Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


SKIZOFRENIA HEBEFRENIK

Memenuhi Tugas matakuliah


Keperawatan Jiwa I
yang dibina oleh Bapak Dr. Imam Sunarno,Drs.,SSt.,M Kes

Oleh
Tika Rosianawati
1201300021
Tingkat II A

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN BLITAR


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES MALANG
Desember 2013

LAPORAN PENDAHULUAN
1. Definisi
Skizofrenia Hebrefrenik adalah perilaku yang khas, regresi, primitive, afek
tidak sesuai dengan karakteristik umumnya, wajah dungu, tertawa aneh-aneh,
menangis dan menarik diri secara ekstrim (Mary C. Towsend dalam Novy
Helena C, 1998 : 143).
Skizofrenia Hebefrenik adalah Percakapan dan perilaku yang kacau, serta afek
yang datar atau tidak tepat, gangguan asosiasi juga banyak terjadi. (Ann Isaac,
2004 : 153)
2. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Beberapa factor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon
neurobiology seperti pada harga diri rendah antara lain :
a. Faktor Genetis
Secara genetis, skizofrenia diturunkan melalui kromosom-kromosom
tertentu. Tetapi kromosom yang ke berapa yang menjadi faktor penentu
gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga
letak gen skizofrenia ada dikromosom no. 6 dengan kontribusi genetik
tambahan no. 4, 8, 15 dan 22. Anak kembar identik memilki
kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya
mengalami skizofrenia, sementara jika dizigote peluangnya sebesar 15%.
Seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia,
ssementara bila kedua orang tuany skizofreia maka peluangnya menjadi
35%.
b. Faktor Neurologis
Ditemukan bahwa korteks prefrotal dan korteks limbik pada klien
skizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien
skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otakyang banormal.
Neurotransmitter yang ditemukan tidak normal khususnya dopamine,
serotonine, dan glutamat.
c) Studi Neurotransmiter
Skizofrenia diduga juga disebkan oleh adanya ketidakseimbanga
neurotransmtter dopamine yang berlebihan.
d) Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester 3 kehamilan dapat menjadi faktor
predispossisi skizofrenia.

e) Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi skizofrenia
antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu pencemas, terlalu
melindungi, dingin dan tidak berperasaan, sementara ayah yang
mengambil jarak dengan anaknya.
2) Faktor Presipitasi
Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a) Berlebihannya proses inflamasi pada sistem saraf yang menerima dan
memproses informasi di thalamus dan frotal otak.
b) Mekanisme penghantaran listrik di saraf terganggu.
c) Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap dan
perilaku.
Gejala-gejala pencetus respon biologis :
(1) Kesehatan : nutrisi kurang, kurang tidur, ketidakseimbangan irama
sirkadian, kelelahan, infeksi, obat-obatan sistem saraf pusat, kurangnya
latihan dan hambatan untuk menjangkau layanan kesehatan.
(2) Lingkungan : lingkungan yang memusuhi, masalah rumah tangga,
kehilangan kebebasan hidup, perubahan kebiasaan hidup, pola aktivitas
sehari-hari, kesukaran berhubungan dengan oran lain, isolasi sosial,
kurangnya dukungan sosial, tekanan kerja, stigmasisasi, kemiskinan,
kurangnya

alat

transportasidan

ketidakmampian

mendapatkan

pekerjaan.
(3) Sikap/perilaku : merasa tidak mampu, putus asa, merasa gagal,
kehilangan kendali diri (demoralisasi), merasa punya kekuatan
berlebihan dengan gejala tersebut, merasa malang, bertindak tidak
seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya
kemampuan

sosialisasi,

perilaku

agresif,

perilaku

kekerasan,

ketidakadekuatan pengobatan dan ketidakadekuatan penanganan


gejala.
3. Manifestasi Klinis
Seseorang yang menderita skizofrenia herbefrenik, disebut juga disorganized
type atau kacau balau yang ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai
berikut :
Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa
maksudnya.

Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidakserasi atau ketololtololan.
Perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa
puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai
suatu kesatuan.
Halusinasi yang terpecah-pecaj yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai
satu kesatuan.
Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan
aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung
untuk menarik diri secara akstrim dari hubungan sosial (Dadang Hawari,
2001 :640)
4. Psikofisiologi
1. Tahapan halusinasi dan delusi yang biasa menyertai gangguan jiwa.
a. Tahap Comforting
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa,
klien biasanya mengkompensasikan stresornya dengan koping imajinasi
sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman.
b.Tahap Condeming
Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya
klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang
lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan sehingga timbul perilaku
menarik diri ( with drawl ).
c. Tahap Controling
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul
tetapi suara tersebut terus menerus mengikuti, sehingga menyebabkan
klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila suara tersebut hilang
klien merasa sangat kesepian atau sedih.
d. Tahap Conquering
Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak
diikuti perilaku klien dapat bersifat merusak atau dapat timbul perilaku
suicide.
2. Waham

Kelompok ini ditandai secara khas oleh berkembangnya waham yang


umumnya menetap dan kadang-kadang bertahan seumur hidup. Waham
dapat berupa waham kejaran, hipokondrik, kebesaran, cemburu, tubuhnya

dibentuk secara abnormal, merasa dirinya bau dan homoseks. Onset


biasanya pada usia pertengahan, tetapi kadang-kadang yang berkaitan
dengan bentuk tubuh yang salah dijumpai pada usia muda. Isi waham dan
waktu timbulnya sering dihubungkan dengan situasi kehidupan individu,
misalnya waham kejaran pada kelompok minoritas. Terlepas dari perbuatan
dan sikapnya yang berhubungan dengan wahamnya, afek dan pembicaraan
dan perilaku orang tersebut adalah normal.Waham ini minimal telah
menetap selama 3 bulan.
5. Pedoman Diagnostik

Skizofrenia Hebefrenik (PPDGJ III, Kode F 20.1)


a) Memenuhi kriteria umum diagnosa skizofrenia
b) Ditegakan pada usia remaja atau dewasa muda (15-25 tahun)
c) Kepribadian premorbid menunjukan ciri-ciri khas pemalu dan senang
menyendiri.
Untuk meyakinkan diperlukan pengamatan selama 2-3 bulan untuk
memastikan gambaran lihat yang bertahan, antara lain perilaku yang tidak
bertanggungjawab dan tidak dapat di ramalkan, kecenderungan untuk selalu
menyendiri, dan perilaku tanpa tujuan dan perasaan :
- Afek dangkal dan tidak wajar
- Proses fikir mengalami disorganisasi dan topik pembicaraan tidak menentu
(inkoheren)
- Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan proses pikir
umumnya menonjol. Halusinasi dan waham biasanya ada tetapi tidak
menonjol.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Adapun komponen data yang perlu dikaji pada klien skizofrenia hebefrenik
antara lain:
1) Identitas klien
2) Identitas informan atau yang bertanggung jawab terhadap klien
3) Keluhan utama
4) Riwayat perjalanan penyakit
5) Riwayat kekambuhan terakhir
6) Pertumbuhan dan perkembangan premorbid
7) Persepsi dan harapan klien dan keluarga
8) Keadaan kesehatan fisik

2. Riwayat Kesehatan/penyakit yang lalu


3. Pola Aktivitas sehari-hari
(1) Penampilan dan kebersihan diri.
Klien skizofrenia menunjukkan penurunan minat terhadap penampilan dan
kebersihan dirinya. Ini tampak pada penampilan yang acak acakan. Badan
tampak kotor.
(2) Kebiasaan merokok dan minum minuman keras.
(3) Tidur dan istirahat :
Klien dapat sulit tidur. Adanya halusinasi dapat menyebabkan kecemasan,
klien mendengar suara suara yang mengganggu atau mengancam dirinya.

