Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Setiap makhluk hidup akan melakukan interaksi dengan lingkungannya sejak pertama

kali mereka dilahirkan. Untuk tetap eksis setiap makhluk hidup harus mampu melakukan
adaptasi, baik pada tingkatan populasi maupun komunitas pada suatu biosfer.
Apabila kita melakukan eksplorasi terhadap beberapa macam interaksi makhluk
hidup, banyak contoh telah di kemukakan para peniliti pada bidang perilaku hewan. Suatu
spesies hewan mampu berinteraksi dengan lingkungan, hewan tersebut dapat berkomunikasi,
bergerak, berinteraksi secara social dan mencari makanan. Kajian perilaku hewan merupakan
salah satu aspek biologi yang telah lama di teliti, bahkan dapat dikatakan sebagai kajian yang
paling tua. Dalam ilmu yang mempelajari perilaku, banyak peneliti menggunakan hewan
percobaan dibandingkan tumbuhan.
Kajian perilaku dari hewan dapat dijadikan suatu kunci untuk memahami evolusi
dan fungsi ekologi dari hewan tersebut. Robinowitz (1980) yang mempelajari perilaku macan
tutul jaguar. Setelah memonitor beberapa iindividu menggunakan radio transmitter,
disimpulkan bahwa jaguar merupakan hewan soliter, dan hanya melakukan kontak dengan
sesamanya hanya saat musim kawin. Walaupun demikian, jaguar jantan turut berperan dalam
memelihara anaknya. Selain itu, terdapat pula beberapa penemuan mengennai perilaku
kawin, menvari makan, ddan berbagai aspek evolusi serta peran ekologi jaguar tersebut.
Kajian perilaku hewan pada dasarnya mempelajari bagaiman hewan-hewan
berperilaku di lingkungannya dan setelah para ahli melakukan interpretasi, diketahui bahwa
perilaku merupakan hasil dari suatu penyebab atau suatu proximate cause.
Ahli perilaku yang pernah menerima hadiah nobel adalah Konrad Lorenz, Niko
Tinbergen dan Karl Von Frisch. Percobaan yang dilakukan Tinbergen dan Lorenz
membuktikan perilaku innate (bawaan) dan bentuk perilaku yang didapatkan karena
melalui suatu proses belajar yang sederhana.
Tinbergen melakukan percobaan dengan menggunakan srang tawon yang ditempatkan
di tengah lingkaran bunga inus, kemudian lingkaran bunga pinus dipindahkan disamping

sarangnya. Ternyata tawon tersebut kembali ketengah lingkaran, tidak ke sarang. Demikian
pula setelah lingkaran bunga pinus diganti dngan lingkaran batu tanpa sarang, dan
disebelahnya dibentuk segitiga dari bunga pinus dengan sarang di tengahnya. Hasilnya
menunjukkan bahwa tawon kembali ke lingkaran batu, bukan ke sarang di tengah segitiga
bunga pinus. Hasil tersebut menyatakan bahwa tawon dapat menggunakan suatu bentuk di
tanah dan terus menjaga lingkaran tersebut dengan belajar untuk mangenal sesuatu.
Dengan memahami penyebab perilaku, kita dapat lebih mengerti peran ekologi dan
bagaimana hewan menghadapi seleksi alam serta bagaimana perilaku dapat meningkatkan
kebugarannya (fitness), bidang ini juga dikeal dengan istilah Ekologi Perilaku.
1.2

Rumusan Masalah
Apakah definisi dari teori etologi ?
Bagaimanakah sejarah perkembangan teori etologi dan siapakah tokoh-tokoh dalam
teori etologi ?
Bagaiamana perilaku makhluk hidup sebagai akibat dari pengaruh genetis dan faktor
lingkungan?
Bagaiaman perilaku makhluk hidup akibat proses belajar?
Apa saja jenis-jenis perilaku makhluk hidup?
Apa yang dimaksud dengan perilaku sosial?
Bagaiamana perilaku makhluk hidup sebagai refleksi evolusi?
Bagaimana hubungan etologi dengan kajian zoologi lain ?

1.3

Tujuan
Mengetahui definisi teori etologi
Mengetahui sejarah perkembangan teori etologi dan tokoh-tokoh dalam teori etologi
Mengetahui perilaku makhluk hidup sebagai akibat dari pengaruh genetis dan faktor
lingkungan.
Mengetahui perilaku makhluk hidup akibat proses belajar.
Mengetahui jenis-jenis perilaku makhluk hidup.
Mengetahui apa yang dimaksud perilaku sosial beserta contohnya.
Mengetahui perilaku makhluk hidup sebagai refleksi evolusi.
Mengetahui hubungan etologi dengan kajian zoologi lain

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Etologi
Etologi berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti kebiasaan dan logos yang
berarti ilmu atau pengetahuan. Ethos bisa pula berarti etis atau etika dan juga dapat berarti
karakter. Jadi secara etimologi etologi berarti ilmu yang mempelajari tentang kebiasaan atau
karakter. Namun etologi lebih dahulu dikenalkan sebagai ilmu prilaku hewan. Etologi adalah
suatu cabang ilmu zoology yang mempelajari prilaku atau tingkah laku hewan, mekanisme,
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Etologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku binatang dan manusia,
terutama yang berkaitan erat dengan fungsi perilaku serta mempelajari pengaruh yang
ditimbulkannya terhadap perilaku yang didasarkan atas variable-variabel ekologis, psikologis
dan genetik dengan menggunakan metodologi yang terdapat dalam semua cabang ilmu
biologi.
2.2 Tokoh- Tokoh dalam Teori Etologi
1. Charles Darwin (1809-1882)
Mengemukakan teori evolusi di dalam buku yang ditulisnya dengan judul The
Origin of Species (1859). Teori Darwin membuktikan pertalian atau hubungan antara
manusia dengan binatang dan itu memberikan kemungkinan menggunakan binatang
yang lebih rendah peringkatnya, seperti monyet dan tikus sebagai alat untuk
memahami tingkah laku manusia. Pemikiran ini mulai mempengaruhi orang untuk
memandang etologi sebagai pola perilaku tipikal dari spesies binatang tertentu,
termasuk manusia.

(Atang Bin Long,1978)

Sebagai kumpulan spesies, semua anggota dari hewan spesies tertentu akan
berperilaku berbeda dalam situasi yang tertentu. Sehingga tingkah laku yang khas dari
suatu spesies sesungguhnya muncul dari warisan genetik dari spesies yang
berkembang tersebut. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa prilaku
bersifat alamiah. (Haris,2009)

Ilmu yang mempelajari perilaku atau karakter hewan tersebut digunakan di


dalam pendekatan ilmu psikologi perkembangan.
Darwin berpendapat bahwa tidak ada sifat baru yang perlu dimiliki semasa hidup
individu. Pada dasarnya, teori Darwin berjalan sebagai berikut : diantara anggotaanggota sebuah spesies, terdapat variasi yang tak tehitung jumlahnya dan diantara
anggota yang bermacam-macam itu hanya kelompok tertentu yang berhasil bertahan
hidup yang bisa menghasilkan keturunannya. Dengan demikian terdapat perjuangan
untuk bertahan hidup dimana anggota-anggota terbaik sebuah spesies dapat hidup
cukup panjang untuk meneruskan sifat unggul mereka kepada generasi berikutnya.
Terhadap jumlah generasi yang tak terhitung jumlahnya itu, alam kemudian memilih
siapa-siapa yang bisa beradaptasi paling dengan lingkungan mereka.
Menurut Darwin, Istilah perjuangan untuk bertahan hidup (survival for the
existence) adalah yang unggul yang bisa bertahan hidup (survival of the fittest).
2.

