasukan Jepang. Hal ini disebabkan Jepang tetap
mempertahankan status quo Indonesia seperti yang diamanatkan oleh sekutu. Akibatnya
terjadi peristiwa heriok diberbagai daerah di Indonesia yang antara lain :
a. Surabaya
Bersamaan dengan adanya rapat raksasa di Lapangan Ikada 19 September 1945, di
Surabaya tepatnya di Hotel Yamato terjadi insiden. Beberapa puluh ex interniran
Belanda yang bersenjata mencoba merebut Hotel Yamato tersebut yang berada
ditengah kota. Mereka menaiki puncak bangunan hotel dan mengibarkan bendera
Belanda. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat dan mereka berbondong-bondong
menuju jalan Tunjungan serta menyerbu Hotel tersebut. Bendera Belanda tersebut
disobek warna birunya, sehingga tinggal warna merah putih.
b. Yogyakarta
Bentrok dengan Jepang terjadi di Yogyakarta yang diawali dengan aksi mogok kerja
yang dilakukan oleh para pegawai instansi pemerintah dan perusahaan yang dikuasai
Jepang. Mereka memaksa Jepang untuk menyerahkan semua kantor sehingga terjadi
indiden di Kota Baru yang dipelopori para pemuda dan BKR.
c. Semarang
Pada tanggal 15 Oktober 1945 terjadi pertempuran 5 hari di Semarang. Pertempuran
ini terjadi antara pasukan Jepang dengan pemuda yang tergabung dalam TKR.
Adapun penyebabnya dipicu oleh gugurnya dr.Karyadi yang sedang memeriksa
cadangan air minum di daerah Candi. Dalam pertempuran ini banyak menimbulkan
korban jiwa terutama pertempuran di Simpang Lima.
d. Bandung
Perebutan gedung-gedung pemerintahan dan senjata juga terjadi di Bandung. Para
pemuda berhasil merebut pabrik senjata yang dikuasai Jepang.
e. Makasar
Di Makasar juga terjadi persbutan gedung-gedung vital dan persenjataan oleh para
pemuda. Mereka berhasil merebutnya dari penjagaan pasukan Jepang.
f. Gorontalo
Pada tanggal 13 September, para pemuda Gorontalo berhasil merebut senjata dari
markas Jepang.
g. Aceh
Pada tanggal 6 Oktober 1945 para pemuda dan tokoh masyarakat Aceh membentuk
API (Angkatan Pemuda Indonesia). Akan tetapi Jepang melarang berdirinya
organisasi tersebut, sehingga terjadi pertempuran antara Jepang dengan para pemuda.
Para pemuda berhasil melucuti senjata Jepang dan mengambil alih kantor-kantor
Jepang.
h. Palembang
Pengambilalihan kantor-kantor Jepang juga terjadi di Palembang yang dipimpin oleh
A.K.Gani. Selanjutnya rakyat mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih.

Di Balik Peristiwa
Mendaratnya Tentara Sekutu
Kapal-kapal sekutu “ Cumberland, Tromp dan lebih dari 15 buah kapal Sekutu
berlabuh di Tanjung Priok. Mereka mengangkut tentara sekutu dan NICA. Pasukan NICA
setelah mendarat segera membuat keonaran diantaranya membakar dan menginjak-injak
bendera merah putuh serta mengibarkan bendera Belanda. Orang-orang Belanda tersebut
menyerukan slogan “ Hidupmu (Republik ) tinggal satu hari saja. Mereka meneriakkan
slogan-slogan tersebut dimana-mana sehingga menimbulkan kemarahan para pemuda
Indonesia.

