Anda di halaman 1dari 10

Gangguan Kesehatan Akibat Pajanan Timbal

Dona Yuliyanti
10.2011.442 B8
donayulianti20@yahoo.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat
Pendahuluan
Dalam kehidupan manusia, kita tidak bisa terhindar dari pajanan zat-zat kimia. Zat-zat
kimia tersebut hampir selalu ada di setiap aspek kehidupan manusia. Pajanan zat kimia makin
bertambah frekuensinya seiring perkembangan industri di suatu negara. Pajanan zat kimia yang
tidak terkontrol dan disadari akan menyebabkan gangguan kesehatan yaitu intoksikasi akibat
akumulasi zat kimia yang berada di dalam tubuh. Salah satu keracunan zat kimia yang paling tua
dan cukup sering terjadi ialah keracunan timbal. Meskipun bahaya timbal telah diketahui,
penggunaan timbal tetap tidak bisa dilepaskan dari perdagangan dan pabrik. Terdapat banyak
penelitian yang membuktikan bahaya timbal bagi tubuh manusia, khususnya sistem pencernaan,
sistem saraf, dan sistem hematologi. Karena manusia tidak bisa lepas dari pajanan timbal,
khususnya pekerja pabrik, pencegahan dan diagnosis dini bagi pekerja yang mengalami
intoksikasi timbal harus dapat dilakukan oleh seorang dokter.

Pembahasan
1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis
Pada tahun 1700-an, Bernardino Ramazzini merekomendasikan bahwa dokter perlu
menyakan pekerjaan pasien saat melakukan anamnesis dengan pasien.
Untuk memperoleh anamnesis pekerjaan yang terarah maka pertanyaan harus difokuskan
pada hal-hal yang penting secara sistematik, dengan langkah-langkah sebagai berikut :1
a. Memastikan kemunculan gejala dalam hubungannya dengan pekerjaan:

Apakah gejala timbul membaik pada saat istirahat atau liburan?


1

Apakah terdapat pekerja lain yang menderita gejala yang sama di lingkungan
kerja ?

Apakah terjadi pajanan debu, uap, atau partikel-partikel zat kimia yang beracun di
lingkungan kerja?

b. Pertanyaan kronologis tentang pekerjaan terdahulu sampai sekarang, mengenai;

Deskripsi lingkungan kerja

Informasi tentang bahan mentah yang dipakai, proses kerja, produk yang
dihasilkan serta tata cara penanganan limbah industry

Lama bekerja di masing-masing tempat kerja

Deskripsikan tugas dan jadwal waktu kerja/shift

Pengguanan alat perlindungan diri

Prosedur pemeriksaan fisik sebelum masuk kerja

Adanya pekerjaan lain disamping pekerjaan utama (misalnya kerja malam hari)

c. Pertanyaan spesifik yang ada hubungannya dengan pajanan penyakit akibat kerja:

Pernah bekerja di tempat kerja yang bising/terlalu panas atau menggunakan


produk asbes/sinar radioaktif/alat yang menimbulkan vibrasi?

Faktor stres di tempat kerja (jenuh, konflik dengan atasan/bawahan/teman kerja ?

Hobi (olahraga, berkebun, melukis, pekerjaan rumah tangga/pertukangan/las ?

Pekerjaan istri atau suami ?

d. Riwayat kesehatan lingkungan


e. Informasi mengenai industry lain di sekeliling tempat kerja (tingkat polusi
lingkungan, pajanan limbah industry/percikan zat beracun dari tempat lain)
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilaksanakan seperti pada penyakit umum lainnya, yaitu pemeriksaan
fisik secara umum dengan menitik beratkan pada pemeriksaan sistem organ yang
diperkirakan terpengaruh akibat pajanan zat-zat kimia yang diduga menjadi etiologi
akibat penyakit akibat kerja.
Kulit yang pucat akibat anemia atau kulit yang kuning akibat hemolisis akut seringkali
ditemukan pada penderita intoksikasi timbal.1 Pada pemeriksaan neurologis, intoksikasi
timbal seringkali ditunjukkan dengan lemahnya otot rangka, terutama otot ekstensor
bagian distal.1
2

c. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Biasanya tampak gambaran anemia normositik normokrom atau mikrositik hipokrom
pada darah tepi, kadang-kadang ditemukan sel darah merah abnormal seperti
morfologi daun semanggi serta gambaran basofil yang berbintik.1
b. Pemeriksaan Ruang dan Tempat Kerja
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memastikan adanya dan mengkur kadar faktor
penyebab penyakit di tempat atau ruang kerja. Hasil pengukuran kuantitatif di tempat
atau ruang kerja sangat perlu untuk melakukan penilaian dan mengambil kesimpulan,
apakah kadar zat sebagai penyebab penyakit kerja cukup dosisnya atau tidak untuk
menyebabkan sakit.hiperkes
Misalnya, kandungan udara 0,05 mg timah hitam per meter kubik udara ruang kerja
tidaklah menyebabkan keracunan timbal, kecuali jika terdapat absorbsi timah hitam
dari sumber lain atau jam kerja per hari dan minggunya sangat jauh melebihi batas
waktu 8 jam sehari dan 40 jam seminggu.

2. Pajanan yang dialami


Manusia senantiasa terpajan (exposed) logam berat dalam lingkungan hidupnya. Dalam
abad industri ini, penambangan secara besar-besaran telah menimbulkan penyakit-kerja
(occupational work) berupa keracunan berbagai logam toksik. Konstituen logam dalam
pestisida dan obat merupakan tambahan sumber pajanan logam yang berbahaya bagi
manusia. Pembakaran batu bara yang mengandung logam berat, tambahan Pb tetraetil pada
bensin, dan peningkatan penggunaan logam dalam industri menjadi sumber pencemaran
lingkungan dan penyebab utama keracunan logam berat.2
Logam berat tidak mengalami metabolisme, tetap berada dalam tubuh dan menyebabkan
efek toksik dengan cara bergabung dengan suatu atau beberapa gugus ligan yang essensial
bagi fungsi fisiologis normal. Ligan ialah suatu molekul yang mengikat molekul lain yang
umumnya lebih besar. Ligan memberi atau menerima elektron untuk membentuk ikatan
kovalen, biasanya dengan logam. Antagonis logam berat, suatu kelator (chelating agent)
khusus dirancang untuk berkompetisi dengan ligan terhadap logam berat, sehingga
meningkatkan ekskresi logam dan mencegah atau menghilangkan efek toksiknya.2
3

Keracunan timbal merupakan salah satu penyakit akibat kerja dan lingkungan yang
paling tua di seluruh dunia. Meskipun bahayanya telah diketahui, timbal tetap banyak
digunakan dalam perdagangan, termasuk dalam produksi aki, solder, kaca, plastic dan
keramik.3 Kira-kira 10% dari hasil tambang timbal digunakan untuk produksi Pb tetraetil,
yang ditambahkan pada bensin sebanyak 1mL/L bensin sebagai antiknock. Manusia terpajan
Pb terutama melalui makanan.2 Makanan dan minuman yang bersifat asam, seperti tomat,
air buah, minuman kola, air apel dan asinan dapat melarutkan Pb yang terdapat pada lapisan
mangkuk dan panci.2 Makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi dengan timbal,
akan memeberikan efek buruk bagi kesehatan manusia. Jumlah Pb yang dikonsumsi seorang
dewasa di Amerika Serikat rata-rata 0,1-2 mg. Namun demikian, sebagian besar toksisitas
nyata Pb diakibatkan oleh pajanan lingkungan dan industri. 2
Kasus sporadis keracunan Pb bersumber dari Pb dalam mainan, debu di tempat latihan
menembak, pipa ledeng, pigmen cat para artis, abu dan asap dari pembakaran kayu yang
dicat, limbah tukang perhiasan/emas, industri rumah, baterai dan percetakan.2 Terdapat
banyak bukti yang menunjukkan bahwa timbale memiliki efek subklinis samar terhadap
fungsi neuro-kognitif dan tekanan darah pada kadar timbal darah yang dahulu dianggap
normal atau aman.3

