Anda di halaman 1dari 503

Sri Sartono

untuk
Sekolah Menengah Kejuruan

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, Televisi, dan Film

Teknik
Penyiaran
dan Produksi
Program
Radio, Televisi,
dan Film
Sri Sartono

ISBN XXX-XXX-XXX-X
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digunakan dalam Proses Pembelajaran.

untuk SMK

HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Sri Sartono

TEKNIK PENYIARAN
& PRODUKSI PROGRAM
RADIO, TELEVISI DAN FILM

SMK

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah


Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional


Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PENYIARAN
& PRODUKSI PROGRAM
RADIO, TELEVISI DAN FILM
Untuk SMK
Penulis Utama
Pembantu
Editor
Desain Cover & Fotografer
Lay out

SAR
t

: FR. Sri Sartono


: Sugeng Purbawanto
Sutarno
Tatyantoro Andrasto
: Rugianto
: Supadmo
: Agus Suryanto

SARTONO, FR. Sri


Teknik Penyiaran dan Produksi Program untuk SMK oleh Sri Sartono,
Sugeng Purbawanto, Sutarno, Tatyantoro Andrasto ---- Jakarta : Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xvii. 426 hlm
Daftar Pustaka : 419-420

Diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008

KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,
kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.

Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK

KATA PENGANTAR
Kemajuan dalam bidang komunikasi dewasa ini menuntut adanya
sumber daya manusia yang adaptip sehingga tidak ketinggalan dari
perkembangan dunia yang semakin menglobal. Perkembangan tersebut
juga mengakibatkan berkembangnya teknologi komunikasi radio, televisi
dan film yang berdampak kepada kebutuhan tenaga kerja (SDM)
penyiaran dan produksi program radio, TV dan film yang makin besar.
Pemerintah dalam rangka menyediakan SDM untuk mengisi peluang
kerja dibidang penyiaran telah membuka pendidikan penyiaran radio,
televisi dan film melalui Depdiknas dan telah menetapkan kurikulum serta
standar kompetensi lulusannya melalui BSNP
Dalam rangka mendukung program tersebut, maka buku sumber dengan
judul Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio,TV dan Film
disiapkan agar dapat dimanfaatkan para guru bidang penyiaran dan
produksi program radio, TV dan Film sebagai buku sumber pembelajaran
dalam rangka menyiapkan siswanya agar memiliki kompetensi sebagai
SDM yang berkualitas dan mampu bersaing untuk mengisi peluang kerja
di bidang penyiaran dan produksi program Radio, TV dan Film.
Buku ini ditulis berdasarkan kurikulum 2004 dan KTSP sesuai bidang
keahlian agar memiliki tingkat manfaat dan keterpakaian yang tinggi.
Ditulis dengan bahasa yang dekat ke keteknikan dan mengarah ke
praktis sehingga mudah dipahami bagi guru, siswa maupun para praktisi
atau semua orang yang tertarik untuk mempelajarinya. Penggunaan buku
ini untuk mengajar masih perlu didukung praktek sehingga benar-benar
siswa memiliki kompetensi yang memiliki standar nasional.
Buku ini ditulis dari berbagai sumber maupun dari pengalaman kami
mengajar bidang komunikasi, media pembelajaran, multimedia serta
pengalaman kerja di
TKPK / Media Pembelajaran, mengelola UPT
Sumber Belajar dan Media UNNES Semarang yang karakter
pekerjaannya sangat dekat dengan masalah penyiaran dan produksi
program radio, TV dan Film. Karena keterbatasan waktu, hanya dalam
tempo kurang dari 3 bulan buku ini harus disiapkan, maka pasti masih
banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu masukan untuk
kesempurnaan buku ini sangat diharapkan,
Akhirnya ucapan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan, dan
terimakasih kepada teman-teman dosen Teknik Elektro FT UNNES
yang telah membantu sehingga buku ini sebagai sumbangan bagi
generasi muda bangsa bisa terwujud. Semoga bermanfaat.
FR. Sri Sartono, Nopember 2007

iii

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Program


Keahlian Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio,
Televisi dan Film
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Teknik
Penyiaran dan Produksi Program Televisi dan Film
SK: Menggunakan kamera untuk syuting
1) Menentukan cakupan pengunaan kamera
2) Menyiapkan kamera dan perangkat pendukung sebelum syuting
3) Mengatur fokus
4) Menjaga daya baterai dan persediaan video untuk syuting
5) Mengatur persedian dan memasang film
6) Mengoperasikan crane kamera yang bergerak
SK: Mengoperasikan clapperboard
1) Mentiapkan syuting harian
2) Mengoperasikan clapperboard
3) Mencatat syuting
SK: Membuat teks, narasi dan script
1) Mempersiapkan pembuatan teks, narasi dan script
2) Menulis teks, narasi dan script
3) Menilai teks, narasi dan script
4) Meng-edit teks, narasi dan script
SK: Membuat laporan siara berita
1) Mengidentifikasi siaran berita
2) Menulis laporan siaran berita
3) Meminta persetujuan dari personel lain yang relevan
SK: Mengoperasikan mesin editing dengan sistem tak linier berbasis
digital
1) Mempersiapkan mesin editing
2) Memproses secara digital raw material gambar dan suara
3) Menyunting gambar dan suara sesuai dengan brief
4) Menyempurnakan hasil editing
5) Memindah hasil editing sekuen dan file kedalam master
SK: Mengkoordinasikan sumber-sumber produksi
1) Mengidentifikasi booking yang dibutuhkan
2) Memesan sumber daya dalam produksi
3) Memperbaharui dan menyelesaikan pemesanan
4) Mengatur kebutuhan transportasi

iv

SK: Menggunakan sistem peralatan audio


1) Mengoperasikan sistem peralatan audio
2) Memindahkan rincian soundtrack kedalam referensi frame
3) Mengatur materi suara ulangan
4) Mengkompilasi materi suara ulangan
5) Memelihara sistem peralatan audio
SK: Menggunakan peralatan tata lampu
1) Mempersiapkan kebutuhan alat dan bahan peralatan tata lampu
2) Memasang instalasi tata lampu
3) Mengujicoba peralatan tata lampu yang terpasang
4) Melakukan pemeriksaan terhadapa keamanan mekanis dan elektrik
5) Memodifikasi peralatan tata lampu
6) Mengoperasikan lighting consule selama produksi
7) Melakukan pemantauan kualitas dan efek tata cahaya selama
produksi
SK: Membuat scenic art untuk screen
1) Membuat konstruksi pakaian scenic art
2) Mempersiapkan produksi untuk scenic art
3) Membuat scenic art untuk screen
4) Memperbaiki elemen pada scenic art
5) Mebuat properti untuk layar kaca
6) Memperbaiki properti
SK: Membuat setting untuk layar
1) Mempersiapkan konstruksi setting
2) Memasang setting selama proses produksi
3) Mengatur setting selama proses produksi
SK: Merawat setting selama proses produksi
1) Merawat adanya noda dan kotoran yang menempel pada barangbarang setting
2) Memperbaiki satuan item/barang-barang setting
3) Membuat alternatif perubahan dengan barang keperluan setting
yang sejenis
4) Mengepak barang-barang setting untuk pengangkutan

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Teknik Penyiaran dan


Produksi Program Radio
SK: Memahami proses komunikasi melalui media radio
1) Mengerti dasar-dasar komunikasi
2) Mengidentifikasi proses komunikasi dan efek komunikasi media radio
3) Mengerti karakter media
SK: Mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan public
1) Memahami ruang lingkup dan fungsi kehumasan
2) Mengerti korelasi fungsional antara human relation dengan public
relation
3) Memahami tugas public relation
4) Memahami etika dalam human relation dan public relation
SK: Menjalankan wawancara
1) Merencanakan dan mempersiapkan wawancara
2) Melakukan wawancara
SK: Melakukan siaran radio on-air
1) Merencaakan program siaran
2) Menetapkan spesifikasi sound system
3) Mengerti audio output secara menyeluruh dalam produksi siaran
4) Menetapkan kebutuhan laporan langsung
5) Menjalankan siaran laporan langsung
6) Menyiarkan acaramusik
SK: Merancang format program
1) Mengenali kebutuhan pasar
2) Membuat format disain
3) Memonitor format

vi

TUJUAN PROGRAM :
Tujuan program keahlian Teknik Siaran Radio adalah
membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan
dan sikap agar kompeten dalam:
1. Prosedur kesehatan, keselamatan
dan keamanan kerja
2. Announcing Skill
3. Operating Skill
4. Musical Show
5. Menulis Naskah Siaran
6. Menulis Karya Jurnalistik
7. Teknik Wawancara
8. Siaran Reportase
9. Membuat Iklan Radio
10. Pemrograman Siaran Radio

TERIDENTIFIKASI
JENIS PEKERJAAN
PENYIARAN RADIO

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

REPORTER
PENYIAR
ANNOUNCER
JURNALIS
TEKNIK
PENULIS NASKAH
DISAINER
PROGRAMER
PROGRAM- DIRECTOR/ sutradasra
10. PRODUCER

Tujuan program keahlian Produksi Program Pertelevisian


Adalah membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan
dan sikap agar kompeten dalam:
1. Memelihara dan mengoperasikan
peralatan Produksi Program Pertelevisian
2. Mengoperasikan kamera untuk pengambilan gambar
3. Menyiapkan dan mengoperasikan sistem perekam
suara
4. Menyiapkan dan mengatur sistem pencahayaan
5. Melakukan proses editing
6. Merencanakan dan
melaksanakan produksi program
pertelevisian
7. Melakukan setting Artistik

TERIDENTIFIKASI
JENIS PEKERJAAN
PENYIARAN DAN
PRODUKSI PROGRAM
TV DAN FILM
PENYIAR/ANNOUNCER
/REPORTER/JURNALIS
TEKNIK, KAMERAWAN,
LIGHTING, SOUNDMAN,
SWITTCHER,VTR,
PEMANCAR, TELECINE
PERENCANA SENI,
SETING, NASKAH,
HUMAS,ANIMATOR
EDITOR, SUTRADARA,
PRODUCER,

vii

AKU INGIN
JADI
REPORTER
RADIO

UMUM
SISKOM
JURNALISTIK
KES. KERJA

BAB
I, II,III,VII

TEKNIK
PENYIARAN
DISAIN
DAN
PRODUKSI
PROG.
SIARAN
RADIO
BAB IV

AKU INGIN
KERJA DI
TV/FILM

TEKNIK
PENYIARAN
DISAIN DAN
PRODUKSI
PROG.
SIARAN
TV & FILM
BAB V, VI

PRAKTEK

KOMUNIKA
SI
JURNALIST
IK
KES.
KERJA

PRAKTEK
TEKNIK
SIARAN
DISAIN
PROG
PROD.
PROG
TEKNIK
RADIO

PRAKTEK
TEKNIK
SIARAN
DISAIN
PROG
PROD.
PROG
TEKNIK TV
& FILM

JURNALIS
PENYIAR
REPORTER
TEKNIK
PROGRAMER
PRODUCER
DLL

SDM TV &
FILM
PENYIAR/ANNOU
NCER
REPORTER/JURN
ALIS
TEKNIK
KAMERAWAN
SWITCHER
LIGHTING
NASKAH
EDITOR
SUTRADARA
PRODUCER
DLL

PILIH
JADI APA
?
APA SAJA
BISA

PETA DAN DIAGRAM PENCAPAIAN KOMPETENSI

viii

DAFTAR I S I
halaman
TEKNIK PENYIARAN DAN PRODUKSI PROGRAM
RADIO, TV DAN FILM
Kata Pengantar
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Program Keahlian
Peta kompetensi
Diagram Pencapaian kompetensi
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
BAB I
PENDAHULUAN
BAB. II
SISTEM KOMUNIKASI
A. Pengertian Komunikasi
B. Perkembangan Sistem Komunikasi
C. Sistem Komunikasi dengan Kawat Saluran
1. Telegraf
2. Teleprinter
3. Telepon
4. Faximile
5. Interpon
6. TV Kabel dan CCTV
a. TV Kabel
b. CCTV (Close Circuit Television)
D. Sistem Komunikasi Tanpa Kawat Penghantar (Wireless)
1. Sistem Komunikasi Radio HT (Handy Talky)
2. Sistem Komunikasi Radio Handpon (Mobile Telephone)
3. Siaran Radio (Radio Broadcast)
4. Siaran TV (TV Broadcast)
E. Komunikasi Melalui Satelit
BAB. III
JURNALISTIK PENYIARAN
A. Pengertian Jurnalistik
B. Dasar-dasar jurnalistik
1. Fungsi jurnalistik
2. Persyaratan seorang jurnalis
3. Kode etik jurnalistik
4. Informasi

iii
iv
vii
viii
ix
xiv
xv
1

3
6
11
11
13
13
16
17
18
18
20
22
23
27
30
32
39
39
40
40
41
42
45

ix

C.

D.
E.
F.

5. Jenis informasi
6. Sumber Informasi
7. Menghimpun/mencari informasi
8. Mengolah informasi
9. Menyajikan informasi
Teknik Komunikasi
1. Teknik Menyampaikan Informasi (Presentation Skill)
a. Komunikasi secara Tertulis
b. Komunikasi secara Lisan/Verbal dan Non verbal
2. Teknik Wawancara
Jurnalistik Penyiaran Radio
1. Menghimpun dan Mengolah informasi radio
2. Penyampaian informasi melalui siaran radio
Jurnalistik penyiaran TV
1. Menghimpun dan Mengolah informasi TV
2. Penyampaian informasi melalui siaran TV
Evaluasi dan Pengembangan Program
1. Evaluasi Program
2. Pengembangan program

BAB IV
PENYIARAN RADIO
A. Fungsi Siaran Radio
B. Jenis informasi pada siaran radio
C. Khalayak Sasaran siaran radio
D. Stasiun Pemancar Radio
1. Studio Pemancar Radio
2. Peralatan Studio dan Fungsinya
3. Skema hubungan dan prinsip kerjanya
4. Operating prosedure
E. Organisasi dan SDM
1. Struktur Organisasi
2. Deskripsi Tugas dan fungsi
F. Kualifikasi SDM Radio
1. Direksi
2. Program Director
3. Music Director
4. News Director
5. Producer
6. Penyiar / Reporter
7. Script Writer
8. Public Relation
9. Off Air Division
10. Pendukung
G. Teknik Siaran Radio

47
49
50
52
56
57
58
58
72
81
95
96
98
100
102
107
110
110
113
116
116
118
118
126
126
135
137
143
144
144
146
146
146
146
147
147
147
147
157
157
158
158
158

H.
I.

J.

K.

L.

1. Siaran Langsung
2. Siaran Tidak Langsung
3. Menggunakan sistem peralatan audio
Materi Program Siaran Radio
1. Merancang Format Program Siaran Radio
2. Jenis-jenis Program Siaran Radio
Merencanakan Jadwal Siaran
1. Program Harian
2. Program Mingguan
3. Jadwal Siaran Radio
Produksi Program Siaran Radio
1. Peralatan dan Bahan Produksi Audio
2. Membuat naskah program Radio
3. Teknik Rekaman Audio
4. Teknik Editing Audio
5. Mixing
6. Produksi MP3
Perpustakaan Audio
1. Program
2. Audio Music
3. Sound effect
Iklan dan Pemasaran
1. Pengertian Iklan
2. Fungsi Iklan
3. Jenis Iklan
4. Pemasaran

BAB V
PENYIARAN TV
A. Fungsi TV
B. Jenis informasi pada siaran TV
C. Kalayak sasaran siaran TV
D. Stasiun Pemancar TV
1. Studio Pemancar TV
2. Peralatan Studio TV dan Fungsinya
3. Skema hubungan dan proses kerjanya
E. Organisasi dan SDM
1. Struktur Organisasi
2. Deskripsi Tugas dan fungsi
F. Kualifikasi SDM TV
1. Producer
2. Pengarah / Sutradara
3. Penyiar / Reporter
4. Kamerawan
5. Penata Gambar / Artistik
6. Penata suara dan Sound efex

158
159
160
162
162
163
164
164
165
165
165
165
168
168
169
171
171
171
171
172
172
172
172
175
177
179
182
182
184
174
184
184
200
209
214
214
215
216
216
218
219
220
221
222

xi

G.

H.
I.
J.

K.

7. Penata Lampu
8. Tata Letak / Setting
9. Tata Busana (kostum) dan Rias
10. Properties
11. Keamanan dan Keselamatan Kerja (savety and health)
12. Animator dan images
13. Editor
14. Penulis Naskah/Script
15. Spesial efect
16. Pemeran/ Artis
Teknik Siaran TV
1. Teknik Siaran Langsung
2. Teknik Siaran Tidak Langsung
3. Prosedur Pengoperasian
4. Menjaga daya bateray dan persediaan video
Program Siaran TV
1. Format Program Siaran Televisi
2. Jenis-jenis Program TV
Merencanakan Jadwal Siaran TV
Perpustakaan Audio Visual
1. Pustaka Program
2. Pustaka Music dan Sound Efek
3. Bank Gambar
4. Buku Referensi
Produksi Program TV
1. Sarana, Biaya, Organisasi dan Pentahapan
pelaksanaan produksi
2. Penulisan Naskah Program TV
3. Produksi Program TV
4. Pengoperasian Kamera TV
5. Teknik Shooting Studio dan di luar studio
6. Lighting (Pencahayaan)
7. Editing

BAB VI
PERFILMAN
A. Pengertian Film
B. Jenis Film
C. Penyiaran Film
1. Penyiaran film melalui gedung bioskop
2. Penyiaran film melalui penyiaran TV
D. Produksi Film
1. Peralatan dan Bahan Produksi Film
2. Penulisan Naskah Film
3. Pemeran /Artis Film
E. Teknik Produksi Film

223
224
225
225
225
226
226
227
227
228
228
228
230
231
232
233
233
234
243
247
246
246
247
248
249
249
265
270
273
313
314
322
384
384
385
386
386
390
392
392
396
396
397

xii

1.
2.
3.
4.
5.

Produksi Gambar / Shooting Film


Produksi Suara
Film Procesing
Editing
Mixing / Penggabungan gambar dan suara

BAB. VII
KESEHATAN, KESELAMATAN DAN KEAMANAN KERJA
A. Pendahuluan
B. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Mengapa kesehatan dan keselamatan kerja penting
2. Fakta-fakta dasar tentang UU keselamatan kerja
3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
4. Tujuan dan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja
5. Manfaat lingkungan kerja yang aman dan sehat
6. Kerugian lingkungan kerja yang tidak aman dan
tidak sehat
7. Gangguan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja
8. Kecelakaan kerja
9. Penyakit yang diakibatkan pekerjaan
10. Stres pekerjaan
11. Pekerjaan yang rentan stres
12. Kelelahan kerja
13. Konsekuensi kelelahan kerja
C. Strategi-strategi Peningkatan
1. Memantau tingkat keselamatan dan kesehatan kerja
2. Mengendalikan kecelakaan
3. Ergonomis
4. Mengurangi timbulnya penyakit
5. Mengendalikan Stres dan kecelakaan kerja
D. Keamanan kerja kelistrikan di dalam studio penyiaran
1. Pengamanan yang terkait dengan rangkaian listrik
dan elektronika
2. Sifat kelistrikan komponen elektrik dan elektronika
3. Arti warna untuk keselamatan di tempat kerja
4. Pentanahan pada sistem kelistrikan
5. Lockout sumber listrik
6. Langkah-langkah pokok prosedur lockout
7. Tindakan pencegahan untuk keamanan listrik
8. Undang-undang dan standar listrik
Penutup
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran
1. Daftar Istilah
2. Riwayat Hidup

397
401
402
402
406
412
412
423
418
418
419
419
419
420
420
420
421
422
423
423
423
423
423
424
424
425
426
426
426
427
429
429
430
430
431
432
433

xiii

Daftar Tabel
NAMA TABEL

HALAMAN

No
Tabel
1

Jenis band frekuensi dan penggunaannya

29

Pembagian kanal/saluran TV di Indonesia

32

Struktur organisasi/daftar nama dan jabatan


salah satu stasiun penyiaran radio

144

Contoh jadwal siaran radio

165

Jenis tegangan dan resistansi pada mikropon

167

Perbandingan format artistic dan jurnalistik

233

Format jadwal acara TV

244

Acara TV jumat 5 Oktober 2007

245

Daftar peralatan dan bahan produksi

254

10

Format naskah program TV/video. Kolom


ganda

267

11

Suhu warna dari berbagai jenis filter

312

12

Lighting

320

13

Format editing script

325

14

Format file MPEG

333

xiv

DAFTAR GAMBAR
No

NAMA GAMBAR

HALAMAN

GAMBAR

Komunikasi satu arah

Komunikasi dua arah

Sistem Komunikasi

Diagram blok prinsip komunikasi satu arah

Diagram blok prinsip komunikasi dua arah

Diagram blok prinsip komunikasi

Peralatan komunikasi tradisional

Berbagai jenis peralatan telepon

Gelombang mikro merambat dalam garis


pandang (line of side) dari antene pemancar
ke antenna penerima

Sistem konunikasi melalui satelit

10

Kabel punter

10

Koaksial

10

Serat optic

10

Perangkat transmisi

10

Kebutuhan dasar komunikasi dengan


penghantar satu arah

11

Proses/prosedur pada telegraph

12

Kunci morse dan mesin telegraph

12

Sistem Telegraph

12

xv

No
GAMBAR

NAMA GAMBAR

HALAMAN

10

Pesawat teleprinter

13

11

Sistem sambungan telepon manual

14

SIstem sambungan telepon otomatis

15

Sistem hubungan telepon SLJJ

15

12

Sistem hubungan telepon

15

13

Sistem pengiriman data dengan mesin faximili

17

14

Prinsip sambungan jaringan interpon/Aipon

18

15

Sistem sambungan TV kabel

19

16

Sistem sambungan CCTV

20

17

Sistem komunikasi radio

21

18

Kebutuhan dasar Sistem komunikasi radio


satu arah

21

Komunikasi antar pesawat HT

22

Jenis pesawat HT

23

Pemanfaatan HT untuk bantuan komunikasi

23

19

Prinsip dasar komunikasi HT

23

Berbagai macam pesawat Handphone (HP)

24

Sistem hubungan komunikasi pesawat HP

25

20

Prinsip komunikasi handphone

25

21

27

22

Prinsip sederhana dari suatu sistem siaran


radio
Prinsip sederhana dari suatu sistem siaran TV

31

Antena stasiun bumi (parabola)

34

xvi

No
GAMBAR

NAMA GAMBAR

HALAMAN

Peluncuran satelit

34

Satelit yang mengorbit

34

23

Perangkat komunikasi lewat satelit

34

24

Transmisi gelombang mikro dari A ke B


dengan sistem relay secara estafet dengan
melalui satelit

35

25

Stasiun relay untuk mengatasi hambatan


komunikasi geografis yang berbukit-bukit.

36

26

Sistem komunikasi penyiaran TV melalui


satelit

27

27

Perpaduan sistem komunikasi

38

28

Prinsip penulisan berita dengan segitiga


terbalik

55

29

Prinsip presentation skills

73

30

Bung karno dan seorang tokoh dengan gaya


pidatonya menggunakan teknik presentasi

78

31

Wartawan sedang wawancara dan meliput


peristiwa

81

32

Peralatan wawancara

89

33

Wartawan sedang mewawancarai sumber


informasi

91

34

Pemandangan dalam pers conference

94

35

Wartawan di tempat kejadian perkara

95

36

Gedung station pusat penyiaran RRI

96

37

Salah satu contoh ruang studio stasiun


penyiaran radio dengan peralatannya

99

xvii

No

NAMA GAMBAR

GAMBAR

HALAMAN

38

Penyiar stasiun radio sedang siaran

100

39

Kamera TV khusus untuk studio (putih) dan


Kamera TV portable (hitam)

101

Shooting di studio

102

Shooting di lapangan

102

40

Pengambilan gambar oleh kamerawan

102

41

Kamerawan TV sedang mengambil gambar di


tempat kejadian/peristiwa

103

42

Kamerawan sedang mengambil gambar di


stadion olah raga

105

43

Kamerawan dan presenter meliput acara

106

44

Kamerawan meliput data dokumen

107

45

Prinsip penyampaian informasi TV dari


lapangan ke publik melalui satelit komunikasi

109

46

Penyiar TV sedang menyiarkan berita

110

47

Radio Penerima

116

48

Diagram blok penerima radio FM mono

117

Mendesain box untuk rangkaian pemancar


radio

127

Rangkaian pemancar radio

128

Pemancar yang siap digunakan

128

49

Proses pembuatan pemancar radio

128

50

Berbagai ruang studio pemancar radio

131

Antene Ombi

132

xviii

No

NAMA GAMBAR

GAMBAR

HALAMAN

Antene ring-O

132

Antene Ombi

132

51

Berbagai macam antene pemancar radio

132

52

Receiver radio

134

53

Berbagai peralatan transmitter radio

135

54

Peralatan stasiun pemancar radio

137

55

Diagram blok pemancar FM sistem langsung

139

56

Diagram blok pemancar FM sistem tak


langsung

142

57

Diagram blok pemancar FM stereo dengan


pilihan SCA

143

58

Reporter sedang wawancara mencari berita

147

59

Ilustrasi siaran langsung pandangan mata


HUT RI di istana Negara

159

60

Ilustrasi siaran tidak langsung pandangan


mata HUT RI di Istana Negara

160

61

Skema blok Sistem dan peralatan rekaman


audio

169

62

Transisi pada rekaman audio/musik

170

63

Berbagai ruang dan kegiatan rekaman di


studio TV

187

64

Berbagai macam ruang studio


pengendali/kontrol penyiaran TV dengan
peralatannya

188

65

Studio alam berupa taman dan rumah


tradisional

189

xix

No

NAMA GAMBAR

GAMBAR

HALAMAN

66

Setting peralatan shooting di luar studio

190

67

Ruang studio telecine

190

Komputer editing

192

Peralatan editing

192

Ruang editing

192

68

Ruang produksi/editing program dan


peralatannya

192

69

Ruang tata busana/rias

193

70

Tower, antenna parabola dan ruang pemancar

194

71

Ruang auditorium / pertunjukan

196

72

Ruang sidang / pertemuan

196

CD/DVD Software

197

Buku referensi

198

Arsip-arsip

198

73

Semua jenis software/program dan buku


referensi disimpan di perpustakaan

198

74

Ruang bengkel /perbaikan alat

199

75

Berbagai jenis kamera video/TV dan crene

201

76

Lampu studio yang dipasang tetap di plafon


dan lampu stand

202

77

Box sakelar lampu studio

203

78

Televisi monitor

204

79

Mixer/switcher video

204

xx

No

NAMA GAMBAR

GAMBAR

HALAMAN

80

Video Tape Recorder VTR dan Video Casette


Recorder Umatic

205

81

Peralatan sound sistem dan sumber-sumber


audio (PU, tape recorder dan mikropon)

206

82

Studio telecine, tempat transfer film ke video

207

83

Komputer editing program TV/video

208

84

Sistem sambungan peralatan studio TV

209

85

Sistem sambungan peralatan sound Sistem

211

86

Sistem sambungan dan proses kerja telecine

213

87

Struktur organisasi stasiun penyiaran TV


(Tipikal)

214

88

Sistem siaran TV langsung di dalam studio

229

89

Sistem siaran TV langsung di luar studio

230

90

Sistem siaran TV tidak langsung

231

91

Perpustakaan /discotiq program TV

247

92

Tempat
gambar

Bank

248

94

Bahan produksi: tape, kaset analog dan digital,


CDR

251

95

Peralatan-peralatan produksi program TV

253

96

Struktur organisasi pelaksanaan produksi


Program TV

260

97

Kamera foto film jenis rangefinder

275

98

Kamera foto film jenis SLR

276

penyimpanan

stockshoot

xxi

No

NAMA GAMBAR

GAMBAR

HALAMAN

99

Sistem optic kamera

277

100

Hasil foto satu obyek dengan framing yang


berbeda

281

Kamera Televisi/Video

292

Bagian-bagian kamera Video/TV

293

101

Kamera Televisi/video dan bagian-bagiannya

293

102

Bagian optic kamera TV

295

103

Ilustrasi vocal length

296

104

Ilustrasi standar vocal length kamera TV

297

105

Ilustrasi perbedaan penggunaan lensa zoom

298

106

Ilustrasi hubungan diaphragma dengan ruang


ketajaman

300

107

Ilustrasi hubungan jarak dengan ruang


ketajaman

301

108

Ilustrasi tabung kamera

304

109

Gerakan kamera pan left/right dan


tilt up/down

306

110

Gerakan kamera dolly in/out dan


Pedestal up/down

307

111

Gerakan kamera crab left/right dan


Crene up/down

308

112

Ilustrasi gerakan ARC left/right

309

113

Bentuk film

385

114

Sistem penyiaran film di gedung bioskop

387

115

Proyektor film. Alat untuk menayangkan film

389

xxii

No

NAMA GAMBAR

GAMBAR

HALAMAN

116

Simulasi perjalan film pada proyektor

390

117

Penyiaran film melalui stasiun pemancar TV

391

118

Sistem transfer dari film ke bentuk digital

392

119

Bermacam-macam bentuk kamera film, alat


shooting film

393

120

Bahan produksi

394

121

Lampu/pencahayaan pada produksi film

385

122

Mengejar engle yang baik

397

a
b

Roll Film
Film Copyer

402
402

Film Recorder

402

123

Mesin film copier dan film recorder

402

124

Potongan film yang dibesarkan. Perhatikan


jalur soundnya. Sistem optis (gelap terang
pada film)

406

125

Roll film

407

126

Proyektor film di ruang gelap

408

127

Jalur audio sistem magnetis 2 trax

411

128

Potongan film yang dibesarkan

412

129

Pemotongan film

412

130

Potongan film. Perhatikan perbedaan setiap


gambar. 24 gambar perdetik dalam satu frame

412

xxiii

BAB. I
PENDAHULUAN
Sekarang ini telah masuk di dalam era komunikasi, yang di
dalamnya sarat dengan penggunaan teknologi komunikasi yang makin
lama makin canggih. Oleh karena itu manusia harus bisa mengadaptasi
terhadap Iptek yang berkembang disekitar kehidupannya agar tidak
disebut orang yang ketinggalan jaman. Pepatah mengatakan bahwa
Siapa yang menguasai pengetahuan dan teknologi komunikasi serta
memanfaat-kannya dalam kehidupannya, maka dialah pemenangnya.
Perkembangan dalam teknologi komunikasi, membuat peralatan
komunikasi yang kita gunakan untuk dapat berkomunikasi dengan cepat
dan berkualitas dapat terpenuhi. Hal ini dapat dirasakan dewasa ini
dengan pemanfaatan radio, TV, telepon, fax, handphone, computer,
laptop, jaringan internet, penggunaan satelit komunikasi dan
sebagainya dapat membantu kebutuhan kehidupan manusia semakin
mudah. Hal ini membuat dunia seakan menjadi semakin sempit bahkan
tanpa jarak, sehingga orang dapat mendapatkan informasi yang sangat
cepat dan mudah dari jarak yang sangat jauh sekalipun. Indikasi
perkembangan di bidang penyedia informasi juga nampak dengan
munculnya pemancar radio swasta dan TV swasta di berbagai daerah
wilayah propinsi maupun kabupaten di seluruh Indonesia. Bahkan di
kota-kota propinsi sudah muncul beberapa TV lokal yang sama-sama
bersaing merebut pasaran pemirsanya, dengan warna sajian yang
didesain semenarik mungkin. Di masyarakat juga telah muncul banyak
sekali semacam lembaga PH (Production Hause) yang bekerja
memproduksi berbagai kebutuhan yang memerlukan keahlian dan
keterampilan produksi program TV dan iklan serta kebutuhan sejenis
lainnya baik yang bersifat bisnis maupun untuk layanan masyarakat.
Dengan kemunculan berbagai lembaga penyiaran di setiap daerah,
diperkirakan akan muncul pula aturan yang membatasi radius siarnya,
yaitu berkaitan dengan otonomi daerah dimungkinkan akan menerapkan
aturan-aturan untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya, sehingga
lembaga penyiaran harus didisain untuk bersifat lokal. Dengan kata lain
mereka yang melebihi batas radius suatu daerah, harus ada konsekuensi
pajak daerah yang dikenakan. Hal ini akan semakin memacu tumbuh dan
berkembangnya lembaga penyiaran lokal, karena lembaga penyiaran
besar yang sifatnya sudah nasional akan terhambat dengan aturanaturan daerah.
Perkembangan tersebut membuka peluang bagi tenaga kerja
bidang penyiaran yaitu penyedia informasi yang akan disajikan melalui
media komunikasi yang ada baik melalui media cetak maupun
elektronik seperti radio dan televisi. Oleh karena itu sangat tepat bila
sumber daya manusia Indonesia sebagian dipersiapkan menjadi orang
orang yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi pada umumnya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

dan secara khusus pada bidang Penyiaran dan Produksi Program Radio,
TV dan Film.
Pemerintah melalui Depdiknas telah mengembangkan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) jurusan penyiaran guna menyediakan tenaga
kerja tingkat menengah bidang penyiaran yang memiliki standar
kompetensi pada bidang penyiaran sesuai kurikulum yang berlaku.
Untuk mendukung pencapaian kompetensi tersebut perlu disediakan
buku sumber materi pembelajaran yang berisi pengetahuan tentang
sistem komunikasi, jurnalistik penyiaran, seluk beluk penyiaran dan
produksi program radio, TV dan film serta pengetahuan tentang
kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja.
Seorang tenaga kerja bidang penyiaran perlu memiliki
pengetahuan tentang sistem komunikasi dan perkembangannya mulai
dari sistem tradisional, sistem dengan kawat saluran maupun sistem
yang menggunakan gelombang radio, gelombang mikro sampai sistem
yang menggunakan satelit.
Demikian pula pengetahuan tentang
jurnalistik penyiaran yaitu pengetahuan dasar jurnalistik, jurnalistrik
penyiaran radio, TV dan film serta kemampuan
menyampaikan
informasi (Presentation Skills) secara lisan maupun tertulis, dan
pengetahuan tentang teknik wawancara. Pengetahuan-pengetahuan
tersebut akan mendukung pencapaian kompetensi sebagai seorang
jurnalis penyiaran.
Materi pengetahuan tentang penyiaran radio diharapkan
memberikan pengetahuan tentang peralatan pemancar radio dan proses
penyiarannya serta bagaimana mendisain dan memproduksi informasi
sebagai materi yang akan disiarkan melalui media radio. Pada bidang
pertelevisian dan perfilman, tenaga kerja dituntut memiliki
pengetahuan tentang peralatan studio TV dan film dan proses penyiaran
informasinya serta bagaimana mendisain program dan memproduksinya
sampai siap untuk disiarkan melalui media TV dan film. Agar dapat
bekerja dengan baik, seorang tenaga kerja perlu pengetahuan tentang
keselamatan dan kesehatan kerja pada bidang penyiaran radio, TV dan
film. Sebelum mempelajari tentang pertelevisian dan perfilman seorang
jurukamera khususnya sangat baik kalau mempelajari terlebih dahulu
tentang fotografi yang mendasari pengetahuan pengoperasian kamera
televisi dan film.
Di samping menguasai pengetahuan yang telah disebutkan, agar
memiliki kompetensi standar sebagai SDM penyiaran radio, TV dan film
siswa sangat perlu belajar melalui praktek langsung di sekolah maupun
di luar sekolah, untuk pembentukan skills dan sikap sebagai seorang
SDM penyiaran.
Akhirnya semoga apa yang disajikan ini bermanfaat bagi caloncalon SDM penyiaran maupun semua orang yang tertarik
untuk
mempelajarinya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

BAB II
SISTEM KOMUNIKASI
A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai hubungan
atau pertukaran informasi. Informasi sendiri sebagai suatu yang
akan disampaikan dapat berupa data, berita ataupun pesan yang
dilambangkan dalam bentuk simbol/tanda, tulisan, gambar ataupun
suara.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi didefinisikan
sebagai pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antar
manusia, dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga
pesan yang dimaksud dapat dipahami. Oleh karena itu dalam
komunikasi ada tiga bagian pokok, yaitu sumber informasi sebagai
pengirim; media transmisi sebagai pembawa informasi; dan tempat
tujuan informasi sebagai penerima informasi. Dengan demikian
secara umum, suatu sistem komunikasi dapat ditunjukkan seperti
Gambar 1.

Sumber
informasi

Media
transmisi

Tujuan/peneri
ma informasi

a. Komunikasi satu arah

Sumber
informasi

Media
transmisi

Tujuan/peneri
ma informasi

Tujuan/pener
ima

Media
transmisi

Sumber
informasi

b. Komunikasi dua arah


Gambar 1. Sistem Komunikasi
Sumber informasi, yaitu sumber dari informasi asli
(simbol/tanda,
gambar
ataupun
suara)
yang
akan
dikirimkan/ditransmisikan. Media transmisi, yaitu sarana untuk
menyalurkan informasi yang telah dirubah menjadi sinyal listrik
dengan melalui kawat atau gelombang radio. Sedangkan
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

tujuan/penerima informasi yaitu tempat dimana informasi asli harus


diterima.
Sedangkan telekomunikasi, berasal dari kata tele (bahasa
Yunani) yang berarti jauh, dan komunikasi yang berarti
hubungan/pertukaran informasi. Jadi telekomunikasi dapat
diartikan sebagai hubungan atau pertukaran informasi pada jarak
yang berjauhan.
Suatu pengertian yang mencakup proses, bentuk informasi
maupun media transmisinya menyebutkan, bahwa telekomunikasi
adalah setiap pemancaran, pengiriman atau penerimaan tiap jenis
tanda, gambar, suara atau informasi dalam bentuk apapun melalui
sistem kawat, optik, radio atau sistem elektromagnetik lainnya.
Dari pengertian tersebut, akhirnya dijumpai sarana komunikasi
yang sesuai dengan bentuk informasinya sebagai jasa
telekomunikasi. Seperti halnya telepon, yang berasal dari kata tele
dan phone (suara atau pembicaraan), sehingga telepon dapat
diartikan sebagai pembicaraan jarak jauh. Demikian pula istilah
telegrap yang berarti penulisan jarak jauh, televisi yang berarti
penglihatan jarak jauh dan sebagainya.
Agar dapat berlangsung proses telekomunikasi, maka informasi
asli yang masih berupa tanda, tulisan, gambar atau suara haruslah
diubah dulu menjadi suatu energi listrik atau sinyal listrik, sehingga
dapat disampaikan ke tujuan pada jarak tertentu. Selanjutnya di
tempat tujuan, energi atau sinyal listrik tersebut diubah kembali
menjadi bentuk informasi aslinya. Dengan demikian suatu hal yang
sangat penting dalam proses telekomunikasi adalah adanya
transduser, yang berfungsi sebagai pengubah dari informasi asli
menjadi bentuk sinyal yang dapat ditransmisikan atau sebaliknya.
Oleh karena itu secara umum sistem telekomunikasi pada Gambar 1
dapat digambarkan kembali dengan diagram blok sebagai berikut:

Sumber
Informa
si

Transdu
ser
(Coder)

Pengirim

Peneri
ma

Transdus
er
(Decoder
)

Tujuan
Informasi

Media
Transmisi

a. Diagram blok prinsip komunikasi satu arah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

Media
Transmisi
Sumber
Informasi

Tujuan
Informasi

Transd
user
(Coder)
Transdu
ser
(Decoder
)

Pengirim

Peneri
ma

Penerima

Pengi
rim

Transdus
er
(Decoder)

Transdu
ser
(Coder)

Tujuan
Informasi

Sumbe
r
Informa

Media Transmisi

b. Diagram blok prinsip komunikasi dua arah


Gambar 2. Diagram blok prinsip komunikasi
Untuk melaksanakan suatu sistem komunikasi dua arah, maka
alat-alat seperti pada Gambar 2 harus dibuat duplikatnya pada arah
yang berlawanan.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa untuk dapat
mentransmisi-kan informasi, maka informasi tersebut harus diubah
dulu menjadi sinyal. Sinyal sendiri pada hakekatnya merupakan
lambang yang terbentuk secara tepat dari media yang telah dipilih
sebagai transdusernya, yang biasanya dilambangkan melalui variasi
dari sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh transduser yang
bersangkutan terhadap waktu.
Bentuk sinyal dalam telekomunikasi ada 2 (dua) macam, yaitu
sinyal analog dan sinyal kode (termasuk di dalamnya ada sinyal
digital). Sinyal analog adalah sinyal listrik yang langsung mengikuti
perubahan-perubahan sesaat dari energi informasi aslinya. Sebagai
contoh, mikropon sebagai transduser yang menghasilkan suatu sinyal
listrik yang langsung mengikuti perubahan-perubahan dari energi
suara yang menggerakkan mikropon. Sedangkan sinyal kode adalah
sinyal listrik dalam bentuk kode atau tanda yang telah ditentukan
terlebih dahulu, yang berupa pulsa-pulsa atau perubahan-perubahan
dari sinyal tersebut yang dapat dimengerti oleh manusia dan
alat/mesin pada kedua sisi dari sistem komunikasi.
Akhirnya secara garis besar, sistem komunikasi dibutuhkan
untuk jasa telekomunikasi (telepon, telegrap, telex, transmisi data)
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

dan juga jasa penyiaran (berita, penerangan) dengan


mengutamakan penyiaran yang dapat didengar melalui radio atau
yang nampak mata dan dapat didengar melalui televisi.
B. Perkembangan Sistem Komunikasi
Sebelum ditemukan listrik, sistem komunikasi dilakukan
dengan cara menggunakan bunyi-bunyian ataupun tanda sebagai
isyarat dalam penyampaian informasi. Cara-cara tersebut antara
lain dengan kentongan, asap ataupun bendera (semaphore flag)
yang sampai saat ini di beberapa belahan bumi mungkin masih
digunakan.

kentongan

asap

bendera

Gambar 3. Peralatan komunikasi tradisional


Setelah ditemukan listrik, maka teknologi komunikasi mulai
berkembang. Yang semula dilakukan secara mekanis dan tradisional
berganti secara listrik, seperti halnya sistem semaphore mekanis
digantikan dengan telegrap listrik.
Di bidang telegrap, sistem yang tertua adalah sistem morse
dengan menggunakan pesawat-pesawat morse. Di mana pengiriman
telegram melalui pesawat morse dilakukan dengan mengetok tandatanda morse yang terdiri dari garis-garis dan titik. Tanda ini di
kantor tujuan dibaca oleh operator dan ditulis kembali dalam huruf
biasa untuk kemudian disampaikan kepada si alamat. Setelah itu
muncul sistem teleprinter atau menulis jarak jauh dengan
menggunakan pesawat teleprinter. Dengan pesawat teleprinter,
pengirim telegram cukup dilakukan dengan jalan mengetik seperti
mesin ketik biasa. Kemudian telegrap yang semula dengan sistem
teleprinter berkembang menjadi telex (teleprinter exchange).

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

Dalam sistem ini para pelanggan harus mempunyai pesawat


teleprinter yang dihubungkan dengan sentral telex.
Di bidang telepon juga dikenal beberapa sistem telepon.
Sistem yang tertua adalah sistem baterai setempat atau yang sering
dinamakan baterai lokal (LB = Local Battery). Dari sistem ini
kemudian dikenal adanya sistem baterai sentral (CB = Central
Battery). Pada kedua sistem (LB dan CB) masih menggunakan tenaga
operator di kantor telepon. Oleh karena itu kedua sistem tersebut
juga sering dinamakan sistem manual (manual system). Setelah itu
berkembang menjadi sistem otomat atau Sambungan Langsung Jarak
Jauh (SLJJ), yang berarti pelanggan/orang dapat langsung
berhubungan dengan orang lain dengan jalan memutar/menekan
nomor yang dipanggil tanpa melalui operator.

Gambar 4. Berbagai jenis peralatan telepon


Pada sistem-sistem komunikasi tersebut, untuk dapat
menghubungkan antar pelanggan/pemakai memerlukan berbagai
macam sarana/media yang termasuk dalam suatu bidang yang
dinamakan teknik transmisi. Dalam teknik transmisi, secara garis
besar dibagi 2 macam, yaitu:
a. Media transmisi fisik, yaitu sistem transmisi melalui kawat
penghantar (wire bounded transmission system).
b. Media transmisi non fisik, yaitu sistem transmisi tanpa kawat
(wireless transmission system) atau melalui gelombang radio.
Pada transmisi dengan kawat penghantar terbagi menjadi
saluran atas tanah dan saluran bawah tanah. Saluran atas tanah
pada awalnya menggunakan kawat terbuka/telanjang (open wire)
yang direntangkan pada tiang-tiang yang dilengkapi dengan rangka
besi dan isolator-isolator. Pemasangan isolator-isolator ini
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

dimaksudkan agar kawat-kawat tersebut tidak kontak dengan tanah


yang dapat mengakibatkan terjadinya hubungan listrik pendek
(short circuit). Kemudian dengan semakin majunya teknik
pembuatan bahan isolasi lalu menggunakan kabel untuk saluran di
atas tanah. Kabel udara ini berisi kawat-kawat rangkap yang satu
sama lain dipisahkan dengan bahan isolasi. Kabel ini sering disebut
dengan kabel berpasangan (pair cable). Sedangkan untuk saluran
bawah tanah menggunakan kabel-kabel tanah yang memang khusus
dibuat untuk saluran bawah tanah.
Teknik penyaluran dengan kabel atas tanah dan bawah tanah
adalah untuk hubungan-hubungan dalam kota. Sedangkan untuk
hubungan-hubungan antar kota dikenal adanya kabel pupin dan juga
kabel koaksial (coaxial cable).
Di samping kabel tanah, dikenal pula kabel laut, yaitu kabelkabel yang khusus dipergunakan di dalam laut, sehingga untuk ini
sistem komunikasinya disebut dengan Sistem Komunikasi Kabel
Laut (SKKL).
Terkait dengan cara untuk memanfaatkan lebar jalur/pita
media transmisi untuk mengirimkan lebih dari satu sinyal sekaligus,
dilakukan multiplexing dengan cara membagi dalam pita-pita
frekuensi atau pita-pita waktu. Cara atau sistem ini dikenal dengan
Frequency Division Multiplex (FDM) atau Time Division Multiplex
(TDM).
Sistem transmisi yang lain, yaitu sistem gelombang radio.
Dalam sistem ini, informasi yang telah dirubah menjadi sinyal listrik
disalurkan melalui gelombang radio yang dipancarkan oleh suatu
pemancar dan diterima oleh suatu alat penerima. Mengingat sifatsifatnya gelombang radio untuk keperluan telekomunikasi, maka
gelombang radio tersebut dibagi beberapa jenis. Yaitu gelombang
frekuensi tinggi (HF = High Frequency), frekuensi sangat tinggi (VHF
= Very High Frequency), frekuensi ultra tinggi (UHF = Ultra High
Frequency) dan gelombang mikro (Microwave).
Penggunaan gelombang-gelombang tersebut disesuaikan
dengan sifat-sifat gelombang yang bersangkutan. Gelombang HF
pada umumnya dipergunakan untuk hubungan yang sangat jauh,
sedangkan untuk gelombang VHF dan UHF digunakan untuk
hubungan-hubungan yang cukup jauh.
Kebutuhan akan lebar jalur yang relatif besar, maka teknologi
gelombang mikro mulai dikembangkan dan digunakan sebagai
jaringan transmisi jarak jauh. Dengan frekuensi pembawa antara 3
12 GHz, gelombang mikro merambat dalam ruang bebas dengan
ragam garis pandang (Line of Sight), baik berada di atas tanah
(terrestrial) maupun extra terrestrial, yaitu sistem komunikasi
dengan menggunakan satelit. Sistem-sistem ini berkemampuan
menyediakan lebar jalur transmisi dan keterhandalan yang
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

diperlukan untuk transmisi dari beberapa ribu saluran telepon atau


beberapa saluran televisi.

Gambar 5. Gelombang mikro merambat dalam garis pandang (line


of site)dari antena pemancar ke antene penerima.
Sistem komunikasi dengan satelit dikembangkan dan digunakan
karena selain untuk menanggulangi berkembangnya trafic
perhubungan internasional juga untuk menjangkau daerah yang luas
dan sukar dicapai. Keistimewaan/ kelebihan sistem ini ialah
diperolehnya mutu dan kemampuan telekomunikasi yang tinggi,
juga kapasitas jumlah saluran dari transpondernya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

Gambar 6. Sistem komunikasi melalui satelit


Adanya kemajuan teknologi di bidang elektronika yang begitu
pesat, sehingga berdampak pada perkembangan teknologi
telekomunikasi. Teknologi analog yang sekarang masih ada dengan
cepat akan digantikan oleh teknologi digital yang ditunjang dengan
berkembang-nya perangkat jaringan/transmisi. Transmisi optik
merupakan salah satu pilihan untuk menunjang perubahan tersebut.
Dan akhirnya pemakaian kabel serat optik untuk sistem
telekomunikasi berkembang pesat, dan secara perlahan akan
menggantikan teknologi yang selama ini masih menggunakan kabel
konvensional (kabel tembaga).
Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) digunakan karena
banyak keunggulan serat optik dibanding kabel konvensional,
bahkan juga terhadap transmisi gelombang mikro.

a. kabel punter

b. Koaksial

c. Serat optik

Gambar 7. Perangkat transmisi


Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

10

C. Sistem Komunikasi dengan Kawat Penghantar


Komunikasi dengan kawat penghantar adalah suatu sistem
komunikasi yang menggunakan kawat penghantar sebagai sarana
atau media transmisinya. Artinya kawat pengantar tersebut
berfungsi sebagai pembawa informasi yang telah diubah dalam
bentuk sinyal. Oleh karena itu kebutuhan dasar yang harus ada pada
sistem komunikasi ini adalah penguat (amplifier) sebagaimana yang
ditunjukkan pada diagram blok pada Gambar 8.
SUMBER

Informasi
asli

TUJUAN

Saluran Kawat
+ gangguan
Transdu
cer

Amplifi
-er

Amplifier

Transduc
er

+
gangguan

Informasi
yang
diterima +
gangguan

Sinyal
elektronis +
gangguan

Gambar 8. Kebutuhan dasar sistem komunikasi dengan penghantar


satu arah
Hanya yang perlu diperhatikan bila jarak yang ditempuh jauh,
maka dibutuhkan banyak penguat (amplifier) yang berfungsi sebagai
penguat sinyal.
1. Telegraph
Telegraph adalah suatu sistem komunikasi yang berkaitan
dengan proses pengiriman dan reproduksi dari suatu dokumen dalam
bentuk tulisan dan gambar antar tempat yang berjauhan. Atau
dapat juga diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan salinan
dari informasi apapun dalam bentuk yang telah ditentukan.
Dalam prosesnya, huruf, angka dan simbol diberi kode dan
diubah ke dalam bentuk sinyal-sinyal listrik yang kemudian dikirim
melalui saluran transmisi (kawat penghantar). Di tempat
tujuan/penerima, sinyal tersebut diubah kembali ke dalam bentuk
informasi aslinya. Proses atau prosedur tersebut seperti
diperlihatkan pada Gambar 9.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

11

Saluran
transmisi

Ujung pengirim

Huruf

Kodifikasi
Baca

Informasi

Pengirim
Pindah
sinyal
listrik

Penerima

Ujung penerima

Dekodifi
kasi

Transmisi

Huruf
Terjemahan
Informasi

a. Proses/prosedur pada telegraph

b. Kunci morse dan mesin telegraph


Gambar 9. Sistem Telegraph
Suatu rangkaian telegraph adalah suatu kumpulan sistem
komunikasi yang terdiri dari sumber tenaga, pesawat pengirim,
saluran transmisi dan pesawat penerima.
Pada sisi pengirim informasi yang berupa huruf/tulisan dibaca
dan diterjemahkan kedalam bentuk kode/simbul. Terdapat
bermacam-macam kode yang digunakan seperti kode Morse,
Undulator, Semaphore, Baudot dan sebagainya, tetapi kode morse
yang paling banyak digunakan. Setelah diterjemahkan ke dalam
kode morse yang terdiri dari gabungan titik dan garis (dot and
dash), lalu diubah menjadi sinyal listrik oleh kunci Morse yang
berfungsi sebagai skakelar yang bekerja membuat arus listrik
mengalir dan tidak mengalir. Lama waktu mengalir dan tidak
mengalir disesuaikan dengan kode Morse. Titik berarti ada arus
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

12

dengan waktu pendek ( 1 detik) dan garis berarti ada arus dengan
waktu panjang (3 detik) dan jarak antara kode huruf yang satu
dengan yang lainnya adalah disebut spasi dengan waktu tidak ada
arus dengan waktu 3 detik. Sinyal-sinyal tersebut dikirimkan ke
stasiun penerima melalui transmisi kawat (kabel).
Pada sisi penerima, sinyal telegraph diterima oleh mesin telegraph
dan secara magnetis dan mekanik dapat dicetak pada kertas dalam
bentuk kode morse. Selanjutnya diterjemahkan kembali kebentuk
huruf dan informasi dapat dibaca dan ditulis lalu disampaikan ke
alamat sasaran yang di tuju.
2. Teleprinter
Teleprinter merupakan alat komunikasi tertulis elektronik jarak
jauh yang dipergunakan pada jasa telekomunikasi dalam bentuk
Telex (Teleprinter exchange). Telex merupakan suatu sistem
telegrap yang memungkinkan para pelanggan untuk sewaktu-waktu
dapat saling berhubungan dengan menggunakan pesawat teleprinter
melalui jaringan telegrap. Dengan kata lain, hubungan telex
merupakan pertukaran informasi jarak jauh dalam bentuk tulisan.

Gambar 10. Pesawat Teleprinter


3. Telepon
Yang dimaksud dengan telepon adalah suatu sistem
telekomunikasi untuk meneruskan pembicaraan dalam bentuk suara
pada jarak yang berjauhan. Prinsip dasar telepon adalah gelombang
suara diubah menjadi gelombang/ sinyal listrik oleh mikropon, yang
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

13

diteruskan melalui kabel dan di tempat tujuan diubah kembali


menjadi gelombang suara.
Telepon adalah jawaban yang tepat bagi masalah waktu, jarak
dan tempat. Dengan telepon, hubungan yang cepat, tepat dan
efisien ke segala penjuru dapat terpenuhi.

Kantor Telepon
(operator )

Gambar 11. Sistem sambungan telepon manual


Pada sistem telepon manual, pelanggan menelpon operator
dikantor telepon dan minta disambungkan ke nomor tujuan.
Pelanggan
dan nomor tujuan baru bisa berbicara/komunikasi
setelah operator menghubungkan kontak hubungan dari terminal
pelanggan ke terminal nomor tujuan.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

14

STO

Stasiun Telepon
Otomatis

a. Sistem sambungan telepon otomatis.

Asal

Pengarah
STO asal

Pengarah
SLJJ
tujuan

Register
SLJJ asal

Selektor
STO

Tujuan
b. Sistem hubungan telepon SLJJ
Gambar 12. Sistem hubungan telepon

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

15

Dari kota asal sinyal yang dikirim dari telepon pelanggan


diarahkan oleh mesin STO asal dan diteruskan kemesin register
untuk disimpan dan diteruskan melalui jaringan ke mesin Pengarah
SLJJ tujuan untuk diarahkan ke jaringan lokal tujuan sampai
hubungan terlaksana. Selanjutnya diteruskan ke mesin selektor STO
tujuan dan disambungkan ke nomor tujuan.
Pada sistem telepon otomatis, operator di kantor telepon
otomatis digantikan mesin switching otomatis yang dapat
digerakkan oleh sinyal yang dikirim oleh pelanggan pada waktu
menekan/memutar tombol/dial pada pesawat telepon. Dengan
demikian pelanggan langsung dapat berkomunikasi dengan nomor
tujuan secara otomatis tanpa bantuan operator. Karena banyaknya
sambungan telepon pelanggan dan luasnya daerah operasional
telepon, maka dibangun mesin switching yang di tempatkan disetiap
daerah secara bertingkat sehingga memungkinkan menjangkau
sasaran yang banyak dan luas.
4. Faximile
Mesin Faxsimile adalah mesin yang dapat merubah data
/tulisan/gambar yang ada di kertas menjadi data elektrik dengan
proses scaning seperti pada mesin fotokopi. Oleh karena itu mesin
faximile juga dapat digunakan sebagai fotokopi. Data elektrik
didapat dikirimkan ke tujuan dengan menggunakan jaringan
telepon.
Proses pengiriman dilakukan dengan cara menelpon nomor
telepon tujuan untuk memberitahukan bahwa akan mengirim fax.
Nomor tujuan menghidupkan mesin fax dan menunggu sampai
proses pengiriman selesai. Data tercetak di kertas sama persis
dengan data yang dikirimkan oleh pengirim.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

16

STO

fax

fax

Gambar 13. Sistem pengiriman data dengan mesin faximile


5. Interphone
Interphone adalah salah satu sistem komunikasi melalui kawat
yang sederhana dengan kapasitas terbatas. Sistem ini berguna untuk
lingkungan kecil, dengan fasilitas yang dapat untuk komunikasi
intern dan extern. Pesawat ini juga dapat berfungsi sebagai
intercome (sambungan dalam satu lingkungan).

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

17

jaringan

amplifier

Mic

amplifier

amplifier

amplifier

amplifier
loudspeaker

Gambar 14. Prinsip sambungan jaringan interphone/Aipon


6. TV Kabel dan CCTV (Close Circuit Television)
a. TV Kabel.
TV Kabel adalah sistem penyampaian informasi TV dengan
jarak dekat (lokal). Sistem ini di Indonesia berkembang di
masyarakat sebelum TV Swasta bermunculan, sehingga acara TV
banyak didominasi oleh TVRI dan salah satu TV Swasta saja. Dengan
adanya penggunaan satelit (palapa), maka berkembang pula
penggunaan antene parabola dan unit penerima satelit. Disamping
untuk memenuhi kebutuhan individu untuk keperluan rumah tangga
ada pula yang memanfaatkan TV kabel ini untuk kepentingan usaha
hiburan bagi masyarakat secara terbatas. Sistem ini juga digunakan
untuk mengatasi daerah blank (sulit menerima siaran TV akibat
geografis). Hal yang menjadi daya tarik bagi masyarakat adalah
dapat menerima variasi siaran TV bahkan bisa menikmati siaran TV
dari negara lain seperti Malaysia, Amerika, RRT dan sebagainya.
Suatu usaha membuat variasi siaran yang ditayangkan, pusat
TV kabel dapat menyediakan acara dari sumber lain yaitu dari VTR
misalnya rekaman film, music dan sebagainya. Dengan penambahan
kamera video pusat TV kabel bisa melakukan siaran langsung acaraacara untuk dinikmati bersama.
Sistem sambungan TV Kabel secara sederhana dapat dilihat
pada Gambar. 15. sebagai berikut.
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

18

Sinyal dari Satelit

Feeder

RF IN

VTR
RF OUT

LNB

Parabola dan Satelit Receiver


Gambar 15. Sistem sambungan TV kabel
Sinyal TV gelombang mikro yang dikirimkan oleh stasiun bumi
diterima
satelit dan dipancarkan kembali ke Bumi dan diterima
oleh antena parabola dipilih/ditala oleh bagian penala unit
penerima satelit. Sinyal yang masih lemah ini diperkuat oleh unit
LNB (low noise block) dan diteruskan ke unit penerima satelit untuk
di deteksi sinyal TV nya. Sinyal TV dikeluarkan melalui RF unit
sehingga memiliki frekuensi saluran yang sesuai. Selanjutnya
disalurkan ke TV penerima melalui jek RF out dengan menggunakan
kabel koaksial. Untuk keperluan penyaluran ke rumah-rumah
pelanggan, dapat menggunakan sambungan pararel dengan
menggunakan koaksial. Dalam penyaluran dengan kawat penghantar
ini perlu memperhaltikan drop potensial akibat penampang dan
panjang kabel yang digunakan. Untuk penggunaan kabel koaksial
jenis RGB, paling panjang 100 yard (90m) atau maksimum satu rol
harus diperkuat dengan unit boster penguat sinyal (UHF amplifier)
supaya sinyal TV dapat diterima dengan kualitas yang baik.
Untuk membuat variasi siaran bisa dilakukan sebagai berikut.
Pertama, dengan mengganti Horn pada parabola dari yang satu arah
menjadi dua arah (vertikal dan horisontal), sehingga bisa menikmati
acara dua stasiun pemancar TV yang dapat disalurkan ke pelanggan.
Kedua, Menambah unit VTR/VCR (video tape/casete recorder) atau
VCD/DVD player untuk memutar rekaman film, music dan
sebagainya sesuai permintaan dan kesenangan pelanggan. Ketiga,
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

19

dengan menambah unit Kamera video untuk meliput siaran langsung


acara-acara kegiatan yang penting di wilayah itu. Misalnya pilkada,
panggung gembira, pentas seni dan sebagainya.
b. CCTV (Close Circuit Television)
CCTV adalah system sambungan komunikasi terbatas, untuk
keperluan yang terbatas pula. Peralatan CCTV terdiri dari kamera
video, VTR (video tape recorder) dan TV monitor. CCTV banyak
digunakan untuk pengamanan di toko-toko swalayan, kantor-kantor,
perusahaan/pabrik dan sebagainya. CCTV juga dimanfaatkan untuk
keperluan pendidikan guna mengatasi jumlah murid yang banyak
dan kelas pararel, sehingga memerlukan ruangan yang luas. Dengan
menggunakan CCTV seorang guru mengajar sekaligus untuk semua
dengan cara setiap ruangan sudah dilengkapi dengan TV monitor dan
kamera sehingga memungkinkan terjadi komunikasi antara guru
dengan para siswa di setiap ruangan.
Sistem sambungan dasar CCTV dapat dilihat pada Gambar 16
sebagai berikut

ARTIS

VTR

TV

Gambar. 16. Sistem sambungan CCTV


D. Sistem Komunikasi Tanpa Kawat Penghantar
Yang dimaksud dengan komunikasi tanpa kabel (wireless) adalah
suatu sistem komunikasi yang menggunakan gelombang radio sebagai
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

20

media transmisinya. Artinya, gelombang radio digunakan sebagai


pembawa informasi yang telah diubah dalam bentuk sinyal.
Dalam sistem ini yaitu, sebuah pemancar (transmitter)
yang memancarkan dayanya melalui antena ke arah tujuan dalam
bentuk gelombang elektromagnetik. Di tempat tujuan, gelombang
elektromagnetik ini ditangkap oleh antena pesawat penerima
(receiver), sebagaimana seperti yang ditunjukkan pada Gambar
berikut ini.

Pemancar

Penerima

Gambar 17. Sistem komunikasi radio


Adapun kebutuhan dasar yang harus ada pada sistem
komunikasi radio ini ditunjukkan seperti pada Gambar 18 berikut.
PEMANCAR

PENERIMA

Hubungan
radio +
gangguan
Antena
Pemancar

Antena
Penerima

SUMBER
Transducer

TUJUAN

Amplifier

Amplifier

Informa
si asli
Transmiter

Receiver

Transducer

Informasi
yang
diterima +
gangguan

Sinyal
elektronis +
gangguan

Gambar 18. Kebutuhan dasar sistem komunikasi radio satu arah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

21

Yang perlu diperhatikan, gelombang radio mempunyai


spektrum, frekuensi yang terbagi dalam beberapa daerah (band),
juga sifat-sifat perambatannya, maka penggunaannya bergantung
pada kebutuhan dan sistem komunikasinya.
1. Sistem Komunikasi Radio HT (Handy Talky)
Pesawat radio HT sampai saat ini masih banyak digunakan
untuk bantuan komunikasi. HT digunakan untuk komunikasi dengan
jarak terbatas antar pesawat secara langsung.
Radius jarak
jangkaunya tergantung power pesawatnya. Namun untuk
memperjauh jangkauan bisa dilaksanakan dengan menambah
power/ Boster dan antene luar yang relatip tinggi dan terarah.
Radio HT dengan panjang gelombang 2 meter banyak digunakan
Satpam, Polisi, anggota ORARI. Radio antar Penduduk RAPI banyak
menggunakan pesawat radio dengan panjang gelombang 80 meter
dengan jangkaun antar pulau.

a. Komunikasi antar pesawat HT

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

22

b. Jenis Pesawat HT

c. Pemanfaatan HT untuk bantuan komunikasi


Gambar 19. Prinsip dasar komunikasi HT
2. Sistem Komunikasi Handpone (Mobile Telephone)
Berbeda dengan HT, Handpon atau telepon bergerak tidak
dapat komunikasi secara langsung antar pesawat , meskipun dengan
jarak yang berdekatan. Sistem komunikasi Handphon harus melalui
stasiun yang berfungsi sebagai provider.
Dalam perkembangannya terdapat dua sistem komunikasi yang
berkembang juga di Indonesia yaitu GSM (Global system For Mobile
Comunication) dan CDMA (Code Division Multiple Access). Sistem
GSM dikembangkan oleh Amerika dan CDMA dikembangkan oleh
Eropa.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

23

GSM pertama kali berkembang di Eropa th 1991 dan pada th


1993 berkembang ke Amerika selatan, Asia dan Australia. Arsitektur
GSM terdiri 3 subsistem yang terhubung dan berinteraksi antar
sistem dan dengan pengguna melalui interface Network. Ketiga sub
sistem tersebut adalah BSS (Base Station Subsystem), NSS (Network
and Switching System) dan OSS ( Operation Support System). BSS
merupakan subsistem radio yang berfungsi sebagai penyedia dan
pengatur jalur transmisi radio antara MS dengan MSC, dan untuk
mengatur interface radio antara MS dengan subsistem lain dalam
jaringan GSM. Setiap BSS terdiri dari beberapa BSC yang berfungsi
menghubungkan MS ke NSS melalui MSC. Sedangkan NSS digunakan
untuk mengatur fungsi switching dari sistem yang menjamin MSC
dapat berkomunikasi dengan jaringan sistem lain seperti PSTN, ISDN
dan Jaringan Data. Fungsi operasi dan perawatan secara
keseluruhan sistem GSM dikontrol oleh OSS yang dapat dimonitor,
dianalisis dan dilakukan troubleshooting oleh seorang enginer.
Diagram blok sistem GSM dapat dijelaskan seperti Gambar
berikut.

a. Berbagai macam pesawat Handphone (HP)

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

24

BSS

BTS

BTS

BSC

BSC

MSC

PS
TN

MS

NSS
SDN
Data Network

BSS

OSS

OSS

MSC

PS
TN

NSS
MS
ISDN
Data Network

b. Sistem hubungan komunikasi pesawat Handphone


Gambar 20. Prinsip komunikasi handphone
Keterangan :
MS ( Mobile Station) ; BTS (Base Tranceiver Station) ; BSC (Base
Station Controller ) MSC (Mobile Switching Centre); PSTN (Public
Switch Telepone Network).
MS akan berkomunikasi dengan BSS (Base Station Subsystem)
yang terdiri dari beberapa BSC dan BTS yang terhubung dalam satu
MSC melalui antar muka (interface) radio . Setiap BSC bertugas
mengontrol ratusan BTS yang tersebar di daerah layanan operator.
Hubungan jaringan antara BTS dengan BSC melalui gelombang mikro.
Proses komunikasi dua BTS dalam satu BSC dikontrol oleh BSC itu
sendiri tanpa melibatkan MSC.
Dalam waktu yang bersamaan
yaitu mulai th 1995
diperkenalkan teknologi telepon selular CDMA. Teknologi yang
menggunakan sistem multiple access sehingga dapat mendukung
pengguna dengan jumlah besar untuk saling berbagi ruang kanal
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

25

radio dan sembarang pengguna dapat memperoleh access ke


sembarang kannal radio.
CDMA menggunakan kode digital (Pseudo-Random Code
Sequences) untuk membedakan pelanggan yang di-share ke MS
maupun base station, sehingga semua pelanggan
membagi
spectrum radio dengan range yang sama.
CDMA juga menggunakan sistem penyebaran multiple
access yang disebut Direct Sequence CDMA (DSCDMA), sehingga
tiap pelanggan mendapatkan kode direct sequence biner sepanjang
proses pemanggilan. Kode tersebut adalah sinyal yang dibangkitkan
oleh modulasi linier dengan sequence psedorandom noise wideband
yang menghasilkan penggunaan sinyal yang lebih lebar dibanding
aplikasi yang digunakan teknologi yang lain. Di samping itu didisain
tidak peka terhadap interferensi.
Dalam sistem CDMA proses pengkodean pada link radio dari base
station ke mobile station dilakukan dengan cara penambahan kode
pseudorandom khusus pada sinyal periodic, sehingga base station
dapat membedakan dirinya dengan base station yang lain pada
selang waktu tertentu. Dengan demikian
sistem CDMA telah
disinkronisasikan dengan referensi waktu yang umum digunakan.
Yaitu yang bersumber dari Global Posisioning System (GPS) yang
merupakan sistem navigasi radio berbasis pada konstelasi satelit.
Karena sistem GPS dari satelit yang mengorbit di luar angkasa
mengkover bumi, maka sistem GPS ini menyediakan metode siap
pakai untuk menentukan posisi dan waktu yang diperlukan semua
receiver yang ada.
Penyebaran kanal pada CDMA yaitu terdiri dari kanal-kanal :
Forward.
digunakan untuk komunikasi dari cell ke mobile,
membawa trafik dan sinyal informasi overhead yang membangun
sistem waktu dan identitas station. Kanal overhead terdiri dari
kanal pilot, kanal sinkronisasi, kanal paging dan kanal trafik
forward yang membawa sinyal panggilan telepon, suara dan
informasi control daya mobile dari base station ke unit mobile ;
Kanal Reverse. Digunakan komunikasi dari mobile ke cell. Kanal ini
membawa trafik dan signaling. Kanal ini hanya akan aktif selama
penggilan ke mobile station terhubung, atau signaling kanal access
yang terhubung. Kanal access. Bila unit mobile tidak aktif, maka
akan terbentuk komunikasi ke base station melalalui kanal access.
Kanal ini dipasangkan dengan kanal paging yang saling berhubungan;
Kanal Trafik Reverse. Membawa setengah bagian yang lain dari
panggilan telepon, suara dan informasi control daya mobile dari
unit mobile ke base station.
Dari aspek teknologi sistem GSM maupun CDMA
merupakan teknologi standar selular digital.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

26

3. Siaran Radio ( Broadcast)


Pada siaran radio, yang ditransmisikan/dipancarkan adalah
hanya sinyal suara (audio). Oleh karena itu proses komunikasinya
dapat digambarkan seperti diagram blok sebagai berikut.
PEMANCAR

PENERIMA

antena
Amplifier

Mikro
pon

Modula
tor

Osilator
RF

Tuner

Detek
tor

Amplifi
er

Osilator lokal

speaker

Gambar 21. Prinsip sederhana dari suatu sistem siaran radio


Pada stasiun pemancar sinyal suara diproduksi oleh mikropon
yang berfungsi sebagai tranduser, yaitu mengubah energi suara
(audio) menjadi energi listrik (sinyal suara) dengan frekuensi
maksimum 20 KHz (AF = audio Frequency). Selanjutnya sinyal suara
diperkuat oleh rangkaian penguat (amplifier) yang berfungsi sebagai
penguat sinyal suara sehingga memiliki energi yang cukup untuk
rangkaian elektronika selanjutnya. Sinyal suara yang telah diperkuat
selanjutnya dicampur dengan gelombang pembawa (carier wave)
frekuensi radio (RF) yang diproduksi oleh rangkaian Osilator RF.
Proses Pencampuran (mixing) sering disebut modulasi dilakukan oleh
rangkaian modulator yang berfungsi sebagai mixer dan penguat daya
sehingga sinyal modulasi memiliki energi yang cukup besar dan
mampu merambat /meradiasi / memancar di udara melalui antena
pemancar dengan jarak pancar sesuai energi yang dimilikinya.
Dengan kata lain jarak pancar gelombang tergantung dari besarnya
energi gelombang tersebut.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

27

Gelombang RF yang telah dipancarkan antena pemancar ke


udara, diterima oleh antena radio penerima yang berfungsi
menerima semua gelombang radio. Oleh rangkaian Tuner (penala)
gelombang-gelombang radio tersebut dipilih satu gelombang saja
yaitu yang berresonansi dengan frekuensi gelombang yang dihasilkan
oleh rangkaian penala (frekuensi gelombang radio = frekuensi
gelombang penala). Gelombang tersebut merupakan gelombang
yang modulasi antara gelombang/sinyal suara dan gelombang
pembawa. Setelah mengalami penguatan melalui rangkaian
penguat, gelombang tersebut diteruskan ke rangkaian demodulasi
untuk mendeteksi/ memisahkan gelombang suara dan gelombang
pembawa yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Proses demodulasi
dengan menggunakan sistem pencampuran dengan gelombang
frekuensi
bandingan dari rangkaian osilator lokal. Hasil
pencampuran/bandingan
tersebut
menghasilkan
gelombang
frekuensi menengah sekitar 455 KHz. Selanjutnya gelombang ini
dimasukkan ke rangkaian detector untuk memisahkan frekuensi
tinggi dengan frekuensi suaranya. Karena gelombang yang masuk
ada dua sisi, yaitu sisi atas dan sisi bawah maka pada rangkaian ini
yang diambil hanya satu sisi dengan menggunakan rangkaian
penyearah (diode). Proses pemisahan frekuensi menggunakan
prinsip bahwa arus listrik lebih mudah mengalir melalui hambatan
ohm yang lebih kecil. Nilai ohm yang diperoleh dari komponen
kumparan (XL) berbeda dengan komponen kondensator (Xc). Xl = 2
f L sedangkan Xc = 1/ (2 f c). Dari rumus tersebut jelaslah
bahwa listrik dengan frekuensi tinggi akan lebih mudah mengalir
melalui kondensator C dari pada melalui kumparan L . Oleh karena
itu rangkaian detektor menggunakan dasar tersebut, sehingga
frekuensi tinggi yang sudah tidak diperlukan dibuang ke ground
melalui kondensator dan frekuensi suara diteruskan melalui
kumparan L ke rangkaian penguat. Setelah diperkuat beberapa kali
sehingga sinyal tersebut memiliki power yang cukup untuk
menggerakkan membran speaker yang berfungsi sebagai tranduser
yaitu mengubah energi listrik menjadi energi suara. Suara yang
dihasilkan sama dengan suara yang diucapkan didepan mikropon
pada pemancar radio.
Berkaitan dengan penggunaan besarnya frekuensi pembawa
sinyal suara yang digunakan dalam system pemancar dan penerima
radio, maka dapat dibuat klasifikasi frekuensi seperti pada Tabel. 1.
berikut ini.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

28

Tabel 1. Jenis Band Frekuensi dan Penggunaannya


Jenis/Na
ma
Band
Freq
VLF (Very
Low
Freq. )
LF (Low
Freq)

Band
Panjang
Frequenc Gelomba
y
ng
(f)
()
3 Hz 30
KHz
108-104 m

Transmisi
Yang
digunakam
Serat optik,
laser

Transmisi data

104-103 m

Pengarah
gelom bang,
gelom- bang
mikro

Rastronomi,
radar, komunikasi
antariksa,
transmisi
gelombang mikro
Radar, Satelit dan
komunikasi
antariksa,
transmisi
gelombang mikro
TV UHF, Radio
CB, Radar, Radio
jarak pendek,
komunikasi
militer
TV VHF, radio FM,
sarana navigasi

30300KHz

MF
(Midium
Frequenc
y)

300KHz
3 MHz

HF
(High
Freq)

3 30MHz

VHF
(Very
High Freq
)
UHF
(Ultra
High Freq
)
SHF
(Super
High Freq
)
EHF
(Extreme
ly High
Freq )

1000100
m

Pengarah
gelom bang,
gelom- bang
mikro

Pengarah
100 10 gelom bang,
m
gelom- bang
pendek

30MHz
10 1 m
300 MHz

Kabel
koaksial,
gelombang
pendek
300MHz 100 10 Kabel
3 GHz
cm
koaksial,
gelombang
pendek
3GHz
10 1 cm Kabel
30GHz
koaksial,
gelombang
panjang
30GHz
10 1 mm Kabel kawat
ganda,
300 GHz
gelom-bang
panjang

Sri Sartono

Kegunaan

Radio amatir,
telepon mobil,
komunikasi
militer, radio CB
Pemancar
AM,
Radio amatir
Radio suar dg
navigasi,
pemancar
dg
nada
dan
frekuensi standar

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

29

Ultra
Ungu
Cahaya
Tampak
Infra

1014 1016
Hz

3.10-4
Kabel kawat
3.10-6 cm ganda,
gelom-bang
panjang

Audio, telepon,
transmisi data,
navigasi jarak
jauh

Merah
Gelombang radio memiliki sifat mendekati cahaya. Dengan
demikian akan merambat lurus dan dapat dipantulkan. Cepat
rambat gelombang (V) adalah 300.000 meter/detik. Hubungan
antara Cepat rambat V, Frekuensi f dan panjang gelombang
adalah : = V / f .
4. Siaran Televisi
Pada sistem televisi, ada tiga bagian yang saling terkait, yaitu
studio TV, pemancar TV dan penerima TV. Adapun sinyal yang
dipancarkan / ditransmisikan adalah sinyal suara (audio) dan
gambar (video). Diagram blok prinsip dari suatu sistem siaran
televisi dapat digambarkan secara diagram blok

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

30

Antena pemancar

Sumber
pembawa
video

Saluran
Kamera
Penguat

Penguat
video

video

Penguat
daya

Modulator video

ttelevisi
Unit
penggabung
Saluran

Penguat
suara

Mikrofon

Penguat
suara

Studio televisi

Modulato
r suara

Penguat
daya

Sumber
pembaw
a suara

Stasiun pemancar
TV

Antena penerima

Penguat
video

Loudspeaker
Tabung TV
Penguat
R.F.

Detektor

Penguat
suara

Penerima Televisi (sederhana)

Gambar 22. Prinsip sederhana dari suatu sistem siaran televisi


Di dalam Studio TV, gambar kejadian ditangkap oleh Kamera
TV yang sebagai tranduser yang merubah energi cahaya menjadi
energi listrik (sinyal gambar/video). Sedangkan suara ditangkap oleh
mikropon yang berfungsi sebagai tranduser yaitu merubah energi
suara menjadi energi listrik (sinyal audio/suara). Keluaran (output)
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

31

dari kamera dan mikropon yaitu sinyal video dan sinyal audio
dihubungkan ke Video Tape Recorder (VTR) untuk direkam dan atau
secara langsung disalurkan ke unit pemancar TV.
Pada unit pemancar TV, sinyal Video diperkuat oleh rangkaian
penguat video dan selanjutnya dimodulasikan dengan gelombang
pembawa video yang diperoleh dari rangkaian pembangkit
gelombang pembawa video. Selanjutnya sinyal modulasi video
diperkuat oleh rangkaian penguat daya agar memiliki daya yang
cukup besar. Sedangkan sinyal audio diperkuat oleh rangkaian
penguat audio dan dimodulasikan dengan gelombang pembawa
audio yang diperoleh dari rangkaian pembangkit gelombang
pembawa audio. Selanjutnya sinyal modulasi audio diperkuat oleh
rangkaian penguat daya audio agar memiliki daya yang cukup besar.
Setelah sinyal modulasi audio dan video memiliki daya yang cukup
keduanya digabungkan pada rangkaian unit penggabung dan
dipancarkan oleh antena pemancar ke udara.
Pada penerima TV, sinyal gabungan audio dan video yang
dipancarkan ke udara ditangkap oleh antena penerima TV setelah
melalui penalaan sesuai prinsip frekuensi resonansi. Selanjutnya
diperkuat oleh rangkaian penguat RF dan di deteksi oleh rangkaian
detector untuk dipisahkan dari frekuensi pembawanya. Sinyal video
selanjutnya diperkuat oleh rangkaian penguat video dan dikirim ke
tabung gambar TV yang berfungsi sebagai tranduser yang merubah
energi listrik menjadi energi cahaya (gambar) kembali dengan
sistem scaning (perabaan). Demikian pula sinyal audio diperkuat
oleh rangkaian penguat audio dan dikirim ke loadspeaker yang
berfungsi sebagai tranduser yaitu merubah energi listrik menjadi
energi audio kembali. Dengan demikian audio dan gambar kejadian
di dalam studio dapat dilihat pada pesawat penerima TV.
Sehubungan dengan banyaknya stasiun pemancar TV, pesawat
penerima TV telah didisain dengan menyediakan saluran atau kanal.
Untuk pesawat TV yang lama terdapat 8 12 saluran, tetapi untuk
pesawat TV yang baru telah menyediakan sampai 100 saluran.
Pembedaan saluran ini dimaksudkan agar tidak ada saling
interferensi dari stasiun pemancar. Pembagian saluran TV di
Indonesia dapat diperhatikan pada Tabel 2. sebagai berikut.
Tabel. 2. Pembagian Kanal / Saluran TV di Indonesia
Band

No. Saluran

Frek.
Saluran
(MHz)

Frek Gel
Pembw
Video (MHz)

Frek Gel
Pembw
Audio (MHz)

43 50

44,25

49,75

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

32

54 61

55,25

60,75

61 68

62,25

67,75

III

174 181

175,25

180,75

III

181 - 188

182,25

187,75

III

188 - 195

189,25

194,75

III

196 202

196,25

201,75

III

202 - 209

203,25

208,75

III

209 - 216

210,25

215,75

E. Komunikasi Melalui Satelit


Satelit Komunikasi adalah perangkat yang diluncurkan ke orbit
geostasioner bumi dan perangkat ini berfungsi untuk menerima
gelombang informasi yang telah dimodulasi dengan gelombang
mikro yang dikirimkan oleh stasiun bumi, dan memancarkan kembali
ke stasiun bumi-stasiun bumi lain. Dengan demikian satelit dapat
dikatakan sebagai reflektor gelombang mikro. Satelit digunakan
dalam sistem komunikasi untuk memperluas jangkauan daya pancar
stasiun pemancar radio maupun televisi, bahkan juga digunakan
pada sistem komunikasi telepon dan data-data yang lain.
Dalam hal usaha memperluas jangkauan dengan menggunakan
gelombang mikro ada dua cara yaitu:
Pertama, dengan membangun stasiun relay (Link Station) pada
setiap daerah dan gelombang mikro dipancarkan secara estafet dari
stasiun pemancar pusat sampai daerah. Sistem ini banyak kendala,
karena harus membangun stasiun relay dengan jumlah banyak dan
dengan ukuran tower antene yang tinggi sehingga tidak ekonomis.
Di samping itu juga hambatan geografis sangat besar, karena sifat
dari gelombang mikro seperti cahaya sehingga untuk penyalurannya
harus line of side. Kedua, dengan menggunakan satelit yang
diluncurkan ke orbit dan refleksinya diarahkan dapat mengarah ke
bagian bumi tertentu. (satelit Palapa refleksinya dapat mengkover
wilayah sebagian Asia Tenggara, Asean dan sebagian Australia).
Dalam sistem ini Gelombang mikro yang membawa informasi
dikirimkan dari stasiun bumi pusat ke arah satelit, diterima satelit
dan dipancarkan kembali ke bumi setelah mengalami penguatan.
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

33

Selanjutnya diterima oleh stasiun bumi di setiap daerah untuk di


salurkan ke masyarakat sasaran.
Peluncuran satelit menggunakan tenaga peluncur yang sangat
besar dan satelit dibawa menggunakan roket. Gambar berikut
menunjukkan antena stasiun bumi , peluncuran roket pembawa dan
satelit komunikasi.

a. Parabola

b. Peluncuran Satelit

c. Satelit yang sedang mengorbit


Gambar 23. Perangkat komunikasi lewat satelit

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

34

BUMI

Gambar 24. Transmisi gelombang mikro dari A ke B dengan sistem


relay secara estafet dengan melalui satelit.
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

35

Andaikata tidak ada satelit, agar A dapat berkomunikasi


dengan B secara Langsung , maka diperlukan antena gelombang
mikro dengan tower setinggi ratusan kilometer. Hal ini dapat
dijelaskan melalui Gambar 24 diatas

Gambar 25. Stasiun Relay untuk mengatasi hambatan geografis


yang berbukit-bukit
Telah diketahui bahwa satelit berfungsi sebagai reflektor
Gelombang Mikro. Dengan demikian dapat dimanfaatkan untuk
semua sistem komunikasi yang menggunakan gelombang mikro, baik
itu TV, Radio, Telepon maupun pengiriman data-data yang lain.
Sebagai contoh dalam penyiaran TV seperti terlihat pada gambar
berikut.
Data audio maupun audio dimodulasikan dan dipancarkan
dengan frekuensi gelombang micro ke satelit, selanjutnya oleh
satelit gelombang mikro yang membawa data audio dan video
diperkuat dan dipancarkan kembali ke stasiun bumi atau ke antene
parabola dan diterima oleh penerima satelit dan diteruskan ke
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

36

pesawat penerima TV. Untuk keperluan penyiaran yang lebih jauh


setelah diterima penerima satelit lalu dipancarkan kembali melalui
antena pemancar TV ke TV penerima di rumah-rumah disekitar
daerah tersebut.
Dengan perkembangan Iptek bidang komunikasi saat ini
membuat dunia tanpa jarak. Penggunaan sarana komunikasi melalui
jaringan internet sudah bukan barang mewah lagi tetapi sudah
merupakan kebutuhan manusia untuk melakukan komunikasi.
Kenyataannya sekarang terjadi penggabungan berbagai sistem
komunikasi menjadi sistem yang terpadu dan menghasilkan
komunikasi yang efektif dan efisien.

4 GHZ

RECEIVER

6 GHZ
RECEIVER

TRANSMITER

TRANSCEIVER
AUDIO

VIDEO

Gambar 26. Sistem komunikasi Penyiaran TV melalui satelit.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

37

Internet

Gambar. 27. Perpaduan sistem komunikasi.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

38

BAB. III
JURNALISTIK PENYIARAN
A. Pengertian Jurnalistik
Kata jurnalistik, berasal dari kata jurnalism atau jurnalisme
yang berarti kegiatan mengumpulkan berita. Juga berarti kegiatan
mempoduksi surat kabar. Dengan kata lain jurnalisme mengandung
maksud kegiatan yang dilakukan oleh seorang wartawan. Sedangkan
kata jurnalistik dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang berkaitan
dengan pekerjaan kewartawanan. Pengertian yang berkembang di
dalam masyarakat, istilah jurnalistik sama dengan jurnalisme yaitu
kegiatan untuk mempersiapkan, mengedit dan menulis untuk
dipublikasikan melalui media masa baik media cetak maupun media
elektronik. Yang dimaksud media cetak adalah surat kabar, majalah
dan lain-lain, sedangkan media elektronik yaitu siaran radio, siaran
TV, Film dan saat ini berkembang dalam bentuk digital yaitu
jaringan komputer atau internet.
Masih banyak pengertian-pengertian tentang istilah jurnalistik
yang berkembang di masyarakat. Guna lebih memperjelas
pemahaman tentang istilah jurnalistik, berikut ini disampaikan
berbagai pengertian tentang jurnalistik sebagai berikut.
1. Jurnalistik
adalah
seni
dan
keterampilan
mencari,
mengumpulkan, mengolah dan menyajikan berita tentang
peristiwa atau kejadian sehari-hari, untuk memenuhi kebutuhan
khalayak sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat dan
perilakunya sesuai dengan kemauan jurnalis.
2. Jurnalistik adalah semua peristiwa yang kejadiannya menarik
perhatian publik yang berupa pendapat, aksi, buah pikiran
sehingga merangsang wartawan untuk meliput dan dijadikan
bahan informasi atau berita.
3. Jurnalistik merupakan pengetahuan dan keterampilan praktis
tentang seluk beluk penyiaran informasi atau berita melalui
media pers, radio, televisi, film, teater, rapat umum dan
sebagainya.
4. Jurnalistik merupakan pengolahan laporan yang menarik minat
khalayak mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada
publik.
5. Jurnalistik merupakan kegiatan komunikasi yang dilakukan
dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasan berita tentang
berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual dan
faktual dalam waktu yang secepat-cepatnya.
Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
jurnalistik merupakan kegiatan komunikasi yang menggunakan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

39

pengetahuan praktis untuk menghimpun informasi dari peristiwa/


kejadian yang menarik, aktual dan faktual untuk diolah dan disajikan
kepada khalayak melalui media masa cetak maupun disiarkan
melalui pemancar radio, Televisi dan Film. Dengan waktu yang
secepat cepatnya.
B. Dasar-dasar Jurnalistik.
1. Fungsi dan Tugas Jurnalistik
Fungsi dan tugas jurnalistik sesuai dengan undang-undang pokok
pers Bab. II pasal 3 adalah sebagai berikut:
a. Pers nasional berfungsi sebagai media informasi, pendidikan,
hiburan dan kontrol sosial.
b. Disamping fungsi tersebut, pers nasional dapat berfungsi
sebagai lembaga ekonomi.
Dari undang-undang tersebut dapat dijelaskan bahwa
jurnalistik berfungsi menghimpun, mengolah dan menyalurkan
informasi melalui media masa di mana dia bekerja. Bidang kerja
jurnalistik yaitu pada pendidikan, hiburan maupun kontrol sosial
masyarakat.
Pers dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi, hal ini
mengandung maksud bahwa dalam bertugas pers dapat mengatas
namakan atau diberi tugas oleh lembaga tempat kerja
(perusahaan penerbitan) atau yang bersangkutan dapat
mendirikan perusahaan sendiri.
Sebagai kontrol sosial, dimaksudkan bahwa pers harus
memperjuangkan hak-hak rakyat. Ikut membangun masyarakat
melalui penegakan hukum dan hak asasi manusia serta
melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap halhal yang berkaitan dengan kepentingan umum serta aktif
memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Di samping fungsinya pers juga memiliki hak dan kewajiban.
Sesuai undang-undang pokok pers Bab II pasal empat, pers
memiliki hak sebagai berikut.
a. Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.
b. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran,
pembredelan atau pelanggaran penyiaran.
c. Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional
mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan
gagasan dan informasi.
d. Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan
hukum, wartawan memiliki hak tolak.
Sedangkan kewajiban pers sesuai undang-undang pokok pers
Bab II pasal lima sebagai berikut.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

40

a. Pers nasional berkewajiban menberitakan peristiwa, opini


dengan menghormati norma-norma agama dan rasa
kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.
b. Pers wajib melayani hak jawab.
c. Pers wajib melayani hak koreksi.
Sesuai pasal enam, pers harus melaksanakan peranannya
sebagai berikut.
a. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.
b. Menegakkan hukum dan hak asasi manusia, serta
menghormati kebhinekaan.
c. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang
tepat, akurat dan benar.
d. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap
hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.
e. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Dari undang-undang tersebut, dapat diartikan bahwa pers
merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi masa yang
melaksanakan tugas-tugas jurnalistik/kewartawanan. Tugastugas tersebut meliputi bagaimana mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi
dalam bentuk sesuai dengan media publikasi yang digunakan
yaitu dalam bentuk tulisan (teks), gambar, suara, suara dan
gambar, data dan grafik maupun dalam bentuk lain dengan
menggunakan media cetak, media radio, televisi maupun media
lainnya yang tersedia.
Sedangkan pengertian dari perusahaan pers adalah badan
hukum yang menyelenggarakan usaha pers. Seperti perusahaan
media cetak, media elektronik, kantor berita, dan perusahaan
lain yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan dan
menyalurkan informasi.
2. Persyaratan seorang jurnalis
Mengingat
beratnya tanggungjawab jurnalis serta
karakteristik pekerjaan yang menuntut seseorang yang tangguh,
maka untuk menjadi jurnalis diperlukan persyaratan-persyaratan
kemampuan pengetahuan dan sikap sebagai berikut.
a. Cerdas. Orang cerdas akan cenderung bersikap kritis
terhadap informasi yang diperoleh dari sumber informasi.
Semua informasi akan dianalisis terlebih dulu sehingga
informasi yang diperoleh memiliki akurasi yang tinggi.
Dengan cara ini tidak akan didekte oleh sumber
informasinya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

41

b.
c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.
j.

Waspada. Seorang yang memiliki kewaspadaan akan


cenderung bersikap hati-hati, meskipun demikian tidak harus
kelihatan seperti orang bodoh.
Rasa ingin tahu yang besar. Sikap ini diperlukan untuk
menggali dan memilih mana informasi yang memiliki nilai
berita dan mana yang kurang. Hal ini dimaksudkan karena
jurnalis harus menyampaikan/meneruskan informasi kepada
khalayak, sehingga harus memiliki kepekaan yang tinggi
terhadap nilai informasi yang ada disekitarnya.
Perhatian terhadap masyarakat. Karena jurnalis bekerja
untuk
kepentingan
masyarakat,
maka
ia
harus
memperhatikan segala sesuatu yang terjadi di dalam
masyarakat. Ia harus membela kepentingan masyarakat
terutama masyarakat yang tertindas, lemah, miskin melalui
informasi yang ditulisnya dan disiarkannya kepada khalayak
melalui media masa sebagai kritik sosial.
Akal yang panjang. Seorang yang berakal panjang tidak
mudah putus asa dan mudah menyerah. Ia akan berusaha
dengan akal yang dimilikinya untuk memecahkan kesulitan
yang dihadapinya.
Peka terhadap ketidak adilan. Bila terjadi ketidak adilan di
masyarakat, maka ia harus segera mengangkat informasi
tersebut menjadi berita, sehingga segera mendapat
perhatian dan solusi.
Berani. Seorang jurnalis harus berani berbeda pendapat
dengan penguasa apabila kebijakannya dipandang tidak
benar dan berdampak pada ketidak adilan dan kesengsaraan
rakyat. Dalam berbeda pendapat tentunya disertai
argumentasi yang kuat.
Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik
bahasa tulis maupun lisan, agar dalam menyampaikan
informasi tidak terjadi kesalahfahaman. Sebaiknya juga
menguasai beberapa bahasa asing.
Berpegang pada norma, etika dan kesusilaan.
Bersikap jujur, terbuka, menghormati dan melindungi
sumber informasi, agar mendapat kepercayaan dari
masyarakat.

