Anda di halaman 1dari 15

KEABSAHAN PERJANJIAN BAKU

YANG MEMUAT KLAUSUL EKSONERASI1


Abdul Rokhim2

Secara tradisional suatu perjanjian terjadi berlandaskan asas kebebasan berkontrak di


antara dua pihak yang mempunyai kedudukan yang seimbang dan kedua belah pihak berusaha
untuk mencapai kesepakatan yang diperlukan bagi terjadinya perjanjian itu melalui proses
negosiasi di antara mereka. Namun pada dewasa ini kecendurangan makin memperlihatkan
bahwa banyak perjanjian di dalam transaksi bisnis yang terjadi bukan melalui proses negosiasi
yang seimbang di antara para pihak, tetapi perjanjian itu terjadi dengan cara di pihak yang satu
telah menyiapkan syarat-syarat baku pada suatu formulir perjanjian yang sudah dicetak dan
kemudian disodorkan kepada pihak lainnya untuk disetujui dengan hampir tidak memberikan
kebebasan sama sekali kepada pihak lainnya untuk melakukan negosiasi atas syarat-syarat yang
disodorkan. Perjanjian yang demikian ini dinamakan perjanjian standar atau perjanjian baku atau
perjanjian adhesi.
Menunut pendapat Syahdeini, yang dimaksud dengan perjanjian baku ialah perjanjian
yang hampir seluruh klausul-klausulnya sudah dibakukan oleh pemakainya dan pihak yang lain
pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan. Yang
belum dibakukan hanyalah beberapa hal saja, misalnya yang menyangkut jenis, harga, jumlah,
warna, tempat, waktu dan beberapa hal lainnya yang spesifik dari obyek yang diperjanjikan.
Dengan kata lain yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut, tetapi klausul-klausulnya.
Oleh karena itu, suatu perjanjian yang dibuat dengan akta notaris, bila dibuat oleh notaris dengan
1

Bahan Diskusi Matakuliah Hukum Kontrak Bisnis pada Program Magister Hukum Univeritas Islam
Malang, 17 Juli 2005.
2
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang.

klausul-klusulnya yang hanya mengambil alih saja klausul-klausul yang telah dibakukan oleh
salah satu pihak, sedangkan pihak yang lain tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau
meminta perubahan atas klausul-klausul itu, maka perjanjian yang dibuat dengan akta notaris
itupun adalah perjanjian baku.3
Mengenai keabsahan berlakunya perjanjian standar atau perjanjian baku, para sarjana
hukum terbelah pendiriannya. Beberapa pendapat sarjana hukum Belanda sebagaimana dikutip
oleh Mariam Darus Badrulzaman berpendirian berikut ini:
Pertama, pendapat yang pada intinya menolak keabsahan perjanjian baku antara lain:
a.

Sluijter mengatakan perjanjian baku bukan perjanjian, sebab kedudukan pengusaha (yang
berhadapan dengan konsumen) adalah seperti pembentuk undang-undang swasta (legio
particuliere wetgever);

b.

Pitlo mengatakan bahwa perjanjian baku sebagai perjanjian paksa (dwang contract).
Kedua, di kalangan para sarjana hukum yang mendukung atau menerima perjanjian baku,

antara lain adalah:


a.

Stein yang berpendapat bahwa perjanjian baku dapat diterima sebagai perjanjian
berdasarkan fiksi adanya kemauan dan kepercayaan (fictie van wil en vertrouwen) yang
membangkitkan kepercayaan bahwa para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. Jika
debitur menerima dokumen perjanjian itu, berarti ia secara sukarela setuju pada isi
perjanjian itu;

b.

Asser-Rutten mengatakan pula bahwa setiap orang yang menandatangani perjanjian


bertanggungjawab pada isi dan apa yang ditandatanganinya. Jika ada orang yang
membubuhkan tanda tangan pada suatu formulir perjanjian baku, tanda tangan itu

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebesan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang bagi Para Pihak dalam
Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bank Indonesia, Jakarta, 1993, hal. 65-66

membangkitkan kepercayaan bahwa yang bertandatangan mengetahui dan menghendaki isi


formulir yang ditandatangani. Tidak mungkin seseorang menendatangani apa yang tidak
diketahui isinya;
c.

