Anda di halaman 1dari 11

Bab

5
Pemanfaatan Ruang

ung
Ged

)
Isola
a
l
l
i
(V
UPI
t
a
r
to
Rek

Pemanfaatan Ruang

Gedung Rektorat UPI


Jl. Dr. Setiabudi

74

ntuk mewujudkan rencana tata ruang yang telah dirumuskan


bagi pengembangan dan penataan Kota Bandung, maka
kebijakan dan rencana tata ruang tersebut perlu dijabarkan lebih
lanjut ke dalam pola penatagunaan tanah, air dan udara, program
pembangunan,
tahapan
pembangunan
dan
sumber
pembiayaannya.

3. Penguasaan tanah setelah penetapan rencana tata ruang dapat


diberikan haknya apabila penggunaan dan pemanfaatan
tanahnya sesuai dengan rencana tata ruang.
4. Penguasaan tanah setelah penetapan rencana tata ruang tidak
diberikan haknya
apabila penggunaan dan pemanfaatan
tanahnya tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

5.1 Pola Penatagunaan Tanah, Air dan Udara

Dalam hubungannya dengan pemanfaatan tanah, pemegang hak


atas tanah yang secara sukarela melakukan penyesuaian
pemanfaatan tanah dapat diberikan insentif. Sedangkan pemegang
hak atas tanah dan atau pemakai tanah negara yang belum
melaksanakan penyesuaian pemanfaatan tanahnya dapat
dikenakan disinsentif.

Penatagunaan tanah yang dimaksud disini adalah diselenggarakan


terhadap bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan atau
tanah negara dengan tetap mengakui hak-hak atas tanah yang
sudah ada. Hak dan Kewajiban dalam penguasaan tanah adalah:
1. Pemegang hak atas tanah wajib menggunakan tanah dan dapat
memanfaatkan tanah sesuai rencana tata ruang, serta
memelihara tanah dan mencegah kerusakan tanah.
2. Penguasaan tanah yang sudah ada haknya sebelum adanya
penetapan rencana tata ruang tetap diakui haknya.

Pengelolaan penguasaan dan pemanfaatan tanah dapat dilakukan


melalui penataan kembali, upaya kemitraan, penyerahan dan
pelepasan hak atas tanah kepada negara atau pihak lain dengan
penggantian sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Pengelolaan penguasaan dan pemanfaatan tanah tersebut diatur
dalam berbagai pedoman, standar dan kriteria teknis.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Villa Isola

Pemanfaatan Ruang

Pemanfaatan Ruang
5.1.1 Pola Penatagunaan Tanah di Kawasan Lindung

5.1.2 Pola Penatagunaan Tanah di Kawaasan Budidaya

Dalam hal penguasaan tanah di kawasan lindung, ketentuannya


adalah sebagai berikut:
1. Penguasaan pada bidang-bidang tanah yang belum dilekati hak
atas tanah pada kawasan lindung dapat diberikan hak atas
tanah, kecuali pada kawasan hutan.
2. Penguasaan pada bidang-bidang tanah yang belum dilekati hak
atas tanah pada kawasan cagar budaya dapat diberikan hak
atas tanah tertentu sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, kecuali lokasi situs.
3. Penguasaan tanah pada kawasan yang ditetapkan berfungsi
lindung yang dikuasasi oleh masyarakat yang pemanfaatan
tanahnya tidak sesuai dengan rencana tata ruang disesuaikan
melalui penyelenggaraan penatagunaan tanah.
4. Penguasaan tanah pada bidang-bidang tanah yang berada di
sempadan danau buatan, sungai, dan/atau jaringan prasarana
lainnya, penggunaan dan pemanfaatan tanahnya harus
memperhatikan kepentingan umum dan terbuka untuk umum
serta kelestarian fungsi lingkungan.
5. Penguasaan tanah yang di atas dan atau di bawah bidang
tanahnya dilakukan pemanfaatan ruang, tetap diakui sepanjang
sesuai dengan rencana tata ruang.

Untuk penguasaan tanah di kawasan budidaya, ketentuannya


adalah:
1. Penguasaan tanah dalam kawasan budidaya harus sesuai
dengan sifat pemberian hak, tujuan pemberian hak dan
rencana tata ruang.
2. Penguasaan tanah yang dikuasai oleh masyarakat yang
penggunaan dan pemanfaatan tanahnya tidak sesuai dengan
rencana tata ruang disesuaikan melalui penyelenggaraan
penatagunaan tanah.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Penggunaan tanah di dalam kawasan lindung harus sesuai dengan


fungsi lindung. Adapun ketentuan pemanfaatan tanah dalam
kawasan lindung adalah:
1. Di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan
budidaya apapun, kecuali pembangunan prasarana vital
dengan luas areal maksimum 2% dari luas kawasan lindung.
2. Di dalam kawasan non-hutan yang berfungsi lindung
diperbolehkan kegiatan budidaya secara terbatas dengan tetap
memelihara fungsi lindung kawasan yang bersangkutan serta
wajib melaksanakan upaya perlindungan terhadap lingkungan
hidup.
3. Kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung dan
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, serta
dapat mengganggu fungsi lindung harus dikembalikan ke fungsi
lindung secara bertahap sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Ketentuan pemanfaatan tanah dalam kawasan budidaya adalah:


1. Pemanfaatan tanah yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang tidak dapat ditingkatkan pemanfaatannya.
2. Pemanfaatan tanah sebagaimana dimaksud pada huruf a harus
disesuaikan dengan rencana tata ruang.
3. Pemanfaatan tanah di kawasan budidaya yang belum diatur
dalam rencana rinci tata ruang dilaksanakan dengan
mempertimbangkan kriteria dan standar pemanfaatan ruang.
4. Penyesuaian pemanfaatan tanah sebagaimana dimaksud pada
point 3 di atas dilaksanakan melalui penyelenggaraan
penatagunaan tanah.
5. Kegiatan dalam rangka pemanfaatan ruang di atas dan atau di
bawah tanah yang tidak terkait dengan penguasaan tanah
dapat dilaksanakan apabila tidak mengganggu penggunaan dan
pemanfaatan tanah yang bersangkutan.
6. Kegiatan dalam rangka pemanfaatan ruang di atas dan atau di
bawah tanah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.
5.1.3 Pola Penatagunaan Air
Air sebagai sumberdaya mempunyai fungsi dan kedudukan yang
sangat strategis. Ketersediaan air, baik air permukaan maupun air
tanah untuk menopang seluruh aktivitas kehidupan mahkluk hidup
adalah tidak tak terbatas. Air baku permukaan dan air tanah, serta
sumber air tidak dapat dikuasai oleh perorangan atau badan
usaha. Ketentuan dalam pemanfaatan air adalah:
1. Masyarakat dan badan usaha dapat memanfaatkan air baku
permukaan dan air tanah sesuai peraturan perundangan yang
berlaku.

