Anda di halaman 1dari 9

Bagaimana Menulis

Feature?
Ditulis oleh Admin
Wednesday, 22 April 2009 20:27
Oleh : Budiman S. Hartoyo
Sekedar bahan diskusi untuk para sahabat jurnalis, baik yang masih pemula maupun yang
sudah profesional. Bisa juga menjadi bahan kuliah umum para mahasiswa semester VII
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Komunikasi Universitas Nasional, Jakarta.
ADA beberapa jenis berita. Yang paling pendek disebut straight news, yaitu berita singkat
padat yang langsung mengabarkan inti berita, tapi tetap mengandung unsur 5-W 1-H [who
(siapa), what (apa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), how (bagaimana)].
Jika berita tersebut sangat penting untuk segera diketahui oleh publik disebut stop press,
sedangkan jika ditayangkan di layar televisi atau melalui corong radio disebut breaking
news - karena disiarkan sebagai selingan mendadak di sela-sela acara yang sedang
berlangsung.
Misalnya, sekedar contoh, Mantan Presiden Soeharto telah wafat pada hari ini, 27 Januari
2008 jam 11:00 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
dalam usia 87 tahun, setelah dirawat selama beberapa hari karena sakit usia tua.
Jenasahnya kini disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat,
dan segera akan diterbangkan ke Solo untuk dikebumikan di makam keluarga Astana Giri
Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah (disiarkan pada tanggal 27 Januari 2008 jam 11:05).
Selain harus mengandung unsur 5-W 1-H, penyusunan struktur sebuah berita lazim
mengikuti apa yang disebut metode "piramida terbalik." Maksudnya, yang pertama-tama
ditulis ialah inti berita yang penting, kemudian data yang agak penting, lalu yang setengah
penting dan akhirnya data pelengkap yang kurang penting. Walaupun singkat padat,
susunan straight news tetap harus mengikuti metode "piramida terbalik." Pada contoh di
muka, yang paling penting ialah wafatnya mantan Presiden Soeharto, sedangkan makam
keluarga Astana Giri Bangun merupakan data pelengkap.
Meskipun pada contoh stop press tersebut, wafatnya mantan Presiden Soeharto dianggap
sebagai fakta yang penting -- oleh karena itu ditulis di awal berita --, unsur paling penting
dari sebuah news (berita) ialah when (kapan). Mendengar berita tentang wafatnya Pak
Harto, orang biasanya kontan akan bertanya, "Kapan?" Dengan demikian, contoh berita
tersebut bisa ditulis sebagai berikut: Hari ini, 27 Januari 2008 jam 11:00 WIB, mantan
Presiden Soeharto telah wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan, dalam usia 87 tahun, setelah dirawat selama beberapa hari karena sakit usia tua.
Dan seterusnya.
Unsur when menjadi sangat penting, sebab tanpa unsur yang menyebutkan waktu, sebuah
peristiwa atau kejadian tidak dapat disebut sebagai berita. Bahkan, berita mengenai
apapun wajib mempunyai "cantolan" atau "gantungan", mengapa atau atas dasar apa
sebuah peristiwa atau kejadian ditulis menjadi berita. Yang dimaksud dengan "cantolan"