3. Kode Etik Jurnalistik


Di dalam melakukan tugasnya seorang jurnalis/wartawan
diituntut untuk mentaati kode etik jurnalistik. Hal ini diatur
karena setelah reformasi bermunculan berbagai organisasi
jurnalistik, sehingga PWI (persatuan wartawan Indonesia ) bukan
satu-satunya organisasi jurnalistik. Organisasi yang muncul
diantaranya AJI ( Asosiasi Jurnalistik Indonesia), AJTI (Asosiasi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

42

Jurnalis Televisi Indonesia) dan sebagainya. Setiap organisasi


memiliki kode etik yang harus ditaati oleh segenap anggotanya.
Di samping itu juga ada kode etik yang telah disepakati untuk
ditaati seluruh wartawan/jurnalis seluruh indonesia yaitu adalah
KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia). Kode etik ini dimaksudkan
untuk menjamin tegaknya kebebasan pers serta terpenuhinya
hak-hak masyarakat. Dengan demikian KEWI merupakan landasan
moral dan etika profesi yang dipakai sebagai
pedoman
operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas.
Kode etik tersebut adalah berbunyi sebagai berikut.
a. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar.
b. Wartawan Indonesia menempuh tatacara yang etis untuk
memperoleh dan menyiarkan informasi serta memberikan
identitas kepada sumber informasi.
c. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah,
tidak mencampurkan fakta dengan opini, berimbang dan
selalu meneliti kebenaran informasi dan tidak melakukan
plagiat.
d. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat
dusta, fitnah, sadis dan cabul serta tidak menyebutkan
identitas korban kejahatan asusila.
e. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak
menyalah gunakan profesi.
f. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan
dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.
Pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran kode etik
ini sepenuhnya diserahkan kepada jajaran pers dan dilaksanakan
oleh organisasi yang dibentuk untuk itu. Di samping kode etik
jurnalis juga harus memahami dan mentaati undang-undang pers
dan penyiaran.
Undang-undang Pers ditetapkan/syahkan oleh Presiden
Republik Indonesia tanggal 23 September 1999 di Jakarta,
dengan ketetapan UURI No. 40 Tahun 1999. Undang-undang pers
ditetapkan agar pers berfungsi secara maksimal, karena
kebebasan pers adalah satu wujud kedaulatan rakyat dan
merupakan unsur penting dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara yang demokratis. Pers meliputi media
cetak, media elektronik, dan media lainnya merupakan salah
satu sarana untuk mengeluarkan pikiran baik secara lisan
maupun tertulis. Oleh karena itu pers dalam menjalankan
fungsinya harus dilaksanakan secara bertanggungjawab. Pers
diberi kebebasan mencari dan menyampaikan informasi sebagai
perwujudan hak asasi manusia yang menjamin setiap orang
berhak berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Hal ini juga

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

43

ditegaskan dalam piagam PBB tentang hak asasi manusia seperti


pada pasal 19 yang menyatakan : Setiap orang berhak atas
kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. Termasuk
kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk
mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah
pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang
batas-batas wilayah. Pers sebagai kontrol sosial sangat penting
untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, KKN
maupun penyelewengan dan penyimpangan yang lain. Pers dalam
melaksanakan fungsinya juga harus menghormati hak asasi setiap
orang, oleh karena itu dituntut pers yang profesional dan
bertanggungjawab dan terbuka dikontrol oleh masyarakat.
Masyarakat memiliki hak jawab dan hak koreksi. Dalam hal ini
masyarakat diwakili oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan
seperti pemantau media dan oleh dewan pers dengan berbagai
bentuk dan caranya.
UURI Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran telah
ditetapkan/disyahkan Presiden tanggal 28 Desember 2002 di
Jakarta. UU Penyiaran ini dimaksudkan untuk menjamin
kemerdekaan berpendapat, menyampaikan dan memperoleh
informasi yang bersumber dari kedaulatan rakyat dan hak asasi
manusia di negara RI, seperti diamanatkan UUD 1945. Namun
demikian kemerdekaan tersebut harus bermanfaat bagi upaya
dalam menjaga integrasi nasional, menegakkan nilai-nilai agama,
kebenaran, keadilan, moral, dan tata susila serta memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai
dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan RI. Dengan demikian
kebebasan harus dilaksanakan secara bertanggungjawab, selaras
dan seimbang berdasarkan Pancasila dan UUD RI 1945.
Menyadari pula bahwa perkembangan teknologi komunikasi
dan informasi telah melahirkan masyarakat informasi yang
menuntut hak untuk mengetahui dan mendapat informasi,
karena informasi telah menjadi kebutuhan pokok dan komoditas
penting bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Perkembangan teknologi dan informasi tersebut juga
berimplikasi terhadap dunia penyiaran termasuk penyiaran di
Indonesia. Penyiaran merupakan salah satu sarana berkomunikasi
bagi masyarakat, lembaga penyiaran, dunia bisnis dan
pemerintah, sehingga memiliki peranan yang strategis. Hal-hal di
atas mengakibatkan landasan hukum yang telah ada selama ini
menjadi kurang memadai. Oleh karena itu diperlukan UU yang
dapat mengakomodasi perkembangan teknologi dan informasi
dewasa ini.
UU Penyiaran disusun berdasarkan pokok-pokok pikiran
sebagai berikut:

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

44

1. Penyiaran harus mampu menjamin dan melindungi kebebasan


berekspresi atau mengeluarkan pikiran secara lisan dan
tertulis, termasuk menjamin kebebasan berkreasi dengan
bertumpu pada asas keadilan, demokrasi dan supremasi
hukum.
2. Penyiaran harus mencerminkan keadilan dan demokrasi
dengan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban
masyarakat ataupun pemerintah, termasuk hak asasi setiap
individu/orang dengan menghormati dan tidak mengganggu
hak individu/orang lain.
3. Memperhatikan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan
bernegara, mempertimbangkan bahwa penyiaran sebagai
lembaga ekonomi yang penting dan strategis dalam skala
nasional maupun internasional.
4. Mengantisipasi perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi khususnya di bidang penyiaran, seperti teknologi
digital, kompresi, komputerisasi, televisi, kabel, internet dan
bentuk-bentuk khusus lain dalam penyelenggaraan siaran.
5. Lebih memberdayakan masyarakat untuk melakukan kontrol
sosial dan berpartisipasi dalam memajukan penyiaran
nasional. Untuk itu dibentuk Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
yang menampung aspirasi masyarakat dan mewakili
kepentingan publik akan penyiaran.
6. Penyiaran berkaitan erat dengan spektrum frekuensi radio
dan orbit satelit geostasioner yang merupakan sumber daya
alam yang terbatas, sehingga pemanfaatatannya perlu diatur
secara efektif dan efisien.
7. Pengembangan penyiaran diarahkan pada terciptanya siaran
yang berkualitas, bermartabat, mampu menyerap dan
merefleksikan aspirasi masyarakat yang beraneka ragam
untuk meningkatkan daya tangkal masyarakat terhadap
pengaruh buruk nilai budaya asing.
4. Informasi
Informasi atau dalam jurnalistik sering disebut berita berarti
fakta atau keterangan. Berita dalam jurnalistik harus
mengandung kebenaran dan faktual dan jelas sumber beritanya
sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Berita memiliki
keterkaitan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi. Sumber
lain menyatakan bahwa berita adalah laporan tentang fakta atau
pendapat seseorang yang terikat oleh waktu, menarik, penting
bagi sejumlah orang tertentu. Berita juga diartikan sebagai
segala sesuatu yang terikat waktu dan menarik perhatian banyak
orang, berita terbaik adalah hal-hal yang paling menarik
sebanyak mungkin orang untuk membacanya/ mendengarkannya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

45

atau mendengar dan menyaksikannya. Berita adalah informasi


yang merangsang artinya dengan menerima informasi tersebut
orang akan mendapat kepuasan atau bergairah. Berita juga
diartikan sebagai laporan tentang suatu kejadian yang dapat
menarik perhatian khalayak.
Dari beberapa pengertian tentang berita tersebut pada
prinsipnya mengandung unsur penting yang harus diperhatikan
dari sebuah berita yaitu nyata (faktual), kejadian, peristiwa,
pendapat yang menarik, penting dan cepat (terikat waktu).
Unsur-unsur penting yang terkandung dalam berita tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Nyata (faktual). Berita yang nyata mengandung informasi
tentang fakta, bukan berisi fiksi atau karangan. Dalam
jurnalistik fakta terdiri dari kejadian nyata (real event),
pendapat (opinion) dan pernyataan (statement) sumber
berita. Berita yang disajikan merupakan realita tangan ke
dua (second hand reality) bukan realita itu sendiri, karena
khalayak hanya membaca tulisan wartawan melalui media
cetak bukan hasil melihat kejadian itu sendiri. Sehingga
sudah terpengaruh berbagai hal seperti panjangnya tulisan,
sumber pelengkap, sudut pandang, kemampuan wartawannya
dan sebagainya. Dalam media radio pendengar juga hanya
mendengar berita kejadian dari penyiarnya tidak
menyaksikan sendiri. Sehingga apa yang didengar tergantung
oleh ide atau pemikiran penyiar/reporter dalam membuat
sajian terbaiknya. Dalam media televisi, pemirsa juga hanya
menyaksikan tayangan kembali kejadian atau peristiwa dan
bukan hasil pengamatan sendiri secara langsung .
Dengan demikian dengan media apapun baik cetak maupun
elektronik tetap memiliki keterbatasan, namun seorang
wartawan harus melaporkan apa yang sebenarnya terjadi
tanpa mengubah fakta untuk tujuan kepuasan pribadi
maupun golongan tertentu.
b. Kejadian atau Peristiwa dan Pendapat yang Menarik dan
Penting.
Kejadian atau peristiwa secara rutin banyak terjadi
lingkungan sekitar kita, seperti sekolah, kelulusan, wisuda,
banjir, mahalnya biaya sekolah, harga naik, pengangguran,
penggusuran, kebakaran dan sebagainya. Kejadian mana
yang penting dan menarik untuk diangkat sebagai berita ?
Ada dua hal yang dapat diangkat sebagai berita yaitu
peristiwa atau kejadian dan ucapan atau opini seseorang.
Wartawan harus peka terhadap berita yang memiliki indera
berita (sense of news), sehingga kejadian dapat diangkat
benjadi
berita
yang
menarik
dan
penting
bagi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

46

pembaca,pendengar dan pemirsa. Penting, bila menyangkut


kepentingan orang banyak. Menarik, bila mampu mengundang
orang untuk membaca, mendengar maupun memirsanya.
c. Disajikan secepat mungkin.
Kejadian atau peristiwa bisa menjadi berita bila disajikan
secepatnya karena khalayak selalu ingin mengetahui hal yang
terbaru dan terakhir ketika dia membaca/ mendengar/
menyaksikan. Dengan demikian kesegeraan ini hal pokok
dalam menyampaikan berita. Suatu berita disampaikan tiga
hari setelah kejadian, tentu saja hal ini telah menjadi berita
yang basi dan tidak menarik.
Disamping ketiga hal diatas ada unsur lain yang harus
diperhatikan dalam berita diantaranya sumbernya harus jelas
dan mengandung kebenaran, akurat, seimbang, obyektif,
terbaru, singkat dan jelas.
5. Jenis Informasi
Berdasarkan penyajiannya informasi atau berita dalam
jurnalistik dibagi menjadi dua yaitu berita langsung (straight
news) dan tidak langsung
(feature news).
Berita langsung (stright news) adalah laporan kejadian
terbaru yang mengandung unsurpenting dan menarik, tanpa
mengandung pendapat-pendapat dari penulis berita. Stright
news pelaporannya singkat, lugas, ringkas namun tetap tidak
mengabaikan unsur kelengkapan data dan obyektivitas datanya.
Straight news disajikan kepada khalayak secepat mungkin dan
langsung menyajikan pokok-pokok beritanya. Stright bersifat
informatif, sehingga dalam waktu singkat dan terbatas khalayak
segera dapat mengetahui peristiwa/kejadian secara lengkap dan
singkat apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana
peristiwa itu terjadi.
Jenis-jenis produk stright news antara lain :
a. Matter of fact news, yaitu berita yang hanya mengemukakan
fakta utama yang terlibat dalam peristiwa.
b. Action news, Berita yang mengisahkan jalannya peristiwa
yaitu perbuatan atau tindakan yang terlibat dalam peristiwa.
Straigt news dibedakan menjadi dua bentuk yaitu hard news
dan soft news. Hard news adalah berita yang penting dan
signifikan bagi sebagian besar khalayak seperti berita tentang
kegiatan pemerintahan, politik, pendidikan, agama, pemilu,
pengumuman pemerintah dan berita yang berpengaruh pada
orang banyak lainnya. Hard news menuntut secepat mungkin
disajikan. Hard news dalam jurnalistik juga dikenal sebagai Spot
news.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

47

Sedangkan Soft news adalah berita-berita yang menyangkut


kemanusiaan dan menarik banyak orang; seperti kisah jenaka
(komedi), lust (nafsu birahi manusia), Keanehan (oddity).
Misalnya berita tentang artis terkenal yang diadili karena
masalah narkoba, presiden berkunjung ke kota kelahirannya
untuk bernostalgia dan sebagainya.
Feature news adalah informasi atau berita yang tidak
langsung, tetapi telah dikembangkan dengan kata-kata
diplomatis, sehingga fakta yang kelihatannya sederhana atau
sepele menjadi laporan yang menarik untuk dinikmati.
Berdasarkan gaya penulisannya, feature news dapat dibedakan
menjadi Interpretative news dan Reportase. Interpretative news
dalam penyajiannya mengemukakan maksud pemberitaan secara
tersirat untuk memberikan kesempatan bagi khalayak untuk
menafsirkan sendiri pesan yang terkandung dalam berita.
Sedangkan reportase gaya penulisannya dibuat seolah-olah
khalayak melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang
diberitakan.
Di samping jenis-jenis informasi yang telah disebutkan,
dalam jurnalistik berkembang beberapa jenis istilah pemberitaan
sebagai berikut.
a. Tally news, yaitu berita yang memuat pidato, hasil
pembicaraan, hasil wawancara dengan seorang tokoh.
b. Trend news, yaitu berita yang terus berkembang sesuai
dengan kelanjutan peristiwanya.
c. Dept news (berita mendalam), yaitu berita yang
dikembangkan dari hasil galian dari wawancara mendalam
atau ciptaan sendiri dan ditulis cecara panjang lebar dan
mendalam.
d. Investigative news, yaitu berita yang dikembangkan
berdasarkan hasil penelitian dari berbagai sumber.
e. Preview
news,
berita
yang
mengemukakan
akan
berlangsungnya suatu acara atau kegiatan.
Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam jurnalistik
dikenal jenis-jenis berita sebagai berikut.
a. Berita Politik, misalnya tentang pemilu, pergantian
kekuasaan dan sebagainya.
b. Berita Ekonomi, misalnya kenaikan harga, ekspor, impor,
resesi ekonomi, harga saham dan sebagainya.
c. Berita budaya, misalnya tentang keramik, lukisan, seminar
budaya dan sebagainya.
d. Berita Olah raga, misalnya tentang kejuaraan tinju,
sepakbola, sea game, ramalan maupun ulasan pertandingan
dansebagainya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

48

e. Berita Lain, misalnya tentang pendidikan, kriminal


dansebagainya.
Berdasarkan wilayah kejadiannya dibedakan menjadi
beberapa jenis berita sebagai berikut.
a. Berita International/Luar negeri, seperti kejadian di
Amerika, Eropa, perang Irak dan sebagainya.
b. Berita Nasional, yang memiliki ruang lingkup dan dampak
secara nasional. Seperti sidang umum DPR, pencalonan
presiden, peraturan pemerintah dan sebagainya.
c. Berita Regional/Daerah/Lokal, berita dalam lingkup wilayah
tertentu.
Berdasarkan waktu pemberitaannya dapat dibedakan menjadi
berita pagi, berita sore, liputan pagi, liputan siang, liputan
petang, liputan malam, dan sebagainya.
6. Sumber Informasi
Sumber informasi atau berita adalah
orang
atau
peristiwa yang memberikan informasi berupa data, fakta,
pernyataan dari
suatu peristiwa yang terjadi.
Untuk
mendapatkan sumber informasi,
wartawan harus memiliki
kepekaan mengindera berita dan minat khalayaknya.
Berita terjadi melalui proses turun lapangan untuk
menentukan sumber beritanya, mengambil data dan fakta
sebagai bahan berita, mengolah bahan berita menjadi
laporan yang berbentuk tulisan jadi, editing dan publikasi
melalui media massa.
Pada dasarnya orang maupun peristiwa merupakan
sumber berita yang menjadi ide penulisan dan sebagai materi
atau bahan berita. Misalnya tokoh terkenal, pejabat tinggi,
publik figure, ilmuwan dan sebagainya. Dengan pengertian yang
lebih luas sebagai sumber berita adalah siapa saja yang dapat
dimintai keterangan dan informasi.
Persyaratan sebagai sumber berita agar berita memiliki
keabsahan sebagai karya jurnalistik adalah sebagai berikut.
a. Layak dipercaya atau kredibel. Sumber berita harus kredibel
sehingga bicaranya tidak diragukan kebenarannya. Untuk
mengetahui hal ini diperlukan kepekaan secara psikologis
untuk menilai mana pernyataan fiktif dan mana pernyatan
yang faktual, dengan menguji melalui pertanyaan-pertanyaan
croscek.
b. Berwenang. Maksudnya adalah orang yang memiliki
kekuasaan dan bertanggungjawab terhadap masalah yang
ditulis. Keterangan pihak yang berwenang ini digunakan
sebagai ceking atau klarifikasi apakah informasi yang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

49

diperoleh dibenarkan atau disetujui oleh pihak yang


berwenang.
Upaya menggunakan pihak yang berwenang dilakukan untuk
mendapatkan keseimbangan penulisan berita, keamanan
berita dan akurasi serta dapat dipercaya.
c. Kompeten. Apakah sumber berita layak untuk dimintai
keterangan. Misalnya dalam masalah keluarga berencana
dokter lebih berkompeten untuk dimintai keterangan.
d. Orang yang berkaitan langsung dengan peristiwa yang
terjadi. Yaitu orang yang memiliki hubungan, terpengaruh
atau mempengaruhi peristiwa yang terjadi yaitu : pelaku
utama, orang yang ada ditempat kejadian, saksi mata, saksi
ahli. Pelaku utama adalah orang yang menjadi penyebab
terjadinya suatu peristiwa. Misalnya dalam peristiwa
kecelakaan kendaraan, pelaku utamanya adalah sopir yang
ugal-ugalan. Sedangkan yang berada di tempat kejadian
dapat diwakili para penumpang yang terluka, kernet, atau
polisi lalu lintas yang menangani. Sedangkan saksi mata
adalah orang yang menyaksikan sendiri peristiwa tersebut
berlangsung. Saksi mata biasanya diperlukan untuk kasuskasus musbah, pembunuhan, perkosaan, bencana alam,
kecelakaan. Tetapi bila kasus tersebut menimpa seorang
artis saksi mata dapat dipilih orang-orang yang dekat dengan
kehidupannya seperti menejernya, pengasuhnya, gurunya
dan sebagainya. Saksi ahli yaitu sumber yang benar-benar
berkompeten untuk mengomentari peristiwa. Pernyataannya
mengandung analisis, penalaran tentang masalah.
7. Menghimpun/memperoleh Informasi.
Untuk memperoleh berita diperlukan berbagai cara atau
teknik. Teknik yang paling banyak digunakan adalah teknik
wawancara. Ada beberapa teknik untuk memperoleh berita dari
sumber berita sebagai berikut.
a. Teknik Wawancara. Yaitu kegiatan tanya-jawab dengan
sumber berita untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu
hal sebagai bahan berita. Wawancara adalah yang paling
cepat untuk melegimitasi bahwa laporan merupakan hasil
liputan dan bukan hasil rekayasa. Teknik wawancara ini perlu
latihan untuk mendapatkan proses yang efektip dan efisien.
b. Observasi atau Pengamatan. Yaitu pengamatan terhadap
situasi dan kondisi tempat peristiwa itu terjadi. Merupakan
kegiatan mental yang subyektip sebagai hasil pengolahan
stimulus disekitarnya. Teknik observasi ini biasanya
digunakan untuk memperindah laporan, dan bukan/jarang
digunakan untuk memperkaya laporan.
Observasi juga

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

50

c.

d.

e.

f.

banyak digunakan untuk menggali tulisan bentuk feature,


terutama yang mengangkat humanitis. Hasil observasi
sebaiknya diungkapkan dengan mendeskripsikan kejadian
secara detil dan apa adanya, hal ini untuk menghindari
subyektivitas.
Riset Kepustakaan. Adalah untuk memperoleh informasi
tertulis dari sumber pustaka. Sebagai contoh, jurnalistik saat
ini banyak mencari dukungan data berupa angka, grafik
secara akurat. Hal ini banyak ditemukan dalam sumber
pustaka. Riset seperti poling juga merupakan teknik
memperoleh informasi yang sering digunakan untuk membuat
laporan yang tidak monoton.
Press Cenference. Adalah pertemuan formal antara sumber
dengan para wartawan untuk menyampaikan informasi
penting pada waktu dan tempat yang telah ditentukan.
Dengan teknik ini akan diperoleh informasi secara ringkas
gamblang dan cepat. Dalam teknik ini berita tidak perlu
dikejar. Perlu dihindari pengaruh sumber terhadap laporan
yang di buat, sulit memperoleh isu kontroversial merupakan
kekurangan dari teknik ini.
Statment of informan. Merupakan pernyataan informan dari
kalangan jalanan (lipster). Pernyataan ini merupakan metode
untuk memperoleh berita yang berharga. Informan sering
dimanfaatkan sebagai mitra wartawan untuk melacak berita
langka yang sulit ditembus, sehingga membutuhkan matamata yang bisa menembus ke tempat yang sifatnya rahasia.
Mendapatkan
Informasi
melalui
Internet.
Internet
menyediakan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan
komunikasi melalui situs pencari seperti Yahoo, Gogle, Plasa
dan sebagainya. Oleh karena itu reportase menggunakan
bantuan internet sangat membantu kerja para jurnalis untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Melalui surat
elektronik (e-Mail) dapat berkomunikasi surat menyurat
antara wartawan dengan sumber berita berupa wawancara
tertulis. Dengan e-mail kendala sumber yang sulit ditemui
bisa teratasi. Dengan surat elektronik pertanyaan bisa
dijawab dengan lebih luas karena tersedia waktu berpikir
yang relatip lebih lama.
Di internet berbagai kalangan telah membangun situs. Situs
tersebut dapat dikunjungi melalui mesin pencari yang
tersedia. Di sini dapat menemukan informasi yang diinginkan.
Melalui mailing list dapat mendapatkan pelayanan media
diskusi tentang topik-topik tertentu.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

51

8. Mengolah informasi
Pada prinsipnya mengolah informasi adalah
penulisan
laporan dari fakta- fakta yang diperoleh di lapangan untuk di
jadikan berita. Oleh karena itu bentuk tulisannya tergantung dari
media publikasi yang akan digunakan. Apakah akan
dipublikasikan ke khalayak melalui koran, majalah, disiarkan
melalui siaran radio, siaran televisi atau melalui media lainnya
seperti internet dan sebagainya, format penulisan harus
disesuaikan dengan karakteristik dan format media tersebut.
Agar laporan/penulisan mengandung prinsip kejujuran, maka
semua peryataan yang ditulis harus sepenuhnya nyata dan benar.
Kutipan dikutip kata demi kata secara harfiah.
Terdapat lima prinsip dasar penulisan berita, yaitu :
b. Akurasi/Kecermatan. Kecermatan/akurasi sangat berkaitan
dengan kredibilitas, dan hal ini merupakan dasar dari segala
penulisan jurnalistik. Akurasi ini dipengaruhi banyak faktor
diantaranya batas waktu penyerahan berita ke media masa
(Deadline). Faktor ini akan membuat penulisan yang terburuburu, sehingga akan mengurangi ketelitiannya. Faktor
kekurangan informasi, tidak melakukan chek and rechek
informasi yang diterima juga menjadi penyebab kurang
cermatnya tulisan. Penyebab lain yang membuat tulisan
kurang akurasinya yaitu karena fakta diperoleh dari sumber
tunggal dan tidak ada sumber pembanding. Atau juga karena
banyak sumber informasinya, sehingga terlalu banyak fakta
dan beragam. Hal ini akan menyebabkan kesulitan dalam
memilih fakta yang paling benar dan akurat.
Agar penulisan berita akurat, maka harus menggunakan
prinsip: Seluruh berita harus benar 100 % seperti
kenyataanya; Seluruh pernyataan tentang fakta atau opini
harus disebutkan dengan jelas siapa sumber beritanya.
Untuk menjaga akurasi berita, maka disarankan agar
wartawan dalam
memperoleh fakta nelakukan hal-hal
sebagai berikut.
1) Peroleh fakta yang benar, tinggalkan/buang fakta yang
meragukan.
2) Periksa (chek and rechek) kebenaran fakta dan lakukan
verivikasi
3) Jangan menyiarkan desas desus, pastikan kebenarannya
dan jangan berspekulasi.
4) Pastikan
sumber
informasi
dan
fakta
dapat
dipertanggungjawabkan
kewenangan
keabsahannya.
Jangan diterima begitu saja.
5) Hati-hati dalam membuat atribusi untuk kutipan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

52

6) Konfirmasi/periksa referensi dari buku-buku dan dokumen


yang digunakan.
c. Keseimbangan. Penulisan berita harus menggunakan prinsip
keseimbangan, sehingga tidak memihak. Keseimbangan
berita ini juga menentukan kredibilitas jurnalis. Berita yang
seimbang (balanced) akan memuat dua sisi pihak yang
berkepentingan, sehingga diperoleh keadilan.
Berita yang tidak seimbang memiliki kelemahankelemahan diantaranya adalah condong ke pihak penguasa
sehingga kurang memperhatikan kepentingan masyarakat
atau sebaliknya; Terlalu cepat menuliskan informasi padahal
belum semua pihak dihubungi untuk mendapatkan data yang
lengkap dan seimbang; Ketidak seimbangan diakibatkan oleh
visi penulisan yang condong pada aspek human interes dari
pada mengedepankan fakta.
Untuk menghasilkan berita yang seimbang, beberapa
pernyataan berikut dapat digunakan bahan pertimbangan
yaitu: Tak mungkin sebuah berita adil tanpa memperhatikan
fakta dari masalah pokoknya; Tak mungkin menghasilkan
berita yang adil dengan memuat informasi yang kurang
relevan tapi mengorbankan fakta-fakta penting; Prinsip
keseimbangan akan terabaikan bila secara sadar maupun
tidak berita itu menyesatkan atau membohongi khalayak;
Berita tidak seimbang bila dalam penulisannya wartawan
memasukkan emosi yang menyebabkan bias dari dalam
dirinya dengan menggunakan kata-kata yang merendahkan
atau memojokkan, memuji atau mengunggulkan.
Selain itu dalam usaha menulis berita yang seimbang
yaitu: Memuat semua sisi pandang (angle) terhadap persoalan
yang diberitakan. Dengan demikian akan diperoleh
obyektivitas; Menghindari pendapat editorial, karena
editorial ada tempatnya sendiri yaitu di kolom editorial atau
tajuk.
d. Kelengkapan. Berita yang lengkap akan memuat semua
informasi penting yang berkaitan dengan pokok masalah.
Dengan demikian khalayak akan mengetahui inti persoalan,
latarbelakang dan konsekuensi serta dampaknya
Berita yang ditulis dengan lengkap akan mengandung
jawaban atas pertanyaan 5w + 1 H yaitu :
What : Peristiwa apa yang terjadi
Who : Siapa yang terlibat dalam kejadian
When : Kapan peristiwa terjadi
Where : Di mana peristiwa terjadi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

53

Why
How

: Mengapa peristiwa terjadi


: Bagaimana peristiwa terjadi

e. Kejelasan dan Ringkas. Berita harus jelas dan ringkas.


Berita yang Jelas dan ringkas akan mudah dipahami khalayak,
sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda.
Untuk menulis berita yang jelas, wartawan harus
memahami benar berita yang ditulisnya. Hilangkan sesuatu
yang masih meragukan, dan tulislah hal-hal yang sudah pasti
kebenarannya. Wartawan harus sadar tentang pembacanya
sehingga dapat mengembangkan tulisan dengan bahasa yang
sesuai dan tidak membingungkan pembacanya.
Tulisan berita yang ringkas akan membuat pembaca
dapat memahami isi berita dengan cepat. Oleh karena itu
berita agar ditulis dengan kalimat yang singkat. Kalimat yang
panjang apalagi sampai beranak cucu akan membuat lelah
pembaca bahkan akan membingungkan. Hal ini akan
mengakibatkan pembaca sulit memahami isi beritanya.
Namun harus tetap memperhatikan tata bahasa yang baik
dan benar. Dalam penggunaan kalimat dapat dipakai patokan
bahwa kalimat pendek terdiri dari 1 10 kata, kalimat
sedang terdiri dari 11 20 kata dan kalimat panjang terdiri
dari 21 30 kata.
f. Obyektivitas dan berdasarkan fakta. Berita yang obyektip
dan berdasarkan fakta adalah berita yang sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya. Fakta dalam jurnalistik terdiri
dari: Kejadian nyata (real event), Pendapat (opinion) dan
Pernyataan nara sumber.
Dalam penulisan berita dapat digunakan konsep penulisan
sebagai berikut ini.
1) Bahasa yang dipakai harus komunikatif ( bahasa tutur )
2) Tulis seperti apa yang kita katakan Write the Way Your
Talk
3) Satu ide satu kalimat
4) Menggunakan kalimat tunggal
5) Penulisan singkat, padat, tajam (Short, Sharp &
Strenght)
6) Sebaiknya menggunakan kalimat positif
7) Menggunakan kalimat aktif ( Subjek Predikat Objek )
Sedangkan gaya penulisan dapat digunakan konsep
penyajian mulai hal-hal yang penting sampai yang kurang
penting dengan memperhatikan prinsip segitiga terbalik
untuk berita yang terikat waktu dan segitiga tegak dari yang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

54

kurang penting menuju ke yang penting untuk berita yang


tidak begitu terikat dengan waktu. Perhatikan ilustrasi pada
gambar berikut.
LEAD 5W+1H
Teras Berita/ Substansi
Atmosfere
Background
Data Pelengkap

JUDUL

Sangat penting

TERAS

penting

TUBUH

Cukup penting

penutup

Kurang penting

Gambar 28. Prinsip penulisan berita dengan segitiga terbalik.


Sedangkan untuk menulis berita dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut .
1) Dipahami/ dipikirkan
2) Ceritakan kembali
3) Tulis
4) Evaluasi
Tingkat kredibilitasnya dapat ditentukan dengan rumus
sebagai berikut.
A
: Accuracy/ Akurat
B
: Balance/ Imbang
C
: Clearity/ Jelas
A + B + C = Credible/ Dipercaya
Struktur penulisan berita adalah terdiri dari Judul, Teras
dan tubuh berita.
1) Judul Berita. Penulisan Judul berita diharapkan
memenuhi
kriteria
kemenarikan,
yaitu
dengan
menggunakan tampilan tipografi yang baik dan menarik
agar pembaca terpikat untuk membacanya. Judul harus
merangkum isi berita, berarti harus ditulis secara
menyeluruh dan mencerminkan isi berita secara ringkas.
Dapat melukiskan suasana berita, berati judul harus
mengilustrasikan
peristiwa
yang
diberitakan.
Memudahkan pembaca dalam menentukan berita mana
yang diperlukan. Memberi identitas pada berita itu
sendiri. Di tulis dengan serasi agar lebih terpadu.
2) Teras berita. Penulisan teras berita (lead) yang
merupakan satu atau dua kalimat yang menjadi sari dari
sebuah berita dan menjadi penentu ketertarikan
pembaca untuk membacanya lebih jauh. Biasanya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

55

ditempatkan pada alinea pertama. Teras berita harus


memuat semua elemen penting (5W dan 1H) dan tidak
mengandung informasi yang menyesatkan/bohong. Teras
berita harus ditulis secara singkat, spesifik, identitasnya
jelas, menghindari bentuk pertanyaan dan kutipan,
pernyataan waktu yang tepat dan terdapat keterangan
yang tepat.
3) Tubuh Berita. Pada piramida terbalik informasi yang
penting ditempatkan pada bagian awal dan yang kurang
penting ditempatkan pada bagian akhir berita. Tubuh
berita menyajikan isi berita yang terdiri dari atmosfere,
background dan data-data pelengkap berita.
9. Menyajikan informasi
Setelah berita ditulis sesuai dengan media publikasinya,
maka berita tersebut diserahkan ke lembaga publikasi di mana
wartawan itu bekerja atau ke media lain yang bersedia
mempublikasikannya.
Pada Media cetak, berita yang ditulis kedalam bentuk-bentuk
yang ada di media cetak tersebut seperti feature, editorial,
kolom, komentar berita, analisis berita, artikel, opini dan review
atau resensi dan kritik.
Pada media radio pemancar, bentuk-bentuk program yang
ada adalah:
Fisitasi
: Pembacaan salam-salam kepada orang lain bisa
lewat telpon, SMS atau kartu pendengar dll.
Comment : Bentuk informasi penyiar kepada pendengar yang
bisa berupa pengingatan kembali, berbagi Tips, berita atau info
terbaru selebritis dll.
Adlib
: Bentuk penyampaian informasi Iklan/ Advertaising
yang
dibawakan secara bebas sesuai dengan pembawaan
penyiar.
Spot Iklan : Bentuk informasi komersial berupa hasil dari ide
kreatif
yang
menghasilkan
informasi
yang
bertujuan
memudahkan pendengar untuk mengingatnya. Standar Spot Iklan
berdurasi 30 detik dan 60 detik.
PSA : Bentuk informasi berupa iklan layanan masyarakat yang
berbentuk iklan sesuai dengan tema.
Bumper
: Bentuk informasi komersial yang letaknya bisa di
depan comment penyiar ( Bumper In ) atau dibelakang comment
penyiar ( Bumper Out ). Bentuk Bumper bisa berupa spot iklan
atau Adlib.
Reportase : Reportase/Live Report merupakan penyampaian
informasi kepada pendengar dari suatu tempat bisa live/
recording tentang suatu informasi dengan bantuan reporter.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

56

Pada Media radio pemancar, berita disampaikan oleh penyiar


dengan membacakan naskah berita yang telah dibuat, karena
informasi yang disampaikan berbentuk suara atau audio. Maka
dari itu untuk mempermudah pemahaman pendengarnya naskah
dibuat dengan bahasa sehari-hari (tutur) dan dibuat dengan
ringkas dan padat.
Pada Media Televisi berita yang disampaikan berbentuk
audio visual berupa gambar dan suara sehingga pemirsa dibawa
pada suatu kejadian atau peristiwa yang nyata. Oleh karena itu
informasi disampaikan oleh seorang presenter yang membacakan
narasinya dan gambar presenter dan fakta visual disampaikan
untuk memberikan kesan visual. Dengan demikian akan terjadi
perpaduan yang harmonis saling mendukung antara audio dan
videonya, sehingga akan lebih memudahkan pemirsanya untuk
memahami beritanya.
Kelemahan media radio dan televisi dibanding dengan media
cetak terletak pada siaran program hanya disiarkan sekali,
sehingga pemirsa/pendengar hanya menerima informasi sekali
tidak dapat diulang-ulang seperti pada media cetak pembaca
dapat membaca berulang-ulang dan bisa konsentrasi untuk
memahami isi beritanya. Untuk mengurangi kelemahan ini
lembaga media radio maupun televisi juga memanfaatkan media
cetak untuk menginformasikan panduan acaranya disamping
informasi-informasi lain yang perlu disampaikan kepada khalayak
sebagai bahan penyerta siaran. Misalnya sekarang ada tabloid TV
dan sebagainya, hal ini dimaksudkan untuk lebih merebut
pendengar/pemirsanya. Semakin banyak
pemirsa/pendengar
pada acara tertentu, akan makin banyak mendatangkan
keuntungan (rating), karena pemasang iklan komersial akan
memburunya.
C. Teknik Komunikasi
Teknik komunikasi dalam hal ini dimaksudkan untuk memberikan
informasi kepada para mediawan ataupun calon mediawan baik
cetak maupun elektronik sehingga mereka memiliki pengetahuan
yang cukup untuk mengembangkan diri dalam bidang komunikasi.
Dengan memiliki pengetahuan tentang teknik presentasi
(presentation
Skills)
yang
cukup
mereka
akan
dapat
mengembangkan dirinya sebagai presenter yang baik guna
menyampaikan informasi/ide kepada orang lain baik secara personal
maupun sekelompok orang. Penyampaian informasi dapat
dilaksanakan secara tertulis seperti pembuatan makalah, naskah,
paper, buku, skripsi yang harus memiliki kemampuan dan
keterampilan menulis atau writing presentation skills. Sedangkan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

57

kemampuan dan keterampilan menyampaikan informasi secara lisan


baik verbal dan nonverbal disebut oral presentation skills. Misalnya
pidato, mengajar, wawancara, penyaji dalam seminar dan
sebagainya.
1. Teknik Menyampaikan Informasi ( Presentation Skills)
a. Komunikasi Secara Tertulis (writing Presentations Skills).
Presentation Skills adalah kemampuan seorang presenter
dalam menyampaikan informasi atau idenya secara tertulis.
Misalnya menulis paper atau makalah untuk diseminarkan;
menulis naskah program TV, radio maupun cetak dan
sebagainya. Untuk dapat menulis karya tulis tersebut
tentunya harus meniliki pengetahuan dan kemampuan
bahkan keterampilan menulis.
Setiap karya tulis memiliki kaidah atau aturan aturan
penulisan yang harus ditaati oleh seorang penulis. Misalnya
seorang penulis paper, makalah harus menulis menggunakan
tata tulis paper atau makalah yang berlaku. Banyak buku
yang memuat aturan penulisan karya tulis, namun penulis
dapat memilih salah satu aturan dan menggunakannya secara
konsisten. Jadi tidak dicampur-campur dengan yang lain agar
tidak membingungkan pembacanya.
1) Penulisan Judul. Judul ditulis dengan kalimat singkat,
ringkas dan padat. Memuat seluruh variabel yang ada
dan merupakan kalimat lengkap sehingga pembaca dapat
mengetahui gambaran isi dari karya tulis tersebut dengan
mudah.
2) Penulisan Out Line/ Heading dan Subheading / Bab. dan
Sub Bab.
Terdapat dua macam model tata tulis yang terkenal dan
banyak digunakan di Indonesia yaitu :
a) Contoh model pertama

A.

B.
C.
D.

BAB. I
PENDAHULUAN
Permasalahan
1. Latar Belakang Masalah
2. Identifikasi Masalah
3. Rumusan Masalah
Tujuan
Manfaat
Sistematika Penulisan
BAB. II

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

58

A.
1.
2.

KAJIAN TEORITIK
(Sub Bab.)
(bagian dari sub bab)
a.
(bagian dari sub sub bab)
b.
1).
(bagian dari sub sub sub bab)
2).
a).
(bagian dari sub sub sub sub bab)
b).
(1) .
(bagian dari sub sub sub sub sub bab)
(2).
(a). (bagian dari sub sub sub sub sub sub bab)
(b).
dan seterusnya.

b) Contoh model ke dua


BAB. I
PENDAHULUAN
I.1. Permasalahan
I.1.1. Latar Belakang Masalah
I.1.2. Identifikasi Masalah
I.1.3. Rumusan Masalah
I.2. Tujuan
I.3. Manfaat
I.4. Sistematika Penulisan
BAB. II
KAJIAN TEORITIK
(bagian dari bab atau sub bab)
(bagian dari sub bab)

II.
II.1.
II.2.
II.2.1.
(bagian dari sub sub bab)
II.2.2
II.2.2.1.
(bagian dari sub sub sub bab)
II.2.2.2.
II.2.2.2.1. (bagian dari sub sub sub sub bab)
II.2.2.2.2.
II.2.2.2.2.1. (bagian dari sub sub sub sub sub bab)
II.2.2.2.2.2.
II.2.2.2.2.2.1.(bagian dari sub sub sub sub sub sub bab)
II.2.2.2.2.2.2.
dan seterusnya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

59

3) Alineanisasi. Alineanisasi maksudnya adalah penulisan


setiap alinea. Penulisan alinea sebaiknya mengingat
pokok masalah atau gagasan utama yang akan
ditulis/dijabarkan. Alinea terdiri beberapa kalimat,
namun hindari kalimat yang terlalu panjang bahkan
sampai ada anak kalimat, cucu kalimat bahkan sampai
cicit kalimat. Memang sulit dihindari untuk penggunaan
kalimat majemuk, tetapi dalam penulisan dapat dikiati
dengan tanda baca yang jelas. Setiap alinea berisi
pokok masalah yang dibahas tuntas. Sebaiknya terkait
antara alinea yang satu dengan alinea yang lain
terutama alinea sebelum dan sesudahnya. Oleh karena
itu perlu kalimat atau kata penghubung antara alinea
/pokok masalah sesudah dan sebelumnya. Hal ini akan
menghasilkan tulisan yang runtut dan tidak njeglek.
4) Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kriteria penggunaan bahasa yang baik adalah
ketepatan ragam bahasa sesuai dengan kebutuhan
komunikasi. Hal ini bertalian dengan topik pembicaraan,
tujuan pembicaraan, lawan bicara, dan tempat
pembicaraan. Bahasa yang baik adalah bahasa yang logis,
dan sesuai dengan tata nilai masyarakat. Di samping itu
ukuran baik juga bertalian dengan ketersampaian
informasi kepada lawan bicara.
Kriteria penggunaan bahasa indonesia yang baik dan
benar adalah penggunaan kaidah bahasa seperti tata
bunyi (fonologi), tata bahasa (pembentukan kata dan
kalimat), kosa kata dan istilah, ejaan dan makna.
Pada aspek tata bunyi misalnya penggunaan bunyi f,
v dan z pada kata-kata film, motiv, vitamin, variasi,
zakat, izin adalah benar bukan ditulis: pilm, notip,
pitamin, pariasi, jakat dan ijin.
Pada aspek tata bahasa, bentuk kata yang benar
adalah
ubah,
mencintai,
bertemu,
dan
pertanggungjawaban, bukan ditulis rubah, ketemu, dan
pertanggungan jawab.
Dalam bentuk kalimat, kalimat yang benar sekurangkurangnya harus mengandung subyek dan predikat.
Contoh kalimat pernyataan Pada Tabel di atas
memperlihatkan bahwa jumlah wanita lebih besar
daripada jumah pria, adalah kalimat yang tidak benar,
karena kalimat tersebut tidak mengandung subyek. Bila
kata pada dihilangkan, maka Tabel akan berubah
menjadi subjek dan kalimat menjadi benar penulisannya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

60

Pada aspek kosa kata, penggunaan kata-kata bilang,


kasih tahu, enggak, entar agar dihindari karena bukan
bahasa tulis tetapi bahasa tutur. Tulislah dengan kosa
kata berkata, beritahu, tidak, sebentar. Peristilahan
yang benar adalah seperti dampak (impact), bandar
udara, keluaran (output) bukan ditulis pengaruh,
pelabuhan udara, dan hasil.
Dari segi ejaan penulisan yang benar adalah analisis,
sistem, subjek, jadwal, kuitansi, dan hierarki .
Dari segi makna, penulisan yang benar adalah bertalian
dengan ketepatan penggunaan kata yang sesuai dengan
tujuan /tuntutan makna.
Contoh-contoh pembentukan kata yang perlu
diperhatikan dalam penulisan adalah :
Jika meng- ditambahkan kata dasar bersuku satu,
bentuknya berubah menjadi menge- seperti meng + tik
menjadi mengetik, meng- + bom menjadi mengebom,
meng-+ cek menjadi mengecek dan sebagainya.
Jika konsonan rangkap pada awal kata, tidak luluh
bila ditambah dengan meng-, seperti meng- + produksi
menjadi memproduksi, meng- + klasifikasi menjadi
mengklasifikasi, meng- + transfer menjadi mentransfer
dan sebagainya.
Bila verba berdasar tunggal direduplikasi, dasarnya
diulang dengan mempertahankan peluluhan konsonan
pertamanya. Dasar bersuku satu mempertahankan nge- di
depan dasar yang direduplikasi. Contohnya seperti tulis------menulis---------menulis-nulis, pijit--------memijit-------memijit-mijit,
cek-------mengecek--------mengecekngecek dan sebagainya.
Bila kata majemuk direduplikasi, yang diulang kata
awal. Cantohnya adalah seperti kereta api-------keretakereta api, meja makan ------meja-meja makan, buku
tulis-------buku-buku tulis. Dan sebagainya.
Dalam pemungutan kata atau kata-kata serapan
terdapat beberapa azas yaitu: Azas pemungutan kata
secara utuh seperti kata-kata abjad, ilham, radio, mode,
hotel, biadab, hikayat, ijab,izin, motor, orator dan
sebagainya; Azas pemungutan kata dengan penyesuaian
bunyi adalah seperti kata-kata subject ------ subjek,
system ------- sistem, effective ------- efektif, frequency ------ frekuensi dan sebagainya; Azas Pemungutan dengan
terjemahan seperti kata-kata medical ------- pengobatan,
spoortrein ------- kereta api, dentist ------- dokter gigi,
vulcano -------- gunung api dan sebagainya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

61

Penggunaan penulisan kata-kata sebaiknya dalam


bentuk yang sudah dibakukan. bentuk kata baku dan
bukan baku adalah seperti contoh berikut.
Baku ----------------------Bukan Baku
Kemarin
kemaren
Hakikat
hakekat
Sistem
sistim
Kongkret
konkrit
Manajemen
management
Dan sebagainya
Penulisan karya ilmiah juga harus memperhatikan
pembentukan kalimat. Pembentukan kalimat yang benar
adalah kalimat yang memenuhi syarat gramatical (aturan
bahasa). Syarat pembentukan kalimat di antaranya
adalah: sekurang-kurangnya memiliki subjek dan
predikat. Ada dua macam predikat yaitu predikat dari
kata kerja dan non kata kerja. Untuk menandai apakah
suatu kalimat yang benar dengan cara mencari predikat
kata kerja, setelah itu mencari subjeknya dengan
pertanyaan siapa atau apa yang mengerjakan. Bila
ternyata ditemukan subjek sebagai keterangan, maka
kalimat tersebut tidak bersubjek. Jadi bukan merupakan
kalimat. Lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.
Pernyataan : Tugas itu dikerjakan oleh pegawai pabrik.
Sebagai predikat kata kerja adalah kata dikerjakan,
Subjek dicari dengan pertanyaan siapa atau apa yang
dikerjakan, jawabannya adalah tugas itu. Berarti kata
tugas itu merupakan subjek. Jadi pernyataan tersebut
merupakan kalimat.
Pernyataan : Dalam
perlengkapan musik.

studio

ini

membutuhkan

Predikatnya adalah kata kerja membutuhkan.


Subjeknya dicari dengan menjawab pertanyaan apa atau
siapa yang memerlukan. Jawabnya adalah studio ini,
tetapi kata studio diawali dengan kata depan dalam yang
berarti studio merupakan kata objek/keterangan tempat.
Berarti pernyataan tersebut tidak memiliki subjek.
Dengan kata lain pernyataan tersebut bukan kalimat.
Predikat yang terdiri dari kata non kata kerja adalah
predikat kalimat kata benda seperti Ibunya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

62

pengusaha, Predikat kalimat dengan katasifat seperti


Harganya mahal, Predikat kalimat dengan kata
bilangan seperti rumahnya dua buah dan predikat
kalimat frase preposisi seperti ayahnya ke luar negeri.
Penulisan kalimat yang tidak bergramatical, biasanya
disebut kesalahan struktur yang disebabkan oleh
ketaksaan pikiran penutur bahasa. Yaitu memadukan dua
konsep menjadi satu sehingga melahirkan kalimat yang
kurang tegas dan bermakna ganda. Sebagai contoh
penggunaan kalimat aktif dan pasif menjadi satu kalimat
yaitu: Saya sudah katakan bahwa berbahasa Indonesia
yang baik dan benar itu tidak mudah
Kalimat aktif :Saya sudah mengatakan bahwa
berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak
mudah.
Kalimat pasif: Sudah saya katakan bahwa
berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu tidak
mudah.
Perpaduan dua konsep juga terjadi antara konsep
subjek dan keterangan, pengantar kalimat dan predikat,
kalimat majemuk dan kalimat bersusun, induk kalimat
dan anak kalimat.
Penulisan yang salah akibat kesalahan diksi.
Pertama, adalah kesalahan kalimat yang diakibatkan
oleh kesalahan pemakaian kata yang tidak tepat misalnya
hasil daripada penjualan akan digunakan untuk
membangun rumah ; Sebagian dari kekayaan pejabat
akan disumbangkan ke panti asuhan. Yang tepat adalah
hasil dari penjualan akan digunakan untuk membangun
rumah ; Sebagian dari pada kekayaan pejabat akan
disumbangkan ke panti asuhan.
Kedua, adalah pemakaian kata yang berpasangan yang
tidak memenuhi kaidah seperti ini: baik ....maupun
........;
bukan......melainkan..........
;
tidak.........tetapi........ ; antara.......dan...........
Ketiga, adalah pemakaian dua kata yang makna dan
fungsinya kurang lebih sama dipakai secara serentak.
Contoh : Sehubungan dengan itu, maka suatu
penelitian harus dibatasi secara jelas agar simpulannya
terandalkan. Penggunaan yang benar kata sehubungan
dengan itu saja atau menggunakan kata maka saja.
Keempat, adalah peniadaan preposisi yang menyertai
verba. Contoh yang salah : Pegawai SMK I terdiri 20 pria
dan 25 wanita. Yang benar adalah Pegawai SMK I terdiri
atas 20 pria dan 25 wanita. Contoh yang lain : Jumlah itu

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

63

sesuai keadaan dan fasilitas tersedia. Yang benar adalah


Jumlah itu sesuai dengan keadaan dan fasilitas yang
tersedia.
Penulisan yang salah akibat ejaan.
Pertama, kesalahan pemenggalan kata atas sukunya
yaitu :
Makh luk
bukan
mak hluk ;
cap lok
bukan
ca plok ;
Ap ril
bukan
A pril ;
prog ram
bukan
pro gram;
Ab strak
bukan
abs trak ;
kon struksi bukan
kons truksi ;
In stansi
bukan
ins - stansi ;
Santap an bukan
santa pan ;
me ngail
bukan
meng ail ;
Meng akui bukan
me- ngakui ;
bel ajar
bukan
be lajar ;
Robi
bukan
Robi Dar wis ;
Toyib
bukan
Toyib Us-man.
Kedua, adalah kesalahan penggunaan huruf kapital yang
tidak sesuai dengan kaidah penggunaannya. Penggunaan
yang benar adalah:
Huruf kapital digunakan pada huruf pertama petikan
langsung, pada huruf pertama dalam ungkapan yang
berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci,
nama Tuhan, pada huruf pertama gelar kehormatan,
keturunan dan keagamaan yang diikuti nama orang, pada
huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang
diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti
nama orang, instansi atau nama tempat, pada huruf
pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa, pada
huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan
peristiwa sejarah, pada huruf pertama nama geografi,
pada huruf pertama namanegara, lembaga pemerintahan
dan ketatanegaraan, pada huruf pertama setiap unsur
bentuk ulang sempurna pada nama badan, lembaga
pemerintahan dan ketatanegaraan, pada huruf pertama
semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar
dan judul karangan kecuali di, ke, dari, yang tidak
terletak pada posisi awal, pada huruf pertama unsur
singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan, pada huruf
pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti
bapak, ibu, anak, paman, saudara, kakak, adik yang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

64

dipakai dalam penyapaan dan pengacuan, pada huruf


pertama kata ganti anda.
Ketiga, kesalahan penulisan akibat penggunaan huruf
cetak miring yang tidak tepat. Pengunaan huruf cetak
miring yang benar adalah, untuk menuliskan nama buku,
majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan,
untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian
kata, kata atau kelompok kata, untuk menuliskan kata
nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang
disesuaikan ejaannya.
Keempat, kesalahan penulisan akibat penggunaan kata
ulang yang tidak benar. Kaidah yang benar dalam
penulisan kata ulang adalah :
Anak-anak; sekolah-sekolah; tinggi-tinggi
Berkejar-kejaran; didorong-dorong; sayur-sayuran
Meja-meja tulis; buku-buku gambar; rumah-rumah sakit
Sayur-mayur; lauk pauk; ramah-tamah
Kelima, kesalahan penulisan akibat penulisan gabungan
kata yang tidak benar. Penulisan yang benar adalah :
limbah industri
bukan
limbahindustri
kotak pos
bukan
kotakpos
kompor gas
bukan
komporgas
dan sebagainya.
Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata
seperti, daripada, barangkali, padahal, sekaligus,
bilamana, apabila, matahari, hulubalang, saputangan,
bumiputra, segitiga dan sebagainya.
Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat
berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti
penuh.
Misalnya : Nonteknis, amoral, tunawisma, caturwarga,
mahaguru, pascapanen, subunit, perilaku, antarkota,
non-RRC, antar-SMK dan sebagainya.
Gabungan kata yang nendapat awalan dan akhiran
sekaligus, penulisannya harus serangkai. Misalnya :
pertanggungjawaban, diujicobakan, diserahkan dan
sebagainya.
Keenam, Kesalahan penulisan akibat penulisan kata ganti
yang tidak benar. Penulisan yang benar kata ganti ku,
kau, mu, nya ditulis serangkai dengan kata yang
mendahului/mengikutinya. Misalnya : kutulis, kauselidiki,
bukuku, bajumu, sepatumu, miliknya dan sebagainya.
Ketujuh, Kesalahan penulisan akibat penulisan lambang
dan angka yang salah. Penulisan yang benar, lambang
bilangan ditulis dengan angka jika berhubungan dengan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

65

ukuran panjang, luas, isi, berat, satuan waktu, nilai


uang, nomor jalan, rumah, kamar, pada alamat yang
bukan dokumen resmi. Misalnya : 5 sentimeter, 10 meter
persegi, 25 liter, 30 kilogram, 1 jam 15 menit, Rp.
15.000,00, Jalan Semarang, Nomor 16. dan sebagainya.
Bilangan dalam perincian dituliskan dengan angka.
Misalnya: Siswa yang datang mengikuti kegiatan praktek
tadi pagi ada 30 orang, yaitu 17 orang pria dan 13 orang
wanita.
Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu
atau dua kata dituliskan dengan huruf, sedangkan yang
lebih dua kata dituliskan dengan angka. Misalnya :satu
bus, tiga orang, tiga ribu pohon, 28 orang, 33 lembar,
dan sebagainya.
Lambang bilangan pada awal kalimat dituliskan dengan
huruf. Misalnya : Sepuluh orang telah dibawa ke Rumah
Sakit.
Kata bilangan yang mendapat akhiran an, dituliskan 75an, 100-an.
Bilangan yang ditulis dalam dokumen resmi seperti
kuitansi, akta, cek, dan sebagainya dapat dituliskan
angka dan huruf. Misalnya 5.000 (lima ribu), Rp.
1.500.000,00 (Satu juta lima ratus ribu rupiah).
Penulisan kata bilangan tingkat. Misalnya : Hari ulang
tahunku yang ke XLV, Hari Ulang Tahun ke-45 RI, Hari
Ulang Tahun Keempat Puluh Lima Republik Indonesia.
Kedelapan, Kesalahan penulisan akibat penggunaan
tanda baca yang tidak tepat. Penggunaan tanda baca
yang tepat adalah :
Tanda koma, digunakan diantara unsur-unsur dalam suatu
perincian atau pembilangan. Misalnya, Pegawai yang
jujur, terampil, dan disiplin sangat dibutuhkan.
Digunakan untuk memisahkan kalimat setara berlawanan
yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului
oleh kata tetapi, melainkan, dan sedangkan. Misalnya:
Tini tidak pergi sekolah, tetapi mengantar adiknya ke
Puskesmas. Ia bukan Siswa SMK, melainkan Wartawan
RRI.
Digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang
mendahului induk kalimatnya. Misalnya : Karena sakit, ia
tidak mengikuti kunjungan ke Studio TVRI.
Digunakan dibelakang kata atau ungkapan penghubung
antar kalimat. Misalnya :
Pertama,
Kedua,
Selanjutnya, Namun,

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

66

Lagipula,
Meskipun demikian, Sebenarnya, Kalau
begitu, Kemudian, Sebaliknya, Selain itu, Bahkan,
Akhirnya, dan sebagainya.
Digunakan dibelakang kata-kata seperti wah, ah, aduh,
kasihan, o, dan ya,
Digunakan antara nama dan alamat, tempat dan tanggal,
serta tempat dan wilayah yang ditulis secara berurutan.
Seperti, Jalan Pedidikan I, Duren Sawit, Jakarta Timur;
Jakarta, 9 Desember 2006. ; Kelurahan Duren Sawit,
Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
Digunakan di antara nama orang dan gelar yang
mengikutinya. Seperti, Arifin, M.A. ; Mulyanto, S.H. ;
Agung Suwanda, M.Pd.
Digunakan untuk mengapit keterangan tambahan dan
keterangan aposisi. Misalnya : Rektor UNNES, Prof. Dr.
Sudiono, mengatakan bahwa .......
Tidak digunakan pada kalimat yang kalimatnya
mengiringi induk kalimatnya. Seperti, Ia terpaksa
membatalkan rencananya untuk berkunjung kepada
orang tuanya di Klaten karena harus menyelesaikan
pekerjaanya pada hari itu juga.
Tanda titik koma, kesalahan penulisan akibat pemakaian
tanda titik koma yang tidak tepat. Pemakaian tanda titik
koma yang tepat adalah:
Dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam
satu kalimat majemuk sebagai pengganti kata hubung.
Misalnya : Ketela pohon banyak sekali kegunaannya,
yaitu daunnya dapat digunakan sebagai sayuran;
ketelanya dapat dibuat berbagai makanan ringan;
pohonnya dapat digunakan sebagai kayu bakar.
Dapat digunakan pada rincian kebawah yang unsurunsurnya berupa kelompok kata yang panjang atau
kalimat. Misalnya : Ia tidak dapat menyelesaikan
pekerjaan pada waktunya karena
a. isterinya sakit dan sudah lama dirawat di rumah sakit;
b. rekan kerjanya sedang pergi keluar kota;
c. peralatan kerjanya ada yang rusak dan belum sempat
diperbaiki.
Tanda titik dua. Kesalahan penulisan akibat pemakaian
tanda titik dua yang tidak tepat. Pemakaian tanda titik
dua yang tepat adalah : digunakan pada kalimat lengkap,
yang diikuti rincian berupa kata atau frase. Misalnya:
Syarat-syarat untuk dapat melamar menjadi PNS, antara
lain sebagai berikut :
a. warga negara Indonesia

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

67

b. usia antara 18 sampai dengan 40 tahun


c. berkelakuan baik
d. berbadan sehat
Tidak digunakan sebelum rincian yang merupakan
pelengkap kalimat. Misalnya : syarat-syarat untuk dapat
melamar menjadi PNS, antaralain, adalah
a. warga negara Indonesia;
b. usia antara 18 sampai dengan 40 tahun;
c. berkelakuan baik;
d. berbadan sehat.
Tanda titik dua diganti dengan tanda titik satu pada
kalimat lengkap, yang diikuti rincian berupa kalimat
lengkap pula dan tanda akhir rincian harus tanda titik.
Misalnya : Syarat-syarat untuk dapat melamar menjadi
PNS, antara lain sebagai berikut.
a. Pelamar harus warga negara Indonesia.
b. Pelamar berusia antara 18 sampai dengan 40 tahun.
c. Pelamar berbadan sehat.
d. Pelamar harus berkelakuan baik.
5) Tata tulis ilmiah yang lain.
a) Integritas keilmuan.
Yang menandai keintegritasan seorang penulis
karya tulis adalah kejujuran ilmiah. Kejujuran ilmiah
meliputi pengakuan dan
pemanfaatan aspek-aspek
teoritis dari penulis/sumber lain yang memiliki otoritas,
pengakuan dan pemanfaatan hasil penelitian, penyertaan
sumber-sumber acuan, kejujuran dalam mendapatkan
data, dan pengakuan secara jujur terhadap hal-hal yang
belum dapat dipecahkan secara tuntas.
Jika merumuskan masalah dengan menggunakan
buku sumber, maka harus secara jujur menyebutkan
sumbernya.
Jujur terhadap batas kemampuan diri yang secara
implisit merupakan pengakuan secara jujur
batas
kemampuan diri terhadap bidang lain sehingga akan
menghormati orang lain yang lebih kompeten dalam
bidangnya. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pengutipan
dan penulisan sumber pustaka secara jelas.
b) Kutipan, sumber acuan dan catatan
Dalam penulisan karya tulis sering dilakukan
pengutipan beberapa masalah teoritis, pernyataan,
kupasan,hasil penelitian, dari sumber-sumber tertentu
baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

68

keperluan penulisan sering juga mengambil rumusan


orang lain dan membahasakannya menurut rumusan
sendiri. Rumusan ini ditulis dan diikuti nama penulis asli,
dan tahun terbit buku yang diacu yang ditempatkan di
dalam kurung. Contoh : ...........(Lado,1976). Atau Ispen
dkk (1976) menyatakan ............
Seorang penulis juga dibenarkan mengutip secara
langsung masalah-masalah teoritis, pernyataan atau hasil
penelitian baik dengan bahasa sendiri maupun bahasa asli
penulisnya. Contoh : Dalam menganalisis sistem bunyi,
Lado (1976) menyatakan: .....................................
.............................................
c) Penulisan daftar pustaka.
Berikut ini contoh penulisan sumber pustaka.
Daftar pustaka 1
1. Agus Tiarso .(2005). Penulisan naskah multimedia.
(Bahan sajian pelatihan). Semarang : BPM
2. Brown,G.& Atkins, M. (1987). Effective teaching in
higher education. New York : Longman
Methew
3. Hari Wibawanto (2004). Membuat bahan ajar
elektronik dengan program front page .
(Bahan sajian pelatihan). Semarang : UPT SBM
UNNES
4. Kemp Jerrold, E & Dayton Deane, K. (1985). Planning
and producing instructional media. USA :
Harper & Row
5. Palmer W, Agnew at all. (1996). Multimedia in the
classroom. Boston : Allyn & Bacon.
6. Sadiman Arif, S. (1994). Pengembangan media
instruksional. Jakarta : Pustekom dikbud.
7. Sri Sartono, FR. (2004). Strategi Belajar Mengajar.
(Bahan sajian pelatihan). Semarang : UPT SBM
UNNES

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

69

8. Tony

Setiawan.
(2005).
Teknik
produksi
multimedia.
(Bahan sajian pelatihan).
Semarang : BPM

Daftar pustaka 2 :
Bise Wana dan Sutisno. 1986. Karakteristik dan
Komponen Media Transparansi (OHT).
Jakarta: Depdikbud.
Brown, G dan Atkins, M. 1987. Effective Teaching in
Higher Education. New York: Longman
Metheu.
Kemp Jerrold E dan Dayton Deane K. 1985. Planning &
Producing Instructional Media. USA: Harper
& Row Publishers.
Palmer W. Agnew , dkk. 1996. Multimedia In The
Classroom. Boston: Allyn and Bacon.
Priyono,A. dan Sri Sartono, FR. 2000. Presentation
Skills. Semarang: UPT SBM Universitas Negeri
Semarang.
Rahardjo. 1991. Desain Media. Jakarta: Depdikbud.
Sadiman, Arief S. 1994. Pengembangan Media
Instruksional. Jakarta: Pustekom Depdikbud.
_________. 1996. Media Pendidikan. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Daftar pustaka 3
Atwi Suparman. 1997. Desain Instruktional. Jakarta :
PAU-PPAI Universitas Terbuka.
Baddeley, A.D. 1986. Working Memory. Oxford: Oxford
University Press.
Chandler, P. dan Sweller, J. 1988. The split-attention
effect as a factor in the design of instruction.
British Journal of Educational Psychology,
62, hal 233-246.
Goldberg, R. 1993. The big squeeze. Popular Science,
269:107-108

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

70

Heinich, Robert, Michael Molenda, dan James D. Russel.


1985. Instructional Media and the New
Technologies of Instruction. Second Edition.
New York: John Wiley and Sons.
Marshall, David dan Stepen Hurley. 1997. Delivering
Hypertext-based Courseware on the Worldwide
Web.
[Edisi
Online].
URL:
http://www.iicm.edu/jucs_2_12/delivering_hy
pertext_based_courseware/html/paper.html.
Tanggal 10 Juni 2000.
Maurer, Hermann dan Jennifer Lennon. 1997. Digital
Libraries as Learning and Teaching Support.
[Edisi
Online].
URL:
http://www.iicm.edu/jucs_2_11/digital_librar
ies_as_learning/html/paper.html. Tanggal 10
Juni 2000.
Mayer, R.E. 1997. Multimedia learning: Are we asking
the right question? Educational Psychologist,
32, hal. 1-19
Mayer, R.E. dan Anderson, R.B. 1991. Animation need
narrations: An experimental test of a dualcoding hypothesis. Journal of Educational
Psychology, 83, hal 484-490.
Merril, Paul F., dkk. 1996. Computers in Education.
Third Edition. Boston: Allyn and Bacon
Microsoft. 1999. Microsoft Encarta 99. [CD ROM]. USA:
Microsoft Corp.
Moreno, R. dan Mayer, R.E. 2000. A Learner-Centered
Approach to Multimedia Explanation: Deriving
Instructional Design Principles from Cognitive
Theory.
[Edisi
OnLine].
URL:
http://imej.wfu.edu/articles/2000/2/index.as
p
Nelson, T.H. 1965. The hypertext. Proceding of the
World Documentation Federation.
Paivio, A. 1986. Mental Representation: A Dual Coding
Approach. Oxford: Oxford University Press.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

71

b. Komunikasi Lisan/ Verbal dan Non verbal


Komunikasi secara lisan (oral presentation) adalah
komunikasi yang dilakukan antara dua orang atau lebih
secara lisan/verbal antara sumber pesan/informasi kepada
penerima pesan/informasi. Agar pesan/informasi dapat
disampaikan secara baik dan dapat difahami oleh penerima
pesan/informasi, sumber pesan memerlukan kemampuan dan
keterampilan mengkomunikasikan / mempresentasikan pesan
yang akan disampaikan secara lisan. Kemampuan
dan
keterampilan tersebut dikenal dengan istilah oral
presentation skill. Presentation skills ini diperlukan pada
saat proses pembelajaran, pelatihan, rapat, seminar,
simposium, wawancara dan forum-forum komunikasi yang
lain.
Dalam komunikasi secara lisan, pesan disampaikan
dalam bentuk ucapan melalui mulut/oral dalam bentuk
verbal. Dalam hal ini sumber atau selanjutnya disebut
presenter akan banyak menggunakan bahasa tubuh
(nonverbal) untuk memberikan penegasan, penekanan
ucapan dan gaya bicara yang dapat lebih memberikan daya
tarik dan menimbulkan atensi terhadap informasi yang
sedang disampaikan. Sehingga meningkatkan pemahaman
audien terhadap informasi yang disampaikan.
Pada prinsipnya seorang presenter dalam proses
presentasi
melakukan
proses
pembelajaran,
yaitu
menjelaskan informasi sejelas-jelasnya kepada audien.
Kemampuan utama yang diperlukan oleh presenter dalam
pembelajaran secara sukses adalah sebagai berikut.
1) Kemampuan menjelaskan (explainning)
2) Kemampuan
menyajikan
informasi
(presenting
information)
3) Kemampuan membangkitkan minat dan perhatian (geting
interest)
4) Kemampuan mempersiapkan materi.
Tugas seorang presenter adalah dapat menjelaskan
informasi sejelas mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara menyampaikan informasi dengan jelas dan membuat
presentasi menarik bagi audien. Materi bisa disampaikan
secara jelas bila tersusun dengan struktur yang baik,
sehingga dapat dipresentasikan dengan baik pula.
Selanjutnya bagaimana membuat presentasi itu menarik,
sehingga audien tertarik untuk mengikuti dengan antusias.
Langkah-langkah agar presenter dapat menyajikan presentasi
yang menarik adalah using media, varying activities,

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

72

comparing/contrasting,
opening/ending.
Untuk
lebih
jelasnya dapat diperhatikan ilustrasi pada skema berikut.
explaining

clearity

interest

using MEDIA
varying activities
comparing/contrasting
opening/ending

getting interest

presenting
information
PERSIAPAN

Gambar. 29. Prinsip Presentation skills


Menjelaskan adalah memberikan pemahaman kepada
orang lain. Dengan demikian seorang presenter harus mampu
mempresentasikan informasi dengan sejelas-jelasnya agar
informasi tersebut secara jelas dipahami audien.
Agar dapat menjelaskan materi informasi dengan baik
sehingga mampu meningkatkan pemahaman, yaitu dengan
langkah-langkah sebagai berikut.
1) Bicara dengan jelas, gunakan jeda, jangan terlalu cepat
2) Strukturisasi bahan yang akan disajikan
3) Ulas kembali pokok-pokok pembicaraan melalui
paraphrasing.
4) Amati reaksi audien
5) Cek pemahaman audien.
Dalam melakukan presentasi bicara harus kuat dan jelas,
sehingga semua audien benar-benar bisa mendengar dengan
baik. Biasanya dibantu dengan alat pelantang suara (sound

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

73

system). Dalam bicara tidak perlu tergesa-gesa dan sebaiknya


ada jeda dan jangan terlalu cepat untuk memberi
kesempatan audien untuk mencerna informasi.
Penyampaian bahan agar diatur dengan struktur yang
baik supaya bahan dapat disampaikan secara runtut dan logis
sehingga mudah dipahami. Perlu ada pengulasan kembali
bahan-bahan yang sekiranya sulit dipahami melalui
paraphrasing, agar memudahkan pemahaman. Paraphrasing
adalah teknik mendengar dengan baik, meringkas dengan
baik sehingga akan mampu mendorong audien untuk
mendengar secara hati-hati, mendapatkan kesempatan untuk
mengecek kebenaran informasi dan mampu mengurangi atau
menghindari kesalahpahaman yang menyebabkan konflik.
Mengamati reaksi audien merupakan hal yang penting
untuk dilakukan. Dengan mengamati perilaku audien dapat
mengetahui respon/reaksi audien yang positif dan negatif.
Reaksi ini segera dapat dikelola oleh presenter sehingga tidak
sampai mengganggu presentasi.
Mengecek
pemahaman
audien
dilakukan
untuk
mengetahui apakah materi yang disampaikan telah difahami.
Mengecek pemahaman dapat dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan secara acak atau memberikan kesempatan audien
untuk bertanya.
Membangkitkan minat audien agar berminat mengikuti
presentasi dengan baik adalah juga tugas seorang presenter.
Ada tiga strategi dalam membangkitkan minat audien yaitu :
1) Kontak pandang (Eye contact) Bahasa Tubuh (Gestures)
dan Pengaturan suara.
2) Penggunaan contoh-contoh yang tepat dan analogi, dan
3) Pemanfaatan humor, cerita, konsep-konsep.
Kontak Pandang. Biasanya presenter yang baru dan
belum pengalaman bicara di depan orang banyak memiliki
perasaan minder/nervous, sehingga takut memandang
audien. Hal ini merupakan hambatan psikhologis yang sangat
mengganggu presenter untuk sukses dalam presentasi. Oleh
karena itu presenter harus berlatih dari pengalaman yang
satu ke pengalaman yang lain. Makin banyak pengalaman
presenter akan semakin siap mentalnya dan hambatan
psikhologis semakin berkurang. Dalam presentasi kontak
pandang (eyes contact) harus diusahakan secara menyeluruh
mulai dari depan ke belakang, dari kanan ke kiri secara
merata. Kontak pandang presenter terhadap audien adalah
merupakan bentuk perhatian/atensi. Hal ini sangat penting
dan perlu untuk memenuhi kebutuhan audien dalam proses
komunikasi yang baik, karena akan meningkatkan minat

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

74

audien untuk mengikuti presentasi dengan lebih antusias dan


serius sehingga akan meningkatkan pemahaman.
Gestures. Yang dimaksud dengan gestures dalam
presentasi adalah penggunaan gerakan anggota badan/tubuh
untuk memberikan penekanan/penegasan ketika informasi
disampaikan, sehingga informasi nampak lebih meyakinkan
kebenarannya. Misalnya gerakan tangan, mimik/wajah,
senyuman, perpindahan posisi, dan sebagainya. Gerakan
anggota badan ini sangat baik bila disesuaikan dengan
pengolahan suara sehingga menghasilkan gaya bicara yang
meyakinkan dan simpatik. Dengan cara seperti ini akan
menghasilkan image yang baik dari audien dan akan
menambah kepercayaan serta kewibawaan presenter di mata
audien.
Pengaturan Suara. Presenter dalam berbicara, suaranya
perlu diolah/diatur sedemikian rupa sehingga jelas, tidak
monoton, enak didengar. Dalam berbicara artikulasi harus
jelas, intonasinya dinamis tidak monoton, kadang keras
kadang lembut, dengan kecepatan bicara sedang, ada jeda
dan warna suara tidak perlu dibuat-buat. Pengaturan suara
ini disesuaikan dengan kebutuhan dan biasanya sekaligus
untuk menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif
mendukung proses komunikasi.
Penggunaan contoh-contoh dan analogi. Penggunaan
contoh-contoh yang tepat dan analogi-analogi dari informasi
yang disampaikan akan membantu imajinasi audien sehingga
dapat dengan mudah memahami informasi yang di
presentasikan. Hal ini akan membuat
presentasi lebih
variatif, tidak monoton sehingga audien tidak jenuh dan
tahan lama berkonsentrasi dalam mengikuti presentasi. Ingat
otak hanya peka terhadap perubahan, sehingga hal-hal yang
statis tidak akan lama mendapatkan perhatian.
Pemanfaatan humor, cerita, dan konsep-konsep tentang
sesuatu hal juga dapat membuat variasi. Biasanya digunakan
sebagai selingan untuk menarik perhatian audien kembali
berkonsentrasi pada informasi yang disampaikan. Untuk
menciptakan suasana baru, mengendorkan saraf yang tegang
sehingga menjadi fresh kembali dan siap menerima informasi
yang baru. Dengan demikian minat audien dapat
dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Cara meningkatkan minat yaitu dengan langkah-langkah
strategi sebagai berikut.
1) Tunjukkan bahwa presenter sendiri juga menaruh minat
terhadap topik yang sedang dibicarakan.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

75

2) Tunjukkan bahwa presenter credible, trustworthy dan


having expertise (Dapat dipercaya, solid dan memiliki
kemampuan)
3) Gunakan contoh yang tepat, analogi, cerita
dan
sebagainya
4) Bila materi masih terasa asing, mulailah dengan contohcontohnya. Mainkan minat / keingintahuan dengan
melempar pertanyaan, masalah atau teka-teki.
Pemanfaatan Media. Presentasi perlu memanfaatlakan
media komunikasi, karena media komunikasi bila didisain dan
dimanfaatkan dengan baik akan dapat memperlama
minat/rasa keingintahuan. Sebaliknya kalau penggunaannya
kurang tepat/baik malah akan menambah kebosanan. Oleh
sebab itu penggunaan media dalam presentasi sebaiknya,
1) Ilustrasi, diagram, ringkasan dibuat sederhana, singkat
dan keterbacaannya tinggi, artinya audien yang paling
belakang/jauh dapat membaca dengan mudah. Jika
terdapat informasi yang penting, beri waktu kepada
audien untuk memperhatikan lalu dijelaskan.
2) Handout, juga didesain sederhana dan terstruktur secara
jelas terdiri dari pendahuluan, isi dan penutup.
3) Slide, audio, film dan video/vcd dapat meningkatkan
minat, tetapi kalau durasinya terlalu lama akan
menyebabkan audien cenderung bosan dan mengantuk.
Dianjurkan durasi 10 20 menit maksimum. Atau kalau
durasinya panjang diputar secara bertahap dan diselingi
penjelasan oleh presenter. Hal ini akan membuat
penggunaan media lebih efektif.
Media komunikasi yang berkembang saat ini adalah
penggunaan laptop dan LCD proyektor/ infocus. Penggunaan
media ini softwarenya didisain dengan program aplikasi
komputer diantaranya dengan program powerpoint. Program
ini memberikan fasilitas pembuatan disain slide presentasi
dengan variasi yang sangat baik dan menarik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam presentasi
dengan bantuan media LCD adalah sebagai berikut :
1) Lakukan pengaturan optimal sebelum presentasi
2) Siapkan icon shortcut di layar desktop
3) Bila menggunakan timer untuk pergantian slide, pastikan
bahwa telah dilakukan simulasi
4) Gunakan laser pointer untuk menunjuk tampilan di
layar
5) Bila tidak menggunakan timer untuk mengatur waktu
tayangan, sebaiknya gunakan remote mouse atau asisten
agar anda bebas berhadapan dengan audiens supaya anda

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

76

bebas melakukan kontak mata dan komunikasi non verbal


lainnya
6) Jangan sibuk dengan peralatan danJangan bersembunyi
di balik peralatan, yang utama adalah pesan, alat hanya
pembantu.
7) Jangan sering melihat layar tampilan, supaya dapat
selalu
melihat audien. Karena semua respon audien
harus dikelola baik yang berupa oral maupun gerak-gerik
tubuhnya.
Dalam
menyiapkan
Slide
presentasinya
perlu
memperhatikan prinsip dasar-dasar disain yang terdiri dari
Irama,
Penekanan,
Kesetimbangan,
kesatuan
dan
kesederhanaan. Langkah-langkah penulisannya adalah
sebagai berikut.
1) Buat konsep setiap framenya
2) Pilih font yang mudah dibaca
3) Jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil. Besar
huruf/font 20 - 40
4) 1 frame maksimum 10 baris
5) Pilih warna yang kontras (2-3 warna)
6) Yang ditulis hanya kata kunci saja, jangan berupa kalimat
panjang supaya tidak rumit (complicated). Tulis dengan
singkat, padat dan bermakna (condensed).
7) 1 frame sebaiknya hanya berisi 1 konsep.
8) Beri penekanan pada kata-kata yang penting, dengan
menggunakan font yang berbeda, warna yang berbeda
sehingga menjadi point of interest, garis, bidang, ruang
sehingga frame menjadi kesatuan disain yang tidak norak
tetapi lembut dan serasi. Sehingga enak dilihat dan
menjadikan betah menikmatinya.
Meningkatkan variasi kegiatan. Kegiatan yang bervariasi
akan meningkatkan minat dan perhatian dan rasa ingin tahu
dari audien. Strategi untuk membuat kegiatan yang
bervariasi adalah dengan melemparkan sebuah pertanyaan,
memperlihatkan video klip, membagi tugas, mendorong
pemecahan masalah secara kolektif, mendorong terjadinya
diskusi dan sebagainya.
Persiapan. Persiapan penting bagi presenter agar
presentasi berjalan dengan baik. Persiapan berupa persiapan
mental psikhologis maupun fisik dan persiapan materi yang
akan dipresentasikan. Pada tahap persiapan ini presenter
harus mengungkap kembali apa yang dimiliki yaitu yang
berupa kekuatan maupun kelemahan. Hal-hal yang menjadi
kekuatan didorong kemunculannya secara optimal, dan yang
menjadi kelemahan ditekan /dikurangi. Bahan disiapkan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

77

dengan struktur yang baik mulai pembuka, isi dan penutup.


Struktur
yang
baik
akan
menentukan
ketuntasan
penyampaian gagasan/ide. Penetapan pokok-pokok pikiran
yang akan atau perlu pengulasan kembali juga merupakan
yang penting dalam persiapan. Media atau alat bantu
presentasi juga harus dipersiapkan. Sebaiknya datang awal di
tempat presentasi untuk mengenal medan dan persiapan
media yang digunakan, sebab ketidak siapan hal ini akan
mengganggu secara psikhologis yang akhirnya bisa membuat
fatal presentasi. Mungkin akan menjadi tontonan bukan
tuntunan.

Gambar 30. Bung Karno dan seorang tokoh dengan gaya


Pidatonya menggunakan teknik presentasi.
Perlu diingat bahwa presentation skills merupakan
kemampuan yang dapat dipelajari untuk meningkatkan
kemampuan berekspresi diri baik secara lisan maupun
tertulis. Pemahaman tentang bahasa tubuh (body language)
juga merupakan peran penting dalam peningkatan
kemampuan presentasi. Prinsip-prinsip presentasi adalah
bagaimana mengelola gesture atau gerak-gerik anggota
badan yang dimanfaatkan untuk menjelaskan maupun gerakgerik audien yang harus dikelola; Pengelolaan Voice/suara;
struktur penyampaian
bahan; pemahaman audien
(understanding
audience)
bahwa
harus
dipahami
kenyataannya audien terdiri 70 % pemalas sehingga harus
dilayani; Pemanfaatan 15 menit pertama bahkan 5 menit
pertama adalah waktu yang sangat menentukan keberhasilan
presentasi. Bila dalam waktu itu berhasil menguasai audien
maka 90% presentasi akan berhasil, demikian pula
sebaliknya; Penggunaan media yang sebaik-baiknya. Baik
disainnya maupun penggunaannya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

78

Dalam setiap detik kehidupan manusia dituntut mampu


berkomunikasi secara efektif dalam berbagai suasana seperti
di kantor, dalam keluarga, bisnis, karir, dansebagainya.
Dalam kesempatan tersebut manusia dituntut sebagai
komunikator yang efektif. Kemampuan berkomunikasi bagi
sementara orang adalah sebuah talenta alami. Menjadi
komunikator yang efektif akan disegani dan dihormati,
berwibawa. Namun kemampuan tersebut bagi sementara
orang harus dipelajari dan dilatih agar berkembang. Dengan
demikian keterampilan presentasi merupakan kebutuhan bagi
setiap orang. Komunikasi merupakan kebutuhan mendasar
manusia sebagai makhluk sosial yang harus berkomunikasi
dengan orang lain. Keterampilan komunikasi harus dimiliki
dan dikembangkan secara berkelanjutan sehingga tidak
ditinggalkan orang lain hanya karena lemah dalam
komunikasi. Bila seorang mampu sebagai komunikator yang
efektif, maka dia akan percaya diri bahkan mampu
menghargai dirinya sendiri, disegani/dihormati, mampu
menghargai orang lain secara tulus dan menimbulkan rasa
kebanggaan dan kebahagiaan pada dirinya.
Belajar menjadi komunikator yang efektif berarti harus
belajar
mengekspresikan
perasaan,
menghadirkan/
menyajikan diri secara baik, memberi pujian sepantasnya
kepada orang lain, dan belajar mengatasi konflik secara
efektif.
Mengekspresikan diri. Untuk belajar mengekspresikan
diri pertama-tama kenalkan diri sedemikian rupa sehingga
orang lain/audien mengenal dan memahami. Setelah itu
harus berusaha mengenal mereka, latar belakangnya,
pengetahuannya,
perasaannya,
pandangannya
dan
sebagainya. Bila harus berbicara, harus dilakukan dengan
ringkas/padat dan tidak umum. Berbicara satu ide saja.
Tampilkan/tunjukkan rasa senang tidak emosional dan
percaya diri dan bicaralah dengan jelas.
Belajar Mendengar merupakan hal yang penting untuk
menghindari diri dari kesalahpahaman. Usahakan jangan
sampai perhatian terbagi dan tunjukkan minat pada apa yang
sedang dibicarakan, usahakan jangan menginterupsi
pembicaraan orang lain sebelum orang lain menyelesaikan
kalimatnya. Ajukan pertanyaan dengan baik dan terstruktur,
jangan pertama......, kedua......., ketiga......... dan
seterusnya, tetapi singkat dan jelas.
Bila akan merespon, sampaikan secara singkat dan jelas
bukan umum, melantur, putar-putar ; logis dan tidak
emosional dan Be Tacful artinya meskipun tidak /kurang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

79

setuju sampaikan dengan cara yang positif. Jelaskan alasanalasan ketidak setujuannya tanpa harus menyerang pribadi
apalagi di depan orang banyak. Bicara secara jujur
merupakan hak dan tanggungjawab bagi setiap orang, namun
usahakan bicara jujur tanpa menyakiti orang lain.
Untuk
meningkatkan
kemampuan
berkomunikasi,
sadarilah dan pahamilah gejolak emosi diri (perut, jantung
berdebar-debar). Apakah gejala tersebut fair ? jangan-jangan
sedang emosi. Segera ambil langkah tindakan untuk
mengatasinya, misalkan dengan cara tarik napas panjang
berkali-kali, diam dan renungkan penyebabnya dan buang
dengan melawan dengan kata-kata yang positif; Buatlah
daftar keunggulan dan kekurangan diri, Latihan diri untuk
mengurangi kelemahan dan lebih menonjolkan keunggulannya; Tidak semua komunikasi berlangsung secara verbal
bahkan berdasarkan penelitian 55% disampaikan secara non
verbal. Oleh karena itu pelajari gerak-gerik anggota badan,
mimik lawan bicara untuk di kelola. Coba bandingkan dan
pelajari bahwa teman mengatakan tidak apa-apa tetapi
dengan wajah murung, ceria, dan memalingkan muka. Apa
maksudnya ?
Mengatasi konflik sangat memerlukan keterampilan dan
kemampuan untuk itu. Konflik muncul saat bekerjasama
dengan orang lain baik secara individual maupun kelompok.
Memang kalau dirasakan konflik itu menyakitkan. Tetapi
kalau dihayati betul, konflik tersebut juga bermanfaat yaitu
menjadikan lebih memahami orang lain, lebih bisa
memahami diri sendiri, pengambilan keputusan dapat
berlangsung secara lebih baik, dan mengatasi konflik
merupakan pekerjaan yang menantang dan menarik.
Bila harus mengatasi konflik, harus diusahakan terfokus
tidak membawa masalah-masalah yang lain. Atasi
masalahnya dan jangan menyerang pribadi. Ungkapkan
perasaan secara tenang jangan emosional. Lakukan analisis
masalahnya. Duduk bersama, buat daftar kemungkinan
penyelesaian masalah, dan cari kemungkinan yang paling
memungkinkan dan menyenangkan semua pihak. Sering kali
kompromi harus terjadi dan mungkin tidak bisa dihindari,
oleh karena itu laksanakan solusi yang disepakati.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

80

Gambar 31. Wartawan sedang wawancara dan meliput peristiwa


2. Teknik Wawancara
a. Pengertian dan jenis wawancara
Wawancara adalah kegiatan pencarian informasi dengan
cara menanyakan secara detail dan mendalam, memancing
dengan pernyataan maupun mengkonfirmasikan sesuatu hal
agar dapat diperoleh gambaran yang utuh tentang individu,
atau peristiwa maupun isu-isu dari informasi yang sedang
digali. Wawancara biasanya dilaksanakan secara langsung
atau berhadapan (face to face) atau tidak secara langsung
yaitu melalui telepon, e-mail atau secara tertulis dengan
surat kepada orang yang diwawancarai (interviewer).
Berarti wawancara adalah kegiatan bertanya kepada
orang lain untuk memperoleh fakta atau latar belakang suatu
informasi. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan
mendengar dan kemampuan membaca kesan indera orang
lain. Dalam wawancara kesan indera orang lain dibutuhkan
saat tidak dapat menghadapi suatu peristiwa/kejadian secara
langsung, sehingga harus digali melalui orang lain yang
berkaitan dengan kejadian tersebut. Meskipun terdapat
kesulitan bila orang yang diwawancarai tidak teliti mengingat
fakta yang dilihat, serta tidak cukup mampu mendeskripsikan
fakta dengan baik. Oleh karena itu diperlukan kesabaran
dalam mengorek ingatan, dengan mengajukan pertanyaan
berulang-ulang atau bersilang (cros) untuk mengetahui
konsistensi jawaban orang yang diwawancarai.
Atribut pribadi orang yang diwawancarai perlu diketahui
sebagai pelengkap informasi, seperti nama, alamat,
pekerjaan, umur, status perkawinan, ekonomi dan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

81

sebagainya.
Pertanyaan yang diajukan sebaiknya
diperkirakan dapat dijawab oleh orang yang diwawancarai
dan menarik untuk dibicarakan, dengan menggunakan gaya
pembicaraan
agar
tidak
terkesan
menginterogasi.
Menunjukkan empati dan terus menjaga agar tidak larut
dalam persoalan orang yang diwawancarai.
Jenis wawancara ada beberapa macam yaitu,
1) Wawancara untuk berita (factual news interview).
Adalah wawancara yang bertujuan untuk mendapatkan
opini dan komentar singkat dan penting dari seorang
ahli, pejabat atau pihak yang berkompeten dengan isuisu yang aktual. Apapun yang diucapkan narasumber tadi
memiliki nilai berita yang tinggi.
2) Wawancara untuk features tentang orang terkenal
(Features on personality interview). Adalah wawancara
dengan tujuan memperoleh pernyataan khas dari
kalangan selebitis atau pendapat yang unik dan penuh
kejutan dari orang-orang dengan latar belakang dan
karakteristik yang beragam.
Dalam wawancara jenis ini, keunikan gaya bicara,
pemilihan kata dan jargon maupun ungkapan-ungkapan
khas nara sumber harus diamati dan dimasukkan pada
laporan untuk memberikan kemenarikan dan keragaman
serta kekhasan pendapat narasumber.
3) Wawancara biografis (biographical interview). Adalah
wawancara yang bertujuan mengungkapkan dengan
lengkap dan mendetail tentang seorang sosok nara
sumber seperti prestasinya, cita-citanya, kiat-kiat
keberhasilannya,
filosofi
hidupnya,
keluarganya,
hobynya dan sebagainya.
Dalam wawancara jenis ini fakta yang berupa kalimat
khas individu, harapan-harapannya yang paling pribadi
sekalipun harus diungkap dan ditonjolkan, sehingga
pembaca/pemirsa/pendengar
dapat
memperoleh
gambaran secara lengkap tentang sosok yang diangkat
dalam artikel profil tersebut secara jelas.
b. Teknik wawancara
Ada beberapa teknik wawancara yaitu,
1) Jumpa Pers (news conference).
Jumpa pers adalah wawancara antar sumber berita,
biasanya suatu lembaga dengan para wartawan yang
diundang oleh lembaga itu untuk menerima informasi/
press release. Dalam acara Jumpa pers semacam ini

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

82

wartawan/reporter kurang mendapat kesempatan


wawancara yang eksklusif dan juga tidak mendapatkan
jawaban yang diinginkan. Hal ini tidak semua wartawan
mendapat kesempatan bertanya, karena jumlah
pertanyaan dibatasi bahkan kadang-kadang sifat jumpa
pers yang diadakan secara tertutup dan tidak ada
kesempatan tanya jawab. Sumber hanya menginginkan
memberikan informasi/pernyataan saja. Dalam hal ini
reporter/wartawan harus kreatif untuk merancang
waktu khusus diluar jumpa pers untuk wawancara
tersendiri. Dalam jumpa pers reporter diberi siaran
berita secara tertulis yang sudah terstruktur mulai judul,
tanggal atau baris tanggal yang berisi petunjuk tempat
kejadian, tanggal dan identitas, teras berita yang berisi
substansi berita, tubuh berita dan elaborasi atau catchall, yang berisi tambahan keterangan dan penjelasan,
data-data pendukung. Press release yang sudah lengkap
seperti itu meringankan reporter karena reporter tidak
perlu menulis ulang tinggal memasukkan ke lembaga
penyiaran untuk disiarkan. Jumpa pers semacam ini
biasa disebut pers klaar, yaitu siaran pers yang sudah
siap dan sepadan dengan standar ukuran redaktur
sehingga redaktur tertarik untuk memuat tanpa harus
menulis ulang.
Jumpa pers memiliki ciri-ciri yang khas sebagai berikut.
a) Waktu ditentukan oleh lembaga yang mengadakan
jumpa pers
b) Masalah yang ditanyakan baru muncul pada saat
jumpa pers berlangsung.
c) Reporter atau wartawan diundang untuk diberi
informasi.
d) Jumpa pers berlangsung cepat sekitar 30 menit,
sehinggass tidak cukup waktu bagi reporter untuk
mengajukan pertanyaan.
2)

Sri Sartono

Wawancara Spontan (on the spot interview).


Wawancara spontan adalah wawancara yang
diadakan secara spontan/mendadak, tanpa ada janji
antara reporter dan sumber berita. Dalam wawancara
seperti ini reporter harus siap, sigap dan antisipatip
serta selalu bereaksi secara cepat melihat situasi dan
kondisi yang berkembang. Disamping itu reporter harus
menyadari bahwa nara sumber juga belum tentu siap
diwawancarai. Oleh karena itu reporter perlu melakukan
hal-hal sebagai berikut.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

83

a) Segera memutuskan pilihan nara sumber mana yang


pas
untuk diwawancarai sesuai kapasitas dan
pengetahuannya.
b) Melakukan
pendekatan
dengan
cepat,
dan
menjelaskan tujuan wawancara secepat mungkin
agar nara sumber tidak merasa kaku dan takut.
c) Terhadap masyarakat umum yang diwawancarai,
sehubungan dengan peran mereka sebagai saksi mata
dalam suatu peristiwa, hendaknya ditanyakan hal-hal
yang diketahui dan dilihatnya saja tanpa diminta
pendapat dan opininya.
Wawancara pada umumnya memiliki ciri-ciri yang
khas diantaranya sebagai berikut .
a) Dilakukan setiap saat sesuai dengan perjanjian yang
telah disepakati antara reporter dan nara
sumber/pejabat yang akan diwawancarai.
b) Reporter sudah siap pertanyaan-pertanyaan yang
akan diajukan.
c) Reporter yang memiliki inisiatif untuk memperoleh
informasi.
d) Waktu pertemuan sesuai kesepakatan kedua belah
pihak.
Karena alasan waktu yang mendesak serta sulitnya
nara sumber untuk wawancara secara langsung/tatap
muka karena jauh/berada diluar kota, nara sumber
selalu sibuk, maka wawancara dapat diselenggarakan
melalui media komunikasi yang telah disepakati kedua
belah pihak diantaranya:
a) Melalui Telepon.
Wawancara melalui telepon dapat dibenarkan, tetapi
memiliki kelemahan yaitu tidak dapat mendapatkan
keterangan secara mendalam dan lengkap, tidak bisa
melihat gaya dan ekspresi nara sumbernya dalam
mengungkapkan opini serta gerak-gerik tubuhnya.
Sehingga proses komunikasi kurang hangat, tidak
akrap dan cenderung formal. Biasanya wawancara
melalui telepon dilakukan oleh wartawan terhadap
nara sumber yang sudah kenal dan akrap sehingga
nara sumber tidak keberatan.
b) Secara Tertulis.
Wawancara secara tertulis dilakukan bila nara
sumber
takut
bila
pendapatnya
salah
diinterpretasikan oleh reporter, atau isu yang akan
disampaikan sensitif sehingga khawatir salah ucap
bila dijawab secara lisan. Mengajukan pertanyaan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

84

dan jawaban secara tertulis juga memiliki kelemahan


yaitu reporter tidak dapat mendapat keterangan
dengan
cepat,
tidak
bisa
melakukan
probing/mengejar pertanyaan yang lebih mendalam,
Serta tidak bisa mengonfirmasikan data secara cepat
dan taktis.
Wawancara model ini biasanya dihindari reporter,
namun dilakukan juga karena nara sumber menghendaki
demikian. Jawaban wawancara seperti ini biasanya
ditempatkan sebagai informasi latarbelakang atau
pelengkap informasi dan untuk kepentingan justifikasi
pemberitaan dari pejabat yang berwenang.
3)

Sri Sartono

Wawancara Serempak dalam bentuk kelompok diskusi


(group interview).
Dengan wawancara seperti ini
reporter
mendapatkan informasi yang beragam dan menarik,
karena ada diskusi dan penajaman pikiran. Reporter
tinggal mengajukan beberapa pertanyaan kunci, masingmasing narasumber akan melemparkan pendapatnya
sehingga tercipta pro dan kontra. Reporter tinggal
membandingkan, mempertentangkan menganalisis dan
menafsirkan opini dengan konteks dan tujuan laporan
yang direncanakan. Model wawancara ini lebih efisien
dalam waktu, dan reporter dapat mengarahkan
narasumber untuk menjawab secara beragam karena
jawabannya langsung dapat dipertentangkan.
Berdasarkan kegiatannya wawancara seperti ini
dapat dibedakan sebagai berikut.
a) Man in the street interview. Wawancara ini
dilakukan bertujuan untuk mengumpulkan pendapat
beberapa orang terhadap suatu keadaan atau
kebijakan baru pemerintah. Dengan istilah populer
mengumpulkan pendapat umum. Biasanya dilakukan
segera
setelah
terjadi
peristiwa
penting
dikeluarkannya kebijakan baru pemerintah.
b) Casual interview (wawancara tidak resmi dan
mendadak). Reporter tidak meminta secara resmi
kepada narasumber untuk diwawancarai, tetapi
secara kebetulan terjadi pertemuan antara reporter
dan narasumber (tokoh), kemudian secara spontan
dilakukan wawancara.
c) Personality interview. Yaitu wawancara tentang
pribadi seorang yang mempunyai nilai berita karena
reputasinya atau karena kehidupannya yang unik.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

85

d) News interview. Yaitu wawancara yang berkaitan


dengan berita yang bersangkutan dan untuk
memperoleh bahan pemberitaan.
e) Prepared question interview. Wartawan/reporter
menuliskan
pertanyaan-pertanyaan
untuk
disampaikan kepada pejabat melalui sekretarisnya
karena wartawan sangat membutuhkan informasi
penting dari pejabat itu, sedangkan pejabat tersebut
sulit ditemui.
f) Group interview. Yaitu wawancara terhadap
beberapa orang narasumber dijalankan sekaligus
untuk membahas suatu persoalan atau implikasi
persoalan. Situasinya seperti diskusi atau mirip
dengan siaran radio dan televisi.
c. Persiapan wawancara
Wawancara yang baik atau sukses akan menghasil kan
data yang baik dam lengkap sesuai harapan. Semua itu bisa
terjadi kalau dipersiapkan dengan baik pula. Oleh karena itu
persiapan sebelum wawancara merupakan faktor yang
penting untuk dilakukan seorang reporter/wartawan agar
wawancara yang akan dilakukan terlaksana dengan sukses.
Kesuksesan wartawan/ reporter juga akan meningkatkan
kredibilitas reporter itu sendiri dan lembaga penyiaran
dimana ia bekerja.
Persiapan wawancara tergantung dari tujuan wawancara
itu sendiri dan banyaknya data yang ingin diperoleh. Hal-hal
yang perlu dipersiapkan sebelum wawancara berlangsung
bagi seorang wartawan/reporter adalah sebagai berikut.
1) Persiapan diri dengan informasi yang terkait dengan
permasalahan atau orang yang akan diwawancarai.
Yaitu:
mengumpulkan
kliping,
membaca
ulang
pernyataan narasumber yang pernah dimuat di media
massa, menghafal dan menguasai permasalahan pokok
isu dari hal-hal yang akan ditanyakan, melihat foto diri
dan mengenal karakter narasumber baik keluarganya dan
filosofi kehidupannya.
2) Mengkonfirmasikan pada atasan, tentang tujuan
wawancara dan jenis informasi yang harus diperoleh.
Sebelum berangkat wawancara reporter perlu konfirmasi
dengan seniornya atau atasannya meskipun persiapannya
sudah matang, daftar pertanyaan sudah di tangan. Hal
ini perlu dilakukan agar data atau fakta yang diperoleh
sesuai dengan kehendak atasan, sehingga wawancara

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

86

3)

4)

5)

Sri Sartono

ulang untuk mendapatkan kelengkapan data/fakta bisa


dihindari.
Persiapan Mental, untuk menghadapi situasi dan
karakter narasumber
termasuk rasa antipati, rasa
enggan
dan
tidak
percaya
diri
dalam
diri
reporter/wartawan. Wartawan/reporter harus dapat
menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi dan status
narasumbernya. Wartawan/reporter harus bisa masuk di
semua kalangan, maka bila tekanan psikhologis
menyerangnya harus bisa mengendalikan diri dan
memulihkan kemampuan agar wawancara tidak gagal
karena
rasa
gugup/nervous
wartawan.
Untuk
menanggulangi sikap antipati dan rasa tidak berminat
dengan narasumbernya yaitu dengan menimbulkan rasa
senang dan tertarik dengan image positifnya dan
mengubur/tidak mengingat image yang kurang baik.
Yang harus dipertahankan adalah tujuan wawancara
untuk mendapatkan fakta yang menarik dan lengkap dari
narasumber.
Membaca berita dan memprediksi kemana arah isu
berkembang. Membaca berita aktual merupakan modal
bagi wartawan/reporter untuk mengikuti perkembangan
berita dan meramalkan arah perkembangannya. Dengan
demikian reporter bisa mempersiapkan penulisan
kelanjutan berita tersebut untuk memenuhi harapan
khalayaknya.
Merencanakan pertanyaan sebagai panduan wawancara.
Menyusun pertanyaan panduan wawancara merupakan
hal yang utama dan menentukan keberhasilan
wawancara. Substansi pertanyaan yang disusun harus
sesuai arah laporan yang akan dibuat. Wartawan yang
berpengalaman daftar pertanyaan tidak disusun secara
lengkap tetapi hanya dituliskan poin-poinnya saja dan
pertanyaannya nanti dikembangkan di lapangan dari
jawaban-jawaban narasumber. Untuk wartawan junior
biasanya menyusun pertanyaan secara lengkap untuk
mengantisipasi bila tiba-tiba kehilangan konsentrasi atau
kehabisan bahan pertanyaan, sedangkan waktu yang
tersedia masih ada, sementara narasumber masih
bergairah dalam menjawab pertanyaan.
Contoh pertanyaan yang tidak lengkap (poin-poinnya
saja) sebagai berikut:
Perubahan politik, isu terakhir, kaitan perubahan dengan
demokrasi, siapa dibalik isu suksesi, dan seterusnya.
Contoh daftar pertanyaan yang lengkap sebagai berikut.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

87

6)

7)

Sri Sartono

Pertanyaan umum : data diri, nama, hoby, umur,


ukuran tubuh, warna favorit, cita-cita, sekolah,
pandangan hidup dansebagainya.
Pertanyaan opini seperti :
Bagaimana perjalanan karier anda ?
Siapa yang menunjang karier anda ?
Bagaimana rasanya setelah sukses ?
Bagaimana cara anda membagi waktu?
Dan sebagainya.
Di samping itu reporter/wartawan penting meningkatkan
kemampuan dan keterampilan komunikasi secara lisan
dan bertanya secara singkat dan jelas demi suksesnya
wawancara.
Membuat Janji. Adalah menghubungi narasumber untuk
mendapatkan kesepakatan kapan dan dimana jam
berapa, berapa lama wawancara bisa dilakukan. Untuk
menghubungi perlu tahu data alamat, nomor telepon
narasumber. Permintaan bisa melalui surat resmi
maupun telepon. Langkah awal dalam membuat janji
adalah mengenalkan nama, identitas resmi termasuk
dari media apa serta tujuan wawancara dengan bahasa
dan gaya bicara yang simpatik supaya narasumber
tertarik dan percaya serta menyediakan diri untuk
diwawancarai. Catat semua kesepakatan janji tersebut
untuk ditepati jangan sampai terlambat. Keterlambatan
akan mempengaruhi kredibilitas baik wartawan maupun
media di mana ia bekerja.
Persiapan alat wawancara. Peralatan yang harus
disiapkan diantaranya adalah : Camera, buku dan pena,
tape recorder, telepon, fotocopy dokumen yang
diperlukan sebagai barang bukti dan sebagainya.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

88

Gambar. 32. Peralatan wawancara


d. Sikap wawancara
Agar wawancara berjalan dengan baik dan berhasil,
reporter/wartawan perlu menjaga sikapnya sehingga tidak
mempengaruhi secara psikhologis jalannya wawancara.
Sikap-sikap yang harus dipertahankan selama wawancara
adalah :
1) Kesan pertama yang baik. Hal ini dilakukan dengan cara
berpenampilan yang menarik, pakaian rapi dan bersih
serta sopan, sesuai dengan suasana wawancara dan
status sosial nara sumber. Menjaga etika komunikasi
seperti cara masuk ruangan, berjabat tangan dan
bertegur sapa akan mencerminkan kepribadian wartawan
dimata narasumber. Bicara tegas dan percaya diri,
kontak pandang, sikap hormat dan perhatian akan
mencerminkan keterampilan komunikasi yang baik.
2) Ceria dalam menghadapi narasumber. Menunjukkan
wajah yang berseri-seri dan menyenangkan merupakan
modal untuk membina hubungan baik dengan narasumber
baik pada saat wawancara maupun masa yang akan
datang, karena narasumber akan memiliki kesan image
yang positif terhadap reporter/wartawan. Keceriaan
akan menghilangkan rasa asing dan sikap yang kurang
bersahabat nara sumber terhadap reporter dan mampu
membuat gairah dalam wawancara.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

89

3) Percaya diri. Sikap percaya diri


dapat ditimbulkan
kesiapan reporter yang telah dibuat pada waktu
persiapan.
Kesiapan
dalam
pengetahuan
akan
menimbulkan kepercayaan diri sehingga tidak bloon
didepan narasumber. Rilaks atau santai tetapi serius
dalam wawancara akan menghilangkan keteganganketegangan dalam wawancara baik yang dialami oleh
reporter maupun nara sumber.
4) Pandai menyesuaikan diri. Menyesuaikan diri dengan
narasumber merupakan wahana membina hubungan yang
lebih erat dengan narasumber. Menyesuaikan diri dapat
ditempuh dengan cara bersikap ramah, halus dan sopan.
5) Memahami ungkapan yang sesuai. Memahami istilah,
ungkapan, lelucon, dan jargon-jargon khas narasumber
akan membuat narasumber yakin dan respek pada
reporter/wartawan. Penguasaan istilah dan maknanya
yang diungkapkan narasumber akan membuat wawancara
menjadi lancar dan proses pengumpulan informasi dan
penyusunan laporan menjadi lebih cepat.
e. Pelaksanaan wawancara
Tahap ini merupakan yang paling penting dari
wawancara. Persiapan yang yang telah dilakukan dan sikap
reporter/wartawan akan diuji keterandalannya.
Untuk menghindari gangguan masalah psikhologis seperti
gugup, nervous dansebagainya sebaiknya reporter datang
lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan dalam
perjanjian. Kesempatan yang ada dapat digunakan untuk
adaptasi tempat/lingkungan dan mendapatkan informasi
awal yang berupa obrolan ringan sebelum masuk pada
wawancara. Adaptasi suasana ruang kantor, bicara dengan
stafnya untuk menggali karakter narasumber sangat
bermanfaat. Waktu luang yang masih ada bisa digunakan
untuk rechek kesiapan, yaitu tentang daftar pertanyaan,
apakah sudah lengkap dan dipahami; kondisi peralatan
seperti tape recorder, camera apakah dalam kondisi siap
pakai dan sebagainya.
Apabila sudah pada saatnya menemui narasumber,
yang dilakukan pertama kali adalah menyapa dengan sopan
dan membuka obrolan ringan dan menarik bagi narasumber
sepaerti : apa khabar pak ? wah tempat ini sangat
menyenangkan ya, siapa yang mendisain? Bapak sendiri ya.
Dengan salam pembuka yang baik dan hangat, narasumber
akan senang dan menilai bahwa wartawan memiliki ini

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

90

mengikuti perkembangan zaman dengan baik. Pembukaan


yang disampaikan dengan wajar dan tidak gugup didepan
narasumber merupakan keberhasilan awal wawancara.
Ketika akan memulai wawancara, letakkan taperecorder
di meja sambil menyatakan bahwa wawancara ini direkam
untuk membantu wartawan agar tidak terjadi salah persepsi.
Mungkin juga bisa didahului dengan pemotretan narasumber
untuk jembatan masuk pada wawancara.
Ajukan pertanyaan ringan dan atur secara berjenjang
sampai pertanyaan inti atau ke hal-hal yang serius sebagai
klimaks wawancara tersebut.

Gambar. 33. Wartawan sedang mewawancarai sumber informasi


Beberapa hal yang pokok perlu perhatian dalam
pelaksanaan wawancara yaitu sebagai berikut.
1) Ajukan pertanyaan dengan jelas. Jelas dalam arti sesuai
dengan kemampuan dan karakter narasumber. Nara
sumber yang intelek dengan pertanyaan yang berganda
sekalipun tidak masalah, tetapi untuk pedagang kakilima
hal tersebut akan membingungkan. Sehingga perlu
dirumuskan formulasi yang bisa dengan mudah ditangkap
dan dimengerti. Dalam bertanya jangan ada kesan
menggurui, interogasi dan sebagainya agar narasumber
tidak
gugup
dalam
menjawab/mengemukakan
pendapatnya. Gaya bertanya yang berubah-ubah,
intonasi dan artikulasi yang baik merupakan gaya
wawancara yang membuat betah nara sumber
mendengarkannya. Hal ini merupakan keberhasilan
wawancara.
a) Formulasi Pertanyaan sebaiknya disusun sebagai
berikut.
(1) Formulasi Pertanyaan. Gunakan 1 kalimat 1 ide.
Penempatan satu topik tunggal untuk satu kalimat
pertanyaan agar mudah dipahami.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

91

(2) Lontarkan pertanyaan dengan alur yang runtut.


