Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagian besar penduduk di Indonesia beragama Islam, dimana setiap
tanggal 10 Dhulhijah dilakukan peringatan Hari Raya Umat Islam Idul Adha.
Momentum ini diperingati dengan menyembelih hewan qurban berupa
kambing, domba, sapi, dan kerbau. Namun beberapa hewan qurban yang
disembelih tidak seluruhnya dalam keadaan sehat. Salah satu penyakit yang
sering ditemukan adalah Bovine tuberculosis (BTB). Bovine tuberculosis
adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh mikrobakterium dan menyerang
hampir semua jenis hewan dan manusia. Pada sapi perah penyakt ini sangat
merugikan dan merupakan ancaman bagi kesehatan konsumen karena dapat
ditularkan melalui susu yang dihasilkan.

Gambar 1. Sampel materi nekrosis paru-paru sapi pada penyembelihan hewan


qurban di Malang.

Bovine tuberculosis merupakan penyakit zoonosis yang bersifat


kronis. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis bovis yang
mempunyai patogenesitas sangat tinggi dan mampu menular ke manusia,
sapi, hewan liar, dan hewan domestik lainnya. Kuman tuberkulosis bersifat
asam yang dibedakan antara tipe human (manusai), bovine (Bangsa sapikerbau), dan avian (unggas)(Akoso Budi T, 2012). Penyakit ini menyebar
keseluruh dunia, terutama diwilayah penghasil ternak potensial. Pada
mulanya penyakit ini banyak ditemukan dinegara berkembang seperti Afrika

(46%) Asia (44%) dan Amerikas Selatan (35%). Laporan WHO tahun 2009
menyebutkan bahwa manusia penderita TB diwilayah Asia Tenggara
mencapai jumlah terbesar kedua setelah Afrika. Indonesia menduduki
peringkat ke lima dari negara Asia Tenggara dalam kasus TB pada manusia
(Putra Widiarsa, Besung Nengah, Mahatmi Hapsari, 2013).
Saat pemeriksaan hewan qurban yang kami lakukan pada tanggal 4-5
oktober 2014 di beberapa masjid Kelurahan Purwodadi Kecamatan Blimbing
Kota Malang didapatkan beberapa kasus salah satunya adalah Bovine
Tuberculosis. Dalam prakteknya hewan yang terduga penderita tuberculosis
harus diisolasi dan dimusnahkan agar tidak bertindak sebagai sumber
penularan. Deteksi dini pun kami lakukan untuk menghindari resiko
kesahatan konsumen yang mengkonsumsinya. Sehingga kasus Bovine
Tuberculosis ini kami angkat menjadi bahan diskusi dalam mata kuliah
Patologi Sistemik dan Nekropsi kali ini.
1.2 Rumusan Masalah
a.
b.
c.
d.

Apa yang dimaksud dengan Bovine Tuberculosis dan apa penyebabnya?


Bagaimana penularan dan patogenesa Bovine Tuberculosis?
Bagaimana gejala klinis dan cara diagnosa Bovine Tuberculosis?
Bagaimana pencegahan, pengendalian, dan pengobatan Bovine
Tuberculosis?

1.3 Manfaat
a.
b.
c.
d.

Mengetahui pengertian dan penyebab Bovine Tuberculosis


Mengetahui penularan dan patogenesa Bovine Tuberculosis
Mengerahui gejala klinis, dan diagnosa Bovine Tuberculosis
Imengetahui pencegahan, pengendalian, dan pengobatan
Tuberculosis

BAB II

Bovine

PEMBAHASAN
A. Pengertian
Bovine tuberculosis (TB) merupakan jenis TB yang terjadi pada
hewan seperti sapi dan rusa serta beberapa hewan eksotis lainnya seperti
badak dan (non-human) primata. Bovine TB disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium bovis, spesies bakteri yang sangat mirip dengan bakteri yang
umumnya menyebabkan tuberkulosis pada manusia. Bovine TB juga dapat
menjangkit manusia dan bertanggung jawab terhadap lebih kurang 75 kasus
penyakit pada manusia di California setiap tahun (California Departmen of
Public Health. 2014).
Bovine tuberculosis (TB) adalah penyakit kronis yang umum terjadi
pada sapi dan sering mempengaruhi spesies lain termauk manusia (melalui
aerosol atau konsumsi susu yang tidak dipasteurisasi). Di negara maju,
program eradikasi telah berhasil mengurangi dan/atau menghilangkan
penyakit tersebut. Akan tetapi reservoir dari satwa liar menyulitkan program
eradikasi menyeluruh. Di negara-negara kurang berkebang bovine TB masih
umum terjadi sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup
signifikan karena kematian ternak. Dalam beberapa situasi tertentu, penyakit
ini juga menjadi ancaman yang cukup serius bagi spesies yang terancam
punah (The Center for Food Security and Public Health, 2009)
Sapi merupakan host utama untuk M. bovis, tapi mamalia domestik
dan liar lainnya juga dapat terinfeksi. Disebut sebagai maintenance host
termasuk oposum (dan mungkin musang) di Selandia Baru, musang di Inggris
dan Irlandia, bison dan rusa di Kanada, serta kudu dan kerbau Afrika di
Afrika bagian selatan. Rusa ekor putih di Amerika Serikat (Michigan) juga
telah diklasifikasikan sebagai maintenance host; Namun beberapa penelitian
menunjukkan penyebaran penyakit tersebut kemungkinan akibat spillover
dari host utama akibat kepadatan populasi. Spesies yang merupakan spillover
host di antaranya adalah domba, kambing, kuda, babi, anjing, kucing,
musang, unta, llama, serta berbagai spesies ruminansia liar termasuk rusa
gajah, badak, rubah, anjing hutan, mink, primata, oposum, berang-berang,
anjing laut, singa laut, kelinci, beruang, babi hutan, kucing besar (termasuk

