Anda di halaman 1dari 9

Aku berdiri di atas sebuah batu tua di tengah derasnya air terjun.

Kurentangkan kedua tanganku,


perlahan mataku pun kupejamkan. Saat ini aku hanya merasakan kedamaian hidup yang
membuatku tak bergeming dari suara derasnya air mengalir dari arah atas kepalaku. Burungburung berkicau di sekitarku serta gembaran alam yang begitu elok memuaskan mata ini.
Kubayangkan pabila di tempat ini aku tak sendiri, ada seorang teman yang menemaniku dan ikut
merasakkan kedamaian, kesejukan, juga keindahan di tempat yang jarang orang tahu akan ini.
Tuhan, tempat ini terlalu indah untuk dinikmati seorang diri saja sebait doa kupanjatkan riuh
riang bersama nyanyian burung yang mungkin meng-amini doaku.
Perlahan ku buka mata indah ini, sayup kudengar dari kejauhan suara langkah kaki yang
semakin mendekati tempat dimana aku berpijak ini, di tengah derasnya air terjun membasahi
tubuh mungilku. Aku mulai ragu dan aku balikkan badan ini sontak berteriak keras,
Haaa siapa kamu? mendadak seorang laki-laki yang kalau dilihat lekat-lekat seumuran
denganku itu ada di depan mataku, di tengah percikan air terjun yang dingin, sedingin hatiku.
Otak kecilku sengaja aku peras untuk mengingat masa lalu.
Tidak ada seorang laki-laki pun di dalam hidupku kecuali (Alm) Ayahku kataku dalam hati.
Sebelumnya pun tak kutemukan laki-laki bujang seumuran denganku di desaku, paling hanya
ada bapak-bapak atau anak kecil yang biasa bersekolah kebetulan lewat di depan rumahku.
Lantas ia berkata seolah ingin mengenalkan dirinya padaku,
Jangan takut! Aku hanya ingin berteman denganmu. Namaku Juna, nama kamu siapa?.
Aku hanya diam merenung dan di antara kebimbangan hati ini aku menerima sambutan tangan
darinya lalu memperkenalkan siapa aku di depannya.
Na.. namaku Astrid. Jawabku grogi
Senang bertemu dengan kamu Astrid, aku baru tahu ada tempat seindah ini, apa kamu
berpendapat sama denganku, Astrid? Tanya lelaki yang mengaku bernama Juna itu. Ketika
aku memalingkan muka ia malah meraih pundakku, merangkul bahuku. Singkat saja aku
langsung mengalihkan tangannya dari bahu yang lelah nan basah ini.
Oh.. sorry..!! jawabnya dengan logat khas anak kota.
Ehmm.. iya memang benar katamu, ini adalah tempat terindah yang pernah kutemui dalam
hidupku, tapi bagaimana kamu bisa ke tempat ini? Apa ada yang memberitahumu akses jalan
kesini? tanyaku penasaran, karena sebelumnya memang belum ada yang tahu akan
keberadaan tempat ini dan tentang air terjun dengan 7 warna yang ada di depan mataku ini,
hanya aku saja yang tahu dan aku pun mengunjunginya tiap hari untuk sekedar mencuci pakaian
disini, sendirian.
Aku juga sebelumnya tidak tahu, tadi lagi jalan-jalan eh, tahunya ada suara air terjun, aku cari
tahu deh sumber suaranya kebetulan aku disini juga sedang liburan.
Ooh.. begitu jawabku datar, dan dengan nada yang tak dibuat-buat.
Kita duduk disitu saja yuk!! ajaknya padaku dan aku pun menurutinya untuk duduk di atas batu-

batu kali yang dialiri sungai jernih dari air terjun yang tingginya kira-kira 10 meter di atas
kepalaku. Duduk dan hanya duduk melempari kerikil kami disitu. Entah perassan ragu atau
memang malu untuk saling memulai pembicaraan dan saling menatap. Hingga akhirnya
kupandangi wajah putih dan tampannya yang bibirnya biru karena kedinginan. Aku
memancingnya agar mau pulang, kulangkahkan kaki menuju keranjang berisi baju-baju yang
telah kucuci sebelum dia datang mengusikku. Tapi rasanya dia malah membuat suasana sedikit
berbeda. Dia membuatku selalu tersenyum ketika melihat air terjun yang ku namai curug pelangi.