2. Masyarakat dan badan usaha wajib memelihara kualitas air


baku permukaan dan air tanah.
3. Masyarakat dan badan usaha dilarang mencermari air baku
dan badan air sungai dan danau di atas ambang batas yang
ditetapkan dalam peraturan perundangan yang berlaku.
5.1.4 Pola Penatagunaan Udara
Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan
/atau ruang lautan dalam wilayah negara dan melekat pada bumi,
di Republik Indonesia mempunyai yuridiksi penuh. Kota Bandung
mempunyai kewenangan dalam hal penataagunaan udara sampai
batas-batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundangundangan. Ruang udara tidak dapat dikuasai oleh perseorangan
atau badan usaha
Ketentuan pemanfaatan udara adalah:
1. Masyarakat dan badan usaha wajib memelihara kualitas udara.
2. Masyarakat dan badan usaha dilarang mencemari udara di atas
ambang batas yang ditetapkan dalam peraturan perundangan
yang berlaku.
3. Pemanfaatan ruang udara diatas tanah yang dikuasai
masyarakat dan badan usaha harus seijin pemilik hak atas tanah
yang bersangkutan.
5.2 Program Pembangunan
Dari berbagai strategi dan kebijaksanaan spasial yang berupa
rencana tata ruang, perlu disusun program-program
pembangunan sehingga dapat ditindaklanjuti menjadi programprogram pembangunan kota melalui prosedur formal perencanan
pembangunan yang ada dan akhirnya diterjemahkan dalam
proyek-proyek dan pelaksanaan kegiatan.
5.2.1 Program Pengembangan Struktur Tata Ruang
Di setiap pusat primer dan pusat sekunder perlu dilengkapi
ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana yang sesuai dengan
skala pelayanannya masing-masing. Hal ini guna mewujudkan
keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antarwilayah
pengembangan kota. Pengembangan sistem pusat dilakukan
berdasarkan dua kriteria, yaitu pusat kegiatan yang dikembangkan
dan pusat kegiatan yang dikendalikan. Pusat kegiatan yang
75

Pemanfaatan Ruang

Program pengembangan pusat primer dan pusat sekunder adalah:


1. Penataan pusat lama (inti pusat kota dan sekitarnya).
2. Pengembangan dan penataan pusat baru (Gedebage dan
sekitarnya).
3. Pengembangan dan penataan pusat sekunder Setrasari,
Sadang Serang, Kopo Kencana, Turangga, Arcamanik dan
Margasari.
Program penataan Inti Pusat Kota (alun-alun dan sekitarnya)
dilaksanakan melalui kegiatan berikut ini:
1. Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.
2. Penyusunan Panduan Rancang Kota.
3. Peremajaan kota dan revitalisasi fungsi kegiatan.
4. Pengendalian kegiatan komersial/perdagangan, mencakup
pertokoan, pusat belanja, dan sejenisnya.
5. Pengendalian kegiatan jasa dan perkantoran skala
internasional, nasional, dan regional, yang meliputi jasa
keuangan, jasa profesi, jasa kontraktor, jasa konsultansi, dan
jasa pariwisata.
6. Pengembangan Mesjid Agung.
7. Penataan Alun-alun kota.
8. Pelestaraian bangunan dan kawasan bersejarah.
Adapun program penataan pusat primer Gedebage dan
sekitarnya, dilakukan melalui kegiatan-kegiatan:
1. Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.
2. Penyusunan Panduan Rancang Kota.
3. Pembangunan danau buatan minimal seluas 109 Ha.
4. Pengembangan kegiatan perdagangan skala nasional dan
regional.
5. Pengembangan kegiatan jasa komersial skala internasional,
nasional, wilayah dan kota.
6. Pembangunan stadion olahraga skala internasional minimal
seluas 80 Ha.
7. Pengembangan ruang terbuka hijau minimal 43,6 Ha.

76

8. Pengembangan pusat kegiatan wisata dan rekreasi minimal 36


Ha
9. Pembangunan terminal bus terpadu seluas 20 ha, yang terdiri
dari terminal penumpang dan terminal barang.
10. Pengembangan pergudangan dan terminal peti kemas.
11. Pengembangan kegiatan industri kecil berwawasan lingkungan.
12. Promosi guna menarik investor untuk membangun Pusat
Primer Gedebage.

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan


memperhatikan fungsi lindung, kawasan yang bersangkutan, dapat
dilakukan eksplorasi mineral dan air tanah serta kegiatan lain yang
berkaitan dengan pencegahan bencana alam. Apabila ternyata di
Kawasan Lindung terdapat indikasi adanya sumber daya mineral,
kandungan air tanah, atau kekayaan lainnya yang bila diusahakan
dinilai amat berharga bagi Pemerintah, maka kegiatan budidaya di
Kawasan Lindung tersebut dapat diizinkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Program untuk pengembangan dan penataan pusat sekunder


dilakukan melalui kegiatan:
1. Pengembangan perdagangan eceran, grosir, pasar dan
sejenisnya skala bagian wilayah kota.
2. Pengembangan perkantoran jasa skala bagian wilayah kota.
3. Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan atau
Rencana Teknik Ruang Kota atau Panduan Rancang Kota tiap
pusat sekunder yang belum ditata.

