Anda di halaman 1dari 25

BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 Anamnesis
1.1.1 Identitas Pasien
Nama

: Sitti Syamsiah

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 31 Desember 1956 / 58 tahun

Alamat

: Makassar

Masuk RS

: 20 Oktober 2014

Pulang

: Masih menerima perawatan di Lontara 2

Anamnesis dilakukan tanggal 22 Oktober 2014 , pukul 08.00, secara auto dan
alloanamnesis
1.1.2 Keluhan Utama :
Nyeri di pinggul kiri
1.1.3 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien masuk ke rumah sakit dengan keluhan nyeri di bagian pinggul kiri sejak 1
bulan yang lalu dan sejak itu pasien tidak dapat berjalan.Pasien mengeluh nyeri di
pinggul timbul setelah pasien jatuh akibat kehilangan keseimbangan saat berjalan.Nyeri
dirasakan saat berdiri.Riwayat demam(-), mengigil (-), sakit kepala (-), mual (-),
muntah(-) dan nyeri perut(-). BAK dan BAK pasien lancar dan biasa.Riwayat benturan
di kepala tidak ada.Riwayat pengobatan dengan secara tradisional dengan urutan kaki
selama 1 bulan.
1.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya

1.1.5 Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan


Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada.

1.2 Pemeriksaan fisis


Keadaan umum

: Sakit sedang, gizi cukup.

Kesadaran

: Compos mentis.

Tanda vital

Tekanan darah: 100/70 mmHg.

Nadi

: 84 x/menit.

Suhu

: 36,7C.

Pernapasan

: 22 x/menit.

Nyeri

: VAS 4.

Status Generalis :
Kepala

: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), DVS R-1.

Mulut

: Hiperemis (+), Stomatitis (+), Lidah : Hiperemis (-).

Thoraks

: Rh -/-, Wh -/-.
BJ I/II murni regular, bising (-).

Abdomen

: Peristaltik (+) Normal.

Ekstremitas

: Edema Pretibial (-/-).

Primary survey
Airway

: Tidak ada gangguan jalan nafas.

Breathing

: Pernafasan 22 x/menit.

Circulation

: Tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 90 x/menit.

Disability

: GCS15 (E4M6V5).

Exposure

: Suhu 36,8oC.

Status Lokalis

: Regio femoris sinistra

Inspeksi

: Deformitas (+), edema (-), hematom (-), luka (-).

Palpasi

: Nyeri tekan setempat (+), sensibilitas (+), suhu rabaan hangat,NVD


(neurovascular disturbance) (-), kapiler refil <2 detik (normal).
Panjang tungkai kanan 74 cm.
Panjang tungkai kiri 73 cm.
LLD 3 cm.

Move: Gerakan aktif dan pasif terhambat, Gerakan abduksi tungkai kanan terhambat,
gerakan adduksi tungkai kanan terhambat, sakit bila digerakkan, gangguan
persarafan tidak ada, tampak gerakan terbatas .

1.3 Laboratorium
PEMERIKSAAN

HASIL

NILAI RUJUKAN

Waktu Bekuan

700menit

4-10 menit

Waktu Perdarahan

300menit

1-7 menit

HbsAg

Non Reactive

Non Reactive

Anti HCV

Non Reactive

Non Reactive

Darah Rutin

WBC

8.6 x 103/uL

4-10 x 103/uL

RBC

4.16 x 106/uL

4-6 x 106/uL

HB

10.91 g/dl

12-16 g/dl

HCT

31.8 %

37-48 %

MCV

76.1 fL

80-97 fL

MCH

26.11 pg

26,5-33,5 pg

MCHC

34.2 g/dl

31,5-35 g/dl

336 x 103/uL

150-400 x 103/uL

PLT

1.4 Radiologi

Foto femur AP/ Lateral (Pre-operasi)

Tampak Fraktur basis cervical femur sinistra dengan trochanter mayor displace ke
cranio lateral, callus forming negative, korteks tidak intak

Tidak tampak tanda-tanda osteomyelitis

Mineralisasi tulang berkurang (Osteoporosis Senilis)

Celah sendi tervisualisasi baik

Jaringan lunak sekitarnya baik

Kesan: Fraktur basis cervical femur sinistra

Foto Pelvis /Panggul AP( Pre- Operasi)

Tampak Fraktur basis servical femur sinistra dengan trochanter mayor


displacement ke cranio lateral, callus forming (-) , korteks tidak intak

Tidak tampak tanda-tanda osteomyelitis

Mineralisasi tulang berkurang (Osteoporosis Senilis)

Celah sendi tervisualisasi baik

Jaringan lunak sekitarnya baik

Kesan: Fraktur basis cervical femur sinistra

Foto Femur sinistra AP + Lateral (Post Operasi)

Drain terpasang dengan tip berada pada soft tissue regio 1/3 proximal femur sinistra

Dinamic hip screws terpasang pada femur sinistra dengan kedudukan terhadap tulang
baik

Masih tampak garis fraktur pada basis cervical femur sinistra

Tidak tampak tanda-tanda osteomyelitis

Mineralisasi tulang berkurang(disuse osteoporosis)

Kedua SI joint baik. Hip joint kiri menyempit.

