Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Saat-saat ini, setelah selesai mengikuti UAN, para siswa disibukkan
kegiatan mencari sekolah. Banyak sekali tawaran sekolah yang ada. Dari
lembaga yang dikelola oleh negara hingga lembaga swasta dalam negeri maupun
kerjasama swasta dalam negeri dan luar negeri. Semua menawakan paket sekolah
yang menggiurkan, bahkan juga ada sekolah yang tidak begitu dikenal, kalau
mau di grade katakanlah grade satu, dua atau tiga. Siswa tinggal memilih.
Secara umum, sekolah menengah di Indonesia diwadahi tiga lembaga
yakni SMA (sekolah Menengah Atas), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan
MA ( Madrasah Aliyah). SMA bertujuan diantara menyediakan dan menyiapkan
siswa siswi yang hendak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi; akademi
atau perguruan tinggi. Sedangkan SMK lebih ditujukan untuk menyediakan
tenaga kerja tingkat menengah, dan MA, sebagaimana SMA bertujuan untuk
mengantarkan siswa memasuki perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi
Islam.
Kenyataannya tidak semua lulusan SMA berkesempatan melanjutkan studi
ke jenjang yang lebih tinggi karena berbagai alasan. Begitu pula dengan lulusan
SMK dan MA. Bahkan dari mereka ada yang menjadi pengangguran.
Akhir-akhir ini pemerintah gencar mengiklankan (mensosialisasikan)
SMK, sebagai sekolah masa depan, SMK bukan sekolah kelas dua, dan arah
pendidikan Indonesia ke depan hendak menyetarakan jumlah SMA dan SMK.
Maka tidak heran bermunculan iklan sosialisasi SMK di televisi dengan bintang
iklan dari beberapa orang yang sudah punya nama. Ada seorang sebut saja
selebritis pembawa acara yang mengaku lulusan SMK, ada seorang pejabat yang

juga mengaku lulusan SMK, bahkan ada seorang direktur dengan anak buah
kurang lebih 90 % lulusan SMK. Itu semua ditujukan untuk membangun citra
bahwa SMK bukan sekolah nomor dua sebagai sekolah pencetak tenaga kerja
yang mengandlkan otot saja. Tapi dengan iklan itu hendak menonjolkan bahwa
lulusan SMK memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh SMA atau MA.
Benarkah demikian, dari iklan itu saja kalau mau dicermati sebenarnya bukan
SMK atau tidaknya, saya lebih melihat pada individunya. Bahwa kesuksesan
lebih ditentukan pada keuletan, kegigihan seseorang menghadap tantangan. hal
ini mengingat secara umum kualitas pendidkan di Indonesia yang sedemikian
parah, rasanya sangat kecil kalau semata lembaga sekolah yang menjadikan
seseorang sukses. Maka yang paling penting adalah bagaimana kita membenahi
pendidikan kita sehingga menghasilkan generasi muda yang siap menyambut
tantangan zamannya baik di dunia kerja maupun dunia akademis.
B. RUMUSAN MASALAH
1.

Apa peran SMK dalam mengatasi pengangguran?

2.

Apa keunggulan SMK dibanding dengan SMA?

3.

Bagaimana solusi agar SMK mampu bersaing dengan SMA dalam


menciptakan tenaga kerja siap pakai ?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Peran SMK dalam mengatasi pengangguran
Akhir-akhir ini di televisi sering sekali ada iklan dari Departemen
Pendidikan yang menggalakkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Saat ini
memang SMK banyak peminatnya karena dengan sekolah di SMK para siswa
dibekali ketrampilan. Selain itu juga para siswa mendapat pekerjaan adaptif
maupun normatif seperti yang didapat bila sekolah di SMU. Kelebihan sekolah
di SMK sebelum lulus para siswa diberi kesempatan Praktek Kerja Lapangan
atau PKL, disini mereka akan mengasah kemampuan mereka yang didapat dari
sekolah. Umumnya para siswa akan dilepas didunia kerja rata-rata antara 3
sampai 6 bulan. Seperti Kuliah yang ada istilah Magang, ya menurut saya
hampir-hampir mirip. Pada Kelulusan pun Siswa di SMK diharuskan membuat
sebuah karya atau disebut Tugas Akhir (TA) yang nantinya dijadikan penilaian
sampai sejauh mana penguasaan keahlian setelah selama 3 tahun belajar.
Oleh karena itu siswa SMK bisa dikatakan setelah lulusan siap masuk di
dunia kerja. Dengan kemampuan yang dimiliki Perusahaan yang merekrut
mungkin tidak akan kesulitan melatih mereka, karena memang sudah ada bekal
yang dibawa dari sekolah.

