Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Lele Sangkuriang merupakan keturunan dari lele dumbo. Lele
dumbo masuk ke Indonesia pada tahun 1985, sebelumya masyarakat
Indonesia hanya mengenal lele lokal dengan segala keterbatasan kualitas
yang dimilikinya. Sejak diperkenalkan, lele dumbo langsung mendapatkan
respon positif dari masyarakat. Pasalnya, jenis lele yang didatangkan dari
Taiwan ini memiliki banyak keunggulan dibanding lele lokal pada saat itu,
diantaranya tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan
terhadap penyakit. Namun, dari segi cita rasa lele lokal masih jauh lebih
unggul dari lele dumbo.
Kehadiran lele dumbo di Indonesia menyebabkan popularitas lele
lokal meredup. Masyarakat banyak yang beralih ke lele dumbo dan dalam
waktu singkat lele dumbo telah menjadi primadona produk perikanan
domestik saat itu.Sayangnya, perkembangan budidaya lele dumbo yang
terbilang pesat tidak diimbangi dengan pengelolaan induk yang baik.
Akibatnya, lele dumbo yang beredar di masyarakat mengalami penurunan
kualitas. Indikasi nyata dari penurunan kualitas tersebut ditunjukan dengan
laju pertumbuhan ikan yang semakin lambat, semakin rentan terhadap
penyakit dan respon terhadap pakan tambahan kian menurun.
Penurunan kualitas lele dumbo diakibatkan oleh terlalu seringnya
dilakukan perkawinan sekerabat dan seleksi induk yang salah. Akibatnya,
pemijahan yang dilakukan malah menggunakan induk yang berkualitas
rendah. Hal inilah yang tidak disadari oleh sebagian besar pembudidaya lele
dumbo yang ada.

Penurunan kualitas lele dumbo telah mengundang keprihatinan


beberapa kalangan, seperti para pakar perikanan di Indonesia dan terutama
pihak Departemen Perikanan dan Kelautan. Sebagai upaya mengembalikan
kualitas lele dumbo agar mendekati kualitas ketika pertama kali didatangkan
ke Indonesia, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)
Sukabumi telah berhasil merekayasa genetik lele dumbo dengan melakukan
silang balik (back cross).
Proses silang balik dilakukan dengan mengawinkan induk lele
dumbo betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam
(F6). Induk betina F2 merupakan induk yang dimiliki BBPBAT Sukabumi
yang merupakan keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke
Indonesia tahun 1985. Sementara itu, induk jantan F6 merupakan keturunan
dari induk betina F2.
Upaya silang balik mulai dirintis tahun 2000-an. Ternyata, upaya
tersebut menunjukan hasil positif. Benih yag dihasilkan dari induk hasil
silang balik tersebut lebih unggul dan mendekati kualitas benih lele dumbo
ketika awal diintroduksi ke Indonesia. Selain itu, kemampuan bertelur induk
dan daya tetas telur terbilang tinggi. Kemudian, lele hasil silang balik
tersebut disosialisasikan dan disebarkan secara terbatas pada tahun 20022004 yang dipusatkan di daerah Bogor dan Yogyakarta. Tahun 2004, lele
hasil silang balik tersebut resmi dilepas secara luas oleh Departemen
Perikanan dan Kelautan sebagai komoditas baru ikan lele unggul dan
dikukuhkan

melalui

SK

Mentri

Perikanan

dan

Kelautan

No.KP.26/MEN/2004 tanggal 21 Juli 2004. Lele dumbo hasil silang balik


tersebut kemudian diberi nama Lele Sangkuriang.

1.2

Tujuan Praktek Kerja Industri


Secara umum Praktek Kerja Industri bertujuan untuk memberi
gambaran kepada siswa/I pada saat bekerja, baik itu disuatu perusahaan
ataupun disuatu lembaga instansi.
Sedangkan secara khususnya antara lain :
1.2.1

Dapat menambah dan mengembangkan potensi ilmu pengetahuan


pada masing-masing siswa/i.

1.2.2

Melatih keterampilan yang dimiliki siswa/i sehingga dapat bekerja


dengan baik.