3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit


Gejala Klinis
Efek toksik timbal terutama berpengaruh pada saluran pencernaan, darah, dan sistem
persarafan. Pada saluran pencernaan, biasanya terjadi kolik timbal akibat efek langsung
timbal pada terhadap lapisan otot polos saluran pencernaan. Hal ini menyebabkan timbulnya
rasa kram perut yang menyeluruh terutama di daerah epigastrium dan periumbilikalis, serta
sering disertai, mual, muntah, anoreksia, dan konstipasi, atau kadang-kadang diare.1
Intoksikasi timbal juga akan mempengaruhi sistem enzim sel darah merah, sehingga
anemia normositik normokrom, mikrositik hipokrom, dan hemolisis akut sering kali terjadi.
Enzim-enzim sel darah merah, seperti asam delta-aminolevulinik dehidratase yang
dibutuhkan untuk konjugasi asam levulinik menjadi porfobilinogen, dan ferrokelatase yang
berperan menggabungkan Fe ke dalam protoporfirindapat terganggu sehingga mempengaruhi
sintesis heme.1
4

Gejala meningginya tekanan cairan otak dalam bentuk iritabilitas, inkoordinasi, gangguan
tidur, rasa nyeri kepala, disorientasi, gangguan mental, ataksia, sampai kelumpuhan saraf
otak, kebutaan, serangan pingsan atau koma merupakan manifestasi intoksikasi timbal pada
susunan saraf pusat.ajar

kesehtan

Serangan ini disebut ensefalopati timbal, yang biasanya

merupakan tanda prognosis yang sangat buruk karena sudah terjadi kerusakan otak yang
serius. Selain itu, gangguan motorik seperti wrist drop dan foot drop sering kali timbul
sebagai manifestasi intoksikasi timbal pada susunan saraf tepi.1
Timbal bersama aliran darah, dapat melalui plasenta sehingga aborsi spontan dapat terjadi
pda wanita hamil yang terpajan timbal pada masa kehamilan. Sedangkan pada laki-laki,
timbal juga dapat mengurangi kesuburan, karena timbal diduga turut mempengaruhi proses
spermatogenesis.
Gejala klinis timbal lain nya adalah poliatralgia, kegagalan fungsi hati, dan gagal ginjal.
Psikosis dapat terjadi sebagai akibat intoksikasi tetraetil timbal dengan gejala insomnia,
euphoria, halusinasi, dan kadang-kadang konvulsi.

4. Jumlah Pajanan yang Dialami


a. Epidemiologi
Pemajanan Pb di tempat kerja di Amerika telah berkurang selama 50 tahun
terakhir karena adanya peraturan dan program tepat guna di bidang pengawasan medis.
Pajanan Pb paling tinggi ialah di tempat peleburan Pb, karena asap dan debu yang
mengandung Pb oksida. Pekerja di pabrik aki menghadapi resiko serupa.2
b. Patofisiologi
Pajanan Pb dapat berasal dari makanan, minuman, udara di lingkungan keja atau
lingkungan umum yang tercemar Pb. Pajanan okupasional dapat melalui saluran
pernapasan (inhalasi uap atau partikel udara yang polutif) atau saluran pencernaan
(tertelannya makanan atau minuman yang mengandung Pb Karbonat atau Pb Sulfat). Dari
pajanan Pb 100-350 g/hari, rata-rata 10-30% (20g) Pb yang terinhalasi diabsorbsi
melalui paru-paru dan sekitar 5-10% yang tertelan lewat makanan/minuman tercemar
diabsorbsi melalui saluran cerna.4
Absorbsi Pb melalui saluran napas dipengaruhi oleh proses deposisi, pembersihan
mukosiliar, dan pembersihan alveolar. Deposisi dapat terjadi di nasofaring, saluran
5