Tuntaskan satu topik dulu baru pindah ke topik
lain.
(3) Harus
tangkas
mengajukan
pertanyaan
improvisatif. Siap
siaga bila harus merubah
pertanyaan.
(4) Lakukan prioritas pertanyaan. Biasanya pertanyaan
yang disiapkan terlalu banyak. Oleh karena itu
tandai pertanyaan-pertanyaan berdasarkan skala
prioritas untuk disampaikan lebih dulu berdasarkan
kepentingan.
(5) Formulasikan pertanyaan secara ringkas, padat dan
jelas. Sederhana dan mendalam.
(6) Hindari jenis pertanyaan yang klise seperti :
mungkin bapak bisa menjelaskan, barang kali anda
bisa menjawab dan sebagainya.
b) Golongan Pertanyaan. Untuk dapat membuat
pertanyaan yang sakih dan handal, bisa menggunakan
beberapa golongan pertanyaan sebagai berikut.
(1) Eksplorasi eksternal, yaitu pertanyaan yang berada
diluar referensi narasumber.
(2) Eksplorasi internal, yaitu pertanyaan yang berada
dalam referensi narasumber.
(3) Evaluatif, Pertanyaan yang menghendaki jawaban
yang menilai baik-buruk, benar-salah. Arahnya
merupakan pendapat subjektif narasumber.
(4) Asumtif atau Antisipatif, Pertanyaan yang
mengasilkan jawaban dugaan sehingga sangat
bersifat subyektif.
(5) Ordering atau refleksi. Memanfaatkan jawaban
narasumber
untuk membuat pertanyaan baru.
(6) Informatif. Pertanyaan yang jawabannya menarik
perhatian pewawancara.
(7) Sisipan. Pertanyaan yang maksudnya untuk
menimbulkan kesinambungan suasana wawancara.
(8) Formal. Pertanyaan yang lazim dipakai untuk
memulai wawancara.
(9) Advis. Pertanyaan yang bersifat minta nasehat
terhadap sebuah topik.
2) Berkonsentrasi penuh pada jawaban narasumber dan
menyiapkan pertanyaan berikutnya.
Wartawan sering kehilangan kesadaran karena terpukau
dengan jawaban nara sumber, sehingga lupa apa yang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

92

harus dilakukan. Meskipun sudah direkam, perlu


membuat catatan singkat (key point) tentang informasi
dari jawaban narasumber agar otak tetap aktif dan bisa
menelusuri kembali setelah narasumber menyelesaikan
jawabannya. Kata kunci yang belum jelas bisa ditanyakan
kembali. Kegiatan mencatat tidak perlu terlalu sering
sehingga membuat lepas perhatian.
3) Mencatat hal-hal penting sesuai tujuan wawancara.
Apabila tulisan tentang profil, perlu banyak catatan
tentang kekayaan, atmosfer dan deskripsi setting untuk
menunjang keindahan dan kelengkapan. Hal ini dilakukan
karena tape recorder hanya bisa merekam data verbal,
dan tidak bisa merekam suasana ruang, interiornya,
gerak-geriknya, kebiasaannya, ekspresinya serta gaya
bicaranya padahal ini perlu dicatat untuk melengkapi
laporan.
Cara mencatat data tersebut di tengah
wawancara yang sedang berlangsung adalah dengan
menulis butir-butir penting.
4) Menghargai hak narasumber tentang pernyataan.
Dalam praktek jurnalistik sering narasumber membatasi
penjelasan tertentu yaitu yang bersifat of the record.
Dalam hal ini tape recorder harus dimatikan dan
wartawan hanya mendengar untuk dirinya. Hal yang
bersifat of the record ini tidak boleh disiarkan secara
fulgar.
Oleh
karena
itu
biasanya
dengan
menyembunyikan identitas narasumber. Dalam hal ini
terdapat cara yang bervariasi untuk menangani masalah
of the record sebagai berikut.
a) Not for distribution. Informasi dapat direkam,
dicatat, disiarkan ke publik tetapi tidak menyebutkan
narasumber.
b) Not for direct quotation. Informasi dapat direkam dan
disiarkan secara luas dengan menyebut sumbernya,
tetapi tidak boleh kutipan langsung.
c) For background. Informasi boleh digunakan untuk
memperkuat analisis wartawan. Tidak boleh disiarkan
apalagi dengan menyebut sumbernya.
d) For deep background. Informasi hanya boleh
digunakan untuk referensi pribadi wartawan.
e) Embargo. Artinya informasi mempunyai batas waktu
tertentu sebelum boleh disiarkan. Karena narasumber
menunggu situasi politik yang tepat dan aman sebelum
pernyataan diketahui masyarakat luas.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

93

5) Menutup wawancara dengan simpatik.


Menutup wawancara dengan simpatik bertujuan agar
tetap terbina hubungan baik antara wartawan/reporter
dengan narasumber. Penutup wawancara dilakukan
setelah informasi yang dibutuhkan telah terpenuhi.
Penutupan dilakukan sehingga tidak menyinggung
perasaan narasumber yang masih bergairah menjawab
pertanyaan. Teknik yang biasa digunakan adalah dengan
menanyakan hal-hal kecil sehingga tidak menuntut
jawaban panjang dari narasumber, sambil membereskan
peralatan untuk memberi sinyal bahwa wawancara akan
berakhir. Setelah itu segera ajukan pernyataan maaf dan
terimakasih atas kesediaan menjadi narasumber.
Sebelum berpamitan tawarkan untuk memotret nara
sumber, dan jangan lupa meminta kartunama, nomor
telepon, HP dan permohonan untuk kesediaan dihubungi
sewaktu-waktu bila diperlukan informasi tambahan.

Gambar. 34. Pemandangan dalam pers conference


Sebagai rangkuman tentang wawancara, hal-hal yang perlu
diingat oleh wartawan/reporter dalam wawancara adalah
sebagai berikut.
1. Datang tepat waktu jangan sampai terlambat.
2. Perhatikan penampilan diri
3. Datang dengan persiapan dan pengetahuan tentang
masalahnya.
4. Kemukakan maksud dan tujuan wawancara
5. Pertanyaan diawali dari yang umum dan mengarah pada inti
persoalan
6. Pertanyaan tidak interogatif dan memojokkan narasumber.
Dan tidak menggurui.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

94

7. Dengarkan jawaban dengan baik, boleh menyela bila akan


melenceng dari persoalan.
8. Siapkan catatan dan jangan ragu menulis dan mengajukan
pertanyaan baru.
Hendaknya wartawan juga mematuhi
berikut ini.
1. Tidak pamer diri
2. Tidak mendebat jawaban narasumber
3. Batasi komentar
4. Wajib bertanya.

rambu-rambu

Gambar. 35. Wartawan di tempat kejadian perkara


D. Jurnalistik Penyiaran Radio.
Telah di jelaskan dimuka bahwa jurnalistik adalah kegiatan
komunikasi yang menggunakan pengetahuan praktis untuk
menghimpun informasi dari peristiwa/kejadian
yang menarik,
aktual dan faktual untuk diolah dan disajikan kepada khalayak
melalui media masa cetak maupun disiarkan melalui pemancar
radio, televisi dan film, dengan waktu yang secepat-cepatnya.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan jurnalistik penyiaran radio
adalah jurnalistik yang bergerak dalam bidang penyiaran radio
(Radio Broadcast).
Penyiaran radio memiliki karakteristik yang berbeda dengan
media masa lainnya seperti media cetak maupun media penyiaran
televisi dan film. Oleh karena itu sebelum lebih jauh membicarakan
jurnalistik perlu diketahui tentang karakteristik penyiaran radio
sebagai berikut.
Informasi yang disiarkan melalui pemancar radio adalah
informasi auditif yaitu bentuk sinyal elektrik yang bersumber dari
suara /audio. Sumber informasi pada siaran radio terdiri dari suara

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

95

yang berasal dari suara penyiar, musik, atau merupakan gabungan


dari suara penyiar dan musik. Oleh karena itu hasil siaran radio
hanya bisa didengarkan. Dengan demikian siaran radio memiliki
fungsi menyiarkan informasi suara melalui pemancar radio kepada
khalayak pendengarnya. Meskipun demikian dalam memberikan
informasi seorang penyiar harus bisa memberikan gambaran
imajinatif para pendengarnya agar informasi tersebut mudah
dipahami. Oleh karena itu segala informasi bentuk apapun yang
diperoleh seorang jurnalis radio harus diolah lebih lanjut menjadi
bentuk audio untuk dapat disiarkan kepada pendengarnya melalui
pesawat pemancar.

Gambar 36. Gedung stasiun pusat penyiaran RRI


Jenis informasi pada siaran radio disesuaikan dengan programprogram radio yang telah direncanakan seperti request, talk show,
warta berita, profil, pendidikan, budaya, dan sebagainya. Karena
siaran radio berfungsi sebagai media hiburan dan intertainment,
maka program-program yang dibuat selalu menyertakan musik
sebagai penghibur pendengar. Oleh karena itu dalam mencari
informasi akan disesuaikan untuk program apa informasi itu dicari.
Setelah dimiliki, informasi tersebut diolah, biasanya menjadi bentuk
naskah (script) untuk dibacakan penyiar secara langsung atau
direkam terlebih dahulu sebelum disiarkan pada waktu yang telah
direncanakan sesuai dengan jadwal siarannya.
1. Menghimpun dan Mengolah Informasi Radio
Dalam uraian tentang dasar-dasar jurnalistik di muka, telah
banyak diuraikan teori- jurnalistik secara umum bagaimana

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

96

seorang jurnalis/wartawan/ reporter mencari, mengumpulkan


informasi dan bagaimana mengolah dan menyajikannya sampai
mengirimkan informasi tersebut kepada khalayak sasarannya.
Pada prinsipnya bagai mana menghimpun dan mengolah
informasi radio sama dengan yang telah diuraikan, hanya yang
berbeda adalah karakter dan cara menyiarkannya kepada
khalayak.
Seorang jurnalis radio juga dituntut untuk memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi, skeptis atau tidak gampang percaya, daya
endus berita tinggi, watak ketergesaan karena terbiasa dengan
gerak cepat untuk mengejar waktu yang terbatas. Informasi yang
dicari adalah juga informasi yang memiliki nilai berita tinggi.
Informasi yang memiliki nilai berita (news value) yang tinggi
adalah informasi yang memiliki prinsip kedekatan, kemashyuran,
aktual dan esensial. Prinsip kedekatan yaitu dekat dengan
masyarakatnya. Kemasyhuran karena terkait dengan nama-nama
orang terkenal atau pembuat beritanya adalah orang terkenal.
Aktual karena tepat waktu, relevan dengan situasi saat ini.
Esensial/penting bagi nilai-nilai yang hidup pada suatu
masyarakat (human interest). Di samping itu berita yang dicari
adalah yang istimewa atau luar biasa (unusual), sehingga
memiliki daya tarik yang tinggi.
Teknik pencarian/penghimpunan berita radio yang paling
banyak digunakan adalah teknik wawancara antara jurnalis radio
dengan narasumber. Kelengkapan informasi tetap menjadi unsur
penting, oleh karena itu penggunaan prinsip 5W dan 1H tetap
dituntut. Setelah informasi diperoleh, langkah pertama sebelum
pengolahan informasi adalah Chek-rechek apakah informasi tadi
memiliki kebenaran secara pasti dengan cara konfirmasi ke
beberapa sumber yang relevan dan terpercaya.
Pengolahan informasi untuk disajikan melalui media radio,
tentu saja harus disesuaikan dengan jenis program yang ada
pada radio. Oleh karena karekter radio adalah auditif, maka
semua informasi harus diolah kedalam bentuk audio dengan cara
dibuat dulu menjadi naskah program radio (script). Dalam
pembuatan naskah menggunakan bahasa tutur supaya mudah
dipahami pendengarnya. Karena radio hanya bisa didengar dan
hanya satu kali tidak dapat diulang. Naskah juga dilengkapi
dengan musik, sound efek untuk lebih menciptakan suasana yang
sesuai dengan isi informasi. Selanjutnya naskah sudah siap
disajikan secara langsung dengan cara dibacakan oleh penyiar
radio didepan mikropon dan disalurkan ke pesawat pemancar,
atau direkam ke pita kaset audio untuk disajikan dengan
menggunakan bantuan tape recorder langsung ke pesawat
pemancar radio untuk disiarkan ke khalayak pendengar.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

97

2. Penyampaian Informasi melalui Siaran Radio.


Penyampaian informasi/berita ke publik melalui siaran radio
ada dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Proses
penyampaian informasi secara langsung adalah sebagai berikut:
Informasi yang telah diolah menjadi naskah siaran sesuai dengan
format siaran radio, disiarkan secara langsung oleh penyiar radio
dengan cara dibacakan di depan mikropon. Sinyal suara dari
mikropon dikirim ke pesawat pemancar setelah melalui pesawat
mixer yang berfungsi menggabungkan sumber-sumber suara.
Oleh pesawat pemancar sinyal suara dibawa oleh gelombang
radio dan dipancarkan/diradiasikan oleh antene pemancar
keseluruh penjuru. Jauhnya radiasi/pemancaran tergantung dari
tenaga yang dimiliki pemancar itu. Di tempat lain sinyal suara
ditangkap oleh antene penerima pesawat radio yang memiliki
frekuensi yang sama/berresonansi. Selanjutnya dideteksi dan
dipisahkan dengan gelombang radio pembawa sinyal suara.
Setelah itu sinyal suara diperkuat oleh amplifier penguat suara
dan diubah menjadi suara oleh load speaker dan sampailah
berita ke tempat tujuan yaitu ke para pendengar.
Siaran langsung yang lain misalnya laporan pandangan mata
suatu acara-acara penting pemerintah, acara pertandingan sepak
bola, dan sebagainya. Dalam hal ini tidak membutuhkan naskah.
Sebagai panduan siarannya adalah acaranya itu sendiri. Reporter
melaporkan
sesuai
dengan
peristiwa/kejadian
dengan
menambahkan informasi gambaran fisual (teater of mind) untuk
membantu pendengar berimajinasi membayangkan peristiwa
yang sedang terjadi dalam acara tersebut. Suara-suara dalam
acara tersebut ditangkap oleh mikropon yang telah disiapkan dan
sinyal suaranya disalurkan ke mixer untuk digabungkan dengan
sumber suara yang lain lalu disalurkan ke pesawat pemancar di
studio mini yang disiapkan ditempat kejadian dan dipancarkan
mengarah ke stasiun pusat penyiaran. Oleh stasiun pusat
dipancarkan kembali ke seluruh pendengar.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

98

Gambar 37. Salah satu contoh ruang studio stasiun penyiaran radio
dengan peralatannya.
Siaran yang tidak langsung dilakukan dengan memproduksi
naskah program siaran dengan merekam ke alat perekam suara (tape
recorder) menjadi dalam bentuk tape/cassete. Pada saat waktu
siaran informasi yang sudah disimpan dalam tape di putar kembali
(play back) dengan menggunakan sumber suara tape recorder
disalurkan ke mixer
dan keluarannya disalurkan ke pesawat
pemancar untuk dipancarkan ke pendengar.
Dengan kemajuan teknologi saat ini proses perekaman maupun
pemutaran kembali sudah menggunakan perangkat komputer dengan
program aplikasi yang sangat membantu proses kerja dengan mudah
dan murah. Perkembangan komunikasi melalui satelit saat ini juga
sangat membantu penyiaran radio menjadi lebih instan dunia ini
bagaikan tanpa jarak sehingga komunikasi penyiaran lebih efektif
dan efisien dari sebelumnya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

99

Gambar 38. Penyiar stasiun Penyiaran Radio sedang siaran

E. Jurnalistik Penyiaran TV
Jurnalis penyiaran TV tidak jauh berbeda dengan penyiaran
radio yang bersifat auditif. Penyiaran TV memiliki sifat auditif
sekaligus visual, karena informasi yang disiarkan terdiri dari
informasi visual/gambar dan audio/suara.
Gambar/visual merupakan informasi yang utama dan
audio/suara menjadi penunjang. Perpaduan antara visual dan narasi
suara secara harmonis membuat pemirsanya seakan dibawa pada
situasi yang sebenarnya, melihat dan mendengar informasi dengan
mata dan telinga sendiri. Hal ini akan membuat pemahaman pemirsa
terhadap materi informasi akan lebih mudah karena tidak perlu
berimajinasi lebih mendalam.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

100

Gambar 39. Kamera TV khusus untuk Studio (putih) dan


Kamera TV portable (hitam)
Seperti media penyiaran radio, penyiaran TV juga memiliki
kelemahan, karena pemirsa hanya bisa menyaksikan acara TV sekali
dan tidak bisa diulang-ulang seperti yang terjadi pada media cetak.
Dalam media cetak juga sering menyampaikan pesan visual berupa
gambar, foto dan grafik. Media penyiaran TV memiliki kelebihan
dalam hal ini. Yang disampaikan adalah gambar visual yang bergerak
(life) bukan gambar diam sepaerti di media cetak. Media penyiaran
TV mampu menyiarkan pesan multimedia yang berupa tex,
gambar/video dan audio sekaligus. Hal ini sangat menarik bagi
pemirsa apalagi setelah karya animasi komputer berkembang,
program siaran TV dan film menjadi enak dinikmati.
Dalam menghimpun berita juga tidak berbeda dengan media
masa lainnya yaitu mengutamakan berita yang lengkap, penting,
menarik, faktual, benar, yang luar biasa dan sebagainya.
Pengolahan informasi pada penyiaran TV lebih sulit dibanding
media lainnya karena harus mengolah/memproduksi informasi
berupa tex, video, suara, animasi digabung menjadi satu format
program yang serasi/harmonis sehingga menjadi tayangan yang
menarik dan enak dinikmati. Hal ini akan membutuhkan kemampuan
dan keterampilan tersendiri serta memerlukan waktu yang relatif
banyak.
Penyajian informasi melalui siaran TV secara langsung maupun
tidak langsung saat ini tidak banyak kendala dengan bantuan
peralatan teknologi komunikasi komputer dan satelit komunikasi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

101

1. Menghimpun dan Mengolah Informasi TV


Dalam menghimpun informasi penyiaran TV, tidak jauh
berbeda dengan media masa lainnya. Dalam pencarian berita
juga memilih berita yang memiliki nilai berita (news
value)tinggi. Yaitu berita yang luar biasa atau istimewa sesuai
prinsip kedekatan dan kemashuran (unusual), penting
menyangkut kehidupan manusia/Human interest (esential), dan
aktual (time liness).
Selain itu berita harus dapat dipercaya kebenarannya. Oleh
karena itu perlu ada klarifikasi/konfirmasi dengan berbagai
sumber yang dapat dipercaya dan kompeten.
Teknik yang digunakan juga sama dengan media lainnya
yaitu wawancara dengan narasumber dan pengambilan langsung
peristiwa/kejadian di lapangan dan tetap menggunakan prinsip
5W dan 1H. Pada berita TV dilengkapi dengan prinsip dapat
menyentuh perasaan (emosional) yang memiliki kadar pengaruh
yang kuat. Tidak seperti pada media cetak dan Radio, Media
Televisi informasi yang diambil berbentuk gambar bergerak
(video)
dan
suara(audio).
Video
adalah
gambar
peristiwa/kejadian sesungguhnya dan suara terdiri dari suara
sesungguhnya dan ditambah dengan suara reporter sebagai
pendukung kebenaran informasi yang terjadi.

a. Shooting di studio

b. Shoting di lapangan

Gambar 40. Pengambilan gambar / shooting oleh kamerawan.


Oleh karena itu proses pengambilannya tidak dapat
dilakukan sendiri seperti pada media cetak dan radio, tetapi
dituntut kerjasama dalam suatu tim yang solit antara
kamerawan, reporter dan producer serta tenaga teknik.
Meskipun kadang-kadang hanya dilakukan oleh kamerawan dan
reporter saja karena pekerjaan yang diperlukan telah dirangkap.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

102

Dalam pengambilan gambar digunakan kamera video yang


dapat merekam gambar sekaligus suara. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pengambilan gambar adalah Image harus
jelas, urutan tayangan gambar runtut, dan materi visual cukup.
Image gambar yang jelas maksudnya sudut pengambilan harus
tepat dan memperhatikan komposisi, pusat perhatian dan
sebagainya. Focusnya tepat sehingga menghasilkan tayangan
gambar yang tajam. Gambar tidak goyang berarti stabil dan
tidak membuat mata cepat lelah menikmatinya. Karena sifatnya
adalah video gambar gerak maka pengambilannya juga harus ada
gerakan yang lembut dan dinamis sehingga tidak ada tayangan
gambar diam. Gambar tayangan runtut maksudnya ada
keterikatan antara pengambilan yang satu dengan yang lain
sehingga tidak ada kesan njeglek ada koherensi yang jelas,
sehingga mudah dimengerti dan diikuti rangkaian gambarnya.
Materi visual harus cukup artinya dalam pengambilan gambar
harus cukup banyak memenuhi kebutuhan editing, sehingga tidak
ada pengulangan tayangan gambar yang sama untuk ilustrasi
narasi yang berbeda. Dengan demikian kesatuan dan kesamaan
pikiran/ide dalam kerja tim sangat diperlukan. Oleh karena itu
harus ada koordinasi yang terus menerus dalam tim terebut.
Pengolahan informasi pada informasi Penyiaran TV adalah
penggabungan informasi video, audio dan teks menjadi satu
perpaduan yang serasi dan harmonis (mixing), sehingga menjadi
sajian tayangan /cerita tentang kejadian yang alurnya jelas,
runtut, mudah dipahami dan diikuti, menarik dan enak di
nikmati sehingga penonton betah dan tidak jenuh
menyaksikannya.

Gambar. 41. Kamerawan TV sedang mengambil gambar di


tempat kejadian/peristiwa.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

103

Dalam menyaksikan sajian yang menarik dan enak dinikmati


perlu ditambah ilustrasi musik sebagai background maupun
untuk menciptakan situasi yang sesuai dengan isi berita,
sehingga seakan-akan penonton dibawa pada situasi nyata dalam
peristiwa yang sebenarnya.
Untuk mendapatkan hasil produksi yang dimaksud, maka
perlu dibuat disain berupa naskah (script). Naskah suara harus
dibuat dengan bahasa tuturan yang komunikatif, dengan bahasa
yang baik dan singkat padat dan jelas tidak bertele-tele,
sederhana dan tepat. Menghindari bahasa yang rumit. Dalam hal
ini dapat digunakan rumus ELF (easy Listening Formula) agar
sajian mudah dipahami lewat pendengaran atau telinga. Jurnalis
TV merupakan jurnalis audio visual. Unsur visual dalam
penyajian berita atau reportase di TV merupakan unsur penting
dalam hal ini hasil liputan juru kamera (kamerawan) dan
reporter menjadi materi utama dalam penyusunan berita.
Kehadiran reporter ditempat kejadian akan memberikan nilai
lebih dan daya tarik yang kuat pada berita yang disampaikan.
Sistem ini disebut ROSS ( reporter on the spot and on the
screen) dengan penyaji berita yang disebut newscaster karena
reporter berfungsi sebagai pencari, penyeleksi, pengolah dan
penyusun berita sekaligus.
Terdapat beberapa pengertian dari ROSS dalam membuat sajian
berita Televisi sebagai berikut.
ROSS (reporter onthe spot and on the screen). Reporter
berada di lokasi kejadian dan muncul di televisi melaporkan
sendiri kejadian tersebut. Reporter on the spot and off the
screen yaitu reporter berada ditempat kejadian dan tidak
muncul di TV hanya suaranya melaporkan kejadian. Reporter off
the spot and on the screen, reporter tidak berada di tempat
kejadian, tetapi sebagai redaksi yang menyusun dan
menyampaikan laporan berita dari sumber melalui telepon,
teleks, faximile, dan muncul di layer TV. Reporter off the spot
and off the screen maksudnya reporter tidak berada di tempat
kejadian dan tidak muncul di TV, namun ia mengumpulkan,
menyeleksi dan menyusun berita yang diperoleh dari sumbersumber berita.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

104

Gambar 42. Kamerawan sedang mengambil gambar


di stadion olah raga
Sajian visual dalam jurnalis penyiaran audio visual
merupakan unsur utama yaitu unsur sajian berita itu sendiri yang
memiliki obyektivitas yang tinggi. Sedangkan unsur yang lain
seperti audio merupakan pendukung berita. Meskipun demikian
kadang muncul subyektivitas juga muncul dari editor yang
menentukan sudut pengambilan dan pemikiran gambar hasil
liputan yang mana dipakai atau dibuang. Dalam jurnalis TV
dikenal 4 materi sajian unsur visual hasil liputan juru kamera
sebagai berikut.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

105

a. VOHN (Visual Object and Hot News). Adalah hasil liputan


peristiwa atau wawancara dan isi pernyataan saat itu. Atau
sering disebut visual aids yang merupakan gambar
pembantu/ilustrasi.
b. SFOB (Shooting on the Field Operation Back-up). Maksudnya
tambahan liputan untuk melengkapi materi visual yang sudah
ada. Biasanya sebagai pengisi/pengganti visual pada waktu
seorang tokoh sedang berbicara dalam waktu yang cukup
lama (insert). Selama itu andaikata yang muncul hanya wajah
tokoh akan sangat menjemukan, oleh karena itu di insert
dengan gambar visual yang sesuai dengan uraian tokoh
tersebut.
c. FLOB (Full Library Operation Object). Seluruh materi visual
diperoleh dari perpustakaan visual, seperti stock shoot, footages dan grafik-grafik yang lain.
d. Gabungan dari ketiga materi diatas.

Gambar 43. Kamerawan dan presenter meliput acara


Liputan-liputan tersebut diatas dlaporkan dalam bentuk
naskah sesuai dengan format program sajian penyiaran TV.
Selanjutnya diproduksi oleh produser program diantarnya
dikerjakan oleh editor dengan tidak meninggalkan koordinasi
dengan juru kamera dan reporter agar tidak terjadi salah
interpretasi. Setelah diproduksi menjadi program sajian, maka
siap untuk disiarkan ke penonton TV diseluruh wilayah.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

106

Dengan kemajuan dibidang elektronik, komputer, internet,


dan penggunaan sistem komunikasi melalalui satelit, program
sajian siaran TV menjadi lebih mudah dikerjakan dan
penyampaian berita dapat dilakukan secara cepat meskipun
pada jarak yang sangat jauh, mengarungi lautan sekalipun.
Dengan demikian saat ini peran public bergeser dari yang dulu
hanya sebagai penonton berita TV yang pasif menjadi diajak
terlibat langsung secara emosional mengalami kejadian yang
diberitakan tersebut. Hal ini semakin nampak bahwa televisi
semakin dapat mempengaruhi public.

Gambar 44. Kamerawan meliput data dokumen


2. Penyampaian informasi melalui siaran TV
Secara umum iystem penyajian siaran TV dibedakan menjadi
dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. Sistem siaran
langsung terjadi pada program-program spot seperti acara-acara
pemerintah misalnya sidang pleno DPR, Penghitungan suara
Pemilu, acara liputan Sepak Bola, Bulu Tangkis dan sebagainya.
Secara teknis sistem siaran langsung dapat dijelaskan sebagai
berikut.
Di tempat kejadian biasanya didirikan sementara studio
mini dengan peralatan yang terdiri dari dari : Kamera Video
minimal 2 buah satu sebagai peliput acara utama dan satunya
sebagai peliput materi visual pengganti (insert). Bila ada 3
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

107

kamera, yang satu kamera bertugas peliput mater kreatif atau


yang aneh, luar biasa dan menarik.; Lampu paling tidak satu
kamera minimal satu lampu. : Mixer Video yang segaligus
berfungsi sebagai switchser. TV
monitor sebanyak jumlah
kamera ditambah satu untuk master; VTR untuk merekam hasil
mixing; Sound system untuk pengambilan suara langsung dari
acara, pemberian musik latar dan ilustrasi maupun untuk
keperluan komunikasi antara studio dengan lapangan/floor.serta
bahan rekaman berupa kaset-kaset, bateray, dan kabel-kabel
exstention sesuai dengan kebutuhan. Tidak lupa sumber listrik/
genset.
Crew atau kerabat kerja yang harus ada adalah juru
kamera satu kamera satu orang, juru lampu satu kamera satu
orang, kabelman satu kamera satu orang, reporter satu orang,
produser biasanya merangkap sutradara, switcher merangkap
mengoperasikan VTR dan juru suara.
Secara teknis dapat dijelaskan, peristiwa/kejadian /acara
diliput melalui kamera video yang menghasilkan sinyal listrik
suara dan gambar dan diteruskan ke mixer/switcher, oleh
sutradara dipilih gambar dari kamera I, 2 atau 3 yang diambil
untuk direkam di VTR dan ditayangkan secara langsung ke
pemancar relay dan dikirim ke studio pusat melalui satelit atau
antena pengarahan yang selanjutnya studio pusat memancarkan
ke stasiun relay seluruh wilayah melalui satelit dan stasiun relay
memancarkan ke penonton di rumah. Dengan demikian penonton
di rumah di seluruh Indonesia dapat mengikuti secara langsung
sidang pleno DPR yang ada di Jakarta. Hasil rekaman VTR
sekaligus dapat menjadi dokumen program siaran yang sewaktuwaktu dapat disiarkan tunda untuk memberi kesempatan public
yang pada saat itu tidak dapat mengikuti acara tersebut. Siaran
tunda ini merupakan siaran tidak langsung. Biasanya disiarkan
tidak dari tempat kejadian tetapi dari studio pusat.
Dengan proses yaitu dari VTR diputar kembali dan keluaran
video dan audio disalurkan ke mixer dan keluaran mixer dikirim
ke pemancar gelombang mikro untuk dikirimkan ke stasiun relay
seluruh wilayah melalui satelit. Selanjutnya stasiun relay
meneruskan ke publik di rumah-rumah.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

108

SATELIT

Gambar 45. Prinsip penyampaian informasi TV dari lapangan ke


publik melalui satelit komunikasi.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

109

Gambar 46. Penyiar TV sedang menyiarkan berita


F. Evaluasi dan Pengembangan Program
1. Evaluasi Program
Evaluasi (evaluation) adalah suatu proses memperoleh
informasi tentang sesuatu melalui kegiatan pengukuran
(measurement) dan penilaian. Sedangkan program adalah
rencana
kerja
yang
telah
ditetapkan
oleh
suatu
lembaga/perusahaan untuk dilakukan guna mencapai tujuan.
Dengan demikian evaluasi program memiliki pengertian untuk
memperoleh informasi sejauhmana tujuan lembaga/perusahaan
tercapai melalui kegiatan pengukuran dan penilaian pelaksanaan
program suatu lembaga/perusahaan
tersebut. Pengukuran
adalah proses membandingkan pelaksanaan program dengan
ukuran/criteria yang telah ditetapkan secara kuantitatif.
Sedangkan penilaian adalah pengambilan keputusan terhadap
pelaksanaan program tersebut secara kualitatif, berhasil atau
tidak berhasil berdasarkan data-data hasil pengukuran yang
telah dilakukan.
Tujuan suatu lembaga/perusahaan atau sebut saja suatu
organisasi, karena merupakan sekelompok orang yang bekerja
untuk mencapai tujuan bersama atau tujuan organisasi/
perusahaan tersebut. Secara garis besar tujuan organisasi dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Laba/Keuntungan
b. Pelayanan terhadap pelanggan/konsumen.
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

110

c. Pemenuhan kebutuhan dan kepuasan karyawan.


d. Tanggungjawab sosial.
Tujuan mencari keuntungan, bertolak dari berapa modal
yang telah dikeluarkan dan berapa penghasilan yang telah
diperoleh. Apabila perolehan hasil lebih besar dari modal yang
telah dikeluarkan ditambah dengan biaya produksi, maka dapat
dikatakan organisasi tersebut mendapatkan keuntungan/laba.
Demikian juga sebaliknya maka dapat dikatakan mengalami
kerugian. Untuk mengetahui laba atau rugi melalui kegiatan
pengukuran dan penilaian.
Tujuan untuk pemenuhan pelayanan terhadap pelanggan/
konsumen. Konsumen adalah orang/ masyarakat yang
menggunakan
produk
organisasi
tersebut.
Pelayanan
dimaksudkan untuk pemenuhan kebutuhan selera dan kepuasan
pelanggan. Dengan demikian pernyataan pelanggan merupakan
informasi yang berharga sebagai ukuran pencapaian tujuan. Oleh
karena itu pengukuran keberhasilannya melalui pernyataan
konsumen untuk menilai apakah mereka sudah terlayani
harapan-harapannya.
Tujuan untuk pemenuhan kebutuhan dan kepuasan
karyawan dalam organisasi. Apakah kebutuhan dasar sebagai
manusia telah dapat terpenuhi secara ekonomi, fisik, psikis
sehingga mereka merasakan kedamaian, ketenteraman,
kesejahteraan dan kesehatannya. Dengan demikian mereka akan
merasakan kepuasan hidup. Untuk mengevaluasi pencapaian
tujuan ini dapat dilakukan melalui pendapat/pernyataan
karyawan sebagai hasil pengukuran dan penilaian.
Tujuan untuk pemenuhan tanggungjawab social berkaitan
keberadaan organisasi tersebut didalam social kemasyarakatan.
Sejauhmana organisasi tersebut tanggap terhadap permasalahan
yang muncul di dalam masyarakat. Sejauhmana pula organisasi
tersebut berperan/memprogramkan dalam usaha memberikan
solusi untuk kepentingan lingkungan masyarakat. Oleh karena itu
untuk mengetahui capaian tujuan ini dapat dilakukan penilaian
program oleh masyarakat, penilaian dampak dari program
terhadap
lingkungan
masyarakat.
Dengan
demikian
peryataan/pendapat masyarakat sangat penting digunakan
sebagai bahan evaluasi.
Guna pencapaian tujuan tersebut organisasi/perusahaan
harus melaksanakan managemen/pengelolaan kegiatan-kegiatan
secara menyeluruh serta memberdayakan sumberdayanya untuk
mencapai tujuan secara efektip dan efisien. Kegiatan-kegiatan
tersebut adalah:
a. perencanaan (planning),
b. pengorganisasian (organizing) ,

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

111

c. pengarahan (leading) dan


d. pengawasan (controlling).
Kegiatan perencanaan meliputi penetapan tujuan yang
hendak dicapai pada kurun waktu tertentu di masa datang dan
penetapan strategi/langkah-langkah apa yang akan dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut.
Kegiatan
pengorganisasian
adalah
mengelompokkan
kegiatan-kegiatan, menugaskan pada pelaksana untuk melakukan
kegiatan, dan memberi wewenang yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas.
Kegiatan pengarahan yaitu menggerakkan, memotivasi,
menyalurkan serta menuntun/memberi petunjuk pelaksana
untuk berbuat dan bertingkahlaku sesuai dengan persyaratan
kondisi pencapaian tujuan.
Kegiatan pengawasan adalah mengukur pelaksanaan dengan
acuan tujuan yang telah ditetapkan, mencari penyebab adanya
penyimpangan-penyimpangan,
dan
mengadakan
tindakan
korektif bila diperlukan.
Dengan demikian bidang pengawasan inilah yang melakukan
kontrol dan evaluasi apakah program kerja/kegiatan dapat
dilaksanakan sesuai dengan setrategi yang telah ditetapkan dan
apakah tujuan dapat dicapai secara efektip dan efisien. Tujuan
dicapai secara efektip bila tujuan tercapai dengan tepat dan
memiliki ketercapaian tinggi. Dikatakan efisien bila didalam
mencapai tujuan tersebut menggunakan sumberdaya tidak
boros/keborosannya rendah. Efektivitas lebih merujuk pada
tercapainya sasaran/hasil kerja (hasil kerja tercapai sama
dengan yang telah dirancang), sedangkan efisiensi lebih merujuk
pada pencapaian tujuan. Bila hasil kerja (keluaran) lebih besar
dari sumberdaya yang ada berarti efisiensi kerja telah tercapai.
Atau dengan kata lain hasil kerja optimal dengan resiko minimal.
Pengukuran efisiensi dilakukan dengan membandingkan sumber
kerja yang terdiri dari penggunaan pikiran, tenaga fisik, waktu,
benda/biaya. Pekerjaan yang tidak banyak menggunakan pikiran
berarti mudah, tidak banyak menggunakan tenaga berarti
ringan, tidak banyak menggunakan waktu berarti cepat, tidak
banyak menggunakan ruang berarti praktis dan tidak banyak
menggunakan benda/biaya berarti murah.
Pengawasan berlaku disemua aspek secara langsung maupun
tidak langsung. Pengawasan untuk kepentingan evaluasi ini
bermanfaat untuk :
a. Memperoleh data untuk perbaikan dan pengembangan
program
b. Memperoleh model cara kerja yang paling efisien

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

112

c. Memperoleh data hambatan-hambatan agar dihindari pada


program mendatang
d. Memperoleh data untuk meningkatkan Usaha Pengembangan
Program
e. Mengetahui sejauhmana tujuan program tercapai
Langkah-Langkah kontrol atau pengawasan sebagai Bahan
Evaluasi adalah dapat
dilakukan
melalui
pemeriksaan
pekerjaan,
laporan
pertanggungjawaban dan
melakukan
pengecekan cheking
dengan Kriteria Pencapaian Tujuan
(Standar Keberhasilan). Evaluasi yang efektif adalah evaluasi
yang dilakukan secara kontinyu, menyeluruh, dan obyektif serta
bertujuan untuk pembinaan, pemberian motivasi untuk
peningkatan prestasi.
Teknik dan instrumen ukur yang digunakan untuk mengukur
dan mendapatkan data-data dalam evaluasi program diantaranya
adalah observasi/pengamatan dengan meminta pendapat orang
yang menjadi subyek evaluasi. Observasi dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung. Observasi langsung biasanya
menggunakan teknik wawancara dengan menggunakan instrumen
panduan wawancara. Sedangkan observasi yang tidak langsung
dapat menggunakan instrumen angket.
2. Pengembangan Program.
Yang
dimaksud
pengembangan
program
adalah
mengembangkan kegiatan dari suatu program berdasarkan
masukan data-data dari hasil evaluasi program tersebut.
Misalkan pada penyiaran radio, menyiarkan suatu program
hiburan seni tradisional wayang kulit dengan khalayak sasaran
masyarakat umum di daerah jangkauan pemancar radio tersebut.
Misalnya di seluruh wilayah kota Semarang dan sekitarnya
dengan radius 10 km dari stasiun pemancar. Dari hasil evaluasi
diperoleh data-data sebagai berikut :
a. Populasi dan sampel. Sebagai populasi adalah masyarakat di
seluruh kecamatan di Semarang yang terdiri dari 9
kecamatan. Dan 5 kecamatan di sekitar semarang. Sebagai
sampel respounden diambil 3 kecamatan di kota dan 1
kecamatan di luar kota. Setiap kecamatan diambil 1 desa
masing-masing diambil 6 orang yang akan diwawancarai,
sehingga jumlah sampel semua ada 24 orang yang terdiri dari
8 orang orang tua berusia 41 tahun keatas, 8 orang dewasa
usia 26 40 tahun dan 8 orang kaum muda usia 25 tahun ke
bawah.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

113

b. Dari hasil wawancara diperoleh informasi, bahwa 12 0rang


(50%) selalu mendengarkan program dengan alasan sangat
menyenangi acara tersebut, 6 orang (25%) sering
mendengarkan karena alasan waktu sehingga kadang-kadang
terpaksa tidak mendengarkan, 4 orang (16,67% ) jarang
mendengarkan dengan alasan tidak begitu senang dengan
acara tersebut dan 2 orang (8,33 %) menyatakan tidak pernah
sama sekali mendengarkan karena tidak menyenangi acara
tersebut. Setelah diteliti lebih lanjut dari respoundennya
ternyata yang selalu mendengarkan adalah terdiri dari semua
kaum tua yaitu 8 orang dan hanya 4 orang orang dewasa dan
sebagian orang dewasa lainnya menyatakan sibuk dan begitu
menyenangi acara tersebut. Sedangkan sisanya yaitu orang
usia muda menyatakan tidak senang dengan acara tersebut.
Informasi ini merupakan gambaran yang ditunjukkan
masyarakat terhadap program siaran wayang kulit di daerah
Semarang dan sekitarnya.
Hasil evaluasi ini memberikan gambaran kepada
manajemen program bahwa acara wayang kulit adalah
program suguhan bagi orang tua. Dari data yang diperoleh
program terebut masih diminati pendengar sehingga perlu
dipertahankan
dan
bahkan
dikembangkan
dengan
memperhatikan alasan dan harapan pendengarnya. Sehingga
bisa merebut hati sebagian dari orang muda bahkan para
remaja untuk mendengarkan program siaran wayang kulit
tersebut. Pengembangan program dapat dilakukan dengan
menyesuaikan waktu jam siar maupun lamanya/durasi
siarannya, misalnya tidak perlu dengan durasi semalam suntuk
atau sampai pagi, tetapi bisa disingkat dengan tidak
menghilangkan isi pokok ceriteranya. Membuat kolaborasi
dengan artis terkenal seperti penyanyi, pelawak dan
sebagainya sehingga menjadi acara yang terpadu dan
menarik. Dengan cara demikian program akan lebih diminati
banyak orang sehingga pesan-pesan untuk mempengaruhi
pendengar bisa disampaikan dan diterima dengan baik.
c. Bila hasil evaluasi menunjukkan data wawancara yang
sebaliknya. Misalnya bahwa 2 0rang (8,33 %) selalu
mendengarkan program dengan alasan sangat menyenangi
acara tersebut, 4 orang (16,67 %) sering mendengarkan
karena alasan waktu
sehingga
kadang-kadang terpaksa
tidak mendengarkan, 6 orang ( 25 % ) jarang mendengarkan
dengan alasan tidak begitu senang dengan acara tersebut dan
12 orang (50 %) menyatakan tidak pernah sama sekali
mendengarkan karena tidak menyenangi acara tersebut.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

114

Pengembangan program siaran ini perlu dipikirkan dengan


masak-masak. Apakah program siaran ini mau dipertahankan
atau dihilangkan dan diganti dengan program yang baru yang
lebih diminati pendengar, karena sesuai dengan data hasil
wawancara dengan pendengar
terdapat 75 % tidak
menyenangi program siaran wayang kulit. Apabila masih akan
dipertahankan, perlu dibuat/dikemas yang lebih menarik
dengan kolaborasi seperti pada poin b, atau dengan cara lain
yang lebih sesuai dengan harapan pendengar.
d. Dari hasil wawancara ditemukan informasi bahwa pendengar
tidak pernah atau jarang mendengarkan stasiun pemancar ini
dengan alasan kualitasnya kurang bagus, tidak bersih dan
terlalu dekat dengan stasiun pemancar lain dan suaranya
kalah/terganggu. Berarti program yang harus dikembangkan
adalah kualitas pancarannya. Memang perlu kita sadari bahwa
saat ini perkembangan stasiun pemancar sangat cepat.
Banyak bertumbuh stasiun pemancar baru dengan kualitas
yang bagus, dengan menggunakan peralatan dengan teknologi
yang modern. Hal ini mengakibatkan masyarakat memiliki
variasi pilihan yang banyak. Apalagi program siarannya sangat
menarik, sehingga pendengar akan selalu scanning mencari
stasiun pemancar dengan program siaran yang mereka
senangi. Oleh karena itu pengembangan bidang teknik perlu
segera dipikirkan sehingga mampu bersaing dengan stasiun
pemancar yang lain. Demikian pula pengembangan program
siaran,
harus
direncanakan
dengan
banyak
mempertimbangkan/memasukkan harapan pendengarnya.
Dengan demikian perlu jalinan komunikasi antara stasiun
pemancar dengan masyarakat. Untuk keperluan ini dapat
ditempuh dengan mengadakan event temu pendengar,
sosialisasi program dengan mengadakan siaran langsung
dengan acara bersama dengan masyarakat, dan sebagainya
sehingga stasiun pemancar ini dikenal dan diminati
pendengarnya.
Pengembangan program pada penyiaran TV pada prinsipnya
sama dengan penyiaran radio. Oleh karena itu contoh diatas
dapat diterapkan dan disesuaikan dengan program-program
siaran yang ada.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

115

BAB IV
PENYIARAN RADIO
A.

Fungsi Siaran Radio


Fungsi siaran radio adalah menyampaikan informasi dari
stasiun pemancar ke seluruh stasiun penerima dengan transmisi
tanpa kabel (wireless). Keberadaan radio berawal dari penemuan
James C. Maxwell mengenai teori gelombang elektromagnet yang
kemudian direalisasikan oleh Henrich Hertz pada 1887. Kemudian
Marconi menemukan metode transmisi suara tanpa kabel dan
dilanjutkan dengan penyempurnaan eksperimen tentang berbagai
susunan transmisi tanpa kabel oleh Nicola Tesla. Kemudian David
Sarnoff mengemukakan ide tentang bagaimana jika stasiun
penerima dibuat secara massal sehingga dapat dijadikan sebagai
peralatan rumah tangga seperti halnya piano atau phonograph yang
dapat menghadirkan musik ke dalam rumah secara wireless. Sarnoff
memberi nama Radio Music Box untuk idenya ini.
Pada 1919 impian Sarnoff terwujud, pesawat radio diciptakan
dan dapat dibeli oleh masyarakat umum sampai sekarang dan kita
pun dapat menimatinya. Bahkan kini kita dapat membeli radio
dengan harga yang relatif murah dan ukuran sangat kecil, sekarang
ikut sebagai feature pelengkap untuk handphone dan MP3 player.
Berdasar fakta di atas jadi wajar jika sampai sekarang radio identik
dengan musik, radio adalah sarana hiburan termurah dan tercepat
sehingga menjadi media utama untuk mendengarkan musik.

Gambar 47. Radio Penerima

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

116

Diagram blok penerima FM mono diperlihatkan pada gambar


48. Fungsi setiap blok ialah sebagai berikut :
1. Penguat RF, memperkuat frekuensi radio yang berasal dari
pemancar FM yang ditangkap oleh antene untuk diumpan ke
pencampur.
2. Osilator lokal, menghasilkan getaran sinus berkesinambungan
dengan frekuensi 10,7 MHz lebih tinggi dari frekuensi antene
untuk diumpan ke pencampur.
3. Pencampur, mencampur frekuensi antene dari penguat RF
dengan frekuensi osilator dan hasilnya adalah frekuensi antara
(IF) yaitu 10,7 MHz.
4. Penutuh,
membatasi/memangkas
amplitudo
gelombang
termodulasi agar amplitudonya rata ( berupa sinyal FM murni).
5. Detektor FM, mendeteksi perubahan freekuensi menjadi
perubahan tegangan sinyal audio.
6. Peng-aksen, menekan penguatan frekuensi audio tinggi yang
berlebihan yang berasal dari pemancar.
7. Pengaturan frekuensi otomatik (AFC), mengatur frekuensi
osilator lokal secara otomatik agar tetap.
Pengaturan penguatan otomatik (AGC), agar hasil keluaran dari
detektor hampir konstan.

Penguat
RF

Pencampur

Penguat
IF

Penutuh

Osilator
Lokal

Detektor
FM

AFC

Pengaksen

Penguat
Audio

AGC

Gambar 48. Diagram blok penerima radio FM mono


Selain identik dengan musik, karakter yang dimiliki oleh radio
adalah :
Auditif, yaitu apapun yang ingin disampaikan lewat radio harus
dalam bentuk suara, selain itu tidak bisa. Berdasarkan pada
karakter ini maka kualitas suara sangat diperhatikan oleh para
pengelola radio, utamanya bagian produksi yang tugas utamanya
memproduksi lagu, spot iklan, promo program atau apapun yang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

117

akan diputar di ruang siaran suaranya harus jernih dan enak


didengar.
Theatre of Mind, menciptakan gambar dalam imajinasi atau
khayalan pendengar. Jadi penyiar harus mampu memaparkan
sesuatu yang ingin disampaikan kepada pendengar secara detil
supaya imajinasi pendengar sama dengan tujuan yang ingin dicapai
penyiar. Misalnya penyiar menyampaikan siaran langsung
pertandingan sepakbola maka apa yang diucapkan penyiar harus
mampu menggambarkan betapa pertandingan berlangsung sangat
seru misalnya dengan menggunakan intonasi tinggi dan tempo
cepat, tentu berbeda dengan saat menyiarkan talkshow mengenai
musik.
Transmisi, proses penyebarannya atau penyampaian kepada
pendengar melalui pemancaran (transmisi) lalu diterima oleh radio
masing-masing sesuai dengan frekuensi masing-masing.
B.

Jenis informasi pada siaran radio


Jenis informasi yang disampaikan melalui media radio terdiri
dari berbagai macam jenis program akan tetapi secara umum
program radio terdiri dari :
Music Program, ini program utama radio manapun kecuali radio
khusus berita. Biasanya berisi pemutaran lagu pilihan pendengar
diselingi info ringan atau kuis, seusai pemutaran lagu biasanya
diselingi juga komentar tentang lagu tersebut.
Talkshow, biasanya mendatangkan nara sumber atau bintang tamu
untuk bincang-bincang tentang sebuah tema atau topik hangat.
News Program, disebut juga acara berita.

C.

Khalayak Sasaran siaran radio


Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Zogby International
yang diterbitkan pada tanggal 3 Oktober 2003 menunjukkan bahwa
orang-orang Amerika sangat menyenangi dan menghargai stasiun
penyiaran publik lokal didaerahnya. Lebih dari tiga perempat
penduduk Amerika (76%) sangat menyenangi siaran radio lokal yang
menyuguhkan acara berita, informasi dan hiburan. Jajak pendapat
mencari informasi dari responden tentang berapa besar manfaat
siaran radio lokal ketik terjadi keadaan darurat seperti bencana
alam, adanya serangan teroris, cuaca buruk, badai dll. Sembilan
dari sepuluh orang (93%) menjawab bahwa radio merupakan sumber
informasi yang sangat penting bila dalam keadaan darurat. Bahkan
diantara orang-orang yang mengaku tidak pernah mendengarkan
radio, 70% diantaranya bila dalam keadaan darurat atau keadaankeadaan tertentu selalu mengandalkan informasi dari radio, dan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

118

peran radio menjadi sangat penting. Jajak pendapat juga bertanya


kepada responden berapa sering stasiun radio lokal menyiarkan
musik yang merek sukai? Dari pertanyaan tadi diperoleh hasil bahwa
stasiun penyiaran radio lokal sangat memuaskan pendengarnya.
Sementara siaran radio lokal juga memenuhi keinginan sub
kelompok demografis masyarakat. Anak-anak remaja usia 18 tahun
s/d. 19 tahun memberikan rating yang sangat kuat (84%) dan musik
yang didengarkan melalui radio mendominasi siaran radio (74%)
menyatakan bahwa radio lokal selalu dan sebagian besar waktu
siarannya memperdengarkan musik yang mereka inginkan.
Bila terjadi kemacetan lalu lintas, pendengar radio di mobil
selalu mencari informasi lebih banyak tentang keadaan lalu lintas
dari radio, dan radio digital dapat memberikan informasi lebh
banyak lagi bagi pendengar yang segmentasinya lebih bervariasi dan
lebih banyak lagi. Radio merupakan suatu industri yang sehat dalam
industri iklan. Radio merupakan segmen media yang membantu
percepatan ekonomi paling cepat selama tahun 1997 s/d. 2002,
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Merchant Bank
Veronis Suhler Stevenson. Selain dari kontribusi ekonomi di bidang
iklan, biaya untuk mengubah sistim penyiaran analog ke digital juga
memerlukan investasi yang besar. Beberapa stasiun penyiaran radio
yang tidak siap akan menolak atau setidak-tidaknya menunda untuk
beralih dari sistim penyiaran analog ke digital. Beberapa
diantaranya masih menunggu dan melihat kecenderungan penyiaran
digital dengan harapan agar pesawat penerima radio digital segera
diproduksi masal dan harganya turun dan terjangkau oleh
masyarakat, sejalan dengan rencana migrasi dari teknologi
penyiaran analog ke digital.
Stasiun penyiaran radio terestrial dari yang diselenggarakan
oleh komunitas stasiun penyiaran radio saat ini masih menggunakan
sistem analog, dan saat ini mulai memikirkan beralih teknologi
penyiaran digital. Radio digital cepat menghasilkan beberapa
kelebihan bila dibandingkan dengan teknologi penyiaran analog.
Khususnya, bila siaran radio AM-MW analog dirubah ke teknologi
radio digital hasilnya sangat menakjubkan. Siaran radio digital MW
menghasilkan kualitas suara yang jauh lebih baik dibandingkan
dengan penyiaran AM-MW biasa, bahkan digambarkan sebagai
mendekati kualitas penyiaran radio FM. Teknologi penyiaran yang
dipancarluaskan pada spektrum frekuensi 88 Mhz s/d. 108 MHz
kualitasnya dinyatakan mendekati kualitas Compact Disc dengan
berkurangnya distorsi-distorsi yang biasanya mengurangi kualitas
transmisi radio FM. Teknologi penyiaran digital pertamakali
didemonstrasikan di Jenewa, Swis pada World Administrative
Radio Conference musim panas tahun 1988. Teknologi penyiaran
radio digital yang pertama kali diperkenalkan di Amerika adalah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

119

EUREKA-147 Digital Audio Broadcasting (DAB) pada pertengahan


tahun 1990 pada National Association of Broadcasters Convention
di Atlanta, Georgia. Siaran radio digital EUREKA-147 pertamakali
didemonstrasikan pada NAB tahun 1991 di Las Vegas.
Amerika telah memilih menggunakan sistim penyiaran radio
digital In-Band/On Channel, yang sering dikenal sebagai IBOC,
sebagai salah satu sistem penyiaran radio digital. Sistim IBOC
bekerja dengan menggabungkan sinyal audio analog dengan sinyal
audio digital agar diperoleh kompatibilitas antara penyiaran radio
analog dengan penyiaran radio digital, baik pada radio AM maupun
FM. Sistim penyiaran radio digital IBOC yang juga disebut sebagai
HD-Radio dikembangkan oleh iBiquity Radio dan secara resmii
telah ditentukan sebagai sistem penyiaran radio digital di Amerika
Serikat. Sistem teknologi penyiaan radio digital IBOC menyajikan
penerimaan siaran radio yang bebas dari distorsi sinyal
elektrostatis, noise baik pada siaran spektrum frekuensi penyiaran
AM-MW dan FM-VHF. Selain daripada itu, penyiaran radio IBOC juga
menyediakan layanan data nirkabel (wireless), audio on demand,
data yang berkenaan dengan materi yang disiarkan oleh siaran radio
digital (judul lagu, artis musik, berita, ramalan cuaca, keadaan lalu
lintas dan tentunya siaran komersial tambahan
Teknologi penyiaran radio digital IBOC di Amerika
memberikan kemiripan dengan siaran radio dgital di negara-negara
lain di luar Amerika. Yang telah bermigrasi ke arah penyiaran
digital. Media audio, termasuk siaran radio melalui satelit, radio
internet, alat pemutar (player) pribadi MP3, layanan audio on
demand, siaran kabel dan sistem penyiaran audio DBS, menurut
penelitian konsumen menunjukkan adanya kecenderungan
masyarakat untuk menyukai media informasi dan hiburan yang
telah berbasis digital. Hal ini dibuktikan dengan semakin
meningkatnya produk peralatan digital yang sangat diminati
masyarakat. Masyarakatpun juga sudah sangat memahami
keuntungan teknologi digital. Sebagai contoh di masa transisi dari
penyiaran TV analog ke penyiaran TV digital telah menunjukkan
bahwa konsumen sangat menikmati kesempurnaan kualitas hiburan
gambar dan suara hasil teknologi digital. Tanda-tanda ini ini telah
ditunjukkan dengan baik pada penyiaran radio digital. Tetapi
memang di lain pihak bagi sebagian masyarakat datangnya
teknologi
digital
bahkan
sangat
membingungkan.
Jadi
penyelesaiannya, agar migrasi dari sistem penyiaran analog ke
digital berhasil dengan baik, pemerintah harus melakukan
pendidikan kepada masyarakat/ konsumen dan meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang hal-hal yang harus dimengerti oleh
masyarakat sebagai dampak dari perkembangan teknologi digital
tadi.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

120

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Visteon Corporation,


HD-Radio telah berada ditengah-tengah masyarakat, dan
masyarakatpun juga telah siap menerima keberadaan HD-Radio.
Penelitian Visteons Consumer Research menunjukkan bahwa 80%
responden yang telah membeli mobil-mobil mewah menginginkan
agar di mobil merekan telah dipasang sistim penerima radio digital,
dan lebih dari 50% responden yang telah memiliki kendaraan setuju
dengan hal ini. Visteon juga menyebutkan: Sistim penerima HDRadio memberikan layanan kualitas audio yang berkualitas tinggi
melalui penyiaran radio digital AM dan FM tanpa harus membayar
biaya tambahan sebagaimana layanan pada radio satelit. Sistim
penyiaran radio digital selain memperbaiki kualitas suara dan bebas
dari gangguan muatan elektrostatis, pemilik HD-Radio juga
menghilangkan kehausan pendengar dengan adanya fitur-fitur
tambahan penyiaran digital seperti informasi keadaan lalulintas,
layanan berita dan layanan-layanan hiburan lainnya, disamping
layanan lain yang dapat diperoleh secara berlangganan.
Penyiaran radio digital merupakan teknologi di bidang
penyiaran radio terestrial yang mengirimkan sinyal audio/suara
setara kualitas kualitas CD (Compact Disc) bebas dari interferensi
dan noise kepada pendengar radio. Di Amerika Serikat istilah umum
yang digunakan untuk sistim penyiaran radio digital In-Band/OnChannel (IBOC) adalah HD-Radio yang merupakan nama dagang
untuk sistim enyiaran radio digital AM dan FM. Izin pemakaian nama
HD-Radio diberikan pada iBiquity Digital Corporation, satu-satunya
perusahaan yang mengajukan nama untuk sistim penyiaran radio
digital. Istilah Digital Audio Broadcasting (DAB) aslinya berasal dari
Eropa dan saat ini digunakan di beberapa negara Eropa, Kanada dan
Asia untuk menyatakan sistim penyiaran radio digital secara
komersial yang memerlukan pita frekuensi penyiaran diluar
spektrum frekuensi radio AM dan FM. Sistem penyiaran radio digital
DAB memerlukan lebar pita atau lebar kanal untuk setiap stasiun
penyiaran yang lebih lebar dari yang dialokasikan untuk stasiun
penyiaran radio AM dan FM di Amerika Serikat saat ini. Sehingga
memerlukan spektrum frekuensi baru untuk memancarluaskan
siaran radio digital DAB. Eureka-147-DAB merupakan merek
dagang untuk teknologi penyiaran radio digital yang dioperasikan di
luar Amerika Serikat dimana disana tersedia pita frekuensi baru
(misalnya pita frekuensi diluar spektrum frekuensi untuk penyiaran
AM-MW dan radio FM-VHF). Di Amerika Serikat tidak tersedia pada
frekuensi baru di luar spektrum frekuensi yang ada untuk penyiaran
AM dan FM, sehingga untuk penyiaran radio digital IBOC secara
terestrial harus tetap beroperasi pada spektrum frekuensi radio AM
dan FM. Eureka-147 DAB, bersama-sama dengan beberapa sistem
penyiaran digital lainnya dievaluasi dan diuji coba pada tahun 1995.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

121

Saat itu Eureka-147 telah menjadi suatu sistem yang mendominasi


sistim penyiaran digital dan menempati spektrum frekuensi baru,
sementara IBOC (In-Band-on-Channel) dan IBAC (In-Band/Ajacent
Channel) secara domestik telah diajukan untuk tetap menempati
spektrum frekuensi yang digunakan untuk penyiaran AM dan FM
yang sudah ada untuk memancarluaskan sistem penyiaran radio
analog dan digital.
Pengembangan teknologi penyiaran radio digital IBOC terjadi
dalam tiga tahap:
1) Tahap pertama sebagai proyek ACORN: terjadi antara tahun
1990 s/d. 1992 dimana USA Digital Radios (USADR) yang
mencoba untuk membuat suatu konsep penyiaran radio secara
digital. Ternyata didalam perkembangannya, usaha-usaha yang
dilakukan diterjemahkan salah oleh industri yang mencoba
menerapkan penyiaran radio digital. USADR bermaksud untuk
secara konseptual mendemonstrasikan penyiaran radio secara
digital dan diterima oleh pesawat penerima radio pada
spektrum frekuensi radio AM-MW dan FM-VHF yang telah ada
dengan interferensi minimal pada pesawat penerima analog.
Peristiwa penting yang perlu dicatat pada periode ini adalah:
Transmisi siaran IBOC pertama diselenggarakan pada
tanggal 9 Juli 1992 jam 14:45 pada frekuensi 1660 kHz di
Xentron Corporation, Cincinati, Ohio.
Transmisi siaran FM-IBOC pertama diselenggarakan pada
tanggal 29 Agustus 1992, pada WILL, Urbana, IL
2) Tahap kedua dimana USADRs secara komersial berhasil
menyebarluaskan penggunaan sistim AM dan FM. Usaha ini
menghasilkan modem AM dan FM yang digunakan pada saat ini.
Tanpa ragu-ragu merupakan salah satu dapat dikatakan bahwa
modem ini merupakan salah satu modem yang dikembangkan
untuk mengirimkan sinyal digital. Peristiwa penting yang perlu
dicatat pada periode ini adalah:
Perkembangan cukupnya perangkat keras dan perangkat
lunak bagi pesawat penerima dan pemancar yang cukup
untuk melakukan percobaan-percobaan di laboratorium dan
di lapangan serta untuk keperluan komersial.
Peragaan sistem penyiaran pada pita frekuensi FM oleh
USADR pertama kali ketika berlangsung NAB Radio Show di
WMMO, Orlando, Florida di bulan September 1999.
3) Tahap ketiga ialah uji coba penyiaran digital yang berlangsung
hampir lima tahun terus menerus di NPR, yaitu salah satu
afiliasi dari stasiun penyiaran WETA-FM di W dan NRC
menyetujui percobaan siaran ini hanya pada siang hari saja.
Sementara untuk sistim penyiaran FM Digital boleh
diselenggarakan pada siang dan malam hari. Menindaklanjuti

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

122

persetujuan NRSC tadi, iBiquity Digital Corpotation mulai


memperkenalkan sistim penyiaran IBOC dan para pabrikan
peralatan penyiaran radio juga memperkenalkan peralatan
exciter dan pemancar IBOC. Di sisi konsumen 13 perusahaan
yang membuat peralatan elektronik untuk rumah tangga pada
acara Consumer Electronic Show di tahun 2003 mengumumkan
rencananya untuk segera menerapkan sistim penyiaran radio
ditigal. Pada tanggal 2 Oktober 1992, FCC telah mengesahkan
pemakaian sistim IBOC sebagai sistim penyiaran radio digital di
Amerika Serikat.
Radio Digital IBOC memancarkan sinyal audio digital dalam
bentuk aliran data digital yang dikirim secara berurutan
sebagaimana pada modem dan faksimili bersama sama dengan
signal analog. Dengan ini memungkinkan spektrum yang sama
digunakan untuk kedua jenis signal analog dan digital, sehingga
pesawat penerima radio AM atau FM masih bisa menerima
digunakan untuk menerima siaran yang sama. Penyiaran radio
digital mengubah informasi analog menjadi angka-angka biner yang
nilaunya selalu berubah-ubah sesuai dengan besaran sinyal audio
analog yang masuk. Sistem pemancar radio digital mengubah atau
menyandikan (encode) sinyal suara analog yang masuk menjadi
bilangan biner untuk dipancarluaskan/ Proses ini disebut sebagai
Code/Decode (penyandian sinyal analog menjadi sinyal digital dan
penguraian kembali dari sinyal digital menjadi sinyal analog, atau
dari satu sistim penyandian yang satu ke penyandian yang lain),
yang selanjutnya disebut CODEC.
Dalam hal dimana studio telah mengirim sinyal digital ke
pemancar, pemancar radio digital hanya memproses sinyal audio
digital yang masuk siap untuk dipancarluaskan. Proses ini disebut
modulation. Pesawat penerima radio digital menguraikan kembali
(decode) sinyal digital yang diterima menjadi sinyal audio analog
kembali (pada proses yang berlawanan dari digital ke analog).
Proses ini disebut demodulation. Terdapat beberapa cara untuk
merubah sinyal analog menjadi sinyal digital. Cara-cara ini dapat
diuraikan secara matematis yang disebut dengan Algorithm
(Algoritma). Dalam menggunakan algoritma, para pakar dan teknisi
dapat membuang komponen-komponen sumber sinyal audio digital
yang tidak diperlukan dan hanya meninggalkan bagian-bagian yang
penting saja untuk dipancarluaskan melalui antene dan selanjutnya
direproduksi pada pesawat penerima radio atau pada atau pafda
alat pemutar rekaman. Sebagai contoh, berdasarkan psychoacoustical yang dimiliki telinga manusia diketahui bahwa telinga
tidak dapat merasakan suara-suara yang berintensitas rendah yang
tersembunyi oleh frekuensi-frekuensi lain yang sama. CODEC

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

123

algoritma sangat membantu konsep ini dengan memisahkan dan


tidak memancarluas-kan suara-suara yang tidak diperlukan tadi
tanpa mengurangi kualitas suara audio yang telah disandikan
(decode) menjadi informasi analog pada pesawat penerima. Proses
pengurangan bit ini dikenal dengan istilah compresion (kompresi).
Kompresi akan mengurangi sinyal yang masuk menjadi komponenkomponen penting sedemikian rupa yang berakibat pada
berkurangnya lebar pita (band-width) saluran transmisi. Kompresi
sinyal audio ini menjadi sangat penting untuk mengurangi lebar pita
transmisi siaran digital. Beberapa jenis kompresi algoritma sistim
pengolahan sinyal audio secara digital yang kita kenal adalah AAC,
PAC, MP-3 atau HDC. Ini semua merupakan nama dagang dari sistim
kompresi informasi audio digital dan untuk menyatakan hak cipta
intelektual dan sekaligus untuk membedakan masing-masing cara
kodefikasi algoritma diantara beberapa sistim tadi. Dengan
menggunakan HD-Radio secara digital sinyal yang telah
dimodulasikan pada frekuensi yang sama dengan frekuensi analog
yang ada.
Pada rangkaian jalur transmisi penyiaran audio, terdapat
titik-titik atau simpul-simpul dimana dilakukian kompresi sinyal
audio; yaitu ketika sistim otomatisasi level dinyal audio, saat
perekaman audio, hubungan antara studio ke pemancar (Studio to
Transmitter Links), saat dial-up (yaitu ketika mengirimkan sinyal
audio pada jarak jauh dengan menggunakan saluran telepon digital
ISDN, dan sekarang ditambah lagi dengan memancarluaskan
sinyal audio ke pesawat penerima secara digital. Di setiap titik-titik
tadi masing-masing menggunakan kompresi sinyal sinyal audio yang
secara teknis dikelola sedemikian rupa agar sinyal-simyal audio
tidak berkurang kualitasnya bila pada tahap berikutnya melalui
proses penyandian dan diurai kembali (encode dan decode)
beberapa kali.
Hasil kerugian yang tidak begitu kentara dapat terjadi pada
frekuency response, hilangnya dynamic range, atau yang lebih
parah lagi bisa juga terjadi pada informasi tambahan yang dibuat
belakangan. Dalam hal ini, kualitas sinyal audio digital akan
terdengar sangat jelek dan lebih rendah kualitasnya dibandingkan
dengan kualitas suara pada sistim pemancaran radio FM. Tentu saja
kualitas audio digital yang jelek akan membuat pendengar menolak
rencana migrasi dari sistim penyiaran analog ke digital.
Cara-cara CODEC sinyal audio dimaksudkan untuk sebanyak
mungkin mengurangi jumlah informasi bit, sementara membuat
tiruannya secara tepat tanpa dapat dikenali perbedaannya secara
nyata oleh pendengar. Untuk mengenali perbedaan tadi diperlukan
orang-orang terlatih yang bertelinga emas. Setelah melalui kajian
dan penelitian secara intensif pada akhirnya diperoleh cara CODEC

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

124

dengan menggunakan jumlah bit minimal dengan hasil yang sangat


memuaskan. Cara kodifikasi (CODEC) dengan menggunakan jumlah
bit minimal untuk menghasilkan kualitas suara sesuai dengan
kualitas asli tersebut disebut Low Bit Rate atau Low Data Rate
CODEC. Hingga saat ini sistim HD Radio menggunakan teknologi
kompresi yang dikenal dengan istilah PAC, dikembangkan oleh
Lucent Technologies. Namun iBiguity Digital telah mengembangkan
sistim HD-Radio dengan CODEC HDC baru yang secara signifikan
dapat memperbaiki kualitas Low Bit Rate pada sistim HD-Radio
AM. Di dalam mengevaluasi kualitas CODEC audio, kriteria yang
digunakan pada sinyal audio analog di masa lampau benjadi tidak
berguna lagi. Sementara parameter-parameter yang digunakan
untuk mengukur kualitas suara seperti Signal to Noise Ratio (S/N
Ratio), Frequency Response dan distorsi masih dapat digunakan.
Proses coding memasukkan sejumlah komponen-komponen yang
benar-benar baru berupa perangkat lunak untuk memanipulasi,
memperbaiki, mengatur, menyesuaikan setiap kekurangan yang
muncul akibat CODEC.
Antara tahun 1950 hingga tahun 1960-an untuk
menggambarkan suara yang berkualitas tinggi berpedoman pada
High Fidelity, kemudian pada tahun 1970 hingga 1980-an kriteria
suara berkualitas tinggi ditambah dengan Stereophonic. Namun
setelah Compact Disc masuk pasar peralatan hiburan di rumahrumah, diperkenalkanlah suatu parameter baru untuk menilai
kualitas audio, yaitu yang disebut dengan kualitas CD. Kualitas
penyiaran radio FM baru dikenal sebagai Kualitas High Fidelity
dan Stereophonic. Namun dengan munculnya CD penilaiannya
ditambah dengan Low Noise dan High Dynamic Range. Harapan
inilah yang didambakan oleh masyarakat ketika mendengarkan
radio. Pada penyiaran radio FM kita bisa mendengarkan siaran FM
yang masih menghadapi beberapa kekurangan, yaitu ketika
menerima siaran siaran radio dengan bergerak melaju di mobil
dengan kecepatan tinggi. Siaran radio AM juga mempunyai
beberapa masalah kualitas audio serius yang tidak dapat
dipisahkan. Gangguan dari pemancar radio yang beroperasi di kanal
sebelah (adjacent channel) dan gangguan dari pemancar radio yang
beroperasi pada frekuensi yang sama (co-channel) khususnya pada
malam hari sangat mengganggu. Setelah bertahun-tahun tidak bisa
mengatasi masalah ini, beberapa stasiun penyiaran radio AM
melempar handuk untuk tidak menyiarkan acara musik. Sebagai
gantinya mereka bermigrasi ke stasiun penyiaran radio FM. Di lain
pihak stasiun pemancar AM mempunyai keuntungan berupa
jangkauan siaran yang sangat jauh di malam hari, namun tetap
tidak dapat mengatasi keinginan pendengar yang lebih senang
mendengarkan siaran musik yang berkualitas tinggi. Hanya dengan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

125

menggunakan siaran AM-Digital sajalah yang dapat menyelesaikan


masalah ini.
Tahun pertama dari penyiaran radio digital di Amerika
dimulai pada tahun 2003. Kira-kira 300 stasiun pemancar radio AM
dan FM telah diberi izin untuk bermigrasi dari analog ke digital
dengan menggunakan sistim H-D Radio. Selama masa transisi
tadi, stasiun penyiaran radio yang bermigrasi ke penyiaran digital
diharuskan memancarkan siarannya pada dua sistim (analog dan
digital) sekaligus yang disebut Simulcast. Pada bulan Oktober di
tahun yang sama, Kenwood USA membagi-bagikan 1000 pesawat
penerima radio digital HD-Radio. Pada bulan Januari 2004 pesawat
penerima radio digital buatan Kenwood telah beredar di pasar.
Pada saat itu juga pesawat penerima radio digital IBOC pertama
kali juga dapat dibeli di Cedar Rapid, Iowa.
D.

Stasiun Pemancar Radio


1. Studio Pemancar Radio
Salah satu komponen penting pada stasiun pemancar
radio adalah antene pemancar dan saluran transmisinya.
Saluran transmisi (transmission line) adalah sarana untuk
menghantarkan tenaga listrik yang berasal dari sumber
(pesawat pemancar) ke beban (antene pemancar), dimana
letak beban berjauhan. Selain untuk menghubungkan antara
pemancar dan antene, saluran transmisi juga dipergunakan
untuk saluran ukur dalam pengukuran VHF/UHF dan sebagai
trafo penjodoh (matching transformer). Saluran transmisi
disebut juga saluran pancar atau saluran pengumpan (feeder
line).
Rangkaian ekuivalen saluran transmisi, L adalah
induktansi yang disebabkan oleh bocoran medan magnet, R
adalah resistansi yang terbentuk karena hambatan kawat, C
adalah kapasintansi yang disebabkan oleh bocoran medan
magnet, dan G adalah konduktansi yang terbentuk karena
bocoran arus antara kedua penghantar. Pada frekuensi tinggi
(RF), reaktansi induktif lebih besar dari resistansi, dan
suseptansi kapasitif lebih besar dari konduktansi. Oleh karena
itu, rangkaian ekuivalen tersebut dapat disederhanakan.
Sebuah pemancar memberikan tenaga listrik ke antene
melalui saluran transmisi. Gelombang yang berasal dari
pemancar menuju antene disebut gelombang datang (incident
wave). Jika impedansi karakteristik saluran transmisi tidak
jodoh dengan impedansi antene, maka akan terjadi gelombang
pantulan (reflected wave) dari antene ke pemancar. Hal ini
terjadi karena adanya induksi pada saluran transmisi, dimana
arus maupun tegangan terpotong secara tiba-tiba. Gelombang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

126

datang maupun gelombang pantulan menjalar pada saluran


transmisi. Oleh karena itu disebut gelombang menjalar
(traveling wave). Interferensi antara gelombang datang dan
gelombang pantulan menghasilkan gelombang tegak (standing
wave). Gelombang tegak tidak menjalar, dan amplitudonya
berubah-ubah ketika ada gelombang datang maupun
gelombang pantulan yang baru.
Bandingan gelombang tegak tegangan (VSWR, voltage
standing wave ratio) adalah perbandingan tegangan maksimum
dan tegangan minimum gelombang tegak pada saluran
transmisi. Kondisi jodoh (match) didapat jika seluruh energi
pada gelombang datang tersalur ke beban, tidak ada energi
yang dipantulkan kembali ke sumber. Kerugian saluran
transmisi adalah ketidak-mampuan saluran transmisi untuk
menghantarkan tenaga listrik seluruhnya ke bebab. Semaki
panjang saluran transmisi, kerugian semaki besar. Kerugian
daya pada saluran transmisi tidak berbanding langsung dengan
panjang saluran, tetapi berubah secara logaritmik. Oleh karena
itu,kerugian pada saluran transmisi dinyatakan dalam dB
(desibel) untuk setiap panjang tertentu. Kerugian pada saluran
transmisi semaki besar, jika frekuensi kerjanya semakin tinggi.

a. Mendesain box untuk pemancar radio

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

127

b. Rangkaian pemancar radio

b. Pemancar yang siap digunakan


gambar 49. Proses pembuatan pemancar radio

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

128

Macam-macam kerugian pada saluran transmisi adalah


sebagai berikut :
a. Kerugian pancaran, yaitu kecenderungan saluran transmisi
untuk bekerja sebagai antene pemancar (dapat
memancarkan gelombang elektromagnetik meskipun tanpa
ada antene yang terhubung padanya).
b. Kerugian panas, yaitu panas yang timbul akibat arus yang
mengalir pada perlawanan kawat dan adanya efek kulit
pada frekuensi tinggi.
c. Kerugian dielektrika, yaitu bocornya isolator/penyekat
diantara kedua kawat pada saluran transmisi.
d. Kerugian pantulan, yaitu adanya pantulan balik tenaga
listrk sumber, sehingga menimbulkan gelombang tegak yang
tidak diinginkan.
Balun dipergunakan untuk menjodohkan beban / antene
balans dengan saluran transmisi tak balans (unbalance). Balun
kumparan adalah basis dari balun lineir saluran transmisi.
Balun kumparan adalah dua buah saluran transmisi yang sama
panjang dengan impedansi kareteristik Zo, dihubungkan secara
deret pada satu sisi, sementara sisi lainya dijajarkan. Panjang
saluran adalah kelipatan ganjil dari . Jika Zo = 150 ohm,
maka balun kumparan dapat menjodohkan impedansi 300
(balans) dengan impedansi 75 ohm (tak balans).
Balun kumparan yang beroperasi pada frekuensi 1,930
MHz bentuknya agak besar. Untuk membuat bentuk yang kecil
dipergunakan inti ferit toroida. oleh karena itu disebut balun
toroida. Balun toroida 1:1, yang dipergunakan untuk
menjodohkan impedansi 50 ohm balans impedansi 50 ohm tak
balans. Balun toroida 4:1 yang dipergunakan untuk
menjodohkan impedansi 200 ohm balans dengan impedansi 50
ohm tak balans, atau untuk menjodohkan impedansi 300 ohm
balans dengan 75 ohm tak balans.
Balun koaks adalah balun yang terbuat dari saluran
koaks1/2 . Balun koaks menjodohkan impedansi 300 Ohm
balans dengan impedansi 75 ohm tak balans (4:1). Sedangkan
Balun redam berfungsi untuk meredam / menekan arus yang
mengalir pada sisi luar saluran umpan. Hal ini dilakukan
dengan memasang saluarn . Balun ini dikenal sebagai
Bazooka.
Penjodoh T dipergunakan untuk menjodohkan saluran
jajar dengan titik tengah antene. Sedangkan penjodoh gamma
dipakai untuk menjodohkan saluran koaks dengan titik tengah
antene. Keduanya mempergunakan batang penghantar yang
dipasang berjajar dengan antene. Jarak batang penghantar
dengan titik tengah antene diatur sedemikian rupa sehingga

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

129

diperoleh VSWR mendekati 1. Jika VSWR lebih dari 2, maka


panjang antene harus diubah.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

130

Gambar 50. Berbagai ruang studio pemancar radio


Jika impedansi saluran jajar lebih kecil dari impedansi
keluaran pemancar, maka dibutuhkan rangkaian talaan deret.
Jika impedansi saluran jajar lebih besar dari impedansi
keluaran pemancar, maka dibutuhkan rangkaian talaan jajar.
Penunjuk SWR dipasang antara keluaran pemancar dengan
ranfkaian talaan deret / jajar. Pertama kali, tentukan kopling
antara L 1 dan L 2. Kemudian, Cs dan Cp diatur sehingga
diperoleh VSWR yang mendekati 1. Jika VSWR tidak mendekati
1 aturlah kembali kopling h antara L 1 dan L 2.
Antene pemancar adalah batang konduktor yang
mengubah arus frekuensi radio (RF) menjadi gelombang
elektromagnet dan memancarkannya. Dalam sistem rancangan
yang baik, hanya antene yang boleh melakukan pemancaran.
Antene penerima merupakan batang konduktor yang mengubah
induksi gelombaang elektromagnet menjadi arus listrik.
Resiprositas antene artinya antene yang dapat dipergunakan
untuk
memancarkan
maupun
menerima
gelombang
elektromagnet. Perbedaan antara antene pemancar dan
penerima adalah :

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

131

Antene penerima

Antene Pemancar

Daya kecil
Penyekatnya sedang
Beresonansi pada banyak
frekuensi

Daya besar
Penyekatnya harus kuat
Beresonansi pada satu
frekuensi

a. Antene Ombi

b. Antene ring-O

c. Antene Ombi

Gambar 51. Berbagai macam antene pemancar radio


Polarisasi gelombang elektromagnet tergantung pada
medan listriknya. Medan listrik sejajar dengan antene,
sedangkan medan magnetnya tegak lurus terhadap antene.
Posisi antene penerima harus sejajar dengan arah medan listrik
(sejajar dengan antene pemancar) atau tegak lurus terhadap
arah medan magnet, agar dapat menangkap daya semaksimal
mungkin dari pemancar. Jika natena pemancar terletak
vertikal/tegak
lurus,
maka
polarisasi
gelombang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

132

elektromagnetnya ke arah vertikal. Pada antene vertikal,


pancaran ke segala penjuru sama kuat, sama jauh, dan
dayanya sama besar. Jika antene pemancar terletak
horizontal/mendatar,
maka
polarisasi
gelombang
eektromagnetnya ke arah horizontal. Pada antene horizontal,
pancaran terkuat ada pada garis yang tegak lurus terhadap
sumbu antene.
Resistansi antene terdiri atas :
a. Resistansi ohm (Ro). Akibat resistansi ohm ini, arus yang
mengalir melalui antene akan menimbulkan panas sebesar
Ro.
b. Resistansi bocoran (leakage resistance). Ini adalah
kebocoran pada penyekat antene, dan disebut pula sebagai
kerugian dielektrika.
c. Resistansi radiasi (RR). RR mengakibatkan adanya tenaga
yang terpancar sebesar RRR. Resistansi radiasi tergantung
pada tinggi antene terhadap tanah. Kurva resistansi radiasi
antene dua kutub (dipole) vertikal dan horizontal di
beberapa ketinggian dari tanah.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

133

Gambar 52. Receiver radio

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

134

Gambar 53.

2.

Berbagai macam peralatan transmitter radio

Peralatan Studio dan Fungsinya.


Biasanya terdapat 2 studio dalam sebuah stasiun radio,
yaitu studio siaran dan studio produksi. Studio siaran digunakan
untuk menyiarkan materi-materi siaran, tempat penyiar
berbicara, memutar lagu dan iklan. Studio produksi digunakan
untuk mempersiapkan dan membuat materi-materi siaran,
seperti bikin spot iklan, tes vokal calon penyiar, editing lagu,
dsb. Peralatan yang terdapat di kedua studio prinsipnya sama
maka jika studio siaran ada masalah penyiar bisa menggunakan
studio produksi.
Secara umum peralatan yang ada di studio adalah:
komputer, audio console (mixer), audio input, speaker
monitor, monitor studio, headphone, microphone dan
telephone. Sedangkan pesawat pemancarnya biasanya berada
di ruang tersendiri.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

135

Mixer adalah peralatan paling penting dalam sebuah


studio, fungsi alat ini adalah mencampur semua masukan suara
(audio input) yang tersedia dan menjadikannya satu output
untuk disiarkan. Sehingga bisa mendengar suara penyiar, lagu
atau background sekaligus.
Audio input. Adalah sumber audio yang terdiri dari
mikropon, tape recorder, pick up atau piringan hitam, CD
(compact Disk), Komputer. Sumber audio tersebut berfungsi
sebagai player untuk mengahasilkan sinyal audio. Yang
selanjutnya disalurkan ke mixer untuk dipilih mana yang akan
di siarkan melalui pesawat pemancar radio.
Speaker monitor, monitor studio dan head phone adalah
merupakan alat pendengar/speaker yang berfungsi sebagai
display untuk memonitor suara baik itu suara dari sumber
suara ataupun suara yang telah/akan dipancarkan.
Telepon. Adalah peralatan komunikasi yang digunakan
untuk program interaktif dari pendengar radio dengan penyiar.
Catu daya listrik. Adalah sumber tenaga listrik yang
dipakai untuk mencatu daya listrik bagi semua peralatan
elektronik agar dapat bekerja. Catu daya listrik dapat
menggunakan sumber listrik dari PLN, Generator set maupun
bateray atau aki. Peralatan ini harus selalu dalam keadaan siap
pakai, karena tanpa catu daya semua peralatan elektronik
tidak akan bekerja. Oleh karena perawatan peralatan catu
daya sangat mutlak diperlukan untuk menjaga kelangsungan
kerja. Misalnya selalu menjaga dalam keadaan bersih, selalu
control tegangan dan arus yang tersimpan, mengisi cairan air
accu, mengisi accu dan sebagainya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

136

Gambar 54. Peralatan stasiun pemancar radio


3.

Skema sambungan peralatan dan prinsip kerjanya


Pemancar berfungsi memberikan daya kepada antene
dengan frekuensi tertentu dan memindahkan tanda-tanda
bersama sinyal yang dipancarkan. Supaya bisa dipancarkan
maka sinyal informasi harus dimodulasi dengan sinyal
pembawa.
Macam-macam gelombang termodulasi :
a. Gelombang termodulasi amplitudo (AM, Amplitude
Modulation): modulasi dimana Amplitudo gelombang
pembawa berubah-ubah sesuai dengan perubahan
amplitudo sinyal informasi/suara. Macam-macam sistem
modulasi amplitudo AM :
Amplitudo jalur samping ganda dengan pembawa
terpancar
(DSBSC, Double
Sideband Transmitted
Carrier).
Modulasi amplitudo jalur samping ganda dengan
pembawa
tertindas.
(DSBSC,
Double
Sideband
Suppressed Carrier).
Modulasi amplitudo jalur samping tunggal dengan
pembawa terpancar.
(SSBTC, Single Sideband
Transmitted Carrier).
Modulasi amplitudo jalur samping tunggal dengan
pembawa tertindas.
(SSBSC, Single Sideband
Suppressed Carrier).
b. Gelombang
termodulasi
frekuensi
(FM,
frequency
Modulation) modulasi dimana Frekuensi gelombang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

137

pembawa berubah-ubah sesuai dengan perubahan


amplitudo sinyal informasi/suara.
c. Gelombang termodulasi pulsa. Gelombang termodulasi
pulsa banyak dipergunakan dalam telemetri dan sistem
radar. Macam-macam gelombang termodulasi pulsa:
Modulasi Amplitudo pulsa (PAM, Pulse Amplitude
Modulation), Modulasi dimana amplitudo pulsa pembawa
berubah-ubah sesuai dengan perubahan amplitudo sinyal
informasi/suara.
Modulasi lebar pulsa (PWM, Pulse Width Modulation atau
PDM, Pulse Duration Modulation), modulasi dimana
lebar/lamanya pulsa pembawa berubah-ubah sesuai
dengan perubahan amplitudo sinyal informasi/suara.
Modulasi posisi pulsa (PPM, Pulse Position Modulation),
modulasi dimana posisi pulsa pembawa berubah-ubah
sesuai
dengan
perubahan
amplitudo
sinyal
informasi/suara.
Pada sistem FM bandingan sinyal terhadap desah (S/N)
cukup besar. Ini karena desah yang terdapat pada jalur VHF
(very high frequency) hanya sedikit dan penjalaran (propogasi)
gelombang VHF terbatas sejauh garis pandang. Selain itu,
penerima radio FM dilengkapi dengan penguat RF untuk
menaikkan bandingan sinyal terhadap desah dan penutuh untuk
menindas desah.
Dua buah pemancar FM yang beroperasi pada frekuensi
yang sama, tetapi letaknya berjauhan, tidak akan saling
berinterferensi, karena jangkauan penjalaran gelombang VHFnya terbatas sejauh garis pandang. Oleh karena itu, untuk
komunikasi jarak jauh yang mempergunakan gelombang VHF,
diperlukan banyak stasiun pemancar dan penerima (stasiun)
relai. Daya yang dipancarkan oleh pemancar FM tidak
terbuang/hilang pada sinyal pembawa, tetapi diserap oleh
sinyal-sinyal jalur samping.
Pemancar FM dapat menerapkan modulasi tingkat
rendah, yaitu modulasi yang dilakukan pada tingkat RF
perantara dengan daya sinyal audio yang masih rendah.
Pemancar FM dapat menerapkan penguat daya kelas C yang
memiliki efiensi paling tinggi, tidak perlu menggunakan
penguat linear. Meskipun penguat daya kelas C cacat, namun
kerana yang diperlukan adalah perubahan frekuensinya bukan
perubahan amplitudo, maka cacat ini tidak berpengaruh.
Pada sistem FM, penggandaan frekuensi dilakukan
setelah sinyal dimodulasi. Sedangkan pada sistem AM,
penggandaan frekuensi dilakukan sebelum sinyal dimodulasi.
Spektrum frekuensi pada pemancar FM lebih lebar

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

138

dibandingkan dengan spektrum frekuensi pada pemancar FM.


Spektrum frekuensi FM mono sebesar 180 Khz FM stereo 256
Khz dan AM 10 Khz.

Penguat
Microfon

Penguat
Daya

Penutuh/
Pemangkas

Penggerak

LPF
300-3000 Hz

Modulator
FM

Osilator
X'tal

Penyangga

(b)

(a)

Pengganda
Frekuensi

Penyangga

Pencampur

BPF

PLL

Penguat
Mikrofon

Penguat
Daya

Penutuh/
Pemangkas

Penggerak

LPF
300-3000 Hz

Penyangga

Mic

Modulator
FM

VCO

Penyangga

AFC

Pencampur

BPF

Osilator
Pembawa

(b)

Gambar 55. Diagram blok/skema pemancar FM sistem langsung.

Diagram blok pemancar FM sistem langsung dapat dilihat


pada gambar 55 di atas, perhatikan gambar 55 a, penguat
mikrofon merupakan penguat audio linear, agar sinyal suara
yang dihasilkan tidak cacat. Penutuh/pemangkas berfungsi
untuk membatasi amplitudo sinyal suara, agar deviasi frekuensi
tidak melampaui deviasi maksimum. Tapis lulus bawah (LPF)
berfungsi untuk melewatkan frekuensi di bawah 3 KHz (jalur
frekuensi percakapan). Gelombang FM secara langsung

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

139

dihasilkan oleh modulator FM, dengan mengubah-ubah


frekuensi osilator kristal sesuai dengan sinal suara ang berasal
dari LPF.
Keluaran dari osilator kristal merupakan gelombang FM
dengan frekuensi tengah 16,9 MHz (ICOM) atau 10.695 MHz
(trio Kenwood) pengheterodinan frekuensi PLL, yaitu
127,1..129,09 MHz (ICOM) atau 133,405138,304 MHz (triokenwood). Keluaran dari rangkaian pencampur ditapis oleh
tapis lulus jalur (BPF) yang berfungsi untuk melewatkan
frekuensi 144..145,99 MHz (ICOM) atau 144,1.148,99 MHz
(trio-kenwood).
Gambar 55 b hampir mirip dengan gambar 55a modulator
FM mengemudikan VCO dan distabilkan oleh kemudi frekuasi
otomatik (AFC). Pengheterodinan frekuensi dilakukan dengan
mengatur pembagi terprogram yang terdapat pada rangkaian
AFC. Frekuensi keluaran dari VCO merupakan gelombang FM
dengan frekuensi tengah 16,27.16,71 MHz. Frekuensi tersebut
dicampur dengan frekuensi osilator pembawa 10,695 MHz.
Keluaran dari rangkaian pencampur ditapis oleh BPF, agar
melewatkan frekuensi 26,965.27,405 MHz (centonix MARK IX).
Diagram blok pemancar FM sistem tak langsung dapat
dilihat pada gambar 56 perhatikan gambar 56 a. gelombang FM
tidak dihasilkan secara langsung dari modulator FM, tetapi dari
modulator PM. Rangkaian equaliser audio berfungsi untuk
menyondol nada frekuensi rendah (bass), agar keluaran dari
modulator PM merupakan gelombang FM (seperti yang
dihasilkan oleh moderator FM). Pengganda frekuensi berfungsi
untuk meningkatkan frekuensi kerja sekaligus menaikkan
deviasi frekuensi. Rangkaian pencampur berfungsi untuk
mencampurkan frekuensi kerja dengan frekuensi osilator
pembawa II. Rangkaian pencampur hanya mengubah frekuensi
kerja, tidak mengubah deviasi frekuensi.
Gambar 56b hampir mirip dengan gambar 56 a. sistem ini
dikenal sebagai sistem Armstrong. Modulasi fasa (PM) dilakukan
oleh rangkaian 90 derajat, modulator balans, jaringan
penggabungan, dan penutuh. Rangkaian 90 derajat berfungsi
untuk menggeser fasa sinyal pembawa sebesar 90 derajat.
Modulator balans menghasilkan gelombang DSBSC dengan fasa
sinyal pembawa 90 derajat. Jaringan penggabung berfungsi
untuk menggabungkan DSBSC tersebut dengan sinyal pembawa
0 derajat. Hasil dari penggabungan dua sinyal tersebut dapat
digambarkan secara vektor, seperti tampak pada gambar c. Ec
adalah gelombang pembawa, Em adalah tegangan satu jalur
samping, dan menunjukkan besarnya simpangan fasa sinyal
pembawa yang diakibatkan oleh amplitudo informasi. Semakin

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

140

besar amplitudo informasi, semakin besar pula tegangan kedua


jalur samping, dan semakin besar simpangan fasa sinyal
pembawa.
Perhatikan gambar 56 c, untuk mempertahankan agar Et
Ec, maka dibuat kecil dengan satuan radian. Untuk
mendapatkan simpangan fasa yang besar, dilakukan
penggandaan frekuensi. Penuntun berfungsi untuk membatasi
amplitude gelombang termodulasi fasa, karena penggabungan
dengan sinyal DSBSC agar menjadi FM murni.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

141

Penguat
Microfon
Mic
Penutuh/
Pemangkas

Penguat
Daya

Equaliser
Audio

Penggerak

Modulator
FM

Pengganda
Frekuensi

Penyangga

Osilator
Pembawa II

BPF

(a)

Penguat
Mikrofon
Mic
Penutuh/
Pemangkas

Penguat
Daya

Equaliser
Audio

Penggerak

Modulator
Balans

Jaringan
Penggabung

90 o II

Osilator
Pembawa I

Penutuh

Penggaanda
Frekuensi

Pencampur

Osilator
Pembawa

Osilator
Pembawa II

(b)

Et
Em

Em

0
Ec

(C)

Gambar 56. Diagram blok pemancar FM sistem tak langsung

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

142

Sistem multipleks FM stereo menurut FCC, mulai


dipergunakan sejak tahun 1961. sinyal SCA (Subsidiary
Communications Authorization) juga dipancarkan pada sistem
stereo di Amerika. Beberapa stasiun pemancar menambah
pancaran sinyal SCA sebagai musik latar belakang. Sinyal SCA
dipancarkan secara FM oleh sinyal sub-pembawa (sub-carier)
berfrekuensi 67 kHz, dengan lebar jalur 59,574,5 kHz.
diagram blok pemancar radio FM stereo dengan pilihan SCA
dapat dilihat pada gambar 54. rangkian Matriks (R+L) dan (R-L)
yang dipergunakan pada pemancar radio FM stereo dapat
dilihat pada gambar 1.14. Transistor T1, sebagai pembelah
fasa, membelah fasa sinyal L menjadi 2 sama besar dengan
beda fasa 1800.

Masukan
Audio

Pembangkit
SCA

Sinyal kiri
L

R+L

R-L

+
Modulator
Balance

Osilator
RF

Sinyal kanan
Osilator
38 kHz

Modulator
FM

19 kHz

Gambar 57. Diagram blok pemancar FM stereo dengan pilihan SCA


4.

Operating prosedure
Dalam setiap siaran maka Program Director menjadi
orang yang paling didengar baik oleh penyiar maupun bidang
teknik karena dia yang paling bertanggungjawab atas baik
buruknya sebuah program acara. PD juga yang menentukan
siapa berada posisi apa, misalnya penyiar yang bertugas siapa,
didampingi oleh siapa, materi yang harus disiapkan oleh script
writer tentang apa, durasinya berapa lama, dsb. Prosedur
pengoperasian harus sesuai dengan standard penyiaran radio.
Semua peraralatan harus dioperasikan dengan benar sesuai
dengan petunjuk pada instruction book pada setiap peralatan.
Sebelum on air semua pesawat harus sudah melalui tes apakah
layak siar atau tidak. Oleh karena itu paling tidak satu jam
sebelum siaran semua pesawat harus sudah dihidupkan untuk
pemanasan dan tes alat. Setelah semua siap dan tidak ada
gangguan baru siaran dapat dimulai.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

143

E.

Organisasi dan SDM


1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang baku dari sebuah stasiun radio
tidak ada, terserah keinginan pemilik. Sebagai referensi
berikut ini contoh dari struktur organisasi dari sebuah stasiun
radio.
Tabel 3. Struktur Organisasi/Daftar Nama dan Jabtan Salah Satu
Penyiaran Radio

Management
JABATAN

STATUS

Ir. Suprapto
Purwijayanto

Director & CEO

Drs. Dwi Rusyanto


L.G.
Ratnaningtyas

Programming Manager
Marketing Manager

Yuhariono

Engineering & Maintenance Manager

Handanu

Finance Manager

Sapto Raharjo

HRD Manager

WM Haribowo

Public Relation & Promotion Manager

Helly Barniati

Secretary to The Director & Programming Staff

Rhino

Music Director

Eka Rachmat

Archiving Staff

Soeryo
Banar Sufaat
Sri Dayadi
Adi Wardoyo
Koostarina

Sri Sartono

Marketing Assistant
Engineering & Maintenance Staff
Broadcast Equipment Staff
IT Equipment Staff
Finance Staff

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

144

Irmawati

HRD Staff

Dimas Siswandanu

Off Air Staff

Yanu

Off Air Staff

Henky Koerniawan

Off Air Staff

DeeJay
NAMA

JABATAN

Bayu

DeeJay

Dani Arya

DeeJay

Dinar

DeeJay

Ella Arlika

DeeJay

Gaby

DeeJay

Giliran Minggu

DeeJay

Giliran Sabtu

DeeJay

Metri

DeeJay

Okta Savina

DeeJay

Rama

DeeJay

Reno

DeeJay

Rhino

DeeJay

Santi

DeeJay

Shani

DeeJay

Shanty

DeeJay

Thomas Andesta

DeeJay

Tyas

DeeJay

Ulin Galuh

DeeJay

Usha

DeeJay

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

145

Support
NAMA
Sakino

2.

F.

JABATAN
Pembantu Umum

Sigit Junantoro

Satpam

Subardjo

Satpam

Deskripsi Tugas dan fungsi


Secara garis besar berdasarkan contoh di atas maka
terdapat 3 bagian, yaitu : manajemen, DJ dan Support. Bagian
manajemen berfungsi sebagai koordinasi sementara DJ dan
support berfungsi dalam operasional sehari-hari.

Kualifikasi SDM Radio


1. Direksi
Dalam jajaran direksi dipimpin oleh seorang Direktur
Utama, yaitu pemilik atau orang yang ditunjuk oleh pemilik. Di
bawahnya
terdapat
General
Manager
(GM)
yang
bertanggungjawab atas keseluruhan operasional sehari-hari.
Selanjutnya di bawahnya terdapat para manajer, yaitu Manajer
Produksi, Manajer Marketing dan Manajer Teknik. Manajer
Produksi bertugas menentukan sesi perekaman, menangani
spot iklan, mengarahkan program siaran bersama dengan PD
dan MD. Manajer produksi adalah orang yang paling
bertanggungjawab atas kulitas audio sebuah lagu agar enak
didengar.
Manajer
Marketing
bertugas
meningkatkan
pendapatan stasiun radio dengan mengatur penjualan jam
siaran komersial (Air Time) atau mencari iklan. Manajer Teknik
bertanggung jawab atas bekerjanya semua peralatan stasiun
(radio tools), termasuk saat siaran jarak jauh.
2.

Program Director
Tanggung jawab Program Director adalah membuat
jadwal siaran, mengatur format siaran, pengatur staff penyiar
sesuai dengan program dan jadwal yang dibuat, memantau
siaran, mengontrol kualitas program siaran.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

146

3.

Music Director
Bertanggung jawab atas boleh tidaknya sebuah lagu
diputar oleh penyiar, promo album dari sebuah perusahaan
rekaman dan berkoordinasi dengan PD selaku atasannya.

4.

News Director
Bertugas menangani berita atau informasi yang harus
disampaikan oleh penyiar dan memilih tema-tema yang akan
dibicarakan antara penyiar dan pendengar.

5.

Producer
Producer atau pengarah acara adalah orang yang khusus
menangani suatu program siaran, dia yang menentukan materi
siaran, siapa penyiarnya, siapa narasumbernya (jika perlu) dan
memastikan kesiapan orang, bahan, peralatan, daftar lagu
yang akan diputar saat siaran. Producer berkewajiban menggali
ide-ide kreatif untuk mengembangkan program siaran yang
menjadi tanggungjawabnya dan ia bertanggungjawab kepada
Program Director selaku atasan langsungnya.

6.

Reporter/Penyiar
Reporter sering juga disebut penyiar. Berdasarkan
tugasnya juga sering disebut announcer. Seorang reporter juga
memiliki tugas sebagai seorang jurnalis yaitu mencari,
mengolah dan menyiarkan berita. Bagaimana menjadi jurnalis
radio dan bagaimana kemampuan yang diharapkan. Berikut ini
bahan kutipan untuk memberi pengetahuan jurnalistik radio
sebagai berikut.

Gambar 58. Reporter sedang wawancara mencari berita

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

147

Jurnalistik Radio
Jurnalistik radio (radio journalism, broadcast journalism)
adalah proses produksi berita dan penyebarluasannya melalui
media radio siaran. Jurnalistik radio adalah bercerita
(storytelling), yakni menceritakan atau menuturkan sebuah
peristiwa
atau
masalah,
dengan
gaya
percakapan
(conversational).
Karakteristik
a.
b.

c.
d.

Auditif. untuk didengarkan, untuk telinga, untuk


dibacakan atau disuarakan.
Spoken Language. Menggunakan bahasa tutur atau katakata yang biasa diucapkan dalam obrolan sehari-hari
(spoken words). Kata-kata yang dipilih mesti sama dengan
kosakata pendengar biar langsung dimengerti.
Sekilas. Tidak bisa diulang. Karenanya harus jelas,
sederhana, dan sekali ucap langsung dimengerti.
Global. Tidak detail, tidak rumit. Angka-angka dibulatkan,
fakta-fakta diringkaskan.

Prinsip Penulisan
a.
b.

c.
d.

ELF - Easy Listening Formula. Susunan kalimat yang jika


diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada
pendengaran pertama.
KISS - Keep It Simple and Short. Hemat kata, tidak
mengumbar kata. Menggunakan kalimat-kalimat pendek
dan tidak rumit. Gunakan sesedikit mungkin kata sifat dan
anak kalimat (adjectives).
WTYT - Write The Way You Talk. Tuliskan sebagaimana
diucapkan. Menulis untuk disuarakan, bukan untuk
dibaca.
Satu Kalimat Satu Nafas. Upayakan tidak ada anak
kalimat. Sedapat mungkin tiap kalimat bisa disampaikan
dalam satu nafas.

Elemen Pemberitaan
a.
b.

Sri Sartono

News Gathering pengumpulan bahan berita atau


peliputan. Teknik reportase: wawancara, studi literatur,
pengamatan langsng.
News Production penyusunan naskah, penentuan
kutipan wawacara (sound bite), backsound, efek suara,
dll.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

148

c.
d.

News Presentation penyajian berita.


News Order urutan berita.

Teknis Penulisan: Pilihan Kata


a.
b.
c.

d.

e.

f.

g.

h.

Spoken Words. Pilih kata-kata yang biasa diucapkan


sehari-hari (spoken words), e.g. jam empat sore (16.00
WIB), 15-ribu rupiah (Rp 15.000), dll.
Sign-Posting. Sebutkan jabatan, gelar, atau keterangan
sebelum nama orang. Atribusi/predikat selalu mendahului
nama, e.g. Ketua DPR Agung Laksono mengatakan
Stay away from quotes. Jangan gunakan kutipan langsung.
Ubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung,
e.g. Ia mengatakan siap memimpin demo (Saya siap
memimpin demo, katanya).
Avoid abbreviation. Hindari singkatan atau akronim, tanpa
menjelaskan kepanjangannya lebih dulu, e.g. Badan
Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri BEM UIN
Bandung menggelar (Ketua BEM UIN Bandung Fulan
mengatakan).
Subtle repetition. Ulangi secara halus fakta-fakta penting
seperti pelaku atau nama untuk memudahkan pendengar
memahami dan mengikuti alur cerita, e.g. Presiden
Soesilo Bambang Yudhoyono mengatakan Menurut
Presiden. Kepala Negara juga menegaskan.
Present Tense. Gunakan perspektif hari ini. Untuk unsur
waktu gunakan kata-kata kemarin, hari ini, besok,
lusa, bukan nama-nama hari (Senin s.d. Minggu).
Mahasiswa UIN Bandung melakukan aksi demo hari ini
Besok mereka akan melanjutkan aksi protesnya
Angka. Satu angka (1-9) ditulis pengucapannya. Angka 1
ditulis satu dst. Lebih dari satu angka, ditulis angkanya.
Angka 25 atau 345 jangan ditulis: duapuluh lima, tigaratus
empatpuluh lima. Angka ratusan, ribuan, jutaan, dan
milyaran, sebaiknya jangan gunakan nol, tapi ditulis: lima
ratus, depalan ribu, 15-juta, 145-milyar.
Mata uang. Ditulis pengucapannya di belakang angka, e.g.
600-ribu rupiah (Rp 600.000), 500-ribu dolar Amerika
Serikat (US$ 50.000)

Tanda Baca Khusus


a.