1.2.3

Melahirkan sikap bertanggung jawab, disiplin, sikap mental, etika


yang baik serta dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

1.2.4

Menambah kreatifitas siswa/i agar dapat mengembangkan bakat


yang terdapat dalam dirinya

.
1.3 Manfaat Praktek Kerja Industri
1.3.1

Menambah wawasan pada siswa/i.

1.3.2

Membina hubungan kerja sama yang baik antara pihak sekolah


dengan perusahaan atau lembaga instansi lainnya.

1.3.3

Mendapatkan pengalaman untuk bekal pada saat bekerja nantinya.

1.3.4

Menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan antara pihak


sekolah dengan pihak perusahaan.

1.4 Sejarah singkat P2MKP


MINA FAMILY SEJAHTERA adalah P2MKP dengan bidang
usaha Pembenihan Ikan Patin, Gurame, Lele yang berlokasi di Jl. Suhaimi
No. 25 Parung Poncol RT 03 RW 02 Kel. Duren Mekar Kec. Bojongsari
Kota Depok yang dikelola oleh Bp. Drs. Nahrowi.
Latar belakang Bp. Drs. Nahrowi menekuni usaha di bidang
Pembenihan Ikan Patin, Gurame, Lele menjadikan tempat usahanya
sebagai Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)
dikarenakan ingin berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi dan pengalaman
kepada masyarakat lain yang membutuhkan terutama di sekitar usahanya.
Upaya peningkatan SDM sudah dimulai sebelum Mina Family Sejahtera
dikukuhkan sebagai P2MKP yaitu melakukan penyuluhan dan pembinaan
kepada masyarakat sekitar tentang teknis budidaya khususnya tentang
Pembenihan Ikan Patin, Gurame, Lele, pembuatan pakan dan pengelolaan
hama dan penyakit ikan. Selain hal tersebut Mina Family Sejahtera juga
mempunyai

komitmen

membantu

program

pemerintah

dalam

meningkatkan ekonomi masyarakat dan tercapainya harapan pemerintah


dibidang perikanan, juga rasa tanggung jawab berbuat kepada masyarakat.
Adapun basis usaha utama dari Mina Family Sejahtera adalah
budidaya khususnya Pembenihan Ikan Patin, Gurame, Lele dengan Skala
produksi 1.000.000 ekor benih / bulan.
Mina Family Sejahtera terbentuk pada tahun 2006 dengan anggota
sekarang berjumlah 12 kelompok. Berdasarkan latar belakang dan potensi
usaha yang ada di Mina Family Sejahtera tersebut maka keberadaan
P2MKP Mina Family Sejahtera di Kota Depok sangat diperlukan dan
sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya. Mina Family
Sejahtera berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan
adanya penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, serta
banyaknya permintaan untuk magang atau berlatih di tempat usaha Mina
Family Sejahtera bahkan banyak dari masyarakat luar Kota Depok.

Oleh sebab itu, agar P2MKP Mina Family Sejahtera lebih dapat
berbagi pengetahuan kepada saudara-saudara yang lain, mengingat yang
menginginkan pelatihan juga banyak yang berasal dari daerah lain dan jauh
maka Mina Family Sejahtera sedang berusaha menambah fasilitas
penginapan, selain itu juga penambahan ruang kelas agar memuat banyak
orang, laptop, LCD dan sarana pelatihan untuk itu mohon dukungan
berbagai pihak. Bp. Drs. Nahrowi siap berbagi ilmu dengan masyarakat
lain karena menurut beliau ilmu yang di amalkan kepada orang lain akan
menjadi sebuah amalan bagi dirinya suatu hari nanti. Selain itu akan
memperbanyak relasi dan karyawan dalam berusaha serta yakin apabila
dalam berusaha kita mau berbagi kepada yang lain Insya Allah rejeki dan
kemudahan akan di limpahkan pada kita, dan dengan bekerjasama maka
kita akan lebih kuat dan maju.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Mengenal Klarifikasi Lele Sangkuriang


