Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Luka bakar merupakan rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis
yang berasal dari internal maupun eksternal yang mengenai organ tertentu. Luka bakar ini
disebabkan oleh api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar juga dibagi dalam
tiga kategori yaitu luka bakar drajat I, luka bakar drajat II, dan luka bakar drajat III. Untuk
menentukan apakah pasien terkena luka bakar derajat berapa kita harus mengetahui
kedalaman luka, penampilan, warna, dan luas luka bakar. Dalam melakukan asuhan
keperawatan kita harus mempertahan teknik aseptic untuk mencegah terjadinya infeksi dan
dalam penanganan luka bakair inui kita berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan
prosedur tindakan keperawata.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penulisan memperoleh gambaran nyata dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien
dengan luka bakar diruang Lantai 4 Utara RSUP Fatmawati Jakarta
2. Tujuan Khusus
Penyusun di harapkan mampu :
a. Melakukan pengajian pada klien Tn.A dengan luka bakar
b. Menentukan dan merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Tn.A dengan luka
bakar.
c. Menyusun rencana tindakan keperawatan sesuai denngan diagnosa yang telah di
rumuskan pada klien Tn.A dengan luka bakar.
d. Melaksanakn tindakan keperawatan yang telah di berikan pada klien Tn.A dengan luka
bakar.
e. Mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya luka bakar.
C.

Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini dengan beberapa metode dekriftif
dan pendekatan studi kasus. Teknik yang digunkan dalam pengumpulan data antara lain
1

1. Wawancara
2. Observasi
3. Studi Dokumentasi/ buku status
D.

Ruang Lingkup
Penyusun makalah ini, dibatasi pada pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. A dengan
dengan luka bakar diruang lantai 4 utara RSUP Fatmawati Jakarta.

E. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun makalah ini terdiri dari 4 BAB yaitu:
BAB I

: Pendahuluan, terdiri dari : Latar Belakang, tujuan, ruang lingkup dan sistematika

penulisan
BAB II

: Tinjauan Teoritis terdiri dari : Konsep dasar dan asuhan keperawatan pada klien

dengan gangguan system integumen


BAB III : Tinjauan kasus dan Pembahasan terdiri daru : Pengkajian, diagnosa keperawatan,
rencana tindakan, implementasi dan evaluasi keperawatan
BAB IV : Penutup, Terdiri dari Kesimpulan
Daftar pustaka
Lampiran

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


2

1. Pengertian
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas.
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh transfer benergi dari summber panas
kedalam tubuh.
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia
dan petir yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam.
2. Etiologi
Luka bakar dikategorikan menurut mekanisme injury melipti :
a. Luka bakar termal
Luka bakar termal ( panas ) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak dengan api,
cairan panas, atau objek-objek panas lainnya.
b. Luka bakar kimia
Luka bakar kimia disebabkan kontaknya jaringan kulit dengan asam atau basa kuat.
Konsentrasi zat kimia lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang terpapar
menentukan luasnya injury karena zat kimia ini, misalnya zat kimia yang dsipakai
dalam rumah tangga, industry, militer dan pertanian.
c. Luka bakar elektrik
Luka bakar elektrik disebabkan oleh panas yang digerakan dari energy listrik yang
dihantarkan melalui tubuh, berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya kontak,
tingginya voltase dan cara gelombak elektrik itu sampai mengenai tubuh.

d.

Luka bakar radiasi


Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar sumber radio aktif, tipe injury ini
sering kali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industry.

3. Fase Luka Bakar


a. Fase awal, Fase akut, Fase syok
Permasalahan pada fase ini adalah :
3

Gangguan yang terjadi pada saluran nafas (cidera inhalasi)


Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, syok hipopolemia
b. Fase setelah Syok berakhir, Fase sub akut
Permasalahan pada fase ini adalah :
Systemic Inflamatory Response Syndrome (SIRS)
Multy System Organ Dysfungtion Syndrome (MODS)
Sepsis
c. Fase lanjut
Fase ini berlangsung sejak penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan.
Masalah pada fase ini adalah :
Parut hipertrofic
Kontraktur
Deformitas akibat kerapuhan jaringan atau struktur tertentu akibat proses
inflamasi yang hebat dan berlangsung lama.
4. Luas Luka Bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama
rule of nine atua rule of wallace yaitu:
1. Kepala dan leher

: 9%

2. Lengan masing-masing 9%

: 18%

3. Badan depan 18%, badan belakang 18%

: 36%

4. Tungkai maisng-masing 18%

: 36%

5. Genetalia/perineum

: 1%

Total

: 100%

5. Klasifikasi Luka Bakar


a. Luka Bakar Derajat I
Kerusakan terbatas pada bagian superfisial epidermis
Kulit kering, hiperemik memberikan eflorenci berupa eritema
Tidak dijumpai bulla
Nyeri karena ujung-ujung syaraf sensorik teriritasi
4

Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari


Contohnya adanya luka bakar akibat sengatan matahari
b. Luka Bakar Derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi
akut disertai proses eksudasi
Dijumpai bulla
Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi datas
permukaan kulit normal
Nyeri karena ujung syaraf sensorik teriritasi
Luka Bakar Derajat II Terdiri atas dua kategori yaitu :
1. Derajat Dua Dangkal (Superficial)
Kerusakan mengenai bagian supefisial dari dermis
Apendisis kulit seperti filokel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sabasea masih utuh
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari
2. Derajat Dua Dalam (Deep)
Kerusakan mengenai hampir seluruh dermis
Apendisis kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sabasea, sebagian masih utuh
Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung pada apendisis kulit
yangtersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari
satu bulan.

c. Luka Bakar Derajat III


Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam.
Apendisis kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sabasea
mengalami kerusakan
Tidak dijumpai bulla.
5

Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat


Tidak dijumpai rasa nyari bahkan sensasi karena ujung-ujung serabut yaraf
sensori mengalami kerusakan
Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan baik dari
dasar luka, tepi luka maupun apendisis kulit.
6. Kategori Penderita Luka Bakar
Berdasarkan berat/ ringan luka bakar, diperoleh beberapa kategori luka bakar menurut
American Burn Association :
a. Luka Bakar Berat/ Kritis (Major burn)
1). Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia dibawah 10 tahun atau diatas uisia 50
tahun.
2). Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama
3). Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki dan perineum.
4). Adanya cidera pada jalan nafas (cidera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas
luka bakar
4). Luka bakar listrik tegangan tinggi
5). Disertai trauma lainnya
6). Pasien-pasien dengan resiko tinggi
b. Luka Bakar Sedang (Moderate Burn)
1). Luka bakar dengan luas 15-25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III
kurang dari 10 %
2). Luka bakar dengan luas 10-20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40
tahun dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %.
3). Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak
mengenai muka, tangan, kakidan perineum.
c. Luka Bakar Ringan
1). Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa
6

2). Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut
3). Luka bakar dengan luas < 2 %pada segala usia :tidak mengenai muka, tangan,
kaki dan perineum.
Bahan Kimia

Termis

Radiasi

Biologis

LUKA BAKAR

Psikologis

Pada Wajah

Di ruang tertutup

Kerusakan kulit

Kerusakan mukosa

Keracunan gas CO

Penguapan meningkat

Oedema laring

CO mengikat Hb

Peningkatan pembuluh
darah kapiler

Obstruksi jalan nafas

Hb tidak mampu
mengikat O2

Gagal nafas

Listrik/petir

Ektravasasi cairan (H2O,


Elektrolit, protein)

MK:

Gangguan
Konsep
diri
Kurang
pengetahua
n
Anxietas
Masalah Keperawatan:
Resiko tinggi terhadap
infeksi
Gangguan rasa nyaman
Ganguan aktivitas
Kerusakan integritas kulit

Hipoxia otak
Tekanan onkotik
menurun. Tekanan
hidrostatik meningkat

MK: Jalan nafas


tidak efektif

Cairan intravaskuler
menurun
Hipovolemia dan
hemokonsentrasi

Masalah Keperawatan:

Kekurangan volume cairan


Gangguan perfusi jaringan

Gangguan sirkulasi
makro

Gangguan
sirkulasi seluler

Gangguan perfusi organ-organ penting

Otak

Kardiovaskuler

Ginjal

Hepar

Kebocoran
kapiler

Hipoxia
sel ginjal

Pelepasan
katekolamin

Penurunan
curah jantung

Fungsi
ginjal
menurun

Hipoxia
hepatik

Gagal
ginjal

Gagal hepar

7. Patofisiologi
Hipoxia

Sel otak
mati

Gagal
fungsi
sentral

Gagal jantung

GI
Traktus

Dilatasi
lambung

Neurologi

Imun

Gangguan
Neurologi

Daya
tahan
tubuh
menurun

Gangguan
perfusi

Laju
metabolisme
meningkat

Glukoneogenesis
glukogenolisis

MK: Perubahan
nutrisi

MULTI SISTEM ORGAN FAILUREHambahan

pertumbuhan

8. Penatalaksanaan
Seperti menangani kasus emergency umum yaitu:
A. Resusitasi A, B, C.
1) Pernafasan:
8

a) Udara panas mukosa rusak oedem obstruksi.


b) Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin iritasi Bronkhokontriksi
obstruksi gagal nafas.
2) Sirkulasi:
Gangguan permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler
hipovolemi relatif syok ATN gagal ginjal.
B. Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka.
C. Resusitasi cairan Baxter.
Dewasa : Baxter.
RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.
Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:
RL : Dextran = 17 : 3
2 cc x BB x % LB + kebutuhan faal.
Kebutuhan faal:
< 1 tahun

: BB x 100 cc

1 3 tahun

: BB x 75 cc

3 5 tahun

: BB x 50 cc

diberikan 8 jam pertama


diberikan 16 jam berikutnya.
Hari kedua:
Dewasa

: Dextran 500 2000 + D5% / albumin.

( 3-x) x 80 x BB gr/hr
100
(Albumin 25% = gram x 4 cc) 1 cc/mnt.
Anak

: Diberi sesuai kebutuhan faal.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
1) Aktivitas / Istirahat
Tanda : Penurunan kekuatan, tahanan, keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit,
gangguan masa otot, perubahan tonus otot
2) Sirkulasi
Tanda : (Dengan cedera luka bakar lebih dari 20% ADTT) hipotensi, penurunan nadi
perifer distal, pada ekstremitas yang cedera, vasokonstriksi perifer umum dengan
kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik), pembentukan odema jaringan
(semua luka bakar)
3) Integritas ego
Gejala : Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.
Tanda : Anxietas, menangis, ketergangtngan, menyangkal, menarik diri, marah.
4) Eliminasi
Tanda : Haluaran urine menurun / tak ada selama fase darurat: warna mungkin hitam
kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam deurisis
(setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi), penurunan bising
usus / tak ada ; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai
stress mobilitas / peristaltik gastrik
5) Pernafasan
Gejala : Terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi)
Tanda : Sesak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan
sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi pengembangan torak mungkin
terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada. Jalan nafas tersumbat atau stridor /
mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, (oedema laringeal) ; bunyi nafas
: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam
(ronkhi).
10