Hondius dalam disertasinya mempertahankan bahwa perjanjian baku mempunyai kekuatan


mengikat berdasarkan kebiasaan (gebruik) yang berlaku di lingkungan masyarakat dan
lalu lintas perdagangan.4
Perdebatan di kalangan sarjana hukum Belanda mengenai keabsahan berlakunya perjanjian

atau syarat-syarat baku tentunya akan sampai kepada akhirnya dengan dimuatnya pasal khusus
mengenai syarat-syarat baku dari suatu perjanjian dalam KUH Perdata Baru Belanda (Nieuw
Nederlands Burgerlijk Wetboek) yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1992, khususnya
pasal 1214 (6.5.1.2) Boek 6.5
Bagaimanakah pendirian para ahli hukum di Amerika Serikat mengenai keabsahan
perjanjian baku ini? Mengingat bahwa di Amerika Serikat hukum perjanjian yang berlaku adalah
common law, dimana pertikaian hukum yang menyangkut perjanjian (contract) diputuskan oleh
hakim berdasarkan putusan-putusan hakim atau pengadilan sebelumnya, maka yang perlu
diketahui adalah sikap atau pendirian hakim atau pengadilan tersebut.
Menurut kesimpulan Whitman dan Gergacz, para hakim di Amerikan Serikat dalam
beberapa perkara enggan untuk memberlakukan perjanjian-perjanjian yang menurut mereka
merupakan perjanjian adhesi. Pada dasarnya, di Amerika Serikat ada perbedaan sikap dari
pengadilan sebelum dan sesudah tahun 1960-an sebagaimana telah dikemukakan oleh Sutan
Remy Sjahdeini berikut ini:6

Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Baku (Standard) Perkembangannya di Indonesia, Kumpulan


Pidato Pengukuhan Guru Besar, Alumni, Bandung, 1981, hal. 95.
5
Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit., hal. 69
6
Ibid.., hal. 70

Sebelum tahun 1960-an, common law tidak mengacuhkan kenyataan bahwa perjanjian
baku dibuat oleh pihak-pihak yang tidak seimbang pengetahuan dan kedudukannya. Pada
mulanya common law tidak mengacuhkan ketidakseimbangan ini dengan berpegang kepada
doktrin caveat emptor. Doktrin tersebut yang secara harfiah berarti let the buyer beware, secara
umum diikuti pada waktu itu di Amerika Serikat. Pengadilan-pengadilan mengharapkan bahwa
para pembeli yang langsung bertransaksi dengan pemilik manufaktur hendaknya dapat menjaga
diri mereka sendiri. Pengadilan-pengadilan jarang untuk menolong seseorang yang menjadi
korban suatu tawar menawar yang buruk.
Namun, sejak tahun 1960-an sikap yang demikian ini telah ditinggalkan. Sejak waktu itu
pengadilan mulai mengawasi terhadap dilakukannya penyalahgunaan oleh pihak yang lebih kuat
sehubungan dengan dipakainya perjanjian baku tersebut. Untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan tersebut pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat menerapkan konsep atau
doktrin baru yaitu doktrin unconscionability. Doktrin unconscionability memberikan wewenang
kepada seorang hakim untuk mengesampingkan sebagian bahkan seluruh perjanjian demi
menghindari hal-hal yang dirasakan bertentangan dengan hati nurani. Dengan berlakunya asas
unconscionability tersebut, menurut Corley dan Shedd suatu perjanjian baku tetap saja bukan
tidak absah (not illegal), tetapi perlu diteliti sehubungan dengan keadilan dari perjanjian itu.
Sjahdeini berpendapat bahwa keabsahan berlakunya perjanjian baku tidak perlu lagi
dipersoalkan oleh karena perjanjian baku eksistensinya sudah merupakan kenyataan, yaitu
dengan telah dipakainya perjanjian baku secara meluas dalam dunia bisnis sejak lebih dari 80
tahun lamanya. Kenyataan itu terbentuk karena perjanjian baku memang lahir dari kebutuhan

