Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perencanaan sistem distribusi energi listrik merupakan bagian yang esensial dalam
mengatasi pertumbuhan kebutuhan energi listrik yang cukup pesat. Perencanaan
diperlukan sebab berkaitan dengan tujuan pengembangan sistem distribusi yang harus
memenuhi beberapa kriteria teknis dan ekonomis. Perencanaan sistem distribusi ini harus
dilakukan secara sistemik dengan pendekatan yang didasarkan pada peramalan beban
untuk memperoleh suatu pola pelayanan yang optimal. Perencanaan yang sistemik
tersebut akan memberikan sejumlah proposal alternatif yang dapat mengkaji akibatnya
yang secara langsung berhubungan dengan aspek keandalan dan ekonomis. Maka dari itu
penulis akan membahas tentang Perencanaan Kontruksi JTM Gardu Trafo Distribusi

1.2 Permasalahan
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana konstruksi JTM?
2. Apa kendala dan keuntungan dari perencanaan pembangunan gardu trafo distribusi?

1.3 Pembatasan Masalah


Dari permasalahan yang ada, maka penulis menitik beratkan pembahasan masalah
pada konstruksi JTM, Kendala dan keuntungan dari perencanaan sistem JTM gardu trafo
distribusi.

1.4 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sabagai berikut:
1. Memahami konstruksi JTM
2. Memahami kendala dan kelebihan dari perencanaan sistem JTM
3. Memahami kendala dan kelebihan dari perencanaan pembangunan gradu trafo
distribusi.

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Jaringan Tegangan Menengah (JTM)


Jaringan tegangan menengah berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari
pembangkit atau gardu induk ke gardu distribusi. Jaringan ini dikenal dengan feeder atau
penyulang. Tegangan menengah yang digunakan PT. PLN adalah 12 kv dan 20 kv antar
fasa (VL-L).

2.2 Jenis Jaringan Distribusi Tegangan Menengah


Jaringan Pada Sistem Distribusi tegangan menengah (Primer 20kV) dapat
dikelompokkan menjadi lima model, yaitu Jaringan Radial, Jaringan hantaran
penghubung (Tie Line), Jaringan Lingkaran (Loop), Jaringan Spindel dan Sistem Gugus
atau Kluster.

2.2.1 Jaringan Radial


Sistem distribusi dengan pola Radial seperti Gambar di bawah ini Adalah
sistem distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini terdapat
beberapa penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara radial.

Gambar 1. Konfigurasi Jaringan Radial

Dalam penyulang tersebut dipasang gardu-gardu distribusi untuk konsumen.


Gardu distribusi adalah tempat dimana trafo untuk konsumen dipasang. Bisa dalam
bangunan beton atau diletakan diatas tiang. Keuntungan dari sistem ini adalah
sistem ini tidak rumit dan lebih murah dibanding dengan sistem yang lain.
2.2.2 Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line)
Sistem distribusi Tie Line seperti Gambar di bawah ini digunakan untuk
pelanggan penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan
lainlain). Sistem ini memiliki minimal dua penyulang sekaligus dengan tambahan
Automatic Change Over Switch / Automatic Transfer Switch, setiap
penyulangterkoneksi ke gardu pelanggan khusus tersebut sehingga bila salah satu
penyulang mengalami gangguan maka pasokan listrik akan di pindah ke penyulang
lain.

Gambar 2. Jaringan Hantaran Penghubung

2.2.3 Jaringan Lingkar (Loop)


Pada Jaringan Tegangan Menengah Struktur Lingkaran (Loop) seperti Gambar
di bawa ini dimungkinkan pemasokannya dari beberapa gardu induk.

Gambar 3. Jaringan Lingkar (Loop)

2.2.4 Jaringan Spindel


Sistem Spindel seperti pada Gambar di bawah ini adalah suatu pola kombinasi
jaringan dari pola Radial dan Ring. Spindel terdiri dari beberapa penyulang (feeder)
yang tegangannya diberikan dari Gardu Induk dan tegangan tersebut berakhir pada
sebuah Gardu Hubung (GH).