Ya kenapa ku namai curug pelangi? Itu karena ada tujuh undakan batu yang jika dilihat dari
bawah sangatlah indah, terkadang muncul pelangi di antara curug itu, seperti biasa pelangi
hanya mempunyai 7 warna bias seperti 7 undakan jumlahnya sama-sama 7. Sehingga kunamai
Curug pelangi.
Di sore menjelang maghrib itu, kami berdua pulang dalam keadaan basah kuyup. Di tengah jalan
berbatu juga semak semak belukar yang tinggi, di antara pepohonan itu Juna dan aku
kedinginan. Semburat sinar sore mentari senja pun tak lagi menyapa dan memuaskan mata
kami. Dengan nafas yang sedikit terisak-isak, aku terus menatap tingginya pegunungan nan
gelap kemelut hitam beberapa meter di depan mataku. Juna pun menghentikan derap langkah
kakinya.
Astrid!! A.. aku sa.. sa .. sa..ngat kedinginan. Kata-kata seraknya membuatku meng-iba dan
cepat-cepat meraih tubuhnya lalu dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku menggendongnya
di punggung yang rapuh ini. Keranjang baju aku biarkan tertinggal di atas batu besar di antara
semak-semak dekat curug pelangi. Bibirnya sangatlah biru, tubuhnya gemetaran dan dengan
tanpa reaksi ia menurut saja padaku.
Lagi, ditengah jalan setapak yang akan segera mengantarku menuju rumah kami, giliran aku
terjatuh tersungkur lemah tak berdaya, tulangku serasa hanyalah kawat yang dililitkan, tak
sanggup menopang beban tubuhku apalagi ditambah tubuh lain lagi. Hening malam membuat
suasana menjadi lebih mencekam. Saat itulah sisa-sisa tenagaku kupertaruhkan, saat nafas tak
lagi dapat memasukan oksigen-oksigen dari alam ke dalam tubuhku. Kakiku benar-benar
lumpuh, tak mau menapak di jalan terjal yang telah kulalui separuhnya. Aku pun lelah dan
menyerah, terjatuh dengan posisi yang tak seharusnya. Kepalaku memang sedikit terbentur
kerikil tapi tak apa-lah setidaknya aku masih dapat berbicara.
Juna, maaf aku sudah tak bisa melanjutkan perjalanan ini lagi. Setegar apa pun aku mencoba
agar tak ada air mata terjatuh tetapi tetap saja butiran bening ini mengalir deras seperti tanpa
komando. Juna masih dalam kedaannya, ia tak mau berkata apa-apa menghadapiku. Sesaat
setelah terjatuh bersamaku, kini giliran ia yang bangkit dan menggendongku, perempuan yang
terus menangis sepanjang jalan karena kesakitan. Hingga ada puluhan cahaya sempor dari
kerumunan orang-orang di desaku mencari-cari kami. Berulang kali namaku dan nama Juna

disebut. Akhirnya kami dijemput oleh keluarga, ini semua karena salahku pulang terlalu sore
karena keasyikan bermain dengan teman baru, aku tak akan mengulanginya.
Di curug pelangi kemarin dia mengatakan ingin mengajak ku ke kebun teh, dia juga bilang kalau
dirinya mempunyai tugas melukis oleh guru seni di SMP-nya. Pagi hari datang lagi, meski
matahari masih tertidur dan bersembunyi di balik bukit. Aku serta Juna sudah siap dengan
segala perbekalan kami untuk berlibur disana seharian penuh. Kami masih menanti datangnya
mentari di ufuk timur bukit itu. Tak berapa lama lagi semburat kuning sinar mentari pagi yang
cerah disertai semilir anginya yang dingin akan terhangatkan kedatangannya.