masyarakat sendiri. Dunia bisnis tidak dapat berlangsung tanpa perjanjian baku. Perjanjian baku
dibutuhkan oleh dan karena itu diterima oleh masyarakat.7
Namun sekalipun keabsahan berlakunya memang tidak perlu dipersoalkan, tetapi masih
perlu dipersoalkan apakah perjanjian itu tidak bersifat sangat berat sebelah dan tidak
mengandung klausul yang secara tidak wajar sangat memberatkan bagi pihak lainnya,
sehingga perjanjian itu merupakan perjanjian yang menindas dan tidak adil. Yang dimaksudkan
dengan sangat berat sebelah ialah bahwa perjanjian itu hanya atau terutama mencantumkan
hak-hak salah satu pihak saja (yaitu pihak yang mempersiapkan perjanjian baku tersebut) tanpa
mencatumkan apa yang menjadi kewajiban-kewajiban pihaknya dan sebaliknya hanya atau
terutama menyebutkan kewajiban-kewajiban pihak lainnya sedangkan apa yang menjadi hak-hak
pihak lainnya itu tidak disebutkan. Tidak jarang kita jumpai perjanjian (baku) yang demikian ini.
Jadi, keabsahan berlakunya perjanjian baku itu tidak perlu dipersoalkan tetapi perlu diatur
mengenai aturan-aturan dasarnya sebagai aturan-aturan mainnya agar klausul-kalusul atau
ketentuan-ketentuan dalam perjanjian baku itu tidak berat sebelah dan tidak adil, baik
sebagian ataupun seluruhnya, sehingga perjanjian itu berlaku mengikat pihak lainnya secara
wajar.
Masalah hukum kedua yang terpenting berkenaan dengan banyaknya digunakan perjanjianperjanjian baku di dunia bisnis ialah masalah yang berkaitan dengan pencantuman klausul atau
ketentuan yang secara tidak wajar sangat memberatkan bagi pihak lainnya. Masalah yang
menyangkut klausul tidak wajar sangat memberatkan ini, di luar negeri, dan dalam waktu yang
tidak terlalu lama juga di Indonesia, telah menjadi salah satu pusat perhatian para hakim yang
menghadapi sengketa perjanjian yang didasarkan kepada perjanjian baku di dalam berbagai
yurisprudensi.
7

Ibid., hal. 70

Para ahli hukum dalam berbagai pustaka hukum telah banyak juga membahas mengenai
hal ini dalam kaitan dengan banyaknya dipakai perjanjian-perjanjian baku. Pada saat ini banyak
negara yang telah mempunyai ketentuan-ketentuan undang-undang yang secara khusus mengatur
mengenai klausul yang memberatkan ini. Perhatian besar sehubungan dengan pencantuman
klausul-klausul yang memberatkan dalam perjanjian baku, sebagaimana yang telah diberikan
oleh para hakim dalam berbagai yurisprudensi, oleh para ahli hukum dalam berbagai pustaka
hukum dan oleh badan-badan legislatif dalam berbagai undang-undang dari berbagai negara itu,
adalah dalam rangka usaha untuk melindungi kepentingan konsumen yang merupakan pihak
yang lemah dalam perjanjian baku.
Di Indonesia telah diundangkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen (UUPK), tetapi undang-undang ini hanya mengatur hubungan hukum
antara pelaku usaha (di bidang bisnis, khususnya perdagangan) dengan konsumen yang membeli
barang dan atau jasa. Undang-undang ini tidak mengatur apakah pemerintah (daerah) yang
menawarkan jasa dengan mempergunakan fasilitas atau aset yang dimiliki atau dikuasai daerah,
misalnya jasa pengelolaan parkir, bisa pula disebut pelaku usaha.
Oleh karena itu, perlu diketahui apa yang dimaksud pelaku usaha menurut UUPK. Pasal 1
angka 3 UUPK menentukan bahwa: Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan
usaha yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik
sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi. Selanjutnya, dalam penjelasan pasal 1 angka 3 UUPK dikatakan
bahwa: Pelaku usaha yang termasuk dalam pengertian ini adalah perusahaan, korporasi,
BUMN, koperasi, importir, pedagang, distributor, dan lain-lain.