Klien sering bermimpi buruk sehingga terbangun dan sulit tidur lagi, dan
sering dia berada dalam keadaan terjaga.
(4) Nutrisi
Menurunnya kemauan dan meningkatnya aktivitas motorik menyebabkan
klien tidak mau makan. Porsi makan utuh/makan sedikit, dapat pula klien
menolak makan karena adanya halusinasi yang melarangnya makan.
(5) Pola eliminasi.
4. Pemeriksaan fisik
5. Pemeriksaan penunjang
6. Status Mental
a) Afek / Emosi
- Afek datar : tidak ada tanda ekspresi afektif, suatu monoton, da wajahnya
imobil.
- Afek yang tidak serasi : tidak sesuai dengan rangsangan, misalnya orang
yang disekitarnya ramai tertawa karena ada kelucuan tetapi klien malah
menunjukkan kesedihan/menangis.
- Keadaan emosi yang berlebihan sehingga kelihatannya seperti dibuat
buat, misalnya dari keadaan gembira seketika itu berubah menjadi sedih.
b) Konsep Diri
Konsep diri kacau dan tidak realistik. Klien mempunyai perasaan rendah
diri, menganggap dirinya tidak mampu mengatasi kekurangannya, tidak
ingin melakukan sesuatu hal untuk menghindari kegagalan (takut gagal).
Klien menghinakan, menyalahkan dirinya atas suatu hal yang pernah atau
tidak pernah dilakukannya. Tidak punya keinginan/cita cita, merasa diri
tidak berdaya, sakit sehingga tidak dapat melakukan peranannya. Dapat
terjadi klien merasa asing dengan dirinya, merasa bahwa dirinya sudah
menjadi yang lain.
c) Gaya Komunikasi
(1) Gaya verbal klien
Inkoherensi menyebabkan klien banyak bicara yang tak bisa dimengerti,
berteriak teriak tanpa sebab. Isi pembicaraan sedikit, tersamar, abstrak
atau sangat konkret.
(2)Respon non verbal klien
- Pandangan mata terkesan kosong
- Tidak ada kontak mata
- Tersenyum senyum, tertawa kecil tanpa adanya rangsang, atau
ekspresi wajah sedih
d) Interaksi/hubungan dengan dunia luar.

Adanya kecenderungan menarik diri dari keterlibatannya dari dunia luar


dan berpreokupasi dengan idenya yang tak logis. Gila parah kondisi itu
dinamakan autisme. Orang lain akan nampak sibuk dengan dunianya
sendiri, tidak terpengaruh dengan orang lain.
e) Pola pertahanan diri
Mekanisme pertahanan regresi (kekanak kanakan), misalnya klien
menjadi tergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.
f) Persepsi sensorik
Klien skizofrenia hebefrenik sering mengalami gangguan persepsi
sensorik berupa ilusi/halusinasi, terutama halusinasi dengar, dimana klien
akan tampak berbicara sendiri atau tertawa sendiri.
g) Motorik
Aktivitas psikomotorik yang abnormal, tidak bertujuan seperti berlari
lari jalan mondar mondir, menggoyang goyangkan badannya,
memukul mukul tanpa sebab, atau imobilitas yang apatis. Hal ini
umumnya disebabkan adanya halusinasi, kecemasan yang meningkat,
kebingungan, atau adanya dorongan yang tidak dapat dikontrol.
h) Orientasi.
Pada periode kekambuhan, klien dapat bingung, tidak mengenal orang,
waktu atau tempat dimana ia berada.
i) Pikiran.
Gangguan pada isi pikir dapat berupa waham yang tidak
sistematis, mudah berubah. Klien merasa bahwa perasaannya,
dorongan pikirannya atau tindakannya dipaksakan dari luar
kepada dirinya. Adanya preokupasi, yaitu pikiran terpaku pada
sebuah ide biasanya berkaitan dengan keadaan emosional
yang kuat, misalnya preokupasi dengan anaknya, suami yang
sudah meninggal. Klien dapat merasakan kekhawatiran yang
berlebihan tentang kesehatan fisiknya. Untuk gangguan pada
bentuk

dan

arus

pikir

yang

sering

ditemukan

adalah

kelonggaran asosiasi, dimana ide ide berpindah dari satu


subjek ke subjek lain yang sama selalu tidak ada hubungan
atau hubungannya tidak tepat, dan hal lain tidak disadarinya.
Apalagi pelonggaran asosiasi ini terlalu berat dapat terjadi
inkoherensi, percakapan yang tidak dapat dimengerti. Dapat
pula

terjadi

miskinnya

isi

pembicaraan

dimana

isi

pembicaraannya masih cukup tetapi isinya sedikit karena


samar,

abstrak,

atau

sangat

konkret,

berulang

ulang

(stereotipik). Hambat pikir (blocking) dapat pula terjadi, yaitu


jalan pikiran tiba-tiba berhenti di tengah sebuah kalimat. Klien
tidak dapat menerangkan mengapa ia berhenti. Gangguan lain
berupa irelevasi, isi pikiran atau ucapan yang tidak ada
hubungannya dengan pertanyaan, atau dengan hal yang
sedang dibicarakan.
j) Insight (penghayatan)
tingkat penghayatan terhadap kondisi dirinya dan
kebutuhannya. Klien merasa dirinya tidak sakit atau
bahkan

merasa

dirinya

sakit

parah.