Karl Ritter von Frisch (20 November 1886 12 Juni 1982)


Seorang etnolog Austria yang menerima Penghargaan Nobel dalam Fisiologi
atau Kedokteran pada tahun 1973 untuk prestasinya dalam fisiologi perilaku
komparatif dan merintis karya dalam komunikasi antara serangga, bersama dengan
Niko Tinbergen dan Konrad Lorenz. Ia belajar zoologi dengan Richard von Hertwig
dan menggantikannya sebagai profesor zoologi di Munich, Jerman.
Ia mempelajari indera lebah, mengenali mekanisme komunikasi mereka dan
menunjukkan sensitivitas mereka pada cahaya ultraviolet dan polarisasi. Di antara
karyanya adalah studi persepsi sensorik lebah madu dan merupakan salah satu tokoh
pertama yang menerjemahkan arti tarian lebah. Teori ini dipertentangkan oleh
ilmuwan lain dan disambut dengan sikap skeptis saat itu. Hanya sekarang karyanya
terbukti sebagai analisis teoretis yang akurat.
Bertahun-tahun ia memelihara berbagai macam binatang dan mengamati
perilakunya. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan sekelompok itik dengan
anak-anaknya. Ia memisahkan dua kelompok anak angsa, satu kelompok diasuh
induknya dan satu kelompok lagi ia asuh sendiri. Setelah beberapa bulan kelompok
anak angsa yang diasuhnya mengidentifikasi Karl Von Frisch sebagai induknya.

Kemanapun Karl Von Frisch pergi mereka selalu mengikuti. Suatu saat
dipertemukan kelompok asuhnya dengan induk aslinya ternyata kelompok yang
diasuh ini menolak induk aslinya.
3. Sir Julian Sorell Huxley (London, 22 Juni 1887 14 Februari 1975)
Ia seorang ahli biologi evolusioner, humanis, dan internasionalis asal Inggris.
Ia adalah pendukung teori seleksi alam dan salah seorang tokoh penting dalam sintesis
evolusioner pertengahan abad ke-20. Huxley adalah Sekretaris Organisasi Zoologi
London (Zoological Society of London) (1935-1942), Direktur UNESCO yang
pertama, dan salah satu pendiri World Wildlife Fund (WWF). Huxley banyak
mendapatkan medali ataupun penghargaan dari berbagai pihak. Diantaranya ia pernah
dianugerahi Penghargaan Kalinga UNESCO pada tahun 1953 karena dianggap berjasa
mempopulerkan sains, Medali Darwin Royal Society pada tahun 1956, dan Medali
Darwin-Wallace Linnaean Society pada tahun 1958. Dia juga digelari gelar
kehormatan Sir pada tahun yang sama, 1958. Tahun berikutnya ia menerima
Penghargaan Istimewa Yayasan Lasker dalam kategori Keluarga Berencana
Populasi Dunia (Planned Parenthood World Population).
4. Clinton Richard Dawkins (Nairobi, Kenya, 26 Maret 1941)
Dawkins adalah seorang penulis, ahli etologi, biologi evolusioner, ilmu
pengetahuan umum Britania Raya. Ia adalah seorang ateis yang banyak menulis
tentang etologi, biologi evolusioner dan ilmu pengetahuan umum. Ia juga seorang
kritikus kreasionisme dan perancangan cerdas yang terkemuka. Pada tahun 1986,
dalam bukunya yang berjudul The Blind Watchmaker, dia memperdebatkan analogi
sang pembuat jam (argumen yang menyatakan bahwa terdapat seorang pencipta yang
adikodrati yang didasari oleh kompleksnya makhluk hidup yang ada di dunia ini). Dia
mendeskripsikan proses evolusi sebagai sesuatu yang analog dengan sang pembuat
jam yang buta. Sejak saat itu, dia telah menulis beberapa buku sains populer dan
beberapa kali muncul di televisi dan radio, biasanya mendiskusikan topik-topik
tersebut.
Beberapa Buku Karya Richard Dawkins :

Richard Dawkins (1976) The Selfish Gene Membahas mengenai evolusi dari sudut
pandang gen.
Richard Dawkins (1986) The Blind Watchmaker Menjelaskan mengenai teori
evolusi melalui seleksi alam juga untuk menjawab kritik terhadap buku sebelumnya,
The Selfish Gene.
Richard Dawkins (1996) Climbing Mount Improbable Membahas mengenai
probabilitas dan penerapannya dalam teori evolusi juga untuk membantah klaim kaum
kreasionis.
Richard Dawkins (1998) Unweaving the Rainbow Membahas hubungan antara
sains dan seni dari sudut pandang ilmuwan/scientist.
Richard Dawkins (2004) The Ancestors Tale Buku sains populer yang
mengisahkan perjalanan manusia melalui sejarah evolusi, bertemu dengan kerabat
manusia yang berasal dari leluhur yang sama.
Richard Dawkins (2006) The God Delusion Buku yang membantah berbagai
argumen pendukung eksistensi Tuhan.
5. Konrad Zacharias Lorenz (7 November 1903 27 Februari 1989)
Seorang psikologi, zoologi, dan ornitologi berkebangsaan Austria. Dia
memenangkan hadiah penghargaan Nobel dalam bidang Kedokteran pada tahun 1973
bersama Nikolas Tinbergen dan Karl von Frisch. Pada musim gugur tahun 1936,
Lorenz menghadiri sebuah simposium yang diprakarsai Prof. Van der Klaauw di Kota
Leiden, Belanda. Dalam simposium ini, Lorenz bertemu dengan Nikolaas Tinbergen
yang juga seorang ahli tingkah laku hewan (ethologist). Pertemuan ini nampaknya
menjadi pertemuan bersejarah bagi kedua ilmuwan tersebut. Mereka berdiskusi
tentang hubungan antara respon penyesuaian tempat dengan mekanisme pelepasan
yang dapat menjelaskan timbulnya tingkah laku berdasarkan insting. Pemikiran
mereka merupakan cikal bakal lahirnya ethologi modern.
Menurut Lorenz, etologi menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh
biologi, terkait dengan evolusi dan ditandai oleh periode penting atau peka. Konsep
periode penting (critical period), adalah suatu periode tertentu yang sangat dini dalam
perkembangan yang memunculkan perilaku tertentu secara optimal. Konsep etologi
untuk belajar dengan cepat dan alamiah dalam satu periode waktu yang kritis yang
melibatkan kedekatan dengan obyek yang dilihat bergerak pertama kali. Para Etologis

adalah para pengamat perilaku yang teliti, dan mereka yakin bahwa laboratorium
bukanlah setting yang baik untuk mengamati perilaku. Mereka mengamati perilaku
secara teliti dalam lingkungan alamiahnya seperti : di rumah, taman bermain,
tetangga, sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
6.

Nikolas Niko Tinbergen (Den Haag, 15 April 1907 21 Desember 1988)


Seorang etolog dan ornitolog Belanda yang memperoleh Penghargaan Nobel
dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1973 bersama Karl von Frisch dan
Konrad Lorenz atas penemuan mereka di bidang biologi. Tinbergen terkenal untuk 4
pertanyaan yang dipercayainya harus ditanyakan berkenaan dengan berbagai perilaku
binatang. Selain itu, dengan metodenya ia menerapkannya untuk menangani gejala
autisme pada anak. Nikolas memiliki dua orang saudara. Saudaranya Jan Tinbergen,
adalah seorang ekonom yang dianugerahi Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu
Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel. Adiknya Luuk Tinergen juga berprofesi
sama seperti dirinya.
Tinbergen melakukan percobaan dengan menggunakan sarang tawon yang
ditempatkan di tengah lingkaran bunga pinus, kemudian lingkaran bunga pinus
dipindahkan disamping sarangnya. Ternyata tawon tersebut kembali ketengah
lingkaran, tidak ke sarang. Demikian pula setelah lingkaran bunga pinus diganti
dengan lingkaran batu tanpa sarang, dan disebelahnya dibentuk segitiga dari bunga
pinus dengan sarang di tengahnya. Hasilnya menunjukkan bahwa tawon kembali ke
lingkaran batu, bukan ke sarang di tengah segitiga bunga pinus. Hasil tersebut
menyatakan bahwa tawon dapat menggunakan suatu bentuk di tanah dan terus
menjaga lingkaran tersebut dengan belajar untuk mangenal sesuatu.
Kolaborasi Lorenz, Niko Tinbergen, mengemukakan bahwa etologi perlu
memperhatikan 4 jenis penjelasan tiap hal perilaku:
fungsi: bagaimana perilaku berpengaruh kuat pada kesempatan hewan untuk
kelangsungan hidup dan reproduksi?
yang menyebabkan: apakah stimuli yang mendapatkan tanggapan itu, dan
bagaimana diubah oleh pembelajaran terkini?
pengembangan: bagaimana perilaku berubah dengan umur, dan apakah pengalaman
awal berpengaruh pada perilaku untuk diperlihatkan?