6) Keamanan
Tanda kulit umum: Destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3 5 hari
sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler. Pada beberapa luka area kulit tidak
terbakar

mungkin dingin/lembab, pucat, dengan varase intensitas panas yang

dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong, mukosa hidung dan mulut kering,
merah, lepuh pada faring posterior, oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal.
Cedera kimia: Tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab kulit mungkin cokelat
kekuningan dengan tekstur seperti kulit samak, halus, lepuh, ulkus, nekrosis, atau
jaringan parut. Tebal cedera secara umum lebih dalam dari tempatnya secara perkutan
dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera.
Cedera listrik: Cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis.
Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif). Luka
bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal
sehubungan dengan pakaian terbakar.
Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan, sepeda motor, kontraksi otot sehubungan
dengan syok listrik).
7) Neurosensori
Gejala: Area batas; kesemutan.
Tanda: Perubahan orientasi; efek perilaku, penurunan refleks tendon dalam (RTD)
pada cedera ekstermitas, ektifitas kejang (syok listrik). Laserasi korneal; kerusakan
retina, penuruna ketajaman penglihatan (syok listrik), ruptur membran timpanik (syok
listrik), paralisis (cedera listrik pada aliran syaraf).
8) Nyeri / Kenyamanan
Gejala: Berbagai nyeri, contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif
untuk disentuh, ditekan gerakan udara dan perubahan suhu, luka bakar ketebalan
sedang derajat kedua sangat nyeri, sementara respon pada luka bakar ketebalan derajat
kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; lika bakar derajat tiga tidak nyeri.

11

9) Makanan dan Cairan


Tanda: Oedema jaringan umum; anoreksia, mual/muntah.
10) Pemeriksaan Diagnostik
a. LED: Mengkaji hemokonsentrasi.
b. Elekttronik serum: Mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini
terutama penting untuk memeriksa kalium, terdapat peningkatan kalium dapat
menyebabkan henti jantung.
c. Gas Darah Arteri (GDA) dan sinar X dada: Mengkaji fungsi pulmonal, khususnya
pada cedera inhalsi asap.
d. BUN dan Kreatinin: Mengakji fungsi ginjal.
e. Urinalisis: Menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menendakan kerusakan
otot pada luka bakar ketebalan penuh/luas.
f. Brokkoskopi: Membantu memastikan cedera inhalasi asap.
g. Koagulasi: Memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka
bakar masif.
h. Kadar karbon monoksida serum meningakt pada cedera inhalasi asap.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Sebagai klien luka bakar dapat terjadi diagnosa utama dan diagnosa tambahan selama
mendertita luka bakar (common and additional). Diagnosa yang lazim terjadi pada klien
yang dirawat di rumah sakit yang mendertia luka bakar lebih dari 25%. Total body surface
area adalah:
a. Penurunan kardiak output berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler.
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan elektronik dan
kehilangan volume plasma dari pembuluh darah.
c. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan kardiak output dan edema.
d. Ketidakefektifan pola nafas berhungan dengan kesukaran bernafas (respiratory
distress) dari trauma inhalsi, sumbatan (obstruksi) jalan nafas dan pnemonia.
e. Perubahan rasa nyaman: Nyeri berhungan dengan paparan ujung syaraf pada kulit
yang rusak.
12

f. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar.


g. Potensial infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.
h. Perubahan nutrisi: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungand engan
peningkatan rata-rata metabolisme.
i. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan luka bakar, scar, dan kontraktur.
j. Gangguan gambaraan tubuh (body image) berhubungan dengan penampilan fisik.
Marilynn E. Doenges dalam nursing care plans, Guldelines For Planning And Documenting
Petient Care Plans mengungkapkan beberapa diagnosa keperawatan sebagai berikut:
1. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi.
2. Resiko tinggi kekurangn volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
melalui rute abnormal.
3. Resiko tinggi pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi.
4. Resiko tinggi nfeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
5. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan/kulit.
6. Resiko tinggi kerusakan perfusi jari
3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Diagnosa 1: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan
nafas.

Kriteria Hasil:
-

Menunjukkan bunyi nafas jelas.

Frekuensi pernafasan dalam rentang normal.

Bebas dispneu/sianosis.

Intervensi:
1. Ambil riwayat cedera.
R/ : Penyebab, lama terpajan, terjadi dalam ruang, tertutu atau terbuka
mengindikasikan cedera inhalasi.
2. Kaji refleks gangguan/menelan; serak, batuk, mengi.
13

R/ : Dugaan cedera inhalasi.


3. Auskultasi paru.
R/ : Obstruksi nafas/distress pernapasan dapat terjadi sangat atau lambat.
4. Perhatikan adanya pucat.
R/ : Dugaan adanya hipoksemia.
5. Tingikan kepala tempat tidur.
R/ : meningkatkan ekspansi paru optimal/fungsi pernafasan.
6. Dorong batuk dan letihan nafas dalam dan perubahan posisi yang sering.
R/ : meningkatkan ekspansi paru, memobilisasi dan drainase sekret.
7. Tingkatkan istirahat suara tetapi kaji kemampuan untuk bicara.
R/ : peningkatan serak menunjukkan peningkatan edema trakeal dan dapat
mengindikasikan kebutuhan intubasi.
8. Selidiki perubahan perilaku/mental
R/ : Perubahan kesadaran dapat menunjukkan terjadinya hipoksia.
Diagnosa 2: Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan melalui rute abnormal.

Kriteria Hasil:
Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan oleh haluaran urine
individu adekuat, tanda vital stabil, membran mukosa lembab.

Intervensi:
1. Awasi tanda vital, CVP.
R/ : Memberikan pedoman untuk penggantian cairan dan menkaji respon
kardivaskuler.
2. Awasi haluaran urine dan berat jenis urine.
R/ : Penggantian harus difiltrasi untuk meyakinkan rata-rata haluaran urine 30
5- mL/jam.
3. Perkirakan drainase luka dan kehilangan yang tampak.
R/ : peningkatan permeabilitas kepiler, perpindahan protein proses inflamasi.
4. Pertahankan pencatatan kumulatif jumlah dan tipe pemasukan cairan.