Jaringan lunak sekitarnya swelling


Kesan: Fraktur basis cervical femur sinistra

Foto Pelvis /Panggul AP( Post Operasi)

Drain terpasang dengan tip berada pada soft tissue regio 1/3 proximal femur sinistra

Dinamic hip screws terpasang pada femur sinistra dengan kedudukan terhadap tulang
baik

Masih tampak garis fraktur pada basis cervical femur sinistra

Tidak tampak tanda-tanda osteomyelitis

Mineralisasi tulang berkurang(disuse osteoporosis)

Kedua SI joint baik. Hip joint kiri menyempit

Jaringan lunak sekitarnya swelling

Kesan: Fraktur basis cervical femur sinistra


7

1.5 Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, diagnosis kasus
ini fraktur kominutif pada : Fraktur basis cervical femur sinistra
1.6 Terapi
1. IVFD RL 20 tetes per menit
2. Antibiotik profilaksis
3. Rencana open reduction Internal fixation

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
Femur adalah tulang yang paling panjang dan paling berat di dalam tubuh manusia.
Panjang tulang ini sepertiga tinggi badan seseorang manusia dan bisa menyokong berat
sehingga 30 kali lipat berat tubuh badannya. Femur, sama halnya dengan tulang yang
lainnya di dalam tubuh, terdiri atas badan (corpus) dan dua ekstremitas. (1)

Gambar Femur Dextra. Anterior et Posterior surface


Ekstremitas atas (proximal extremity) terdiri dari kepala(head/caput), leher(neck/collum),
trochanter major dan trochanter minor.(1)

Upper extremity of right femur viewed from behind and above


Caput femoris
Kepala dari femur yang membentuk lebih kepada bentuk dua pertiga sphere, diarahkan
keatas, medial dan sedikit kedepan. Sebagian besar kecembungannya berada di atas dan di
depan. Permukaan caput femoris licin karena dilapisi oleh kartilago bersendi, kecuali pada
bagian fovea capitis femoris, cekungan yang terletak sedikit bawah di caput femoris, yang
merupakan tempat perlekatan ligamentum teres.
Collumfemoris
Collum femoris menghubungkan caput femoris dengan corpus femur. Collum femoris
mendatar dari belakang caput femoris, mengecil di tengah, dan melebar ke arah lateral.
Diameter bagian ini adalah kurang lebih tiga perempat dari caput femoris. Permukaan
anterior dari collum femoris mempunyai banyak foramen pembuluh darah. Permukaan
posterior licin, lebih lebar dan lebih konkaf dari bagian anterior. Di sini juga merupakan
tempat perlekatan dari bagian posterior dari kapsul persendian pinggul, kurang lebih 1 cm di
atas intertrochanteric crest. Batas superior pendek dan tebal dan berujung di lateral di
trochanter major; permukaannya dilalui oleh foramen yang besar. Batas inferiornya panjang
dan sempit, melengkung sedikit kebelakang ke arah ujung trochanter minor.(1)

10

Trochanter
Trochanter adalah penonjolan yang merupakan tempat perlekatan bagi otot-otot yang
berfungsi untuk member pergerakan memutar untuk femur. Terdapat dua trochanter;
trochanter major dan trochanter minor. Trochanter major adalah prominensia (penonjolan)
yang paling lateral di femur, sedangkan Trochanter minor pula adalah ekstensi dari bagian
terendah dari collum femoris yang berbentuk kon. Kedua trochanter ini dihubungkan oleh
crista intertrochanteric di bagian belakang dan linea intertrochanteric di bagian depan.(1)
VaskularisasiProximal Femur
Sirkulasi caput femoris muncul dari tiga sumber yaitu intraosseus cervical vessels yang
melintasi ruang sumsum dari bawah, arteri dari ligamentum teres yang dikenalsebagai medial
epiphyseal vessels dan retinacular vessels yaitu percabangan cincin arteri ekstra kapsuler,
yang berjalan sepanjang collum femoris di bawah sinovium. Apabila terjadi fraktur di collum
femoris, vaskularisasi dari intraosseus cervical vessels terganggu sehingga caput femoris
terpaksa bergantung dari vaskularisasi yang dari dua sumber lainnya lagi.(2)