Sri Sartono

Dash. tanda garis pisah () untuk sebelum nama atau kata


penting atau butuh penekanan.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

149

b.
c.

Punctuation. Tanda Sengkang, yaitu tanda-tanda


pemenggalan (-) untuk memudahkan pengucapan
singkatan kata yang dieja. M-U-I, B-A-P, W-H-O, P-U-I, dsb
Garis Miring. Jika perlu, gunakan garis miring satu (/)
sebagai pengganti koma atau sebagai tanda jeda untuk
ambil nafas, garis miring dua (//) untuk ganti titik, dan
garis miring tiga (///) untuk akhir naskah.

Contoh:
Menjelang Pemilu 2009/sedikitnya sudah 54 partai
politik/mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan
HAM//Mereka akan diverifikasi untuk ikut Pemilu. Menurut
pengamat politik - Arby Sanit/banyaknya parpol itu
menunjukkan animo elite untuk berkuasa masih tinggi///
Produk Jurnalistik Radio
a.

b.
c.
d.

e.

Copy Berita pendek, durasi 15-20 detik. Biasanya berita


penting, harus cepat diberitakan, disampaikan di sela-sela
siaran (breaking news) atau program reguler insert berita
(news insert) tiap menit 00 tiap jam misalnya. Berupa
Straight News.
Voicer Laporan Reporter. Terdiri dari pengantar (cue)
penyiar di studio dan laporan reporter di tempat kejadian,
termasuk sound bite dan/atau live interview.
Paket. Panjangnya 2-8 menit. Isinya paduan naskah berita,
petikan wawancara (soundbite).
Feature. Durasi 10-30 menit. Paduan antara berita,
wawancara, ulasan redaksi, musik pendukung, dan
rekaman suasana (wild tracking). Membahas tema
tertentu yang mengandung unsur human interest. Bisa
pula berupa dokumenter (documentary).
Vox Pop. Singkatan dari vox populi (suara rakyat). Berisi
rekaman suara opini masyarakat awam tentang suatu
masalah atau peristiwa.
Cue: Menjelang Pemilu 2009, sedikitnya sudah 54 partai
politik mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM,
guna diverifikasi sehingga bisa ikut Pemilu. Bagaimana
tanggapan masyarakat tentang banyaknya parpol tersebut,
berikut ini petikan wawancara kami dengan beberapa
warga masyarakat:

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

150

Sound Bite : 1. Bagus lah, biar banyak pilihan 2. Saya


sih mau golput aja, gak ada partai yang bagus sih menurut
saya mah 3. Saya akan setia pada parpol pilihan saya,
tidak akan terpengaruh oleh parpol baru, belum tentu
lebih bagus kan dst.
News Program
a.

b.

c.
d.

Buletin (Paket berita) Berisi rangkaian berita-berita


terkini (copy, straight news) bidang ekonomi, politik,
sosial, olahraga, dan sebagainya; lokal, regional, nasional,
ataupun internasional. Durasi 30 menit atau lebih.Durasi
bisa lebih lama jika diselingi lagu dan basa-basi siaran
seperti biasa.
News Insert insert berita. Berisi info aktual berupa
Straight News atau Voicer. Durasi 2-5 menit bergantung
panjang-pendek dan banyak-tidaknya berita yang
disajikan. Biasanya disajikan setiap jam tertentu. Bisa
berupa breaking news, disampaikan penyiar secara khusus
di sela-sela siaran non-berita.
Majalah Udara Berisi straight news, wawancara, dialog
interaktif, feature pendek, dokumenter, dan sebagainya.
Talkshow Dialog interaktif atau wawancara langsung
(live interview) di studio dengan narasumber, atau
melalui telepon
Dikutip dari : ASM. Romli. Ikhtisar perkuliahan Jurnalistik
Radio Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi &
Dakwah UIN SGD Bandung.* Copyright 2007 ASM. Romli.
www.romeltea.co.nr e-mail: romeltea@yahoo.com

Untuk menjadi penyiar yang handal perlu melatih diri


terutama suara/vokal di samping itu juga kemampuan fisik
karena dituntut untuk kerja keras. Oleh karena itu lakukanlah
tip berikut ini untuk menemukan suara yang terbaik sebagai
berikut :
RADIO adalah suara (sound) Media yang hanya bisa
didengar (auditif). Suara (voice) pula yang jadi aset terpenting
seorang penyiar sebagai ujung tombak, front liner, sebuah
radio yang berinteraksi langsung dengan pendengar.
Banyak orang terlahir dengan memiliki suara indah.
Namun, kebanyakan dari kita harus bekerja keras untuk
menjadi penyiar profesional. Lagi pula, jadi penyiar
profesional tidak cukup bermodal suara emas (golden voice),

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

151

tapi juga perlu modal lainnya, seperti wawasan, sense of


music, dan sense of humor.
Wawasan. Penyiar harus berwawasan agar siarannya
hidup, dinamis, berisi, dan tidak monoton. Kosakata, varietas
kata, improvisasi, hanya bisa dilakukan oleh penyiar yang
berwawasan luas. Karena itu, banyak baca, jadilah orang yang
haus pengetahuan! Dijamin, jika Anda berwawasan luas,
takkan kehabisan kata-kata untuk berbicara.
Sense Of Music Penyiar harus memiliki sense of music
yang tinggi. Soalnya, tugas penyiar bukan hanya mutar lagulagu, tapi mesti paham juga tentang jenis musik, alat musik,
dan artisnya.
Sense Of Humor. Penyiar juga harus humoris, punya
bakat menghibur. Bakat itu diperlukan karena profesi penyiar
radio dituntut mampu menghibur pendengar. Lagi pula, radio
identik dengan hiburan (entertaintment).
Bahasa Tutur. Siaran harus menggunakan bahasa tutur,
bahasa percakapan (conversational language), demikian juga
naskah berita atau iklan. Bahasa tutur yaitu bahasa yang
dipakai dalam pergaulan sehari-hari yang mempunyai ciri khas:
(a) kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak
banyak menggunakan kata penghubung; dan (b) menggunakan
kata-kata yang lazim dipakai sehari-hari (spoken words).
Didalam bahasa tutur, lagu kalimat (infleksi, inflection)
memegang peranan penting. Tanpa bantuan lagu kalimat,
sering orang mengalami kesukaran dalam memahami bahasa
tutur. Sama pentingnya adalah artikulasi atau pronounciation
(pengucapan kata), intonasi (nada suara atau irama bicara),
aksentuasi (logat, dialek, stressing), dan speed (kecepatan
berbicara, tempo).
Tampilkan Suara Terbaik dengan Rileks.
Penyiar
adalah pemain sandiwara (performer) dan menghadapi
tantangan yang sama dengan penyanyi atau aktor. Begitu di
atas pentas, di depan kamera, atau di belakang microphone,
Anda tidak akan dapat memberikan penampilan terbaik kecuali
jika Anda santai (relax). Tenggorokan tercekik (tight throat),
leher tegang, dan pundak yang kaku, akan membuat Anda
tidak dapat mengeluarkan suara terbaik. Bagaimana biar
rileks? Bukan dengan mengatakan pada diri Anda, Relax, fool,
relax! Relaksasi bukanlah soal psikologis, tapi soal fisik. Ia
tidak dimulai di otak, tapi di badan. Relaksasi diperoleh
melalui sebuah proses fisik berupa peregangan dan pernafasan.
Jika tubuh Anda rileks, emosi Anda akan mengikuti.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

152

Atur Nafas.
Mati lemas atau kekurangan nafas
(suffocation) adalah penyebab kematian nomor satu di
kalangan penyiar. Banyak penyiar biasa terus menahan nafas
selama bertutur. Nafas megap-megap tidak akan menghasilkan
siaran yang bagus. Bernafas secara tepat adalah dasar siaran
profesional. Naskah siaran harus memberi kesempatan untuk
bernafas. Ketika Anda membaca naskah, buatlah tanda di
mana Anda akan mengambil nafas. Ikuti instruksi Anda sendiri
dan bernafaslah saat Anda melihat tanda itu. Sikap badan yang
baik dan dukungan dari diafragma Anda, akan membuat tiap
nafas bekerja lebih lama bagi Anda. Anda bisa latih hal itu
dengan cara meratakan jari tangan dan tekan diafragma
(rongga antara dana dan perut). Ketika Anda mulai dengan
suara rendah, tekan diafragma Anda dengan tangan. Teknik ini
akan memberi Anda kekuatan ekstra. Jauhkan mulut Anda dari
microphone saat menarik nafas. Jangan sampai tarikan nafas
Anda mengudara
Visualisasi. Penyiar radio berbicara kepada pendengar
yang tidak terlihat. Secara simultan (bersamaan), sebagai
penyiar Anda berbicara kepada tidak seorang pun (talk to no
one) karena tidak satu orang pendengar pun yang hadir secara
fisik di depan Anda dan kepada setiap orang (talk to
everyone), mungkin ribuan pendengar. Talk to one one and
eveyone! Penyiar radio juga sering sendirian di ruang siaran,
tidak ada lawan bicara, hanya ditemani sejumlah benda mati
komputer, mixer, dan sebagainya. Membentuk mental
image tentang pendengar Anda sangat penting untuk siaran
terbaik. Berbicara kepada benda mati bukan saja tidak
membangkitkan semangat (uninspiring), tapi juga tidak
realistis. Karenanya, saat siaran, bayangkan Anda sedang
berbicara pada seorang teman, atau sekelompok kecil orang.
Membayangkan adanya seorang pendengar di depan Anda, akan
membantu Anda berkomunikasi secara alamiah, gaya ngobrol
(conversational way).
Tentukan Pilihan Kata! Di radio, Anda hanya punya satu
kesempatan untuk membuat pendengar Anda mengerti yang
Anda kemukakan. Di media cetak, pembaca akan mengulang
bacaan pada bagian yang mereka tidak pahami. Di televisi, ada
bantuan visual untuk memperjelas berita. Tapi di radio, yang
dimiliki pendengar hanya suara Anda. Karena itu, saat
menyampaikan sebuah informasi, putuskan katak-kata mana
yang menjadi kata kunci (key words) dan garis bawahi. Tiap
kata memiliki nilai berbeda. Putuskan apa yang akan Anda
tekankan, di mana lagu kalimat (inflection) Anda akan menaik
dan menurun, dan di mana Anda akan bernafas. Biasanya,

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

153

infleksi menaik kalau akan bersambung dan menurun jika akan


berhenti.
Konsentrasi. Tidak ada pilot otomatis dalam siaran. Jika
Anda tidak mendengar apa yang Anda katakan, tidak ada orang
lain yang akan mendengar. Siaran yang baik membutuhkan
konsentrasi tingkat tinggi. Tidak mudah untuk mengatur nafas
Anda, memvisualkan pendengar Anda, dan melaporkan cerita
pada saat yang sama. Karena itu, relaksasi adalah kunci
konsentrasi.
Latihan. Best voice requires experimentation. Seorang
penyiar harus menemukan suara terbaiknya dan ini butuh
eksperimen. Jika Anda punya pilihan mikrofon, cobalah satu
per satu untuk menemukan mike paling sesuai bagi Anda.
Beberapa mike dibuat untuk mendorong tinggi-rendah suara
Anda, dan Anda bisa menyelaraskannya sesuai dengan
kebutuhan Anda. Mintalah bantuan teknisi. Cobalah dengan
merekam suara Anda dalam sikap tubuh yang berbeda,
kedekatan yang berbeda dengan mike, dan tingkat proyeksi
(pengerasan) yang berbeda. Bayangkan ragam pendengar dan
lihatlah bagaimana mental image ini mempengaruhi
penyampaian Anda.
Bicara kepada satu orang. Bayangkan, pendengar itu
satu orang! Orang yang baru pertama kali berbicara di radio,
sering
secara
salah
memvisualkan
pendengarnya

membayangkan bahwa pendengar itu ribuan. Padahal, orang


yang mendengarkan itu dalam kelompok berjumlah satu orang
(in group of one). Ya, bayangkan pendengar itu satu orang!
Teman Akrab. Berbicaralah layaknya kepada teman
akrab (intimate friend). Lihat wajah teman Anda itu dalam
pikiran mata (minds eye) Anda.
Smile. Senyumlah, meski pendengar tidak melihat Anda.
Berbicara dengan senyum, akan terasa hangat, ramah,
friendly, di telinga pendengar.
Kontak Mata. Lakukan kontak mata! Pandanglah ia
sekali-sekali untuk melakukan kontak mata (eye contact),
meskipun hanya ada satu orang di ruangan Anda sendiri!
Gesture. Gunakan gerakan tubuh (gesture), meskipun
tidak ada orang yang melihat Anda. Anda adalah aktor. Saat
berbicara di depan umum (public speaking), jika Anda punya
mike portable (mudah dibawa), bergeraklah mengitari
panggung. Bayangkan Anda adalah seorang aktor yang sedang
mentas di televisi.
Jeda. Jedalah untuk beberapa detik untuk membiarkan
pesan Anda sampai ke pendengar. Saat jeda, buatlah kontak
mata. Anda juga bisa jeda jika mencari gagasan berikutnya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

154

Infleksi. Pelajarilah cara orang berbicara saat ngobrol


dan gunakan pola pembicaraan itu ketika memnbaca naskah.
Intiplah pembicaraan orang di restoran. Perhatikan
bagaimana dinamika vokal mereka berfluktuasi: lebih keras,
lebih lembut. Juga perhatikan obrolan itu berubah-ubah arah
dan bagaimana tingkat lagu kalimat (range of inflection)
mereka melebar.
Mengatasi Gugup. Mulut Anda kering, jantung berdebar,
dan lutut bergetar. Anda pun panik! Ya, Anda gugup (nervous).
Lantas harus bagaimana?
a. Tarik nafas yang dalam (deep breath) penuhi tubuh Anda
dengan oksigen. Ini akan membantu otak Anda bekerja.
b. Gerakkan badan Anda (bluff). Berdiri tegak, layaknya
tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap. Lalu
tersenyumlah! Meskipun Anda tidak merasa bahagia atau
percaya diri, lakukanlah. Anda akan tampak percaya diri
dan tubuh Anda akan mengelabui otak Anda untuk
berpikir bahwa ini adalah percaya diri. Bluff - body and
smile
c. Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah.
Siapkan selalu air mineral, jangan sampia mulut dan
tenggorokan Anda kering.
d. Lancarkan aliran darah dengan memijat dahi.
e. Pastikan Anda sudah siap. Siapkan bahan pembicaraan,
pahami tema atau naskah.
Teknik Vokal. Penyiar harus lancar bicara dengan
kualitas vokal yang baik. Teknik vokal yang diperlukan antara
lain kontrol suara (voice control) selama siaran, meliputi pola
titinada (pitch), kerasnya suara (loudness), tempo (time), dan
kadar suara (quality).
Diafragma. Kualitas suara yang diperlukan seorang
penyiar adalah suara perut, suara yang keluar dari rongga
badan antara dada dan perut dikenal dengan sebutan suara
diafragma. Jenis suara ini akan lebih bertenaga (powerfull),
bulat, terdengar jelas, dan keras tanpa harus berteriak. Untuk
bisa mengeluarkan suara diafragma, menurut para ahli vokal,
bisa dilakukan dengan latihan pernafasan, antara lain:
a. Ucapkan huruf vocal A, I, U, E, O dengan panjang-panjang.
Contoh: tarik nafas, lalu suarakan AAAAAaaaaaaaaaaaaa
(dengan bulat), terus, sampai habis nafas. Dilanjutkan lagi
untuk huruf lainnya. Suarakan AAAAaaaaaaa dari nada
rendah, lalu naik sampai AAAAaaaaaaa nada tinggi.
b. Ambil napas pelan-pelan. Ketika diafragma dirasa udah
penuh, buang pelan-pelan. Untuk menambah power, buang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

155

nafas itu, hela dengan cara berdesis: ss ss ss (putusputus), seperti memompa isi udara keluar. Akan tampak
diafragma Anda bergerak.
c. Saat mengambil napas, bahu jangan sampai terangkat.
Kalau terangkat, berarti Anda bernapas dengan paru-paru.
Contoh: ketika orang sedang ambil napas mendadak karena
kaget, ia akan mengambil napas dengan paru-paru.
Makanya, orang kaget suka megang dada.
Intonasi. Intonasi (intonation) adalah nada suara, irama
bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga
tidak datar atau tidak monoton. Intonasi menentukan ada
tidaknya antusiasme dan emosi dalam berbicara. Misalnya,
mengucapkan Bagus ya! dengan tersenyum dan semangat,
akan berbeda dengan mengucapkannya dalam ekspresi wajah
datar, bahkan nada sinis. Latihan intonasi bisa dengan
mengucapkan kata Aduh dengan berbagai ekspresi sedih,
kaget, sakit, riang, dan seterunya.
Aksentuasi. Aksentuasi (accentuation) adalah logat atau
dialek. Lakukan penekanan (stressing) pada kata-kata tertentu
yang dianggap penting. Misal, Saat sakit, tindakan terbaik
adalah dengan minum obat; atau Saat sakit, tindakan terbaik
adalah dengan minum obat; Saat sakit, tindakan terbaik
adalah dengan minum obat. Aksentuasi dapat dilatih dengan
cara menggunakan konsep suku kata -dan, yang, di (satu
suku kata); minggu, jadi, siap, Bandung (dua suku kata);
bendera, pendekar, perhatian (tiga suku kata); dan
sebagainya. Ucapkan sesuai penggalan atau suku katanya!
Speed. Gunakan kecepatan (speed) dan kelambatan
berbicara secara bervariasi. Kecepatan berpengaruh pada
kejelasan (clarity), juga durasi. Kalo waktu siaran sudah
mepet, kecepatan diperlukan.
Artikulasi (articulation), yaitu kejelasan pengucapan
kata-kata. Disebut juga pelafalan kata (pronounciation). Setiap
kata yang diucapkan harus jelas, misalkan harus beda antara
ektrem dengan eksim. Seringkali, dijumpai kata atau istilah
yang pengucapannya berbeda dengan penulisannya, utamanya
kata-kata asing seperti grand prix (grong pri), atau namanama orang Barat -Tom Cruise (Tom Cruz), George Bush
(Jos Bus), dan banyak lagi.
Be Yourself. Keaslian (naturalness) suara harus keliar.
Bicara jangan dibuat-buat. Anda harus menjadi diri sendiri, be
yourself, tidak meniru orang lain.
Ceria. Kelincahan (vitality) dalam berbicara sehingga
dinamis dan penuh semangat, cheerful! Anda harus ceria

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

156

selalu. Jangan lemas, lunglai, nanti terkesan tidak mood,


apalagi judes! Ingat, penyiar adalah penghibur, entertainer!
Hangat. Keramahtamahan (friendliness) sangat penting.
Anda harus sopan, hangat, dan akrab. Penyiar profesional
menjadi teman dekat bagi pendengar.
Disarikan dari Romli (Romeltea). Materi Workshop
Menjadi Penyiar Profesional LDM UIN SGD Bandung, 6 Juni
2007.
7.

Script Writer
Sebagai bawahan News Director, Script Writer (Penulis
Naskah) bertugas mengedit naskah yang akan digunakan oleh
penyiar dan menyiapkan naskah-naskah pendukung yang
barangkali diperlukan dalam siaran (misalnya sebagai selingan
saat jeda pemutaran lagu). Oleh karena itu SDM penulis naskah
harus mampu membuat/menulis, membaca, menganalisis
/mengevaluasi serta mengedit naskah. Pengetahuan yang
diperlukan untuk mencapai kemampuan tersebut telah
dibicarakan pada bab jurnalistik penyiaran.

8.

Public Relation
Public Relation (Humas) bertugas menjembatani antara
pihak radio dan pihak luar, misalnya ada proposal kerjasama
dengan pihak luar maka ia yang mengkoordinasikannya dengan
Program Director dan Marketing Manager. Selain itu ia
berkewajiban membangun citra positif stasiun radionya. Oleh
karena itu SDM bagian humas harus memiliki kemampuan
berkomunikasi dengan masyarakat secara personal maupun
secara kelompok, untuk mendukung pelaksanaan tugas
kehumasan.
Bidang tugas kehumasan adalah melaksanakan sosialisasi
dan mengkomunikasikan segala yang ada/dimiliki oleh
lembaga/perusahaan kepada masyarakat. Dengan demikian
SDM humas merupakan sumber informasi bagi masyarakat
tentang perusahaan tersebut misalnya visi, misi, potensi,
program dan produk yang dimiliki.
Guna mendukung kompetensi yang diharapkan, SDM
humas harus memahami teknik komunikasi yang etis dengan
sesama orang (human relation) maupun kepada masyarakat
luas (public relation). Memahami etika komunikasi antar
manusia sangat mendukung kemampuan komunikasi publik.
Keterampilan berkomunikasi yang baik telah banyak dibahas
pada bab III, diantaranya tentang presentation skills.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

157

9.

Off Air Division


Bagian ini bertanggungjawab atas penyelenggaraan
acara-acara off air, pengoperasian On Board Van dan Mobile
Stage serta menangani Branding (Promosi dan pembentukan
citra positif stasiun radio).

10. Pendukung
Bagian pendukung ini biasanya tidak terlibat langsung
dengan proses siaran akan tetapi dibutuhkan oleh perusahaan
pemilik stasiun radio, misalnya administrasi, keuangan,
keamanan, dsb.
G.

Teknik Siaran Radio


1.

Siaran Langsung
Siaran langsung atau Live adalah siaran yang proses
produksi sampai dengan pemancaran dilakukan pada saat itu
juga (real time). Contoh : upacara peringatan kemerdekaan RI
pada tanggal 17 Agustus, siaran pandangan mata pertandingan
sepakbola Indonesia vs Arab Saudi, siaran langsung panggung
musik dari Ancol dengan bintang Peterpan, dsb. Siaran
langsung dapat diselenggarakan di dalam studio atau di luar
studio, tergantung dari acara yang akan disiarkan secara
langsung tersebut berada di mana. Misalnya acara tersebut
adalah upacara pengibaran bendera tgl 17 Agustus yang
diadakan di halaman istana negara, maka crew radio akan
memasang studio mini di sana. Artinya peralatan audio yang
dibutuhkan dibawa di istana negara termasuk pesawat
pemancar untuk mengirim sinyal acara ke stasiun induk untuk
disebarluaskan ke seluruh wilayah jangkauan pemancar.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

158

VIP

HALAMAN ISTANA NEGARA


TEMPAT UPACARA BENDERA
HUT RI

PEMANCA
R

STUDIO MINI
RADIO

Gambar 59. Ilustrasi siaran langsung pandangan mata HUT RI


di Istana Negara
Pada siaran langsung peralatan yang dibawa minimal
adalah mic, mixer audio, amplifier, alat perekam tape
recorder/kaset recorder, Kaset player dan pesawat pemancar
lengkap dengan antenenya. Peralatan pendukung seperti kabel
power kabel audio dan genset. Crew secara minimal harus ada
reporter yang melaporkan pandangan matanya satu atau dua
orang, operator dan tenaga teknik. Reporter melaporkan apa
yang dilihat dan jalannya upacara didepan mic yang
dihubungkan ke mixer pada mixer dicampur dengan suara
musik (perjuangan). Output mixer disalurkan ke amplifier
untuk diperkuat dan disalurkan ke tape recorder untuk direkam
dan ke pemancar untuk dipancarkan kestudio pusat melalui
antene directional dan langsung diterima antene stasiun pusat
dan diteruskan ke pemancar pusat untuk disiarkan secara luas.
2.

Siaran Tidak Langsung


Siaran tidak langsung adalah siaran yang proses produksi
dilakukan dahulu baru kemudian pada waktu berikutnya
disiarkan. Jadi proses produksinya dilakukan di studio rekaman

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

159

sehingga dihasilkan produk penyimpan audio, bisa berupa kaset


atau mp3 atau naskah yang harus dibacakan oleh penyiar

VIP

HALAMAN ISTANA NEGARA


TEMPAT UPACARA BENDERA
HUT RI

STUDIO MINI
RADIO

Gambar 60. llustrasi siaran tidak langsung pandangan mata HUT RI


di Istana Negara
Untuk siaran yang tidak langsung, peralatan yang tidak
dibawa hanya pesawat pemancarnya karena akan disiarkan lain
waktu. Seperti proses siaran langsung tetapi hanya direkam
pada tape recorder. Hasil rekamannya dibawa ke studio untuk
disempurnakan dan penyiarannya dengan cara memutar
kembali tape hasil rekaman dan output tape recordernya
disalurkan ke pemancar
untuk dipancarkan secara luas.
Program ini disebut siaran ulang/tunda.
3.

Menggunakan sistem peralatan audio


Kualitas audio yang tinggi merupakan tujuan dan harapan
dari sistem peralatan audio, sehingga penggunaan yang baik
dari sistem peralatan audio dituntut untuk menghasilkan
kualitas audio yang baik. Audio yang berkualitas baik adalah
audio yang memiliki power yang cukup, warna suara yang baik,
keharmonisan antara nada bass dan treble, dinamis, intonasi
dan artikulasi jelas, tidak mengandung derau/noise dan
sebagainya. Oleh karena itu perlu digunakan peralatan yang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

160

berkualitas baik juga, disamping penggunaan peralatan yang


memiliki impedansi matching. Misalnya antara mic dengan
amplifier harus match impedansinya, sehingga dapat
menghasilkan produk audio yang maksimun tanpa hambatan.
Antara amplifier dengan speaker juga demikian agar kualitas
suara baik. Ketidak cocokan impedansi akan menyebabkan
pembebanan pada peralatan sehingga peralatan bekerja di luar
karakteristiknya, sehingga akan menghasilkan produk audio
yang kurang berkualitas. Informasi besarnya impedansi dapat
diamati pada nameplate setiap peralatan.
Disamping peralatan kadang-kadang kesalahan timbul
dari pengguna yaitu operator dan obyek/penyiar. Menggunakan
mic misalnya, harus mengetahui karaktristik setiap jenis mic
yang digunakan. Jarak antara mic dengan mulut, arah mic
terhadap mulut akan sangat berarti dalam pengaturan sinyal
audio yang dapat ditangkap oleh mic. Sinyal audio ini menjadi
masukan amplifier, selanjutnya diolah nada tinggi, medium
dan bassnyaa melalui equaliser dan diperkuat sehingga
memiliki power yang cukup untuk menggerakkan speaker.
Kesalahan pada umumnya yang terjadi oleh operator adalah
karena pengaturan yang tidak tepat, selalu mengubah-ubah
pengaturan baik sinyal masukan maupun nadanya sehingga
kadang-kadang menimbulkan suara dengung, derau sehingga
produk audionya menjadi tidak berkualitas. Pada hal dengan
pengolahan yang cermat dan tepat, suara masukan yang kurang
baikpun bisa menghasilkan produk yang baik.
Hasil audio dari amplifier disalurkan ke speaker dan atau
ke tape recorder untuk direkam pada pita tape. Pada studio
menggunakan pitatape paling tidak terdiri dari 8 - 16
track/jalur. Pada perekaman musik track-track tersebut
digunakan oleh setiap alat music satu jalur dan satu jalur
untuk penyanyi /vocal. Hal ini akan sangat menguntungkan,
karena kesalahan pada satu alat musik tidak harus rekaman
ulangan semua; tetapi hanya alat yang salah itu saja. Biasanya
pada rekaman music, music direkam terlebih dahulu. Setelah
rekaman musicnya benar baru penyanyi vokalnya direkam
bersamaan mendengarkan playback musik yang telah direkam
lebih dulu. Kadang-kadang rekaman vokal ini dilakukan
berulang-ulang karena kesalahan penyanyi.
Untuk menggabungkan materi rekaman audio pada setiap
track dengan kerangka/frame perlu dilakukan secara cermat.
Yang harus diperhatikan adalah patokan waktu. Counter dari
recarder akan membantu dengan menggunakan resett to zero
pada saat record mulai on dan dalam hitungan ke 5 musik on.
Hal ini akan memudahkan operator untuk memindahkan rincian

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

161

soundtrack kedalam referensi frame. Memadukan hasil


rekaman dari beberapa track menjadi satu. Setelah benar
benar padu baru direcord kembali menjadi stereo atau mono.
Dalam hal memadukan ini harus cermat, karena adanya
suara ulangan. Suara ulangan ini harus dapat digabungkan
dengan tepat ditempatnya. Caranya adalah dengan menpaskan
start awal recordnya sambil mendengarkan playback hasil
record masternya. Dengan cara ini suara ulangan tinggal
menyesuaikan temponya. Hal ini kalau terdapat kesalahan
seluruhnya, bila kesalahannya hanya sebagian maka
pengulangan hanya pada bagian yang salah saja dengan cara
menandai bagian awal dan akhir dengan counter tape.
Dalam berbagai hal lain kadang-kadang suara ulangan ini
diperlukan oleh karena itu materi suara ulangan ini perlu
disimpan, sewaktu-waktu bisa dikompilasi/diambil yang
diperlukan untuk dimanfaatkan.
Agar supaya kulitas produksi audio bisa dijaga, maka
sistem peralatannya harus dirawat dengan baik. Dijaga dari
debu, suhu tinggi, kelembabam udara. Hal ini berarti peralatan
harus selalu bersih bebas dari debu, diletakkan pada ruang ber
AC, dan setiap hari dihidupkan agar komponen elektronisnya
tidak
lembab.
Disamping
itu
perawatan
bateray,
membersihkan Head, roller pada tape recorder harus menjadi
kegiatan sehari-hari.
H.

Materi Program Siaran Radio


1.

Merancang Format Program Siaran Radio


Berdasarkan pada teknik siarannya ada 2 macam teknik
siaran, yaitu : Teknik Ad Libitum dan Teknik Script Reading.
Berdasarkan pada teknik siaran tersebut bisa ditentukan
format program siaran. Pada teknik Ad Libitum, yaitu siaran
tanpa naskah dimana penyiar berbicara santai, tanpa tekanan
dan beban maka perlu dibuat format siaran supaya tidak
ngelantur. Format ini harus dipatuhi oleh penyiar, misal lama
bicara maksimum 5 menit, perbandingan musik dan bicara 2 :
1, informasi yang diangkat mengenai teknologi maka format ini
harus dijadikan pegangan penyiar supaya sesuai dengan
program siaran. Biasanya untuk memudahkan penyiar
membaca format program siaran dibuat dalam format Clock,
yaitu dalam bentuk jam dimana persentasenya diwakili dengan
bagian-bagian sudut lingkaran jam.
Pada Teknik siaran Script Reading, yaitu siaran dengan
cara membaca naskah karena biasanya naskah sudah diukur

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

162

durasinya maka format program siarannya tidak perlu lagi


harus ditulis detil, penyiar tinggal baca naskah di situ sudah
sudah ditulis kapan mesti berhenti untuk lagu atau iklan.
Format setiap jenis sangat perlu direncanakan, agar
proses siaran lancar dan mengalir. Untuk merencanakan format
siaran perlu diperhatikan durasi atau lama siaran, materi
siarannya, musik yang akan digunakan sebagai selingan,
backsound, kapan dan berapa lama penyiar berbicara baik
secara formal maupun nonformal, berapa banyak iklan yang
harus disiarkan dan dimana ditempatkan dan sebagainya.
Dalam membuat perencanaan format juga harus
memperhatikan kemauan pendengar/pasar. Hal ini tentunya
adalah usaha menaikkan rating/jumlah pendengar, yang
akhirnya akan menjadi daya tarik pemasang iklan.
Pelaksanaan siaran dengan format yang telah dirancang
harus dimonitor dan dievaluasi sejauh mana format tersebut
efektip. Bila ternyata kurang efektip, maka format tersebut
harus direvisi.
2.

Jenis-jenis Program Siaran Radio


Secara garis besar Program Siaran radio terdiri dari Music
Program, Talkshow dan News Program. Meski demikian pada
prakteknya suatu program siaran biasanya merupakan
kombinasi (mix) dari 2 atau 3 jenis siaran tersebut.
Music Program Program yang menyiarkan musik untuk
menghibur pendengar. Biasanya dibuat format sesuai jenis
musiknya dan jarang sekali dicampur untuk berbagai jenis
musik. Misalnya siaran khusus untuk musik keroncong, pop,
jass, dangdut, campursari, barat, Indonesia dan sebagainya.
Secara umum siaran program musik dirancang dengan format :
kontak / bicara dg pendengar; menyuguhkan musik; selingan
iklan dan dilanjutkan pemutaran lagu berikutnya. Judul lagu
biasanya sudah ditetapkan dan disiapkan oleh penyiar
sebelumnya. Dengan perkembangan yang ada sekarang ini
dirancang lebih memperhatikan pendengarnya yaitu dirancang
format pilihan pendengar, bahkan dirancang format siaran
interaktif antara penyiar dan pendengar melalui komunikasi
telepon dan radio.
Talkshow Dialog interaktif atau wawancara langsung
(live interview) di studio dengan narasumber, atau melalui
telepon. Dalam ini telah dikembangkan menjadi program
diskusi interaktif yang melibatkan narasumber dan peserta baik
yang ada di dalam studio maupun pemirsa di rumah. Penyiar
dalam hal ini bertindak sebagai pemandu acara dan bahkan
sebagai moderator. Oleh karena itu harus dilakukan oleh

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

163

penyiar yang memiliki pengetahuan yang luas dan dalam


tentang tema/masalah yang dibicarakan, mampu mengelola
waktu yang tersedia dan mampu mendistribusikan secara adil
dan merata serta mampu membuat kesimpulan.
Talkshow umumnya didisain dengan format : Pembukaan
yang diisi dengan perkenalan narasumber maupun peserta;
sesi/segmen pertama yang mengupas subtema pertama; jeda
untuk iklan, selingan; sesi/segmen kedua yang mengupas
subtema kedua; jeda iklan, selingan dan seterusnya sampai
selesai dan ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan
salam.
Program News terdiri dari: Buletin (Paket berita) Berisi
rangkaian berita-berita terkini (copy, straight news) bidang
ekonomi, politik, sosial, olahraga, dan sebagainya; lokal,
regional, nasional, ataupun internasional. Durasi 30 menit atau
lebih.Durasi bisa lebih lama jika diselingi lagu dan basa-basi
siaran seperti biasa.
News Insert insert berita. Berisi informasi aktual berupa
Straight News atau Voicer. Durasi 2 - 5 menit tergantung
panjang-pendek dan banyak-tidaknya berita yang disajikan.
Biasanya disajikan setiap jam tertentu. Bisa berupa breaking
news, disampaikan penyiar secara khusus di sela-sela siaran
non-berita.
Majalah Udara Berisi straight news, wawancara, dialog
interaktif, feature pendek, dokumenter, dan sebagainya.
Program News biasanya dirancang dengan format siaran berita:
Tune pembuka; penyampaian bidang pemberitaan dengan
backsound musik diteruskan dengan pembacaan isi berita;
penyampaian bidang berita yang lain; pembacaan isi berita
dilanjutkan dengan ulasan berita dan penutup program.
I.

Merencanakan Jadwal Siaran


1.

Program Harian
Untuk mengoperasikan sebuah stasiun setiap hari maka
biasanya dibuat program acara harian, dimana crew sudah
menyiapkan nama acara berikut slot iklan dan lagu jika
diperlukan. Berikut ini contoh program harian sebuah stasiun
radio.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

164

Tabel 4. Contoh Jadwal Siaran radio


08 November 2007
00.0 - 01.00
05.00 - 07.00
07.00 - 09.00
09.00 - 10.00
10.00 - 12.00
12.00 - 13.00
13.00 - 14.00
14.00 - 15.00
15.00 - 16.00
16.00
17.00
19.00
21.00
22.00

J.

17.00
19.00
21.00
22.00
00.00

Program

Penyiar

Hot Request
[ Dj : Shani, Shanty ]
Good Morning Youngsters [ Dj : Ella, Shanty ]
Citra Kota
[ Dj : Shanty
]
Sasanastri
[ Dj : Shanty
]
Tancap Gas
[ Dj : Sanny
]
Rolasan
[ Dj : Shani
]
BaRolasan
[ Dj : Shanty
]
Musik Ngaso
[ Dj : Shani
]
GARISAN (GAulnya paRa sISwa sekolahaAN)[ Dj : Reno,
Tyas ]
Musik Ngaso
[ Dj : ]
Gita Pertiwi
[ Dj : Thomas
]
Andrawina
[ Dj : Ulin
]
TTK
[ Dj : Dimas
]
Kedai 24
[ Dj : Shani, Shanty ]

2.

Program Mingguan
Program mingguan adalah program siaran yang harus
dijalankan rutin tiap minggu, wujud penjabarannya dilakukan
pada program harian.

3.

Jadwal Siaran Radio


Jadwal siaran mirip dengan program harian (contoh di
atas), biasanya lebih spesifik ditujukan kepada crew yang
harus siap untuk suatu jam tertentu.

Produksi Program Siaran Radio


1.

Peralatan dan Bahan Produksi Audio


Microphone adalah alat bantu yang merubah getaran
suara menjadi getaran listrik. Microphone merupakan input
utama dari peralatan audio, karena peka terhadap getaran
suara maka tata letaknya menjadi perhatian khusus agar suarasuara yang tidak diperlukan tidak masuk ke dalam microphone
dan mengganggu suara yang kita perlukan. Berdasarkan pada

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

165

media perambatannya maka microphone dibagi menjadi 2,


yaitu : wiring mic (menggunakan kabel) dan wireless mic
(tanpa kabel).
Berdasarkan pada arah penangkapannya microphone
dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Uni Direct (satu arah)
Microphone yang wilayah penangkapan suaranya hanya dari
arah di depannya saja. Cirinya adalah bentuknya ramping,
dipergunakan untuk wawancara agar dari arah depan saja
yang tertangkap suaranya.
b. Omni Direct (segala arah)
Microphone yang wilayah penangkapan suaranya dari
segala arah. Cirinya adalah bentuknya tidak terlalu
ramping, sensitivitasnya rendah dan biasanya digunakan
untuk membuat general sound.
c. Bi Direct (2 arah)
Microphone yang wilayah penangkapan suaranya dari 2
arah. Cirinya adalah sensitivitasnya rendah, dipergunakan
untuk membuat rekaman live agar dapat menangkap suara
dari arah depan dan belakang.
Berdasarkan pada typenya microphone dibagi menjadi 3,
yaitu :
a. Dynamic
Microphone,
adalah
microphone
yang
menggunakan prinsip kerja induksi. Getaran suara
menggerakan membran/diafragma, getaran yang dihasilkan
membran menggerakan moving coil yang berada dalam
medan magnet sehingga akan menyebabkan timbulnya arus
listrik. Arus listrik yang dihasilkan seirama dengan getaran
suara yang diterima. Dynamic microphone memiliki ciri :
tidak memerlukan catudaya, berat (karena ada trafo),
Respon Frekuensi lebih rendah dibanding Microphone
Condensor dan dapat menangkap suara dari instrumen yang
keras (drum, trompet, dsb).
b. Carbon Microphone, adalah microphone yang menggunakan
prinsip kerja nilai hambatan/resistor (berbahan arang)
yang berubah-ubah. Getaran suara yang dihasilkan akan
menggerakkan membran/diafragma, getaran membran
menghasilkan kerapatan dan kerenggangan arang sehingga
akan menghasilkan perubahan nilai hambatan pada lilitan
primer. Sehingga perubahan arus listrik yang dihasilkan
lilitan sekunder akan sebanding dengan perubahan getaran
suara yang diterima. Carbon Microphone memiliki ciri :
catu daya besar, berat (karena ada trafo), Respon

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

166

Frekuensi lebih rendah dibanding Dynamic Microphone,


contohnya adalah telepon rumah.
Condensor
Microphone,
adalah
microphone
yang
menggunakan prinsip kerja condensator. Getaran suara
menggetarkan
membran/diafragma,
getaran
yang
dihasilkan menggerakan maju/mundur lempeng penghantar
pada condensator sehingga menghasilkan perubahan nilai
kapasitansi sesuai dengan getaran suara yang diterima oleh
membran. Perubahan nilai kapasitansi diubah menjadi
perubahan isyarat listrik yang kemudian diperkuat dengan
pre-amp sehingga dapat dipakai sebagai input audio.
Condensor Microphone memiliki ciri : perlu catu daya,
Respon Frekuensinya flat, sensitivitas tinggi, noise rendah,
membutuhkan pre-amp untuk mencocokkan impedansi
capsul condensor dengan low impedance input.

c.

Tabel 5.

Jenis tegangan dan resistensi pada mikropon

No.

Tegangan

Resistansi

12 Volt

680

24 Volt

1200

48 Volt

6800

Berdasarkan pada tata letak yang disesuaikan dengan


fungsinya secara garis besar terdapat 3 jenis, yaitu :
a. Mikrofon untuk announcer, sebaiknya digunakan Condensor
Microphone dengan pola tangkapan uni directional.
Diletakkan kira-kira 15-30 cm di depan mulut. Perlu
diperhatikan keras atau pelan sumber suara dibandingkan
dengan kondisi akustik ruang dan gangguan sekitar.
b. Mikrofon untuk dialog, 1 mic untuk untuk 2 pembicara yang
berdampingan akan berakibat keduanya harus duduk
merapat selain itu jika volume suara keduanya tidak sama
akan membuat operator kesulitan mengaturnya. Sebaiknya
posisi duduknya berseberangan dengan menggunakan mic
yang memiliki pola tangkapan bi directional.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

167

c.

Mikrofon untuk drama, 1 mic untuk 2 pemain (biasanya bi


directional atau omni directional). Supaya mic tidak
terlihat oelh penonton digunakan Gun Microphone dengan
pola patern super cardioid. Mic digantung pada ketinggian
tertentu pada boom stand dengan sudut sekitar 30o pada
pembicara maka perlu boomer yang bertugas menjaga
posisi mic sehingga didapat hasil yang maksimal.

Disamping
micropon
peralatan
produksi
audio
diantaranya alat sumber audio yang akan direkam, mixer,
equalizer, amplifier, headpoe/speaker, audio tape recorder
(multi trax) atau komputer.
Bahan Produksi Audio. Adalah bahan yang digunakan
untuk menyimpan audio yaitu pita tape
dalam bentuk roll
atau kaset audio blank. Sedangkan bahan lain sebagai
perlengkapan pendukung seperti bateray untuk mic dan untuk
peralatan lainnya. Dan sebagainya.
2.

Membuat naskah program Radio


Naskah dalam pengertian ini adalah hasil karya
pengarang yang dituangkan ke dalam tulisan kemudian
disajikan dalam bentuk program. Hal yang perlu diperhatikan
dalam naskah adalah :
Identitas Naskah, hal ini sangat penting karena berisi
informasi mengenai jenis program, proses produksi, sound
effect yang dubutuhkan.
Nomor Urutan Dialog Antar Pemain, akan sangat
berguna saat proses produksi karena jika terjadi kesalahan
(kesalahan baca, kesalahan rekam) proses pengulangan akan
dapat diketahui mulai dari mana dan berakhir di mana.
Penulisan, gunakan huruf kecil kalimat yang disuarakan
dan gunakan huruf kapital untuk keterangan atau perintah.
Gunakan pula tanda baca dengan menggunakan garis miring /
untuk koma, // untuk titik koma dan /// untuk titik pada
bagian yang harus dibaca atau disuarakan.
Gunakan sistem penulisan menggunakan bahasa yang baik
dan benar

3.

Teknik Rekaman Audio


Merekam adalah kegiatan mendokumentasikan informasi
kedalam suatu media tertentu (kaset, CD) kemudian informasi
ini dapat kita perdengarkan kembali untuk tujuan tertentu.
Jenis audio yang direkam meliputi musik, sandiwara radio,
wawancara, dsb. Hal hal yang perlu dicermati saat siaran
adalah: soundproof studio rekaman yang baik, hasil rekaman

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

168

bebas noise, artikulasi jelas,intonasi, keindahan, pengaturan


microphone, sound effect yang sesuai, dan sebagainya.

micropon

orgen

Audio

Recorder

Mixer
PU

Lainnya

Reverberator

Audio Monitor

Gambar 61. Skema blok sistem dan peralatan rekaman audio


4.

Teknik Editing Audio


Editing audio biasanya dilakukan dengan cara mengambil
dialog yang diperlukan untuk disiarkan. Setelah semua dialog
yang dibutuhkan sudah diedit berikutnya diberi sound effect,
hal ini diperlukan untuk mengatasi latar belakang suara yang
patah-patah sebagai hasil editing. Secara umum sound effect
meliputi :
Background Sound, misalnya suara angin, air, burung,
dsb agar mampu memberi kesan tertentu bagi pendengar.
Hard Effect, meliputi suara keras, misal : ledakan
gunung, tabrakan mobil, buka/tutup pintu, ledakan senjata,
dsb. Biasanya suara-suara seperti ini sudah ada di sound library
atau keyboard.
Folley, yaitu merekayasa suara dengan cara tertentu
sehingga menyerupai suara yang diinginkan, misal suara
langkah kaki.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

169

Musik Illustrasi, biasanya direkam dulu di studio baru


disinkronkan dengan yang lain saat editing. Ada juga yang
direkam langsung saat adegan / dialog.
Cara menyisipkan music ada beberapa cara, yaitu :
Fade In & Fade Out :

Awal

Akhir

Stealing In & Stealing Out :

Awal

Akhir

Cut to :
Musik Pertama

Musik Kedua

Cross Fade :
Musik 1

Musik 2

Background :
Teks/Narasi
Musik
Background
(1/3 level)
Gambar 62.

Sri Sartono

Musik

Transisi pada rekaman audio/musik

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

170

Cara mengedit kesalahan pembacaan teks bisa


juga dengan cara pemotongan bagian pita kaset yang salah
yaitu sebelum dan sesudah bagian yang salah tersebut,
selanjutnya dilakukan penyambungan kembali dengan
menggunakan selotip. Pemotongan dilakukan miring dengan
membentuk sudut 45 derajat dengan menggunakan pisau silet
yang tajam dan dibawah pita dilandasi dengan mal dari
alluminium yang telah dipola memiliki lobang tipis dengan
kemiringan 45 derajat dan lekukan horisontal memanjang
sebagai tempat pita.

K.

5.

Mixing
Mixing adalah proses dimana mencampur masing-masing
track hasil rekaman sehingga dihasilkan satu produk rekaman.
Misal sebuah lagu dimana suara vokal, suara keyboard, suara
gitar, suara drum, suara bass masing-masing direkam dalam
waktu yang berbeda ke dalam media yang berbeda juga
tentunya kemudian dilakukan proses penggabungan, proses ini
yang disebut dengan proses mixing.

6.

Produksi MP3
Mengingat bahwa saat ini teknologi komputer telah
merambah ke berbagai bidang tidak terkecuali bidang radio
broadcasting maka untuk menyimpan file rekaman (lagu, iklan,
dsb) tidak lagi melulu dalam bentuk kaset akan tetapi lebih
banyak dalam bentuk file yang sudah dimampatkan dan diberi
nama mp3. Proses pembuatannya bisa dilakukan dengan
mengubah file audio analog yang dimasukan ke input sound
card komputer kemudian akan dikonversi ke dalam file mp3.

Perpustakaan Audio/Discotique
1.

Program
Program-program yang telah/pernah disiarkan sangat
penting untuk disimpan dan diadministrasikan dengan baik dan
tertib. Hal ini sangat berguna bagi stasiun radio pemancar
untuk digunanakan sebagai arsip dan sebagai bahan
pengembangan untuk dikemas menjadi program siaran yang
baru. Demikian pula dapat dipergunakan sebagai referensi
untuk merencanakan program siaran baru yang menarik.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

171

L.

2.

Audio Music
Penyiaran radio paling banyak menyiarkan acara hiburan
jenis musik. Oleh karena itu stasiun radio harus memiliki
persediaan segala jenis musik, lagu mulai dari yang lama
sampai
dengan
yang
baru.
Disinilah
pentingnya
diskotik/perpustakaan audio. Dengan adanya perpustakaan
musik akan memudahkan untuk materi siaran maupun produksi
program.

3.

Sound effect
Sound efek sangat diperlukan untuk pendukung produksi.
Oleh karena itu perpustakaan juga perlu memiliki segala
macam sound efek untuk menyediakan kebutuhan produksi
program.

Iklan dan Pemasaran


1.

Pengertian Iklan
Era Filosofi Pasar sebuah keniscayaan pemikiran yang
sangat dibutuhkan pada masa sekarang ini. Era ini
diprediksikan sebagai era yang penuh persoalan ekonomi yang
tinggi bersamaan dengan munculnya fase pertumbuhan yang
makin tidak menentu dan gonjang ganjing era otonomi daerah
serta pasar global. Salah satu penyebabnya adalah
meningkatnya tingkat persaingan di dunia usaha baik lokal,
maupun global. Fenomena ini secara nyata dapat diamati yaitu
semakin banyaknya perusahaan memasarkan produk melalui
iklan diberbagai media massa . Iklan adalah salah satu alat
pemasaran modern yang kegiatannya berlandaskan pemikiran
konsep komunikasi untuk mendukung keberhasilan pemasaran.
Hal yang terpenting agar komunikasi efektif di Radio dalam
pencapaian sasaran yaitu : bagaimana pengaruh iklan terhadap
minat pendengar, proses komunikasi dan pengambilan
keputusan yang mempengaruhi perilaku, serta target
pendengarnya. Iklan media elektronik radio menjadi alternatif
pilihan yang menarik, disamping jangkauannya luas, juga ada
unsur hiburan yang sangat mendukung pembentukan persepsi
konsumen terhadap suatu produk, yang pada akhirnya dapat
mengarah pada tindakan pertukaran guna memuaskan berbagai
pihak yang terlibat dalam aktifitas pemasaran.
Dr. Tony Schwartz, dalam penelitiannya bahwa seseorang
akan lebih sering mangatakan, Saya seorang yang lamban
membaca, tetapi tidak ada satu pun orang yang akan
mengatakan, Saya orang yang lamban dalam mendengarkan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

172

sesuatu. Beliau juga menulis bahwa, dalam konteks


lingkungan yang bagaimanapun juga, semua suara yang ada di
dalam lingkungan tersebut akan masuk ke dalam pendengaran
mereka. Kita bisa saja menutup mata kita karena kita memiliki
kelopak mata. Tetapi kita tidak bisa menutup mata kita karena
kita tidak memiliki kelopak telingaKita tahu bahwa (dalam
konteks pendengaran) otak akan selalu mencatat suatu suarasuara yang melintas dengan cepat, tetapi otak kita juga selalu
mengingat pencatatan atas suara sebelumnya dan sekaligus
mengantisipasi suara-suara yang akan segera datang atau
terdengar.
Berdasarkan data penelitian terhadap pendengar radio di
Surabaya untuk mengetahui Seberapa besar pengaruh
terpaan iklan radio terhadap minat khalayak? . Penelitian ini
menggunakan Grand Theory Psikologi Kognisi yaitu proses yang
mengubah,
mereduksi
memperinci,
menyimpan,
mengungkapkan dan memakai setiap masukan (input) yang
datang dari alat indera. Di samping menggunakan teori
tersebut diatas dalam penelitian ini juga menggunakan teori SM-C-R sebagai applyed-nya.
S adalah source yang berarti sumber, pada konseptual
adalah Advertiser (Pemasang Iklan). M adalah Message yang
berarti pesan, pada tingkat konseptualnya adalah Commercial
Spot (Iklan). C adalah Channel artinya saluran atau media ,
pada tingkat konseptualnya adalah Radio (Radio Siaran) , dan R
adalah receiver atau komunikan yang pada tingkat
konseptualnya berarti Audience (Khalayak ).
Pada penelitian ini terdapat variable X dan Variabel Y .
Variabel X nya adalah iklan radio, sedangkan variable Y nya
adalah minat khalayak, yang dimaksud dengan iklan radio disini
yaitu terdiri dari elemen iklan (X1) : Gaya Pesan , Struktur
Pesan , Presenter, dan Intensitas penyiaran iklan (X2 ).
Sedangkan Y nya adalah minat khalayak yaitu kecenderungan
yang tinggi terhadap sesuatu, dalam hal ini adalah iklan radio.
Jenis Penelitian ini menggunakan Explanatory research yaitu
penelitian yang bertujuan untuk memberikan penjelasan baik
pengetahuan secara umum maupun pengetahuan secara
khusus. Populasinya adalah Pendengar Radio di Surabaya,
Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster Random
Sampling . Untuk menjawab dan menguji Penelitian :
Pengaruh Terpaan Iklan Radio terhadap Minat Khalayak
penulis menggunakan analisis kuantitatif: (1) Uji Validitas
Instrumen Penelitian: terdapat dua macam instrumen, yaitu
instrumen yang berbentuk test dan nontest dengan pendekatan
construct validity dan teknik uji yang digunakan adalah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

173

korelasi Pearson Product Moment, (2) Uji Reliabilitas


Instrumen Penelitian : digunakan teknik croanbachs alpha
(koefisien alfa), (3) Analisis Regresi Berganda: Pengujian
multikolinearitas, Heteroskedastisitas, Autokorelasi, dan
Normalitas.
Kesimpulan dari hasil penelitian penulis Apa yang dicari
dan didengar khalayak di radio ? jawaban umumnya: musik .
Kenyataannya, itu bukanlah jawaban tunggal. Minat khalayak
sangat beragam. Sesuai kodrat saat radio lahir, orang juga
ingin memperoleh informasi dari radio. Bahkan, saat asyik
mendengarkan musik, tiba-tiba diinterupsi oleh informasi
dengan pesan iklan, hal ini menjelaskan bahwa radio mampu
melakukan banyak hal untuk khalayaknya. Perancangan dan
pelaksanaan program komunikasi melalui keselarasan pesan
yang ingin disampaikan dengan kekuatan jenis medium radio,
harus mengacu kepada sasaran khalayak yang ingin diraih serta
berlandaskan pada tujuan komunikasi, perupakan tolok ukur
kesaktian radio untuk membujuk atau mempengaruhi khalayak.
Oleh karena itu hasil dari penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa perencanaan suatu komunikasi yang efektif
di media radio perlu mempertimbangkan kebutuhan dan
keinginan dari penerima pesan. Komunikasi tersebut
hendaknya memberikan kepada penerima motif atau intensif
untuk bertindak. Di samping itu, komunikasi seharusnya
menguraikan secara akurat rangkaian tindakan apa yang
diharapkan diikuti oleh khalayak penerima pesan. Itu sebabnya
mereka yang berkecimpung di bidang promosi dan pemasaran,
sebaiknya memahami konsep produk, merek dan periklanan.
Dengan pemahaman ini akan mampu membuat usulan dengan
suatu nilai tambah bagi produk tertentu yang sedang
melakukan kampanye periklanan. Begitu pula dari hasil
penelitian ini, dapat diketahui bahwa dalam mendengarkan
radio, minat khalayak radio dalam mendengarkan iklan akan
sangat dipengaruhi oleh elemen iklan serta intensitas
penyiaran iklan tersebut. Hasil analisa data dalam penelitian
ini menunjukkan bahwa elemen iklan dan intensitas iklan yang
disiarkan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap minat
mendengar produk yang diiklankan.
Elemen iklan memiliki hubungan yang kuat terhadap
minat khalayak dari pada intensitas iklan yang ditayangkan, hal
ini dapat dikaji dari nilai korelasi antara X1 (elemen iklan) dan
Y (minat khalayak) yang lebih tinggi dari X 2 (Intensitas
penyiaran Iklan) danY (minat khalayak).
Secara statistik, setiap perbaikan atau peningkatan
kualitas Elemen Iklan Radio (gaya, struktur, dan penyampai

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

174

pesan), maka Minat Khalayak akan meningkat 0.125. Dan


dengan kondisi yang sama pula, setiap peningkatan Intensitas
Penyiaran Iklan Radio (Frekuensi dan durasi) akan
menyebabkan terjadinya penurunan Minat Khalayak 0.0512
kali. Hal ini sepertinya kontradiktif, karena terjadi penurunan
Minat Khalayak ketika Intensitas Penyiaran Iklan Radio
ditingkatkan. Namun hal ini boleh jadi karena dari survey di
lapangan menunjukkan bahwa khalayak lebih senang atau
tertarik mendengarkan iklan radio yang mempunyai kualitas
yang baik dan iklan radio yang berkualitas tercipta jika elemen
iklan radio sangat diperhatikan dalam pembuatannya. Dan
masyarakat atau khalayak lebih cenderung bersikap kurang
senang terhadap Intensitas Penyiaran Iklan Radio yang cukup
tinggi, apalagi iklan yang diputar adalah iklan yang kurang
bermutu. Dan dengan melihat bahwa 62 % tertarik dan
berusaha mendengarkan seluruh iklan ditengah acara radio ,
maka dapat disimpulkan bahwa penurunan minat khalayak
karena peningkatan intensitas penyiaran iklan radio belum
tentu dibenarkan, kecuali anggapan bahwa iklan yang disiarkan
dengan intensitas penyiaran yang semakin meningkat adalah
iklan yang kurang berkualitas. Sehingga secara garis besar
dapat dikatakan bahwa minat khalayak sebenarnya sangat
terpengaruh oleh iklan radio yang berkualitas dan mempunyai
intensitas penyiaran yang tinggi, karena iklan yang menarik
akan sangat disukai oleh khalayak.
2.

Fungsi Iklan
Dari masa ke masa, peranan radio selalu penting.
Bermunculannya berbagai media elektronik, termasuk
maraknya Internet pun, tidak menenggelamkan radio sebagai
salah satu media pilihan konsumen. Karenanya, iklan di radio
tetap perlu untuk dipertimbangkan dalam integrated
marketing communication (IMC) sebuah brand campaign. Pada
pagi hari dan sore hari dimana sebagian masyarakat terjebak
kemacetan lalu lintas, radio di mobil menjadi teman
perjalanan yang menyenangkan. Breaking news dan obrolan
santai dari para penyiar radio mengurangi stress yang dirasakan
sepanjang perjalanan. Sulit bagi media lain untuk
mendapatkan coverage setinggi radio pada jam-jam kemacetan
lalu lintas ini. Disamping teve lokal yang sekarang sudah mulai
menjamur, radio merupakan pilihan yang tepat untuk
menjangkau konsumen di daerah tertentu, termasuk di
pedalaman. Dengan memilih tipe program dan segmen radio
yang sesuai, pengiklan bisa lebih fokus untuk mengekspose

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

175

brandnya ke tipe pendengar yang lebih segmented, baik itu


dari segi usia, etnik maupun lifestyle tertentu.
Kelebihan lain dari radio adalah lebih singkatnya waktu
untuk mempersiapkan materi iklan. Materipun bisa
dikemas/dibawakan dengan gaya bahasa sedemikian rupa
sehingga sesuai dengan selera pendengar lokal. Salah satu tipe
program radio yang mendapat rating tinggi adalah yang
menyediakan interaksi langsung, baik itu antar pendengar
maupun antar pendengar dan penyiar. Diskusi-diskusi interaktif
ini punya magnet yang kuat karena terbukti memberikan
banyak insight bagi pendengar untuk masalah-masalah yang
sedang hangat dibicarakan di media lainnya.
Materi iklan yang baik selain mampu untuk mendorong
penjualan, juga merupakan citra kredibilitas brand dan
perusahaan. Iklan radio yang efektif adalah yang mampu
melibatkan pendengarnya. Engagement bisa diperoleh dari
pemilihan kata-kata yang menarik atau humoris, dari
komponen musik dan dari sound effect lainnya. Adakalanya,
radio setempat juga menawarkan jasa untuk membacakan
script iklan oleh penyiarnya. Ini bagus, karena mampu menepis
kebosanan pendengar yang lelah dijejali iklan yang bertubitubi. Dengan gaya tersendiri, penyiar membacakan script iklan
dengan renyah dan dibumbui cerita-cerita keseharian, sehingga
lebih merasuk ke benak pendengar. Hanya saja, harus tetap
dilakukan suatu monitoring khusus, untuk meyakinkan bahwa
penyiar tidak terlalu jauh memodifikasi script yang dikemas
untuk brand.
Karena harganya yang relatif lebih murah, iklan radio
bermanfaat untuk meningkatkan frekuensi eksposure sebuah
campaign. Dengan tingginya frekuensi, awareness terhadap
pesan yang disampaikan melalui media radio akan dengan
cepat dibangun. Yang perlu diperhatikan adalah adanya sinergi
antara pesan brand yang disampaikan lewat media radio
dengan pesan brand yang disampaikan di media lainnya.
Jangan sampai masing-masing media menyampaikan hal yang
tidak berhubungan, bahkan bertentangan.
Ada beberapa kelemahan media radio. Media ini kadang
hanya dijadikan semacam latar belakang saja, sehingga
kesannya diabaikan oleh pendengarnya. Oleh karenanya iklan
di radio harus sering frekuensinya. Juga, iklan ini tidak
memiliki visual, baik itu berupa gambar maupun teks, sehingga
ada keterbatasan untuk menarik perhatian secara suara/audio.
Kekurangan lainnya adalah tidak tersedianya banyak studi atau
survei yang secara spesifik menunjukkan efektivitas iklan
radio, sehingga pengiklan tidak punya support kuat untuk

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

176

mendukung keputusannya. Akan tetapi masih lebih banyak


manfaat beriklan di radio dibandingkan kekurangannya.
3.

Jenis Iklan
a. Iklan Layanan Masyarakat.
Pesan untuk kepentingan masyarakat luas dan tidak
berhubungan langsung dengan kepentingan produk
pengiklan atau sponsor. Contoh: kesadaran lingkungan,
pendidikan, kesehatan dan keselamatan umum, lembaga
swadaya masyarakat, penghimpunan dana yang sejenisnya.
b. Iklan komersial
1) Iklan Minuman & Produk Susu.
Kopi, teh, creamer, minuman coklat/malt/ ringan, sari
buah/sayur, air mineral, susu, yoghurt, mentega, keju
dan sejenisnya.
2) Iklan Permen & Cemilan.
Cokelat, permen, chewing gum, ice cream, biskuit,
camilan/kudapan dan yang sejenisnya
3) Iklan Makanan & bumbu Masak.
Daging, ikan, telur, sup, mie, beras, isi roti, makanan
kaleng/segar/beku, makanan bayi, minyak goreng,
gula, margarine, bumbu masak/penyedap dan yang
sejenisnya
4) Iklan Properti & Bahan Bangunan.
Perumahan,
perkantoran,
apartemen,
genteng,
keramik, ubin, marmer, saniter dan yang sejenisnya
5) Iklan Produk Kesehatan & Obat Bebas (OTC) Termasuk
vitamin, makanan pelengkap (food supplement),
minuman energi, jamu, larutan penyegar, produk diet
(dietetic produk) dan yang sejenisnya.
6) Iklan Produk Perlengkapan Rumah Tangga.
Mesin cuci, lemari es/pendingin, alat masak,
microwaves, pecah belah, sendok garpu, meja-kursi,
seprei, taplak meja, AC, bohlam dan yang sejenisnya
7) Iklan Perawatan Rumah Tangga.
Pembersih, Pewangi, Pembasmi serangga, deterjen
dan kaitan, penyegar udara, pembasmi hama, semir
sepatu, peralatan kebun dan yang sejenisnya
8) Iklan Produk Elektrik, Komputer & Peralatan kantor.
Peralatan Audio/Video, kamera Video/photo, mesin
cetak, mesin Fax, mesin fotocopy, mesin penghancur
kertas, lemari besi, alat tulis dan yang sejenisnya
9) Iklan Kosmetik Dekoratif. Alas bedak, kosmetik
dekoratif wajah/rambut/tubuh

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

177

10) Iklan Produk Perawatan Pribadi.


Pembersih,krem pelembab wajah/tubuh, sabun mandi,
perawatan rambut, popok, pembalut wanita, parfum,
busa cukur, kapas pembersih, tisu dan yang sejenisnya
11) Iklan Pakaian Aksesoris.
Perhiasan, pakaian dan pakaian olahraga, pakaian
dalam, sepatu/alas kaki, jam tangan, kacamata,
tas/koper dan yang sejenisnya
12) Iklan Korporat.
Identitas atau citra perusahaan/instansi dan bebas dari
kandungan produk/jasanya
13) Iklan Otomotif & Kaitannya.
Kendaraan
bermotor,
pelumas,
perlengkapan
audio/video mobil, ban, suku cadang dan yang
sejenisnya
14) Iklan Hotel, Restaurant & Pariwisata, Termasuk biro
wisata/perjalanan, jasa transportasi dan sejenisnya
15) Iklan jasa Keuangan dan Investasi, Termasuk Bank,
Asuransi, Kartu Kredit, Produk Investasi, Reksadana,
Rumah Gadai dan yang sejenisnya
16) Iklan Niaga.
Grosir, pengecer, pasar swalayan, toserba, mall,
penyewaan video/VCD/DVD, kantor pos, penyewaan
mobil/motor, bengkel, optik, apotik, spa, salon, panti
pijat dan yang sejenisnya
17) Iklan Media.
Stasiun televisi/radio, surat kabar, tabloid, majalah,
situs web dan wahana penyampai pesan lainnya
18) Iklan Promosi berhadiah.
Menjanjikan pemberian hadiah dalam bentuk apapun
yang dikaitkan dengan produk/jasa yang ditawarkan
19) Iklan Telekomunikasi.
Jasa hubungan telekomunikasi lokal/internasional,
perusahaan telekomunikasi, penyedia sarana hubungan
internet, kartu telepon, kartu SIM dan yang sejenisnya
20) Iklan Rokok.
Rokok kretek, rokok putih dan macam-macam rokok
lainnya
21) Iklan Promosi Hiburan & kegiatan, Termasuk musik,
tarian, teater, sinema, kuis, sirkus, film, sinetron,
kegiatan olahraga, taman hiburan/rekreasi, program
televisi, program museum, pameran seni, permainan
komputer, CD/kaset/VCD/DVD dan sejenisnya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

178

22) Iklan lain-lain.


Produk/jasa lain yang tidak termasuk dalam kategori 1
s/d 22 di atas
23) Iklan Media Luar Ruang, Termasuk poster, ultravision,
billboard, spanduk, iklan transit(iklan di bis/kereta dan
alat tranportasi lainnya, halte, pelabuhan udara/laut
dan sejenisnya), signboard dan Point of Sales (POS)
dalam bentuk materi lepasan/tunggal
24) Iklan Media Non Konvensional (Inovatif).
Iklan yang memanfaatkan medium yang tidak
tradisional/konvensional. Termasuk jenis materimateri penunjang dan sejenisnya
25) Iklan Seri Media Cetak/Radio/Televisi/Media Luar
Ruang.
Iklan dari produk-produk yang termasuk dalam kategori
1-23, namun menggunakan minimum 3 (tiga) macam
materi
iklan
yang
saling
berkaitan
atau
berkesinambungan dan dalam medium sejenis
26) Promosi/Pemasaran Langsung (Direct Promotion/
Marketing).
Termasuk surat/materi satu dimensi atau lebih, iklan
cetak/radio/televisi
yang
mengandung
unsur
kebutuhan konsumen untuk memberi jawaban/respon
langsung melalui telepon/SMS/surat elektronik dan
sejenisnya
27) Iklan di Internet & Mobile Phone.
Segala iklan yang ditayangkan di internet, termasuk
yang berbentuk banner, pop-ups, viral marketing,
serta segala jenis promosi melalui mobile phone
seperti SMS, MMS dan sejenisnya. Tidak termasuk
dalam kategori ini situs web/WAP atau portal, maupun
promosi dalam bentuk lampiran pada surat elektronik,
kecuali jika didukung dengan bukti-bukti bahwa ia
bersifat viral
28) Kampanye Periklanan Terintegrasi (Media Mix).
Kampanye periklanan yang disiarkan pada minimum 3
(tiga) jenis media yang berbeda.
4.

Pemasaran
Untuk menarik perhatian pendengar sekaligus pengiklan,
radio wajib menunjukkan kredibilitasnya. Terkait usaha
menjual produk jurnalistik, tantangan terbesarnya melindungi
integritas independensi materi pemberitaan itu. Dalam konteks
periklanan, karya jurnalistik berpeluang besar mengalami

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

179

konflik dengan target ekonomi radio. Menafikan independensi


pemberitaan untuk menyenangkan sponsor iklan, mempercepat
keruntuhan fondasi bisnis radio karena keputusan ini
memperlemah integritas radio dan kebijakannya. Karya
jurnalistik seharusnya ditentukan semata-mata melalui
kebijakan pemberitaan. Sponsor karya pemberitaan tidak
berhak mendikte atau mempengaruhi isi pemberitaan. Isi
pemberitaan seharusnya nyata berbeda dibandingkan isi
periklanan.
Manajer berperan menyusun panduan berisi ketentuan
hubungan pemberitaan dan penjualan yang harus dimiliki
radio. Panduan berisi rambu-rambu tentang kebijakan karya
pemberitaan yang boleh dan tidak diiklankan. Panduan dibuat
tertulis dan dimiliki divisi pemberitaan maupun penjualan.
Manajer berkewajiban menyamakan persepsi panduan ini
antara divisi pemberitaan maupun penjualan dan kalangan
periklanan. Fakta yang pernah terjadi: akibat panduan ini tidak
terkomunikasikan dengan baik, kesimpangsiuran kebijakan
pemberitaan dan periklanan, membuat radio pada posisi
memalukan di hadapan pendengar dan klien periklanan.
Yang harus diperhatikan pada hubungan pemberitaan dan
pemasaran adalah :
a. Apa dampak atau konsekuensi jangka pendek dan jangka
panjang bila radio membuat atau tidak membuat sistem
dan prosedur hubungan pemberitaan dengan pemasaran ?
b. Apa persepsi pendengar ketika mereka mendengar sponsor
atau iklan dalam pemberitaan, termasuk advetorial.
Bagaimana dengan kekhawatiran pendengar yang
mempertanyakan kemungkinan iklan atau sponsor
mempengaruhi kebijakan pemberitaan, atau nampaknya
akan mempengaruhi isi pemberitaan. Akankah hal ini
mengganggu citra dan reputasi radio
c. Bagaimana manajer menjelaskan keputusan mengijinkan
advetorial dan sponsor pemberitaan kepada pendengar,
personil siaran dan pemberitaan di radio ?
d. Apakah manajer akan menuangkan secara tertulis
ketentuan hubungan pemberitaan dan pemasaran di radio,
termasuk regulasi advetorial dan sponsor dalam
pemberitaan ?
Sementara pucuk pimpinan radio sebaiknya melakukan :
a. Segera terlibat dalam proses pembuatan panduan
advetorial, sponsor dan iklan dalam pemberitaan. Ia
selanjutnya bertanggung jawab memastikan bahwa
proposal divisi pemasaran tidak melanggar rambu iklan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

180

dalam pemberitaan, yang dapat mengganggu integritas


radio.
b. Melakukan kajian dan tinjauan ulang setiap kesepakatan
periklanan atau sponsor dalam pemberitaan radio,
terhadap kemungkinan yang mengganggu kredibilitas divisi
pemberitaan, profesionalnya dan citra radio.
c. Menjadi penentu akhir terhadap proses dan aplikasi
advetorial serta iklan dalam pemberitaan radio.
Siapapun di radio seyogyanya bertanggung jawab
terhadap kredibilitas pemberitaan, sekaligus bisnis radio yang
sukses. Radio dapat menjembatani pengertian antara seluruh
unsur pemberitaan dengan unsur pemasaran melalui berbagai
cara: Pucuk pimpinan dapat mengundang seluruh manajer
divisi mengamati dan mendiskusikan produk pemberitaan.
Manajer Pemberitaan berbicara di hadapan kelompok klien
untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana kebijakan
editorial dibuat. Manajer Pemberitaan dapat membuat
presentasi berkala bagi professional pemasaran mengenai
proses perencanaan, peliputan dan produksi pemberitaan. Bagi
radio berkategori komersial (swasta), hak dan sekaligus
kewajibannya adalah memproduksi siaran-siaran yang
bermuara di pendapatan komersial. Apabila radio mengaku
sebagai radio swasta, kegagalan terbesarnya adalah merugi !
Kecuali anda mengelola radio publik dan radio komunitas yang
tidak mengandalkan iklan. Jurnalisme radio merupakan ranah
yang memiliki batasan ketat, terutama mengenai kehormatan
independensi, kejujuran dan kemandirian. Tugas radio swasta:
mengawinkan keduanya sebagai sinergi harmonis tanpa harus
mematikan jati diri keduanya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

181

BAB V
PENYIARAN TV
A.

Fungsi Siaran TV
Telah kita ketahui bersama bahwa wilayah Negara Republik
Indonesia merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari lima
pulau besar dan ribuan pulau kecil yang tersebar di antara benua
Asia dan Australia. Dengan Luas daratan sekitar 1,9 juta kilometer
persegi yang didiami oleh jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa
yang tersebar di sekitar 13 ribu pulau dengan kepadatan penduduk
yang tidak merata. Hal ini merupakan faktor kendala dalam
membina komunikasi antara pemerintah pusat dengan rakyat di
seluruh wilayahnya dalam rangka pelaksanaan pembangunan
bangsa. Hal ini mengakibatkan kesulitan dalam penyampaian
informasi yang benar kepada masyarakat, karena informasi dapat
direkayasa sedemikian rupa sehingga kebenarannya bisa
diputarbalikkan. Apalagi masyarakat Indonesia yang tingkat
pendidikannya relatip masih rendah sehingga sulit untuk
menyeleksi informasi yang diterimanya. Dengan demikian akan
menyebabkan
terjadinya
miskomunikasi
dan
ini
akan
mengakibatkan kerawanan-kerawanan.
Dengan kemajuan teknologi di bidang elektronika komunikasi
dan komputer sangat mendukung kemajuan dalam teknologi
informasi. Sehingga kebutuhan akan informasi dalam kehidupan
modern seperti saat ini dapat terpenuhi dengan pemanfaatan
produk teknologi informasi. Produk-produk tersebut seperti :
telex, facsimile, telepon, radio, televisi, jaringan komputer atau
internet dan satelit. Hal ini sangat membantu mempercepat dan
memperluas jangkaun arus informasi. Informasi yang masuk melalui
media elektronik sulit dibendung dan disaring, oleh karena itu
harus diatasi dengan mengimbangi dengan memberikan informasi
dengan cara dan media yang sama. Dengan kemajuan bidang
teknologi informasi yang sangat pesat membuat dunia terasa makin
kecil dan transparan serta makin terasa cepat berubah. Apalagi
dengan adanya isu globalisasi, batas-batas yang selama ini
membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain menjadi makin tipis
dan kabur. Bahkan saat ini informasi telah menjadi komoditi yang
memiliki arti ekonomis, politis maupun strategis. Sehingga
penguasaan dalam bidang informasi ini sangat diperlukan oleh
bangsa Indonesia agar dapat maju dan berkembang tidak
ketinggalan oleh bangsa lain di dunia.
Media informasi TV merupakan media yang sangat efektif
karena kandungan informasi yang ada dalam TV (gambar) jauh
lebih besar dari pada media lainnya baik media cetak maupun

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

182

radio. Oleh karena itu di Indonesia perlu dibangun banyak stasiun


pemancar TV sebagai sarana yang dapat mempererat persaudaraan,
persatuan dan kesatuan bangsa, memberikan informasi yang cepat
dan benar dan sebagai wahana hiburan serta untuk mencerdaskan
bangsa.
Dengan demikian Siaran TV memiliki arti dan fungsi yang
sangat penting untuk penyampaian informasi dari pemerintah
maupun dari sumber-sumber yang lain untuk kepentingan nasional
maupun regional. Informasi dari pemerintah berupa berita-berita
pembangunan diseluruh wilayah Negara, sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai pengetahuan dan memotivasi masyarakat
untuk membangun daerahnya. Demikian pula masyarakat perlu
mendapatkan informasi yang benar tentang kehidupan dan
kemajuan negaranya sebagai upaya melakukan pendidikan politik
masyarakat. Informasi yang berupa hiburan yang diwujudkan dalam
bentuk pengembangan kesenian, budaya, dan pendidikan. Hal ini
dapat mendukung dalam mencerdaskan bangsa serta untuk
membendung masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa Indonesia. Informasi yang berupa intertainment
juga sangat diperlukan dalam membawa bangsa mampu memasuki
kehidupan yang lebih modern.
B.

Jenis informasi pada siaran TV.


Terdapat berbagai jenis siaran Televisi, yang dapat
dikelompokkan menjadi :
1. Berita. Beberapa stasiun siaran TV mengemas berita ini sesuai
dengan selera masing-masing. Misalnya dengan menamakannya
program liputan. Berdasarkan waktu siarnya lalu dikenal dengan
nama liputan pagi, liputan siang, liputan petang dan liputan
malam. Ada juga yang memberikan nama berita pagi, berita
nusantara, berita siang, berita nasional dan berita malam. Ada
pula yang menamakan topic pagi, topic siang, topic petang dan
topic malam. Demikian pula yang menamakan focus, seputar
Indonesia, expose, redaksi, metro hari ini dansebagainya.
Informasi jenis berita ini juga dapat dikemas menjadi bentuk
dialog seperti dialog pro dan kontra, dialog perikanan dan
kelautan, dialog ekonomi, politik dan sebagainya.
2. Hiburan. Siaran hiburan ini juga dikemas secara sangat variatif
oleh setiap stasiun siaran TV. Misalnya film, sinetron, musik,
kesenian, drama dan sebagainya. Film dapat dibedakan menjadi
film anak-anak, dan untuk orang dewasa, Fim cerita, legenda,
komedi dan sebagainya.
3. Entertaintmen. Jenis ini juga tergantung setiap stasiun siaran
TV dalam mengemas program ini. Mereka saling menyuguhkan
yang terbaik dan berusaha membuat semenarik mungkin untuk

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

183

merebut pemirsanya. Hal ini kita sadari dan maklumi karena


saat ini telah banyak stasiun penyiaran TV dengan kualitas dan
karakternya masing-masing. Sebagai contoh acara ini adalah
Dorce Show, Empat Mata, Kasak-Kusuk, Kiss, Gosip, Wisata
Kuliner, Kuis dan sebagainya.
4. Iklan. Terdapat dua kelompok iklan yaitu iklan layanan
masyarakat dan iklan produk barang tertentu dengan tujuan
profit/ mencari keuntungan.
Iklan layanan masyarakat seperti hemat energi, beralih dari
minyak tanah ke kompor gas dan sebagainya. Iklan yang profit
misalnya rokok, pasta gigi, minyak goreng, dan sebagainya.
C.

Kalayak sasaran siaran TV.


Khalayak sasaran siaran televisi didasarkan pada : Umur dan
Status Sosial.
Berdasarkan umur pemirsa televisi dikelompokan menjadi 3
yaitu
1. Anak-anak
: Umur 5 sampai 10 tahun
2. Remaja/ Teeneger : Umur 15 sampai 25 tahun
3. Dewasa/ Adult
: diatas 25 tahun
Berdasarkan Status Sosial pemirsa televisi dibagi menjadi 3
kategori/ class, yaitu :
1. Kategori High Class: Kategori ini merupakan komunitas orang
yang mempunyai status sosial/ pekerjaan tinggi seperti
Pengusaha/ Boss, Orang Kaya dll.
2. Kategori Medium Class : Kategori ini merupakan komunitas
orang yang mempunyai pekerjaaan sedang seperti mahasiswa,
pelajar, pegawai, TNI/Polri, wiraswasta, dll.
3. Kategori Low Class : Kategori ini diisi oleh komunitas buruh dan
pengangguran.

D.

Stasiun Pemancar TV
1. Studio Pemancar TV
Sebuah stasiun pemancar harus mempunyai kelengkapan
alat dan tempat/ruang sebagai pendukung program acara yang
sudah dibuat. Kelengkapan studio sebuah stasiun siaran TV
meliputi,
a. Ruang Studio Siaran.
Tempat
penyiar / reporter
menyiarkan informasi/berita. Ruangan ini dilengkapi meja
dan kursi siar serta dekorasi ruang yang mendukung
estetika, Sistem penerangan studio, mic jepit dan beberapa
kamera TV studio. Ruangan ini juga bisa digunakan untuk
shoting paket siaran studio yang lain seperti dialog dan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

184

sebagainya. Ruangan ini didesain kedap suara dan


berdampingan dengan ruang pengendali dan dibatasi dengan
kaca yang hanya bisa dilihat/tembus pandang dari ruang
pengendali sehingga sutradara / producer bisa mengamati
secara langsung jalannya rekaman /siaran. Untuk keperluan
cromakey biasanya tersedia latar biru secara portable atau
dibuat permanen.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

185

keterangan gambar :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Disain ruang studio Siaran


Ruang studio siaran dengan latar biru dan kamera TV studio
Meja Siaran dengan latar lukisan
Seting meja siaran dengan latar biru, lampu dan kamera
Seting lampu portable di dalam ruang studio siaran
Salah satu corner studio rekaman dengan lampu studio tetap
Kegiatan rekaman format dialog di dalam studio rekaman dengan
kamera krane
h. Rekaman presenter disalah satu corner studio dengan penerangan alam
dan mic dengan stand
i. Kegiatan rekaman dengan seting dan dekorasi yang berbeda
j. Kegiatan rekaman dengan seting tambahan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

186

k. Kegiatan rekaman dialog


l. Kegiatan rekaman dialog dengan seting yang lain
Gambar 63. Berbagai ruang dan kegiatan rekaman di studio TV

b. Ruang Pengendali (control Room) Studio TV: Tempat


produksi suatu acara bisa untuk Mixing paket siaran.
Ruangan ini berfungsi sebagai ruang pengendali rekaman
yang di dalamnya dilengkapi dengan peralatan studio
seperti mixer video, TV monitor setiap sumber audio visual
satu monitor dan sebuah master monitor TV; Switcher
Video, Switcher lampu, VTR, VCD/DVD player, Telecine
(pada stasiun yang besar memiliki ruang tersendiri),
komputer dan sound system untuk keperluan talk back
dengan ruang siaran maupun sebagai sumber audio/musik.
Ruang ini dekat/ bersebelahan dengan ruang studio
rekaman dan dibatasi dengan kaca oneway yang hanya
tembus pandang dari ruang pengendali ke ruang rekaman.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

187

Gambar 64. Berbagai macam ruang studio pengendali/kontrol penyiaran TV


dengan peralatannya.

Pada stasiun penyiaran TV yang lengkap dan besar,


terdapat fasilitas ruang studio siaran/rekaman lebih dari satu
seperti studio 1, studio 2, studio 3 dan sebagainya. Di samping
ruang siaran/rekaman indoor di dalam studio, stasiun siaran TV
juga menyediakan studio alam untuk keperluan setting rekaman

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

188

outdoor diluar studio. Biasanya terdiri dari sebuah taman yang


indah banyak tanaman bunga, hutan buatan, bangunanbangunan tradisional dan sebagainya.

Gambar 65. Studio alam berupa taman dan rumah adat

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

189

Dalam pelaksanaan shoting di luar studio, diperlukan


seting peralatan studio rekaman. Peralatan yang diperlukan
antara lain beberapa kamera video, lampu, kabel-kabel,
mixer/switcher, VTR/VCR, TV monitor, peralatan sound
system, headphone, genset dan sebagainya.

Gambar 66. Seting peralatan shoting di luar studio

c. Ruang
Telecine. Pada studio yang lengkap telecine
diletakkan pada ruang tersendiri. Telecine adalah peralatan
transfer audio visual dari film, slide menjadi video audio.
Peralatan yang ada pada ruangan ini adalah proyektor film
dari ukuran 8 mm, 16 mm, 35 mm, 70 mm. ukuran ini
disesuaikan dengan jenis ukuran film yang sudah standar ;
Kamera Video untuk shoting proyeksi film sehingga menjadi
gambar video; sound system dan sebagainya.

Gambar 67. Ruang studio Telesine

d. Ruang Produksi/editing program: Tempat memproduksi


suatu paket acara setelah proses shoting selesai. Ruangan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

190

ini terdapat peralatan produksi analog atau peralatan


produksi digital. Pada stasiun siaran TV yang besar ruang
studio
produksi
analog
dan
digital
dibuat
terpisah/tersendiri. Proses produksi digital merupakan
pengembangan proses analog dikarenakan perkembangan
teknologi peralatan karena perkembangan di bidang
elektronika. Sehingga studio produksi analog sudah tidak
efektif lagi disamping bahan produksinya semakin langka
dan mahal. Tetapi juga masih banyak yang memanfaatkan
supaya peralatan yang sudah ada tidak terbuang begitu
saja.
Peralatan studio produksi program analog terdiri dari
mixer/switcher video, sumber video seperti VTR, VCR,
VCD/DVD player; VTR/VCR untuk perekaman master; TV
monitor; mixer audio, sumber audio seperti mic, tape deck,
equalizer, amplifier, PH, tape recorder, speaker, headpon
dan sebagainya.
Peralatan produksi program digital terdiri dari beberapa
unit komputer yang sudah dihubungkan dalam satu jaringan
(LAN). Satu unit komputer digunakan untuk editing, yang
lain untuk disain animasi grafis dan yang lain lagi untuk
keperluan capturing serta untuk menyimpan file-file
program pendukung seperti musik, sound efek dan program
yang sudah jadi. Di samping itu juga terdapat peralatan
sumber video seperti VTR/VCR dari beberapa jenis, mixer
video,sound system, mic, headpon, speaker, printer dan
sebagainya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

191

a. Komputer editing

b. Peralatan editing

c. Ruang editing

Gambar 68. Ruang produksi/editing program dan peralatannya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

192

e. Ruang Ganti /make up. Ruang ini juga sangat diperlukan


untuk membuat obyek tetap tampil menarik sesuai disain.
Agar kualitas gambar yang dihasilkan tetap optimal dan
menarik, maka obyek atau artis harus di make up dan selalu
dijaga agar tidak memantulkan cahaya sewaktu dishoting
akibat banyak berkeringat.

Gambar 69. Ruang Tata busana dan Rias

f. Ruang pemancar. Adalah ruangan untuk menempatkan


perangkat pemancar TV. Ruangan ini berisi cabin-cabin
peralatan elektronik pemancar dan penerima sinyal
frekuensi gelombang TV dengan maupun gelombang mikro
dari dan ke satelit. Selanjutnya dipancarkan ke masyarakat
melalui peralatan pemancar dan antena yang dipasang di
tower yang berada di luar studio.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

193

Gambar 65. Tower, antene parabola dan Ruang Pemancar

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

194

g. Ruang Properti: Tempat pembuatan sarana pendukung


untuk seting tempat/ruang sehingga sesuai dengan situasi
dan kondisi yang diharapkan oleh naskah produksi TV.
Tempat ini digunakan untuk merancang dekorasi,
pembuatan lukisan untuk background, pembuatan miniatur,
maket dan sebagainya.
h. Auditorium. Ruangan ini digunakan untuk berbagai acara
seperti panggung musik, kesenian/budaya, lawak, talkshow
interaktif dan acara-acara life lain yang akan melibatkan
banyak artis maupun penonton/peserta.
Peralatan yang dipasang di ruangan ini diantaranya sound
sistem, genset, lampu spot dan tata lampu panggung, lcd
monitor layar lebar, dan set peralatan rekaman video.
Ruangan ini biasanya lantainya didesain bagian belakang
lebih tinggi, agar penonton yang berada dibelakang bisa
menyaksikan panggung dengan jelas tidak terhalang
penonton di depannya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

195

Gambar 66. Ruang Auditorium / Pertunjukan

i. Ruang Sidang/Rapat. Ruangan ini digunakan untuk


pertemuan, rapat koordinasi, diskusi dan sebagainya.
Biasanya terdapat beberapa ruang jenis ini dengan ukuran
yang bervariasi. Peralatan yang ada ditempat ini
diantaranya meja, kursi, laptop, lcd proyektor, layer dan
sound system. Seting tempat duduk dapat diatur berubahubah sesuai dengan selera/ menurut kebutuhan.

Gambar 72. Ruang Sidang / Pertemuan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

196

j. Ruang Discotique/Perpustakaan. Ruangan ini sebagai


tempat penyimpanan perangkat lunak seperti kaset video
hasil shoting sebagai bank gambar, kaset / tape / CD hasil
produksi program dan musik lagu,instrumental, sound efek
dan sebagainya yang disusun rapi
dengan penomeran
khusus, sehingga
memudahkan pencarian. Disamping
software (perangkat lunak) juga untuk menyimpan arsip
naskah program, buku-buku referensi dan sebagainya.
Ruangan ini dilengkapi dengan computer untuk keperluan
administrasi dan juga disediakan hardware(perangkat keras)
untuk memutar ulang program serta ruang baca.

a. CD/DVD software

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

197

b. Buku referensi

c. Arsip-arsip

Gambar 73. Semua Jenis software/program dan buku referensi


disimpan di perpustakaan

k. Ruang Gudang / Peralatan. Ruangan ini digunakan untuk


menyimpan berbagai peralatan stasiun siaran TV dengan
tujuan agar dapat diadministrasikan dengan baik. Peralatanperalatan tersebut diantaranya kamera, lampu, tripot,
kabel-kabel TV monitor, mixer video, sound sistem dan
peralatan lain yang tidak dipasang tetap. Peralatan ini biasa
digunakan untuk shoting outdoor. Apabila peralatan
tersebut mau digunakan dapat dipinjam di gudang dengan
mekanisme yang telah ditetapkan yaitu mengisi formulir
peminjaman alat. Setelah selesai digunakan peralatan
tersebut dikembalikan kepada petugas gudang. Oleh
petugas gudang dicatat dan dicek apakah ada yang rusak
atau dalam keadaan baik. Peralatan yang rusak dikirim
kebagian perbaikan/bengkel.
l. Ruang

Bengkel. Ruangan ini digunakan oleh petugas


perawatan dan perbaikan peralatan untuk menangani
peralatan-peralatan yang rusak untuk diperbaiki.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

198

Gambar 74. Ruang Bengkel/Perbaikan Alat

m. Ruang Humas dan Marketing. Ruangan ditempati oleh


manager dan staf bagian humas dan pemasaran untuk
merencanakan dan menjual program siaran kepada
masyarakat pengusaha melalui pemasangan iklan.
n. Ruang Sekretariat. Ruangan ini merupakan ruangan kantor
yang ditempati oleh pimpinan dan staf sekretariat untuk

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

199

melaksanakan kegiatan administrasi perusahaan penyiaran


TV.
o. Ruang Manager.
Merupakan
ruangan kantor
yang
ditempati
oleh
para manager untuk melaksanakan
tugasnya memanage perusahaan penyiaran TV
2. Peralatan Studio TV dan Fungsinya
Pada ruang studio siaran terdapat beberapa peralatan
sebagai berikut.
a. Kamera studio yang dilengkapi tripot dan dolly / craine.
Kamera berfungsi untuk menangkap gambar/visual dari
obyek. Biasanya telah dilengkapi micropon untuk
menangkap suara didepan kamera. Kamera juga dilengkapi
dengan VCR untuk merekam gambar dan suara dari obyek.
Tripot berfungsi sebagai penyangga kamera agar tidak
goyang. Craine digunakan sebagai pengangkat kamera
apabila diperlukan posisi dengan sudut pengambilan (engle)
yang tinggi. Craine bisa digerakkan secara elektric sehingga
meringankan beban kamerawan. Di samping kamera yang
dipasang tetap di studio biasanya juga terdapat beberapa
kamera portable yang juga berfungsi untuk pengambilan
gambar dan suara.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

200

Gambar 75. Berbagai Jenis Kamera Video/TV dan Crane

b. Lampu studio yang dipasang tetap dan lampu portable yang


dilengkapi dengan stand lampu. Lampu berfungsi untuk
penerangan agar cahaya yang mengenai obyek mencukupi
untuk memenuhi kebutuhan kamera, sehingga dapat
diperoleh gambar yang berkualitas/jelas. Lampu studio yang
di pasang tetap pada plafon diatas arena shoting jumlahnya
lebih dari 10 lampu dan arahnya diatur sehingga mengarah
pada obyek. Pengaturan lampu dilakukan oleh seorang
operator penata cahaya. Sedangkan lampu portabel yang
dilengkapi tripot/stand digunakan bila dirasa intensitas
cahayanya masih kurang. Setiap lampu biasanya memiliki
daya 1000 -1500 watt. Semua lampu dihubungkan ke sumber
listrik melalui switcher box dan switcher utama dengan
menggunakan kabel listrik dan pengaman.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

201

Gambar 76. Lampu Studio yang dipasang tetap di plafon dan


lampu stand

c. Switcher box lampu. Terdiri dari kumpulan switch


(skakelar) lampu yang masing-masing berfungsi untuk
menyalakan dan mematikan lampu studio. Switcher box
dihubungkan ke sumber listrik melalui panel sekering
pengaman otomatis/MCB ke switcher utama jenis handle.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

202

MCB
DARI LAMPU

P
L
N

SWITCH
HANDLE

Gambar 77. Box sakelar lampu studio

d. TV monitor. Berfungsi sebagai display kamera untuk


memonitor hasil pengambilan gambar setiap kamera
sehingga bisa diketahui kualitasnya agar dipilih sutradara
untuk direkam di master VTR. Oleh karena itu
Setiap
kamera dipasang
satu monitor. Master VTR juga
membutuhkan dipasang satu monitor untuk mengetahui
gambar dari kamera mana yang sedang direkam di VTR.
Pemilihan gambar dilaksanakan oleh switcherman dengan
memilih menggunakan mixer Video yang telah dilengkapi
dengan vasilitas switcer. Perpindahan gambar dari kamera
satu ke kamera yang lain menggunakan mode wiper
sehingga perpindahan atau transisi dari gambar tidak
jumping dan halus. Transisi ada beberapa mode seperti
super inpose, wip horisontal, vertikal, diagonal dan
sebagainya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

203

Gambar 78. Televisi Monitor

e. Mixer/Switcher video. Digunakan untuk menerima masukan


dari setiap kamera yang digunakan untuk shoting dan
meneruskan ke VTR untuk direkam. Alat ini jjuga berfungsi
untuk memilih gambar dari kamera mana yang akan direkam
ke VTR. Dan efek-efek apa yang akan dipilih dan digunakan
sebagai transisi perpindahan gambar dari kamera yang satu
ke kamera yang lain oleh sitcherman atas perintah
sutradara.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

204

Gambar 79. Mixer Video/switcher Video

f. VTR (video tape recorder) / VCR (video cassette


recorder). Digunakan untuk merekam gambar dan suara
obyek yang dishoting. VTR menerima masukan gambar dari
mixer video dan masukan suara dari mixer audio atau
langsung dari micropone yang dipasang pada obyek shoting.
Keluaran dari VTR dihubungkan ke pesawat pemancar yang
ada diruang pemancar untuk dipancarkan sebagai siaran
langsung atau direkam dulu pada pita magnetis, diedit dan
dijadikan dalam bentuk kaset atau keping VCD/DVD program
untuk siaran tunda/tidak langsung.

Gambar 80. Video Tape Recorder (VTR) dan


Video Casette Recorder Umatic

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

205

g. Sound system yang terdiri dari mic, mixer audio, equalizer,


amplifier, speaker,
headpone, tape recorder/cassette
recorder, piringan hitam, CD/DVD player dan sebagainya.
Sound sistem digunakan untuk keperluan talk back
komunikasi antara kamerawan dengan sutradara/pengarah
dalam rangka koordinasi, pemberian instruksi oleh pengarah
kepada kamerawan.Talkback juga disalurkan ke ruang-ruang
lain seperti ruang telecine untuk koordinasi pemutaran film,
slide dan sebagainya. Sound sistem juga berfungsi sebagai
sumber suara utama dan pendukung program. Suara utama
adalah suara obyek shoting dan suara pendukung adalah
sebagai sumber suara untuk backsound musik, sound efex
dan sebagainya. Microphone untuk menangkap suara dan
diubah menjadi elektris dan disalurkan ke mixer audio.dari
mixer disalurkan ke qualizer. Pada mixer dan equalizer
suara bisa diolah nadanya sehingga kualitas suaranya baik.
Selanjutnya keluarannya disalurkan ke amplifier untuk
diperkuat dan keluaranya disalurkan ke tape recorder untuk
direkam atau langsung ke Video Tape Recorder (VTR).

Gambar 81.

Peralatan Sound system dan sumber-sumber audio


(PU, tape recorder dan mikropon).

h. Telecine yang terdiri proyektor film 8 mm, 16 mm, 35 mm,


70 mm, screen, dan pengarah proyeksi, kamera video, tv
monitor. Telecine berfungsi untuk mengubah dari bentuk

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

206

film ke video sehingga dapat disiarkan ke masyarakat


melalui pemancar TV

Gambar 82.

Studio Telesine, tempat transfer film ke

video

i. Komputer editing. Yaitu komputer yang berisi program


aplikasi untuk keperluan editing program dan animasi
seperti program pinacle studio, matrox, adob premiier dan
sebagainya. Sebagai komputer editing video perlu memiliki
memori yang besar demikian pula kapasitas hard disk yang
besar pula untuk menyimpan data-data gambar yang cukup
banyak. Biasanya terdapat beberapa komputer untuk
keperluan editing video yaitu untuk animasi disain tampilan
screen, caption dan karya grafis lainnya. Beberapa
komputer tersebut dikoneksi pada satu jaringan untuk
keperluan komunikasi data.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

207

Gambar 83. Komputer editing program TV/Video

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

208

3. Skema sambungan dan proses kerjanya


a. Studio televisi

Gambar 84.

Sistem sambungan peralatan studio TV

Proses kerjanya adalah sebagai berikut.


Obyek shoting misalnya acara kesenian tari, dishot
menggunakan dua buah kamera video yaitu kamera 1 dan
kamera dua. Pengambilan obyek dilakukan oleh kamerawan
atas instruksi pengarah/sutradara yang berada di ruang
pengendali, melalui talkback sound system yang disalurkan
ke headphone pada setiap kamera. Dengan demikian tidak
ada pengambilan yang sama. Dari kamera 1 maupun kamera
2 hasil pengambilan gambarnya disalurkan ke TV monitor 1
dan TV monitor 2 serta disalurkan ke mixer video yang
sudah dilengkapi dengan fasilitas switcher dan wiper
transisi. Dengan demikian pengarah dapat melihat hasil
pengambilan gambar melalui TV monitor yang diset di ruang
pengendali. Suara dari obyek shoting dapat ditangkap oleh
micropon yang dipasang khusus atau menggunakan fasilitas
micropon pada kamera. Suara disalurkan langsung ke VTR
atau dapat juga melalui mixer audio. Pengarah memilih
gambar yang akan direkam di VTR secara bergantian antara
kamera 1 dan kamera 2 pergantian gambar dan pemilihan
transisi
dilakukan
oleh
operator
atas
perintah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

209

pengarah/sutradara. Pada waktu kamera 1 dipilih, kamera 2


diberi instruksi untuk pengambilan gambar berikutnya
dengan engle maupun komposisi yang berbeda. Gambar
yang dipilih disalurkan ke VTR untuk direkam. Gambar yang
direkam dapat dilihat pada monitor master. Demikian
seterusnya sampai rekaman selesai. Apabila rekaman
tersebut langsung disiarkan (on air) maka disamping
disalurkan ke VTR untuk direkam gambar dan suara
disalurkan kepesawat pemancar TV yang ada di ruang
pemancar. Oleh pemancar sinyal suara dipancarkan oleh
antena yang berada di tower antene dengan frekuensi
pembawa gelombang mikro ke statiun bumi. Oleh stasiun
bumi dipancarkan ke satelit komunikasi dan oleh satelit
dipancarkan kembali kebumi dan diterima oleh stasiun
bumi-stasiun bumi diseluruh wilayah jangkauan satelit. Oleh
stasiun bumi dipancarkan kemabli ke stasiun relay dan oleh
stasiun relai dipancarkan ke masyarakat pemirsa di rumah
masing-masing.
Sumber informasi penyiaran tidak hanya acara langsung
tetapi bisa dilakukan siaran tunda, maupun siaran dari
bahan yang sudah jadi seperti sinetron, film dan program
siaran iklan/promosi. Dengan demikian sumber informasinya
bisa bermacam-macan seperti telecine, VTR/VCR, komputer
untuk menayangkan VCD/DVD atau menggunakan VCD/DVD
player. Dari VTR/VCR atau dari telecine dan sumber yang
lainnya, output video dan audio disalurkan langsung ke
video input dan audio input pesawat mixer dan oleh mixer
melalui output video dan audio disalurkan ke VTR atau
langsung ke pemancar .
b. Sound System

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

210

Gambar 85. Sistem sambungan peralatan sound sistem

Proses kerja Sound Sistem adalah sebagai berikut


Suara obyek shoting ditangkap oleh micropon yang
dipasang di arena shoting disalurkan dengan kabel koaksial
ke pesawat mixer audio. Setelah diolah oleh lalu disalurkan
ke VTR/VCR bersama-sama dengan sinyal video yang
dikeluarkan oleh mixer video untuk direkam. Atau langsung
disalurkan ke pesawat pemancar untuk disiarkan bersama
dengan sinyal videonya.
Suara dari sumber suara yang lain seperti musik dari
piringan hitam yang diputar pada pick up atau dari CD
player yang dimaksudkan sebagai musik back sound,
disalurkan ke mixer dan dicampur dengan suara obyek
shoting selanjutnya disalurkan ke VTR/VCR untuk direkam
atau langsung dikirim ke pemancar untuk disiarkan secara
langsung.
Saat ini telah dipakai komputer yang berfungsi sebagai
sumber suara maupun sebagai alat penyimpan suara
(recorder). Dengan menggunakan komputer pekerjaan
menjadi lebih ringan dan mudah, karena komputer
dilengkapi dengan sistem pencari yang dapat memanggil
dengan cepat file suara yang dibutuhkan. Demikian pula
dengan komputer dapat mengedit dengan mudah dan teliti.
Untuk keperluan koordinasi bagi sutradara/pengarah
terhadap kamerawan, operator telecine yang berada di
ruang studio telecine, digunakan talk back sound yang
diperoleh dari micropon sutradara disalurkan ke amplifier
dan keluarannya disalurkan ke headpon yang dipakai oleh
kamerawan dan operator telecine. Sistem komunikasi ini
searah
karena
sifatnya
adalah
instruksi
dari
sutradara/pengarah kepada kamerawan maupun operator.
Oleh karena itu kamerawan dan operator tidak dilengkapi
dengan
micropon
untuk
komunikasi
dengan
sutradara/pengarah.
c. Telecine. Adalah singkatan dari telecinema atau film yang

disiarkan jarak jauh. Telecine mengerjakan transfer data


dari film ke bentuk video digital dan disalurkan ke studio
pemancar untuk dipancarkan ke masyarakat. Transfer data
ini dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak
langsung. Transfer data secara tidak langsung dilakukan
dengan cara pemutaran film dengan proyektor, tayangannya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

211

direkam menggunakan kamera video dan disalurkan ke VTR


atau komputer untuk disimpan dan sewaktu-waktu
diperlukan dapat dipanggil disalurkan ke pemancar untuk
disiarkan.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

212

Gambar 86. Sistem sambungan dan proses kerja Telesine

Proses kerjanya adalah sebagai berikut:


Telecine adalah berfungsi untuk mengubah film
menjadi video. Film yang diputar dengan proyektor film
menghasilkan gambar proyeksi yang berupa cahaya. Dengan
demikian tidak bisa disiarkan melalui pesawat pemancar
karena sifat atau bentuknya bukan elektrik. Oleh karena itu
perlu diubah dahulu menjadi elektrik yaitu menjadi sinyal
video.
Pengubahan menjadi sinyal video dilakukan dengan
cara mengambil/ shot gambar hasil proyeksi dari proyektor
film yang berada di layar/screen dengan kamera video dan
disalurkan ke VTR/VCR untuk direkam. Sinyal suaranya
mengambil dari keluaran audio out proyektor film dan
disalurkan ke VTR/VCR. Hal ini untuk menghindari gangguan
suara berisik dari proyektor film.
Proses proyeksi gambar oleh proyektor film kelayar
dapat dilakukan dengan menggunakan telecine box atau
menggunakan layar pada umumnya seperti di gedung
bioskop. Dalam hal ini dapat diperhatikan dua model
transfer film ke video pada gambar di atas. Kamera video
diletakkan sejajar dengan proyektor film untuk mengambil
gambar proyeksiny di layar. Sinyal suaranya diambil secara
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

213

langsung dari proyektor dan disalurkan ke perekam


videodan audio. Perekam video bisa bermacam-macam yaitu
VTR/VCR, komputer, DVD/VCD recorder atau peralatan
perekam video yang lain.
E.