Gambar 4. Jaringan Spindel


Pada sebuah spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah
penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung. Pola
Spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah (JTM) yang
menggunakan kabel tanah/saluran kabel tanah tegangan menengah (SKTM). Namun
pada pengoperasiannya, sistem Spindel berfungsi sebagai sistem Radial. Di dalam
sebuah penyulang aktif terdiri dari gardu distribusi yang berfungsi untuk
mendistribusikan tegangan kepada konsumen baik konsumen tegangan rendah (TR)
atau tegangan menengah (TM).
2.2.5 Sistem Gugus atau Sistem Kluster
Konfigurasi Gugus seperti pada Gambar di bawah ini banyak digunakan untuk
kota besar yang mempunyai kerapatan beban yang tinggi. Dalam sistem ini terdapat
Saklar Pemutus Beban, dan penyulang cadangan.

Gambar 5. Konfigurasi jaringan kluster


Dimana penyulang ini berfungsi bila ada gangguan yang terjadi pada salah
satu penyulang konsumen maka penyulang cadangan inilah yang menggantikan
fungsi suplai kekonsumen.
2.3 Jenis Gardu Yang Digunakan Untuk Tegangan Menegah
2.3.1 Gardu Hubung (GH)
Gardu hubung ini berfungsi sebagai penyalur daya dari gardu induk ke gardu
distribusi tanpa penurunan tegangan. Untuik membagi feeder menjadi beberapa
jurusan dan bias juga untuk pertemuan beberapa feeder dimana dapat digunakan
manuver jaringan apabila diperlukan.
2.3.2 Gardu Distribusi (GD)
Gardu Distribusi pada dasarnya adalah transformator atau trafo yang berfungsi
sebagai pengubah tegangan. Trafo ini dapat berupa trafo satu fasa atau tiga fasa
dengan kapasitas antara 400 5000 KVA. Selain trafo terdapat juga peralatan
penunjang lainnya., yaitu arrester, fuse (pelebur) serta panel tegangan rendah.
Ada tiga jenis Gardu Distribusi, yaitu :
a)

Gardu Tiang
Sesuai namanya, gardu tiang merupakan gardu distribusi yang dipasang di
tiang pada jaringan distribusi. Gardu tiang ini ada dua macam, yaitu :
Gardu Cantol yang dicantolkan pada tiang
Gardu yang menggunakan Platform

Trafo pada Gardu Cantol dapat berupa trafo satu fasa atau 1 buah trafo

b)

3 fasa. Pada gardu distribusi yang menggunakan trafo satu fasa, gardu jenis ini
telah dilengkapi pengaman yang berupa pelebur (fuse) TM dan pemutus
(circuit Breaker) TR. Gardu Tiang sangat cocok digunakan untuk beban-beban
daerah yang sangat padat seperti perumahan-perumahan, pertokoan, dan lainlain.
Kapasitas Gardu Tiang lebih kecil dibandingkan dengan Gardu Beton
maupun Gardu Metal Clad. Kapasitas Gardu Tiang biasanya dibatasi sampai
250 kVA. Pembangunan Gardu Tiang lebih cepat, mudah dan biayanya lebih
murah dibandingkan Gardu Beton dan Gardu Metal Clad.
Gardu Beton
Gardu Distribusi jenis beton merupakan peralatan Gardu Distribusi
yang dipasang dalam bangunan dari beton. Gardu beton memiliki kapasitas
lebih besar dari Gardu Tiang dan gardu Metal Clad dan dapat juga
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.
Kerugian Gardu Beton ini adalah memerlukan tempat yang luas dan
biaya lebih mahal serta pembangunannya yang lebih mahal. Gardu ini pada
umumnya digunakan untuk daya yang besar, sehingga pada Gardu Beton ini
dapat diletakkan beberapa trafo. Keuntungannya adalah peralatan yang ada
didalamnya terlindungi dari cuaca dan pengamanannya lebih mudah.

c)

Gardu Metal Clad (MC)


Gardu Metal Clad (MC) sebagian besar kontruksinya terbuat dari plat
besi dengan bentuk menyerupai kios. Pembuatan gardu MC lebih cepat
dibandingkan gardu Beton dan peralatannya merupakan satuan set lengkap.