tracheobrochial, dan alveoli. Bahaya yang ditimbulkan oleh Pb ini tergantung oleh
ukuran partikelnya, bolume pernapasan dan daya larutnya. Partikel 10g lebih banyak
dideposit di saluran napas bagian atas dan partikel yang <10g dapat tertahan di paruparu. Pembersihan mukosiliar membawa partikel di saluran napas bagian atas ke
nasofaring kemudian ditelan. Pembersihan alveolar membawa partikel menembus lapisan
jaringan paru menuju kelenjar limfe dan aliran darah. Masuknya Pb ke aliran darah juga
bergantung dari variasi faal atar individu.3
Setelah diabsorbsi, 95% Pb dalam darah diikat oleh eritrosit dan diangkut ke
organ-organ tubuh. Pada jaringan lunak, Pb disimpan dalam aorta, hati, ginjal, otak,
sumsum tulang dan kulit dan bersifat toksik. Pada jaringan keras seperti tulang panjang
dan gigi juga mengandung lebih banyak Pb dibandingkan tulang lainnya, sehingga pada
gusi dapat terlihat lead line yaitu pigmen keabuan antara perbatasan gigi dan gusi. Hal ini
merupakan cirri khas keracunan timbal.3
Eskresi Pb dapat melalui beberapa cara yaitu melalui urine sebanyak 75-80%,
melalui feses 15% dan lainnya empedu, keringat, rambut dan kuku. Kadar Pb dalam urine
merupakan cerminan pajanan baru sehingga pemeriksaan Pb urine dipakai untuk pajanan
okupasional. Umumnya eskresi berjalan sangat lambat. Waktu paruh timbale di dalam
darah 25 hari, jaringan lunak 40 hari, sedangkan dalam tulang dapat bertahan 2 tahun.
Diduga eksresi Pb yang lambat inilah yang menyebabkan Pb mudah terakumulasi di
dalam tubuh. 4
Terdapat dua cara masuk dan beradanya timbal didalam tubuh manusia, yaitu
melalui absorpsi dan keracunan timah hitam. Absorpi timbal berarti tubuh telah menyerap
timbal yang masuk ke tubuh manusia dari pekerjaan dan tempat bekerja, sehingga kadar
timbal di dalam tubuh melebihi kadar normal. Hal yang membedakan absorpsi dan
keracunan bisa dinilai dari adanya gejala klinis. Gejala klinis akibat meningkatnya kadar
timbal di dalal darah disebut keracunan timbal.5
Efek toksik timbal terutama berpengaruh pada saluran pencernaan, darah, dan
sistem persarafan.1
Efek langsung timbal pada terhadap lapisan otot polos saluran pencernaan. Hal ini
menyebabkan timbulnya

rasa kram perut yang menyeluruh terutama di daerah

epigastrium dan periumbilikalis, serta sering disertai, mual, muntah, anoreksia, dan
konstipasi, atau kadang-kadang diare.

5. Faktor Individu
Keterangan dari faktor individu ini bisa kita lihat dengan jelas dari status kesehatan fisik
seperti riwayat alergi, riwayat penyakit dalam keluarga, riwayat penyakit dahulu, higiene diri
baik di lingkungan kerja atau lingkungan rumah dan alat pelindung diri sewaktu bekerja.

6. Faktor lain diluar pekerjaan


Banyak faktor di luar lingkungan pekerjaan yang mempengaruhi kesehatan, jika pasien
adalah pe rokok aktif maka kebiasaan tersebut akan memperburuk kesehatannya dan akan
mudah sekali terserang oleh pajanan yang berbahaya.
Pasien juga perlu ditanya apakah memiliki pekerjaan sampingan atau hobi diluar
pekerjaan sehari-harinya. Hal ini penting untuk mencari hubungan sebab akibat dengan
keluhan yang dialaminya.

