Anda di halaman 1dari 38

Dosen pengasuh:

Drs. Kasim Siyo, M.Si., Ph.D


DISUSUN
OLEH :

Joni syahputra

(1315100038)

DAFTAR ISI
Permintaan Agregat I ...............................................................................................2
1. Pengertian Permintaan Agregat ........................................................................... 2
2. Kurva Permintaan Agregat ................................................................................... 3
Penawaran Agregat I ................................................................................................7
1. Pengertian Penawaran Agregat .......................................................................7
2. Kurva Penawaran Agregat .................................................................................... 7

Kurva Permintaan dan Penawaran Agregat .............................................................8


Permintaan Agregat II .................................................................................................. 9
Model IS-LM .........................................................................................................10
Pasar barang dan Kurva IS ............................................................................................ 11
Tingkat bunga, Investasi................................................................................................ 18
Bagaimana Kebijakan Fiskal Menggeser KurvaIS................................................20
Interprestasi Dana Taktis dari Kurva IS ...................................................................... 22
Pasar Uang dan Kurva LM ........................................................................................... 23
Bagaimana Kebijakan Moneter menggeser Kurva LM ............................................ 27
Penawaran Agregat II ................................................................................................. 33
Guncangan Penawaran agregat .................................................................................... 34
Kebijakan Stabilisasi...................................................................................................... 35
Daftar Pustaka......................................................................................................37

Permintaan Dan Penawaran Agregat


Permintaan Agregat (AD) I
Permintaan agregat(AD) adalah jumlah barang dan jasa yang akan dibeli oleh
konsumen rumah tangga, perusahaan dan pemerintah, pada tingkat harga tertentu,
jumlah pendapatan tertentu, serta variabel-variabel tertentu lainnya.
Unsur-unsur yang mendorong permintaan agregat antara lain: tingkat harga,
jumlah pendapatan masyarakat, perkiraan situasi yang akan datang, sistem
perpajakan, jumlah pengeluaran pemerintah dan sebagainya.
1. Kurva Permintaan Agregatif ( Aggregate Demand Curve) adalah kurva yang
menunjukkan jumlah barang dan jasa yang ingin dibeli oleh rumah tangga,
perusahaan, dan pemerintah pada setiap tingkat harga. ( N. Gregory Mankiw,
2004)
Kurva permintaan menunjukkan kuantitas keluaran yang diminta ( oleh
suatu rumah tangga individual atau dalam suatu pasar tunggal ) pada setiap harga
yang mungkin, cateris paribus. Dalam menggambarkan kurva permintaan, kita
mengasumsikan bahwa harga harga dan pendapatan tetap. Dari asumsi itu,
menyusul bahwa salah satu alasan julah barang tertentu yang diminta turun bila
harganya naik adalah bahwa harga harga lain tidak naik.
Permintaan agregat turun bila tingkat harga naik karena lebih tingginya
tingkat harga menyebabkan aiknya permintaan uang ( MD ), karena penawaran
uang yang konstan, tingkat suku bungan akan naik untuk membangun kembali
keseimbangan di pasar uang. Tingkat suku bunga tinggilah yang menyebabkan
keluaran agregat turun.

Yang menyebabkan
KURVA PERMINTAAN AGREGAT DAPAT
BERGESER antara lain :
Kebijakan Fiskal Ekspansif
Kebijakan Fiskal Kontraktif
Kebijakan Moneter Ekspansif
Kebijakan Moneter Kontraktif

1. Kebijakan Fiskal Ekspansif


G

Kurva AD bergeser ke kanan

Tx net Kurva AD bergeser ke kanan


Kenaikan G menaikkan keluaran ( pendapatan ) agregat yang
direncanakan, yang selanjutnya akan menyebabkan kenaikan keluaran pada
masing masing tingkat harga yang mungkin.
4

Penurunan T menyebabkan konsumsi naik. Konsumsi yang lebih tinggi


selanjutnya menaikkan pengeluaran agregat yang direncanakan, yang
menimbulkan kenaikan keluaran pada setiap harga yang mungkin.

Tingkat
bunga, r

Ekspansi Fiskal menggeser


kurva IS

Tingkat
harga, P

... Yang meningkatkan


permintaan agregat pada
tingkat harga berapapun

LM (P=P1)

r0

r1

P
IS0
Y0

Y1

IS1

AD0
Pendapatan,
OutputY

Y0

Y1

AD1
Pendapatan,
Output, Y

Kebijakan Fiskal Ekspansioner

Akibat kenaikan pengeluaran pemerintah ( G ) atau penurunan


pajak neto (Tx net ) terhadap kurva AD menyebabkan kurva
permintaan agregat ( ADo) bergeser ke kanan dari ADo ke AD1.

2. Kebijakan Fiskal Kontraktif


G

kurva AD bergeser ke kiri.

Tx net kurva AD bergeser ke kiri.

Tingkat
Harga, P

Yang menurunkan
permintaan agregat pada
tingkat harga tertentu

P
AD2
Y2

ADo

Yo

Pendapatan,
Output, Y

Kebijakan Fiskal Kontraktif


Akibat penuruna pengeluaran pemerintah ( G ) atau kenaikan
pajak neto ( Tx net ) terhadap kurva AD menyebabkan kurva
permintaan agregat ( ADo ) bergeser ke kiri dari ADo ke AD2

3. Kebijakan Moneter Ekspansif


MS Kurva AD bergeser ke kanan
Kenaikan ( pendapatan ) agregat, Y. MS menurunkan tingkat suku bunga,
yang menaikkan investasi yang direncankan ( dan demikian pengeluaran angregat
yang direncanakn ). Hasil akhirnya adalah kenikan keluaran pada masing
masing tingkat harga yang mungkin sehingga menyebabkan kurva Ad0 bergeser.

