Anda di halaman 1dari 20

Anggota kelompok :

Merta Triyadi
Teguh Tresna Puja A.
Purwanto
M.Ridwan
Agung Mulyawan

110110130006
110110130013
110110130014
110110130023
110110130028

Istilah hukum keluarga berasal dari kata Familierecht yang


diterjemahkan dari bahasa belanda, atau dari bahasa inggris
law of familie. Ali Afandi mengatakan bahwa hukum keluarga
diartikan sebagai keseluruhan ketentuan yang mengatur
hubungan hukum yang bersangkutan dengan kekeluargaan
sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan (Afandi, 1986:
93).

Hukum Keluarga adalah peraturan hubungan hukum


yang timbul dari hubungan keluarga Jadi, peraturanperaturan hukum yang ditimbulkan dari adanya
hubungan keluarga, seperti hukum tentang
perkawinan, tentang perwalian dan lain-lain.

Ada dua pokok kajian dalam pengertian/definisi


hukum keluarga, yaitu mengatur hubungan hukum
yang berkaitan dengan kekeluargaan sedarah dan
perkawinan. Kekeluargaan sedarah adalah pertalian
keluarga yang terdapat pada beberapa orang yang
mempunyai leluhur yang sama. Sedangkan
kekeluargaan karena perkawinan adalah pertalian
keluarga yang terdapat karena perkawinan antara
seorang dengan keluarga sedarah dari istri (suaminya).

Tahir Mahmoud mengartikan :hukum keluarga


sebagai prinsip-prinsip hukum yang diterapkan
berdasarkan ketaatan beragama berkaitan dengan halhal yang secara umum diyakini memiliki aspek religius
menyangkut peraturan keluarga, perkawinan,
perceraian, hubungan dalam keluarga, kewajiban
dalam rumah tangga, warisan, pemberian mas kawin,
perwalian, dan lain-lain.

Ruang lingkup kajian hukum keluarga meliputi


peraturan keluarga, kewajiban dalam rumah tangga,
warisan, pemberian mas kawin, perwalian, dan lainlain. Definisi ini sangat luas karena mencakup
warisan, padahal di dalam hukum perdata barat,
warisan merupakan bagian dari hukum benda.
Pendapat lain disebutkan bahwa hukum keluarga
adalah :
Mengatur hubungan hukum yang timbul dari ikatan
keluarga. Yang termasuk dalam hukum keluarga ialah
peraturan perkawinan, peraturan kekuasaan orang tua
dan peraturan perwalian.

1. Asas Monogami (pasal 27 BW; pasal 3 UU Nomor 1 Tahun

1974)
Asas Monogami mengandung makna bahwa seorang pria
hanya boleh mempunyai seorang istri, seorang wanita
hanya boleh mempunyai seorang suami.
2. Asas Konsensual, suatu asas bahwa perkawinan atau
perwalian dikatakan sah apabila teradapat persetujuan
atau konsensus antara calon suami-istri yang akan
melangsungkan perkawinan atau keluarga harus dimintai
persetujuanya tentang perwalian (pasal 28 KUH Perdata;
pasal 6 UU Nomor 1 Tahun 1974).
3. Asas Persatuan Bulat, suatu asas dimana antara suami
isteri terjadi persatuan harta benda yang dimilikinya (pasal
119 KUH Perdata).

4. Asas Proposional, suatu asas di mana hak dan

kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan


kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan di
dalam pergaulan masyarakat (pasal 31 UU Nomor 1 Tahun
1874).
5. Asas Tak Dapat Dibagi-Bagi, suatu asas bahwa tiap-tiap
perwalian hanya terdapat satu wali (pasal 331 KUH
Perdata). Pengecualian dari asas ini adalah :
- Jika perwalian itu dilakukan oleh ibu sebagai orang tua
yang hidup paling lama maka kalau ia kawin lagi, suaminya
menjadi wali serta/wali peserta (pasal 351 KUH Perdata).
- Dan jika sampai ditunjuk pelaksana pengurusan yang
mengurus barang-barang dari anak dibawah umur diluar
Indonesia (pasal 361 KUH Perdata).

1. Hak dan kewajiban antara suami-istri;


2. Hak dan kewajiban antara orang tua dengan anaknya;
3. Hak dan kewajiban antara anak dengan orang tuanya

manakala orang tuanya telah mengalami proses penuaan.


Hak dan kewajiban antara suami-istri adalah hak dan
kewajiban yang timbul karena adanya perkawinan antara
mereka. Hak dan kewajiban suami istri diatur dalam pasal
32 sampai pasal 36 UU Nomor1 Tahun 1974. Hak dan
kewajiban antara suami-istri adalah sebagai berikaut:

1. Menegakkan rumah tangga.


2. Keseimbangan dalam rumah tangga dan pergaulan

masyarakat.
3. Suami istri berhak melakukan perbuatan hukum.
4. Suami istri wajib mempunyai tempat kediaman yang
tetap.
5. Suami istri wajib saling mencintai, hormat
menghormati, setia, dan member bantuan lahir batin yang
satu kepada yang lain.
6. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala
sesuatu keperluan rumah tangga sesuai dengan
kemampuanya.
7. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaikbaiknya.

