Anda di halaman 1dari 8

Nama: Driya Primasthi

NIM : 115020507111009
Kelas: Ekonomi Islam-IA

UTS Akuntansi Lembaga Keuangan Islam


Dosen Pengampu : Achmad Zaky,MSA.,Ak.,SAS.,CMA.,CA

Soal 1
1. Akad yang tepat untuk menggambarkan transaksi antara Kartolo dengan Bank
adalah akad murabahah. Karena akad yang digunakan adalah akad jual beli
dimana Kartolo sebagai pembeli dan pihak Bank sebagai penjual, objek dalam
akad murabahah adalah mobil Tayota-Menjangan Inova tahun 2011. Harga
perolehan atau biaya bersih (harga beli ditambah beban-beban) mobil tersebut
adalah Rp. 175.000.000,- dan margin bank sebesar Rp. 25.000.000,- jadi harga
mobil Tayota-Menjangan Inova yang dibeli Kartolo adalah Rp. 200.000,-. Cara
pembayaran akad murabahah dalam transaksi ini adalah dengan cara tangguh
(mencicil) karena disebutkan bahwa Kartolo baru saja melunasi mobil tersebut
pada tahun 2012 (mobil buatan tahun 2011) dan Kartolo langsung berakad
dengan Basman setelah pembayaran dilunasi.
2. a) saya setuju atas penawaran Basman terhadap mobil Kartolo, tapi menurut
saya seharusnya Basman berakad ijarah (sewa) dulu sebelum berjanji
membelinya di tahun 2016. Akad yang tepat untuk menggambarkan transaksi
antara Kartolo dengan Basman adalah IMBT (ijarah muntahiya bittamlik) karena
pada akhir masa sewa (4 tahun) terjadi pemindahan kepemilikan kepada
Basman dengan akad jual beli sebesar Rp. 30.000.000
b) dengan asumsi mobil akan dibeli pada awal 2016 (4 tahun)

Penyusutan/tahun

200.000.000 - 10.000.000
47.500.000
4 tahun

Jurnal sisi Kartolo (pemberi sewa)


Aset ijarah
Kas

200 jt
200 jt

Pendapatan sewa per tahun (selama 4 tahun)


Kas

42 jt

42 jt

Pendapatan sewa

Biaya perawatan mobil per tahun (selama 4 tahun)


1 jt

Beban Perawatan
Kas

1 jt

Beban penyusutan per tahun (selama 4 tahun)


Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan

47,5 jt
47,5 jt

Pada akhir kontrak aset ijarah dijual kepada penyewa secara tunai Rp.30.000.000.
Dilakukan akad jual beli
30 jt
Kas
190 jt
Akumulasi Penyusutan
Aset Ijarah
Keuntungan Penjualan

200 jt
20 jt

Jurnal sisi Basman (Penyewa)

Biaya sewa yang dibayar per tahun (dibayar selama 4 kali)


Beban Sewa
Kas

42 jt
42 jt

Pada akhir kontrak aset ijarah dijual kepada Basman secara tunai Rp.30.000.000
(pindah kepemilikan)
Aset Kendaraan
Kas

30 jt
30 jt

Soal 2
Perbedaan pembiayaan syariah dengan pembiayaan konvensional (transaksi jual beli
sepeda motor) adalah pada akadnya. Dalam konvensional pembeli harus membayar
bunga yang ditentukan bank, sedang dalam syariah, pembeli akan membayar margin
keuntungan atas dasar kesepakatan di awal.