Tingkat
bunga, r

Ekspansi moneter
menggeser kurva LM

... Yang meningkatkan


permintaan agregat pada
tingkat harga berapapun

Tingkat
Harga, P

LMo ( P =P1 )

LM1 ( P = P1 )

r0

Po

r2

IS
Y0

Yo

Y1

ADo
Y1

Pendapatan,
Output, Y

AD1
Pendapatan,
Output, Y

Kebijakan Moneter Ekspansif


Akibat kenaikan penawaran uang terhadap kurva AD, maka
menyebabkan pergeseran pada kurva permintaan AD, sehingga
kurva permintaan agregat AD0 bergeser ke kanan dari AD0 ke AD1

4. Kebijakan Moneter Kontraktif


MS kurva AD bergeser ke kiri

Tingkat
Harga, P

... Yang menurunkan


permintaan agregat pada
tingkat harga berapapun

Po

AD2
Y2

Y0

ADo
Pendapatan,
Output, Y

Kebijakan Moneter Kontraktif


Akibat penurunan penawaran uang ( MS ) terhadap kurva AD, maka
menyebabkan pergeseran kurva pada permintaan agregat AD,
sehingga kurva permintaan agregat Ado bergeser ke kiri dari ADo ke
AD2

Penawaran Agregat I
1. Pengertian Penawaran Agregat
Penawaran agregat (AS) adalah jumlah output yang akan diproduksi dan
dijual oleh kalangan bisnis pada harga yang berlaku, pada kapasitas produksi
tertentu dan dengan biaya-biaya tertentu.Perusahaan-perusahaan berkeinginan
berproduksi pada tingkat output potensial. Namun, pada tingkat harga
pengeluaran rendah, produsen akan menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah
yang lebih kecil dari tingkat output potensial. Sebaliknya, pada tingkat harga dan
pengeluaran tinggi, produsen akan menghasilkan barang dan jasa lebih besar dari
output potensialnya untuk sementara.Penawaran agregat ditentukan oleh jumlah
input atau faktor produksi, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam dan
teknologi.

2. Kurva Penawaran Agregat.


Menggambarkan hubungan antara harga yang akan dipasang oleh
perusahaan dengan jumlah barang dan jasa yang akan mereka produksi dan
mereka jual. Kurva penawaran agregat mempunyai kemiringan menanjak dari kiri
bawah kekanan atas.

b. Pada jangka pendek, kurva penawaran agregat relatif datar. Kenaikan harga
sedikit walaupun permintaan akan barang dan jasa bertambah. Hal ini disebabkan
tidak berubahnya faktor biaya tetap. Pada saat jumlah produksi melampui tingkat
output potensial, harga yang ditawarkan miningkat tajam.
8

c. Pada jangka Panjang, kurva penawaran agregat bergerak vertikal dari bawah ke
atas. Hal ini disebabkan semua biaya produksi akan menyesuaikan dengan
perubahan tingkat harga. Dalam keadaan seperti ini, produsen tidak lagi
berkeinginan menambah jumlah produksi barang dan jasa

C. Kurva Penawaran Agregat dan Kurva Permintaan Agregat.


Dalam menggambarkan kurva penawaran agregat dan kurva permintaan
agregat, sumbu mendatar adalah GNP Riel dan sumbu tegak Indeks Harga
Konsumen (IHK). GNP Riel menggambarkan jumlah barang dan jasa, sedangkan
IHK menggambarkan tingkat harga barang dan jasa secara keseluruhan.

LRAS

LRAS

SRAS

SRAS

LRAS

Chapter Nine

LRAS

SRAS

SRAS

AD

AD
Y

AD

LRAS

SRAS

SRAS

AD

AD
Y

LRAS

AD
Y

Permintaan Aggregat I

John Maynard Keynes The General Theory


Dari seluruh fluktuasi ekonomi dalam sejarah dunia, salah satu yang di anggap
sebagai fluktuasi ekonomi yang besar, menyengsarakan, dan secara intelektual
siknifikan adalah Depresi Besar ( Great Depression ) Pada Tahun 1930-an.
Selama waktu ini, amerika serikat dan banyak Negara lain mengalami
pengangguran massif dan penurunan pendapatan yang sangat besar. Pada tahun
yang terburuk, 1933,seperempat dari angkatan kerja AS menganggur, GDP riil 30
persen di bawah tingkat GPD tahun 1929.
Pada tahun 1936, ekonomi inggris John Maynard Keynes melakukan
revolusi terhadap ilmu ekonomi melalui bukunya The General Theory Of
Employment, Interest, and Money. Keynes menawarkan cara baru untuk
menganalisis perekonomian, yang ia tunjukan sebagai alternative terhadap
ekonomi klasik. Visinya tentang bagaimana perekonomian bekerja dengan cepat
menjadi pusat kontroversi. Tetapi, ketika ekonomi memperdebatkan The General
Theory, pemahaman baru tentang fluktuasi ekonomi pelan pelan berkembang.
Keynes menyatakan bahwa permintaan aggregate yang rendah
bertanggung jawab terhadap rendahnya pendapatan dan tingginya pengangguran
yang menjadi karakteristik kemerosotan ekonomi. Ia mengkritik teori klasik
karena mengasumsikan bahwa hanya penawaran aggregate-modal, tenaga
kerja,dan tegnologi yang menentukan pendapatan nasional. Para ekonomi dewasa
ini menggabungkan kedua pandangan ini dengan model permintaan aggregate dan
penawaran aggregat yang di perkenalkan pada bab 9. Dalam jangka panjang,
harga adalah fleksibel, dan penawaran aggregate menentukan pendapatan. Tetapi
dalam jangka pendek, harga adalah kaku, sehingga perubahan dalam permitaan
aggregate mempengaruhi pendapatan.

10

Model IS-LM
Model permintaan aggregate yang dikembangkan dalam bab ini, disebut
model IS-LM, adalah interpretasi terkemuka dari teori Keynes. Tujuan dari
model tersebut adalah menunjukan apa yang menentukan pendapatan nasional
untuk tingkat harga tertentu. Ada dua cara untuk memandang masalah masalah
ini. Kita bisa memandang model IS-LM sebagai yang menunjukan apa yang
menyebabkan pendapatan berubah dalam jangka pendek ketika tingkat harga
tetap. Atau kita bisa memandangsebagai model menunjukan apa yang
menyebabkan kurva permintaan aggregat bergeser. Kedua pandangan dari model
ini adalah ekuivalen: sebagaimana di tunjukan pada gambar 10-1, dalam jangka
pendek ketika tingkat harga tetap, pergeseran dalam kurva permintaan aggregat
menyebabkan perubahaan dalam pendapatan nasional.
Dua bagian dari model IS-LM adalah Kurva IS dan kurva LM. IS
menyatakan investasi dan tabungan, dan kurva menyatakan apa yang terjadi
pada pasar barang dan jasa. LM menyatakan likuiditas dan uang dan Kurva
LM menunjukan apa yang terjadi pada penawaran dan permintaan terhadap uang.
Karena mempengaruhi investasi dan permintaan uang, tingkat bunga merupakan
variabel yang menghubungkan kedua bagian dari model IS-LM. Model tersebut
menunjukan bagaimana interaksi di antara pasar-pasar ini menentukan posisi dan
kemiringan kurva permintaan aggregat dank arena itu, tingkat pendapatan
nasional dalam jangka pendek.