Selain itu dengan Ketrampilan yang telah

ditumbuhkan dari SMK para siswa setelah lulus bisa membuka usaha sendiri
atau berwiraswasta. Misal membuka bengkel mobil/motor yang dari Jurusan
Otomotif, Bengkel Bubut/Alat-alat Perkakas dari Jurusan Mesin Perkakas/Las,
ada juga Reparasi alat elektronik dari Jurusan Elektronik. Bahkan untuk saat ini
kemampuan lulusan SMK lebih maju lagi sudah ada jurusan Teknik Informatika
atau Teknik Komputer, saat ini yang sedang ngetrend.
Mungkin

karena

beberapa

kelebihan

SMK

di

atas

Pemerintah

merekomendasikan sekolah di SMK. Karena dengan ketrampilan yang sudah

dimiliki bisa dijadikan usaha untuk menekan pengangguran bahkan bisa untuk
menciptakan lapangan kerja. Karena di SMK hampir semua bidang ada, mulai
dari Konstruksi Bangunan, Perkayuan, Listrik, Otomotif samai komputer ada.
Jadi tergantung minat siswa untuk memilih dan mengembangkan sesuai bakat
dan kemana mereka selanjutnya akan melangkah. Namun beberapa masyarakat
berpandangan negatif dengan istilah menekan pengangguran. Beberapa orang
menganggap bahwa lulusan SMK hanya akan mejadi karyawan atau buruh untuk
selamanya. Mereka menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi orang yang
bekerja enak atau mingkin kantoran atau jadi bos. Anggapan itu mungkin hanya
dilontarakan oleh orang-orang yang secara materi berada, yang pasti kita
sekarang melihat realita masyarakat indonesia pada umumnya saja. Tapi tidak
jarang dari kalangan orang berada pun menyekolahkan anaknya di SMK karena
mereka yakin di SMK akan mendapat sesuatu yang lebih dari pada Bukan
SMK. Yang jelas saya setuju dengan program pemerintah ini, mudah-mudahan
dapat memajukan bangsa ini.

Apalagi nanti bila negara ini mulai

mempertimbangkan skill bukan hanya ijazah dalam dunia kerja.


2. Keunggulan SMK dibanding dengan SMA
SMK membekali siswanya dengan sederet ilmu praktis untuk mencetak
tenaga kerja siap pakai yang terampil. Istilah kejuruan berhubungan erat dengan
karir. Sekolah kejuruan juga dapat dipandang sebagai pendidikan teknis yang
secara langsung mengembangkan keahlian siswanya dalam bidang tertentu.
Sudah merupakan rahasia umum bahwa tingginya harga pendidikan di tanah
air menyebabkan tidak semua lapisan masyarakat bisa mencicipi bangku
universitas. Dengan hanya berbekal ijazah SMU tentulah tidak memadai untuk
bersaing mendapatkan lapangan kerja. Situasi ini mendorong menjamurnya
berbagai macam kursus yang menawarkan skill-skill penunjang yang makin
diminati di kalangan masyarakat. Dengan menempuh pendidikan di SMK,

lulusannya paling tidak sudah memiliki keterampilan dasar tanpa harus


mengeluarkan biaya ekstra lagi.
Bagi mereka yang beruntung mengenyam pendidikan universitas, masalah
tidak berhenti sampai di sini. Menyandang gelar sarjana juga bukan merupakan
jaminan kerja. Banyak lulusan sarjana yang akhirnya bekerja di bidang yang
sangat berbeda dengan jurusan ilmu yang diambilnya di bangku kuliah. Lulusan
arsitektur terjun di bidang marketing bukan hal yang aneh lagi. Tuntutan
mengepulkan asap dapur lebih mendesak daripada sok idealis dengan bidang
ilmu yang ditekuni.
3. Solusi agar SMK mampu bersaing dengan SMA dalam menciptakan tenaga kerja
siap pakai
A. Program SMK bisa (menciptakan tenaga kerja siap pakai)
Tidak mudah memang menyiapkan tenaga kerja siap pakai, siap kerja,
namun upaya departemen pendidikan dalam hal ini Direktoran Pembinaan
Pendidikan Kejuruan Direktorean Jenderal Menajemen Pendidikan dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (dit-PSMK)

