Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Makalah
Laboratorium merupakan salah satu tempat belajar praktik langsung untuk melakukan
suatu percobaan/eksperimen, penelitian/riset Dan Ilmu kimia tidak lepas kaitannya
dengan Laboratorium. Tanpa adanya laboratorium para ahli kimia/ sainstist tidak dapat
mengembangkan, melakukan dan menerapkan ilmu yang telah dan akan diperolehnya
.Walaupun pada kenyataannya penggunaan Laboratorium tidaklah hanya digunakan oleh
orang kimia saja, tetapi juga dapat digunakan dalam dunia kesehatan, ilmu biologi, fisika
bahkan ilmu komputer sekalipun membutuhkan wadah yang disebut Laboratorium.
Untuk mendapatkan penanganan laboratorium yang baik diperlukan suatu manajemen/
pengelolaan laboratorium yang baik, baik dalam penanganan alat, bahan dan tata letak
laboratorium yang benar disamping kesadaran dalam menggunakan laboratorium yang
baik dan benar. Pada dasarnya pengelolaan merupakan tanggunga jawab bersama baik
pengelolaan maupaun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus
memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan
mengusahakan keselamatan kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan
upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya, sedangkan upaya
menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan
terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penanganannya bila terjadi
kecelakaan. Para pengelola laboratorium hendaknya memiliki pemahaman dan
keterampilan kerja di laboratorium, bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dan
mengikuti peraturan. Untuk itu penulis akan membahas mengenai Managemen Umum
Laboratorium yang baik dan sesuai standar penggunaan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apakah yang di maksud dengan Manajemen Laboratorium ?
2. Bagaimana manajemen laboratorium Kimia yang baik untuk skala Universitas dan
Industri ?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi manajemen laboratorium dikatakan
baik dan sesuai standar penggunaan ?
1.3 Batasan Masalah
Adapun yang menjadi batasan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Mengetahui manajemen operasional laboratorium
2. Mengetahui ketentuan-ketentuan manajemen operasional laboratorium skala
Universitas dan Industri
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan mendukung manajemen
laboratorium yang baik dan sesuai standar penggunaan
1.4 Tujuan Makalah
Bagi penulis menjadi sumber informasi dan menambah wawasan tentang manajemen
laboratorium yang baik sebagai bekal untuk menghadapi PKL bahkan dunia kerja
nantinya di Industri. Bagi pembaca sebagai bahan literatur dan wawasan tentang
manajemen laboratorium yang baik dan sesuai standar.
1

BAB II

ISI
2.1 Manajemen laboratorium (laboratory management)
Manajemen laboratorium adalah usaha untuk mengelola laboratorium. Suatu
laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang saling
berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa alat-alat laboratorium yang canggih, dengan
staf profesional yang terampil belum tentu dapat berfungsi dengan baik, jika tidak didukung
oleh adanya manajemen laboratorium yang baik. Oleh karena itu manajemen laboratorium
adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-hari.
Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif bilamana dalam struktur
organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management yang berfungsi sebagai
pengarah dan penasehat. Board of Management terdiri atas para senior/profesor yang
mempunyai kompetensi dengan kegiatan laboratorium yang bersangkutan.
Manajemen Operasional Laboratorium
Untuk mengelola laboratorium yang baik harus dipahami perangkat-perangkat manajemen
laboratorium, yaitu:
1. Tata ruang
8. Pengamanan laboratorium
2. Alat yang baik dan terkalibrasi
9. Disiplin yang tinggi
3. Infrastruktur
10. Keterampilan SDM
4. Administrasi laboratorium
11. Peraturan dasar
5. Organisasi laboratorium
12. Penanganan masalah umum
6. Fasilitas pendanaan
13. Jenis-jenis pekerjaan.
7. Inventarisasi dan keamanan
Semua perangkat-perangkat tersebut di atas, jika dikelola secara optimal akan mendukung
terwujudnya penerapan manajemen laboratoriumyang baik. Dengan demikian manajemen
laboratorium dapat dipahami sebagai suatu tindakan pengelolaan yang kompleks dan terarah,
sejak dari perencanaan tata ruang sampai dengan perencanaan semua perangkat penunjang
lainnya. Dengan demikian sebagai pusat aktivitasnya adalah tata ruang.
2.2 Rincian Kegiatan Perangkat Manajemen Operasiaonal Laboratorium
1. Tata Ruang Laboratorium
Menurut Wirjosoemarto : Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai
fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam aktivitasnya. Fasilitas
tersebut ada yang berupa fasilitas umum dan khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas
yang dapat digunakan oleh semua pemakai laboratorium seperti penerangan, ventilasi,
air, bak cuci (sinks), aliran listrik dan gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan meja
belajar, seperti meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat,
lemari bahan, ruang timbang, lemari asam, pelengkapan P3K, pemadam kebakaran dan
lain-lain
2

Pemakaian laboratorium hendaknya memahami tata letak atau layout bangunan


laboratorium. Pembangunan suatu laboratorium tidak dipercayakan begitu saja kepada
seorang arsitektur bangunan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum
membangun laboratorium. Faktor faktor tersebut diantaranya adalah lokasi bangunan
laboratorium dan ukuran ruang. Persyaratan lokasi bangunan laboratorium tidak terletak
pada arah angin yang menuju bangunan lain atau permukiman. Hal ini dilakukan dengan
tujuan agar untuk menghindari penyebaran gas-gas berbahaya. Bangunan laboratorium
juga harus dekat dengan sumber air, dan tidak terlalu dekat dengan bangunan yang lain.
Lokasi laboratorium harus mudah dijangkau untuk pengontrolan dan memudahkan
penindak lanjutan misalnya terjadi kebakaran.
Laboratorium harus ditata sedemikian rupa hingga dapat berfungsi dengan baik. Tata
ruang yang sempurna, harus dimulai sejak perencanaan gedung sampai pada pelaksanaan
pembangunan. Tata ruang yang baik mempunyai susunan:
a. pintu masuk (in)
l. ruang prasarana kebersihan
b. pintu keluar (out)
m. ruang toilet
c. pintu darurat (emergency-exit)
n. lemari praktikan (locker)
d. ruang persiapan (preparation-room)
o. lemari gelas (glass-rack)
e. ruang peralatan (equipment-room)
p. lemari alat-alat optik(opticals-rack)
f. ruang penangas (fume-hood)
q. pintu jendela diberi kawat kasa,
g. ruang penyimpanan(storage- room)
agar serangga dan burung tidak
h. ruang staf (staff-room)
dapat masuk.
i. ruang teknisi (technician-room)
r. fan (untuk dehumidifier)
j. ruang bekerja (activity-room)
s. ruang ber-AC untuk alat-alat yang
k. ruang istirahat/ibadah
memerlukan persyaratan tertentu.