sejarah evolusioner: bagaimana perbandingan perilaku spesies terkait, dan


bagaimana mungkin telah timbul melalui proses filogeni?
7. John Bowlby (26 Februari 1907-2 September 1990) - Teori Kelekatan
Ia adalah seorang psikiater dan psikoanalis, terkenal karena minatnya dalam
perkembangan anak. Bowlby lahir di London dalam keluarga kelas menengah. Ia
adalah anak keempat dari enam bersaudara dan dibesarkan oleh seorang pengasuh
dengan gaya Inggris pada saat itu. Ayahnya, Sir Anthony Bowlby, adalah ahli bedah
ke keluarga Kerajaan, namun sebuah sejarah tragis, pada saat John Bowlby berumur
lima tahun, Sir Anthony ayahnya, tewas saat bertugas sebagai wartawan perang dalam
Perang Opium.
Biasanya, Bowlby melihat ibunya hanya satu jam sehari setelah minum teh,
meskipun selama musim panas ia lebih tersedia. Seperti banyak ibu-ibu lain dari kelas
sosial, ia menilai bahwa perhatian dan kasih sayang orang tua akan menyebabkan
berbahaya dengan memanjakan anak-anak. Bowlby mempelajari psikologi dan praklinis ilmu di Trinity College, Cambridge, memenangkan hadiah untuk kinerja
intelektual yang luar biasa. Kemudian pada usia dua puluh dua tahun, ia berkuliah di
University College Hospital di London. Pada usia dua puluh enam, ia memenuhi
syarat dalam obat-obatan. Sementara masih di sekolah kedokteran, ia mendaftarkan
diri di Institut Psikoanalisis. Setelah sekolah kedokteran, ia dilatih di Rumah Sakit
Maudsley. Pada tahun 1937, ia memenuhi syarat sebagai psikoanalis.
Bowlby (Hetherington dan Parke,1999) percaya bahwa perilaku awal sudah
diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan
mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan
meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk
merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis
yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan mengembangkan hubungan kelekatan
yang saling menguntungkan (mutuality attachment).
Teori etologi juga menggunakan istilah Psychological Bonding yaitu
hubungan atau ikatan psikologis antara ibu dan anak, yang bertahan lama sepanjang

rentang hidup

dan

berkonotasi

dengan

kehidupan

sosial

(Bowley dalam

Hadiyanti,1992).
Bowlby menyatakan bahwa kita dapat memahami tingkah laku manusia
dengan mengamati lingkungan yang diadaptasinya yaitu : lingkungan dasar tempat
berkembang. Dalam kehidupannya seringkali manusia menghadapi ancaman, untuk
mendapat perlindungan, anak-anak memerlukan mekanisme untuk menjaga mereka
dan dekat dengan orangtuanya dengan kata lain mereka harus mengembangkan
tingkah laku kelekatan (attachment).
2.3 Perkembangan Teori Etologi
Lorenz, Timbergen dan von Frisch merupakan peraih nobel melalui karyakarya mereka dalam etologi perkembangan. Berkat karya yang di hasilkan Lorenz dan
Tinbergen, etologi berkembang secara kuat di benua Eropa dalam tahun-tahun
sebelum PD II. Konsep ini dikenal dengan teori etologi modern. Setelah perang,
konsep etologi menjadi lebih kuat di Britania Raya, hal ini dimulai dengan
kepindahan Tinbergen ke Universitas Oxford dan ditambah dengan pengaruh dari
William Thorpe, Robert Hinde dan Patrick Bateson. Pada masa yang sama, teori
etologi juga mulai berkembang secara kuat di Amerika.
Pada tahun 1970, etolog Inggris John H. Crook menerbitkan naskah penting
dimana ia membedakan etologi komparatif dengan etologi sosial, dan mengemukakan
bahwa banyak dari etologi yang telah ada sampai kini sesungguhnya merupakan
etologi komparatif, memandang hewan sebagai individu, sedangkan di masa depan,
para etolog akan memerlukan konsentrasi pada perilaku kelompok sosial dari hewan
dan struktur sosial di dalamnya. Ini telah mengetahui sebelumnya. Buku E. O. Wilson
Sosiobiologi muncul pada 1975, dan sejak saat itu studi perilaku telah lebih
banyak berkaitan dengan aspek sosial. Pengembangan terkait ekologi perilaku juga
telah membantu mengubah etologi.
2.4

Perilaku Sebagai Akibat dari Pengaruh Genetis dan Faktor Lingkungan


Bagaimana seseorang dapat bermain piano dengan baik? Hal ini dapat saja
terjadi karena baiknya koordinasi jari dan kemampuan memainkan instrument

tersebut. Tetapi pertanyaan yang kemudian muncul adalah kemapuan tersebut


diturunkan atau cukup dipelajari dan dilatih?
Seringkali suatu perilaku hewan terjadi kareena pengaruh genetis (perilaku
bawaan lahir atau innate behavior), dan k arena akibat proses belajar atau
penglaman yang dapat disebabkan oleh lingkungan. Pada perkembangan ekologi
perilaku terjadi perdebatan antara pendapat yang menyatakan bahwa perilaku yang
terdapat pada suatu organisme merupakan pengaruh alami atau karena akibat hasil
asuhan atau pemeliharaan, hal ini merupakan perdebatan yang terus berlangsung. Dari
berbagai hasil kajian, diketahui bahwa terjadinya suatu perilaku disebabkan oleh
keduanya, yaitu genetis dan lingkungan (proses belajar), sehingga terjadi suatu
perkembangan sifat.
a. Innate / Bersifat bawaan
Merupakan perilaku atau suatu potensi terjadinya perilaku yang telah ada di
dalam suatu individu. Perilaku yang timbul karena bawaan lahir berkembang secara
tepat atau pasti. Perilaku ini tidak perlu adanya pengalaman atau memerlukan proses
belajar dan sering kali terjadi pada saat baru lahir dan perilaku ini bersifat genetis
(diturunkan).

b. Insting
Insting adalah perilaku innate klasik yang sulit dijelaskan, walaupun
demikian, terdapat beberapa perilaku insting yang merupakan hasil pengalaman,
belajar dan adapula yang merupakan factor keturunan. Semua makhluk hidup

10

memiliki beberapa insting dasar.

c. Pola Aksi Tetap (FAPs= Fixed Action Paterns)


FAP adalah suatu perilaku stereotipik yang disebabkan adanya stimulus
yang spesifik. Contohnya:

Saat anak burung baru menetas akan selalu membuka mulutnya, kemudian
induknya akan menaruh makanan didalam mulut anak burung tersebut.

Anak bebek yang baru menetas akan masuk kedalam air. Perilaku ini telah
diprogramkan sebelumnya, dengan kata lain, tidak diperlukan proses belajar.
Induk burung tidak perlu belajar memberikan makanan kepada anaknya yang beru
menetas, anak bebek tidak perlu belajar berenang.

11

Contoh lainnya seperti ritual perkawinan, mempertontonkan keindahan (kejantanan)


untuk menguasai suatu area (teritori). Dan anda dapat memikirkan perlakuan lain
yang merupakan FAP.

2.5

Perilaku Akibat Proses Belajar (lingkungan)


Belajar adalah suatu perubahan dalam perilaku yang merupakan hasil dari
pengalaman. Pembelajaran didefinisikan sebagai perubahan perilaku sebagai akibat
dari pengalaman spesifik. Proses belajar seringkali diidentifikasi sebagai suatu upaya
untuk mendapatkan informasi dari adanya interaksi, atau perilaku yang memang telah
ada pada organism (hewan) dan cenderung memberikan pengertian dari suatu upaya
coba-coba. Kita ketahui bahwa perilaku di pengaruhi factor genetik, sehingga
organisme (hewan) dapat memiliki hubungan dengan individu lain, dan juga dapat
berhubungan dengan lingkungan. Sebagai contoh, keberhasilan dalam hidup dari
suatu spesies karena mampu berkembang biak, tetapi dalam proses tersebut terlibat
pula seleksi alamiah yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan organisme
(hewan) tersebut.