BAB III
PEMBAHASAN

Perencanaan sistem distribusi energi listrik merupakan bagian yang esensial dalam
mengatasi pertumbuhan kebutuhan energi listrik yang cukup pesat. Perencanaan diperlukan
sebab berkaitan dengan tujuan pengembangan sistem distribusi yang harus memenuhi
beberapa kriteria teknis dan ekonomis.
Tujuan umum perencanaan sistem distribusi ini adalah untuk mendapatkan suatu
fleksibilitas pelayanan optimum yang mampu dengan cepat mengantisipasi pertumbuhan
kebutuhan energi elektrik dan kerapatan beban yang harus dilayani. Adapun faktor-faktor lain
yang dapat menjadi input terkait dalam perencanaan sistem distribusi ini antara lain adalah :
pola penggunaan lahan pada regional tertentu, faktor ekologi dan faktor geografi.

2.1 Gardu Trafo Distribusi


Gardu Trafo adalah gardu yang akan berfungsi untuk membagikan energi listrik
pada konsumen yang memerlukan tegangan rendah /menengah. Dengan demikian pada
gardu trafo dipasang/ditempatkan satu atau dua trafo distribusi yang dipergunakan untuk
merubah tegangan menengah menjadi tegangan rendah selain dari peralatan hubungnya
untuk melayani konsumen tegangan rendah.
Gardu trafo distribusi berlokasi dekat dengan konsumen. Transformator dipasang
pada tiang listrik dan menyatu dengan jaringan listrik. Untuk mengamankan
transformator dan sistemnya, gardu dilengkapi dengan unit-unit pengaman. Karena
tegangan yang masih tinggi belum dapat digunakan untuk mencatu beban secara
langsung, kecuali pada beban yang didisain khusus, maka digunakan transformator
penurun tegangan ( step down) yang berfungsi untuk menurunkan tegangan menengah
20kV ke tegangan rendah 400/230Volt. Gardu trafo, terdiri dari : Transformator, tiang,
pondasi tiang, rangka tempat trafo, LV panel, pipa-pipa pelindung, Arrester, kabel-kabel,
transformer band, peralatan grounding, dan lain-lain.
Gardu trafo distribusi ini terdiri dari dua sisi, yaitu : sisi primer dan sisi sekunder.
Sisi primer merupakan saluran yang akan mensuplay ke bagian sisi sekunder. Unit
peralatan yang termasuk sisi primer adalah :

Saluran sambungan dari SUTM ke unit transformator (primer trafo).


Fuse cut out.
Ligthning arrester.

3.2 Komponen Utama Gardu Trafo Distribusi


Secara umum komponen utama Gardu Trafo Distribusi adalah sebagai berikut :
a) Transformator : berfungsi sebagai trafo daya merubah tegangan menengah (20
kV) menjadi tegangan rendah (380/200) Volt.
b) Fuse Cut Out (CO) : sebagai pengaman penyulang, bila terjadi gangguan di gardu
(trafo) dan melokalisir gangguan di trafo agar peralatan tersebut tidak rusak. CO
di pasang pada sisi tegangan menengah (20 kV).
c) Arrester : sebagai pengaman trafo terhadap tegangan lebih yang disebabkan oleh
samabaran petir dan switching (SPLN se.002/PST/73).
d) NH Fuse : sebagai pengaman trafo terhadap arus lebih yang terpasang di sisi
tegangan rendah (220 Volt), untuk melindungi trafo terhadap gangguan arus lebih
yang disebabkan karena hubung singkat dijaringan tegangan rendah maupun
karena beban lebih.
e) Grounding Arrester : untuk menyelurkan arus ketanah yang disebabkan oleh
tegangan lebih karena sambaran petir dan switching.
f) Graunding Trafo : untuk menghindari terjadi tegangan lebih pada phasa yang
sehat bila terjadi gangguan satu fasa ketanah mauoun yang disebutkan oleh beban
tidak seimbang.
g) Grounding LV Panel : sebagai pengaman bila terjadi arus bocor yang mengalir di
LV panel.
3.3.1 Transformator
1) Pemilihan tipe dan kapasitas.
a.

b.