Gambar desain Tata Ruang Laboratorium


3

Gambar Tata ruang dalam ruang percobaaan Laboratorium


2. Alat yang Berfungsi dan Terkalibrasi
Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban bagi setiap petugas
laboratorium, terutama mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat
yang akan dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi:
a.
b.
c.
d.

siap untuk dipakai (ready for use)


bersih
berfungsi dengan baik
terkalibrasi

Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk pengoperasian (manual
operation). Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan, dimana buku manual
merupakan acuan untuk perbaikan seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus
senantiasa berada di tempat, karena setiap kali peralatan dioperasikan ada kemungkinan
alat tidak berfungsi dengan baik. Beberapa peralatan yang dimiliki harus disusun secara
teratur pada tempat tertentu, berupa rak atau meja yang disediakan. Peralatan digunakan
untuk melakukan suatu kegiatan pendidikan, penelitian, pelayanan masyarakat atau studi
tertentu. Karenanya alat-alat ini harus selalu siap pakai, agar sewaktu-waktu dapat
digunakan. Peralatan laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah selesai digunakan, harus segera dibersihkan kembali dan disusun seperti
semula. Semua alat-alat ini sebaiknya diberi penutup (cover) misalnya plastik transparan,
terutama bagi alat-alat yang memang memerlukannya. Alat-alat yang tidak ada
penutupnya akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang
bersangkutan.
Alat-alat gelas (Glassware) :Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi
peralatan gelas yang sering dipakai. Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi,
4

sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai. Semua alat-alat gelas ini seharusnya disimpan
pada lemari khusus.
Bahan-bahan kimia :
Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada
ruang/kamar fume(untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian juga
untuk bahan-bahan yang mudah menguap. Ruangan perlu dilengkapi fan, agar udara/uap
yang ada dapat terhembus keluar. Bahan-bahan kimia yang ditempatkan dalam botol
berwarna coklat/gelap, tidak boleh langsung terkena sinar matahari dan sebaiknya
ditempatkan pada lemari khusus.
Alat-alat optik :
Alat-alat optik seperti mikroskop harus disimpan pada tempat yang kering dan tidak
lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa berjamur. Jamur ini yang
menyebabkan kerusakan mikroskop. Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop harus
ditempatkan dalam kotak yang dilengkapi dengan silica-gel, dan dalam kondisi yang
bersih. Mikroskop harus disimpan di dalam lemari khusus yang kelembabannya
terkendali. Lemari tersebut biasanya diberi lampu pijar 15-20 watt, agar ruang selalu
panas sehingga dapat mengurangi kelembaban udara (dehumidifier-air). Alat-alat optik
lainnya seperti lensa pembesar (loupe), alat kamera, microphoto-camera, digital camera,
juga dapat ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab atau dalam alat desiccator.
Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengambilan kembali alat yang ada di
laboratorium, maka sebaikknya dibuat daftar isnventaris yang lengkap dengan kode dan
jumlah masing-masing. Alat yang sudah rusak atau pecah ditempatkan pada satu lemari
tertentu, dan dituliskan dalam buku kasus dan buku inventaris laboratorium. Ada beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam menyimpan alat laboratorium yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Bahan dasar pembuatan alat


Bobot alat
Kepekaan alat terhadap lingkungan
Pengaruh alat lain
Kelengkapan alat dalam satu set

Tata letak dan pengaturan perabot laboratorium harus memperhatikan beberapa prinsip
berikut :

Prinsip keamanan
Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah
dibawa dan mahal harganya seperti stop watch perlu disimpan pada lemari terkunci.
Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan sehingga
fungsinya berkurang.
Prinsip Kemudahan
Untuk memudahkan mencari letak masing masing alat dan bahan, perlu diberi tanda
yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau
laci).
5

Prinsip Keleluasaan
Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak
dan laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia.
Prinsip Keindahan (Estetika)
Dalam menata dan penyimpanan alat laboratorium didasarkan pada :
Keadaan laboratorium yang ditentukan oleh fasilitas, susunan laboratorium, dan
keadaan alat/ bahan
Kepentingan pemakai ditentukan berdasarkan kemudahan mencari dan dicapai,
keamanan dalam menyimpan dan pengambilan.

Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak dan
laci . Pengelompokan alat alat kimia berdasarkan bahan pembuat alat tersebut seperti :
logam, kaca, porselen, plastik dan karet
Penyimpanan alat dan bahan selain berdasar hal hal di atas, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu :
1. Mikroskop disimpan dalam lemari terpisah dengan zat higroskopis dan dipasang
lampu yang selalu menyala untuk menjaga agar udara tetap kering dan mencegah
tumbuhnya jamur.
2. Alat berbentuk set, penyimpanannya harus dalam bentuk set yang tidak terpasang.
3. Ada alat yang harus disimpan berdiri, misalnya higrometer, neraca lengan dan beaker
glass.
4. Alat yang memiliki bobot relatif berat, disimpan pada tempat yang tingginya tidak
melebihi tinggi bahu.
5. Penyimpanan zat kimia harus diberi label dengan jelas dan disusun menurut abjad.
6. Zat kimia beracun harus disimpan dalam lemari terpisah dan terkunci, zat kimia yang
mudah menguap harus disimpan di ruangan terpisah dengan ventilasi yang baik.
Penyimpanan alat perlu memperhatikan frekuensi pemakaian alat. Apabila alat itu
sering dipakai maka alat tersebut disimpan pada tempat yang mudah diambil. Alat alat
yang boleh diambil oleh siswa dengan sepengetahuan guru pembimbing, hendaknya
diletakkan pada meja demonstrasi atau di lemari di bawah meja keramik yang menempel
di dinding. Contoh alat yang dapat diletakkan di meja demonstrasi adalah : kaki tiga,
asbes dengan kasa dan tabung reaksi.
Penyimpanan dan pemeliharaan alat / bahan harus memperhitungkan sumber
kerusakan alat dan bahan. Sumber kerusakan alat dan bahan akibat lingkungan meliputi
hal hal berikut :

Udara
Udara mengandung oksigen dan uap air (memilki kelembaban). Kandungan ini
memungkinkan alat dari besi menjadi berkarat dan membuat kusam logam lainnya
seperti tembaga dan kuningan. Usaha untuk menghindarkan barang tersebut terkena
udara bebas seprti dengan cara mengecat, memoles, memvernis serta melapisi dengan
6

khrom atau nikel. Kontak dengan udara bebas dapat menyebabkan bahan kimia
bereaksi.
Akibat reaksi bahan kimia dengan udara bebas seperti timbulnya zat baru, terjadinya
endapan, gas dan panas. Dampaknya bahan kimia tersebut tidak berfungsi lagi serta
dapat menimbulkan kecelakaan dan keracunan.
Air dan Asam Basa
Alat laboratorium sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan bersih, jauh dari air,
asam dan basa. Senyawa air, asam dan basa dapat menyebabkan kerusakan alat seperti
berkarat, korosif dan berubah fungsinya. Bahan kimia yang bereaksi dengan zat kimia
lainnya menyebabkan bahan tersebut tidak berfungsi lagi dan menimbulkan zat baru,
gas, endapan, panas serta kemungkinan terjadinya ledakan.
Suhu
Suhu yang tinggi atau rendah dapat mengakibatkan :alat memuai atau mengkerut,
memacu terjadinya oksidasi, merusak cat serta mengganggu fungsi alat elektronika.
Mekanis
Sebaiknya hindarkan alat dan bahan dari benturan, tarikan dan tekanan yang besar.
gangguan mekanis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan alat / bahan.
Cahaya
Secara umum alat dan bahan kimia sebaiknya dihindarkan dari sengatan matahari secara
langsung. Penyimpanan bagi alat dan bahan yang dapat rusak jika terkena cahaya
matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam lemari tertutup. Bahan kimianya
sebaiknya disimpan dalam botol yang berwarna gelap.
Api
Komponen yang menjadi penyebab kebakaran ada tiga, disebut sebagai segitiga api.
Komponen tersebut yaitu adanya bahan bakar, adanya panas yang cukup tinggi, dan
adanya oksigen. Oleh karenanya penyimpanan alat dan bahan laboratorium harus
memperhatikan komponen yang dapat menimbulkan kebakaran tersebut.
Langkah Langkah Penyimpanan
1. Bersihkan Ruang dan Penyimpanan Alat dan Bahan
2. Periksa data ulang alat dan bahan yang ada
3. Kelompokkan alat dan bahan yang ada berdasarkan pada keadaan alat dan bahan di
atas
4. Penyimpanan dan penataan alat dan bahan disesuaikan dengan fasilitas Laboratorium,
keadaan alat dan bahan diatas.
Perlakukan terhadap alat-alat di laboratorium yang akan digunakan hendaknya :
a.
b.
c.
d.

