Anda di halaman 1dari 13

1.

TAYAMMUM

Cara Tayammum yang Benar, Sesuai dengan Sunah Nabi


Pengertian Tayammum
Tayammum secara bahasa artinya sebagai Al Qosdu (
bertujuan atau memilih. Allah berfirman:

) yang berarti bermaksud atau

Janganlah kalian bersengaja memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan hal itu, padahal
kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memejamkan mata terhadapnya (Qs.
Al-Baqarah: 267).
Kata :

dalam ayat di atas artinya bersengaja, bermaksud, atau bertujuan. (as-Suyuthy & al-Mahali, alJalalain, al-Baqarah: 267)
Sedangkan secara istilah syariat, tayammum adalah tata cara bersuci dari hadats dengan
mengusap wajah dan tangan, menggunakan shoid yang bersih.
Catatan: Shoid adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum,
baik yang mengandung tanah atau debu maupun tidak.
Dalil Disyariatkannya Tayammum
Tayammum disyariatkan dalam islam berdasarkan dalil al-Quran, sunnah dan Ijma
(kesepakatan) kaum muslimin.
Adapun dalil dari Al Quran adalah firman Allah Azza wa Jalla,

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau

berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu. (Qs. Al Maidah: 6).
Adapun dalil dari Sunnah, sabda Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam dari sahabat
Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu anhu,

Tanah yang suci adalah wudhunya muslim, meskipun tidak menjumpai air sepuluh tahun.
(Abu Daud 332, Turmudzi 124 dan dishahihkan al-Albani)

Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum


Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih
baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering. Hal ini berdasarkan
hadits Nabi shollallahu alaihi wa sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu
anhu di atas dan secara khusus,

Dijadikan permukaan bumi seluruhnya bagiku dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan
sesuatu yang digunakan untuk bersuci. (Muttafaq alaihi)

Keadaan yang Membolehkan Tayammum


Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaan yang
dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,

Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak.
Terdapat air dalam jumlah terbatas, sementara ada kebutuhan lain yang juga memerlukan
air tersebut, seperti untuk minum dan memasak
Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin
lama sembuh dari sakit
Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu
bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu
untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat
Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan
air tersebut.

Tata Cara Tayammum Nabi shallallahu alaihi wa sallam


Tata cara tayammum Nabi shallallahu alaihi wa sallam dijelaskan hadits Ammar bin Yasir
radhiyallahu anhu,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku
mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah
sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal
tersebut kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Lantas beliau mengatakan, Sesungguhnya
cukuplah engkau melakukannya seperti ini. Kemudian beliau memukulkan telapak tangannya
ke permukaan tanah sekali, lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak
tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya
dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,

Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan.
(Muttafaq alaihi)
Berdasarkan hadits di atas, kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum beliau shallallahu
alaihi wa sallam adalah sebagai berikut.

Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan tanah sekali kemudian meniupnya.


Mengusap punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
Semua usapan dilakukan sekali.
Bagian tangan yang diusap hanya sampai pergelangan tangan saja
Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk
hadats kecil
Tidak wajibnya tertib atau berurutan ketika tayammum

Pembatal Tayammum
a. Semua pembatal wudhu juga merupakan pembatal tayammum
b. Menemukan air, jika sebab tayammumnya karena tidak ada air

c. Mampu menggunakan air, jika sebab tayammumnya karena tidak bisa menggunakan air

Catatan:
Orang yang melaksanakan shalat dengan tayammum, kemudian dia menemukan air setelah
shalat maka dia tidak diwajibkan untuk berwudhu dan mengulangi shalatnya. Hal ini berdasarkan
hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari sahabat Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu,

Ada dua orang lelaki yang bersafar. Kemudian tibalah waktu shalat, sementara tidak ada air di
sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan tanah yang suci, lalu
keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air, sementara waktu shalat masih ada. Lalu
salah satu dari keduanya berwudhu dan mengulangi shalatnya, sedangkan satunya tidak
mengulangi shalatnya.
Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan yang mereka
alami. Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam mengatakan kepada orang yang tidak
mengulangi shalatnya, Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan shalatmu
sah. Kemudian Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya, Untukmu dua
pahala. (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)