Untuk mewujudkan proporsi Kawasan Lindung sebesar 10%,


program pengembangan Kawasan Lindung di Kota Bandung
adalah sebagai berikut:
1. Pengukuhan Kawasan Lindung, melalui kegiatan:
a. Penunjukan Kawasan Lindung baik yang merupakan hutan
maupun non hutan.
b. Penataan batas Kawasan Lindung.
c. Pemetaan Kawasan Lindung.
d. Penetapan Kawasan Lindung.
e. Penguasaan Kawasan Lindung.
2. Rehabilitasi dan konservasi lahan di Kawasan Lindung guna
mengembalikan dan meningkatkan fungsi lindung, melalui
kegiatan penghijauan di seluruh Kawasan Lindung.
3. Pengamanan dan pengendalian lahan di Kawasan Lindung
melalui kegiatan pengawasan, pengamanan dan pengaturan
pemanfaatan serta penguasaan sumberdaya di seluruh
Kawasan Lindung.
4. Pengembangan pola insentif dan disinsentif pengelolaan lahan
di Kawasan Lindung dilakukan melalui kegiatan pengembangan
dana lingkungan di DAS.

Program untuk penataan WP dilakukan melalui kegiatan


Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota, peraturan
pembangunan dan standar teknis.
Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan
pembangunan antarbagian wilayah kota, maka setiap pusat primer
dan sekunder perlu didukung oleh ketersediaan dan kualitas
sarana dan prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya.
5.2.2 Program Pengembangan Kawasan Lindung
Kawasan Lindung merupakan kawasan yang didalamnya tidak
diperbolehkan melakukan kegiatan budidaya apapun, kecuali
pembangunan prasarana vital dengan luas areal maksimum 2%
dari luas kawasan lindung. Di dalam kawasan non hutan yang
berfungsi lindung diperbolehkan kegiatan budidaya secara terbatas
dengan tetap memelihara fungsi lindung kawasan yang
bersangkutan serta wajib melaksanakan upaya perlindungan
terhadap lingkungan hidup.
Kegiatan budidaya yang sudah ada di Kawasan Lindung dan
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, serta
dapat mengganggu fungsi lindung, maka fungsi sebagai Kawasan
Lindung dikembalikan secara bertahap disesuaikan dengan

5.2.3 Program Pengembangan Kawasan Budidaya


Untuk kawasan budidaya, program pengembangannya terdiri dari
pengembangan kawasan perumahan, kawasan perdagangan,
kawasan jasa, dan kawasan industri serta program pengembangan
infrastruktur transportasi, pengembangan prasarana sumber daya
air, irigasi dan drainase, pengembangan prasarana energi dan
telekomunikasi serta pengembangan prasarana persampahan dan
pemadam kebakaran.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

dikembangkan adalah pusat baru (Gedebage dan sekitarnya) yang


pengembangannya diprioritaskan dalam lima tahun pertama,
sedangkan pusat kegiatan yang dikendalikan adalah inti pusat kota.

Pemanfaatan Ruang
Program pengembangan kawasan perumahan meliputi:
1. Peremajaan perumahan di wilayah Bandung Barat, antara lain
melalui konsolidasi lahan dan dengan pola pengembangan
perumahan secara vertikal.
2. Pengaturan kembali struktur pelayanan fasilitas sosial dan
prasarana dasar lingkungan perumahan di wilayah Bandung
Barat.
3. Pembangunan kembali kota di wilayah Bandung Timur secara
terstruktur dalam satu konsep pengembangan seperti Kasiba
dan Lisiba.
Program pengembangan kawasan perdagangan adalah:
1. Pengaturan dan penataan pasar dan sarana perdagangan
lainnya.
2. Revitalisasi Pasar Induk Gedebage yang terpadu dengan
pengembangan Kawasan Pusat Primer Gedebage.
3. Revitalisasi kawasan Pasar Baru, Pasar Andir, Pasar
Kiaracondong, Pasar Ciroyom, Pasar Ujungberung juga pasarpasar khusus seperti pasar Jatayu, Cikudapateuh, dsb.
4. Relokasi pasar Lingkungan kelurahan/ kecamatan dan
sekitarnya yang dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan tata
ruang kota, yaitu: Pasar Cihaurgeulis, Pasar Kordon, Pasar
Balubur, Pasar Simpang, Pasar Gandok, Pasar Gegerkalong,
Pasar Palasari, Pasar Sukajadi.
5. Pemerataan fasilitas perdagangan.
6. Pengelolaan kegiatan PKL, minimum meliputi ketentuan
pendaftaran PKL resmi, penetapan lokasi dan jenis
usaha/dagangan, hak dan kewajiban, serta besarnya
iuran/retribusi.
7. Pengelolaan ruang publik yang diperuntukan bagi PKL yang
menyangkut luas, lokasi, waktu.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Program pengendalian kawasan perdagangan adalah:


1. Pembatasan pusat perbelanjaan di wilayah Bandung Barat.
2. Pembatasan pertumbuhan perdagangan linier sepanjang jalan
arteri dan kolektor.
3. Penertiban usaha kaki lima (UKL) secara konsisten (jangka
pendek, menengah, panjang).
4. Pembatasan ruang publik yang diperbolehkan dan tidak
diperbolehkan untuk kegiatan pedagang kaki lima.