bisa

melakukan pembinaan untuk program SMK bisa menurut pengamatan


saya

adalah

langkah

tepat

terutama

terkait

dengan

banyaknya

pengangguran elite, pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi,


pengangguran yang disebakan oleh banyaknya tenaga kerja lulusan
perguruan tinggi yang ternyata tidak siap pakai.
Program program SMK bisa harus benar benar bisa link dan match
dengan kebutuhan pasar kerja, lebih lebih kalau juga bisa disiapkan untuk
mendukung pasar kerja luar negeri yang terampil, bukan hanya sebagai
pembantu rumah tangga PRT seperti TKI selama ini.

B. Persoalan Gengsi, Harus Dirubah dengan Bangga SMK Bisa


Saya senang ada orang sekelas Tantowi Yahya sebagai Icon Iklan
SMK Bisa, saya yakin iklan ini akan berhasil mendorong lulusan SMP
tertarik melanjutkan ke SMK. Terutama yang berasal dari daerah dimana
orang tuanya tidak mampu untuk nantinya (setelah SMA) melanjutkan ke
perguruan tinggi yang saat ini biayanya sangat tinggi itu.
Dulu lulusan SMK masuk dalam golongan kelas 2, kalau tidak SMA
tidak keren, nah dengan iklan di TV tentang SMK bisa diharapkan ada
kebanggaan pada siswa SMK. Dengan modal kebanggaan biasanya diikuti
dengan semangat keras selama pendidikan. Semangat kerja keras untuk
mengikuti setiap belajaran yang diikuti tentu akan meningkatkan kualitas
lulusan SMK.
C. Kompetensi Siswa SMK Bisa Bersaing Global
Pemerintah akan terus meningkatkan pembinaan kompetensi siswa
SMK berprestasi di tingkat nasional sehingga mampu mengharumkan
nama bangsa dan bersaing di tingkat dunia.Joko Sutrisno, Direktur
Pembinaan

SMK

Depdiknas,

mengatakan,

dalam

ASEAN

Skill

Competition yang sudah enam kali diikuti siswa SMK Indonesia, prestasi
Indonesia terus meningkat. Bahkan, Indonesia mampu meraih pemenang
juara satu.

BAB III
PENUTUP
Salah satu rencana strategis Departemen Pendidikan Nasional adalah
perluasan dan pemerataan akses pendidikan. Khususnya perluasan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) untuk mencapai komposisi ideal jumlah SMK
dengan SMA sebanyak 70:30 persen.
Kebijakan Depdiknas untuk memperbanyak SMK sebagaimana tertuang
dalam Rencana Strategis Depdiknas tahun 2005-2012 tersebut, menurut Sutrisno
(2008) sangat strategis dan tepat karena beberapa alasan berikut.
Pertama komposisi tenaga kerja Indonesia mayoritas unskilled workers
(pekerja yang tidak punya keterampilan atau kompetensi di bidangnya). Menurut
data Badan Statistik Nasional (BPS) tahun 2006 terdapat 81,1 juta tenaga kerja
Indonesia diisi kelompok unskilled workers ini yang mayoritas lulusan SMA.
Sedangkan kelompok di atasnya diisi skill workers (pekerja dengan skill sebesar
20,4 juta) serta komposisi teratas merupakan pekerja expert (ahli) dengan 4,8 juta
orang. Ditengarai lulusan SMA selama ini banyak yang mencari pekerjaan,
karena hanya 30 persen saja yang mampu melanjutkan studi di perguruan tinggi,
sementara yang 70 persen harus bekerja meskipun tanpa bekal keterampilan
memadai. Lulusan SMA sebetulnya memang diproyeksikan untuk melanjutkan
ke jenjang pendidikan tinggi. Kedua, SMK mampu menyiapkan peserta didik
yang kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki
kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Ketiga, survey
menunjukkan bahwa di kota-kota yang memiliki populasi SMK lebih tinggi dari
SMA, daerah tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi dan produk domestik
regional bruto yang lebih tinggi.
Begitu besar harapan pemerintah terhadap SMK untuk dapat menanggulangi
pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun di sisi lain