atau "gantungan" itu lazim disebut sebagai news peg. Tidaklah mungkin kita ujug-ujug
menulis berita atau artikel mengenai pemerintahan yang represif atau mengenai mega
korupsi, misalnya, tanpa news peg berupa wafatnya Pak Harto.
Selain karena adanya news peg, sebuah kasus menjadi penting diberitakan karena
memang layak ditulis sebagai berita. Kelayakan itu berkaitan dengan magnitude (bobot)
beritanya yang cukup besar. Bobot berita wafatnya Pak Harto sangat besar, dibanding
bobot meninggalnya camat Pondokgede, misalnya. Bobot berita korupsi Tommy Soeharto
yang milyaran sangat besar dibanding korupsi yang dilakukan seorang guru SMP Negeri
di Kecamatan Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah, yang hanya sekitar lima jutaan rupiah.
Tommy bukan saja anak mantan presiden, kasus korupsinya juga sangat besar, sementara
pak guru SMP selain tidak terkenal, bukan public figure, ia melakukan korupsi karena
terpaksa, gara-gara gajinya tidak mencukupi.
Wafatnya Pak Harto dan kasus korupsi Tommy Soeharto sangat layak diberitakan, karena
selain mereka adalah public figure, kasusnya menyangkut hajat hidup orang banyak,
sehingga bernilai "sangat penting". Sebuah kasus perlu juga diberitakan, antara lain
karena kejadiannya aneh, langka, atau unik. Dalam hal ini berlakulah kredo sejarawan
Inggris, Charles A. Dana, yang pada 1882 mengatakan, When a dog bites a man, that is
not a news. But when a man bites a dog, that is a news (Jika anjing menggigit orang, itu
bukan berita. Tapi jika orang menggigit anjing, barulah itu berita). Maksudnya tentu saja
bukanlah semata-mata faktor "menggigit", melainkan faktor unicum, keunikan atau
keistimewaan dalam suatu berita. Contoh, kasus Sumanto yang makan daging mayat,
seorang ayah yang membantai isteri dan anak-anaknya, seorang legislator yang selingkuh
dengan selebriti, dan sebagainya.
Ada kriteria lain mengapa sebuah kasus diberitakan. Sesuai dengan keinginan tahu
(curiousity) seseorang, pers biasanya memberitakan kejadian buruk ketimbang peristiwa
yang baik-baik. Rumah tangga artis yang sakinah dan mawaddah (bahagia penuh kasih
sayang) dianggap biasa-biasa saja, sedangkan konflik dalam rumah tangga seorang artis
terkenal sehingga mereka bercerai, atau bangkrutnya seorang pengusaha terkenal,
biasanya dianggap lebih menarik untuk diberitakan. Nah, berita buruk seperti itu biasnya
dianggap lebih menarik, sehingga berlakulah teori - yang sesungguhnya tidak selalu tepat:
a bad news is a good news (berita buruk adalah berita baik). Pengertian good news di sini
bukan berarti "berita baik" melainkan berita yang (biasanya) diminati oleh kebanyakan
publik. Padahal, rumah tangga bahagia seorang artis, atau sukses bisnis seorang tokoh,
bisa ditulis sebagai success story, kisah sukses seseorang, yang jika ditulis dengan baik
juga menarik untuk dibaca.
Kelayakan sebuah berita juga ditentukan oleh akurasi datanya. Tingkat akurasi (ketelitian,
kecermatan, kebenaran data) menentukan tingkat profesionalitas. Seorang wartawan yang
menulis berita tidak akurat, bisa dinilai tidak profesional. Bahkan seorang wartawan yang
tidak tepat dalam penggunaan bahasa Indonesia, juga bisa dinilai tidak profesional. Selain
itu, berita yang baik haruslah berimbang, tidak berat sebelah. Dua pendapat yang saling
bertentangan, dua-duanya harus dimuat secara adil. Istilah mengenai asas ini disebut cover

bothside atau bothside coverage.