11

10- 1 Pasar Barang dan Kurva IS


Kurva IS menyatakan hubungan antara tingkat bunga dan tingkat
pendapatan yang muncul di pasar barang dan jasa. Untuk mengembangkan
hubungan ini, kita mulai dari model dasar yang di sebut perpotongan Keynesian
( Keynesian cross ). Model ini adalah interpretasi paling mudah dari teori
pendapatan nasional Keynes dan merupakan kerangkauntuk model IS-LM yang
lebih komplek dan realistis.
Perpotongan Keynesian
Dalam The General Theory Keynes menyataka bahwa pendapatan total
perekonomian, dalam jangka pendek, sangat di tentukan oleh keinginan rumah
tangga, perusahaan, dan pemerintah untuk membelanjakan pendapatannya,
semakin banyak barang dan jasa yang bisa di jual perusahaan. Semakin banyak
perusahaan menjual, semakin banyak output yang akan mereka produksi dan
semakin banyak pekerja yang akan di karyakan. Jadi, masalah selama resesi dan
depresi, menurut Keynes, adalah pengeluaran yang tidak tepat. Perpotongan
Keynesian adalah sebuah upaya untuk memodelkan pandangan ini.
Pengeluaran yang di rencanakan kita awali derivasi dari perpotongan
Keynesian dengan menggambarkan perbedaan antara pengeluaran actual dan
pengeluaran yang direncanakan. Pengeluaran actual ( actual expenditure ) adalah
12

jumlah uang yang dikeluarkan rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah atas
barang dan jasa. Pengeluaran actual sama dengan produk domestic Bruto (GDP).
Pengeluaran yang direncanakan ( Planned expenditure ) adalah jumlah uang yang
akan dikeluarkan rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah atas barang dan jasa.
Sekarang perhatikanlah determinan dari pengeluaran yang di rencanakan.
Mengasumsikan bahwa perekonomian adalah tertutup, sehingga export adalah
Nol, kita menulis pengeluaran yang di rencanakan sebagai jumlah konsumsi C,
investasi yang di rencanakan I, dan pembelian pemerintah G:
E=C+I+G
Untuk persamaan ini, kita tambahkan fungsi konsumsi
C = C(Y T).
Persamaan ini menyatakan bahwa konsumsi tergantung pada pendapatan
disposibel (Y T), yang merupakan pendapatan total Y dikurang pajak T. untuk
mempermudah masalah, sekarang kita anggap investasi yang direncanakan
sebagai tetap secara eksogen:
I=I
Kita asumsikan bahwa kebijakan fiscal-tingkat pembelian dan pajak pemerintahadalah tetap:
G=G
T=T
Dengan mengkobinasikan lima persamaan ini, kita peroleh
E = C(Y T) + I + G.
Persamaan ini menunjukan bahwa pengeluaran yang direncanakan adalah fungsi
pendapatan Y, tingkar investasi yang direncanakan I, dan variabel kebijakan fiscal
G Dan T.

13

Gambar 10 -2 menunjukan pengeluaran yang direncakan sebagai fungsi


dari tingkat pendapatan. Garis ini miring ke atas karena pendapatan yang lebih
tinggi menyebabkan konsumsi yg lebih tinggi dan dengan demikian, pengeluaran
yang lebih tinggi. Kemiringan garis ini merupakan kecenderungan mengkonsumsi
marjinal, MPC: yang menunjukan beberapa banyak pengeluaran yang
direncanakan meningkat ketiak pendapatan menigkat sampai $1. Fungsi
pengeluaran yang direncanakan ini adalah potongan pertama dari model yang
disebut perpotongsn Keynesian.
Perekonomian dalam Keseimbangan Bagian berikutnya dari perpotongan
Keynesian adalah asumsi bahwa perekonomian berada dalam keseimbangan (
equilibrium ) ketika pengeluaran actual yang sama dgn pengeluaran yg
direncanakan. Asumsi ini di dasarkan pada gagasan bahwa ketika rencana orang2
telah di realisasikan, mereka tidak mempunyai alas an untuk mengubah apa yang
mereka lakukan. Mengingat bahwa Y sbg GDP actual tidak hanya pendapatan
total tetapi juga pengeluaran total atas barang dan jasa, kita bisa menulis kondisi
keseimbangan ini.

Sebagai contoh, anggaplah perekonomian memiliki tingkat GDP pada


tingkat yang lebih tinggi ketimbang tingkat keseimbangan, seperti tingkat Y, dlm
gambar 10-4. Dalam kasus ini, pengeluaran yang direncanakan E, lebih kecil dari
14

produksi Y, sehingga perusahaan menjual kurang dari yg mereka produksi.


Perusahaan menambah barang2 yg tidak laku ke dalam persediaan mereka.
Kenaikan dlm persediaan yg tidak direncanakan ini mendorong perusahaan untuk
memberhentikan pekerja dan mengurangi produksi, dan tindakan ini akan
menurunkan GDP. Proses akumulasi persediaan dan turunnya pendapatan Y turun
pada tingkat keseimbangan.

15

Penyesuaian Keseimbangan dalam Perpotongan Keynesian jika perusahaan


berproduksi pada tingkat Y, maka pengeluaran yang direncanakan E, akan
mengurangi produksi, dan perusahaan akan mengakumulasi persediaan.
Akumulasi persediaan ini akan mendorong perusahaan mengurangi produksi. Jika
perusahaan berproduksi pada tingkat

, maka pengeluaran yg direncanakan

akan melebihi produksi, dan perusahaan akan mengurangi persediaannya.