Selanjutnya dalam pasal 18 ayat (1) huruf a ditentukan bahwa: Pelaku usaha dalam
menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat
dan/atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila
menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. Larangan ini dimaksudkan untuk
menempatkan kedudukan konsumen setara dengan pelaku usaha berdasarkan prinsip kebebasan
berkontrak.
Berdasarkan ketentuan ini berarti pemerintah daerah bukanlah tergolong pelaku usaha
sebagaimana yang dimaksudkan dalam UUPK, karena kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah
daerah di bidang perparkiran tidak murni sebagai kegiatan bisnis yang bertujuan mencari
keuntungan sebagaimana pelaku usaha di bidang ekonomi. Kegiatan dalam pengelolaan dan
penyelenggaraan perparkiran yang dilakukan oleh pemerintah di samping bertujuan untuk
menambah kas daerah melalui retribusi, tetapi kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk
ketertiban dan keamanan umum masyarakat, khususnya bagi para pengguna kendaraan bermotor
yang memarkir kendaraan. Jadi, yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaan dan
penyelenggaraan perparkiran yang menjadi kewenangan pemerintah daerah tidak semata-mata
pada aspek ekonomi (yakni berupa tambahan pendapatan asli daerah dari retribusi parkir), tetapi
di pihak lain juga aspek perlindungan hukum bagi masyarakat pengguna jasa parkir yang harus
diberikan oleh pemerintah daerah selaku pihak yang berwenang dalam pengelolaan parkir di
daerah, bukan dalam kapasitasnya sebagai pelaku usaha sebagaimana yang dimaksudkan dalam
UUPK.
Sebab bagaimanapun juga secara hukum hubungan kontraktual antara pengelola dan
penyelenggara parkir (selaku penyedia jasa) dengan pengguna jasa parkir yang dikenakan biaya
sebagaimana pada perjanjian pada umumnya. Bedanya hanya dalam perjanjian parkir,

pemerintah secara sepihak menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pengguna jasa
sebagai kewajibannya, tetapi di pihak lain pemerintah daerah tidak mengatur kewajiban dan
tanggung jawab pengelola dan penyelenggara parkir yang sebenarnya secara hukum merupakan
hak kontraktual dari pengguna jasa parkir seperti halnya pada perjanjian penitipan barang.
Dengan perkataan lain, tampaknya dalam perjanjian parkir ini melalui Perda pemerintah daerah
sengaja melepaskan tanggung jawab atas risiko yang terjadi terhadap barang (kendaraan
bermotor) yang diparkir yang sudah dipungut biaya itu. Ketentuan atau klausul yang tertera
dalam karcis parkir yang membebaskan tanggung jawab atas hilangnya atau rusaknya kendaraan
yang diparkir itu dinilai sebagai klausul yang tidak adil dan memberatkan bagi masyarakat
pengguna jasa parkir.
Di antara klausul-klausul yang dinilai sebagai klausul yang memberatkan dan yang banyak
muncul dalam perjanjian-perjanjian baku adalah yang disebut klausul eksemsi. Untuk istilah
klausul eksemsi ini, Mariam Darus Badrulzaman menggunakan istilah kalusula eksonerasi,
yang digunakannya sebagai terjemahan dari istilah exoneratie clausule yang dipakai dalam
bahasa Belanda.8
Di dalam Nieuw Nederlands Burgerlijk Wetboek (NNBW) istilah exoneratie clausule tidak
digunakan secara khusus, tetapi seperti telah dikemukakan di muka istilah yang dipakai adalah
istilah yang lebih luas yaitu ketentuan yang onredelijk bezware atau unreasonably onerous.
Istilah ketentuan yang onredelijk bezware atau unreasonably onerous itu digunakan sebagai
istilah yang lebih umum dimana ketentuan yang dapat diklasifikasikan sebagai klausul eksemsi
termasuk di dalamnya.
Dalam pustaka hukum yang berbahasa Inggris belum dijumpai digunakannya istilah
exoneration clause yang merupakan yang merupakan padanan kata dari klausul eksenorasi yang
8