Kembali pada straight news. Sebagai follow up lebih lanjut dari straight news tersebut,
para wartawan menulis berita yang lebih panjang, karena straight news tentulah belum
lengkap, dan hanya merupakan dasar dari sebuah berita yang lebih panjang dan lengkap.
Beberapa data yang lazim dianggap sebagai pelengkap, misalnya, jenis penyakit Pak
Harto (dengan mewawancarai para dokter kepresidenan), siapa saja yang melayat di
rumah sakit dan acara tahlil di rumah duka (dengan melakukan reportase), bagaimana
rencana pemberangkatan jenazah dan upacara pemakaman (dengan mewawancarai
keluarga Cendana dan reportase di Astana Giri Bangun), dan sebagainya.
Wafatnya Pak Harto jelas merupakan berita sangat penting, berita besar, big news. Oleh
karena itu para redaktur cepat-cepat memberikan assignment (penugasan) kepada para
reporter untuk menulis berita yang lebih lengkap. Bahkan beberapa artikel yang berkaitan
dengan Pak Harto, dan perannya selama menjadi presiden (lengkap dengan foto
dokumentasi yang diperlukan) sudah dipersiapkan, begitu Pak Harto dirawat karena sakit
keras. Misalnya, pemerintahan Pak Harto yang represif, kasus korupsi bersama kronikroninya, dan sebagainya. Begitu Pak Harto wafat, artikel seperti itu sudah pressklaar,
siap cetak.
ADA jenis berita lain yang disebut feature atau news feature, yaitu tulisan panjang,
lengkap, komprehensif, berimbang, dengan kasus yang magnitude-nya cukup besar, tapi
lebih mementingkan unsur why dan how. Yaitu "mengapa" atau sebab musabab sampai
peristiwa itu terjadi, dan "bagaimana" proses terjadinya peristiwa tersebut. Selain itu,
sebuah feature hendaknya ditulis dengan gaya bertutur, deskriptif, sedemikian rupa
sehingga susunan kata dan kalimatnya mampu menggambarkan atau melukiskan suatu
profil atau peristiwa tertentu. Oleh karena itu, feature sesungguhnya sebuah "cerita", tapi
bukan cerita mengenai fiksi melainkan mengenai fakta. A feature is a story about facts,
not about fiction (feature ialah cerita tentang fakta, bukan tentang fiksi). Sedangkan karya
tulis tentang fiksi disebut novel, cerita pendek.
Sampai di sini kita diingatkan pada sebuah asas atau dalil klasik dalam dunia jurnalisme,
yaitu mengenai fakta dan opini. Menurut dalil klasik tersebut, sebuah berita harus hanya
memuat fakta tanpa mengikut sertakan opini, hanya memuat peristiwa-peristiwa yang
terjadi dengan sesungguhnya (facts), tanpa pendapat, komentar, ulasan atau tafsir
(opinion) si wartawan. Dengan demikian diharapkan berita itu dapat tampil secara
obyektif, seperti apa adanya, tanpa bumbu-bumbu lain, meskipun ditulis dengan deskripsi
(penggambaran) yang persis setepat-tepatnya..
Setelah memahami sedikit banyak tentang beberapa persyaratan berita yang harus kita
ketahui, maka sampailah kita pada pertanyaan, "bagaimana menulis feature (yang baik)?"
Sebelum menulis, pertama-tama pilihlah kasus yang (sangat) menarik, yang menyangkut
kepentingan banyak orang (publik), yang prestisius untuk ditulis. Seorang wartawan atau
penulis yang baik dan berpengalaman biasanya memiliki nose of news (daya cium, daya
endus berita), yang akan selalu bisa terasah jika ia memiliki "jam terbang" cukup tinggi.