Kebijakan piskal dan pengganda: pembelian pemerintah Perhatikan
bagaimana perubahan-perubahan dlm pembelian pemerintah mempengaruhi
perekonomian. Karena pembelian pemerintah adalah satu komponen pengeluaran,
pembelian pemerintah yg lebih tinggi untuk semua tingkat pendapatan. Jika
pembelian pemerintah naik sebesar G, maka kurva pengeluaran yg direncanakan
bergeser ke atas sebesar G, seperti pada gambar 10-5. Keseimbangan ekonomi
bergerak dari titik A ke titik B.
Grafik ini menunjukan bahwa kenaikan dalam pembelian pemerintah
semakin meningkatkan pendapatan. Yaitu, Y adalah lebih besar dari G. Rasio
Y/ G disebut pengganda pembelian pemerintah ( government-purchases
multiplier ); rasio ini menyatakan beberapa banyak pendapatan meningkat dlm
menanggapi kenaikan $1 dlm pembelian pemerintah. Implikasi dari perpotongan
Keynesian adalah bahwa pengganda pembelian-pemerintah lebih besar dari 1.
Gambar 10-5

16

Kenaikan dalam pembelian pemerintah dalam perpotongan kKeynesian


kenaikan dlm pembelian pemerintah sebesar G meningkatkan pengeluaran yg
direncanakan sebesarjumlah itu untuk tingkat pendapatan tertentu. Keseimbangan
bergerak dari titik A ke titik B, dan pendapatan meningkat dari

ke

. Ingatlah

bahwa kenaikan dalam pendapatan melebihi kenaikan dalam pembelian


pemeritah. Jadi, kebijakan piskal memiliki efek berantai terhadap pendapatan.
Perubaha awal dalam pembelian Pemerintah

Perubahan pertama dalam Konsumsi

= MPC x G

Perubahan kedua dalam Konsumsi

= MP

x G

Perubahan ketiga dalam Konsumsi

= MP

x G

Penggandaan pembelian pemerintah adalah


Y/G = 1 + MPC + MP

+ MP

+ .

17

Kebijakan fiscal dan pengganda pajak. Sekarang mari kita perhatikan


bagaimana perubahan pejak mempengaruhi keseimbangan pendapatan. Penurunan
dalam pajak sebesar T secara langsung akan menaikkan konsumsi sebesar MPC
x T. Pada setiap tingkat pendapatan Y, pengeluaran yg di rencanakan sekarang
akan lebih tinggi. Seperti di perlihatkan oleh gambar 10-6, kurva pengeluaran yg
di rencanakan bergeser ke atas sebesar MPC x T. Keseimbangan ekonomi
bergerak dari titik A ke titik B.
Sebagaimana kenaikan dlm pembelian pemerintah memiliki efek berantai
pada pendapatan, begitu pula pengurangan pajak. Sebagaimana sebelumnya,
perubahan awal dalam pengeluaran, sekarang MPC x T, digandakan dgn 1(1
MPC). Dampak keseluruhan pada pendapatan dari perubahan pajak tsb adalah.
Y/ T = - MPC/(1-MPC).
Persamaaan ini adalah pengganda pajak ( tax multiplier), jumlah perubahan
pendapatan yg di sebabkan perubahan dlm pajak. Misalnya, jika kecenderungan
mengkonsumsi marjinal adalah 0,6, maka pengganda pajak adalah
Y/ T = -0,6/(1 0,6) = -1,5.
Dalam contoh ini pemotongan pajak sebesar $1,00 meningkatkan pendapatan
keseimbangan sebesar $1,

18

Tingkat bunga, Investasi, dan Kurva IS


Perpotongan Keynesian adalah satu-satunya batu loncatan di atas jalan menuju
model IS-LM. Perpotongan Keynesian berguna karena menunjukan bagaimana
rencana pengeluaran rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah menentukan
pendapatan perekonomian. Tetapi perpotongnan Keynesian membuat asumsi yang
menyederhanaka bahwa tingkat investasi yg di rencanakan adalah tetap.
Untuk memasukan hubungan antara tingkat bungan dan investasi ini
kedalam model, kita tulis investasi yg di rencanakan sbg
I = I(r).
Fungsi investasi ini di gambar dalam bagian (a) dari Gambar 10-7. Karena tingkat
bunga adalah biaya dari utang untuk mendanai proyek-proyek investasi, kenaikan
dalam tingkat bunga mengurangi investasi yg direncanakan. Akibatnya, investasi
miring ke bawah.
Untuk menentukan bagaimana pendapatan berubah ketika tingkat bunga
berubah, kita bisa mengkobinasikan fungsi investasi dgn diagram perpotongan
Keynesian. Karena investasi berhubungan terbalik dengan tingkat bunga,

19

kenaikan tingkat bunga dari


ke

ke

mengurangi dari jumlah investasi dari I ( )

). Pengurangn investasi yg di rencanakan ke bawah, sebagaimana dalam

bagian (b) dari gambar 10-7. Pergeseran dalam fungsi pengeluaran yg di


rencanakan menyebabkan tingkat pendapatan turun dari

Ke

. Dengan

demikian, kenaikan dalam tingkat bunga mengurangi pendapatan.


Kurva IS, ditunjukkan dalam bagian (c) dari gambar 10-7, meringkas
hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan ini. Esensinya, kurva IS
mengkombinasikan interaksi antara r dan I yg ditunjukkan fungsi investasi dan
interaksi antara I dan Y yang di tunjukkan oleh perpotongan Keynesian. Karena
kenaikan dalam tingkat bungan menyebabkan investasi yg direncanakan turun, yg
sebaiknya menyebabkan pendapatan turun, kurva IS mirirng ke bawah.