12

a. Jenis-Jenis Perilaku
Jenis jenis perilaku dapat dibagi menjadi :
1. Perilaku tanpa mencakup susunan saraf

Kinesis: yaitu gerak pindah yang diinduksi oleh stimulus, tetapi tidak
diarahkan dalam tujuan tertentu. Meskipun demikian, perilaku ini
masih terkontrol.

Tropisme: yaitu orientasi dalam suatu arah yang ditentukan oleh arah
datangnya rangsangan yang mengenai organisme, pada umumnya
terjadi pada tumbuhan. Meskipun tropisme menunjukan suatu perilaku
yang agak tetap, tetapi tidak mutlak. Tetapi tanggapan yang terjadi
dapat berbeda terhadap intensitas rangsang yang tidak sama. Misalnya
pada cahaya lemah terjadi fototropisme (+), tetapi pada cahaya kuat
yang terjadi fototropisme (-).

Taksis : yaitu gerak pindah secara otomatis oleh suatu organisme motil
(mempunyai kemampuan untuk bergerak), akibat adanya suatu
rangsangan.

Perbedaan antara tropisme dengan taksis adalah pada taksis seluruh organisme
bergerak menuju atau menjauhi suatu sumber rangsang, tetapi pada tropisme hanya
bagian organisme yang bergerak..

2. Perilaku yang mencakup susunan saraf.

Perilaku

bawaan

atau

naluri

atau

insting

(instinct)

Perilaku terhadap suatu stimulus (rangsangan) tertentu pada suatu


spesies, biarpun perilaku tersebut tidak didasari pengalaman lebih
dahulu, dan perilaku ini bersifat menurun. Hal ini dapat diuji dengan
menetaskan hewan ditempat terpencil, sehingga apapun yang
dilakukan hewan-hewan tersebut berlangsung tanpa mengikuti contoh
dari hewan-hewan yang lain. Tetapi hal tersebut tidak dapat terjadi
pada hewan-hewan menyusui, karena pada hewan-hewan menyusui
selalu ada kesempatan pada anaknya untuk belajar dari induknya.
Contoh:

13

Pada pembuatan sarang laba-laba diperlukan serangkaian aksi yang


kompleks, tetapi bentuk akhir sarangnya seluruhnya bergantung pada
nalurinya. Dan bentuk sarang ini adalah khas untuk setiap spesies,
walaupun sebelumnya tidak pernah dihadapkan pada pola khusus
tersebut.

Sarang Laba - laba

Pada pembuatan sarang burung, misalnya sarang burung manyar


(Ploceus manyar). Meskipun burung tersebut belum pernah
melihat model sarangnya, burung manyar secara naluriah akan
membuat sarang yang sama.

Sarang Burung Manyar

14

Untuk melakukan perilaku bawaan kadang-kadang diperlukan suatu isyarat


tertentu, isyarat tersebut disebut release atau pelepas. Release (pelepas) ini dapat
berupa warna, zat kimia dll.

Release berupa warna, misalnya pada ikan berduri punggung tiga. Selama musim
berbiak biasanya ikan betina akan mengikuti ikan jantan yang perutnya berwarna
merah ke sarang yang telah disiapkannya. Tetapi ternyata ikan betina akan
mengikuti setiap benda yang berwarna merah yang diberikan kepadanya. Dan
benda apapun yang menyentuh dasar ekornya, akan menyebabkan ikan betina
tersebut bertelur.

Release berupa zat kimia misalnya feromon. Feromon berfungsi sebagai release
pada berbagai serangga sosial seperti semut, lebah dan rayap. Hewan-hewan
tersebut mempunyai berbagai feromon untuk setiap tingkah laku, misalnya untuk
perilaku kawin, perilaku mencari makan, perilaku adanya bahaya dll.

Release berupa bintang, Sauer seorang ornitolog dari Jerman mencoba sejenis
burung di Eropa (burung siul). Burung tersebut yang masih muda pada musim
gugur akan bermigrasi ke Afrika terpisah dari induknya. Migrasi tersebut
dilakukan pada malam hari dengan bantuan navigasi bintang-bintang. Sauer
memelihara burung siul yang masih muda, pemeliharaannya tidak mudah karena
burung tersebut hanya memakan serangga yang masih hidup dalam jumlah
banyak. Bila musim gugur tiba, burung-burung tersebut menjadi tidak tenang.
Bila burung tersebut dibawa ke dalam planetarium, melihat bintang-bintang maka
burung tersebut akan terbang ke arah tenggara, sepertinya bila di alam benas
burung tersebut menuju ke Afrika.
Dorongan berpindah pada musim gugur merupakan contoh perilaku
bawaan pada burung burung yang berulang-ulang pada interval tertentu. Perilaku
demikian disebut ritme atau periode, dan dapat berlangsung setiap 2 jam, 24 jam
atau bahkan satu tahun. Banyak hewan yang mempunyai ritme harian, seperti
hewan nocturnal yang aktif setiap 12 jam sekali. Ritme tersebut tidak akan persis
sama, dapat bergeser satu jam kedepan atau satu jam mundur. ritme yang
demikian disebut circadian. Perilaku yang dapat membedakan panjang relatif
siang dan malam diatur oleh perubahan dalam fotoperiode. Kemampuan bereaksi
terhadap fotoperiode menunjukkan bahwa hewan mempunyai mekanisme

15

mengukur jumlah jam siang dan jumlah jam malam atau salah satu diantaranya.
Atau dengan perkataan lain hewan tersebut mempunyai jam biologis.

3. Perilaku Yang Diperoleh Dengan Belajar (Animal reasoning and learning)


Perilaku yang diperoleh dengan belajar adalah perilaku yang diperoleh atau
sudah dimodifikasi karena pengalaman hewan yang bersangkutan yang
mengakibatkan suatu perubahan yang tahan lama dan dapat juga bersifat
permanen.
Kisaran Belajar dari yang Sederhana Hingga Kompleks
Belajar adalah suatu perubahan dalam perilaku yang merupakan hasil dari
pengalaman. Tabel 5.1 dibawah ini menunjukkan berbagai bentuk dari belajar
yang menghasilkan jenis-jenis perilaku.

Tipe Belajar

Karakteristik

Habituasi

Hilang atau timbulnya respons kepada stimulus setelah pengulangan


suatu perlakuan

Imprinting

Pada kehidupan hewan, belajar yang tidak dapat diulang dan terbatas
pada suatu periode keritis tertentu, sering kali dihasilkan dengan
adanya hubungan kuat antara induk dan keturunannya

Asosiasi

Perubahan perilaku yang diakibatkan dari suatu hubungan antara satu


perilaku dengan system hukuman dan hadiah; dalam hal ini termasuk
kondisi klasik dan belajar dengan mencoba-coba (trial and error)

Imitasi

Perilaku yang diakibatkan karena adanya proses pengamatan dan


meniru individu lain

Inovasi

Perilaku yang timbul dan berkembang karena terjadi respons terhadap


suatu keadaan yang baru, tanpa mencoba-coba atau imitasi; dikatakan
juga sebagai problem solving