singa, harimau, macan tutul, cheetah dan lynx) dan beberapa spesies hewan
pengerat, sedangkan burung tidak rentan (cukup tahan) terhadap M. bovis
(Nishi, 2006). Infeksi eksperimental yang pernah dilakukan pada seekor
merpati yang diinokulasi lisan dan intratrakeal serta gagak yang
diinokulasikan M. bovis melalui intraperitoneal tidak menunjukkan adanya
kerentanan keduanya terhadap M. bovis (Butler dkk, 2001).
B. Etiologi
Bovine

tuberculosis

(TB)

disebabkan

oleh

agen

bakteri

Mycobacterium bovis. Mycobacterium bovis merupakan bakteri berbentuk


batang bulat, berukuran 0.2 0.8 x 1 10 mikron, tidak tahan asam, dan
bersifat fakultatif. Mycobacterium bovis menyebabkan penyakit TBC pada
hewan ternak mamalia yang banyak ditemukan pada sapi ternak. Penyakit
TBC dapat mengakibatkan perubahan pada paru-paru, kelenjar getah bening,
dan bagian lain dari tubuh (Biberstrein dkk, 1987). Bovine TB adalah
penyakit infeksi kronis yang mempengaruhi berbagai host mamalia, termasuk
manusia, sapi, rusa, llama, babi, kucing domestik, karnivora liar (rubah,
anjing hutan) dan omnivora (posum, Mustelids dan hewan pengerat). Berikut
klasifikasi Mycobacterium bovis (Kaneene dkk, 2006):
Kingdom
Divisio
Class
Ordo
Family
Genus
Spesies

:
:
:
:
:
:
:

Bacteria
Mycobacteria
Actinomycetes
Actinomycetales
Mycobacteriaceae
Mycobacterium
Mycobacterium bovis

C. Transmisi
M. bovis dapat ditularkan melalui inhalasi aerosol, melalui pakan
(terkonsumsi), atau menembus kulit melalui luka. Transmisi penyebaran M,
bovis bervariasi tiap spesies. Bovine TB biasanya terjadi pada suatu populasi
ternak, tetapi beberapa spesies lain dapat menjadi host reservoir, dan sebagian
besar spesies dianggap sebagai spillover host. Populasi spillover host tidak
mempertahankan M. bovis dalam jangka waktu yang cukup panjang

(selamanya) dengan tidak adanya maintenance host,tetapi penularan mungkin


trjadi pada populasi mereka (atau spesies lain) untuk sementara waktu.
Beberapa spillover host dapat menjadi maintenance host jika kepadatan
penduduk mereka tinggi (Cousins, 2001).
M. bovis pada ternak berada (terdapat dalam) sekresi pernapasan,
feses, dan susu, selain itu dalam kasus yang lebih parah M. bovis dapat
ditemukan pada urin, cairan vagina atau sperma. Sejumlah besar organisme
dapat keluarkan dalam tahap akhir infeksi. Hal ini dapat menimbulkan host
carrier asimtomatik dan anergik. Pada sebagian besar kasus, M. bovis
ditransmisikan oleh sapi melalui aerosol selama kontak dekat. Beberapa
hewan terinfeksi ketika orgenisme (M. bovis) tertelan, rute tersebut
merupakan rute yang paling umum terjadi pada anak sapi dari induk yang
terinfeksi. Infeksi kulit, kelamin, dan kongenital telah ditemukan tetapi sangat
jarang. Tertelannya organisme (melalui konsumsi) menjadi rute utama
penularan pada babi, musang, kucing dan rusa. Selain itu, kucing dapat
terinfeksi melalui rute pernapasan atau melalui transmisi perkutan melalui
gigitan dan goresan. (non-human) primata biasanya terinfeksi jika menghirup
organisme (transmisi aerosol). Transimi aerososl juga menjadi jalur utama
penyebaran M. bovis pada musang. Musang dengan penyakit yang lebih
parah dapat mengekskresikan M. bovis dalam urin, dan feses (Bibestrein dkk,
1997).
M. bovis dapat menginfeksi manusia, terutama melalui konsumsi
produk susu yang tidak dipasteurisasi, selain itu transmisi M. bovis pada
manusia juga dapat berlangsung melalui aerosol dan melalui (menembus)
kulit. Daging mentah atau setengah matang juga bisa menjadi sumber
penyebaran organisme (Evan dkk, 2007). Penularan antar manusia jarang
terjadi