Akhirnya kami memulai perjalanan yang cukup panjang dari bukit ke bukit sampai dimana kebun
teh berada, kami tak akan menyia-nyiakan sinar yang sangat bagus untuk tubuh itu. Karena
sinarnya akan membuat setiap tulang-tulang dan sendi-sendi tubuh kita, atau bahkan hewan dan
pepohonan pun seperti hidup kembali karena sinarnya.
Waktu sudah semakin siang, ayo kita percepat langkah kita! ajakku padanya, sekedar memberi
tahu kalau memang ini situasinya sudah terlalu siang untuk mendapatkan suasana yang tepat
bagi pelukis memulai aksinya, kabut pun enggan kembali mengusik mata kami cahaya mentari
semakin terang benderang.
Oke! Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk bermalas-malasan. Dia pun berlari jauh
meninggalkanku. Ah.. rasanya ingin mengejarnya tetapi luka tadi malam belum sembuh
sempurna. Berlari bebas bagaikan burung, dia merentangkan kedua tangannya dan siap akan
terbang mengarungi lautan daun-daun di depan matanya. Aku yang terbiasa terbelenggu dengan
keranjang teh tempat ku biasa memetik pucuk daun teh untuk penghasilanku sehari hari.
Berhubung tengkulak menetapkan hari ini hari libur, aku bebas lepas hari ini juga.
Menurutmu apa yang seharusnya aku lukis? Tanya Juna padaku yang sedang berbaring
menikmati pesona dari bawah kebun teh, menatap langit kala pagi menyapa. Dia pun berdiri
menjulurkan tangannya ke langit seakan-akan dia akan meraih matahari.
Oh.. ya itu juga indah jawabku sambil menunjuk sebuah pohon mangga yang termangu
sendirian, ditemani oleh ribuan pohon mungil teh.
Ehm.. mungkin lebih baik aku melukis kamu saja, buat kenang-kenangan nanti di Jakarta, As?
Tidak mau ah! pasti capek, ya kan?
Ayolah demi aku! Ini aku buatkan mahkota daun teh untukmu. Aku terkejut ketika aku
melihatnya sangat menginginkan aku untuk dilukis. Tapi ada salah satu yang mengganjal.
Apa? kamu membuatnya dari daun teh?
Iya, memangnya kenapa? Tanya juna tak bersalah.
Kalau kamu ketahuan kamu pasti dimarahi tengkulak
Ahh.. sudahlah..!! tiba-tiba saja ia menarik ikat rambutku dan mulai menata rambut panjangku

yang lurus, sehingga aku tampak seperti putri di dalam film-film. Kemudian dia memakaikan
mahkota-nya di kepalaku, aku menjadi sangat istimewa hari itu. Dia melukisku, saat itu aku
disuruhnya berdiri di antara jalan setapak kebun teh.
Goresan pelangi pensil warna semakin menggambarkan kalau yang dilukis itu benar-benar mirip
aku yang memang saat itu memakai baju colorful penuh warna bak curug pelangi dengan tujuh
warnanya.
Cepat sedikit Jun aku sudah pegal nih!! aku mengelap keringat yang bercucuran lalu kembali
ke posisi semula.
Iya ini sudah jadi.
Apa katamu? Jadi dari tadi lukisannya sudah jadi?. tanyaku kesal, sesudah berpose bak putri
dengan bunga di tanganku dan mahkota daun teh ini, ada rasa sedikit bangga karena dilukis
oleh anak kota yang mengaku hobi melukis ini. Aku pun sempat memuji lukisannya.
Aku kelihatan sangat cantik di lukisan itu.
Kamu memang sudah cantik kok!. Celatuknya tersenyum kepadaku, dia memang terlihat
sangat istimewa di dalam hidupku kali ini. Episode terindah untukku di dalam sinetron yang
disutradarai langsung oleh Tuhan ini.
Sejak kapan kamu melukis orang? tanyaku berbasa-basi
Baru kali ini aku melukis orang, dulu-dulu aku cuma bisa melukis pemandangan dan saat ini aku
mencoba untuk belajar melukis manusia dan hasilnya tak mengecewakan, makasih yah?
jawabnya sembari mencubit pipiku yang merah padam ini, ia pun meletakkan lukisannya di atas
dedaunan teh yang rindang itu.