Lele sangkuriang sebenarnya merupakan salah satu jenis lele dumbo
yang diperkenalkan oleh Taiwan pada tahun 1985. Lele dumbo ini memiliki
kemampuan tumbuh lebih cepat disbanding lele lokal.
Hal itulah yang kemudian menyebabkan lele ini mampu menyita
perhatian masyarakat Indonesia. Meski pada awalnya sebagian masyarakat
menganggap lele dumbo tidak seenak lele lokal, namun pada akhirnya
masyarakat pun mau menerima kehadiranya.
Balai besar pengembangan budi daya air tawar/BBPBAT, menemukan
bahwa perkawinan silang balik antara induk jantan generasi keenam dengan
induk betina generasi kedua menghasilkan jenis lele yang memiliki
produktivitas yang lebih tinggi dari lele dumbo biasa. Hasil persilangan
inilah

yang

kemudian

disebut

sebagai

lele

sangkuriang.

Penampilan tubuh :
2.1.1

Seperti halnya lele pada umumnya, lele sangkuriang memiliki


kulit yang licin dan berlendir, tidak memiliki sisik sama sekali.

2.1.2

Berwarna hitam, hitam keunguan, atau hitam kehijauan pada


bagian punggung, dan putih kekuningan pada bagian perut,
bagian samping totol-totol.

2.1.3

Seperti kebanyakan lele dumbo, lele sangkuriang memiliki


kepala yang panjang, bahkan lebih panjang dibandingkan lele
dumbo pada umumnya. Panjang kepala lele dumbo lebih dari
seperempat panjang total tubuhnya.

2.1.4

Lele

sangkuriang

memiliki

tubuh

yang

lebih

dibandingkan lele dumbo biasa pada umur yang sama.

panjang

2.1.5

Lele sangkuriang memiliki sirip dengan jumlah yang sama


dengan sirip lele dumbo pada umumnya, terdiri dari tiga sirip
tunggal dan dua sirip berpasangan.

2.1.6

Ikan

lele

memiliki

cirri

khas

berupa

sungut

yang

membedakannya dengan ikan lainnya. Mungkin karena sungut


inilah, lele disebut catfish (ikan kucing). Sungut berfungsi
penting sebagai alat penciuman dan juga peraba saat lele mencari
makanan.

2.2 Keunggulan Lele Sangkuriang


2.2.1

Fekunditas atau kemampuan memproduksi telur Lele Sangkuriang


lebih banyak, yaitu sekitar 40.000-60.000 butir telur/kg bobot induk.
Sedangkan Lele Dumbo hanya 20.000-30.000 butir telur/kg

2.2.2

Derajat penetasan telur Lele Sangkuriang >90%, sedangkan Lele


Dumbo hanya >80%

2.2.3

Nilai Feeding Convertion Rate (FCR) Lele Sangkuriang sekitar 0,8 yang
artinya untuk menghasilkan 1kg daging dibutuhkan 0,8kg pakan.
Sementara, Lele dumbo nilai FCR-nya lebih dari 1.

2.2.4

Lele Sangkuriang relatif lebih tahan terhadap penyakit, karena


sangkuriang mampu meredam serangan bakteri Trichodina sp,
Aeromonas hydrophilla, dan Ichthyopthirius sp. Sedangkan Lele
Dumbo lebih mudah mati terserang penyakit

2.2.5

Benih lele sangkuriang dengan ukuran 7 8 cm hanya memerlukan


waktu sekitar 58 hari untuk mencapai panen, sedangkan untuk lele
dumbo dapat mencapai tiga bulan

2.3

Kelemahan Lele Sangkuriang


Bagi para pembudidaya lele, lele sangkuriang adalah varietas yang
cukup digandrungi karena memeliki kelemahan yang sedikit. kelemahan lele
sangkuriang merupakan kelemahan lele secara umum, yaitu sangat peka
terhadap perubahan tingkat keasaman air.

2.4

Habitat dan Tingkah Laku


Habitat atau lingkungan hidup lele banyak ditemukan diperairan air
tawar, di dataran rendah sampai sedikit payau. Untuk perairan sedikit
payau, banyak warga pantura Jawa, seperti di Kendal, Jawa Tengah,
memanfaatkan bekas tambak untuk pembesaran lele dumbo. Di alam, ikan
lele hidup di sungai-sungai yang arusnya mengalir secara perlahan atau
lambat, danau, waduk, telaga, rawa, serta genangan air tawar lainnya,
seperti kolam. Karena lebih menyukai perairan yang tenang, tepian
dangkal, dan terlindung, ikan lele memiliki kebiasaan membuat atau
menempati lubang-lubang di tepi sungai atau kolam.

