Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Disusun oleh:
Dian Widhi Astuti, S.Kep

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2005

HIPEREMESIS GRAVIDARUM
A. Pengertian
Hiperemesis gravidarum adalah mual (nausea) dan muntah sebagai
suatu gejala yang wajar yang terjadi pada kehamilan trimester 1, 6 minggu
kehamilan. Mual biasanya terjadi pada pagi hari dan gejala ini biasa
berlangsung 10 minggu.
B. Etiologi
Hiperemesis gravidarum belum diketahui faktor penyebab secara pasti.
Adapun faktor predisposisi, antara lain :
1. Ibu dengan primigravida.
2. Mola hidatidosa (HCG berlebihan).
3. Kehamilan ganda (hormon chorionik gonadotropin dibentuk berlebihan).
4. Masuknya villi khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan
metabolik akibat hamil serta resisten yang menurun dari ibu terhadap
perubahan (organik).
5. Faktor alergi.
6. Faktor psikologi.
C. Data Penunjang
Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dapat dibagi
menjadi tiga tingkatan, antara lain :
Pertama, muntah terus-menerus, badan lemas, nafsu makan tidak ada,
BB menurut, nyeri epigastrium, turgor kulit menurun, lidah kering, mata
cekung, tekanan darah sistolik menurun, nadi meningkat 100x per menit.
Kedua, penderita tampak lebih lemah, apatis, turgor kulit mengurang,
BB menurun, lidah mengering dan kotor, nadi cepat dan kecil, suhu kadang
naik, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi (pada tingkatan ini biasanya
butuh rawat inap).

Ketiga, keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran


menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat,
tensi menurun dan biasanya terjadi komplikasi ensefalopati.
D. Patologi
Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat, mual dan muntah
terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, hiponatremia, peningkatan
klorida urine, selanjutnya terjadi hemokonsentrasi yang mengurangi perfusi
darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat-zat toksik. Pemakaian
cadangan karbohidrat dan menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna
hingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan ekskresi yang
berlebihan selanjutnya menambah muntah dan merusak lapar, selaput lendir
esopagus dan lambung dapat robek (Sindrom Mallory Weiss) sehingga terjadi
perdarahan gastrointestinal).
E. Penatalaksanaan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilakukan dengan
jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu
proses yang fisiologik, memberi keyakinan bahwa mual dan muntah
merupakan gejala fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang pada usia
kehamilan 4 bulan. Menganjurkan mengubah pola makan sehari-hari dengan
makan dalam jumlah sedikit tapi sering. Pagi hari waktu bangun tidur,
dianjurkan jangan langsung turun dari tempat tidur tapi dianjurkan untuk
memakan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Hindari makanan yang
berminyak dan berbau lemak dan menyiapkan makanan dalam keadaan
hangat. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin. Menghindarkan
kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya
dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

F. Prognosis
Dengan penanganan yang baik, prognosis hiperemesis gravidarum
sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun
demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini mengancam jiwa ibu dan
janin.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas klien.
2. Keadaan umum, riwayat kesehatan dahulu, sekarang, penyakit keturunan.
3. Pemeriksaan fisik.
4. Pemeriksaan penunjang.
Pengkajian tambahan.
1. Riwayat kehamilan.
2. Riwayat persalinan.
3. Kebiasaan/pola makan/minum klien.
4. Frekuensi, karakteristik mual muntah.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan nafsu
makan, mual/muntah.
C. Rencana Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang
berlebihan.
Ditandai dengan : mual dan muntah yang berlebihan.
Kriteria hasil

: - klien

dapat

mengidentifikasi

dan

melakukan

tindakan untuk menurunkan frekuensi dan tingkat


keparahan mual/muntah.
- klien dapat mengkonsumsi cairan dengan jumlah
yang sesuai setiap hari,
- klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala
dehidrasi yang memerlukan tindakan
Intervensi :
1. Kaji frekuensi dan beratnya mual/muntah.

2. Tinjau ulang riwayat kemungkinan masalah medis lain.


3. Anjurkan klien untuk mempertahankan masukan, tes urin dan
penurunan BB setiap hari.
4. Kaji suhu dan turgor kulit, membran mukosa, tekanan darah, timbang
BB dan bandingkan dengan standar.
5. Anjurkan peningkatan masukan minuman karbohidrat, makan enam
kali sehari dengan jumlah yang sedikit dan makanan tinggi
karbohidrat.
Rasional :
1. Memberi data yang berkenaan dengan semua kondisi. Peningkatan
kadar HCG. Perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan
motilitas gastrik memperberat mual dan muntah pada trimester
pertama.
2. Membantu dalam mengesamping penyembab lain, untuk mengatasi
masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi.
3. Membantu dalam menentukan adanya muntah yang tidak dapat
dikontrol. Pada awalnya, muntah dapat mengakibatkan alkalosis,
dehidrasi dan ketidaksesuaian elektrolit. Muntah yang tidak dapat
diatasi atau yang berat menimbulkan asidosis, memerlukan intervensi
lanjut.
4. Indikator dalam membantu untuk mengevaluasi tingkat/kebutuhan
hidrasi.
5. Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan
keasaman lambung.
2. Nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan

dengan

perubahan nafsu makan, mual/muntah.


Ditandai dengan : nafsu makan berkurang, mual/muntah.
Kriteria hasil

: - menjelaskan komponen diet seimbang pranatal,


memberi makanan yang mengandung vitamin,
mineral, protein dan besi.

- klien mau mengikuti diet yang dianjurkan.


- mengkonsumsi suplemen zat besi/vitamin sesuai
resep.
- menunjukkan

penambahan

BB

yang

sesuai

(biasanya minimal 1,3 kg pada akhir trimester


pertama).
Intervensi :
1. Tentukan keadekuatan kebiasaan asupan nutrisi dulu/sekarang dengan
menggunakan batasan 24 jam. Perhatikan kondisi sambut, kuku dan
kulit.
2. Dapatkan riwayat kesehatan : catat usia (<17 tahun, >35 tahun).
3. Pastikan tingkat pengetahuan klien tentang kebutuhan diet.
4. Berikan informasi tertulis/verbal yang tepat tentang diet pranatal dan
suplemen vitamin dan zat besi tiap hari.
5. Saji makanan dalam keadaan hangat dan menjelaskan klien untuk
mengkonsumsi makanan dalam porsi sedikit tapi sering.
6. Kolaborasi/buat rujukan perlu indikasi : pada ahli diet.
Rasional :
1. Kesejahteraan janin/bayi tergantung pada nutrisi ibu selama kehamilan
sebagaimana selama 2 tahun sebelum kehamilan.
2. Remaja dapat cenderung mal nutrisi/anemia, dan klien lansia mungkin
cenderung obesitas/diabetes gestasional.
3. Menentukan kebutuhan belajar khusus.
4. Materi referensi yang dapat dipelajari di rumah, meningkatkan
kemungkinan klien untuk memilih diet seimbang.
5. Meminimalkan rasa mual muntah saat menyantap makanan.
6. Mungkin diperlukan bantuan tambahan terhadap pilihan nutrisi : dapat
membatasi anggaran/keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Monica Ester


Ed. 2 . EGC. Jakarta.
Mansjoer, Arif M. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Ed. 3. Cet 1. Media
Aesculapius. Jakarta.
Wiknjosastro H. Saifuddin AB. Rachimbadhi T. 1994. Ilmu Kebidanan. Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.