20

Bagaimana Kebijakan Fiskal Menggeser Kurva IS


Kurva IS menunjukkan pada kita, untuk tingkat bunga tertentu, tingkat
pendapatan yg mendorong pasar barang menuju keseimbangan. Sebagaimana kita
pelajari dari perpotongan Keynesian, tingkat pendapatan juga tergantung pada
kenijakan Fisikal. Kurva IS di gambarkan untuk kebijakan fiscal tertentu; yaitu,
ketika kita membangun kurva IS, kita mempertahankan G dan T tetap. Ketika
kebijakan fiscal berubah, kurva IS bergeser.
Gambit 10-8 menggunakan perpotongan Keynesian Untuk menunjukkan
bagaimana kenaikan dalam pembelian pemerintah dari

ke

menggeser kurva

21

IS. Gambar ini disajikan untuk tingkat bunga tertentu dan dengan demikian
untuk tingkat investasi yg direncanakan. Perpotongan Keynesian menunjukkan
bahwa perubahan kebijakan fiscal ini meningkatkan pendapatan keseimbangan
dari

ke

. Karena itu, kenaikan dalam pembelian pemerintah menggeser kurva

IS keluar.
Kita bisa menggunakan perpotongan Keynesian utk melihat bagaimana
perubahan-perubahan lain dalam kebijakan fiscal menggeser kurva IS. Karena
penurunan dalam pajak juga memperbesar pengeluaran dan pendapatan, ia juga
menggeser kurva IS keluar. Penurunan dalam pembelian pemerintah atau
kenaikan dalam pajak mengurangi pendapatan, karena itu, perubahan dalam
kebijakan fiscal menggeser kurva IS kedalam.

22

Interprestasi Dana Taktis dari Kurva IS


Ketika kita pertama kali mempelajari pasar untuk barang dan jasa, kita
menyatakan kesamaan ( equivalence ) antara penawaran dan permintaan terhadap
barang dan jasa, serta penawaran dan permintaan dana yg dapat di pinjam atau
dana taktis ( loanable fund). Kesamaan ini memberikan cara lain untuk
menginterpratasikan kurva IS.
Ingatlah bahwa identitas pos pendapatan nasional bisa sbg
YCG=I
S = I.
Sisi kiri dari persamaan ini adalah tabungan nasional, dan sisi kanannya adalah
investasi. Tabungan nasional menunjukkan penawaran dari dana taktis, dan
investasi menujukkan permintaan terhadapa dana ini.
Untuk melihat bagaimana pasar untuk dana taktis mempreduksi kurva IS,
gantilah fungsi konsumsi untuk C dan fungsi investasi untuk I:
Y C(Y T) G =I(r).
Sisi kiri dari persamaan ini menunjukkan bahwa penawaran dana taktis tergantung
pada pendapatan dan kebijakan fiscal. Sisi kanannya menunjukkan bahwa
permintaan terhadap dana taktis tergantung pada tingkat bunga. Tingkat bunga
menyesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan terhadap
pinjaman.
Interprestasi alternative dari kurva IS ini juga menjelaskan mengapa
perubahan dalam kebijakan fiscal menggeser kurva IS. Kenaikan dalam
pembelian pemerintah atau penurunan dalam pajak mengurangi tabungan nasional
untuk tingkat pendapatan tertentu. Menurunnya penawaran dana taktis
meningkatkan tingkat bunga yang menyeimbangkan pasar. Karena tingkat bunga
lebih tinggi untuk tingkat pendapatan tertentu, kurva IS bergeser ke atas dalam
menanggapi perubahan ekspansif dalam kebijakan fiscal.
23

Akhirnya ingatlah bahwa kurva IS tidak menentukan pendapatan atau


tingkat bunga. Kurva IS adalah hubungan antara Y dan r yg muncul dalam pasar
barang dan jasa atau pasar dana taktis. Untuk menentukan keseimbangan
perekonomian, kita membutuhkan hubungan lain diantara kedua variabel ini, yang
akan kita bahas berikut ini.
10-2 Pasar Uang dan Kurva LM
Kurva LM menyatakan hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yg
muncul di pasar uang. Untuk memahami hubungan ini, kita mulai dengan melihat
teori tingkat bungan, yg disebut teori preferensi likuiditas ( theory of liquidity
preference).
Teori Preferensi Likuiditas
Dalam buku klasiknya The General Theory, Keynes menjabarkan pandangannya
tentang bagaimana tingkat ditentukan dalam jangka pendek. Penjelasan itu di
sebut teori preferensi likuiditas, karena teori ini menyatakan bahwa tingkat bunga
menyesuaikan untuk menyeimbangkan penawarandan permintaan untuk asset

24

perekonomian yg paling liquid-uang. Sebagaimana perpotongan Keynesian


merupakan kerangka untuk kurva IS, teori preferensi likuiditas adalah kerangka
untuk kurva LM.
Untuk mengembangkan kerangka ini, kita mulai dari penawaran dari
keseimbangan uang riil. Jika M menyatakan penawaran uang dan P menyatakan
tingkat harga,

maka M/P adalah penawaran dari keseimbangan uang riil. Teori preferensi
likuiditas mengasumsikan adanya penawaran uang riil tetap. Yaitu,
(M/P

= / .

Penawaran uang M adalah variabel kebijakan eksogen yg di pilih oleh bank


sentral, seperti bank sentral Amerika (Fed). Tingkat harga P juga merupakan
variabel eksogen dalam model ini. (Kita menganggap tingkat harga adalah tertentu
(given) karena model IS-LM-tujuan akhir dari bab ini menjelaskan jangka pendek
ketika tingkat tetap dan biasanya, tidak tergantung pada tingkat bunga. Jadi, ketika
kita dapatkan kurva penawaran vertical.
Selanjutnya, perhatikanlah permintaan terhadap keseimbangan uang riil.
Teori likuiditas menegaskan bahwa tingkat bunga adalah salah satu determinan
dari beberapa banyak uang yang ingin dipegang orang. Alasannya adalah bahwa
tingkat bunga merupakan biaya oportunitas (opportunity cost) dari memegang
uang: biaya yang harus anda tanggung karena memegang sebagian asset anda

25

dalam bentuk uang. Ketika tingkat bunga naik, orang-orang hanya ingin
memegang lebih sedikit uang. Jadi, kita bisa menulis permintaan terhadap
keseimbangan uang riil sebagai
(M/P) d= L(r),
Dimana fungsi L( ) menunjukkan bahwa jumlah uang yang diminta tergantung
pada tingkat bunga. Jadi, permintaan dalam Gambar 10-10 miring ke bawah
karena tingkat bunga yang lebih tinggi mengurangi jumlah keseimbangan uang riil
yang diinginkan.5