Tapi, nose of news selalu bisa dilatih. Setelah menemukan obyek, kasus atau item tulisan,
pikirkanlah apa kira-kira angle-nya. Yang dimaksud dengan angle ialah "sudut pandang",
apa kira-kira masalah yang sangat penting dan relevan dari kasus tersebut. Untuk
menentukan angle biasanya cukup sulit, sehingga diperlukan pemikiran, perenungan,
bahkan diskusi dengan kawan-kawan.
Sekedar contoh kasus, misalnya, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah
Bantargebang, Bekasi, yang sampahnya sempat menggunung lalu roboh dan menewaskan
pemulung. Yang juga menarik, misalnya, banjir yang setiap tahun menggenangi Jakarta,
yang disebabkan oleh penataan kota yang tidak disiplin, peruntukan lahan yang ngawur.
Atau tentang Tanahabang Bongkaran, Jakarta Pusat, sebagai miniatur Indonesia. Di sana
ada preman, pedagang kecil, pegawai negeri, pelacur. Pokoknya berbagai profesi dan etnis
yang berbaur dalam kawasan kumuh sejak puluhan tahun. Kasus lain, Soetan Takdir
Alisjahbana (STA) sebagai pendidik dan "pemimpi" yang mengidam-idamkan pendidikan
bermutu, sebagai pelopor dan pembina Bahasa Indonesia yang tak kenal lelah.
Setelah cukup mantap dengan salah satu kasus tersebut, carilah kaitannya dengan news
peg. Yang dimaksud dengan news peg ialah "gantungan cerita", mengapa kita menulis
feature mengenai sesuatu yang kita yakini sangat menarik minat pembaca. Mengapa
menulis tentang banjir yang menenggelamkan Jakarta? Karena ada news peg musim hujan
di bulan Desember. Kita menerbitkannya di awal bulan Desember, sesuai dengan news
peg-nya, tapi pengerjaannya bisa dilakukan sejak dua atau tiga bulan sebelumnya.
Mengapa kita menulis mengenai STA? Karena akan kita terbitkan pas pada hari ulang
tahun STA, atau HUT Universitas Nasional, atau HUT terbitnya majalah Poedjangga
Baroe. Dan seterusnya.
Setelah kita menemukan news peg, telitilah apakah kasus yang akan kita tulis tersebut
memenuhi kriteria sebagai item yang sangat terkait dengan kepentingan publik dan
magnitude-nya besar. Contoh-contoh yang kita paparkan di muka cukup memenuhi
kriteria. Setelah itu, susunlah outline (kerangka tulisan), meliputi lead, body text, ending.
Seorang penulis yang baik selalu membiasakan diri terlebih dahulu menyusun outline. Di
kalangan para wartawan TEMPO di tahun 1980 dulu, dikenal semacam credo: "Mau
selamat? Bikinlah outline!" Tapi ingat, cara menyusun outline tidak gampang. Diperlukan
latihan tersendiri.
Kemudian (inilah tugas yang cukup berat) kuasailah segenap bahan dengan selengkap dan
seakurat mungkin. Lakukan reportase yang mendalam (indeph reporting), wawancara
beberapa narasumber yang relevan, riset berbagai bahan, check and recheck. Lakukan
pula verifikasi dengan mempertimbangkan bothside coverage. Lakukan semua itu dengan
sepenuh semangat dan gairah, tanpa lelah, tanpa bosan, karena proses pengumpulan bahan
itu mungkin akan berlangsung sampai berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Namun, ketika kita tengah "berbelanja" bahan-bahan di lapangan, bisa jadi outline akan
berubah. Dalam hal ini, yang sangat penting harus dilakukan ialah indeph reporting
(reportase mendalam), ialah reportase dan wawancara dari berbagai aspek, sehingga

mampu menggambarkan kasus, masalah, atau sosok yang akan kita tulis.
Langkah berikut ini lebih sulit lagi, yaitu langkah menulis -- yang harus setia dengan
outline, meskipun ada kemungkinan outline bisa berubah di tengah jalan. Mula-mula,
tulislah lead yang bagus. Lead adalah kalimat pertama sebagai pembuka, yang harus
menarik (baik bahasa maupun materinya) agar supaya pembaca tertarik untuk terus
membaca. Dan itulah fungsi lead yang sebenarnya. Selanjutnya melangkah ke body text,
yang hendaknya ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (tapi populer),
deskriptif (bertutur, berkisah), dengan alur cerita yang setia pada outline, dan tetap selalu
memperhatikan "gerak pendulum" sehingga tulisan tetap terfokus pada angle.
Pendulum ialah bandul yang menggantung pada seutas tali. Pendulum selalu bergerak dari
arah kiri ke arah kanan, berganti-ganti, dan pasti selalu melewati bagian tengah yang
searah dengan lurusnya tali tempat pendulum bergantung. Itulah yang dimaksud dengan
"gerak pendulum." Artinya, biarpun sang pendulum bergerak ke kanan atau ke kiri, pasti
selalu kembali ke tengah, searah dengan tali gantungan pendulum. Pendulum
melambangkan perkembangan cerita yang ditulis dalam sebuah feature, sedangkan tali
penggantung melambangkan angle.
Jika seluruh bahan cerita sudah ditulis dalam body text, tibalah saatnya kita menulis
ending, akhir dari sebuah tulisan. Ending bisa berupa kesimpulan, bisa pula suatu kejadian
lucu (atau tragis dramatis), yang setidak-tidaknya bisa dianggap sebagai suatu
kesimpulan. Atau bisa pula berupa persoalan atau pertanyaan yang mengambang, yang
tidak perlu dijawab. Sebagaimana lead ada yang menarik dan tidak, ending juga ada yang
menarik dan tidak. Tentu saja kita harus memilih yang menarik. Untuk menulis lead dan
ending yang menarik, memang dibutuhkan latihan dan "jam terbang" sebagai penulis yang
cukup lama.
Bagaimana feature yang bagus? Sebuah feature yang bagus ialah yang lengkap,
komprehensif, akurat, dengan verifikasi yang memadai. Lebih hebat lagi jika feature
tersebut merupakan hasil reportase investigasi (investigative reporting), sebuah tulisan
yang exclusive (sangat khas, lain dari yang lain) dan ditulis dengan gaya literary
journalism, jurnalisme literair. Apakah itu investigative reporting, karya jurnalisme yang
exclusive, dan gaya literary journalism? Ketiga-tiganya - sebagai tingkat lebih lanjut dari
penulisan feature -- merupakan pembahasan dalam sebuah diskusi tersendiri.
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 22 April 2009 22:08 )

