Anda di halaman 1dari 91

SKENARIO B BLOK 12 2014

Seorang lelaki gendut (mild obesity), berusia 35 tahun, sudah satu tahun mengalami
disfungsi ereksi (DE). Penyuka makanan terolah sejak sekolah dasar ini terdiagnosis
hipertensi ketika berumur 33 tahun. Mulai saat itu, dia secara rutin mengkonsumsi bukan
hanya preparat antihipertensi (atenolol), tetapi juga diuretika (furosemide) serta obat
pereduksi lemak darah (statin). Sebelum ketiga jenis obat itu dimakan, kehidupan seksual
bersama istrinya baik-baik saja. Sementara, pengganggu berlatar masalah psikososial bisa
diabaikan.
Riwayat Pangan (makanan yang biasa disantap selama 3 bulan terakhir)
Pagi : mie instan 2 bungkus dan kopi 1 gelas.
Snack pukul 10.00 : crackers 2 porsi.
Makan Siang : nasi dan ayam goring KFC 2 porsi, soft drink 2 kaleng.
Snack pukul 16.00 : dunkin donuts dan satu kaleng soft drink.
Makan malam : pizza (ukuran medium), 1 kaleng soft drink.
Tugas :
Lakukan eksplorasi untuk encari pelatar-belakang DE ini

I. KLARIFIKASI ISTILAH
1.

Disfungsi ereksi : salah satu ketidak mampuan pria untuk


melakukan ereksi atau menjaga ereksi tetap terjadi pada waktu
melakukan penetrasi hubungan intim (impotensi atau lemah

2.

syakhwat).
Mild obesity

: peningkatan berat badan melampaui batas

kebutuhan fisik dan skeletal, akibat penimbunan lekam tubuh


yang berlebihan. 20-30 % diatas berat badan ideal.

3.

Atenolol : agen pengikat adrenergik beta 1 yang digunakan dalam


pengobatan hipertensi, angina pectoris kronik serta propilaksis dan

4.

infark miokard, serta aritmia jantung.


Furosemide
: diuretic loop yang dipakai dalam pengobatan

5.

edema dan hipertensi.


Psikososial
: istilah yang digunakan untuk menggambarkan
hubungan antara kondisi social seseorang dengan kesehatan

6.

mental atau emosionalnya.


Statin
: golongan obat untuk menurunkan tingkat kolestrol

7.

dalam darah.
Soft drink : minuman yang berkarbonisasi biasanya manis dan

8.

bersifat non alkohol.


Hipertensi
: tingginya tekanan darah arteri secara persisten.

II. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Seorang lelaki gendut (mild obesity), berusia 35 tahun, sudah satu tahun

mengalami disfungsi ereksi (DE).


2. Penyuka makanan terolah sejak sekolah dasar ini terdiagnosis hipertensi ketika
berumur 33 tahun.
3. Dia secara rutin mengkonsumsi bukan hanya preparat antihipertensi (atenolol), tetapi
juga diuretika (furosemide) serta obat pereduksi lemak darah (statin).
4. Sebelum ketiga jenis obat itu dimakan, kehidupan seksual bersama istrinya baik-baik
saja.
5. Riwayat Pangan (makanan yang biasa disantap selama 3 bulan terakhir)
Pagi : mie instan 2 bungkus dan kopi 1 gelas.
Snack pukul 10.00 : crackers 2 porsi.
Makan Siang : nasi dan ayam goreng KFC 2 porsi, soft drink dua kaleng.
Snack pukul 16.00 : Dunkin Donat dan 1 kaleng soft drink.
Makan malam : Pizza (ukuran medium), satu kaleng soft drink.

III.ANALISIS MASALAH
1. Seorang lelaki gendut (mild obesity), berusia 35 tahun, sudah satu tahun
mengalami disfungsi ereksi (DE).
1.1. Apa saja penyebab disfungsi ereksi?
Faktor fisik : 80% penderita DE disebabkan adanya penyakit yang diderita.
Beberapa, penyakit yang menjadi pemicunya diabetes, hipertensi, penyakit
jantung, kolesterol tinggi, penyakit parkinson dll.
2

Faktor psikis : Ahli medis percaya bahwa faktor psikologis hanya


berkontribusi 10% sampai 20% menyebabkan impotensi. Tetapi para pria
yang mengalami impotensi akibat penyebab fisik sering bertambah parah
akibat faktor psikologis. Perasaan takut gagal dan takut tidak dapat
memuaskan istri, atau takut istri selingkuh karena tidak puas adalah pikiranpikiran negatif yang dapat memperparah impotensi.Meski demikian
beberapa gangguan mental atau psikis seperti di bawah ini, secara langsung
dapat menyebabkan impotensi:
- Depresi dan gangguan kecemasan
- Pasca gangguan stres traumatik
- Mental kelelahan
- Kekerasan psikologis atau trauma
- Masalah dengan identitas seksual
- Masalah hubungan dengan pasangan
Penyebab impotensi akibat faktor psikologis biasanya akan sembuh
setelah gangguan psikis yang dialami teratasi.
Faktor gaya hidup : Gaya hidup yang menjadi penyebab impotensi antara
lain:
- Merokok
- Kebiasaan minum softdrink
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Penyalahgunaan obat terlarang seperti steroid heroin, ganja, kokain, dan
-

anabolik tertentu
Obesitas
Kurangnya olahraga dan gaya hidup
Perubahan positif pada gaya hidup tersebut tidak hanya akan

meningkatkan kesehatan Anda secara keseluruhan, tetapi dapat membantu


Anda mengatasi masalah impotensi.
Faktor sekunder : pengaruh obat-obatan tertentu. Penyebab Impotensi Akibat
Obat-Obatan. Obat-obatan tertentu yang dikonsumsi baik itu dengan resep
dokter ataupun obat-obatan terlarang memiliki efek samping yang
menyebabkan impotensi. Berikut ini beberapa jenis obat-obatan penyebab
impotensi:
- Obat antidepresan, anti-psikotik dan obat penenang
- Obat hipertensi atau tekanan darah tinggi
- Obat penahan nafsu makan
- Antihistamin
- Beta blocker yang digunakan untuk mengontrol angina dan tekanan
darah tinggi
- Golongan diuretik
1.2. Adakah kaitan obesitas dan umur dengan disfungsi ereksi? Jika ada bagaimana?
3

Obesitas adalah fitur kardinal. Mekanisme penurunan testoteron terjadi


akibat konversi testosteron menjadi estrogen dalam jaringan lemak perifer yang
berlebihan dapat menyebabkan hipogonadisme. Terjadinya gangguan pada
sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad pada pria obesitas dengan depresi signifikan
yang dihasilkan dalam testosteron total dan testosteron terikat SHBG.
Penurunan SHBG kemungkinan dipergunakan untuk normalisasi testosteron
bebas dan ini mempunyai korelasi negatif antara testosteron total dan testosteron
bebas dengan indeks massa tubuh (BMI). Hipogonadisme lebih umum di pasien
diabetes dengan peningkatan BMI, atau mereka yang mengalami obesitas
(BMI> 40). Corona et al. (2007) menunjukkan bahwa hipogonadisme
mempunyai korelasi yang erat dengan lemak visceral dari diabetes. Gopal et al.
(2009) menyampaikan bahwa testosteron total dan testosteron bebas berbanding
terbalik dengan indeks massa tubuh (BMI) dan rasio pinggang/pinggul.
Mekanisme lain yang mungkin dapat dipergunakan menjelaskan etiologi kadar
testosteron rendah dan resistensi insulin berikutnya pada pria obes adalah
hyperestrogenemia. Peningkatan kadar serum estradiol dan estron pada pria
kegemukan. Selain itu, peningkatan kadar leptin pada obesitas yang
menyebabkan penurunan lebih lanjut tingkat androgen pada pria.

Adanya

peningkatan massa lemak berlebihan dapat menyebabkan peningkatan aktivitas


enzim aromatase yang menyebabkan konversi yang lebih besar dari testosteron
ke estrogen. Peningkatan kadar estrogen akan mengakibatkan penekanan
gonadotrophin releasing hormon dan gangguan sekresi gonadotropin oleh
kelenjar hipofisis. Hal ini menyebabkan pengurangan sekresi baik testosteron
dan produksi sperma matang (Dandona et al. 2009). Obesitas juga berhubungan
dengan konsentrasi SHBG yang lebih rendah, hal ini kemungkinan sebagai
akibat dari peningkatan kadar insulin dalam obes. SHBG sangat relevan pada
pria gemuk yang resisten insulin, seperti diketahui, insulin menghambat
sintesis SHBG. SHBG dan testosteron total berkorelasi berbanding terbalik
dengan BMI dan insulin. Pria dengan obesitas sering mempunyai testosteron
total rendah sampai sedang tetapi konsentrasi testosteron bebas normal. Suatu
kondisi yang menjelaskan adanya hubungan dengan rendahnya konsentrasi
SHBG (Rhonden et al. 2005). Namun demikian, Dhindsa et al. (2004)
menemukan korelasi yang lemah antara tingkat testosteron bebas dan BMI. Pada
laki-laki yang sangat gendut ada penurunan tingkat testosteron bebas, yang
4

dihasilkan dari konversi testosteron perifer menjadi estrogen, yang menurunkan


amplitudo pulsatif LH, dan menyebabkan penghambatan pusat produksi
androgen. Peningkatan estrogen, yang dibuat dengan cara aromatisasi androgen
dalam jaringan adiposa perifer pada pria obesitas, memberikan penjelasan yang
mungkin untuk penekanan sumbu hipotalamus- hipofisis. Dengan demikian,
pengamatan penurunan tingkat testosteron pada pria obesitas mungkin
disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan sintesis testosteron,
penghambatan sintesis SHBG, dan penurunan sekresi gonadotropin. Akibatnya,
memungkinkan peningkatan populasi risiko infertilitas (Kasturi, 2008).
Pada pria dengan gangguan disfungsi ereksi (ED), mempunyai kadar
testosteron bebas rendah dan berkorelasi dengan berkurang relaksasi
kavernosus, endotel dan sel otot polos dalam menanggapi agen vasoaktif, yang
tidak tergantung pada umur pria. Pada penelitian preklinik menunjukkan bahwa
pengurangan androgen dapat menyebabkan atrofi jaringan penis dan perubahan
pada struktur saraf penis. Selain itu juga terjadi penurunan ekspresi protein
endotel dan neuronal nitric oxide synthases (Enos dan nNOS), dan
fosfodiesterase tipe-5 (PDE-5), yang berperan penting dalam fisiologi ereksi
normal (Gurbuz et al.,2008). Peranan androgen terhadap fisiologi ereksi
terutama melalui efek pada sistem saraf pusat melalui efek libido dan dorongan
seksual dari fungsi corpus cavernosum. Para peneliti telah menunjukkan bahwa
kadar serum testosteron dan testosteron bebas secara signifikan lebih rendah
pada pasien dengan ED jika dibandingkan dengan orang normal (Aversa et
al.,2003).