pada

individu

yang

imunokompeten,

tetapi

tidak

menutup

kemungkinan M. bovis ditularkan dalam kelompok kecil manusia, terutama


pecandu alkohol atau manusia yang terinfeksi HIV (Grange, 2001).
D. Patofisiologi
Menurut Krebs (2006), terhirupnya droplet dari hewan terinfeksi
yang dikeluarkan dari paru-paru merupakan rute infeksi yang paling umum,
meskipun kadang-kadang rute lainnya seperti peroral khususnya melalui susu
yang terkontaminasi juga terjadi. Infeksi intrauterine jarang ditemui. Bacillus
5

yang terhirup akan difagosit oleh makrofag alveolar yang akan membersihkan
infeksi

atau

bahkan

akan

membiarkan

mycobacteria

berproliferasi,

selanjutnya fokus primer dapat terbentuk, dimediasi oleh sitokin terkait


dengan reaksi hipersensitivitas yang terdiri dari makrofag mati dan degenerasi
sel epiteloid yang dikelilingi oleh granulosit, limfosit, dan kemudian sel-sel
giant berinti (multinucleated giant cell). Kaseosa purulen, pusat nekrotik bisa
mengalami kalsifikasi, dan lesi akan dikelilingi oleh jaringan granulasi dan
sebuah kapsul fibrosa akan membentuk tuberkel. Fokus primer dan lesi
sejenis akan terbentuk pada daerah nodulus limfatikus regional dan dikenal
sebagai komplek primer (primary complex). Dalam bentuk penyakit
cemaran, fokus primer dapat ditemukan pada faring atau nodulus limfatikus
mesenterika atau pada umunya dalam tonsil dan intestine. Komposisi seluler
dan penampakan acid-fast bacilli dalam lesi tuberculosis berbeda antara dan
dalam host spesies.

Gambar 2. Paru-paru sapi. hampir keseluruhan perenkim paru diganti dengan nodula pucat
bersambung, dan bermacam ukuran

Kompleks primer jarang menyembuhkan pada hewan dan dapat


berkembang lambat atau cepat. Penyebaran melalui saluran pembuluh darah
dan limfatik dapat digeneralisasi dan berakibat fatal, seperti dalam TB akut.
Lesi nodular bisa terbentuk pada berbagai organ, termasuk pleura,
peritoneum, hati, ginjal, muskulus, kelenjar mammae, saluran reproduksi, dan
SSP. Infeksi berkepanjangan dapat mengakibatkan penyakit kronis, dengan
lesi biasanya memiliki pola yang lebih terlokalisasi distribusinya.
M. bovis bereplikasi secara intraseluler kemudian akan difagosit oleh
makrofag. Sebuah granuloma atau tuberkulum selanjutnya menginfeksi
dinding makrofag dengan jaringan fibrosa. Granuloma biasanya berukuran 1

3 cm, berwarna kuning atau abu-abu, bulat dan kencang. Ketika dilakukan
pengirisan, inti dari granuloma berwarna kuning kering, terdapat kaseosa,
atau debris sel-sel nekrotik. Infeksi dapat menyebar secara hematogenous ke
kelenjar getah bening dan area lain dari tubuh dan dapat membentuk tuberkel
kecil dengan ukuran 2 3 mm. Pembentukan tuberkel kecil ini dikenal
sebagai "military tuberculosis". Lesi histologis terdiri dari sel-sel nekrotik di
tengah tuberkulum dikelilingi oleh sel-sel epitheloid dan giant cell berinti,
semua diselubungi oleh jaringan ikat kolagen. Inti nekrotik sel akan
mengalami kalsifikasi seiring tuberkel ini dewasa (Bibestrein dkk, 1987).
Pada sebagian besar hewan, infeksi ditandai dengan adanya focus
pada beberapa organ (paru-paru, dan kelenjar getah bening). Hewan akan
tetap terinfeksi dalam beberapa bulan atau tahun sebelum menampakkan
gejala klinis yang mencurigakan dan selama periode tersebut sapi/hewan akan
terus-menerus mengeksresikan M.bovis melalui sekresi nasal (Cousins dan
Florisson, 2005).
Kemampuan M.bovis untuk bereplikasi secara intraseluler dalam
sebuah subpopulasi leukosit merupakan sebuah faktor penting untuk merubah
organisme membentuk infeksi persisten. Infeksi akan menstimulasi respon
imun seluler yang sangat kuat dimana pada ternak hal pertama yang dapat
dideteksi kurang lebih satu bulan setelah infeksi. Meskipun respon ini
membantu untuk mengurangi multiplikasi dan penyebaran organismenya, hal
ini mungkin tidak efektif dalam membersihkan infeksi dan mengasilkan
kontribusi stimulasi imun kronis pada keadaan patologi penyakitnya
(Kaneene dkk, 2006).
Respon antibodi terhadap M.bovis pada ternak tidak terlalu bagus.
Variasi yang sangat besar antara hewan yang terinfeksi, keduanya dalam onset
dan spesifitas, telah dicatatkan. Meskipun begitu, bukti menyarankan bahwa
respon antibody sering dikaitkan dengan peyusutan dari respon imun seluler
dan mengacu pada penyakit parah (Kaneene dkk, 2006).
E. Masa Inkubasi
Gejala tuberkulosis pada sapi biasanya berlangsung selama berbulanbulan. Infeksi juga dapat tetap aktif selama bertahun-tahun dan aktif kembali
selama periode stres atau di usia tua. Demikian pula, penyakit yang parah
7