Vaskularisasi Proximal Femur

11

2.2 Definisi
2.3 Epidemiologi
Insiden patah tulang leher femur, salah satu dari kecederaan trauma

paling sering

terjadi kepada pasien lanjut usia dan kasus ini sering bertambah setiap tahun. Orang tua
adalah kelompok usia yang paling cepat berkembang di dunia dan jumlah tahunan patah
tulang pinggul akan bertambah seiring dengan penuaan populasi penduduk di dunia.3
Bahkan menurut penelitian baru-baru ini, setengah dari patah tulang femur proksimal
adalah fraktur intraartikular dari leher femoralis. Sebagian besar patah tulang pinggul Terjadi
Setelah jatuh. Sekarang perkiraan risiko untuk patah tulang pinggul menurut jenis kelamin
adalah 23,3% untuk laki-laki dan 11,2% untuk perempuan. 3
Hoogendoorn antara penulis yang lain menunjukkan bahwa ada peningkatan insiden
pada kejadian usia tertentu yang mungkin disebabkan oleh osteoporosis, Volume otot
berkurang dan respon neuromuskular. Selain itu, banyak pasien dalam kondisi lemah terus
beraktivitas , bahkan setelah penyakit serius, operasi dan pengobatan patah tulang. Akibatnya
mereka terpapar (lagi) untuk jatuh.4
Insiden patah tulang leher femur jarang terjadi di kalangan orang muda dan ini
terbukti dengan kasus insiden serendah hanya 2% pada pasien di bawah usia 50 tahun
.Insiden meningkat dengan usia, dan setelah 50 tahun adalah dua kali lipat untuk setiap
periode dekade berikutnya, dan 2-3 kali lebih tinggi

pada wanita dibandingkan pada

pria.80% dari patah tulang pinggul terjadi pada perempuan dan 90% pada orang yang lebih
tua dari 50 tahun.3

2.3 Etiopatologi
Fraktur adalah suatu keadaan diskontinuitas jaringan (korteks) pada tulang, paling sering
disebabkan oleh trauma, namun bisa juga karena faktor patologi atau karena penyakit terentu yang
mendasari.

Fraktur Neck Femur adalah adanya diskontinuitas jaringan korteks pada daerah collum

femur. sering terjadi pada tulang rangka, jika tulang mengalami benturan yang melebihi tahanan
normal yang dapat diterima oleh tulang, dapat menyebakan fraktur pada tulang tersebut. Ketika terjadi
fraktur maka periosteum, pembuluh darah, korteks dan jaringan sekitarnya mengalami kerusakan
jaringan di ujung tulang. Hal ini akan menyebabkan terbentuknya hematoma yang menyebabkan
jaringan sekitar tulang akan mengalami kematian sebab suplay nutrisi ke daerah tersebut jadi
terhambat. Jika keadaan ini terus menerus terjadi maka akanmenyebabkan nekrosis pada jaringan ini

12

yang nantinya merangsang kecenderungan untuk terjadi peradangan yang ditandai dengan vasodilatasi
, pengeluaran plasma dan leukosit, serta infiltrasi dari sel-sel daraah putih yang lain.5
Pada usia lanjut, biasanya paling sering karena mekanisme trauma, misalnya jatuh terduduk yang
menyebabkan tekanan yang berlebihan pada pelvis dan juga dapat berefek pada fraktur collum femur,
sedangkan pada usia yang lebih muda, fraktur pada collum femur juga karena trauma, tetapi
kebanyakan pada kasus-kasus kecelakaan lalu lintas dengan posisi hip joint abduksi. 6

2.4 Klasifikasi fraktur femur


2.4.1 Berdasarkan Letak anatominya, ada 4 jenis fraktur femur, yakni:
-

Capital

: Fraktur pada Caput Femoris

Subcapital

: Fraktur pada bagian bawah caput femoris

Transcervical

: Fraktur pada Collum Femoris

Basicervical

: Fraktur pada bagian ujung lateral collum femoris.7

2.4.2 Menurut Green (Garden bukan kak??), Fraktur femur diklasifikan berdasarkan tingkat
pergeseran patahannya, yang terbagi menjadi:8

Gambar 1 (7)
-

Garden I : adalah fraktur inkomplit atau impacted

Garden II : adalah fraktur komplit tanpa tanpa displacement

Garden III : adalah fraktur komplit dengan partial displacement

Garden IV : adalah fraktur komplit dengan total displacement 7

2.4.3 Menurut Pauwel, fraktur femur diklasifikan berdasarkan sudut fraktur yang terbentuk.

13

Gambar 2 (9)
- Tipe I adalah fraktur 30 dari horisontal
- Tipe II adalah fraktur 50 dari horisontal
- Tipe III adalah fraktur 70dari horisontal 9

2.4.4 Menurut???? (menurut siapa ini kak)??


Ekstrakapsular: yakni fraktur yang terjadi pada daerah luar dari kapsul femur mulai
dari trochanters, metafisis femur dan distal femur.