7. Diagnosis Okupasi
Diagnosis okupasi merupakan tahap terakhir dimana penyakit yang dialami oleh pasien
disebabkan oleh pekerjaan nya atau tidak disebabkan oleh pekerjaan nya.
Pada kasus didapatkan seorang pasien laki-laki yang mengeluh pusing , ngantuk dan
lemas dalam 6 bulan terakhir. Pasien bekerja sebagai buruh pada sebuah pabrik baterai dan
sydah bekerja selama 5 tahun.
Dari hasil anamnesis, pasien hanya memiliki satu penyebab terjadi keluhan okupasi yaitu
pajanan kimiawi , hal ini didasari dari tidak ditemukannya penyebab-penyebab pajanan fisik,
biologi, ergonomic, maupun psiko-sosial. Pajanan kimiawi ini juga diperkuat dengan riwayat
tidak memakai alat pelinfung diri saat sedang bekerja, yang memungkinkan meningkatnya
resiko pasien terpajan timbal dari produksi baterai. Dari hasil pemeriksan laboratorium
didapati bahwa kadar hb 12mg/dL dan didapatkan kadar timbal 40 mikrogram/dL . Temuan
ini menandakan bahawa ada peningkatan kadar timbal didalam darah pasien yang
memungkinkan munculnya keluhan-keluhan yang dialami.

Pengaruh dari faktor individu maupun faktor diluar pekerjaan juga tidak ditemukan, hal
ini menguatkan pengambilan diagnosis bahwa keluhan yang dialami oleh pasien meruapakan
intoksikasi timbal yang disebabkan oleh pekerjaannya.

Penatalaksanaan
Langkah pertama pada pekerja yang mempunyai kecenderungan timbul gejala intoksikasi
timbal adalah menjauhkannya dari tempat pajanan. Serangan kejang pada intoksikasi akut dapat
diberikan diazepam; keseimbangan cairan dan elektrolit harus dipertahankan; edema otak dapat
diatasi dengan pemberian manitol dan deksametason.2 Kadar Pb darah harus ditentukan sebelum
dimulainya terapi kelasi. Terapi kelasi dapat dilakukan namun harus dengan pertimbangan yang
sangat hati-hati, sebab perbaikan tanda klinis dan menurunnya kadar timbal didalam darah
bersifat sementara. Kadar timbal dalam darah dapat meningkat kembali karena timbal yang
tersimpan di tulang masuk ke aliran darah. 1
Tiga produk yang biasa digunakan dalam terapi kelasi adalah dimerkaprol (BAL, British
Anti-Levistate) I.M , kalsium disodium asetat (CaNa2EDTA) I.M/IV, dan D-penisilamin per oral.
Pengobatan umumnya hanya berhasil untuk intoksikasi timbal ekstra SSP. Sedangkan untuk
ensefalopati timbal, pengobatan biasanya kurang efektif. 5
Kelator harus diberikan pada pasien dengan gejala atau pada pasien dengan kadar Pb
darah melebihi 0,5 0,6 ppb. Mula-mula CaNa2EDTA dan dimerkaprol diberikan secara
kombinasi, diikuti pemberian penisilamin untuk pengobatan jangka panjang.
CaNa2EDTA diberikan dengan dosis 50 -75 mg/kgBB per hari dibagi dalam dua kali
pemberian secara IM yang dalam atau sebagai nfuse selama 5 hari berturut-turut. Interval
pemberian CaNa2EDTA dengan dimerkapol ialah 4 jam. Pengulangan pemberian CaNa2EDTA
bisa diberikan setelah pengobatan dihentikan 2 hari. Terapi dengan CaNa2EDTA tidak boleh
melebihi jumlah dosis 500 mg/kgBB. Produksi urin harus dipantau, karena kompleks logamkelator bersifat nefrotoksik. Pengobtan dengan CaNa2EDTA dapat segera mengurangi gejala.
Kolik dapat hialng dalam waktu 2 jam; parestesia dan tremor dam 4 atau 5 hari;
koproporfirinuria, bercak basofilik eritrosit,dan garis Pb pada gusi cenderung berkurang dalam
waktu 4 sampai 9 hari. 2