Tipe transformador dapat dipakai:


Konvensional tiga fasa
CSP (completly self protection), tiga fasa
Tegangan primer 20 kV antar fasa dan 11,54 kV fasanetral, tegangan
sekunder 380 V antara fasa dan 220 V fasa-netral.
Model cantol, yaitu dicantolkan/digantungkan pada tiang SUTM.
Kapasitas trafo tiga fasa. Secara umum mulai dari : 25, 50, 100, 160, 200, 250
kVA.

2) Papan bagi dan perlengkapan.


a.
Papan bagi
Pada trafo CSP fasa tiga tidak diperlukan papan bagi, SUTR langsung
dihubungkan dengan terminal TR dari Trafo. Hal ini dimungkinkan karena
pada CSP trafo sudah dilengkapi dengan saklar pengaman arus lebih.
Tidak demikian halnya pada konvensional trafo, diperlukan pengaman arus
lebih tegangan rendah berupa fuse/pengaman lebur, atau pemutus tegangan
rendah (LVCB/low voltage circuit breaker) sehingga diperlukan almari fuse,
sekaligus sebagai papan bagi untuk keluaran lebih dari satu penyulang.
Menyesuaikan dengan penyebaran konsumen, dapat dipilih papan bagi 2
group dan 4 group.

b.

Pengaman untuk trafo konvensional


Pemisah lebur 20 kV / Fuse Cut Out, dengan rating arus kontinyu 100A, dan
kawat lebur disesuaikan dengan kapasitas trafo.
Arrester 24 kV, 5 kA.
Pentanahan, terpisah antara pentanahan arrester dan pentanahan trafo.
Pemutus daya tegangan rendah (LVCB) untuk trafo sampai dengan dengan
50 kVA.

3) Konstruksi Transformator
Transformator merupakan alat listrik statis yang digunakan untuk
memindahkan daya dari satu rangkaian ke rangkaian yang lain dengan mengubah
tegangan, tanpa mengubah daya dan frekuensi. Transformator terdiri dari dua
kumparan yang saling berinduksi ( mutual inductance ). Kumparan ini terdiri dari
lilitan konduktor berisolasi sehingga kedua kumparan tersebut terisolasi secara
elektrik antara yang satu dengan yang lain. Ratio perubahan tegangan tergantung
dari ratio perbandingan jumlah lilitan kedua kumparan itu. Kumparan yang
menerima daya listrik disebut kumparan primer sedangkan kumparan yang
terhubung ke beban disebut kumparan sekunder. Kedua kumparan itu dililitkan
pada suatu inti yang terbuat dari laminasi lembaran baja yang kemudian
dimasukkan ke dalam tangki berisi minyak trafo. Apabila kumparan primer dialiri
arus listrik bolak balik, maka akan timbul fluks magnetik bolak balik
sepanjang inti yang akan menginduksi kumparan sekunder sehingga kumparan
sekunder akan menghasilkan tegangan.
Konstruksi dasar transformator ditunjukkan pada Gambar dibawah ini.

dimana :
Np = Banyaknya lilitan kumparan sisi primer
Ns = Banyaknya lilitan kumparan sisi sekunder
Vp = Tegangan sisi primer (V)
Vs = Tegangan sisi sekunder (V)
Ip = Arus sisi primer (Amp)
Is = Arus sisi sekunder (Amp)
4) Inti Transformator
Secara umum inti transformator dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tipe inti
(core type), dan tipe cangkang (shell type). Tipe inti dibentuk dari lapisan besi
berisolasi berbentuk persegi panjang dan kumparan transformatornya dibelitkan
pada dua sisi persegi. Sedangkan tipe cangkang dibentuk dari lapisan inti
berisolasi dan kumparan transformatornya di belitkan di pusat inti. Transformator