14

R/ : penggantian masif/cepat dengan tipe cairan berbeda dan fluktuasi


kecepatan pemberian.
5. Timbang berat badan tiap hari.
R/ : Penggantian cairan tergantung pada berat badan.
Diagnosa 3: Resiko kekurangan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi.

Kriteria Hasil:
Mencapai penyembuhan luka tepat waktu bebas eksudat.

Intervensi:
1. Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang
datang kontak dengan pasien.
R/ : mencegah kontaminasi silang; menurunkan resiko infeksius.
2. Awasi/batasi pengunjung, bila perlu.
R/ : Mencegah kontaminasi silang dari pengunjung.
3. Cukur/ikat rambut sekitar area yang terbakar.
R/ Rambut adalah media baik untuk pertumbuhan bakteri.
4. Periksa area yang tak terbakar (seperti lipatan paha, lipatan leher).
R/ : Infeksi oportinistik (Mis: jamur) seringkali terjadi sehubungan dengan
depresi sistem imun.

Diagnosa 4: Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit/jaringan.

Kriteria Hasil:
-

Nyeri berkurang/terkontrol

Ekspresi wajah rileks

Tanda tanda vital stabil/normal.

Intervensi:
1. Berikan tempat tidur yang nyaman.
R/ : Peninggian tempat tidur membuat pasien lebih nyaman dan senang.
2. Ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai indikasi.
R/ : Gerakan latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan otot tetapi tipe
letihan menurunkan tergantung pada lokasi dan luas cedera.
15

3. Pertahankan suhu lingkungan yang nyaman, berikan lampu penghangat,


penutup tubuh hangat.
R/ : Pengaturan suhu dapt hilang kerena luka bakar mayor.
4. Kaji kleuhan nyeri, perhatikan lokasi/karakter dan intensitas skala 0 10.
R/ : Nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya ketertiban jaringan
selama penggantian balutan dan debridemen.
5. Dorong penggunaan teknik menajemen stress seperti relaksasi dan distraksi.
R/ : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol yang dapat
membantu pasien melupakan nyerinya.
Diagosa 5: Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan.

Kriteria Hasil:
-

Mempertahankan nadi perifer teraba.

Pengisian kapiler baik.

Warna kulit normal pada area yang cedera.

Intervensi:
1. Kaji warna, sensasi, gerakan nadi perifer.
R/ : Pembentukan dema, dapat secara cepat menekan pembuluh darah.
2. Tinggikan ekstermitas yang sakit.
R/ : Meningkatkan sirkulasi sistemik/aliran balik vena.
3. Ukur tekanan darah pada ekstermitas yang mengalami luka bakar.
R/ : Bila pembacaan tekanan darah diambil pada ekstermitas yang cedera.
4. Dorong latihan gerak aktif pada bagian tubuh yang tak sakit.
R/ : Meningkatkan sirkulasi lokal dan sistemik.

4. IMPLEMENTASI
Sesuai dengan rencana.
5. EVALUASI
Berdasarkan intervensi dan kriteria hasil yang dapat tercapai atau tidak tercapai.

16

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.S


DENGAN DIAGNOSA MEDIS COMBUSTIO GRADE II
DI RUANG LANTAI 4 UTARA RSUP FATMAWATI JAKARTA
Tanggal MRS

: 20 Oktober 2014

Tanggal pengkajian

: 27 Oktober 2014

No . Rekam medis

: 1328219

A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS
a. Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Suku/Bangsa
Agama
Status
Pekerjaan
Pendidikan
Alamat

: Tn.A
: 40 Tahun
: Laki-Laki
: Indonesia
: Islam
: Nikah
: Wirasuwasta
: SLTP
: Dusun 2 Blok Pahin Cirebon

2. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Keluhan Utama
Pada saat dikaji klien mengeluh nyeri pada daera luka bakar di bagian tangan kiri,
kaki kiri, dan dada
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan tersengat arus listrik pada saat klien sedang bekerja yaitu pada
tanggal 20 Oktober 2014, klien sedang bekerja bangunan di lantai 2, klien sdudah di
ingatkan sama temannya bahwa di belakang klien terdapat arus listrik, namun klien
lupa, pada saat itu klien mundur ke arah belakang, klien langsung tersengat listrik
dan klien terjatuh ke lantai 1, pingsan (-), muntah (-), perdarahan pada mulut dan
17

hidung (-). Pada saat itu klien langsung di bawa ke RS Bakti Yuda untuk
mendapatkan perawatan, setelah mendapatkan perawatan klien kemudian di rujuk ke
RSUP Fatmawati Jakarta.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan belum pernah menderita suatu penyakit yang mengharuskannya di
rawat di rumah sakit. Dan klien tidak pernah mengalami penyakit seperti ini
sebelumnya. Klien hanya pernah mengalami panas, batuk, pilek, dan sembuh setelah
pergi berobat ke puskesmas
d. Riwayat penyakit keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang menderita penyakit keturunan
seperti DM, Hipertensi, Penyakit jantung,dan asma atau penyakit lainnya.
3. PENGKAJIAN PASIEN
a. Aktivitas/Istirahat
Subjektif
Pekerjaan : Kuli bangunan, waktu luang mengobrol bersama istri dan pasien lain,
klien merasa bosan di RS, keterbatasan karena kondisi : klien tidak bisa bekerja lagi
dan anggota gerak terbatas, waktu tidur siang 2 jam dan waktu tidur malem 7 jam,
klien tidak memiliki kebiasaan sebelum tidur, insomnia(-).
Onjektif
Klien tampak hati-hati saat beraktifitas (bergerak), terdapat luka bakar pada tangan
kiri, kaki kiri, dan dada. Tremolr (-). Massa/tonus otot 5555 3333
5555 3333
b.