Mariam Darus Badrulzaman, Op. Cit., hal. 109.

dipakai oleh Mariam Darus Badrulzaman sebagai terjemahan dari istilah dalam bahsa Belanda
exoneratie clausule. Exoneration merupakan kata benda (noun) dari kata kerja (verb) to
exonerate yang berarti to free atau to clear (membebaskan atau membersihkan).9 Jadi,
sebenarnya to exonerate berarti sama dengan to exempt yang kata bendanya, yaitu exemption
yang dipakai dalam istilah exemption clause (klausul eksemsi). Yang dimakudkan dengan
klausul eksemsi dalam hal ini memiliki makna yang sama dengan klausul eksonerasi
sebagaimana yang dipakai oleh Mariam Darus Badrulzaman yaitu klausul (ketentuan) dalam
perjanjian yang berisi pembatasan pertanggungjawaban dari kreditur.
Klausul eksemsi menurut Sjahdeini bertujuan untuk membebaskan atau membatasi
tanggungjawab salah satu pihak terhadap gugatan pihak lainnya dalam hal yang bersangkutan
tidak (dengan semestinya) melaksanakan kewajibannya yang ditentukan di dalam perjanjian
tersebut.10
Klausul-klausul eksemsi (eksonerasi) itu dapat muncul dalam berbagai bentuk. Klausul
tersebut dapat berbentuk pembebasan sama sekali dari tanggungjawab yang harus dipikul oleh
pihaknya apabila terjadi ingkar janji (wanprestasi). Dapat pula berbentuk pembatasan jumlah
ganti rugi yang dapat dituntut. Dapat pula berbentuk pembatasan waktu bagi orang yang
dirugikan untuk dapat mengajukan gugatan atau ganti rugi. Dalam hal yang terakhir ini batas
waktu tersebut seringkali lebih pendek dari batas waktu yang ditentukan oleh undang-undang
bagi seseorang untuk dapat mengajukan gugatan atau ganti rugi.
Sekalipun klausul force majeure (overmacht) atau keadaan memaksa pada hakikatnya
merupakan klausul yang membebaskan debitur untuk bertanggungjawab atas tidak dapat
dipenuhi kewajiban yang ditentukan baginya, tetapi klausul force majeure menurut hemat
9

A.S. Hornby, et al., Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, Oxford University Press,
London, 1987, hal. 298.
10
Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit., hal. 75