Beberapa penulis melaporkan bahwa ED berkaitan dengan diabetes

terutama pada laki-laki muda, dengan kemungkinan tertinggi terjadi pada


rentang usia 26-35. Sun et al. (2006) menemukan bahwa 20.0% dari laki-laki
dengan ED menderita diabetes melitus dibandingkan dengan 7,5% dari
kelompok non-ED pria menderita diabetes. Sementara itu Traish et al. (2009)
menyampaikan bahwa prevalensi ED pada pasien dengan diabetes 70,6% dalam
survei terhadap 7.689 orang. Disampaikan juga bahwa prevalensi ED pada pria
Jepang penderita diabetes tiga kali prevalensi ED (60%) dibandingkan dengan
kontrol sehat non-diabet (20%). Secara keseluruhan, studi tersebut menunjukkan
bahwa ada hubungan yang kuat antara diabetes dan ED, dengan kondisi baik
menjadi faktor risiko yang lain.
Hubungan dengan Obesitas
5

Ereksi terjadi ketika pembuluh darah menuju penis membesar, dan darah
memenuhi pembuluh darah sampai terjadi ereksi. Proses ini dimulai ketika
lapisan dalam pembuluh (dikenal sebagai endothelium) melepaskan oksida
nitrat, sebuah molekul yang memberi sinyal pada otot-otot sekitarnya untuk
relaksasi. Obesitas menyebabkan kerusakan endotelium karena berkembangnya
plak aterosklerotik pada arteri akibat adanya kolesterol atau lemak disekitar
dinding arteri. Hal ini menyebabkan arteri mengalami sumbatan dan penis
mungkin

tidak

mendapatkan

cukup

darah

untuk

memproduksi

atau

mempertahankan ereksi karena sumbatan aliran darah tersebut.


1.3. Apa akibat dari mengalami disfungsi ereksi selama 1 tahun?
Dapat mengganggu kehidupan seksual dalam rumah tangga dan juga dapat
mengganggu psikologisnya.

1.4. Apakah penyakit disfungsi ereksi ini termasuk penyakit yang terkontrol atau
penyakit yang dapat tersembuhkan?
Secara garis besar, penyebab disfungsi ereksi terdiri dari faktor organik,
psikis, dan andropause. Umumnya laki-laki berumur lebih dari 40 tahun
mengalami penurunan kadar testosteron secara bertahap. Saat mencapai usia 40
tahun, laki-laki akan mengalami penurunan kadar testosteron dalam darah
sekitar 1,2 % per tahun. Bahkan di usia 70, penurunan kadar testosteron dapat
mencapai 70% .
Penelitian National Institutes of Health 2002 menunjukkan kurang lebih 15
juta sampai 30 juta laki-laki di Amerika mengalami disfungsi ereksi. Insidensi
terjadinya gangguan bervariasi dan meningkat seiring dengan usia. Pada usia 40
tahun, terdapat kurang lebih 5% laki-laki mengalami keadaan disfungsi ereksi,
pada usia 65 tahun, terdapat kurang lebih 15-25% (Handriadi Winaga, 2006).
Prevalensi disfungsi ereksi di Indonesia belum diketahui secara tepat,
diperkirakan 16 % laki-laki usia 20 75 tahun di Indonesia mengalami disfungsi
ereksi.

Jadi, jika berdasaekan faktor hormonal yang berkaitan dengan penuaan maka
lebih tepatnya bisa dikatakan terkontrol dan sembuh apabila faktor eksternal
seperti pemakaian diuretika untuk pengobatan hipertensi yang menghambat
aliran darah ke penis yang menyebabkan disfungsi ereksi.
1.5. Jika dapat disembuhkan bagaimana penatalaksanaannya?
Terapi disfungsi ereksi dibagi dalam 3 lini :
1. Tidak invasif
Medikamentosa per-oral
Golongan obat penghambat enzim fosfodiesterase-5 (inhibitor PDE-5)
Sildenafil, tadalafil, vardenafil
Pompa vakum
Memberi tekanan negatif penis pengaliran darah ke sinusoid ereksi
Psikoseksual
2. Invasif minimal
Injeksi obat-obatan vasoaktif secara intrakavernosa. Jenis-jenis obat :
papaverin, fentolamin, progtaglandin E1
3. Terapi lebih invasif
Operasi : pemasangan prostesis penis
Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah
sebagai berikut:
1. Membuat diagnosa dari disfungsi seksual
2. Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut
3. Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual
Dalam terapi disfungsi ereksi, yang menjadi sasaran terapi (bagian yang akan
diterapi) adalah ereksi penis. Berdasarkan sasaran yang diterapi, maka tujuan
terapi adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas ereksi penis yang nyaman
saat berhubungan seksual. Kualitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk
mendapatkan dan menjaga ereksi. Sedangkan kuantitas yang dimaksud adalah
seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga ereksi (waktu untuk tiaptiap orang berbeda untuk mencapai kepuasan orgasme, tidak ada waktu normal
dalam ereksi).
Sebelum memilih terapi yang tepat, perlu diketahui penyebab atau faktor
resiko pada pasien yang berperan dalam menyebabkan munculnya disfungsi
ereksi. hal ini terkait dengan beberapa penyebab disfungsi ereksi yang terkait.
Dengan demikian, jika diketahui penyebab disfungsi ereksi yang benar maka
dapat diberikan terapi yang tepat pula. Terapi untuk disfungsi ereksi dapat
dibedakan menjadi dua yaitu terapi tanpa obat (nonfarmakologis-pola hidup
sehat dan menggunakan alat ereksi seperti vakum ereksi) dan terapi
menggunakan obat (farmakologis).
7

Yang pertama kali harus dilakukan oleh pasien disfungsi ereksi harus
memperbaiki pola hidup menjadi sehat. Beberapa cara dalam menerapkan pola
hidup sehat antara lain olah raga, menu makanan sehat, kurangi dan hindari
rokok atau alkohol, menjaga kadar kolesterol dalam tubuh, mengurangi berat
badan hingga normal), dan mengurangi stres. Jika dengan menerapkan pola
hidup sehat, pasien sudah mengalami peningkatan kepuasan ereksi maka pasien
disfungsi ereksi tidak perlu menggunakan obat atau vakum ereksi.
1. Obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan disfungsi ereksi antara lain
golongan phosphodiesterase inhibitor5 (sildenafil, vardenafil, dan tadalafil),
alprostadil (disuntikkan di penis-intracevernosal dan dimasukkan dalam
ureter-intrauretral), papaverine, trazodone, dan dengan testosteron replacing
hormone (penambahan homon estrogen). Obat yang digunakan sebagai obat
pilihan untuk pengobatan disfungsi ereksi adalah sildenafil.
Obat Pilihan
Sildenafil
Nama generik
: sildenafil
Merk dagang
: Viagra
Golongan
: phosphodiesterase inhibitor5
Penggunaan
: harus dengan resep dokter
Ketersediaan bentuk generik : tidak ada
Bentuk sediaan
: tablet Viagra salut film, berwarna biru, bentuk bulat,
atau seperti intan.
Kekuatan tiap tablet :25 mg, 50 mg, dan 100 mg
Penyimpanan
: tablet Viagra disimpan dalam suhu ruangan (15-300 C)
Indikasi
: Sildenafil diindikasikan untuk terapi disfungsi ereksi
(impotensi) yang disebabkan secara organik (karena penyakit pada sistem
vaskuler-hipertensi, sistem saraf atau hormonal) dan psikis.
Dosis dan aturan pakai: Dewasa; dosis yang dianjurkan adalah 25-100
mg/hari. Untuk pengobatan yang pertama kali diberikan dosis sebesar 50 mg
30 menit-4 jam sebelum berhubungan seksual. Jika dibutuhkan dosis dapat
ditambah 25 mg dan maksimal dosis 100 mg/hari. Sildenafil digunakan
hanya sekali dalam sehari (dosis maksimal 100mg.hari) dan berefek
maksimal jika digunakan pada saat perut kosong.

Efek sildenafil akan

muncul setelah 30 menit-1jam pemberian sildenafil dan durasi efeknya


selama 4 jam. Ketika sildenafil digunakan bersamaan dengan makanan
(terlebih daging) maka efek yang timbul akan lebih lama sekitar 2 jam
kemudian setelah pemberian sildenafil.
2. Kontra indikasi :
8

Sildenafil tidak boleh digunakan pada pasien dengan fungsi ereksi


normal karena dapat menyebabkan ereksi terlalu lama/prolong erection
(menimbulkan nyeri yang sangat pada penis); pasien yang menggunakan
nitrat (isosorbid dinitrat/mononitrat-untuk pengobatan angina pektoris)
karena dapat meningkatkan efek hipotensi dari nitrat sehingga tekanan darah
menjadi terlalu rendah (shock hipotensi), pasien dengan terapi simetidin,
eritromisin,

ketoconazole,

itraconazole

karena

meningkatkan

resiko

munculnya efek samping sildenafil Efek samping :


Efek samping sildenafil tidak sering muncul. Efek samping sidenafil
antara lain: muka memerah, pusing, nyeri perut, mual, diare, sensitif pada
cahaya (fotosensitif), kepekaan mendengar berkurang, kepala pening.
Peringatan : Tidak dianjurkan untuk anak. Pasien dengan riwayat sakit
jantung (aritmia, pernah mengalami serangan jantung, hipertensi) perlu
monitoring dan modifikasi dosis. Pasien dengan penurunan fungsi ginjal
atau penurunan fungsi hepar : dosis awal dikurangi menjadi 25 mg/hari.
Hati-hati pada pasien yang mengalami kerusakan penis dan pasien yang
mempunyai bentuk sel darahnya bulan sabit (sickle cell disease).
Informasi bagi pasien: Pasien diberi informasi jika tidak berefek untuk
meningkatkan ereksi harus kembali ke dokter Pasien diharapkan kembali ke
dokter jika efek ereksi melebihi 4 jam. Pasien harus mematuhi aturan pakai.
Bagaimana proses fisiologis terjadinya ereksi ?
Ereksi terjadi melalui 2 mekanisme:
Pertama, adalah reflex ereksi oleh sentuhan pada penis (ujung batang dan
sekitarnya).
Kedua, ereksi psikogenik karena rangsangan erotis. Keduanya menstimulir
sekresi nitric oxide yang memicu relaksasi otot polos batang penis (corpora
cavernosa), sehingga aliran darah ke area tersebut meningkat dan terjadilah
ereksi. Disamping itu, produksi testosteron (dari testis) yang memadai dan
fungsi hipofise (pituitary gland) yang bagus, diperlukan untuk ereksi.
1.6. Bagaimana proses fisiologis terjadinya ereksi ?
Ereksi merupakan hasil dari suatu interaksi yang kompleks dari faktor
psikologik, neuroendokrin dan mekanisme vaskular yang bekerja pada jaringan
ereksi penis. Organ erektil penis terdiri dari sepasang korpora kavernosa dan
korpus spongiosum yang ditengahnya berjalan urethra dan ujungnya melebar
membentuk glans penis. Korpus spongiosum ini terletak di bawah kedua
korpora kavernosa. Ketiga organ erektil ini masing-masing diliputi oleh tunika
albuginea, suatu lapisan jaringan kolagen yang padat, dan secara keseluruhan
9