Di Antara Hikmah Disyariatkannya Tayammum


Diantara hikmah tayyamum adalah untuk menyucikan diri kita dan agar kita bersyukur dengan
syariat ini. Sehingga semakin nampak kepada kita bahwa Allah sama sekali tidak ingin
memberatkan hamba-Nya. Setelah menyebutkan syariat bersuci, Allah mengakhiri ayat tersebut
dengan firman-Nya:

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak menyucikan kamu dan
menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Qs. Al Maidah: 6).
Penyusun: Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel www.carasholat.com

Panduan Teks Cara Wudhu yang Benar Sesuai dengan Cara Wudhu Nabi
Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam

1. Niat dan Baca Basmalah


Jika seorang muslim akan berwudu, maka hendaklah ia niat dengan hatinya, kemudian membaca:

Dengan Nama Allah.


Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Tidak (sempurna) wudu seseorang yang tidak menyebut nama Allah (membaca bismillaah).
(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, dan dishahihkan Ahmad Syakir)
Namun apabila seseorang lupa membaca basmalah, maka wudhunya tetap sah, tidak batal.
2. Membasuh Telapak Tangan
Kemudian disunahkan membasuh telapak tangan tiga kali sebelum memulai wudu sambil
menyela-nyelai jari-jemari.
3. Berkumur-Kumur
Kemudian berkumur-kumur, yakni memutar-mutar air di dalam mulut, kemudian
mengeluarkannya.
4. Istinsyaq dan Istintsar
Kemudian istinsyaq, yakni menghirup air ke hidung dengan nafasnya, lalu mengeluarkannya
kembali. Hiruplah air dari tangan kanan, lalu keluarkan dengan memegang hidung dengan tangan
kiri.
Disunahkan untuk istinsyaq dengan kuat, kecuali jika sedang berpuasa, karena dikhawatirkan air
akan masuk ke perut.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Bersungguh-sungguhlah (lakukanlah dengan kuat) ketika istinsyaq, kecuali jika engkau sedang
berpuasa. (HR. Ahmad, Hakim, Baihaqi, dan disahihkan Ibnu Hajar).
5. Membasuh Wajah
Kemudian membasuh wajah. Adapun batasan wajah adalah:

Panjangnya mulai dari awal tempat tumbuh rambut kepala hingga dagu tempat tumbuh
jenggot.
Lebarnya dari telinga kanan hingga ke telinga kiri.
Rambut yang ada di wajah, dan kulit di bawahnya wajib dibasuh, jika rambut itu tipis.

Adapun jika rambut itu tebal, maka wajib dibasuh bagian permukaannya saja dan disunnahkan
untuk menyela-nyelainya (dengan jari-jemari).
Ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menyela-nyelai jenggotnya
ketika wudhu.
6. Membasuh Kedua Tangan
Kemudian membasuh kedua tangan, berikut kedua siku, berdasarkan firman Allah Subhanahu
wa Taala:

Dan (basuhlah) tanganmu sampai ke siku. (QS. Al-Maidah: 6)


Atau dimulai dari siku hingga ke ujung jari.
7. Mengusap Kepala dan Kedua Telinga
Kemudian mengusap kepala dan kedua telinga satu kali. Ini dilakukan mulai dari depan kepala,
lalu (kedua tangan) diusapkan hingga sampai ke bagian belakang kepala (tengkuk), kemudian
kembali lagi mengusapkan tangan hingga bagian depan kepala.
Kemudian mengusap kedua telinga dengan air yang tersisa di tangan bekas mengusap kepala.
8. Membasuh Kedua Kaki
Kemudian membasuh kedua kaki, sampai kedua mata kaki, berdasarkan firman Allah Subhanahu
wa Taala:

Dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki (QS. Al-Maidah: 6)
Mata kaki adalah tulang yang menonjol di bagian bawah betis.
Kedua mata kaki wajib dibasuh bersamaan dengan membasuh kaki.

Orang yang tangan atau kakinya terputus, maka ia hanya diwajibkan membasuh bagian
anggota badan yang tersisa, yang masih wajib dibasuh. Misal: putus sampai pergelangan,
maka dia wajib membasuh hastanya sampai ke siku.
Apabila tangan atau kakinya seluruhnya terputus, maka ia hanya wajib membasuh
ujungnya saja.

