Anda di halaman 1dari 14

SISTEM TRANSPORT OKSIGEN

O2 yang digunakan untuk memproduksi ATP

harus masuk sampai ke mitokondria. Karena itu


O2 harus ditransport dari atmosfir ke sel,
kemudian O2 dikonsumsi oleh mitokondria sel.
Kinerja fisik khususnya kinerja aerobik, sangat
tergantung pada sistem transportasi O2 karena
produksi ATP melalui sistem energi aerobik
sangat ditentukan oleh banyaknya oksigen yang
terdapat dalam mitokondria.
Semakin tinggi kemampuan transportasi O2
makin tinggi kinerja fisik.

SISTEM RESPIRASI

Ventilasi Paru
MV = f x TV
Contoh :
jika volume ekspirasi = 0,5 ltr sekali bernafas,
dan frek nafas = 15x/mnt. Maka MV = 0,5 x 15
= 7,5 ltr.
Ini merupakan nilai normal saat istirahat.
Pada saat kerja fisik, dapat meningkat sampai
180 liter.

Meningkat
lambat

Steady state

Menurun
cepat

Meningkat
cepat

Istirahat

Menurun
lambat

Latihan

Pemulihan

Gbr. Latihan Fisik (exercise) dan perubahan ventilasi

Ventilasi (ltr/mnt)
Max

Hyperventilasi

Lelah

Beban kerja

Konsumsi Oksigen dan Ventilasi Paru pada


Kinerja Fisik

Konsumsi oksigen normal pada pria dewasa

muda waktu istirahat sekitar 250ml O2 / mnt.


Tetapi pada pada saat latihan maksimum,
meningkat beberapa kali.
Latihan maksimum
Pria tak terlatih
Pria terlatih
Pria pelari maraton

Rerata ventilasi paru


(ml ltr O2 /mnt)
3600
4000
5100

Batas ventilasi paru

Ventilasi paru pada latihan maksimum sekitar

100 110 ltr/mnt.


Kapasitas pernafasan maksimal sekitar 150
170 ltr/mnt.
Jadi kapasitas pernafasan maksimum adalah
sekitar 50% lebih besar daripada ventilasi paruparu yang sesungguhnya selama latihan
maksimal.
Cadangan ventilasi :
Untuk latihan pada tempat yang sangat tinggi
Latihan pada kondisi yang sangat panas
Abnormalitas sistem pernafasan

Pengaruh merokok pada ventilasi paru


Merokok dapat mengurangi ventilasi paru karena :
Nikotin dapat menyebabkan konstriksi dari Bronchi
Terminalis paru sampai Bronchioli Terminalis (Generasi
16)

Efek iritasi asap rokok menyebabkan peningkatan


sekresi cairan ke dalam cabang-cabang bronkhus dan
pembengkakan lapisan epitel.
Nikotin melumpuhkan silia (Mucociliary Escalator
System)

Pertukaran Gas

(atas dasar semata-mata hanya perbedaan

tekanan partiil dari gas-gas yang terlibat; jadi peristiwa difusi biasa)

Pertukarana gas terjadi karena adanya


perbedaan tekanan.
Tekanan parsiil O2 dalam kantong alveoli
100 mmHg, tekanan parsiil O2 dalam
kapiler alveolar 40 mmHg. (Jadi P1-P2 = 60 mmHg,
sebagai tekanan pendorong terjadinya difusi)

Tekanan parsiil CO2 dalam darah vena 45

- 47 mmHg, tekanan parsiil CO2 dalam


alveolar 40 mmHg (maka dlm darah arteri
40 mmHg juga). PA CO2 = Pa CO2 = 40 mmHg

Difusi O2 dan CO2 melalui membran alveolo-kapiler


Dinding alveoli / Air Side

Dinding kapiler / Blood Side

Difusi O2
(PA O2 : 100 mmHg)

(Pc O2 : 40 mmHg)

Difusi CO2
(PA CO2 : 40 mmHg)

(Pc CO2 : 45 - 47 mmHg)


Sel darah merah / RBC

Ruang interstisiil

Kemampuan Difusi Oksigen pada Atlit


( Digunakan Formula FICK : Kecepatan Difusi V = D.A.(P1-P2):T )

Kemampuan difusi

Mili ltr/ mnt

Bukan atlit pada saat istirahat

23

Bukan atlit selama latihan maksimum

48

Pemain skate cepat selama latihan


maksimum

64

Perenang selama latihan maksimum

71

Pedayung selama latihan maksimum

80

Transport O2 dan CO2


O2 diangkut oleh darah dalam bentuk :
Terlarut dalam darah/plasma.
Terikat dengan Hb

Pada keadaan normal 97% O2 diangkut dari

paru ke jaringan dalam bentuk terikat dengan


Hb (Haemoglobin; HbO2 saturation = 97 % dalam darah arteri).
Sisanya diangkut dalam bentuk terlarut dalam
plasma dan sel.
Transport CO2 dalam darah dalam bentuk :
Terlarut (7 - 10 %)
Ion bikarbonat (HCO3) dlm sel RBC (60 - 70 %)
Berikatan dengan Hb (HbCO2) (23 - 30 %)
(Carbamino Compound)

O2 dan CO2 selama latihan


Karena besarnya penggunaan O2 oleh otot selama

latihan, maka kita dapat menduga bahwa tekanan parsiil


O2 darah arteri akan menurun sangat tajam selama
latihan fisik berat dan tekanan parsiil CO2 dalam darah
vena meningkat jauh di atas normal. (Kalau seandainya hal itu benar
adanya, maka orang tidak bisa melakukan olah raga indurans, lari maraton umpamanya)

Tetapi kenyataannya tidak demikian, kedua tekanan


parsiil tersebut tetap mendekati normal.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem pernafasan


mempunyai kemampuan untuk menyediakan
aerasi darah yang adekuat walaupun dalam
keadaan latihan berat.

Hal ini disebabkan karena adanya :

rangsangan langsung pada pusat pernafasan


yang ditransmisi dari otak ke otot untuk
menimbulkan kerja fisik.
Adanya transmisi sinyal-2 sensorik ke pusat
pernafasan dari otot & tendo yang
berkontraksi dan sendi selama bergerak.
Semua rangsangan tsb. dapat meningkatkan
ventilasi paru-paru.