1. Orang tua wajib memelihara dan mendidik anak anak

mereka sebaik-baiknya. Kewajiban orang tua berlaku


sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri (pasal 45
ayat (1) dan ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974).
2. Anak wajib menghormati orang tua dan menaati
kehendak mereka yang baik (pasal 46 ayat (1) UU Nomor 1
Tahun 1974).
3. Anak wajib memelihara dan membantu orang tuanya,
manakala sudah tua (pasal 46 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun
1974).
4. Anak yang belum dewasa, belum pernah
melangsungkan perkawinan, ada di bawah kekuasaan
orang tua (pasal 47 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974).
5. Orang tua mewakili anak di bawah umur dan belum
pernah kawin mengenai segala perbuatan hukum di dalam
dan di luar pengadilan (pasal 47 ayat (2) UU Nomor 1
Tahun 1974).

Pernikahan usia dini seperti menjadi tren di

Gunungkidul yogyakarta. Dari tahun ke tahun jumlah


dispensasi kawin yang diajukan selalu melonjak.
Dari data yang dihimpun dari Pengadilan Agama
Wonosari, pada 2008 ada 19 dispensasi kawin yang
diajukan. Jumlah itu terus meningkat tajam seiring
bergantinya tahun. 2009 ada 60 dispensasi, 2010 ada
120 dispensasi, 2011 ada 145 dispensasi, 2012 ada 172
dispensasi.

Hingga pertengahan 2013 tercatat hampir 100


permohonan dispensasi kawin. Kebanyakan dispensasi
diajukan karena terjadi kehamilan di luar nikah. Yang
tergolong pernikahan dini yakni untuk wanita di
bawah 16 tahun dan laki-laki di bawah 19 tahun.
Alasan mereka meminta dispensasi kawin mayoritas
karena sudah hamil duluan, papar Hakim Pengadilan
Agama Wonosari, Muhamad Dihan, Selasa (2/7/2013).

Terlanjur hamil, 100 pasangan belasan tahun ajukan


dispensasi. Kasus yang terjadi di Jogja ini cukup
menggemparkan. Jika tinjau dari hukum islam maka
kasus hamil diluar nikah ini disebut zina.
Allah Berfirman dalam QS Al Israa : 32 "Dan janganlah
kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu
adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburukburuk jalan (yang ditempuh oleh seseorang) Pelaku
zina ada yang berstatus telah menikah (al-Muhshn)
dan ada pula yang belum menikah (al-Bikr).

Dalam kasus ini pelaku berstatus al bikr dan hukumam


yang di jatuhkan kepada pelaku berdasarkan hukum islam
adalah dicambuk seratus kali dan ditambah pengasingan
rumah (Ijtihad Ulama Al Wazir). Selanjutnya, dalam kasus
tersebut juga adanya perkawinan dalam keadaan hamil.
Dalam hukum islam, perkawinan dalam keadaan hamil
adalah haram yang esensi hukumnya berarti tidak boleh
dilaksanakan. Allah Berfirman dalam QS At Talaq : 4
sedangkan perempuan-perempuan yang hamil waktu iddah
mereka itu sampai mereka melahirkan kandungannya.. dan
salah satu larangan perkawinan adalah jika perempuan
dalam masa iddah. Lalu untuk batasan menikah dalam
Hukum islam tidak ada patokan dengan umur melainkan
baligh yang ditandai dengan ciri tertentu.

Jika ditinjau dari Hukum Positif Indonesia, dalam


pasal 6 ayat 2 UU No 1 /1974 bahwa untuk
melangsungkan perkawinan seseorang yang belum
mencapai usia 21 tahun harus mendapat izin orang
tua. Lalu mengenai dispensasi perkawinan dalam
Pasal 7 ayat (1) dan (2) UU No 1/1974 yang berbunyi
Perkawinan hanya dapat diizinkan jika pihak pria
sudah mencapai 19 tahun dan pihak wanita sudah
mencapai umur 16 Tahun. Dalam hal penyimpangan
pasal (1) pasal ini dapat dimintai dispensasi kepada
pengadilan atau pejabat lain yang di tunjuk oleh kedua
orang tua pihak pria maupun pihak wanita.

Selanjutnya mengenai kawin hamil di dalam Bab VIII


Kawin Hamil Pasal 53 Ayat (1) (2) & (3) Buku Ke I
Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa Seorang
wanita hamil di luar nikah, dapat di kawinkan dengan
pria yang menghamilinya (1); Perkawinan dengan
wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat
dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran
anaknya (2); Dengan dilangsungkannya perkawinan
pada saat hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang
setelah anak yang dikandung lahir (3)

Setelah dijelaskan hukum keluarga berasal dari


terjemahan kata familierecht (belanda) atau law of
familie (inggris). Istilah keluarga dalam arti sempit
adalah orang seisi rumah, anak istri, sedangkan dalam
arti luas keluarga berarti sanak saudara atau anggota
kerabat dekat. Dan adapun hukum kekeluargaan
menurut hukum perdata adalah aturan yang mengatur
mengenai keluarga,yang mana di dalam keluarga
tersebut banyak mengatur masalah perkawinan,
hubungan dan hak serta kewajiban suami istri dalam
sebuah rumah tangga, keturunan, perwalian,
pengampuan.

Sedangkan Ruang lingkup dalam hukum keluarga itu


meliputi: perkawinan, perceraian, harta benda dalam
perkawinan, kekuasaan orang tua, pengampuan, dan
perwalian. Namun di dalam bagian hukum keluarga
hanya difokuskan pada kajian perkawinan, perceraian,
dan harta benda dalam perkawinan.