Anda di halaman 1dari 3

Restorasi Preventif Resin sebagai Alternatif Restorasi Pencegahan Karies pada Pit dan Fisur

Ditulis pada Agustus 27, 2011


Restorasi pencegahan adalah suatu perawatan pencegahan yang merupakan pengembangan dari
pemakaian sealant pada permukaan oklusal, yaitu integrasi dari pencegahan karies dengan sealant dan
penambalan karies dengan resin komposit pada permukaan yang sama. Lesi awal pada pemukaan gigi
dihilangkan dengan preparasi seminimal mungkin, ditambal kemudian untuk mencegah terjadinya karies
di masa mendatang permukaan tambalan diberi sealant (Mathewson & Primosch, 1995).

Tujuan dari restorasi pencegahan adalah untuk menghentikan proses karies awal yang terdapat pada pit
dan fisur, terutama pada gigi molar permanen yang memiliki pit dna fisur, seklaigus melakukan tindakan
pencegahan terhadap karies pada pit dan fisur yang belum terkena karies pada gigi yang sama. Pit dan
fisur yang dalam dan sempit atau pit dan fisur yang memiliki bentuk seperti leher botol, secara klinis
merupakan daerah yang sangat mudah terserang karies, karena sewaktu gigi disikat bagian dalam pit
dan fisur tidak dapat dijangkau oleh bulu sikat gigi (Yoga, 1997).
Preventive resin restoration merupakan suatu prosedur klinik yang digunakan untuk mengisolasi pit dan
fisur dan sekaligus mencegah terjadinya karies pada pit dan fisur dengan memakai tehnik etsa asam.
Tehnik ini diperkenalkan pertama kali oleh Simonsen pada tahun 1977, meliputi pelebaran daerah pit
dan fisur kemudian pembuangan email dan dentin yang telah terkena karies sepanjang pit dan fisur.
Menurut Simonsen, terdapat tiga tipe bahan restorasi pencegahan dengan resin (tipe A, tipe B dan tipe
C) yang diklasifikasikan berdasarkan pada perluasan dan kedalaman karies. Klasifikasi ini untuk
menentukan bahan restorasi yang akan dipakai (Simonsen 1980; Yoga, 1997).

Awalnya, bahan yang dipakai adalah bahan sealant tanpa partikel pengisi (unfilled) untuk tipe A, resin
komposit yang dilute untuk tipe B dan filled resin komposit untuk tipe C. Dengan perkembangan
tehnologi ditemukan ditemukan bahan yang lebih tahan terhadap pemakaian, pengerasannya diaktivasi
sinar yakni resin komposit untuk gigi posterior. Generasi baru dari bahan tersebut akan mempertinggi
keberhasilan restorasi resin pencegahan. Selain resin komposit, dipakai juga bahan tambal lain agar
dapat didapat kekuatan yang lebih besar. Seperti pada tehnik glass ionomer resin preventive
restoration, glass ionomer preventive restoration dan sealant-amalgam preventive restoration (Yoga,
1997).
Efek peletakan sealant terhadap kelangsungan hidup mikroorganisme dan perkembangan karies di
bawah restorasi sealant telah banyak didokumentasikan. Menurut Handelman et al. Menyatakan bahwa
terdapat penurunan yang signifikandalam jumlah mikroorganisme yang dapat hidup setelah 2 minggu
penempatan sealant, dan setelah 2 tahun terjadi penurunan 99,9% mikroorganisme dapat hidup.
Prosedur etsa sendiri juga dapat mengurangi jumlah mikroorganisme yang dapat hidup sebanyak 75%.
Bahan sealant juga efektif mengisolasi bakteri yang terperangkap di kedalaman fisur dari sumber nutrisi

karbohidrat yang berasal dari lingkungan mulut (Hicks & Flaitz, 1992; Octiara, 2002). Aplikasi sealant
juga telah diketahui dapat menghentikan perkembangan lesi karies dengan bahan sealant dari
lingkungan mulut dapat memudahkan odontoblast untuk membentuk dentin reparatif pada daerah yang
didemineralisasi oleh serangan karies. Hasil respon biologis ini akan menahan dan memineralisasi
kembali lesi dentin (Hicks, 1984; Octiara, 2002).

Banyak metode yang digunakan untuk mempersiapkan restorasi resin pencegahan diterangakn dalam
literatur. Namun pada dasarnya menggunakan urutan perawatan sebagai berikut: isolasi, preparasi,
restorasi dan aplikasi sealant. Pada tahap awal, permukaan oklusal gigi dibersihkan memakai rubber
dam atau dapat juga dengan gulungan kapas (cotton roll) disertai saliva ejektor (Yoga, 1997).