Organisasi dan SDM


1. Struktur Organisasi
Salah satu model gambaran umum Struktur organisasi
lembaga penyiaran TV dapat diperhatikan Gb. 87 berikut ini.
Model struktur organisasi sangat tergantung dari bagaimana
lembaga itu merencanakan dan mengelolanya. Oleh karena itu
bentuk strukturnya sangat relatip.

MANAGER
STASIUN

MANAGER
PROGRAM

MANAGER
TEKNIK

Jurnalis

Broadcast

Animasi
&image

Kamerawan
Sound Sistem

Produksi
Producer
Directing
Scene
Editing

MANAGER
MISCELLANEOU
S

MANAGER
BISNIS DAN
PEMASARAN

Costume &
Make up

Administra
si

Properties
Setting

Pemasaran
Keuangan

Lighting

Keamanan &
Kesehatan
Spesial efek

Gambar 87. Struktur Organisasi Stasiun Penyiaran TV (tipikal)

Stasiun penyiaran TV dipimpin oleh seorang manager


stasiun (SM). Untuk
melaksanakan tugasnya dibantu oleh

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

214

menager bidang penyiaran yaitu manager program (PM),


manager teknik (TM), manager miscellaneous (MM) dan
manager bisnis dan pemasaran (BM).
Seorang manager program dibantu oleh asisten manager
program dan membawai koordinator-koordinator sub bidang
program seperti koordinator jurnalis penyiaran (BJ),
koordinator animasi dan image (AI), koordinator produksi (PR),
koordinator directing/ pengarah (DR), koordinator scene dan
seni (SC), koordinator naskah/writing (WR), koordinator editing
(ED) dan koordinator management produksi/producer (PM).
Selanjutnya setiap koordinator membawai staf/tenaga sesuai
dengan bidang kerja masing-masing.
Seorang manager bidang teknik/enginering (ENG) dibantu
oleh asisten manager teknik dan membawai koordinatorkoordinator sub bidang seperti koordinator penyiaran/broadcast
(BR), koordinator camera (CA), koordinator Sound(SO) dan
koordinator lighting (LG). Masing masing koordinator sub
bidang
mengkoordinir
tenaga/staf
sesuai
dengan
pekerjaan/bidang kerja masing-masing.
Seorang manager bidang miscellaneous (MIS) dibantu oleh
asisten manager bidang miscellaneous dan membawai
koordinator sub bidang costum dan make up (CM), koordinator
properties (PO), koordinator setting (ST), dan koordinator
keselamatan kerja dan kesehatan/ safety and health (SH).
Setiap koordinator mengkoordinir staf/tenaga sesuai dengan
bidang kerja masing-masing.
Seorang manager bidang bisnis dan pemasaran / penjualan
(BS) dibantu oleh asisten manager bidang bisnis dan penjualan
yang membawahi koordinator sub bidang administrasi (AD),
koordinator pemasaran / marketing (MK) dan koordinator
keuangan / accounting (AC). Masing-masing koordinator
mengkoordinir staf/tenaga sesuaibidang kerja masing-masing.
Struktur organisasi ini adalah tipikal, maksudnya setiap
perusahaan penyiaran mempunyai tipe dan sistem sendirisendiri.
2. Deskripsi Tugas dan fungsi.
a. Stasiun Manager. Merupakan pimpinan tertinggi pada stasiun
penyiaran TV. Berfungsi sebagai Manager/pengelola stasiun
penyiaran TV dengan tugas mengelola yaitu merencanakan
program kerja dan pengembangan, mengorganisasikan,
mengarahkan, mengkoordinasikan, mengadakan pengawasan
dan mengkomunikasikan kegiatan kerja, melakukan
pembinaan SDM sehingga para karyawan bekerja dengan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

215

tepat, efektif dan efisien serta memiliki produktivitas kerja


yang tinggi.
b. Manager bidang. Berfungsi sebagai pimpinan bidang yang
bertugas membantu manager stasiun penyiaran dalam
mengelola perusahaan penyiaran TV sesuai bidang kerja
masing-masing.
Bidang program meliputi pekerjaan yang berkaitan dengan
perencanaan dan pelaksanaan produksi jurnalisme
penyiaran, animasi dan pengolahan gambar, produksi
program siaran, penyutradaraan, penulisan naskah, dan
managemen produksi. Bidang enginering/teknik meliputi
pekerjaan yang berkaitan dengan perencanaan dan
pelaksanaan program teknik penyiaran/broadcast, sarana
dan fasilitas serta peralatan penyiaran, teknik pengambilan
gambar/shoting, penataan suara, sound efek, musik dan
spesial efek serta penataan cahaya untuk shoting di dalam
maupun di luar studio.
Bidang Miscellaneous meliputi pekerjaan yang berkaitan
dengan pemilihan kostum dan make up yaitu penataan
busana dan rias untuk pemeran, properti atau penyediaan
peralatan pendukung produksi, setting atau penataan
tempat dan tata letak termasuk penataan peralatannya,
serta bidang kerja yang berkaitan dengan keselamatan dan
kesehatan kerja.
Bidang bisnis dan penjualan program meliputi pekerjaan
yang berkaitan dengan administrasi, pemasaran program
dan keuangan perusahaan.
c. Koordinator sub bidang berfungsi sebagai koordinator yang
mengkoordinir kegiatan kerja yang dilakukan oleh
staf/tenaga kerja sesuai dengan bidang pekerjaan masingmasing.

F.

Kualifikasi SDM TV
1. Producer
Producer adalah jabatan yang memiliki tanggung jawab
dalam pengelolaan/managemen produksi penyiaran TV. Oleh
karena itu seorang producer diharapkan memiliki kualifikasi
kemampuan sebagai berikut.
a. Menjabarkan naskah
b. Mengkompilasi jadwal produksi harian (running sheet)
c. Memesan dan mengkoordinasikan sumber-sumber produksi
d. Melakukan survey lokasi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

216

Mengatur jalannya shoting


Mengatur lokasi shoting
Melaksanakan pengarahan/briefing
Merencanakan dan mengkoordinasikan jalur pascaproduksi
Mengkoordinasikan kelangsungan kerja
Mengkoordinasikan pemeran dan kru
Mengatur gladi bersih
Memproduksi topik program prarekam
Memproduksi program prarekam
Memproduksi siaran langsung
Merencanakan dan menyiapkan program
Merancang format program
Mendata jadwal acara
Menulis laporan kelancaran produksi
Mengatur pengamanan produksi
Mengawasi kelangsungan produksi
Merencanakan dan mengkoordinasikan adegan laga dan
pemeran pengganti
v. Merencanakan dan mengkoordinasikan pemakaian alat-alat
yang berbahaya
w. Mengembangkan dan mengawasi jadwal program.
Bila diperhatikan dari kualifikasi yang diharapkan,
seorang producer harus memiliki kemampuan managerial yang
tinggi untuk dapat memanage seluruh pekerjaan yang menjadi
tanggung-jawabnya. Dalam melakukan tugasnya jelas tidak bisa
melakukan sendiri, tetapi harus bekerjasama dengan
bidang/orang lain. Dalam hal ini Sutradara merupakan
orang/pekerja yang tidak bisa dikesampingkan tetapi harus bisa
diajak bekerjasama dalam produksi.
Tugas utama seorang producer, harus dapat memproduksi
sebuah naskah program yang ditulis oleh penulis naskah dengan
baik dan berkualitas dengan biaya yang wajar/murah secara
ekonomi. Oleh karena itu bersama Sutradara dan Penulis naskah
seorang Producer harus selalu berkoordinasi dalam membaca
dan menginterpretasikan naskah. Bagaimanah naskah tersebut
dapat diterjemahkan menjadi naskah yang dapat diproduksi
dengan tingkat kesulitan dan biaya yang wajar.
Demikian pula untuk penetapan lokasi. Survey lokasi
harus dilakukan dan harus dibicarakan dengan penulis naskah,
apakah lokasi telah sesuai dengan yang dikehendaki naskah.
Apakah diperlukan penataan/seting tambahan, apakah
sepenuhnya seting buatan yang akan banyak melibatkan fungsi
seorang settingman dan penata gambar maupun bagian
property.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.
u.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

217

Jadwal shoting/produksi harus direncanakan dan


dituangkan dalam runing sheet, dengan urutan shoting
berdasarkan area lokasi bukan urutan cerita. Hal ini untuk
tujuan efisiensi biaya.
Penetapan artis/pemeran juga perlu dikoordinasikan agar
mendapatkan pemeran yang memiliki karakteristik yang
diharapkan naskah termasuk kemampuan actingnya.
Koordinasi, briefing kepada seluruh komponen yang
terkait dalam seluruh kegiatan produksi sangat penting untuk
menjaga kelancaran produksi. Oleh karena itu harus selalu
dilakukan sebelum kegiatan produksi dimulai. Pengamanan
produksi termasuk menjaga keselamatan artis dalam
pelaksanaan shoting saangat penting. Oleh karena itu pada laga
yang berbahaya perlu ada pemeran pengganti dan mengambil
langkah-langkah preventip agar tidak terjadi kecelakaan.
Setelah kegiatan shoting selesai producer selanjutnya
berkoordinasi mengatur kegiatan editing sampai menghasilkan
hasil produksi yang siap dipublikasikan melalui pemancar TV.
Producer dalam hal ini juga harus merencanakan format
program siarannya.
2. Pengarah / Sutradara
Pengarah / Sutradara juga dikenal sebagai Directing
adalah jabatan yang bertanggung jawab membantu producer
untuk melaksanakan pekerjaan mengarahkan para tenaga kerja
produksi program agar berjalan dengan lancar dan berhasil.
Oleh karena itu dibutuhkan orang yang memiliki kemampuan
managerial yang baik. Kualifikasi kemampuan seorang sutradara
yang diharapkan adalah sebagai berikut.
a. Membaca dan menginterpretasikan naskah
b. Mengatur proses seleksi pemeran/artis
c. Mengatur latihan pemeran
d. Menyutradarai/mengarahkan para pemain
e. Mengarahkan kru
f. Bekerjasama dengan penyunting/penulis naskah untuk
menyelesaikan produksi
g. Menentukan cakupan kamera
Seorang sutradara harus selalu berkoordinasi dengan
produser
dalam
melaksanakan
tugasnya.
Diantaranya
bagaimana menterjemahkan naskah menjadi naskah yang dapat
diproduksi, melakukan seleksi artis, mengatur latihan para
artis, mengarahkan proses shoting , menentukan cakupan
kamera dan sudut pengambilan gambar dansebagainya.
Sutradara akan sangat menentukan kelancaran proses shoting.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

218

3. Penyiar /Reporter
Penyiar/reporter
diharapkan
memiliki
kemampuan
sebagai jurnalis di samping kemampuan untuk membaca kan/atau menyiarkan naskah berita didepan kamera TV.
Demikian juga harus mampu menjadi presenter yang baik. Oleh
karena itu seorang penyiar harus memiliki pengetahuan dan
pengalaman mencari, mengolah dan mempresentasikan atau
menyiarkan berita/informasi.
Kualifikasi kemampuan seorang penyiar adalah sebagai
berikut:
a. Mengembangkan dan memelihara pengetahuan umum yang
diperlukan seorang penyiar sehingga memiliki wawasan yang
luas.
b. Mampu menjalankan wawancara
c. Mampu menjalankan siaran laporan langsung
Sebenarnya terdapat perbedaan fungsi antara penyiar dan
reporter. Reporter atau sering disebut wartawan
lebih
berkonsentrasi pada pencarian, pengolahan informasi.
Sedangkan penyiar lebih berkonsentrasi dalam bagaimana
menyajikan informasi. Seorang penyiar juga kadang-kadang
disebut sebagai announcer yaitu orang yang memberitahukan
informasi. Informasi tersebut belum tentu dari hasil tulisannya
sendiri tetapi tulisan seorang reporter. Tetapi bukan hal yang
tidak mungkin penyiar juga berfungsi sebagai reporter yang
harus mencari dan mengolah informasi sekaligus membacakan
informasi
didepan
kamera
TV
untuk
disiarkan
ke
publik/pemirsa. Dengan demikian antara reporter dan penyiar
memiliki kedekatan dalam pekerjaan yang kadang-kadang bisa
ditangani satu orang. Di samping kedua tugas reporter dan
penyiar/announcer ada juga orang yang bertugas sebagai
pengantar informasi/laporan yaitu disebut dengan presenter.
Presenter bisa membuat informasi menjadi lebih menarik
dengan sedikit kata-kata yang memukau penonton. Presenter
biasanya nampak dalam tayangan pada awal disela-sela dan
diakhir program. Apabila yang tersiar hanya suara saja tanpa
gambar dirinya, dan gambar yang muncul hanya gambar
informasinya saja, maka orang yang membacakan informasi
tersebut disebut narator (orang yang membacakan narasi). Ada
juga orang yang tugasnya mirip dengan penyiar yaitu seorang
anchor atau telangkai yaitu seorang yang bertugas sebagai
penghubung dari acara yang satu ke acara yang lain atau dari
tempat kejadian/lokasi informasi yang satu ke tempat lain. Ia
boleh memberi komentar acara yang diinformasikan asalkan ia
tahu benar tentang informasi tersebut. Dalam melakukan tugas

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

219

seorang reporter selalu bekerjasama dengan kamerawan yaitu


orang yang bertugas meliput informasi. Bukan hal yang mustahil
seorang kamerawanpun bisa berfungsi sebagai reporter, karena
pengalamannya selalu meliput berita, sehingga tahu
pengetahuan-pengetahuan yang harus dikuasai oleh reporter.
4. Kamerawan
Kamerawan merupakan orang yang diandalkan mampu
mengoperasikan kamera sehingga didapatkan hasil gambar yang
baik. Oleh karena itu seorang kamerawan diharapkan memiliki
kualifikasi sebagai berikut
a. Menyiapkan dan mengoperasikan kamera
b. Mengembangkan dan menerapkan kamera plan
c. Melakukan shoting dan mengoperasikan kamera
d. Mengoperasikan kamera pada kondisi tertentu
e. Mengatur Focus
f. Shoting untuk televisi dengan multikamera
g. Menjaga daya batere dan persediaan video untuk shoting
h. Mengatur persediaan dan memasang film/kaset
i. Memeriksa kamera sebelum shoting
j. Mengoperasikan clapperboard
k. Menyiapkan kamera
l. Memasang kabel kamera
m. Memasang crane dan dolly
n. Memasang crane kamera
o. Mengoperasikan crane kamera yang bergerak
Baik tidaknya kualitas produksi akan sangat tergantung
dari bagaimana seorang kamerawan bekerja. Sebelum shoting
dilaksanakan, Kamerawan harus meyiapkan kamera yang akan
dipakai, dibersihkan lensanya dan head video dan audionya,
diujicoba dengan memasukkan cassete/film apakah bisa loading
dengan lancar, untuk record dan playback, mengatur focus
dengan memutar focus ringnya apakah gambar yang diambil
bisa focus dengan baik. Demikian pula menyiapkan bahan
cassete/film apakah masih cukup tersedia, adakah bahan
cadangan bila sewaktu-waktu cassete/film habis atau macet.
Menyiapkan peralatan pendukung juga sangat penting.
Misalnya apakah bateray sudah diisi, adakah bateray cadangan.
Generator Set yang akan dipakai apakah bisa berjalan normal.
Menyiapkan dolly, tripot. Bagaimana kelengkapan
skrupnya, pelumasan pada bagian yang bergerak agar licin dan
tidak menimbulkan efek getar pada gambar bila digunakan.
Apakah diperlukan crane untuk pengambilan engel tertentu,
apakah diperlukan crane yang digerakkan dengan mesin. Semua
peralatan tersebut perlu dicoba oleh camerawan agar

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

220

pelaksanaan shoting lancar dan tidak ada hambatan. Disamping


itu camerawan harus kreatif agar dapat mengembangkan
camera plan dengan baik.
5. Penata Gambar / Artistik (Scene)
Seorang penata gambar/scene diharapkan memiliki
kreatifitas yang tinggi untuk menciptakan desain seni untuk
screen. Oleh karena itu
seorang scane art dibutuhkan
kualifikasi kemampuan sebagai berikut.
a. Mengembangkan dan mengimplementasikan disain scenic art
pada screen/layar.
b. Mengkoordinasikan produksi scenic art
c. Menyiapkan scenic art untuk pakaian utama
d. Memproduksi scenic art untuk screen
e. Memperbaiki, menangani dan mengubah scenic art
Pekerjaan seorang penata gambar juga terkait dengan
pekerjaan penata cahaya, penata letak/setting penata
busana/make up dan bagian property. Kerjasama beberapa
bidang ini akan sangat baik dalam menciptakan gambar layar
yang baik, sehingga akan dihasilkan gambar sesuai yang
diharapkan
naskah.
Karena
lokasi
shoting
berbeda
karakteristiknya maka juga memerlukan desain yang berbeda
pula. Apakah dibutuhkan tambahan animasi pada gambar
tertentu sehingga diperlukan seorang animator untuk membuat
efek gambar untuk membuat hasil yang lebih meyakinkan dan
menarik. Kadang-kadang produk scenic perlu diubah ataupun
diperbaiki, maka tim kerja penata gambar harus selalu siap
melaksanakan.
Memproduksi scenic art untuk layar.
Dengan
kemampuan yang dimiliki penata gambar/scenic art bertugas
untuk memproduksi scenic art untuk layar, diantaranya adalah
membuat konstruksi pakaian scenic art, mempersiapkan
produksi scenic art, membuat atau produksi scenic art untuk
layar, memperbaiki elemen pada scenic art, membuat properti
untuk layar kaca, dan memperbaiki properti.
Membuat konstruksi pakaian scenic art harus
memperhatikan karakter dan bentuk postur pemakainya,
karakter peran yang dibawakan, jenis dan tekstur bahan yang
digunakan tidak banyak memantulkan cahaya, ciri budaya
peran, perpaduan warna dan sebagainya sehingga dikonstruksi
dan dipakai akan menjadi produk gambar yang menarik dan
berkualitas. Apabila hal tersebut telah difahami, langkah
selanjutnya adalah membuat disain konstruksi dan hasilnya
dikonsultasikan kepada produser/ sutradara atau pihak terkait

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

221

untuk dimintakan persetujuan. Setelah disetujui baru


dilanjutkan pada langkah produksi.
Mempersiapkan produksi scenic art. Yang perlu
dipersiapkan sebelum produksi adalah disain yang telah
disetujui, bahan-bahan yang digunakan, peralatan untuk
produksi dan tenaga-tenaga yang melaksanakan produksi serta
biaya yang diperlukan. Jadwal pelaksanaan produksi juga
merupakan hal yang penting. Kapan akan dimulai dan kapan
harus selesai, karena dituntut batas waktu.
Membuat scenic art. Yang penting dilakukan adalah
koordinasi dengan tenaga yang melaksanakan, pengarahan,
pengawasan dan komunikasi yang baik berbagai pihak terkait
akan membantu pembuatan scenic art berjalan efektip dan
efisien.
Memperbaiki elemen pada scenic art. Kadang-kadang
setelah digunakan terdapat elemen-elemen yang hilang atau
rusak, maka perlu di perbaiki/ diganti dan dikonstruksi kembali
sehingga menjadi utuh dan baik kembali.
Membuat properti untuk layar. Kebutuhan properti
untuk layar perlu diidentifikasi oleh bagian penata
gambar/scenik art. Setelah kebutuhan properti teridentifikasi,
selanjutnya pembuatannya dikoordinasikan dengan bagian
properti.
Bagian
properti
membuat
sendiri
atau
memesan/menyewa, yang penting segala kebutuhan produksi
dapat disediakan.
Memperbaiki properti. Dalam proses produksi kadangkadang properti menjadi rusak atau kurang baik, maka harus
diperbaiki sebelum digunakan pada shot berikutnya.
6. Penata suara dan Sound efex
Seorang penata suara dan sound efex dituntut memiliki
kemampuan secara teknik dan instalasi peralatan sound sistem
yang diperlukan untuk keperluan produksi program TV di dalam
studio rekaman maupun di luar studio. Oleh karena itu seorang
penata suara dan sound efek diharapkan memiliki kualifikasi
sebagai berikut.
a. Mengoperasikan sistem penguat suara
b. Memadukan sumber-sumber suara
c. Menghilangkan derau/noise pada soundtrack
d. Mengoperasikan sound mixing console
e. Menyunting suara menggunakan sistem digital
f. Memasang, mengoperasikan dan membongkar perangkat
perekam suara portable
g. Merinci soundtrack

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

222

h. Menciptakan keharmonisan suara akhir


i. Mengembangkan dan menerapkan produksi suara untuk
rekaman
j. Mengatur produksi disain suara
k. Mempersiapkan dan mengkompilasi musik untuk soundtrack
l. Mengarahkan pembuatan master audio final
m. Menerapkan disain suara
n. Menetapkan spesifikasi sound system
o. Mengawasi operasional yang bersifat teknis
p. Memperbaiki dan memelihara peralatan audio
q. Mengoperasikan peralatan audio profesional.
r. Memadukan audio untuk siaran langsung
s. Menerapkan pengetahuan umum audio untuk kegiatan kerja
t. Memilih dan mengatur microphone dan alat input audio
lainnya
u. Menghimpun dan mengkompilasi materi suara ulangan
v. Membangun dan mengoperasikan sistem monitor suara
panggung
w. Membangun dan mengoperasikan jaringan pengendali sistem
audio
x. Menetapkan spesifikasi, menginstal dan mengoperasikan
audio outdoor
y. Menginstal, menyelaraskan dan menguji coba peralatan
audio.
7. Penata Lampu/Lighting.
Lighting sangat dibutuhkan dalam shoting di dalam
maupun di luar studio untuk memenuhi kebutuhan cahaya bagi
sebuah kamera agar menghasilkan gambar yang baik, di
samping itu variasi disain cahaya dapat menciptakan situasi
pada obyek shoting. Oleh karena itu perlu kreativitas dan
pengetahuan yang memadai bagi seorang penata cahaya.
Kualifikasi kemampuan seorang penata cahaya yang diharapkan
adalah sebagai berikut.
a. Melakukan pengembangan dan implementasi tata lampu /
lighting
b. Melakukan persiapan, instalasi dan monitoring peralatan
tata lampu
c. Menentukan kebutuhan tata lampu dan mengoperasikan tata
lampu
d. Mengoperasikan lighting console
e. Melakukan pemeliharaan, perbaikan dan memodifikasi
peralatan tata lampu

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

223

8. Tata Letak / Setting


Tata letak/setting bertanggungjawab atas seting tempat
dan peralatan yang diperlukan seperti forniture dan
perlengkapan lainnya
untuk menciptakan situasi seperti
diharapkan oleh naskah produksi. Oleh karena itu seorang
penata setting diharapkan memiliki kemampuan dalam seni
dekorasi/tata ruang. Kualifikasi penata setting diharapkan
memiliki kemampuan sebagai berikut.
a. Mengembangkan dan mengimplementasikan disain setting
pada layar
b. Mengkoordinasikan produksi seting
c. Membuat setting untuk layar
d. Memperbaiki, merawat dan mengubah setting sebagai
langkah alternatif
e. Mengkoordinasikan transportasi dan pemasangan setting
f. Memasang dan merawat setting selama proses produksi.
Bagian Setting/tata letak harus membuat disain setting
untuk setiap shot termasuk setting untuk layar. Yang harus
dilakukan dalam membuat setting untuk layar adalah membuat
konstruksi setting, memasang setting selama produksi, dan
mengatur setting selama produksi. Yang perlu diperhatikan
dalam setting adalah tersedianya materi setting. Oleh karena
itu
materi
setting
harus
tersedia
sebelum
proses
shoting/produksi dimulai. Hal ini akan membuat kelancaran
produksi karena shoting tidak akan dimulai sebelum pekerjaan
setting siap/selesai.
Merawat setting selama proses produksi adalah tugas
bagian setting dalam menjaga agar setting tetap dalam keadaan
baik dan siap pakai. Misalnya menjaga barang-barang setting
dari noda dan kotoran, dilakukan dengan membersihkan debu
dan menghilangkan noda-noda yang menempel dengan cara dan
bahan yang benar; memperbaiki bagian/item dari barangbarang setting yang rusak atau kurang pas; membuat alternatif
perubahan dengan barang-barang keperluan setting dengan
barang-barang yang sejenis.
Memasang
dan
membongkar
setting.
Produksi
dilaksanakan dilokasi yang berpindah-pindah. Oleh karena itu
bagian setting harus siap memasang sebelum shoting di lokasi
tertentu dimulai. Dan harus siap membongkar setelah shoting
selesai. Dalam pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati,
karena barang-barang setting masih dapat dipergunakan sebagai
materi setting di lokasi yang lain. Setelah dibongkar dilanjutkan
untuk pengepakan barang-barang setting agar tidak rusak

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

224

karena pengangkutan dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain.


Pengangkutan dapat menggunakan transportasi yang telah
disepakati dan harus memperhatikan agar peralatan yang
diangkut aman dan tidak rusak.
9. Tata Busana (kostum) dan Rias
Pemeran/artis dalam proses produksi harus dijaga
penampilannya sesuai dengan karakter yang diharapkan penulis
naskah. Di samping itu agar
menghasilkan gambar yang
berkualitas maka harus dijaga bagian wajah tidak memantulkan
cahaya karena keringat atau berminyak.
Oleh karena itu
seorang penata busana
dan rias
diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut.
a. Mengembangkan dan mengimplementasikan disain kostum/
busana
b. Menyiapkan kostum untuk para pemeran
c. Memodifikasi, memperbaiki dan memelihara kostum
d. Mengoperasikan off side wardrobe departemen
e. Memperagakan kostum
f. Membuat karakter dan periode kostum
g. Menjaga ketahanan kostum
h. Membuat kostum
i. Mendisain, menerapkan dan membersihkan make up khusus
periodik
j. Mendisain, menerapkan dan membersihkan make up
k. Mempertahankan keberlangsungan make up.
10. Properties
Properties adalah bidang yang bertanggungjawab
menyedia kan peralatan pendukung dalam produksi. Seseorang
yang menangani bidang properties ini diharapkan memiliki
kualifikasi kemampuan sebagai berikut.
a. Mengembangkan dan menerapkan disain properties untuk
layar
b. Mengatur produksi properties untuk peralatan
c. Membuat properti untuk layar kaca
d. Memperbaiki, memelihara dan melakukan perubahan pada
properti
e. Mengoperasikan departemen properties di luar lokasi
f. Menyiapkan
lokasi
pengambilan
gambar
dan
mempertahankan kelangsung-an properti.
11. Keselamatan dan kesehatan kerja (savety and health)
Bidang ini yang bertanggung jawab menjaga keselamatan
kerja dan kesehatan bagi pemeran dan kru yang terlibat dalam

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

225

produksi. Oleh karena itu, seseorang yang bertugas pada bidang


ini harus selalu melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap
kru produksi dan pemeran agar melakukan tugas pekerjaan
sesuai dengan prosedur kerja yang benar/ tidak menyimpang
dengan prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja;
Sehingga mereka bekerja dengan aman baik jiwa maupun
peralatannya.
12. Animator dan Images
Seorang animator and images bertanggungjawab atas
disain dan pembuatan animasi dan pengolahan citra gambar
yang diperlukan dalam produksi. Oleh karena itu dituntut
memiliki kemampuan membuat disain animasi dan mengolah
gambar sehingga hasil produksi memiliki kualitas yang baik dan
menarik untuk dipandang.Untuk itu seorang animator dan
pengolah citra perlu menguasai disain grafis. Secara rinci
kualifikasi kemampuan yang diharapkan sebagai animator dan
pengolah gambar adalah sebagai berikut.
a. Mengembangkan dan mengimplementasikan disain animasi
b. Mengkoordinasikan produksi animasi
c. Memproduksi storyboard animasi
d. Mempersiapkan dan mewarnai cel atau frame untuk animasi
e. Membuat artwork dari referensi Life action
f. Merekam data gambar garis untuk animasi (line test)
g. Memproduksi dan memanipulasi data gambar digital
h. Membuat gambar tiga dimensi
i. Mengembangkan dan mengimplementasikan sebuah disain
efek visual
j. Membuat judul untuk produksi dalam screen
13. Editor
Editor bertanggung jawab untuk editing program yaitu
mengumpulkan, memilih, memotong , menyambung gambargambar hasil shoting dan mengurutkan, menata gambar dan
suara, musik backsound, sound efect sesuai dengan naskah
program sehingga menghasilkan hasil produksi program yang
berkualitas tidak jumping dan enak dinikmati. Oleh karena itu
seorang editor diharapkan memiliki kemampuan dan keahlian
yang memadai. Demikian pula juga harus memiliki ketahanan
fisik yang baik, karena dituntut bekerja keras untuk
menyelesaikan
pekerjaannya.
Secara
rinci
kualifikasi
kemampuan seorang editor adalah sebagai berikut.
a. Membuat perencanaan kreatif dan keputusan teknis
b. Mempersiapkan peralatan editing

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

226

c. Mengoperasikan peralatan mesin editing


d. Mengoperasikan mesin editing dengan sistem linier berbasis
digital
e. Mempersiapkan EDL (editing decision list) dalam proses
editing on line
f. Mengedit material hasil pengambilan gambar untuk
kebutuhan penyiaran yang mendesak
g. Mengedit dialog dan suara
14. Penulis Naskah/Script
Seorang penulis naskah diharapkan memiliki kemampuan
menulis (writen presentation) yang baik untuk menuangkan ideidenya, memiliki kemampuan dan pengetahuan produksi
program, jurnalistik penyiaran dan sebagainya sehingga naskah
yang ditulis mudah dipahami dan dapat diproduksi dengan
mudah dan cepat. Secara rinci kualifikasi kemampuan yang
diharapkan dari penulis naskah adalah sebagai berikut.
a. Mengembangkan tulisan/cerita
b. Menulis script
c. Mengedit script
d. Menulis materi presentasi
e. Menulis isi tulisan atau teks
f. Menulis laporan siaran berita
g. Menulis sekuen interktif untuk multimedia
h. Menulis narasi
15. Spesial efect
Spesial efect atau efek khusus sangat diperlukan untuk
keperluan penekanan-penekanan terutama pada adegan yang
sulitdilakukan dan berbahaya. Agar nampak seperti dalam
kejadian yang sesungguhnya maka diperlukan efek khusus ini.
Oleh karena itu tenaga yang menangani refek khusus ini perlu
memiliki kemampuan dan kreativitas untuk menciptakan efekefek khusus untuk keperluan produksi program. Kualifikasi dan
kemampuan yang diharapkan bagi tenaga efek khusus adalah
sebagai berikut.
a. Mengembangkan dan mengimplementasikan disain efek
husus untuk layar
b. Mengkoordinasikan penciptaan efek-efek khusus (special
effect)
c. Menciptakan efek khusus untuk layar
d. Memperbaiki, memelihara dan mengubah efek khusus
e. Mengkoordinir transportasi dan perakitan efek khusus
f. Merakit dan memelihara efek khusus dalam masa produksi
g. Mengeksekusi efek khusus dengan aman

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

227

16. Pemeran / Artis


Pemeran atau artis diharapkan berkepribadian menarik,
memiliki ketahanan fisik yang baik, sesuai dengan karakter yang
diperani, memiliki kemampuan akting, mampu bermain watak,
berbakat, mampu bermain teater/drama, Vokal yang bagus dan
memiliki keberanian, tidak mudah putus asa dan sebagainya.
Demikian juga harus memiliki pengetahuan yang luas,memiliki
pengetahuan dan keterampilan bermacam-macam seni serta
mampu menciptakan karya seni dan sebagainya. Dengan
demikian artis yaiti aktor dan aktris yang handal dan terkenal
akan menjadi seorang aktar/aktris sekan sekaligus menjadi
seorang seniman dan pencipta. Oleh karena itu dalam
perekrutan pemeran seorang produser perlu meadakan seleksi
yang cermat agar produser dapat memilih pemeran yang tepat
dan berbakat.
G. Teknik Siaran TV
1.

Teknik Siaran Langsung (on line)


Siaran langsung dapat dilakukan didalam studio maupun di
luar studio. Siaran di dalam studio misalnya siaran
acara/program talk show, dialog dan sebagainya. Siaran di luar
studio misalnya liputan acara yang sifatnya resmi misalnya
acara kenegaraan seperti upacara 17 Agustus, sidang pleno
DPR, pertandingan final olah raga piala sudirman dan
sebagainya. Proram- program siaran langsung biasanya sangat
ditentukan oleh waktu yang tidak dapat diubah dan pada saat
itu juga harus disiarkan ke publik. Berarti antara pengambilan
gambar/liputan dengan penyiarannya bersamaan. Jadi
editingnya dilaksanakan secara langsung (on line) pada studio
mini yang diset di lokasi acara berlangsung. Panduan editingnya
menggunakan urutan acara dan EDL (editing dicision list) yang
dibuat oleh editor. Liputan seperti ini biasanya berbentuk
laporan pandangan mata oleh reporter TV.
Teknik siaran langsung di dalam studio dapat dijelaskan
seperti gambar ilustrasi berikut ini.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

228

Kamera 1

arena

Pemancar

Headpo

Mic

R.Rekaman
Kamera 2

Lampu

Headpon

Studio TV

Gambar 88. Sistem Siaran TV langsung di dalam Studio

Personal yang terlibat dalam proses siaran dengan tugas


masing-masing adalah: pemeran/aktor, reporter sebagai obyek
shoting. Sebagai pelaksana produksi adalah: produser/asisten
produser, sutradara, asisten sutradara/ floor manager,
switcherman, VTR operator, sound operator, lighting operator,
kamerawan dan operator pemancar. Kegiatan siaran merupakan
kerja tim. Oleh karena itu dituntut kerjasama yang baik dan
serasi dalam bertugas.
Sedangkan teknik siaran langsung di luar studio dapat
dijelaskan seperti gambar ilustrasi berikut ini.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

229

Kamera 1

arena

Headpon

Mic

R.Rekaman

Kamera 2
Lampu

Headpon

Studio TV
mini

Pemancar

video
audio

MIXER AUDIO & VIDEO

VCR

Gambar 89. Sistem Siaran TV langsung diluar studio

2.

Teknik Siaran Tidak Langsung


Siaran tidak langsung terjadi antara pengambilan
gambar/liputan dengan penyiarannya ada tenggang waktu,
sehingga ada kesempatan menyiapkan program lebih baik
melalui proses editing. Dengan demikian liputan yang dilakukan
adalah pengambilan materi siaran yang selanjutnya dikirim ke
editor untuk dilakukan editing program.
Setelah rekaman program diedit dan sudah menjadi kaset
video program atau dalam bentuk lain, maka pada waktu akan
disiarkan kaset tersebut disiapkan di studio pengendali dan
diputar kembali. Keluaran audio dan videonya disalurkan ke
pesawat pemancar untuk dipancarkan melalui antena. Dari
antena dipancarkan dan diterima dan dipancarkan stasiun bumi
ke sateit lalu dipancarkan ke bumi kembali dan diterima stasiun
relay untuk dipancarkan ke rumah-rumah penduduk di
wilayahnya. Sebagai contoh rekaman program sinetrom, drama,
sepak bola yang siarannya ditunda, berita, kuis, dan
sebagainya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

230

Pemancar

video

audio

VCR

Gambar 90. Sistem siaran TV tidak langsung

3.

Prosedur Pengoperasian. Yang paling utama dari prosedur


pengoperasian adalah keruntutan dan kesinambungan dari
program siaran. Sehingga tidak sampai ada jeda gambar
tayangan yang disiarkan ke pemirsa. Suatu hal yang tidak baik
bila pemirsa disuguhi dengan frame kosong apalagi terus
muncul caption yang berbunyi maaf siaran terganggu karena
ada kesalahan teknis. Sungguh ini akan membuat penonton
tidak percaya, menilai kurang profesional dan sebagainya lalu
pindah pada stasiun pemancar yang lain yang berarti
meninggalkan stasiun itu.
Oleh karena itu program siaran harus sudah siap sebelum
waktu siaran dimulai. Untuk tayangan langsung mungkin lebih
mudah karena sifatnya hanya menayangkan acara yang sedang
berlangsung, sehingga tinggal membuat variasi gambar yang
ditayangkan. Hal ini diperlukan kecermatan bagi sutradara
untuk memilih gambar mana yang sesuai dari karya kamerawan
yang yang satu dengan yang lain atas instruksi sang sutradara
atau improvisasi kamerawan itu sendiri. Semua gambar yang
ditayangkan akan direkam di VTR sebagai arsip tayangan
program yang sewaktu-waktu bisa ditayangkan kembali atau

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

231

menjadi bahan untuk program pengembangan menjadi program


sajian baru yang lebih menarik. Setelah siap program tayangan
sutradara tinggal memberi perintah kepada operator pemancar
maupun switcher/VTR untuk on air. Setelah itu siaran harus
berlangsung tidak terputus dari program yang satu ke program
yang lain sampai pada akhir program ditutup oleh presenter
atau penyiar dan muncul gambar cue penutup dan musik tune
sebagai tanda pemancar segera off air.
4.

Menjaga daya bateray dan persediaan video.


Menjaga daya bateray sangat penting dalam pelaksanaan
shoting, baik shoting di luar studio maupun di dalam studio.
Apalagi pada shoting yang langsung disiarkan ke publik. Apabila
daya bateray tidak dijaga, maka akan terjadi drop tegangan
maupun arus listriknya sehingga akan berakibat tidak mampu
mensuplay energi listrik untuk keperluan peralatan elektronik
camera, mic yang menyebabkan peralatan tidak bekerja
normal. Hal ini akan berakibat mengganggu jalannya shoting
maupun siaran TV. Oleh karena itu bateray harus di
charg/disetrum sebelum kegiatan shoting dimulai sehingga
bateray telah dalam kondisi penuh/full. Di samping itu
menyediakan bateray cadangan sangat dianjurkan, agar
pelaksanaan shoting tidak terganggu karena bateraynya kosong.
Peralatan yang menggunakan bateray diantaranya adalah
camera dan mic. Mic yang bateraynya drop juga akan
mengganggu produksi suara. Suara akan menjadi tidak jelas
kualitasnya dan biasanya akan menimbulkan noise/derau. Oleh
karena itu cadangan bateray untuk mic juga sangat diperlukan
untuk kelancaran shoting/siaran TV.
Drop bateray pada camera bisa diatasi dengan
menyediakan genset, karena biasanya camera dilengkapi
dengan adaptor sehingga bisa bekerja dengan sumber listrik
dari genset maupun dari PLN.
Menjaga kebutuhan kaset video juga harus mendapat
perhatian, karena kekurangan stok kaset video juga akan
mengganggu pelaksanaan shoting. Akan mengakibatkan tidak
memiliki backup siaran ataupun dokumentasi karena tidak ada
bahan untuk merekam videonya. Oleh karena itu dalam
mempersiapkan
shoting
jangan
sampai
ketinggalan
menyediakan kaset video yang cukup. Sebelumnya semua kaset
video harus dicek apakah tidak ada yang macet karena lengket,
apakah tidak berjamur dan sebagainya. Pastikan semua
peralatan dan bahan ready for use.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

232

H. Program Siaran TV
1. Format Program Siaran Televisi
Ditinjau dari pendekatan produksinya Format program
siaran TV dapat dikategorikan menjadi dua yaitu karya artistik
dan karya jurnalistik. Karya artistik adalah program TV yang
diproduksi melalalui pendekatan artistik yang sangat
mengutamakan keindahan. Contoh jenis program artistik adalah
sebagai berikut.
a. Pendidikan/Agama : mimbar, monolog, khotbah dan
sebagainya
b. Hiburan : kuis, Video klip, drama, komedi, sinetron dan
sebagainya
c. Seni dan budaya : feature
d. Iklan / public service : spot komersial, spot layanan
masyarakat
e. Penerangan umum : Drama instruksional
f. IPTEK : dokumenter, kuis
Program jurnalistik diproduksi melalui pendekatan
jurnalistik yang sangat mengutamakan kecepatan dan aktualitas
informasi. Contoh jenis program jurnalistik adalah sebagai
berikut.
a. Berita aktual (news bulletin) merupakan program yang
sangat terikat dengan waktu siaran ( Time concern)
b. Berita non actual (news magazine) merupakan program yang
tidak begitu terikat dengan waktu siaran (timeless)
c. Penjelasan masalah hangat : dialog, wawancara, diskusi
panel
Monolog : pidato;
Siaran langsung : reportase, komentar, laporan
Perbandingan dari kedua jenis karya program TV tersebut
dapat dijelaskan melalui tabel berikut.
Tabel 6. Perbandingan format artistik dan jurnalistik

Karya Artistik
Sumber : ide/gagasan
Mengutamakan keindahan
Isi pesan, bisa fiksi dan
non fiksi
Penyajian tidak terikat
waktu
Sasaran: kepuasan
penonton

Sri Sartono

Karya Jurnalistik
Sumber: permasalahan hangat
Mengutamakan kecepatan dan
aktualitas
Isi pesan, harus aktual
Penyajian terikat waktu
Sasaran: kepercayaan dan
kepuasan penonton

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

233

Memenuhi rasa apresiasi


Improvisasi tak terbatas
Isi pesan terikat kode
moral
Penggunaan bahasa
bebas/ dramatis
Refleksi daya hayat kuat
Isi pesan tentang realitas
sosial.

2.

Memenuhi rasa ingin tahu


penonton
Improvisasi terbatas
Isi pesan terikat kode etik
Menggunakan bahasa jurnalistik
Ekonomis dalam bahasa dan kata
Refleksi penyajian kuat
Isi pesan realitas dan faktual

Jenis-jenis Program TV
Terdapat berbagai program tayangan TV yang selama ini
disiarkan oleh perusahaan penyiaran televisi adalah sebagai
berikut.
a. Program Seni dan Budaya. Program ini termasuk karya
artistik program televisi. Secara garis besar program seni
dan budaya dibedakan menjadi dua yaitu program seni
pertunjukan dan program seni pameran. Program seni
pertunjukan diantaranya seni musik, seni tari, pertunjukan
boneka. Seni musik misalnya konser, gamelan, jazz, klasik,
pergelaran musik daerah dan sebagainya. Seni tari misalnya
tari tradisional, tari daerah, tari modern dan sebagainya.
Seni pertunjukan boneka misalnya puppet show, si unyil,
wayang kulit, wayang golek dan sebagainya. Sedangkan yang
termasuk seni pameran misalnya adalah seni arsitektur, seni
kriya, seni lukis, seni instalasi, seni patung, seni rupa dan
sebagainya.
Seni pertunjukan dalam hal ini berkaitan seni budaya
pengemasannya tidak mudah. Seorang produser harus
memiliki pengetahuan tentang seluk beluk seni dan budaya
yang mau disajikan. Misalnya tentang asal-usulnya,
penciptanya, substansinya, dan bagian-bagian atau detail
tentang seni budaya tersebut. Akan lebih baik lagi bila yang
menjadi produser atau sutradaranya adalah orang seni
budaya itu sendiri. Misalnya seorang penari tradisional
menjadi sutradara dari pertunjukan tari yang akan
diproduksi. Agar pertunjukan seni budaya bisa menarik
pemirsa yang banyak perlu dikemas dan dipadukan secara
pop sehingga disenamgi banyak orang. Suatu bukti
keberhasilan ini misalnya ketoprak, drama tradisional jawa
tengah pernah mendapatkan rating yang tinggi ketika
dikemas secara pop dengan homor, lalu menjadi ketoprak

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

234

humor. Wayang kulit digabung dengan penyanyi pop,


kroncong maupun campursari dengan melibatkan para
selebritis terkenal juga banyak menarik pemirsa.
Seni pameran seperti yang pernah di produksi dan
ditayangkan adalah program seni arsitektur yaitu rumah
kita, atau rubrik unik. Memang belum banyak digarap oleh
produser karena takut rugi karena kurang menarik bagi
seponsor. Sebenarnya bila digarap dengan lebih profesional
dan mungkin bisa dipadukan dengan program lainnya seperti
drama, tari yang dimasuki informasi tentang seni lukis,
arsitek, patung dan sebagainya akan menjadi tayangan
yang menarik dan disenangi sehingga akan mendatangkan
profit karena seponsor mau mendanai.
b. Program Hiburan Pop. Program ini meliputi beberapa
macam program entertainment seperti lawak, musik pop,
mode show, atau perpaduan ketiga-tiganya. Program ini
dapat diseting di dalam studio maupun di luar studio yaitu
di gedung pertunjukan atau di lapangan.
Program hiburan lawak. Contoh program yang disenangi
saat ini adalah parodi yaitu jenis lawak intelektual yang
dikemas menjadi program republik mimpi. Dorce show, Vina
panduwinata show, Iwan Fals show dan sebagainya juga
merupakan program hiburan pop yang menarik. Program
lawak juga banyak yang dikemas dalam format interview.
Dalam hal ini wawancara hanya dipakai sarana untuk
memunculkan humor yang merangsang penonton untuk
tertawa karena lucu. Biasanya untuk lebih memberi
kemenarikan program ini dipadukan dengan selingan
penyanyi untuk memberikan intermezo dengan lagu atau
juga dialog. Program empat mata yang dipandu seorang
Tukul Arwana yang yang menjadi pusat lawakan ditambah
dengan program hiburan variatif dari pelawak lain, penyanyi
dan artis-artis yang lain merupakan suatu contoh program
hiburan yang menarik dan mendapatkan rating yang tinggi.
Program hiburan musik. Seperti musik dangdut sudah
menjadi primadona televisi. Bahkan telah dikemas format
program yang mengarahkan penyanyi yang tidak biasa/
senang dengan jenis musik ini mendadak menjadi penyanyi
dangdut dengan goyang pinggulnya yang aduh hai. Jenis
musik ini memang menjadi kesenangan masyarakat
menengah ke bawah (dulu) yang bertempat tinggal di
daerah pantai. Tetapi saat ini sudah berubah menjadi musik
rakyat dari segala kalangan, sehingga hiburan ini banyak
disukai dan memperoleh rating yang tinggi yang berarti

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

235

mendatangkan keuntungan bagi perusahaan penyiaran TV


melalui banyak sponsor komersial. Program musik jazz dan
klasik sebagai program seni dan budaya saat ini sedang
mencari format untuk mendapatkan penggemarnya. Lain
halnya musik pop dan dangdut dapat dikemas dengan
berbagai macam format karena memiliki karakter yang agak
bebas dan berbeda dengan musik klasik/jazz. Model
pertunjukannya bisa diseting di studio maupun diluar studio.
Kecantikan dan kepiawaian artis juga sangat dibutuhkan
untuk memuaskan penonton baik distudio maupun di rumah.
Oleh karena itu pengambilan gambar yang bervariasi sangat
penting dalam hal ini. Tayangan siaran dapat secara
langsung maupun tak langsung. Secara langsung berarti
tayangan programnya menjadi natural apa adanya seperti
saat itu terjadi. Tetapi untuk tayangan tidak langsung dapat
dilakukan editing dan diinsert materi/animasi untuk
menambah tayangan lebih menarik dan mampu memuaskan
penonton.
c. Program Talk show. Program ini juga dikenal program
wicara. Banyak format untuk mengemas program ini
diantaranya adalah vox-pop, kuis, interview, diskusi panel
dan sebagainya. Program ini banyak mengetengahkan
pembicaraan seseorang atau lebih tentang sesuatu yang
menarik, hangat dibicarakan masyarakat, tanya jawab
persoalan dengan hadiah dan sebagainya. Program uraian
pendek (the talk program) didahului munculnya seorang
presenter membicarakan sesuatu yang menarik untuk
membuka acara. Selanjutnya uraian disampaikan oleh
seorang pembicara dengan waktu yang pendek misal 2-5
menit. Dalam waktu tersebut bila hanya wajah pembicara
yang muncul, maka tayangan akan menjadi monoton dan
menjemukan. Oleh karena itu ditengah pemberian uraian
perlu ditayangkan gambar pengganti pembicara yang
merupakan ilustrasi yang sesuai dengan apa yang diuraikan.
Sehingga tayangan akan lebih menarik. Selajutnya ditutup
oleh presenter dengan merangkum/memberikan komentar
dan sekaligus menyampaikan acara selanjutnya setelah
tayangan iklan. Kadang-kadang seorang presenter juga
menjadi pembicara sendiri. Oleh karena itu presenter
dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang luas.
d. Program vox pop / suara masyarakat. Kata vox pop berasal
dari kata vox populi yang berarti suara masyarakat. Yaitu
program yang mengetengahkan pendapat umum tentang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

236

suatu masalah. Program ini dapat dipisahkan antara vox pop


sebagai program dengan vox pop sebagai penyelidikan.
Vox
pop
sebagai
program,
mengetaengahkan
serangkaian pendapat umum tentang suau masalah yang
sedang dibahas dalam program kepada penonton dengan
tujuan agar penonton mengetahui bermacam-macam
pendapat dari berbagai orang atau kelompok sehingga dapat
dikonfrontir dengan pendapatnya sendiri. Dengan cara ini
penonton diajak untuk berpikir dan mempertimbngkan atau
memilih pendapat mana yang sesuai dengan pendapatnya.
Dari pendapat-pendapat itu producer dapat menarik
kesimpulan dan mengetahui tanggapan masyarakat yang
sebenarnya terhadap masalah yang sedang dibahas. Vox pop
juga untuk menunjukkan bahwa masalah tersebut
merupakan masalah yang penuh kontradiksi. Dan masalah
yang pelik karena pendapat mereka bermacam-macam,
berarti sulit untuk dipecahkan.
Vox pop untuk penelitian dapat dipakai sebagai
masukan /feedback dalam proses komunikasi tentang suatu
masalah. Producer menggunakan berbagai pihak untuk
berpendapat tentang suatu masalah, sehingga terjadi
komunikasi dua arah secara wajar. Vox pop biasanya
menjadi bagian dari program lain meskipun bisa berdiri
sendiri. Yaitu menjadi bagian dari program feature atau
majalah udara. Sebagai bagian dari program lain program
vox pop harus menyesuaikan dengan tema program
utamanya.
e. Program Wawancara (interview). Program ini termasuk
the talk show program. Bentuk yang lain adalah diskusi
panel. Dalam pelaksanaannya dapat dilaksanakan di dalam
studio maupun diluar studio. Demikian pula dapat
dilaksanakan siaran secara langsung maupun tidak langsung.
Agar program ini tidak membosankan perlu dipersiapkan
dengan matang agar penonton juga memperoleh apa yang
diharapkan.
f.

Sri Sartono

Program diskusi panel. Program ini dikenal dengan


talkshow diskusi. Program ini tentunya tidak akan menarik
bila pengemasannya tidak baik. Akan menjadi program yang
membosankan penonton karena variasi gambarnya tidak
banyak ya tokoh itu saja dengan posisi yang sama duduk dan
berbicara. Hal ini bertentangan dengan prinsip program
audio visual yang memerluakan kreatifitas dan variasi
gambar sehingga tayangan menjadi hidup dinamis dan

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

237

menarik. Oleh karena itu perlu dipersiapkan format yang


luwes dan terpadu. Mungkin dapat dibuat interaktif
sehingga dapat ikut dalam acara diskusi tersebut.
Mendatangkan tokoh pro dan kontra sehingga dapat
menghidupkan suasana dan sebagainya. Presenter akan
bertindak sebagai moderator untuk mengatur pembicaraan
agar adil dan merata tidak didominasi seseorang pembicara
saja. Oleh karena itu presenter merupakan faktor penting
sehingga harus bisa memanage acara sehingga acara
berjalan lancar dan tuntas. Untuk itu dibutuhkan presenter
yang berpengalaman dan memiliki kemampuan dan
pengetahuan tentang masalah yang sedang dibahas.
g. Program berita (News). Merupakan program sajian berupa
fakta dan kejadian/peristiwa yang memiliki nilai berita
yaitu yang unusual, factual dan esensial dan disiarkan
melalui media secara periodik. Penyajian berita harus
obyektif, liputan gambar yang disajikan agar tidak membuat
shock tetapi obyektivitasnya harus dipertahankan. Namun
demikian subyektivitas dapat terjadi karena peliput, karena
penyusunan kalimat/bahasa yang digunakan dan kebijakan
stasiun penyiarnya yang memiliki kebijakan pemberitaan
(editorial policy). Kebijakan rekdaksi dapat menentukan
komposisi berita (newscast). Berdasarkan lingkup kawasan
menjadi berita nasional,internasional maupun regional.
Berdasarkan aspek kehidupan dapat menjadi berita
ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan.
Berdasarkan bidang khusus menjadi berita olah raga,
berita kewanitaan, dan pariwisata. Selanjutnya karakterkarakter tersebut disusun menjadi blok. Dan blok-blok
ditata menjadi urutan blok yang mempertimbangkan
perhatian penonton. Penyusunan materi berita sangat
bervariasi. Biasanya bagian yang aktual ditempatkan di
depan baru berita penting dan disusul bagian yang kurang
penting seperti tentang humanitas. Bagian humanitas ini
disampaikan dengan agak humoris yang berfungsi
mengendorkan syaraf penonton setelah menyaksikan
peristiwa yang menegangkan. Juga berfungsi sebagai
jembatan bagi acara berikutnya. Terdapat duamacam berita
yaitu berita yang terikat waktu (time concern) dan berita
yang tidak terikat waktu (timeless). Berita yang terikat
waktu diprogramkan menjadi berita harian dan yang tidak
terikat waktu disajikan secara berkala.
Berita Harian. Disebut juga dengan berita hangat (hot
news) adalah berita yang segera disampaikan ke

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

238

masyarakat. Memiliki corak terikat waktu, singkat dan


aktual. Berita hangat juga bersifat linier dan langsung
(stright news) misalnya program seputar indonesia,Topik,
Liputan 6. dalam hal ini tidak menampilkan opini dan
interpretasi reporter maupun tokoh. Disamping bentuk
berita harian tersebut dapat pula berbentuk pembahasan
mendalam (indept news), contohnya adalah program kupas
tuntas. Terdapat pula berita yang lunak (soft news) yang
memberitakan kejadian umum yang penting di masyarakat
misalnya berita tentang konferensi, seminar, pembangunan
daerah, kegiatan masyarakat dan human interest Berita
seperti ini tidak melibatkan tokoh masyarakat atau orang
terkenal.
Bentuk lain dari berita harian adalah hard news
(berita keras). Yaitu berita yang mengandung konflik dan
memberi sentuhan emosional serta melibatkan tokoh
terkenal. Yang termasuk dalam berita ini adalah berita yang
memiliki high political tetion, very unusual, dan
controversial.
Soft news juga bentuk lain dari berita harian. Yaitu
berita singkat dan penting tentang informasi kejadian.
Sebagai contoh adalah program sekilas info, yang
dijadwalkan setiap jam sebagai breaking news atau stop
press.
Berita berkala. Merupakan karya jurnalistik TV yang
tidak terikat waktu (timeless) sehingga memiliki
kemungkinan penyajian berita yang lebih lengkap dan
mendalam serta ditambah kan sentuhan artistik yang
membuat kemenarikan penonton. Berita berkala ini dapat
berbentuk feature, dokumenter, dan magazine.
Menulis Laporan Siaran Berita. Setelah Wartawan TV
meliput berita, sehingga berita telah didapatkan secara
lengkap, maka dapat dilanjutkan dengan klarifikasi berita
tersebut kepada sumber berita untuk recek kebenaran
berita. Selanjutnya diteruskan dengan langkah penulisan
laporan berita. Penulisan laporan berita disesuaikan dengan
format program yang dipilih untuk penyiarannya melalui
program TV. Apakah termasuk berita yang terikat waktu
atau berita yang tidak terikat waktu. Apabila termasuk
berita yang terikat waktu, maka dapat dimasukkan kedalam
berita harian. Sehingga penulisannya harus singkat dan
aktual linier dan langsung (Stright). Dapat pula dimasukkan
pada bentuk berita lunak (soft) kalau beritanya tentang
kejadian umum yang penting di masyarakat. Atau berita
yang dibahas mendalam (indepth). Apabila beritanya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

239

termasuk kategori yang tidak terikat waktu, maka


laporannya ditulis menjadi berita berkala. Dalam hal ini
dapat dipilih bentuk feature, dokumenter atau magazine.
Teknik penulisan laporan program berita dapat dibaca
kembali pada bab jurnalistik penyiaran TV yang telah
banyak dibahas di muka.
h. Program dokumenter.
Dalam program dokumenter
terkandung unsur nilai dan faktual. Faktual berarti nyata,
ada dan pernah terjadi. Nilai adalah esensial dan bermakna.
Suatu dokumen dapat berwujud kertas dengan tulisan atau
berkas-berkas seperti ijazah, catatan,surat penting dan juga
berwujud gamber, foto,film,video dari suatu peristiwa atau
kejadian dimasa lampau. Yang disebut memiliki dokumenter
adalah dokumen yang memiliki makna bagi suatu
lingkungan/daerah, sehingga yang dapat mengetahui apakah
dokumen itu memiliki nilai dokumenter adalah lingkungan
itu sendiri. Program dokumenter TV mengandung dua unsur
pokok yaitu gambar dan suara.
Unsur gambar terdiri dari antara lain:
1) Rangkaian kejadian : suatu peristiwa, kegiatan lembaga
2) Kepustakaan : potongan arsip, majalah atau mikrofilm
3) Pernyataan : Individu yang berbicara sadar didepan
kamera
4) Wawancara : pewawancara boleh kelihatan atau tidak
5) Foto still
: foto-foto bersejarah
6) Dokumen
: gambar, grafik, kartun
7) Pembicaraan : diskusi, atau pembicaraan sekelompok
orang
8) Layar kosong /silhouette : untuk memberi perhatian
pada sound atau silhouette karena pribadi yang
berbicara dibahayakan keselamatannya jadi perlu
dilindungi dengan memburamkan wajah biar tidak
nampak jelas.
1)
2)
3)
4)
5)

Sri Sartono

Unsur suara antara lain sebagai berikut.


Narasi/reporter
: dengan narator/reporter/voice
over
Synchronous sound : dengan suara apa adanya dalam
gambar yang direlay secara tersendiri, kemudian di
mix/dipersatukan.
Sound efect : suara-suara suasana dan latar belakang
Musik/lagu : harus diciptakan musik
Kosong/sepi : untuk memberi kesempatan penonton
memperhatikan secara detail.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

240

i.

Program Feature. Yaitu program yang membahas suatu


pokok bahasan, satu tema yang diungkapkan melalui
berbagai pandangan yang saling melengkapi, mengurai,
menyoroti secara kritis dan disajikan dalam berbagai
format. Satu feature dapat disajikan dengan merangkai
beberapa format program sekaligus. Misalnya dalam format
wawancara, show, vox pop, puisi, musik, sandiwara
singkat/fragmen. Dalam faeture, setiap format harus
membicarakan hal yang sama tetapi dari sudut pandang
yang berbeda agar tidak overlaping. Feature merupakan
gabungan dari unsur dokumenter, opini dan ekspresi. Karya
puisi, musik dan nyanyian merupakan ungkapan ekspresi
dari pokok bahasan yang disajikan namun nilai faktualnya
kurang dan hanya dipakai untuk menciptakan suasana.

j.

Program magazine (majalah). Program ini dikenal sebagai


majalah udara. Contohnya program Apresiasi Film dan
Spectrum. Seperti media cetak majalah udara terbit
mingguan, bulanan, tergantung dari kemauan produser.
Dalam majalah udara juga terdapat rubrik tetap yang berisi
bahasan-bahasan. Dengan demikian program ini mirip
dengan feature, bedanya kalau feature hanya memuat satu
bahasan yang disorot dalam berbagai format, tetapi kalau
majalah udara memuat satu bidang kehidupan seperti
wanita, film, pendidikan. Musik yang ditampilkan dalam
rubrik tetap disajikan dalam berbagai format. Contohnya
progra Gebyar dan Gelar, Karya dan Pencipta, Bintang Kita
dan sebagainya. Durasi program ini adalah berkisar dari 30
50 menit dan memuat 6-10 rubrik.

k. Program Spot. Adalah program untuk mempengaruhi dan


mendorong penonton TV untuk tujuan tertentu. Program ini
sangat pendek hanya memiliki durasi penayangan berkisar
antara 10 detik sampai 1,5 menit. Program spot merupakan
program spesifik yang diciptakan untuk kepentingan
tertentu, secara efektif dapat mencapai dan pesannya
dipahami penonton dalam waktu yang singkat. Terdapat
macam-macam program spot diantaranya spot komersial,
spot layanan masyarakat, spot sosial, spot propaganda
politik, dan sebagainya. Pengertian kebanyakan orang yang
namanya program spot adalah iklan promosi komersial yang
bertujuan menggiring penonton untuk membeli produk yang
ditawarkan.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

241

Program spot memiliki keunggulan dibanding program


lainnya yaitu
1) Dapat mencapai penonton yang banyak, karena tidak
membutuhkan waktu perhatian yang lama
2) Penonton dapat menerima pesan sebelum berubah
menjadi bosan
3) Dapat diulang beberapa kali dan mudah diingat
4) Ide yang singkat tetapi memiliki kekuatan yang besar
jika dikerjakan dengan baik dan hanya memuat satu
obyek
5) Mudah disisipkan diantara program sebagai selingan
karena waktunya singkat.
6) Biaya pembuatan relatif murah, namun spot komersial
dapat mendatangkan pemasukan dana yang besar.
Program spot digunakan untuk kepentingankepentingan sebagai berikut.
1) Memberitahukan kejadian penting yang akan disiarkan
(promo)
2) Memberitahukan tempat di mana mayarakat dapat
memperoleh
keterangan
tentang
sesuatu
yang
diperlukan (informasi)
3) Memberikan kritik ringan terhadap peritiwa, perbuatan,
dan hal lain di masyarakat agar masyarakat menyadari
hal itu (spot layanan masyarakat)
4) Meyakinkan masyarakat tentang kebenaran (religius
spot) atau pandangan tertentu tentang persoalan
mayarakat atau politik.
Ciri-ciri program spot adalah sebagai berikut
1) Sering diulang-ulang penayangannya, kadang-kadang
dapat mencapai penonton yang luas karena pengulangan
itu
2) Sering tidak ada hubungannya dengan program lain
ketika spot ditayangkan. Sering ditayangkan sebagai
selingan diantara program lain
3) Tidak ada kata pembukaan dan penutup, tetapi dengan
cara sederhana langsung menyampaikan pesan. Ditulis
dengan gaya penulisan cepat.
l.

Sri Sartono

Program Doku-drama. Merupakan kependekan dari program


drama dokumenter yaitu dokumenter yang dikemas dalam
bentuk drama. Suatu kejadian yang sudah lampau, faktual
ada peninggalan dan bekasnya, beberapa tokohnya masih
hidup didramakan kembali karena memiliki daya tarik atau

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

242

kejadian tersebut memiliki nilai. Program Video/TV


tersebut
disebut
doku-drama.
Tidak
sepenuhnya
dokumenter dan tidak sepenuhnya drama karena
mengandung kebenaran faktual. Materinya disebut faksi
yaitu gabungan antara fakta dan fiksi.
Tampilan programnya hampir sama dengan sinetron.
Perbedaannya doku-drama bertolak dari pengalaman atau
kejadian nyata, shotingnya juga mengambil lokasi tempat
yang sama dengan kejadian sesungguhnya. Di dalamnya
kadang dimasukkan adegan nyata yang diambil dari footages
dokumenter atau dokumen yang lain. Memproduksinya mirip
dengan produksi dokumenter, namun adegan masa lalu
boleh direkayasa.
Contoh program doku-drama misalnya film Anak
Seribu Pulau.
m. Program Sinetron. Adalah program film yang diproduksi
elektronik (sinema elektronik). Program ini di jaman TVRI
disebut drama Televisi atau teleplay atau sandiwara
televisi. Program sinetron penggarapannya hampir sama
dengan film layar putih. Demikian pula penulisan dan
format naskahnya. Naskah sinetron disebut juga skenario.
Perbedaan dengan film layar putih, sinetron pembuatannya
sudah menggunakan kamera elektronik dengan video tape
recorder sebagai perekam. Saat ini kamera sudah dilengkapi
dengan VCR untuk merekam gambar dan suara. Bahannya
pita magnetik didalam kaset. Penyajiannya dipancarkan dari
stasiun TV dan diterima dirumah-rumah dengan pesawat
penerima TV. Sedangkan film layar putih pengambilannya
menggunakan kamera optik, bahan filmnya seluloid dan
media penyajiannya menggunakan proyektor film dan layar
putih didalam gedung bioskop yang gelap. Pengambilan
gambarnya menggunakan engle lebar, sedangkan sinetron
menggunakan angle close shot.
TUGAS : Saksikan acara salah satu stasiun TV, Coba
identifikasi setiap jenis program yang ditayangkan dan
termasuk program yang mana menurut apa yang telah anda
pada buku ini. Buat laporan kepada Pembimbing/Guru

I.

Merencanakan Jadwal Siaran TV


Merencanakan jadwal siaran sangat terkait dengan program
yang telah direncanakan. Program apakah yang direncanakan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

243

disiarkan setiap hari atau menjadi program harian. Program apakah


yang direncanakan ditayangkan setiap minggu, atau menjadi
program mingguan. Dan seterusnya menjadi program tayangan
bulanan, triwulanan dan sebagainya. Untuk merencanakan jadwal
harian, mingguan maupun bulanan juga terkait suatu konsekuensi
bahwa program yang akan ditayangkan harus sudah siap diproduksi
sebelum waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu jadwal
siaran juga menjadi panduan produksi program. Produksi program
juga diklasifikasikan untuk program singkat/harian dan program
yang berkala/mingguan atau bulanan.
Dalam merencanakan jadwal perlu langkah identifikasi
program khususnya durasi/ lama putar setiap program, ditayangkan
setiap hari, sehari berapa kali, waktu tayang pagi, siang atau
malam, ada program lanjutan atau lepas/berdiri sendiri dan
sebagainya. Perencana jadwal juga harus tahu berapa jam waktu
yang tersedia mulai pembukaan (on air) sampai penutupan (off
air). Berapa lama waktu untuk tayangan program dan berapa waktu
yang disediakan untuk spot komersial dan layanan masyarakat.
Disamping itu juga harus diketahui seponsor setiap program, untuk
penempatan tayangan spot komersialnya.
Setelah langkah identifikasi dan menghasilkan kelompokkelompok data langkah selanjutnya menyusun/menempatkan setiap
program pada format jadwal yang berisi bulan, hari, tanggal, jam,
program dan sebagainya. Contoh format jadwal adalah sebagai
berikut.

Tabel 7. Format Jadwal Acara Siaran TV


Program dan
Jam tayang
05.00-05.15

Kamis,
01-11-07
Tune pembuka

Jumat
02-11-07
Tune pembuka

Sabtu
03-11-07
Tune pembuka

05.15-05.30

...................

...................

...................

05.30-05.05

Spot x,y,z

..

...

dan
seterusnya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

244

Contoh jadwal Siaran TV salah satu stasiun penyiaran TV


swasta adalah sebagai berikut:
Tabel 8. ACARA TV Jumat tgl.5 Oktober 2007
Metro TV

07.05
07.30
08.05
08.30
09.35
10.05
11.05
11.30
12.05
13.05
14.05
14.30
15.05
15.30
16.05
16.30
17.05
18.05
19.05
19.30
20.05
21.05
21.30
22.05
23.05
23.30

Sri Sartono

Trans TV

Indonesia This
Morning
Metro Xin Wen
Sport Corner
The Breakfast Club
Market Review
Oprah Winfrey Show
Showbiz On Location
Box Office America
Metro Siang
Absolut 20/20
Archipelago
Public Corner
Bisnis Hari Ini
World News
Tajuk RAMADAN
Khasanah Religi
Nusantara
Ensiklopedia
Alquran
Metro Hari Ini
Suara Anda
Satu Jiwa
Gebyar Wisata
Nusantara
Top Nine News
Expedition
Open House
Republik
Mimpi
Metro Sport
Metro malam

07.00
07.30
08.00
08.30
09.30
10.30
11.00
11.45
12.30
13.30
14.00
14.30
15.00
15.30
16.00
16.30
17.00
19.00
21.00
21.30
23.30

Insert Pagi
Cerita Pagi
Ngelenong Nyok
Good Morning
Dorce Show
Kejamnya Dunia
Insert
Jelang Siang
Ceriwis
Sisi Lain
Wisata Koliner
Surat Sahabat
Jelajah
Kroscek
Reportase Sore
Insert Sore
Menuju Surgamu
Legenda
Ketupat Ramadan
Taking Lifes
Reportase Malam

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

245

J.

Perpustakaan Audio Visual


1. Pustaka Program. Pustaka program adalah berbagai program
hasil produksi sendiri maupun dari hasil pembelian dalam
bentuk kaset, tape,cd, film dan sebagainya yang telah atau
akan disiarkan perlu diadministrasikan dan disimpan dengan
baik di dalam ruang perpustakaan audio visual. Biasanya hasil
produksi program (master) digandakan beberapa copy kebentuk
sesuai dengan perangkat playernya. Perpustakaan mendapat
satu copy dengan informasi yang lengkap seperti judul,
ditayangkan hari tanggal tahun jam dan durasinya, termasuk
artis dan kerabat kerjanya sehingga menjadi media yang
informatif. Data tersebut dibukukan dan diberi nomor dan
didaftar pada katalog, sehingga akan lebih memudahkan
pencarian bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Berikut ini contoh
berbagai program yang disimpan di perpustakaan.
Audio musik

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

246

Gambar 91. Perpustakaan/discotic Program TV

2. Pustaka Musik dan Sound Efek. Disamping hasil produksi, untuk


keperluan produksi diperlukan materi pendukung berbagai
musik untuk backsound maupun sound efek. Oleh karena itu
perpustakaan perlu melengkapi pustaka musik berbagai jenis
seperti musik tradisional, klasik, jazz, pop dan sebagainya.
Atau musik hasil ciptaan sendiri (penata suara) dan musik-musik
yang pernah digunakan untuk mendukung produksi program
perlu penyimpanan dan pengadministrasian dengan baik.
Biasanya jenis musik yang digunakan dalam produksi adalah
jenis instrumentalia. Demikian pula berbagai jenis sound efek
seperti suara angin, hujan, petir, berbagai suara binatang,
suara orang berjalan, membuka pintu, tepuk tangan dan
sebagainya, perpustakaan perlu memiliki koleksi sehingga
memudahkan bila sewaktu-waktu producer membutuhkan.
3. Bank Gambar. Yang dimaksud dengan bank gambar adalah
kumpulan dari materi produksi hasil shoting. Setelah produksi
selesai maka gambar-gambar hasil shoting dikumpulkan dan
diberi identitas dan informasi yang lengkap. Gambar-gambar ini
bermanfaat untuk produksi revisi ataupun bisa dimanfaatkan
untuk memproduksi program baru dengan tinjauan maupun
tema yang berbeda. Disamping disimpan untuk keperluan
arsip/dokumen yang kemungkinan sewaktu-waktu diperlukan.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

247

Gambar 92. Tempat penyimpanan Stock Shot/Bank gambar

4. Buku referensi. Buku-buku referensi juga sangat diperlukan


terutama para produser dan penulis naskah untuk
merencanakan suatu program. Oleh karena itu perpustakaan
perlu memiliki koleksi buku referensi yang lengkap, untuk
mempermudah
produser
dan
penulis
naskah
dalam
mendapatkan buku acuan atas naskah yang dibuatnya.

Gambar 93. Perpustakaan/ buku referensi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

248

K.

Produksi Program TV
Produksi program TV memerlukan pemikiran serius dari
seorang produser, karena produser adalah orang yang paling
bertanggung jawab atas produksi program. Terdapat beberapa hal
yang harus dipikirkan atau direncanakan oleh seorang producer
untuk produksi program TV yaitu : materi produksi, sarana produksi
(equipment), biaya produksi (financial), organisasi pelaksana
produksi, dan tahapan pelaksanaan produksi.
Materi Produksi adalah apasaja yang mampu menggugah ide
seperti kejadian, peristiwa, pengalaman, karyacipta, binatang,
hutan dan sebagainya. Seorang producer akan tersentuh pikirannya
dan akan merangsang untuk beride untuk menciptakan sesuatu
program Tv. Ide atau gagasan tersebut diubah menjadi tema
program dokumenter atau sinetron atau program yang lainnya. Dari
tema muncullah konsep program tersebut diwujudkan menjadi
sinopsis yang
menceriterakan kejadian secara singkat tetapi
menyeluruh. Dari sinopsis dibuat treatment yang memuat langkahlangkah pelaksanaan perwujudan gagasan menjadi suatu program.
Dari treatment diciptakan/ditulis naskah/script atau langsung
diproduksi. Sebenarnya dari treatment telah nampak apakah
program yang akan dibuat bermutu/berbobot atau tidak. Oleh
karena itu perlu penyempurnaan konsep program sehingga
menghasilkan naskah program yang baik. Kriteria program yang
baik menurut NHK adalah: Kesatuan antara gagasan dan kebenaran,
Kesatuan antara kemampuan daya cipta dan kemampuan teknis,
relevan untuk setiap masa, memiliki tujuan yang jelas dan luhur,
mendorong kemauan belajar dan mengetahui, mereduksi nafsu dan
kekerasan, keaslian, menyajikan nilai-nilai universal,menyajikan
suatu yang baru dalam gagasan format dansajian, serta memiliki
kekuatan mendorong perubahan yang positip.
Program yang akan diproduksi dikelompokkan menjadi dua
yaitu program adlib yaitu program yang diproduksi tanpa/tidak
perlu menggunakan naskah karena tidak mungkin ditulis dan
produksi program sistim bloking yaitu produksi program yang
menggunakan naskah/script. Contoh progaram yang tanpa naskah
seperti wawancara, talkshow secara langsung dan mungkin seorang
pelawak tidak mungkin/sulit untuk menghafalkan naskah.
1. Sarana, Biaya, Organisasi dan Tahapan Pelaksanaan Produksi
a. Sarana (Peralatan dan bahan) Produksi
Peralatan produksi program TV dikelompok peralatan
utama yaitu : peralatan perekam gambar, perekam suara
dan peralatan pencahayaan. Peralatan produksi di dalam
studio sudah dipasang/diinstal tetap di dalam ruang studio

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

249

pengambilan gambar/shoting dan ruang pengendali.


Peralatan-peralatan tersebut adalah sebagai berikut.
Peralatan yang ada di arena shoting yaitu :
1) Kamera TV/Video sebanyak 2 4 buah
2) Perlengkapan Kamera : Tripot, dolly, headpon, kabel
kamera
3) Lampu : Lampu studio, lampu stand, lampu spot
4) Micropon
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Peralatan di ruang pengendali yaitu :


Mixer Video
Switcher Video
VTR atau VCR
Mixer audio, amplifier, tape dack, equalizer, Speaker
headpon
Switcher lampu studio
Peralatan Sumber Video : VCD/DVD Player,
VTR/Telecine
Sumber audio : computer, Pick Up (turntable),
Tape/kaset recorder

Peralatan-peralatan
tersebut
adalah
yang
diperlukan untuk produksi di dalam studio. Biasanya sudah
dipasang/ diinstal tetap. Untuk keperluan produksi di luar
studio biasanya menggunakan peralatan yang portable
karena mudah dibawa ke mana-mana. Pada prinsipnya
peralalatan yang digunakan untuk produksi/shoting di luar
studio adalah sama dengan di dalam studio.
Bahan Produksi adalah material perangkat lunak yang
dipakai produksi. Misalnya tape/kaset video dari berbagai
jenis sesuai dengan peralatan /kamera yang digunakan;
kaset/tape audio; bolam lampu sesuai dengan jenis lampu
yang digunakan; bateray sesuai dengan jenis peralatan yang
menggunakan bateray, CDR/CDRW dan sebagainya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

250

Gambar 94. Bahan-bahan Produksi: Tape, Kaset analog dan digital, CDR

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

251

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

252

Gambar 95. Peralatan-peralatan produksi program TV

Pertimbangan
jenis
dan
banyaknya
peralatan
tergantung format program yang akan diproduksi, apakah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

253

akan/bisa diproduksi di dalam studio atau harus di luar


studio, apakah dikejar waktu atau ada tenggang waktu.
Oleh karena itu demi tertibnya administrasi penggunaan
barang/peralatan dan juga dapat digunakan ceking sehingga
tidak ada peralatan yang tidak terbawa, maka setiap
produksi harus mengisi daftar peralatan dan bahan yang
dibutuhkan.
Format kebutuhan/penggunaan peralatan adalah
sebagai berikut.
Tabel 9. Daftar Peralatan dan Bahan Produksi
JENIS PERALATAN
NAMA
Kamera Video

VTR / VCR

Micropon

Lampu/
Pencahayaan
Pita/Tape
Perlengkapan

Sri Sartono

TIPE

MERK

WARNA JUMLAH

1. DXC 637
2. D 35
3. D 50
4. DSR 125
5. DSR 175
6. AGDP 800
7. AG 450
1. Betacam
2. Digital recorder
3. SVHS
4. VHS
1. handheld
2. Mikestand
3. Boom/shot gun
4. clip on/lavaliere
1. HMI
2. Standard
3. Broadlight
4. spotlight
5. Fresnel
6. Reflektor
1. Betacam
2. Digital Betacam
3. Mini DV
1. Tripot kamera
2. Dolly
3. Tripot/stand mic
4. Filter lampu
5. TV Monitor
6. Kabel-kabel
- Kamera
- Audio
- Lampu

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

254

b. Biaya Produksi
Seorang produser harus membuat dan mengajukan
proposal rencana anggaran biaya produksi program yang
akan dikerjakan kepada stasiun penyiaran (menager
Program). Dalam merencanakan anggaran biaya produksi
ada dua pendekatan yaitu budget/financial oriented dan
quality oriented.
Financial oriented. Perencanaan anggaran berdasarkan
pada kemungkinan keuangan yang ada. Bila keuangan
terbatas, maka tuntutan kebutuhan tertentu harus dibatasi.
Misalnya lokasi shoting di dalam kota tidak perlu ke luar
kota, artis kelas dua atau kelas tiga yang tidak terlalu
mahal, penginapan dan waktu shoting dipersingkat,
konsumsi yang tidak terlalu mewah dan sebagainya. Semua
tergantung anggaran yang ada.
Quality Oriented. Perencanaan biaya produksi
berdasarkan tuntutan kualitas hasil produksi yang maksimal.
Berarti dalam hal ini tidak ada masalah keuangan. Dengan
demikian produser dapat mengajukan anggaran seideal
mungkin agar bisa mempertahankan/mencapai kualitas
produksi yang maksimal. Produksi semacam ini disebut
dengan produksi prestige yaitu produksi yang diharapkan
mampu mendatangkan keuntungan financial dan nama
perusahaan. Artinya hasil produksi tersebut layak jual.
Disamping itu juga memiliki nilai dan manfaat bagi
masyarakat.
Biasanya dalam merencanakan anggaran disamping
dituntut kualitas juga harus melihat budget yang ada. Oleh
karena itu bisa diambil jalan tengah yaitu dengan dua
pendekatan secara simultan. Dalam hal ini seorang produser
harus bisa mengidentifikasi hal-hal yang perlu dibiayai atau
bagian apa yang bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas
produksi. Berarti merencanakan anggaran seefektif dan
seefisien mungkin.
Berikut ini merupakan contoh kegiatan atau pokokpokok yang memerlukan biaya sebagai bahan membuat
rencana anggaran sebagai berikut.
1) Peralatan Lokasi Shoting
Kamera
Recorder
Kaset/Tape
Audio
Lampu

Sri Sartono

:
:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

255

Perlengkapan
TOTAL

: Rp. .
: Rp. .

2) Sewa Lokasi
Lokasi 1
Lokasi 2
Lokasi 3, dst
TOTAL

:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

3) Setting
Grafik
Dekorasi
Visual, dst
TOTAL

:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

4) Transportasi
Sewa mobil
Bensin/solar
Parkir
Tiket pesawat
Jalan tol
Lain-lain
TOTAL

:
:
:
:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

5) Akomodasi 10 hari shoting


Hotel 1 /hari x 10
: Rp. .
Hotel 2 /hari x 10
: Rp. .
TOTAL
: Rp. .
6) Konsumsi 10 hari shoting
Artis 15 orang
: Rp. .
Crew 20 orang
: Rp. .
Staf prod. 7 orang
: Rp. .
TOTAL
: Rp. .
7) Property
Sewa meja kursi
Almari kuno
Senapan
Lain-lain

Sri Sartono

:
:
:
:

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

.
.
.
.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

256

TOTAL

: Rp. .

8) Kerabat kerja
Kamerawan 1
Kamerawan 2
Audioman
Lightman
Kerabat kerja
Tambahan
TOTAL

:
:
:
:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

9) Editing dan Mixing


Fasilitas editing
Kerabat kerja
Bahan
TOTAL

:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

10) Musik
Komponis
Rekaman
Peralatan musik
Bahan
TOTAL

:
:
:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

11) Administrasi
Telepon
Fax
Fotocopy
Stationary
Petugas
TOTAL

:
:
:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

12) Artis
Peran kelas 1, 3 orang
Peran kelas 2, 4 orang
Peran kelas 3, 3 orang
Figuran
TOTAL
13). Kostum
Pembelian
Sewa

Sri Sartono

:
:
:
:
:

Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .
Rp. .

: Rp. .
: Rp. .

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

257

TOTAL

: Rp. .

14). Tata Rias


Kosmetik
Salon
TOTAL

: Rp. .
: Rp. .
: Rp. .

15). Biaya tak terduga


16). Pajak
TOTAL ANGGARAN

: Rp. .
: Rp. .
: Rp. .

c. Organisasi Pelaksanaan Produksi


Agar produksi berjalan lancar dan sukses produser
perlu menunjuk pembantu-pembantunya untuk menangani
pekerjaan produksi program TV. Karena banyaknya jenis
program yang membutuhkan keahlian yang bermacammacam, maka seorang produser tidak mungkin untuk
menangani sendiri. Oleh karena itu perlu dibentuk
organisasi produksi.
Suatu produksi program TV melibatkan banyak orang
misalnya
artis,
crew,
dan
fungsionaris
lembaga
penyelenggara, polisi, aparat setempat dimana shoting
dilakukan, dan pejabat terkait dengan perijinan. Organisasi
pelaksanaan disusun dengan rapi dengan memperhatikan
kualifikasi kemampuan.
Produser pelaksana mengkoordinir bendahara dan juru
bayar, sekretariat yang mengurus surat menyurat dan
perijinan. Organisasi lapangan diserahkan kepada seorang
unit manager yang mengkoordinasikan pekerjaan dari sisi
organisasi dan artiskik. Berarti manager unit menjadi
penghubung antara unit organisasi dibawah sekretariat dan
unit artistik dibawah sutradara. Bidang yang langsung di
bawah koordinasi manager pelaksana unit adalah perijinan,
transportasi, konsumsi,dan akomodasi. Sedangkan lokasi,
seting/dekorasi, properti, kostum dan make up dan
pelaksana lapangan berada dibawah koordinasi unit
manager, tetapi pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan
artistik dibawh koordinasi seorang art director atau art
designer. Sutradara dalam bekerja dibantu oleh art director
dan kamerawan yang mengkoordinasikan pekerjaan yang
ditangani oleh penata cahaya dan penata sound. Sutradara

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

258

merupakan orang yang bertanggung jawab penuh produksi


dan bertanggungjawab kepada produser.
Agar organisasi dapat bekerja dengan baik dan untuk
keperluan pengawasan perlu adanya daftar kerabat kerja
sebagai berikut.
1) Sutradara
: ..................................................
Asisten sutradara : ............................................
2) Kamerawan : .........................................
Asisten Kamerawan : .........................................
Pembawa kabel
: .........................................
Penata cahaya
: .........................................
Asisten penata cahaya : ......................................
Pengatur lampu
: .........................................
3) Penata Suara
: .........................................
Asisten penata suara: .........................................
Pengatur Mic
: .........................................
4) Penanggung jawab teknik: ...................................
Asisten penanggung jawab teknik: .........................
5) Penata artistik (Art Director) : ..............................
Asisten penata artistik : ......................................
Pekerja penata artistik : .....................................
6) Penata Pakaian (Coctum Director) : .......................
Asisten penata pakaian : ....................................
Pekerja penata pakaian: ....................................
7) Perancang Kostum : .........................................
8) Penata rias
: .........................................
Asisten penata rias : .........................................
Pekerja penata rias : .........................................
9) VCR operator
: .........................................
10) Pencatat shoting (scriptman) : .............................
11) Unit Manager
: ........................................
Asisten Unit Manager : ........................................
12) Pembantu produksi : ..........................................
13) Pekerja perlengkapan : .......................................
beberapa orang sesuai dengan kebutuhan
14) Sopir
: .........................................
15) Pelayanan umum (menyiapkan konsumsi) : ..............

Struktur organisasi pelaksanaan produksi program TV


adalah sebagai berikut

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

259

PRODUCER

PRODUCER PELAKSANA

SEKRETARIAT

UNIT MANAGER

BENDAHARA/JURU BAYAR

ART DISIGNER

IJIN

LOKASI

TRANSPORT

SETTING

AKOMODASI
/ KONSUMSI

PROPERTY

KAMERAWAN

SUTRADARA

ARTIS

ASISTEN
KAMERAWAN
LIGHTING
SOUND

KOSTUM/RIAS

Gambar 96. Struktur organisasi pelaksanaan produksi program TV

d. Pentahapan Pelaksanaan Produksi.


Sesuai
SOP
(Standard
Operation
Procedure)
Pelaksanaan produksi program TV diatur/ dilaksanakan
secara bertahap sebagai berikut
1) Pra Produksi. Yang terdiri dari kegiatan ide,
perencanaan dan persiapan
2) Pelaksanaan Produksi
3) Pasca Produksi yang terdiri dari penyelesaian dan
penayangan produksi.
1) Pra Produksi (Perencanaan dan Persiapan).
Tahapan ini terdiri tiga tahap yaitu Penemuan Ide,
Perencanaan dan tahap persiapan.
Tahap Penemuan ide. Dimulai ketika produser
menemukan gagasan lalu mengadakan riset dan menulis
naskah sendiri atau memberikan tugas kepada script
writer untuk mengembangkan gagasan menjadi naskah
hasil riset.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

260

Tahap Perencanaan. Meliputi penetapan jangka


waktu produksi dengan merencanakan jadwal kerja,
penyempurnaan naskah, pemilihan artis, penetapan
lokasi, dan crew. Di samping itu juga merencanakan
anggaran biaya produksi yang didalamnya termasuk
estimasi biaya, penyediaan biaya dan rencana alokasi
penggunaan biaya.
Tahap persiapan. Tahap ini meliputi kegiatan
mengkoordinasikan
sumber-sumber
produksi
diantaranya mengidentifikasi booking dan pemberesan
semua kontrak, perijinan, dan surat menyurat. Memesan
sumber daya dalam produksi, Latihan artis, pembuatan
seting, ceking dan melengkapi peralatan. Pada tahap
persiapan ini juga harus merencanakan pengaturan
kebutuhan transportasi baik untuk pengangkutan bahan
dan peralatan produksi maupun pengangkutan crew,
artis dan pimpinan produksi dari dan ke lokasi shoting.
Tahap ini dilaksanakan sesuai scedule yang telah
ditetapkan.
2) Tahap Produksi. Tahap ini dimulai setelah perencanaan
dan persiapan sudah selesai. Diharapkan sesuai dengan
scedule yang telah ditetapkan. Sutradara bekerjasama
dengan artis dan crew membuat shoting scrip yaitu
menterjemahkan naskah menjadi naskah produksi
sehingga menjadi susunan gambar-gambar yang mampu
bercerita. Shoting script ini akan dipakai panduan bagi
semua kerabat kerja termasuk para artis dan khususnya
bagi kamerawan. Sutradara akan membuat daftar shot
(shot list) dari setiap adegan (scene), karena
sutradaralah yang menetapkan jenis shot yang akan
diambil. Tetapi kadang-kadang juga memberi kebebasan
kamerawan untuk berkreasi menentukannya. Satu
kalimat dari naskah dapat diwujudkan menjadi beberapa
shot yang berurutan. Penata cahaya melakukan tugasnya
agar gambar tidak terlalu kontras atau juga sellouet,
ada bayangan yang sangat mengganggu gambar atau
situasinya berubah karena pencahayaan yang tidak tepat
dan sebagainya. Oleh karena itu banyaknya sinar/cahaya
yang dibutuhkan kamera sangat diperhitungkan jangan
terlalu banyak dan jangan sampai kurang. Demikian pula
arah cahaya yang jangan sampai menentang kamera. Hal
itu semua harus dipikirkan oleh seorang penata cahaya.
Penata sound/suara juga bertanggung jawab
menempatkan posisi mic sehingga suara artis jelas dan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

261

logis, volume sesuai dengan situasi yang diharapkan


naskah. Suara gangguan seperti angin dan suara
lingkungan yang tidak diharapkan perlu dihindari/
dihilangkan. Dan yang penting jangan sampai mic
kelihatan oleh kamera (kecuali penyanyi pada konser
misalnya). Oleh karena itu mic dilengkapi dengan stand
yang bisa diangkat dan diarahkan diluar jangkauan
kamera.
Semua shot harus dicatat dan diberi kode waktu
(time code) sesuai nomer yang ada pada pita VCR untuk
memberi petunjuk pada editor agar bisa mencari setiap
shot dengan cepat. Setelah shoting, hasil shoting harus
diperiksa apakah ada kesalahan, bagaimana kualitas
gambarnya, suaranya dan sebagainya. Apabila terdapat
kekliruan atau kualitas gambarnya kurang baik maka
shot tersebut harus diulangi. Sudah biasa dalam produksi
satu adegan diulang-ulang untuk mendapatkan hasil
gambar yang terbaik.
Setelah semua shot dilaksanakan dan tidak ada
kesalahan, maka master shotnya atau juga disebut
original material/ row foot age dibuat catatannya
(logging) untuk kemudian diserahkan kepada editor.
3) Tahap pasca produksi. Tahapan ini ada tiga langkah
yaitu editing off line, editing on line dan mixing. Proses
editing ada dua macam sesuai peralatannya yaitu editing
analog dan digital atau nonlinier dengan perangkat
komputer editing.
Editing off line analog/linier. Di dalam loggimg
semua hasil shoting telah diberi tanda (time code) yaitu
nomor kode berupa digit frame, detik, menit dan jam
dimunculkan dalam gambar. Hasil pengambilan setiap
shot telah dicatat oleh scriptman/girl.
Berdasarkan catatan tersebut, Sutradara akan
melakukan editing off line yaitu aditing kasar dengan
copy video VHS sesuai dengan gagasan dalam synopsis
dan treatmen. Materi shoting langsung dipilih dan
disambung-sambung dalam pita VHS. Setelah selesai lalu
hasilnya dilihat secara cermat dalam screening. Apabila
masih belum memuaskan perlu ditambah atau diedit lagi
sampai hasilnya memuaskan.
Setelah editing off line selesai lalu membuat
editing script atau naskah editing yang didalamnya
sudah dilengkapi dengan narasi, ilustrasi musik. Format
naskah editing sama dengan format naskah scenario,

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

262

tetapi sudah dilengkapi dengan logging


untuk
mempermudah editor melakukan editing.
Selanjutnya hasil shoting asli dan naskah editing
diserahkan kepada editor untuk dilakukan editing on line
menggunakan pita betacam yaitu yang memiliki kualitas
standard broadcast. Pita VHS hasil editing off line
digunakan editor sebagai panduan editing on line.
Editing on line analog. Berdasarkan naskah editing
editor melakukan editing hasil shoting asli. Sambungansambungan setiap shot dan setiap adegan (scene) dibuat
persis/tepat berdasarkan time kode dalam naskah
editing. Sound asli dimasukkan dengan level yang
seimbang dan sempurna sehingga tidak saling
interferensi/menggangu agar enak didengar. Dengan
demikian editing on line sudah selesai dan hasilnya
masuk pada proses mixing.
Mixing. Adalah pencampuran antara gambar dan
suara. Narasi yang sudah direkam dan ilustrasi musik
yang juga sudah direkam lalu dimasukkan kedalam pita
hasil editing on line sesuai dengan petunjuk yang ada
dalam naskah editing. Keseimbangan antara suara asli,
narasai, ilustrasi musik dan sound efek sangat
diperhatikan agar serasi dan harmonis dan terdengar
dengan jelas. Misalnya pada waktu diperlukan suara
narasi, maka suara lainnya menjadi backsound maka
volumenya harus dikurangi. Demikian pula bila yang
diperlukan suara asli maka yang lain volumenya
dikurangi. Suara backsound adalah 1/3 dari suara
normal. Setelah proses mixing selesai maka proses
produksi sudah selesai dan tinggal mengadakan preview
bila mungkin ada saran-saran perbaikan. Selanjutnya
program siap ditayangkan/disiarkan ke public.
Editing off line digital (non linier). Pada
prinsipnya editing off line digital prosesnya sama
dengan analog, hanya untuk editing digital menggunakan
bantuan peralatan computer editing yang memiliki
fasilitas editing seperti pinecle studio, matrox, canupus
dengan program aplikasi juga bermacam-macam seperti
adobe premier, yulied, three D max, After effect dan
sebagainya. Juga program animasi grafis yang
bermacam-macam pula. Semua itu akan memudahkan
pekerjaan seorang editor dan biasanya editor akan
menggunakan berbagai program sesuai dengan
kebutuhannya. Pada editing analog kesulitan untuk
menyambung antara shot yang satu dengan yang lain,

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

263

bila tidak cermat maka akan kelihatan jumping. Tetapi


dalam proses digital pada setiap sambungan tinggal
menambahi program transisi yang sudah teredia secara
instant tinggal pilih jenisnya. Seperti ini tidak bisa
dikerjakan pada proses analog.
Tahap
pertama
yang
dilakukan
adalah
capturing/digitalisasi hasil shoting yang masih analog
dicapture melalui capture card diubah menjadi file data
digital lalu bisa disimpan dalam harddisk dan setiap saat
bisa dipanggil kembali bila diperlukan. Tahap kedua
adalah editing off line yaitu menyusun hasil shot sesuai
dengan keinginan / gagasan sutradara sesuai synopsis
dan treatment. Urutan penyusunan tidak harus seperti
editing analog, karena computer bisa mulai dari mana
saja, dari tengah, akhir maupun dari awal.File yang
cukup besar bisa dipecah-pecah menjadi beberapa file,
sehingga bisa lebih konsentrasi. Setelah diurutkan
menjadi satu lalu di tambah efek transisi pada setiap
sambungan selanjutkan di render untuk fixing file.
Setelah itu file dapat dilihat secara utuh dan dapat
dilakukan screening untuk cek ulang bila mungkin ada
kekurangan/kesalahan bisa disempurnakan. Setelah
semua memuaskan maka editing off line selesai dan siap
dilakukan editing on line.
Editing on line digital (non linier). Tahap ini
merupakan kelanjutan editing off line yang dilakukan
editor
dengan
program
computer.
Yaitu
menyempurnakan hasil editing off line, memasukan dan
menata suara asli, ilustrasi musik, sound efek kedalam
file gambar pada trak yang berbeda-beda sehingga
gambar yang sudah ditata tidak akan terganggu. Berarti
sekaligus masuk tahap mixing. Setelah hasilnya
sempurna dan memuaskan selanjutnya dilakukan
pengubahan format yang sesuai dengan player yang akan
digunakan (VCD, DVD, Video dan sebagainya).
Selanjutnya program ditransfer ke format pita betacam
SP atau pita standard broadcast lainnya untuk
ditayangkan melalui penyiaran TV. Berarti proses editing
selesai, mungkin bisa dilanjutkan untuk pembuatan
cover, pembakaran ke CD bila dikehendaki.
Perlu diketahui pula dalam produksi program TV,
bahwa durasi harus disesuaikan dengan format waktu
atau frame/slot yang sudah ditetapkan. Yaitu 30 menit
atau 60 menit sudah termasuk iklan komersial/layanan
masyarakat. Untuk slot 30 menit durasi efektif adalah 24

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

264

menit. Untuk slot 60 menit durasi efektif 48 menit dan


sisanya disediakan untuk iklan (comersial break). Hal ini
penting supaya tidak ada pemotongan program sewaktu
diadakan pennyiaran program.
2. Penulisan Naskah Program TV
Dengan makin banyaknya stasiun televisi di Indonesia,
menumbuhkan pula industri dibidang produksi pertelevisian
atau yg dikenal dengan rumah produksi (production house =PH).
Produksi program video dan juga program TV dapat dikerjakan
dari yang sederhana sampai dengan menggunakan peralatan
dan tehnik canggih. Sebuah produksi video/TV memerlukan
pengelolaan yang rumit meliputi: pra produksi; konsep,
ide/gagasan, survey, naskah/story board, anggaran; produksi;
peralatan, kru, pengambilan gambar; pos produksi; editing dan
penggadaan, namun demikian tiga pilar utama yang utama,
yaitu : penulisan naskah produksi, Penggunaan kamera, dan
editing, untuk dapat mewujudkan sebuah produksi.
Penulisan Naskah untuk film, televisi, termasuk video,
lazim dengan istilah scenario (scenario). Skenario merupakan
bentuk tertulis dari gagasan atau ide yang menyangkut
penggabungan antara gambar dan suara, dimaksudkan sebagai
pedoman dalam pembuatan film, sinetron atau program
televisi. Beberapa pakar sinematografi mengemukakan bahwa
scenario itu menjadi jiwa dan darah dalam produksi film atau
cerita televisi.
Urutan langkah atau pentahapan dalam penyusunan naskah
scenario video
a. Persiapan Menulis naskah/ Teks / Narasi
Yang harus dipersiapkan dalam menulis naskah, teks
maupun narasi pada program TV adalah menemukan ide
atau gagasan. Setelah ide ditemukan, seorang penulis
naskah sangat perlu mempelajari substansi atau isi dari
sumber-sumber yang terkait dengan substansinya, sehingga
benar-benar memahami apa yang akan ditulis. Selanjutnya
akan ditulis dalam bentuk apa, menjadi format program TV
yang mana. Setelah ditetapkan format program yang dipilih
maka baru berpikir bagaimana menulisnya. Untuk penulisan
teks dapat diawali dengan penulisan kerangka tulisan
(outline). Sedangkan untuk penulisan narasi dapat dilakukan
menulis rencana gambaran visual yang akan diberi
narasinya. Dalam hal ini narasi akan lebih memberikan
penjelasan gambaran visual yang ditayangkan pada TV.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

265

Narasi bisa berbentuk life dari pemeran ataupun dubing


oleh pengisi suara. Dapat juga disuarakan oleh narator
maupun presenter.
Sebelum menulis naskah untuk panduan produksi
ditulis, biasanya didahului dengan membuat synopsis, dan
Treatment
1) Sinopsis
Gambaran secara ringkas dan tepat tentang tema atau
pokok materi yang akan dikerjakan. Tujuan utama ialah
memudahkan pemesan (produsen) menangkap konsep,
kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Setelah synopsis ditulis maka sudah harus nampak
adanya: alur, isi cerita, Perwatakan pemain (bila ada),
tempat, waktu, serta keterangan lain yang memperjelas
synopsis.
2) Treatment
Uraian ringkas secara deskriptif, bukan tematis, yang
dikembangkan dari synopsis dengan bahasa visual tentang
suatu episode cerita, atau ringkasan dari rangkaian suatu
peristiwa. Artinya dalam membuat treatment bahasa
yang digunakan adalah bahasa visual. Sehingga apa yang
dibaca dapat memberikan gambaran mengenai apa yang
akan dilihat. Dengan membaca treatment bentuk
program yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan.
Sehingga perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut
:
a) urutan dalam video sudah makin jelas,
b) Sudah kelihatan formatnya apakah dialog (bagaiamana
pokok
dialognya),
narasi
(bagaimana
pokok
narasinya),
c) Sudah dimulai adanya petunjuk-petunjuk tehnis yang
diperlukan.
3) Skenario
Dari treatment kemudian dibuat naskah produksi atau
scenario. Penulisan naskah produksi atau scenario harus
operasional karena digunakan sebagai panduan tidak saja
kerabat kerja (crew) tetapi juga pemain dan pendukung
lain yang terlibat. Penulisan naskah atau scenario pada
dasarnya menggambarkan sekaligus menyuarakan apa
yang ingin disampaikan. Urutan synopsis-tritmen-skenario
merupakan rangkaian yang baik untuk membuat naskah
video (televisi), Baker (1981) mengemukakan juga

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

266

pentahapan dalam membuat naskah, yaitu : concept,


story board, dan script.
Setidaknya ada dua format naskah untuk penulisan
naskah TV/video, yaitu double colum, dan wide margin
a) Format kolom ganda (double colum).
Format ini lazim digunakan untuk menulis naskah
informasi, dokumentasi, pendidikan. Format kolom
ganda, lembar kertas dibagi menjadi dua kolom
utama, yaitu kolom visual (kiri) dan kolom audio
(kanan).
Pada kolom kiri berisi uraian yang menyangkut
visual. Misal gambar harus dimabil dengan CU,
kemudian zoom out, atau keterangan lain bagi kru
kamera, termasuk siapa subyeknya, diambil dari
mana, beberapa waktu lamanya pengambilan, dll.
Kolom kanan berisi segala sesuatu yang menyangkut
audio yang berupa narasi, dialog para pelaku atau
efek-efek suara lain yang diperlukan. Untuk
memudahkan narator atau juru suara (sound man)
maka dalam menulis kolom kanan, semua informasi
yang tidak akan dibaca (disuarakan) ditulis dengan
huruf capital. Sedang narasi atau dialog yang akan
dibaca atau disuarakan ditulis dengan huruf kecil.
Tabel 10. Format Naskah Program Video/TV Kolom ganda
NOMER

VISUAL/GAMBAR

WAKTU

AUDIO/SUARA

No.urut
cerita
bukan
nomer
urut
pengambil
an

Kolom ini (kiri) diisi


dengan apa yang akan
tampak. Dibawahnya ada
petunjuk pengambilan
gambar (CU,dll),
keterangan lain yang
dibutuhkan saat shoting
(pengambilan gambar)

Lama
pengambilan
gambar/cap
taion

Kolom ini (kanan)


untuk keterangan
segala sesuatu yang
akan disuarakan
(musik, FX, narasi,
dialog)

b) Format Wide Margin

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

267

Format ini lebih lazim dipakai dalam cerita


film atau sinetron. Sinetron Aku cinta Indonesia (ACI)
naskahnya distulis dalam format Wide Margin.
Dengan format wide margin tiap adegan (
kumpulan dari beberapa shot-scene) diuraikan atau
dijelaskan dengan bahasa visual. Petunjuk dialog
diketik dua spasi ditengah, sedang apa yang akan
nampak (visual) dijelaskan dalam bentuk paragraf .
Dialog biasanya diketik biasa, semua penjelasan untuk
camerawan pengambilan gambar, ditulis dalam huruf
capital. Penjelasan untuk tingkah laku pemain ditulis
dalam tanda kurung dengan huruf capital pula.
Urutan penulisannya sebagai berikut
(1) Pertama kali ditulis : adegan (scene) ke.
(2) Gambar diambil dengan tehnik apa, misalnya :
F.1, DISSOLVE, IN FRAME.
(3) Gambaran visual yang akan nampak
(4) Dialog
Contoh Format wide margin sebagai berikut.
ADEGAN 1
FADE IN (F.1)
EXRTERNAL KAMPUS PAGI
(kemudian dijelaskan bagaimana pengambilan dari arah mana,
apa saja yang nampak, tetapi jangan terlalu banyak memberi
aba-aba
kepada
juru
kamera
karena
nanti
ada
sutradara/pengarah acara)
KRISNA (JALAN TERGESA-GESA MENUJU GERBANG KAMPUS)
SANTI(BERDIRI MENUNGGU KRISNA)hai krisna, ada apa sih kok
buru-buru amat
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini
ditulis kembali satu adegan dari serial ACI (di TVRI) dengan judul
: Panggilan Hatinya yang ditulis oleh Djasman Djakmin.
ADEGAN 10
INTR.SMA NEGERI (R,KLAS IIa2.2)-PAGI
BU WIDYA DUDUK DIKURSI GURU MENGHADAPI SISWA-SISWANYA.
DIA BARU SAJA SELESAI MENGABSEN NAMA-NAMA SISWA.
BU WIDYA: Jadi hanya asti yang belum masuk hari ini
Hani: Iya, Bu,
BU
WIDYA
SETELAH
MENULIS
KEMUDIAN
MEMANDANG
HANI
BU WIDYA: Kenapa dia, apakah sakit ?