dapat berkembang pada beberapa rusa dalam beberapa bulan infeksi,


sementara rusa lain tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Dalam
eksperimen terhadap anak kucing yang diiinfeksi melalui rute parenteral,
masa inkubasi sekitar tiga minggu (The Center for Food Security and Public
Health, 2009). Masa inkubasi berkisar pada hitungan bulan hingga tahun
dengan tingkat keparahan tergantung pada sistem kekebalan tubuh setiap
individu hewan. Hasil Infeksi pada penyakit kronis; hewan biasanya
menunjukkan tanda-tanda klinis selama masa stres meningkat atau karena
factor usia (Palmer, 2006).
F. Gejala Klinis
Bovine tuberculosis (TB) umumnya merupakan penyakit kronis,
akan tetapi dalam beberapa kasus, TB bersifat akut atau progresif cepat. Awal
infeksi jarang terlihat adanya gejala klinis yang menyertai. Di negara-negara
dengan program eradikasi Bovine TB, peternakan yang sering ditemukan
infeksi diidentifikasi lebih awal dan infeksi simtomatik jarang terjadi. Pada
tahap akhir, gejala umum termasuk kekurusan yang terjadi secara progresif,
demam berfluktuasi ringan, kelemahan dan nafsu makan menurun. Hewan
yang terionfeksi bovine TB dan mengakibatkan keterlibatan paru biasanya
mengalami batuk basah yang lebih buruk (terutama di pagi hari atau saat
cuaca dingin dan exercise) dan mungkin terjadi dyspnea atau tachypnea. Pada
tahap terminal, hewan menjadi sangat kurus danadanya menunjukkan
gangguan pernapasan akut. Pada sejumlah hewan, kelenjar getah bening
retropharyngeal atau kelenjar getah bening lainnya membesar dan dapat
mengalami ruptur. Kelenjar getah bening yang mengalami pembesaran (terlau
besar) juga dapat menghambat pembuluh darah, saluran udara, atau saluran
pencernaan. Jika saluran pencernaan yang terlibat, diare intermiten dan
konstipasi dapat terjadi. Pada sebagian hewan, satu-satunya gejala adalah
adanya abses pada kelenjar getah bening yang terisolasi (tidak diketahui),
dalam hal ini gejala tidak berkembang selama beberapa tahun. Dalam kasus
lain, penyakit ini dapat disebarkan, dengan cepat (Krebs, 2006)
Gejala lain yang ditunjukkan oleh hewan yang terinfeksi bovine TB
di anataranya adalah hewan mengalami penurunan berat badan yang sangat
cepat, nafsu makan menurun, selaput lendir tampak lebih pucat kemudian
8

menjadi warna abu-abu kebiruan pucat. Diagnosis tuberculosis pada sapi


sangat sulit dilakukan bila hanya memperhatikan manifestasi klinis dari
penyakit (Anonymous, 2010). Penyakit kronik pada ternak sapi dapat tetap
berjalan subklinis untuk masa yang lama tetapi akhirnya akan menyebabkan
tanda-tanda bronkopneumonia kronik. Kerusakan jaringan paru yang luas
menyebabkan kesulitan bernapas yang progresif dan kematian. Pada anak
sapi dapat timbul pembengkakan kelenjar getah bening retrofaringeal. Sapi
perah dapat menunjukkan adanya mastitis ringan dengan indurasi progresif
dari kelenjar susunya. Adanya benjolan-benjolan putih (tuberkel) yang
terdapat pada paru-paru (Krebs, 2006).
Gejala yang dapat diamati hanya dalam perkembangan penyakit dan
manifestasinya berhubungan dengan lesi organ. Pada sapi, lesi paling sering
ditemukan di paru-paru atau usus. Tuberkulosis paru disertai dengan batuk
dan tanda-tanda lain dari paru-paru dan pleura. Pada tuberkulosis, organ usus
dapat diamati mengalami diare, konstipasi berganti-ganti, alokasi lendir
dalam tinja bercampur darah atau nanah. Dengan adanya kelenjar getah
bening yang membesar di depan ambing sapi, akan terlihat badan sangat
bergelombang. Pada kasus yang sangat parah dapat pula terjdi penyakit
genetalia seperti orchitis, yaitu peradangan pada testis (Anonymous, 2010).