Habituasi (habituation)
Habituasi = pembiasaan, merupakan suatu kemampuan dari hewan dan manusia
untuk menggunakan tipe atau model khusus suatu rangsangan. Hewan dan manusia
akan

berhenti

merespon

suatu

rangsang

saat

mereka

belajar bahwa

hal

16

tersebut tidak berbahaya. Habituasi juga dapat diartikan hilang atau timbulnya respons
kepada stimulus setelah pengulangan suatu perlakuan
Habitasi adalah suatu bentuk belajar yang paling sederhana, akan terjadi jika
stimulus yang tidak berbahaya didapat oleh organisme (hewan) secra berulang-ulang,
setelah terjadi stimulus tersebut maka organisme (hewan) akan mengabaikannya.
Habitusi akan dihasilkan setelah organisme (hewan) belajar, sehingga akan
kehilangan respons bila stimulus dilakukan berulang-ulang dan tidak membahayakan
dirinya.
Contoh perilaku ini misalnya anda menyentuh atau memukul secara perlahan
seekor anjing pada bagian belakangnya (ekor), maka ia akan menoleh ke belakang,
bila anda memukul dengan berulang kali, maka anjing tersebut tidak akan
menghiraukannya atau tidak akan menoleh. Akakn tetapi hal menarik akan terjadi bila
anda memukul perlahan dibagian lain, atau anda memukl perlahan setelah beberapa
hari, anjing akan memberikan respons kembali. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa respons dasar pada prinsipnnya tidak hilang, tetapi untuk sementara waktu
termodifikasi karena belajar.
Imprinting
Imprinting merupakan tipe atau model belajar yang sangat cepat dan tidak dapat
terlupakan yang menempati tahapan-tahapan penjajakan awal / suatu pengenalan
terhadap satu objek seperti induk, hal tersebut terjadi pada suatu periode kritis sesaat
setelah lahir. .
Contoh bayi yang baru lahir secara refleks akan mencari putting susu ibunya.
Contoh lain adalah sekelompok angsa yang baru lahir anda beri makan atau angsaangsa tersebut melihat suatu objek yang memberinya makan, maka anak-anak angsa
tersebut akan menganggap anda atau objek tersebut sebagai induknya dan akan terus
mengikuti anda atau objek. Walaupun anak-anak angsa tersebut melihat induknya
yang benar, mereka akan mengabaikannya dan terus menganggap bahwa objek atau
anda adalah induknya. Conto tersebut adalah hasil percobaan Konrad Lorenz yang
mendapatkan hadiah Nobel karena kajian tersebut.
Perilaku imprinting dan FAP akan terjadi pada makhluk hidup walaupun
stimulus yang diterimanya bukanlah yang alamiah. Misalnya induk burung akan
memberi makan pada boneka anak burung yang membuka mulut pada sarangnya.

17

Anak-anak angsa akan mengikuti boneka angsa dewasa yang diberi makan di
belakangnya.

Asosiasi atau Pengkondisian (Associative Learning)


Definisi asosiasi atau pengkondisian adalah perilaku yang disebabkan oleh
suatu hasil dari suatu respons terhadap kondisi-kondisi tertentu, baik kondisi tersebut
diketahui atau tidak. Kondisi penyebab prilaku tersebut dikatakan pula sebagai
stimulus. Respons adalah sesuatu yang di produksi atau dihasilkan karena adanya
stimulus. Perilaku ini dapat dibagi menjadi:

Pengkondisian Klasik (Classical Conditioning) atau Perilaku Asosiatif


Contoh yang paling banyak digunakan adalah hasil percobaan Ivan
Pavlov (ahli fisiologi perilaku dari Rusia) yang menggunakan bel untuk
anjing. Bila bel berbunyi, anjing tersebut diberi makan, sebelum
menyantap makanannya, anjing tersebut mengeluarkan saliva. Beberapa
saat setelah itu, walaupun tidak ada makanan, sesaat setelah mendengar
bunyi bel yang sama, anjing tersebut tetap mengeluarkan salivanya.

Pengkondisian Operant (Operant Conditioning)


Perilaku ini lebih merupakn hasil kondisi yang disebut mencobacoba atau trial and error. Semakin dekat individu mendapatkan respon
dengan adanya stimulus positif, maka induvidu tersebut akan semakin
mudah mengulang keberhasilan respon yang dilakukan. Perilaku ini
termasuk dalam melatih seekor hewan. Dapat juga terjadi pada seekor
hewan yang semakin lama semakin sedikit mengeluarkan energinya
untuk mendaptkan makanan. Perilaku ini sering kali dijumpai pula pada
hewan yang tidak akan mengulangi perbuatannya karena ternyata
perbuuatan tersebut dapat membahayakan dirinya.
Trial and Error : secara bahasa berarti mencoba dan belajar dari
kesalahan. Bila rangsang bersifat positif atau tidak berbahaya maka
manusia akan terus

melakukan respon yang sama. Bila rangsang

18

bersifat negatif atau berbahaya maka manusia tersebut akan menghindar


dan berhenti melakukan respon. Contoh : seorang anak tidak akan
hujan-hujanan karena ini termasuk pengalaman si anak agar menghindari
hal tersebut karena akan berakibat sakit.
Imitasi
Berbagai jenis hewan dapat melakukan perilaku sebagai akibat dari pengamatan
dan meniru hewan lainnya. Perilaku tipe ini banyak dipelajari pada burung, akan
tetapi perilaku imitasi terbatas oleh suatu periode kritis tertentu. Banyak hewan
predator, termasuk kucing, anjing dan serigala kelihatannya belajar dasar taktik
berburu dengan mengamati dan menirukan induknya. Pada beberapa kasus, factor
genetis dan mencoba-coba dalam tipe belajar ini memegang peran penting.
Inovasi atau Problem Solving atau Insight Learning
Inovasi atau disebut juga reasoning adalah suatu kemampuan untuk
merespons sesuatu terhadap keadaan baru dan dilakukan dengan tepat. Perilaku tipe
ini terjadi pada proses belajar dan merupakan perilaku yang memiliki kualitas tinggi
pada organisme (hewan). Perilaku ini berhubungan dengan kemampuan organisme
(hewan) untuk melakukan pendekatan terhadap suatu situasi yang baru dan dapat
menyelesaikan masalah yang terjadi. Intinya, setiap organisme (hewan dan juga
manusia) dapat memiliki perilaku tertentu atau bertindak untuk melakukan sesuatu
dengan alasan tertentu atau berfikir. Subjek dari inovasi adalah penyelesaian masalah,
sehingga tipe perilaku ini sering pula diberi istilah problem solving.
Insight = wawasan atau pengetahuan. Manusia mempunyai kemampuan berfikir
dapat mengenali suatu masalah dan mencari pemecahannya. Hal tersebut adalah
kemampuan manusia dalam membentuk suatu pemikiran yang benar atau perlakuan
yang pantas yang perlu dilakukannya pada saat pertama kali mencoba, tanpa melihat
kondisi yang spesifik. Contoh : ketika bayi dirangsang dengan mainan yang
diletakkan cukup jauh dari jangkauannya maka ia akan berusaha untuk meraih benda
itu. misalnya dengan cara merangkak.

19

Metode coba-coba (trial & error learning)


Misalnya yang dilakukan Skinner dengan membuat sekat dalam kotak yang
akan mengeluarkan makanan bila ditekan. Tikus yang lapar dimasukan ke dalam
kotak. Dalam waktu singkat tikus dapat mengetahui cara mendapatkan makanan
tersebut.
Dalam suatu kotak ada dua titik cahaya, yang satu lebih terang dari yang lain.
Bila yang terang dipatuk pada bagian bawahnya akan keluar makanan. Merpati
dengan cepat akan mematuk cahaya yang lebih terang.
Perilaku dengan menggunakan akal
Pada umumnya dianggap bahwa suatu ciri yang membedakan hewan dengan
manusia adalah dari bahasanya. Banyak hewan yang memiliki mekanisme pemberian
isyarat yang mendekati ciri bahasa, misalnya pada lebah dengan tariannya. Sedangkan
Ann dan David meneliti simpanse betina bernama Sarah dengan menggunakan
simbol-simbol dari plastik sebagai bahasa. Setelah 6 tahun, Sarah mempunyai
perbendaharaan kata sekitar 130 buah. Penggunaan simbol-simbol yang dapat
dimanipulasi sebagai pengganti bahasa lisan itu, merupakan bukti kecakapan
simpanse tetapi tidak mampu mengeluarkannya. Sedangkan Garner menyelidiki
kemampuan simpanse betina bernama Washoe dengan menggunakan bahasa isyarat
orang tuli di Amerika Utara. Setelah 22 bulan, Washoe sudah memahami lebih dari 30
bahasa isyarat tersebut. Walaupun kemampuan Sarah dan Washoe belum sempurna,
tetapi kemampuannya sama baiknya dengan kemampuan seorang anak berumur 2
tahun.

2.6

PERILAKU SOSIAL

Perilaku yang dilakukan oleh satu individu atau lebih yang menyebabkan terjadinya
interaksi antar individu dan antar kelompok. Hal ini didasari adanya perilaku individu yang
dilakukan karena perilaku individu itu sendiri dan perilaku dari kelompok (grup). Perilaku
sosial dapat pula terjadi karena interaksi anggota dari berlainan spesies. Adanya perilaku
sosial sebagai akibat dari kompetisi sering terjadi dalam dunia hewan, misalnya untuk
memperebutkan sumber makanan, dan lain-lain. Perilaku Sosial bisa dibagi menjadi :

20

Perilaku Affiliative; adalah perilaku yang dilakukan bertujuan untuk


mempererat ikatan social, koordinasi antar individu dan kebersamaan antar
atau di dalam kelompok.