Pembiayaan (kredit) motor konvensional


1. Pembeli (buyer) yang ingin membeli motor akan menghubungi dealer,
kemudian membayar DP,
2. Terjadi serah terima sepeda motor antara pembeli dan dealer,

3. Dealer menghubungi bank, dan motor merek Hondi Ped laku kepada Miss
Safalinda seharga kredit Rp.xx sedang tunainya seharga Rp.yy, Bank akan
membayar motor tersebut seharga tunai Rp.yy kepada dealer.
4. Pembeli akan membayar cicilan motor tersebut kepada bank, dengan
angsuran dan bunga yang sudah ditentukan bank, apabila telat membayar
dari waktunya (jatuh tempo) akan dikenai denda.
Dalam kredit motor konvensional tersebut terdapat 2 hal yang tidak dibolehkan
dalam islam, yaitu:
a) kepemilikan motor jadi tidak jelas, apakah masih tetap milik dealer atau
bank, karena pembeli memberikan DP ke dealer tetapi angsuran ke bank,
padahal dalam kasus jual-beli, status kepemilikan barang harus jelas.
b) adanya riba karena membayar cicilan sepeda motor ditambah bunga yang
ditentukan bank dan menyepakati adanya denda karena penundaan
pembayaran (jatuh tempo)

Pembiayaan motor dengan prinsip syariah


1. Pembeli (buyer) yang ingin membeli motor, menghubungi bank dan
menyampaikan maksud untuk membeli motor, Belum ada transaksi
2. Bank akan menghubungi dealer, dan setuju untuk membeli motor Hondi Ped
secara tunai
3. Motor diserahkan kepada bank, motor sah menjadi milik bank
4. Terjadi akad murabahah (jual-beli), pembeli dan bank sepakat margin
keuntungan, kemudian angsuran akan dilakukan secara tetap dan dengan
jangka waktu yang telah ditentukan.
5. Pembeli setor angsuran tetap kepada bank.

Skema kredit motor konvensional


2. Serah terima sepeda motor
4.membayar motor seharga
tunai Rp.yy

Buyer

Dealer

1.Ingin beli motor + bayar


DP

Bank
3.Menghubungi bank bahwa
motor laku seharga kredit
Rp.xx

5.Buyer membayar cicilan seharga Rp.xx dengan bunga & angsuran yang ditentukan bank

Skema pembiayaan motor syariah

5.Setor cicilan tetap

2. beli motor sesuai pesanan

1.Ingin membeli motor/pesan


(belum ada transaksi)

Buyer

Bank
Syariah

Dealer
3.Motor menjadi milik bank

4. Terjadi akad jual beli dengan margin


keuntungan

Soal Pengembangan: Analisis Akad dan Produk


1)
Nama

Nama Produk

Bank

Akad yg
digunakan

Auto Muamalat

Murabahah

Pembiayaan

Ijarah

Bank
Muamalat
Indonesia
(BMI)

Analisis/Komentar

Umroh

Pembiayaan
Investasi

Murabahah/ijarah

Proses persetujuan pembiayaan


yang cepat one day approval
dan syarat-syarat lain yang
menurut saya sangat mudah akan
mendorong jumlah nasabah yang
menginginkan kredit kendaraan
bermotor, menurut saya akan
meningkatkan konsumerisme dan
tidak
mendukung
kegiatan
pemerintah
yang
menekan/
mengurangi penggunaan bahan
bakar minyak
Menurut
saya
sebenarnya
pembiayaan ini adalah akad
Qardh (hutang) dengan sistem
dana talangan, namun ketika
bank syariah menerapkan akad
ijarah maka akan sama saja
dengan
menyewakan
uang
dengan tambahan fee atas jasa
sewa, uang dengan tambahan
adalah riba.
Menurut saya dalam pembiayaan
untuk
investasi
sebaiknya
menggunakan akad mudharabah
atau musyarakah, tetapi bank
sepertinya tidak mau mengambil
resiko yang telalu besar dan
memilih jenis pembiayaan yang

Kepemilikan

Murabahah

Logam Mulia
BRI
Syariah

(KLM) BRISyariah
iB

(BRIS)