Sirkulasi
Subjektif
Klien tidak memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, demam rematik,
batuk/hemoptisis, penyembuhan lambat, penyakit jantung, dan penyakit lainnya.
pada ekstermitas tidak ada kebas dan kesemutan
Objektif
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 86 kali/menit
Jantung : Palpasi normal, auskultasi terdengar suara vesikuler, tidak terdengar suara

c.

jantung tambahan seperti S3 DAN S4.


Integritas Ego
Subjektif

18

Faktor stress (-), status hubungan menikah, faktor-faktor budaya (-), agama islam,
kegiatan pengajian yang ada dilingkungan rumah klien, perubahan terakhir : setelah

d.

kejadian kecelakaan tersebut klien tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya,
Objektif
Status Emolsional : tenang, klien koopratif pada saat dilakukan pengkajian.
Eliminasi
Subjektif
Pola BAB : Frekuensi pada saat pengkajian klien mengatakan belum BAB, klien
tidak menggunakan laksatif dan enema, riwayat perdarahan (-).
Pola BAK : Frekuensi 6 kali sehari, warna kuning jernih, klien tidak memiliki
penyakit ginjal/kandung kemih, tidak menggunakan obat diuretik dan herbal.
Objektif
Bising usus 12 kali/menit, palpasi abdomen lunak, hemoroid, fistula (-), kateter urine

e.

(-), dan stoma (-).


Makanan/cairan
Subjektif
Klien tidak memiliki kebiasaan diet, frekuensi makan 3 kali/hari. Pola diet : makan
pagi, siang, dan malem yaitu lauk pauk, sayur dan nasi. Cemilan : biskuit, intke
makanan terakhir lauk, pauk, sayur, dan nasi. Makanan yang disukai klien yaitu
gorengan, klien tidak memiliki masala pada makanan, alergi (-), BB biasa 65 kg,
perubahan berat badan (-).
Objektif
Berat badan saat ini 65 kg, tinggi badan 170 cm, IMT : 22,5, klien termasuk dalam
kategori berat badan ideal, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, tidak ada

f.

edema, pembesaran tiroid (-), kondisi gusi tidak utuh, gula darah sewaktu 83 mg/dl.
Kebersihan Diri (Hygiene)
Subjektif
Aktifitas sehari-hari seperti mobilitas, makan, hygiene, berpakaian, dan toileting di
bantu oleh istri klien dan perawat.
Objektif
Klien tampak bersih, cara berpakaian rapih, tidak bau badan, tidak ada kutu, dan

g.

kondisi kulit kepala bersih.


Neurosensori
Subjektif
Riwayat cedera/trauma (-), sakit kepala (-), kesemutan (-), kebas (-), kelemahan (-),
hanya pergerakan terbatas karena ada luka bakar dan terasa nyeri saat bergerak,
stroke (-), kejang (-). Mata: Penglihatan baik, tidak ada masalah pada pendengaran,
penciuman, dan pengecapan.
19

Objektif
Status mental : terorientasi, klien sangat koopratif, kesadaran composmentis,,
memori saat ini dan memori masa lalu baik, pupil replek cahaya (+), refleks tendon
h.

normal, paralisis/parastesia (-).


Nyeri/Ketidaknyamanan
Subjektif
Klien mengatakan nyeri pada area luka bakar, nyeri seperti ditusuk-tusuk dan kadang
terasa seperti terbakar, luka bakar terdapa di tangan kiri, kaki kiri, dan dada, skala
nyeri 8 (0-10), nyeri terasa saat bergerak dan pada saat di ganti verban,menghilang

i.

dengan analgetik.
Objektif
Mengerutkan muka, menjaga area yang nyeri, respon emosional baik.
Pernapasan
Subjektif
Klien tidak memiliki riwayat seperti bronkhitis, tubercolosis, asma, dan penyakit
pernapasan lainnya, namun hanya saja klien batuk biasa. Terpajan udara berbahaya
(-). Merokok (+), jumlah : 6 batang/ hari, lama merokok 20 tahun.
Objektif
Frekuensi napas 20 kali/menit, kedalaman normal,, kesimetrisan (+), tidak

j.

menggunakan otot bantu napas, bunyi napas vesikuler, sputum(-).


Keamanan
Subjektif
Klien tidak memiliki alergi terhadap makanan ataupun obat-obatan, tidak pernah di
tranfusi darah, risiko jatuh (-), fraktur (-), arthritis (-), masalah punggung (-), dan alat
ambulasi (-).
Objektif
Suhu tubuh 36, 7 C, diaforesis (-), integritas kulit terdapat luka bakar grade II pada

k.

area tangan kiri, kaki kiri dan dada.


Interaksi Sosial
Subjektif
Status menikah, lama 18 tahun, hidup bersama anak dan istrinya, tidak ada masalahmasala/ stress, peran dalam keluarga Ayah (tulang punggung keluarga), perubahan
bicara (-), alat bantu bicara (-).
Objektif
Bicara jelas, komunikasi verbal dan nonverbal dengan keluarga, orang terdekat dan

l.

perawat baik.
Penyuluhan/Pembelajaran
Subjektif
20

Bahasa dominan Indonesia dan jawa, tingkat pendidikan SLTP, melek huruf (-),
ketidakmampuan belajar (-), keterbatasan kognitif (-), keyakinan kesehatan yang
dilakukan klien berdoa, faktor risiko keluarga (-),harapan klien saat ini klien pingin
cepat sembuh dan bisa melakukan aktifitas seperti biasa.
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. LABORATORIUM
NO
1
2
3
4
5
6
7
8