Panduan Umum :
1. Feature atau karangan khas adalah tulisan yang tidak menekankan berita lempang
(hard news) tetapi semata-mata berdasarkan daya pikat manusiawi (human interest) yang
tidak terlalu terikat pada tata penulisan baku yang kaku seperti yang berlaku dalam berita
lempang (5 W + 1 H dan piramida terbalik).
2. Feature atau karangan khas adalah tulisan yang lebih ringan, atau lebih umum, tentang
daya pikat manusiawi, atau gaya hidup, dibandingkan berita lempang yang mengangkat
peristiwa yang masih hangat.
3. Feture atau karangan khas adalah tulisan yang melukiskan suatu pernyataan dengan
lebih rinci sehingga apa yang dilaporkan menjadi lebih hidup dan tergambar dalam
imajinasi pembaca.
4. Feature atau karangan khas adalah tulisan kretaif, kadang-kadang subyektif, yang
dirancang terutama untuk menghibur tetapi tetap memberikan pengetahuan kepada
pemirsa tentang suatu peristiwa, situasi atau aspek kehidupan.
5. Feature atau karangan khas secara lengkap membahas soal tertentu dari sudut pandang
penulis, bebas, dan pembahasan menyatukan bagian-bagian secara lengkap sehingga
tema karangan tergambar dengan jelas.
6. Lengkap tidaknya tulisan feature diukur dari dua sudut pandang, yakni :
* Karangan menyatukan bagian-bagiannya.
* Karangan memadukan jalan pikiran penulisnya yang dituangkan secara implisit
dalam bagian pendahuluan, rincian atau uraian dan kesimpulan atau penutup.
7. Pengutaraan tulisan feature tetap memenuhi persyaratan dua tolok ukur cara berpikir
logis yang disebut logical progression yaitu :
-Berpikir secara deduktif, yakni penulis memulai tulisan dengan mengutarakan hasil
pengamatan atau pemikiran yang dirumuskan secara umum, kemudian diikuti oleh
rincian lalu kembali ke rumusan umum sebagai penutup karangan.
Contoh : Cerita tentang Minuman Keras. Pada bagian umum : penulis menceritakan
tentang akibat dari kebiasaan meminum minuman keras. Sebagian orang mengatakan
minuman keras enak meskipun menimbulkan berbagai penyakit. Pada bagian rincian
khusus, penulis menceritakan asal muasal kebiasaan meminum minuman keras. Bahanbahan yang terkandung dalam minuman keras. Dari bahan apa saja minuman keras dapat
dibuat. Lalu pada bagian penutup atau kesimpulan yang umum, penulis menekankan
kembali bahwa minuman keras membahayakan hidup dan lingkungan sosial.
-Berpikir secara induktif, termasuk di dalamnya berpikir secara sebab-akibat, yakni
penulis mengawali tulisan dengan mengungkap hasil pengamatan atau pemikirannya
berupa beberapa unsur khusus dari suatu gejala, kenyataan atau peristiwa, lalu

