Anda di halaman 1dari 24

Matakuliah : METODE NUMERIK I

Tahun : 2008

Hampiran Numerik Penyelesaian


Persamaan Polinomial

Pertemuan 4
Bentuk umum persamaan polinomial:

n
f ( x ) = Pn ( x ) = ∑a k x k
k =0

= a0 + a1 x + a 2 x + a3 x + ...+ a n x
2 3 n

Dengan ak adalah konstanta bilangan riil dan an ≠ 0


Persamaan polinomial termasuk pada persamaan non-linier

Dapat diselesaikan baik dengan metoda terbuka


maupun metoda tertutup tetapi kurang effisien untuk n
yang besar
Bina Nusantara
1. Metoda Müller

Muller menggunakan pendekatan proyeksi parabola melalui


tiga titik pada sumbu x sebagai pengganti proyeksi garis melalui
dua titik pada sumbu x seperti pada metoda Secant
Misalkan tiga titik tsb adalah: [ x0,f(x0)]; [ x1,f(x1)]; [ x2,f(x2)]

Misalkan persamaan parabola melalui tiga titik tersebut adalah:


f ( x) = a ( x − x 2 ) 2 + b( x − x 2 ) + c

Maka:
f ( x 0 ) = a ( x 0 − x 2 ) 2 + b( x 0 − x 2 ) + c
f ( x1 ) = a( x1 − x 2 ) 2 + b( x1 − x 2 ) + c ……………..(1)

f ( x 2 ) = a ( x 2 − x 2 ) 2 + b( x 2 − x 2 ) + c = c
Bina Nusantara
Misalkan: h0 =x1 −x 0
h1 =x 2 −x1
f ( x1 ) −f ( x 0 )
δ0 =
x x −x 0
f ( x 2 ) −f ( x1 )
δ1 =
x 2 −x1
Disubtitusikan ke persamaan (1), diperoleh:

δ1 −δ0
a=
h1 + h0
……………….(2)
b = ah 1 +δ1
c = f ( x2 )
Bina Nusantara
Akar persamaan polinomial diperoleh dengan iterasi berikut:

− 2c
x3 = x 2 + …………………..(3)
b ± b 2 − 4ac

Contoh:
f ( x) = x 3 −13 x −12 = 0, tentukan akar persamaan
Jawaban:
Misalkan: x0 = 4.5; x1 = 5.5; x2 = 5
f(4.5) = 20.625; f(5.5) = 82.875; f(5) = 48 = c
h0 = 1; h1 = -0.5 a = 15
δ 0 = 62.25; δ 1 = 69.75 b = 62.25

Bina Nusantara
− 2c
Dengan rumus iterasi: x3 = x 2 +
b ± b 2 − 4ac
Diperoleh:

− 2c
x3 = x 2 +
b ± b 2 − 4ac
− 2( 48 )
=5+
62 .25 + (62 .25) 2 − 4(15 )( 48 )
= 3.976487

Bina Nusantara
Iterasi berikutnya adalah dengan menggunakan:
X0 = 5.5; x1 = 5 dan x2 = 3.976487
Kemudian dihitung kembali, h0; h1; δ 0 dan δ 1 untuk memperoleh
nilai a, b dan c
Hasil iterasinya adalah sbb.:
n xn ε n (%)
0 5 -
1 3.976487 25.74
2 4.00105 0.6139
3 4.00000 0.0262
4 4 0.0000119
Bina Nusantara
2. Metoda Bairstow
n
f ( x ) = Pn ( x ) = ∑a k x k
k =0

= a0 + a1 x + a 2 x + a3 x + ...+ a n x
2 3 n

dibagi dengan: (x2 – rx – s ) yang menghasilkan:


n− 3 n− 2
f n − 2 ( x) = b2 + b3 x + b4 x + ....+ bn −1 x
2
+ bn x
Dengan sisa pembagian:

R = b1 ( x − r ) + b0
Bina Nusantara
Hubungan rekurensi (recurrence relationship) dengan pembagian
Fungsi kuadrat diperoleh:
bn = an
bn-1 = an-1 + r b0
bi = ai + r bi+1 + s bi+2 , untuk i = (n-2), (n-3),…, 2,1,0
Untuk membuat pembagian menuju nol, maka b0 dan b1 harus
menuju nol. b0 dan b1 masing-masing fungsi dari r dan s
∂ b0 ∂ b0
b0 (r + ∆ r , s + ∆ s) = b0 + ∆r + ∆s ≈ 0
∂r ∂s
∂ b1 ∂ b1
b1 (r + ∆ r , s + ∆ s) = b1 + ∆r + ∆s ≈ 0
∂r ∂s