PEMERIKSAAN

HASIL

b. THERAPY
Therapy oral :
Cefixime 2x200 mg
Tramadol 3x50 mg
Enervon C 1x1 tab
Therapi Intravena:
Ceftriaxone 2x1 gr
Tramadol 3x100 mg
Vitamin C 2x200 mg
Omeprazole 2x40 mg

1. Analisa Data

21

NORMAL

NO
1

DATA

ETIOLOGI

DS:
P = Klien mengatakan terkena

Luka bakar

Kerusakan kulit

Terputusnya kontinuitas

sengatan listrik.
Q = Klien mengatakan nyeri
seperti ditusuk-tusuk, kadan
terasa seperti terbakar
R = Luka bakar tedapat di
daerah tangan, kaki dan

MASALAH
KEPERAWATAN
Gangguan rasa
nyaman: nyeri

jaringan

Mrangsang saraf nyeri

Persepsi nyeri

dada
S = Klien mengatakan intensitas
nyeri 8 pada skala (0-10)
T = Klien mengatakan nyeri saat
bergerak dan diganti verban
DO:
-

Klien menjaga area yang


sakit
Terdapat luka bakar 45 %
Mengerutkan muka

Luka bakar

Depan

Kerusakan kulit
9%

Gangguan aktivitas
fisik

18 %

Kontraktur
18 %

Gangguan aktivitas fisik

DS :
-

Klien mengatakan
mengatakan masih
merasa nyeri saat

bergerak dan di ganti


verban
DO :
-

Terdapat luka bakar


dibagian kaki kiri, tangan
kiri, dan dada.

Luka bakar
Rusaknya jaringan
Kulit

22
Gangguan integritas
Kulit

Gangguan integritas
kulit berhubungan
dengan kerusakan
jaringan

3. Rumusan Diagnosa
a.

Gangguan rasa nyaman: nyeri b/d luka bakar

b.

Gangguan mobilitas fisik b/d luka bakar

c.

Gangguan integritas kulit b/d kerusakan jaringan.

4. Rencana tindakan keperawatan


No
Dx
1

Rencana tindakan keperawatan


Intervensi

Tujuan
Gangguan rasa nyaman

Tutup

luka

Rasional

sesegera Suhu

nyeri b/d luka bakar

mungkin kecuali perawatan gerakan

yang ditandai dengan :


DS:
P = Klien mengatakan

luka bakar

terkena

sengatan

listrik.
Q = Klien mengatakan
nyeri

dan
Tinggikan ekstremitas luka
bakar secara periodik

pemajanan

ujung

Peninggian

mungkin

diperlukan

pada

awal

untuk

menurunkan
edema ;

setelah perubahan posisi

seperti terbakar
R = Luka bakar tedapat

dan
Berikan

tempat

tidur

ayunan sesuai indikasi

S = Klien mengatakan

peninggian

menurunkan
ketidaknyamanan

serta

resiko kontraktur sendi

intensitas nyeri 8

Peninggian

pada skala (0-10)

luka

T = Klien mengatakan

DO:
-

dapat

pembentukan

terasa

kaki dan dada

udara

saraf

seperti

di daerah tangan,

dan

menyebabkan nyeri hebat

ditusuk-tusuk,
kadan

berubah

linen

membantu

menurunkan nyeri, posisi

nyeri saat bergerak

fungsi

dan diganti verban

deformitas/kontraktur
dan

Klien menjaga

dari

Tutup jari/ekstremitas pada


23

menurunkan
meningkatkan

kenyamanan.

area yang sakit


Terdapat luka

bakar 45 %
Mengerutkan

posisi

berfungsi

( menghindari posisi fleksi


sendi

yang

menggunakan

muka

sakit
bebat

)
dan

papan kaki sesuai keperluan


Setelah
tindakan

dilakukan
keperawatan

2x24 jam nyeri dapat


teratasi dengan kriteria
hasil :
Nyeri

berkurang/

wajah

atau postur tubuh


rileks
Tanda-tanda

vital

stabil
Berpartisipasi
dalam aktifitas dan
tidur

sendi

cedera

dapat

merasa lebih nyaman, ini


dapat

mengakibatkan

kontraktur fleksi
Ubah posisi dengan sering
(nyaman) dan rentang gerak Gerakan dan latihan
pasif dan aktif sesuai menurunkan
kekakuan
indikasi
sendi dan kelelahan otot
tetapi

terkontrol
Menunjukkan
ekspresi

Meskipun posisi fleksi

Pertahankan

suhu

lingkungan

nyaman,

tipe

latihan

tergantung pada lokasi


dan luas cedera

berikan lampu penghangat Pengaturan suhu dapat


hilang karena luka bakar
penutup tubuh hangat
Kaji

keluhan

perhatikan

nyeri,

lokasi/karakter

dan intensitas (skala 0-10)

mayor.

Sumber

panas

mencegah menggigil.
Perubahan
lokasi/karakter/intensitas
nyeri

dapat

mengindikasikan
terjadinya

komplikasi

(contoh iskemia tungkai)


atau
- Kolaborasi dengan dokter perbaikan/kembalinya
untuk

pemberian

therapi fungsi saraf/sensasi

analgetik

Untuk mengurangi rasa


nyeri

Dorong ekspresi perasaan


24

klien

yang

dirasakan

tentang nyeri
Menurunkan

terjadinya

distres fisik dan emosi


sehubungan
Libatkan

dengan

pasien

dalam penggantian balutan dan


penentuan jadwal aktivitas, debridemen
pengobatan, pemberian obat

Pernyataan
memungkinkan

pengungkapan
dan
dapat
Jelaskan prosedur/berikan emosi
informasi seiring dengan meningkatkan
tepat, khususnya selama mekanisme koping
debridemen luka