ketiga silinder erektil ini di luar tunika albuginea diliputi oleh suatu selaput
kolagen yang kurang padat yang disebut fasia Buck. Di bagian anterior kedua
korpora kavernosa terletak berdampingan dan menempel satu sama lain di
bagian medialnya sepanjang 3/4 panjang korpora tersebut. Pada bagian posterior
yaitu pada radix krura korpora kavernosa terpisah dan menempel pada
permukaan bawah kedua ramus iskiopubis. Korpora kavernosa ini menonjol dari
arkus pubis dan membentuk pars pendularis penis. Permukaan medial dari kedua
korpora kavernosa menjadi satu membentuk suatu septum inkomplit yang dapat
dilalui darah. Radix penis bulbospongiosum diliputi oleh otot bulbokavernosus
sedangkan korpora kavernosa diliputi oleh otot iskhiokavernosus.
Jaringan erektil yang diliputi oleh tunika albuginea tersebut terdiri dari
ruang-ruang kavernus yang dapat berdistensi. Struktur ini dapat digambarkan
sebagai trabekulasi otot polos yang di dalamnya terdapat suatu sistim ruangan
yang saling berhubungan yang diliputi oleh lapisan endotel vaskular dan disebut
sebagai sinusoid atau rongga lakunar. Pada keadaan lemas, di dalam korpora
kavernosa terlihat sinusoid kecil, arteri dan arteriol yang berkonstriksi serta
venula yang yang terbuka ke dalam vena emisaria. Pada keadaan ereksi, rongga
sinusoid dalam keadaan distensi, arteri dan arteriol berdilatasi dan venula
mengecil serta terjepit di antara dinding-dinding sinusoid dan tunika albuginea.
Tunika albuginea ini pada keadaan ereksi menjadi lebih tipis. Glans penis tidak
ditutupi oleh tunika albuginea sedangkan rongga sinusoid dalam korpus
spongiosum lebih besar dan mengandung lebih sedikit otot polos dibandingkan
korpus kavernosus.
Penis dipersarafi oleh sistem persarafan otonom (parasimpatik dan simpatik)
serta persarafan somatik (sensoris dan motoris). Serabut saraf parasimpatik yang
menuju ke penis berasal dari neuron pada kolumna intermediolateral segmen
kolumna vertebralis S2-S4. Saraf simpatik berasal dari kolumna vertebralis
segmen T4L2 dan turun melalui pleksus preaortik ke pleksus hipogastrik, dan
bergabung dengan cabang saraf parasimpatik membentuk nervus kavernosus,
selanjutnya memasuki penis pada pangkalnya dan mempersarafi otot-otot polos
trabekel. Saraf sensoris pada penis yang berasal dari reseptor sensoris pada kulit
dan glans penis bersatu membentuk nervus dorsalis penis yang bergabung
dengan saraf perineal lain membentuk nervus pudendus. Kedua sistem

10

persarafan ini (sentral/psikogenik dan periferal/ refleksogenik) secara tersendiri


maupun secara bersama-sama dapat menimbulkan ereksi.
Sumber pendarahan ke penis berasal dari arteri pudenda interna yang
kemudian menjadi arteri penis komunis dan kemudian bercabang tiga menjadi
arteri kavernosa (arteri penis profundus), arteri dorsalis penis dan arteri
bulbouretralis. Arteri kavernosa memasuki korpora kavernosa dan membagi diri
menjadi arteriol-arteriol helisin yang bentuknya seperti spiral bila penis dalam
keadaan lemas. Dalam keadaan tersebut arteriol helisin pada korpora
berkontraksi dan menahan aliran darah arteri ke dalam rongga lakunar.
Sebaliknya dalam keadaan ereksi, arteriol helisin tersebut berelaksasi sehingga
aliran darah arteri bertambah cepat dan mengisi rongga-rongga lakunar.
Keadaan relaksasi atau kontraksi dari otot-otot polos trabekel dan arteriol
menentukan penis dalam keadaan ereksi atau lemas. Selama ini dikenal
adrenalin dan asetilkolin sebagai neurotransmiter pada sistem adrenergik dan
kolinergik, tetapi pada korpora kavernosa ditemukan adanya neurotransmiter
yang bukan adrenergik dan bukan pula kolinergik (non adrenergik non
kolinergik = NANC) yang ternyata adalah nitric oxide/NO. NO ini merupakan
mediator neural untuk relaksasi otot polos korpora kavernosa. NO menimbulkan
relaksasi karena NO mengaktifkan enzim guanilat siklase yang akan
mengkonversikan guanosine triphosphate (GTP) menjadi cyclic guanosine
monophosphate (cGMP). cGMP merangsang kalsium keluar dari otot polos
korpora kavernosa, sehingga terjadi relaksasi. NO dilepaskan bila ada
rangsangan seksual. cGMP dirombak oleh enzim phosphodiesterase (PDE) yang
akan mengakhiri/ menurunkan kadar cGMP sehingga ereksi akan berakhir. PDE
adalah enzim diesterase yang merombak cyclic adenosine monophosphate
(cAMP) maupun cGMP menjadi AMP atau GMP. Ada beberapa isoform dari
enzim ini, PDE 1 sampai PDE7. Masing-masing PDE ini berada pada organ
yang berbeda. PDE5 banyak terdapat di korpora kavernosa.

11

1.7. Bagaimana patofisiologi dari disfungsi ereksi?


Mekanisme terjadinya disfungsi ereksi menurut Hilsted dan Low (1993)
merupakan kombinasi neuropati otonom dan keterlibatan arteriosklerosis arteri
pudenda interna.
Menurut Moreland (sebagaimana dikutip oleh Wibowo, 2007) ada dua
pandangan utama patofisiologi kasus disfungsi ereksi, pada hipotesis pertama
perubahan yang dipengaruhi tekanan oksigen pada penis selama ereksi ditujukan
untuk mempengaruhi struktur korpus kavernosum dengan cara menginduksi
sitokin yang bermacammacam. Faktor vasoaktif dan faktor pertumbuhan pada
kondisi tekanan oksigen yang berbeda akan mengubah metabolisme otot polos
dan sintesis jaringan ikat. Penurunan rasio antara otot polos dengan jaringan ikat
pada korpus kavernosum dihubungkan dengan meningkatnya vena difus dan
kegagalan mekanisme penyumbatan vena.
Hipotesis tersebut menyertakan bukti adanya perubahan pada fase ereksi
penis malam hari dan perubahan sirkadian hubungannya dengan oksigenasi yang
penting dalam pengaturan ereksi sehat. Hipotesis yang lain menyatakan bahwa
disfungsi ereksi adalah hasil dari ketidakseimbangan metabolik antara proses
kontraksi dan relaksasi di dalam otot polos trabekula, misalnya dominasi proses
kontraksi. Kedua hipotesis ini dikaitkan dengan strategi penanganan DE.
Menurut Barton dan Jouber (2000), pada kasuskasus dengan penyebab
biologis jelas (misal neuropati diabetika), pengobatan dan akibat dalam jangka
panjang kelainan seksual sekunder tersebut akan terpengaruh juga oleh faktor
psikoseksual. Penyebab organik DE termasuk vaskuler, neurologik (saraf),
hormonal, penyakit, atau obatobatan tertentu dan sejumlah orang mempunyai
12

faktor penyebab ganda. Pada faktor neurologik dapat berupa: stroke, penyakit
demielinasi, kelainan dengan bangkitan atau kejang, tumor atau trauma sumsum
belakang dan kerusakan saraf tepi.
Dua pertiga kasus DE adalah organik dan kondisi komorbid sebaiknya
dievaluasi secara aktif. Penyakit vaskular dan jantung (terutama yang
berhubungan dengan hiperlipidemia, diabetes, dan hipertensi) berkaitan erat
dengan disfungsi ereksi. Kombinasi kandisi-kondisi ini dan penuaan
meningkatkan resiko DE pada usia lanjut. Permasalahan hormonal dan
metabolik

lainnya,

termasuk

hipogonadisme

primer

dan

sekunder,

hipotiroidisme, gagal ginjal kronis, dan gagal hati juga berdampak buruk pada
DE (Vary, 2007).
Penyalahgunaan zat seperti intake alkohol atau penggunaan obat-obatan
secara berlebihan merupakan kontributor utama pada DE. Merokok merupakan
salah satu penyebab arterio oklusive disease. Psikogenik disorder termasuk
depresi, disforia dan kondisi kecemasan juga berhubungan dengan peningkatan
kejadian disfungsi seksual multipel termasuk kesulitan ereksi. Cedera tulang
belakang, tindakan bedah pelvis dan prostat dan trauma pelvis merupakan
penyebab DE yang kurang umum (Wibowo, 2007).
DE iatrogenik dapat disebabkan oleh gangguan saraf pelvis atau
pembedahan prostat, kekurangan glisemik, tekanan darah, kontrol lipid dan
banyak medikasi yang umum, digunakan dalam pelayanan primer. Obat anti
hipertensi khususnya diuretik dan central acting agents dapat menyebabkan DE.
Begitu pula digoksin psikofarmakologic agents termasuk beberapa antidepresan
dan anti testosteron hormon. Kadar testosteron memang sedikit menurun dengan
bertambahnya usia namun yang berkaitan dengan DE adalah minoritas pria yang
benar-benar hipogonadisme yang memiliki kadar testosteron yang rendah
(Vary,2007).

13

1.8. Mengapa baru satu tahun setelah pemberian obat hipertensi dia baru mengalami
disfungsi ereksi?
Karena Tn. gendut mengkonsumsi obat anti hipertensi atenolol, furosemide, dan
statin secara rutin, dan efek sampingnya akan menimbulkan disfungsi ereksi jika
penggunaannya

berlebihan.

Yang

dimana

-blocker

bisa

menurunkan

testosterone, dapat juga menganggu sistem saraf sehingga terjadi penurunan


impuls

saraf,

contohnya

penurunan

pada

saraf

simpatis

yang

akan

mengakibatkan vasodilatasi pembuluh darah. Vasodilatasi dapat menyebabkan


hipotensi, yang kemudian akan mengakibatkan aliran darah kurang baik. Pada
kasus ini yang paling memungkinkan membuat DE adalah furosamid, yaitu
golongan deuretika kuat, yang fungsinya sama mengakibatkan hipotensi. Statin
juga membuat vasodilatasi pembuluh darah, statin adalah obat hipolipidemik.
Statin berperan menurunkan kolesterol, yang bisa di ketahui bahan untuk
memperoduksi testosteron adalah kolesterol. Karena kolesterol menurun,
produksi testosteron juga menurun, inilah yang menyebabkan disfungsi seksual.
1.9. Apakah akibat jika DE tidak diobati ?
Dapat mengganggu kehidupan seksual dalam rumah tangga dan juga dapat
mengganggu psikologisnya.