dengan tipe konstruksi shell memiliki kehandalan yang lebih tinggi dari pada tipe
konstruksi core dalam menghadapi tekanan mekanis yang kuat pada saat terjadi
hubung singkat. Kedua tipe inti transformator ini ditunjukkan pada Gambar
dibawah ini.
5) Minyak Transformator
Minyak transformator memegang peranan penting dalam sistem isolasi trafo
dan juga berfungsi sebagai pendingin untuk menghilangkan panas akibat rugi-rugi
daya pada trafo. Kandungan utama minyak trafo adalah naftalin, paraffin dan
aromatik. Keuntungan minyak trafo sebagai isolator dalam trafo adalah:
a. Isolasi cair memiliki kerapatan 1000 kali atau lebih dibandingkan dengan
isolasi gas, sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi.
b. Isolasi cairakan mengisicelah atau ruang yang akan diisolasi dan secara
serentak melalui proses konversi menghilangkan panas yang timbul akibat
rugi daya.
c. Isolasi cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri (self healing) jika
terjadi pelepasan muatan (discharge).
6) Bushing Transformator
Untuk tujuan keamanan, konduktor tegangan tinggi dilewatkan menerobos
suatu bidang yang dibumikan melalui suatu lubang terbuka yang dibuat sekecil
mungkin dan biasanya membutuhkan suatu pengikat padu yang disebut
bushing.Konstruksi suatu bushing sederhana ditunjukkan pada Gambar dibawah
ini

Bagian utama suatubushingterdiri dari inti atau konduktor, bahan dielektrik


dan flans yang terbuat dari logam. Inti berfungsi untuk menyalurkan arus dari
bagian dalam peralatan ke terminal luar dan bekerja pada tegangan tinggi. Dengan
bantuan flans, isolator diikatkan pada badan peralatan yang dibumikan.

7) Sistem Pendingin Transformator


Sistem pendinginan trafo dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. ONAN ( Oil Natural Air Natural )
Sistem pendingin ini menggunakan sirkulasi minyak dan sirkulasi
udarasecara alamiah. Sirkulasi minyak yang terjadi disebabkan oleh
perbedaan berat jenis antara minyak yang dingin dengan minyak yang panas.
b. ONAF ( Oil Natural Air Force )
Sistem pendingin ini menggunakan sirkulasi minyak secara alami sedangkan
sirkulasi udaranya secara buatan, yaitu dengan menggunakan hembusan
kipas angin yang digerakkan oleh motor listrik. Pada umumnya operasi trafo
dimulai dengan ONAN atau dengan ONAF tetapi hanya sebagian kipas
angin yang berputar. Apabila suhu trafo sudah semakin meningkat, maka
kipas angin yang lainnya akan berputar secara bertahap.
c. OFAF ( Oil Force Air Force )
Pada sistem ini, sirkulasi minyak digerakkan dengan menggunakan kekuatan
pompa, sedangkan sirkulasi udara mengunakan kipas angin.
8) Pemasangan Transformator Distribusi
a. Pemasangan dari luar
Transformator dapat dipasang dari luar dengan salah satu cara antara lain :
Pemasangan langsung
Langsung diklem dengan klem yang cocok pada tiang . cara ini cukup baik
untuk transformator kecil sampai 25 KVA saja.
Pemasangan pada tiang H
Transformator dipasang dengan lengan silang yang dipasang di antara dua
tiang dan diikat erat terhadapnya. Cara ini cocok untuk transformator
berkapasitas sampai 200 KVA.
Pemasangan pada platform
Sebuah platform dibuat pada suatu struktur terdiri dari empat tiang untuk
menempatkan transformator . cara ini dianjurkan bagi tempat tempat yang
berbahaya bila menempatkan transformator diatas tanah.
Pemasangan dilantai
Cara ini cocok untuk semua ukuran transformator . permukaan lantai harus
lebih tinggi dari sekelilingnya guna mengatasi banjir . sebiknya dibuat
pondasi dari beton. Jika jumlah transformator ditempatkan berdekatan sekali ,
harus dibuat dinding pemisah yang tahan api untuk mengurangi kerusakan
yang timbul jika terjadi kecelakaan atas salah satu transformator berikut.
Disekeliling transformator yang terpasang dilantai harus direncanakan adanya
aliran udara bebas pada semua transformator. Jika mungkin transformator
yang terpasang diluar harus dilindungi terhadap sinar matahari secara
langsung. Hal ini akan meningkatkan umur cat dan juga memperpanjang
umur transformator . untuk menjaga agar tidak terjadi gerakan jika ada badai
roda roda transformator harus diganjal sesudah dipasang ditempat yang tetap.