Gurumu pasti bangga padamu. batinku lemah. Kemudian ia menarik tanganku dan mengajakku
duduk memakan perbekalan yang telah ia siapkan. Seperti biasa, orang kota selalu membwa roti
tawar jikalau mereka bepergian.
Pagi-pagi begini, enak kali yah kalau kita makan roti bakar? Ayo buatkan untukku Astrid!
Lho kok jadi aku? Ini saja nih, aku bawa dodol. elakku dan mencoba menawarkan dodol
buatanku dengan beraneka rasa dan warna padanya.
Ayolah!! Dia terus merengek dan menyodorkan 7 roti tawar di tangannya. Ketika itu dengan
tanpa disadari, seorang pria berperawakan tinggi, besar dan berwibawa seperti bos di suatu
perusahaan yang sering kulihat di televisi datang di tengah candaan kami, roti yang dipegang
juna jatuhlah, sirop yang berada di dekatnya ikut tumpah, lalu ku bereskan sebelum habis sirop
rasa mangga yang ada di dalam botol beling itu.
Melihatnya dari dekat membuatku bimbang, aku pun bertanya pada Juna dengan volume hampir
rendah sekali di telinganya,
Dia itu siapa Jun?. Kepanikanku menjadi-jadi ketika orang tadi mencoba memegang tangan
juna dan menariknya berdiri.
Papa? Ada apa, Pa?

Oh.. om, silakan duduk Om! Duduk dulu! ucapku meraih tangannya tapi segera dilepas-lah
jabatan tanganku dari tangan yang semakin kuat menggenggam jari-jari putih milik Juna ini.
Tidak perlu! Juna ikut papah sekarang! Papah ada perjanjian penting sama bos yang tidak bisa
ditunda lagi. Ayah juna semakin mempertegas perilakunya dengan menyuruhnya melangkahkan
kakinya, juga menarik tangan kanannya, sehingga dia pun kesakitan karenanya, sejatinya dia
tidak mau pergi. Dia terus menggelengkan kepalanya sembari menatapku lekat.
Tidak, Pa! Aku masih ingin disini. Jawab Juna. Ayahnya semakin terihat sangat marah dengan
nada mengancam.
Oke! kalau kamu tidak mau pulang sama Papa, silakan kamu pulang sendiri! Bukannya
memandang wajah ayahnya, tetapi juna malah seakan meminta pendapatku dan tangan kirinya
meraih tanganku. Tetapi aku sempat mengingatkan dia untuk selalu mematuhi perintah
orangtua, ayah atau pun ibu.
Turuti Ayahmu Jun! jangan hiraukan aku. Aku hanya temanmu. Kalau aku punya ayah, aku juga
akan seperti itu. Kalau aku punya ayah, aku akan selalu menurut apa kata ayah. Suasana
semakin memperburuk keadaan. Juna tidak mau juga diajak ayahnya untuk pulang.
Aku mau pulang kalau saja Papa mau janji sama Juna. Tangannya masih menggengam kedua
tanganku erat seakan tak mau kehilangan aku.
Apa syaratnya sayang? katanya melembut.
Kelak jika aku dewasa nanti aku ingin tinggal disini, besar disini. Mungkin saat ini aku mau
menuruti apa kemauan Papa, mengikuti semua omongan Papa, mengikuti kemana pun papa
pergi. Tetapi jika besar nanti aku tidak mau jadi anak manja lagi. Aku ingin seperti Astrid,
walaupun dia tidak sekolah tetapi dia anak yang mandiri dan sangat peduli terhadap keluarganya
berjanjilah untukku, Pa?. Ayahnya mengingat setiap kata-kata yang terlontar dari mulut anak
kesayangannya ini. Seraya menggelengkan kepala beliau kembali berkata,
Rupanya anak Papa sudah besar sekarang, pasti ini gara-gara kamu berteman dengan gadis
cantik yang baik ini kan? aku tersipu malu karena tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan.
Nama kamu siapa? Aku melepas genggaman tangan Juna dariku.
Astrid Om.
Umur kamu berapa?
16 tahun.