5. Kewajiban dan insentif sektor formal dalam penyediaan ruang


untuk kegiatan pedagang kaki lima.
Program pengembangan kawasan jasa adalah:
1. Pengoptimalan pengembangan kawasan kantor pemerintahan
skala Kota pada ruas barat Jalan Sukarno-Hatta.
2. Pengembangan kawasan pemerintahan Propinsi Jawa Barat
pada ruas timur Jalan Sukarno-Hatta.
3. Pengembangan kegiatan jasa perkantoran swasta tersebar ke
seluruh bagian kota, terutama diarahkan untuk
mengembangkan pusat sekunder di wilayah Bandung Timur.
Program pengembangan kawasan pendidikan:
1. Pengaglomerasian lokasi pendidikan tinggi di wilayah Bandung
Timur.
2. Pembatasan perkembangan fasilitas pendidikan di wilayah
Bandung Barat dan pengaturan perkembangannya.
3. Pengembangan sarana dan prasarana pendukung pendidikan
di Bandung Timur.
Program pengembangan fasilitas kesehatan:
1. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung pelayanan
kesehatan.
2. Pengembangan fasilitas kesehatan di wilayah Bandung Timur.
3. Pengembangan sarana pengolah limbah rumah sakit.
Program pengembangan industri dan pergudangan:
1. Pengembangan industri kecil dengan dukungan sarana dan
prasarana lingkungan.
2. Pemindahan industri yang tidak berwawasan lingkungan ke
luar Kota Bandung.
3. Pengarahan pengembangan industri berwawasan lingkungan
ke wilayah Bandung Timur.
4. Pengendalian perluasan industri berwawasan lingkungan di
wilayah Bandung Barat.
5. Pembatasan pergudangan di wilayah Bandung Barat dan
mengarahkan pergudangan di wilayah Bandung Timur.
Program pengembangan pariwisata dan rekreasi:
1. Program pelestarian bagi bangunan tua dan bersejarah

2. Pengembangan wisata belanja ke arah Bandung Timur


3. Pengembangan wisata ilmiah yang sudah ada
4. Pengembangan obyek-obyek wisata
5. Pengembangan prasarana pariwisata
6. Pengembangan jasa pariwisata
7. Pengembangan jalur wisata dalam kota
8. Pengembangan angkutan wisata
9. Pengalokasian kegiatan hiburan khusus pada lokasi tertentu
10. Pelarangan pengembangan kegiatan hiburan khusus pada
lokasi sekitar kegiatan peribadatan, pendidikan dan
permukiman penduduk.
Program pengembangan prasarana transportasi dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas, kualitas dan tingkat pelayanan prasarana
transportasi guna mendukung berjalannya sistem pelayanan yang
telah direncanakan. Program pengembangan transportasi jalan
adalah:
1. Peningkatan kapasitas pelayanan sistem jaringan jalan;
penghilangan gangguan sisi jalan.
2. penataan dan peningkatan fungsi jalan.
3. Pembangunan jalan layang pada persimpangan sebidang jalan
raya dengan lintasan jalur kereta api.
4. Pembangunan jalan alternatif dan jalan inspeksi sungai/saluran
yang sebidang.
5. Pembangunan jalan lintas barat-timur, lintas utara-selatan,
lingkar uatara dan jalan bebas hambatan dalam kota.
6. Pembangunan jalan-jalan tembus sebagai jalan alternatif.
7. Penataan persimpangan dan pembangunan simpang susun
pada kawasan yang rawan macet.
8. Pengaturan lintasan dan jadwal angkutan barang dan angkutan
berat.
9. Penetapan kawasan parkir.
10. Pembangunan gedung parkir.
Program pengembangan angkutan umum meliputi:
1. Penataan ulang jumlah dan rute angkutan umum dalam kota.
2. Menyediakan pemberhentian untuk angkutan umum bus
maupun non-bus yang memadai.
3. Pengembangan dan penataan pelayanan angkutan paratransit.

77

Pemanfaatan Ruang

Program pengembangan bandar udara meliputi:


1. Memperpanjang landasan pacu pesawat terbang sesuai
dengan syarat teknis pesawat.
2. Penetapan ketinggian bangunan di sekitar kawasan bandar
udara yang diijinkan.
3. Meningkatkan pelayanan fasilitas terminal penumpang udara.
4. Meningkatkan akses menuju bandar udara melalui penyediaan
angkutan umum yang layak.
Program pengembangan kereta api adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan pelayanan penumpang dan barang di stasiun
kereta api kebon Kawung dan Kiaracondong.
2. Pembangunan terminal tipe A terpadu di Pusat Primer
Gedebage.
3. Penertiban kegiatan yang mengganggu lalu lintas kereta api di
sepanjang jalur kereta api.
4. Perbaikan dan pemeliharaan pintu perlintasan jalan kereta api.
5. Pembangunan perlintasan tidak sebidang pada beberapa
kawasan rawan macet.
Program pengembangan prasarana air baku dan penyediaan air
bersih meliputi pembangunan danau buatan dan tandon-tandon
air serta meningkatkan pelayanan air bersih. Program pelestarian
sumberdaya air meliputi:
1. Pelestarian sumber mata air dan konservasi daerah resapan
air.
2. Penertiban sumber air yang berasal dari sumber air tanah
dalam, terutama yang digunakan oleh industri.

78

Program peningkatan pelayanan air bersih meliputi:


1. Memanfaatkan debit air Sungai Cikapundung, mata air
Cikareo, danau buatan Saguling serta rencana danau buatan di
Kecamatan Cidadap untuk memenuhi kebutuhan air di
wilayah Bandung Barat.
2. Memanfaatkan sumber air baku danau buatan Gedebage dan
Saguling dan/atau sumber air baku lainnya untuk memenuhi
kebutuhan air bersih untuk wilayah Bandung Timur.
3. Mengembangkan kemitraan dengan pihak swasta dan atau
masyarakat dalam memperluas wilayah pelayanan dan
peningkatan kualitas pelayanan air bersih.
4. Bekerjasama dengan Pemerintah Daerah yang berdekatan
dalam penyediaan pasokan air baku.
5. Memperbaiki jaringan pipa air bersih yang ada secara bertahap
dan meningkatkan manajemen operasi dan pemeliharaan
pelayanan air bersih.
Program pengembangan prasarana air limbah adalah:
1. Mengembangkan sistem tangki septik komunal di wilayah
Bandung Timur.
2. Meningkatkan sarana dan prasarana untuk operasi dan
pemeliharaan pengelolaan air limbah.
3. Saluran air limbah, sambungan rumah, interseptor, serta pipa
utama dikembangkan di wilayah Bandung Barat.
4. Saluran limbah terpisah dengan saluran drainase.
5. Pembuangan limbah ke saluran terbuka dan langsung ke
sungai dikendalikan.
6. Mewajibkan pembuatan Instalasi Pengolahan Limbah setempat
untuk kegiatan industri, rumah sakit, hotel dan restoran
sebelum dibuang ke badan perairan.
Program pengembangan prasarana drainase adalah:
1. Membuat rencana induk drainase perkotaan
2. Pembuatan saluran drainase tersier di sisi kiri kanan ruas jalan
lingkungan dipadukan dengan drainase sekunder dan utama
pada tempat-tempat yang belum terlayani
3. Peningkatan kapasitas drainase mikro yang ada
4. Perbaikan sistem drainase pada kawasan banjir dengan sistem
berjenjang terpadu
5. Danau buatan dibangun di daerah genangan banjir di wilayah
Bandung Timur