2. Penyuka makanan terolah sejak sekolah dasar ini terdiagnosis hipertensi ketika
berumur 33 tahun.
2.1. Apa saja makanan terolah itu? Dan apa kandungannya?
Istilah makan terolah mencakup kepada seluruh makanan yang telah diubah
dari bentuk aslinya dalam suatu proses, baik untuk alasan kesehatan ataupun
untuk alasan kemudahan. Hal yang perlu diingat bahwa istilah terolah
memiliki arti yang luas, makanan terolah tidak selalu menjadi makanan yang
tidak sehat akan tetapi makanan terolah mungkin telah diberikan zat penambah
seperti garam, gula dan lemak. Banyak dari makanan terolah yang dapat
dimakan sebagai menu dalam diet yang sehat. Teknik pengolahan meliputi
pembekuan, pengalengan, pemanggangan, pengeringan atau pasteurisasi.
Beberapa jenis makanan seperti susu membutuhkan pengolahan berupa
pasteurisasi agar lebih aman dan pendinginan pada sayuran dan buah-buahan
akan lebih menjaga vitamin.
14

Zat aditif merupakan ha yang perlu diperhatikan dalam memilih makanan


terolah. Bahan - bahan tambahan (aditif) seperti gula (fruktosa), garam, dan
lemak sering ditambahkan dalam makanan terolah untuk meningkatkan rasa,
memperpanjang ketahanan makanan atau dalam suatu hal berkontribusi dalam
pembentukan struktur makanan seperti gula dibutuhkan dalam pembuatan roti
atau kue. Hal ini dapat menyebabkan orang memakan makanan ini melebihi dari
jumlah yang direkomendasikan bagi intake zat aditif ini.
Contoh. Kebanyakan makanan yang dapat dibeli di pasar merupakan
makanan terolah. Sebagai contohnya :
Makanan instan

: mie instan

Snack

: cracker

Produk daging

: KFC

Roti

: donat, pizza

Minuman

: soft drink

Dairy product (keju, susu), sayuran kaleng


2.2. Apa hubungan makan terolah dengan penyakit disfungsi ereksi?
pola makan yang tidak baik kenaikan gula darah gangguan pembuluh
darah dan saraf menghalangi pelepasan NO (nitrit oksida) yang dibutuhkan
sebgai chemical mesengger yang memicu otot polos dan arteri di penis untuk
berelaksasi konstriksi pembuluh darah dan menimbulkan dan berkurangnya
aliran darah ke penis disfungsi ereksi (DE)
Pola makan yang tidak baik kolestrol tinggi (LDL meningkat)
mengganggu kemampuan pembuluh darah berdilatasi berkurangnya aliran
darah ke penis DE

Konsumsi soft drink dalam jangka panjang menyebabkan obesitas. Tidak sedikit
penelitian membuktikan jika pengkonsumsian 1 porsi minuman ringan, secara
15

teratur selama 20 tahun terbukti berakibat pada sindrom metabolik, yang


merupakan penyebab terjadinya DE. Minuman ringan ialah sumber utama
fructose (high fructose corn syrup) salah satu jenis karbohidrat yang dianggap
toksik. Asupan kalori berlebihan, terlebih jika kalori menggunakan fructose
mengarah ke penumpukan lemak. Penumpukan lemak visceral diyakini sebagai
faktor resiko terjadinya DE. Disposisi lemak di bagian visceral merupakan
penghubung utama antara pengkonsumsian minuman ringan berlebihan dan DE.
2.3. Adakah kaitan hipertensi dengan disfungsi ereksi? Jika ada bagaimana?
Disfungsi ereksi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
adanya penyakit darah tinggi atau hipertensi. Penyakit tekanan darah tinggi atau
hipertensi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya masalah ereksi.
Sebuah jurnal ilmiah yaitu the journal of the american geriatrics society
menyebutkan bahwa 49% pria yang erusia 35-79 tahun mempunyai penyakit
tekanan darah tinggi juga mengalami masalah disfungsi ereksi. Tekanan darah
yang tinggi menyebabkan pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke penis
terus melebar dan juga menyebabkan berkurangnya kemampuan otot di penis,
sehingga hasilnya tidak cukup banyak darah yang mengalir ke penis untuk
terjadi ereksi.
Hipertensi menyebabkan disfungsi endotel sehingga produksi NO menurun,
hal itu menyebabkan sel endotel tidak bisa relaksasi dan terus menerus
bervasokontriksi sehingga permeabilitasnya kaku dan menyempit. Penyempitan
ini terjadi di genitalia sehingga aliran darah ke genital berkurang dan terjadi
disfungsi ereksi.
2.4. Apa dampak dari sering mengkonsumsi makanan terolah saja?
Meningkatkan Risiko Serangan Jantung
Kandungan kolesterol yang tinggi pada makanan cepat saji dapat
mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Pembuluh darah yang
tersumbat

akan

membuat

aliran

darah

tidak

lancar

yang

dapat

mengakibatkan terjadinya serangan jantung koroner.


Membuat Ketagihan
16

Makanan cepat saji mengandung zat aditif yang dapat membuat ketagihan
dan merangsang untuk ingin terus memakannya sesering mungkin.
Meningkatkan Berat Badan
Jika suka mengonsumsi makanan cepat saji dan jarang berolahraga, maka
dalam beberapa minggu tubuh akan mengalami penambahan berat badan
yang tidak sehat. Lemak yang di dapat dari mengonsumsi makanan cepat
saji tidak digunakan dengan baik oleh tubuh jika tidak berolahraga. Lemak
inilah yang kemdian tersimpan dan menumpuk dalam tubuh.
Meningkatkan Risiko Kanker
Kandungan lemak yang tinggi yang terdapat dalam makanan cepat saji dapat
meningkatkan risiko kanker, terutama kanker payudara dan usus besar.
Memicu Diabetes
Kandungan kalori dan lemak jenuh yang tinggi dalam makanan cepat saji
akan memicu terjadinya resistensi insulin yang berujung pada penyakit
diabetes. Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak merespon
insulin sehingga menurunkan penyerapan glukosa yang menyebabkan
banyak glukosa menumpuk di aliran darah.
Memicu Tekanan Darah Tinggi
Garam dapat membuat masakan menjadi jauh lebih nikmat. Hampir semua
makanan makanan cepat saji mengandung garam yang tinggi. Garam
mengandung natrium, ketika kadar natrium dalam darah tinggi dan tidak
dapat dikeluarkan oleh ginjal, volume darah meningkat karena natrium
bersifat menarik dan menahan air. Peningkatan ini menyebabkan jantung
bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh yang
menyebabkan tekanan darah tinggi (Septiyani, 2011).
2.5. Apa kaitan hipertensi dengan makanan yang terolah?
-

Makan makanan olahan akan meningkatkan kadar lemak, kolestrol dan gula
darah yang memicu tejadinya obesitas sehingga LDL atau kolesterol
17

meningkat yang menyebabkan terjadinya penumpukan dan pembentukan


plak di pembuluh darah, hal ini akan membuat pembuluh darah dan
elastisitasnya menjadi berkurang akhirnya terjadilah hipertensi.
-

Makan makanan olahan akan meningkatan natrium, sehingga natrium


menumpuk

dan

meningkatkan

volume

ekstrasel,

peningkatan

ini

menyebabkan tekanan arteri meningkat terjadilah hipertensi.

3. Dia secara rutin mengkonsumsi bukan hanya preparat antihipertensi (atenolol), tetapi
juga diuretika (furosemide) serta obat pereduksi lemak darah (statin).
3.1. Bagaimana farmakokinetik dan farmakodinamik obat atenolol?
Farmakokinetik
50 % dosis diabsorbsi setelah pemberian oral. Konsentrasi plasma puncak
tercapai dalam 2 - 4 jam. Kelarutan atenolol dalam lemak rendah dan larut
dalam air. Menembus plasenta, terdistribusi dalam ASI dengan konsentrasi lebih
tinggi dibandingkan dengan dalam plasma ibu pernah tercapai. Sejumlah kecil
obat menembus sawar otak, dan ikatan dengan plasma protein minimal. T 1/2
plasma 6-7 jam. Atenolol tidak atau hanya sedikit dimetabolisme di hepar dan
ekskresinya terutama di urin. Obat ini dikeluarkan dengan hemodialisa.
Farmakodinamik
Kerja fisiologi utama atenolol adalah dengan secara kompetitif menghambat
stimulasi adrenergik dari reseptor beta-adrenergik dalam miokardium dan otot
halus vaskular. Pada dosis kecil, atenolol secara selektif menghambat reseptor
jantung dan reseptor lipolitik 1-adrenergik dan hanya sedikit efek pada reseptor
2-adrenergik bronki dan otot halus vaskular. Pada dosis tinggi (>100 mg/hari),
selektivitas atenolol untuk reseptor 1-adrenergik biasanya hilang, dan akan
secara kompetitif menghambat reseptor 1- dan 2-adrenergik. Dengan
menghambat reseptor 1-adrenergik miokardium, atenolol menghasilkan
aktivitas kronotropik dan inotropik yang negatif. Dengan berkurangnya
kontraktilitas miokardium dan denyut jantung, dan dengan turunnya tekanan
darah akan mengakibatkan berkurangnya konsumsi oksigen oleh miokardium.
Dan hal inilah yang membuat efektifnya atenolol pada angina pektoris stabil
yang kronis; walaupun begitu, atenolol dapat meningkatkan keperluan oksigen
18