Menurut teori preferensi likuiditas, penawaran dan permintaan akan


keseimbangan uang riil menentukan tingkat bunga yang akan muncul di
perekonomian. Yaitu tingkat bunga disesuaikan untuk menyeimbangkan pasar
uang. Seperti terlihat pada gambar, pada tingkat bunga ekuilibrium, jumlah
keseimbangan uang riil yang diminta sama dengan jumlah penawarnnya.
Setelah kita mengubah bagaimana tingkat bunga ditentukan, kita bisa
menggunkan teori prefensi likuiditas untuk menunjukkan bagaimana tingkat
bunga menanggapi perubahan jumlah uang beredar. Anggaplah bahwa Fed tibatiba mengurangi jumlah uang beredar. Penurunan dalam M mengurangi M/P ,
karena P adalah tetap dalam model. Penawaran keseimbangan uang riil bergeser
ke kiri, karena P adalah tetap dalam model. Penawaran keseimbangan uang riil

26

bergeser ke kiri, sebagaimana terlihat dalam Gambar 10-11. Tingkat bunga


ekuilibrium naik dari r1 ke r2, dan tingkat bunga yang lebih tinggi membuat orangorang merasa puas untuk memegang jumlah uang beredar. Jadi menurut teori
prefensi Likuiditas, penurunan jumlah uang beredar menaikan tingkat bunga, dan
kenaikan uang beredar menurun tingkat bunga.

Pendapatan, Permintaan Uang, dan Kurva LM


Setelah mengembangkan teori preferensi likuiditas penjelasan atau apa yang
menetukan tingkat bunga, kita bisa menggunakan teori tersebut untuk menderivasi
kurva LM. Kita mulai dengan mempertimbangka pertanyaan berikut. Bagaimana
pengaruh perubahan tingkat pendapatan perekonomian Y terhadap keseimbangan

27

uang riil? Jawabannya (yang seharusnya sudah diketahui dari Bab 4) adalah
bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi permintaan terhadap uang. Ketika
pendapatan tinggi, pengeluaran juga tinggi, sehingga orang terlibat dalam lebih
banyak transaksi yang mensyaratkan penggunaan uang. Jadi, pendapatan yang
lebih besar menunjukkan permintaan uang yang lebih besar. Kita bisa menyatakan
gagasan ini dengan menulis fungsi permintaan uang sebagai
(M/P)3 = L(r, Y).
Kuantitas keseimbangan uang riil yang diminta berhubungan negative dengan
tingkat bunga dan berhubungan positif dengan pendapatan.
Dengan menggunakan teori preferensi likuiditas, kita bisa menggambarkan apa
yang terjadi dengan tingkat bunga ekuilibrium ketika tingkat pendapatan berubah.
Sebagai contoh, perhatikanlah apa yang terjadi pada Gambar 10-12 ketika
pendapatan meningkat dari Y1
ke Y2. Sebagaimana ditunjukkan pada bagian (a), kenaikan pendapatan ini
menggeser kurva permintaan uang ke kanan. Dengan penawaran keseimbangan
uang riil tidak berubah, tingkat bunga hasrus naik dari r1 untuk menyeimbangkan
pasar uang. Karena itu, menurut teori preferensi likuiditas, pendapatan yang lebih
tinggi menyebabkan tingkat bunga yang lebih tinggi. Kurva LM pada panel (b)
Gambar 10-12 menerangkan hubungan antara tingkat pendapatan dan tingkat
bunga.
Bagaimana Kebijakan Moneter Menggeser Kurva LM
Kurva LM menyatakan tingkat bunga yang menyeimbangkan pasar uang pada
setiap tingkat pendapatan. Namun, seperti kita lihat sebelumnya, tingkat bunga
ekilibrium juga tergantung pada penawaran keseimbangan uang riil, M/P. Ini
berarti bahwa kurva LM gambar untuk pebnawaran keseimbangan uang riil
tertentu. Jika keseimbangan uang riil berubah-misalnya, jika Fed mengubah
jumlah uang beredar-kurva LM bergeser.

28

Kita bisa menggunakan teori proferensi lukuiditas untuk memahami bagaimana


kebijakan moneter bergeser kurva LM. Anggaplah bawha Fed mengurangi jumlah
uang beredar dari M, keM2, yang menyebabkan penawaran keseimbangan uang
riik turun dari M,/ P ke M2 / P. gambar 10-13 menunjukkan apa yang terjadi.
Dengan mempertahankan jumlah pendapatan dan kurva permintaan terhadap
keseimbangan uang riil, kita melihat penurunan penawaran keseimbangan riil, kita
melihat bahwa penurunan penawaran keseimbangan uang rill menaikkan tingkat
bunga yang menyeimbangkan pasar uang. Jadi, penurunan jumlah uang beredar
menggeser kurva LM ke atas.
Interpretasi Persamaan-Kuantitas dari Kurva LM
Ketika pertama kali membahas permintaan agregat dan faktor-faktor yang
menentukan pendapatan dalam jangka pendek pada Bab 9, kita menderivasi kurva
permintaan agregat dari teori kuantitas uang. Kita menguraikan pasar uang dengan
persamaan kuantitas.
MV = PY,

29

Dan di asumsikan bahwa perputaran uang V adalah konstan. Asumsi ini


menunjukkan bahwa, untuk setiap tingkat harga P, jumlah uang beredar M dengan
sendirinya menentukan tingkat pendapatan Y. karena tingkat pendapatan tidak
tergantung pada tingkat bunga, maka teori kuantitas ekuivalen dengan
kurva LM vertikal.