penulis tidak dapat dianggap sebagai klausul eksemsi karena pembebasan tanggungjawab debitur
yang demikian itu memang dibenarkan oleh undang-undang. Dengan kata lain, sekalipun klausul
force majeure tersebut tidak telah dicantumkan dalam perjanjian, namun debitur yang
bersangkutan tetap saja dibebaskan dari tanggungjawab atas tidak dilaksanakan kewajibannya itu
karena ketentuan undang-undang memang menentukan demikian. Keadaan memaksa merintangi
pelaksanaan perjanjian, yang berarti kreditur tidak dapat (lagi) menuntut pelaksanaan perikatan,
karena menurut ketentuan pasal 1444 KUH Perdata perikatannya dianggap gugur.
Pasal 1444 KUH Perdata menentukan bahwa:
Jika barang tertentu yang menjadi obyek perjanjian musnah, tidak dapat lagi
diperdagangkan atau hilang, sedemikian hingga sama sekali tidak diketahui apakah
barang itu masih ada, maka hapuslah perikatannya, asal barang itu musnah atau hilang
di luar salahnya si debitur dan sebelum ia lalai menyerahkannya.
Bahkan meskipun si debitur lalai menyerahkannya seseuatu barang sedangka ia tidak
telah menanggung terhadap kejadian-kejadian yang tak terduga, perikatan hapus jika
barangnya akan musnah secara yang sama di tangan di kreditur, seandainya sugah
diserahkan kepadanya.
Si debitur diwajibkan membuktikan kejadian yang terduga yang dimajukan itu.
Dengan cara bagaimanapun sesuatu barang yang telah dicuri, musnah atau hilang,
hilangnya barang ini tidak sekali-kali membebaskan orang mencuri barang dari
kewajibannya untuk mengganti harganya.11
Undang-undang tidak memuat definisi mengenai force majeure atau overmacht, pasal 1444
KUH Perdata hanya memberi petunjuk sekedarnya. Karena tidak ada definisi yang tegas
mengenai keadaan memaksa, maka timbullah teori-teori mengenai keadaan memaksa, di
antaranya ada dua aliran pokok, yaitu teori obyektif dan teori subyektif.
1. Teori Obyektif

11

R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, terjemahan dari Burgerlijk
Wetboek, Pradnya Paramita, Jakarta, 1983, hal. 324-325.

Menurut teori obyektif, debitur dapat menggunakan keadaan memaksa sebagai alasan tidak
berprestasi jika prestasi tidak mungkin bagi setiap orang. Menurut teori ini, debitur hanya
dapat mengemukakan tentang keadaan memaksa jika pemenuhan prestasinya bagi setiap orang
mutlak tidak mungkin dilaksanakan. Misalnya, penyerahan sebuah mobil tidak mungkin
dilaksanakan oleh seorang juru parkir kepada pemiliknya karena mobil tersebut musnah terbakar
karena ledakan bom di tempat parkir. Dalam perkembangan selanjutnya teori obyektif tidak lagi
berpegang pada kepada ketidakmungkinan mutlak, akan tetapi menganggap juga sebagai
keadaan memaksa jika barangnya hilang.12
Dalam hal barangnya hilang, hanya debitur yang bersangkutan saja yang tidak dapat
memenuhi prestasinya, sedangkan bagi orang lain masih mungkin untuk menyerahkan
barangnya. Sehingga dengan demikian berarti tidak bagi setiap orang adalah tidak mungkin.
Dalam hal barang hilang, teori obyektif sebenarnya sudah mendekati teori subyektif.
Barang yang hilang tidak diketahui oleh debitur A di mana barang itu berada tentu tidak dapat
diserahkan oleh debitur A, tidak mungkinnya itu tidak berlaku untuk setiap orang. Demikian pula
halnya dengan kata-kata tidak dapat diperdagangkan termasuk larangan ekspor, dalam hal
mana soalnya bukan tidak bisa, melainkan tidak boleh. Namun demikian, teori obyektif
mengakui hal tersebut sebagai keadaan memaksa, bukanlah kita harus taat kepada pemerintah
dalam menunaikan fungsinya.
Dengan demikian, teori obyektif melepaskan syarat mutlak tidak mungkin dilaksanakan
oleh setiap orang disertai pengakuan bahwa kepentingan umum harus diutamakan lebih dahulu
dari pada kepentingan perorangan (kreditur) yang menghendaki pelaksanaan.
Langkah selanjutnya kepentingan debitur sangat dirugikan oleh pelaksanaan yang tidak
seimbang dengan kepentingan kreditur dengan pelaksanaan, misalnya: jika debitur hanya dengan
12

R. Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Binacipta, Bandung, 1979, hal. 29.