6. Melaksanakan penertiban jaringan utilitas lain yang


menghambat fungsi drainase
7. Bekerjasama dengan pemerintah daerah terdekat dalam
pengelolaan sumberdaya air
Program pengembangan prasarana persampahan adalah:
1. Penyediaan tempat sampah terpisah untuk sampah organik
dan non-organik.
2. Penentuan lahan-lahan untuk TPS/kontainer yang baru.
3. Rehabilitasi TPS dan kontainer yang rusak.
4. Perluasan TPA Leuwigajah terpadu.
5. Studi kelayakan manajemen pengelolaan sampah terpadu Kota
Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung.
6. Studi kelayakan penggunaan lahan TPA di Pasir Durung untuk
pengelolaan sampah terpadu.
7. Usaha reduksi melalui pengomposan, daur ulang dan
pemilahan antara sampah organik dan non-organik dapat
bekerjasama dengan swasta.
Pengembangan prasarana pemadam kebakaran dilakukan melalui
kegiatan:
1. Pos pemadam kebakaran dibangun sejumlah 24 dengan lokasi
tersebar secara merata di seluruh WP. Pembangunan pos
pemadam kebakaran dilaksanakan dalam beberapa tahap.
Tahap pertama dikembangkan 2 pos pemadam kebakaran,
yaitu:
a. Pos 1 terletak di Jl Sukabumi
b. Pos 2 terletak di Jl Arya Graha
Tahap kedua dikembangkan 14 pos pemadam kebakaran,
yaitu:
a. Pos 3 terletak di sekitar Jl Soekarno Hatta sebelah barat
Pasar Caringin
b. Pos 4 terletak di sekitar Jl Ciroyom
c. Pos 5 terletak di sekitar rumah makan Babakan Siliwangi
d. Pos 6 terletak di dekat PT Pindad di Jl Kiaracondong
e. Pos 7 terletak di sekitar Alun-alun Ujungberung
f. Pos 8 terletak di kelurahan Cibadak
g. Pos 9 terletak di UPI di Jl Setiabudhi
h. Pos 10 terletak di terminal Sadang Serang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

4. Pengembangan dan peningkatan pelayanan/penggunaan


angkutan umum massal yang optimal.
5. Pembangunan terminal tipe A terpadu di gedebage untuk
melayani pergerakan regional ke arah Barat dan Timur serta
pergerakan antar propinsi.
6. Pembangunan terminal tipe B di batas kota untuk melayani
pergerakan antar kota dalam propinsi dengan penetapan lokasi
yang dikoordinasikan dengan pemerintah daerah yang
berbatasan.
7. Penataan ulang dan pengembangan fungsi terminal.
8. Peningkatan fungsi pelayanan terminal yang dipertahankan.

Pemanfaatan Ruang
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Pos 11 terletak di lapangan kuda Arcamanik


Pos 12 terletak di Jl Moch. Toha sekitar Kelurahan Ciateul
Pos 13 terletak di Gedebage dekat Kecamatan Rancasari
Pos 14 terletak di sekitar perumahan Cigondewah
Pos 15 terletak di perumahan Sukajadi
Pos 16 terletak di sekitar Kecamatan Sumur Bandung

Tahap selanjutnya adalah pembangunan 8 pos sisa yang


merupakan pos-pos pembantu untuk membantu pos yang
telah terbangun pada pos tahap I dan tahap II.
2. Pembangunan tandon-tandon air untuk keperluan pemadam
kebakaran
3. Peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana
kebakaran, termasuk hidran kebakaran PDAM
Program pengembangan prasarana energi dan telekomunikasi
meliputi:
1. Mengupayakan peningkatan kualitas pelayanan jaringan listrik
dan telepon di wilayah Bandung Barat
2. Mengarahkan pengembangan jaringan listrik dan telepon ke
wilayah Bandung Timur dengan sistem bawah tanah
3. Pembangunan instalasi baru dan pengoperasian instalasi
penyaluran
4. Pembangunan prasarana listrik yang bersumber dari energi
alternatif
5. Pengembangan fasilitas telekomunikasi umum, seperti telepon
umum dan warung telekomunikasi di lokasi strategis.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Program pengembangan fasilitas sosial dan fasilitas umum


meliputi:
1. Pemeliharaan fasilitas sosial dan fasilitas umum
2. Rehabilitasi fasilitas sosial dan fasilitas umum
3. Peningkatan kualitas fasilitas sosial dan fasilitas umum
4. Pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum baru
5. Relokasi fasilitas sosial dan fasilitas umum yang tidak sesuai
dengan kondisi lingkungan.

