Anda di halaman 1dari 7

BI dan OJK : Sejarah Singkat , Penjelasan Umum, dan Pengaruh Berdirinya

OJK terhadap Fungsi Pengawasan Bank oleh BI


Oleh Chrissena Novendy Putra/1306452783
Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan adalah dua lembaga negara independen
berbeda yang memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Sejak secara resmi berdirinya
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir tahun 2013 lalu, masih banyak diantara kita yang
belum mengetahui secara pasti tentang apa fungsi dan tugas utama OJK. Salah satu fungsi
Bank Indonesia yang sudah ada sejak dulu sebagai Bank Sentral Negara Indonesia adalah
fungsi pengawasan, dimana Bank Indonesia berperan sebagai pengatur dan pengawas bankbank yang ada untuk menjaga stabilitas moneter dan stabilitas keuangan, dan pada sisi lain,
OJK juga berfungsi sebagai pengatur dan pengawas industri keuangan yang ada di Indonesia,
yang di dalamnya meliputi bank-bank juga. Lalu apa yang membedakan mereka? Pada
beberapa paragraf selanjutnya akan dibahas terlebih dahulu sejarah singkat dan penjelasan
umum mengenai BI dan OJK sebagai dua lembaga negara independen yang bertujuan untuk
menjaga stabilitas keuangan dan stabilitas moneter, dan diteruskan dengan pengaruh
berdinya OJK terhadap tugas pengawasan BI, serta kondisi pasca berdirinya OJK.
Masa awal terbentuknya cikal bakal Bank Indonesia dimulai jauh sebelum Indonesia
mendapatkan kemerdekaannya, tepat mulai tanggal 10 Oktober 1827 di wilayah Hindia
Belanda, Pemerintah Hindia Belanda sudah mendirikan Bank. Nama Bank tersebut adalah
De Javasche Bank kedudukan di Batavia (sekarang Jakarta). Bank tersebut bukanlah bank
milik Pemerintah Indonesia, namun semua orang yang memiliki jabatan tinggi pada bank
tersebut diangkat oleh pemerintah. Tujuan utama pendirian bank tersebut adalah untuk
meningkatkan perekonomian pemerintah Belanda. Lalu pada tahun 1951, De Javashe Bank
di nasionalisasikan, dan diganti namanya menjadi Bank Indonesia.
Dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan moneter, Bank Indonesia memiliki
beberapa fungsi atau tugas utama , diantaranya : menetapkan dan melaksanakan kebijakan
moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta melakukan
pengaturan dan pengawasan terhadap Bank. Tiga fungsi tersebut lah yang menjadi tiga pilar
utama Bank Indonesia dalam mencapai tujuan tunggal menjaga kestabilan nilai rupiah yang
mendukung terciptanya stabilitas keuangan dan stabilitas moneter.
Namun, dengan adanya Bank Indonesia sebagai sebuah lembaga independen negara
yang secara umum bertujuan untuk mencapai stabilitas sistem keuangan dan stabilitas
moneter di negeri ini, apakah masih diperlukan sebuah lembaga independen negara yang
mengatur dan mengawasi industri keuangan juga demi terciptanya hal tersebut? Pasal 1
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 menyebutkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan, yang
selanjutnya disingkat dengan OJK, adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur
tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan,
pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Satu kunci
utama dibalik pendirian OJK adalah Pasal 34 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang
Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI),

pemerintah diamanatkan membentuk lembaga pengawas sektor jasa keuangan yang


independen, selambat-lambatnya akhir tahun 2010 (mengacu pada UU Nomor 23 Tahun
1999). Lembaga ini bertugas mengawasi industri perbankan, asuransi, dana pensiun, pasar
modal, modal ventura, dan perusahaan pembiayaan, serta badan-badan lain yang
menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat. Dibentuknya OJK juga untuk menjawab
tantangan dan kenyataan bahwa produk jasa keuangan yang sekarang ada makin kompleks
dan bervariasi, munculnya gejala konglomerasi perusahaan jasa keuangan, dan globalisasi
industri jasa keuangan. Selain itu, salah satu alasan lainnya tenntang rencana pembentukan
OJK adalah karena pemerintah beranggapan bahwa BI, sebagai Bank Sentral telah gagal
dalam mengawasi sekor perbankan.
Awal munculnya gagasan pembentukan sebuah otoritas oleh pemerintah yang ingin
berbenah diri ternyata sudah ada tepat setelah Indonesia mengalami krisis keuangan yang
besar pada tahun 1998. Pada tahun 1999, gagasan pembentukan otoritas dimasukkan dan
menjadi perintah UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Pendirian OJK
tertunda selama bertahun-tahun dan banyak revisi telah dilakukan terhadap undangundang Bank Indonesia yang membahas mengenai pendirian OJK dan OJK itu sendiri. Pada
akhir tahun 2011, Pimpinan DPR, Priyo Budi Santoso, akhirnya mengetuk palu tanda
disetujuinya pengesahan Rancangan Undang-Undang Otoritas Jasa keuangan (RUU OJK)
menjadi Undang-Undang dalam Rapat Paripurna DPR, pada Kamis 27 Oktober 2011. Dalam
keputusan tersebut disebutkan supaya panitia seleksi DK OJK harus terbentuk awal 2012.
Resmi sejak tanggal 31 Desember 2013, sesuai dengan amanat UU No 21 tahun 2011
tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), OJK secara resmi mengawasi kinerja seluruh bank
yang ada di Indonesia, mengambil alih tugas perbankan yang selama ini dilakukan BI.
Setelah terbentuknya OJK, tugas BI sebagai bank sentral tidak lagi mencakup tugas
pengaturan dan pengawasan perbankan. Ke depan, BI akan bertugas mengawal stabilitas
moneter, stabilitas sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan. sesuai amanat UU
No 21 tahun 2011 tentang OJK, OJK melaksanakan fungsi, tugas dan kewenangan di
sejumlah bidang, seperti pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, penyidikan dan
perlindungan konsumen pada sektor jasa keuangan perbankan, pasar modal serta industri
keuangan non bank. Pada tahun 2013 pula, Bapepam-LK akan melebur ke OJK dan sebagian
besar pekerja dari lembaga ini juga akan berubah status kepegawaiannya. Pada tahun ini
jugalah OJK akan mulai dalam penarikan iuran dari industri keuangan non bank. Pada tahun
ini (2014), setelah masa transisi satu tahun Bapepam-LK melebur ke OJK, diharapkan tahun
ini akan dilaksanakan serah terimanya pengawasan perbankan dari tangan bank sentral ke
OJK.
Meskipun sudah ada pemisahan fungsi pengawasan BI yang kemudian diambil alih
oleh OJK, tugas OJK dalam mengawasi bank membutuhkan koordinasi dengan Bank
Indonesia. Pengawasan bank pada dasarnya terbagi atas dua jenis, yaitu pengawasan dalam
rangka mendorong bank-bank untuk ikut menunjang pertumbuhan ekonomi dan menjaga
kestabilan moneter (macro-prudential supervision), dan pengawasan yang mendorong bank
secara individual tetap sehat serta mampu memelihara kepentingan masyarakat dengan