Membawa alat sesuai dengan petunjuk penggunaan


Menggunakan alat sesuai dengan petunjuk penggunaan
Menjaga kebersihan alat
Menyimpan alat

Contoh Gambar Penyimpanan Bahan dan Alat serta Alat Penunjang Fasilitas Lab

Lemari Penyimpanan Alat Kimia

Rak Bahan Kimia

3. Infrastruktur Laboratorium
Infrastruktur dalam laboratorium meliputi sarana dan prasara yang mendukung terhadap
kelengkapan dan kenyaman penggunaan laboratorium. Infrastruktur laboratorium ini
meliputi:
a. Sarana Utama
Mencakup bahasan tentang lokasi laboratorium, konstruksi laboratorium dan sarana
lain, termasuk pintu utama, pintu darurat, jenis meja kerja/pelataran, jenis atap, jenis
dinding, jenis lantai, jenis pintu, jenis lampu yang dipakai, kamar penangas, jenis
pembuangan limbah, jenis ventilasi, jenis AC, jenis tempat penyimpanan, jenis lemari
bahan kimia, jenis alat optik, jenis timbangan dan instrumen yang lain, kondisi
laboratorium, dan sebagainya.
b. Sarana Pendukung
Mencakup bahasan tentang ketersediaan enerji listrik, gas, air, alat komunikasi, dan
pendukung keselamatan kerja seperti pemadam kebakaran, hidran dsb.
4. Administrasi Laboratorium
Pengadministrasian merupakan suatu proses pendokumenan seluruh sarana dan
prasarana serta aktivitas laboratorium. Dalam kaitannya dengan pengadaan alat dan bahan.
Pengadministrasian sarana dan prasarana laboratorium bertujuan untuk mencegah kehilangan/
penyalahgunaan, memudahkan oprasional dan pemeliharaan, mencegah duplikasi/ overlapping permintaan alat dan memudahkan pengecekan.Intinya Administrasi laboratorium
meliputi segala kegiatan administrasi yang ada di laboratorium, yang antara lain terdiri atas:
a. Inventarisasi peralatan laboratorium
b. Daftar kebutuhan alat baru, alat tambahan, alat yang rusak, alat yang
dipinjam/dikembalikan (lihat daftar form 1,2,3,4 dst, pada makalah Administrasi
Laboratorium)
c. Surat masuk dan surat keluar
d. Daftar pemakai laboratorium, sesuai dengan jadwal kegiatan praktikum/ penelitian
8

e. Daftar inventarisasi bahan kimia dan non-kimia, bahan gelas dan sebagainya
f. Daftar inventarisasi alat-alat meubelair (kursi, meja, bangku, lemari dsb.)
g. Sistem evaluasi dan pelaporan: Untuk kelancaran administrasi yang baik,
seyogyanya tiap laboratorium memberikan pelaporan kepada atasannya (misalnya
kepada PDII, Ketua Program Studi maupun Dekan). Evaluasi dan Pelaporan
kegiatan masing-masing laboratorium dapat dilakukan bersama dengan pimpinan
Fakultas, setiap semester atau sekali dalam setahun, tergantung pada kesiapan yang
ada agar semua kegiatan laboratorium dapat dipantau dan sekaligus dapat digunakan
untuk perencanaan laboratorium (misalnya penambahan alat-alat baru, rencana
pembiayaan/dana laboratorium yang diperlukan, perbaikan sarana & prasarana yang
ada, dsb).
Contoh Surat Inventaris Alat dan Peminjamannya :

Contoh Gambar Surat Serah Terima Alat/Bahan di Lab Kimia Skala Industri :

Gambar Surat Daftar Pemeliharaan/Perawatan Alat Lab :

Contoh Gambar Inventaris bahan dan Alat di Laboratorium

Kegiatan administrasi ini adalah merupakan kegiatan rutin yang berkesinambungan,


karenanya perlu dipersiapkan dan dilaksanakan secara berkala dengan baik dan teratur.
5. Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium
Kegiatan inventarisasi dan keamanan laboratorium meliputi:
a. Semua kegiatan inventarisasi harus memuat sumber dana dari mana alat-alat ini
10

diperoleh/dibeli. Misalnya: dari DIP tahun 2004,ADB Project, Pemerintah Jepang


(JICA), Proyek Hibah Kompetisi SP4; A1: A2; A3: dan B. (Contoh Gambar
Inventaris dihalaman sebelumnyan dan di Lampiran 1)
b. Keamanan/security peralatan laboratorium ditujukan agar peralatan laboratorium
tersebut harus tetap berada di laboratorium. Jika peralatan dipinjam harus ada jaminan
dari si peminjam. Jika hilang atau dicuri, harus dilaporkan kepada kepala
laboratorium. Perlu diingat bahwa semua barang dan peralatan laboratorium yang ada
adalah milik negara, jadi tidak boleh ada yang hilang.
Tujuan yang ingin dicapai dari inventarisasi dan keamanan adalah:
(1) mencegah kehilangan dan penyalahgunaan
(2) mengurangi biaya-biaya operasional
(3) meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
(4) meningkatkan kualitas kerja
(5) mengurangi resiko kehilangan
(6) mencegah pemakaian yang berlebihan
(7) meningkatkan kerjasama.
Berikut ini diberikan beberapa petunjuk umum pengamanan laboratorium, agar setiap
laboran/pekerja/asisten dapat bekerja dengan aman.
Prinsip Umum Pengamanan Laboratorium
Tanggung jawab
Kepala Laboratorium, anggota laboratorium termasuk asisten bertanggung jawab
penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul. Karenanya Kepala
Laboratorium seharusnya dijabat oleh orang yang kompeten dibidangnya, termasuk
juga teknisi dan laborannya.
Kerapian
Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus bebas dari hambatan seperti
botolbotol, dan kotak-kotak. Lantai harus bersih dan bebas minyak, air dan material
lain yang mungkin menyebabkan lantai licin. Semua alat-alat dan reagensiabahan
kimia yang telah digunakan harus dikembalikan ketempat semula seperti sebelum
digunakan.
Kebersihan
Kebersihan dalam laboratorium menjadi tanggung jawab bersama pengguna
laboratorium.
Konsentrasi terhadap pekerjaan
Setiap pengguna laboratoriumharus memiliki konsentrasi penuh terhadap pekerjaannya masing-masing, tidak boleh mengganggu pekerjaan orang lain, dan tidak
boleh meninggalkan percobaan yang memerlukan perhatian penuh.
Pertolongan pertama (First - Aid)
Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya, harus ditangani di tempat dengan memberikan pertolongan pertama. Misalnya, bila mata terpercik harus segera dialiri air
dalam jumlah yang banyak. Jika tidak bisa, segera panggil dokter. Jadi setiap
laboratorium harus memiliki kotak P3K, dan harus selalu dikontrol isinya.