Perilaku Agonistic: adalah perilaku agresif yang pada dasarnya dilakukan


untuk dapat lulus hidup (survival). Perilaku agonistik ini pada umumnya
merupakan ritual, memperlihatkan kekuatan, dan keindahan (dapat berupa
suara, tubuh dan lain-lain). Sering kali terjadi pula perkelahian yang tidak
mematikan, walaupun pada beberapa spesies perkelahian dapat terjadi hingga
terjadi kematian. Perilaku agonistik terjadi pula untuk menarik pasangan
kawinnya, banyak jenis burung jantan melakukan hal tersebut dengan
mengeluarkan suara yang indah dan khusus, adapula yang melakuakan tarian
dan mempertontonkan keindahan tubuhnya untuk menarik pasangannya.
Banyak hewan sosial yang melakukan kelangsungan hidupnya dengan
memelihara adanya perilaku agonistik. Misalnya berbagai jenis ayam, apabila
beberapa anak ayam yang tidak saling mengenali ditempati bersama, mereka
akan melakukan respons dengan melakukan perkelahian kecil dengan saling
mematuk. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya konflik, pada
akhirnya akan akan terjadi suatu hirarkki (dominasi hirarki), misalnya yang
lebih tua akan mengontrol yang lainnya. Dibagi menjadi 2 yaitu:
Perilaku aggressive: Perilaku yang bersifat mengancam atau
menyerang.
Perilaku submissive: Perilaku yang menunjukkan ketakutan
atau kalah.

Vokalisasi; Adalah suara yang dikeluarkan oleh satu atau lebih individu untuk
berkomunikasi dan koordinasi diantara anggota kelompoknya

Perilaku maternal / mothering; Perilaku induk yang bertujuan melindungi dan


memelihara anaknya.

Menghindari Predator
Ada sekelompok kecil hewan yang termasuk super predator yang tidak
takut pada predator yang lain, tetapi pada akhirnya musuhnya adalah manusia.
Pada umumnya cara utama hewan menghindari musuh adalah dengan berlari
atau terbang. Pada hewan tingkat tinggi, melarikan diri dari predator adalah
merupakan perilaku belajar, misal : kucing dengan anjing. Tetapi pada lalat

21

rumah merupakan perilaku bawaan, misal : bila lalat akan dipukul dapat
menghindar, karena adanya perubahan udara di sekitarnya.

Tanda adanya bahaya itu diterima berbeda antara satu spesies dengan
spesies yang lain. Pada sejenis burung gelatik mempunyai naluri takut
terhadap burung hantu tetapi tidak takut terhadap ular, tetapi pada spesies
burung yang lain sejak lahir sudah takut terhadap ular, tetapi tidak takut
terhadap predator yang lain. Juga respon terhadap predator bervariasi, karena
meskipun predatornya sama akan memberikan tanda yang berbeda pada waktu
yang tidak sama. Misalnya antelop tidak akan melarikan diri bila melihat singa
yang berjalan ke arahnya, tetapi antelop baru bereaksi kalau singa mengendapendap pada semak-semak.

Cara Menghindari Predator


a. Perilaku Altruistik
Perilaku ini lebih mementingkan keselamatan kelompok
daripada dirinya sendiri. Perilaku altruistik atau altruisme kelihatannya
merupakan perilaku yang sering dikatakan sebagai perilaku non
egois, perilaku ini banyak dilakukan oleh hewan-hewan yang
berkoloni. Individu yang melakuakan perilaku ini tidak mendapatkan
keuntungan, bahkan dapat mematikan dirinya, akan tetapi perilaku ini
akan memberikan keuntungan bagi kelompoknya atau koloninya,
sehingga terjadi peningkatan kebugaran dari koloni tersebut. Contoh :
o Rusa (Muskoxen) di daerah tundra di Antartika, bila tidak bisa
melarikan diri dari predator (serigala) akan mengirimkan bau dari
jari kakinya yang disebut karre.
o Kera (Baboon) di Afrika bila ada bahaya misalnya dengan
datangnya singa atau leopard, maka akan membentuk formasi
kera dimana yang tua, betina dan anak-anak ditengah dikelilingi
oleh kera-kera muda jantan. Sedangkan kera jantan yang menjadi
raja akan berusaha mengusir atau menyerang predator tersebut.

22

o Induk ayam akan bersuara ribut sebagai tanda bahaya bila dilihat
ada burung elang yang datang, anaknya dipanggil untuk
disembunyikan.
o Semut yang sarangnya terganggu akan mengeluarkan feromon
(asam formiat) dari taringnya, untuk memberi tanda kepada
semut-semut yang lain, bila keadaan sudah reda asam formiat
tidak dikeluarkan lagi dan kembali lagi ke sarang.

b. Kamuflase (penyamaran)
Yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Contoh :
o Burung Ptarmigan pada musim dingin berbulu putih, dan pada
musim panas bulunya berbintik membuat tidak menarik perhatian
karena warnanya sangat sesuai dengan lingkungan.

Burung Ptarmigan ; Atas : Pada saat Musim Panas; Bawah; Pada Saat Musim Dingin

o Kupu-kupu daun mati (Kallima) dari Amerika Selatan sayapnya


sangat mirip dengan daun yang dihinggapi sehingga dapat
terhindar dari burung pemangsanya, tetapi karena sangat mirip

23

dengan daun maka kadang-kadang ada insekta lain yang bertelur


di atas sayapnya.

c. Mimikri yaitu menyerupai hewan yang lain, dapat dibagi menjadi


mimikri Miller, mimikri Bates dan mimikri agresif.

Mimikri Miller adalah hewan yang dapat dimakan sangat


mirip dengan hewan yang tidak dapat dimakan. Misalnya
kupu-kupu pangeran tidak mengandung racun dalam
tubuhnya dan enak dimakan seperti roti bakar, sangat
mirip dengan kupu-kupu raja yang mempunyai racun
dalam tubuhnya.

Mimikri Bates adalah hewan yang tidak berbahaya


menyerupai hewan lain yang berbahaya. Misalnya
sejumlah ular di AS yang tidak berbahaya memiliki warna
seperti ular tanah yang sangat berbisa.

Mimikri agresif adalah mengembangkan alat untuk


mengelabui

mangsanya. Ikan

anglerfish

(Antennarius) dari Filipina mempunyai satu pemikat yang


mirip ikan kecil untuk memikat mangsanya, pemikat
tersebut adalah perkembangan dari duri pada sirip
punggung

pertama. Kunang-kunang

jantan

dan

betina saling tertarik dengan cahaya kelap-kelipnya, pola


kelap-kelip ini berbeda untuk setiap spesies. Tetapi ada
suatu spesies kunang-kunang betina yang dapat meniru
kelap-kelip spesies yang lain, bila jantan spesies yang lain
itu datang akan dimakan.
d. Banyak hewan yang mempunyai adaptasi melindungi dirinya terhadap
serangan pemangsa, misalnya :

Duri pada landak

Bau pada celurut

24

Spirobolus (kaki seribu) mensekresi asam hidrosianat

yang beracun jika diganggu.


Bila hewan telah mempunyai senjata tetapi tidak ada pemangsa
yang

tahu,

maka

hewan

tersebut

mempunyai

warna

yang

mencolok

berevolusi
tanpa

sehingga

penyamaran

sedikitpun, disebut aposematik. Misalnya pada larva kupukupu raja berwarna mencolok tanpa penyamaran sedikitpun,
dan di dalam badannya terdapat zat kimia yang beracun untuk
predator yang memangsanya. Zat beracun tersebut berasal dari
tumbuhan (milkweed) yang biasa dimakan. Racun tersebut tetap
disimpan sampai larva mengalami metamorfosis. Maka burung
yang memakan kupu-kupu raja akan memuntahkannya dan
tidak akan makan lagi.

e.