Wah sama dong kayak Juna, 4 tahun lagi ya, Jun? Ayah Juna mengedipkan sebelah matanya.
Tatapan Ayah dan anak itu sama-sama meyakinkan satu sama lain. Tanpa ditarik pun akhirnya
Juna mau mengikuti langkah jenjang Ayahnya seraya terus memandangku di belakang, ia pun
menuju mobil bermerek Mercedez Benz di seberang jalan tak jauh dari lokasi tadi. Dan ketika
Juna akan pergi ia sempat menitip pesan padaku agar menjaga mahkota daun teh yang sudah
susah-susah dia buat itu.

Beberapa menit berlalu, seperti ada yang mengganjal perasaanku, tapi apa? Oh iya, lukisan
gambar diri itu tertinggal di atas pepohonan teh, aku yang tahu seberapa penting lukisan ini, dan
cuma aku yang tahu bagaimana cara mengembalikannya. Tapi apakah akan terkejar, mobil
mewah yang telah berlari dengan kecepatan tinggi itu.
Jalan pintas, ya! Aku punya jalan pintas melewati lorong-lorong juga jalan setapak yang dipunyai
kebun teh ini.
Kutapakkan langkah kaki yang sebenarnya kelelahan ini. Tapi tak kulihat mobil sedan Mercedez
Benz warna hitam itu? Berlari dan terus berlari dengan sisa nafas terengah-engah. Di ketika
sudut puncak kelelahanku akhirnya aku menemukan seberkas sinar cahaya lampu mobil itu, aku
semakin bersemangat saja. Aku pun menuruni bukit terjal itu, walaupun pada akhirnya aku
terjatuh tapi aku enggan mengotori lukisan itu, kujaga dalam dekapanku selalu. Padahal hanya
beberapa meter lagi sebuah batu kecil membuatku terpeleset lalu aku menjerit,
Juna ini lukisan kamuuu. Tak lama kemudian mobil Juna berhenti hingga Juna berlari
menemuiku yang ada di belakang mobilnya beberapa meter saja.
Terima kasih As. Oh iya! Mahkota itu jangan sampai hilang ya? Jaga dia baik baik! Biarpun layu
jangan pernah kamu membuangnya okeh? tangannya meraih luisan itu lembut membelai
kulitku, ia memberikan kiss bye dan seulas senyum yang mempesonaku, tak tahu makna di balik
semua itu terlalu dini untukku mengerti, tapi senyuman itu akan selalu kuingat Jun, aku juga
berjanji akan menjaga mahkota itu, bahkan sampai layu sekalipun, sampai daunnya yang hijau
menjadi coklat dan mungkin saja tinggal lilitan ranting yang tersisa aku pastikan ranting itu akan
tetap ada bagai fosil dinosaurus yang diletakkan di dalam kaca.
Juna jaga lukisan itu juga yah!!! sahutku berteriak kembali. Dia pun mengangguk lewat kaca
belakang mobilnya sembari tersenyum menyodorkan lukisannya.
Bertahun-tahun mahkota dari daun teh itu kusimpan dalam tabung kaca, biar pun warnanya tak
sehijau dulu atau agak kecoklatan, tetapi jangan kamu khawatir! Aku selalu merasakan baunya
tiap kali kudekatkan dengan hidungku dan itu masih seharum dulu Jun, seharum cintaku padamu
yang selama ini kupendam dalam hati.
Cerpen Karangan: Aoi Tanaka

Cinta Dalam Diam


Kring kring.. kring.. jam beker ku berbunyi sangat nyaring pada pukul 06.30 yang sengaja ku
setel untuk membangunkan ku dari tidur panjangku. Aku sontak terbangun dan dengan langkah
sempoyongan aku berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah
Hari ini adalah hari pertama ku masuk sekolah sebagai seorang siswi SMA. Aku cukup gugup.
Oiya, selama tiga tahun kedepan aku akan menghabiskan masa putih abu ku di SMA Negeri 1
Sukamulia. Sekolah ku merupakan salah satu sekolah ternama di kota ku. Hanya anak-anak
pilihan yang bisa bersekolah di sekolah ku. Dan aku salah satu di antara banyaknya anak-anak
pilihan tersebut.