Kita bisa menderivasi kurva LM yang berbentuk miring keatas secara lebih
realities dari persamaan kuantitas dengan menghilangkan asumsusi bahwa
perputaran uang adalah konstan. Asumsi perputaran uang yang konstan
didasarkan pada asumsi bahwa permintaan terhadap keseimbangan uang riil hanya
tergantung pada tingkat pendapatan. Namun, sebagai mana kita menyatakan
diskusi tentang model preferensi-likuiditas, permintaan terhadap uang riil ini juga
tergantung pada tingkat bunga: tingkat bunga yang lebih meningkatkan biaya
memegan uang dan mengurangi permintaan uang. Ketika masyarakat menanggapi
tingkat bunga yang lebih tinggi dan memegan lebih sedikit uang, setiap rupiah
mereka pegang harus digunakan lebih sering mendukung volume transaksi
tertentu-yaitu, perputaran uang harus naik. Kita bisa menulis ini sebagai

30

MV(R) = PY.
Funsi perputaran uang V(R) menunjukkan bahwa perputaran uang berhubungan
positif dengan tingkat bunga.
Bentuk persamaan kuantitas ini menghasilka kurva LM yang miring ke
atas. Karena meningkatkan perputaran uang, kenaikan dalam tingkat bunga
mendongkrak tingkat pendapatan untuk jumlah uang beredar dan tingkat harga
apapun. Kurva LM menunjukkan hubungan positif diantara tingkat bunga dan
pendapatan.
Persamaan ini juga menunjukkan mengapa jumlah peredaran uang
menggeser kurva LM.Untuk setiap tingkat bunga dan tingkat harga, jumlah uang
beredar dan tingkat pendapatan harus bergerak bersama-sama. Jadi, kenaikan
jumlah uang beredar mengeser kurva LM ke kanan, dan penurunan jumlah uang
beredar mengeser kurva LM ke kiri.
Iingatlah bahwa persamaan kuantitas hanyalah cara lain untuk
menunjukkan teori yang berada di belakang kurva LM. Interpretasi teori-kuantitas
dari kurva LM ini secara substantive adalah sama seperti initerpretasi yang
diberikan oleh teori proferensi likuiditas. Dalam kedua kasus,
kurva LM menunjukkan hubungan positif antara pendapatan dan tingkat bunga
yang muncul dari pasar uang.
Terakhir, ingatlah bahwa kurva LM dengan sendirinya tidak menetukan
pendapatan Yatau tingkat bunga r yang berlaku dalam perekonomian. Seperti
kurva IS, kurva LM hanya merupakan hubungan diantara kedua variable endogen
ini. Untuk memahami keseimbangan perekonomian keseluruhan pada tingkat
harga tertentu, kita harus memperhatikan keseimbangan pasar barang dan
keseimbangan pasar uang. Karena itu, kita harus menggunakan
kurva IS danLM bersama-sama.

31

10-3 Kesimpulan: Ekuilibrium Jangka-Pendek


Sekarang kita memiliki seluruh bagian dari model IS-LM. Dua persamaan dari
model tersebut adalah

Y = C(Y - T) + I(r) + G
M / P = L (r, Y)

IS,
LM.

Model tersebut menganggap kebijakan fisikal, G dan T, kebijakan moneter M, dan


tingkat hargaP sebagai variable oksigen. Bedasarkan variable- variable oksigen
ini, IS memberikan kombinasi antara r dan Y yang memenuhi persamaan yang
menunjukkan pasar uang. Kedua kurva ini ditampilkan bersama-sama dalam
Gambar 10-16.
Keseimbangan perekonomian adalah titik dimana kurva IS dan
kurva LM berpotongan. Titik ini memberikan tingkat bunga r dan tingkat
pendapatan Y yang memnuhi kondisi untuk keseimbangan, baik dalam pasar
barang maupun pasar uang. Dengan kata lain, pada potongan ini, pengeluaran
actual sama dengan pengeluaran yang direncanakan, dan permintaan terhadap
keseimbangan uang riil sama dengan penawarannya.
Dalam meringkas bab ini, ingatlah bahwa tujuan akhir kita dalam
mengembangkan modelIS- LM adalah untuk menganalisis fluktuasi jangka pendek
dalam aktivitas perekonomian. Gambar 10-17 menunjukkan bagaimana bagaian-

32

bagian yang berbeda dari teori kita berkaitan..

Pada bab ini kita mengembangkan perpotongan Keynesian dan teori preferensi
likuiditas sebagai kerangka untuk model IS-LM. Sebagaimana akan kita kaji lebih
lengkap pada bab berikutnya, model IS-LM membantu menjelaskan posisi dan
kemiringan kurva permintaan agregat, pada akhirnya adalah bagian dari model
penawaran agregat dan permintaan agregat, dan digunakan para ekonom untuk
menjelaskan dampak perubahan kebijakan dalam jangka pendek dan pristiwapristiwa lain yang berkaitan dengan pendapatan nasional.

33

Penawaran agregat II
Penawaran agregat (aggregate supply) Adalah hubungan antara jumlah barang
dan jasa yang ditawarkan

dan tingkat harga. Karena perusahaan yang

menawarkan barang dan jasa memiliki harga yang fleksibel dalam jangka panjang
tetapi harga yang kaku dalam jangka pendek, hubungan penawaran agregat
bergantung pada horizon waktu. Kita perlu membahas dua penawaran agregat
yang berbeda : kurva penawaran agregat jangka panjang (long-run aggregate
supply) LRAS dan kurva penawaran agregat jangka pendek (short-run aggregate
supply) SRAS. Kita juga perlu membahas bagaimana perekonomian melakukan
transisi dari jangka pendek ke jangka panjang.

Dalam jangka panjang, kurva penawaran agregat berwujud vertical karena


output di tentukan oleh jumlah modal dan tenaga kerja serta ketersediaan
teknologi, tetapi tidak oleh tingkat harga. Karena itu, pergeseran permintaan
agregat mempengaruhi tingkat harga tetapi tidak output atau kesempatan kerja.
Dalam jangka pendek, kurva penawaran agregat adalah horizontal, karena
upah dan harga kaku pada tingkat yang sudah ditentukan sebelumnya. Karena itu,
pergeseran dalam permintaan agregat mempengaruhi output dan kesempatan
kerja.

Guncangan Permintaan agregat


Contoh dari guncangan permintaan: peluncuran dan penyebarluasan kartu
kredit. Karena merupakan cara yang lebih nyaman untuk melakukan pembelian
daripada menggunakan uang tunai, kartu kredit mengurangi jumlah uang yang
ingin dipegang orang.penurunan permintaan uang ini ekuivalen dengan kenaikan
perputaran uang. Ketika setiap orang memegang lebih sedikit uang, parameter
permintaan uang k turun. Artinya, setiap dolar beralih dari tangan ke tangan
dengan cepat, sehingga perputaran V(=1/k) meningkat.

