Anda di halaman 1dari 3

TRAUMA KEPALA II : FRAKTUR KRANI

BATASAN
Fraktur mengenai tulang kepala, tidak termasuk tulang-tulang wajah,
terdiri dari:
1.

Pembagian anatomis
a.

Fraktur kalvaria.

b.

Fraktur basis kranii.

2.

Pembagian atas dasar sebaran garis fraktur dan letak fragmen


a.

Fraktur linier.

b.

Fraktur komunitif.

c.

Fraktur depresi.

d.

Diastasis sutura.

3.

Pembagian atas dasar kontinuitas kulit


a.

Fraktur tertutup.

b.

Fraktur terbuka.

MEKANISME PATOFISIOLOGI
1.

Gaya langsung benturan mengenai kepala, bentuk fraktur yang


terjadi tergantung pada luasnya permukaan dan lokasi kontak, kecepatan
dan umur pasien.

2.

Garis fraktur dapat juga jauh (remote) dari tempat benturan


yang dikarenakan gaya yang bekerja segaris dengan arah benturan.

GEJALA KLINIS
1.

Fraktur kalvaria sendiri tidak banyak berarti secara klinis, akan


tetapi fraktur tulang kepala menunjukkan bahwa trauma atau gaya yang
bekerja cukup signifikan, maka fraktur tulang kepala dapat disertai memar
otak atau hematoma intrakranial. Bila hal ini terjadi, gejala yang tampak
berupa penurunan kesadaran dan atau gejala neurologis fokal.

2.

Lokal dapat ditemukan :


a.

Benjolan atau jejas pada kulit kepala.

b.

Luka terbuka atau laserasi kulit (fraktur terbuka).

c.

Pada fraktur depresi terbuka dapat tampak Cairan Serebro


Spinal (CSS) atau jaringan otak, kondisi luka dapat bervariasi dari
tajam dan bersih hingga kotor, tidak rata dengan tanda infeksi dan
banyak benda asing.

3.

Fraktur basis kranii menampakkan gejala lokal sebagai berikut :

a.

Fossa anterior.

b.

Hematoma atau ekhimosis periorbital (Brill hematom atau


racoon eyes).

c.

Epistaksis

d.

Rhinorrhea kebocoran

cairan serebrospinalis lewat lubang

hidung.
e.

Buta (lesi saraf optikus).

f.

Anosmia (lesi saraf olfaktorius).

4.

Fossa media
a.

Battle sign (ekhimosis pada daerah mastoid).

b.

Darah dalam meatus akustikus eksternus.

c.

CSS dari telinga atau hidung (bila membran timpani intak).

d.

Tuli (lesi saraf vestibularis).

e.

Lesi saraf fasialis perifer.

PEMERIKSAAN
1.

Klinis
a.

Pemeriksaan trauma kepala seperti di atas.

b.

Pemeriksaan tanda lokal.

2.

Radiologis
a.

X-foto kepala
Sebaran atau arah garis fraktur, kedudukan fragmen, corpus alienum,
lokal dan kedalaman depresi (melebihi ketebalan tulang), aerokel,
darah dalam sinus paranasalis. Proyeksi AP lateral dan bila perlu oblik.

b.

CT scan
Pasien yang berindikasi CT scan tidak perlu dibuatkan foto polos
kepala.

PENYULIT
1.

Cedera otak

: memar, laserasi, ICH dan EDH.

2.

Kejang

3.

Hematoria intrakranial.

4.

Lesi saraf kranialis

: early atau late traumatic epilepsy.


: 1 , II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI,

XII yang tergantung pada lokasi garis fraktur.


5.

Infeksi karena dibridemen terlambat atau tidak sempurna.

6.

Epilepsi.

7.

Fistula CSS.

8.

Cedera vaskular.

9.

Gangguan endokrin/hipofise.

10.

Pneumosefalus.

11.

Growing skull fracture.

PENATALAKSANAAN
1.

Fraktur linier tertutup


Dirawat inap untuk observasi. Tindakan bedah diperlukan bila terjadi
komplikasi hematoma intrakranial.

2.

Fraktur linier terbuka


Tindakan atau perawatan luka dan observasi.

3.

Fraktur depresi tertutup


a.

Tindakan bedah (elevasi), bila secara kosmetik diperlukan.

b.

Bila terjadi kejang-kejang dan bila terdapat gejala neurologis


fokal, patologi intrakranial perlu dipastikan dengan CT scan kepala.

4.

Fraktur depresi terbuka


Tindakan bedah debridement, membersihkan luka, menyingkirkan bendabenda

asing

dan

fragmen

tulang,

menghentikan

perdarahan.

Pengangkatan fragmen dapat dengan kraniektomi atau kraniotomi. Bila


terdapat robekan dura, ikuti sampai seluruh robekan dura tampak, lakukan
inspeksi kemungkinan adanya hematoma atau cedera otak. Penutup
durameter dengan jahitan primer atau duraplasti dengan periosteum atau
fasia. Fragmen tulang dapat dikembalikan bila luka bersih dan belum
melewati waktu 24 jam dengan pemberian antibiotik.
a.

Antibiotika, sefalosporin generasi III sesuai dosis.

b.

Anti konvulsan, diphenylhidantoin sesuai dosis.

5.

Fraktur basis kranii


a.

Konservatif
Bila tanpa komplikasi, antibiotik sefalosporin generasi III diberikan bila
ada otorrhea atau rhinorrhea.

b.
i)

Bedah dilakukan bila ada indikasi :


Otorrhea atau rhinorrhea lebih dari 7 10 hari sesudah trauma.

ii) Meningitis.
iii) Terjadi komplikasi hematoma intrakranial yang signifikan.