KPR BRISyariah

Murabahah

iB

iB Kepemilikan

Murabahah

Mobil

Bank
Syariah

iB kepemilikan

Murabahah

Rumah

Bukopin

Pembiayaan iB
istishna paralel

Salam-istishna

selalu mendatangkan keuntungan


(murabahah-margin dan ijarahfee)
Dalam jenis pembiayaan ini tidak
jelas
kapan
emas
akan
diserahkan,
bank
syariah
harusnya lebih kritis dalam
menghadapi fatwa DSN MUI yang
menghalalkan kredit emas karena
pada dasarnya emas adalah
barang ribawi yang syaratnya
harus kontan jika diperjualbelikan
atau ditukarkan
Apabila
rumah
mengalami
kerusakan atau ada masalah,
maka buyer minta tanggung
jawabnya ke developer, bukan ke
bank, seharusnya karena rumah
itu sudah milik bank, garansi pada
bank, bukan pada developer.
Pembiayaan jenis ini menurut
saya mendorong konsumerisme
karena kemudahan persyaratan,
seharusnya ada syarat untuk
tidak membolehkan kepemilikan
mobil yang kedua dan seterusnya
kecuali untuk usaha, serta tidak
mendukung kegiatan pemerintah
untuk
mengurangi
konsumsi
bahan bakar minyak
Disebutkan
bahwa
margin
pembiayaan ini kompetitif, namun
tidak disebutkan apakah maksud
kompetitif disini adalah kompetitif
dengan
bunga
pembiayaan
konvensional atau pembiayaan
syariah lain, seharusnya margin
adalah kesepakatan bank dengan
pembeli.
Harga jual kepada nasabah telah
memperhitungkan biaya atau nilai
aset,
ditambah
margin
keuntungan Bank. Bank syariah
harusnya lebih transparan dalam
perhitungan
nilai
aset
dan
bersepakat terlebih dahulu dalam
penentuan margin keuntungan
bank.

Pembiayaan

Murabahah

Peralatan
Bank

Kedokteran

Syariah
Mandiri
(BSM)

Pembiayaan

Ijarah

Edukasi BSM

Pembiayaan
BNI

Emas iB

Syariah

Hasanah

Multijasa iB
Hasanah

Murabahah

Ijarah multijasa

Dalam jenis pembiayaan ini


nasabah harus sangat detail
dalam menyampaikan spesifikasi
alat yang dibutuhkan agar tidak
mengurangi keprofesionalannya,
alat yang digunakan sebaiknya
juga bukan peralatan bekas.
Peralatan kedokteran biasanya
sangat mahal, namun disini bank
hanya
menyediakan
plafon
maksimal 500 juta, hal tersebut
mengindikasikan bahwa bank
setengah-setengah
dalam
memberikan pembiayaan.
Dalam akad pembiayaan ini bank
syariah memberikan talangan
atau memberikan qardh (utang)
atas dana pendidikan. Disini bank
masih
ingin
memperoleh
keuntungan
dengan
menggunakan akad ijarah (fee
atas
jasa
pinjaman
yang
diberikan).
Padahal
jelas
tambahan
uang
yang
dipersyaratkan
dalam
utang
piutang adalah riba.
Tidak dijelaskan kapan tepatnya
penyerahan
emas
kepada
pembeli, tidak disebutkan pula
berapa karat emas yang diperjual
belikan
(hanya
disebutkan
bersertifikat PT ANTAM). Selain
itu disebutkan bahwa margin
kompetitif (2 tahun = 7.91%)
padahal penentuan dasar margin
adalah
kesepakatan
dengan
nasabah/ pembeli. Pada dasarnya
emas adalah barang ribawi yang
syaratnya harus kontan jika
diperjualbelikan atau ditukarkan
Biaya
sewaktu-waktu
dapat
berubah tanpa pemberitahuan
terlebih dahulu, padahal dalam
akad ijarah harga tidak akan
berubah
sesuai
dengan
kesepakatan di awal.