5.2.4 Program Pengembangan Daya Dukung dan Daya


Tampung Lingkungan
Untuk meningkatkan daya dukung lingkungan alamiah dan buatan
serta menjaga keseimbangan daya tampung lingkungan Kota
Bandung untuk menjaga proses pembangunan berkelanjutan,
program pengembangan daya dukung dan daya tampung wilayah
adalah sebagai berikut:
1. Pemantauan kualitas lingkungan yang dilakukan melalui
kegiatan:
a. Pemantauan pencemaran pada sungai, anak sungai, dan
kali di kota bandung.
b. Pemantauan kerusakan pada das di kota bandung.
2. Penertiban dan penegakan hokum.
3. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.
4. Pengembangan daya dukung lingkungan buatan melalui:
reboisasi, konservasi, prokasih, pengembangan sumur
resapan, danau buatan dan lain-lain.
5.3 Tahapan Pembangunan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung mempunyai
dimensi waktu pelaksaanaan 10 tahun (2004-2013). Dalam
pelaksanaannya, dilakukan pentahapan pelaksanaan dalam dua
tahap jangka menengah (lima tahun). Tahap pertama adalah dari
tahun 2004 sampai 2008, dan tahap kedua adalah dari tahap
2009 sampai 2013.
A. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Kawasan
Lindung
Pencapaian Kawasan Lindung sebesar 10 % dari luas seluruh
wilayah Kota Bandung dan Pelaksanaan rehabilitasi dan konservasi
lahan dilakukan secara bertahap.
Tahapan pengembangan program efisiensi pemanfaatan sumber
daya alam dan buatan ditentukan dengan kriteria tingkat kerusakan
dan kekritisannya. Prioritas utama adalah yang kritis, kemudian
yang tingkat kerusakannya lebih besar.
Prioritas I : 1) mempertahankan dan memelihara ruang terbuka
hijau yang ada, termasuk penghijauan kawasan
Bandung utara dan pengendalian perkembangan
perumahan liar dan terencana.

2) mengembalikan kawasan terbangun yang


memungkinkan ke fungsi lindung, seperti makam,
kawasan perumahan yang dikonservasi.
Prioritas II : Pembebasan lahan untuk pencadangan kawasan
lindung, terutama pada sempadan sungai dan mata
air.
B. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Kawasan
Budidaya
Tahapan pengembangan kawasan budidaya, secara umum
didasarkan pada indikator/kriteria dukungan pada ekonomi kota
dan pengembangan wilayah.
Tahapan pengembangan prasarana perumahan dan permukiman
didasarkan pada indikator/kriteria kepadatan penduduk dan tingkat
kekumuhan.
Prioritas I : Perumahan kepadatan tinggi di lokasi perumahan
padat/kumuh antara lain sekitar Jalan Tamansari, Jalan
Lebak, dan Jalan Industri Dalam.
Prioritas II : Perumahan kepadatan sedang di wilayah Ujung
Berung dan Gedebage.
C. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Sistem
Transportasi
Tahapan pengembangan sistem transportasi didasarkan pada
kriteria pemecahan persoalan mendesak, pemenuhan kebutuhan
masyarakat, serta dukungan pada ekonomi kota dan
pengembangan wilayah.
Prioritas I : Dalam rangka pengembangan wilayah, yaitu jalan
akses tol Gedebage
dalam rangka peningkatan ekonomi kota, yaitu
perbaikan jalan utama kota dan menghubungkan
pusat-pusat kegiatan ekonomi kota.
Prioritas II : Dalam rangka pengembangan wilayah, yaitu
pembangunan jalan Ciwastra-Bihbul.
D. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Prasarana
dan Sarana Kota
Seperti halnya pengembangan sistem transportasi, pengembangan
prasarana dan sarana kota ini pun didasarkan pada kriteria
pemecahan persoalan mendesak, pemenuhan kebutuhan

79

Pemanfaatan Ruang

5.4 Pembiayaan Pembangunan


Pembiayaan pembangunan untuk pelaksanaan program-program
pemanfaatan ruang dialokasikan dari sumber dana anggaran
Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kota serta
masyarakat dan dunia usaha atau dalam bentuk kerjasama
pembiayaan. Jenis-jenis pembiayaan:
1. Penyediaan barang publik, seperti taman, pasar, rumah sakit,
dan sejenisnya, pemerintah kota dapat bermitra dengan pihak
swasta dan masyarakat.
2. Barang dan pelayanan publik dapat disediakan secara penuh
oleh swasta, seperti sekolah, jasa keuangan dan jasa pelayanan
lainnya.
3. Pemerintah kota dapat mengenakan ongkos atas penyedeiaan
barang publik, yang mencakup jalan, saluran, jembatan,
trotoar, taman, pasar dan pelayanan pemerintah lainnya
dibiayai oleh pemerintah.
4. Pembangunan prasarana harus cost recovery dengan
mengenakan biaya kepada pemakai demi menjamin
kelangsungan penyediaan pelayanan kepada masyarakat.
Untuk meningkatkan kualitas dan kinerja pelayanan puyublik serta
membagi beban pelayanan publik, maka bentuk kerjasama, peran
serta, dan kemitraan antara pemerintah kota, swasta dan
masyarakat harus didorong.
5.5 Insentif dan Disinsentif
Menurut UU No. 24 tahun 1992 Pasal 16 ayat (1), dalam
pemanfaatan ruang dikembangkan perangkat yang bersifat insentif
80

dan disinsentif dengan menghormati hak-hak penduduk sebagai


warga negara. Pengertian insentif adalah pengaturan yang
bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring
dengan tujuan rencana tata ruang. Sedangkan disinsentif adalah
pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau
mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang.
Jenis perangkat/mekanisme insentif dan disinsentif dikelompokkan
menjadi:
1. Pengaturan/regulasi/kebijaksanaan
dikelompokkan
atas:
perangkat yang berkaitan dengan elemen guna lahan seperti
pengaturan hukum pemilikan lahan oleh swasta dan
pengaturan perijinan; perangkat yang berkaitan dengan
pelayanan umum seperti kekuatan hukum untuk
mengembalikan gangguan/pencemaran dan pengaturan
penyediaan pelayanan umum oleh swasta; serta perangkat
yang berkaitan dengan penyediaan prasarana seperti Amdal.
2. Ekonomi/keuangan yang dikelompokkan atas: perangkat yang
berkaitan dengan elemen guna lahan seperti Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB) dan retribusi perubahan pemanfaatan lahan;
perangkat yang berkaitan dengan pelayanan umum seperti
pajak kemacetan, pajak pencemaran, dan retribusi perijinan,
pembangunan, biaya dampak pembangunan; serta perangkat
yang berkaitan dengan penyediaan prasarana seperti user
charge, development exaction dan initial cost for land
consolidation.
3. Pemilikan/pengadaan langsung oleh pemerintah yang
dikelompokkan atas: perangkat yang berkaitan dengan elemen
guna lahan seperti penguasaan lahan oleh pemerintah;
perangkat yang berkaitan dengan pelayanan umum seperti
pengadaan pelayanan umum oleh pemerintah (air bersih, air
limbah, listrik, telepon, angkutan umum); serta perangkat yang
berkaitan dengan penyediaan prasarana seperti pengadaan
infrastruktur dan pembangunan fasilitas umum oleh
pemerintah.
Insentif khusus akan diberikan untuk mendorong pengembangan
pusat primer Gedebage, pengembangan pusat sekunder Sadang
Serang, Setrasari dan Arcamanik, pembangunan terminal terpadu,
serta pelestarian bangunan dan kawasan. Sedangkan disinsentif
khusus akan dikenakan untuk membatasi pembangunan di wilayah