baik (micro-prudential supervision). Untuk pengawasan (macro-prudential supervision)


dilakukan oleh Bank Indonesia dan microprudensial supervison dilakukan oleh OJK.
Dalam melaksanakan tugas pengawasan pada micro-prudential supervision, OJK
berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam membuat peraturan pengawasan di bidang
perbankan antara lain: kewajiban pemenuhan modal minimum Bank; sistem informasi
perbankan yang terpadu (SIP); kebijakan penerimaan dana dari luar negeri, penerimaan
dana valuta asing, dan pinjam komersial luar negeri; produk perbankan, transaksi derivatif,
kegiatan usaha Bank lainnya; penentuan institusi bank yang masuk kategori systemically
important Bank; data lain yang dikecualikan dari ketentuan tentang kerahasiaan informasi.
Dalam proses pendiriannya, OJK yang sempat tertunda beberapa kali
pembentukannya, sehingga menyebabkan amandemen terhadap undang-undang tentang
OJK dan pembentukan OJK, pada akhir tahun 2013 akhirnya menghasilkan keputusan pasti
bahwa OJK secara resmi berdiri dan mengambil alih wewenang pengawasan bank yang
selama ini hanya dimiliki oleh BI. Pelimpahan wewenang pengawasan bank oleh BI terhadap
OJK bukan berarti BI sudah benar-benar lepas dari tanggung jawab dalam mengawasi Bank,
tetap dibutuhkan koordinasi Antara BI dan OJK dalam membuat peraturan pengawasan di
bidang perbankan yang telah disebutkan di dalam paragraph sebelumnya. Dapat
disimpulkan bahwa, dengan berdirinya OJK, tidak ada tugas atau fungsi yang saling tumpang
tindih antara BI dan OJK itu sendiri, masing-masing dari mereka sudah memiliki fungsi dan
tugas yang berbeda namun membutuhkan koordinasi diantara keduanya pada pembuatan
peraturan dan pengawasan (micro-prudential supervision dan macro-prudential supervision)
di bidang perbankan.

Daftar Pustaka

Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan

Jurnal, Seminar, Karangan, Artikel/ Makalah


Rebekka Dosma, Sistem Koordinasi Antara Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan
Dalam Pengawasan Bank Setelah Lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang
Otoritas Jasa Keuangan, Universitas Sumatera Utara, 2013
Putra M Irwansyah, Peranan Otoritas Jasa Keuangan dalam Melakukan Pengaturan dan
Pengawasan Terhadap Bank, Universitas Sumatera Utara, 2013

Website
Memahami Tugas BI Pasca Terbentuknya OJK, http://www.bi.go.id/id/tentangbi/museum/info/berita-khusus/Pages/Berita_ToT.aspx, terakhir diakses tanggal 27 Maret
2014
Peran Bank Indonesia dalam Stabilitas Keuangan, http://www.ojk.go.id/peran-bi, terakhir
diakses tanggal 27 Maret 2014
Sejarah Bank Indonesia, http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/sejarah-bi/prabi/Documents/6838fb3db5584705af6f87d15242bee5PresidenDeJavascheBank_18281953_.
pdf, terakhir diakses tanggal 27 Maret 2014

STATEMENT OF AUTHORSHIP

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah terlampir adalah
murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk tugas pada
mata ajaran lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menyatakan
menggunakannya.
Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Nama

: Chrissena Novendy Putra

NPM

: 1306452783

Tanda Tangan

Mata Ajaran

: Pengantar Ekonomi 2

Judul Tugas

: BI dan OJK : Sejarah Singkat , Penjelasan Umum, dan Pengaruh


Berdirinya OJK terhadap Fungsi Pengawasan Bank oleh BI

Tanggal

: 27 Maret 2014

Dosen

: Benedictus Raksaka M. S.E., M.Sc., Ph.D

TUGAS PENGANTAR EKONOMI 2 - KELAS C


BI dan OJK : Sejarah Singkat , Penjelasan Umum, dan Pengaruh
Berdirinya OJK terhadap Fungsi Pengawasan Bank oleh BI

Oleh :
Chrissena Novendy Putra
NPM : 1306452783

Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia

Depok, 2014