11

Pakaian
Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing terbuka,
berlengan panjang, kalung teruntai, anting besar dan lain-lain yang mungkin dapat
tersangkut oleh mesin, ketika bekerja dengan mesin-mesin yang bergerak. Selain
pakaian, rambut harus diikat rapi agar terhindar dari mesin-mesin yang bergerak.
Berlari di Laboratorium
Tidak dibenarkan berlari di laboratorium atau di koridor, berjalanlah di tengah koridor
untuk menghindari tabrakan dengan orang lain dari pintu yang hendak masuk/keluar.
Pintu-pintu
Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk mencegah terjadinya
kecelakaan (misalnya: kebakaran).
Alat-alat
Alat-alat seharusnya ditempatkan di tengah meja, agar alat-alat tersebut tidak jatuh
kelantai. Selain itu, peralatan sebaiknya juga ditempatkan dekat dengan sumber listrik,
jika memang peralatan tersebut memerlukan listrik. Demikian juga untuk alat-alat
yang menggunakan air ataupun gas sebagai sarana pendukung.
Penanganan alat-alat
a. Alat-alat kaca/gelas
Bekerja dengan alat-alat kaca perlu berhati-hati sekali. Gelas beaker, flask, test tube,
erlenmeyer, dan sebagainya; sebelum dipanaskan harus benar-benar diteliti, misalnya
apakah gelas tersebut retak/tidak retak, rusak/sumbing. Bila terdapat gejala seperti ini,
barang-barang tersebut sebaiknya tidak dipakai.
b. Mematahkan pipa kaca/batangan kaca
Jika hendak memetong pipa kaca harus menggunakan sarung tangan. Pada bekas
pecahan pipa kaca, permukaannya dilicinkan dengan api lalu diberi pelumas/gemuk
silikon, kemudian masukkan ke sumbat gabus/karet.
c. Mencabut pipa kaca
Mencabut pipa kaca dari gabus dan sumbat harus dilakukan dengan hati-hati. Bila
sukar mencabutnya, potong dan belah gabus itu. Untuk memperlonggar, lebih baik
digunakan pelubang gabus yang ukurannya telah cocok, kemudian licinkan dengan
meminyakinya dan kemudian putar perlahan-lahan melalui sumbat. Cara ini juga
digunakan untuk memasukkan pipa kaca kedalam sumbat. Jangan gunakan alat-alat
kaca yang sumbing atau retak. Sebelum dibuang sebaiknya dicuci lebih dahulu untuk
memastikan kerusakan.
d. Label
Semua bejana seperti botol, flask, test tubedan lain-lain seharusnya diberi label yang
jelas. Jika tidak jelas, lakukan pengetesan isi bejana yang belum diketahui secara pasti
dengan hati-hati secara terpisah, kemudian dibuang melalui cara yang sesuai dengan
jenis zat kimia tersebut. Biasakanlah menulis tanggal, nama orang yang membuat,
konsentrasi, nama dan bahayanya dari zat-zat kimia yang ada dalam bejana.
e. Suplai gas
Tabung-tabung gas harus ditangani dengan hati-hati walaupun berisi atau kosong.
Penyimpanan sebaiknya di tempat yang sejuk dan terhindar dari tempat yang panas.
Kran gas harus selalu tertutup jika tidak dipakai, demikian juga dengan kran pengatur
12

(regulator). Alat-alat yang berhubungan dengan tabung gas harus memakai "Safety
Use" (alat pengaman jika terjadi tekanan yang kuat). Saat ini sudah beredar banyak
jenis pengaman seperti selang anti bocor dan lain-lain. Sediaan gas untuk alat-alat
pembakar harus dimatikan pada kran utama yang ada di meja kerja, tidak hanya pada
kran, tapi juga pada alat yang dipakai. Kran untuk masing-masing laboratorium harus
dipasang di luar laboratorium, pada tempat yang mudah dicapai dan diberi label yang
jelas serta diwarnai dengan wama yang spesifik.
f. Penggunaan pipet
Gunakan pipet yang dilengkapi pompa pengisap (pipet pump), jangan menggunakan
mulut!. Ketika memasukkan pipet kedalam pompa pengisap harus dilakukan dengan
hatihati supaya pipet tidak pecah dan pompa pengisap tidak rusak. Jangan sampai ada
cairan yang masuk ke pompa pengisap, karena akan merusak pompa tersebut.
g. Melepaskan tutup kaca yang kencang (seret),
Melepaskan tutup kaca yang kencang (seret) dengan cara mengetok berganti-ganti sisi
tutup botol yang ketat tersebut, dengan sepotong kayu, sambil menekannya dengan
ibu jari pada sisi yang berlainan/berlawanan dengan ketokan. Jangan mencoba untuk
membuka tutup botol secara paksa, lebih-lebih jika isinya berbahaya atau mudah
meledak. Di bawah pengawasan Kepala Laboratorium, panaskanlah leher botol
dengan air panas secara perlahan-lahan, lalu coba membukanya. Jika gagal juga
goreslah sekeliling leher botol dengan alat pemotong kaca untuk dipatahkan. Lalu
pindahkan isi botol ke dalam botol yang baru.
h. Kebakaran
Untuk menanggulangi bahaya kebakaran, perlu diketahui klasifikasi bahan dan alat
pemadam kebakaran yang sesuai.
Secara umum bahan yang mudah terbakar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Alat-alat listrik
Bahan-bahan yang lain, jika terbakar sulit untuk diklasifikasikan, karena berubah dari
padat menjadi cair atau dari cair menjadi gas, pada temperatur yang tinggi. Perlu
diingat bahwa jiwa Anda lebih berharga dari pada peralatan/bangunan yang ada,
sebab itu peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dengan tipe atau kelas kebakaran
haruslah tersedia di laboratorium.