G. Perubahan Patologis (Post-Mortem)


Bovine tuberculosis (TB) pada pemeriksaan post mortem ditandai
dengan pembentukan granuloma (tuberkel) di mana bakteri telah terlokalisasi.
Granuloma ini biasanya berwarna kekuningan dan terdapat kaseosa (caseous),
caseous-calcareous atau kalsifikasi. Mereka sering diselubungi kapsul.
Dalam beberapa spesies seperti rusa, lesi cenderung menyerupai abses
daripada tuberkel yang khas. Beberapa tuberkel cukup kecil untuk dilewatkan
oleh mata telanjang, kecuali jaringan tersebut dipotong (Cousins, 2001).
Pada sapi, tuberkel dapat ditemukan di kelenjar getah bening,
terutama kepala dan dada. Tuberkel juga banyak terbentuk pada paru-paru,
limpa, hati dan permukaan rongga tubuh. Dalam kasus yang labih parah,
beberapa granuloma kecil dapat ditemukan dalam berbagai organ. Lesi
kadang-kadang ditemukan pada alat kelamin betina, namun jarang terjadi
9

pada alat kelamin jantan. Sebagian besar lesi ditemukan di kelenjar getah
bening yang terkait dengan sistem pernapasan. Namun, lesi kecil sering dapat
ditemukan di paru-paru jika jaringan organ dipotong (Cousins, 2001).

Gambar 3. Necrotic caseous pada paru

H. Diagnosa dan Diagnosa Banding


1. Klinikal
Tuberculosis sulit untuk didiagnosa hanya berdasarkan tandatanda klinis. Di negara maju, beberapa infeksi lainnya juga menunjukkan
gejala yang serupa, sebagian besar didiagnosis dengan tes secara rutin
atau ditemukan di rumah jagal (The Center for Food Security and Public
2.

Health. 2009).
Diagnosa Banding
Diagnosis banding untuk bovine tuberculosis (TB) meliputi
pleuropneumonia menular pada sapi, Pasteurella atau pneumonia
Corynebacterium pyogenes, aspirasi pneumonia, perikarditis traumatis,
limfadenitis caseous atau melioidosis di ruminansia kecil, dan bahkan
cacing hati kutu kronis (Cousins dan Florisson, 2005). Selain itu,
menurut The Center for Food Security and Public Health (2009),
diagnosa banding lainnya adalah pleuritis, pericarditis, chronic
contagious pleuropneumonia, actinobacillosis, mycotic and parasitic
lesions, caseous lymphadenitis johne's disease, tumor kelenjar adrenal
dan lymphomatosis.

3.

Uji Laboratorium
Pada ternak yang masih hidup, tuberculosis biasanya didiagnosis
di lapangan dengan tes TB melalui kulit. Dalam tes ini, tuberkulin
disuntikkan melalui intradermal, hasil positif ditunjukkan dengan reaksi
hipersensitivitas yang lama (pembengkakan). Tes tuberkulin dapat
10

dilakukan dengan menggunakan bovine tuberkulin saja, atau sebagai uji


perbandingan yang membedakan reaksi terhadap M. bovis dari reaksi
terhadap mikobakteri lingkungan (Kaneene dkk, 2006). Di berbagai
negara maji digunakan caudal fold (bovine tuberkulin) tes untuk skrining
awal pada ternak, reaktor diuji ulang dengan tes servikal komparatif.
Pengujian dengan servikal komparatif digunakan untuk skrining awal
ternak di Eropa. Hasil negatif palsu kadang-kadang terlihat pada ternak
yang diuji segera setelah terinfeksi, pada tahap akhir penyakit, pada
hewan dengan respon imun yang buruk dan pada ternak yang baru
disapih (Cousins, 2001).
Diagnosis presumtif juga dapat dilakukan dengan histopatologi
dan / atau demonstrasi mikroskopis acid-fast bacilli. Smear langsung dari
sampel klinis atau jaringan dapat diwarnai dengan pewarnaan Ziehl /
Neelsen, teknik pewarnaan florosens acid-fast atau immunoperoxidase.
Diagnosis ditegakkan dengan isolasi M. bovis pada media kultur selektif.
Mikobakteri tumbuh perlahan-lahan, dan kultur diinkubasi selama 8
minggu, Pertumbuhan biasanya akan terlihat dalam 3 6 minggu.
Identifikasi organisme dapat dikonfirmasikan dengan uji biokimia dan
identifikais