b. pemasangan di dalam
Bangunan untuk rumas transformator harus cukup luas agar dapat bebas
masuk dari setiap sisi dan cukup tinggi agar dapat membuka transformator
tersebut. Jarak miimum berikut ini dari sisi dinding dianggap memuaskan.
Jarak minimum dari
sisi dinding (m)
Dinding pada satu sisi saja

1,25

Dinding pada dua sisi

0,75

Dinding pada tiga sisi

1,00

Dinding pada empat sisi(dalam ruang tertutup)

1,25

Jalan dan pintu harus cukup lebar sehingga transformator yang paling
besar dapat dengn mudah dipindahkan untuk perbaikan dan lain lain.
Transformator yang terpasang didalam ruangan harus dilengkapi dengan
ventilasi yang baik, karena hal ini sangat vital.
Aliran udara bebas pada semua sisi transformator dan didalam gedung
harus terjamin. Lubang pemasukan udara harus ditempatkan sedekat mungkin
dari lantai, sedangkan lubang pembuang udara setinggi mungkin agar udara
panas dapat keluar. Menurut aturan ibu jari luas ventilasi untuk pembuangan
paling sedikit dua meter persegi dan satu meter persegi untuk pemasukan
udara, bagi setiap kapasitas transformator 1000 KVA. Bila hal ini tidak
mungkin , harus menggunakan kipas angin untuk memaksa aliran udara.
Lubang masuk dan keluarnya udara harus dilindungi terhadap percikan air
hujan , burung , dan lain lain.
3.3.2 Fuse
Fuse adalah peralatan proteksi arus lebih yang bekerja dengan menggunakan
prinsip melebur. Terdapat dua tipe fuse berdasarkan kecepatan melebur elemen
fusenya (fuse link), yaitu tipe K (cepat) dan tipe T (lambat). Fuse yang didesain
untuk digunakan pada tegangan diatas 600V dikategorikan sebagai fuse cutout.
Fuse cutoutjenis ekspulsi (expulsion type) adalah jenis yang paling sering
digunakan pada sistem distribusi saluran udara. Fuse jenis inimenggunakan
elemen fuse yang relatif pendek yang dipasang di dalam fuse catridge. Pada
umumnya fuse cutout dipasang antara trafo distribusi dengan saluran distribusi
primer. Pada saat terjadi gangguan, elemen fuse akan melebur dan memutuskan
rangkaian sehingga akan melindungi trafo distribusi dari kerusakan akibat
gangguan dan arus lebih pada saluran primer, atau sebaliknya memutuskan
saluran primer dari trafo distribusi apabila terjadi gangguan pada trafo atau
jaringan sisi sekunder sehingga akan mencegah terjadinya pemadaman pada
seluruh jaringan primer.

Contoh Gambar Fuse Cut Off yang biasa dipasang antara trafo distribusi dengan

saluran distribusi primer :

3.3.3 Lightning Arrester


Penggunaan lightning arrester pada sistem distribusi adalah untuk melindungi
peralatan dari gangguan akibat sambaran petir. Arrester juga dipergunakan untuk
melindungi saluran distribusi dari flashover. Arrester dipasang pada peralatan
yang dihubungkan dari fasa konduktor ke tanah. Agar perlindungan saluran
menjadi lebih efektif, arrester harus dipasang pada setiap fasa pada tiap tiang.
Pada saat sistem bekerja keadaan normal, arrester memiliki sifat sebagai isolator.
Apabila terjadi sambaran petir, arrester akan berubah menjadi konduktor dan
membuat jalan pintas (bypass) ke tanah yang mudah dilalui oleh arus petir,
sehingga tidak menimbulkan tegangan lebih yang tinggi pada trafo. Jalur ke tanah
tersebut harus sedemikian rupa sehingga tidak akan mengganggu aliran daya
normal. Setelah petir hilang, arrester harus menutup dengan cepat kembali
menjadi isolator, sehingga tidak mengakibatkan pemutus daya terbuka. Pada
kondisi operasi normal, arus bocor pada arrester tidak boleh melebihi 2 mA.
Apabila arus bocor melebihi angka tersebut, kemungkinan besa arrester
mengalami kerusakan. Pada saluran distribusi, arrester yang biasanya digunakan
adalah arrester jenis katub (valve type). Arrester jenis katub terdiri dari sela percik
dan sela seri yang terhubung dengan elemen tahanan yang mempunyai
karakteristik tidak linier.
Tegangan frekuensi dasar tidak dapat menimbulkan tembus pada sela seri.
Apabila sela seri tembus pada saat tibanya suatu surja yang cukup tinggi, sela
tersebut berfungsi menjadi penghantar. Sela seri tidak bisa memutuskan arus
susulan. Dalam hal ini sela seri dibantu oleh tahanan non linier yang mempunyai
karakteristik tahanan kecil untuk arus besar dan tahanan besar untuk arus susulan
dari frekuensi dasar.