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

268

RINA : MENDAHULUI anu bu, katanya mau pindah sekolah,


katanya biar dapat masuk kelas A1
HANI MENOLEH KEARAH RINA SAMBIL MENDENGUS KESAL.RINA
JADI SERBA SALAH
BU WIDYA MEMPERHATIKAN MEREKA DENGAN PENGERTIAN. PADA
SAAT YANG SAMA KELAS JADI GADUH DENGAN BERBAGAI
KOMENTAR ATAS UCAPAN RINA
DIANTARANYA BISMAR YANG PALING VOKAL.
BISMAR: Ah, memang payah Bu, kemungkinannya kecil kali
BU WIDYA:PANDANG MENCARI-CARI, siapa yang bicara itu, kamu
ya bismar
FERDI: Betul bu
BU WIDYA: Coba bismar kamu ke depan.
BISMAR MAJU KE DEPAN SAMBIL MEMUKULKAN BUKU KEPUNDAK
FERDI, TETAPI FERDI MENGELAK. DAN BISMAR TERUS MAJU KE
DEPAN SAMBIL DIIRINGI TAWA RIUH TEMANNYA...........dan
seterusnya.
Dengan format seperti ini maka pengarah acara
(sutradara)
dan
camerawan
diberi
kebebasan
untuk
berimprovisasi dalam pengambilan gambarnya, sesuai dengan
keadaan yang diinginkan.
b. Menilai Naskah/Teks/Narasi
Setelah naskah/teks/narasi ditulis, maka perlu ada
evaluasi atau penilaian dari produser, sebelum naskah
tersebut diproduksi menjadi program TV. Penilaian teks
akan menggunakan kriteria apakah telah menggunakan
kaidah penulisan dan penggunaan bahasa yang benar serta
keterbacaannya..
Sedangkan untuk penilaian narasi akan lebih
menggunakan bahasa sehari-hari (tutur)sesuai karakter
tokoh. Apakah sudah komunikatip, shg mampu menjelaskan
atau dipahami penonton.
Demikian pula untuk menilai naskah/script yang akan
diproduksi disamping dengan kriteria penulisan naskah harus
ditaati juga akan dinilai kelayakan produksinya, apakah
setelah diproduksi akan memiliki tingkat manfaat yang
tinggi, memiliki daya tarik, apakah dapat diproduksi secara
teknik, biaya produksi mahal atau tidak dan sebagainya.
c. Mengedit Naskah/Teks/Narasi
Setelah naskah/teks/narasi dinilai penulis naskah akan
melakukan editing, mengedit sesuai saran, masukan dari

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

269

produser. Untuk editing naskah program TV akan dilakukan


sekaligus dalam bentuk naskah produksi yang di dalamnya
telah terdapat petunjuk/perintah bagi kamerawan tentang
teknik shoting dan obyek shoting. Petunjuk/perintah bagi
narator/presenter dalam membacakan narasi, durasi setiap
scene dan sebagainya. Naskah ini selanjutnya digunakan
sebagai panduan produksi.
3. Produksi Program TV
a. Program Seni Budaya dan Hiburan Pop
Tata laksana produksi Program Seni dan budaya serta
program hiburan adalah sebagai berikut:
Tahap
perencanaan.
Produser
atau
sutradara
melakukan riset untuk membuat program seni budaya
menjadi program TV. Dalam hal ini produser harus tahu
betul tentang materi produksi. Setelah mengetahui banyak
hal berdasarkan hasil riset produser membuat konsep
perencanaan produksi yang jelas bagi sutradara, dan crew
yang akan melaksanakan produksi. Akonsep perencanaan
berupa naskah. Naskah dalam produksi ini berbentuk floor
plan atau rundown sheet karena sistem produksi yang
digunakan adalah sistem adlib (adlibium).
Sebelum pelaksanaan produksi perlu ada peninjauan
latihan agar kamerawan dan crew memiliki pemahaman
yang sama terhadap semua jalannya sajian. Program
semacam ini biasanya direkam atau ditayangkan secara
langsung dengan multikamera. Latihan juga berguna untuk
seting lampu dan kamera serta perencanaan panggung
(floor plan). Untuk mengantisipasi kekacauan yang mungkin
terjadi karena ada perubahan acara mendadak, maka
biasanya memasang sebuah kamera yang diset total shot
yang dapat melihat seluruh kegiatan panggung untuk
mengisi transisi kekosongan gambar karena misinformasi.
Pada produksi jenis klip, dibutuhkan naskah treatment
yang berisi teks lagu dan petunjuk tempat lokasi shoting
yang akan menjadi latar belakang kegiatan artis. Demikian
juga bloking artis dan kostumnya perlu ditulis pada
treatment.
Pada produksi klipini menggunakan sistem
playback, yaitu artis rekaman suara dulu di studio dan
rekaman gambarnya dilakukan action mengikuti/sesuai
dengan suara hasil rekaman yang diputar kembali (play
back).

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

270

Pada produksi program bentuk Life show dibutuhkan


treatment yang jelas tentang seluruh sajian yang harus
disiapkan. Untuk sajian yang tidak disiarkan langsung.
Kegiatannya terfokus pada pengambilan gambar sebaikbaiknya. Setelah itu dilakukan editing untuk menghilangkan
kesalahan dan penyempurnaan suara sehingga menjadi
program yang baik.
Pada tahap pelaksanaan produksi dilakukan seturut
dengan treatment. Pada produksi Life show di studio atau
melalui OB-van (outside broadcasting van) produksinya
sesuai dengan rundown sheet yang telah disiapkan. Proses
produksinya seperti produksi acara biasa.
Pada pengambilan gambar/shoting untuk program
musik dan tari dilakukan dengan sistem playback untuk
menghindari gangguan suara dari luar yang tidak
dikehendaki. Dengan sistem ini kesalahan penyanyi seperti
suara fals, nada turun, salah ucap bisa dihindari.
Sebagai pasca produksi program yang tidak ditayangkan
secara langsung adalah editing off line dan on line untuk
memberi title dan caption judul lagu, nama penyanyi.
Dalam editing dapat dilakukan insert/memberi sisipan atau
membuang gambar yang jelek, memberi ilustrasi dari stock
shot atau foot age. Setelah selesai direview dan
ditayangkan.
b. Program talk show
Tata laksana produksi progranm talk show adalah
sebagai berikut:
Produser melakukan riset untuk menetapkan topik/
permasalahan yang akan di diskusikan, menetapkan tokoh
yang akan diundang untuk program talkshow, menetapkan
presenter yang akan memandu jalannya diskusi.
Presenter menyusun permasalahan yang akan
dibicarakan berdasarkan studi pustaka dari buku, surat
khabar, dan riset masyarakat. Menyusun pertanyaan bila
formatnya diskusi panel. Pertanyaan disusun seperti tangga
dramatik mulai dari yang sederhana sampai yang rumit dan
menegangkan. Dipersiapkan pula pertanyaan-pertanyaan
surprise untuk menghidupkan suasana dan membuat acara
menjadi dinamis dan menarik.
Produksi program talkshow ini menggunakan sistem
adlib sehingga tidak tergantung naskah. Pada acara yang
tidak disiarkan secara langsung, program diedit dan
dicarikan ilustrasi dari stockshot dan diinsertkan pada
program utama. Hal ini dilakukan untuk memberikan variasi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

271

gambar sehingga tidak membosankan. Setelah selesai lalu


dilakukan preview dan siap ditayangkan.
c. Program Dokumenter
Tatalaksana produksi program dokumenter adalah
sebagai berikut:
1) Penentuan tema dukumenter
2) Riset untuk memperdalam materi, menghubungi
personal terkait
3) Menetapkan thesis, menuliskan sinopsis/kerangka
pikiran
4) Menyusun treatment yang jelas dan rinci setiap scenenya sebagai panduan shoting dan persiapan kerja
5) Shoting/pengambilan gambar sesuai dengan treatment
6) Seleksi hasil shoting, logging dan melakukan editing off
line
7) Membuat editing script berdasarkan hasil editing off line
8) Melakukan editing on line berdasarkan naskah editing
9) Melakukan mixing untuk memasukkan narasi, ilustrasi
musik, sound efek dicampur pada tempat yang sesuai
dengan naskah editing
10) Preview dan penayangan program.
d. Program Spot
Menciptakan program Spot dimulai dengan menulis out
line atau treatment dari materi dan tokoh yang telah
dipilih. Adegan/scene dibuat sangat cepat dan dinamis,
trik-trik efek special yang digunakan untuk memanipulasi
gambar dan menambah daya tarik semua ditulis dalam
treatment.
Berdasarkan treatment, dilaksanakan shoting adeganadegan, rekaman musik jingle dan narasi. Setelah itu hasil
gambarnya dipilih dalam editing off line. Meskipun
durasinya sangat pendek tetapi materi gambar yang diambil
cukup banyak, oleh karena itu harus ada seleksi yang
cermat.
Berdasarkan editing off line ditulis naskah editing
sebagai panduan editing on line untuk memasukkan trik-trik
images dan teks kedalam gambar. Dalam program spot
manipulas gambar image visual merupakan seni tersendiri
dengan menggunakan program grafis animasi computer.
Selanjutnya hasil editing on line dimixing dengan musik
dan narasi seturut naskah editingnya. Selanjutnya masuk
tahap preview dan penayangan program spot.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

272

e. Program Doku-Drama
Program ini merupakan perpaduan antara documenter
dan drama, jadi ada unsure kejadian factual/nyata tapi
juga mengandung unsure manipulasinya. Dalam produksi
program ini seperti layaknya produksi program yang lain
yaitu dengan tahapan pengembangan gagasan, synopsis,
treatment, scenario/naskah, shoting, logging, editing off
line, naskah editing, editing on line dan mixing dan diakhiri
kegiatan preview dan penayangan program.
f. Program Sinetron
Sinetron
adalah
sinema
elektronik,
sehingga
produksinyapun seperti layaknya produksi sinema film.
Perbedaannya terletak pada peralatan/hardware yang
digunakan. Kalau film menggunakan alat optic tetapi
sinetron menggunakan optic elektronik. Program ini
biasanya didukung oleh artis pemeran dan kerabat kerja
yang cukup banyak, karena biasanya merupakan suatu cerita
yang cukup panjang bahkan tidak jarang dibuat
bersambung. Oleh karena itu dalam produksinya juga
memerlukan waktu dan biaya yang besar serta persiapan
yang cukup lama. Sehingga para artispun juga harus diikat
kontrak supaya tetap siap bila diperlukan untuk shoting.
Sebagai persiapan produksi mesti harus ada latihan,
karena semua berdasarkan naskah yang harus dihafal
meskipun diperbolehkan ada improfisasi dari pemeran.
Sinopsis, treatment serta scenario harus ada untuk
diterjemahkan/ dioperasionalkan menjadi naskah produksi
yang informatif sebagai panduan semua yang terlibat dalam
produksi. Pelaksanaan produksi dipimpin oleh sutradara.
Karena pelaksana/kerabat kerja cukup banyak perlu
management yang baik agar terjadi kerjasama yang baik
untuk mewujudkan program ini.
Proses produksinya juga sama dengan program yang
lain yaitu mulai dari
gagasan, sinopsis, treatment,
scenario/naskah, shoting, logging, editing off line, naskah
editing, editing on line dan mixing dan diakhiri kegiatan
preview dan penayangan program.
4. Pengoperasian Kamera TV
Sebelum mengetahui pengoperasian kamera TV/Video
seorang kamerawan sebaiknya memahami terlebih dahulu
pengetahuan tentang Fotografi, karena pengetahuan fotografi
sangat terkait dengan pengetahuan kamera video; Sehingga
seorang fotografer akan lebih mudah dan cepat belajar menjadi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

273

seorang kamerawan TV. Oleh karena itu sebelum menjelaskan


kamera video terlebih dulu akan mengenalkan materi Fotografi.
a. Mengenal Fotografi
Fotografi artinya melukis dengan sinar. Fotografi
adalah seni, seperti seni yang lain fotografi adalah
komunikasi. Sangat jarang orang membuat foto hanya untuk
dilihat dan dinikmati sendiri. Hampir semua orang membuat
foto dengan maksud agar orang lain melihat apa yang dilihat
melalui kamera
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari
fotografi. Hampir setiap saat kita melihat foto. Foto selalu
ada dikoran, majalah, ilustrasi, buku, iklan dipinggir jalan,
hiasan dinding, kalender dan lain sebagainya.
Dewasa ini banyak sekali orang yang memiliki kamera,
dengan kemajuan tehnologi yang sangat pesan dalam
pembuatan alat foto, memotret menjadi suatu pekerjaan
yang sangat mudah. Sekarang ini untuk membuat foto
pemotretan tinggal menekan satu tombol pada kamera,
kemudian kamera dengan computer yang ada didalamnya
akan mengatur segala sesuatu secara otomatis, begitu
mudahnya memotret sehingga anak kecilpun mampu
melakukannya. Namun diantara banyak orang yang bisa
memotret yang benar-benar pantas disebut pemotret
sebetulnya hanya sedikit saja. Pemotretan yang baik bukan
sekedar operator kamera saja tetapi juga seniman yang
mampu mengekspresikan ide-idenya melalui hasil karya
foto. Bagaimanapun canggihnya alat foto yang dipakai,
tanpa dibekalim dengan pengetahuan tentang fotografi
mustahil orang bisa membuat foto yang baik.
Suatu foto yang bernilai dihasilkan oleh kreatifitas
pemotretan yang ditunjang dengan kemampuannya
mempergunakan alat foto. Maka kalau kita ingin menjadi
pemotretan yang baik, tidak bisa ditawar lagi, salah satu
syarat utamanya adalah memperdalam pengetahuan dan
ketrampilan kita mempergunakan alat foto.
1) Kamera Foto
Sekarang ini banyak sekali kita jumpai berbagai
macam jenis dan model alat foto atau kamera. Dari yang
sangat sederhana sampai yang sangat canggih, dari yang
harganya puluhan ribu sampai puluhan juta rupiah.
Diantara berbagai jenis kamera tersebut yang apling
popular dan sangat umum dipakai adalah kamera yang
memakai film 135. keuntungan memakai jenis ini adalah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

274

bentuknya yang ringkas sehingga mudah dibawa dan


dioperasikan, dan yang lebih penting lagi filmnya mudah
didapat.
Dari berbagai model dan merk kamera bisa
dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu :
a) Kamera Rangefinder
Kamera jenis ini biasanya bentuknya sangat
ringkas, malahan sekarang lebih banyak yang serba
otomatis termasuk lampu kilat yang sudah ada
dibadan kamera yang akan menyala sendiri kalau
diperlukan. Karena mudah, praktis dan harganya
lebih murah, kamera jenis ini paling banyak
digunakan orang. Ciri-ciri dan sekaligus kelemahan
dari kamera jenis ini adalah adanya jendela
pengamat (viewfinder-window) yang ada diatas lensa
kamera. Di sini pemotret melihat subject
pemotretan melalui jendela pengamat yang ada
diatas lensa. Sedang film melihat subjek yang ada
dibawah jendela pengamat, sehingga ada perbedaan
antara pandangan pemotret dan film yang merekam
gambar. Perbedaan tersebut dinamakan paralax.

Gambar 97. Kamera foto film jenis rangefinder

b) Kamera SLR (Single lens Reflex Camera)


Perbedaan pandangan atau paralax tersebut
tidak ada pada kamera SLR karena apa yang dilihat
pemotret melalui pengamat (view-finder) adalah
refleksi bayangan subjek yang melewati suatu lensa
yang sama juga akan mengenai film. Jadi apa yang
dilihat pemotret melalui view finder sama seperti
apa yang dilihat film. Dengan demikian pemotret
bisa lebih mudah mengatur baik ketajaman (focus)
maupun komposisi gambar

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

275

Keunggulan lain dari kamera SLR adalah lensanya


yang bisa diganti-ganti sesuai dengan keinginan
pemotret. Misalnya diganti dengan lensa tele, sudut
lebar, dll.

Gambar 98. Kamera foto film jenis SLR

2) Film

Untuk menangkap sinar pantulan dari subjek yang


kita foto kita memerlukan film. Bahan dasar film adalah
lembaran plastic transparan dimana pada salah satu
isinya dilapisi bahan-bahan kimia yang peka sinar,
lapisan tersebut disebut Emulsi. Pada film negative
bagian emulsi yang kena sinar akan tetap melekat padqa
plastic setelah film tersebut dicuci, sedang bagian yang
tidak kena sinar emulsinya akan rontok semua sehingga
plastic menjadi bening kembali.
Kepekaan (kecepatan bereaksi sebuah film
terhadap sinar tergantung dari ISOnya (dahulu ASA). ISO
(international Standart Organization) adalah satuan
yang menunjukkan kecepatan film bereaksi dengan
sinar.
Ditoko toko bisa kita dapatkan bermacam-macam
film dengan berbagai ISO, dari ISO 25 s.d ISO 3200.
angka ISO selalu tertera pada kantong dan selongsong
setiap film yang kita beli. Makin tinggi angka ISOnya
menunjukkan makin peka (cepat beraksi) terhadap
sianar dan makn rendah angka ISOnya menunjukkan
makin kurang peka (lambat bereaksi) terhadap sinar.
Untuk membuat gambar pada film tugas pemotret
adalah mengatur agar sinar yang masuk melalui lensa
kamera dan mengenai film cukup (tidak kurang, tidak
lebih) sesuai dengan kepekaan film yang dipakai. Untuk
itu pemotret harus mengatur alat-alat pengatur yang
ada pada kamera.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

276

3) Lensa
Dengan memakai kamera SLR kikta mempunyaim
kemungkinan untuk mengganti berbagai macam jenis
lensa. Dengan demikian kita lebih bisa berkreasi untuk
menghasilkan efek tertentu pada subjek yang kita foto.
Jenis lensa dapat diketahui dari panjang fokalnya.
Panjang fokal dari suatu lensa biasanya tertulis dibagian
depan. Misalnya : 50 mm. secara sederhana bisa
dikatakan bahwa sepanjang fokal adalah jarak antara
lensa dan bidang film pada saat lensa tersebut fokusnya
pada titik tak terhingga. Biasanya kamera yang kita beli
dari took sudah dilengkapi dengan lensa 50mm, lensa
tersebut adalah lensa standar atau normal. Lensa
standar artinya lensa yang mempunyai sudut pandang
yang hamper sama dengan pandangan manusia. Sedang
lensa yang mempunyai panjang fokal kurang dari 50mm,
missal 35 mm, 28 mm, 20mm dsb disebut lensa sudut
lebar (wide angle), lensa tersebut mempunyai sudut
pandang lebih lebar dari pandangan manusia. Makin
pendek fokalnya, makin lebar sudut pandangnya. Selain
lensa-lensa dengan panjang fokal yang tetap (fixed focal
length) seperti tersebut diatas masih ada lagi lensa
yangh yang disebut zoom. Lensa zoom adalah lensa yang
panjang fokal bisa diubah-ubah, misalnya 28mm
135mm.

Gambar 99. Sistim optik kamera

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

277

4) Diaphragma.
Pada lensa ada gelang berftuliskan angka-angka: 2;
28; 4;5.6 ;8 ;11 ;16 dsb. Gelang ini berhubungan dengan
suatu alat berupa lempengan-lempengan baja tipis di
dalam lensa yang membentuk satu lubang. Lubang inilah
yang dinamakan diaphragma, sedang angka-angka yang
tertera pada gelang diaphragma adalah skala
diaphragma.ar kecilnya angka-angka skal diaphragma
berbanding terbalik dengan besar kecilnya lubang
diaphragma, demikian pula sebaliknya semakin kecil
angka skala diaphragma menunjukkan semakin besar
lubang diapragma.
Dengan mengatur besar kecilnya lubang diaphragma
berarti kita mengatur banyak sedikitnya sinar yang
masuk lewat lensa.
Seandainya kita memotret sesuatu, sedang subjek
kita tersebut cukup gelap, maka kita harus membuka
lebar diaphragma agar sinar yang masuk cukup untuk
menyinari film yang ada dalam kamera. Sebaliknya kalau
subjek kita terlalu terang, misalnya subjek dipotret
disiang hari dengan
sinar matahari yang langsung
mengenainya, kita haru menutup lubang diaphragma
agar film ttidak terlalu banyak kena sinar.
5) Kecepatan Rana (Shutter Speed)
Didalam kamera di depan bidang film ada sebuah
layer atau rana yang bisa membuka-menutup dengan
selang waktu tertentu. Lamanya selang waktu antara
rana tertutup-terbuka-tertutup lagi bisa diatur melalui
sebuah tombol yang ditandai dengan angka-angka 1 2 8
15 30 v 60 125 250 dsb.
Angka tersebut berarti 1/. detik. Jadi misalnya
kita pasang tombol kecepatan rana pada angka 125,
maka kalau kita menekan tombol pelepas rana akan
membuka selama 1/125 detik kemudian menutup lagi.
Dengan mengatur kecepatan rana kita bisa mengatur
banyak sedikitnya sinar yang mengenai film. Kalau
subjek pemotretan gelap, kita harus membuka rana
lambat, misalnya detik bila obyek pemotretan terang
kita membuka rana cepat, misalnya 1/250 detik
6) Komposisi
Tidak dapat disangkal bahwa fotografi adalah seni.
Seperti seni yang lain fotografi adalah komunikasi.
Sangat sedikit orang yang membuat foto hanya untuk

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

278

dilihat dan dinikmati sendiri. Hampir semua orang


membuat foto dengan maksud supaya orang lain melihat
apa yang dilihatnya melalui kamera. Diantara banyak
foto yang dibuat orang, yang bisa dikategorikan sebagai
hasil karya seni hanya sedikit saja.
Ketrampilan dalam menguasai alat foto dan sinar
yang merupakan bahan dasar terciptanya sebuah foto,
hanyalah merupakan salah satu syarat untuk bisa
menghasilkan suatu foto yang bernilai seni. Setelah itu
dituntut untuk menguasai cara bagaimana merancang
komposisi gambar agar tampak lebih menarik perhatian.
Hal inilah yang sering dilupakan banyak orang. Mungkin
ini disebabkan karena sebuah foto dapat dibuat dalam
waktu yang singkat. Foto yang menarik adalah foto yang
bisa memberi kesan yang dalam. Foto yang mampu
membawa emosi penonton. Emosi tentang keindahan,
kegembiraan, kesedihan, kekejaman dan sebagainya.
Karena foto hanyalah gambar dua dimensi sedang
manusia melihat kenyataan yang ada dalam pandangan
tiga dimensi, maka perasaan-perasaan tersebut diatas
sulit didapatkan. Oleh karena itu pemotret harus
membuat kesan gambar yang bisa menimbulkan ilusi
pada penonton bahwa apa yang dilihatnya dalam gambar
adalah tiga dimensi. Untuk itu pemotret bisa mengatur
susunan bagian-bagian yang ada dalam gambar dan
inilah yang bisa disebut komposisi. Dengan demikian
jelaslah bahwa komposisi merupakan bagian yang
penting dalam pembuatan foto.
7) Pandangan Kamera
Perbedaan yang paling dasar antara seorang
pemotret yang baik dan seorang pemotret yang asal
jepret adalah caranya memandang suatu objek. Seorang
pemotret asal jepret akan memandang suatu objek apa
adanya, seperti pandangan manusia biasa. Seorang
pemotret yang baik, memandang suatu objek dengan
pikiran pandangan kamera. Pandangan kamera adalah
dua dimensi karena melihat dengan satu lensa. Manusia
biasa melihat dengan dua lensa mata sehingga
pandangannya tiga dimensi. Karena dia bisa melihat
dengan pikiran pandangan kamera yang dua dimensi itu,
maka pemotret yang baik akan berusaha membuat kesan
tiga dimensi agar sesuai dengan pandangan manusia.
Perbedaan lainnya adalah bahwa manusia melihat

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

279

dengan pikiran yang dipengaruhi oleh emosi, sedang


kamera hanya obyektif saja.
Contoh: kalau berbicara dengan seorang teman
dengan jarak sangat dekat, tidak melihat satupun
keanehan pada wajah teman tersebut. Tetapi kalau
memotret dengan jarak yang sama, maka akan melihat
bahwa hidungnya terlalu besar, bibir terlalu lebar dan
sebagainya. Mungkin secara tehnis bisa dikatakan bahwa
kamera itu benar, karena dengan jarak yang dekat akan
didapat distorsi dari lensa. Begitu juga mata manusia,
tetapi otak manusia mengoreksi kesalahan optis itu,
sehingga tidak terlihat adanya distorsi meskipun dilihat
dari jarak yang sangat dekat. Karena manusia sudah
terbiasa melihat semua kenyataan dalam pandangan
pikiran manusia, maka sesuatu yang lain tidak akan
terasa aneh.
Dengan mengetahui perbedaan antara pandangan
manusia dan pandangan kamera bisa membuat foto-foto
yang
lebih
efektif.
Yaitu
dengan
selalu
mempertimbangkan apakah pandangan kamera seperti
yang terlihat dalam viewfinder bisa memberikan
imajinasi sebagai pandangan manusia. Dengan demikian
mudah mengatur komposisi agar bisa didapatkan gambar
yang bisa menimbulkan imajinasi sebagai pandangan
manusia.
8) Pembingkaian (Framing).
Potensi akan lahirnya sebuah foto terjadi setiap kali
mengangkat kamera dan melihat ke dalam viewfinder
untuk mengetahui apa yang masuk dalam gambar, apa
yang tidak. Kalau senang dengan apa yang dilihat dalam
viewfinder tersebut, kemungkinan besar akan segera
menekan tombol rana untuk mendapatkan gambarnya.
Saat menentukan apa yang masuk dan apa yang tidak
masuk dalam gambar yang dibatasi oleh bingkai didalam
viewfinder kamera itulah yang dinamakan pembingkaian
atau framing.
Dalam fotografi framing merupakan bagian yang
sangat penting dari seluruh komposisi gambar. Karena
dengan menentukan apa yang masuk dan apa yang tidak
masuk dalam gambar secara tidak langsung sudah
mengatur komposisi. Kalau melihat vas bunga yang
ditaruh dipinggir meja, akan ada suatu perasaan yang
kurang menyenangkan. Begitu pula kalau vas bunga
tersebut dipindah, kemudian ditaruh di tengah sebuah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

280

meja yang sangat besar, perasaan akan mengatakan


bahwa penempatan vas bunga tersebut kurang sesuai.
Demikian juga yang akan terjadi pada semua gambar
lukisan atau gambar foto.

Gambar 100. Hasil foto satu obyek dengan framing yang berbeda

Bisa diandaikan bahwa meja adalah frame atau


bingkai gambar dan bunga adalah sesuatu yang ingin
ditampilkan dalam gambar tersebut.
Dalam fotografi, pemotret harus mengatur gambar
yang sudah tersedia dihadapannya agar masuk dalam
bingkai yang sudah tersedia didalam kamera. Meskipun
demikian
pemotret
masih
mempunyai
banyak
kemungkinan untuk membuat bingkai dari subjek
tertentu. Yaitu dia bisa bisa maju atau mundur, geser
kekiri atau kekanan, naik keatas atau ke bawah,
memakai kamera vertical atau horizontal. Yang harus
anda ketahui untuk itu adalah bahwa setiap perubahan
framing yang dibuat pemotret akan menghasilkan
gambar yang berbeda. Misalnya ada seorang gadis yang
harus
difoto.
Banyak
kemungkinan
untuk
memasukkannya dalam bingkai dalam viewfinder
kamera. Bisa mendekat untuk mengisi seluruh bingkai
gambar dan wajahnya. Atau bisa mundur sehingga bisa
melihat keadaan disekitarnya. Kalau lebih menjauh lagi
dia akan tampak kecil dan pohon-pohon yang ada
disekitarnya tampak lebih jelas. Pilihan hendaknya
memberi informasi yang jelas tentang apa yang
diinginkan. Kalau memutuskan untuk memasukkan
seluruh wajah gadis tadi, berarti lebih menitik beratkan
pada pribadi gadis tersebut.
Subjek yang memenuhi frame biasanya lebih bisa
memberi kesan yang kuat. Karena penonton diajak
langsung melihat pada subyek, tidak ada pilihan lain.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

281

Lain kalaumemasukkan gadis dengan lingkungan


sekelilingnya. Sekarang penonton melihat objek-objek
lain selain gadis tersebut. Pilihan ini menunjukkan
keberadaan
gadis
tersebut
dengan
lingkungan
sekitarnya. Foto-foto semacam ini bisa memperlihatkan
hubungan antara subjek dan tempat, aktifitas, suasana
dan sebagainya. Selanjutnya kalau menempatkan gadis
itu hanya sebagai bagian kecil dalam bingkai gambar,
ini memberi kesan bahwa pemandangan alam lebih
ditekankan. Sekarang gadis tadi tidak menjadi bagian
pokok tetapi hanya sebagai penyerta saja.
Kembali pada framing pilihan pertama, dimana
memasukan wajah gadis pada seluruh bingkai gambar.
Memang benar bahwa foto semacam ini menarik, karena
penonton dengan jelas bisa melihat detail. Tetapi kalau
membuat kesalahan misalnya dalam pemotongan,
kesalahan tersebut juga akan terlihat jelas. Sehingga
gambar terasa janggal. Dalam hal pemotongan bagian
tubuh manusia, ada suatu ketentuan yang harus ditaati
pemotret supaya gambar tampak wajar. Untuk
mengetahuinya bisa memakai sebuah foto yang sudah
tidak dipakai lagi dari seseorang yang sedang berdiri.
Sekarang potonglah foto tersebut dengan gunting tepat
pada bagian leher, kemudian amatilah potongan foto
pada bagian kepala. Dari sini akan terlihat kejanggalan
itu. Potongan gambar tersebut menimbulkan perasaan
ngeri atau perasaan yang tidak mengenakkan. Hal ini
disebabkan karena dan manusia-manusia lain melihat
dengan pikiran. Pikiran manusia dipengaruhi oleh
pengalaman yang sudah biasa mereka lihat. Maka kalau
melihat foto setengah badan dari seseorang, meskipun
tidak tampak tetapi tahu bahwa dia punya kaki.
Demikian juga karena pengalaman dan pengetahuan
yang dimiliki, semua manusia tahu bahwa persedianpersendian pada tubuh manusia adalah bagian yang
paling memungkinkan bisa lepas, dan manusia tahu
bahwa leher yang terpotong sangat mematikan. Maka
anjuran yang patut anda ikuti adalah jangan memotong
tepat pada persendian, dan bisa memotong diatas atau
di bawahnya. Tetapi tidak bisa membuat batas frame
tepat di atas kepala dan tepat di bawah kaki. Karena
kita tidak pernah berada diruangan yang pas seperti itu,
kalaupun pernah tentu akan terasa tidak enak. Di dalam
rumah, di dalam mobil, justru ada ruangan diatas
kepala kita. Ini juga berlaku untuk subjek pemotretan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

282

yang lain, bisa binatang, pohon, benda-benda mati dan


sebagainya. Jangan membuat framing yang terlalu pas,
berilah sedikit ruangan agar tampak lega. Tetapi
ruangan kosong yang terlalu luas juga tidak
menguntungkan, karena ruangan kosong yang terlalu
luas tidak memberi arti apa-apa.
Kalau subjek
jauh dari kamera, sehingga
seharusnya ada ruangan dihadapannya. Pemotret harus
menciptakan kesan kedalaman, supaya penonton dapat
merasakan adanya ruangan di depan subjek tersebut.
Ada banyak cara untuk itu, misalnya bahwa subjek
ditempatkan berada dibelakang sesuatu. Dengan cara
lain, yaitu dengan menempatkan subjek di antara
sesuatu yang mengelilinginya, sehingga subjek seperti
berada pada suatu bingkai. Bisa juga memakai jendela,
pintu, pohon, gua dan sebagainya sebagai bingkai
tersebut. Tehnik ini disebut frame within frame.
Melihat foto semacam ini, penonton akan merasakan
adanya dua bidang datar, yaitu pada bingkai dan latar
belakang, sehingga akan didapatkan kesan ruang.
Kesan kedalaman atau perspekstif, bisa pula
ditimbulkan oleh garis-garis yang konvergen (garis-garis
panjang yang akan bertemu pada suatu titik). Seperti
kalau melihat dari tengah jalan kerata api atau jalan tol
yang lurus, tampak akan bertemu pada satu titik
dikejauhan sana.
Membuat kesan perspektif seperti itu mungkin
pernah dipraktekkan sewaktu kecil dengan menggambar
pemandangan gunung, di mana ada jalan lurus yang
makin lama makin kecil, akhirnya menjadi titik di kaki
gunung. Dengan lensa wide angle juga bisa dengan
mudah membuat kesan perspektif seperti itu, bahkan
bisa menjadi lebih dramatis kalau ditempatkan suatu
sebagai latar depan. Dalam framing garis-garis tersebut
bisa didapatkan garis-garis pada gedung, pagar,
pematang sawah dan lain-lain.
Gambar
tidak
menarik
kalau
subjeknya
ditempatkan tepat ditenga-tengah bingkai gambar.
Gambar akan lebih menarik kalau subjek tersebut
ditempatkan sedikit agak kepinggir. Ada satu hokum
klasik mengenai komposisi yang disebut potongan
kencana (golden section). Hukum komposisi ini dipakai
oleh pemahat-pemahat Yunani kuno dan juga pelukispelukis eropa. Pada dasarnya hukum tersebut
menyatakan bahwa keselarasan akan tercapai kalau

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

283

suatu bidang itu adalah merupakan kesatuan dari dua


bidang yang saling berhubungan. Bidang yang besar
mempunyai hubungan dengan yang kecil, seluruh bidang
yang saling berhubungan dengan yang besar, dengan
perbandingan pembagian bidang yang besar dan yang
kecil sama dengan perbandingan antara seluruh gambar
dengan yang lain.
Dengan perhitungan secara kasar bisa didapat
bahwa bidang tersebut adalah 1/3 bagian, 2/3 bagian
dan penuh. Hubungan 1/3, 2/3 dan penuh menurut
hukum potongan kencana tersebut juga dapat
diterapkan pada perancangan framing sebuah foto.
Dengan membagi bidang horizontal atau bidang vertikal.
Garis-garis tersebut dinamakan garis potongan kencana.
Pada salah satu garis potongan kencana itulah subjek
yang dimaksud sebagai pokok atau pusat perhatian dari
seluruh gambar sebaiknya ditempatkan. Kalau subjek
tersebut ditempatkan di tengah bidang gambar, bagian
besar dari bidang gambar menurut hukum potongan
kencana tidak mempunyai hubungan dengan bagian
kecil.
Kalau subjek tersebut ditempatkan pada salah satu
garis potongan kencana, tampak bahwa bagian yang
besar dari gambar mempunyai hubungan dengan bagian
yang kecil. Selain itu subjek yang tepat ditengah
gambar, akan membagi bidang gambar menjadi dua
bagian yang sama dan simetris, sehingga mata penonton
yang menelusuri seluruh bidang gambar, akan selalu
mendapati jarak yang sama antara subjek dan tepi kiri
dan kanan gambar. Hal ini akan berkesan bahwa tidak
ada irama atau monoton. Gambar seperti itu terasa
statis.
Kebanyakan orang mengatur framing secara
horizontal. Mungkin ini disebabkan karena kamera itu
sendiri dibuat secara horizontal, sehingga untuk
memakainya secara vertical terasa sedikit kurang enak.
Juga mungkin karena manusia memandang dengan dua
mata yang letaknya sejajar secara horizontal, sehingga
orang selalu merasa bahwa bingkai yang horizontal
itulah yang wajar. Tetapi secara estetis, keduanya baik
horizontal maupun vertical dan binatang, gunung, mobil
adalah horizontal. Meskipun begitu tidak bisa membuat
framing hanya menurut bentuk subjek saja. Apapun
subjeknya, semuanya mempunyai kemungkinan bisa
difoto secara vertical atau horizontal. Sekarang tinggal

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

284

apa yang ingin lebih ditekankan atau apa yang


dibutuhkan. Dalam hal terakhir ini, para pemotret
professional yang memotret untuk majalah atau ilustrasi
buku, lebih mudah menentukan format dari framing.
Karena biasanya majalah atau buku mempunyai format
vertical, sehingga pemotret tinggal mengatur komposisi
subjek supaya bisa didapat gambar secara vertical.
Tetapi kalau tidak mempunyai keperluan khusus seperti
itu, harus dipertimbangkan sesuatu yang lain.
Kalau tidak, cobalah mencari kemungkinan lain,
misalnya dengan mengubah sudut pengambilan. Bisa
naik keatas pohon, berlutut, tiarap diatas tanah atau
banyak kemungkinan lain yang masing-masing akan
memberi kesan gambar yang berbeda. Tetapi kalau
membuat suatu foto reportase atau memotret
keramaian, misalnya suatu pawai dimana semua bisa
berubah dengan cepat, Pemotret tidak punya waktu
untuk menganalisa framing yang sedang diatur. Dalam
situasi seperti ini pengetahuan mengenai komposisi
yang sudah menyatu dengan pikiran dan pemahaman
terhadap sifat-sifat serta efek yang dihasilkan oleh foto,
akan sangat menentukan. Pada saat seperti ini harus
sudah menentukan framing sebelum mengangkat
kamera. Jadi pada waktu melihat bingkai gambar dalam
viewfinder dan menekan tombol rana untuk mengambil
gambarnya adalah merupakan pelaksanaan dari framing
yang sudah diputuskan sebelumnya. Untuk itu harus
paham betul mengenai pandangan kamera.
9) Pusat Perhatian
Seperti yang telah dibicarakan bahwa pusat
perhatian sebaiknya ditempatkan pada garis potongan
kencana, supaya gambar lebih menarik. Pusat perhatian
adalah bagian pokok dari seluruh bagaianbagian lain
yang ada dalam gambar. Misalnya memotret seorang
petani yang sedang bekerja disawah. Yang menjadi
pusat perhatian adalah petani yang sedang bekerja
tersebut. Sedang bagian-bagian gambar yang lain seperti
sawah, pematang, pepohonan, lain dan sebagainya
adalah pelengkap yang menghubungkan pusat perhatian
untuk menunjukkan tempat, suasana, aktifitas dan
sebagianya. Demikian juga seharusnya dirasakan
penonton yang melihat foto itu menjadi kesan lain. Mata
penonton yang melihat sebuah gambar akan terus
bergerak dari satu titik ke titik yang lain menjelajahi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

285

seluruh bidang gambar. Setelah mata penonton


menemukana titik yang dimaksudkan sebagai pusat
perhatian, yaitu petani, mata penonton masih akan
terus bergerak. Kalau kemudian mata penonton
menemukan ada bagian lain yang lebih menarik dari
pada pusat perhatian yang dimaksud, misalnya warnanya
lebih mencolok atau terang, maka dia tidak mendapat
kesan seperti yang diharapkan.
Hal serupa akan ditemui kalau latar belakang
terlalu sarat dengan bermacam-macam warna dan
bentuk yang dihasilkan oleh pepohonan. Mata penonton
akan selalu tergoda untuk mengikuti garis-garis dari
daun dan pepohonan yang ada dilatar belakang,
sehingga subjek utama yang seharusnya menjadi pusat
perhatian seakan tenggelam dalam latar belakang.
Untuk membantu mengarahkan pandangan penonton
kepada apa yang dimaksud, yaitu harus mengatur supaya
perhatian lebih menonjol.
Dalam pemotretan close-up hal ini tidak terlalu
sulit, karena tidak ada atau hanya sedikit saja latar
belakang sehingga komposisi atau susunan gambar
menjadi sederhana. Dengan demikian penonton langsung
diajak melihat subjek seperti apa yang dinginkan
pemotret. Pada foto CLOSE-UP yang besar yang menjadi
pusat perhatian adalah mata. Seperti kalau berbicara
dengan orang lain yang dipandang pasti matanya. Untuk
foto seperti ini, karena mata yang menjadi pusat
perhatian, maka mata harus benar-benar tajam, artinya
focus harus tepat.
Jadi bisa dikatakan bahwa makin sederhana
komposisi, makin mudah mengarahkan penonton pada
suatu pusat perhatian. Salah satu cara untuk
menyederhanakan komposisi adalah dengan membuat
latar belakang yang polos/kosong. Misalnya burung yang
sedang terbang dengan latar belakang langit yang biru.
Karena latar belakang kosong, mata penonton lebih
diarahkan untuk selalu melihat burung itu. Komposisi
seperti ini sering dipakai dalam pembuatan foto-foto
iklan. Kalau diperhatikan foto-foto iklan kebanyakan
dibuat dengan latar belakang polos. Jika demikian harus
mempertimbangkan apakah bagian-bagian lain dalam
gambar bisa mendukung pusat perhatian atau tidak.
Apakah latar depan dan latar belakang terlalu ramai
sehingga membingungkan penonton. Kalau terlalu
banyak benda-benda yang masuk dalam gambar,

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

286

sehingga komposisi menjadi terlalu rumit, bisa


menyederhanakannya dengan cara yang disebut
penajaman selektif (selective focusing), yaitu mengatur
sebagian gambar saja yang ada dalam focus, sedangkan
gambar yang lain kabur. Dengan memakai bukaan
diaphragma lebar dan focus diatur tepat tentu pusat
perhatian akan menghasilkan gambar yang tajam pada
bagian pusat perhatian dan latar belakang kabur.
Sekarang komposisi menjadi sederhana. Garis-garis dan
bentuk-bentuk dari pepohonan yang ada dilatar
belakang menjadi tidak jelas, ini tidak menarik
perhatian penonton, sehingga akan lebih mengarahkan
perhatian penonton pada pusat perhatian.
Membuat latar belakang menjadi kabur seperti
contoh diatas memang menguntungkan. Akan tetapi
latar belakang yang kabur tidak selalu baik. Kadangkadang latar belakang yang tajam diperlukan juga,
misalnya untuk menekankan keberadaan subjek pada
seuatu tempat tertentu atau untuk lebih menonjolkan
hubungan antara subjek dan latar belakang. Dalam hal
ini tentu saja diperlukan kecermatan dalam mengatur
penempatan sunjek dan latar belakang sehingga tidak
saling mengganggu. Jadi, latar belakang baik yang
tampak kabur ataupun yang tajam keduanya bisa
menguntungkan atau merugikan. Latar belakang yang
kabur menguntungkan karena bisa lebih mudah
mengarahkan perhatian penonton pada subjek utama.
Tetapi benda-benda yang terang dilatar belakang atau
pantulan-pantulan sinar dilatar belakang yang tampak
sebagai titik-titik putih yang menjadi kabur karena
berada dalam focus lensa akan tampak menjadi lebih
besar.
Ini terasa akan mengganggu karena sesuatu yang
terang, misalnya warna putih akan lebih menarik
perhatian mata. Di lain pihak latar belakang yang tajam
memang bisa lebih menekankan tempat dan suasana
tetapi kalau tidak hati-hati mengaturnya mungkin
merugikan karena komposisi lebih rumit. Subjek utama
dan latar belakang bisa kita sebut sebagai figure dan
ground. figure adalah gambar pokok yang menjadi pusat
perhatian dan ground adalah suatu latar yang
mempunyai kaitan dengan keberadaan dari figure.
Dalam melihat suatu selalu mempunyai figure dan
ground. Sebagai contoh, pada waktu melihat sebuah
konser musik, perhatian tertuju pada penyanyi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

287

dipanggung. Di sini penyanyi tersebut menjadi figure


dan sekitarnya menjadi ground. Kemudian kalau
perhatian beralih kepada penabuh drum itulah yang
menjadi figure, dan seterusnya. figure dan ground akan
selalu berubah-ubah sesuai apa yang menarik perhatian
anda. Dalam sebuah foto pemilihan figure dan ground
sudah ditentukan oleh pemotret. Pemotret menentukan
dan mengatur figure dan ground sudah dalam satu
gambar tunggal agar terjadi satu kesatuan, sehingga
penonton bisa merasakan kesan seperti apa yang
dimaksudkan. Perlu diingat bahwa figure dan ground
tidak bisa dilihat dalam waktu yang bersamaan. Sama
seperti waktu menonton televisi. Tidak melihat Koran
sewaktu menonton televisi. Demikian halnya dalam
sebuah foto. Penonton melihat figure dan ground secara
bergantian. Dengan mengontrol secara menyeluruh dan
dengan seksama pemotret bisa mengarahkan perhatian
penonton pada figure yang dimaksudkannya. Garis-garis
pantai, gunung, awan, cabang-cabang pohon, pagar yang
ada sebagai latar atau ground bisa membawa perhatian
penonton pada figure yang menjadi subjek utama.
Pusat perhatian, seperti yang telah diterangkan
selama ini, mengandaikan
hanya ada satu pusat
perhatian. Lalu bagaimana kalau ada lebih dari satu
pusat perhatian, misalnya dua orang, beberapa buah
benda, serombongan orang. Ini semua tergantung dari
bagaimana posisi subjek tersebut dalam gambar.
Misalnya ada dua atau sekelompok orang yang saling
berdekatan rapat atau saling bersinggungan. Maka
sekelompok orang tersebut bisa dikatakan sebagai satu
kesatuan yang bisa menjadi satu pusat perhatian.
Sedang kalau ada dua atau lebih pusat perhatian yang
letaknya tidak berdekatan, untuk menyatukan mereka
diperlukan suatu tegangan (tension) yang bisa mengikat
perhatian penonton pada mereka. Tegangan atau
tension ini bisa terjadi karena adanya arah gerak dan
arah pandangan. Contohnya adalah sebuah foto
pertandingan sepak bola dimana tampak dua orang
sedang berebut bola. Pandangan dan arah gerak kedua
pemain tersebut mengarah pada bola, sehingga terasa
ada tegangan yang menjadikan kedua pemain tersebut
menjadi pusat perhartian dari seluruh gambar.
Pada umumnya
kita selalau menginginkan
perbandingan. Dalam foto perbandingan juga penting.
Orang yang tingginya lebih dari dua meter akan tampak

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

288

tinggi kalau difoto diantara kerumunan orang. Kesan


tinggi dari orang yang sama tampak dia difoto sendirian
dengan latar belakang sawah yang luas. Dengan
menampakkan
perbandingan,
penonton
akan
mendapatkan semacam bukti yang mengesankan
mengenai ukuran. Misalnya sebuah pohon raksasa atau
jurang yang tinggi, akan tampak dalam foto besar atau
tingginya jika didalamnya tampak juga orang yang bisa
dijadikan sebagai perbandingan. Perbandingan yang
tajam, misalnya kesan berdampingan dengan yang kecil.
Selain bisa memberi tekanan juga lebih menarik
perhatian. Banyak orang akan melirik kalau melihat
seorang gadis yang jangkung berjalan dengan seorang
laki-laki yang pendek.
10) Garis dan Bentuk Komposisi
Dalam komposisi fotografi yang dimaksudkan
dengan garis bisa merupakan garis nyata yang pada
dasarnya adalah merupakan tepi atau batas yang
membedakan suatu bentuk, sehingga dengan adanya
garis-garis kita bisa mengenali suatu bentuk. Selain
garis-garis yang nyata tadi, ada juga garis-garis
imajiner, yaitu garis yang yang tidak tampak secara
nyata, tapi mempunyai kesan ada misalnya, arah
pandangan mata. Dalam komposisi, garis merupakan
salah satu unsur yang penting. Bahkan pelukis pertama
kali memulai mengerjakan lukisan dengan membuat
bentuk garis. Telah diketahui bahwa garis bisa
membangkitkan kesan prespekstif atau kedalaman dan
bisa dijadikan sebagai penghubung yang menuntun mata
penonton ke pusat perhatian. Selain dari itu garis juga
memberikan
kesan
tertentu.
Anak-anak
yang
menggambar mobil, orang, selalu memberi garis
horisontal dibawahnya sebagai tempat berpijak,
Pandangan mata manusia adalah horizontal, mata
kita sewaktu memandang sesuatu selalu dengan mudah
dan enak menelusuri dari tepi secara horizontal,
sehingga garis-garis horizontal yang kita lihat seakan
mempunyai kesan yang biasa, tidak mengejutkan. Dari
semua contoh di atas , pada umumnya garis-garis
horizontal memberi kesan stabil, tenang, istirahat
(tidur) dan statis. Garis-garis horizontal yang sejajar
memberi kesan di atas. Unsur lain dalam komposisi
adalah garis vertikal, garis-garis ini sering kita jumpai.
Garis-garis vertikal adalah bentuk utama dari pohon dan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

289

manusia. Arahnya yang atas bawah memberi kesan


gravitasi,
sehingga
lebih
menimbulkan
kesan
gerak.Tetapi garisgaris vertical yang banyak dan sejajar
memberi kesan rintangan-rintangan seperti pagar atau
sederetan orang yang berdiri menghadap kamera. Di
antara unsur-unsur garis dalam komposisi, garis diagonal
merupakan yang paling enak dilihat dan dramatis. Garisgaris diagonal juga lebih dinamis dan hidup, kesan garisgaris tersebut mempunyai tegangan yang tak terduga
dan posisi yang terkesan tidak stabil. Garis-garis
diagonal juga membuat kesan perspektif yang
menimbulkan ilusi kedalaman ini bisa anda buat dengan
mudah kalau anda memakai lensa sudut lebar.
Dari sudut komposisi, unsur garis diagonal sering
menjadikan suatu yang mengundang mata. Mungkin ini
disebabkan karena kebanyakan yang dilihat adalah lensa
vertical dan horizontal, termasuk pinggiran dari gambar
itu sendiri, sehingga kalau ada unsur garis diagonal pada
gambar akan segera menyegarkan. Garis-garis diagonal
yang sejajar tidak tampak menjadi penonton karena
mereka selalu mempunyai panjang yang berbeda. Garisgaris yang berhubungan akan menjadi suatu bentuk.
Dalam komposisi bentuk merupakan kesatuan yang
membuat bagian-bagian dari gambar menjadi saling
berhubungan. Diantara banyak macam bentuk yang bisa
terjadi, bentuk komposisi yang paling enak dipandang
adalah bentuk geometris. Kalau dilihat hampir semua
yang dibuat manusia mempunyai bentuk geometris. Ada
tiga bentuk komposisi yang utama yaitu segi empat,
segitiga dan lingkaran. Sedang trapezium dan oval
adalah variasi dari ketiga bentuk komposisi tersebut.
Bentuk yang paling sering dilihat adalah segi empat.
Rumah, pintu , jendela, meja, televisi semua
mempunyai unsur segi empat. Bahkan bentuk frame dari
gambar itu sendiri juga segi empat, dan pembagian
bidang-bidang gambar-gambar menurut hukum golden
section yang telah diterangkan sebelumnya, juga adalah
pembagian bidang-bidang segi empat. Segi empat adalah
merupakan perpaduan dari gari-garis vertical dan
horizontal. Garis-garis vertical dan horizontal yang
bertemu cenderung menimbulkan kesan mapan, formal,
statis karena garis vertical yang mempunyai gravitasi
bertemu dengan garis horizontal sebagai tempat
berpijak. Memotret dengan mengarah kamera keatas
atau kebawah atau memakai lensa sudut lebar akan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

290

sulit untuk mendapatkan gambar dengan komposisi


berbentuk segi empat. Bentuk segi empat akan lebih
mudah adidapat dengan pemotretan yang lurus
(waterpas). Dilihat dari pemotretan saja sudah bisa
terasa bahwa komposisi segi empat itu terasa formal dan
terencana. Dalam komposisi fotografi dan juga seni
grafis lainnya bentuk yang paling sering dipakai adalah
bentuk segitiga. Bentuk segitiga hampir selalu dapat
dibuat dengan mudah karena hanya diperlukan tiga titik
dan tanpa garis sejajar. Bentuk segitiga menarik karena
selalu ada unsur diagonal yang membuat terasa lebih
dinamis. Bentuk segitiga sangat menarik pandangan
tidak hanya karena adanya garis-garis diagonal tetapi
juga karena tiga titik yang dimilikinya.
b. Kamera Televisi
Gambar-gambar yang kita saksikan pada layar pesawat
televisi, baik yang disiarkan langsung maupun yang telah
direkam terlebih dahulu, adalah gambar yang telah dilihat
oleh kamera televisi. Gambar-gambar tersebut ditentukan
oleh apa yang bisa dilihat dan bagaimana cara kamera
melihatnya. Sebagai contoh, apabila pada suatu malam kita
berjalan-jalan di kaki lima di sebuah kota, pemandangan
yang khas dari suasana malam akan nampak sempurna oleh
mata kita. Kita bisa melihat dengan jelas barang-barang
yang dipajang di etalase toko, hotel-hotel, rumah makan
dengan neon signnya, orang-orang, kendaraan yang berlalu
lalang. Dengan penerangan lampu jalan, lampu toko, lampu
mobil, kiranya cukup bagi mata kita untuk melihat dengan
jelas. Tetapi bagi kamera televisi, penyinaran yang
demikian itu sangat kurang, pemandangan akan nampak
agak gelap dan tidak jelas pada layar televisi apabila
merekamnya.
Tanpa gambar yang jelas pesawat televisi tak lebih dari
pesawat radio, sebab pada media televisi unsur yang paling
penting adalah gambar, meskipun tentu saja kita tidak
boleh mengabaikan unsur audio atau suara. Jika bisa
dikatakan bahwa produksi televisi sangat ditentukan oleh
apa yang bisa dilihat dan apa yang tidak bisa dilihat oleh
kamera.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

291

1) Bagian-bagian Kamera TV

a. Kamera Televisi/Video

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

292

MIC
BODY
VIEW
FINDER
VCR

OPTIC

BATTTERY

SUM SWITCH

b. Bagian-bagian Kamera Video/ TV


Gambar 101. Kamera televisi/video dan bagian-bagiannya

Kamera televisi terdiri dari 4 bagian utama:


a) Lensa/Optik
b) Kepala kamera dan body ( camera head )
c) View finder
d) VCR (Video Casette Recorder )
a) Lensa Fungsi lensa adalah untuk mengumpulkan sinar yang
dipantulkan oleh obyek sehingga membentuk bayangan optis
pada permukaan tabung kamera atau CCD (Charge Couple
Device). Lensa menentukan perspektif visual dari
pemandangan yang dilihat oleh penonton.
Lensa tersusun atas 3 bagian:
(1) Elemen-elemen optik yang menghasilkan bayangan dan
mengubah panjang fokal.
(2) Iris, yang bisa diubah-ubah untuk mengatur banyaknya
cahaya yang masuk kedalam Kamera.
(3) Sistem mounting, pemasangan lensa pada kamera
dengan sistem bayonet atau sistem ulir (C-mount).

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

293

Lensa yang digunakan untuk kamera video, biasanya lensa


zoom.
Elemen-elemen optik lensa. Sebuah lensa terdiri dari
sejumlah elemen-elemen optik yang ditempatkan dalam silinder
metal. Elemen-elemen ini berupa kepingan kaca bulat dengan
lapisan-lapisan khusus yang berfungsi untuk mengurangi refleksi
sinar yang dipantulkan oleh obyek, memfokuskan bayangan
pada permukaan tabung kamera atau CCD.
Iris (diafragma). Iris adalah sejumlah lembaran metal
tipis yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa dibuka dan
ditutup untuk mengatur banyaknya sinar yang bisa masuk
melalui lensa. Bila iris dibuka selebar mungkin, lensa mengirim
sinar maksimum kedalam kamera, dan bila bukaan iris kita
kurangi atau kita tutup, lubang diafragma akan menyempit,
sehingga sedikit sinar yang masuk ke dalam kamera.
Bukaan difragma diukur dengan nomor f-stop dimulai dari
f/1,4 sampai f/22. Lebih kecil nomor f-stop, lebih besar bukaan
difragma, lebih besar nomor f-stop berarti lebih kecil bukaan
diafragma.
Sifat-sifat optik lensa
Sifat-sifat optik lensa menentukan ukuran dan
pembesaran bayangan, menghasilkan pandangan horisontal dari
adegan yang difoto, dan menentukan perspektif visual dari
shot. Adapun sifat-sifat optik lensa zoom adalah: panjang fokal
(focal length) dan f-stop

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

294

SUM RING

FUCUS RING

IRIS RING

LENSA

FL RING
MACRO RING

Gambar 102. Bagian-bagian Optik Kamera TV/Video

Panjang fokal (Focal Length). Panjang fokal adalah


kwalitas lensa yang menentukan ukuran pembesaran bayangan
dan bidang pandangan horisontal. Panjang fokal ditentukan
dengan mengukur titik pusat lensa ke titik dimana sinar
berkumpul dibelakang lensa dalamkeadaan tajam (fokus). Titik
ini disebut titik fokus dimana ditempatkan permukaan tabung
atau CCD, untuk menangkap gambar atau bayangan.
Panjang fokal dihitung dalam milimeter. Lebih besar
panjang fokal, lebih sempit bidang pandangan dan lebih besar
ukuran obyek.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

295

FOCAL LENGTH

MID POINT LENS

POINT OF FOCUS FOR FILM

Gambar 103. Ilustrasi Vocal Length

Lensa normal menghasilkan pandangan sebagaimana mata


kita melihatnya. Bidang pandangan horisontal dan pembesaran
gambar lensa normal sebanding dengan apa yang kita lihat
apabila kita berdiri ditempat dimana kamera berada. Panjang
fokal lensa normal dalam format 16 mm (permukaan tabung
kamera atau CCD berukuran 2/3 inci) kira-kira 25 75 mm
dengan pandangan horisontal 20- 9, lensa sudut lebar dari 12
25 mm mempunyai bidang pandangan horisontal 57- 20,
lensa telephoto dengan panjang fokal 75 200 mm mempunyai
bidang pandangan horisontal 9- 3.
Standar panjang fokal lensa dan sudut pandangan
horisontal. Bidang pandangan horisontal adalah seberapa
besarnya sudut suatu shot yang bisa diperoleh oleh sebuah
lensa. Dengan mengetahui bidang pandangan horisontal lensa,
sutradara dan juru kamera bisa merencanakan shot-shot dan
penempatan kamera pada suatu lokasi atau studio dalam floor
plan.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

296

75

25

20

16

37

10

57

4,8

110
STANDART FOCAL
LENGTH

Gambar 104. Ilustrasi standard vokal length kamera TV

Lensa Zoom.
Kamera televisi pada umumnya mempergunakan lensa
zoom. Lensa zoom adalah lensa yang bisa diubah-ubah panjang
fokalnya, dari sudut pandang yang paling lebar (wide angle) ke
sudut yang paling sempit telefoto.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

297

Gambar 105. Ilustrasi perbedaan penggunaan lensa zoom

Zoom range adalah batas perbandingan antara panjang


fokal lensa zoom terpendek dan terpanjang. Zoom range
biasanya dituliskan dengan dua nomor, misalnya 10 x 12. Nomor
pertama 10 adalah zoom rangenya, artinya perbandingan
panjang fokal terpendek dengan panjang fokal terpanjang
adalah 10 : 1. Sedangkan nomor yang ke dua 12 adalah panjang
fokal terpendek dalam milimeter. Jadi 10 x 12 artinya lensa
tersebut mampu membuat zooming dari 12 mm (panjang fokal
terpendek) sampai 120 mm (panjang fokal terpanjang).
Lensa zoom dalam melakukan zooming bisa digerakkan
dengan cara:

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

298

Manual : mengatur sudut pandang dan kecepatannya dengan


memutar sticknya.
Servo : dengan menekan tombol yang menggerakkan motor
elektronisnya.
Dengan lensa zoom ini kita bisa menghasilkan fokus yang
tepat apapun bidang pandangan yang kita kehendaki dengan
membuat kalibrasi atau prefokus lensa sebelum shot-shot
direkam.
Dekatilah subyek dengan zoom in, kemudian atur fokus
sehingga obyek nampak tajam. Bila obyeknya manusia fokuskan
pada matanya. Setelah focusing dengan melakukan zoom out
buatlah framing dan komposisi seperti yang kita inginkan.
Kemudian rekaman bisa kita mulai, pada saat merekam kita
buat zoom in secara perlahan, gambar akan tetap fokus
sepanjang kamera atau subyek tidak bergerak dari posisi
semula. Apabila jarak dari kamera ke subyek berubah, misalnya
dengan merekam adegan baru pada subyek lain yang posisi atau
jarak berbeda, tentu saja kita harus mencocokkan fokus lagi
untuk menghasilkan gambar yang tajam.
F stop. F-stop adalah satuan bukaan iris (diafragma).
Dengan merubah f-stop berarti menambah atau mengurangi
cahaya yang masuk kedalam kamera. Semakin tinggi nomor fstop, semakin kecil bukaan diafragma, semakin sedikit sinar
yang masuk kedalam kamera. Semakin kecil nomor f-stop,
semakin besar bukaan diafragma, semakin banyak sinar yang
masuk kedalam kamera.
Bilangan f-stop tersebut telah dirancang sedemikian rupa
sehingga setiap naik satu stop, maka banyaknya cahaya yang
melewati diafragma tinggal separuh dari semula. Sebaliknya
dengan turun 1 stop, sinar yang masuk 2 kali lipat

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

299

f/2

f/4

f/8

f/16

f/22

DEPTH OF FILD

Gambar 106. Ilustrasi hubungan diaphragma dengan ruang ketajaman

Fokus. Fokus adalah pengaturan lensa yang tepat untuk


jarak tertentu. Gambar dikatakan fokus apabila proyeksi
gambar yang dihasilkan oleh lensa jatuh dipermukaan tabung
atau CCD, jelas dan tajam. Juga yang nampak pada viewfinder
atau TV monitor.
Bidang Kedalaman (Depth of field) atau Ruang Tajam.
Bidang kedalaman atau depth of field adalah bidang dimana
obyek-obyek di depan dan di belakang obyek utama nampak
dalam fokus. Bidang kedalaman sangat penting untuk hal-hal
teknis dan estetis. Secara teknis, shot dengan bidang
kedalaman yang luas, memudahkan juru kamera mengikuti
action, gerakan subyek. Bidang kedalaman yang sempit
mengharuskan kita secara terus menerus mengubah fokus,
apabila subyek ataupun kamera sendiri bergerak.
Secara estetis bidang kedalaman sangat berperan dalam
menciptakan perspektif visual pada keseluruhan adegan (shot).
3 hal yang menentukan bidang kedalaman adalah:
(1) panjang fokal lensa
(2) f-stop bukaan iris dan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

300

(3) jarak antara kamera dan obyek.

4 METER

DEPTH OF
FIELD

10 METER

20 METER

DEPTH OF FIELD

DEPTH OF FIELD

Gambar 107. Ilustrasi hubungan jarak dengan ruang ketajaman

Panjang fokal. Lebih pendek panjang fokal atau lebih


besar sudut pandang lensa, lebih dalam atau lebar bidang
kedalaman. Panjang fokal ditambah, bidang kedalaman semakin
sempit.
F-stop. Lebih kecil lensa dibuka (lebih besar nomor fstop), lebih luas bidang kedalaman. Lebih besar bukaan lensa
(lebih kecil nomor f-stop), bidang kedalaman lebih sempit.
Jarak kamera dengan subyek. Semakin jauh jarak antara
kamera dengan subyek, makin luas bidang kedalaman. Semakin
dekat jarak kamera dengan subyek, semakin sempit bidang
kedalaman.
Perspektif Lensa. Menunjukkan cara lensa memotret
kedalaman, dimensi dan hubungan antara obyek-obyek di dalam
videospace. Lensa normal menghasilkan perspektif normal,
videospace nampak wajar sebagaimana mata kita melihatnya.
Lensa wide angle (sudut lebar), menambah kedalaman, jarak
antara latar belakang dengan latar depan lebih jauh dari
kenyataannya. Gerakan yang mengarah menuju ke kamera atau
meninggalkan kamera nampak lebih cepat dari gerakan
sebenarnya. Lensa telefoto (sudut sempit) mengurangi
kedalaman ruangan, jarak antara latar belakang dengan subyek
utama nampak dekat sehingga gambar terkesan datar. Gerakan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

301

menuju atau meninggalkan kamera nampak lebih lambat dari


gerakan yang sebenarnya.
Filter.
Filter
befungsi
untuk
mengubah
atau
mencocokkan cahaya yang masuk ke dalam kamera.
Filter koreksi suhu warna. Televisi berwarna membagi
cahaya yang terlihat oleh mata manusia menjadi 3 warna
primair, yaitu merah, hijau dan biru (RGB). Ketiga warna ini
apabila dipadukan dalam perbandingan yang tepat (R=30%,
G=59%, B=11%) akan menghasilkan warna putih, dengan
perbandingan yang berbeda akan menghasilkan warna-warna
yang lain. Warna dari suatu benda disebabkan oleh pantulan
cahaya yang mengandung warna tertentu. Benda putih terlihat
sebagai warna putih yang tepat apabila dikenai cahaya putih.
Tetapi cahaya putih yang murni jarang sekali, kebanyakan yang
kita lihat adalah sebagai warna putih yang mengandung warna
kebiru-biruan atau kemerah-merahan.
Mata kita secara otomatis bisa mengimbangi perubahanperubahan itu dengan mengubah balans warna, sehingga kita
selalu melihat warna putih sebagai putih, tetapi kamera televisi
tidak. Untuk memecahkan masalah ini, kamera video dilengkapi
dengan sebuah filter yang dipasang pada suatu piring
ditempatkan di antara lensa dan tabung kamera. Roda filter ini
berisi sejumlah filter koreksi warna yang berbeda, masingmasing bisa secara cepat diputar dicocokkan dengan kondisi
cahaya yang kita pergunakan untuk melakukan rekaman.
Umumnya Kamera video memiliki 2 buah filter koreksi warna.
Untuk shoting didalam ruangan dengan cahaya lampu video kita
pasang filter 3200K dan untuk shoting dengan penerangan
cahaya matahari kita gunakan filter 5600K.
Cahaya matahari banyak mengandung warna biru. Kalau
kita memasang filter nomor 2 untuk matahari, sebetulnya kita
memasang filter berwarna oranye, yang bisa mengimbangi
banyaknya warna biru yang terdapat dalam cahaya matahari.
Sebaliknya cahaya lampu video lebih mengandung warna
merah, maka kita pasang filter nomor 1 (3200K), yang
berwarna kebiru-biruan. Sumber cahaya yang lebih tinggi
intensitas sinarnya mengandung warna biru, sumber cahaya
yang lebih rendah lebih mengandung warna merah. Perbedaan
warna cahaya ini tergantung pada suhu, dan diukur dengan
derajad Kelvin.
White Balance. Intensitas cahaya berbeda-beda pada
saat yang berbeda dalam sehari. Cahaya pagi hari atau senja
mempunyai suhu 2000K, cahaya tengah hari mempunyai
ukuran 10.000K. Karena intensitas cahaya sangat berbeda
maka filter koreksi warna tidak bisa menghasilkan warna putih

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

302

yang tepat. Maka dari itu kamera video juga dilengkapi dengan
tombol untuk menyetel white balance. Cara termudah untuk
menyetel white balance ialah dengan mengarahkan kamera
terhadap benda putih apa saja yang berada dalam kondisi
cahaya yang sama dengan cahaya yang kita pergunakan untuk
merekam adegan.
Cara menyetel white balance:
Pertama-tama cocokkan filter koreksi warna dengan
kondisi cahaya yang kita pakai shoting. Arahkan kamera
terhadap benda putih apa saja. Kamera di zoom sampai yang
terlihat dalam viewfinder hanyalah warna putih.Tekan tombol
pengatur white balance. White balance harus diubah, apabila
keadaan cahaya berubah.
Filter Neutral Density (ND). Berfungsi untuk mengurangi
intensitas sinar yang terlalu kuat tanpa mempengaruhi kwalitas
warna cahaya. Filter ini digunakan bila kamera membuat
rekaman dimana kondisi cahaya terlalu tinggi. Dengan
mempergunakan filter ND ini kita bisa membuat selective
focusing atau rack focus. Karena pemasangan filter ini akan
memaksa
bukaan
f-stop
melebihi
normal;
sehingga
mempersempit bidang kedalaman tanpa mengurangi intensitas
cahaya.
b) Camera Head
Camera head berisi:
(1) Sistem Optik Internal
Semua kamera televisi berwarna menggunakan
sistem optik bagian dalam, yang berfungsi memisahkan
cahaya yang difokuskan oleh lensa ke dalam 3 warna
primair (RGB). Sistem optik yang biasa digunakan adalah
prism beam splitter (prisma pemisah cahaya), yang
menerima sumber cahaya secara maksimum dan sedikit
sinar yang hilang atau mengurangi distorsi optik. Kamera
televisi yang lebih murah harganya biasanya
menggunakan sistem optik cermin dikroik (dichroic
mirror).
(2) Photoelektric transducer
Photoelectric transducer berfungsi mengubah
bayangan optis dari lensa ke dalam sinyal elektronik
yang disebut sinyal video. Baik itu berupa pickup tube
(tabung), maupun CCD (charge coupled device).

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

303

(3) Pickup tube


Jenis tabung yang banyak digunakan adalah jenis
Plumbicon dan Saticon. Tabung-tabung ini mampu
menghasilkan gambar berwarna yang berkwalitas tinggi.
REFLEKTOR

CAHAYA

PRISMA
PEMISAH
CAHAYA

Gambar 108. Ilustrasi Tabung Kamera

Tabung Plumbicon yang dibuat untuk kamera studio


tersedia dalam 2 ukuran, format berdiameter 1 inch
(30mm) dan 1 inch (25mm). Format ini menunjukkan
ukuran permukaan photoconductive pada tabung.
Semakin lebar permukaan tabung, semakin bagus
kuwalitas gambarnya. Kamera studio yang baru dengan
format 2/3 inch (18mm) dan kamera ENG/EFP dengan
format inch (12mm) juga mampu menghasilkan
gambar yang berkualitas tinggi.
(4) CCD (Charge Coupled Device)
CCD adalah sebuah microchip terpadu sebagai
pengganti pickup tube. Fungsinya persis sama, hanya
cara kerjanya berbeda. CCD memberikan beberapa
keuntungan, bentuknya lebih kecil dan ringan sehingga
kamera bisa dirancang lebih praktis dan ringan dari pada
kamera tabung.
(5) Viewfinder
Viewfinder adalah jendela pengamat dimana kita
bisa melihat obyek-obyek yang masuk ke dalam kamera.
Viewfinder dengan ukuran 1 6 inch merupakan sebuah
pesawat televisi hitam putih kecil yang berfungsi
mengubah sinyal video kembali menjadi gambar yang
bisa dilihat.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

304

Juru kamera bisa menggunakan viewfinder ini


untuk mengatur framing, menyusun komposisi dan
memfokuskan gambar. Dalam produksi multikamera
pada viewfinder kita bisa menyaksikan hasil gambar
yang sedang on air atau masuk program pada switcher di
kontrol room dengan menekan tombol return video,
sehingga kita bisa melihat bagaimana adegan yang
sedang kita rekam dicampur adegan dari kamera lain
dengan efek khusus.
Di bagian dalam viewfinder dilengkapi dengan
lampu-lampu indikator atau display tulisan yang
menginformasikan white balance, low light (kurang
sinar), on recording, baterai atau kaset yang nyaris
habis. Pada viewfinder bagian depan terdapat lampu
merah kecil yang dinamakan tally light, lampu ini
menyala apabila kamera sedang record atau on air.
2) Gerakan Kamera
a) Pan, Panning
Pan adalah gerakan kamera secara
(mendatar) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
Pan right (kamera bergerak memutar ke kanan)
Pan left (kamera bergerak memutar kekiri)

Sri Sartono

horisontal

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

305

Gambar 109. Gerakan kamera pan left/right dan tilt Up and Down

Gerakan pan biasanya dilakukan untuk mengikuti


gerakan
subyek
(orang
yang
sedang
berjalan),
mempertunjukkan suatu pemandangan yang luas secara
menyeluruh. Gerakan pan secara pelan menimbulkan
perasaan menanti. Kadang-kadang panning cepat atau swish
pan dilakukan untuk menghubungkan dua peristiwa yang
terjadi di dua tempat. Jangan melakukan panning tanpa
maksud tertentu. Sebelum melakukan panning hendaknya
terlebih dahulu menentukan titik awal dan titik akhir dari
shot (adegan) yang akan direkam. Apabila kita mengikuti
gerak seseorang yang sedang berjalan (follow camera)
berilah ruang kosong yang lebih longgar di depannya.
Ruangan kosong ini dinamakan leading space.
b) Tilt, Tilting
Tilting adalah gerakan kamera secara
mendongak dari bawah ke atas atau sebaliknya.
Tilt Up mendongak ke atas
Sri Sartono

vertikal,

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

306

Tilt Down menunduk ke bawah


Gerakan tilt dilakukan untuk mengikuti gerakan obyek
(peluncuran balon, pesawat take off dan sebagainya), untuk
menciptakan efek dramatis, mempertajam situasi. Seperti
halnya dengan gerakan panning, alangkah baiknya apabila
ditentukan dulu titik awal dan titik akhir shot.
c) Dolly, Track
Dolly atau track adalah gerakan kamera diatas tripod
atau dolly mendekati atau menjauhi subyek.
Dolly In mendekati subyek
Dolly Out menjauhi subyek

Gambar 110. Gerakan Kamera dolly in/out dan pedestal up/down

d) Pedestal
Pedestal adalah gerakan kamera di atas pedestal yang
bisa di naik turunkan. Sekarang ini kebanyakan menggunakan
Porta-Jib traveller.
Pedestal Up : kamera dinaikkan
Pedestal Down: kamera diturunkan
Dengan menggunakan teknik pedestal up/down kita bisa
menghasilkan perubahan perspektif visual dari adegan.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

307

e) Crab
Gerakan kamera secara lateral atau menyamping,
berjalan sejajar dengan subyek yang sedang bergerak.
Crab left (bergerak ke kiri), Crab right (bergerak ke kanan)

Gambar 111. Gerakan Kamera crab left/right dan gerakan crene


up/down

f) Crane
Crane adalah gerakan kamera di atas katrol naik atau
turun.
g) ARC

Arc adalah gerakan kamera memutar mengitari obyek


dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

308

Gambar 112. Ilustrasi gerakan kamera ARC left/right

h) Zoom
Zooming adalah gerakan lensa zoom mendekati atau
menjauhi obyek secara optik, dengan mengubah panjang
fokal lensa dari sudut pandang sempit (telephoto) ke sudut
lebar (wide angle) atau sebaliknya.
Zoom in : mendekatkan obyek dari long shot ke close up
Zoom out: menjauhkan obyek dari close up ke long shot
Perbedaan visual zooming dengan tracking
Zooming . Memperbesar atau memperkecil obyek
dengan mengubah sudut pandang lensa. Dengan zoom in,
latar belakang menjadi out focus, gambar menjadi datar.
Kesan yang kita peroleh seolah- olah obyek kita dekatkan
atau jauhkan dari pandangan kita.
Tracking. Mendekati atau menjauhi obyek dengan
mengubah kedudukan kamera. Dengan melakukan dolly in,
latar belakang dan latar depan tetap fokus. Gambar lebih
mempunyai kedalaman, memberikan kesan lebih dinamis
dengan gerak gambar yang sesungguhnya. Gerakan dolly lebih
impresif, bila melewati pintu-pintu, lekukan, ataupun mebel
dengan maksud menyajikan pandangan subyektif dari
adegan.
i) Rack Focus
Rack focus atau selective focusing adalah mengubah
focus lensa dari obyek di latar belakang ke obyek di latar
depan atau sebaliknya, untuk mengalihkan perhatian
penonton dari satu obyek ke obyek lainnya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

309

j) Framing / Bidang Pandangan


ELS (Extreme Long Shot). Shot sangat jauh, menyajikan
bidang pandangan yang luas, kamera mengambil keseluruhan
pemandangan. Obyek utama dan obyek lainnya nampak
sangat kecil dalam hubungannya dengan latar belakang.
LS (Long Shot). Shot jauh, menyajikan bidang
pandangan yang lebih dekat dibandingkan dengan ELS, obyek
masih didominasi oleh latar belakang yang lebih luas.
MLS (Medium Long Shot). Shot yang menyajikan bidang
pandangan lebih dekat dari pada long shot, obyek manusia
biasanya ditampilkan dari atas lutut sampai diatas kepala.
MS (Medium Shot). Di sini obyek menjadi lebih besar
dan lebih dominan, obyek manusia dinampakkan dari atas
pinggang sampai di atas kepala. Latar belakang masih
nampak sebanding dengan obyek utama.
MCU (Medium Close Up). Shot amat dekat, obyek
diperlihatkan dari bagian dada sampai atas kepala. MCU
inilah yang paling sering dipergunakan dalam televisi.
CU (Close Up). Shot dekat, obyek menjadi titik
perhatian utama di dalam shot ini, latar belakang sedikit
sekali. Untuk manusia biasanya ditampilkan wajah dari bahu
sampai atas kepala.
BCU (Big Close Up) dan ECU (Extreme Close Up). Shot
yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia.
Obyek mengisi seluruh layar dan jelas sekali detailnya.
CUT OFF LINE. Istilah dalam framing (pembingkaian)
gambar dengan obyek manusia berdasarkan garis/potongan
bagian pada tubuh yaitu sebagai berikut :
FS (Full Shot) atau TS (Total Shot): menyajikan seluruh
tubuh.
Knee Shot : (Shot lutut) menampilkan bagian tubuh dari lutut
sampai atas kepala
Waist Shot (Shot Pinggang) : menyajikan bagian tubuh dari
pinggang sampai ke atas kepala
Beast Shot : (Shot Dada)
Head Shot : (Shot Kepala)
Beberapa istilah shot yang lain adalah sebagai berikut.
Tigh Shot (Shot Dekat)
Wide Shot (Shot jauh atau lebar)
Cover Shot (Shot-shot MS sampai CU)
Two Shot : shot dua orang
Three Shot : shot tiga orang, dan seterusnya

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

310

OS (Over the Shoulder Shot) adalah shot dimana obyek


utama menghadap ke arah kamera, dengan bingkai disamping
kiri atau kanan nampak bahu dan sebagian kepala obyek lain
sebagai lawan bicara.
Establising Shot adalah, pengambilan gambar dengan
kamera statis, (biasanya dalam posisi Extreme Long Shot atau
Long Shot) yang menampilkan keseluruhan pandangan untuk
memperkenalkan suatu tempat dimana suatu peristiwa
sedang terjadi.
3) Camera Angle (sudut pengambilan gambar).
Camera angle adalah sudut penempatan dimana kamera
mengambil gambar suatu subyek, pemandangan atau adegan.
Dengan sudut tertentu kita bisa menghasilkan suatu shot yang
menarik, dengan perspektif yang unik dan menciptakan kesan
tertentu pada adegan yang kita sajikan.
Normal Angle. Pada posisi normal angle, kamera
ditempatkan kira-kira setinggi mata subyek. Tentu saja
normal angle sangat tergantung pada tinggi subyek yang
dishoting. Bila kita merekam sekelompok anak kecil yang
sedang bermain, normal angle untuk orang dewasa tentu saja
terlalu tinggi, maka kamera harus diturunkan hingga setinggi
mata anak. Pada program wawancara, dimana semua pemain
duduk di kursi, kita pasang level untuk menaikkan
setting/Kursi, sehingga juru kamera bisa menshot adegan
pada normal angle tanpa membungkukkan badan selama
produksi berlangsung.
High Camera Angle. Posisi kamera lebih tinggi di atas
mata, sehingga kamera harus menunduk untuk mengambil
subyeknya. High Camera Angle sangat berguna untuk
mempertunjukkan keseluruhan set beserta obyek-obyeknya.
Dengan high camera angle bisa diciptakan kesan obyek
nampak kecil, rendah, hina, perasaan kesepian, kurang
gairah, kehilangan dominasi.
Low Camera Angle. Posisi kamera dibawah ketinggian
mata subyek, sehingga kamera harus mendongak untuk
merekam subyek. Dengan low camera angle cenderung
menambah ukuran tinggi obyek, dan memberikan kesan kuat,
dominan dan dinamis.
Bird Eye View. Kamera mengambil subyek dari atas.
Subjective Camera Angle. Kamera diletakkan di tempat
seorang karakter (tokoh) yang tidak nampak dalam layar dan
mempertunjukkan pada penonton suatu pemandangan dari
sudut pandang karakter tersebut.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

311

Objective Camera Angle. Kamera merekam peristiwa


atau adegan seperti apa adanya.
4) Alat Penyangga kamera. tripod dan dolly, studio pedestal,
crane atau boom atau porta jib-traveler
5) Alat Perekam Gambar dan Perlengkapannya. Portable video
casette recorder, battery pack, battery charger,camera,
adaptor, camera cable
6) Alat Perekam Audio/Sound. Microphone, Kabel Microphone
7) Alat Pencahayaan. Lampu, lampu stand, reflektor, Kabel
listrik, dan generator set
8) Langkah-langkah Merekam Gambar dengan kamera :
a) Cek sambungan-sambungan peralatan
b) Hidupkan power kamera dan semua peralatan yang
bersambungan
c) Pasang portable VCR pada Record Stand By
d) Pilih filter koreksi warna yang cocok dengan kondisi
cahaya setempat
e) Atur black balance dan white balance
f) Arahkan kamera pada subyek, atur iris, zooming fokus.
Buat framing dan komposisi yang di inginkan.
g) Untuk mulai rekaman, tekan tombol VTR Start/Stop.
Indikator REC/TALLY pada viewfinder akan menyala
selama rekaman.
h) Untuk menghentikan rekaman, tekan tombol VTR
Start/Stop sekali lagi.
Tabel 11

Suhu warna dari berbagai jenis filter

No Filter

Suhu Warna

Kondisi Cahaya

3200 K

Lampu listrik, indoor, matahari


terbit, matahari tenggelam

5600K+ ND

5600 K

Langit berawan, hujan

5600K+1/16ND

Langit sangat terang, pantai


dimusim panas,salju

Sri Sartono

Outdoor, matahari terang

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

312

5. Teknik Shoting Studio dan di luar studio


Teknik shoting adalah
bagaimana cara
kamerawan
melakukan Shoting dengan menggunakan kamera Televisi/film.
Shoting diharapkan dapat menghasilkan gambar yang baik dan
dinamis. Gambar yang baik adalah yang di shot dengan
pengaturan fokus yang tepat, komposisi/ framing yang benar
diaphragma yang tepat, pencahayaan yang pas dan gerakan
yang logis dan halus atau tidak goyang. Gerakan kamera bisa
dilakukan dalam bermacam-macam jenis seperti paning kekiri
atau ke kanan, tilting up atau down, suming in atau out, dolly
in atau out dan sebagainya. Dengan melakukan gerakan-gerakan
tersebut akan menghasilkan gambar yang bervariasi dan
dinamis. Gerakan dilakukan dengan halus sehingga gambar
tenang dan tidak goyang seperti berada di atas perahu. Untuk
menghindari hal ini bisa ditempuh dengan menggunakan
bantuan tripot. Atau berlatih terus mengoperasikan kamera
tanpa bantuan tripot tetapi kamera dipanggul diatas bahu dan
siku ditumpukan ke dada. Dengan berlatih kamerawan akan
mendapatkan
pengalaman
dan
makin
terampil
dan
menghasilkan gambar yang baik. Jangan sekali-kali mengambil
gambar dengan framing clos up dari jarak jauh tanpa
menggunakan tripot, karena hasil gambar akan cenderung
goyang dan tidak stabil. Hal ini disebabkan karena gerakan
dengan sudut yang sangat kecilpun pada kamera akan
menyebabkan gerakan pada gambar dengan sudut yang besar.
Oleh karena itu gambar menjadi goyang. Gambar yang dinamis
dapat diperoleh dari variasi gerakan yang halus dan logis.
Jangan membuat still picture karena video berbeda denga foto.
Video harus hidup dan selalu ada gerakan agar tidak membuat
penonton menjadi jenuh dan tidak tertarik lagi. Ingat otak
manusia hanya peka terhadap perubahan. Perubahan akan
merangsang otak manusia untuk merespon. Oleh karena itu
gambar yang diam/ still
dalam video akan mengurangi
kemenarikan. Demikian pula gambar yang goyang, meskipun
banyak gerakan/goyangan akan membuat mata manusia bekerja
keras untuk melihatnya dengan jelas dan gerakan/goyangan
akan membuat mata menjadi capai dan menggangu konsentrasi.
Meskipun kadang-kadang still picture/gambar yang diam juga
diperlukan agar penonton bisa lebih detail mengamatinya.
Tetapi hanya dalam waktu yang singkat atau beberapa detik
saja. Misalnya bila shoo terhadap seorang pembicara/pidato,
kejadian yang membutuhkan pengamatan yang detail.
Shoting di dalam studio dan di luar studio sebenarnya
teknisnya sama. Perbedaanya kalau di dalam studio digunakan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

313

pencahayaan tetap dari beberapa lampu, tetapi shoting di luar


akan banyak mengandalkan pencahayaan alam yaitu dari sinar
matahari. Meskipun kadang-kadang juga perlu pencahayaan dari
lampu tambahan. Dengan cahaya matahar tidak stabil
mengakinatkan pengaturan kamera harus lebih cermat agar
cahaya yang masuk pada kamera sesuai dengan yang
dibutuhkan. Pengambilan shot jangan menentang cahaya agar
tidak diperoleh gambar yang seluet. Oleh karena itu
penempatan kamera harus pada engle yang tepat. Shoting juga
harus memperhatikan komposisi gambar, bisa membuat point of
interest atau pusat perhatian, mengatur jarak antara obyek
dengan kamera agar obyek terletak pada ruang tajam dan
sebagainya. Ini semua dapat dikuasai oleh seorang kamerawan
dengan berlatih dan berlatih disamping memiliki pengetahuan
tentang fotografi. Seorang kamerawan yang berpengalaman
akan menghasilkan gambar yang berkualitas dan menarik,
sehingga program yang diproduksi akan berkualitas dan
menarik.
6. Lighting (Pencahayaan)
Tata cahaya adalah seni pengaturan cahaya dengan
mempergunakan peralatan pencahayaan agar kamera mampu
melihat obyek dengan jelas, dan menciptakan ilusi sehingga
penonton mendapatkan kesan adanya jarak, ruang, waktu dan
suasana dari suatu kejadian yang dipertunjukkan dalam
program televisi. Seperti halnya mata manusia, kamera video
membutuhkan cahaya yang cukup agar bisa berfungsi secara
efektif. Dengan pencahayaan penonton akan bisa melihat
seperti apa bentuk obyek, di mana dia saling berhubungan
dengan obyek lainnya, dengan lingkungannya, dan kapan
peristiwa itu terjadi.
Secara teknis Tujuan penataan cahaya adalah untuk
a. Memperoleh cahaya dasar (base light) sehingga kamera
mampu melihat obyek dengan jelas.
b. Menghasilkan contrast ratio yang tepat, perbandingan
antara cahaya yang kuat dan bayangan tidak menyolok,
begitu juga warna-warna yang terang dengan warna yang
gelap.
c. Mengatur suhu warna yang tepat, sehingga warna kulit
manusia akan nampak alamiah.
Secara artistik Tujuan penataan cahaya adalah untuk
a. Memperjelas bentuk dan dimensi obyek.
b. Menciptakan ilusi dari suatu realitas.
c. Menciptakan kesan/suasana tertentu.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

314

d. Memusatkan perhatian pada unsur-unsur penting dalam


suatu adegan.
a. Contrast Ratio
Contrast ratio (perbandingan kontras) berhubungan
erat dengan reaksi tabung kamera atau CCD terhadap
tingkat brightness yang berbeda dalam suatu gambar.
Sebagai contoh, misalnya suatu adegan di dalam suatu
ruangan dengan posisi wide shot, warna gambar seimbang
antara terang dan gelap, detil gambar jelas. Tetapi begitu
ada seseorang yang mengenakan baju putih masuk ke dalam
adegan tersebut dan mengisi bagian dari frame sebelah
kiri, akan terjadi perubahan drastis, di mana bagian
frame sebelah kanan otomatis menjadi lebih gelap, warna
menjadi keruh. Hal ini disebabkan karena AGC (Automatic
Gain Control) pada kamera bereaksi terhadap bidang yang
paling terang dengan mengurangi cahaya yang masuk ke
dalam kamera. Cahaya yang tadinya tepat untuk adegan
tersebut di atas diperkuat dengan tambahan cahaya yang
dipantulkan oleh warna putih, sehingga perbandingan
kontras antara gelap dan terang menjadi lebih besar. Maka
dari itu penataan cahaya harus diusahakan untuk
menghindari perbandingan kontras yang menyolok.
b. Suhu Warna
Sumber cahaya yang berbeda akan menghasilkan
suhu warna yang berbeda. Lampu neon memberikan warna
hijau kebiru-biruan, lampu tungsten-halogen menghasilkan
warna kemerah-merahan, sinar matahari memancarkan
warna cahaya kebiru-biruan. Suhu warna diukur dengan
derajat Kelvin. Cahaya yang mengandung warna kemerahmerahan lebih rendah derajat Kelvinnya, lebih tinggi
derajat Kelvinnya mengandung warna kebiru-biruan.
Cahaya lampu tungsten-halogen mempunyai suhu
warna antara 3000-3200K, adalah cahaya yang sangat
cocok untuk televisi
10.000
9.000
7.000
5.600
4.900
4.200

Sri Sartono

Langit biru
Langit mendung
Cahaya matahari
Lampu neon
Dua (2) jam sebelum matahari terbit/sebelum
terbenam

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

315

3.800
3.200
2.800
2.200
1.600

Satu (1) jam sebelum matahari terbit/sebelum


terbenam
Lampu halogen
Lampu pijar
Matahari terbit/terbenam
Cahaya lilin

Suhu warna ditentukan pula oleh intensitas cahaya.


Cahaya untuk studio televisi yang dikontrol dengan dimmer
bisa menghasilkan cahaya putih dengan intensitas penuh,
tetapi bila diturunkan intensitasnya, cahaya akan berubah
menjadi kemerah-merahan.
Kalau shoting di lapangan (out door), cahaya matahari
adalah sumber cahaya utama. Tergantung pada kondisi
langit, bersih atau berawan, suhu warna cahaya matahari
antara 4.200-10.000K. Kamera harus dicocokkan dengan
cahaya kebiru-biruan, dengan memasang filter koreksi
warna untuk 5.600K, ditambah dengan pengaturan write
balance. Masalahnya adalah karena matahari terus bergeser
atau cuaca sering berubah, sehingga suhu warna berubahubah pula, maka write balance harus selalu dicocokkan.
c. Bentuk dan Dimensi
Karena layar televisi hanya dua dimensi, tinggi dan
lebar, maka kita ciptakan dimensi ketiga lewat pengaturan
cahaya, yaitu ke dalam. Pengaturan cahaya yang tepat
dengan terang dan bayangan akan memperjelas bentuk
obyek yang tiga dimensi, posisinya di dalam ruang dan
waktu, jarak dan hubungannya dengan obyek lain serta
lingkungannya. Di sini pencahayaan lebih ditekankan pada
pengaturan terang dan bayangan daripada menciptakan
gambar yang terang sama sekali dan berkesan datar.
Bayangan pada wajah obyek akan memperjelas tekstur dan
bentuk.
d. Realitas
Suatu adegan yang diambil di dalam studio, dengan
pengaturan cahaya yang tepat, kita bisa menciptakan waktu
tertentu, pagi, siang atau malam.
Bayangan-bayangan yang panjang menunjukkan waktu
pagi hari atau senja, sinar yang terang memberikan kesan
suasana siang hari. Dengan efek pencahayaan khusus juga
bisa diciptakan ilusi sumber cahaya tertentu, misalnya suatu
adegan yang kesannya hanya diterangi dengan sebuah lampu
minyak.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

316

Sehubungan dengan efek cahaya tiruan dari realitas ini


kita harus sering mengamati lingkungan kita sehari-hari.
Misalnya, bagaimana perbedaan cahaya di suatu ruangan
antara pagi dan sore hari. Dari mana sumber cahaya utama,
apakah bayangan lebih gelap di siang hari atau sore hari.
e. Kesan dan Suasana
Kesan psikologis dari suatu adegan yang kita sajikan di
televise bisa dicapai dengan pengaturan cahaya tertentu.
Situasi komedi biasanya diberi pencahayaan yang terang
sama sekali dengan menggunakan high key lighting, untuk
memberikan kesan hati yang gembira dan terang. Begitu
pula dengan acara kuis, permainan atau konser musik.
Sebaliknya tragedi atau horor disajikan dengan
pencahayaan yang redup atau gelap pada lingkungan sekitar
pemainnya, dengan menggunakan low key lighting.
Pencahayaan dari bawah pemain menimbulkan suasana
misterius, horror. Bayangan-bayangan yang panjang di
sebuah jalan yang sepi menciptakan suasana bahaya, takut,
tegang.
f.

Pusat Perhatian (Focus of Attantion)


Beberapa pengaturan cahaya untuk memusatkan
perhatian penonton:
Limbo Lighting: Obyek yang nampak terang berada di
depan latar belakang cyclorama yang netral tanpa
menggambarkan sesuatu.
Cameo Lighting: Obyek nampak terang sedangkan latar
belakang gelap sekali, hitam tanpa penyinaran.
Silhoutte Effect (Siluet): Obyek yang gelap tanpa
penyinaran berada di latar belakang yang terang.
Follow Lighting: Obyek yang bergerak diikuti dengan spot
light yang lebih terang dari cahaya lainnya.

g. Instrumen Tata Cahaya


Instrumen tata cahaya diklasifikasikan berdasarkan
jenis cahaya yang dihasilkan:
SPOT LIGHT
Spot Light menghasilkan cahaya yang kuat, terarah,
bisa difokuskan sesuai dengan keinginan. Spot light untuk
menyinari suatu bidang yang cukup sempit, dengan sorotan
sinar tajam, sehingga menghasilkan bayangan yang tajam.
Jenis-jenis Spot Light
1) Fresnel Spot Ligh

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

317

Spot light ini paling banyak digunakan dalam produksi


dilengkapi dengan lensa fresnel yang tipis dan tahan
panas. Cahaya fresnel spot light bisa diatur
penyebarannya dengan menggunakan lampu dan
reflector yang terpasang di dalamnya.
2) Ellipsoidal Spot Light
Ellipsoidal spot light disebut juga leko, biasanya
digunakan untuk memproyeksikan pola-pola tertentu
pada background atau setting. Spot light tanpa lensa.
3) HMI (Halogen Metalic Iodine)
HMI menghasilkan cahaya dengan suhu warna 5.500K,
cocok dengan cahaya matahari, oleh karena itu HMI
disebut juga day light dan digunakan untuk mengimbangi
cahaya matahari.
4) Follow Spot
Follow Spot dilengkapi dengan iris yang bisa dibuka dan
ditutup untuk memperbesar dan memperkecil cahaya
yang disorotkan.
5) PAR (Parabolic Aluminized Reflector)
PAR adalah satu unit lighting yang berisi beberapa
lampu, lensa dan reflector.
6) Flood Light
Flood light memancarkan cahaya tersebar, lembut dan
merah untuk menyinari bidang yang relative luas,
menghasilkan bayangan-bayangan yang tidak terlalu
tajam.
Jenis-jenis Flood Light
Scoop, Soft light, Broad light, Strip light
h. Penyangga atau Gantungan Lampu
Floor stand, tripod, Pantograph, Penjepit, Rel
i.

Sri Sartono

Pengatur Penyebaran dan Intensitas Cahaya


1) Barn Door
Penutup metal yang dipasang di depan lampu, untuk
mengatur arah sinar.
2) Flag
Potongan segi empat dari metal atau kain hitam yang
dibingkai, dipasang pada tripod di depan lampu atau
tangkai yang mudah digerakkan, digunakan untuk
memblok atau menghalangi cahaya yang mengenai
obyek atau setting.
3) Scrim

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

318

Dibuat dari anyaman kawat, berguna untuk mengurangi


intensitas cahaya tanpa merubah suhu warna. Scrim
biasanya digunakan pada flood light untuk melembutkan
cahaya yang tersebar.
4) Screen
Untuk mengurangi intensitas cahaya, dipasang di depan
lampu, dibuat dari kertas kalkir atau spun.
5) Cuco, Break
Potongan-potongan bahan, dipasang di depan spot untuk
memproyeksikan pola tertentu pada cyclorama atau
setting.
j.

Jarak antara Lampu dengan Obyek


Bila lampu dijauhkan dari obyek, penyebarannya akan
meluas dan intensitasnya berkurang. Sebaliknya jika lampu
didekatkan ke obyek, penyebaran cahaya menyempit dan
semakin kuat intensitas cahayanya. Sudut pencahayaan juga
akan mempengaruhi penyebaran cahaya.
1) Dimmer Alat untuk mengatur intensitas cahaya yang
mirip dengan audio mixer. Dimmer mempunyai beberapa
tombol fader untuk menambah dan mengatur jumlah
daya pada masing-masing lampu.
2) Pencahayaan Segitiga
Menunjukkan penggunaan tiga instrumen lampu yang
ditempatkan pada tiga posisi. Posisi ini ditujukan dengan
fungsinya masing-masing.
a) Key light
Key light adalah cahaya utama untuk menyinari
adegan atau obyek, ditempatkan di depan obyek sedikit
di samping kiri atau kanan kamera pada sudut kira-kira
30- 45 mengarah ke bawah.
b) Fill light
Fill light digunakan untuk menyinari bayanganbayangan yang dihasilkan oleh key light. Fill light
ditempatkan berlawanan arah dengan kamera dari key
light.
c) Back light
Back light adalah penyinaran dari belakang obyek,
digunakan untuk memisahkan obyek dari background,
dan menambahkan penampilan obyek. Back light
ditempatkan di belakang subyek pada sudut sedemikian
rupa sehingga sinar tidak mengenai kamera dan
membuat flare.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

319

3) Jenis Pencahayaan yang lain:


a) Kicker light
Kicker light adalah posisi khusus dari back light,
ditempatkan di belakang obyek sedikit ke samping.
Fungsinya adalah menambah tekanan pada rambut,
kicker light sering digunakan untuk efek glamour.
b) Eye light
Eye light hanya bisa digunakan dalam close up shot.
Fungsi eye light adalah untuk menghasilkan efek
gemerlapan pada mata obyek.
c) Side light
Side light diarahkan ke sisi obyek dan menghasilkan
tekanan pada samping obyek dengan sinar tajam. Side
light memperjelas bentuk obyek, biasanya dipergunakan
dalam produksi tarian, dimana garis-garis dan bentuk
tubuh penari paling ditonjolkan.
d) Background light
Background light digunakan untuk menyinari setting,
background untuk membantu menciptakan suatu
suasana tertentu.