berdasarkan

karakteristik

kultur,

atau

menggunakan

pengujian polymerase chain reaction (PCR). PCR juga dapat mendeteksi


M. bovis langsung dalam sampel klinis. Teknik genetic fingerprinting
(misalnya spoligotyping) dapat membedakan strain yang berbeda dari M.
bovis. Inokulasi hewan jarang dilakukan, tapiteknik tersebut diperlukan
jika histopatologi menunjukkan adanya tuberculosis sedangkan hasil
kultur negatif. Semua prosedur untuk kultur bakteri harus dilakukan
dalam kondisi yang menjamin keamanan biologis, karena bakteri dapat
bertahan hidup dalam apusan heat-fixed atau menjadi aerosol selama
persiapan spesimen (Kaneene dkk, 2006).
Pengujian lain yang umum digunakan sebagai uji tambahan
untuk uji tuberkulin adalah pengujian proliferasi limfosit dan gamma
interferon dan tes darah yang mengukur imunitas seluler. Uji gammainterferon cukup bermanfaat untuk digunakan pada hewan yang sulit
handle dan restrain. Uji proliferasi limfosit jarang digunakan pada sapi,
11

tetapi akan berguna dalam satwa liar dan kebun binatang hewan.
Pengujian titer antibodi enzyme-linked immunosorbent (ELISA) dapat
digunakan untuk menetukan ukuran M. bovis. ELISA dapat digunakan
untuk melengkapi pengujian imunitas seluler pada sapi anergik. Namun,
tes kekebalan humoral umumnya terbatas pada sapi, karena titer tidak
4.

konsisten dan naik hanya dalam tahap akhir infeksi (Evan dkk, 2007).
Sampel yang Digunakan
Bovine tuberculosis (TB) adalah penyakit zoonotik sehingga
sampel harus dikumpulkan, ditangani dan dikirim dengan semua tindakan
pencegahan yang tepat (The Center for Food Security and Public Health.
2009).
Tes tuberkulin adalah metode standar diagnosis dalam ternak
hidup. Sputum dan cairan tubuh lainnya dapat diambil dari hewan hidup
untuk pemeriksaan mikrobiologi. Sampel darah juga dapat diambil untuk
pengujian interferon gamma atau proliferasi limfosit, serta serum dapat
dikumpulkan untuk pengujian ELISA. Sampel yang akan digunakan
untuk uji interferon gamma harus dibawa ke laboratorium segera setelah
koleksi darah, karena pengujian tersebut harus dimulai dalam waktu 24
30 jam setelah koleksi darah dilakukan (Palmer, 2006).
Pada nekropsi, sampel untuk kultur harus dikumpulkan dari
kelenjar getah bening yang abnormal dan organ yang terlibat seperti
paru-paru, hati, dan limpa. Sampel ini harus dikumpulkan pada tempat
yang steril, mycobacteria lingkungan tumbuh lebih cepat dibandingkan
M. bovis dan kontaminasi dengan organisme ini dapat menyebabkan hasil
negatif palsu. Spesimen harus dikirim ke laboratorium dengan cepat,
akan tetapi jika pengiriman harus ditunda, sampel dapat didinginkan atau
dibekukan. Spesimen juga harus dikumpulkan untuk pemeriksaan
histopatologi (Palmer, 2006).

I.

Terapi
Penggunaan obat mungkin tidak dapat diterapkan pada hewan. Obat
yang paling ampuh dalam pengobatan tuberculosis adalah isoniazid. Obat ini
digunakan bersama para-aminosalisilat atau ethambutol dan kadangkala
bersama dengan streptomycin merupakan triple therapy. Pengobatan dapat

12

diberikan selam 3 tahun, namun untuk streptomycin pengobatan dilakukan


untuk beberapa bulan saja (Kaneene dkk, 2006).
Beberapa galur dapat menjadi resisten terhadap streptomycin dan
gangguan terhadap syaraf pendengaran dapat terjadi. Selain itu terdapat pula
galur yang resisten terhadap isoniazid. Rifampin juga merupakan obat yang
cukup efektif dan dapat digabung dengan ioniazid. Penggabungan kedua obat
ini sering diberikan pada hewan penderita di kebun binatang (kaneene dkk,
2006).
J.