dengan meningkatkan panjangnya serabut ventrikular kiri dan tekanan enddiastolic, terutama pada pasien dengan gagal jantung.
3.2. Bagaimana farmakokinetik dan farmakodinamik obat furosemide?
Furosemide merupakan obat golongan diuretic. Tepatnya adalah diuretic
loop bersama dengan asam etakrinat, bumetanid, dan torsemid.
Farmakokinetik
Diuretic loop cepat diabsorpsi dan dieliminasi oleh ginjal melalui filtrasi
glomerulus dan sekresi tubulus. Absorpsi furosemide 2-3jam dan absorpsinya
hampir penuh pada pemberian intravena. Durasi afek furosemide biasanya 2-3
jam. Waktu paruhnya bergantung pada fungsi ginjal. Karena agen loop bekerja
pada sisi lumen tubulus, aktivitas diuretiknya berkaitan dengan sekresinya di
tubulus proksimal. Penurunan sekresi di diuretic loop dapat terjadi akibat
pemberian berbagai agen, seperti OAINS atau probenesid, yang mengurangi
sekresi asam lemah di tubulus proksimal.
Farmakodinamik
Obat ini menghambat NKCC2, yakni transporter Na+/K+/2Cl- di lumen,
dalam cabang asenden tebal ansa Henle. Dengan menghambat transporter ini,
diuretic loop menurunkan reabsorpsi NaCl dan juga mengurangi potensial
positif di lumen akibat siklus kembali K+ potensial positif ini normalnya
memicu reabsorpsi kation divalent di ansa Henle, dan dengan menurunkan
potensial ini, diuretic loop meningkatkan ekskresi Mg2+ dan Ca2+. Penggunaan
yang berkepanjangan dapat menyebabkan hipomagnesium yang signifikan pada
beberapa pasien. Karena absorpsi Ca2+ di usus yang dipicu vitamin D dapat
ditingkatkan dan Ca2+ aktif direabsorpsi di TCD, diuretic loop umumnya tidak
menyebabkan hipokalsemia. Namun, pada gangguan yang menyebabkan
hiperkalsemia, ekskresi Ca2+ dapat ditingkatkan dengan pemberian kombinasi
diuretic loop dan infus saline.
Diuretik loop memicu sintesis prostaglandin ginjal yang berperan dalam
kerja diuretic ini di ginjal. OAINS dapat mengganggu kerja diuretic loop dengan
menurunkan sintesis prostaglandin di ginjal. Gangguan ini minimal pada pasien
normal tapi signifikan pada pasien sindrom nefrotik atau sirosis hepatic. Selain
aktivitas diuretiknya, agen loop mempunyai efek langsung pada aliran darah
melalui

beberapa vaskuler. Furosemide meningkatkan aliran darah ginjal.

Furosemide juga terbukti menurunkan kongesti paru dan tekanan pengisian

19

ventrikel kiri pada gagal jantung sebelum terjadi peningkatan keluaran urine
yang nyata, dan pada penderita anefrik.
3.3. Bagaimana farmakokinetik dan farmakodinamika obat statin ?
Statin adalah termasuk ke dalam golongan obat hipolipidemik yakni obat
yang digunakan untuk menurunkan kadar lipid dalam plasma. Oleh sebab itu
statin merupakan suatu obat yang sering digunakan dalam pengobatan pasien
dengan kondisi hiperlipidemia, hipertensi,diabetes mellitus, gangguan jantung
dan vaskuler seperti aterosklerosis. Statin efektif untuk menurunkan kadar
kolesterol.
Farmakokinetik
semua statin, kecuali lovastatin dan simvastatin berada dalam bentuk asam
betha-hidroksi. Statin diabsorbsi sekitar 40-75%, kecuali fluvastatin yang
diabsorbsi hamper semua. Semua obat mengalami metabolism lintas pertama
dihati.Waktu paruhnya berkisar 1-3 jam, kecuali atorvastatin (14 jam) dan
rosuvastatin (19 jam). Obat-obat ini sebagian besar terikat protein plasma.
Sebagian besar disekresikan dari hati kedalam carian empedu dan sebagian kecil
lewat ginjal.
Farmakodinamik
Statin bekerja dengan menghambat enzim HMG CoA reduktase, sehingga
menghambat sintesis kolesterol dalam hati. Akibat dari penurunan kolesterol
maka SREBP (sterol regulatory element binding protein)yang terdapat pada
membran dipecah oleh protease dan dibawa ke nukleus. Faktor-faktor transkripsi
kemudian akan berikatan dengan dengan gen reseptor LDL sehingga akan
memicu peningkatan produksi reseptor LDL. Peningkatan jumlah reseptor LDL
pada hepatosit selanjutnya akan menurunkan kadar kolesterol jauh lebih besar
lagi. Selain LDL, VLDL, IDL menurun, sedangkan HDL meningkat.
(Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2007)
3.4. Bagaimana efek samping dari mengkonsumsi ketiga obat itu secara rutin ?
Atenolol
Efek ke jantung: bradikardi (3%); hipotensi; (AV) blok atrioventrikular
derajat kedua atau tiga; dan mempercepat parahnya gagal jantung, yang
biasanya terjadi pada pasien yang sudah mempunyai disfungsi ventrikular kiri.
Sick sinus syndrome telah dilaporkan; dinginnya kaki tangan (0-12%), postural
hipotensi (2-4%, dikaitkan dengan syncope); dan sakit kaki (0-3%). Efek ke
SSP: pusing, letih, depresi. Lesu, mengantuk, mimpi yang tidak biasa, dan
vertigo terjadi pada 3% pasien. Sakit kepala dan halusinasi juga telah
dilaporkan. Efek samping lain yang terlihat pada penggunaan penyekat beta
20

dapat juga terjadi pada penggunaan atenolol seperti gangguan penglihatan,


disorientasi, gangguan memori jangka pendek, emosi yang labil, psikosis, dan
katatonia. Efek ke saluran pencernaan: diare dan mual (2-4%), dan mulut kering
juga telah dilaporkan. Efek endokrin: penggunaan penyekat -adrenergik pada
pasien hipertensi meningkatkan resiko ( 28%) tipe 2 diabetes mellitus.
Penyekat -adrenergik dapat menutupi tanda-tanda dan gejala hipoglikemi
(seperti palpitasi, tahikardi, tremor) dan memperkuat efek hipoglikemi yang
disebabkan oleh insulin. Efek samping yang lain: Ruam, eksaserbasi psoriasis,
sindroma lupus, mata kering, gangguan penglihatan, alopesia yang reversibel,
penyakit Peyronie, antinuclear antibodies (ANA), impoten, meningkatnya
konsentrasi enzim liver dan bilirubin, purpura, Raynauld's phenomena, dan
trombositopenia

juga

telah

dilaporkan.

Reaksi

alergi:

demam,

sakit

kerongkongan, spasme laring, dan respiratory distress.


Atenolol dapat menyebabkan impotensi dengan cara memblok aktifitas saraf
simpatis pada sistem saraf tepatnya pada arteri penis. Karena pemblokiran pada
saraf simpatis maka arteri tidak dapat melakukan dilatasi sehingga membuat pria
sulit untuk ereksi.
Atenolol menurunkan produksi testosteron hal ini karena terjadinya
pemblokiran reseptor adrenergic yang ada pada sel leydig yang berfungsi
menghasilkan testosteron.
Furosemide
Furosemide menimbulkan efek samping sebagai berikut: anemia, sensasi
abnormalitas

kulit,

kejang

kandung

kemih,

penglihatan

kabur,

konstipasi/sembelit, kram, pusing, demam, iritasi mulut dan lambung,


kemerahan, sedikit ikterik, kejang otot, telinga berdengung, fotosensitivitas,
inflamasi vena, mual, jaundice. Biasanya frekuensi urin maksimal sampai enam
jam setelah dosis pertama, dan akan menurun setelah mengkonsumsi furosemide
dalam waktu beberapa minggu. Adapun efek samping lain;
1. Gangguan cairan dan elektrolit
2. Ototoksisitas
3. Hipotensi
4. Efek metabolic
5. Reaksi alergi
6. Nefritis interstisialis alergik
Statin
Efek samping statin yang potensial berbahaya adalah miopati dan
rabdomiolisis. Insiden miopati rendah (<1%) tetapi meningkat apabila diberikan
bersama obat-obatan tertentu bahkan sesama golongan obat hipolipidemik (asam
21

fibrat dan asam nikotinat) karena mempengaruhi metabolisme statin. Efek


samping lain adalah sakit kepala, gangguan saluran cerna, neuropati perifer, rash
dan sindrom lupus. Menurunnya mineral tubuh seperti tembaga (Cu), Selenium
(Se) dan Zinc (Zn) juga merupakan efek samping penggunaan statin.
Pemakaian jangka panjang obat statin akan menurunkan level ketiga mineral
tersebut. Menurunnya Zn berhubungan dengan penurunan aktivitas seksual dan
deplesi mineral Se akan menurunkan jumlah hormon testosteron serta kuantitaskualitas sperma (jumlah-motilitas).
(Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2007)
3.5. Mengapa dokter memberikan ketiga obat tersebut?
Ketiga obat diberikan untuk mengatasi masalah yang sebelumnya
dikeluhkan oleh pasien. Obat atenolol untuk mengatasi hipertensi dengan prinsip
inhibiting reseptor beta (B-blocker) terutama reseptor beta 1 di jantung. Obat
statin untuk mengatasi hiperlipidemia lalu obesitas kemudian hipertensi dengan
prinsip menghambat enzim HMG CoA reduktase yang berperan terhadap
sintesis kolesterol dalam hati. Obat furosemid sebagai golongan obat diuretika
diutamakan untuk mengatasi hipertensi dengan prinsip menurunkan jumlah ion /
elektrolit dan volume darah dengan meningkatkan diuretika pasien sehingga
tekanan darah diharapkan turun.
(Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2007)
3.6. Adakah interaksi dari ketiga obat tersebut? jika ada bagaimana?
Efek hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama insulin. Diuretik
tiazid meningkatkan kadar trigliserid dan asam urat. Iskemia perifer berat bila
diberi bersama alkaloid ergot. Indometasin menurunkan efek antihipertensi.
Simetidin menurunkan bersihan atenolol.
Hipokalemia yang diinduksi oleh furosemid akan menyebabkan toksisitas
pada digoksin dan dapat meningkatkan risiko aritmia dengan obat-obat yang
dapat meningkatkan interval QT, termasuk antiaritmia tipe Ia dan III, cisaprid
dan beberapa kuinolon (sparfloksasin,gatifloksasin dan moksifloksasin). Risiko
toksisitas litium dan salisilat akan meningkat dengan adanya diuretik loop. Efek
hipotensi dan/atau efek lanjut pada ginjal dari inhibitor ACE dan anti inflamasi
non steroid akan meningkat dengan adanya hipovolemia yang diinduksi oleh
furosemida, Efek obat bloker adrenergik perifer atau bloker ganglion dapat
ditingkatkan oleh furosemid. Furosemid dapat meningkatkan risiko toksisitas
dengan agen ototoksik lain (aminoglikosida, cis-platinum), terutama pada pasien
dengan disfungsi ginjal.
22

Efek sinergis diuretik lebih cenderung terjadi pada penggunaan bersama obat
antihipertensi lain dan hipotensidapat terjadi. Indometasin, aspirin, fenobarbital,
fenitoin dan antiinflamasi non steroid dapat menurunkan efek natriuretik dan
hipotensif

dari

furosemid.

Colestipol,

kolestiramin

dansukralfat

akan

menurunkan efek furosemid, beri jarakpemberian 2 jam. Furosemid dapat


mengantagonis efek relaksan otot skeletal (tubokurarin). Toleransi glukosa dapat
diturunkan oleh furosemid, perlu penyesuaian dosis obat hipoglikemik.
Metformin dapat menurunkan konsentrasi furosemid.