Klien

dapat

menyadari atau tidak menyadari akan faktor faktor


yang

mempengaruhi

tingkah

lakunya,

sehingga

adakalanya ia tidak mampu bereaksi sesuai dengan


realitas dan bertanggung jawab.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi
2. Gangguan proses pikir
3. Kerusakan komunilasi verbal
4. Isolasi social
5. Defisit perawatann diri
6. Ansietas
7. Koping individu tidak efektif
8. Ketidak seimbangan nutrisi
9. Resiko bunuh diri

INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi

Bina hubungan saling percaya

Bantu klien mengenal halusinasi

Diskusikan dengan klien wktu, isi, frekuensi dan situasi pencetus


munculnya halusinasi

Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaanya.


Diskusikan cara baru untuk mengendalikan halusinasi.
2. Gangguan proses pikir

Bina hubungan saling percaya


Latihan mengingat memori yang telah dilalui
Ingatkan kembali masa lalu klien
Libatkan klien dalam TAK orientasi realitas
Beri kesempatam klien mendiskusikan wahamnya dengan petugas /
perawat
Dukung klien untuk memfalidasi keyakinan terhadap wahannya
Berikan aktivitas reaksi atau aktivitas yang membutuhkan perhatian atau
dan ketrampilan di waktu luang klien.

3. Kerusakan Komunikasi Verbal

Bina hubungan saling percaya


Beri kesempatan klien untuk bicara
Dengarkan pembicaraan klien lalu identifikasi tema yang
berkaitan

Kaji kemampuan klien menilai pesan pembicaraan orang lain


Kaji kemampuan klien menangkap dan menerima pesan non
verbal dari lawan bicara

Latihan daya ingat untuk mengungkapkan perasannya secara


verbal atau non verbal.

4. Isolasi Sosial

Bina hubungan saling percaya


Dorong klien untuk membagi masalah yang dihadapinya
Berikan perasaan aman dan nyaman pada klien
Bantu klien mengidentifikasi kelebihan, hambatam, dan kesulitan dalam
komunikasi dengan orang lain.

Dukung klien mengembangkan hubungan yang telah terbina


Lebatkan klien dalam TAK sosialisasi

5. Defisit perawatan diri

Bina hubungan saling percaya


Diskusikan bersama klien keuntungandan manfaat kebersihan diri
Bantu klien menentukan tindakan untuk perawat klien
Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan kegiatan sehari-hari
Kaji perasaan klien setelah perawatan dirinya terpenuhi.

6. Ansietas

Bina hubungan saling percaya


Tenangkan klien
Kaji kecemasan klien
Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang
mungkin muncul pada saat melakukan tindakan

Berusaha memahami klien


Gunakan pendekatan sentuhan verbalisasi untuk meyakinkan perasaan
klien tidak sendiri dan mengajukan pertanyaan

Sediakan aktifitas untuk menurunkan ketegangan

Bantu klien mengidentifikasi yang dapat menimbulkan cemas


Tentukan klien untuk mengambil keputusan
Intruksikan klien untuk menggunakan teknik relakasasi barikan
pengobatab untuk menurunkan kecemasan.

7. Koping individu tidak efektif

Bina hubungan saling percaya

Hargai pemahaman pasien tentang proses penyakit dan konsep diri

Hargai dan diskusikan alternative respon terhadap situasi

Hargai sikap klien terhadap perubahan peran dan hubungan

Dukung penggunaan sumber spiritual jika diminta

Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan jaminan

Bantu klien untuk mengidentifikasi strategi positif untuk mengatasi


keterbatasan dan mengelola gaya hidup dan perubahan

Bantu klien beradaptasi dan mengatasi perubahan klien

8. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan

Bina hubungan saling percaya


Monitor perubahan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan
Monitor kulit dan pigmentasi
Monitor turgor kulit

Monitor mual muntah


Monitor kalori dan intake cairan
9. Resiko bunuh diri

Bina hubungan saling percaya

Tentukan riwayat percobaan bunuh diri

Tentukan apakah ia mempunyai rencana spesifik untuk bunuh diri

Diskusikan dengan klien factor pencetus bunuh diri.

Lakukan observasi secara ketat

Jauhkan benda-benda berbahaya dari lingkungan klien

Awasi klien selama melakukan aktivitas diluar.

SUMBER :
Maramis, WS. (1997), Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlasngga University
Pers, Suarabaya.