Intertrochanteric, Fraktur jenis ini terletak antara Collum femoris dan Trochanter
minor. Trochanter minor merupakan tempat perlekatan dari salah satu otot
pinggul. Fraktur intertrochanteric umumnya menyeberang di daerah antara
Trochanter minor dan Trochanter mayor.(9,10)

Gambar 3 (4)

14

Pembahagian klasifikasi fraktur intertrochanter dilakukan mengikut klasifikasi Evans


1949:

1.

Fraktur obliq standrar

2.

Fraktur obliq bertentangan 7

Subtrochanteric, Fraktur jenis ini terletak di bawah Trochanter minor, pada daerah
antara Trochanter minor dan sekitar 2 inchi ke bawah.(18) referensi yg mn ini
kak?

Gambar Klasifikasi Fraktur Femur Berdasarkan Russel-Taylor


Klasifikasi fraktur subtrokhanter dikenalkan oleh Russell-Taylor.
Klasifikasi ini membagi fraktur subtrokhanter menjadi dua tipe utama, yaitu
tipe 1 dan tipe 2. Fraktur tipe 1 tidak melibatkan fossa piriformis dan dibagi
kedalam subtype A, untuk fraktur di bawah trokanter minor, dan tipe B yang
melibatkan trokanter minor. Sedangkan fraktur tipe 2 melibatkan fossa
piriformis. Tipe 2A memiliki buttress medial stabil dan tipe 2B tidak
memiliki stabilitas korteks medial 7

2.5 Diagnosis
2.5.1

Anamnesia:
Anamnesis adalah sesuatu bentuk pertanyaan yang terusun direka untuk mengarahkan

kepada puncak suatu penyakit. Anamnesis dimulai dengan identitas pasien seperti nama
pasien, dan tanggal lahir pasien. Tujuannya adalah sebagai tanda pengenalan pasien. Tanggal
lahir dan nantinya dapat membantu mengarahkan keluhan pasien ke diagnosis penyakitnya.
Selain itu, pasien juga ditanyakan kapan mulainya keluhan, bagaimana terjadi, dan
penanganan non-medikamentosa yang dilakukan sebelum pasien datang kerumah sakit. Hal
15

ini penting agar gambaran awal jenis fraktur, pemeriksaan fisis dan penunjang yang perlu
dilakukan, rencana penatalaksanaan, dan gambaran komplikasi yang mungkin terjadi dapat
dilakukan. Pada kasus fraktur leher femur umur pasien dapat mengarahkan jenis fraktur yang
dialaminya apakah fraktur fisiologis seperti fraktur yang disebabkan oleh trauma atau fraktur
patologis yang didahului oleh penyakit lain terkait. Insidens fraktur leher femur meningkat
berbanding lurus dengan peningkatan usia terkait dengan kehilangan densitas tulang. Insidens
bagi pasien yang berusia kurang dari 60 tahun lebih sering pada pria namun lebih tinggi pada
wanita pada usia lebih 60 tahun. Konsumsi obat-obatan juga harus ditanyakan pada pasien
teruma golongan corticosteroid, thyroxine, phenytoin dan furosemide. Hal ini Karena pasien
dengan pengambilan beberapa jenis obat tertentu lebih rentan untuk terkena fraktur leher
femur. 11
2.5.2 Pemeriksaan Fisik
Setelah dilakukan anamnesis atau history taking pada pasien, bisa dilanjutkan dengan
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang biasanya didapatkan pada pasien dengan fraktur
di bagian femur mencakupi inspeksi dan palpasi.
Inspeksi, Untuk mengenal atau mendeteksi pasien yang suspek fraktur bisa dilihat
dari fisik pasien itu sendiri. Pasien yang terdeteksi fraktur mungkin menghadapi
masalah dalam berjalan atau tidak bisa berjalan sama sekali dan ekstremitas yang
bermasalah biasanya mengalami rotasi eksternal dan memendek. Jika tiada rotasi
eksternal yang terlihat, itu bisa mengarahkan diagnosis bahwa pasien tersebut
mungkin mengalami fraktur undisplaced. Ini juga bisa terlihat pada pasien yang
mengalami fraktur pada leher atau intertrochanter femur. Pada fraktur yang displaced
di valgus, tidak ada pemendekan dari ekstremitas bawah, malah bisa juga ekstremitas
tersebut mengalami sedikit pemanjangan12
Palpasi, Titik yang mengalami nyeri maksimal, dan semakin memburuk apabila
dipalpasi atau ditekan, merupakan satu petanda yang penting untuk mendiagnosa area
fraktur. Nyeri pada groin adalah tipikal pada fraktur leher femur. Nyeri yang
diprovokasi dengan mengetuk tumit bisa disyaki fraktur impacted.Namun untuk
menegakkan diagnosis pada pasien yang diduga fraktur pada femur, biasanya pasien
akan dirujuk ke bagian radiologi untuk pengambilan foto konvensional.12
2.5.3 Pemeriksaan penunjang
Pada kasus-kasus fraktur, selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, diperlukan juga
pemeriksaan penunjang lainnya, termasuk pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
16

radiologi khususnya untuk lebih memastikan diagnosis terhadap penyakit tersebut. Adapun
pemeriksaan penunjang radiologi yang dibutuhkan:

Laboratorium, Tidak ada laboratorium khusus mempelajari bantuan dalam diagnosis


gangguan ini. Namun, diperlukan dari hasil pemeriksaan sebelum operasi adalah
beberapa tes standar laboratorium (misalnya, kimia darah, hemoglobin dan hematokrit
nilai, dan profilkoagulasi). Hanya ketika patah tulang insufisiensi diduga, hasil
pemeriksaan medis harus mencakup pencarian untuk kelainan metabolik, termasuk
kalsium abnormal, fosfat, dan nilai-nilai alkali fosfatase. Jika arthritis septik pinggul
yang dicurigai, tingkat protein C-reaktif, tingkat sedimentasi eritrosit, dan jumlah WBC
dengan diferensial harus membantu menyingkirkan proses infeksi.13

FotoKonvensional / X-Ray Imaging, Patah tulang leher femur dapat disebabkan oleh
kerusakan yang signifikan tetapi juga dapat terjadi secara spontan dan dalam trauma
minor di wanita tua karena osteoporosis. Fraktur ini mungkin berada baik di bawah
kepala femoral (subcapital; yang paling umum), melalui leher (transervikal), atau di
dasar (basicervical). Fraktur seperti ini bisa digolongkan kedalam complete fracture
atau incomplete fracture serta displaced, nondisplacedatau impacted. Untuk fraktur dari
femur umumnya, filem dari posisi AP (anteroposterior) dan lateral yang diperlukan.
Filem dari posisi AP digunakan sebagai perbandingan sisi yang terlibat dengan sisi
lainnya, yang bisa membantu dalam mendiagnosis fraktur displaced atau undisplaced.
Filem dari posisi lateral diperlukan untuk mencari komminusi posterior di leher femur
dan proximal femur.14 Filem AP diambil dengan posisi pasien supine dan kedua
ekstremitas bawah diposisikan sejajar dengan garis tengah tubuh dalam 10-20 derajat
rotasi internal. Dengan ini, trochanter minor akan diprojeksi di atas diaphysis. Titik
tengah kaset haruslah 3 cm di bawah tengah garis antara symfisis dan spinailiaca antero
superior. Titik ini berkorespon dengan titik tengah dari kepala femur. Sinar x-ray harus
diletakkan di tengah-tengah kaset filem. 13 Untuk foto lateral, ekstremitas tetap di posisi
sama seperti untuk filem AP, tetapi sedikit abduksi. Tiub x-ray yang diposisikan
horizontal diibaharahnya ke arah leher femur supaya sinar tengah membentuk sudut
40 derajat dengan aksis longitudinal dari paha. Ini menunjukkan titik tengah dari leher
femur. Jika sinar tidak diarahkan secara 90 derajat dengan leher femur, trochanter major
akan diprojeksi di atas kepala femur dan leher femur akan tidak tervisualisasi. Dari
filem AP, antara kesan yang akan dilihat adalah diskontinuitas dari Shentons line.

17

Seringkali, klasifikasi Garden dipakai untuk menetukan derajat fraktur intrakapsular


sama ada complete atau incomplete fracture.15

MRI / CT-Scan Imaging, MRI (Magnetic Resonance Imaging) dapat juga


menunjukkan fraktur yang lain jika ada seperti frakturcincin pelvis, kontusio jaringan
lunak sekitarnya dan sebagainya. Namun, bagi pasien yang terkontraindikasi dengan
pemeriksaan MRI contohnya pasien yang menggunakan pacemaker, ataupun apabila
modalitas MRI tidak terjangkau, radio nuclide bone scanning adalah berguna.Namun,
pemeriksaan ini insensitive pada pasein yang sudah berumur untuk mendeteksi fraktur
yang masih dalam 72 jam pertama. Setelah 72 jam pertama, sensitivitas MRI untuk
deteksi fraktur pada pasien golongan ini adalah 90%. CT scan juga bisa digunakan pada
deteksi akut atau terlambat, namun modalitas ini kurang sensitive dibandingkan dengan
MRI. 16