Kontrol
Bovine tuberculosis (TB) dapat dikontrol dengan metode test-and
slaughter atau test-and-segregation. Ternak yang terinfeksi diuji ulang secara
berkala, tes tuberkulin umumnya digunakan. Ternak yang terinfeksi biasanya
dikarantina, dan hewan yang telah dikontak dengan reaktor ditelusuri. Hanya
teknik test-and slaughter dijamin untuk memberantas TBC dari hewan
peliharaan. Namun, beberapa negara menggunakan program test-andsegregation selama tahap awal eradikasi, dan beralih ke metode test-and
slaughter di tahap akhir. Setelah pemberantasan hampir selesai pengawasan
dilakukan pada rumah potong dengan menelusuri hewan yang terinfeksi.
Sanitasi dan desinfeksi dapat mengurangi penyebaran agen dalam suatu
peternakan. M. bovis relatif tahan terhadap desinfektan dan membutuhkan
waktu kontak panjang untuk inaktivasi. Disinfektan yang efektif antara lain
5% fenol, larutan iodin dengan konsentrasi tinggi, glutaraldehid dan
formaldehid. Pada lingkungan dengan konsentrasi bahan organik rendah, 1%
sodium hipoklorit dengan waktu kontak yang lama juga efektif. M. bovis juga
rentan terhadap panas lembab dari 121 C (250 F) selama minimal 15 menit
(Cousins, 2001).
Keberadaan M. bovis pada satwa liar sebagai reservoar host
mempersulit upaya pemberantasan. Pemusnahan untuk mengurangi kepadatan
penduduk dapat mengurangi penularan. Namun, setiap situasi harus dinilai
secara individual (Reviriego dan Vermeersch, 2006). Selain itu, tindakan
biosekuriti di peternakan dapat mengurangi interaksi antara satwa liar dan
hewan peliharaan. Vaksin bovine tuberculosis yang efektif saat ini tidak

13

tersedia untuk ternak. Vaksin baru sedang dikembangkan dan diuji, terutama
untuk reservoir satwa liar (Nishi, 2006).
Pengobatan antimikroba telah dicoba di beberapa spesies, tetapi
pengobatan harus dilakukan dalam jangka panjang, akan tetapi perbaikan
secara klinis dapat terjadi tanpa obat bakteriologis. Risiko menyebarnya
organisme dan bahaya bagi manusia serta potensi resistensi obat membuat
pengobatan hingga saat ini masih kontroversial (Cousins, 2001).
K. Kesehatan Masyarakat
Tuberculosis (TB) pada manusia akibat M. bovis sangat langka
ditemukan di negara-negara yang telah menerapkan teknologi pasteurisasi
pada susu seta dengan program pemberantasan TB. Akan tetapi penyakit ini
terus dilaporkan dari daerah di mana penyakit sapi tidak terkontrol. Kejadian
lebih tinggi pada peternak, pekerja rumah potong hewan dan lain-lain yang
berhubungan dengan ternak. Selain itu, manusia dapat terinfeksi oleh paparan
spesies lain, infeksi dilaporkan terjadi dari kambing, anjing laut, rusa ternak
dan badak. Kehidupan liar dapat menjadi sumber infeksi, terutama di negaranegara di mana daging hewan liar masih dikonsumsi (The Center for Food
Security and Public Health. 2009).
Infeksi M. bovis pada manusia tidak menunjukkan gejala. Dalam
kasus lain, penyakit dapat mengembangkan baik segera setelah infeksi, atau
bertahun-tahun kemudian ketika memudarnya imunitas memungkinkan
infeksi untuk aktif kembali. Penyakit ini dapat mempengaruhi kelenjar getah
bening, kulit, tulang dan sendi, sistem genitourinari, meninges atau sistem
pernapasan. Limfadenopati servikal (penyakit kelenjar), yang terutama
mempengaruhi tonsil dan kelenjar getah bening pre-auricular, merupakan
bentuk yang sangat umum TB pada anak yang mengkonsumsi susu terinfeksi.
Dalam beberapa kasus, kelenjar getah bening ini pecah dan mengalir ke kulit,
kemudian penyakit kulit kronis (lupus vulgaris) kadang-kadang terjadi.
Manusia terinfeksi melalui kulit dapat mengakibatkan timbulnya penyakit
kulit lokal. Penyakit paru lebih sering terjadi pada orang dengan infeksi yang
bersifat reaktif. Gejala yang mengiringi termasuk demam, batuk, nyeri dada,
kavitasi dan hemoptisis. Penyakit genitourinaria dapat mengakibatkan gagal
ginjal. Bovine tuberculosis bisa diobati dengan sukses dengan obat
14