kinerja SMK yang telah ada dewasa ini masih belum optimal. Belum optimalnya
kinerja SMK ini menurut Suyanto (2007) ditandai oleh pencapaian indikator
keberhasilan pendidikan di SMK yang belum optimal. Indikator-indikator
keberhasilan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Terserapnya tamatan di dunia kerja sesuai dengan kompetensi pada
program keahliannya.
2. Mampu mengembangkan diri dalam berwirausaha sehingga dapat
menciptakan lapangan kerja baru.
3. Mampu bersaing dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dalam penjelasan pasal 15 menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan
merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk
bekerja dalam bidang tertentu. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990
tentang Pendidikan Menengah, Pasal 1 ayat 3 menyebutkan pendidikan kejuruan
adalah pendidikan pada jenjang menengah yang mengutamakan pengembangan
kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu.
Sekolah Menengah Kejuruan, tulis Sutrisno (dalam Wibowo, 2009), mampu
menyiapkan peserta didik yang kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Pendek kata, SMK tidak hanya membentuk kemampuan kognitif, lebih dari itu
membentuk mentalitas peserta didik yang terintegralisasikan dengan baik
kemampuan praktis, teoritis, maupun kompilasi keduanya. Dengan demikian
Sekolah Menengah Kejuruan dapat menjembatani problematika dunia kerja
tingkat menengah di Indonesia

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dari bab 2 di atas, dapat disimpulkan bahwa
sebetulnya SMK bisa dikatakan lebih baik dibandingkan SMA, dikarenakan
beberapa faktor diantaranya lulusan SMK dibekali kemampuan umum dan
kemampuan ketrampilan khusus dalam bidang tertentu yang tidak ada di SMA.
Selain daripada itu lulusan SMK bisa langsung untuk bekerja setelah lulus dari
SMK, namun apabila ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi juga bisa
namun haruslah memilih jurusan yang sesuai dengan keterampilan yang dimiliki
semasa SMK, sehingga ilmu yang diterima semasa SMK bisa dikembangkan lagi
saat melanjutkan di Perguruan Tinggi dan akan menjadi bekal yang cukup saat
bekerja di masa depan.
Belum optimalnya kinerja SMK tentu tidak dapat dibiarkan, dan perlu
dicarikan solusinya. Sebab kondisi ini akan mengakibatkan lulusan yang kurang
mampu menghadapi tuntutan zaman yang sering disoroti oleh masyarakat
pemakai lulusan tersebut. Perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat
akan membuat keadaan ini lebih parah jika tidak diantisipasi dengan cepat dan
tepat, karena akan memperlebar jurang pemisah antara yang seharusnya
diketahui dan yang diketahuinya. Implikasinya akan terjadi kesenjangan antara
supply

dan

demand

tenaga

kerja

yang

memberi

dampak

pada

pengangguran.Pentingnya upaya peningkatan mutu kinerja Sekolah Menengah


Kejuruan tidak terlepas dari fungsi dan kedudukannya yang strategis

DAFTAR PUSTAKA
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 323/U/1997
tentang Penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda pada Sekolah Menengah
Kejuruan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 323/U/1997
tentang Penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda pada Sekolah Menengah
Kejuruan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan

Samsudi, (2008). Daya Serap Lulusan SMK Masih Rendah. [Online]. Tersedia:
http://pojokguru.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=46&artid=1135
Sutrisno, Joko (2008). Atasi Pengangguran; Perbanyak Jumlah SMK. Kedaulatan
Rakyat. [Online]. Tersedia: http://www.kr.co.id/web/
detail.php?sid=161798&actmenu=38.
Suyanto. (2007). Perumusan Manajemen Berbasis Sekolah. [Online]. Tersedia:
http://media.diknas.go.id/media/document/4268.pdf.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Wibowo, Agus., (2009). Saatnya Memilih SMK. Pikiran Rakyat Online. [Online].
Tersedia: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=berita
detail&id=22432.
http://zulfa4wliya.wordpress.com/2007/05/23/antara-smasmk-dan-ma/ diakses pada
29 Juni 2012 pukul 21:35
http://www.sumintar.com/smk-bisa-menciptakan-tenaga-kerja-siap-pakai.html
diakses pada 29 juni 2012 pukul 20:30
http://cokroposbara.blogspot.com/2009/03/kelebihan-smk-dibandingkan-smu.html
diakses pada 30 Juni 2012 pukul 15:15

TUGAS SEMESTER

SMK sebagai pilihan kedua


(SMK mampu Bersaing dan mampu menciptakan Tenaga kerja siap pakai)

Rustam Ady Winata


A210090115

Pendidikan Ekonomi Akuntansi


Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
2012