Lele jarang menampakkan aktivitasnya pada siang hari dan lebih


menyukai tempat yang gelap, agak dalam, dan teduh. Hal ini bisa
dimengerti karena lele adalah binatang nokturnal, yaitu mempunyai
kecenderungan beraktivitas dan mencari makan pada malam hari. Pada
siang hari, ikan lele memilih berdiam diri atau berlindung di tempattempat yang gelap. Akan tetapi, pada kolam pemeliharaan, terutama
budidaya secara intensif, lele dapat dibiasakan diberi pakan pelet pada
pagi atau siang hari walaupun nafsu makannya tetap lebih tinggi jika
diberikan pada malam hari.

Ikan lele relatif tahan terdahadap kondisi lingkungan yang kualitas


airnya jelek. Pada konsisi kolam dengan padat penebaran yang tinggi dan
kandungan oksigennya sangat minim pun, lele masih dapat bertahan
hidup. Namun, pertumbuhan dan perkembagang ikan lele bakal lebih
cepat dan sehat jika dipelihara dari sumber air yang cukup bersih, seperti
air sungai, mata air, saluran irigasi ataupun air sumur.

2.5

Penjelasan Tentang Pendederan


Selain di kolam jaring, ikan lele bisa didederkan di kolam tanah,
kolam tembok, atau kolam yang dindingnya tembok dan dasarnya tanah.
Tidak ada ketentuan khusus mengenai luas kolam. Untuk memudahkan
pengelolaan, sebaiknya kolam berbentuk empat persegi panjang. Kolam
yang baik harus memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Di
bagian tengah dasar kolam dilengkapi kamalir atau saluran tengah yang
berfungsi untuk memudahkan penangkapan benih saat dipanen
2.5.1Persiapan Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam
Sebelum benih ditebarkan, dilakukan persiapan terlebih dahulu sebagai
berikut.

Kolam dikeringkan beberapa hari untuk memudahkan pengolahan dan


membunuh bibit-bibit penyakit yang ada di dalam kolam.

Pemupukan dan pengapuran kolam. Agar pakan alami berupa plankton


tumbuh, kolam dipupuk menggunakan kotoran ayam sebanyak 200300 gram/m, TSP dan urea masing-masing sebanyak 10 gram/m dan
kapur pertanian sebanyak 25-30 gram/m atau disesuaikan dengan
tingkat kesuburan lahan. Tujuan pemupukan dan pengapuran selain
untuk menaikkan tingkat keasaman tanah (pH), juga dapat membunuh
bibit-bibit penyakit. Cara pemupukan dan pengapurannya adalah
dengan menebarkan pupuk dan kapur secara merata ke seluruh
permukaan dasar kolam.

Memasang saringan di pintu pemasukan dan pengeluaran air.


Tujuannya untuk menjaga agar tidak ada hama yang masuk ke dalam
kolam dan agar benih ikan lele tidak kabur atau keluar dan kolam.

Mengisi air. Kolam diisi air setinggi 40-50 cm dan dbiarkan selama 7
hari agar pakan alami tumbuh dengan sempurna.

2.5.2 Penebaran Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam


Penebaran benih dilakukan setelah 7 hari dari pemupukan atau
saat pakan alami telah tersedia. Penebaran benih dilakukan pada pagi
atau sore hari dengan kepadatan 500-700 ekor/m berukuran 1-3 cm
per ekornya. Penebaran harus dilakukan dengan hati-hati agar benih
ikan lele tidak mengalami stres. Jika benih yang akan ditebarkan
berasal dari tempat yang jauh, sebelum ditebarkan harus diadaptasikan
terlebih dahulu sebagaimana yang dilakukan pada penebaran benih
yang didederkan di kolam jaring.
2.5.3 Pemeliharaan Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di
Kolam
Kualitas air kolam pendederan perlu dijaga, cara paling efektif
adalah penggunaan air mengalir sistem paralon secara kontinyu
dengan debit air tidak terlalu besar. Pada budidaya ikan lele
pendederan, kualitas air tidak terlalu cepat menurun. Hal ini
dikarenakan ukuran ikan masih sangat kecil, sehingga kotoran yang
ditimbulkan