Qoonnniii teriak Aini sambil berlari ke arah ku
Aini adalah teman segugus ku saat MOS. Dari sana kami mulai dekat dan menjadi teman akrab
hingga saat ini.
Aini lebay deh, baru sehari aja gak ketemu udah heboh. Kangen ya sama aku ucapku sambil
cengengesan
Ih pede, sopo to yang kangen karo sampean? jawabnya ketus.
Oiya, Aini adalah keturunan blasteran Jawa dan Sasak. Makanya kalau ngomong rada medok
Iya deh iya, kita ke kelas aja yuk! Entar kita enggak kebagian bangku paling depan
Kami pun berjalan menuju kelas. Kebetulan aku dan Aini satu kelas yaitu di kelas X-IPA 3.
Sampai di kelas aku dan Aini memilih bangku paling depan dekat jendela yang berhadapan
langsung dengan lapangan sekolah. Hari ini memang hari pertama masuk sekolah, tapi muridmurid di sekolah ku tetap belajar seperti biasa. Itulah yang membedakan sekolah ku dengan
sekolah-sekolah lain.
Jam pelajaran pertama dimulai. Pak Budi guru sejarah yang terkenal rajin dan disiplin masuk ke
kelas kami. Tanpa ada komando siswa dan siswi yang tadinya sangat ribut langsung diam
Selamat pagi anak-anak dan selamat datang di sekolah kita tercinta ini kata beliau mengawali
pelajaran
Selamat pagi pak jawab kami serempak
Kalian tentu sudah tau nama bapak siapa, jadi langsung saja kita mulai pelajarannya. Silahkan
buka buku kalian halaman 135 perintah beliau
Detik berganti menjadi menit, menit berganti menjadi jam dan bel berbunyi yang menandakan
jam istirahat dan jam pelajaran Pak Budi berakhir. Setelah Pak Budi keluar kelas, datanglah
beberapa orang kakak kelas ke kelas kami.
Selamat siang adik-adik. Maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Kami dari senior ekskul seni

lukis ingin merekrut anggota baru ucap salah seorang dari mereka
Oke, untuk mempersingkat waktu, bagi kalian yang berminat silahkan tulis nama kalian di kertas
ini ucap seorang pria yang berbadan kekar sambil mengangkat kertas dan pulpen
Wooy ngelamun terus, entar kesambet loh kata Aini padaku
Iya gue kesambet dia jawabku sambil menunjuk pria berbadan kekar itu
Ya udah pas kalau begitu. Kamu ikut aja ekskul seni lukis. Lagian kamu juga jago ngelukis. Aku
daftarin yo?
Terserah kamu aja jawab ku pada Aini sambil terus memandang pria itu.
Jadi bagi yang sudah menuliskan namanya, nanti sore agar datang ke sekolah ujar mereka dan
pergi begitu saja dari kelas kami.
Sore hari nya aku dan Aini datang ke sekolah. Ternyata sudah banyak siswa kelas X yang
datang. Baik dari siswa IPA maupun IPS. Kami dikumpulkan di sebuah ruangan khusus untuk
ekskul seni lukis. Di pertemuan pertama kami tidak langsung melukis tapi lebih tepatnya
mendengarkan ocehan para senior yang memperkenalkan dirinya padahal kami tidak
memintanya. Tapi, dari tadi aku tidak melihat sosok pria yang tadi pagi membuatku terhipnotis
karena senyum nya. Tiba-tiba dari balik pintu terdengar suara orang tergopoh-gopoh
Sorry.. sorry aku telat ucap pria itu
Ya udah deh langsung kenalin diri kamu ke junior kita perintah kak Nadia
Oke adik-adik, maaf sebelumnya karena saya telat. Nama saya Febryan biasa di panggil Ryan.
Saya duduk di kelas XII-IPS 4 ucapnya sembari tersenyum.
Lagi-lagi ia tersenyum dan senyuman itu mampu membuat ku mematung dan tak mampu
berkedip. Aliran darah ku seaakan berhenti mengalir sementara jantung ku terus berdetak
semakin kencang. Apa aku menyukainya? Batinku dalam hati
Hari berganti hari.