Bina Nusantara
Turunan parsial dapat ditentukan dengan cara pembagian sintetik
seperti menentukan koefisien b yaitu dengan menuliskan:
∂ b0 ∂ b0 ∂ b1 ∂ b1
= c1 ; = = c2 ; = c3
∂r ∂s ∂r ∂s
Sehingga:
c1 ∆r + c 2 ∆s = −b0
c 2 ∆r + c3 ∆s = −b1
dimana:
c n = bn
c n −1 = bn −1 + rc n
ci = bi + rc i +1
Bina Nusantara Untuk i= n – 2 sampai dengan i= 1
Contoh:
Tentukan akar persamaan polinomial orde 5 berikut:
f ( x) = 1.25 − 3.875x + 2.125x + 2.75x − 3.5 x + x
2 3 4 5

Gunakan perkiraan awal r0 = s0 = -1 kemudian iterasikan sampai


Galat relatif kurang dari 1 %
Jawaban:
Dari pembagian sintetik menentukan koefisien b diperoleh:
b5 = a5 = 1; b4 = -4.5; b3 = 6.25; b2 = 0.375; b1 = - 10.5 dan
b0 = 11.375
Dari pembagian sintetik menentukan koefisien c diperoleh:
c5 = b5 = 1; c4 = -5.5; c3 = 10.75; c2 = - 4.875; c1 = - 16.375

Bina Nusantara
Maka:

-16.375 ∆ r – 4.875 ∆ s = -11.375


- 4.875 ∆ r + 10.75 ∆ s = 10.5
∆ r = 0.3558 dan ∆ s = 1.1381
Iterasi pertama untuk r dan s adalah:
r1 = r0 + ∆ r = -1 + 0.3558 = -
0.6442
s1 = s0 + ∆ s = -1 + 1.1381 =
ε0.1381
r( r1 ) = | (0.3558/-0.6442| 100 % = 55.23 %
ε s( s1) = | (1.1381/ 0.1381| 100 % = 824.1 %

Karena galat relatif masih tinggi, perhitungan dilanjutkan


dengan iterasi ke-2
Bina Nusantara
Dari pembagian sintetik menentukan koefisien b diperoleh:
b5 = a5 = 1; b4 = -4.1442; b3 = 5.5578; b2 = - 2.0276;
b1 = - 1.8013 dan b0 = 2.1304
Dari pembagian sintetik menentukan koefisien c diperoleh:
c5 = b5 = 1; c4 = -4.7884; c3 = 8.7806; c2 = - 8.3454;
c1 = 4.7874
Maka:
4.7874 ∆ r – 8.3454 ∆ s = -2.1304
– 8.3454 ∆ r + 8.7806 ∆ s = 1.8013

∆ r = 0.1331 dan ∆ s = 0.3316


Iterasi ke dua untuk r dan s adalah:
r2 = r1 + ∆ r = - 0.6442 + 0.1331 = - 0.5111
s1 = s0 + ∆ s = 0.1381 + 0.3316 = 0.4697
Bina Nusantara
ε r( r2 ) = | (0.1331/-0.5111| 100 % = 26.0
%
ε s( s2)galat
Karena = | (0.3316/ 0.4697|
relatif masih 100 perhitungan
tinggi, % = 70.6 dilanjutkan
dengan
% iterasi ke-3, dan seterusnya
Setelah iterasi ke-4 diperoleh haga r dan s yaitu:
r4 = - 0.5 dengan ε r( r4 ) = 0.063 % Jadi r = r4 = -0.5 dan
s4 = 0.5 dengan ε s( s4) = 0.040 % s = s4 = 0.5
Persamaan kuadarat: (x2 – rx – s ) = (x2 + 0.5x – 0.5 ) adalah
merupakan faktor dari f(x)
Dua akar pertama dari f(x) diperoleh yaitu:
−0.5 ± ( −0.5) 2 +4(0.5)
x1, 2 =
2
x1 =0.5
x 2 = −1.0
Bina Nusantara
Hasil pembagian f(x) dengan (x2 + 0.5x – 0.5 ) yaitu:

f 3 ( x) = −2.5 + 5.25 x − 4 x + x 2 3
Akar-akar dari f3 (x) ini dicari dengan menggunakan r = - 0.5 dan
s = 0.5 sebagai perkiraan awal
Setelah lima iterasi diperoleh: r = 2 dan s = - 1.249 dan
persamaan kuadrat (x2 – rx – s ) = (x2 - 2x + 1.249 ) adalah
faktor dari f3(x)
Akar ke tiga dan ke empat dari f(x) diperoleh yaitu:

2 ± 2 2 + 4(−1.249 )
x 3, 4 = = 1 ± 0.499 i
2
x3 = 1 + 0.499 i Hasil pembagian f (x) dengan (x2 - 2x + 1.249 )
3
x 4 = 1 − 0.499 i yaitu: f1(x) = x – 2. Jadi akar ke lima dari f(x)
Bina Nusantara
yaitu x5 = 2
2. Metoda Birge-Vieta
Birge-Vieta mengembangkan metoda Newton khusus untuk
mencari akar-akar persamaan polinomial
Rumus iterasi metoda Newton:

f ( xn )
xn+ 1 = xn − '
f ( xn )

Bina Nusantara
f(x) dan f’(x) dievaluasi dengan aturan Horner secara rekursif
untuk memperoleh koefisien b seperti yang telah digunakan
Bairstow sehingga diperoleh hubungan rekurensi koefisien sbb:
bn = an
bi = ai + xn bi+1
Dengan i = n – 1 sampai 0 dan f(xn) = b0
Bila
f ( x) = a0 + a1 x + a 2 x + a3 x + ...+ a n x
2 3 n

dibagi dengan (x – xn) diperoleh fungsi g(x) orde (n – 1) dengan


sisa pembagian b0, dan f(x) = (x – xn) g(x) + b0 dimana:
n −1
g ( x) = b1 + b2 x + b3 x + b4 x + ... + bn x
2 3

Bina Nusantara
Turunan pertama dari f(x) = (x – xn) g(x) + b0 yaitu:

f’(x) = (x – xn) g’(x) + g(x)


f’(xn) = g(xn) yaitu suatu polinomial orde (n – 1) dan dapat
dievaluasi dengan aturan Horner untuk memperoleh hubungan
rekurensi koefisien c yaitu:
cn = bn
ci = bi + xn ci+1
Dengan i = n – 1 sampai 1 dan g(xn) = c1
Rumus iterasi Bierge-Vieta untuk persamaan polinomial:

 b0 
xn +1 = xn −  
Bina Nusantara
 c1 
Contoh:
Tentukan akar persamaan polinomial f(x) = x3 – x – 1 disekitar
X0 = 1.3
Jawaban:
Dari hubungan rekurensi pembagian sintetik untuk menentukan
koefisien b dan c diperoleh:
i ai bi=ai+x0 bi+1 ci=bi+x0 ci+1

3 1 1 1
2 0 1.3 2.6
1 -1 0.69 4.07
0 -1 -0.103

Bina Nusantara
Iterasi pertama memberikan:

 − 0.103 
x1 = 1.3 −   = 1.325
 4.07 
Iterasi ke dua:

i ai bi=ai+x1 bi+1 ci=bi+x1 ci+1

3 1 1 1

2 0 1.325 2.265

1 -1 0.755625 4.267

0 -1 0.001203
Bina Nusantara
Iterasi ke dua memberikan:

 0.001203
x 2 = 1.325 −   = 1.3247181
 4.267 
Iterasi ke tiga:
i ai bi=ai+x2 bi+1 ci=bi+x2 ci+1

3 1 1 1

2 0 1.324718 2.64434

1 -1 0.154878 4.26434

0 -1 0.000004
Bina Nusantara
Iterasi ke tiga memberikan:

 0.000004 
x3 = 1.3247181 −   = 1.3247179
 4.26434 
ε r( x3 ) = | (-0.0000002/1.3247179)| 100 % = 0.00002 %

Bina Nusantara
Soal Latihan
1. Menggunakan Metode Muller, tentukan akar dari
f(x) = 2x4 – 3x2 + 6
2. Menggunakan Metode Bairstow, tentukan akar dari
f(x) = x4 – 2x3 + 6x2 -2x + 5
3. Menggunakan Metode Bierge-Vieta, tentukan akar
persamaan polinomial
f(x) = x3 – x2 + 2x -3 disekitar X0 = 1.27

Bina Nusantara