Wilayah Jelajah (Home Range)


Adalah wilayah yang dikunjungi satwaliar secara tetap karena
dapat mensuplai makanan, minum, serta mempunyai fungsi sebagai
tempat berlindung atau bersembunyi, tempat tidur dan tempat kawin.
Tempat-tempat minum dan tempat-tempat mencari makanan pada
umumnya lebih longgar dipertahankan dalam pemanfaatannya,
sehingga

satu

tempat

minum

dan

tempat

makan

seringkali

dimanfaatkan secara bergantian ataupun bersama-sama.


f.

Teritori
Beberapa spesies mempunyai tempat yang khas dan selalu
dipertahankan dengan aktif, misalnya tempat tidur (primata), tempat
istirahat (binatang pengerat), tempat bersarang (burung), tempat
bercumbu (courtship territories).
Batas-batas teritori ini dikenali dengan jelas oleh pemiliknya,
biasanya ditandai dengan urine, feses dan sekresi lainnya. Pertahanan
teritori ini dilakukan dengan perilaku yang agresif, misalnya dengan
mengeluarkan suara ataupun dengan perlakuan fisik. Pada umumnya
lokasi teritori lebih sempit daripada wilayah jelajah.

25

Batas wilayah jelajah dan teritori kadang-kadang tidak jelas, misalnya


terjadi pada beberapa primata, seperti Trachypithecus, Gorilla, Pan dan berbagai
jenis karnivora seperti anjing (Canis lupus). Pada burung batas wilayah jelajah
tidak jelas, Elliot Howard menemukan pada burung pipit hanya dipertahankan
beberapa jam. Tetapi ada juga yang jelas batas-batasnya, terutama bagi satwa liar
yang mempunyai wilayah jelajah yang tidak tumpang tindih di antara individu
atau kelompok individu, seperti dijumpai pada wau-wau (Hylobates), teritori
kawin beberapa kelompok Artiodaktila dan pada anjing liar. Kesimpulannya
adalah jika individu tidak mempunyai teritori, maka wilayah jelajahnya dapat
tumpang tindih. Misalnya terjadi pada kelompok famili rusa merah (Cervus
elaphus), Gajah Afrika (Loxodonta), dan kera barbari (Macaca sylvanus).
Untuk mempertahankan teritorinya satwa liar menunjukan perilaku
conflict behaviour.
Aktivitasnya dengan menunjukkan aggressive display dan triumph
ceremony (pada angsa).
Luas wilayah jelajah semakin luas sesuai dengan ukuran tubuh satwa liar
baik dari golongan herbivora maupun karnivora. Wilayah jelajah juga bervariasi
sesuai dengan keadaan sumber daya lingkungannya, semakin baik kondisi
lingkungannya semakin sempit ukuran wilayah jelajahnya. Selain itu wilayah
jelajah juga dapat ditentukan oleh aktivitas hubungan kelamin, biasanya wilayah
jelajah semakin luas pada musim reproduksi.
Untuk mengetahui luas wilayah jelajah satwaliar diperlukan penelitian
yang berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Berdasarkan hasil penelitian
Douglas-Hamilton di TN Lake Manyara (Afrika), yang dilakukan lebih dari
15.000 ulangan untuk 48 unit keluarga gajah dan 80 ekor jantan soliter,
mendapatkan luas wilayah jelajah yang bervariasi antara 14-52 km2. Luas ini
mungkin terlalu kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh gajah yang besar.
Penelitian Leuthold dan Sale di TN Tsavo, Kenya mendapatkan angka wilayah
jelajah rata-rata dari 4 ekor gajah sekitar 350 km2. Olivier di Malaysia wilayah
jelajahnya antara 32,4-166,9 km2.
Wilayah jelajah unit-unit keluarga gajah di hutan-hutan primer mempunyai
ukuran luas dua kali dari wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder. Perbedaan ini
tentunya disebabkan karena adanya perbedaan produktivitas makanan pada kedua
kondisi hutan yang berbeda.

26

Ukuran wilayah jelajah bagi jenis primata ditentukan oleh 2 faktor utama,
yaitu jarak perjalanan yang ditempuh setiap hari oleh setiap anggota kelompok,
dan pemencaran dari kelompoknya. Ukuran wilayah jelajah dari siamang, wauwau lar dan wau-wau agile berbeda, lihat table di bawah.
Whitten menunjukkan bahwa faktor persaingan dan aktivitas manusia dapat
berpengaruh terhadap luas wilayah jelajah bilou (Hylobates klossii). Menurut Van
Schaik penggunaan wilayah jelajah kera ekor panjang di Ketambe (TN. G.
Leuser), ada beberapa faktor ekologis yang potensial mempengaruhi penggunaan
wilayah jelajah, baik ditinjau dari pengaruh jangka panjang maupun jangka
pendek. Pola penggunaan jangka panjang pada umumnya disesuaikan dengan
pemanfaatan buah, sedang pencarian serangga disesuaikan dengan keadaannya
yang menguntungkan. Penyimpangan dari pola ini dapat saja terjadi karena
berbagai faktor, seperti adanya lereng-lereng terjal, dan wilayah yang tumpang
tindih dengan kelompok lainnya. Kera ekor panjang menghindari lereng-lereng
terjal, terutama untuk menghindari resiko adanya pemangsa dan untuk
menghemat tenaga. Wilayah yang tumpang tindih dengan kelompok tetangga
juga dihindari, sehingga tidak terjadi pertemuan dengan kelompok lainnya.
Pergerakan adalah usaha individu ataupun populasi untuk mendapatkan
sumberdaya yang diperlukan agar dapat bertahan hidup dan menurunkan
keturunan sesuai dengan tetuanya. Ada berbagai cara pergerakan, pada umumnya
dapat dibedakan kedalam: invasi, pemencaran , nomaden dan migrasi. Pergerakan
ini dilakukan di wilayah jelajahnya, yang luasnya bervariasi, tergantung pada
jenis satwaliar, serta kualitas dan kuantitas habitatnya. Di dalam wilayah
jelajahnya, ada suatu tempat yang dipertahankan secara intensif, disebut teritori,
seperti tempat bersarang atapun tempat makan. Pada kondisi habitat yang kaya
akan sumberdaya yang diperlukan satwaliar, ukuran teritori mereka lebih sempit
(kecil) jika dibandingkan dengan habitat yang miskin.

2.7

Perilaku Merupakan Refleksi Evolusi


Dari penjelasan sebelum ini, dapat dikatakan bahwa perilaku adalah suatu
adaptasi evolusi yang menyebabkan terjadinya suatu peningkatan kelulus hidupan dan
kesuksesan reproduksi serta kebugaran. Walau demikian, perilaku juga merupakan

27

suatu hasil pengaturan dari hewan terhadap lingkungan dengan cara seleksi alam.
Pada bagian berikut, kita akan membahas peran ekologi dari suatu perilaku hewan
sehingga dapat hidup sukses di lingkungan.
a.

Ritme Biologi
Banyak jenis hewan mamalia seperti kelelawar, harimau dan bangsa kucing
kurang aktif pada siang hari dan makan saat matahari tenggelam atau aktif malam
hari. Akan tetapi, banyak jenis burung tidur pada malam hari dan banyak
melakukan aktivitas pada siang hari. Pola hidup yang berulang-ulang setiap hari,
seperti siklus tidur atau bangun pada makhluk hidup disebut Ritme Sikardian
(Cycardian Rythms). Pada tanaman dan juga makhluk hidup lainnya, ritme biologi
dikatakan juga dengan istilah Jam Biologi. Penyebab eksternal, khususnya siklus
cahaya dapat mengatur waktu, membuat tubuh memiliki koordinasi ritme dengan
ketat. Selain factor lamanya organisme didedahkan pada periode terang gelap
tertentu, temperature juga berperan dalam ritme biologi.
Kepentingan mempelajari ritme biologi, waktu dan petunjuk serta faktor
yang menyebabkannya sudah banyak dilakukan peneliti karena erat kaitannya
dengan waktu kerja efisien, serta kemampuan dalam berfikir serta dalam membuat
keputusan. Para pekerja malam, atau mereka yang melakukan perjalanan dengan
pesawat terbang dari satu benua kebenua lain yang melintasi beberapa zona waktu
yang berbeda, dapat menyebabkan keletihan, hingga mengurangi kemampuan
bekerja, bahlan dapat menyebabkan depresi. Hal tersebut disebabkan oleh adanya
gangguan pada ritme biologi internal.
b. Mekanisme Bergerak
Hewan dan tumbuhan atau organ dari suatu organisme tersebut memiliki cara
khusus saat melakukan pergerakan. Telah dikehaui bahwa terjadinya pergerakan
khusus karena adanya aksi atau stimulus sehingga suatu organisme bergerak, yaitu:
g. Kinetis
Kinetis adalah suatu perubahan acak (random) dalam kecepatan dan
atau arah dari suatu organisme sebagai respons terhadap stimulus.
Misalnya adanya pergerakan karena terjadinya kondisi lingkungan yang