4. Sebelum ketiga jenis obat itu dimakan, kehidupan seksual bersama istrinya baikbaik saja.
4.1. Bagaimana kaitan ketiga obat tersebut dengan DE?
Obat beta blockers (atenolol)
Obat hipertensi golongan beta blocker mengurangi impuls saraf yang dapat
menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi. Obat golongan ini juga dapat
menyebabkan arteri susah untuk melebar sehingga darah tidak dapat masuk
ketika terjadi ereksi.

Furosemid
Merupakan diuretic kuat yang menurunkan reabsorpsi aktif di segmen
tebal ascenden ansa Henle dengan menghambat ko transporter 1-natrium, 2klorida, 1-kalium yang terletak di membrane luminal sel epitel. Dengan
menghambat ko-transporter aktif natrium-klorida-kalium pada membran
luminal ansa Henle, diuretic loop akan meningkatkan pengeluaran
natrium,klorida,kalium, dan elektrolit lain termasuk zinc. Obat diuretic ini
meningkatkan jumlah zat terlarut yang dihantarkan ke bagian distal nefron dan
juga obat ini bekerja sebagai bahan osmotic untuk mencegah reabsorpsi air.
Diuretik dapat menyebabkan disfungsi ereksi karena pengeluaran elektrolit
seperti Zinc yang erat kaitannya dengan kerja dan fungsi sistem reproduksi.
23

Zinc mempengaruhi metabolisme dan aktivitas sperma, juga mempengaruhi


perkembangan kelenjar seks. Zinc meningkatkan produksi dan kerja hormon
Testoteron yang berkaitan kuat dengan fungsi seksual dan mengakibatkan
peningkatan libido & mengatasi masalah impotensi. Bila jumlah zinc tidak
mencukupi, produksi testosterone akan menurun dan disfungsi ereksi dapat
terjadi.
Statin
Obat yang berperan sebagai kompetitif inhibitor terhadap 3- hydroxy-3
methylglutaryl-coenzyme A atau HMG-CoA reductase, yaitu enzyme yang
berfungsi sebagai biosintesis kolesterol. Penurunan enzim ini dalam hati
berdampak pada penurunan sintesis kolesterol. Penurunan kadar kolesterol
menginduksi

sel

hati

untuk

meningkatkan

reseptor

LDL sehingga

meningkatkan jumlah LDL yang dimetabolisme dalam hati dan menurunkan


kadar LDL dalam sirkulasi darah. Statin mampu menurunkan LDL dan
meningkatkan HDL dalam darah. Pengurangan pembentukan kolesterol akan
mengurangi produksi hormone testosterone oleh testis. Apabila terjadi
penurunan pembentukan kolesterol akan menurunkan

juga produksi

testosterone yang bertanggung jawab terhadap fungsi seksual laki-laki yang


kemudian dapat menyebabkan disfungsi ereksi

5. Riwayat Pangan (makanan yang biasa disantap selama 3 bulan terakhir)


Pagi : mie instan 2 bungkus dan kopi 1 gelas.
Snack pukul 10.00 : crackers 2 porsi.
Makan Siang : nasi dan ayam goreng KFC 2 porsi, soft drink dua kaleng.
Snack pukul 16.00 : Dunkin Donat dan 1 kaleng soft drink.
Makan malam : Pizza (ukuran medium), satu kaleng soft drink.
5.1. Apa kandungan yang terdapat dalam makanan yang biasa disantap oleh pasien
terutama yang berhubungan dengan DE, hipertensi dan obesitas ?
Mie Instan
Indomie Rasa Soto Mie
- Energi = 340 kkal
- Energi dari lemak = 110 kkal
- Lemak total = 12 gr / 22%
- Lemak jenuh = 4 gr / 19%
- Kolesterol = 0 mg / 0%
- Karbohidrat = 50 gr / 15%
- Serat makanan = 2 gr / 9%
24

- Gula = 2 gr / 9%
- Protein = 7 gr / 15%
- Natrium = 600 mg / 25%
- Vitamin A = 60% AKG
- Vitamin B12 = 20% AKG
- Vitamin B1 = 40% AKG
- Vitamin C = 6% AKG
- Vitamin B6 = 26% AKG
- Pantotenat = 10% AKG
- Kalsium = 2% AKG
- Niasin = 25% AKG
- Asam folat = 25% AKG
- Zat besi = 30% AKG
Kopi
Kopi adalah bahan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Kopi mengandung energi sebesar 352 kilokalori, protein 17,4 gram,
karbohidrat 69 gram, lemak 1,3 gram, kalsium 296 miligram, fosfor 368
miligram, dan zat besi 4 miligram. Selain itu di dalam Kopi juga terkandung
vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0 miligram.
Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Kopi,
dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100 %.
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Kopi :
Nama Bahan Makanan : Kopi
Nama Lain / Alternatif : Kopi, Bagian Yang Dapat Larut
Banyaknya Kopi yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Kopi yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %
Jumlah Kandungan Energi Kopi = 352 kkal
Jumlah Kandungan Protein Kopi = 17,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Kopi = 1,3 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Kopi = 69 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Kopi = 296 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Kopi = 368 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Kopi = 4 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Kopi = 0 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Kopi = 0 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Kopi = 0 mg
Khasiat / Manfaat Kopi : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : K
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia serta sumber lainnya.
Crackers
Roma Malkist Crackers

Informasi

per 2 crackers
25

Gizi
Energi

(18 g)
335 kj
80 kkal

Lemak

3g

Protein

2g

Karbohidrat 13 g
Gula
Sodium

2g
100 mg

Nasi
1 Porsi (105 G) Nasi Putih

Informasi Gizi
Energi

per 1 porsi
(105 g)
565 kj
135 kkal

Lemak

0,29 g

Lemak Jenuh

0,08 g

Lemak tak
Jenuh Ganda
Lemak tak
Jenuh Tunggal

0,079 g
0,092 g

Kolesterol

0 mg

Protein

2,79 g

Karbohidrat

29,3 g

Serat

0,4 g

Gula

0,05 g

Sodium

383 mg

Kalium

37 mg

Ayam Goreng Kfc


KFC Original Recipe Chicken
Informasi

per 1 piece

Gizi

(116,51 g)

Energi
Lemak

544 kj
130 kkal
2g
26

Lemak
Jenuh

0,5 g

Kolesterol 90 mg
Protein

29 g

Karbohidrat 0 g
Sodium

520 mg

Soft Drink
1 Kaleng (350 Ml) Soda

Informasi Gizi
Energi
Lemak
Lemak Jenuh
Lemak tak
Jenuh Ganda
Lemak tak
Jenuh Tunggal
Kolesterol

per 1 kaleng
(350 ml)
586 kj
140 kkal
0,04 g
0g
0g
0g
0 mg

Protein

0,26 g

Karbohidrat

36,05 g

Serat

0g

Gula

33,76 g

Sodium

22 mg

Kalium

4 mg

Dunkin Donut
Kue Donat adalah makanan cemilan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Kue Donat mengandung energi sebesar 357 kilokalori, protein 9,4
gram, karbohidrat 56,5 gram, lemak 10,4 gram, kalsium 0 miligram, fosfor 0
miligram, dan zat besi 0 miligram.

Selain itu di dalam Kue Donat juga

terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0


miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram
Kue Donat, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100 %.
27

Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Kue Donat :


Nama Bahan Makanan : Kue Donat
Nama Lain / Alternatif : Banyaknya Kue Donat yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Kue Donat yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %
Jumlah Kandungan Energi Kue Donat = 357 kkal
Jumlah Kandungan Protein Kue Donat = 9,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Kue Donat = 10,4 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Kue Donat = 56,5 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Kue Donat = 0 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Kue Donat = 0 mg
Khasiat / Manfaat Kue Donat : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : K
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia serta sumber lainnya.
Pizza
Pizza Sapi adalah makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Pizza Sapi mengandung energi sebesar 294 kilokalori, protein 17,9
gram, karbohidrat 16,1 gram, lemak 17,5 gram, kalsium 269 miligram, fosfor
207 miligram, dan zat besi 0,8 miligram. Selain itu di dalam Pizza Sapi juga
terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,07 miligram dan vitamin C 0
miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram
Pizza Sapi, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100 %.
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Pizza Sapi :
Nama Bahan Makanan : Pizza Sapi
Nama Lain / Alternatif : Banyaknya Pizza Sapi yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Pizza Sapi yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %
Jumlah Kandungan Energi Pizza Sapi = 294 kkal
Jumlah Kandungan Protein Pizza Sapi = 17,9 gr
Jumlah Kandungan Lemak Pizza Sapi = 17,5 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Pizza Sapi = 16,1 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Pizza Sapi = 269 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Pizza Sapi = 207 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Pizza Sapi = 0,8 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Pizza Sapi = 0 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Pizza Sapi = 0,07 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Pizza Sapi = 0 mg
Khasiat / Manfaat Pizza Sapi : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : P
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia serta sumber lainnya.
28

5.2. Bagaimana pengaruh soft drink terhadapan DE, hipertensi dan obesitas?
Penyebab utama obesitas adalah konsumsi makanan yang berlebihan, tanpa
diimbangi aktivitas fisik dan olahraga. Konsumsi sugar-sweetened soft drink
dapat menjadi
faktor penting terhadap kejadian obesitas remaja (Giammattei et al, 2003).
Sebuah penelitian menyebutkan, resiko obesitas yang dihasilkan minuman
ringan lebih banyak menyerang anak-anak dan remaja, terutama laki-laki,
daripada orang dewasa.
He et al (2010) melakukan studi intervensi berupa pengurangan 1,5 kaleng
konsumsi
soft drink setiap minggu selama satu tahun dan didapati hasil bahwa anak
mengalami penurunan terhadap berat badan dan obesitas sekitar 7,7%.
Obesitas di pengaruhi oleh beberapa faktor. Terdapat faktor yang dapat
dimodifikasi dan ada faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat
dimodifikasi adalah pola hidup yang termasuk

pola makan dan olahraga.