13

Jenis Alat Pemadam Kebakaran:

6. Organisasi Laboratorium
Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi, deskripsi pekerjaan, serta
susunan personalia yang mengelola laboratorium tersebut. Penanggung jawab tertinggi
organisasi di dalam laboratorium adalah Kepala Laboratorium. Kepala Laboratorium
bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab
terhadap seluruh peralatan yang ada. Para anggota laboratorium yang berada di bawah Kepala
Laboratorium juga harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan yang
dibebankan padanya. Untuk mengantisipasi dan menangani kerusakan peralatan diperlukan
teknisi yang memadai.
Menurut Prof. Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE., MP Susunan Organisasi Laboratorium dalam
Perguruan Tinggi dan Job diskripsinya sebagai berikut :

Tugas/ Job diskripsi Kepala Laboratorium :

Merencanakan dan mengadakan alat dan bahan untuk kegiatan praktikum sesuai
usulan dari penanggungjawab laboratorium, laboran dan teknisi.
Merencanakan dan mengadakan alat dan bahan untuk kegiatan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat sesuai usulan dari Penanggungjawab laboratorium,
laboran dan teknisi.
Mengatur dan melaporkan administrasi keuangan penggunaan dana DIK, DIKS,
Sardik/BOP, dan sumber dana lain dari masyarakat dan pengguna laboratorium untuk
kelancaran kegiatan praktikum, penelitian, pemeliharaan dan pengembangan laboratorium.
Menginventarisasi alat dan bahan di laboratorium.
Melaksanakan perbaikan dan pemeliharaan fasilitas dan alat di laboratorium.
14

Mengembangkan tim layanan masyarakat untuk kemajuan laboratorium dan


kesejahteraan staf laboratorium.
Mewakili Ketua jurusan jika berhalangan dalam tugas yang menyangkut
pengembangan fasilitas dan keuangan.
Memfasilitasi pengembangan KBK dan mengembangkan kerjasama dengan pihak luar
untuk pemenfaatan dan peningkatan fasilitas laboratorium.

Tugas/ Job diskripsi Penaggung jawab Laboratorium :

Membantu kalab dalam hal merencanakan program kerja laboratorium


Merencanakan dan mengelola kebutuhan dan penggunaan bahan dan alat untuk
kegiatan praktikum dan penelitian
Merencanakan dan mengelola kegiatan praktikum dan penelitian mahasiswa,
termasuk merekrut asisten laboratorium
Mendata kebutuhan bahan dan alat untuk kegiatan praktikum dan penelitian
Mengusulkan kebutuhan bahan dan alat untuk kegiatan praktikum dan penelitian
Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan praktikum dan penelitian
mahasiswa
Memonitor dan mengevaluasi kerja dosen praktikum, teknisi, laboran, dan asisten
Melaporkan kondisi laboratorium kepada kalab

Tugas/ Job diskripsi Dosen Praktikum :

Membantu penanggung jawab laboratorium dalam merencanakan kebutuhan bahan


dan alat, serta kegiatan praktikum
Merencanakan dan mengatur pelaksanaan praktikum secara teratur
Melakukan pretes praktikum bersama asisten
Memantau dan mengevaluasi kegiatan praktikum
Melaksanakan kegiatan responsi praktikum
Memantau kerja asisten laboratorium

Tugas/ Job diskripsi Teknisi/Laboran

Membantu kerja penanggung jawab laboratorium secara teknis


Mendata kebutuhan bahan dan alat untuk kegiatan praktikum dan penelitian
Mengusulkan kebutuhan bahan dan alat untuk kegiatan praktikum dan penelitian
kepada penanggungjawab laboratorium atau kalab
Membantu dosen praktikum dalam menyiapkan pelaksanaan kegiatan praktikum
Membantu dosen praktikum dalam pelaksanaan praktikum mahasiswa
Menjaga kebersihan dan keamanan laboratorium yang menjadi tanggung jawabnya
Melaporkan kondisi laboratorium masingmasing kepada penanggung jawab
laboratorium atau kalab

Tugas/ Job diskripsi Asisten Laboratorium :

Membantu dosen praktikum dan teknisi/ laboran dalam menyiapkan praktikum


Membantu dosen praktikum dalam pelaksanaan praktikum
Membantu dosen praktikum dalam penilaian kegiatan dan laporan praktikum
15

Menjaga keamanan dan kebersihan laboratorium bersama teknisi/laboran.


7. Fasilitas Pendanaan

Ketersediaan dana sangat diperlukan dalam operasional laboratorium. Tanpa adanya


dana yang cukup, kegiatan laboratorium akan berjalan tersendat-sendat, bahkan mungkin
tidak dapat beroperasi dengan baik. Dana dapat diperoleh dari, antara lain:
a. SPP
b. Anggaran rutin/DIP
c. Institusi lain, misalnya kerjasama dalam bidang penelitian atau pengembangan bidang
lainnya.
d. Dana dari badan-badan Internasional, misalnya JICA, ADB loan projects, dsb
e. Dana Operasional melalui Hibah kompetisi A1; A2; A3 atau B
f. Dana-dana lainnya, yang bersumber dari luar Universitas/Institut
Kegigihan pimpinan institusi memperjuangkan ketersediaan dana sangatlah penting, namun
yang tidak kalah pentingnya ialah kemampuan untuk mengusahakan dana sendiri, misalnya:
melalui kegiatan penelitian, kegiatan tugas akhir/thesis mahasiswa, kegiatan layanan
masyarakat, dan sebagainya. Jika anggaran rutin tidak ada, maka kegiatan operasional
laboratorium tidak akan tercapai dengan baik.
8. Disiplin Yang Tinggi
Pengelola laboratorium harus menerapkan disiplin yang tinggi pada seluruh pengguna
laboratorium (mahasiswa, asisten,laboran/teknisi) agar terwujud efisiensi kerja yang tinggi.
Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh pola kebiasaan dan perilaku dari manusia itu sendiri.
Oleh sebab itu setiap pengguna laboratorium harus menyadari tugas, wewenang dan
fungsinya. Sesama pengguna laboratorium harus ada kerjasama yang baik, sehingga setiap
kesulitan dapat dipecahkan/diselesaikan bersama.
9. Keterampilan
Pengelola laboratorium harus meningkatkan keterampilan semua tenaga
laboran/teknisi. Peningkatan keterampilan dapat diperoleh melalui pendidikan tambahan
seperti pendidikan keterampilan khusus, pelatihan (workshop) maupun magang di tempat
lain. Peningkatan keterampilan juga dapat dilakukan melalui bimbingan dari staf dosen, baik
di dalam laboratorium maupun antar laboratorium.
10. Peraturan Umum
Beberapa peraturan umum untuk menjamin kelancaran jalannya pekerjaan di
laboratorium, dirangkum sebagai berikut:
a. Dilarang makan/minum di dalam laboratorium
b. Dilarang merokok, karena mengandung potensi bahaya seperti:
Kontaminasi melalui tangan
Ada api/uap/gas yang bocor/mudah terbakar
Uap/gas beracun, akan terhisap melalui pernafasan
c. Dilarang meludah, akan menyebabkan terjadinya kontaminasi
d. Jangan panik menghadapi bahaya kebakaran, gempa, dan sebagainya.
16

e. Dilarang mencoba peralatan laboratoriumtanpa diketahui cara penggunaannya.


Sebaiknya tanyakan pada orang yang kompeten.
f. Diharuskan menulis label yang lengkap, terutama pada bahan-bahan kimia.
g. Dilarang mengisap/menyedot dengan mulut segala bentuk pipet. Semua alat pipet
harus menggunakan bola karet pengisap (pipet - pump).
h. Diharuskan memakai baju laboratorium, dan juga sarung tangan dan gogles, terutama
sewaktu menuang bahan-bahan kimia yang berbahaya. Beberapa peraturan lainnya
yang spesifik, terutama dalam pemakaian sinar X, sinar Laser, alat-alat sinar UV,
Atomic Absorption, Flamephoto-meter, Bacteriological Glove Box with UV light, dan
sebagainya, harus benar-benar dipatuhi. Semua peraturan tersebut di atas ditujukan
untuk keselamatan kerja di laboratorium.