28

tidak sesuai. Seperti beberapa kumbang yang sangat aktif di daerah kering
dan kurang aktif di daerah lembab.
h. Taksis
Taksis sangat spesifik, berhubungan langsung sebagai akibat adanya
suatu stimulus. Pergerakan organisme (keseluruhan) dapat kea rah
stimulus maupun menjauhi stimulus. Misalnya larva lalat rumah akan
bergerak menjauhi arah cahaya (fototaksis negative), perilaku ini
kemungkinan terjadi karena larva tersebut dapat berlindung dari musuh
alaminya. Banyak tumbuhan melakukan pergerakan ini karena adanya
stimulus cahaya (foto), arus (rheo), angin, gravitasi, air dan lain-lain.
c. Kelompok (Group)
Pergerakan secara berkelompok yang terjadi pada banyak hewan dikenal
dengan istilah migrasi. Hal ini, biasanya dipengaruhi oleh adanya perubahan
cuaca atau musim, dan lebih khusus lagi perilaku ini berpengaruh untuk
mendapatkan sumber makanan, daerah atau tempat untuk kawin, dan lain-lain.
Migrasi banyak terjadi pada berbagai jenis burung, serangga, seperti
beberapa jenis kupu-kupu, berbagai jenis ikan dan mamalia lain. Pada dasarnya
hewan melakukan migrasi karena telah mengenali daerah perjalanan mereka, dan
hal ini dilakukan dengan adnya piloting, orientasi dan navigasi. Hewan dapat
melakukan migrasi dengan adanya pengenalan suatu cara di atas atau kombinasi
dari ketiganya.
d. Komunikasi
Komunikasi pada umumnya terjadi diantara sesama spesies, misalnya untuk
mengenali pasangan kawin. Pada hewan-hewan social komunikasi dilakukan
sebagai salah satu cara untuk mengetahui koloninya. Komunikasi dapat pula
terjadi untuk menghndari bahaya.
Komunikasi dapat terjadi melalui perantara senyawa kimia menggunakan
Feromon, yaitu senyawa kimia yang disekresikan keluar tubuh organisme dan
dapat dikenali (melalui bau, dimakan, dan lain-lain) oleh sesama spesies dan akan
berguna untuk berbagai kehidupannya, misalnya untuk kawin, tempat berkumpul

29

(agregasi), menemukan makanan, mengenali koloni, adanya bahaya, dan lainlain.


Selain itu, komunikasi juga terjadi secara visual, hal ini banyak terjadi
pada

saat

sesama

mempertahankan

spesies

daerah

mengenali

teritori.

pasangan

Komunikasi

kawinnya

dengan

atau

suara

saat

(auditory

communication) sangat banyak dilakukan oleh hewan, misalnya untuk


mengetahui derah teritori, untuk mengenali sesame spesies dan digunakan untuk
mengetahui sumber makanan dan untuk melakukan perkawinan, hingga untuk
menginformasikan adanya bahaya. Sebagai contoh yang telah banyak ditelaah
adalah adanya suatu hipotesis tarian lebah sebagai alat komunikasi untuk
mengetahui sumber makanan.
e. Perilaku Sosial (Social Behavior)
Secara umum didefinisikan bahwa perilaku sosial adalah segala macam dari
interaksi diantara sesame spesies yang melibatkan antara dua atau lebih individu
organisme (umumnya hewan). Hal ini didasari adanya perilaku individu yang
dilakukan karena perilaku individu itu sendiri dan perilaku dari kelompok (grup).
Perilaku sosial dapat pula terjadi karena interaksi anggota dari berlainan spesies.
Adanya perilaku sosial sebagai akibat dari kompetisi sering terjadi dalam dunia
hewan, misalnya untuk memperebutkan sumber makanan, dan lain-lain.

2.8 Hubungan dengan Kajian Zoologi yang lain


Kajian mengenai perilaku sangat berhubungan dengan displin ilmu biologi lainnya.
Misalnya:
1. Ekologi ( contoh perilaku adaptif hewan)
2. Sosiologi (contoh perilaku sosial hewan tertentu, misalnya semut)
3. Taksonomi (contohnya pengenalan karakter morfologis untuk mengetahui perilaku
dari hewan sibling species yang terlihat secara morfologi hampir serupa, tetapi
memiliki perilaku yang sangat berbeda, terutama dalam hal reproduksi, ternyata
berasal dari spesies yang berbeda)
Contoh: Bactrocera dorsalis dan B. Carambollae adalah contoh hewan sibling
species

30

4. Evolusi (contohnya kajian mengenai proses divergensi organ-organ homolog yang


akan menentukan perilaku hewan yang memiliki kesamaan secara anatomi dan
morfologis).

31

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Etologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku binatang dan manusia,
terutama yang berkaitan erat dengan fungsi perilaku serta mempelajari pengaruh
yang ditimbulkannya terhadap perilaku yang didasarkan atas variable-variabel
ekologis, psikologis dan genetik dengan menggunakan metodologi yang terdapat
dalam semua cabang ilmu biologi.
2. Tokoh- Tokoh dalam Teori Etologi
a. Charles Darwin (1809-1882)
b. Karl Ritter von Frisch (20 November 1886 12 Juni 1982)
c. Sir Julian Sorell Huxley (London, 22 Juni 1887 14 Februari 1975)
d. Clinton Richard Dawkins (Nairobi, Kenya, 26 Maret 1941)
e. Konrad Zacharias Lorenz (7 November 1903 27 Februari 1989)
f. Nikolas Niko Tinbergen (Den Haag, 15 April 1907 21 Desember 1988)
g. John Bowlby (26 Februari 1907-2 September 1990) - Teori Kelekatan
3. Perilaku Sebagai Akibat dari Pengaruh Genetis dan Faktor Lingkungan
a. innate/ perilaku bawaan
b. Insting

c. Pola Aksi Tetap (FAPs= Fixed Action Paterns)


4. Jenis-Jenis Perilaku
a. Perilaku tanpa mencakup susunan saraf
Kinesis
Tropisme
Taksis
b. Perilaku yang mencakup susunan saraf.
Perilaku bawaan atau naluri atau insting (instinct)
c. Perilaku Yang Diperoleh Dengan Belajar (Animal reasoning and learning)
Habituasi (habituation)
Imprinting

32

Asosiasi atau Pengkondisian (Associative Learning)


Pengkondisian Klasik (Classical Conditioning) atau Perilaku
Asosiatif.
Pengkondisian Operant (Operant Conditioning)
Imitasi
Inovasi atau Problem Solving atau Insight Learning
Metode coba-coba (trial & error learning)
Perilaku dengan menggunakan akal
5. Perilaku Sosial
a. Perilaku Affiliative;
b. Perilaku Agonistic

Perilaku aggressive

Perilaku submissive

c. Vokalisasi
d. Perilaku maternal / mothering
e. Menghindari Predator

Cara menghindari predator


Perilaku Altruistik
Kamuflase (penyamaran)
o Mimikri
Mimikri Miller
Mimikri Bates
Mimikri agresif
Wilayah Jelajah (Home Range)
Teritori

6. Perilaku Merupakan Refleksi Evolusi

a. Ritme Biologi
b. Mekanisme Bergerak
Kinetis
Taksis

c. Kelompok (Group)
d. Komunikasi
e. Perilaku Sosial (Social Behavior)
33

7. Hubungan dengan Kajian Zoologi yang lain


a.

Ekologi

b.

Sosiologi

c.

Taksonomi

d.

Evolusi

34