Sedangkan salah satu contoh faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah
genetik. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa terdapat interaksi kuat antara
faktor pola makan dan genetik seseorang. Seseorang dengan gen kegemukan
lebih rentan untuk menjadi gemuk, akibat dari minuman berpemanis atau soft
drink. Peningkatan risiko pada seorang dengan gen kegemukan bisa ditekan
dengan pemilihan makanan dan minuman yang lebih sehat, salah satunya
kurangi konsumsi soft drink.
menyebabkan syndrome metabolic. Dari fruktosa yang toksik. Kadar gula terlalu
tinggi dan pemanis buatan.
5.3. Mengapa indikator riwayat pangan yang digunakan pada kasus ini selama 3
bulan terakhir?
5.4. Bagaimana porsi dari makanan yang terolah dan soft drink yang dapat
ditoleransi oleh tubuh ?
Jenis fast food yang sering dikonsumsi adalah ayam goreng yang berarti
bahwa ayam goreng ini dikonsumsi 1x/minggu. Kemudian jenis fast food yang
juga sering dikonsumsi adalah fried chicken. Adapun jenis soft drink yang
jarang dikonsumsi adalah hamburger dan Spaghetti yang berarti jenis fast food
ini hanya dikonsumsi 1x/bulan.
Jenis soft drink yang mungkin dikonsumsi adalah coca cola dan pepsi yang
berarti bahwa coca cola dan pepsi tersebut dikonsumsi 1x/minggu, Rata-rata
asupan energi yang dihasilkan dari konsumsi fast food adalah 146,9 kcal, dan
29

energi maksimal yang dihasilkan adalah 1471,6 Kcal. Adapun rata-rata asupan
protein yang dihasilkan adalah 10,1 gram dengan jumlah asupan maksimalnya
adalah 126,4 gram. Sedangkan rata-rata asupan lemak yang dihasilkan dari
konsumsi fast food adalah 6,7 gram dengan jumlah asupan maksimalnya adalah
82,5 gram, adapun karbohidrat yaitu rata-rata asupan sebanyak 7,8 gram dengan
jumlah asupan maksimalnya adalah 48,4 gram.
5.5. Bagaimana status gizi dari pasien ini ?
Kekurangan:
Penggunaan obat diuretika dapat menyebabkan kehilangan berbagai mineral
dari tubuh. Oleh sebab itu, apabila telah terjadi defisiensi, suplemen tambahan
harus diberikan. Contoh mineral yang mengalami defisiensi :

calsium,

magnesium, B6, kalium, zinc, dll.


Pengunaan lipid reducing drugs dapat menghambat kerja enzim HMG CoA
reductase untuk membuat kolesterol; dan coenzymeQ10. Sehingga hal ini akan
mengakibatkan beberapa hormon penting terutama yang terbuat dari kolesterol
akan mengalami penurunan
Kelebihan:
Pengkonsumsian minuman soft drink yang berlebihan dapat mengakibatkan
peningkatan jumlah gula dalam darah.
IV. LEARNING ISSUE
1. Gizi (pengaruh terhadap hipertensi, obesitas, DE)
a. Karbohidrat
Definisi
Secara umum definisi karbohidrat adalah senyawa organik yang mengandung
atom Karbon, Hidrogen dan Oksigen, dan pada umumnya unsur Hidrogen clan
oksigen dalam komposisi menghasilkan H2O. Di dalam tubuh karbohidrat dapat
dibentuk dari beberapa asam amino dan sebagian dari gliserol lemak. Akan tetapi
sebagian besar karbohidrat diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi seharihari, terutama sumber bahan makan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Sumber karbohidrat nabati dalam glikogen bentuk glikogen, hanya dijumpai
pada otot dan hati dan karbohidrat dalam bentuk laktosa hanya dijumpai di dalam
susu. Pada tumbuh-tumbuhan, karbohidrat di bentuk dari basil reaksi CO2 dan
H2O melalui proses foto sintese di dalam sel-sel tumbuh-tumbuhan yang
mengandung hijau daun (klorofil). Matahari merupakan sumber dari seluruh
kehidupan, tanpa matahari tanda-tanda dari kehidupan tidak akan dijumpai.
Reaksi fotosintese
s.matahari
30

6 CO2 + 6 H2O
C6 H12 O6 + 6 O2
Pada proses fotosintesis, klorofil pada tumbuh-tumbuhan akan menyerap dan
menggunakan enersi matahari untuk membentuk karbohidrat dengan bahan utama
CO2 dari udara dan air (H2O) yang berasal dari tanah. Enersi kimia yang
terbentuk akan disimpan di dalam daun, batang, umbi, buah dan biji-bijian.
Klasifikasi
Karbohidrat yang terdapat pada makanan dapat dikelompokkan:
Available Carbohydrate (Karbohidrat yang tersedia)
Yaitu karbohidrat yang dapat dicerna, diserap serta dimetabolisme sebagai
karbohidrat.
Unvailable Carbohydrate (Karbohidrat yang tidak tersedia)
Yaitu karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisa oleh enzim-enzim pencernaan
manusia, sehingga tidak dapat diabsorpsi.
Penggolongan karbohidrat yang paling sering dipakai dalam ilmu gizi
berdasarkan jumlah molekulnya.
1. Monosakarida
Heksosa (mengandung 6 buah karbon)
- Glukosa
- Fruktosa
- Galaktosa
Pentosa (mengandung 5 buah karbon)
- Ribosa
- Arabinosa
- Xylosa
2. Disakarida
- Sukrosa
- Maltosa
- Laktosa
3. Polisakarida
- Amilum
- Dekstrin
- Glikogen
- Selulosa
Monosakarida
Karbohidrat yang paling sederhana (simple sugar), oleh karena tidak bisa lagi
dihidrolisa. Monosakarida larut di dalam air dan rasanya manis, sehingga secara
umum disebut juga gula. Penamaan kimianya selalu berakhiran -osa. Dalam Ilmu
Gizi hanya ada tiga jenis monosakarida yang penting yaitu, glukosa, fruktosa dan
galaktosa.
Glukosa
Terkadang orang menyebutnya gula anggur ataupun dekstrosa. Banyak
dijumpai di alam, terutama pada buah-buahan, sayur-sayuran, madu, sirup jagung
dan tetes tebu. Di dalam tubuh glukosa didapat dari hasil akhir pencemaan
amilum, sukrosa, maltosa dan laktosa.
31

Glukosa dijumpai di dalam aliran darah (disebut Kadar Gula Darah) dan
berfungsi sebagai penyedia enersi bagi seluruh sel-sel dan jaringan tubuh. Pada
keadaan fisiologis Kadar Gula Darah sekitar 80-120 mg %. Kadar gula darah
dapat meningkat melebihi normal disebut hiperglikemia, keadaan ini dijumpai
pada penderita Diabetes Mellitus.
Fruktosa
Disebut juga gula buah ataupun levulosa. Merupakan jenis sakarida yang
paling manis, banyak dijjumpai pada mahkota bunga, madu dan hasil hidrolisa
dari gula tebu. Di dalam tubuh fruktosa didapat dari hasil pemecahan sukrosa.
Galaktosa
Tidak dijumpai dalam bentuk bebas di alam, galaktosa yang ada di dalam
tubuh merupakan hasil hidrolisa dari laktosa.
Disakarida
Merupakan gabungan antara 2 (dua) monosakarida, pada bahan makanan
disakarida terdapat 3 jenis yaitu sukrosa, maltosa dan laktosa.
Sukrosa
Adalah gula yang kita pergunakan sehari-hari, sehingga lebih sering disebut
gula meja (table sugar) atau gula pasir dan disebut juga gula invert. Mempunyai 2
(dua) molekul monosakarida yang terdiri dari satu molekul glukosa dan satu
molekul fruktosa.
Sumber: tebu (100% mengandung sukrosa), bit, gula nira (50%), jam, jelly.
Maltosa
Mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari dua molekul
glukosa. Di dalam tubuh maltosa didapat dari hasil pemecahan amilum, lebih
mudah dicema dan rasanya lebih enak dan nikmat. Dengan Jodium amilum akan
berubah menjadi warna biru. Amilum terdiri dari 2 fraksi (dapat dipisah kan
dengan air panas):
1. Amilosa
- larut dengan air panas
- mempunyai struktur rantai lurus
2. Amilopektin
- tidak larut dengan air panas
- mempunyai sruktur rantai bercabang
Peranan perbandingan amilosa dan amilo pektin terlihat pada serelia;
Contohnya beras, semakin kecil kandungan amilosa atau semakin tinggi
kandungan amilopektinnya, semakin lekat nasi tersebut.
Pulut sedikit sekali amilosanya (1-2%), beras mengandung amilosa > 2%
Berdasarkan kandungan amilosanya, beras (nasi) dapat dibagi menjadi 4
golongan:
- amilosa tinggi
- amilosa menengah

25-33%
20-25%
32

amilosa rendah
09-20%
amilosa sangat rendah
< 9%
Secara umum penduduk di negara-negara Asean, khususnya Flipina, Malaysia,

Thailand dan Indonesia menyenangi nasi dengan kandungan amilosa medium,


sedangkan Jepang dan Korea menyenangi nasi dengan amilosa rendah.
Loktosa
Mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari satu molekul
glukosa dan satu molekul galaktosa. Laktosa kurang larut di dalam air.
Sumber : hanya terdapat pada susu sehingga disebut juga gula susu.
- susu sapi
4-5%
- asi
4-7%
Laktosa dapat menimbulkan intolerance (laktosa intolerance) disebabkan
kekurangan enzim laktase sehingga kemampuan untuk mencema laktosa
berkurang. Kelainan ini dapat dijumpai pada bayi, anak dan orang dewasa, baik
untuk sementara maupun secara menetap. Gejala yang sering dijumpai adalah
diare, gembung, flatus dan kejang perut. Defisiensi laktase pada bayi dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan, karena bayi sering diare. Terapi diit dengan
pemberian formula rendah laktosa seperti LLM, Almiron, Isomil, Prosobee dan
Nutramigen, dan AI 110 bebas Laktosa. Formula rendah laktosa tidak boleh
diberikan terlalu lama (maksimum tiga bulan), karena laktosa diperlukan untuk
pertumbu ban sel-sel otak. Setelah tiga bulan, laktosa diberikan secara bertahap
sesuai dengan pertumbuhan anak.
Polisakarida
Merupakan senyawa karbohidrat kompleks, dapat mengandung lebih dari
60.000 molekul monosakarida yang tersusun membentuk rantai lurus ataupun
bercabang. Polisakarida rasanya tawar (tidak manis), tidak seperti monosakarida
dan disakarida. Di dalam Ilmu Gizi ada 3 (tiga) jenis yang ada hubungannya yaitu
amilum, dekstrin, glikogen dan selulosa.
Amilum (zat pati)
Merupakan sumber enersi utama bagi orang dewasa di seluruh penduduk
dunia, terutama di negara seclang berkembang oleh karena di konsumsi sebagai
bahan makanan pokok. Disamping bahan pangan kaya akan amilumjuga
mengandung protein, vitamin, serat dan beberapa zat gizi penting lainnya.
Amilum merupakan karbohidrat dalam bentuk simpanan bagi tumbuh-tumbuhan
dalam bentuk granul yang dijumpai pada umbi dan akarnya.
Sumber: umbi-umbian,serealia dan biji-bijian merupakan sumber amilum yang
berlimpah ruah oleh karena mudah didapat untuk di konsumsi. Jagung, beras dan
33