Selama

pemeliharaan

belum

lele

begitu

diberi

pakan

banyak.

tambahan

untuk

mempercepat proses pertumbuhan. Pakan tambahan berupa tepung


pelet sebanyak 35% dari jumlah total benih yang dipelihara. Pakan
diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, sore, dan malam hari.
Agar pakan lebih efisien dan efektif, sebaiknya pemberiannya
10

dilakukan dengan cara membiasakan di satu atau dua tempat raja,


misalnya

di

bagian

pojok

kolam.

Untuk memperkecil mortalitas atau kehilangan benih, selama


pemeliharaan harus dilakukan pengontrolan terhadap serangan hama
dan penyakit. Hama yang umum menyerang ikan lele berupa belut,
ular, atau ikan gabus. Tindakan pencegahan penyakit cukup dengan
menjaga kualitas dan kuantitas air kolam, yakni dengan menghindari
pemberian pakan yang berlebihan. Karena pakan yang berlebih akan
menumpuk di dasar kolam dan bisa membusuk yang akhirnya
menjadi salah satu sumber penyakit.
2.6 Pemanenan Benih Ikan Lele
Setelah dipelihara selama 2-3 minggu, benih ikan lele siap dipanen.
Pemanenan benih ikan lele sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari
saat suhu rendah. Pemanenan dimulai dengan mempersiapkan alat-alat
panen serta tempat penampungan benih hasil panen. Setelah semua
peralatan siap, kolam dikeringkan secara perlahanlahan sampai air yang
tersisa hanya tinggal di kamalir. Dalam keadaan ini, benih-benih ikan lele
akan terkumpul di dalam kamalir. Selanjutnya dengan alat tangkap (sair),
benih ditangkap dan ditampung di dalam wadah yang telah disediakan.
Benih disortir atau dipisahkan sesuai dengan ukurannya. Rata-rata benih
telah mencapai ukuran 5-8 cm per ekornya. Selanjutnya benih dapat
dipelihara di tempat lain (pembesaran) atau langsung dijual kepada
konsumen. Mortalitas selama pemeliharaan lebih kurang 25-30% dari
jumlah benih yang ditebarkan

11

2.7

Persyaratan Budidaya
2.7.1

Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan Lele adalah jenis

tanahliat/lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang


dapatdigunakan untuk budidaya lele dapat berupa: sawah, kecomberan,
kolampekarangan, kolamkebun, dan blumbang.
2.7.2

Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai

daerah yangtingginya maksimal 700 m dpl.


2.7.3

Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.

2.7.4

Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau

dekat dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.
2.7.5

Lokasi untuk pembuatan kolam Ikan Lele hendaknya di tempat


yang teduh, tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya
mudah rontok.

2.7.6

Ikan lele dapat hidup pada suhu 200 C, dengan suhu optimal antara
25-280C. Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran
suhu antara 26-300C dan untuk pemijahan 24-280 C.

2.7.7

Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan


kedalamannyacukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor
dan miskin zat O2.

2.7.8

Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri,


merkuri,atau mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang
dapat mematikanikan.

2.7.9

Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan


dan bahan makanan alami. Perairan tersebut bukan perairan yang
rawan banjir.

12

BAB III
HAMA DAN PENYAKIT

3.1

Hama dan Penyakit


Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung
mengganggu kehidupan lele. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama
yang sering menyerang lele antara lain berang-berang, ular, katak, burung,
serangga, musang air, ikan gabus dan belut.Di pekarangan, terutama yang
ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing.
Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.Penyakit
parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah
seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. Jenis
hama/penyakit :

3.1.1

Penyakit

karena

bakteri

Aeromonas

hydrophilla

dan

Pseudomonas hydrophylla.
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di
ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya
0,7-0,8 x 1-1,5 mikron. Gejala: lele yang terkena bakteri ini: warna
tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas
megap-megap di permukaan air. Pencegahan: lingkungan harus tetap
bersih, termasuk kualitas air harus baik. Pengobatan: melalui makanan
antara lain pakan dicampur viterna yang diberikan 1 kapsul amne atau
cara konvensional dengan Terramycine dengan dosis 50 mg/kg
ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan
Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

13

3.1.2

Penyakit

tuberculosis

yang

disebabkan

bakteri

Mycobacteriumfortoitum.