RANGKUMAN

* Perbedaan Perspektif antara golongan tua dengan golongan muda menimbulkan peristiwa
Rengasdengklok. Dengan peristiwa yersebut justru dapat mengantar Indonesia ke pintu
gerbang kemerdekaan.
 Proses proklamasi kemerdekaan Indonesia diawali dengan antara lain :
i. Perumusan Teks Proklamasi
Tokoh yang berperan dalam perumusan teks proklamasi antara lain; Ir. Sukarno, Drs.
Muhammad Hatta dan Ahmad Subarjo, sedangkan Sayuti Melik bertugas mengetik
naskah proklamasi. Perumusan teks proklamasi tersebut dilaksanakan di rumah
kediaman Laksamana Maeda.
ii. Pembacaan Teks Proklamasi
Pembacaan teks proklamasi dilaksanakan di halaman kediaman Ir. Sukarno, jalan
Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir.
Sukarno yang didampingi Drs. Muhammad Hatta tepat pukul 10.00 WIB.
 Penyebarluasan berita proklamasi
Penyebarluasan berita proklamasi dilakukan dengan berbagai cara yang antara lain
melalui; siaran radio, surat kabar, slogan, pamflet, poster dan sebagainya. Peran pemuda
sangat besar dalam proses penyebarluasan berita proklamasi ini. Masyarakat Indonesia
sangat gembira menyambut berita proklamasi tersebut dengan meneriakkan berbagai
macam pekik kemerdekaan.
 Pembentukan negara RI dilakukan melalui sidang PPKI yang berlangsung tiga kali yaitu ;
1. Sidang Pertama 18 Agustus 1945 berhasil memutuskan antara lain :
a.Menetapkan dan mengesahkan UUD 1945.
b.Memilih Ir. Sukarno sebagai presiden dan Drs. Muhammad Hatta sebagai wakil
presiden.
c.Sebelum terbentuknya MPR, pekerjaan presiden untuk sementara waktu dibantu
oleh Komite Nasional.
2. Sidang kedua 19 Agustus 1945 berhasil memutuskan antara lain :
a. Pembagian wilayah RI menjadi 8 propinsi yaitu (Sumatra, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku ).
b.Menetapkan 12 Kementrian dalam lingkungan pemerintahan yaitu (Kementrian
Dalam Negri, Luar Negri, Kehakiman, Keuangan, Kemakmuran, Kesehatan,
Pengajaran, Sosial, Pertahanan, Penerangan, Perhubungan dan Pekerjaan Umum.
3. Sidang ketiga 22 Agustus 1945 berhasil memutuskan membentuk antara lain :
a. Komite Nasional
b. PNI
c. BKR
4. Dukungan terhadap pemerintah RI meliputi antara lain:
a. Rapat raksasa di Lapangan Ikada
b. Pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX
c. Peristiwa Heriok di berbagai daerah

PENGAYAAN

Sumatra Menyambut Proklamasi


Berita proklamasi secara samar-samar sampai kepada rakyat Sumatra sekitar akhir
Agustus 1945. Para pemimpin pergerakan yang sempat mendengar berita proklamasi tidak
cukup punya kekuatan untuk menyebarluaskan ke kalangan masyarakat luas. Hal ini
disebabkan tentara Jepang masih menguasai Sumatra Timur sepenuhnya. Keberanian
menyebarluaskan berita proklamasi ini baru terlaksana setelah Mr.Teuku Mohammad Hasan
diangkat menjadi gubernur RI di Sumatra pada tanggal 27 Agustus 1945. Mr. Mohammad
Hasan Dr.Amir diberi tugas untuk membentuk KNI (Komite Nasional Indonesia), tetapi
sulit dilaksanakan karena mereka selalu diawasi Jepang. Kedua tokoh tersebut akhirnya
hanya dapat mendirikan “ Panitia Kebangsaan “.
Berita kemerdekaan yang dibawa Teuku Mohammad Hasan akhirnya tersebar luas di
seluruh Sumatra. Para pemuda ikut bertanggung jawab akan nasib bangsanya, sehingga
mereka berkumpul di jl. Jakarta no.6 mengadakan rapat dibawah pimpinan A.Taher, Abdul
Malik Munir, dan MK.Djusni. Menjelang akhir September 1945 perjuangan pemuda
semakin hebat, mereka secara terang-terangan membuat pernyataan yang menentang
kekuasaan Jepang. Mereka mencorat-coret gedung, rel kereta api , tiang listrik dan membuat
plakat-plakat yang isinya menentang Jepang. Tekat rakyat Sumatra sudah bulat, maka
pemerintah RI harus ditegakkan. Tanggal 3 Oktober 1945 Mr. Teuku Mohammad Hasan
secara resmi mengumumkan dimulainya pemerintahan Republik Indonesia di Sumatra
dengan kota Medan sebagai ibukotanya.

GLOSSARIUM

 Autentik : asli
 Maklumat : pemberitahuan atau pengumuman
 Pamlet : selebaran
 Parlementer : proses hukum atau pemerintahan yang dikendalikan parlemen
 Presidensiil : proses hukum atau pemerintahan yang dikendalikan presiden
 Poster : plakat yang dipasang ditempat umum
 Spanduk : kain yang berisi slogan atau propaganda
RANGKUMAN IPS
SEJARAH KELAS
VIII SEMESTER 2

WAHYU SEPTIANINGTYAS
VIII AKSELERASI – 18
RSBI SMP NEGERI 01 KARANGANYAR
2008/2009