membahayakan jiwa-raganya dapat melaksanakan kewajibannya, maka debitur dapat


menggunakan keadaan memaksa sebagai alasan tidak berprestasi.
2. Teori Subyektif
Teori ini tidak didasarkan atas tak bisa, tetapi atas tak perlu. Pangkal haluannya ialah
ada keadaan memaksa jika debitur tak salah. Apabila debitur telah berusaha sekuat-kuatnya
untuk melaksanakan perikatan secara normal, maka keadaan memaksa selalu dapat
dipergunakannya sebagai alasan ia tak berprestasi.
Houwing, seorang sarjana hukum terkenal yang menganjurkan pendirian tersebut. kerap
kali teori subyektif disebut teori berusaha (inspanning theorie). Keberatan terhadap teori ini
ialah bahwa kreditur tidak berkepentingan dengan debitur yang menyatakan kepadanya
maafkan saya, saya sudah berusaha sekuat-kuatnya, tetapi saya tidak berhasil melaksanakan
kewajiban saya.13
Teori subyektif mengakui juga adanya risiko dan dengan demikian melunakkan
pendiriannya yang menyebabkan bahwa debitur tidak dalam semua hal dibebaskan dari
pembayaran ganti rugi, walaupun ia dapat membuktikan bahwa ia telah berusaha sekuat-kuatnya
untuk melaksanakan prestasi, namun tidak berhasil. Walaupun debitur tidak salah, namun kreditu
dapat menuntut pembayaran ganti rugi kepada debitur karena debitur bertanggungjawab,
sekalipun peristiwa yang merintangi pelaksanaan perikatan tidak dapat diketahui terlebih dahulu.
Berdasarkan uraian di atas, menurut teori obyektif pertanyaan yang harus dijawab ialah:
apakah dalam hal ini pelaksanaan mungkin?, sedangkan menurut teori subyektif harus dijawab
pertanyaan: apakah pelaksanaan oleh debitur ini mungkin?. Kedua teori tersebut walaupun
berbeda tetapi cenderung untuk saling mendekati, akan tetapi hasilnya tetap persis sama. Sebab
teori obyaktif, sepanjang teori itu memperhitungkan keadaan pribadi debitur, hanya
13

R.M. Suryodiningrat, Azas-azas Hukum Perikatan, Tarsito, Bandung, 1985, hal. 34-35.

mengakuinya jika keadaan pribadi debitur berlaku juga bagi setiap debitur sehingga tidak perlu
melaksanakan prestasi.
Debitur yang hendak menggunakan keadaan memaksa sebagai alasan tidak berprestasi
harus membuktikan bahwa terjadinya peristiwa yang merupakan keadaan memaksa (force
majeure; overmacht) adalah:
a.

di luar kesalahannya;

b.

tidak dapat ia ketahui lebih dahulu;

c.

ia tidak memikul risikonya;

d.

ia tidak dapat secara lain melaksanakan perikatan.14


Tentang sifat keadaan memaksa, keadaan memaksa dapat bersifat tetap atau sementara.

Jika keadaan memaksa bersifat tetap, maka berlakunya perikatan terhenti sama sekali.15
Misalnya, sebuah sepeda motor yang akan diserahkan oleh juru parkir kepada pemilik terbakar
musnah di luar kesalahannya tidak mungkin dapat diserahkan dalam keadaan baik seperti
semula. Sedangkan, dalam keadaan memaksa yang bersifat sementara berlakunya perikatan
ditunda. Setelah keadaan memaksa tersebut hilang, maka perikatan mulai bekerja kembali.
Misalnya, di tempat parkir tiba-tiba ada razia kendaraan bermotor oleh satuan kepolisian kota
setempat. Berdasarkan ketentuan undang-undang Polisi melarang kepada juru parkir untuk
memberikan kepada siapapun yang mengambil kendaraan tersebut jika orang itu tidak dapat
menunjukkan surat tanda nomor kendaraan (STNK) asli. Jika larangan tersebut tidak ada, maka
debitur (juru parkir) harus memberikan kendaraan tersebut yang biasanya cukup dengan
menunjukkan secarik karcis parkir meskipun ia tidak membawa (dan biasanya juga tidak ditanya

14
15

Ibid., hal. 40.