11. Penanganan Masalah Umum


Mencampur zat-zat kimia : Jangan campur zat kimia tanpa mengetahui sifat reaksinya.
Jika belum tahu segera tanyakan pada orang yang kompeten.
Zat-zat baru atau kurang diketahui : Demi keamanan laboratorium, berkonsultasilah
sebelum menggunakan zat-zat kimia baru atau yang kurang diketahui. Semua zat-zat
kimia dapat menimbulkan resiko yang tidak dikehendaki.
Membuang material-material yang berbahaya : Sebelum membuang material-material
yang berbahaya harus diketahui resiko yang mungkin terjadi. Karena itu pastikan bahwa
cara membuangnya tidak menimbulkan bahaya. Jika tidak tahu tanyakan pada orang
yang kompeten. Demikian juga terhadap air buangan dari laboratorium. Sebaiknya harus
ada bak penampung khusus, jangan dibuang begitu saja karena air buangan mengandung
bahan berbahaya yang menimbulkan pencemaran. Air buangan harus ditreatment,
antara lain dengan cara netralisasi sebelum dibuang ke lingkungan.
Tumpahan : Tumpahan asam diencerkan dahulu dengan air dan dinetralkan dengan
CaC03atau soda abu, dan untuk basa dengan air dan dinetralisir dengan asam encer.
Setelah itu dipel dan pastikan kain pel bebas dari asam atau alkali. Tumpahan minyak,
harus ditaburi dengan pasir, kemudian disapu dan dimasukkan dalam tong yang terbuat
dari logam dan ditutup rapat.

Catatan: Penanganan terhadap lain-lain masalah yang belum diketahui, sebaiknya


berkonsultasi kepada ahlinya, sebelum mengambil tindakan. lngat keselamatan lebih
diutamakan dari yang lainnya.
12. Jenis Pekerjaan
Berbagai pekerjaan laboratorium seperti praktek, penelitian, dan layanan umum, harus
didiskusikan sebelumnya dengan Kepala Laboratorium. Setelah itu dilanjutkan dengan cara
pelaksanaannya. Pemahaman jenis pekerjaan di laboratorium diperlukan untuk:
a) Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan-bahan kimia, air, listrik, gas dan alat-alat
laboratorium.
b) Meningkatkan efisiensi biaya (operasional cost).
c) Meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu, baik dari pengguna maupun pengelola
Laboratorium.
d) Meningkatkan kualitas dan ketrampilan pengelola laboratorium dan laboran.
17

e) Baik pengelola laboratorium dan laboran/teknisi harus dapat bekerja sama dengan baik
sebagai satu Team-Work. Bekerja dengan satu team, jauh lebih baik dari pada bekerja
secara sendiri/mandiri
f) Meningkatkan pendapatan (income) dari laboratorium yang bersangkutan.
2.3 Peraturan Untuk Laboratorium Skala Industri
Secara Umum perlengakapan manajemen Laboratorum di Universitas dan Industri adalah
sama, hanya memiliki beberapa perbedaan diantara kedua Laboratorium tersebut. Banyak
negara memakai ISO/IEC Guide 25 sebagai dasar untuk membentuk system mutu di
laboratorium dan untuk pengakuan kemampuan-nya, misalnya dengan akreditasi. Dan
untuk persyaratan kemampuan laboratorium seperti yang tercantum dalam OECD Code of
Good Labortory Practice (GLP).
Pedoman ini bertujuan untuk :
a. meningkatkan kemampuan dan kepercayaan laboratorium kalibrasi dan laboratorium

penguji dengan menerapkan persyaratan yang tertera pada pedoman ini.


b. Memudahkan penghapusan hambatan non-pajak di perdagangkan melalui penerimaan
hasil kalibrasi dan hasil uji antar Negara.
c. Memudahkan kerjasama antar laboratorium dan antar instansi dalam tukar menukar
informasi, pengalaman dan harmonisasi standar serta prosedurnya.
Pedoman ini ditujukan khusus untuk laboratorium kalibrasi dan laboratorium penguji.
Laboratorium yang memenuhi persyaratan yang sesuai dalam pedoman ini, sudah sesuai
dengan persyaratan standar ISO seri 9000, termasuk didalamnya model yang diuraikan
dalam ISO 9002 jika laboratorium yang bersangkutan bertindak sebagai pengkalibrasi dan
penguji. Untuk laboratorim yang terlibat dalam pengujian bidang tertentu seperti bidang
kimia (lihat misalnya OECD Code of Good Labortory Practice), atau bidang teknologi
informasi, persyaratan dalam pedoman ini memerlukan penjabaran dan interpretasi
sebagaimana tercantumdalam butir 4.2 Pedoman DSB 03-1991.
PERSYARATAN UMUM KEMAMPUAN
LABORATORIUM PENGUJI

LABORATORIUM

KALIBRASI

DAN

Untuk Point 1-3 merupakan ruang lingkup, definisi dan


4. ORGANISASI AN MANAJEMEN (PENGELOLAAN)
4.1 Laboratorium mempunyai dasar hokum yang dapat diidentifikasi. Laboratorium harus
diorganisasikan dan harus berfungsi sedemikian rupa sehingga fasilitas yang permanent,
sementara dan yang bergerak memenuhi persyaratan pedoman ini.
4.2 Laboratorium wajib :
a. Mempunyai staf manajerial yang mempunyai wewenang dan sumber untuk melaksanakan
tugasnya.

18

b. Memiliki ketentuan untuk menjamin agar personilnya bebas dari pengaruh tekanan
komersial, keuangan dan tekanan lainnya yang dapat mempengaruhi mutu kerja mereka.
c. Diorganisasikan sedemikian rupa sehingga mampu mengambil keputusan, secara mandiri
dan integritasnya selalu terperlihara.
d. Merinci dan mendokumentasikan aturan kerja tentang tanggung jawab, wewenang dan
hubungan kerja antr personil yang mengelola, melaksanakan atau memeriksa pekerjaan yang
mempengaruhi mutu kalibrasi dan pengujian.
e. Mempunyai petugas penyelia yang paham tentang kalibrasi atau prosedur dan metode
pengujian, tujuan kalibrasi atau pengujian dan dapat mengkaji hasil-hasilnya. Perbandingan
jumlah penyelia dan staf yang bukan penyelia harus sedemikian rupa sehingga menjamin
pengawasan yang efektif.
f. Mempunyai seorang manajer teknis (atau apapun namanya) yang mempunyai tanggung
jawab menyeluruh untuk kegiatan teknis.
g. Mempunyai seorang manajer mutu (atau apapun namanya) yang bertanggung jawab atas
sistem mutu dan penerapannya. Manajer mutu harus dapat berhubungan langsung dengan
manajer tertinggi pengambil keputusan tentang kebijaksanaan atau sumber dan juga dengan
manajer teknis. Dalam beberapa laboratorium tertentu, manajer mutu dapat juga bertindak
sebagai manajer teknik atau sebagai deputi manajer teknik.
h. Mengangkat deputi manajer mutu atau deputi manajer teknik bila mereka berhalangan.
i. Mempunyai kebijakan dan prosedur yang terdokumentasikan untuk menjamin adanya
perlindungan atas kerahasiaan informasi dan hak berdasarkan peraturan.
j. Berpartisipasi dalam program uji profisiensi dan uji banding antar laboratorium.
5.SISTIM MUTU, AUDIT DAN KAJI ULANG
5.1 Laboratorium harus mengadakan dan memelihara system mutu yang cocok/sesuai dengan
jenis, ruang lingkup dan volume kegiatan kalibrasi dan pengujian yang dilaksanakannya.
Unsur system mutu tersebut harus didokumentasikan. Dokumen mutu harus tersedia dan
dapat digunakan oleh personil laboratorium. Laboratorium wajib merinci dan
mendokumentasikan kebijaksanaan dan tujuannya serta keterikatannya pada praktek
laboratorium yang baik (GLP), mutu kalibrasi atau jasa pengujian. Manajemen laboratorium
harus menjamin agar semua kebijakan dan tujuan tersebut didokumentasikan dalam panduan
mutu, dikomunikasikan, dapat dimengerti serta diterapkan oleh semua petugas laboratorium
yang bersangkutan. Buku panduan mutu haru selalu diusahakan untuk tetap mutakhir di
bawah tanggung jawab manajer mutu.
5.2 Buku panduan mutu dan dokumen lain yang terkait dengan mutu harus mencantumkan
semua kebijakan laboratorium dan prosedur operational yang ditetapkan agar dapat
memenuhi persyaratan pedoman ini : Buku panduan mutu dan dokumen lain yang terkait
dengan mutu harus berisi :
19