Bandung Utara dan mengendalikan pembangunan di wilayah


Bandung Barat.
Rencana insentif dan disinsentif:
1. Dalam rangka mengembangkan pusat primer Gedebage
beberapa insentif yang akan diterapkan adalah: pembentukan
badan pengelola untuk mengembangkan kawasan,
pembangunan akses tol Gedebage sebagai prioritas,
pembangunan danau yang sekaligus sebagai tempat rekreasi
oleh pemerintah, memberi kemudahan perijinan perubahan
site plan bagi pengembang yang telah memiliki ijin
sebelumnya, dan promosi guna menarik investor untuk
membangun terminal.
2. Dalam rangka mengembangkan pusat sekunder Sadang
Serang dan Setrasari beberapa insentif yang akan diberikan
adalah: memberikan kemudahan perijinan, pemberian
keluwesan batasan KLB dan ketinggian bangunan, serta
pemberian pelayanan jaringan utilitas air dan drainase.
3. Dalam rangka mengembangkan pusat sekunder Arcamanik
beberapa insentif yang akan diberikan adalah: pembangunan
jalan akses menuju kawasan, memberikan kemudahan
perijinan, pemberian keluwesan batasan KLB dan ketinggian
bangunan, serta pemberian pelayanan jaringan utilitas air dan
drainase.
4. Dalam rangka mengembangkan menjaga kelestarian bangunan
bersejarah yang ditentukan insentif yang akan diberikan adalah:
bantuan teknis perubahan fisik bangunan dalam batas tertentu
dan ijin perubahan fungsi bangunan dalam batas tertentu
selama fisik bangunan tetap.
5. Dalam rangka mengendalikan perkembangan di Bandung
Utara beberapa diinsentif yang akan diberikan adalah: tidak
dikeluarkan ijin lokasi baru, tidak dibangun akses jalan baru
melalui kawasan Punclut, dan tidak dibangun jaringan
prasarana baru kecuali prasarana vital Kota Bandung yang
meliputi system jaringan listrik, telepon, cek dam, tandon air
atau bendungan, pemancar elektronik, dll.
6. Dalam rangka mengendalikan perkembangan di sekitar pusat
kota beberapa diinsentif yang akan diberikan adalah:
pengenaan pajak kegiatan yang relatif lebih besar daripada di
bagian wilayah lain dan pengenaan denda terhadap kegiatan
yang menimbulkan dampak negatif bagi publik seperti
gangguan keamanan, kenyamanan dan keselamatan.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

masyarakat, serta dukungan pada ekonomi kota dan


pengembangan wilayah.
Prioritas I : 1) pemeliharaan kondisi prasarana dasar perkotaan
yang ada.
2) pemeliharaan kondisi sarana dasar perkotaan.
3) perbaikan prasarana dasar perkotaan yang ada.
4) perbaikan sistem drainase kota secara terpadu,
terutama wilayah Bandung lama.
Prioritas II : 1) perluasan/pengembangan prasarana dasar di
wilayah Ujung Berung dan Gedebage.
2) pembangunan kawasan Gedebage.

Pemanfaatan Ruang
Tabel 5.1
Tahapan Pelaksanaan dan Indikasi Program Pembangunan Kota Bandung
dalam Pengembangan Prasarana Kota Tahun 2004 - 2013

1.

2.

3.

4.

Komponen Rtrw
Pengembangan
Prasarana Air Baku
Pelestarian
Sumberdaya Air

Sistem Prasarana Air


Bersih

Sistem Prasarana Air


Limbah

Indikasi Program

Lokasi

Tahap Pelaksanaan
2004 - 2008
2008 - 2013

Sumber Dana

Pelaksana Program

Pembangunan Danau Buatan dan tandon-tandon air

Wilayah Gedebage dan


daerah rawan banjir

xxxxxxxx

APBD, Investor

Bappeda, Dinas Pengairan

Meningkatkan pelayanan air bersih

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

APBD, Investor

PDAM

Pelestarian sumber mata air dan konservasi daerah resapan air

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD, Bantuan Pusat

Bappeda, BPLH, Dinas


Pertanian

Penertiban penggunaan sumber air yang berasal dari sumber air


tanah dalam, terutama yang digunakan oleh industri

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD

Bappeda, BPLH

Memanfaatkan debit air Sungai Cikapundung, mata air Cikareo,


danau buatan Saguling serta rencana danau buatan di Kecamatan
Cidadap untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah Bandung Barat

Wilayah Bandung Barat

xxxxxxx

xxxxxxxx

APBD, Investor

PDAM

Memanfaatkan sumber air baku danau buatan Gedebage dan


Saguling dan/atau sumber air baku lainnya untuk memenuhi
kebutuhan air bersih untuk wilayah Bandung Timur

Wilayah Bandung Timur

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD, Investor

PDAM

Mengembangkan kemitraan dengan pihak swasta dan atau


masyarakat dalam memperluas wilayah pelayanan dan peningkatan
kualitas pelayanan air bersih.

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

APBD, Investor

PDAM

Bekerjasama dengan Pemerintah Daerah yang berdekatan dalam


penyediaan pasokan air baku.