2) Analisis statistik perbankan syariah akad salam periode tahun 2011-2013


Akad Salam ternyata masih kurang populer di mata para nasabah
pembiayaan perbankan syariah di Indonesia. Terbukti, tidak ada satu pun nasabah
pembiayaan bank syariah maupun unit usaha syariah yang menggunakan akad
salam selama periode tahun 2011 sampai tahun 2013.
Berdasarkan Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia Oktober 2013 pada
tahun 2011, komposisi pembiayaan bank syariah didominasi oleh akad murabahah
yang berada di level tertinggi dengan nilai Rp 56,36 miliar disusul kemudian dengan
akad musyarakah dan qardh masing. Sementara akad salam menunjukkan angka
Rp 0. Sebaliknya, di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), pada periode 2011
akad salam masih ada yang melirik, terbukti dengan adanya pembiayaan sebesar
Rp 20 juta. Komposisi pembiayaan di BPRS juga masih didominasi oleh akad
murabahah yang mencapai Rp 2,1 miliar.
Pada tahun 2012 komposisi pembiayaan bank syariah tidak mengalami
perubahan, pembiayaan masih didominasi akad murabahah dengan nilai Rp. 88
miliar, meningkat dari tahun sebelumnya. Akad salam masih saja stagnan, tidak ada
yang menggunakan jenis pembiayaan ini, di BPRS akad salam tercatat sebesar Rp.
197 miliar pada desember 2012. Pada periode Oktober tahun 2013 dominasi akad
murabahah dalam pembiayaan bank syariah tetap tidak tergantikan, tercatat jenis
pembiayaan murabahah mampu menembus angka Rp. 107,484 miliar, namun akad
salam masih menunjukkan angka Rp 0. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS),
pada periode Oktober 2013 ada pembiayaan salam sebesar Rp 30 juta.
Dengan melihat Statistik Perbankan Syariah Oktober 2014 maka jumlah akad
salam sepanjang tahun 2011 sampai 2013 adalah sebesar Rp 0. Perkembangan
produk salam pada perbankan syariah di Indonesia hingga saat ini masih sangat
kecil dan jauh bahkan tidak ada peminatnya, kecuali pada Bank Perkreditan Rakyat
Syariah (BPRS) yang itu pun masih relatif kecil, padahal bank syariah di Indonesia
memiliki potensi cukup besar untuk menjadi pilihan utama dan pertama bagi
nasabah dalam pilihan transaksi.
Biasanya akad salam digunakan untuk investasi di bidang pertanian untuk
membeli barang-barang modal. Selain karena mengharuskan pembayaran di muka,
banyak bank syariah yang tidak menjual produk berakad salam, bahkan
sepengetahuan saya hanya ada Bank Syariah Bukopin itupun menggunakan akad
salam-istishna sehingga menjadikan akad salam kurang populer di mata nasabah.
Di bank syariah ada beberapa akad yang menjadi dominan dalam penyaluran

pembiayaannya
dan mudharabah

yang

diantaranya

karena

bisnis

adalah
di

akad murabahah, musyarakah,


Indonesia

lebih

cenderung

ke perdagangan dan home industri, sehingga yang menjadi sangat populer sekali
adalah akad murabahah. Dalam penyaluran pembiayaannya ke sektor pertanian,
bank dirasa tidak perlu lagi menggunakan akad salam karena sudah dapat
diakomodir melalui akad perbankan lainnya. Karena tidak perlu lagi akan
keberadaan akad salam, maka bank tidak menetapkan target pembiayaan untuk
akad salam.
Jika memang akad salam dianggap tepat untuk pembiayaan di sektor
pertanian, maka hal ini seharusnya peluang dalam rangka memperluas pangsa
pasar yang harus dimanfaatkan oleh industri perbankan syariah. Berdasarkan data
statistik perbankan syariah dari tahun 2011 hingga bulan Oktober tahun 2013,
komposisi pembiayaan untuk sektor pertanian saya perkirakan mungkin tidak lebih
dari 10%. Proporsi pembiayaan bank syariah ke sektor pertanian pun tidak
mengalami perubahan signifikan dari tahun ke tahun. Pembiayaan ke sektor
pertanian pun masih belum sebesar pembiayaan ke sektor jasa, perdagangan dan
konstruksi. Pembiayaan bank syariah yang lebih mendominasi adalah ke sektor
pelayanan bisnis.