a. Kebijakan mutu, termasuk tujuan dan keterikatannya yang ditetapkan oleh manajer.
b. Struktur organisasi dan manajemen laboratorium, dicantumkan dalam diagram organisasi
induknya dan diagram organisasi yang terkait .
c. Hubungan antara menajemen pelaksanaan teknis, jasa penunjang dan system mutu.
d. Prosedur pengendalian dan pemeliharaan dokumen.
e. Uraian kerja dari staf inti dan disesuaikan dengan uraian kerja dari staf lainnya.
f. Identifikasi pendandatangan yang berwenang di laboratorium (apabila diperlukan).
g. Semua prosedur yang diperlukan dalam laboratorium untuk mencapai mampu telusur
pengukuran.
h. Ruang lingkup kalibrasi dan / atau pengujian
i. Ketentuan untuk menjamin adanya kaji ulang semua pekerjaan yang baru untuk menjamin
bahwa laboratorium tersebut memiliki fasilitas dan sumber yang tepat sebelum pekerjaannya
dilaksanakan.
j. Acuan yang dipakai untuk kalibrasi, verifikasi dan/atau prosedur uji yang dipakai.
k. Prosedur penanganan kalibrasi dan barang-barang yang diuji.
l. Acuan untuk peralatan utama dan standar ukur banding yang dipakai
m. Acuan prosedur kalibrasi, verifikasi dan pemeliharaan alat.
n. Acuan untuk pelaksanaan verifikasi termasuk uji banding antar laboratorium, program uji
profisiensi penggunaan bahan pembanding yang dipakai dan system pengendalian mutu
intern.
o. Prosedur yang harus diikuti untuk memberikan umpan balik dan koreksi bilamana terjadi
ketidakcocokan dalam pengujian atau adanya penyimpangan dari kebijakan dan prosedur
yang tercantum dalam dokumen.
p. Ketentuan manajemen laboratorium untuk penyimpangan khusu yang masih dapat diterima
terhadap kebijakan dan prosedur tertulis atau terhadap standar.
q. Prosedur dalam menangani kehuhan/pengaduan
r. Prosedur untuk melindungi kerahasiaan dan hak berdasarkan hokum.
s. Prosedur-prosedur untuk audit dan kaji ulang.
5.3 Laboratorium wajib mengatur kegiatan audit secara berkala untuk memverifikasi kegiatan
agar selalu sesuai dengan persyaratan system mutu. Audit ini harus dilaksanakan oleh
petugas yang telah mampu dan dididik yang bila memungkinkan tidak berkaitan dengan
kegiatan yang diaudit. Jika dalam audit menemukan keraguan atas keabsahan hasil
20

kalibrasi atau hasil uji laboratorium harus segera melaksanakan korelasi dan
memberitahu secara tertulis kepada tiap pelanggan yang kegiatannya terkena.
5.4 Sistem mutu yang digunakan untuk memenuhi persyaratan pedoman ini harus ditinjau
kembali paling tidak sekali setahun oleh manajer untuk menjamin kesesuaian dan
keefektifannya secara berkesinambungan dan melakukan perubahan atau penyempurnaan
jika diperlukan.
5.5 Semua temuan audit, kaji ulang dan tindakan koreksi harus didokumentasikan. Petugas
penangggung jawab mutu wajib menjamin bahwa tindakan tersebut dilaksanakan dalam
jangka waktu yang telah disepakati.
5.6 Selain audit secara berkala laboratorium wajib menjamin mutu hasil yang diberikan
kepada pelanggan setelah diperiksa terlebih dahulu. Pemeriksaan ini wajib dikaji kembali
dan setidak-tidaknya harus mencakup :
a. system pengendalian mutu intern dengan menggunakan metode stastistik;
b. Partisipasi dalam uji profisiensi atau uji banding antar laboratorium;
c. Penggunaan bahan pembanding secara teratur dan/atau pengendalian mutu melekat
(inhouse quality control) dengan menggunakan bhan pembanding sekunder;
d. Pengujian ulang menggunakan metoe yang sama atau berbeda.
e. Pengujian kembali dari arsip contoh;
f. Keterkaitan hasil uji untuk sifat yang berbeda dari satu barang;
6. PERSONALIA
6.1 Laboratorium penguji harus memiliki personil dalam jumlah yang memadai dan
pendidikan, pelatihan, pengetahuan teknis yang cukup serta memiliki pengalaman yang
sesuai dengan tugasnya.
6.2 Laboratorium penguji harus selalu memberikan pelatihan, pengetahuan dan keterampilan
yang mutakhir bagi pegawainya.
6.3 Rekaman data kualifikasi, pelatihan, keterampilan dan pengalaman tiap pegawai teknis
harus selalu dipelihara.
7. SARANA DAN LINGKUNGAN
7.1 Sarana laboratorium, ruang kalibrasi dan pengujian, sumber energi penerangan,
pemanasan dan ventilasi udara harus memungkinkan untuk dapat mengkalibrasi/
melakukan pengujian yang benar.
7.2 Lingkungan tempat kegiatan ini diselenggarakan tidak menyebabkan hasil uji/kalibrasi
menjadi tidak absah atau mempengaruhi ketelitian pengukuran. Perlakuan khusus perlu
dilakukan jika kegiatan dilaksanakan di tempat yang bukan gedung laboratorium
permanent.
7.3 Laboratorium harus mempunyai fasilitas untuk melaksanakan pemantauan. Pengendalian
dan pencatatan kondisi lingkungan yang efektif dan memadai. Perhatian khusus yang
21