Meningkatkan

Dorong penggunaan teknik kontrol


manajemen stres, contoh kekuatan
teknik

relaksasi

rasa

pasien

dan

mekanisme

dan koping

distraksi

Mengurangi rasa nyeri


yang dirasakan klien

Pertahankan posisi tubuh Meningkatkan

posisi

fisik b/d luka bakar

tepat dengan dukungan atau fungsional

pada

yang ditandai dengan:

balutan, khususnya untuk ekstremitas

dan

DS :

luka bakar di atas sendi

Gangguan

mobilitas

mencegah

kontraktur,

Klien

yang lebih mungkin di

mengatakan

atas sendi

mengatakan

Pertahankan

sirkulasi,

masih merasa

gerakan, dan sensasi jadi

nyeri saat

secara sering

bergerak dan di

Edema

dapat

mempengaruhi sirkulasi
pada

ekstremitas

mempotensialkan

ganti verban

nekrosis
25

DO :
-

jaringan/terjadinya
Klien tampak
berhati-hati saat
bergerak
Terdapat luka

Lakukan rehabilitasi pada

Akan lebih mudah untuk

penerimaaan

membuat partisipasi bila


pasien

bakar dibagian

tindakan

keperawatan

selama

3x24

gangguan

jam

mobilitas

Lakukan

latihan

gerak aktif ataupun pasif

aktivitas perawatan untuk

Instruksikan

periode

dan

dalam mobilisasi , contoh

berpartisipasi

tongkat,

atau meningkatkan
kekuatan

walker,

secara

tubuh
Menunjukan

Memampukan
keluarga/orang

terdekat

aktif
pasien

memberikan
Dorong

dukungan

bantuan

dalam
dan
terapi

dan konstan/konsisten

keluarga/orang Komunikasi
aktivitas
pada
latihan yang
menghasilkan

terdekat

rentang gerak

perbaikan hasil dengan


meningkatkan

fungsi yang sakit


kompensasi bagian

ambulasi

perawatan

dan

dan/atau

memampukan

Meningkatkan keamanan

untuk

tepat

fungsi

adanya kontraktur
Mempertahankan

dan

bantu

keinginan

dibuktikan oleh tak

otot/jaringan

Jadwalkan pengobatan dan dan membantu partisipasi

istirahat tak terganggu

posisi

kekakuan

pasien untuk lebih aktif

kriteria hasil :
Menyatakan

dalam aktivitas
Mempertahankan

Menurunkan
tegangan

memberikan

menunjukkan

adanya

rentang penyembuhan

dapat teratasi dengan


dan

menyadari

kemungkinan

kaki kiri, tangan


kiri, dan dada.
- Tonus otot
5555 3333
5555 3333
Setelah
dilakukan

kontraktur

efek

masing-masing
Dorong partisipasi pasien
dalam

semua

aktivitas

Meningkatkan

kemandirian,
kemampuan meningkatkan harga diri,

sesuai
26

tehnik/prilaku yang

individual

dan

memampukan

membantu

proses

perbaikan

melakukan
3

aktivitas
Kerusakan
integritas

- Kaji/catat ukuran, warna, Memberikan

informasi

kulit b/d luka bakar

kedalaman luka, perhatikan dasar tentang kebutuhan

(kerusakan jaringan)
DS :DO:
- Terdapat luka

jaringan

nekrotik

dan penanaman

kondisi sekitar luka.

kulit

kemungkinan
tentang

bakar di bagian

dan

petunjuk

sirkulasi

pada

aera luka bakar

dada grade II A
-

18 %
Di bagian

- Lakukan
bakar

tangan kiri

perawatan

yang

luka Menyiapkan

tepat

tindakan kontrol infeksi.

terdapat luka

dan untuk

jaringan

penanaman

menurunkan

dan
resiko

infeksi/kegagalan kulit.

bakar grade II A
-

9%
Di bagian kaki

- Pertahankan penutupan luka Kain


sesuai indikasi.

kiri terdapat

yang

II A 18 %.

tindakan
selama
diharapkan
integritas

silikon

mengandung

kolagen porcine peptida

luka bakar grade


Setelah

nilon/membran

melekat

pada

permukaan luka sampai


dilakukan

lepasnya

keperawatan
4x24

atau

mengelupas

jam

secara

spontan kulit repitelisasi.

kerusakan
kulit

dapat

teratasi dengan kriteria


hasil:
mencapai penyembuhan

- Pertahankan balutan diatas Kulit graft baru dan sisi


area graft baru dan/atau sisi donor
donor sesuai indikasi.

tepat waktu pada area

yang

memerlukan

sembuh
perawatan

khusus

luka bakar

mempertahankan
27

untuk

kelenturan.
- Cuci sisi dengan sabun Membersihkan

dan

ringan, cuci, dan minyaki mengelupas

luka

dengan

krim,

beberapa bakar/

kulit

jaringan

yang

waktu dalam sehari, setelah nekrotik serta kulit tetap


balutan

dilepas

dan lembab

penyembuhan selesai.
- Kolaborasi dengan dokter
untuk

pemberian

therapi

Mempercepat

proses

penyembuhan dan tidak


terjadi infeksi

antibiotik

5. Catatan perkembangan
Nama
:Tn.A
No.RM
:
Dx
: Combustia grade II
Tanggal
28/10/14

Jam
15.00
15.30
16.00
16.20

Implementasi
Evaluasi
Mengkaji skala nyeri
S : Klien mengatakan nyeri berkurang,
Mengobservasi tanda-tanda vital
skala nyeri 6 (0-10)
Mengajarkan teknik relaksasi dan
D : Klien tampak tenang
distraksi
TD : 110/70 mmHg
Memberikan posisi yang nyaman
Nadi : 84 kali/menit
Rr