Lightning arrester jenis katub ditunjukkan pada Gambar dibawah ini :

3.3.4 Pembumian (Grounding)


Pembumian adalah penghubungan suatu bagian dari rangkaian listrik atau
bagian yang bersifat konduktor tetapi bukan bagian dari rangkaian listrik yang
pada keadaan normal tidak bertegangan ke bumi.
Tujuan dari pembumian adalah :
1)
2)
3)

Mengurangi tegangan kejut listrik pada peralatan.


Memberi jalan bagi arus gangguan, baik akibat terjadinya arus hubung singkat ke
tanah maupun akibat terjadinya sambaran petir.
Untuk membatasi tegangan pada fasa yang tidak mengalami gangguan.

3.3.5 Tiang
Pada umumnya tiang listrik yang sekarang pada Saluran Udara Tegangan
Menengah ( SUTM ) 20 kV terbuat dari beton bertulang dan tiang besi.
Pemakaian tiang kayu sudah jarang digunakan karena daya tahannya ( umurnya )
relatif pendek dan memerlukan pemeliharaan khusus. Dilihat dari fungsinya, tiang
listrik dibedakan menjadi dua yaitu tiang pemikul dan tiang tarik. Tiang pemikul
berfungsi untuk memikul konduktor dan isolator,sedangkan tiang tarik berfungsi
untuk menarik konduktor. Pada SUTM 20 kV, jarak antar tiang ditetapkan sebesar
40 meter, tetapi jarak tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah sehingga
diberi standar yang jelas sejauh 30 - 50 meter. Untuk pemasangan tiang, sudah ada
standar untuk kedalaman tiang yang harus ditanam dibawah permukaan tanah
yaitu 1/6 dari panjang tiang.

3.4 Gangguan Pada Gardu Trafo Distribusi


3.3.1 Gangguan Sambaran Petir
Gangguan sambaran petir dibagi atas dua, yaitu sambaran langsung dan
sambaran tidak langsung. Sambaran langsung adalah sambaran petir dari awan
yang langsung menyambar jaringan sehingga menyebabkan naiknya tegangan
dengan cepat. Daerah yang terkena sambaran dapat terjadi pada tower dan juga
kawat penghantar. Besarnya tegangan dan arus akibat sambaran ini tergantung
pada besar arus kilat, waktu muka, dan jenis tiang saluran. Sambaran tidak
langsung atau sambaran induksi adalah sambaran petir ke bumi atau sambaran
petir dari awan ke awan di dekat saluran sehingga menyebabkan timbulnya
muatan induksi pada jaringan. Pada saluran udara tegangan menengah (SUTM),
gangguan akibat sambaran tidak langsung ini tidak boleh diabaikan. Gangguan
akibat sambaran tidak langsung ini pada umumnya lebih banyak terjadi
dibandingkan akibat sambaran langsung, dikarenakan luasnya daerah sambaran
induksi.