antimikroba, namun infeksi yang tidak diobati dapat berakibat fatal (Grang,
2001).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bovine tuberculosis (TB) merupakan jenis TB yang terjadi pada hewan
seperti sapi dan rusa serta beberapa hewan eksotis lainnya seperti badak dan (nonhuman) primata. Penyebabnya adalah bakteri Mycobacterium bovis. Awal infeksi
jarang terlihat adanya gejala klinis yang menyertai, namun pada tahap akhir,
gejala umum dapat terlihat seperti kekurusan yang terjadi secara progresif, demam
berfluktuasi ringan, kelemahan dan nafsu makan menurun. Bovine tuberculosis
(TB) pada pemeriksaan post mortem ditandai dengan pembentukan granuloma
(tuberkel) di mana bakteri telah terlokalisasi. Granuloma ini biasanya berwarna
kekuningan dan terdapat kaseosa (caseous), caseous-calcareous atau kalsifikasi.
Obat yang paling ampuh dalam pengobatan tuberculosis adalah isoniazid. Untuk
kontrolnya, Bovine tuberculosis (TB) dapat dikontrol dengan metode test-and
slaughter atau test-and-segregation.
3.2 Saran
Perlu dilakukan sosialisasi dini kepada masyarakat Indonesia mengenai
bovine tuberculosis ini agar masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan pada
produk pangan asal hewan terutama sapi sehingga resiko terjadinya zoonosis
berkurang.

15

DAFTAR RUJUKAN
Akoso Budi T, 2012, Budi Daya Sapi Perah Jilid II, Airlangga University Press,
Surabaya.
Anonymous, 2010. Tuberkulosis pada Sapi Tidak Diobati. http://www.vegetablegardens.biz/id/cow/tuberculosis-in-cows-not-treated.html.

Diakses

11

Oktober 2014
Biberstein EL, Holzworth J. Tuberculosis. In: Holzworth J, editor. Diseases of the
cat. Philadelphia: WB Saunders; 1987. p. 284-286
Butler KL, Fitzgerald SD, Berry DE, Church SV, Reed WM, Kaneene JB.
Experimental inoculation of European starlings (Sturnus vulgaris) and
American crows (Corvus brachyrhynchos) with Mycobacterium bovis. Avian
Dis. 2001;45:709-18.
California Departmen of Public Health. 2014. Cattle or Bovine Tuberculosis
(Bovine TB). California: Health and Human Services Agency.
Cousins DV, Florisson N. A review of tests available for use in the diagnosis of
tuberculosis in non-bovine species. Rev Sci Tech. 2005;24:1039-59
Cousins DV. Mycobacterium bovis infection and control in domestic livestock.
Rev Sci Tech. 2001;20:7185.
Evans JT, Smith EG, Banerjee A, Smith RM, Dale J, Innes JA, Hunt D, Tweddell
A, Wood A, Anderson C, Hewinson RG, Smith NH, Hawkey PM,
Sonnenberg P. Cluster of human tuberculosis caused by Mycobacterium

16

bovis: evidence for person-to-person transmission in the UK. Lancet.


2007;369:1236-8.
Grange JM. Mycobacterium bovis infection in human beings. Tuberculosis
(Edinb). 2001;81:71-7.
Kaneene JB, Miller R, Meyer RM. Abattoir surveillance: the U.S. experience. Vet
Microbiol. 2006;112:273-82.
Krebs, John R. 2006. Bovine Tuberculosis in Cattle and Bangers. Independent
Scientific Review Group.
Nishi JS, Shury T, Elkin BT. Wildlife reservoirs for bovine tuberculosis
(Mycobacterium bovis) in Canada: strategies for management and research.
Vet Microbiol. 2006;112:325-38.
Palmer, Michelle, Waters WR. 2006. Advances in Bovine Tuberculosis Diagnosis
and Pathogenesis: What Policy Makers Need to Know. Vet Microbiol.
2006;112:181-90.
Putra Widiarsa, Besung Nengah, Mahatmi Hapsari, 2013, Deteksi Antibodi
Mycobacterium tuberculosa bovis pada Sapi di Wilayah Kabupaten Buleleng,
Bangli, dan Karangasem Provinsi Bali, Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan,
Vol 1 no 1:1-6 Ferbruari 2013.
Reviriego Gordejo FJ, Vermeersch JP. Towards eradication of bovine tuberculosis
in the European Union. Vet Microbiol. 2006; 112:101-9.
The Center for Food Security and Public Health. 2009. Bovine Tuberculosis. Iowa:
Iowa State University.

17

PATOLOGI SISTEMIK DAN NEKROPSI


BOVINE TUBERCULOSIS
OLEH :
Anggita Setia

115130100111025

Oktalavia Dwi

115130100111038

Rini Nuraini

115130100111026

Adi Setiabudi

115130100111037

Irma Maratus

115130100111027

Yossy Alvianita

115130100111038

Aprilia N.

115130100111028

Dimas Amri

115130100111039

Wahyu Edy

115130100111029

Ummu Syahidah 115130100111040

Yoga Dwi

115130100111030

Dhoni Satria

115130100111041

Septin M.

115130100111032

Delly Ilham

115130100111042

Fahmi Arief

115130100111033

Rinda Wulandari 115130100111043

Hammam Shardi

115130100111034

Dyah Ayu

115130100111045

Navilla Y. Afanin

115130100111035

Dina Anisa

115130100111046

18

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014

19