perlu diberikan, misalnya terhadap kesterilan biologis, debu, interferensi


elektromagnetik, kelembaban, tegangan jaringan, suhu dan arus bunyi dan getaran agar
sesuai dengan persyaratan kalibrsi atau pengujian yang dilakukan.
7.4 Harus ada pemisah yang efektif antar ruangan yang berdampingan bila ada kegiatan yagn
saling tidak sesuai.
7.5 Jalan masuk dan penggunaan ruangan yang mempengaruhi mutukegiatan harus ditetapkan
dan diawasi.
7.6 Pengelolaan yang tepat dilakukan untuk menjamin pengaturan rumah tangga laboratorium
yang baik.
Catatan : Adalah merupakan tanggung jawab laboratoriuma untuk memenuhipersyaratan
kesehatan dan keselamatan yang sesuai. Aspek tersebut di luar ruang lingkup pedoman
ini.
8. PERALATAN DAN BAHAN PEMBANDING
8.1 Laboratorium harus dilengkapi dengan semua jenis peralatan (termasuk bahan
pembanding) yang dibutuhkan untuk kalibrasi dan pengujian yang benar. Dalam hal
tersebut, jika suatu laboratorium memerlukan peralatan yang di luar pengawasannya yang
tetap, maka Laboratorium harus menjamin bahwa persyaratannya telah sesuai dengan
pedoman ini.
8.2 Semua peralatan harus dipelihara dengan baik dan prosedur pemeliharaannya harus
didokumentasikan. Tiap jenis peralatan yang sudah seharusnya diservis, salah
pemakaian, hasilnya mencurigakan, memperlihatkan kerusakan waktu dilakukan
verifikasi, alat tersebut memang rusak, tidak boleh digunakan, diberi tanda dengan jelas,
serta bila mungkin ditempatkan pada ruang tertentu sampai alat tersebut selesai
diperbaiki sehingga kalibrasi verifikasi, pengujian memberikan hasil yang memuaskan.
Laboratorium harus menguji pengaruh kerusakan ini terhadap kalibrasi atau pengujian
sebelumnya.
8.3 Tiap jenis peralatan termasuk bahan pembanding diberi label tanda atau identitas yang
menunjukkan status kalibrasinya.
8.4 Rekaman tiap jenis peralatan dan seluruh bahan pembanding yang penting untuk kalibrasi
atau pengujian harus disimpan. Rekaman harus mencakup :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

nama peralatan
pabrik, identitas jenis dan nomor seri atau identitas khusus lainnya;
tanggal penerimaan dan tanggal mulai digunakan
letaknya pada saat ini
kondisi saat diterima (baru, sudah dipakai, dalam keadaan dikondisikan)
buku instruksi dari perusahaan pembuat alat
tanggal dan hasil kalibrasi dan/atau verifikasi dan tanggal kalibrasi berikutnya
dan/atau verifikasi
22

h. pemeliharaan secara rinci tanggal dan rencana pemeliharaan yang akan datang
i. sejarah tentang kerusakan, malfungsi, modifikasi dan reparasi.\
9. MAMPU TELUSUR PENGUKURAN DAN KALIBRASI
9.1 Semua peralatan ukur dan uji yang mempengaruhi ketelitian atau keabsahan kalibrasi
atau pengujian harus dikalibrasi dan/atau diverifikasi sebelum dipakai. Laboratorium
harus mempunyai program kalibrasi dan verifikasi peralatan ukur dan peralatan ujinya.
9.2 Keseluruhan program kalibrasi dan/atau verifikasi dan keabsahan peralatan harus
didesain dan dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga menjamin pengukuran yang
dilakukan oleh laboratorium dapat ditelusur ke standar nasional. Sertifikasi kalibrasi
wajib memuat pernyataan mempu telusur ke standar nasional dengan memberikan hasil
pengukurannya dan kaitannya dengan ketidakpastian pengukuran dan/atau pernyataan
kesesuaian dengan spesifikasi metrology yang telah ditetapkan.
9.3 Jika mampu telusur terhadap standar nasional tidak dapat dilaksanakan Laboratorium
wajib memberikan bukti yang memuaskan dari korelasi hasil, misalnya dengan
berpartisipasi dalam program uji banding antar laboratorium atau program uji profisiensi
yang sesuai.
9.4 Standar pembanding pengukuran yang dimiliki Laboratorium harus dipakai untuk
kalibrasi saja dan tidak untuk lainnya, kecuali jika dapat dibuktikan bahwa standar
pembanding tersebut tetap absah.
9.5 Standar pembanding pengukuran wajib dikalibrasi oleh instansi yang berwenang dan
menjamin mampu telusur ke standar nasional. Harus ada program kalibrasi dan verifikasi
dari standar pembanding.
9.6 Jika sesuai, standar pembanding alat ukur, dan peralatan uji wajib diperiksa antara
kalibrasi-kalibrasi dan verifikasi-verifikasi.
9.7 Bahan pembanding wajib dapat ditelusur terhadap standar pengukuran nasional atau
internasional atau terhadap standar bahan pembanding nasional atau internasional.
Untuk point 10, 11, 12, 13 mengenai metode kalibrasi dan pengujian, penanganan barang
yang dikalibrasi dan diuji, rekaman, sertifikat dan laporan lab.

23

BAB III

PENUTUP
Kesimpulan
Adapun kesimpula yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah ini adalah:

Laboratorium merupakan salah satu tempat belajar praktik langsung untuk melakukan
suatu percobaan/eksperimen, penelitian/riset. Ilmu kimia tidak lepas kaitannya dengan
Laboratorium. Tanpa adanya laboratorium para ahli kimia/ sainstist tidak dapat
mengembangkan, melakukan dan menerapkan ilmu yang telah dan akan diperolehnya.
Dalam membangun sebuah laboratorium harus diperhatiahkan beberapa hal
diantaranya: Tata ruang, Alat yang baik dan terkalibrasi, Infrastruktur, Administrasi
laboratorium, Organisasi laboratorium, Fasilitas pendanaan, Inventarisasi dan
keamanan, Pengamanan laboratorium, Disiplin yang tinggi , Keterampilan SDM,
Peraturan dasar, Penanganan masalah umum, Jenis-jenis pekerjaan.
Suatu laboratorium yang baik harus memiliki suatu susunan organisasi yang lengkap
agar laboratorium itu dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dimana setiap
personalia dari pengelola tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing
dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan pengguna laboratorium.
Selain pengelola laboratorium, Pengguna laboratorium juga memiliki tugas dan
tanggung jawab dalam menciptakan keamanan di dalam laboratorium. Untuk itu harus
dibuat beberapa peraturan umum di dalam laboratorium.

24

DAFTAR PUSTAKA
Djas, Fachri, 1998. Manajemen Laboratorium (Laboratory Management). Penataran
Pengelolaan Laboratorium (Laboratory Management). Fakultas Kedokteran
USU, Medan
Fernata, Dina. 2012. Dalam:http://almasdi.staff.unri.ac.id/files/2012/06/Manajemen_Laboratorium_02.pdf/ diakses 23September2014
Suyanta. 2010. Manajemen Operasional laboratorium. Yogyakarta : UNY
Syahza, Almasdi. 2011. Dalam http://almasdi.staff.unri.ac.id/files/2012/06/Manajemen_Laboratorium_02.pdf/ diakses 23September2014-09-24

25

26