Permukaan yang kering sangat penting untuk retensi bonding. Kontaminasi salivadan cairan harus
dihindarkan selama aplikasi sealant dan polimerisasi. Menurut Ferguson dan Ripa pada tahun 1980
mengindikasikan bahwa isolasi dengan rubber dam menghasilkan retensi yang lebih baik untuk sealant
yang diaktivasi dengan sinar, tetapi tidka untuk bahan sealant autopolimerisasi yang tanpa dilakukan
tanpa bantuan asisten. Namun, menurut penelitian Eidelman et al. (1983), tidak ada perbedaan yang
bermakna antara pemakaian rubber dam dengan gulungan kapas terhadap retensi fisur silen, yakni
pemakaian rubber dam silen yang beretensi penuh rata-rata antara 97% setelah 6 bulan dan 96%
setelah 24 bulan sedangkan isolasi dengan emmakai gulungan kapas rata-rata 99% silen yang beretensi
penuh untuk 6 bulan dan 88% untuk 24 bulan.

Gambar 1. Tahapan tehnik restorasi preventif resin. (1) pemberian rubber dam, (2) hasil preparasi
kavitas, (3) pemberian etsa asam berupa gel selama 15 detik, (4) pemberian dentin/enamel primer, (5)
selapis tipis resin adhesive, (6) aplikasi resin komposit pada kavitas Sumber : Strassler & Goodman, 2002

Pada pembuangan jaringan karies, maka daerah pit dan fisur yang buang adalah daerah yang mengalami
dekalsifikasi atau yang dicurigai telah terjadi karies dengan menggunakan round bur kekuatan rendah.
Daerah retnsi tidak diperlukan karena restorasi ini mendapatkan perlekatan ke jaringan dengan tehnik
etsa asam. Tujuannya adalah untuk membuang seluruh jaringan karies dan struktur gigi seminimal
mungkin. Selanjutnya dilakukan profilaksi dengan pumis yang tidak mengandung fluor sehingga
permukaan email benar-benar bersih dan dibur sebelum dietsa. Sebagai alternatif untuk memperoleh
tujuan yang sama, dapat menggunakan sikat gigi dan pasta gigi. Dengan metode ini nilai retensi yang
diperoleh sebanding dengan metode menggunakan profilaksis pumis (Yoga, 1997).

Tahap selanjutnya adalah penetsaan asam menggunakan asam fosfat 37% yang diletakkan pada
permukaan email di oklusal gigi (pit dan fisur). Pengetsaan ini menghasilkan pori-pori yag
memungkinakan infiltrasi nikroskopis resin ke dalam permukaan gigi yang kemudian resin akan
berpolimerisasi dan membentuk ikatan dengan gigi (Simonsen 1980; Yoga, 1997). Bentuk bahan etsa
asam fosfat ada dua macam ayaitu larutan dan gel. Menurut Brown (1988) bahwa tidak ada perbedaan
yang bermakna pada penetrasi asam fosfat yang berbentuk larutan atau gel pada pit dan fisur sehingga
sama efektifnya karena mempunyai pola etsa yang mirip dan keduanya tidak efektif membuang sisa
debris dari pit dan fisur. Tetapi sehubungan dengan kualitas panganan klinis yang lebih baik dianjurkan
penggunaan bahan etsa bentuk gel untuk aplikasi sealant.

Selanjutnya diletakkan selapis tipis bonding resin atau bonding dentin ke dalam preparasi kavitas,
kemudian diikuti dengan komposit posterior yang dicairkan untuk kavitas tipe B atau bahan komposit
posterior untuk tipe C yang dilanjtkan dengan penyinaran selama 60 detik. Aplikasikan bahan sealant di
atas daerah restorasi dan pit dan fisur sekitarnya yang telah dietsa, kemudian disinar selama 40 detik.
Untuk restorasi preventif resin tipe A hanya bahan silen yang diaplikasikan pada permukaan oklusal
termasuk enamel yang dipreparasi (Octiara, 2002).

Gambar 2. Hasil perawatan menggunakan tehnik restorasi preventif resin. (A) Gambaran klinis lesi karies
pada gigi premolar pertama rahang atas dan molar pertama (sebelum perawatan), (B) folow up selama 5
tahun menujukkan hasil yang baik (sesudah perawatan) Sumber : Strassler & Goodman, 2002

Pada ketiga tipe bahan di atas yaitu tipe A, tipe B dan tipe C sebagiman halnya sealant memerlukan
pemeriksaan ulangan setiap 6 bulan, karena walaupun terlihat baik tetapi beberapa bulan kemudian
kemungkinan terlihat lepasnya bahan tambal dari gigi, baik sebagian amupun seluruhnya. Kontaminasi
cairan adalah alasan yang paling sering menyebabkan kegagalan bonding. Selain itu penyebab lainnya
adalah berkurangnya resin karena pemakaian. Keadaan ini dapat ditutupi dengan penambahan material
pada kunjungan ulang (Mathewson & Primosch, 1995).

Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]