Tabel 12. L I G H T I N G
FUNGSI

PERALATAN

POSISI
TERHADAP
KAMERA

EFEK DAN APLIKASI KHUSUS

KEY
LIGHT

FRESNEL

Sudut vertikal 3040.


Dan di samping
kamera.

Sumber penyinaran utama, Sebagai


referensi dasar untuk mengatur balans
intensitas dan posisi peralatan lighting
lainnya. Posisi frontal akan mengurangi
efek dimensi, bentuk obyek, dengan
sudut lebih tinggi atau lebih rendah,
ke samping kiri atau kanan, akan
menambah efek bentuk dan tekstur
pada obyek.

FILL
LIGHT

FRESNEL
SCOOP
BROAD
SOFT LIGHT

Sudut vertikal 3040.


Pada posisi yang
berlawanan
terhadap key light.

Digunakan untuk mengisi/menyinari


bayangan yang diciptakan oleh key
light, pada obyek dan mengisi bagianbagian
yang
gelap
pada
set,
background
dan
seluruh
arena
permainan. Intensitas fill light diatur
secara relatif terhadap key light, low
key to fill ratio menghasilkan sedikit
bayangan, high key to fill ratio
menghasilkan
bayangan
tajam,
memperjelas bentuk dan tekstur
obyek.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

320

BACK
GROUND
LIGHTING

FRESNEL
SCOOP
BROAD
ELLIPSOIDAL

Tempat di belakang
obyek atau sedikit
ke samping sudut
vertical antara 3040.

Menghasilkan cahaya pinggir atau garis


kontur disekitar kepala dan bahu
obyek untuk memisahkan obyek
foreground dan menambah perspektif
kedalaman. Backlight yang kuat
digunakan untuk menciptakan adeganadegan malam atau efek khusus.

BACK
GROUND
LIGHTING

FRESNEL
SCOOP
BROAD
ELLIPSOIDAL

Posisi tergantung
pada efek yang
diinginkan. Posisi
frontal membuat
background
merata, sedikit
bergeser secara
vertikal atau
horisontal
menambah bentuk
dan tekstur
background.

Digunakan
untuk
menyinari
background, tirai atau cyclorama.
Intensitas
selalu
diseimbangkan
dengan cahaya foreground pada obyek.
Kurangnya cahaya pada background
menciptakan efek cameo. Background
light biasanya diseimbangkan dan
diarahkan
setelah
penyinaran
foreground.

SIDE
LIGHT

FRESNEL

Di samping obyek

Dgunakan untuk menonjolkan rambut,


bahu dan garis-garis bentuk tubuh
obyek, ini biasanya dipakai dalam
program-programtari atau senam. Bisa
digunakan
secara
efektif
untuk
memperkuat efek malam hari.

CYCLORA
MA LIGHT

SCOOP
STRIP LIGHT
CYC LIGHT

Digantung pada
langit-langit di
depan cyclorama
dan pada lantai di
belakang ground
row atau cyc row.

Untuk menyinari cyclorama. Biasanya


lampu dilengkapi filter-filter warna
untuk membuat efek warna pada
cyclorama.

Mengujicoba peralatan tata lampu yang terpasang


Semua jenis lampu yang digunakan dalam proses produksi
harus dicek/diujicoba apakah dalam keadaan baik atau
rusak/mati. Setelah dipastikan lampu dalam keadaan baik
langkah berikutnya adalah mengintalasi lampu-lampu tersebut
sesuai setting yang dikehendaki untuk produksi.
Setting lampu dimaksudkan untuk menempatkan lampu
sesuai dengan fungsi masing-masing, sebagai front light, back
light, uplight maupun lampu untuk menciptakan situasi sesuai
dengan karakter lokasi, untuk membuat pusat perhatian dan
kemenarikan dan sebagainya. Dalam mengintalasi lampu-lampu
tersebut harus memperhatikan keamanan dan keselamatan
kerja baik bagi peralatan maupun manusia sebagai operatornya.
Semua lampu disambungkan ke sumber listrik PLN/genset
dengan menggunakan kabel standar yang telah terujui, melalui
switcher atau sakelar box setiap sakelar satu lampu atau diatur
berdasarkan grouping sejenis. Setiap sakelar diberi nomor atau
informasi untuk lampu yang mana. Dari sakelar dihubungkan
panel pengaman dan diteruskan ke panel listrik PLN/genset

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

321

Setelah setting dan instalasi lampu selesai dilanjutkan pada


ujicoba, apakah telah dapat sesuai dengan rencana.
Ujicoba dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran
instalasi. Dalam hal ini dilakukan dengan menyambungkan ke
sumber listrik PLN/genset. Dicoba dengan menghidupkan
sakelar satu persatu sambil memeriksa lampu apakah lampu
menyala atau mati sampai semua lampu terdeteksi. Apabila
lampu telah menyala semua, maka uji instalasi selesai dan
dilanjutkan dengan uji kualitas.
Uji kualitas dilakukan dengan jalan mengukur kuat cahaya
dengan menggunakan light meter apakah kekuatan cahaya pada
setiap situasi memenuhi kebutuhan camera untuk menghasilkan
gambar yang baik. Sebaiknya juga diuji dengan menggunakan
camera dan TV monitor apakah kualitas gambarnya sudah
berkualitas baik. Bila belum perlu menambah/mengurangi kuat
cahayanya dengan menambah/mengurangi lampu.
7. Editing
Seorang yang bekerja sebagai editor haruslah seorang
yang sabar, mampu mengendalikan diri dan mau terus mencoba
dan belajar sesuatu secara terus menerus, dan pandai
memutuskan sesuatu dalam kerjanya sebagai penyunting
gambar.
Dalam produksi program dokumenter seorang editor yang
diberikan banyak peluang bagi kreativitasnya dapat dikatakan
sudah menjadi sutradara kedua, ketika bahan editing diberikan
ada banyak hal yang tidak sesuai dengan naskah produksi,
dibutuhkan sungguh-sungguh tanggung jawab untuk membuat
keputusan yang subyektif sifatnya.
Pekerjaan seorang editor sangat jauh dari tantangan fisik
yang biasa dialami crew produksi. Ketika seorang sutradara
sangat terbiasa dengan berbagai situasi dalam produksi sebuah
film, seorang editor yang tidak terlibat langsung dalam
produksi akan menerima bahan editing sebagai keharusan dan
tanpa dapat merubah bahan yang sudah ada, seorang editor
harus dapat menyampaikan pada sutradaranya kemungkinankemungkinan yang dapat dilakukan pada bahan Editing yang
ada.
Ada beberapa metode kerja yang biasa digunakan seorang
sutradara pada tahap pasca produksi. Seorang sutradara
mungkin memberikan editing script kepada editor sebagai
panduan editing. Sutradara yang lain mungkin mendiskusikan
tentang hal-hal khusus yang didapatnya saat shoting dan
menyerahkan sepenuhnya kepada editor untuk memilih bahan-

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

322

bahan terbaik yang dapat mendukung hal-hal khusus yang


menurut sutradara penting untuk ditampilkan. Sutradara yang
lain mungkin setiap kali akan memeriksa pekerjaan editornya
untuk memastikan gambar-gambar yang kuat, perasaan yang
dimunculkan dalam setiap sekuen bagian mana yang memiliki
peristiwa dan dampak paling menarik untuk dimunculkan dan
seterusnya.`Selanjutnya
editor
akan
menyiapkandan
mengumpulkan semua bahan yang diperlukan, membuat versi
awal dari film. Sebagian besar editor meninggalkan ruang
editingnya pada tahap ini untuk memastikan bahwa mereka
sudah mengamati semua bahan yang ada. Sutradara yang sangat
peduli dengan karyanya akan duduk diruang editing siang dan
malam untuk memberikan masukan pada editor dalam
kerjanya, walaupun yang memutuskan susunan gambar secara
keseluruhan adalah editor. Sebagian editor senang bertukar
pendapat selama proses editing berlangsung. Sebagian lagi
lebih suka independen dalam pemikiran dan pekerjaan yang
dilakukan, mereka lebih suka bekerja sendiri untuk
menyelesaikan semua kesulitan dalam penyelesaikan film yang
dibuat. Dalam pergulatan ini mereka ingin lebih berkonsentrasi
denga editing script dan peralatan editing yang mereka
gunakan.
Pada akhirnya hanya sedikit hasil diskusi yang mungkin
tertuang dalam hasil editing; setiap adegan setiap potongan
gambar diteliti dengan cermat, dirundingkan lagi, dibuat berisi
dan seimbang. Hubungan antara editor dan sutradara sangat
kuat dan seorang editor seringkali menggunakan kepekaan
rasanya yang sangat kuat tetapi bertentangan dengan gambaran
dan keinginan yang direncanakan sutradara terhadap bahan
editing yang ada.
Editing
adalah
proses
pasca
produksi
yang
menggabungkan, menyusun shot demi shot menjadi scene,
scene demi scene menjadi sequence, bertujuan untuk
menyajikan cerita agar mudah dinikmati pemirsa. Sehingga
perlu diperhatikan beberapa syarat berikut ini. (1)
Kesinambungan cerita, (20 kesinambungan
gambar dan
kesinambungan suara, (3) kesinambungan irama adegan,
hubungan shot yang satu dengan shot berikutnya, dengan
memperhatikan variasi frame dan komposisi gambar.
a. Jenis-jenis Editing.
1) Switching atau editing langsung
Editing yang langsung dilakukan dengan menggunakan
alat switcher untuk menggabungkan dua kamera atau lebih
secara Life. Editing dengan menggunakan switcher harus

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

323

dilakukan dengan cepat bahkan spontan tetapi tepat


pemilihannya. Kecepatan memilih juga sangat tergantung
dari kesiapan kamerawan.
2) Post production Editing.
Editing yang dilakukan setelah shot dan scene direkam
dalam pita atau kaset (lazim disebut original atau master
shoting) kemudian disusun sesuai alur cerita dalam naskah.
Hasil editingnya disebut master editing.
3) linear Editing
Editing dengan menggunakan peralatan video berupa
VCR, TV monitor, editing control unit, audio dan video
mixing. Dengan alat ini dapat dilakukan assemble editing
dan insert editing.
Assemble editing pada dasarnya memasukkan gambar
yang sudah direkam ke dalam pita master edit. Setelah
selesai disambung dengan gambar berikutnya, demikian
seterusnya. Sedang insert editing adalah memasukkan
gambar atau suara disisipkan kem dalam pita master edit.
4) Non linear Editing
Editing dengan menggunakan computer beserta
perlengkapannya, seperti : video capture card (pinnacle,
Matrox, Canopus, dll), sound card, serta program editing
seperti: adobe premier, ulead, Pinnacle studio dll
b. Persiapan editing
Setelah gambar direkam dalam pita atau kaset
(master shoting atau original) selanjutnya dilakukan
persiapan untuk editing dimulai dari :
1) workprint dan logging
Workprint adalah memindah original ke kaset lain
untuk mengetahui isi dan mencatat kedalamm kertas
logging
2) editing off line
Dengan menggunakan editing off line on paper
dimana dapat ditulis secara langsung dan berurutan shotshot yang diperlukan. Kemudian dengan bantuan log sheet,
shoting script dapat disusun editing script, sperti contoh
berikut ini.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

324

Tabel 13. Format Editing Script

Editing Script
Title:
Edit

In

Out

Shot/

No

Point

Point

Adegan

Durasi

Transisi

Audio

Durasi

3) Editing on Line
Sesuai peralatannya dapat dilakukan dengan linear
editing maupun non linear editing. Saat ini akan dikerjakan
non linear editing dengan menggunakan computer yang
telah dilengkapi untuk keperluan aditing.
Langkah-langkah editing on line dengan computer,
garis besarnya adalah sebagai berikut :
a) Gambar original (master shoting) di-capture / dipindah
ke computer. Setiap meng-capture hendaknya diberi
judul untuk memudahkan dalam pemilihan sesuai yang
diperlukan, kemudian disimpan.
b) Merekam narasi dan suara (audio) lain yang diperlukan
menggunakan software audio computer.
c) Buka program adobe premier, buat proyek baru (new
project) beri judul proyeknya.
d) Impor dari file video hasil capture (a) dan audio dari
hasil (b)
e) Tempatkan audio yang diperlukan, khususnya narasi,
pada track audio.
f) Pilih gambar dan letakkan pada track video dengan cara
video on sound (tentu saja sesuai editing script)
g) Mixing hasil (f) dengan audio sebagai sound effect,
background music.
h) Sekarang telah diperoleh master editing.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

325

c. Video Transisi
1) Cut dan cutting
Cut adalah cara yang paling sering digunakan dalam
perpindahan langsung dari satu shot ke shor berikutnya.
Macam-macam cutting-nya adalah :
a) Jump cut
Suatu pergantian shot, dimana kesinambungan waktu
terputus, karena loncatan waktu dari shot ke shot
berikutnya.
b) Cut in, insert
suatu shot yang yang disisipkan pada shot utama
dengan maksud untuk menunjukan detil shot utama.
c) Cut away, intercut, reaction shot
Shot action yang diambil pada saat yang sama
sebagai reaksi dari shot utama.
d) Cut on direction
suatu sambungan shot dimana shot pertama
ditunjukan suatu obyek yang bergerak menuju ke
satu arah, shot berikutnya objek lain yang mengikuti
arah gerakan dari shot pertama. Misalnya seseorang
yang sedang memperhatikan sesuatu yang sedang
berjalan.
e) Cut on movement
sambungan shot dari satu objek yang bergerak kea
rah yang sama, dengan latar belakang yang berbeda.
f) Cut rhyme
Cutting bersajak bergantian shot/scene dengan
loncatan waktu pada kejadian yang sama, saling
berhubungan, taqpi dalam suasana yang berbeda.
Fungsi utama transisi dengan menggunakan cutting
adalah kesinambungan action, detail objek, peningkatan
atau penurunan suatu peristiwa, perubahan tempat dan
waktu.
2) Dissolve
Dissolve adalah perpindahan gambar secara
berangsur-angsur, akhir dari shot sedikit demi sedikit
bercampur dengan shot berikutnya. Jadi shot pertama
berangsur-angsur hilang sedang shot kedua berangsurangsur muncul. Penggunaan dissolve memang lebih
leluasa disbanding dengan cutting. Namun demikian
pergantian tempat atau waktu (time of lapses) tepat
jika menggunakan dissolve. Penggunaan lainnya adalah
untuk jembatan penghubung atau transisi dari shot
action, waktu dan tempat, hubungan yang erat antara

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

326

dua shot. Misalnya pengambilan LS seorang penyanyi


kemudia CU wajah penyanyi, dengan menggunakan
diossolve akan kelihatan artistic dan dramatis. Kedua
shot yang berbeda digabung secara berangsur-angsur
tanpa mengganggu satu dengan yang lainnnya.
3) Fade
Penggunaan fading sedikit berbeda dengan
dissolve. Pada fading gambar akan hilang secara
berangsur-angsur (fade out), bila gambar muncul
berangsur-angsur disebut fade in. kadang-kadang
digunakan pula fade to black untuk perpindahan scene
berikutnya, atau saat end title. Fade in dan fade out
biasa digunakan pada saat awal dan akhir program.
4) Wipe, Split screen, superimpose, Chromakey
Pernah melihat gambar seola-olah dihapus atau
disapu sehingga keluar dari frame dan muncul gambar
baru, inilah. Jika dilayar kelihatan dua gambar yang
sama itu menggunakan split screen. Sering pada akhir
program adegan ditumpangi dengan tulisan itulah
superimpose.
Chromakey merupakan tehnik menggabungkan dua
objek dimana satu objeknya ditempatkan pada latar
belakang warna tertentu biasanya warna biru tua.
Kemudian dicampur/ditumpangi dengan gambar dari
kamera lain yang tidak ada/sedikit warna birunya.
Jadinya seakan akan menjadi satu gambar satu kondisi.
Pada teknik analog proses penggabungannya adalah pada
mixer/switcher video. Pada teknik digital proses
semacam ini tidak mengalami kesulitan bahkan tidak
hanya warna biru tetapi bisa warna dasar yang lain.
Pada komputer warna latar gambar pertama misalnya
warna biru, pada proses chromakey warna biru ditindas
dikurangi atau dihilangkan. Apabila gambar yang akan
ditumpangkan ada warna biru, maka bila di mix bagian
warna biru tadi akan menjadi tembus pandang. Oleh
karena itu seorang penyanyi/artis jangan menggunakan
pakaian warna biru kalau direncanakan akan digunakan
teknik
chromakey.
Tekniknya
penyanyi
bisa
nyanyi/action di studio dan latarbelakangnya bisa
mengambil di lokasi yang lain di luar studio. Hasilnya
penyanyi seakan action dengan latar yang berbeda-beda
di luar studio. Misalnya lagi seorang penyiar dishot
dengan latar biru hasilnya ditumpangi gambar kapal dari

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

327

hasil liputan lain, seakan-akan penyiar melakukan siaran


di kapal.
d. Prinsip-prinsip editing
Darmanto menulis setidaknya ada beberapa prinsip
editing yang harus diperhatikan. Diantaranya adalah :
1) Jangan menyambung gambar dengan cutting, dissolve,
panning atau tracking tanpa motivasi yang jelas
2) Jangan menyambung dua gambar dari format yang sama,
misalnya dari MS ke MS, LS ke LS karena akan kelihatan
jumping
3) Jangan menyambung dari angle yang ekstrem LS ke CU,
lebih halus dijembatani dengan MS, atau zoom in.
4) angan menyambung dua gambar yang sama tetapi
diambil dari arah berlawanan (crossing the line)
5) Walaupun esensi televisi, video dan film adalah close up
namun diingat keseluruhan cerita tidak mungkin dengan
CU semua, harus ada LS,MS dan sebagainya.
6) Jangan memotong shot saat bergerak panning ataupun
tilting. Sambunglah saat awal atau akhir gerakan. Juga
jangan membuat cutting dari dua kamera yang
bergerak, kecuali dengan gerakan yang sama serta
kecepatan yang sama pula.
7) Jangan dissolve gambar dari dua kamera yang bergerak
(panning), atau dari kamera yang bergerak ke statis atau
sebaliknya. Kecuali gerakannya sama atau ingin
memberikan efek tertentu.
8) Hindari fast dissolve. Cobalah 2-3 detik untuk waktu
perpindahan
9) Bila membuat fade in usahakan jangan gambar dahulu
yang muncul, karena akan mati, usahakan bersama
atau audio dahulu
10) Buatlah cut dissolve dan lainnya sesuai irama suara,
musik, komentar, lakukan cut, fade out saat musik atau
kalimat berakhir.
Editing sebagai proses akhir sebuah produksi, dapat
menolong kelemahan yang dilakukan petugas lain. Namun
sebaliknya jika editor tidak maksimal bekerjanya juga dapat
menurunkan kualitas produksi. Oleh karena itu kerjasama
antar kru harus erat dan saling tolong menolong sesuai
tanggung jawabnya masing-masing.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

328

e. Proses Editing Video


VCD ( Video Compact Disc ) merupakan salah satu
media yang efektif untuk menyampaikan suatu pesan atau
maksud kepada orang lain. Berbagai tayangan video baik
yang bersifat dokumentasi, hiburan, maupun pendidikan
dapat dinikmati pada media VCD. VCD merupakan video
yang dikemas dalam media CD, yang menggantikan
pendahulunya yaitu kaset. Penggunaan kaset sudah mulai
ditinggalkan karena sifatnya yang rentan terhadap jamur.
Selain itu penggunaan keeping CD relative lebih murah.
Namun demikian VCD memiliki kualitas visual (tayangan)
lebih rendah daripada menggunakan pita kaset VHS. Hal ini
disebabkan oleh format file yang dimampatkan (terkompres)
serta rendahnya jumlah pixel yang digunakan yaitu 352 X
288 (format PAL). Pada perkembangan teknologi berikutnya
kualitas tersebut diperbaiki pada format Super VCD maupun
DVD (Digital Versetile Disc) .
Perangkat pemutar ulang VCD (VCD player) sangat
mudah
dijumpai
dikalangan
masyarakat,
sehingga
penggunaan VCD sebagai media yang efektif untuk
menyampaikan pendidikan kepada masyarakat. Dengan
berkembang pesatnya teknologi computer, dapat dipakai
untuk berbagai keperluan termasuk digunakan memutar
VCD. Karena maraknya penggunaan computer, media video
tersebut kemudian dikemas dengan berbagai informasi
tambahan baik yang berupa kalimat maupun grafis menjadi
CD interaktif. CD Interaktif ini merupakan alternatif media
yang sangat efektif dalam pembelajaran.
Dalam proses produksi Video / VCD sangat ditunjang
penggunaan program computer. Penerapan computer dalam
proses produksi VCD adalah sebagai berikut :
1) Proses perekaman atau penangkapan (capture) .
2) Pengolahan video (editing) yang meliputi :
a) Pemotongan (cutting)
b) Penambahan (titling)
c) Pemberian efek (effect)
d) Penambahan animasi (animation)
e) Pengisian suara (dubbing)
3) Pemampatan file format VCD (encoding)
4) Pembakaran keeping VCD (burning)
5) Pembuatan cover
Komputer yang digunakan untuk mengolah sinyal video
atau editing harus memiliki spesifikasi perangkat keras
tertentu, berdasarkan format yang dihasilkan serta jumlah
efek yang digunakan. Semakin tinggi kualitas yang akan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

329

diproduksi serta semakin banyak jumlah efek


digunakan dituntut piranti yang semakin cepat .

yang

1) Proses Penangkapan (Capture)


Proses penangkapan (capture) adalah penyimpanan
sinyal masukan (video & Audio) menjadi file berformat
movie (AVI, MPEG, dll) ke dalam computer untuk keperluan
penyimpanan ke format file video digunakan perangkat
keras yang popular dengan nama Capture Card. Ada dua
jenis capture card berdasarkan fasilitas pendukungnya
(untuk keperluan edit video), yaitu kelas rumah tangga dan
kelas professional. Untuk kelas rumah tangga fasilitas
editing terbatas dibandingkan kelas professional, sehingga
konsekuensi harganya juga terpaut jauh. Contoh piranti
jenis ini adalah snazii Video Creator, pinnacle studio DC10
Plus, dll. Untuk kelas professional sudah dilengkapi fasilitas
pengolahan video secara real time pada perangkat kerasnya
sehingga prosesnya lebih cpat dan kualitas yang dihasilkan
lebih baik. Contoh piranti jenis ini adalah Matrox Rt2500,
Pinnacle Pro One RTDV dll. Software yang digunakan sudah
menyertai pada saat pembelian. Contoh program yang
sering disertakan pada card editing jenis professional adaalh
adobe premiere.
Proses penangkapan sinyal video meliputi dua jenis
sinyal masukan yang digunakan , yaitu :
a) Sinyal analog
Untuk mengubah sinyak keluaran kamera video,
handycam atau Video Cassete Recorder (VCR) jenis
analog, digunakan piranti yang capture card. Piranti ini
berfungsi mengubah video analog menjadi file format
video atau movie (AVI, MPEG-1. MPEG-2, dll)
b) Sinyal digital
Untuk mengolah sinyal keluaran kamera video /
handycam jenis digital, pada beberapa mainboard sudah
dilengkapi dengan konektor jenis IEEE 1394. Pada
computer yang belum memiliki fasilitas ini dapat
ditambahkan capture card jenis digital yang memiliki
konektor IEEE 1394. Contohnya adalah Dazzle DV editor
SE.
Pada capture jenis rumah tangga umumnya hanya
digunakan untuk menangkap sinyal analog, sedangkan pada
piranti video editing kelas professional pada umumnya
memiliki kedua jenis masukan baik analog maupun digital .

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

330

2) Pengolahan Video (editing, penambahan animasi,


dubbing)
File video atau movie (AVI,MPEG,dll) dapat diolah atau
dilakukan proses penyuntingan (editing) .
Penyuntingan file video meliputi :
a) Pemotongan (cutting)
File movie dapat dipotong sesuai keperluan . Selain itu
dapat dipisah (split) antara Video & audio untuk diambil
bagian video atau audionya saja .
b) Penambahan efek (effect) .
File movie hasil encoding dapat diberi efek yang
meliputi ; efek transisi (transition effect), efek gerak
(motion), mauoun video filter (perwarnaan, efek
kamera, pencahayaan, painting, focus, dll ). Selain itu
dapat dilakukan pemberian efek dengan cara
menumpangkan (overlay) beberapa video ke video
lainnya dengan cara kroma key, bahkan diberikan
polesan efek tambahan .
c) Penambahan kalimat (tilling)
Untuk memberikan keterangan mengenai tayang video
dilakukan penambahan kalimat (tilling) Kalimat tersebut
dapat diberi efek gerak atau animasi .
d) Penambahan animasi (animation)
Penambahan animasi pada gambar atau grafis (still
image) dan teks akan memberikan kesan lebih hidup.
Terdapat program animasi baik 2 dimensi (2D) maupun 3
dimensi (3D).
e) Pengaturan audio (volume, efek suara )
Audio atau suara pada file video dapat diatur
volumenya, ditambah efek (audio filter) maupun
dicampur dengan sumber suara lain.
f)

Sri Sartono

Penggantian suara atau sulih suara (dubbing)


Suara pada file video juga dapat dihilangkan atau
diganti dengan suara yang lain melalui proses rekaman
suara menggunakan program computer. Selain itu juga
dapat ditambahkan musik sebagai pengiring (sound
track).

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

331

Untuk keperluan tersebut digunakan program editor


video antara lain; Ulead Media Studio, Ulead Video Studio,
Adobe Premiere, Pinacle Studio, MGI Video Wave, Vegas
Video, dll. Setelah dilakukan pengolahan, maka dapat
diperoleh file hasil campuran melalui proses rendering.
Format file tersebut antara lain AVI, MPEG (format VCD),
dll.
Program-program penunjang editor video antara lain
adalah program pengolah grafis (contoh : Adobe Photoshop,
Ulead Photo Impact), program pembuat animasi (contoh :
3D Studio Max, Ulead Cool 3D), program perekam dan
pengolah suara (contoh : Sonic Foundry Sound Forge,
Musicmatch Jukebox) .
3) Pemampatan File Movie (encoding) .
File hasil campuran program editing (hasil rendering)
dapat diputar ulang (playback) dengan program computer,
namun tidak dapat langsung diputar pada piranti lain
seperti VCD player. File tersebut ukurannya sangat besar
sehingga tidak muat pada keping CD (CDR). Supaya media
penyimpanannya (CDR) mampu menampung file movie
dengan durasi lebih lama, maka file tersebut harus
dimampatkan atau dikompres sesuai standar piranti
pemutar ulang yang digunakan (contoh : VCD-PAL). Proses
pengubahan atau pemampatan file movie (AVI, MPEG, dll)
ke format lain dinamakan encoding. Contoh program
encoding VCD (MPEG-1) antara lain ; Panasonic encoder,
TMPGenc, Xing MPEG encoder, LSX, dll .
Untuk keperluan pembuatan CD interaktif, pada
umumnya format yang digunakan adalah Quicktime Movie
(MOV), oleh Karena itu dalam proses pemampatan file harus
menggunakan format tersebut .
4) Pembakaran Keping VCD (burning)
Cara menyimpan file pada keping CD (CDR) adalah
melalui pembakaran sinar laser pada permukaan bagian
bawah. Program pembakar keping CD (CD Burning) antara
lain Ahead Nero Burning ROM, Roxio CD Creator, Ulead DVD
Movie Factory, dll. Setelah proses pembakaran, maka
keping CD (CDR) yang memiliki format VCD dapat diputar
pada VCD player .
5) Pembuatan Cover
Tampilan sampul (cover) VCD memiliki peran dan daya
tarik tersendiri. Supaya kemasan VCD hasil produksi terlihat

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

332

lebih bagus, maka cover hendaknya dirancang dengan baik,


pada sisi depan maupun pada keeping CD-nya. Untuk
menunjang keperluan ini dapat digunakan program pengolah
grafis seperti Corel Draw, Adobe Photoshop, Ulead Photo
Impact. Selain itu ada program khusus pembuat cover yang
biasanya dikemas bersama program pembakar CD seperti
Ahead Nero Cover Design.
Dalam proses penyuntingan (editing) perlu mengetahui
format video yang akan dihasilkan. Dengan mengetahui
format video yang akan digunakan, maka dalam mendesain
suatu grafis atau gambar diam atau membuat animasi (baik
2D maupun 3D) dapat sesuai dengan rasio ukuran frame
(frame size) dan jumlah frame per detiknya dari format
video yang dihasilkan .
Tabel 14. Format File MPEG
Format

Frame
/sec

Frame
Size

Video
data
Rate

Audio
Data
Rate

Freq
Audio

VCDNTSC

29,97

352 X 240

1123
Kbps

224
Kbps

44,1
KHz

VCD-PAL

25

352 X 288

1123
Kbps

224
Kbps

44,1
KHz

SVCDNTSC

29,97

480 X 480

Variabel

192
Kbps

44,1
KHz

SVCDPAL

25

480X576

Variabel

192
Kbps

44,1
KHz

DVDNTSC

29,97

720X480

Variabel

224
Kbps

48 KHz

DVD-PAL

25

720X576

Variabel

224
Kbps

48 KHz

Dari Uraian diatas menunjukkan bahwa computer


sangat penting dalam proses produksi VCD. Bagus atau
tidaknya tayangan VCD dipengaruhi oleh penerapan program
yang digunakan serta kemampuan perangkat keras yang
digunakan. Penggunaan program computer dalam proses
produksi VCD banyak sekali macamnya. Pada tulisan ini
hanya ditunjukkan beberapa contoh program yang
digunakan untuk menunjang produksi VCD yang mudah

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

333

diperoleh di pasaran. Pengetahuan tentang tehnik


pengolahan video (editing) sangat diperlukan dalam
pembuatan media Video / VCD. Dengan mengetahui teknikteknik pengolahan video, akan membuka konsep pemikiran
kepada pembuat naskah maupun tim produksi yang nantinya
bekerja di lapangan dalam pengambilan gambar (video).
TUGAS :

Sri Sartono

Berlatihlah menggunakan camera foto dengan berbagai


pengaturan (diapragma, kecepatan, jarak dan focus) dan
catatlah
masing-masing
perubahan.
Konsultasikan
hasilnya kepada Pembimbing/Guru.
Berlatihlah menggunakan camera video dengan berbagai
pengaturan (focus, sum, pan, tilt, doly, arc) dan catatlah
masing perubahan. Konsultasikan/ diskusikan hasilnya
kepada Pembimbing/Guru.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

334

8. Contoh Produksi Program Video


a. Contoh Produksi Video informasi
1) Proposal Kegiatan
Cover depan:
PROPOSAL KEGIATAN
PRODUKSI VCD INFORMASI
39 TAHUN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)

PRODUSER EKSKUTIP: DR. H. AT. SOEGITO, SH. MM


PRODUSER PELAKSANA : Drs. FR. SRI SARTONO, MPd.
SUTRADARA : Drs. KUKUH SANTOSA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2004

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

335

Isi :
A. JUDUL PROGRAM : VCD Informasi
39 TAHUN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
B. Latar Belakang
Dalam rangka sosialisasi Visi, Misi dan perkembangan hasil
pencapaiannya sangat diperlukan media informasi yang efektif
dapat mencapai sasaran baik masyarakat di dalam maupun di
luar Unnes.
Upacara Dies Natalis Unnes akan diselenggarakan tgl 30
Maret 2004 merupakan event yang tepat untuk sosialisasi
informasi, karena upacara tersebut dihadiri oleh masyarakat luas
baik dari dalam Unnes maupun relasi dari luar Unnes mencapai
1500 orang lebih.
Oleh karena itu media VCD merupakan pilihan yang tepat
untuk sasaran tersebut maka perlu diproduksi Software VCD
informasi yang relevant dengan event tersebut yaitu 39 Tahun
UNNES. Sedangkan substansi materi informasi dikemas secara
padat dan menarik dalam bentuk VCD dengan durasi 20 menit
agar tidak menjemukan.
C. Organisasi :
1. Ketua
: Drs. FR. Sri Sartono, MPd.
2. Sekretaris : Dra. Rr. Sri Wahyu S, Mhum.
3. Anggota ( Properti software) :
a. Drs. M. Sulton
b. Drs. Subroto
c. Drs. Anwar Haryono
d. Drs. Sutrisno
e. Drs. Lucas
f. Drs. Suparno
g. Drs. Budinaeni
h. Drs. Sugiyanto
i. Drs. Heri Kismaryono
D. Tim Produksi :
1. Produser Ekskutip :
DR. H. AT. Soegito, SH. MM.
2. Produser Pelaksana :
Drs. FR. Sri Sartono, MPd.
3. Sutradara
: Drs. Kukuh Santosa
4. Cameraman :
a. Farouk
b. Nurmanto
c. Budi Susanto

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

336

5.
6.
7.
8.
9.

Editor
:
Narator
:
Perlengkapan
Akomodasi
Transportasi

Japari, SPd.
Yuni
: Ratmoko
: Imam Prawoto, SPd.
: Djoko Hartono

E. Biaya Produksi :
1. NaskahRp. 500.000,00.
2. Biaya Shoting Rp. 1.400.000,00.
3. Editing Rp. 1.000.000,00.
4. Penggandaan Rp. 300.000,00.
5. Bahan Produksi Rp. 500.000,00.
6. Sewa 3 bh Camera Rp.
900.000,00.
DV 6 hr@ 50.000

Jumlah :

Rp. 4.600.000,00.
( empat juta enam ratus ribu rupiah ).

Catatan : belum termasuk honorarium Tim

Semarang, 12 Maret 2004


UPT SBM UNNES,
Kepala / Ketua Tim

Drs. FR. Sri Sartono, MPd.


NIP. 130515780.

Mengetahui / Menyetujui
Rektor Unnes,

DR. H. AT. Soegito, SH. MM.


NIP. 130345757.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

337

2) Naskah Produksi Video Informasi :


Cover :
UP AND BOTTOM SCRIPT

39 TAHUN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)

OLEH
DRS. KUKUH SANTOSA
STAF AHLI UPT SBM
UNNES

PRODUKSI
UPT SBM UNNES 2004

Isi :
VISUAL 1
1.G.UNGARAN YANG DI PAN
RIGHT SAMPAI STOP DI
IMPOSED (BAWAH) DENGAN
CAPTON: GUNUNG
UNGARAN INI SEOLAH MENGAWAL DAN SAKSI,
DENGAN KESAKSIANNYA
2.WIPER DENGAN GEDUNG
UNNES DARI DEPAN
AUDIO 1
1. MUSIK: INSTR.F.I.-UP-UND.
2. NAR PRIA: (DIPUISIKAN) aku bersaksi tidak ada universitas
negeri di sekaran selain universitas negeri semarang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

338

VISUAL 2
1.LOGO UNNES, KELUAR DARI
DALAM GEDUNG HINGGA
FULL SHOT
2.CAPTION: UPT SBM MEMPERSEMBAHKAN
\
AUDIO 2
MUSIK: INSTR. SMASH-UND.
VISUAL 3
39 TAHUN UNNES
AUDIO 3
MUSIK: LANJUTAN NO.2
VISUAL 4
1. GEDUNG UNNES DENGAN PENGAMBILAN TAMPAK TULISAN H
2. GEDUNG PERPUSTAKAAN, LABORATORIUM, LAPANGAN,
MASJID.
AUDIO 4
1. MUSIK : LANJUTAN NO.3 UNDER
2. NAR CEWEK: IKIP yang sejak tahun 1999 berubah statusnya
menjadi Unversitas Negeri Semarang//terletak di Sekaran
Gunung Pati kota Semarang.
Pada lokasi seluas tidak kurang dari 149 hektar telah dibangun
berbagai fasilitas sebagai sarana dibidang administrasi,
akademik, olah raga, seni maupun keagamaan.
VISUAL 5
GEDUNG FAKULTAS DAN PASCA
1. G. PASCA
2. FIP
5. FMIPA
3. FBS
6. FT
4. FIS
7. FIK
TAMPILAN DIIMPOSED (DENGAN TULISAN JALAN DI BAWAH) MASINGMASING PRODI
AUDIO 5

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

339

1. MUSIK: LANJUTAN NO.4


2. NAR: Universitas Negeri Semarang yang dikenal dengan
UNNES//saat ini memiliki lebih dari enam belas ribu
mahasiswa/ tersebar pada 6 fakultas dan program pasca
sarjana. Keenam fakultas adalah: (1) fakultas ilmu
pendidikan atau fip// terdiri 7 program studikependidikan
dan 1 nonkependidikan//(2) fakulatas bahasa dan sani atau
ef be es/ yang memiliki 8 program studi kependidikan dan 8
non kependidikan// (3) fakulatas ilmu sosial atau fis// terdiri
dari 8 program studi kependidikan dan 12 non
kependidikan// (4) fakultas
matematika dan ilmu
pengetahuan alam atau ef mipa// memiliki 5 program studi
kependidikan dan 5 non kependidikan// (5) fakultas teknik
atau ef te// terdiri dari 4 program studi kependidikan dan 10
non kependidikan// (6) fakultas ilmu keolahragaan atau ef i
ka dengan 3 program studi kependidikan dan 3 non
kependidikan.
VISUAL 6
1. GAMBAR DEKAN MIPA-LINDA-DLL
2. PROF HARTONO CS.
3. PENGUKUHAN GURU BESAR
RUSTONO/BINADJA
4. WISUDA TAMPAK MAHASISWA
SALAMAN
AUDIO 6
1. MUSIK: LANJUTAN NO.5
2. NAR: paradigma baru telah diterapkan untuk mewujudkan visi
dan misi unnes// diawali dengan memperbanyak studi lanjut
baik es dua maupun es tiga di dalam dan luar negeri/ serta
mencetak guru besar// Peningkatan kualitas dosen menyebabkan
ikip semarang pada tahun 1998 diberi wewenang untuk membuka
program non kependidikan// dengan model coming ground (baca
ejaan inggris)// hal ini berdampak positif dengan meningkatnya i
pe lulusan//Bahkan pada tahun 2003 tercatat 6 mahasiswa
program studi fisika kependidikan berhasil lulus hanya dalam
waktu 7 semester dengan i pe di atas 3.
VISUAL 7
1. GAMBAR TES SPMP
2. SITUASI DI LUAR KAMPUS
3. MEMBUKA DAN MEMBAGI SOAL
4. MENJAWAB SOAL

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

340

(NO. 1-3 DARI P KUKUH)


5. WAWANCARA DENGAN SISWA
(COWOK DAN 2 CEWEK DIPILIH SESUAI NARASI)
AUDIO 7
1. MUSIK: LANJUTAN NO.6
2. NAR peminat untuk masuk ke unnes//meningkat dari tahun ke
tahun. Terbukti untuk tahun 2004 peminat melalui sistem
penerimaan mahasiswa prestasi atau jalur es pe em pe lebih
dari lima ribu calan mahasiswa.
Mengapa mereka memilih unnes? Ternyata tidak saja karena
unnnes merupakan peerguruan tinggi negeri// tetapi ada aslasan
lain yang lebih prinsip seperti dikemukakan oleh ketiga calon
mahasiswa ini.
VISUAL 8
1. GAMBAR SITUASI FIS DARI
SUDUT YANG LAIN (SEBELUM
MASJID)
2. PROF MIYAKE MENGAJAR (P
KUKUH)
3. AKTIVITAS MHS FT
AUDIO 8
1. MUSIK: LANJUTAN NO.7
2. NAR: diusianya yang ke 39 unnes, selain mempercantik diri, telah
memiliki 482 dosen berkualifikasi master, 45 doktor dan 39 guru
besar// Bila yang sedang studi lanjut selesai maka unnes pada
tahun 2005 memiliki dosen dengan kualifikasi es dua dan es tiga
sebanyak 82,3%.
Disamping studi lanjut, unnes juga menjalin kerja sama dengan
berbagai perguruan tinggi dalam maupun luar negeri// seperti
ditampilkan jurusan bilogi ini yang berhasil mengundang profesor
Miyake dari Kitakyusu University sebagai dosen tamu.
Peningkatan kualitas dosen sangat mempengaruhi kinerja
mahasiswanya// banyak mahasiswa unnes yang berjaya di
tingkat nasional// bahkan sekelompok mahasiswa teknik mesin
ini berhasil membuat mesin pencusi garam pesanan dari dinas
perindustrian.
VISUAL 9
GAMBAR KEGIATAN OLAH RAGA
1. TAMPAK RUMINI SEDANG

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

341

MENJELASKAN
2. SURYA LATIHAN DUDUK
3. LARI SART DAN FINISH
4. SURYA LARI BERTIGA (TAMPAK
WAJAH SURYA)
5. DIIMPOSED DENGAN TULISAN
BERJALAN DI BAWAH, NAMA
PEMBERI BEA MAHASISWA(BEA MAHASISWA PPA, BBM, BINA
PFOFESI, SUPER SEMAR, BMU, TPSDP, PASIAD, GUDANG GARAM, JARUM,
BI, SALIM, ANEKA ILMU)
AUDIO 9
1. MUSIK: LANJUTAN NO.8
2. NAR:Banyak mahasiswa yang memperoleh penghargaan dan
bantuan bea mahasiswa// 29 mahasiswa pada tahun 2003
memperoleh penghargaan karena menjuarai berbagai even di
tingkat regional maupun nasional. Di awal 2004 ini sudah 17
mahasiswa mandapat penghargaan diantaranya suryo agung
mahasiswa ef i ka yang menjuarai lomba lari 100 m pomnas.
VISUAL 10
1. GAMBAR OLAH RAGA LAIN DAN
ALAT SENAM
2. PERESMIAN PKM FBS (P KUKUH)
DAN BUDI
AUDIO 10
1. MUSIK: LANJUTAN NO.9
2. NAR: Tidak saja sarana berbagai olah raga yang
dikembangkan// pusat kegiatan mahasiswa juga terus dibangun
seperti oleh fip dan ef be es ini// dalam rangka bulan fakultas
yang dikenal dengan maret ramai ef be es meresmikan pe ka
em// yang
didahului dengan serangkaian upacara yang unik dan menarik oleh
mahasiswa bem-ef maupun hima ini// dalam acara yang mereka
namakan happening art (baca inggris)
VISUAL 11
GAMBAR-GAMBAR UNNES/IKIP
1. GAMBAR GEDUNG H (P KUKUH)
2. GEDUNG SMA 5 (DEPAN,
PANGGUING, DALAM, DEPAN)
3. KELUD LAMA NAMA IKIP

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

342

AUDIO 11
1. MUSIK: LANJUTAN NO 10.
2. NAR: Sebelum menjadi besar seperti sekarang//unnes dirintis
dengan nama institut keguruan dan ilmu pendidikan semarang
cabang yogyakarta// kemudian tanggal 30 Maret 1965 berdirilah
ikip
semarang//Drs.
Wuryanto
merupakan
rektor
pertama//disamping harus membangun jati diri sebagai sebuah
el pe te ka//masalah lain adalah belum dimilikinya sebuah
kampus// saat itu ikip menempati bangunan di mugas atas dan
jalan pemuda 143.
Dari ruang inilah Drs Wuryanto/seorang bapak yang disegani/
mengembangkan ikip dan juga merencanakan sebuah kampus di
jalan kelud// sebuah kampus yang menurut beliau merupakan
kampus kecil tetapi indah.
Drs. Hari mulyono sebagai rektor kedua melanjutkan visi dan misi
pendahulunya di kampus kelud ini//sehingga ikip semarang
makin mantap.
VISUAL 12
1. GAMBAR PROF RETMONO TENIS
2. PROF RETMONO DI WAWANCARI
(SESUAI NARASI)
AUDIO 12
1. MUSIK: LANJUTAN NO.11
2. NAR: Estafet kepemimpinan rektor jatuh pada doktor
retmono//seorang yang populer//dan menggemari olah raga
tenis// Pada saat Doktor Retmono menjadi rektor masalah
utama kala itu adalah lokasi kampus jalan kelud/ tidak
mencukupi lagi//mau tidak mau harus mencari lokasi baru untuk
dapat menampung mahasiswa lebih dari sepuluh ribu. Inilah
penjelasannya.
VISUAL 13
GAMBAR P. RASDI DIWAWANCARAI
AUDIO 13
1. MUSIK: LANJUTAN NO.12
2. NAR: Drs. Rasdi Eko Siswoyo/sebagai rektor periode tahun 1994
sampai 2000//terkenal karena berani//termasuk dalam
memperjuangkan perubahan status dari IKIP ke Universita// yang

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

343

kemudian membuahkan lahirnya universitas eks ikip. Inilah


harapan beliau sat dies ke 39 unnes.
VISUAL 14
1. GAMBAR PROF MIYAKE DEKAN MIPA
2. PROSESI SENAT SAAT DIES/ WISUDA
3. WAJAH DOKTOR MUDA (BLM ADA) DIIMPOSED CAPTION
NAMA/JABATANNYA
4. PAK AT DIWAWANCARAI (DUDUK) YANG SESUAI
AUDIO 14
1. MUSIK: LANJUTAN NO.13
2. NAR: Sejajar dengan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia/
bahkan dapat menembus batas//merupakan harapan unnes
mendatang.
Dibawah pimpinan Doktor a te Sugito/rektor periode 20022006//berbagai
persiapan
telah
dimulai//tidak
saja
mengaktivkan senat universitas//tetapi lebih mengutamakan
pakar, doktor-doktor muda untuk menduduki berbagai bidang
sesuai keahliannya// seperti penjelasan doktor a te sugito beriku
ini
VISUAL15
1. GAMBAR PROF HARTONO DI
RUANG PENJAMIN MUTU
2. ALUMNI DIWAWANCARAI
AUDIO 15
1. MUSIK: LANJUTAN NO.14
2. NAR: Beberapa unit pelaksana teknis atau u pe te telah
dibentuk//ini semua untuk menunjang keberhasilan misi
unnes//bahkan sejak tahun 2004 ini unnes telah memiliki tim
penjamin mutu yang diketuai oleh Profesor Hartono Kasmadi
dengan tugas utamanya untuk// menyusun berbagai standart
mutu// baik dosen, mahasiswa, kurikulum, buku ajar,
penilaian// sehingga lulusan unnes lebih dikenal masyarakat
luas. Seperti harapan salah satu alumni berikut ini.
VISUAL 16
GAMBAR PAK AT DIWAWANCARAI BERDIRI.
AUDIO16.
1. MUSIK: LANJUTAN NO.15

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

344

2. NAR: Sesungguhnya jumlah dosen dan karyawan unnes masih


sangat kurang// setiap tahunnya rata-rata 26 dosen memasuki
masa pensiun/sedang penerimaan hanya 6 dosen// bersyukur
sejak 2003 jumlah yang diterima menjadi dosen sebanyak 30.
(PERNYATAAN PAK AT TENTANG INI)
VISUAL 17
1. GAMBAR PPL DI SMA V
2. PROF WURYANTO
DIWAWANCARAI
AUDIO 17
1. MUSIK: LANJUTAN NO.16
2. NAR: Walaupun unnes sudah berkembang menjadi universitas//
namun
tugasnya
dalam
mempersiapkan
tenaga
guru
tetapdiutama
kan// sebelum lulus mahasiswa program studi
kependidikan harus mengikuti praktik pengalaman lapangan di
sekolah-sekolah// Seperti harapan Profesor Wuryanto berikut
ini.
VISUAL 18
GAMBAR MASJID (LS) DAN DARI ATAS, SERTA KHOTIB (P KUKUH)
AUDIO 18
1. MUSIK : INSTR. ISLAMI UP-UNDER
2. NAR: Unnes membenahi semua aspek//tidak saja akademik,
budaya, seni dan olahraga//tetapi juga dibidang keagamaan//
agar semua sivitas unnes memiliki baik kualitas akademik, seni
dan olahraga// juga dengan tetap beriman dan bertaqwa.
VISUAL 19
1. GAMBAR GEDUNG UNNES
2. DI INPOSED CAPTION
KERABAT KERJA
NASKAH :
DRS. KUKUH SANTOSA
JURU KAMERA:
FAROUK AKBAR
BUDI
NURMANTO

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

345

TIM KREATIV:
BUDI
VITA ERLIANA
JURU LAMPU:
N. MANTO
EDITOR
DARMOYO
JURU SUARA:
JEFRI
NARATOR:
YUNI
PERLENGKAPAN:
BUDI
RATMOKO
SUTRADARA:
DRS. KUKUH SANTOSA
PRODUSER EKSEKUTIV:
DR.AT SUGITO,SH.MM.
PRODUSER PELAKSANA:
DRS.FR. SRI SARTONO, MPD.
PRUDUKSI:
UPT SBM UNNES .
SEKIAN
AUDIO 19
MUSIK: LANJUTAN NO.18. UP-DOWN-FO.
3) Kegiatan Shoting dan Editing
JADWAL SHOTING
39 th UNNES
DI UNNES SEKARAN 2004

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

346

No

Hari
/Tanggal.

Jam

Tempat Shoting

Petugas

1.

Senin / 15
-3-2004

15.00

FIK Ambil mhs.


Dan Dosen
latihan.
Ambil Gedung H
sore/ petang
dari barat.

Pimpro
Sutradara
Cameraman : 2 orang
Juru lampu
Property
Pencatat shot

Ambil Pak
Retmono di
Lapangan Tenis
Pegandan.
Ambil SMA 5
tampak depan
dan dalam (
panggung ) Mhs.
PPL.
Ambil Pak
Wuryanto di
rumah Singosari.
Ambil Akademi
Farming

Pimpro
Sutradara
Cameraman : 2 orang
Property
Pencatat shot

18.00

2.

Selasa /
16-3-2004

06.30
10.00
12.00
14.00

3.

Rabu / 173-2004

Sri Sartono

Ambil Gambar
Fakultas-fakultas
-FIS : jalan
disamping
lapangan
-FIP : Gedung
Utama
- FMIPA : G. D1
(Biologi dari
arah timur)
- FT : Cari yang
unik
- FIK :
Laboratorium
dari arah beda
dengan
biasanya.
Wawancara

Pimpro
Sutradara
Cameraman : 2 orang
Juru lampu
kabelman
Property
Pencatat shot

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

347

dengan Rektor
Wawancara dgn.
Mhs. 3 orang
Yang masuk final

4.

Kamis /
18-3-2004

11.00

14.00
5.

Jumat /
19-3-2004

730.s/d
8.300
19.00
s/d
22.00

Kuliah Dosen
tamu dari jepang
di D4
(agak banyak CU
Dosen dan
Tamu)
Kegiatan di FIS
atau FIP
Koordinasi
Pengambilan
Ulang

Pimpro
Sutradara
Cameraman : 2 orang
Juru lampu
kabelman
Property
Pencatat shot
Full team

Transfer akhir
dan pilih yang
dipakai

6.

Sabtu / 203-2004

Jadwal
Editing

7.

Senin / 223-2004

Rekaman suara

Pimpro
Sutradara
Editor
Cameraman
Pencatat shot
Sutradara
Editor
Cameraman
Kabelman
Narrator/presenter
Pencatat shot

Hasil Produksi program ini dapat dilakukan dengan CTRL+klik


judul berikut ini :
TUGAS :

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

348

Setelah mempelajari model naskah, carilah ide untuk


memperkenalkan sekolah anda kepada masyarakat.

Tulis ide anda, wujudkan menjadi sinopsis dan


Buat treatment dari sinopsis yang sudah anda tulis

Buat naskahnya (up and botom model) dan konsultasikan


kepada pembimbing kemungkinan produksinya.

Produksi menjadi program Video/TV

b. Produksi Video Kebudayaan


NASKAH / SKENARIO
TATA RITUAL PENGHAYATAN
PAGUYUBAN ULAH RASA BATIN (PURBA)
KOTA MAGELANG
Dokumentasi Kebudayaan
Durasi : 45 menit
Produksi : UPT SBM UNNES 2005
VISUALISASI

AUDIO/NARASI

01. LOGO JAWA TENGAH


Caption :
1. Dinas PDK propinsi Jateng
2. MEMPERKENALKAN (capt 1
dan 2 muncul bergantian
dibawah logo)

FX : gamelan fade in up

02. CAPTION :
Pemerintah Propinsi Jawa
Tengah
Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Propinsi Jawa
Tengah
MEMPERKENALKAN

FX : gamelan mengiring fade


down mengiring

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

349

Budaya Spiritual Organisasi


Penghayat Paguyuban Ulah
Rasa Batin (PURBA)
03. Lingkungan Kota Magelang
(RSJ Kramat, Kota
Magelang, Kantor
Pemerintah Kota Magelang,
kawasan alun-alun, lalu
lintas Kota Magelang, pusat
perdagangan Kota
Magelang)

Paguyuban Ulah Rasa Batin, PURBA


merupakan salah satu organisasi
penghayat tingkat pusat yang ada
di Kota Magelang. Organisasi
penghayat tingkat pusat lainnya
adalah Ngesti Kasampurnan. Di
samping itu masih terdapat
organisasi tingkat Cabang antara
lain SUBUD, Sapto Darmo,
Sumarah dan Pangestu

04. Sosok Ketua Organisasi


(Ilyas Sugeng)
05. Lingkungan rumah Ketua
Organisasi PURBA
06. Kantor Kelurahan Magersari

Organisasi penghayat PURBA


beranggotakan kurang lebih 200
orang dan dipimpin oleh Bpk Ilyas
Sugeng. Untuk memudahkan
pemantauan anggotanya, semua
kegiatan dipusatkan di rumah Jlln.
Magersari Mijil No. 345 RT 11/RW
IX Kelurahan Magersari Kota
Magelang.

07. Gereja, Masjid, Klenteng,


Pura

Sikap saling menghargai dan hidup


rukun antar pemeluk agama dan
penganut kepecayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa telah
terbina. Hal ini ditandai dengan
adanya berbagai aktivitas
kerohanian di tempat-tempat
ibadah yang ada di Kota Magelang
tanpa ada hambatan.

08. Kantor Kebudayaan dan


Pariwisata Kota Magelang

Pelaksanaan pembinaan bagi


organisasi Penghayat Kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa
di Kota Magelang, ditangani oleh
Kantor kebudayaan dan
Pariwisata, dalam hal ini
dilaksanakan oleh Seksi
Kebudayaan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

350

09. Lambang Organisasi


BUAT ANIMASI SESUAI
PENJELASAN/NARASI
DIVISUALKAN BERGANTIAN ATAU
DENGAN CARA LAIN

PURBA dalam mengekspresikan


jati dirinya menggunakan lambang
organisasi. Masing-masing bagian
lambang memiliki makna, antara
lain;
bintang sudut lima dengan empat
sinar dimaksudkan sebagai sila
Ketuhanan Yang Maha Esa yang
menyinari 4 sila lainnya dalam
Pancasila.
Pohon beringin melambangkan
perlindungan dan telaga
melambangkan sumber ilmu yang
dapat mencerdaskan umat
manusia.
Padi dan kapas mengandung
makna bahwa Tuhan
memerintahkan manusia untuk
mencari nafkah atau sandang dan
pangan dengan
mempertimbangkan kelestarian
alam dan lingkungan.
Pita bertuliskan PURBA,
dimaksudkan agar manusia
mencari petunjuk, mempertebal
iman serta berbakti kepada nusa
dan bangsa. Tulisan PURBA
merupakan singkatan dari
Paguyuban Ulah Rasa Batin.
Sedangkan Padi berbiji 17, kapas
berbuah 8 dan bintang bersudut
lima dengan empat sinar
melambangkan proklamasi
kemerdekaan republik Indonesia
yakni 17 Agustus 1945.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

351

10. Sosok Eyang Sapu Jagad dan


Ilyas Sugeng

PURBA merupakan ajaran


peninggalan Rono Aksani sejak
tahun 1921.
Ilyas Sugeng Dalam melestarikan
dan mengembangkan ajaran tsb
dibantu beberapa orang untuk
mengelola organisasinya.
Suwandi Pringgodigdo yand dikenal
dengan sebutan Eyang Sapu Jagad
dipercaya sebagai penasihat
spiritual. Adapun anggota
pengurus lainnya berfungsi
sebagai Sekretaris, Bendahara dan
Pembantu Umum.

11. Eyang Sapu Jagad, Ilyas


Sugeng dan Rombongan
menginggalkan rumah
12. Perjalanan memasuki
Kantor Kebudayaan dan
Pariwisata Kota Magelang
13. Sambutan Kepala Kantor
Kebudayaan dan Pariwisata
Kota Magelang
14. Sambutan Kasubdin
Kebudayaan

Kehidupan organisasi penghayat


kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa dalam bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara cukup
kondusif dan baik. Sikap saling
menghargai terwujud dalam
kebersamaan forum semacam ini.
Dalam kehidupan lebih lanjut
tentunya peran serta penghayat
kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa sangat diharapkan dalam
upaya membangun bangsa yang
lebih baik. Hal ini sesuai uraian
sambutan berikut (Sambutan
Kasubdin Kebudayaan)

15. Sambutan Walikota


Magelang

Demikian pula, Pemerintah Kota


Magelang dalam melakukan
pembinaan terhadap organisasi
penghayat, juga menginginkan
kondisi yang baik, seperti arahan
wali kota berikut.

16. Warga penghayat PURBA


dalam ruangan
17. Peragaan penerimaan

Sri Sartono

Jumlah anggota organisasi


penghayat PURBA mengalami
pasang surut, seiring dengan
perkembangan jaman. Untuk

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

352

warga baru

menjadi warga penghayat PURBA,


memerlukan syarat-syarat seperti
yg tercantum dalam AD/ART yakni
:
Warga Negara Indonesia baik pria
maupun wanita yang cukup
umurnya
Percaya kepada Tuhan Yang Maha
Esa
Sadar dan taat melaksanakan
dasar dan tujuan PURBA
Adapun proses penerimaan
anggota baru PURBA, seperti
peragaan berikut.

18. Paparan Ketua Organisasi


(Ilyas Sugeng)

Ajaran PURBA mengandung nilainilai luhur, juga mengajarkan


tentang kesempurnaan baik lahir
maupun batin.
Kesempurnaan lahir ditandai
dengan perilaku yang sopan,
terpenuhinya kebutuhan sandang,
pangan dan papan serta
ketaqwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa yang memberi rasa
damai.
Adapun kesempurnaan batin
ditandai dengan sabar, bijaksana,
rendah hati, selalu ingat kepada
Tuhan, waspada.
Selanjutmya seperti diituturkan
oleh
Bapak Ilyas Sugeng selaku Ketua
organisasi PURBA berikut.

19. Peragaan Ritual


Penghayatan 1 Suro

Ritual Penghayatan atau dalam


organisasi penghayat PURBA
disebut upacara pasujudan
merupakan sarana pengantar
pikiran dan rasa manusia pada
kebenaran Tuhan Yang Maha Esa.
Ada dua macam ritual

20. Peragaan Ritual


Penghayatan rutin setiap
malam jumat kliwon dan
selasa kliwon

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

353

21. Peragaan Sujud

22. Bapak Ilyas Sugeng


sedang memberi penjelasan

23. Background : sapu jagad


24. Title PENUTUP berjalan

penghayatan, yakni untuk


peringatan tangap warso 1 Suro
yang dilaksanakan secara bersamasama dengan masyarakat umum
dan untuk yang bersifat rutin
dilaksanakan tiap malam Selasa
Kliwon dan Jumat Kliwon
bertujuan memperdalam
tuntunan.
Dalam melakukan pasujudan
pakaian harus bersih dapat
menggunakan kamar khusus,
sanggar atau tempat lain asal
bersih. Pandangan menghadap ke
timur, sedangkan sikap pasujudan
ditunjukkan dalam peragaan
berikut.
Sedangkan doa ataupun ucapan
yang digunakan dalam ritual
penghayatan adalah seperti
penjelasan
Bapak Ilyas Sugeng berikut ini.
FX : Back Sound music gamelan
Fade up sampai selesai Down out
off.

Ucapan terima kasih kepada


:
Walikota Magelang
Kepala Kantor
Kebudayaan dan
Pariwisata Kota
Magelang
Ketua dan segenap
pengurus organisasi
penghayat PURBA
TIM PELAKSANA PRODUKSI :
SEKSI SEJARAH DAN NILAI
TRADISIONAL
SUB DINAS KEBUDAYAAN
DINAS PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN PROPINSI JAWA

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

354

TENGAH
BEKERJA SAMA DENGAN :
UPT - SBM
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG

PENANGGUNG JAWAB :
KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
PROPINSI JAWA TENGAH
KERABAT KERJA :
Pimpinan Produksi
Sodik
Sutradara:
DRS. FR. Sri Sartono, MPd
Cameraman:
Farouk
Nurmanto
Budi Susanto
Juru lampu:
Ratmoko
Juru Suara:
Eko
Properti:
Imam, P
Editor:
Darmoyo
SEKIAN
Untuk melihat hasil produksi dapat dilakukan dengan CTRL+klik judul
berikut :

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

355

TATA RITUAL PENGHAYATAN


PAGUYUBAN ULAH RASA BATIN (PURBA)
KOTA MAGELANG
(link to video file 1)
TUGAS :

Setelah mempelajari naskah model dan melihat hasil


Produksinya, carilah ide untuk memperkenalkan budaya

di

lingkungan anda tinggal kepada masyarakat.


Tulis ide anda, wujudkan menjadi sinopsis dan
Buat treatment dari sinopsis yang sudah anda tulis
Buat naskahnya (doble colom model) dan konsultasikan
kepada pembimbing kemungkinan produksinya.
Produksi menjadi program Video/TV

c. Video Profil untuk keperluan memperkenalkan lembaga


UPT SUMBER BELAJAR DAN MEDIA
NASKAH PRODUKSI VIDEO
Judul Program
: Selayamh Pandang UNNES
Tujuan
: Memperkenalkan UNNES
Sasaran
: Umum
Durasi
: 20 menit
Naskah Program
: Drs. Kukuh Santosa
Produser
: Drs. FR. Sri Sartono, M.Pd.
Produksi
: UPT SBM UNNES th 2003
No
1

Visual
PEMANDANGAN SENJA
MATAHARI MULAI
TENGGELAM
FS. REPRO SLIDE
SENGGIGI (KUKUH
SANTOSA 90)

Sri Sartono

Waktu
s/d
NAR

Audio/Narasi
NAR: DIPUISIKAN
Senja mulai tiba, saat
itu Rabu tanggal 26
januari 2000, mentari
mulai tenggelam di ufuk
barat, di balik gunung
dan laut

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

356

PEMANDANGAN LAUT
MATAHARI MUNCUL

s/d
NAR

Keesokan harinya, Kamis


tanggal 27 Januari 2000,
mentari pun merekah.
Cahayanya menerangi
bumi, laut pun berkilat
terkena cahayanya.

s/d NAR

Saat itulah bersamaan


dengan diresmikannya
perubahan status IKIP
Semarang menjadi
Universitas Negeri
Semarang, sesuai Kepres
no. 124 1999.

s/d Psw
terbang

FX. SUARA DERU


PESAWAT
FI-UP-FO.

CF NO.1
FS. REPRO FOTO K. JAWA
(KUKUH SANTOSA 90)

GEDUNG BARU UNNES


LIFE
CU. TULISAN UNNESZOOM OUT KELIHATAN
GEDUNG PENUH

PESAWAT TERBANG TAKE


OFF
LIFE
FS TO ZOOM OUT

PEMANDANGAN LANGIT
TAMPAK ADA AWAN
ATAU GUNUNG

s/d
awan
tampak

MUSIK: INTRUMENTALIA
ASEREJE (THE LAST
KETCHUP SONG) OR
KENNY G
FI-UP

LIFE/REPRO IMRON
CF DENGAN NO.4
6

UPT SBM
MEMPERSEMBAHKAN
CAPTION
MUNCUL DARI BALIK
AWAN

Sri Sartono

s/d
ZI
dan
terbaca

MUSIK: LANJUTAN NO. 5


UP

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

357

GEDUNG UNNES DAN


CAPTION SELAYANG
PANDANG UNNES
LIFE
SUPER IMPOSED

s/d
terbaca

MUSIK: LANJUTAN NO.6


UP

TUGU MUDA/KUNTUL
BEL. TERBANG/ BR
IDE CERITA : DRS.
KUKUH SANTOSA
LIFE

s/d
terbaca

MUSIK: LANJUTAN NO.7


UP
NAR: Universitas Negeri
Semarang yang dikenal
dengan UNNES, terletak
di sekaran, ke- camatan
gunungpati,10 km
dari bandara ahmad
yani.

s/d TER
BACA

MUSIK: LANJ. 8 UNDER


UNNES lahir dan
berkembang menuju
kejayaan dalam berkarya bagi nusa dan
bangsa, meningkatakan
kualitas masyarakat
melalui pendidikan

s/d NAR

MUSIK LANJUTAN SAMPAI


VISI TERBACA
UNNES sudah banyak
menghasilkan tenaga
diploma, sarjana
maupun magister dari
berbagai program studi,
yang saat ini sudah
terserap di lapangan
kerja.

s/d NAR

MUSIK: LANJ.10 UNDER


NAR: Ada enam fakultas,

CF. TUGU MUDA


DENGAN KUNTUL
SUPER IMPOSED
DENGAN CAPTION
9

CAPTION VISI UNNES


( HURUF ARIAL)
EFEK KOMPUTER
CAPTION MUNCUL KATA
DEMI KATA SAMPAI
LENGKAP (FS)

10

UPACARA WISUDA
1. PROSESI SENAT
2. MEMBUKA SIDANG
3. WISUDA 10 BESAR
LIFE MS ATAU CU

11

GEDUNG/PAPAN
NAMA/KEGIATAN DARI

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

358

dengan dua puluh enam


jurusan dan enampuluh
enam program studi,
serta sembilan program
pasca sarjana.Keenam
fakultas adalah: FIP
(BACA: fakultas ilmu
pendidikan dst), FBS,
FIS, FMIPA, FT, dan FIK

FIP, FBS, FIS, FMIPA,


FT,FIK DAN PASCA.
LIFE
PILIH YANG CU
CUT TO CUT SESUAI
NARASI (VIDEO ON
SOUND)
CAPTION TAK BERJALAN

12

KEGIATAN MICRO
TEACHING/ PPL
1.PENERJUNAN
2.MENGAJAR DI KELAS

s/d NAR

MUSIK: LANJ.11 UNDER


NAR: UNNES memiliki
ciri khas yaitu: setiap
jurusan me- ngelola
program studi kependidikan dan non
kependidikan Hal ini
sesuai dengan perluasan
wewenang bagi UNNES
dengan tetap
mempertahankan fungsi
sebagai el pe te ka, agar
penyediaan tenaga
pendidik tetap terpenuhi

s/d NAR

MUSIK: LANJ..12 UNDER


NAR: Perubahan status
dari IKIP menjadi
Universitas membawa
konsekuensi sekaligus
tantangan bagi UNNES
untuk meningkatkan
kualitas dosen,
karyawan dan lulusannya

s/d NAR

MUSIK: LANJ..13 UNDER


NAR: Peningkatan es de
em, terus dilakukan.
Saat ini UNNES memilki
delapan ratus tiga puluh
tujuh dosen, dengan tiga
puluh sembilan guru

LIFE,
PILIH MCU-CU

13

PENGUKUIHAN GURU
BESAR SRI MULAYANI
1. ASTINI SUUDI
2. ORASI ILMIAH
LIFE
PILIH MCU-CU

14

UCAPAN SELAMAT GURU


BESAR MUNGIN EDDY W
1. OLEH REKTOR/SENAT
2. UNDANGAN/DOSEN
LIFE
PILIH MCU-CU

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

359

CAPTION BERJALAN
JUMLAH DOSEN GB, S3,
S2, S1.

15

PERPUSTAKAAN/INTERNE
T/
LABORATORIUM
1.B.ING, 2.BIO, 3.TM,
4.GEO

besar, empat puluh es


tiga, tiga ratus lima
puluh satu es dua, serta
empat ratus dosen
sedang menempuh
program es dua atau es
tiga.
s/d NAR

MUSIK: LANJ.14 UNDER


NAR: Sarana dan
prasarana pendidikan
terus ditingkatkan,
seperti perpustakaan dan
internet di tingkat
Universitas , serta
laboratorium bagi masingmasing jurusan atau pro
gram studi, serta fasilitas
pendukung lainnya.

s/d NAR
DAN
MUSIK

MUSIK: INSTR. KENNY G


UNDER
NAR: Fakultas mipa
merupa- kan fakultas
yang pertama
menempati kampus
sekaran pada tahun
sembilan puluh.. Dengan
seratus tujuh puluh
tujuh dosen, lima
diantaranya guru
besar,mipa menetapkan
profil lulusannya, yaitu
beriman dan bertaqwa
kepada tuhan yng maha
esa,bersikap ilmiah dan
memiliki integritas
Kemipaan yang tinggi,
didukung kemampuan
berbahasa inggris dan,
teknologi informatika

LIFE.
CUT TO CUT

16

GEDUNG MIPA (ARAH


BARAT) / MIPA NET/
LAB.MAT/FIS/KIM/BIO
LIFE
GEDUNG ZO. CUT TO
LAB. SETERUSNYA WIPER
CAPTION JURUSAN
BERJALAN

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

360

MUSIK LANJUTAN
17

GEDUNG/MHS JALAN DI
FIS

s/d NAR

MUSIK: LANJ.16 UNDER


NAR: Fakultas ilmu sosial
memiliki mahasiswa
jumlah banyak, tersebar
pada empat jurusan dan
sepuluh program studi.

s/d NAR
DAN
MUSIK

setiap jurusan memiliki


lab. ,seperti
laboratorium sistem
informasi geografi,
sebagai sarana
pendidikan lab. terus
dikembangkan, sehingga
menghasilkan lulusan
yang berkualitas dan
sesuai kebutuhan
masyarakat.
MUSIK: UP-UNDER

s/d NAR
DAN
MUSIK

MUSIK: LANJ.17 UNDER


NAR: Fakultas teknik
dikem- bangkan dengan
membuka program studi
de tiga non
kependidikan, yaitu;
prodi teknik mesin,
teknik elektro serta jasa
boga dan busana.
Saat ini telah dibuka
jurusan non pendidikan
S1
Di laboratorium para
maha- siswa di bawah
bimbingan dosen
berlatih kerampilan dan
mengembang kan ide-

LIFE
LS/FS GEDUNG
TITLE JURUSAN
BERJALAN
18

KEGIATAN DI LAB:
1. SEJARAH, 2.
GEOGRAFI,
3. LAINNYA
LIFE
WIPER GEDUNG DENGAN
KEGIATAN LAB
CUT TO CUT

19

GEDUNG DARI ATAS ADA


MOBIL LEWAT/LAB MESIN
TITLE JURUSAN
BERJALAN
LIFE
LS GEDUNG, CU LAB
URUTAN CAPTIONSESUAI
NAR
.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

361

idenya
20

ROBOT I ROBOT II

LANJ.

Tidak mengherankan bila


banyak mahasiswanya
yang berprestasi, seperti
membuat robot pekerja
dan robot pengendali
Dengan keahliannya tim
mahasiswa teknik mesin
UNNES berhasil pula
menjuarai etape
Semarang surabaya dan
surabaya denpasar
dalam lamba laga
pantura dua ribu dua
Desain indah dan
masakan beraroma lezat
ini juga karya mahasiswa
teknik, jurusan busana
dan boga.

s/d NAR

MUSIK: LANJ. 19 UNDER


NAR: Fakultas
pendidikan merupakan
fakultas paling tua,
memiliki lima guru
besar. Fip
menyelenggarakan
pendidikan untuk tenaga
pendidik mulai dari pe
ge te ka, pe ge es de,
maupun akta empat.
Disamping membuka
program pendidikan
maka fip membuka
program es satu non
kependidikan yaitu:
psikologi es satu.

s/d NAR
DAN

MUSIK: KEMBALI INSTR.


ASHEREJE UNDER

STEL MESIN
PERAGAAN BUSANA
LIFE
MCU/CU ROBOT DAN
STEL MESIN

21

CAPTION FIP
KEGIATAN DI FIP
1. MICRO TEACHING
2. BIMBINGAN
LIFE/REPRO
CAPTION FIP MUNCUL
MCU-CU KEGIATAN
HURUF DEMI HURUF
CAPTION JURUSAN
BERJALAN

22

GEDUNG LAB FIK/ALAT


KEGIATAN DI LAB

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

362

MUSIK

NAR: SETELAH GEDUNG,


fakultaa ilmu
keolahragaan atau
ef i ka, masih tetap
menghasilkan guru olah
raga Sekarang membuka
tiga jurusan baru, yaitu:
ilmu kepelatihan, ilmu
kesehatan olah raga, dan
ilmu kesehatan
masyarakat, semuanya
es satu

s/d NAR
DAN
MUSIK

MUSIK: LANJ.22. UNDER


NAR: ef i ka, dilengkapi
dengan lab dan
peralatan yang lengkap,
sehingga banyak dosen
dan mahasiswanya
menjadi atlit nasional
maupun egional. Bahkan
koni dan beberapa induk
organisasi, seperti
persani, gulat ikut
memanfaatkan alat yang
ada
MUSIK: LANJUTAN

s/d NAR

MUSIK:LANJ. 23 UNDER
NAR: Sesuai dengan
namanya fakultas bahasa
dan seni atau ef be es,
mempersiapkan
mahasiswanya baik
menjadi guru bahasa
maupun menjadi ahli
bahasa

s/d NAR
DAN
MUSIK

MUSIK: LANJ. 24 UNDER


NAR: Selain bahasa ef be
es juga memiliki dua
jurusan seni dengan

LIFE
LS/FS GEDUNG, CU
ALAT, MCU KEGIATAN
CAPTION JURUSAN
BERJALAN

23

KEGIATAN TES
KESEGARAN DAN
LATIHAN
LIFE
MCU-CU KEGIATAN/LAT

24

GEDUNG/LAB BAHASA
LAT JEPANG/PAMERAN
LIFE
FS GEDUNG/CAPTION
CAPTION JURUSAN
BAHASA BERJALAN

25

PAMERAN/SENI RUPA
TARIAN
LIFE

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

363

MCU-CU
CAPTION JURUSAN SENI
BERJALAN

26

KEGIATAN MAHASISWA
BEM
KEMAHASISWAAN

empat program studi.


UNNES selain mendidik
mahasiswa dibidang :
pendidikan, sain,
teknologi, juga olah raga
dan seni. Seperti
diperlihatkan mahasiswa
ini dalam sebuah
pameran, maupun gelar
tari pada berbagai
kesempatan.
s/d NAR
DAN
MUSIK

LIFE
DOKUMENTASI MHS

27

KEGIATAN MAHASISWA
UKM PS, MENWA, KSR,
REM,

Sri Sartono

s/d NAR
DAN
MUSIK

MUSIK: LANJ.25 UNDER


NAR: Mahasiswa UNNES
memang dipersiapkan
tidak saja dibidang
akademik, tetapi juga
kegiatan kokurikuler
maupun ekstra
kurikuler. Baik melalui
bem, u ka em.
Mahasiswa UNNES dalam
lima tahun terakhir
selalu tampil difinal
berbagai even kemaha
siswaan seperti pimnas,
peksiminas maupun
pomnas. Banyak u ka em
di lingkungan UNNES
yang berkembang,
sehingga memiliki
prestasi yang
membanggakan.

U ka em olah raga,
seperti pe es UNNES
misalnya, sekarang
termasuk dalam divisi

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

364

utama pe es i es.
Radio eksperimen
mahasiswa yang terkenal
dengan er e em di masa
mendatang telah
diminati oleh jurusan
teknik elektro teve
kampus untuk informasi
akademik bagi
mahasiswa.

REPRO DOK. KEGIATAN


MHS
WIPER ATAU CUT TO
CUT
URUTAN SESUAI NARASI
(VIDOE ON SOUND)

28

HUTAN MINI DAN


KEGIATAN MHPL

LANJ.

Kepedulian terhadap
masalah lingkuingan juga
diperlihatkan oleh
berbagai u ka em,
seperti mahasisw
pecinta alam dengan
membuat hutan mini
kampus, kerja sama
dengan kehati dan
perhutani.

LANJ.

Budaya menulis
dikembangkan melalui
penerbitan kampus atau
koran kampus nuansa.
Sebuah koran yang
mengkritisi masalah
pendidikan dan
kemasyarakatan

LANJ

NAR: Beberapa
keperluan mahasiswa
dapat diperoleh di
koperasi mahasiswa.
Poliklinikpun disedian
baik untuk dosen,
karyawan, mahasiswa
maupun masyarakat
luas.

LIFE/REPRO
PILIH YANG MCU-CU

29

KORAN
NUANSA/MAJALAH
LIFE
MCU KORAN DAN CU
JUDUL

30

KOPERASI MAHASISWA
dan POLIKLINIK
LIFE
MCU KOPMA
CU DOKTER MEMERIKSA

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

365

31

MICRO TEACHING DAN


PELEPASAN PPL.

s/d NAT
DAN

MUSIK: LANJ. 29 UNDER


NAR: Mahasiswa program
studi kependi- dikan
sebelum menyelesaikan studinya
diwajibkan mengikuti
program praktik
pengalaman lapangan di
sekolah
MUSIK LANJUTAN

s/d NAR

Bagi mahasiswa non


kependidikan diwajibkan
mengikuti program
praktik kerja lapangan atau pe ka el di
institusi mitra yang
sesuai dengan program
studinya. Pe ka el
merupakan tindak lanjut
dari teori yang diperoleh
saat kuliah, sehingga
mahasiswa lebih
mengenal pekerjaan
yang akan ditekuninya
kelak.

s/d NAR
DAN

MUSIK: LANJ. 31 UNDER


NAR: Darma penelitian
dan pengabdian
masyarakat oleh dosen
dan mahasiswa
dilakukan sesuai
kebutuhan masyarakat,
sehingga manfaatnya
dirasakan oleh masya
rakat, seperti
disampaikan oleh kepala
dinas pendidikan
nasional kabupaten
magelang
.
(DARI REKAMAN

MUSIK

REPRO DARI P. ANDRE


LIFE PELEPASAN
(MCU0CU) TAMPAK NAMA
SEKOLAH

32

PEMBEKALAN PKL DI BPN


LIFE
LS/FS SITUASI
CU MHS TANYA
CU PENYAJI DIBERI NAMA
IR.A. RIYANTO, KASI
PENGUKURAN TANAH
(KOMPUTER)

33

KEGIATAN LEMLIT/LPM
LIFE
FS SITUASI LEMLIT
KEG. LPM DI MUNTILAN
1.KELAS, 2.LAP.,
3.WAWANCARA
CU KADINAS MAGELANG9
DRS. SUBAGYO,MPD.

Sri Sartono

MUSIK

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

366

WAWANCARA DIAMBIL
..YANG
MANFAATNYA ............
34

UPT-UPT
PERPUSTAKAAN

s/d NAR
DAN
MUSIK

LIFE
PILIH YANG MCU-CU
CAPTION UPT BERJALAN

35

36

MUSIK: LANJ. 32 UNDER


NAR: Untuk mendukung
kegiatan intra kurikuler,
ko dan ekstra kurikuler,
berbagai unit pelayanan
teknis atau u pe te
sangat besar peranannya, seperti: puskom,
sumber belajar dan
media, percetakan,
perpustakaan.

LINGKUNGAN PPS/UJIAN
LIFE
LS LINGKUNGAN
MCU-CU PENGUJI DAN
MHS

s/d NAR
DAN MU
SIK

MUSIK: LANJ. 33 UNDER

FASILITAS PASCA

s/d NAR
DAN

LIFE
MCU/FS RUANG TUNGGU
DAN RUANG TIDUR

MUSIK

Untuk memudahkan
mahasiswa program es
dua dan es tiga, pasca
sarjana juga
menyediakan fasilitas
non akademik, seperti
asrama majasiswa dan
kafetaria dengan harga
murah
MUSIK LANJUTAN:

Sri Sartono

NAR: Dengan dibukanya


program pasca sarjana,
UNNES memberi
kesempatan kepada
tenaga pendidik yang
ingin meningkatkan
mutunya.
Pasca sarjana UNNES
memiliki sembilam
program es dua dan dua
program es tiga kependidikan.

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

367

Untuk melihat hasil produksi dapat dilakukan dengan klik judul


berikut.
SELAYANG PANDANG
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
(UNNES)
(link to video file 2)
UNNES DARI MASA KE MASA (link to video file 3)
TUGAS :

Setelah melihat tayangan video ini, coba buat


analisis dan laporkan kepada pembimbing/Guru
bagaimana
o Teknik shotingnya
o Settingnya
o Editingnya
o Keaslian gambarnya
o Musik/soundnya

d. Produksi Program Video Pembelajaran


1) Identifikasi Program
Sasaran
: Siswa kelas 7 / SMP kelas I
Catur wulan : I (pertama)
Pokok Materi : Jenis-jenis manusia purba dan kehidupan bangsa
Indonesia zaman prasejarah.
Rincian Materi : a). Penelitian tentang manusia purba dan
jenisjenis manusia purba indonesia.
b). Manusia purba di Asia dan Afrika.
Topik
: Jenis-jenis manusia purba di Indonesia dan
tempat lain.
2) Langkah Pengembangan Program
Program Video ini dikembangkan dari kurikulum yang berlaku
yaitu dari GBPP (garis besar program pembelajaran) Sejarah Nasional
Indonesia untuk kelas I SMP Cawu I yang dimodifikasi dan diadaptasi
dengan kurikulum 2001 pada pokok materi : jenis-jenis manusia

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

368

purba dan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia zaman


prasejarah.
Dari GBPP / Silabi kemudian dikembangkan kedalam program
media video kemudian disusun jabaran materi dan dibuat naskah
videonya untuk diproduksi menjadi program video pembelajaran
sejarah. Program ini dimaksudkan sebagai bahan pelengkap dan
pengayaan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
3) Garis Besar Isi Program Media
a) Kompetensi Dasar : Siswa mampu mendeskripsikan jenisjenis manusia purba dan perkembangan kehidupan
bangsa Indonesia zaman prasejarah.
b) Indikator Pencapaian Kompetensi : Melalui pengalaman
belajar menggunakan media video diharapkan siswa
mampu untuk :
(1) Menjelaskan ciri-ciri manusia purba yang pernah hidup di
Indonesia
(2) Menunjukkan pada peta tempat-tempat penemuan fosilfosil manusia purba di Indonesia.
(3) Membandingkan fosil manusia purba yang ditemukan
di Indonesia dan tempat lain.
(4) Menjelaskan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia
pada masa berburu, berpindah-pindah dan bercocok
tanam.
(5) Menjelaskan corak kehidupan nenek moyang bangsa
Indonesia.
c) Pokok Materi.
Jenis-jenis manusia purba yang pernah ada di Indonesia
dan tempat lain serta perkembangan kehidupan bangsa
Indonesia zaman prasejarah.
d) Rincian Materi
(1) Penelitian dan temuan tentang manusia purba dan jenisjenis manusia purba di Indonesia.
(2) Manusia purba di Asia, Afrika dan Eropa.
(3) Kehidupan manusia purba dan jenis-jenis peralatan hidup
4) Program Video Pembelajaran
Sasaran : Siswa kelas 7
Topik
: Jenis-jenis manusia purba dan kehidupannya pada
zaman purba
Durasi
: 25 menit

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

369

a) Pencapaian kompetensi yang diharapkan.


Setelah mengikuti pembelajaran dengan video siswa
diharapkan akan dapat :
(1) Menunjukkan jenis-jenis fosil manusia purba di Indonesia
(2) Membandingkan jenis manusia purba di Indonesia:
Pithecanthropus Erectus dan Homosapiens
(3) Menyebutkan jenis fosil manusia purba di Asia, Afrika dan
Eropa
(4) Memberi contoh jenis peralatan hidup yang digunakan oleh
manusia zaman purba
(5) Menunjukkan lokasi temuan fosil-fosil manusia purba di
Indonesia
b) Rincian Pokok Materi
(1) Penelitian dan temuan tentang manusia purba dan jenis-jenis
manusia purba di Indonesia.
(2) Manusia purba di Asia, Afrika dan Eropa.
(3) Kehidupan manusia purba dan jenis-jenis peralatan hidup
c) Soal Evaluasi
(1) Jelaskan bagaimana gambaran
bentuk
manusia purba
Pithecanthropus Erectus
(2) Sebutkan nama jenis manusia purba di Asia, Afrika dan Eropa
(3) Bandingkan tengkorak jenis Pithecanthropus Erectus dan
Homo-sapiens
(4) Berikan contoh-contoh peralatan hidup manusia purba jaman
palaelitikum dan neolitikum
(5) Tunjukkan benda peralatan hidup manusia purba jaman
logam
(6) Jelaskan kegunaan peralatan hidup manusia purba
(7) Tunjukkan pada peta, lokasi temuan fosil-fosil manusia purba
di Jawa Tengah dan Jawa Timur
(8) Jelaskan penemuan fosil Homo Habilis dalam hal bentuk,
volume otak dan tempat ditemukan.
(9) Identifikasi penemuan fosil Australopitecus.
d) Sumber
Sartono kartodirdjo. 1975. Sejarah nasional indonesia I.
Jakarta PN Balai Pustaka
Sukmono.1975. Sejarah kebudayaan Indonesia I. Jakarta : BP
Musium Ronggowarsito. Koleksi pustaka alam.
e) Uraian Materi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

370

Pendahuluan.
Pada jaman purbakala hutan, sungai, lembah, gunung
masih asli karena belum terjamah oleh budidaya manusia.
Berbagai binatang yang sekarang belum punah merupakan sisa
binatang yang mampu mempertahankan diri dari seleksi alam
yang sangat ketat, hukum rimba dan waktu. Fosil kayu,
tengkorak banteng, rusa gajah dan lain-lain yang ditemukan
merupakan bukti bahwa pada jaman purba telah ada kehidupan.
Ukuran tengkorak binatang purba rata-rata lebih besar dari
binatang yang ada sekarang. Fosil sejenis banyak diketemukan
disepanjang pegunungan kapur utara seperti daerah grobogan,
Purwodadi sampai Blora serta di sepanjang lembah sungai
Bengawan Solo, termasuk di perbukitan dan kubah-kubah di
Sangiran.
Sebagai contoh temuan adalah fosil terbesar dari gading
gajah purba yang ditemukan di desa Terban Jekulo kabupaten
Kudus. Gading gajah purba ini panjangnya lebih dari 4 meter.
Karena ukurannya yang sangat besar, habitatnya tidak mampu
menyediakan kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu mereka tidak
dapat hidup menempati ruang dan habitatnya.
Penelitian fosil manusia purba.
Temuan-temuan fosil binatang dan manusia purba di
Jawa tengah dan Jawa Timur, sempat menggemparkan para ahli
ilmu pengetahuan. Temuan itu berupa tengkorak, tulang paha
dan tulang belulang lain dari makhluk yang diperkirakan berjalan
tegak seperti manusia. Selanjutnya temuan ini disebut sebagai
Pitecanthropus Erectus yang berarti manusia kera berjalan
tegak. Struktur tulang belakangnya mirip manusia modern.
Perbedaan yang menonjol terletak pada tulang batok kepalanya.
Dari sini dapat diketahui volume otaknya lebih kecil dari pada
otak manusia sekarang.
Penelitian ini makin menarik para ilmuwan, sehingga
terdorong untuk saling berlomba untuk melakukan penelitian.
Seorang ahli yang bernama Eugne Debuis, seorang dokter
anatomi belanda yang bertugas di indonesia th 1887 sampai
1895. waktu luangnya ia manfaatkan untuk mencari fosil-fosil
sisa kehidupan masa lampau di gua-gua di Jawa dan Sumatera.
Pada th 1891 ia melakukan penggalian di desa Trinil dan
menemukan tulang paha dan tengkorak manusia purba di lembah
sungai Bengawan Solo.
Vonkuningswalg, adalah seorang paleontolog Jerman pada
tahun1902 melanjutkan perburuan fosil-fosil manusia purba dan
pada th 1934 ia bertugas di bidang dinas pertambangan di
Bandung. Ia sangat tertarik informasi bahwa di Sangiran

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

371

kecamatan Kali Jambe kabupaten Sragen Jawa Tengah banyak


ditemukan fosil-fosil. Ia kemudian mengadakan penelitian pada
th 1934 1939. Ia tidak hanya menemukan fosil-fosil tulangbelulang manusia dan binatang purba, tetapi juga menemukan
fosil alat-alat dari batu dan tulang, serpih batu dan lancipan.
Dari temuan ini ia menyimpulkan bahwa manusia purba
yang ditemukan fosilnya telah menggunakan alat-alat untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, dan berbudaya. Temuan-temuan
ini sekarang telah disimpan di Museum Negeri Ronggowarsito di
Semarang.
Pada masa perang dunia II penelitian di Sangiran terhenti.
Baru pada th 1962 penelitian dilanjutkan oleh putra-putra
Indonesia sendiri diantaranya oleh Prof. Dr. Teuku Yacob, Prof.
Dr. R. Sartono dan Prof. Dr. R. Suyono. Bagaimanakah penelitian
manusia purba di belahan bumi yang lain ?
Penelitian Manusia Purba di Asia, Afrika.
Di Afrika timur dan selatan telah ditemukan fosil manusia
purba yang dikenal dengan nama Australopitecus atau manusia
kera dari selatan. Kepala Australopitecus mirip kepala kera,
bentuk hidung ratam dagunya rendah dan tulang mata serta
tulang rahangnya menonjol. Otot ototnya lebih pendek dan
susunan giginya berbeda. Volume otaknya 430cc sampai 500cc,
sedikit lebih besar dari pada otak gorila tetapi lebih kecil dari
otak manusia modern yang volume otaknya 1400cc. Ciri-ciri
seperti ini dan sejumlah faktor lainnya mereka lebih mirip
manusia dari pada kera. Australopitecus merupakan jenis
manusia kecil yang tingginya sejajar dengan simpanse ditemukan
pada tahun 1924 oleh Raymondat dari Inggris. Temuan manusia
purba yang diperkirakan lebih maju juga ditemukan di Afrika
timur.
Pada th 1959 oleh Louis dan isterinya Nelly sangat tertarik
dengan temuan ini, sehingga puteranya Richard meneruskan
penelitiannya. Diperkirakan jenis manusia yang ditemukan
mampu menggunakan alat-alat keperluan hidup sehingga
dinamakan
manusia
Homohabilis
atau
manusia
terampil.Tengkorak Homohabilis lebih bundar dari pada kepala
Australopitecus. Wajahnya lebih kecil dan lonjong. Susunan
lingkaran giginya lebih mirip manusia. Volume otaknya 650cc
hingga 800cc. Tinggi tubuhnya kurang lebih 150cm lebih kecil
dari pada manusia modern. Ada sejumlah bukti bahwa mereka
telah mampu mendirikan gubug-gubug kecil bundar untuk
didiami. Ini dibuktikan dari hasil penggalian purbakala di Oduby,
George, Tansania. Mereka mengenal berbagai jenis alat seperti
kapak batu, serpih tulang bahkan teknik pembuatan api.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

372

Sementara itu di Asia ditemukan pada lapisan geologi bumi yang


kira-kira sama dengan lapisan dimana fosil Pitecantropus Erectus
di Jawa, yaitu manusia purba Peking atau Sinantropus
Pekingensis.
Pada perkembangan selanjutnya telah ditemukan fosil
jenis Homoerectus atau manusia berdiri yang berciri tertentu,
dinamakan Homosapiens seperti temuan Homosoloensis yang
bentuknya lebih mirip manusia dari pada Homohabilis.
f) Petunjuk Penggunaan Video Pembelajaran
Petunjuk Umum
Program Video Pembelajaran ini Manusia purba dan
kehidupan manusia purba Indonesia. Digunakan untuk
melengkapi kegiatan pembelajaran di kelas. Setelah siswa
melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka pada pokok
bahasan jenis-jenis manusia purba dan kehidupan manusia
purba. Di samping sebagai pelengkap juga digunakan sebagai
pengayaan ataupun memantapkan persepsi melalui media visual
gerak.
Petunjuk Khusus
(1) Program video ini lama putarnya 25 menit.
(2) Sesudah selesai kegiatan pembelajaran tatap muka, guru
dapat memutarkan program video ini di luar jam pelajaran
atau mengambil waktu akhir tatap muka 25 menit. Dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
(a) Persiapkan Video Casette Recorder / VCD player dan TV
monitor (20 inci atau lebih) letakkan diatas meja didepan
kelas.
(b) Hubungkan dengan power listrik
(c) Masukkan VCD atau casette pada VCR / VCD yang
digunakan
(d) Jelaskan terlebih dulu judul program, lama putarnya dan
tujuannya
(e) Persiapkan buku catatan siswa, berikan lembar evaluasi
dan kertas kerja
(f) Putar Video sampai selesai
(g) Beri kesempatan siswa untuk bertanya
(h) Suruh siswa mengerjakan lembar evaluasi
(i) Kumpulkan lembar evaluasi dan periksalah
(j) Keluarkan casette/VCD dari VCR/VCD player dan
putuskan hubungan dengan sumber listrik
(k) Masukkan casette /VCD pada tempatnya dan simpan di
tempat yang kering.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

373

g) Naskah Produksi Video Pembelajaran


Naskah Video Pembelajaran
Bidang Studi
Pokok Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Topik
No. Program
Sasaran
Penulis
NO

: IPS Sejarah Nasional Indonesia


: Jaman Pra Sejarah
: Jenis manusia purba yang ada di
Indonesia dan daerah lain
: Jenis manusia purba Indonesia
: SEJ/VCD/01
: Siswa SLTP kelas I
: Drs. Heri Subagyo.

VISUAL

WAKTU

AUDIO

LOGO PEMDA TK I
JAWATENGAH

15 dtk

FX : MUSIK INSTRUMEN

CU :PRESENTER

15 dtk

FX : MUSIC UNDER
NAR: Pemirsa/ selamat
berjumpa dengan museum
negeri jawa tengah dalam
program //

15 dtk
CU CAPTION :
SERI
PEMBELAJARAN
SEJARAH INDONESIA

NAR:
Seri Sejarah Indonesia
FX: MUSIC FO

JENIS MANUSIA PURBA


INDONESIA
4

LIFE : LS TO MEDIUM
HUTAN, LEMBAH,
GUNUNG DI SANGIRAN

15 dtk

FX: MUSIC FI UNDER


NAR:
pada
jaman
purba/hutan/gunung dan
lembah masih asli/karena
belum terjamah budidaya
manusia//

LIFE : kebun binatang


BINATANG:
ULAR,BUAYA,

15 dtk

NAR: berbagai binatang


ini/ merupakan contoh
binatang yang mampu ber-

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

374

BERUANG,BADAK, dsb

evolusi dan hidup sampai


sekarang/ karena mampu
berjuang melawan hukum
rimba dan seleksi alam
yang sangat ketat//
10 dtk

PERBUKITAN, HUTAN
LEMBAH lanjutan no 4

LIFE : CU FOSIL KAYU, 20 dtk


TENGKORAK BANTENG
DLL
Museum Ronggo
warsito smg

FX : MUSIC FI

FX : MUSIC FO UNDER
NAR : fosil kayu/
tengkorak banteng/ rusa
dll yang telah ditemukan /
merupakan bukti sejarah
bahwa pada jaman purba
telah ada kehidupan//
Ukuran tengkorak binatang
purba ini/ rata rata lebih
besar dari pada binatang
yang sekarang masih
ada//

20 dtk
LIFE : LS TO MED
PEGUNUNGAN KAPUR
UTARA

LIFE/REPRO: FS TO LS.
SUNGAI BENGAWAN
SOLO DAN SEKITARNYA
PERBUKITAN SANGIRAN
CU : FOSIL GADING

Sri Sartono

20 dtk

NAR : fosil-fosil sejenis/


banyak ditemukan di
pegunungan kapur utara/
seperti di daerah
grobogan/ purwodadi
sampai blora/ serta di
sepanjang aliran sungai
bengawan solo/ termasuk
perbukitan dan kubah
kubah di sangiran//
NAR :
Fosil terbesar sisa
binatang purba/
ditemukan di lereng
pegunungan pasir ayan/
tepatnya di desa Terban

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

375

GAJAH dari jekulo


Kudus (dok museum
RW)

Jekulo kabupaten Kudus//


Berupa fosil gading gajah
purba/ yang panjangnya
mencapai 4 meter lebih//.
Karena ukurannya yang
sangat besar/ habitatnya
tidak mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya/
akibatnya ia tidak mampu
bertahan hidup dalam
habitatnya//

10

REPRO GAMBAR
FS TO CU WITH PAN
FRONT TO BACK
MANUSIA KERA
BERJALAN (museum
ronggowarsito smg)

15 dtk

NAR : temuan-temuan
fosil jaman purba/ sempat
menggemparkan para ahli
ilmu pengetahuan//
temuan-temuannya
berupa fosil fosil
tengkorak/ rahang/ tulang
belulang/ yang
diperkirakan dari makhluk
berjalan tegak seperti
manusia//

11

LIFE : CU TENGKORAK
PITECANTHROPUS
REPRO GRAFIS/FOTO
CU : DALAM SIKAP
BERDIRI TEGAK
(museum
ronggowarsito)

15 dtk

NAR : selanjutnya temuan


ini disebut sebagai/
Pitecanthropus Erectus/
yang berarti/ manusia
kera berjalan tegak//.

12

REPRO GAMBAR CU :
MANUSIA KERA
BERDIRI, JONGKOK DSB
(museum
ronggowarsito).

15 dtk

NAR : struktur tulang


belakangnya/ mirip
manusia moderen//.

13

LIFE CU FOSIL BATOK


KEPALA (ANIMASI
GERAKKAN BERPUTAR)

20 dtk

NAR:
perbedaan
yang
menonjol/ terletak pada
batok kepalanya//.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

376

Dari sini/ dapat diketahui


volume otaknya/ lebih
kecil dibandingkan dengan
otak manusia sekarang.//

TENGKORAK MANUSIA
PITECANTHROPUS
14

REPRO FOTO/GAMBAR. 15 dtk


CU
E. DEBUIS

NAR : temuan ini makin


menarik para ilmuwan/
sehingga saling berlomba
untuk melakukan
penelitian di indonesia//.
Eu de boa/ adalah seorang
dokter anatomi belanda//
ia bertugas di Indonesia
pada tahun 1887 sampai
1895//. Waktu luangnya/
ia manfaatkan untuk
mencari fosil-fosil sisa
kehidupan masa lampau/
di gua-gua di jawa dan
sumatera//.

15

REPRO CU
SITUS TRINIL

NAR: pada tahun 1891/ ia


melakukan penggalian di
desa Trinil/ dan
menemukan fosil tulang
paha/ di daerah aliran
sungai bengawan solo// ia
menemukan sisa rahang/
tengkorak dan tulang
paha//

16

REPRO GAMBAR/FOTO. 15 dtk


CU
VAN KONINGSWALD
INSERT
SITUS SANGIRAN

Sri Sartono

15 dtk

NAR: van koningswald/


adalah seorang
palaeontolog orang
jerman//. Tahun 1902 ia
melanjutkan perburuan
fosil-fosil manusia
purba//. Pada tahun
1934/ ia bertugas di
bidang dinas
pertambangan di
bandung//. Ia sangat

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

377

tertarik mendapatkan
informasi bahwa di
sangiran/ kecamatan kali
jambe kabupaten sragen/
banyak ditemukan fosilfosil//.
17

LIFE/REPRO GAMBAR 120 dtk


CU
ALAT DARI BATU
KAPAK BATU
CHOPPER
MANIK-MANIK
TULANG RAHANG
TENGKORAK
BATOK KEPALA
(DALAM
BERBAGAI
POSISI)
DI MUSEUM RW.

18

REPRO GAMBAR/FOTO. 15 dtk


CU.
TEUKU YACOB
SARTONO
SUYONO
(VIDEO ON SOUND)

19

LIFE FS TO CU
PRESENTER

Sri Sartono

10 dtk

NAR: van koningswald/


mengadakan penelitian
pada tahun 1934 sampai
1939//. Ia tidak hanya
menemukan fosil tulang
belulang manusia dan
binatang purba/ tetapi
juga menemukan alat-alat
dari batu dan tulang/
seperti serpih/ bilah/ bor
batu dan lancipan dari
tulang//. Dari temuan ini/
ia menyimpulkan bahwa/
manusia purba yang hidup
di sangiran telah
berbudaya//. Temuantemuan ini sekarang
disimpan di museum
negeri ronggowarsito
semarang.
NAR: pada saat pecah
perang dunia II/ penelitian
di sangiran
terhenti//.baru pada th
1952 / penelitian
dilanjutkan oleh puteraputera Indonesia/
diantara- nya oleh
Profesor doktor Teuku
Yacob/ prof. Dr. R.
Sartono / dan prof. Dr.
Suyono//.
NAR : Pemirsa/
bagaimanakah kehidupan

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

378

20

BACKGROUND OBYEK
CANDI DI DALAM
MUSEUM

manusia purba di belahan


bagian dunia lain?/
marilah kita simak
tayangan berikut ini //.

120 dtk
LIFE/REPRO/GRAFIS
CU.
FOSIL
AUSTRALOPITECUS
PETA AFRIKA SITUS
FOSIL
KERA BERDIRI
KEPALA AUSTRALOP
LENGAN OTOT
PERBANDINGAN
TENGKORAK
FOTO REMONDAT

NAR : di Afrika timur dan


Afrika selatan/ telah
ditemukan bentuk fosil
tertua dari manusia
purba/ yang dikenal
sebagai Australopitecus/
atau manusia kera dari
selatan//
Kepala Australopitecus
mirip kepala kera/
dagunya rendah/
hidungnya rata/ dan
tulang mata serta
rahangnya menonjol//.
Namun otot-ototnya lebih
pendek dan susunan
giginya berbeda//.
Volume otaknya 450cc
sampai 500cc sedikit lebih
besar dari volume otak
gorila/ tetapi lebih kecil
dari otak manusia
modern/ yang volumenya
1400cc//.
Ciri-ciri seperti ini dan
sejumlah faktor lainnya/
membuat mereka lebih
mirip manusia dari pada
kera//. Australopitecus
merupakan jenis manusia
terkecil/ yang tingginya
sejajar dengan simpanse//
Telah ditemukan th 1924/
oleh Raymondat dari
Inggris//. Temuan
manusia purba yang
diperkirakan lebih maju/
juga ditemukan di Afrika
timur// pada th 1959/

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

379

oleh LouisLicky dan


isterinya Nelly//.
21

REPRO/LIFE/FOTO
CU
RICHART

60 dtk

NAR : temuan ini demikian


menariknya/ sehingga
mendorong puteranya
Richart/ untuk
meneruskan//.
Diperkirakan temuan ini
merupakan jenis manusia
tertua/ yang mampu
membuat alat keperluan
hidup/ sehingga
dinamakan Homohabilis/
atau manusia terampil//.
Tengkorak homohabilis
lebih bundar/ dari pada
kepala australopitecus//
wajahnya lebih kecil dan
lonjong/ susunan lingkar
giginya lebih mirip
manusia// volume otaknya
650cc sampai 800cc/
tinggi tubuhnya kurang
lebih 150cm/ lebih kecil
dari pada manusia
modern//.