Foto MRI

18

Foto CT-Scan
2.7 Penatalaksanaan
Tujuan dari pengobatan patien dengan patah tulang femur adalah untuk
mempromosikan penyembuhan, mencegah komplkasi, dan mengembalikan fungsinya.
Tujuan utama dari manajemen fraktur adalah mengembalikan pasien ke tingkat premorbid
nya fungsi. Pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan terapi non
bedah dan bedah.15 Seperti dengan semua patah tulang , manajemen nyeri harus menjadi
perhatian utama . Seringkali , acetaminophen atau NSAID diresepkan untuk nyeri akut
patah tulang . Namun , tambahan untuk menghilangkan rasa sakit mungkin diperlukan
jika pasien tidak bisa hanya dengan asetamonofen dan NSAID. Dalam hal ini , candu
mungkin diperlukan , terutama untuk nyeri hebat. Penyesuaian obat nyeri mungkin
diperlukan , terutama pada fase akut .17

Berikut ini obat-obat yang dapat diberikan pada pasien:

Analgesik, Kontrol nyeri sangat penting bagi kualitas perawatan pasien, analgesik
dapat memastikan kenyamanan dan menenangkan pasien 17

Asetaminofen, Asetaminofen merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik


yang. Penggunaan asetaminofen dapat menghilangkan atau mengurani nyeri ringan
19

sampai sedang. Biasanya analgesik sering dikombinasikan dengan NSAID untuk efek
analgesik. Dosis yang digunakan, dewasa 300mg- 1g perkali, dengan maksimum 4 g
perhari: untuk anak-anak 6-12 tahun: 150-300mg/kali, dengan maksimum1.2g/hari.
Untuk anak 1-6 tahun: 60-120 mg/kali dan bayi dibawah 1 tahun 60mg/kali.18

Ibuprofen (Motrin, Ibuprin), Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang


diperkenalkan pertama kali di banyak Negara , obat ini bersifat analgesik dengan daya
antiinflamasi tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin. Absorpsi
ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah
1-2 jam. Dosis sebagai analgesik 4 kali 400 mg sehari tetapi sebaiknya dosis optimal
pada tiap orang ditentukan secara individual. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum
oleh wanita hamil dan menyusui.19

Oxycodone (OxyContin, Percocet, Roxicet, Roxilox, OxyIR, Tylox, Roxiprin) ,


Oksikodon adalah salah satu opioid semi sintesis yang disintesis dari tebain.
Oksikodon digunakan untuk obat penghilang rasa nyeri (analgesik) yang efek
kecanduannya lebih kecil dibandingkan morfin dan heroin. Opioid menimbulkan
analgesia dengan cara berikatan dengan reseptor opioid yang terutama di sistem SSP
dn medula spinalis yang berperan dalam transmisi nyeri.20
Teknik teknik yang digunakan dalam pengobatan dapat digologkan sebagi berikut. 19

1. Reduksi tertutup
Fraktur sederhana pada sebuah tulang panjang yang sedikit atau tidak menyebabkan
pergeseran tulang dapat diterapi dengan teknik reduksi tertutup. Biasanya sebelum
dilakukan reduksi tertutup dilakukan anestesi spinal atau blok. Fraktur direduksi
melalui manipulasi manual, dibantu oleh fluoroskopi dan diimobilisasi dengan gips
dan diimobilisasi melalui traksi kulit atau tulang.21
2. Fiksasi eksternal
Fiksasi eksternal memberikan stabilisasi yang kaku pada tulang melalui alat alat
eksternal jika bentuk lain imobilisasi, karena berbagai alsan, dianggap tidak sesuai.
Teknik ini paling sering digunakan untuk fraktur yang disertai kerusakan jaringan
lunak yang cukup banyak.21
3. Reduksi terbuka dan fiksasi internal
Reduksi terbuka dan fiksasi internal adalah metode yang digunakan untuk terapi
fraktur. Metode ini memerlukan reduksi pembedahan terbuka dan pemasangan pin,
20

sekrup, kawat,paku,batan dan atau lempeng untuk mempertahankan reduksi.


Perangkat fiksasi internal tersedia dalam berbagai bentuk dan konfigurasi untuk
digunakan pada berbagai ukuran tulang dan jenis fraktur.6 Indikasi reduksi terbuka
fiksasi internal meliputi reduksi fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang
apabila diterapi dengan metode lain terapinya tidak memuaskan. Selain itu digunakan
pada fraktur-fraktur yang terjadi di fraktur leher femoralis, fraktur lengan bawah
distal.dan fraktur intrartikular disertai pergeseran. Adapun jenis-jenis dari reduksi
terbuka fiksasi internal sebagai berikut.21
a.

fiksasi pin dan kawat

b.

sekrup (kortikal,maleolar,lag)

c.

