Anda di halaman 1dari 6

Nama : Yuliafiani Miranti

NIM

: 12/335516/KG/9271

TTD

PERENCANAAN PENGUMPULAN DATA DAN


PENJARINGAN (SKRINING)
A. Pendahuluan
Status kesehatan gigi dan mulut memliki peranan penting terhadap
status kesehatan umum. Kesehatan gigi dan mulut adalah bagian integral dari
kesehatan pada umumnya. Sampai saat ini di Indonesia masih sering terjadi
pemasalahan yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut. Masalah utama
dari gigi dan mulut adalah karies dan penyakit periodontal. Kelompok
masyarakat yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut adalah anak pra
sekolah, anak sekolah dasar, ibu hamil, dan usia lanjut.
Penyakit gigi dan mulut harus dideteksi sedini mungkin untuk
mencegah terjadinya akibat yang lebih parah. Salah satu cara untuk memeriksa
atau mendeteksi kondisi rongga mulut adalah dengan penjaringan (skrining).
Penjaringan adalah pemeriksaan gigi dan mulut secara sepintas dan sederhana.
Skrining yang dilakukan meliputi pemeriksaan angka karies/resiko karies,
pemeriksaan kesehatan jaringan periodontal, kesehatan gingiva, dan status
kebersihan gigi dan mulut.
Adanya kegiatan penjaringan (skrining) diharapkan dapat mendeteksi
sejak dini masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut
pada masyarakat, terutama kelompok rentan, sehingga dapat menentukan
tindakan atau perawatan yang tepat untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi
dan mulut secara optimal.

B. Tujuan
Adapaun tujuan dilakukannya penjaringan (skrining) adalah:
1. Untuk mengetahui kondisi kesehatan jaringan periodontal.

2. Untuk mengetahui prevalensi karies.


3. Untuk mengetahui kondisi kebersihan mulut.
4. Untuk mengetahui kesehatan gingiva pada anak-anak.
5. Untuk menentukan tindakan yng tepat terhadap permasalahan kesehatan
gigi dan mulut yang ada.

C. Metode
1. Penjaringan mahasiswa
a. Populasi = 59 orang mahasiswa angkatan 2012 Program Studi Ilmu
Keperawatan Gigi FKG UGM
b. Sampel = 5 orang mahasiswa angkatan 2012 Program Studi Ilmu
Keperawatan Gigi FKG UGM
2. Penjaringan siswa sekolah dasar
Sampel = 3 orang siswa sekolah dasar
3. Alat ukur
a. Indeks DMF-T untuk penjaringan antar mahasiswa dan indeks def-t
untuk penjaringan anak sekolah dasar. Indeks ini berfungsi untuk
menilai prevalensi karies.
b. Indeks OHI-S yang berfungsi untuk menilai status kebersihan gigi dan
mulut. Indeks OHI-S terdiri dari Debris Indeks (DI) dan Calculus
Indeks (CI).
c. Indeks CPITN yang berfungsi untuk menilai status kesehatan jaringan
periodontal serta menentukan treatment yang sesuai.
d. Indeks untuk pemeriksaan kondisi gingival untuk anak sekolah dasar.
Hal

ini

dikarenakan

tidak

memungkinkan

untuk

dilakukan

pemeriksaan CPITN.
e. Indeks PTI (Performance Treatment Index), yaitu indeks yang
menggambarkan angka mempertahankan gigi.
4. Cara Pelaksanaan
a. Pemeriksaan DMF-T dan def-t

Pemeriksaan DMF-T dan def-t dilaksanakan dengan


menggunakan alat bantu mouth mirror dan eksplorer (sonde),
semua gigi diperiksa decay (D/d), missing/extraction (M/e), dan
fillingnya (F/f).
D/d adalah kerusakan gigi permanen/desidui karena karies
yang masih dapat ditambal. M merupakan gigi permanen yang
hilang karena karies atau gigi karies. e adalah ekstraksi gigi desidui
yang telah hilang. Biasanya e juga digunakan untuk gigi desidui
yang terindikasi untuk dilakukan pencabutan karena karies.
Sedangkan F/f adalah gigi permanen/desidui yang telah ditambal
karena karies.
Hasil dari pemeriksaan dicatat pada lembar pemeriksaan
sesuai dengan gigi yang diperiksa.
b. Pemeriksaan OHI-S
1)

Dimulai dari kuadran I (rahang atas kanan), lanjut ke

kuadran II (rahang atas kiri), lanjut ke kuadran III (rahang


bawah kiri), dan terakhir kuadaran IV (rahang bawah kanan).
2)

Alat pemeriksaan yang digunakan adalah eksplorer/sonde

dan mouth mirror.