memberikan kesimpulan-kesimpulan dan akhirnya mengemukakan ketentuan umum


mengenai hal-hal khusus itu.
Contoh : Cerita tentang Banyaknya Pengemis di Setiap Persimpangan Jalan.
Peliputan dan Penulisan
1. Sebelum berangkat meliput, jawablah empat pertanyaan mendasar yakni :
* Who is affected or the victim?
* Who is responsible or who is guilty?
* Exactly what is the story about ?
* What are the pictures?
2. Gunakan selalu format paket lengkap dengan human example atau contoh manusia.
3. Pikirkanlah lead in atau pengantar berita yang paling kuat dan paling menarik. Karena
ini adalah tulisan feature maka lupakan 5 W + 1 H namun berikan penjelasan singkat agar
pemirsa mengerti tentang apa laporan kita sebenarnya. Jika feature kita berkaitan dengan
peristiwa terkini maka gunakan kalimat pertama (top line) untuk mengutarakan isi dari
berita itu.
4. Sebuah lead in terdiri dari paling tidak tiga kalimat. Hindari lead in dua kalimat apalagi
satu kalimat !
5. Dari lead in, pemirsa sudah harus dapat membayangkan informasi yang akan diperoleh
dengan mengikuti seluruh story. Karena itu, perhatikan keterkaitan yang konsisten dari
top line, lead in dan badan berita. Susunan yang ideal dari sebuah lead in adalah :
- Kalimat pertama (top line), tentang informasi terbaru.
- Kalimat kedua, tentang latar belakang yang relevan.
- Kalimat ketiga, tentang konteks lain yang relevan.
- Kalimat keempat (jika ada), tentang kutipan pernyataan yang relevan.
6. Kreativitas menulis diutamakan tetapi harus mengutamakan kalimat langsung, aktif
dan sederhana.
7. Mulailah dengan menceritakan dampak atau hubungan suatu masalah dengan manusia
tertentu atau sekelompok manusia tertentu. Cerita tentang manusia akan menarik apalagi
jika ditunjang gambar-gambar yang kuat.
8. Hindari penggunaan istilah-istilah atau rangkaian kalimat yang terlalu teknis. Bila
harus, lengkapi dengan penjelasan dalam istilah umum yang dipahami masyarakat awam.
Asumsikan bahwa pemirsa Anda adalah semua orang dari usia muda hingga usia tua; dari
seorang anak sekolah dasar hingga profesor. Jangan pernah merasa harus kelihatan pintar
dengan kalimat-kalimat yang rumit.
9. Gunakan sekuen-sekuen yang sesuai agar gambar benar benar bercerita. Ingat : ini
adalah feature berita televisi. Sekuen harus saling terkait dan saling dukung dengan

bagian kutipan dari narasumber atau chyron. Sekuen pertama benar-benar terkait dengan
chyron pertama sekuen kedua terkait dengan chyron kedua, demikian seterusnya.
10. Gunakan set up shot atau pengambilan gambar yang disiapkan untuk beberapa sekuen
tertentu. Misalnya, sebelum mewawancara seseorang narasumber, buatkan sekuen ketika
ia melakukan detail suatu kegiatan.
11. Jangan mengambil kutipan terlalu panjang. Jangan mengulangi bagian kutipan dari
bagian narasi berita.
12. Perhatikan penggunaan natural sound atau atmosphere.
Gambar dan Suara
1. Buatlah gambar-gambar bergerak yang dinamis. Sudut pengambilan gambar (angle)
dan ukuran gambar (picture size) harus eksklusif, misalnya very low angle camera, very
high angle camera, big CU atau traveling shot, traveling by walk, lari, jongkok, dsb.
2. Hindari gambar goyang (shaky shots) karena itu wajib menggunakan tripod.
3. Gunakan ukuran medium close up dalam pengambilan gambar narasumber yang
diwawancara.
4. Perhatikan head room, nose room dan walking room dalam pengambilan gambar
narasumber yang diwawancara.
5. Perhatikan eye line dan screen direction dalam pengambilan gambar narasumber yang
diwawancara.
6. Pengambilan gambar narasumber yang diwawancara hanya one shot. Jumlah lebih dari
satu narasumber dalam satu frame yang sama hanya dimungkinkan dalam kasus khusus.
7. Hindari pengambilan gambar narasumber yang sedang memberikan keterangan dalam
jumpa wartawan. Mintalah waktu khusus untuk melakukan wawancara sesuai denagn
format baku.
8. Gunakan wireless mike untuk wawancara bukan handymike. Handymike hanya untuk
wawancara man-on-the-street.
9. Selalu menyiapkan set-up shot atau gambar-gambar yang disiapkan secara khusus
untuk melengkapi sekuen dalam paket. Misalnya, sebelum mewawancarai narasumber
A maka siapkan set up shot / sekuen A sedang melakukan sesuatu, memasuki
ruangan, duduk, membuka-buka buku, membaca, dll.
10. Perhatikan sekuen dari sebuah peristiwa yang direkam, dan berikan pilihan untuk
pemotongan dan penyambungan gambar (cutting points) sehingga membantu editor
memilih peralihan gambar yang logis.
11. Hindari latar belakang yang datar (flat) dan terlalu terang khususnya dalam
pengambilan gambar narasumber yang diwawancara.
12. Pengambilan gambar gedung atau bangunan dilakukan dengan memperhatikan angle
terbaik (bukan frontal dari depan) dan jika memungkinkan, ambilah gambar saat di
sekitar gedung ada aktivitas manusia.
13. Hindari pengambilan gambar dengan zoom in zoom out kecuali jika dengan
motivasi yang sangat kuat. 95 % gambar dalam paket berita adalah gambar-gambar statis.
14. Gunakan back ground yang relevan misalnya saat akan mewawancarai narasumber
atau melakukan on screen. Hindari penggunaan chromakey sebagai back ground stand up
reporter.
15. Perhatikan kerapihan pakaian dari orang yang diwawancara atau reporter yang akan