lempeng

Untuk fiksasi internal , sebagian besar ahli bedah ortopedi memilih salah satu sekrup
pinggul dinamis ( DHS ) atau beberapa sekrup cannulated ( MCS ) . Osteosynthesis
dengan fiksasi MCS adalah teknik yang kurang invasif dan mengurangi hilangnya
darah secara berlebihan dan pengelupasan jaringan lunak . Dengan penggunaan DHS
sistem sekrup - piring mencapai kondisi yang lebih stabil . Deneka et al, menerbitkan
sebuah perbandingan biomekanik teknik fiksasi internal untuk pengobatan
basicervical patah tulang leher femur tidak stabil . Hasil mendukung penggunaan
DHS, Kelemahan adalah sayatan kulit besar , diseksi jaringan lunak yang lebih luas,
kebutuhan yang lebih besar untuk transfusi darah, dan tinggal lebih lama di rumah
sakit.22

21

BAB III
DISKUSI

Resume klinis
Pasien Ibu SY masuk ke rumah sakit pada tanggal ?? Oktober 2014 dengan keluhan

nyeri di bagian pinggul kiri sejak 1 bulan yang lalu dan sejak itu pasien tidak dapat
berjalan.Pasien mengeluh nyeri di pinggul timbul setelah pasien jatuh terduduk akibat
kehilangan keseimbangan saat bhendak berdiri dari kursi. Nyeri dirasakan saat berdiri.
Riwayat pengobatan dengan secara tradisional dengan masase pada kaki. Dari hasil
anamnesis secara Alloanamnesis dan autoanamnesis tersebut ditemukan salah satu etiologi
dari fraktur collum femur. Jatuh merupakan faktor penyebab tersering yang dapat
menyebabkan fraktur ini. Meskipun jika dilihat dari usia pasien sudah memasuki tahap
lanjut,, yang mana pada beberapa referensi juga mengatakan fraktur collum femur juga dapat
terjadi disebabkan osteoporosis. Namun disini, sangat jelas etiologi penyakit dari pasien ini.
Dari hasil pemeriksaan fisis didapatkan pasien sakit sedang, gizi baik, kesadaran
compos mentis GCS 15 (E4M6V5). Tanda vital: tekanan darah: 110/70 mmHg, nadi: 90
x/menit, suhu: 36,8C, pernapasan: 22 x/menit, skala nyeri: VAS 4. Daripada inspeksi
ditemukan deformitas manakala daripada palpasi ditemukan nyeri tekan setempat pada regio
femoris sinistra. Pada pergerakkan ditemukan motilitas aktif dan pasif terhambat, gerakan
abduksi tungkai kanan terhambat gerakan adduksi tungkai kanan terhambat, sakit bila
digerakkan, gangguan persarafan tidak ada, tampak gerakan terbatas . Berdasarkan referensi
yang ada, pada pemeriksaan fisik untuk pasien-pasien dengan fraktur collum femur biasanya
pada inspeksi terlihat perbedaan gaya berjalan dengan orang normal pada umumnya dan
biasanya tampak deformitas. Pada palpasi ditemukan adanya nyeri tekan pada area yang
mengalami kerusakan. Data yang ditemukan dari status pasien tertulis bahwa ada deformitas
dan nyeri tekan pada area hip joint. Dari data ini dapat sedikit membantu untuk mengakkan
diagnosis kea rah fraktur collum femur, meskinpun belum mutlak, sebab masih dibutuhkan
data dari hasil pemeriksaan penunjang lainnya.
Karena Anamnesis dan Pemeriksaan fisik belum mampu memastikan diagnosis secara
pasti maka pada kasus yang dicurigai fraktur collum femur, diusul untuk melakukan
pengambilan foto Radiologi dan Laboratorium. Untuk hasil pemeriksaan laboratotium sendiri
semua dalam keadaan normal, sedangkan dari pemeriksaan radiologi pada foto femur AP/
Lateral (Pre-operasi) dan Foto Pelvis /Panggul AP( Pre- Operasi) ditemukan kesan Fraktur
basis cervical femur sinistra dengan trochanter mayor displace ke cranio lateral, Mineralisasi
22