Dimerkapol dengan dosis 4 mg/kgBB diberikan secara IM setiap 4 jam selama 48 jam,
kemudian setiap 6 jam selama 48 jam berikutnya dan akhirnya setiap 6 12 jam selama 17 hari
terakhir. Kombinasi kedua obat tersebut lebih efektif daripada penggunaan salah satu obat saja.2
Penisilamin efektif diberikan secara oral dan dapat ditambahkan dalam rejimen pengobatan
dengan dosis empat kali 250 mg sehari selama 5 hari. Pada terapi jangka panjang tidak boleh
melebihi 40 mg/kgBB per hari.2

Pencegahan
Sanitasi lingkungan kerja, terutama kantin, dan perilaku makan yang sehat perlu
diperhatikan. Untuk proses yang berpotensi menghasilkan debu atau fume

timbal, perlu

disediakan alat pelindung pernapasan yang memadai. Menurut standar OSHA, program
pengawasan medis pada pekerja perlu dilakukan bila kadar timbal di lingkungan tempat kerja 30
mikrogram/m3 untuk lebih dari 30 hari/tahun. Program ini , antara lain: 1
1. Pemantauan biologis (kadar timbal dalam darah) pada masing-masing pekerja;
a) Dilakukan setiap 6 bulan bila kadar timbal < 40 mikrogram/dL
b) Dilakukan setiap 2 bulan bila kadar timbal > 40 mikrogram/dL, sampai kadarnya
mencapai , 40 mikrogram/dL dalam 2 kali pemantauan secara berturut-turut.
c) Bila kadar timbal > 40 mikrogram/dL dan sudah tidak diperkenankan bekerja di
tempat pajanan maka pemantauan harus dilaksanakan tiap bulan
2. Pemeriksaan Medis
a) Dilakukan setiap tahun bila kadar timbal dala darah > 40 mikrogram /dL
b) Dilakukan setelah peninjauan lapangan bila kadar timbal di lingkungan tempat
kerja sama atau kadar timbal di dalam darah mencapai > 30 mikrogram/dL
c) Dilakukan sesegera mungkin bila seseorang pekerja timbul tanda intoksikasi
timbal yang mencurigakan
3. Tidak diperkenankan bekerja di tempat pajanan
a) Pekerja dengan kadar timbal > 60 mikrogram/dL, kecuali kadarnya yang terakhir
masih ,40 mikrogram/dL
b) Pekerja dengan kadar timbal > 50 mikrogram/dL pada pemeriksaan selama tig
kali berturut-turut atau lebih dari 6 bulan, kecuali kadarnya yang terakhir masih ,
40 mikrogram/dL. Pekerja ini baru dapat kembali bekerja di tempat pajanan bila
9

kadar timbalnya mencapai < 40 mikrogram/dL dalam pemeriksaan selama dua


kali berturut-turut.
c) Pekerja yang meiliki kecenderungan gejala intoksikasi timbal yang bertambah
berat. Pekerja ini baru dapat kembali bekerja di tempat pajanan tidak semata-mata
bergantung pada kadar timbal di darah, tetapi juga bergantung pada pertimbangan
hasil pemeriksaan medis yang menyeluruh.

Kesimpulan
Pada kasus ini pasien di diagnosis mengalami penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh
paparan timbal dimana dapat dilihat dari hasil pemeriksaan Pb Darah 40 g/dL. Pada pasien ini
kurang memperhatikan keselamatan dirinya dengan tidak menggunakan masker ketika bekerja,
seharusnya hal ini dapat dicegah bila pasien menggunakan alat pelindung diri dengan benar
sehingga pasien dapat menghindari terhirupnya zat berbahaya seperti timbal.

Daftar Pustaka :
1. Harrianto Ridwan. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC,2009.h.16-19,50-62,72-5.
2. Wiria M S. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Badan penerbit FKUI. Jakarta: 2011.h 844
3. Katzung B G. Farmakologi Dasar & Klinik.Edisi ke 10. Penerbit Buku Kedokteran
EGC,2007.h 978-980.
4. Ardyanto D. Deteksi pencemaran timah hitam dalam darah. Jurnal Kesehatan Lingkungan.
Juli 2006; 2(1).h.67-76.
5. Sumamur. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Edisi ke 2. Sagung Seto,2014.h.332-5,
4561-4.

10