Tak terasa sudah dua bulan aku menjadi siswi SMA. Dan sudah dua bulan juga aku mencari tau
semua hal tentang dia. Tentunya secara diam-diam. Dimulai dari tanya-tanya akun sosial media
nya, nomor handphone nya, bahakan pin BB nya. Tapi sayang, aku terlalu pengecut untuk
sekedar mengirim pesan singkat padanya. Aku hanya berani memperhatikan kelihaian nya saat
bermain sepak bola dari kejauhan juga memandang senyum nya yang indah dari kejauhan.
Meskipun aku tahu senyum itu bukan untuk ku. Tapi itu sudah cukup membuat ke senang.
Karena dengan tersenyum berarti dia sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Namun pada akhir nya, ku kumpulkan segenap keberanian ku untuk mengirim sebuah pesan
singkat pada nya melalui BBM
Aku: PING!
Dia: Y?
Jawaban yang sangat singkat dan sanggup membuat rasa kecewa yang teramat dalam dihatiku.

Sejak saat itu aku tak pernah berani mencoba untuk berkomunikasi dengan nya. Hingga pada
suatu sore aku dan Aini datang untuk mengikuti ujian melukis. Kak Ryan juga datang. Seperti ia
terlihat seperti biasanya. Biasa keren dan dengan senyum nya yang menawan membuat nya
tampak terlihat sangat manis.
Ujian melukis kali ini kami diminta menggambar seseorang yang membuat kami bahagia.
Sebenarnya aku membayangkan Kak Ryan tapi sangat tidak mungkin aku melukis nya jadi
kuputuskan untuk melukis wajah Ayah ku saja.
Setelah selesai melukis aku mengumpulkan hasil lukisan ku pada Kak Ryan. Ia tersenyum pada
ku tapi aku tetap berusaha bersikap biasa saja di hadapan nya.
Lukisannya bagus dek, ini siapa? tanya Kak Ryan
Ayah aku kak ucapku dan berlalu meninggalkan nya
Aku keluar ruangan sambil menarik tangan Aini dengan hati yang sangat berbunga-bunga.
Kamu kenapa to? Keliatan nya seneng banget tanya Aini kebingungan
Kak Ryan.. Kak Ryan bilang lukisan aku bagus jawabku berbunga-bunga
Dasar lebay.. baru dipuji begitu saja sudah heboh begitu
Biarin aja, sewot mulu ih ejek ku pada Aini
Di kejauhan tampak seorang wanita yang sepertinya aku sudah kenal. Ya, wanita itu adalah Kak
Kirana. Wanita terpopuler di sekolah ku. Dia cantik dan baik hati. Ia sering memenangkan lombalomba modelling yang diadakan oleh pemerintah di kota ku. Tapi kenapa dia bisa ada di sekolah
padahal sore ini tidak ada ekskul modelling
Saaayaaang ucap wanita itu sambil melambaikan tangan ke arah ku.
Dan saat aku berbalik arah ternyata sudah ada Kak Ryan yang membalas lambaian tangan itu
sembari tersenyum. Aku shock! Aku yang melihat dan mendengarkan semua itu tak sadar
meneteskan air mata. Aku pun berlari sekencang-kencang nya. Hatiku terasa sangat perih.
Keadaan ini memaksa ku harus sadar bahwa cerita cinta ini bukanlah sinetron yang awalnya
suka dan berakhir dengan pacaran. Ini cinta yang nyata. Biarlah cinta tetap tersimpan dalam
diam. Dan mulai sejak saat itu ku putuskan untuk menyimpan rapat-rapat cinta untuk Kak Ryan
dan mencoba bersikap seolah kejadian yang kulihat hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan
hilang saat aku terbangun nanti.
Cerpen Karangan: Intan Cahaya
Blog: http://bqintan.blogspot.com
Hay nama gua Baiq Intan Cahaya Ning Putri. Gua sekarang sekolah di SMAN 1 SUKAMULIA
NTB. Follow @Inthan47 atau Add Facebook Baiiq Intan Pevensie :)