34

Guncangan Penawaran agregat


Guncangan pada penawaran agregat, sebagaimana guncangan dalam permintaan
agregat, dapat menyebabkan fluktasi ekonomi. Guncangan penawaran adalah
guncangan pada perekonomian yang bisa mengubah biaya produksi barang serta
jasa dan akibatnya, mempengaruhi harga yang dibebankan perusahaan kepada
konsumen. Karena memiliki dampak yang langsung terhadap tingkat harga,
guncangan penawaran kadang-kadang disebut guncangan harga. Berikut adalah
beberapa contoh:
Kenaikan agresivitas serikat pekerja. Ini mendorong kenaikan upah dan harga
barang-barang yang diproduksi oleh pekerja serikat pekerja.
Hama yang menghancurkan pertanian. penurunan penawaran makanan
mendorong harga makanan naik.
Organisasi kartel minyak internasional. Dengan membatasi persaingan,
produsen minyak utama bisa meningkatkan harga minyak tanah.
Undang-undang perlindungan lingkungan baru yang menuntut perusahaan
mengurangi emisi polusinya. Perusahaan membebankan tambahan biaya pada
pelanggan dalam bentuk harga yang lebih tinggi.Seluruh peristiwa ini adalah
guncangan penawaran yang memperburuk (adverse supply shock), yang
berarti meningkatkan biaya dan harga. Guncanagan penawaran

yang

menguntungkan, seperti bubarnya kartel minyak internasional, mengurangi


biaya dan harga.

Peristiwa ini merupakan guncangan penawaran yang memperburuk (adverse


supply shock), yang berarti meningkatkan biaya dan harga. Jika AD
dipertahankan konstan, kurva SRAS bergeser ke atas: tingkat harga naik dan
jumlah output turun di bawah tingkat alamiah. Peristiwa ini dikenal dengan istilah
stagflasi, karena mengkombinasikan stagnasi (penurunan output) dengan inflasi
(kenaikan harga).
2.

kebijakan yang mengendalikan permintaan agregat dalam hal ini

menghadapi 2 pilihan yang sulit.

35

Opsi pertama adalah mempertahankan permintaan agregat konstan. Dalam


kasus ini, output dan kesempatan kerja lebih rendah dari tingkat alamiah. Secara
bertahap, harga akan turun untuk mencapai full employment pada tingkat harga
lama. Tetapi akibat proses ini adalah resesi yang parah.
Opsi yang kedua adalah memperluas permintaan agregat untuk membawa
perekonomian ke arah tingkat alami secara lebih cepat. Guncangan penawaran
yang memperburuk (adverse supply shock) menggeser kurva SRAS ke atas, tetapi
Bank Sentral mengakomodasi guncangan itu dengan meningkatkan AD, yang
mengakibatkan tingkat harga yang lebih tinggi secara permanen, tetapi tidak ada
perubahan output.
Seluruh peristiwa ini adalah guncangan penawaran yang memperburuk
(adverse supply shock), yang berarti meningkatkan biaya dan harga. Guncangan
penawaran yang menguntungkan, seperti kartel minyak internasional, mengurangi
biaya dan harga.

KEBIJAKAN STABILISASI
1.

Lambannya implementasi dan dampak kebijakan


Para ekonomi membedakan dua kelambanan dalam pelaksaaan kebijakan

stabilisasi tersebut :
a. Kelambanan luar (outside lags) adalah waktu anatara tindakan kebijkan dan
pengaruhnya terhadap perekonomian. Kelambanan ini muncul karena kebijakan
yang dibuat tidak segera mempengaruhi pengeluaran, pendapatan, dan kesempat
kerja
b.

Kelambanan dalam (inside lags) adalah waktu antara guncangan terhadap

perekonomian dan tindakan kebijakan dalam menghadapinya. Kelambanan ini


muncuk karena para pembuat kebijakan membutuhkan waktu untuk menyadari
bahwa sebuah guncangan telah terjadi dan kemudian mengeluarkan kebijakan
yang tepat..
Kelambanan dalam yang panjang adalah masalah sentral ketika kebijakan
fiskal digunakan untuk stabilisasi ekonomi. Kebijakan moneter memiliki
kelambanan akdalam yang jauh lebih pendek daripada kebijakan fiskal, karena

36

bank sentral bisa memutuskan dan menerapkan perubahan kebijakan kurang dari
sehari, tetapi kebijakan moneter memiliki kelambanan luar yang cukup besar.
2.

Sulitnya menentukan pendikator ramalan ekonomi


Salah satu yang digunakan para peramal (forecaster) untuk melihat ke depan

adalah dengan indikator utama (leading indicator). Indikator utama adalah data
seri yang biasa berfluktuasi terlebih dahulu dari suatu perekonomian.
Penurdinunan besar dalam suatu indikator utama menandai akan terjadinya resesi
dalam beberapa bulan ke depan. Cara lain yang digunakan para peramal adalah
dengan model makroekonometrik, yang telah dikembangkan oleh lembagalembaga pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta untuk peramalan dan
analisis kebijakan.
Seperti ramalan cuaca, ramalan ekonomi merupakan masukan penting bagi
pembuat keputusan swasta dan publik. Eksekutif bisnis mengandalkan ramalan
ekonomi ketika memutuskan jumlah produksi dan besarnya investasi dalam
pabrik serta peralatan.

Para pembuat kebijakan pemerintah juga mengandalkan ramalan ekonomi


ketika mengeeembangkan kebijakan ekonomi. namun seperti halnya ramalan
cuaca, ramalan ekonomi jauh lebih tepat.

37

DAFTAR PUSTAKA

Mankiw, Gregory. Teori Makro Ekonomi. Jakarta : Erlangga


Nanga, Muana. Makroekonomi (teori, masalah, dan kebijakan). Edisi Perdana
www.permintaan_agregat.blogspot.com
www.wikipedia.com/penawaran.dan permintaan. htm
www.google.com/kurve penawaran agregate_kurva permintaan agregate.htm
sukirno,sadoma. Makro Ekonomi : Teori Pengantar Edisi ke III. PT. Rajagrafindo
persada : Jakarta.

38

Anda mungkin juga menyukai