9. Membaca Doa
Setelah selesai wudhu, kemudian membaca (doa):

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata,
tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya
Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah pula aku termasuk
orang-orang yang membersihkan diri. (HR. Muslim, tanpa tambahan: Allahummajlnii dan
Turmudzi dengan redaksi lengkap).
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhuma berkata,
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,


:
.
Barangsiapa yang berwudhu lalu mengucapkan, Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa
syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluhu (aku bersaksi bahwa
tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad
adalah hamba dan RasulNya), dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan, dan dia
dapat masuk dari pintu manapun yang diinginkannya. Diriwayatkan oleh Muslim dalam
Shahihnya. ((2 Thaharah, 6 Dzikir yang dianjurkan setelah wudhu, 1/209/234).Kitab athThaharah, Bab adz-Dzikr al-Mustahab Aqiba al-Wudhu, 1/209, no. 234, pent.)
Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan tambahan,
.
Allahummaj alni minat tawwabiina wajalni minal mutathahhiriin (Ya Allah jadikanlah
aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang
menyucikan diri). (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ath-Thaharah, Bab Ma Yuqalu Inda alWudhu, 1/77, no. 55). Tambahan ini berderajat hasan li ghoirihi.
(http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatdoa&id=170) Lihat tahqiq hadits tersebut
beserta hadits-hadits setelah wudhu lainnya di situs tersebut.

Ada juga doa lain setelah wudhu yang shohih, yaitu:

.
Subhanakallohumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa Anta astaghfiruka wa atuubu
ilaik (Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji kepadaMu. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan
yang haq selain Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu). (HR. An-Nasai dalam
Amalul Yaumi wal Lailah, halaman 173 dan lihat Irwaul Ghalil, 1/135 dan 2/94.) [Sumber :
Kitab Hisnul Muslim] {http://abusahlaandriansyah.wordpress.com/2010/08/07/doa-sebeleumdan-sesudah-wudhu/}

10. Wudu Secara Tertib


Orang yang berwudu wajib membasuh anggota-anggota wudunya secara berurutan (tertib dan
runut, yakni jangan menunda-nunda membasuh suatu anggota wudu hingga anggota wudu yang
sudah dibasuh sebelumnya mengering.
11. Mengeringkan Dengan Handuk
Dibolehkan mengeringkan anggota-anggota wudu (dengan handuk dan yang lainnya) setelah
wudunya selesai.

Sunah-sunah Wudu
1. Disunahkan bersiwak (gosok gigi) ketika berwudu, yakni sebelum memulai wudu,
berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk
bersiwak (menyikat gigi) setiap hendak wudu. (HR. Bukhari)
2. Disunahkan bagi seorang muslim untuk membasuh kedua telapak tangan tiga kali sebelum
berwudu, sebagaimana telah diterangkan. Kecuali apabila ia baru bangun dari tidur, maka ia
diwajibkan membasuh kedua telapak tangannya tiga kali sebelum wudu, karena terkadang di
tangannya ada kotoran (najis), sedangkan ia tidak menyadarinya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi
shallallahu alaihi wa sallam:

Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia mencelupkan
tangannya ke dalam bejana, hingga ia terlebih dahulu mencuci keduanya tiga kali, karena ia tidak
tahu di mana tangannya menginap tadi malam. (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Nasai).
3. Disunahkan untuk bersungguh-sungguh dalam istinsyak, yakni melakukannya dengan kuat,
sebagaimana telah dijelaskan.
4. Ketika membasuh wajah, disunahkan untuk menyela-nyelai rambut yang ada di wajahnya
apabila rambut tersebut tebal, sebagaimana telah diterangkan.
5. Ketika membasuh tangan atau kaki, disunahkan untuk menyela-nyelai jari-jemari, berdasrkan
sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Dan selailah antara jari-jemari. (HR. Abu Daud, Nasai, dan disahihkan Al-Albani).
6. Disunahkan untuk membasuh anggota wudu yang kanan terlebih dahulu, yakni tangan atau
kaki kanan dahulu, sebelum tangan atau kaki yang kiri.
7. Disunahkan untuk membasuh anggota wudu (dua kali atau tiga kali tiga kali) dan tidak boleh
lebih dari tiga kali. Adapun kepala, tidak boleh diusap kecuali satu kali saja.
8. Disunahkan untuk tidak berlebihan dalam menggunakan air wudu, karena Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam berwudu tiga kali, tiga kali lalu bersabda:

Barangsiapa menambah (lebih dari tiga kali), maka ia telah berbuat buruk dan zalim. (HR.
Nasai, Ahmad, dan disahihkan Syuaib Al-Arnauth)

Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu


Wudu seorang muslim batal disebabkan perkara berikut ini:
1. Ada yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) berupa buang air besar atau buang air kecil.
2. Kentut.
3. Hilang kesadaran, baik disebabkan gila, pingsan, mabuk, atau tidur nyenyak di mana
seseorang tidak akan sadar apabila ada sesuatu yang keluar dari dua kemaluannya. Adapun tidur
yang ringan yang tidak menghilangkan seluruh kesadaran manusia, maka hal ini tidak
membatalkan wudhu.
4. Meraba kemaluan dengan tangan disertai syahwat, baik kemaluannya sendiri atau kemaluan
orang lain1. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudu. (HR. Ahmad, Abu Daud,
dan disahihkan Al-Albani).
5. Memakan daging unta, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, Apakah aku harus
berwudhu karena makan daging unta? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
menjawab,
Benar. (HR. Ahmad, Tabrani dalam Mujam al-Kabir, & dishihkan Syuaib Al-Arnauth).
Makan babat, hati, lemak, ginjal, atau perut besarnya, juga membatalkan wudu, karena serupa
dengan memakan dagingnya. Adapun meminum susu unta tidak membatalkan wudu, karena
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menyuruh sekelompok orang untuk meminum
susu unta sedekah (unta zakat), dan nabi tidak memerintahkan mereka untuk berwudu setelah itu.
Sebagai bentuk kehati-hatian, maka seyogyanya seseorang berwudhu kembali setelah minum
kuah daging unta.
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum Wr Wb
Pak Ustaz, saya ingin tahu penjelasan tentang perbedaan mani, wadhi, dan madzi. Untuk wadhi dan
madhi itu tergolong hadats apa? Bagaimana cara menyucikannya? Terima kasih.
Umi, 24 tahun
Jawaban:
Assalamu'alaikum Wr Wb
Mani adalah cairan berwarna putih yang keluar memancar dari kemaluan, biasanya keluarnya cairan ini
diiringi dengan rasa nikmat dan dibarengi dengan syahwat. Mani dapat keluar dalam keadaan sadar
(seperti karena berhubungan suami-istri) ataupun dalam keadaan tidur (biasa dikenal dengan sebutan
mimpi basah).
Keluarnya mani menyebabkan seseorang harus mandi besar / mandi junub. Hukum air mani adalah suci
dan tidak najis ( berdasarkan pendapat yang terkuat). Apabila pakaian seseorang terkena air mani, maka
disunnahkan untuk mencuci pakaian tersebut jika air maninya masih dalam keadaan basah. Adapun,
apabila air mani telah mengering, maka cukup dengan mengeriknya saja.
Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah, Beliau berkata, Saya pernah mengerik mani yang sudah kering
yang menempel pada pakaian Rasulullah dengan kuku saya.(HR. Muslim)
Anas bin Malik berkata, Bahwa Ummu Sulaim pernah bercerita bahwa dia bertanya kepada Nabi
Shallallahu'alaihiwasallam tentang wanita yang bermimpi (bersenggama) sebagaimana yang terjadi
pada seorang lelaki. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Apabila perempuan
tersebut bermimpi keluar mani, maka dia wajib mandi.""

Ummu Sulaim berkata, "Maka aku menjadi malu karenanya".