: 22 kali/menit

A : Masalah nyeri belum teratasi


16.00
16.20

19.00

P : Intervensi dilanjutkan
Membantu klien dalam memenuhi S : Klien mengatakan masih takut mau
kebutuhannya
melakukan aktifitas dan terasa nyeri
Mempertahankan posisi tubuh dan
saat bergerak
menjaga area luka bakar dari
O : klien bergerak tampak sangat hatitekanan
hati
Mengkaji dan mengidentifikasi
Tonus otot 5555 3333
tingkat kekuatan otot
5555 3333
28

A : Masalah gangguan mobilitas fisik


belum teratasi
28/10/14

16.30

Kaji/catat

ukuran,

kedalaman

luka,

P : Ingtervenasi di lanjutkan
warna, S : perhatikan O : Luka bakar grade II masi tampak

jaringan nekrotik dan kondisi ada bula


16.50

18.00
29/10/14

15.00
15.20
15.40
16.30

sekitar luka.
A : Masalah kerusakan integritas kulit
Mempertahankan balutan tidak
belum teratasi
menekan area luka bakar yang
P : Intervenasi dilanjutkan.
lain
Berkolaborasi dengan dokter
untuk pemberian therapi antibiotik
Mengkaji skala nyeri
S : Klien mengatakan nyeri berkurang,
Mengajarkan teknik relaksasi dan
skala nyeri 4 (0-10)
distraksi
O : TD : 120/80 mmHg
Mengobservasi tanda-tanda vital
N : 82 kali/ menit
Memberikan posisi yang nyaman
Rr : 20 kali/menit
Klien tampak lebih tenang.
A : Masalah nyeri teratasi sebagian

16.00
16.30

19.00
19.30

P : Intervensi dilanjutkan
Membantu klien dalam memenuhi S : Klien mengatakan terasa sedikit
kebutuhannya
sakit area luka bakar ketika kaki dan
Mempertahankan posisi tubuh dan
tangannya di gerakan.
menjaga area luka bakar dari
O : Klien tampak koopratif dan
tekanan
berhati-hati saat dilakukan ROM
Mengkaji dan mengidentifikasi
Tonus otot 5555 4444
tingkat kekuatan otot
5555 3333
Melakukan ROM aktif dan pasif
A : Masalah gangguan mobilitas fisik
belum teratasi

20.00

Kaji/catat

ukuran,

kedalaman

luka,

P : Intervenasi di lanjutkan
warna, S : Klien mengatakan luka bakar
perhatikan sebagian sudah mulai mengering.

jaringan nekrotik dan kondisi O : Luka bakar yang tidak di balut


29

20.00

18.00
30/10/14

21.30
22.00

22.00

sekitar luka.
tampak mengering. Warna luka
Mempertahankan balutan tidak
memerah.
menekan area luka bakar yang
A : Masalah kerusakan integritas kulit
lain
teratasi sebagian
Berkolaborasi dengan dokter
P : Intervensi dilanjutkan.
untuk pemberian therapi antibiotik
Mengkaji kekuatan otot klien
S : Klien mengatakan sudah mulai
Memberikan posisi yang nyaman
melakukan aktifitas
dan menganjurkan klien untuk
O : Tonus otot 5555 4444
beristitirahat.
5555 4444
Menganjurkan
klien
utuk
Klien tampak pergi ke kamar mandi di
melakukan ROM mandiri
bantu istrinya
A : Masalah gangguan mobilitas fisik
teratasi sebagian

31/10/14

05.30
06.00

P : Intervensi dilanjutkan
S : Klien mengatakan nyeri berkurang,

Mengkaji skala nyeri


Menganjurkan
klien

untuk

melakukan teknik relaksasi ketka


06.00
06.00
07.00

07.00

07.00

nyeri timbul
Berkolaborasi

dengan

dokter

skala nyeri 2 (0-10)


O : Klien tampak tenang
A : masalah teratasi

P : Intervensi dipertahankan
untuk pemberian therapi analgetik
Kolaborasi dengan dokter untuk S : pemberian therapi antibiotik
O : Luka bakar mulai membaik,
Cuci sisi dengan sabun ringan,
tampak luka bakar yang tipis sudah
cuci, dan minyaki dengan krim,
lembab di beri salef sibro. Balutan
beberapa waktu dalam sehari,
luka bakara tampak bersih.
setelah balutan dilepas dan
A : masalah kerisakan integritas kulit
penyembuhan selesai.
teratasi sebagian
Lakukan perawatan luka bakar
P : Intervensi dilanjutkan
yang tepat dan tindakan kontrol
infeksi.
Pertahankan

penutupan

sesuai indikasi.

30

luka

BAB IV
PENUTUP
`
31

Kesimpulan
Luka bakar merupakan rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis
yang berasal dari internal maupun eksternal yang mengenai organ tertentu. Luka bakar ini
disebabkan oleh api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar juga dibagi dalam
tiga kategori yaitu luka bakar drajat I, luka bakar drajat II, dan luka bakar drajat III. Untuk
menentukan apakah pasien terkena luka bakar derajat berapa kita harus mengetahui kedalaman
luka, penampilan, warnam, dan luas luka bakar.

DAFTAR PUSTAKA

32

Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition. J.B.
Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 1293 1328.
Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2
(terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Donna D.Ignatavicius dan Michael, J. Bayne. (1991). Medical Surgical Nursing. A Nursing
Process Approach. W. B. Saunders Company. Philadelphia. Hal. 357 401.
Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. volume 2,
(terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Hudak & Gallo. (1997). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik. Volume I. Penerbit Buku
Kedoketran EGC. Jakarta.
Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran
EGC. Jakarta.
R. Sjamsuhidajat, Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.

33