3)

Area masing-masing gigi dibagi menajdi 3 bagian, yaitu 1/3

dari arah servikal gigi, 2/3 dari arah servikal gigi, dan 1/3 dari
arah incisal/oklusal gigi.
4)

Gigi indeks yang digunakan untuk pemeriksaan OHI-S

adalah:
16 (bukal)

11 (labial)

26 (bukal)

46 (lingual)

31 (labial)

36 (lingual)

5)

Paling tidak ada 2 gigi indeks sebagai syarat dapat

dilaksanakannya pemeriksaan OHI-S.


6)

Pemeriksaan OHI-S terdiri dari pemeriksaan debris dan

pemeriksaan kalkulus
7)

Nilai debris:

i.

0 = Tidak ada debris dan tidak ada pewarnaan ekstrinsik.

ii.

1 = Debris berada di 1/3 bagian dari arah servikal gigi,


terdapat pewarnaan ekstrinsik yang menutupi sebagian atau
seluruh bagian gigi.

iii.

2 = debris berada kurang dari 2/3 bagian dari arah servikal


gigi.

iv.

3 = Debris berada di lebih dari 2/3 bagian dari arah servikal


gigi atau 1/3 bagian dari arah incisal gigi.

8)

Nilai kalkulus

i.

0 = permukaan gigi bersih.

ii.

1 = kurang dari 1/3 permukaan gigi (dihitung dari servikal)


tertutup kalkulus.

iii.

2 = lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan gigi


(dihitung dari servikal) tertutup kalkulus, atau permukaan
mahkota gigi bersih tapi pada bagian servikal ada bercak
kalkukus.

iv.

3 = lebih dari 2/3 permukaan gigi (dihitung dari servikal)


tertutup kalkulus, atau permukaan mahkota gigi bersih tapi
pada bagian servikal terdapat kalkulus yang melingkari gigi
seperti sebuah pita.

c. Pemeriksaan CPITN
1)

Pemeriksaan CPITN dilakukan dengan menggunakan

periodontal probe dan mouth mirror.


2)

Periodontal probe dimasukkan ke dalam sulkus gingiva.

3)

Gigi dibagi menjadi 6 sekstan yaitu:

18-14

13-23

24-28

48-44

43-33

34-38

4)

Gigi indeks:

i.

Jika usia 20 tahun gigi yang diperiksa adalah: 17, 16, 11,
26, 27, 47, 46, 31, 36, dan 37.

Jika usia 19 tahun gigi yang diperiksa adalah: 16, 11, 26,

ii.

46, 31, dan 36.


5)

Penilaian:

i.

0 = gingiva sehat, nonbleeding, tidak berkarang gigi, dan


tidak berpoket.

ii.

1 = bleeding spontan atau berselang beberapa saat, ujung


probe warna hitam masih terlihat.

iii.

2 = adanya kalkulus subgingiva atau supragingiva, ujung


probe warna hitam terlihat keseluruhan.

iv.

3 = adanya poket dengan kedalaman 4-5 mm, ditandai


dengan warna hitam probe terlihat sebagian.
4 = adanya poket 6 mm, ditandai dengan warna hitam

v.

probe tidak terlihat.


d. Pemeriksaan gingiva (gingivitis)
1)

Pemeriksaan gingiva dilakukan pada pemeriksaan gigi

anak-anak, karena tidak memungkinkan untuk dilakukan


pemeriksaan CPITN.
2)

Pemeriksaan gingiva dilakukan pada 6 sekstan. Masing-

masing rahang mempunyai 3 sekstan.


3)

Pemeriksaan gingival dilakukan dengan pemeriksaan kasat

mata saja dan tidak membutuhkan alat bantu.


4)

Gambaran klinis gingiva normal:

i.

Warna: merah jambu atau coral pink

ii.

Kontur: mengikuti kontur gigi, kontur mengikuti juga


alveolaris, gingiva interdental lancip.

iii.

Konsistensi: kaku (firm) dan lenting.

iv.

Tekstur: gingiva cekat stippling (seperti kulit jeruk),


gingiva bebas licin.

v.

Posisi: gingiva menempel pada permukaan gigi.

vi.

Palpasi: pada gingival normal tidak ada bleeding, pada


kasusu gingivitis ada bleeding.

5)

Penilaian

Pada setiap penampakan klinis gingiva pada setiap sekstan


ditandai:
i.

(+) jika terdapat gingivitis

ii.

(-) gingival normal

5. Analisis Hasil
Setelah penjaringan (skrining) dilakukan, dihitung prevalensi
untuk karies gigi,gingivitis, kebersihan mulut dan kebutuhan
perawatan (%) serta PTI per kelompok, lalu per kelas dari populasi
mahasiswa maupun anak usia sekolah dasar.