Spesifikasi gelombang petir ditunjukkan pada Gambar dibawah ini :

3.3.2 Gangguan Hubung Singkat


Hubung singkat dapat terjadi melalui dua atau tiga saluran fasa sistem
distribusi. Arus lebih yang dihasilkan hubung singkat tergantung pada besar
kapasitas daya penyulang, besar tegangan, dan besar impedansi rangkaian yang
mengalami gangguan. Hubung singkat menghasilkan panas yang cukup tinggi
pada sisi primer trafo sebagai akibat dari naiknya rugi-rugi tembaga sebagai
perbandingan dari kuadrat arus gangguan. Arus gangguan yang besar ini
mengakibatkan tekanan mekanik (mechanical stress) yang tinggi pada trafo.
Arus hubung singkat pada trafo dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

Dimana :
S
= Daya Trafo
Z%
= Impedansi trafo dalam persen
V
= Tegangan fasa-fasa pada sisi tegangan rendah
3.3.3 Gangguan Kegagalan Minyak Transformator
Kegagalan isolasi (insulation breakdown) minyak trafo disebabkan oleh
beberapa hal antara lain minyak trafo tersebut sudah lama dipakai, berkurangnya
kekuatan dielektrik dankarena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih. Pada
prinsipnya tegangan pada isolator merupakan suatu tarikan atau tekanan (stress)
yang harus dilawan oleh gaya dalam isolator itu sendiri agar isolator tersebut tidak
gagal. Dalam struktur molekul material isolator, elektron-elektron terikat erat pada
molekulnya, dan ikatan ini mengadakan perlawanan terhadap tekanan yang
disebabkan oleh adanya tegangan. Bila ikatan ini putus pada suatu tempat maka
sifat isolasi pada tempat itu akan hilang. Bila pada bahan isolasi tersebut diberikan
tegangan akan terjadi perpindahan elektron-elektron dari suatu molekul ke
molekul lainnya sehingga timbul arus konduksi atau arus bocor. Karakteristik
isolator akan berubah bila material kemasukan suatu ketidakmurnian (impurity)
seperti adanya arang atau kelembaban dalam isolasi yang dapat menurunkan
tegangan tembus.
Oksigen yang terdapat di udara yang berhubungan dengan minyak yang panas
dapat mengakibatkan terjadinya oksidasi dan terbentuknya bahan asam dan
endapan. Kadar asam yang terdapat pada minyak trafo merupakan suatu ukuran
taraf deteriorasi dan kecenderungan untuk membentuk endapan. Endapan ini
sangat mengganggu karena melekat pada semua permukaan trafo dan mempersulit
proses pendinginan. Endapan ini juga akan meningkatkan kemungkinan terjadinya
bunga api antara bagian-bagian trafo yang terbuka. Suatu endapan setelah
mencapai tebal 0,2 mm sampai 0,4 mm pada inti dan kumparan akan dapat
meningkatkan suhu sampai 10C sampai 15C. Bila dalam minyak terdapat
kelembaban, maka kelembaban tersebut dapat membentuk jalur-jalur yang
membuka jalan terhadap terjadinya hubung singkat. Kelembaban tidak saja
menurunkan daya isolasi minyak, melainkan kelembaban itu dapat pula diserap
oleh bahan isolasi lainnya, sehingga seluruh trafo menjadi terancam.

BAB IV
PENUTUP
4.1.Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka dapat kami simpulkan bahwa Gardu Trafo
adalah gardu yang akan berfungsi untuk membagikan energi listrik pada konsumen
yang memerlukan tegangan rendah. Dengan demikian pada gardu trafo
dipasang/ditempatkan satu atau dua trafo distribusi yang dipergunakan untuk merubah
tegangan menengah menjadi tegangan rendah selain dari peralatan hubungnya untuk
melayani konsumen tegangan rendah.
Gardu trafo, terdiri dari : Transformator, tiang, pondasi tiang, rangka tempat
trafo, LV panel, pipa-pipa pelindung, Arrester, kabel-kabel, transformer band,
peralatan grounding, dan lain-lain.
Gardu trafo distribusi ini terdiri dari dua sisi, yaitu : sisi primer dan sisi
sekunder. Sisi primer merupakan saluran yang akan mensuplay ke bagian sisi
sekunder. Unit peralatan yang termasuk sisi primer adalah :
a. Saluran sambungan dari SUTM ke unit transformator (primer trafo).
b. Fuse Cut Out.
c. Lightning arrester.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gardu_trafo_distribusi.Pdf
2. Suhadi,dkk.2008.Teknik Distribusi Tenaga Listrik. Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan
3. http//:www.TECHNO:Gardu-Tiang_Trafo/11/12/2008/.com