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD, Investor

PDAM

Memperbaiki jaringan pipa air bersih yang ada secara bertahap dan
meningkatkan manajemen operasi dan pemeliharaan pelayanan air
bersih

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD, Investor

PDAM

Mengembangkan sistem tangki septik komunal di wilayah Bandung


Timur

Bandung Bagian Timur

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD

PDAM

Meningkatkan sarana dan prasarana untuk operasi dan


pemeliharaan pengelolaan air limbah

Seluruh pelayanan Kota


Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD

PDAM

Saluran air limbah, sambungan rumah, interseptor, serta pipa


utama dikembangkan di wilayah Bandung Barat

Seluruh pelayanan Bandung


Barat

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD

PDAM

Saluran limbah terpisah dengan saluran drainase

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD

PDAM, Dinas Pengairan

Mengendalikan pembuangan limbah ke saluran terbuka dan yang


langsung ke sungai

Seluruh Pelayanan Kota


Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD

PDAM, BPLH

Mewajibkan pembuatan Instalasi Pengolahan Limbah setempat


untuk kegiatan industri, rumah sakit, hotel dan restoran sebelum
dibuang ke badan perairan.

Rumah sakit, industri, hotel,


dan restoran di Kota
Bandung

xxxxxxxx

APBD, Investor

PDAM, BPLH

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

No

81

Pemanfaatan Ruang

5.

6.

7.

82

Komponen Rtrw
Sistem Prasarana
Drainase

Sistem Prasarana
Persampahan

Sistem Pemadam
Kebakaran

Indikasi Program

Lokasi

Pembuatan saluran drainase tersier di sisi kiri kanan ruas jalan


lingkungan dipadukan dengan drainase sekunder dan utama pada
tempat-tempat yang belum terlayani

Seluruh Kota Bandung

Peningkatan kapasitas drainase mikro yang ada

Seluruh Kota Bandung

Perbaikan sistem drainase pada kawasan banjir dengan sistem


berjenjang terpadu

Seluruh Kota Bandung

Pengembangan sistem berjenjang setempat

Wilayah Kecamatan

Danau buatan dibangun di daerah genangan banjir di wilayah


Bandung Timur

Tahap Pelaksanaan
2004 - 2008
2008 - 2013
xxxxxxxx

Sumber Dana

Pelaksana Program

APBD, Swadaya
Masyarakat

Bappeda, Dinas Pengairan,


Dinas Perumahan, Dinas
Bina Marga

xxxxxxxx

APBD, Swadaya
Masyarakat

Bappeda, Dinas Bina


Marga

xxxxxxxx

APBD, Investor

Bappeda, Dinas Pengairan,


Dinas Bina Marga

xxxxxxxx

APBD, Investor

Bappeda, Dinas Pengairan,


Dinas Bina Marga

Wilayah Bandung Timur

xxxxxxxx

APBD

Bappeda, Dinas Pengairan

Rehabilitasi drainase makro

Seluruh DAS

xxxxxxxx

APBD, Bantuan Pusat

Bappeda, Dinas Pengairan

Bekerjasama dengan pemerintah daerah terdekat dalam


pengelolaan sumberdaya air

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

APBD, Bantuan Pusat

Bappeda, Dinas Pengairan

Penyediaan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan


non-organik

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx
APBD, Investor

PD. Kebersihan

Penentuan lahan-lahan untuk TPS/kontainer yang baru

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

APBD

Bappeda, PD Kebersihan

Rehabilitasi TPS dan kontainer yang rusak

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

APBD, Investor

PD. Kebersihan

Perluasan TPA Leuwigajah terpadu

TPA Leuwigajah

xxxxxxxx

APBD, Investor

Bappeda, PD. Kebersihan

Studi kelayakan manajemen pengelolaan sampah terpadu Kota


Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung

Seluruh Kota Bandung,


kerjasama dengan Kabupaten
Bandung dan Kota Cimahi

xxxxxxxx

APBD

Bappeda, PD. Kebersihan

Studi kelayakan penggunaan lahan TPA di Pasir Durung untuk


pengelolaan sampah terpadu

Pasir Durung

xxxxxxxx

APBD

Bappeda, PD. Kebersihan

Seluruh Kota Bandung


Usaha reduksi melalui pengomposan, daur ulang dan pemilahan
antara sampah organik dan non-organik dapat bekerjasama dengan
swasta.

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD, Investor,
Swadaya Masyarakat

Bappeda, PD. Kebersihan,


BPLH

Seluruh Kota Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

APBD

PDAM, Dinas Perumahan,


Dinas Pemadam Kebakaran

Pos pemadam kebakaran dibangun sejumlah 24 dengan lokasi


tersebar secara merata di seluruh WP
Perbaikan hidran kebakaran PDAM
Pembuatan tandon-tandon air + 700 m3/unit

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

No

Pemanfaatan Ruang

No
8.

Komponen Rtrw
Sistem Prasarana
Energi dan
Telekomunikasi

Indikasi Program

Lokasi

Tahap Pelaksanaan
2004 - 2008
2008 - 2013
xxxxxxxx

Sumber Dana
Investor

Pelaksana Program

Mengupayakan peningkatan kualitas pelayanan jaringan listrik dan


telepon di wilayah Bandung Barat

Wilayah Bandung Barat

PT. PLN dan

Mengarahkan pengembangan jaringan listrik dan telepon ke


wilayah Bandung Timur dengan sistem bawah tanah

Wilayah Bandung Timur

xxxxxxxx

xxxxxxxx

Investor

PT. PLN dan


PT. TelekomunikasI

Pembangunan instalasi baru dan pengoperasian instalasi


penyaluran

Kota Bandung

xxxxxxxx

xxxxxxxx

Investor

PT. PLN dan


PT. Telekomunikasi

Pembangunan prasarana listrik yang bersumber dari energi


alternatif

Kota Bandung

xxxxxxxx

Investor

PT. PLN

Pengembangan telepon umum dan warung telekomunikasi di


lokasi strategis.

Kota Bandung

Investor

PT. Telekomunikasi

PT. Telekomunikasi

xxxxxxxx

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Sumber: Hasil Analisis dan Rencana, 2001

83