R. Setiawan, Op. Cit., hal. 32.

atau diminta untuk dilihat oleh juru parkir) STNK asli dari kendaraan bermotor yang menjadi
obyek perjanjian parkir itu.
Klausul force majeure biasanya digunakan untuk menguraikan suatu perjanjian di mana
salah satu atau kedua pihak dimaafkan untuk tidak melaksanakan prestasinya, baik seluruhnya
atau sebagian, sehubungan dengan terjadinya kejadian-kejadian tertentu yang berada di luar
kekuasaannya.
Persoalannya adalah siapakah yang harus menanggung risiko (kerugian) jika pemenuhan
perikatan terhalang karena keadaan memaksa (force majeure)? Persoalan ini secara yuridis
normatif dapat diselesaikan dengan ajaran risiko.
Sehubungan dengan persoalan risiko ini perlu dibedakan risiko pada perjanjian sepihak dan
risiko pada perjanjian timbal balik.
Risiko pada perjanjian sepihak. Perjanjian sepihak adalah perjanjian di mana kewajibannya
hanya ada pada satu pihak saja, misalnya hibah dan penitipan dengan cuma-cuma. Menurut pasal
1245 KUH Perdata, risiko dalam perjanjian sepihak ditanggung oleh kreditur atau dengan kata
lain debitur tidak wajib memenuhi prestasinya. Penerapan ketentuan ini pada perikatan untuk
memberikan barang tertentu (hibah) terdapat dalam pasal 1237 KUH Perdata yang menentukan
bahwa kreditur yang harus menanggung risiko. Misalnya, A menghadiahkan rumah kepada B,
jika rumah tersebut musnah karena gempah bumi maka B tidak dapat menuntut ganti rugi. Jadi,
dalam hal ini seakan-akan tidak pernah terjadi perjanjian hibah (schenking). Begitu pula
misalnya, A dengan cuma-cuma (tanpa membayar biaya penitipan) menitipkan sepeda motornya
kepada B. Kalau di luar kesalahan B, barang tersebut hilang karena dicuri orang (pihak ketiga)
atau musnah karena rumah B terbakar, maka A tidak dapat menuntut ganti rugi kepada B.
Dengan demikian, kehilangan dan musnahnya sepeda motor tersebut sepenuhnya menjadi

tanggung jawab A. Ini berarti risiko atas hilang atau musnahnya barang pada prinsipnya menurut
undang-undang menjadi tanggungjawab pemilik barang (eigenaar), kecuali kalau sebelumnya
ada perjanjian pertanggungan atau pengalihan risiko (misalnya perjanjian asuransi).
Sedangkan risiko dalam perjanjian timbal balik, undang-undang tidak secara tegas
memberikan pemecahannya. Umumnya hal tersebut diselesaikan menurut kesepakatan para
pihak sendiri atau menurut kebiasaan setempat yang berlaku. Di samping itu juga perlu
mempertimbangkan pendapat dari para ahli hukum.
Pitlo berpendapat bahwa menurut kepantasan, jika debitur tidak lagi berkewajian maka
pihak lainnya (kreditur) pun bebas dari kewajibannya. Misalnya, dalam perjanjian tukar
menukar, A harus menyerahkan seekor kuda kepada B dan B harus menyerahkan seekor sapi
kepada A. Jika kuda A mati disambar petir, maka B dapat tetap menguasai sapinya. Jadi, seolaholah tidak pernah terjadi perjanjian tukar menukar (barter) antara A dan B. Pendapat ini
didukung oleh ketentuan undang-undang, antara lain pasal 1246, 1545 dan 1563 KUH Perdata.
Ketentuan-ketentuan tersebut pada dasarnya membebankan kerugian dalam hal terjadi force
majeure kepada debitur (pemilik barang sebelum ada penyerahan (levering) pada siapa
barangnya musnah. Kecuali yang diatur dalam pasal 1460 KUH Perdata yang menentukan
bahwa jual-beli barang tertentu risikonya dibebankan kepada pembeli.16

16

R. Setiawan, Ibid., hal. 34-35.