60 dtk

NAR : ada sejumlah bukti


bahwa/ mereka telah
mampu mendirikan gubuggubug bundar/ untuk
didiami//. Ini dibuktikan
dari hasil penggalian
purbakala di Oduby/
George / Tanzania
//.mereka mengenal
berbagai jenis alat /
seperti kapak batu/ serpih
tulang/ bahkan teknik
membuat api //.

TENGKORAK
HOMO
HABILIS
DUA MANUSIA PURBA

22

REPRO CU
GUBUK PURBA
KAPAK BATU
SERPIH TULANG
ALAT PEMBUAT API

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

380

23

LIFE/ REPRO
10 dtk
CU FOSIL MANUSIA
MODERN

NAR : pada perkembangan


selanjutnya/ telah
ditemukan fosil jenis
Homoerectus/ atau
manusia berdiri/ yang
berciri-ciri tertentu/
sehingga lebih mirip
manusia dari pada
Homohabilis //.

24

REPRO GAMBAR
CU BERBAGAI ALAT
PRESENTER

20 dtk

FX : MUSIC FI
NAR: Pemirsa/ demikian
program video
pembelajaran kali ini/
tanyakan hal-hal yang
belum jelas kepada guru
kalian/ dan juga jangan
lupa untuk mengerjakan
lembar evaluasi// sampai
jumpa pada program yang
lain/ terima kasih atas
perhatian anda//

25

CU CAPTION
TEKS BERJALAN
BACKGROUND MANUSIA
PURBA.

20 dtk

FX : MUSIC FO SAMPAI
PENUTUP OUT

PRODUKSI BERSAMA
UPTSBM UNNES DAN
MUSEUM RONGGO
WARSITO SEMARANG
KERABAT KERJA
Producer
Drs. Agus Dono karmadi
Producer Pelaksana
Drs. H. Subagyo
Pimpinan Produksi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

381

Puji Joharnoto
Sutradara:
DRS. FR. Sri Sartono, MPd

Naskah
Drs. H. Subagyo
Cameraman:
Farouk
Nurmanto
Djatmiko
Juru lampu:
Ratmoko
Juru Suara:
Budi Susanto
Properti:
Imam, P
Editor:
Djatmiko
Farouk
SEKIAN

Untuk melihat hasil produksi dapat dilakukan dengan klik judul berikut
JENIS MANUSIA PURBA DI INDONESIA
(link to video file 4)
TUGAS :

Setelah melihat hasil video ini, coba jawablah soal


evaluasi Berikut ini. Laporkan berapa % anda bisa
menjawab dengan benar kepada pembimbing/Guru
Soal Evaluasi :
(1) Jelaskan bagaimana gambaran
bentuk
manusia purba
Pithecanthropus Erectus
(2) Sebutkan nama jenis manusia purba di Asia, Afrika dan Eropa
(3) Bandingkan tengkorak jenis Pithecanthropus Erectus dan
Homo-sapiens
(4) Berikan contoh-contoh peralatan hidup manusia purba jaman
palaelitikum dan neolitikum
(5) Tunjukkan benda peralatan hidup manusia purba jaman
logam
(6) Jelaskan kegunaan peralatan hidup manusia purba

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

382

(7) Tunjukkan pada peta, lokasi temuan fosil-fosil manusia purba


di Jawa Tengah dan Jawa Timur
(8) Jelaskan penemuan fosil Homo Habilis dalam hal bentuk,
volume otak dan tempat ditemukan.
(9) Identifikasi penemuan fosil Australopitecus.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

383

BAB VI
PERFILMAN
A. Pengertian Film
Seperti halnya televisi Film merupakan jenis media
informasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari
sumber informasi ke kalayak sasarannya/masyarakat. Bentuk
informasi adalah audio visual seperti pada televisi. Yang berbeda
dengan televisi adalah kamera yang digunakan untuk shoting,
pemrosesan produksinya dan penyiaran/ penayangannya. Film
diproduksi dengan menggunakan Kamera Film yang menggunakan
film sebagai bahan dasarnya seperti halnya pada kamera foto
untuk memproduksi slide yang menggunakan jenis film positip.
Hanya terdiri dari gulungan yang cukup panjang. Produksinya
menggunakan sistem pembakaran dan pelarutan dengan proses
pencahayaan (pada waktu shoting) dan proses kimiawi seperti
juga pada fotografi (pada waktu prosesingnya). Oleh karena itu
prosesing filmnya dilakukan secara laboratoris di laboratorium.
Proses editingnya menggunakan sistem cuting /pemotongan pada
bagian yang tidak diperlukan atau yang jelek di buang diganti
dengan potongan gambar yang diperlukan/yang baik dengan
sistem penyambungan. Penyambungan dari shoot yang satu ke
shoot yang lain sesuai dengan urutan pada naskah/skenario.
Penayangannya
menggunakan
proyekor
film
dengan
menggunakan sistem optik dan harus pada ruang yang gelap
untuk memperjelas hasil proyeksi. Film juga dapat ditayangkan
dan disiarkan melalui pemancar televisi setelah ditransfer
terlebih dahulu kedalam bentuk elektrik menjadi sinyal video
melalui kamera televisi. Film yang disiarkan melalui televisi
biasa disebut telecine atau tele sinema. Dahulu pada zamannya
film sangat digemari dan menjadi hiburan menarik di gedunggedung bioskop. Saat ini karena sudah banyak stasiun tv, film
bioskop terdesak dan sepi penonton akibatnya banyak pengusaha
hiburan yang gulung tikar, seperti yang ada di kota-kota kecil. Di
kota besar seperti Jakarta misalnya, bioskop masih cukup
menjanjikan khususnya bagi masyarakat tertentu. Media film ini
dahulu juga sangat efektip untuk media penerangan yang banyak
digunakan oleh departemen penerangan dengan menggunakan
film cerita yang mengandung penerangan dan pendidikan.
Dengan maraknya media VCD sampai ke pelosok desa, saat ini
banyak yang beralih ke media VCD yang ternyata dapat dibuat
dengan biaya yang jauh lebih murah dibanding membuat film.
Demikian pula saat ini film telah digeser oleh media tv dengan
berkembangnya sinetron (sinema elektronik) yang biaya
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

384

produksinya jauh lebih murah dibandingkan dengan film.


Terlebih lagi kegiatan membuat program TV dan Film sekarang
ini sudah berkembang dimasyarakat dengan bermunculanya
rumah-rumah produksi atau production house dengan segala
kapasitas dan kualitasnya.

Gambar 113. Bentuk Fim


B. Jenis Film
Ditinjau dari lebar filmnya film dibedakan menjadi jenis
film 8 mm, 16 mm, 35 mm, 70 mm. Jenis film 8mm dan 16 mm
banyak digunakan untuk memproduksi film-film pendidikan dan
penerangan serta dokumentasi. Untuk kepentingan rumah tangga
banyak menggunakan film 8 mm. Sedangkan film untuk diputar
di gedung-gedung bioskop menggunakan film jenis 35 mm dan 70
mm. Proyektor film yang tersedia dipasaran juga sesuai dengan
ukuran 8 mm, 16mm, 35 mm dan 70 mm. Untuk keperluan film
gedung bioskop menggunakan jenis 35 mm dan 70 mm. Panjang
film 8 mm berkisar antara 50 200 feet, sedangkan film 16 mm
panjangnya sekitar 400 2000 feet dan untuk film 35 mm dan 70
mm lebih panjang lagi.
Ditinjau dari suaranya film dibedakan menjadi film bisu
(silent film) dan film bersuara. Film bisu adalah film yang hanya
menampilkan gambar visual saja sedang suaranya diperoleh dari
ilustrasi musik diluar film yaitu dengan sound sistem tersendiri
yang berfungsi untuk musik backgroud saja. Sebelum teknologi
berkembang seperti sekarang ini dulu bioskop memutar film bisu
seperti chelly chaplin dan sebagainya. Film bersuara
menayangkan gambar visual dan suara yang telah disatukan pada
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

385

film, yaitu telah direkam pada pita film pada sisi lajur sepanjang
film. Ada dua tipe sistem suara yaitu sistem optik dan sistem
magnetik. Sistem suara optik suara direkam atau diputar
kembali (play back) menggunakan sistem variasi perubahan
sinar/cahaya yang menembus trak suara. Intensitas cahaya pada
waktu merekam sesuai dengan perubahan tekanan suara yang
direkam. Intensitas cahaya yang mengenai film jalur suara akan
mempengaruhi daya bakar film sehingga setelah proses
pelarutan daya larut film juga sesuai dengan intensitas
cahaya/suara pada waktu rekaman. Sistem suara magnetik
menggunakan jalur suara pada tepi film ditaburi bahan magnet
sepanjang film. Karakternya sama dengan pita magnetik pada
kaset/tape yang banyak digunakan pada video dan audio. Proses
perekamannya menggunakan head recorder dan untuk play
backnya menggunakan head playback dengan sistem
pembangkitan elektromagnet yang besarnya sesuai dengan
intensitas arus listrik yang mengalir yang dikendalikan oleh
intensitas tekanan suara yang direkam. Oleh karena itu
proyektor film yang digunakan harus dilengkapi optic sound lamp
dan head play back agar kedua jenis sistem suara bisa dilayani.
Ditinjau dari format program film yang diproduksi sebagai
informasi yang akan disampaikan kepada penonton film dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis diantaranya adalah : film
cerita, film drama keluarga,film noncerita, film komedi, film
dokumenter, film action/laga dan sebagainya. Berbagai format
film tersebut tidak berbeda dengan format program TV, baik
penemuan gagasan, sinopsis, treatment, scenarionya maupun
dalam pengambilan gambar/ shotingnya. Yang berbeda adalah
pada jenis kamera, bahannya dan proses produksinya serta
editingnya meskipun ada beberapa hal yang sama.
C. Penyiaran Film
Terdapat dua sistem penyiaran film kepada masyarakat
yaitu sebagai
berikut.
1. Penyiaran melalui Gedung Bioskop.
Setelah film diproduksi, film tersebut diputar di gedunggedung bioskop menggunakan proyektor film sesuai dengan jenis
filmnya yaitu 35mm atau 70mm. Sistem penyiarannya dapat
dijelaskan dengan gambar ilustrasi sebagai berikut.
Program Film yang sudah diproduksi siap ditayangkan di
gedung bioskop dikemas dalam rol/tray untuk dipasang pada
proyektor film yang berada di lantai dua/balkon bagian belakang
ruang proyeksi. Biasanya ada paling tidak dua proyektor film,
dan proyektor slide untuk penayangan iklan komersial maupun
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

386

layanan masyarakat. Proyeksi film diterima oleh layar/screen


yang dipasang di panggung dan posisinya diatas kepala sejajar
dengan proyektor filmnya. Output audio dihubungkan ke
amplifier sound sistem dan output amplifier disalurkan ke
speaker yang berada dibawah layar. Penonton berada di ruang
proyeksi dan tempat duduknya diatur bagian belakang lebih
tinggi dari pada yang di depan agar bisa melihat layar tanpa
halangan. Durasi tayangan program antara 1 jam sampai 2 jam
yang terbagi dalam beberapa rol film. Penayangan iklan biasanya
dilakukan pada awal sebelum film utama diputar dan pada saat
pergantian rol film dan menggulung kembali /rewind film yang
sudah ditayangkan. Iklan biasanya dikemas dalam format film
slide dan penayangannya menggunakan proyektor slide. Suara
biasanya dibuat dengan sistem dolby sehingga suaranya enak di
dengar apalagi didukung ruangan yang kedap suara.

KABEL AUDIO

PROYEKTOR FILM
RUANG GELAP KEDAP SUARA

L
A
Y
A
R

AUDIO
SISTEM

PENONTON

SPEAKER

Gambar 114. Sistem penyiaran film di gedung bioskop

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

387

Mengatur persediaan film dan memasang film.


Untuk menjaga kontinuitas penyiaran film melalui gedung
bioskop, yang penting diperhatikan adalah menjaga agar film
sudah tersedia sebelum jadwal pemutaran dimulai. Oleh karena
itu manajer gedung bioskop harus mampu mengatur persediaan
film ini. Biasanya satu judul film diputar di beberapa gedung
bioskop untuk tujuan ekonomis. Satu judul film biasanya terdiri
dari beberapa tray/rol film dengan durasi kira-kira 30 menit
perrolnya. Oleh karena itu penjadwalan pemutaran film harus
dibuat ketat dan bergantian misalnya dengan selisih waktu 30
menit sampai satu jam tergantung
jarak antar gedung
bioskopnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperhitungkan waktu
perjalanan dalam pengambilan film. Waktu selebihnya digunakan
untuk penyiaran iklan seponsor dan untuk pemasangan film pada
proyektor serta untuk menggulung ulang fim pada rol sumbernya.
Film iklan biasanya ada yang dalam bentuk slide, sehingga
memerlukan slide projector.
Pemasangan film pada proyektor film dapat dilakukan
dengan membaca petunjuk yang ada pada proyektor atau pada
infomation manual book proyektor tersebut. Biasanya sudah
terdapat lobang tempat film, yang disertai tanda anak panah.
Gedung bioskop biasanya minimal memiliki dua buah
proyektor film 32 -70 inchi dan satu buah proyektor slide untuk
menjaga kontinuitas penyiaran, sehingga tidak ada waktu
menunggu bagi penontonnya.
Dalam perkembangan teknologi saat ini telah diproduksi
monitor dengan layar lebar seperti layar gedung bioskop. Dengan
demikian gedung bioskop dapat membuat tanpa menggunakan
proyektor tetapi dapat menggunakan LCD atau monitor layar
lebar. Sebagai sumber sinyalnya menggunakan DVD/VCD player
yang dapat memutar data digital dalam bentuk keping CD. Atau
dapat langsung menggunakan sumber dari komputer. Sedangkan
softwarenya dapat dipesan/dibeli bahkan diproduksi dengan
mudah dan murah.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

388

Gambar 115. Proyektor Film, alat untuk menayangkan film

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

389

2. Penyiaran Film melalui stasiun TV.


Penyiaran Film kemasyarakat melalui stasiun penyiaran
TV dilakukan seperti proses berikut ini.
Program Film yang telah diproduksi dikirim ke studio telecine
stasiun penyiaran TV, dan di studio telecine program film
tersebut ditransfer ke bentuk digital atau sinyal video. Proses
transfernya adalah : film diputar menggunakan proyektor film,
gambar proyeksinya diterima oleh screen/layar putih yang siap
direkam oleh kamera video. Sinyal video hasil rekaman
disalurkan ke komputer atau direkam langsung oleh VCR yang
ada di dalam kamera. Dapat juga direkam pada VTR/VCR
tersendiri. Sistem suaranya dikeluarkan dari output audio dari
proyektor film untuk disalurkan ke komputer/VCR untuk direkam
bersama gambarnya. Hasil rekaman berupa data program yang
dikemas dalam bentuk kaset atau Compact disk (CD) dibawa ke
unit pemancar atau disalurkan melalui kabel untuk dipancar
luaskan ke masyarakat penonton TV.

Film
Penjepit

lensa

Penggerak
film

Gambar 116. Simulasi perjalanan film pada proyektor

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

390

Pemancar

SCREEN

Gambar 117. Penyiaran Film melalui stasiun penyiaran TV


Data program yang dikemas dalam bentuk CD digandakan
dan dipasarkan ke masyarakat luas untuk ditonton melalui
VCD/DVD player yang ada di rumah-rumah. Saat ini VCD/DVD
player sudah bukan barang langka di masyarakat bahkan sampai
pelosok desa sekalipun. Di sana telah banyak terdapat rental CD
yang cukup ramai dikunjungi orang. Hal ini merupakan indikasi
bahwa penyiaran film saat ini bukan hal yang sulit untuk menjadi
suguhan hiburan yang menarik bagi masyarakat, meskipun
pengusaha bioskop banyak yang gulung tikar.
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

391

audio

video

Gambar 118. Sistem transfer dari film ke bentuk digital


D. Produksi Film
1. Peralatan dan Bahan Produksi Film
Peralatan produksi film sama dengan peralatan produksi
program TV. Yang berbeda hanya jenis kamera yang dipakai
untuk shoting. Yaitu menggunakan kamera optik seperti kamera
foto, tetapi bahan filmnya bisa bergerak roling. Bahan seperti
layaknya kalau akan memotret dengan kamera foto, ditoko
sudah tersedia film foto. Demikian bahan untuk membuat film
juga telah tersedia bahan film bisu, film bersuara optis dan film
bersuara magnetis dengan berbagai ukuran 8mm, 16mm, 35mm
dan 70mm.
Peralatan yang diperlukan untuk shoting diantaranya
a. Kamera Film. Bentuknya seperti gambar berikut ini.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

392

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

393

Gambar 119. Bermacam-macam bentuk kamera film,


alat shoting film

Gambar 120. Bahan produksi


Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

394

b. Lampu/alat Pencahayaan.
Peralatan pencahayaan untuk produksi film sama dengan
produksi program TV. Produksi juga dilakukan di dalam
studio/ruangan maupun di luar studio / ruangan.
Berikut ini merupakan Contoh bentuk peralatan lampu
pencahayaan dalam produksi Film.

Gambar 121. Lampu/ pencahayaan dalam produksi film


Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

395

2. Penulisan Naskah Film


Penulisan naskah/scenario film sama dengan program TV.
Format yang banyak di pakai adalah wide margin dan kolom
ganda. Penulisan naskah diawali dengan penemuan ide/gagasan.
Selanjutnya dilakukan visualisasi ide dan audionisasi ide/gagasan
tersebut kebentuk visual dan audio setelah dilakukan berbagai
riset baik lapangan maupun kepustakaan untuk memperdalam
pengetahuan yang terkait dengan ide/gagasan. Berdasarkan hasil
riset ide/gagasan dituangkan menjadi sinopsis yang merupakan
cerita singkat yang menggambarkan isi/substansi cerita secara
menyeluruh. Selanjutnya sinopsis dioperationalkan menjadi
treatment yang di dalamnya telah mencakup scene-scene dalam
suatu squence pada setiap episodenya. Treatment ini sudah
operasional artinya dengan panduan treatment ini seorang
produser telah dapat memproduksi program film. Selanjutnya
treatment dikembangkan menjadi sekenario atau naskah yang
digunakan sebagai panduan seluruh kerabat kerja yang terlibat
dalam produksi film. Naskah/ scenario telah memuat secara
lengkap bagaimana pemerannya, bagaiman pengambilan
gambarnya, bagaimana narasinya, bagaimana setting tempatnya
dan sebagainya. Namun demikian untuk keperluan produksi
naskah ini perlu diperjelas menjadi naskah shoting/ shoting
script. Setelah shoting selesai dan telah dilakukan editing off
line
naskah
lebih
dioperasionalkan
menjadi
naskah
editing/editing script sebagai panduan editing bagi seorang
editor film untuk melakukan editing on line dan mixing.
3. Pemeran /Artis Film
Pemeran atau artis juga sama dengan program TV, hanya
kapasitasnya lebih banyak karena program film biasanya
memproduksi
program
yang
membutuhkan
banyak
artis/pemeran. Hal ini disebabkan film biasanya diproduksi
dengan durasi yang lebih panjang antara 1 2 jam apalagi pada
produksi film yang kolosal. Artis diharapkan mampu memerankan
karakter yang diperani, oleh karena itu perlu ada casting untuk
memilih artis/pemeran yang tepat sehingga dapat memperlancar
produksi film. Terdapat tokoh dan tokoh pembantu di dalam
cerita film, maka pemeranya juka dikenal sebagai pemeran
utama dan pemeran pembantu atau lazim disebut dengan
figuran. Agar produksi lancar maka seorang artis film harus
mampu menghafal naskah yaitu isi pembicaraan, acting yang
harus dilakukan pada setiap shoot dalam scene-scene yang
diperankan. Kesalahan yang sering dilakukan artis akan

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

396

menyebabkan terjadinya pengulangan-pengulangan shoot yang


mengakibatkan pemborosan waktu, tenaga dan biaya.
E. Teknik Produksi Film
1. Produksi Gambar / Shoting Film

Gambar 122. Mengejar angle yang baik


Proses dan teknik shoting pada program film tidak
berbeda dengan shoting pada program televisi/video yang telah
banyak dibicarakan pada Bab V. Yang penting di sini adalah
managemen produksi. Bagaimana produser mengorgasisasikan dan
mengkoordinasikan kegiatan produksi mulai langkah persiapan,
pelaksanaan sampai pada langkah evaluasi. Kaberhasilan produksi
akan sangat ditentukan oleh semua komponen yang terkait dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya serta kerjasama yang baik
saling menguntungkan seluruh komponen dalam organisasi
produksi mulai dari produser, sutradara, pemeran, crew sampai
pada komponen driver sekalipun. Semua komponen penting dan
sekecil apapun peran masing-masing akan ikut menentukan
kualitas hasil produksi.
Hasil pengelolaan dan koordinasi akan terwujud adanya
jadwal kegiatan dari program produksi lengkap dengan informasi
tentang waktu, peralatan, bahan, orang yang terlibat dan
sebagainya. Dengan demikian jadwal ini akan dapat digunakan
bagi seluruh komponen untuk melaksanakan tugas masing-masing.
Jadwal harian merupakan operasionalisasi dari jadwal
program tersebut. Biasanya akan banyak memuat kegiatan
persiapan/petunjuk operasional pelaksanaan program. Misalnya
dalam pelaksanaan pengambilan gambar/shoting, semua kegiatan
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

397

harus
didokumentasikan/dicatat
baik
untuk
keperluan
administrasi maupun untuk produksi lanjutan. Oleh karena itu
dalam kegiatan shoting ada petugas pencatat shoting dan atau
clapperboardman.
Clapperboardman bertugas untuk menyiapkan shoting
harian, mengoperasikan clapperboard dan mencatat shoting.
Hal ini sangat penting untuk dapat mencari dengan mudah bagianbagian hasil shoting untuk keperluan editing selanjutnya. Apalagi
pengambilan gambar oleh camera diulang-ulang untuk
mendapatkan gambar dengan angel/sudut serta kualitas yang
sempurna. Pada waktu sutradara memberi perintah shot/record
yang direkam oleh kamera adalah clapperboard dulu yang sudah
terdapat tulisan shot 1, 2, 3 dan seterusnya. Seterusnya seorang
pencatat shoting mencatat pada buku shoting informasi tentang
lokasi, jam, nomor pada naskah, nomor urut shoting, ulangan 1,
2, 3 dan seterusnya serta nomer counter pada camera, kaset
nomer berapa dan sebagainya. Kelengkapan informasi dari
pencatat shoting akan sangat membantu editor dalam memilih
dan memadukan gambar.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pengambilan gambar diantaranya adalah,
a. Angle pengambilan gambar. Angle kamera yang baik mampu
membuat apresiasi yang sama bagi penonton film. Setiap kali
kamera digerakkan yang berarti perubahan angle pengambilan,
penonton dibawa ke titik pandang yang baru. Oleh karena
penonton tidak mau digerakkan seenaknya, maka perubahan
engle pengambilan gambar/kamera harus diperhitungkan secara
cermat. Rangkaian shoot-shoot yang membentuk squence harus
direkam dengan penataan yang progresive, impresive,
pengkontrasan, pengulangan secara tersendiri atau dalam
kombinasi. Jangan sampai membuat berbagai jenis shoot aneh
dan campur aduk. Film harus membuat kejutan visual bagi
penonton dengan cara menyajikan gambar visual yang selalu baru
dan segar, jenis shoot yang berbeda-beda, ukuran gambar yang
berubah-ubah, dan pola yang sulit diduga. Misalnya satu seri dari
close up disusul oleh extrem long shoot atau sebaliknya. Gambar
harus diperhitungkan skalanya dalam sebuah shoot dan dalam
rangkaian shoot selanjutnya. Gerakan artis atau kamera harus
selalu ditukarkan, dipindahkan, diputar-balik jangan sampai
hanya mempertahankan ulangan pola yang itu-itu saja agar
gambar menjadi dinamis dan tidak membosankan. Setting harus
dapat dilihat dari segala sisi jangan monoton dari depan
saja.Keanekaragaman gambar visual yang disajikan akan mampu
membuat penonton terkekang dan tertarik dengan apa yang
sedang dilihat dan yang akan dilihat berikutnya. Penonton harus
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

398

diberi sajian yang selalu baru dan berbeda pada setiap


kesempatan.
Kamerawan film noncerita harus mempertimbangkan
lebih banyak pengambilan angle kamera lewat bahu (poin of
view), dalam rangka melibatkan penonton pada subyek. Secara
berseling penonton harus dibawa kedalam gambar dan berdiri
bersama pemain dan memandang pemain lainnya, menyaksikan
dan action dari angel bagian dalam. Dengan demikian penonton
akan lebih siap menyatukan dirinya pada pemain dalam film dan
menjadi lebih terpikat pada pesan yang terkandung dalam film
yang ditontonnya.
Juru kamera film dokumenter lebih beruntung karena
boleh memiliki kebebasan dalam shoting atau pengambilan
gambar. Bahkan memperbolehkan subyek/pemeran menatap
langsung pada kamera. Subyek-subyek seperti seorang insinyur,
pedagang, atau pimpinan perusahaan dapat ditampilkan dalam
hubungan pemain-penonton dari mata-ke-mata sehingga
penyampaian pesan film menjadi lebih kuat.
Angel kamera yang paling sulit yaitu pengambilan pada suatu
seting/penataan yang subyektif dimana kamera harus
menggantikan tempat seorang pelaku yang harus berhubungan
dengan pelaku lainnya dalam gambar.
Penggunaan angle kamera yang dipikirkan dengan matang akan
menambah keragaman dan kesan pada penuturan cerita. Harus
dipilih angel kamera yang didisain untuk menangkap, menahan
dan menunjukkan jalan pada lanjutan interest penonton.
Berbagai jenis angel dan gerakan kamera dapat dipelajari lagi
pada Bab. V yaitu seperti ELS, LS, MS, Two Shoot, CU, Sum, Tilt,
dolly, dan sebagainya.
b. Kontinuiti.
Dalam pengambilan gambar/shoting harus
memperhatikan kontinuiti arah di sepanjang sequence yng
menggambarkan action yang bersinambungan, tanpa ada time
lapse. Gerakan, posisi dan arah pandangan harus klop pada sisi
shot yang akan bersinambung langsung. Semua pemain harus
disajikan dengan baik dalam shoot-shoot cut in ataupun cut away
dengan arah pandangan yang betul-betul klop. Poros action harus
digambarkan ulang pada setiap akhir segala macam shoot dimana
perubahan pemain dan kamera telah menyebabkan timbulnya
perubahan poros asli.
Hal penting yang perlu diingat bahwa gerakan atau pandangan
pemain harus sama pada setiap sisi dari shoot yang akan
bersambung klop. Oleh karena itu gerakan atau arah pandang
pada awal dan akhir setiap shoot harus dicatat, dan poros baru
digaris melalui pemain pada akhir shoot.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

399

Segala sesuatu dapat berubah ketika shot sedang berlangsung.


Padawaktu pemain action kamera boleh melakukan gerakan pan
atau dolly kesegala arah mengikuti gerakan pemain. Tidak boleh
ada perubahan antara shoot, yang akan disambung langsungkan
secara klop.
c. Penyambungan dengan transisi. Terdapat beberapa teknik
transisi sebagai penyambungan antara scene atau antar shoot
yaitu transisi pictorial dan transisi suara. Transisi piktorial yang
paling mudah adalah menggunakan title/caption yang
menerangkan tempat dan waktu setting atau penjelasan dari
scene atau shoot yang disajikan. Transisi ini untuk menjambatani
perpindahan shoot dengan tujuan untuk menghindari screen
direction yang tidak pas/klop. Transisi pictorial dilakukan dengan
cara optik yaitu mode Fade, Dissolve dan Wipe. Mode transisi
fade yaitu fade in dimana layar yang gelap lalu menjadi terang
secara perlahan-lahan. Fade out, layar yang terang kemudian
menjadi gelap perlahan-lahan. Fade in digunakan untuk
mengawali sebuah cerita atau sequence, sedangkan fade out
untuk
mengakhirinya.
Dissolve,
yaitu
membaurkan/
menumpangkan suatu scene pada scene lainnya. Atau fade in yang
disuperifuse pada fade out. Atau menghilangkan citra gambar
pada scene pertama dan memunculkan citra gambar scene kedua
secara perlahan dalam waktu yang bersamaan. Dissolve digunakan
untuk menanggulangi penghilangan waktu (time lapse) atau untuk
menghaluskan pergantian scene supaya tidak merasa mendadak
atau mengejutkan. Wipe merupakan efek optikal yang membuat
seolah-olah suatu scene didorong/dihapus oleh scene yang lain.
Gerakan penghapusan bermacam-macam yaitu horisontal,
vertikal, diagonal dan sebagainya.
Proses transisi dapat dilakukan dengan kamera yang harus
diseting sebelum kamera digunakan untuk merekam gambar.
d. Komposisi. Kerja kamera yang baik adalah mulai dari
komposisi. Juru kamera bertugas membuat komposisi
adegan/scene, menata aneka unsur gambar ( garis, ruang, bidang,
masa-masa dan gerakan) kedalam suatu gabungan yang serasi,
sebelum menata pencahayaan, gerakan kamera/pemeran,
breakdown sequence shoot demi shoot dan menetapkan angle
kamera yang dibutuhkan untuk shoting suatu action. Juru kamera
bisa memilih engle dengan sudut pandang kamera yang terbaik
sebagai konsekuensi penetapan komposisi yang terbaik/yang
paling cocok. Untuk penataan komposisi setiap shoot juru kamera
harus menjawab pertanyaan Apa yang bisa kulakukan agar
subyek ini menunjang penuturan cerita?. Action para pemain dan
setting selalu membutuhkan penataan komposisi. Seorang juru
kamera harus akrab dengan anekaragam karakteristik garis,
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

400

bentuk, masa-masa dan gerakan untuk mempertimbangkan secara


komposisional bingkai/frame bisa dibuat seimbang baik secara
formal maupun informal. Semua ini bertujuan untuk membuat
penonton film memberikan respon yang sesuai. Penonton dapat
dipengaruhi secara gambar maupun secara psikhologis. Oleh
karena itu didalam satu frame hanya ada satu pusat perhatian
yang diciptakan melalui penataan komposisi. Gunakan frame latar
depan untuk mendukung komposisi, tetapi jangan menyimpang
dari subyek utama yang harus menjadi pusat perhatian. Kaitkan
latar belakang dengan action subyek utama. Pertimbangkan mata
penonton yang mengamati dari shoot ke shoot. Kerjakan itu
semua untuk mendapatkan keanekaragaman visual dengan sering
merubah efek-efek komposisional. Hilangkan yang berlebihan,
Gunakan muslihat/trik-trik yang sesuai. Dan akhirnya buat yang
sederhana saja merupakan slogan kerja untuk komposisikomposisi yang menarik.
Disamping beberapa hal diatas tentunya masih terdapat
hal-hal yang perlu diperhatikan agar diperoleh kulitas gambar
yang maksimal dan menarik bagi penonton diantaranya
pencahayaan yang tepat. Pencahayaan juga dapat menciptakan
pusat perhatian dengan cara membuat subyek utama
mendapatkan cahaya yang paling terang. Pengaturan fokus sangat
menentukan kualitas gambar. Gambar yang paling jelas/fokus
menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu juru kamera harus
membidikkan kameranya selalu pada subyek utama pada setiap
framenya dan mengatur untuk mendapatkan focus yang paling
tepat.
2. Produksi Suara
Dalam film terdapat duatipe sistem suara yaitu secara
optis dan magnetis. Untuk produksi suara bagi film bisu (yang
diambil tanpa suara asli) dapat dilakukan rekaman suara
tersendiri. Baik suara narasi, ilustrasi musik maupun sound efek
direkam di studio rekaman audio. Selanjutnya hasil rekamannya
menjadi master audio yang nantinya sebagai panduan editing
filmnya (film on sound). Sedangkan film bersuara yang waktu
shotingnya sekaligus merekam suara aslinya, produksi suara
dilakukan untuk insert penjelasan dan ilustrasi musik serta sound
efek direkam tersendiri dan ditata pada track yang berbeda.
Setelah direkam menjadi master audio diserahkan kebagian
mixing untuk disatukan dengan menggunakan mesin prosesing
film.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

401

3. Film Procesing
Film yang telah digunakan untuk shoting dmasukkan ke
laboratorium film procesing untuk dilakukan proses cuci yaitu
pencelupan dengan bahan kimia dengan teknik dan waktu
tertentu untuk melarutkan bagian yang kena cahaya.

a. Roll Film

b. Film Copyer

c. Film Recorder
Gambar 123. mesin Reproduksi Film
4. Editing
Hanya editing yang baik yang dapat membuat film menjadi
hidup. Dari beraneka ragam shoot yang merupakan potonganpotongan film yang tidak karuan akan dirangkai menjadi sebuah
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

402

penuturan cerita. Editing memilih shoot-shoot yang bermakna


dan memotong serta membuang bagian-bagian shoot yang tidak
bermakna seperti shoot pendahuluan/start, bagian yang
overlaps, bagian yang tidak diperlukan dari action masuk, keluar,
scene-scene tambahan, pengulangan gaya, shot yang salah dan
sebagainya. Sedangkan yang tinggal yaitu shoot-shoot yang
bermakna harus dirangkai menjadi penuturan cerita yang
berkesinambungan dan menarik serta enak dinikmati penonton.
Aleh karena itu Editor melakukan perakitan dengan
memperhatikan hal-hal penting dalam editing yang baik seperti
screen direction, arah pandang dan posisi pemain serta pengklop-an antara action dan dialog yang terjadi pada shoot demi
shoot. Melakukan editing film cerita dengan naskah yang lengkap
lebih ringan dari editing film noncerita yang tanpa naskah,
karena editor dituntut untuk berimprofisasi secara kreatip untuk
meramu potongan-potongan film menjadi sajian yang menarik
dan bermakna.
Di dalam produksi film terdapat dua macam editing film yaitu
editing kontinuiti dan editing kompilasi serta gabungan
keduanya.
Editing kontinuiti adalah editing susunan adegan-adegan
sehingga klop menjadi penuturan cerita yang berurutan sesuai
dengan jalannya cerita yang tertulis pada naskah/scenario.
Dalam hal ini mengidentifikasi dan menghubungkan shoot yang
satu dengan shoot yang lain dalam suatu adegan /scene dan
menghubungkan scene dengan scene yang lain yang sesuai
sehingga membentuk sebuah sequence. Sering terjadi antara
shoot yang satu dengan shoot yang lain disipi shoot tertentu
untuk menciptakan suasana yang kondusif cerita. Demikian pula,
kadang-kadang
shoot
sisipan
tidak
secara
langsung
menghubungkan shoot yang satu dengan shoot yang lain meskipun
obyek shoting pada tempat/seting yang sama. Sisipan seperti ini
disebut dengan cut away. Editing kontinuiti harus memperhatikan
screen direction yaitu arah dari pandangan atau gerakan obyek
dari kiri kekanan atau dari kanan kekiri dari berbagai engle
pengambilan yang berbeda. Sambungan shoot yang arah
obyeknya dari kiri kekanan harus disambung shot yang arahnya
dari kiri kekanan juga agar tidak terjadi jumping/meloncat (jump
cut). Jamping juga akan terjadi pada penyambungan dari
pengambilan long shoot dengan close up dan sebagainya. Oleh
karena itu seorang editor dituntut untuk bekerja secara
teliti/cermat dan profesional sehingga penonton tidak
mengetahui dimana letak sambungan filmnya. Disinilah perlunya
cut away di antaranya untuk menutupi terjadinya jump cut yang
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

403

terpaksa dilakukan. Gambar cut away diarahkan juga untuk


mengalihkan perhatian penonton untuk menutupi perubahan arah
maupun jump cut.
Editing kompilasi. Adalah penyusunan gambar berdasarkan
editing script yang tidak terlalu terikat dengan kontnuitas
gambar yang didasarkan pada sreen direction (arah gerakan
gambar). Editing kompilasi biasa dipakai pada format program
dokumenter seperti survei, laporan, analisa, dokumentasi,
sejarah atau laporan perjalanan dan sebagainya. Hal ini karena
penyusunan shoot-shoot berdasarkan narasi yang telah dibuat.
Dengan demikian jalur suara akan merangkum penuturan dan
mendorong scene-scene bergerak, yang sebenarnya scene
tersebut kurang bermakna kalau ditonton tanpa ada penjelasan
dari narasinya. Editing kompilasi hanya memberikan sedikit
masalah-masalah peng-klop-an, karena shot-shot tunggal
mendapatkan ilustrasi apa yang terdengar dan tidak perlu adanya
keterkaitan secara visual satu sama lain. Dengan demikian narasi
/penjelasan dipakai sebagai pedoman dalam editing kompilasi.
Dalam
editing
kompilasi
harus
memperhatikan
/memperhitungkan corak gambar yang didasarkan pada
pemikiran yang ada pada treatment. Seting Lokasi dan
kontinuitas gambar sepenuhnya berdasar pada naskah yang telah
disusun setelah editing off line. Dengan demikian pelaksanaan
editing kompilasi lebih ringan dibanding editing kontinuiti, sebab
pada editing kompilasi penyusunan gambarnya sepenuhnya
berdasar pada kerangka pemikiran dan naskah yang sudah disusun
tanpa harus memperhatikan banyak faktor yang berkaitan dengan
screen direction.
Editing Kontinuiti dan Kompilasi. Pada editing film cerita boleh
menggunakan editing kontinuiti maupun kompilasi. Misalnya di
dalam film cerita yang mengandung kompilasi sebagai introduksi
atau untuk keperluan transisi boleh menggunakan narasi. Untuk
memberi ilustrasi narasi tersebut diperlukan scene-scene yang
sesuai tanpa harus terkait dengan shoot utamanya, sehingga
diperlukan editing kompilasi.
Film-film kompilasi juga diperbolehkan menggunakan editing
kontinuiti manakala squence dari sejumlah shoot digunakan
untuk menggambarkan suatu bagian dari cerita. Sejumlah shoot
yang tidak klop dapat disajikan dalam sebuah sequence yang
menuturkan sedikit kisah tentang materi itu sendiri yang
memerlukan peng-klop-an dari sequence yang berurutan. Editing
kontinuiti harus digunakan manakala beberapa shoot yang
berurutan memerlukan peng-klop-an action.
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

404

Cross-cutting editing. Cross-cutting merupakan editing pararel


dari dua atau lebih kejadian yang tempatnya berbeda-beda
dalam pola bolak-balik. Cross-cuting dapat digunakan untuk
kepentingan sebagai berikut.
Untuk Mempertinggi interest. Dengan mengambarkan secara
simultan sejumlah action kejadian yang sedang berlangsung dan
saling berhubungan dengan cara bolak-balik akan meningkatkan
interest penonton.
Untuk memberikan konflik. Dengan editing dua action yang
bersamaan dapat menghasilkan klimaks yang baik. Misalnya pada
film perang sebelum pasukan bertempur didahului dengan kedua
pasukan saling berlari menuju pertempuran. Ditampilkan shoot
kedua pasukan secara bergantian dan bertahap makin dekat
makin cepat dan akhirnya berhadapan dan bertempur.
Untuk meningkatkan ketegangan. Dengan menyambung dua
kejadian yang memiliki kaitan langsung secara bergantian akan
meningkatkan ketegangan penonton.
Untuk mempertinggi suspense. Dengan menahan penonton
dalam keadaan cemas menyaksikan kejadian bergerak menuju
klimaks. Misalnya seorang polisi sedang menyelidiki bom waktu
disebuah gedung, ditampilkan secara bolak-balik antara polisi
dengan bom yang waktunya berdetak terus menuju angka nol
yang terletak di kamar mandi.
Untuk membuat perbandingan. Perbandingan antara orang yang
sedang bersaing/berkompetisi dapat ditampilkan secara
bergantian bolak-balik memperlihatkan kemajuan masing-masing.
Menggambarkan kontras antara orang, obyek, kejadian,
kebudayaan, hasil produksi, metode dan sebagainya. Kontras
dapat diperlihatkan antara metode lama dan baru, pengerjaan
secara manual dengan otomatis, kehidupan di kutub dan di
daerah tropis dan sebagainya.
Proses editing dilakukan setelah film hasil shoting
diproses di laboratorium seperti halnya foto slide. Dan hasilnya
adalah film positip yang gambarnya natural tercetak pada film.
Untuk melihat hasil shoting digunakan proyektor atau dengan
penyinaran dari bawah sehingga gambar-gambar terlihat dengan
jelas atau dengan mesin modern yang sudah di modifikasi
sehingga gambar tampilannya terlihat pada layar monitor. Pada
waktu melihat hasil shoting berarti sekaligus melakukan
pemilihan/mengidentifikasi dan memberi tanda/logging dan
pemotongan serta mengumpulkan mulai shoot pertama sampai
shoot terakhir berdasarkan catatan shoting yang dibuat pada
waktu shoting berlangsung. Setelah itu dilakukan editing off line
untuk mengetahui apakah ada shoot yang kurang, apakah ada
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

405

penambahan atau penggantian gambar serta apakah ada shoot


sisipan yang perlu dan sebagainya. Langkah editing off line ini
dilakukan oleh produser dan sutradara. Setelah itu berdasarkan
hasil editing off line dibuat naskah editing (script editing).
Selanjutnya diserahkan kepada editor untuk dilakukan editing on
line. Sesuai editing script narator melakukan editing kompilasi
maupun kontinuiti sesuai arahan sutradara/ producer. Editing
dilakukan dengan pemotongan dan penyambungan film secara
berurutan dari shoot yang satu ke shoot yang lain sesuai dengan
naskah editing dan catatan-catatan pada logging. Setelah
tersusun sesuai dengan naskah editing serta sisipan dan
tambahan shoot sudah dimasukkan maka editing on line dapat
dikatakan selesai. Langkah selanjutnya adalah preview gambar
apakah ada kekurangan atau tidak. Bila telah memuaskan editing
gambar ini sudah selesai.

Gambar 124. Potongan film yang dibesarkan. Perhatikan jalur


soundnya. Sistem optis (gelap terang pada film)
5. Mixing / Penggabungan gambar dan suara
Penggabungan suara dengan gambar visual pada editing
film lebih sulit dibandingkan pada editing video yang
menggunakan bahan pita magnetis, karena film setelah diproses
tidak bisa dihapus/ditumpangi dengan rekaman baru seperti pada
pita magnetis.
Penyuntingan/editing scene-scene bersuara pada film harus
sinchron secara klop. Hal ini lebih sulit dibandingkan
penyuntingan scene-scene film tidak bersuara/bisu. Pada film
bisu/silent action dalam scene-scene hanya perlu diklopkan
susunannya. Shoot-shoot bisa dialihkan, sequencenya bisa
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

406

diringkas atau diperpanjang, reaksi-reaksi bisa disisipkan. Film


bisu yang diberi suara narasi dan ilustrasi musik dan sound efek
penyuntingannya lebih mudah dari film bersuara dialog yang lipsinchron (gambar gerakan bibir sinchron dengan suara dialog),
dimana dialog menuturkan cerita harus disunting terhadap jalur
suara. Perekaman suara dikaitkan dengan gambar visual, oleh
karena itu editor tidak boleh memanipulasi citra-citra visualnya
berarti gambar visualnya harus asli tidak boleh diganti dengan
gambar lain. Dengan demikian editor dalam penyuntingan suarasynchron harus menerima apapun yang ada dari bagian jalur
suara yang sedang digarap. Pada penyambungan klop scene-scene
berdialog, action dan gerakan pemain harus tersambung langsung
secara klop dan tepat. Editor harus memotong sesuai dengan
jalur suara apa adanya. Oleh karena itu Kontinuiti audio visual
harus dijaga secara ketat pada waktu proses pembuatan agar
dialog dan action bisa klop dalam penyambungan langsung.
Suara dan gambar agar tidak disunting secara pararel, karena
unsur audio dan visual mulai dan berakhir bersama pada tiap-tiap
shoot. Suara harus mengalun mengalir terus melintasi scenescene agar lebih efektip.
Setelah gambar dengan suara asli ditambah dengan suara musik
ilustrsi maupun sound efek selesai dipadukan secara klop dan
synchron, maka perlu diriview untuk mengetahui apakah hasil
editing sudah layak atau belum. Bila dinyatakan belum maka
perlu diselaraskan kembali dan bila telah layak, maka tugas
editing telah selesai dan bisa dikirim kebagian penggandaan film.
Saat ini penggandaan film telah dapat dilakukan dengan mesin
yang dapat mengkopi ribuan gambar perdetiknya. Demikian pula
untuk keperluan mixingnya.

Gambar.125. Roll film


Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

407

Gambar 126.

Proyektor film di ruang gelap

Sebagai contoh bagaimana melakukan produksi film,


berikut ini merupakan kutipan bagaimana produksi film sebagai
berikut:
1. Terjemahan Bebas dari Examining Film Scoring Techniques in
Films that Alters Time, Space, and Death, oleh Matthew F.
Skelton (dikutip dari situs web Film Score Monthly)
Dulu, pita film belum menyimpan audiotrack/soundtrack
sehingga film di masa itu disebut film bisu (silent movie). Musik
film pada awalnya bukan hanya karena tuntutan artistik, tapi
juga karena suara proyektor yang berisik, jadi buat nutupin
suara proyektor. Tapi kemudian musik film untuk film bisu
mulai diperlukan untuk menciptakan mood dan suasana. Musik
film awalnya dimainkan oleh pianis, kemudian oleh live
orchestra. Berkat perkembangan teknologi, akhirnya suara
dapat direkam ke pita film. Sejak tahun 1929, telah muncul
standar untuk sound movie. Musik film mulai digunakan:
a. untuk menciptakan suasana dan latar belakang (latar
belakang tempat dan waktu) yang lebih meyakinkan.
b. untuk memberi penekanan pada unsur-unsur psikologi di
film, misalnya menggambarkan apa yang ada di benak
seseorang, atau implikasi dari suatu situasi (contohnya
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

408

terjadinya pembunuhan yang tidak sengaja yang bisa


berimplikasi buruk bagi karakter pelakunya).
c. sebagai latar belakang pengisi
d. untuk menciptakan kesan kesinambungan
e. mem-build-up suatu adegan dan memberikan konklusinya.
Setelah bertahun-tahun, saat ini pembuatan musik film
(composing original music for film) sudah terstandardisasi.
a. Dalam pembuatan musik film, composer bertemu dan
berkomunikasi dengan pembuat film, membaca script, dan
melihat film itu sendiri (yang masih akan di-edit).
b. Berikutnya adalah spotting, yaitu menentukan adegan mana
yang akan diiringi musik. Kemudian composer mulai
membuat konsep score-nya. Proses ini sangat penting,
composer membuat unsur-unsur dasar score-nya (score
concept). Konsep score sering kali mengikuti karakterkarakter dalam film, atau tema sentral dari film,
menggunakan blok komposisi leitmotif dimana tema yang
muncul berkali-kali merujuk kepada karakter tertentu,
atribut, atau ide tertentu. Bagaimana pun materi atau
metode yang digunakan, suatu model konseptual
menciptakan asosiasi antara karakter-karakter dengan musik
dan menjadi panduan composer untuk menentukan gaya
musik yang tepat untuk film.
c. Setelah menentukan adegan mana yang akan diiringi musik
dan konsep score-nya, dilakukan timing/sinkronisasi yang
lebih tepat yang akan menjadi panduan bagi composer
dalam penulisan musiknya itu sendiri (composing). Teknik
konvensional yang sering digunakan adalah menggunakan
pengulangan tema atau variasi tema. Highlighting adalah
salah satu teknik scoring lainnya, musiknya naik turun secara
dramatis mengikuti adegan-adegan film. Salah satu teknik
lainnya red herrings (pengalihan/umpan), musik mem-buildup suasana sampai terjadi sesuatu atau tidak terjadi sesuatu
(teknik
yang
sering
digunakan
dalam
film-film
horor/suspense).
d. Setelah musiknya ditulis (hasilnya bervariatif dari yang
sangat lengkap sampai ke baru berupa musik sketches),
mulailah dilakukan orchestrating. Orkestrator (bisa jadi
composer-nya sendiri bertindak sebagai orkestrator)
mempersiapkan musik yang sudah digubah untuk dimainkan
oleh suatu orkestra. Di saat inilah pertama kali musik film
tersebut akan terdengar.
e. Jika segala perubahan sudah dilakukan, maka rekaman versi
final akan digunakan untuk disatukan dengan film (dubbing).
Satuan terkecil dalam musik film disebut cue. Sebuah
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

409

cue durasinya bisa panjang bisa pendek, tergantung dari


adegan film. Setiap cue dalam film punya maksud tersendiri
yang ditentukan oleh antara lain: composer, sutradara, editor,
music editor, dan lain-lainnya. Orang-orang ini juga
menentukan adegan apa perlu musik apa, kapan masuknya,
kapan hilangnya, dan sebagainya.
Superman, trilogi Star Wars, trilogi Indiana Jones,
E.T.: The Extra-Terrestrial, dan sebagainya. Score untuk
Superman bahkan menjadi acuan untuk setiap score dari film
yang mengadaptasi komik sampai kemudian muncul Batmannya Danny Elfman yang bergaya Bernard Hermann.
Sutradara adalah orang yang paling bertanggung jawab
untuk semua urusan pembuatan film. Sutradara dan composer
kadang-kadang menjadi pasangan seperti Alfred HitchcockBernard Hermann (North By Northwest, Vertigo, Psycho, dan
lain-lain), Steven Spielberg-John Williams (Schindlers List,
Jurrasic Park, ET, Jaws, dan lain-lain), Tim Burton-Danny
Elfman (Pee Wees Big Adventure, Beetlejuice, Edward
Scissorhands, Sleepy Hollow, dan lain-lain), dan Robert
Zemeckis-Alan Silvestri (Forrest Gump, Contact, Death
Becomes Her, Back To The Future, dan lain-lain). Hubungan
mereka terbentuk karena antara lain kepuasan terhadap hasil
kerja satu sama lain, kesamaan kreativitas, dan sebagainya.
Editor (bekerja sama dengan sutradara) adalah orang
yang menentukan gambar mana dari sekian banyak yang dishoot yang akan dipilih. Composer harus bekerja sama dengan
editor untuk dapat menciptakan cue yang tepat untuk gambargambar yang dipilih.
Posisi lain yang juga penting adalah orkestrator.
Orkestrator adalah yang menerjemahkan musik dari composer
untuk dimainkan oleh orkestra. Kadang-kadang orkestrator
dapat memberikan pendapat kreatifnya namun hal itu
tergantung kepada composer-nya, demikian pula dengan
conductor.
Sering kali terjadi sebelum composer membuat konsep score,
sutradara sudah memiliki ide mengenai gaya musik dari
filmnya. Ketika berkomunikasi dengan composer, sutradara
akan mengacu kepada gaya musik yang sudah dan gaya musik
tersebut disebut role model. Role model dapar berupa bagian
score film atau cue, gaya musik sebuah film, sepotong musik
klasik, sebuah lagu, dan lain-lain. Terkadang role model sudah
dipasangkan dengan filmnya. Musik itu disebut temp track.
Bagi composer, kemungkinan paling buruk yang dapat terjadi
adalah temp track menjadi musik final bagi film. Contohnya
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

410

adalah Blue Danube karya Johann Strauss dan Also Sprach


Zarathustra dari Richard Strauss yang menjadi musik film dari
Stanley Kubrick 2001: A Space Odyssey. Composer film
tersebut telah menyiapkan score-nya namun kemudian temp
track menjadi musik final. Namun demikian hal ini sangat
jarang terjadi.
Music editor sering kali berhubungan dengan musik
yang tidak ditulis oleh composer seperti musik dari radio atau
jukebox atau adegan live music. Musik ini disebut source
music. Interaksi antara source music dengan score yang dapat
terjadi antara lain:
a. source music berfungsi sebagai score
b. source music berganti menjadi score
c. source music cross-fading menjadi score
d. source music dan score digunakan bersama.
Berurusan dengan source music merupakan tantangan
tersendiri bagi composer. Adegan yang berisi source music
harus ditangani dengan hati-hati, terutama jika composer
diminta untuk menciptakan score yang berinteraksi seperti
tersebut di atas. Perubahannya harus lancar dan tidak terasa
oleh penonton; jangan sampai penonton merasa terganggu
dengan perpindahan antara keduanya.
Saat ini kadang-kadang terjadi producer atau
sutradara atau music supervisor memasukkan banyak lagu ke
dalam film dengan harapan lagu-lagu tersebut akan
meningkatkan daya jual film. Banyaknya lagu yang masuk
dapat membuat pekerjaan composer semakin sulit karena
score harus sesuai dengan lagu-lagu tersebut. Kadang-kadang
lagu-lagu yang diinginkan untuk masuk di film akhirnya tidak
masuk ke film dan sering kali lagu-lagu ini dimasukkan ke
dalam album soundtrack dengan judul music from and
inspired by.

Gambar 127.
Sri Sartono

Jalur audio sistem magnetis 2 track

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

411

Gambar 128. Potongan film yang dibesarkan

Gambar 129. Pemotongan film

Gambar 130. Potongan film. Perhatikan perbedaan setiap gambar


24 gambar perdetiknya dalam 1 frame.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

412

2. Membuat Film
(Disarikan dari Kompas, jumat, 11 Oktober 2002 & 18 Juni
2004 oleh Yunus/Andra/Muti Siahaan/Candra)
a. Awalnya nonton
Untuk bisa membuat film yang baik, perlu banyak
mengapresiasi karya orang lain. Salah satu cara yang paling
gampang adalah dengan banyak menonton film. Kesenangan
Atrida pada Discovery Channel membuatnya terilhami
menghasilkan film pendek yang kental dengan nuansa
alamnya. Dalam Broke Wing Bird terlihat bagaimana kamera
banyak mengambil suasana alam kota Yogyakarta. Kami
sepakat waktu membuat film ini tidak mau banyak
mengambil gambar gedung-gedung. Cerita siswa kelas 1
SMUN 2 Yogyakarta ini. Selain itu Atrida senang menonton
film-film asal Cina, Jepang dan korea. Wah.. terpengaruh
dengan sinetron Asia?
Ternyata malah tidak suka. Nonton pun sekali-sekali
saja. Katanya. Atrida paling suka film layar lebar yang
banyak menampilkan pemandangan alam yang indah. Film
mereka bagus-bagus. Dari segi cerita juga variatif. Beda
dengan cerita Hollywood yang banyak intrik dari cinta
semata. seru penggemar film Mare dari Korea dan
Tiramisu dari Cina.
Kecintaan pada film horor juga yang membuat Billy
terinspirasi membuat film pendek bertema horor. Bayangkan
sudah tiga film pendek yang dihasilkannya bertema horor,
yaitu Killer Potrait dan 7, 6, 5. Film Potrait berhasil meraih
penghargaan di FFVII tahun 2000. saya memang suka film
horor, cerita Billy, yang suka menonton film horor. Film
horor itu sangat gampang membawa emosi penonton,
cetusnya. Tapi Billy tidak mau hanya berhenti pada satu
genre. Untuk tahun ini, ia mencoba genre baru. Film
pendeknya yang berjudul Sebuah Kisah, genrenya drama. Dan
ini sebuah langkah baru buat Billy yang kini duduk tingkat
satu IKJ. saya tertantang untuk membuat cerita drama yang
tidak kayak sinetron. Baik dari segi dialog, angle, maupun
cerita. Ceritanya harus tetap menarik tapi bisa membawa
emosi penonton.
Dennis juga mengawali dari nonton film. Film
pertama kali yang saya tonton adalah Never Ending story
waktu umur tiga tahun di bioskop diajak orang tua.
Kenangnya. Sejak saat itu keinginannya menonton film tidak
bisa dibendung. Kebetulan keluarganya pun pencinta film,
jadi mudah saja menikmati berbagai jenis genre film untuk
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

413

mengasah apresiasinya. Hingga saat ini Dennis punya koleksi


DVD sekitar 600-an dan koleksi LD sekitar 1000. Bersama
ayahnya Dennis sering menyerbu rental yang sudah mau
tutup. Waktu tahun 2000 di Pos Kota banyak berita rental
yang mau tutup. Pernah saya memborong hingga 250 keping
LD. ceritanya seru.
Bentuk apresiasi tidak hanya menonton film. Ada cara
lain, di antaranya banyak membaca buku. Dennis
menyarankan membaca buku tentang penyutradaraan,
penulisan skrip, maupun biografi pembuat film. Ada
beberapa buku yang direkomendasikan oleh M. Abduh, antara
lain Rebel Without Crew nya Robert Rodriguez, Directing:
Shot By Shot karangan Steven D Katz.
b. Banyak mencoba
Banyak berapresiasi terhadap karya orang membuat
kita tergerak untuk membuat karya. Tentunya dengan
semangat membuat karya yang tidak kalah bagus dengan
film-film yang pernah ditonton. Setelah banyak nonton,
Ronald tergerak untuk membuat film. Penasaran saja.
Melihat film lalu baca-baca artikel soal film, kok sepertinya
asyik. Cetus Ronald.
Dari penasaran, muncul ide yang kadang datangnya
tidak diduga. Kamera bisa jadi alat bantu mengembangkan
gagasan-gagasan .Aku sejak kecil senang main-main dengan
handycam. Kalau liburan sepanjang perjalanan aku merekan
gambar-gambar pemandangan atau keluarga, cerita Atrida.
Dennis pun tergerak membuat film sejak SMP. Waktu itu
modalnya hanya handycam dan pemainnya para tetangga.
Dennis juga sering menjahili orang dengan cara membuat
hidden camera.
Billy mulai tergerak membuat film saat kelas satu
SMU. Waktu itu dia melihat ada tawaran mengikuti workshop
membuat film yang diadakan oleh Pop Corner. Nah sejak
mengetahui teknik membuat film, Billy jadi ketagihan
membuat
film.
Dan
untuk
makin
meningkatkan
kemampuannya, ia sampai ikut dua kali workshop tersebut.
Sekarangpun cara menonton film saya berbeda dengan dulu.
Dulu ya Cuma nonton. Kalau sekarang saya jadi
memperhatikan sudut pengambilan gambar dan gaya
bercerita sang sutradara. Papar Billy yang suka film Dancer
in The Dark ini. Setelah mengikuti workshop, Billy tergerak
untuk membuat ekstra kurikuler (ekskul) sinematografi di
sekolahnya, SMU 34. Awalnya ditolak mentah-mentah tapi
setelah film potrait-nya menang, baru ekskul ini mendapat
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

414

ijin untuk berdiri. Hingga sekarang masih ada walaupun Billy


sudah jadi alumni. Saya tetap rajin datang kalau hari
ekskul. Ya saya hanya
ingin memberitahu saja kalau
membuat film itu gampang. Ungkapnya.
Bagaimana dengan yang lain? Dennis kini sedang
mempersiapkan sebuah film panjang yang judulnya masih
rahasia. Afrida kini punya proyek untuk membuat film
tentang profil sekolahnya, SMU 2 Yogyakarta. Ceritanya
sekolahnya ada pameran dan Atrida mengusulkan untuk
membuat film soal isi sekolah, Aku mau mengambil gambar
soal isi gedung sekolah, ekskulnya hingga wawancara murid
dan gurunya. Nanti kalau sudah jadi akan diputar di acara
pameran sekolah. Ungkap Atrida.
c. Harus serakah
Hanya mengandalkan kemampuan diri, tidak belajar
dari orang lain, namanya hanya modal dengkul. Dan itu
belum cukup. Untuk bisa punya kemampuan ekspresi yang
bagus
dan
positif,
maka
perlu
banyak
belajar
mengapresiasikan karya orang lain. Dan untuk itu, perlu
serakah. Kok serakah?
Kareka selain film, masih banyak bentu-bentuk lain
yang bisa di apresiasi. Mendengarkan musik, membaca buku,
menonton pertunjukan teater, menulis dan masih banyak lagi
bentuk-bentuk lain yang bisa meningkatkan kemampuan
berekspresi. Semua itu bisa menggugah gagasan-gagasan dan
imajinasi. Banyak melihat, mendengar, mengamati karya
orang lain, membuat ingin selalu belajar. Dan biasanya,
makin sering mengapresiasikan karya orang lain, akan
cenderung tergerak membuat karya, punya keberanian
mengekspresikan gagasan. Itulah sebabnya, orang-orang
seperti ini selalu terlihat menyenangkan dan asyik.
d. Menyusun Skenario
Banyak film Indonesia yang beredar, sayang tidak
semuanya bagus. Salah satu kelemahan film Indonesia adalah
skenarionya.
Selesai menonton sebuah film kadang-kadang
bukannya senang, tetapi malah jadi bete. Soalnya, tidak
semua film yang ditawarkan itu menarik. Malah ada beberapa
film yang ceritanya tidak jelas. Padahal waktu membaca
sinopsisnya terdengar menarik. Dan kalau dilihat dari
bintangnya ataupun sutradaranya cukup menjanjikan.
Cukup banyak film yang punya sutradara maupun
pemain hebat, tapi karena tidak didukung oleh skenario yang
Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

415

menarik, jadinya melempem. Dan ini tidak hanya terjadi


pada film Indonesia kok. Film made in Hollywood banyak juga
yang jelek ceritanya. Pernah menonton film The Mexican?
Film ini punya dua bintang besar, Bred Pitt dan Julia Robert.
Siapa yang tidak kenal dengan mereka? Tapi ketika keduanya
dipertemukan dalam film, hasilnya biasa saja. Tidak
sebanding dengan kebesaran nama mereka.
Ada juga film Proof of Life yang dimainkan oleh Russel
Crow, jagoan Oscar, dan Meg Ryan. Film ini termasuk film
yang jelek dipasaran. Alasannya? Skenarionya tidak bagus.
Mengapa skenario itu jadi penting? Menurut Jujur
Prananto, skenario itu nyawa atau blue print dari sebuah
film. Memang semua aspek lain dalam film ikut
berpengaruh. Tetapi setelah gagasan, skenario memang jadi
unsur penting dalam sebuah film. Ungkap penulis skenario
Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?) ini.
Skenario yang bagus itu skenario yang bisa
memberikan gambaran dengan jelas pada orang yang
membaca, seperti apa jalan cerita filmnya.
Sebelum membuat skenario, yang paling utama
harus ada ide dulu. Kalau tidak ada ide atau gagasan, ya
tidak ada yang bisa dibuat. Ide itu bisa didapat dari manamana. Paling enak dicari ide yang dekat dengan kehidupan
remaja. Banyak membaca dan menonton akan membantu
dalam menemukan ide yang segar dan unik.
Jangan sekali-kali menulis cerita yang tidak
dikuasai. Kalau tidak menguasai, maka sebelum menulis
harus observasi dulu. Boleh mencari teman yang pernah
mengalami atau mencari referensi. Entah dari buku,
internet, atau wawancara orang. Sebab kalau menulis apa
yang tidak dikuasai, nanti ceritanya akan terlihat tidak
akurat. Wah, bisa dicela habis-habisan.
Bisa juga sejak awal mencari ide sudah membuat tim.
Masing-masing orang menyerahkan ide. Nanti diambil yang
paling menarik. Atau bisa juga dari berbagai ide yang muncul
digabung jadi sebuah cerita baru.
Sambil menggodok ide, dilanjutkan dengan menggodok
skenarionya. Dari pengalaman film-film yang sukses, skenario
yang dikerjakan bersama dengan sebuah tim akan
menghasilkan film yang baik. Tapi ini bukan jaminan juga.
Ada juga penulis skenario yang sangat berpengalaman, bisa
membuat skenario sendiri. Dengan adanya tim akan
membantu kemana jalan cerita mengalir. Dan biasanya
didiskusikan bersama produser dan sutradara. Jadi, dari awal

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

416

sudah mengetahui ceritanya mau kemana. Ujar Tisa TS,


penulis skenario Di Sini Ada Setan dan The Movie.
Dari berkumpul bersama akan dapat saling memberi
masukan. Entah itu soal ide, pengembangan tokoh, maupun
dialog yang dipakai. Saat membuat skenario AADC?, Juga
dibantu oleh tim yang menyumbang macam-macam untuk
skenarionya. Ada yang menyumbang gagasan, gaya bercerita,
dan gaya bahasa yang dipakai. Maklum dan Jujur saja kan
sudah bukan remaja lagi, tapi dia bercerita untuk remaja.
Jadi perlu penyesuaian dialog juga.
Selain ide skenario yang menarik itu punya beberapa
kejutan atau tidak mudah ditebak jalan ceritanya. Jadi perlu
juga mengetahui rahasia membuat kejutan. Cara membuat
kejutan juga dipengaruhi oleh dimana meletakkan kejutan
itu. Apa ditengah cerita, atau diakhir cerita.
Jujur punya tips untuk itu. Pertama buat dahulu
naskah yang panjang dari awal hingga akhir. Baca ulang perscene-nya. Dengan memindah-mindahkan saja scene yang
sudah dibuat. Misalnya scene 1 dipindah ke belakang jadi
scene terakhir. Atau scene 10 kita pindah ke depan jadi awal
cerita dan seterusnya.. Bayangkan saja sedang menyusun
puzzel, butuh bongkar pasang jugakan?
Terakhir, terus berlatih dan banyak-banyaklah nonton
film. Dengan menonton berbagai film Wawasan akan semakin
bertambah. Dan bila menemukan sebuah film bagus, jangan
hanya ditonton satu kali. Tonton dua atau tiga kali. Asyiknya
setelah menonton lihatlah riview dari beberapa pengamat
film untuk mengetahui lebih banyak lagi keunggulan film itu.
Mau lebih top lagi? Tonton film yang skripnya sudah dipunyai,
bandingkan antara skrip dan hasil filmnya. Dari situ akan
membuat punya gambaran lebih jelas soal membuat film,
khususnya membuat skrip atau skenario.
e. Proposal Film Dokumenter
Judul Film dokumenter :
Diajukan oleh:
Isi proposal ;
Gagasan apa yang ingin diceritakan melalui film dokumenter ini?
Sinopsis cerita/situasi film dokumenter yang diusulkan?
Karakter utama
Daftar ringkas sekuen-sekuen utama untuk film dokumenter
Lokasi pengambilan gambar :

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

417

BAB VII
KESEHATAN, KESELAMATAN, DAN KEAMANAN KERJA
A. Pendahuluan
Kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja penting untuk
dibicarakan pada teknik penyiaran radio dan televisi, yang
menyangkut para manajemen dan para karyawan. Manajemen dan
para perkerja pada hakekatnya ingin usahanya tetap berjalan dan
lebih maju. Kita dapat membayangkan bila para karyawan bekerja
dihantui oleh rasa tidak sehat hal ini akan mengganggu hasil kerja.
Begitu pula apabila saat-saat sedang kerja para karyawan dihantuai
rasa tidak nyaman dalam bekerja, maka hasil kerja akan tidak
optimal. Lagi pula apa bila para karyawan sedang bekerja tidak
merasa dijamin keamanan kerja, maka hal ini juga akan mengganggu
kerja. Jadi antara kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja
mutlak diperlukan agar para pemilik perusahaan, manajer, dan para
karyawan dapat bekerja secara kontinyu dan optimal dengan
sendirinya hasil produktivitas penyiaran dapat optimal.
Mata pelajaran ini akan mengantarkan para siswa agar bila
kelak bekerja dapat memahami tentang kesehatan, keselamatan dan
keamanan kerja. Hal ini dengan maksud para karyawan dapat merasa
terlindungi hak-haknya. Begetu pula hasil produksi penyiaran dapat
mencapai target produksi.
B. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Mengapa Keselamatan dan Kesehatan Kerja Penting
Keselamatan dan pencegahan kecelakaan kerja mendapat
perhatian besar oleh para manajer karena beberapa alasan, salah
satunya adalah bahwa angka kecelakaan yang berhubungan
dengan kerja cukup tinggi. Begitu pula pengaruh kesehatan
akibat kerja juga cukup tinggi, diantaranya adalah para pekerja
yang berhubungan dengan frekuensi tinggi. Contoh para pekerja
di studio radio dan televisi yang menimbulkan polusi medan
elektromagnetik, akibat terkena polusi radiasi elektromagnetik
tiap hari, maka para pekerja akan merasakan dampak kesehatan
pada hari kemudian.
2. Fakta-Fakta Dasar tentang Undang-undang Keselamatan Kerja
Occupational Savety Health Act (Kesehatan dan
keselamatan Kerja) Undang-undang yang diluncurkan oleh
Congres Amerika pada tahun 1970 untuk memastikan sejauh
mungkin bahwa setiap pria dan wanita yang bekerja di AS aman
dalam kondisi kerja yang sehat serta melindungi sumber daya
manusia.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

418

Occupational Savety Health Administration


(OSHA)
perwakilan yang diciptakan dalam Departemen Tenaga Kerja
untuk menetapkan standar keamana dan kesehatan kerja bagi
hampir semua karyawan di AS.
OSHA beroperasi berdasarkan standar umum bahwa
setiap majikan akan menyediakan bagi masing-masing
karyawannya pekerjaan dan sutau tempat kerja yang bebas dari
bahaya yang diketahui yang menyebabkan atau kemungkinan
menyebabkan kematian atau kerusakan fisik yang serius bagi
karyawannya.
3. Keselamatan dan Kersehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja menunjuk kepada
kondisi-kondisi fisiologisfisikal dan psikologis tenaga kerja yang
diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh
perusahaan.
Kondisi fisiologis-fisikal meliputi penyakit-penyakit dan
kecelakaan kerja seperti kehilangan nyawa atau anggota badan,
cidera, sakit punggung, sindrom carpal tunnel penyakit-penyakit
kardiovaskular, kanker dan leukimia, dsb.
Kondisi-kondisi psikologis diakibatkan oleh stres pekerjaan
dan kehidupan kerja yang
berkualitas rendah
4. Tujuan dan Pentingnya Keselamata dan Kesehatan Kerja
Stres adalah racun yang paling mudah menyebar dan
berbahaya di tempat kerja (Leon J Warshaw). Jajak pendapat
tahun 1990 menemukan bahwa 25 persen dari pekerja yang
disurvey di New Jersey menderita penyakit-penyakit yang
disebabkan oleh stress. Kekhawatiran muncul terhadap kondisikondisi fisik yang berkaitan dengan akibat-akibat yang tak
tampak oleh mata. Seperti yang terjadi di tempat kerja terminal
computer
(misalnya kelelahan mata, keguguran, dan
penyakit trauma kumulatif , dan banguan kantor yang tetutup,
unsur-unsur kimia yang bersumber dari karpet dan bahan
bangunan disebabkan melalui sistem ventilasi, radiasi medan
elektromagnetik).
5. Manfaat lingkungan kerja yang aman dan sehat
Jika perusahaan dapat menurunkan tingkat dan beratnya
kecelakaan-kecelakaan kerja, penyakit dan hal-hal yang
berkaitan dengan stress, serta mampu meningkatkan kualitas
kehidupan kerja para pekerjanya, perusahaan akan semakin
efektif. Peningkatan peningkatan ini akan menghasilkan :

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

419

a. Meningkatkan hasil produksi, karena menurunnya hari kerja


yang hilang.
b. Meningkatkan efisiensi dan kualitas pekerja.
c. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.
d. Tingkat kompensasi kerja dan pemabayaran langsung yang
lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim.
e. Fleksibelitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai
akibat dan meningkatnya partisipasi dan rasa kepemilikan.
6. Kerugian lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak sehat
Kerugian-kerugian karena kematian dan kecelakaan di
tempat kerja diperkirakan lebih dari $ 50 milyard. Kerugian yang
sama diperkirakan dialami oleh dari 100.000 pekerja yang setiap
tahun menderita penyakit-penyakit yang berkaitan dengan
pekerjaan. Kerugian-kerugian tersebut akan menyebabkan
produktifitas menurun, meningkatnya biaya-biaya asuransi yang
besar, rumah sakit, keperluan medis lainnya.
7. Gangguan terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Seperti telah telah dibahas di depan bahwa aspek fisik
maupun sosio-psikologi lingkungan pekerjaan membawa dampak
kepada keselamatan dan kesehatan kerja. Dewasa ini upayaupaya untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja
tidaklah lengkap tanpa suatu
strategi untuk mengurangi
stress psikologis yang berhubungan dengan pekerjaan.
8. Kecelakaan-kecelakaan kerja
Organisasi-organisasi tertentu dan departemen tertentu
dalam organisasi, cenderng mempunyai tingkat kecelakaan kerja
yang lebih tinggi dari pada yang lainnya. Beberapa karakteristik
dapat dijelaskan perbedaan tersebut :
a. Kualitas organisasi, tingkat kecelakaan kerja berbeda secara
subtansial menurut jenis industri. Pada umumnya, kodisi
kerja di tempat terbuka atau di dalam gedung dan peralatan
serta teknologi yang tersedia untuk melakukan pekerjaan
(misalnya mesin-mesin berat, atau computer pribadi atau
lingkungan
terdapat
polusi
udara,
poluisi
medan
elektromagnetik mempunyai dampak yang paling besar
terhadap kecelakaan-kecelakaan kerja.
b. Pekerja yang mudah celaka, sebagian ahli menunjuk pekerja
sebagai penyebab utama terjadinya kecelakaan. Kecelakaan
tergantung pada perilaku, tingkat bahaya dalam lingkungan
pekerjaan, dan semata-mata nasib sial.
Banyak kondisi psikologis, dapat berkaitan dengan
kecenderungan mengalami kecelakaan, misalnya kebencian

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

420

dan ketidakmatangan emosional. Kondisi-kondisi ini tidak


selalu ada dalam diri para pekerja, sulitlah menyeleksi dan
menjaring para pelamar pekerjaan sebelum bekerja.
c. Pekerja berperangai sadis, kekerasan di tempat pekerjaan
meningkat dengan pesat, dan perusahaan dianggap
bertanggung jawab. Pembunuhan adalah penyebab kematian
terbesar di tempat pekerjaan saat ini.
9. Penyakit-penyakit yang diakibatkan pekerjaan
Secara sistematis telah teridentifikasi bahwa penyebab
penyakit-penyakit berbahaya berikut adalah : arsenik, asbes
bensin, biklorometil-eter, debu batu bara, asap tungku batu
arang, debu kapas, timah, radiasi dan vinil klorida.
a. Kategori penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan
Dalam jangka panjang, bahaya-bahaya lingkungan kerja
dikaitkan dengan kanker kelenjar tiroid, hati, paru-paru,
otak, dan ginjal, leukemia, bronchitis, lymphoma, anemia
aplastik, kerusakan sistem syaraf pusat, dan kelainan
reproduksi misal kemandulan kerusakan genetic, keguguran
dan cacat pada waktu lahir. Berkenaan dengan timbulnya
penyakit akibat kerja maka OSHA mewajbkan perusahaanperusahaan membuat catatan terhadap penyakit-penyakit
yang timbul akibat kerja.
b. Kelompok-kelompok pekerjaan yang berisiko, kelompok
pekerjaan yang dapat menimbulkan resiko yaitu :
1) tempat kerja yang menimbulkan suara terlalu berisik
2) polusi udara dari asap rokok dan zat-zat kimia
misalnya:mesin foto kopi
3) tempat duduk yang tidak nyaman
4) rancangan kantor/tempat kerja yang buruk
5) perlatan kantor seperti terminal displi video (rediasi
medan elektromagnetik)
c.

Kehidupan Kerja Bekualitas Rendah


Bagi banyak pekerja, kehidupan kerja berkualitas
rendah disebabkan oleh kondisi tempat kerja yang gagal
untuk memenuhi preferensi-preferensi dan minat-minat
tertentu seperti rasa tanggung jawab, keinginan akan
pemberdayaan dan keterlibatan dalam pekerjaan, tantangan,
harga diri, pengendalian diri, penghargaan, prestasi,
keadilan, kemanan dan kepastian. Struktur organisasi yang
menyebabkan terjadinya kehidupan kerja berkualitas rendah
meliputi :

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

421

1) pekerjaan dengan tingkat penugasan, keragaman, identitas,


otonomi, dan umpan balik yang rendah.
2) minimnya
keterlibatan
pekerja
dalam
pengambilan
keputusan dan terlalu banyaknya komunikasi satu arah pada
para pekerja.
3) sistem pengupahan yang tidak berdasarkan kinerja, atau
berdasarkan kinerja yang tidak diukur secara obyektif, atau
di bawah pengendalian pekerja.
4) supervisor, deskripsi pekerjaan, dan kebijakan-kebijakan
orgenesasi yang gagal mengungkapkan kepada pekerja apa
yang diharapkan dan apa yang akan mendapat imbalan.
5) kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek sumber daya
manusia yang diskrinatif dan bervaliditas rendah.
6) kondisi-kondisi pekerjaan sementara, dimana pekerja dapat
dihentikan semaunya (hak pekerja tidak ada).
7) budaya perusahaan yang tidak mendukung pemberdayaan
pekerja dan keterlibatan dalam pekerjaan.
10. Stres Pekerjaan
Bentuk yang paling nyata stres meliputi empat S
perubahan organisasi, tingkat kecepatan kerja, lingkungan fisik,
pekerja yang rentan terhadap stres dan kelelahan kerja.
a. Empat S (salary, security, dan savety)
Penyebab umum stres bagi banyak pekerja adalah
supervisor (atasan), salary (gaji), security (keamanan) dan
savety (keselamatan). Aturan-aturan kerja yang sempit dan
tekanan-tekanan yang tiada henti merupakan penyebab
utama stress.
b. Perubahan organisasi
Rasa was-was bila akan terjadi perubahan organisasi,
barangkali saya akan digeser kedudukan atau dipindah ke
tempat yang lebih berat.
c. Tingkat kecepatan kerja
Menurut laporan para pekerja yang bekerja pada
pekerjaan-pekerjaan dengan kecepatan yang ditentukan oleh
mesin (order) merasa lelah diakhir giliran mereka, dan tidak
dapat bersantai segera setelah bekerja karena pengeluaran
adrenalin yang meningkat selama bekerja.
d. Lingkungan fisik
Walaupun otomatisasi kantor adalah suatu cara
meningkatkan produktivitas, hal itu juga mempunyai
kelemahan-kelemahan yang berhubungan dengan stress. Satu
aspek otomatisasi kantor yang mempunyai karakteristik
berkaitan dengan sters adalah Video Display Terminal (VDT).
Larangan membatasi para pekerja misalnya tidak boleh

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

422

menggeser kursi, letak mikrofon, meja dan tidak boleh


menggantungkan gambar.
11. Pekerja yang rentan stress
Manusia memang berbeda dalam memberikan respon
terhadap penyebab stress. Perbedaan klasik yang disebut
perilaku A dan perilaku B.
Tipe A menghabiskan sebagian besar waktunya
mengarahkan energi kepada hal-hal yang tidak biasanya dalam
lingkungan. Tetapi tipe A adalah pengerak dan pendobrak. Tipe B
pada umumnya lebih toleran, mereka tidak mudah frustasi atau
marah, tidak banyak menghabiskan banyak energi dalam
memberikan respon terhadap hal-hal yang tidak sesuai. Orang
tipe B biasanya merupakan supervisor yang hebat.
12. Kelelahan kerja (Job Burnout)
Kelelahan kerja adalah sejenis stress yang banyak dialami
oleh orang-orang bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan
terhadap manusia lainnya, seperti perawatan kesehatan,
pendidikan, kepolisian, keagamaan, dan sebagainya. Tanda-tanda
kelelahan kerja adalah pekerja mengalami kelelahan emosional
terhadap
pekerjaan-pekerjaan
perasaan
tidak
mampu
menurunkan motivasi sampai suatu titik di mana kenerja pekerja
akan tehambat, yang kahirnya menuju kepada kegagalan lebih
lanjut.
13. Konsekuensi kelelahan kerja
Pekerja yang mengalami kelehan kerja akan berprestasi
lebih buruk dari pada yang masih penuh semangat kelelahan
kerja dapat menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah
kesehatan, yang pada akhirnya prestasi dan semangat kerja akan
berkurang.
C. STRATEGI-STRATEGI PENINGKATAN
Bila penyebabnya sudah diidentifikasi, strategi-strategi dapat
dikembangkan untuk meng-hilangkan atau mengurangi bahayabahaya kerja. Untuk menentukan strategi efektif maka perlu
membandingkan insiden, kegawatan, dan frekuensi penyakitpenyakit dan kecela-kaan sebelum dan sesudah strategi dilakukan.
OSHA telah menyetujui metode-metode penentuan tingkat
keselamatan dan kesehatan kerja.
1. Memantau tingkat keselamatan dan kesehatan
OSHA mewajibkan perusahaan-perusahaan untuk menyimpan
catatan insiden-insiden kecelakaan dan penyakit yang terjadi

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

423

dalam perusahaan. Sebagian perusahaan juga mencatat tingkat


kegawatan dan frekuensi setiap kecelakaan atau penyakit yang
timbul.
a. Tingkat insiden, indeks keamanan industri yang paling
eksplisit adalah tingkat insiden, yang menggambarkan jumlah
kecelakaan dan penyakit dalam satu tahun. Indeks tersebut
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Tingkat insiden = (Jumlah Kecelakaan dan penyakit x 200.000) /
(Jumlah Jam Kerja Pekerja)
b. Tingkat frekuensi, tingkat frekuensi mencerminkan jumlah
kecelakaan dan penyakit setiap satu jam kerja, dihitung
dengan rumus :
Tingkat frekuensi = (Jumlah Kecelakaan dan Penyakit x
1.000.000 jam) + (jumlah jam kerja pekerja)
c. Tingkat kegawatan, tingkat kegawatan menggambarkan jam
kerja yang hilang karena kecelakaan atau penyakit. Disadari
bahwa tidak semua kecelakaan dan penyakit sama. Empat
kategori kecelakaan dan penyakit telah ditetapkan yaitu :
kematian, cacat tetap keseluruhan, cacat tetap sebagian,
dan cacat sementara keseluruhan. Tingkat kegawatan
dihitung dengan cara :
Tingkat Kegawatan = (Jumlah Jam Kerja yang hilang x
1.000.000 jam ) + (jumlah jam Kerja Pekerja)
2. Mengendalikan Kecelakaan
Cara terbaik untuk mencegah kecelakaan dan meningkatkan
keselamatan kerja dengan merancang lingkungan kerja
sedemikian rupa sehingga kecelakaan tidak terjadi. Hal ini tidak
dapat terjadi jika para pekerja menerima tanggung jawab
keselamatan kerja, seperti kecenderungan pada beberapa
perusahaan.
3. Ergonomis
Cara lain untuk meningkatkan keselamatan kerja adalah dengan
membuat pekerjaan itu sendiri menjadi lebih nyaman dan tidak
terlalu
melelahkan
melalui
ergonomis.
Ergonomis

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

424

mempertimbangkan perubahan-perubahan dalam lingkungan


pekerjaan sehuubungan dengan kemampuan-kemampuan fisik
dan fisiologis serta keterbatasan-keterbatasan pekerja.
a. Divisi keselamatan kerja, strategi lain dalam rangka
mencegah kecelakaan adalah pemanfaatan divisi-divisi
keselamatan kerja. Departemen SDM dapat berfungsi sebagai
koordinator panitia yang terdiri dari beberpa orang wakil
pekerja. Divisi harus mempunyai anggota yang diwakili
serikat kerja tugas merumuskan kebijakan.
b. Pengubahan tingkah laku, mendorong dilaksanakannya
kebiasaan kerja yang dapat mengurangi kemungkinan
kecelakaan juga dapat menjadi strategi yang sangat berhasil,
untuk mengubah perilaku pekerja dpat dipakai imbalan yang
bukan berbentuk uang, seperti umpan balik yang positif,
berbentuk aktivitas (seperti libur kerja), atau berbentu
materi yang sesuai dengan tingkat kerja.
4. Mengurangi Timbulnya Penyakit
Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan jauh
lebih memakan biaya dan berbahaya bagi perusahaan dan para
pekerja dibandingkan dengan kecelakaan kerja. Karena
berhubungan dengan sebab akibat antara lingkungan fisik dengan
penyakit-penyakit tersebut sering kabur, umumnya sulit
mengembangkan strategi untuk mengurangi timbulnya penyakitpenyakit.
a. Penyimpanan catatan, OSHA mewajibkan perusahaan untuk
setidak-tidaknya melakukan pemeriksaan terhadap kadar
kimia yang terdapat dalam lingkungan pekerjaan, dan
menyimpan catatan mengenai informasi yang terinci
tersebut. catatan ini juga harus mencantumkan informasi
tentang penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan dan jarak
yang aman dari pengaruh berbahaya bahan-bahan tersebut.
b. Memantau kontak langsung, pendekatan yang pertama dalam
mengendalikan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
pekerjaan adalah membebaskan tempat pekerjaan dari
bahan-bahan kimia atau racun. Satu pendekatan alternatif
adalah dengan memantau dan membatasi kontak langsung
terhadap zat-zat yang berbahaya. Jika kerusakan terjadi si
pekerja dipindahkan ke pekerjaan lain, dan jika mungkin
dilakukan perbaikan kondisi kerja.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

425

c.

Penyaringan genetik, penyaringan genetik adalah pendekatan


untuk pengendalian penyakit-penyakit yang paling ekstrem,
sehingga sangat kontraversial. Artinya pekerja sebelum
menjadi pekerja di tes tentang genetiknya, bila seseorang
mudah terserang penyakit maka tidak diterima. Tes sangat
bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.

5. Mengendalikan Stres dan Kelelahan Kerja


Titik beratnya adalah pada penyediaan informasi yang konkret
untuk mengurangi ambiguitas yang berkaitan dengan peran
pekerjaan yang berlangsung dengan cepat.
Peningkatan
partisipasi
dalam
pengambilan
keputusan
mempunyai kesempatan untuk menen-tukan sendiri ditambah
dengan kebebasan dan kemampuan untuk mempengaruhi
kejadian-kejadian di sekitarnya, dapat menjadi sumber motivasi
intrinstik (dari dalam sendiri) dan penghargaan yang sangat
berarti. Jika kesempatan untuik mengendalikan tidak dipunyai
dan seseorang merasa terjebak dalam suatu lingkungan yang
tidak dapat dikendalikan maupun diramalkan, kondisi psikologis
maupun fisik seseorang kemungkinan besar akan terganggu.
Beberapa solusi untuk menghilangkan stres pekerjaan, (hasil
penelitian di Northwesten National Life Insurance Company:
a. Biarkan pekerja berbicara bebas satu sama lain
b. Mengurangi konflik-konflik pribadi pad pekerjaan
c. Beri pekerja kendali yang cukup besar dalam melaksanakan
pekerjaannya
d. Pastikan pengadaaan staf dan anggaran yang cukup
e. Berbicara secara terbuka dengan para pekerja
f. Dukung upaya-upaya para pekerja
g. Menyediakan tunjangan-tunjangan cuti dan liburan pribadi
yangh kompetitif
h. Mempertahankan tingkat tunjangan pekerja yang ada
i. Kurangi birokrasi yang ada
j. Akui dan beri imbalan kepada para pekerja karena prestasi
dan kontribusi mereka
D. KEAMANAN KERJA KELISTRIKAN DI DALAM STUDIO PENYIARAN
1. Pengaman yang Terkait dengan Rangkaian Elektrik dan
Elektronika
Menyadari akan tugasnya bahwa para pekerja di studio
adalah bekerja dalam ruangan
tertutup dan udara penuh
dengan radiasi elektromagnetik. Pengaruh radiasi sering kali
para pekerja mengalami gangguan sikis, sehingga apa yang
dikerjakan sering kali tidak optimal. Pekerjaan di studio banyak

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

426

melibatkan rangkaian-rangkaian kelistrikan, oleh karena itu pada


kesempatan ini yang akan dibahas lebih banyak tentang
rangkaian kelistrikan.
Sirkuit elektrik dan elektronik merupakan bagian sistem
kelistrikan dan dapat berbahaya, bagi manusia dan alat.
Berbahaya bagi manusia bila kita terkena sengatan listrik
sedangkan pada alat bila kelistrikan tidak stabil. Berkenaan hal
ini, diperlukan praktik-praktik yang aman untuk mencegah
terjadinya sengatan listrik, kebakaran, kerusakan mekanik, dan
kecelakaan yang terjadi karena penggunaan alat yang tidak
tepat, gangguan suara, dan gambar. Bahaya bagi manusia yang
paling besar adalah sengatan listrik, arus yang mengalir ke tubuh
manusia yang lebih dari 10 mA dapat melumpuhkan korban.
Aturan pengamanan umum untuk elektrik dan elektronik
sebagai berikut :
a. Jangan bekerja ketika anda lelah atau sedang minum obat
yang membuat anda mengantuk atau lemas.
b. Jangan bekerja di tempat yang tidak cukup penerangan
cahaya.
c. Jangan bekerja di tempat yang lembab atau basah, atau
dengan mengenakan sepatu basah.
d. Gunakan peralatan, perlengkapan, dan alat pelindung yang
diakui.
e. Hindari menggunakan cincin, gelang, atau item metal lainnya
ketika bekerja di seputar sirkuit listrik dan rangkaian
magnetik.
f. Jangan pernah beranggapan bahwa sirkuit dalam keadaan
off. Periksa dua kali sirkuit dengan alat yang yang anda yakin
alat itu beroperasi.
g. Beberpa situasi membutuhkan sistem yang baik untuk
menjamin bahwa daya tidak akan hidup sementara teknisi
masih bekerja pada sebuah sirkuit.
h. Jangan
pernah
tergoda
atau
mencoba
untuk
mengesampingkan alat pengaman seperti interlock (tipe
saklar yang secara otomatis menghentikan daya ketika pintu
dibuka atau sebuah panel dipindah.
i. Jagalah supaya perlatan dan perlengkapan tes dalam
keadaan bersih dan bekerja dengan baik.
j. Lakukan pemeriksaan yang tersimulasi dan mengarah kepada
tanda pertama adanya kerusakan atau gangguan.
2. Sifat kelistrikan komponen elektrik dan elektronika
Komponen peralatan dasar yang digunakan pada ruangan
studio, pada umumnya komponen peralatan yang digunakan di
dalam studio berupa komponen elektrik dan elektronik, masing-

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

427

masing komponen mempunyai sifat yang spesifik. Berkenaan


dengan hal tersebut perludipahami hal-hal sebagai berikut :
a. Beberapa alat, seperti kapasitor, dapat menyimpan beban
lethal. Alat-alat seperti itu dapat menyimpan beban untuk
periode waktu yang lama. Anda harus yakin bahwa alat
tersebut berhenti sebelum anda bekerja di sekitarnya.
b. Jangan memindah pentanahan, dan jangan menggunakan
adaptor
yang
dapat
menggagalkan
perlengkapan
pentanahan.
c. Gunakan hanya alat pemadam api yang diakui untuk
peralatan elektrik dan elektronik. Air dapat menghantarkan
listrik dan perlengkapan dapat rusak berat. Pemadam tipe
karbondioksida (CO2) atau tipe halogen biasanya lebih
disukai. Pemadam tipe busa juga dapat dipakai dalam
beberapa kasus.
d. Ikuti petunjuk-petunjuk ketika mengunakan pelarut atau zat
kimia lainnya. Zat itu dapat menjadi racun, mudah terbakar,
atau dapat merusak materi tertentu, misal plastik.
e. Beberapa materi yang digunakan dalam perlengkapan
elektronik mengandung racun. Contoh kapasitor tantalun
dan transistor berilium oksid. Alat tersebut tidak boleh
dihancurkan atau digosok, dan anda harus mencuci tangan
setelah menanganinya.
f. Komponen sirkuit tertentu mempengarui kinerja pengaman
perlengkapan dan sistem. Gunakan hanya hanya bagian yang
pasti dengan pengganti yang diakui.
g. Gunakan pakian pelindung dangan kacamata pengaman
ketika menangani alat hampa udara seperti pipa gambar dan
pipa sinar katoda.
h. Jangan bekerja pada peralatan sebelum Anda mengetahui
prosedur yang tepat dan mengetahui atau menyadari
sembarang resiko keamanan potensial.
i. Banyak kecelakaan terjadi karena sikap terburu-buru dan
kasar. Ambillah waktu yang diperlukan untuk melindungi diri
Anda dan para pekerja Anda. Berlari, kelakar kasar dan
rebut, dan humor, sangat dilarang di ruang kerja dan
laboratorium.
j. Di dalam studio bekerja dengan sitem elektrik, berakibat
timbulkan pemanasan elektrik, oleh karena itu diperlukan
alat pendingin udara.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

428

3. Arti Warna untuk keselamatan di Tempat Kerja


a. Merah digunakan untuk menandai :
Alat dan perlengkapan perlindungan bahaya kebakaran.
Tabung yang dapat dibawa-bawa yang berisi cairan yang
mudah terbakar.
Tombol dan sakelar stop kontak untuk keadaan darurat.
b. Kuning digunakn untuk :
Perhatian dan bahaya fisik.
Tabung bekas buang untuk bahan yang mudah meledak
dan mudah terbakar.
Perhatian
terhadap
starting,
penggunaan
atau
pemindahan perlengkapan yang
menjalani perbaikan.
Titik starting atau sumber daya mesin.
c. Oranye digunakan untuk menandai :
Bagian yang berbahaya dari mesin
Pengaman tombol starter
Bagian yang riskan (sisi) dari pulley (kerekan), roda gigi,
penggulung, alat pemotong dan jepitan daya.
d. Ungu digunakan untuk menandai :
Bahaya radiasi
e. Hijau digunakan untuk menandai :
Pengaman
Lokasi
perlengkapan
Pertolongan
Pertama
pada
Kecelakaan (selain perlengkapan bahaya kebakaran)
4. Pentanahan pada Sistem Kelistrikan
Listrik adalah aliran elektron. Aliran arus listrik adalah
sesuatu yang bekerja seperti aliran air dari gunung ke tanah. Air
selalu mencoba untuk mencari jalan ke lautan. Listrik selalu
mencoba mencari jalan ke tanah. Rute yang diambil listrik
disebut lintasan ke bawah tanah. Jika anda adalah bagian dari
lintasan listrik ke tanah, listrik dapat mengalir melalui Anda.
Jika Anda menyentuh kawat listrik yang beraliran sambil berdiri
pada tanah, atau pada sesuatu yang bersinggungan dengan tanah
maka Anda akan menjadi bagian dari lintasan listrik ke tanah.
Pentanahan berkaitan dengan hubungan dari bagian-bagian
instalasi pengawatan ke bumi (a common eartconnection). Pada
umumnya pentanahan bertujuan untuk melawan dua bahaya :
kebakaran dan sengatan listrik.
Bahaya kebakaran dapat terjadi apabila ada keboroan arus
dari penghantar atau sambungan beraliran yang rusak dan
mencapai titik tegangan nol oleh beberapa lintasan yang tidak
normal.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

429

Bahaya sengatan listrik biasanya terjadi : karena hubung


sikat (langsung) dengan rumah alat (body), dan hubungan tidak
langsung disebut induksi. Body yang ditanahkan akan dapat
menetralkan arus bocor sedangkan untuk kontak body langsung
maka zekering akan putus. Bila anda memegang body dan anda
menginjak tanah maka anda akan merasakan senagtan listrik.
5. Lockout Sumber Listrik
Lockout dan tagout listrik menunjuk pada proses
penguncian sumber daya dengan gembok pada posisi OFF sesuai
dengan petunjuk pada kartu, tentang prosedur yang terjadi.
Prosedur ini perlu sehingga orang akan lebih berhati-hati
memutar alat pada posisi ON sementara proses penguncian
sedang bekerja. Kegagalan me-lock-out dapat mengakibatkan
kecelakaan dan bahkan kebakaran.
Lockout berarti pencapain tingkatan energi nol sementara
alat sedang diservis. Prosedur lckout yang baik dikehendaki
selama pemeliharaan, perbaikan, pencarian kesalahan,
pengaturan, pemsangan atau pembersihan alat-alat listrik atau
mekanan. Hanya dengan menekan tombol stop pada mesin saja
tidak menjamin keselamatan Anda.
6. Langkahlangkah pokok prosedur lockout
a. Buatlah dokumen semua prosedur dalam petunjuk manual
keselamatan kerja
b. Identifikasi lokasi semua sakelar daya, control, interlock dan
alat lain yang diperlukan untuk mengunci dengan tujuan
mengisolasi sistem.
c. Hentikan semua peralatan yang berjalan atau bekerja dengan
menggunakakan control dekat dengan mesin.
d. Putuskan sakelar
e. Kunci dan putuskan sakelar pada kedudukan OFF.
f. Gunakan pengunci yang baik dengan satu anak kunci yang
disimpan yang berhak.
g. Berilah etiket atau label kunci dengan tanda tangan dari
seseorang yang melakukan perbaikan.
h. Ujilah isolasi, untuk memastikan listrik sudah OFF
i. Pindahkan etiket dan kunci apabila pekerjaan sudah selesai
j. Sebelum dihubungkan kembali dengan sumber daya
periksalah bahwa semua pelindung ada pada tempatnya dan
semua alat gagang dan penjepit yang digunakan dalam
perbai-kan. Pastikan bahwa semua pekerja berdiri jauh dari
mesin.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

430

7. Tindakan Pencegahan untuk Keamanan Listrik


Dengan tindakan pencegahan yang benar tidak ada alasan
bagi teknisi mengalami shock atau sengatan listrik. Terkena
sengatan listrik adalah peringatan yang jelas bahwa ukuranukuran
keamanan
yang
benar
tidak
diakui.
Untuk
mempertahankan keamanan listrik pada level yang tinggi pada
saat Anda bekerja ada sejumlah tindakan pencegahan yang harus
Anda ikuti. Suatu pekerjaan harus mempunyai persyaratan
keamanan. Berikut ini merupakan dasar yang penting bagi
persyaratan keamanan :
a. Jangan pernah mengambil resiko mendapat sengatan listrik
b. Simpanlah bahan atau peralatan pada jarak sekurangkurangnya sepuluh kali dari saluran udara bertegangan
tinggi. Jangan menutup sakelar kecuali Anda pahan dengan
rangkaian yang dikontrol dan mengetahui alasannya.
c. Apabila bekerja pada suatu rangkaian ambillah langkah
untuk memastikan bahwa saklar pengontrol tidak
dioperasikan
d. Hindari bekerja pada rangakain beraliran listrik (sedapat
mungkin)
e. Apabila memasang mesin baru, pastikan bahwa semua
bagian kerangka logam ditanahkan secara efisien dan
permanent.
f. Selalu anggap rangkaian itu hidup (beraliran) sebelum Anda
membuktikan bahwa itu mati
g. Hindari untuk menyentuh setiap objek yang ditanahkan,
pada saat bekerja pada peralatan listrik.
h. Ingat bahwa meskipun dengan sistem kontrol 120 V. Anda
mungkin mempunyai tegangan yang lebih tinggi pada panel
itu. Meskipun Anda menguji sistem 120 V, kemungkinan
besar Anda berada dekat dengan sumber yang mendekati
tegangan 240 V atau 480 V.
i. Jangan menggapai alat yang sedang aktif semjentara alat ini
sedang beroperasi.
j. Gunakan praktek listrik yang bagus meskipun pada
pengawatan sementara untuk pengujian. Kadang Anda perlu
membuat hubungan listrik yang berbeda, tetapi buatlah itu
menjadi cukup aman dari bahaya listrik.
k. Apabila bekerja pada peralatan dengan tegangan 30 V,
bekerjalah dengan hanya satu tangan. Dengan bekerja satu
tangan akan mengurangi arus listrik melalui dada.
l. Kosongkan kapasitor sebelum memegangnya.

Sri Sartono

Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, TV dan Film

431

8. Undangundang dan Standar Listrik


Dua lembaga yang bertanggung jawab untuk keselamatan
kerja adalah National Fire Protection Association yang
mendukung National Electric Code (NEC), dan National Borad of
Fire Underwriters yang membentuk underwrites Laboratories.
NEC adalah sekumpulan panduan penjelasan prosedur yang
meminimalkan kecelakaan akibat sengatan listrik, kebakaran,
dan ledakan yang disebabkan oleh instalasi listrik. NEC
memberikan tabulasi kapasitas arus dan jenis kawat. NEC
merupakan sumber praktis tentang informasi karena memasukan
batasan-batasan terhadap tipe penyekatan dan pengaruh
berbagai aplikasi.
NEC berfungsi sebagai basis yang melaluinya pemerintah
setempat berwenag membuat peraturan yang berkaitan dengan
perlindungan keselamatan hidup para pekerja yang bekerja
dengan atau menggunakan peralatan listrik. Hukum setempat
selalu merujuk NEC sebagai standar minimum, kadang-kadang
menanmbahkannya untuk memenuhi persyaratan local. Inspektur
listrik setempat dan marsekal kebakaran memperkuat kode
mereka sendiri dan dapat menerima atau menolak instalasi
sesuai dengan hukum setempat.
NEC bukan buku teks yang digunakan sebagai basis
instruksi. NEC lebih merupakan kumpulan peraturan,
dikembangkan selama bertahun-tahun, yang dibangun untuk
memberikan instalasi listrik yang amandan praktis. Kata harus
dan seharusnya sering digunakan dalam NEC. Kata harus
merujuk kepada hala-hal yang harus duilakukan untuk diterima
oleh kode, kata seharusnya merujuk kepada hal-hal yang tidak
diharuskan tapi harus dilakukan untuk keselamatan minimum.
Produk-produk listrik pada umumnya harus melewati uji
standarisasi untuk keamanan pamakaian. Salah satu organisasi
pengujian yang terkenal adalah Underwriters Laboratories,
yang ditunjukan dengan symbol UL.
Berbagai tipe bahan yang digunakan pada pengawatan
listrik seharusnya merupakan tipe yang didaftarkan oleh UL
untuk memastikan bahwa tingkat keamanan pemakai
terpelihara.
Tujuan Underwriters Laboratories adalah untuk
membangun memelihara, dan meng-operasikan laboratorium
untuik pemeriksaan bahan-bahan, alat, prodiuk, perlengkapan,
konstruksi, metode, dan sistem dengan mempertimba