Ummu Sulaim kembali bertanya, "Apakah keluarnya mani memungkinkan pada perempuan?" Nabi
Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Ya (wanita juga keluar mani, kalau dia tidak keluar) maka dari
mana terjadi kemiripan (anak dengan ibunya)? Ketahuilah bahwa mani lelaki itu kental dan berwarna
putih, sedangkan mani perempuan itu encer dan berwarna kuning. Manapun mani dari salah seorang
mereka yang lebih mendominasi atau menang, niscaya kemiripan terjadi karenanya." (HR. Muslim no.
469)
Wadi adalah cairan putih kental yang keluar dari kemaluan seseorang setelah kencing atau mungkin
setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan. Keluarnya air wadi dapat membatalkan wudhu. Wadi
termasuk hal yang najis. Cara membersihkan wadi adalah dengan mencuci kemaluan, kemudian
berwudhu jika hendak sholat. Apabila wadi terkena badan, maka cara membersihkannya adalah dengan
dicuci.
Madzi adalah air yang keluar dari kemaluan, air ini bening dan lengket. Keluarnya air ini disebabkan
syahwat yang muncul ketika seseorang memikirkan atau membayangkan jima (hubungan seksual) atau
ketika pasangan suami istri bercumbu rayu (biasa diistilahkan dengan foreplay/pemanasan). Air madzi
keluar dengan tidak memancar. Keluarnya air ini tidak menyebabkan seseorang menjadi lemas (tidak
seperti keluarnya air mani, yang pada umumnya menyebabkan tubuh lemas) dan terkadang air ini keluar
tanpa disadari (tidak terasa).
Air madzi dapat terjadi pada laki-laki dan wanita, meskipun pada umumnya lebih banyak terjadi pada
wanita. Sebagaimana air wadi, hukum air madzi adalah najis. Apabila air madzi terkena pada tubuh,
maka wajib mencuci tubuh yang terkena air madzi, adapun apabila air ini terkena pakaian, maka cukup
dengan memercikkan air ke bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut, sebagaimana sabda
Rasulullah terhadap seseorang yang pakaiannya terkena madzi,
Cukup bagimu dengan mengambil segenggam air, kemudian engkau percikkan bagian pakaian yang
terkena air madzi tersebut. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)
Keluarnya air madzi membatalkan wudhu. Apabila air madzi keluar dari kemaluan seseorang, maka ia
wajib mencuci kemaluannya dan berwudhu apabila hendak sholat. Hal ini sebagaimana sabda
Rasulullah, Cucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah. (HR. Bukhari Muslim)

Hal-hal yang Diharamkan Terhadap Orang yang Berhadas


Apabila seorang muslim berhadas, yakni tidak dalam keadaan mempunyai wudu, maka
diharamkan kepadanya beberapa hal:
1. Memegang mush-haf, bersarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada penduduk
Yaman:

Tidak boleh menyentuh Alquran, kecuali orang-orang yang telah bersuci. (HR. Malik dalam
Al-Muwatha, Tabrani, Ad-Darimi, dan Hakim).

Adapun membaca Alquran tanpa menyentuh mushaf adalah diperbolehkan.


2. Salat. Seorang yang berhadas tidak boleh melakukan salat, kecuali berwudu terlebih dahulu,
berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Salat tidak akan diterima tanpa bersuci (terlebih dahulu). (HR. Muslim & TIrmudzi).
3. Seseorang yang berhadas dibolehkan sujud tilawah dan sujud syukur, karena keduanya bukan
salat. Namun yang lebih utama adalah berwudu terlebih dahulu sebelum melakukan keduanya.
4. Tawaf. Seorang yang berhadas tidak boleh melakukan tawaf sebelum ia bersuci lebih dahulu,
berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Tawaf di Baitullah adalah termasuk salat. (HR. Nasai, Darimi, dan disahihkan Al-Albani)
Juga karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwudu dahulu sebelum melakukan
thawaf.

Peringatan Penting!
Sebelum wudu, seorang muslim tidak disyaratkan untuk membasuh kemaluannya terlebih
dahulu, karena membasuh kemaluan itu (baik kemaluan maupun dubur) hanya diperintahkan
setelah buang air besar atau buang air kecil. Adapun ketika hendak wudhu, maka tidak termasuk
ke dalam perintah itu.
Wallahu alam.
Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi
wa sallam keluarganya dan para sahabatnya semuanya.

Referensi:
Sifat Wudu Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Syekh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin,
Pustaka Ibnu Umar
***
Catatan Kaki:
1 Adapun menyentuh kemaluan tanpa syahwat, tidak membatalkan wudu. Sebagaimana
disebutkan dalam hadis dari Thalq bin Ali radliallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu

alaihi wa sallam ditanya tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya setelah wudu? Beliau
bersabda,

Bukankah kemaluan itu juga bagian dari anggota badanmu. (HR. Turmudzi dan sandanya
disahihkan Al-Albani).
Kalimat pengingkaran dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menunjukkan bahwa menyentuh
kemaluan bukan pembatal wudu, sebagaimana orang menyentuh tangan dan anggota badan
lainnya. Jika menyentuh kemaluan ini tidak disertai syahwat maka tidak membatalkan wudhu.
Allahu alam.

Lihat juga: Cara Wudhu yang Benar Menggunakan Gayung


***
Video www.CaraSholat.com