on screen.
16. Aktifkan suara asli (real sound) pada channel 1 secara maksimal karena fungsi
gambar dan suara sama pentingnya. Bila perlu, gunakan tape recorder terpisah.
17. Biasakan untuk tidak berbicara di sekitar camera ketika pengambilan gambar sedang
berlangsung.
18. Hindari pengambilan gambar saat subyek sedang menatap camera sehingga terkesan
tidak natural.
19. Biasakan menyiapkan gambar-gambar sisipan (cut away) untuk membuat rangkaian
gambar logis dan menarik. Misalnya gambar-gambar listening shots dari proses di
ruang pengadilan atau jumpa pers. Siapkan terlebih dahulu gambar orang mendengar,
detail hadirin, orang mencatat, orang bertepuk tangan, orang menggelengkan kepala, dll.
Editing
1. Sebelum melakukan penyuntingan, reporter melakukan pemilihan gambar gambar
terbaik, menentukan time code, termasuk time code kutipan narasumber (chyron),
membuat edit plan atau rencana penyuntingan, dan menentukan pengantar berita (intro).
2. Hindari penyuntingan paket yang terlalu naratif (overloaded voice over). Editor dapat
mengingatkan reporter atau produser tentang sebuah paket yang terlalu naratif dan miskin
gambar.
3. Gambar dan suara pertama harus yang paling simbolik.
4. Gunakan konsep editing yang dinamis dengan mengoptimalkan kemudahankemudahan yang ada seperti flash, wipe, fade in, fade out, dissolve, mozaik, dll.
5. Hindari penyuntingan yang kurang pas untuk mengutip keterangan narasumber,
kecuali sangat terpaksa (badly edited chyron).
6. Durasi ideal sebuah kutipan wawancara adalah 15 sampai 20 detik.
7. Hindari penggunaan gambar wawancara yang frame gambarnya buruk (bad interview
framing).
8. Hindari penggunaan gambar-gambar goyang, zoom in zoom out tanpa motivasi yang
jelas.
9. Hindari penggunaan gambar wawancara tanpa mengeluarkan suara aslinya (sound
bites) karena diganti suara dubbing atau voicve over (gold fishing).
10. Hindari penggunaan gambar ilustratif tanpa motivasi yang kuat. Akan lebih baik jika
kekurangan gambar dilengkapi grafik.
11. Perhatikan sekuen gambar. Hindari lompatan-lompatan gambar yang tidak logis
termasuk di antara gambar kutipan wawancara.
12. Hindari penggunaan gambar obyek yang sedang menatap camera sehingga terkesan
tidak natural

Beri Nilai