Gejalanya : tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak ( karena


tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di
permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar
mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan
kolam. Pengobatan: dengan viterna 1 botol dikasih 1 kapsul amne dan
dijadikan suplemen pakan, 1 tutup untuk 2 sd 5 kg pakan. atau cara
konvensional dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5
gram/100

3.1.3.

kg

ikan/hari

selama

5-15

hari.

Penyakitkarena jamur/candawan Saprolegnia.

Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang
mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi
sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang
sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh
lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang
seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa
direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit
dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam
atau 5-10 ppm selama 15 menit. pakan dikasih viterna yang diberikan 1
kapsul amne dalam 1 botolnyadijadikan suplemen pakan harian.

14

3.1.4

Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis).

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata,bentuknya bulat, kadang-kadang


amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebutIchthyophthirius
multifilis.Gejala:
(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan
air
(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang
(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding
kolam.Pengendalian

airharus

dijaga

kualitas

dankuantitasnya.Pengobatan : dengan cara perendaman ikan yang


terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan
larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam,
kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3
hari. pakan dengan campuran viterna yang dikasih amne 1 kapsul per
botol vtn. dikasihkan dengan dosis anjuran.

3.2. Cara Pengendalian :

3.2.1 Direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit


3.2.2Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam
3.2.3 Menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat
(KMnO4) 0,01% selama 30 menit
3.2.4 Memakai larutan NaCl 2% selama 30 menit
3.2.5 Dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama 10 menit. pakan
dengan viterna samadengan perlakuan di atas.

15

BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN

Dari pengalaman Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) yang


dilaksanakan di P2MKP selama 1 bulan dapat diambil kesimpulan :
4.1.1

Dengan adanya Praktek Kerja Industri ini, para peserta

PRAKERIN cukup banyak mendapat informasi dengan pengalaman


khususnya mengenai Ms. Excel sehinggga menambah motivasi bagi
peserta dalam memperdalam ilmu tentang Ms. Excel.
4.1.2

Setelah pelaksanaan PRAKERIN ini dapat disimpulkan antara

teori yang dapat di sekolah dengan praktek kerja di dunia usaha


memiliki banyak perbedaan. Teori lebih sulit jika dibandingkan dengan
praktek secara langsung.
4.1.3

Keberhasilan pelaksanaan Praktek Kerja Industri ini sangat

dibutuhkan oleh para siswa/siswi agar dapat bisa mengikuti salah satu
syarat untuk menempuh UAS/UAN. Dengan dibuatnya laporan
PRAKERIN ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi lancarnya
pelaksanaan Praktek Kerja Industri, terutama pada tahap awal kerja
berkaitan dengan paket keahlian yang ada di Dunia usaha/Dunia
industri.

4.2. SARAN

Dalam proses PRAKERIN ini dibutuhkan kedisiplinan dan


keseriusan dalam mengerjakannya. Dan sebelum bekerja alat dan bahan
harus disiapkan selengkap-lengkapnya agar tidak menimbulkan kendalakendala yang menghambat proses praktek yang dikerjakan.

16

DAFTAR PUSTAKA

http://ansitus-produksi-ikanlele.blogspot.com/2011/06/klasifikasi-dan-jenis-ikan
lele.html
http://www.ternaklelesangkuriang.com/?tag=keunggulan-lele-sangkuriang
http://www.bimbingan.org/kelemahan-lele-sangkuriang.htm
http://lelesangkuriang217.blogspot.com/2013/08/pendederan-lelesangkuriang.html
http://lelesangkuriang.sofhaljamil.com/2013/03/hama-dan-penyakit-ikan-lele.html
http://hobiikan.blogspot.com/2009/10/penanggulangan-hama-dan-penyakitpada.html

17