tulang berkurang (Osteoporosis Senilis). Berdasarkan teori klasifikasi fraktur femur menurut
lokasi anatominya, pada pasien ini tampak kerusakannya dibagian bawah dari collum femur
(basisservikal) lokasi terbawah dari intracapsular fracture. Sedangkan menurut Garden ini
diperkirakan fraktur femur grade III-IV, sebab terlihat displaced dari bagian distalnya ke arah
cranio lateral. Setelah hasil radiologi pasien ini ada dengan kesan positif ada fraktur collum
femur, maka selanjutnya dilakukan tindakan sebagai tatalaksana untuk fraktur femur. Secara
teori tatalaksana fraktur femur adalah operasi. Ada beberapa teknik operasi untuk kasus-kasus
musculoskeletal, tetapi khusus untuk fraktur femur teknik yang digunakan adalah Open
Reduction Internal Fixation (ORIF). Pada pasien ini, setelah didiagnosis fraktur collum
femur, diambil keputusan untuk dilakukan tindakan ORIF. Setelah operasi, dilakukan
pengambilan foto kembali dibagian radiologi dengan posisi yang sama sebelum operasi. Dari
hasil pemeriksaan foto Femur sinistra AP + Lateral (Post Operasi) dan Foto Pelvis /Panggul
AP( Post Operasi) ditemukan drain terpasang dengan tip berada pada soft tissue regio 1/3
proximal femur sinistra ,dinamic hip screws terpasang pada femur sinistra dengan kedudukan
terhadap tulang baik , masih tampak garis fracture pada basis cervical femur sinistra
mineralisasi tulang berkurang(disuse osteoporosis) serta jaringan lunak sekitarnya swelling
dengan kesan Fraktur basis cervical femur sinistra. Kemudian setelah itu, pasien kemudian
kembali dilakukan perawatan rutin pasca operasi guna membantu pasien kembali pulih.

DAFTAR PUSTAKA
1. Moore KL. Clinically Orinted Anatomy : Seventh Edition. 2013.
2. James D. Heckman MD, Robert W. Bucholz MD, Charles M. Court Brown MD FEO,
MD PTI. Rockwood and Green's Fractures in Adults : Seventh Edition. 2009.
3. Orlin Filipov,Epidemiology and social burden of femoral neck fractures, Department
of Geriathic orthopedics, Vitosha Hospital - Sofia, Bulgaria ,Journal of IMAB. 2014,
vol. 20, issue 4
4. Ernst L.F.B. Raaymaker , Fractures of the Femoral Neck: A Review and Personal
Statement , Surgical Clinic, Section Traumatology, Academisch Medish Centrum ,
Amsterdam,

Netherlands,

ACTA

CHIRURGIA

TRAUMATOLOGIAE ECHOSL., 73, 2006, p. 4559


23

ORTHOPAEDICAE

ET

5. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK32595/ access on Sunday, 26th October


2014, 09.25 AM
6. http://radiopaedia.org/articles/femoral-neck-fracture / access on Saturday 24th
October 2014, 09.02 AM
7. Prof .Chairudin Rasjad , MD. , PhD; Pengantar Ilmu Bedah Ortopedik, Edisi Ketiga,
Cetakan Keenam, Yarsif Watampone
8. Paul J. Evans, PA-C , Brian J. McGrory, MD, Paul J. Evans, PA-CBrian J. McGrory,
MD, Fractures of the Proximal Femur, Hospital Physician April 2002,p.30-28
9. T. LEIN, P. BULA, J. JEFFRIES, K. ENGLER, F. BONNAIRE; Fractures of the
Femoral

Neck,

ACTA

CHIRURGIAE

ORTHOPAEDICAE,ET

TRAUMATOLOGIAE ECHOSL., 78, 2011, p. 1019


10. B.-C. LINK, R. BABST; Current Concepts in Fractures of the Distal Femur,
Department of Trauma Surgery, Cantonal Hospital Lucerne, Lucerne, Switzerland,
ACTA CHIRURGIAE ORTHOPAEDICAE ET TRAUMATOLOGIAE ECHOSL.,
79, 2012, p. 1120
11. Marincek B, Dondelinger R. Emergency Radiology Imaging And Intervention 2007.
12. Jeno Manninger, Ulrich Bosch, Peter Cserhati, Karoly Fekete, Kazar G. Internal
Fixation of Femoral Neck Fractures: An Atlas. 2007
13. Wildstein M, Schutte H, F T. Femoral Neck Stress and Insufficiency, Fractures
Workup. 2013. Medcsape
14. Babhulkar Sudhir DDT. Proximal Femoral Fractures. 2013.
15. Rajat Chowdhury, Iain Wilson, Christopher Rofe, Lloyd-Jones G. Radiology at a
Glance. 2013.
16. B. J. Manaster, David A. May, Disler DG. Musculoskeletal Imaging, The Requisites
(Expert Consult-Online Consult-Online and Print). 2013.
17. Medscape Femoral Neck Fracture Medication Author: Gerard A Malanga, MD 2013
18. Departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas indonesia.
Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI:2011. P. 237-238
19. Departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas indonesia.
Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI:2011. P. 240
20. Departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas indonesia.
Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI:2011. P. 211
21. Gruendemann Barbara J, Fernsebner Billie. Buku ajar Keperawatan Perioperatif
Volume 1.Jakarata:EGC:2005. P.
24

22. Schwartsmann, Carlos Roberto. Dynamic Hip Screw for the Treatment of Femoral
Neck Fractures: A Prospective Study with 96 Patients. Volume 2014 (2014), Article
ID 257871, 7 pages

25