gandum kandungan amilurnnya lebih dari 70%, sedangkan pada kacang-kacangan


sekitar 40%.
Amilum tidak larut di dalam air dingin, tetapi larut di dalam air panas
membentuk cairan yang sangat pekat seperti pasta; peristiwa ini disebut
"gelatinisasi".
Dekstrin
Merupakan zat antara dalam pemecahan amilum. Molekulnya lebih sederhana,
lebih mudah larut di dalam air, denganjodium akan berubah menjadi wama merah.
Glikogen
Glikogen merupakan "pati hewani", terbentuk dari ikatan 1000 molekul, larut
di dalam air (pati nabati tidak larut dalam air) dan bila bereaksi dengan iodium
akan menghasilkan warna merah. Glikogen terdapat pada otot hewan, manusia
dan ikan. Pada waktu hewan disembelih, terjadi kekejangan (rigor mortis) dan
kemudian glikogen dipecah menjadi asam laktat selama post mortum.
Glikogen disimpan di dalam hati dan otot sebagai cadangan enersi, yang
sewaktu-waktu dapat diubah kembali menjadi glukosa bila dibutuhkan.
Sumber : banyak terdapat pada kecambah, serealia, susu, syrup jagung (26%).
Selulosa
Hampir 50% karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan adalah selulosa,
karena selulosa merupakan bagian yang terpenting dari dinding sel tumbuhtumbuhan. Selulosa tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia, oleh karena tidak ada
enzim untuk memecah selulosa. Meskipun tidak dapat dicerna, selulosa berfungsi
sebagai sumber serat yang dapat memperbesar volume dari faeses, sehingga akan
memperlancar defekasi.
Dahulu serat digunakan sebagai indeks dalam menilai kualitas makanan,
makin tinggi kandungan serat dalam makanan maka nilai gizi makanan tersebut
dipandang semakin buruk. Akan tetapi pada dasawarsa terakhir ini, para ahli
sepakat bahwa serat merupakan komponen penyusun diet manusia yang sangat
penting. Tanpa adanya serat, mengakibatkan terjadinya konstipasi (susah buang air
besar), haemorrhoid (ambeyen), divertikulosis, kanker pada usus besar,
appendicitis, diabetes penyakit jantung koroner dan obesitas.
Pencernaan
Pencernaan karbohidrat sudah dimulai sejak makanan masuk ke dalam mulut;
makanan dikunyah agar dipecah menjadi bagian-bagian kecil, sehingga jumlah
permukaan makanan lebih luas kontak dengan enzim-enzim pencemaan.
Di dalam mulut makanan bercampur dengan air ludah yang mengandung
enzim amilase (ptyalin). Enzim amilase bekerja memecah karbohidrat rantai
34

panjang seperti amilum dan dekstrin, akan diurai menjadi molekul yang lebih
sederhana
maltosa. Sedangkan air ludah berguna untuk melicinkan makanan agar lebih
mudah ditelan. Hanya sebagian kecil amilum yang dapat dicema di dalam mulut,
oleh karena makanan sebentar saja berada di dalam rongga mulut. Oleh karena itu
sebaiknya makanan dikunyah lebih lama, agar memberi kesempatan lebih banyak
pemecahan amilum di rongga mulut. Dengan proses mekanik, makanan ditelan
melalui kerongkongan dan selanjutnya akan memasuki lambung.
Pencernaan dalam lambung
Proses pemecahan amilum diteruskan di dalam lambung, selama makanan
belum bereaksi dengan asam lambung.
Pencernaan dalam usus
Di usus halus, maltosa, sukrosa dan laktosa yang berasal dari makanan
maupun dari hasil penguraian karbohidrat karbohidrat kompleks akan diubah
menjadi mono sakarida dengan bantuan enzim-enzim yang terdapat di usus halus.

Absorbsi
Semua jenis karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida, proses
penyerapan ini terjadi di usus halus. Glukosa dan galaktosa memasuki aliran darah
dengan jalan transfer aktif, sedangkan fruktosa dengan jalan difusi. Para ahli
sepakat bahwa karbohidrat hanya dapat diserap dalam bentuk disakarida. Hal ini
dibuktikan dengan dijumpainya maltosa, sukrosa dan laktosa dalam urine apabila
mengkonsumsi gula dalam jumlah banyak. Akhimya berbagai jenis karbohidrat
diubah menjadi glukosa sebelum diikut sertakan dalam proses metabolisme.
Berdasarkan urutan, yang paling cepat di absorpsi adalah galaktosa, glukosa dan
terakhir fruktosa.

35

Metabolisme
Setelah melalui dinding usus halus, glukosa akan menuju ke hepar melalui
vena portae. Sebahagian karbohidrat ini diikat di dalam hati dan disimpan sebagai
glikogen, sehingga kadar gula darah dapat dipertahankan dalam batas-batas
normal (80-120 mg%).
Karbohidrat yang terdapat dalam darah, praktis dalam bentuk glukosa, oleh karena
fruktosa dan galaktosa akan diubah terlebih dahulu sebelum memasuki pembuluh
darah.
Apabila jumlah karbohidrat yang dimakan melebihi kebutuhan tubuh, sebagian
besar (2/3) akan disimpan di dalam otot dan selebihnya di dalam hati sebagai
glikogen. Kapasitas pembentukan glikogen ini sangat terbatas (maksimum 350
gram), dan jika penimbunan dalam bentuk glikogen ini telah mencapai batasnya,
kelebihan karbohidrat akan diubah menjadi lemak dan disimpan di jaringan
lemak. Bila tubuh memerlukan kembali enersi tersebut, simpanan glikogen akan
dipergunakan terlebih dahulu, disusul oleh mobilisasi lemak. Jika dihitung dalam
jumlah kalori, simpanan enersi dalam bentuk lemak jauh melebihi jumlah
simpanan dalam bentuk glikogen.
Sel-sel tubuh yang sangat aktif dan memerlukan banyak enersi, mendapatkan
enersi dari basil pembakaran glukosa yang di ambil dari aliran darah. Kadar gula
darah akan diisi kembali dari cadangan glikogen yang ada di dalam hati. Kalau
enersi yang diperlukan lebih banyak lagi, timbunan lemak dari jaringan lemak
mulai dipergunakan. Dalam jaringan lemak diubah ke dalam zat antara yang
dialirkan ke hati.
Skema. 2 Perubahan karbohidrat di dalam tubuh
36

Disini zat antara itu diubah menjadi glikogen, mengisi kembali cadangan
glikogen yang telah dipergunakan untuk meningkatkan kadar gula darah.
Peristiwa oksidasi glukosa di dalam jaringan-jaringan terjadi secara bertahap dan
pada tahap-tahap itulah enersi dilepaskan sedikit demi sedikit, untuk dapat
digunakan selanjutnya.
Melalui suatu deretan proses-proses kimiawi, glukosa dan glikogen diubah
menjadi asam pyruvat. Asam pyruvat ini merupakan zat antara yang sangat
penting dalam metabolisme karbohidrat. Asam pyruvat dapat segera diolah lebih
lanjut dalam suatu proses pada "lingkaran Krebs". Dalam proses siklis ini
dihasilkan CO2 dan H2O dan terlepas enersi dalam bentuk persenyawaan yang
mengandung tenaga kimia yang besar yaitu ATP (Adenosin Triphosphate). ATP ini
mudah sekali melepaskan enersinya sambi}berubah menjadi ADP (Adenosin
Diphos phate). Sebagian dari asam piruvat dapat diubah menjadi "asam laktat".
Asam laktat ini dapat keluar dari sel-sel jaringan dan memasuki aliran darah
menuju ke hepar.
Di dalam hepar asam laktat diubah kembali menjadi asam pyruvat dan
selanjutnya menjadi glikogen, dengan demikian akan menghasilkan enersi.
Hal ini hanya terdapat di dalam hepar, tidak dapat berlangsung di dalam otot,
meskipun di dalam otot terdapat juga glikogen. Sumber glikogen hanya berasal
dari glukosa dalam darah. Metabolisme karbohidrat selain di pengaruhi oleh
enzim-enzim, juga diatur oleh hormon-hormon tertentu. Hormon Insulin yang
dihasilkan oleh "pulau-pulau Langerhans" dalam pankreas sangat memegang
perananan penting. Insulin akan mempercepat oksidasi glukosa di dalam jaringan,
merangsang perubahan glukosa menjadi glikogen di dalam sel-sel hepar maupun
otot. Hal ini terjadi apabila kadar glukosa di dalam darah meninggi. Sebaliknya
apabila kadar glukosa darah menurun, glikogen hati dimobilisasikan sehingga
37

kadar glukosa darah akan menaik kembali. Insulin juga merangsang


glukoneogenesis, yaitumengubah lemak atau protein menjadi glukosa. Juga
beberapa horrnon yang dihasilkan oleh hypophysis dan kelenjar suprarenal
merupakan pengatur-pengatur penting dari metabolisme karbohidrat.
Enzim sangat diperlukan pada proses-proses kimiawi metabolisme zat-zat
makanan. vitamin-vitamin

sebagian dari enzim, secara tidak langsung

berpengaruh pada metabolisme karbohidrat ini. Tiamin (vitamin B1) diperlukan


dalam proses dekarboksilase karbohidrat. Kekurangan vitamin B1 akan
menyebabkan terhambatnya enzim-enzim dekarboksilase, sehingga asam piruvat
dan asam laktat tertimbun di dalam tubuh. Penyakit yang ditimbulkan akibat
defisiensi vitamin B1 itu dikenal sebagai penyakit beri-beri.
Regulasi Kadar Gula Darah
Tanpa bantuan hormon, kadar gula darah akan mengalami fluktuasi yang
besar. Kadar gula darah akan segera meningkat sesudah makan, dan sebaliknya
bila tidak ada asupan makanan pada periode tertentu, kadar gula darah akan turun
sangat rendah. Untuk mencegah terjadinya fluktuasi yang membahayakan ini,
tubuh akan meregulasi glukosa darah dengan menggunakan hormon insulin dan
glukagon.
Hormon insulin disekresikan oleh sel-sel beta pankreas apabila kadar gula
darah meninggi (hiperglikemia), yang biasanya terjadi sesudah rnakan, seperti
nasi, roti, gula, dan lain sebagainya. Peninggian kadar gula darah ini, akan
merangsang sekresi insulin dari sel-sel pulau Langerhans pankreas. Sekresi
Insulin ini berlangsung dalam dua rase, pada rase pertama kadar insulin melonjak
tinggi seketika. Hal ini terjadi 10 menit sesudah kenaikan kadar gula darah, dan
dimungkinkan karena ada simpanan insulin dalam granula. Kemudian terjadi rase
ke dua yang bersifat lambat, berlangsung selama lebih dari 10 menit sampai 2
jam. Dalam jam pertama sesudah makan, gula darah meningkat sampai 160 11 mg
%, dan kemudian menurun lagi berkat pengaruh insulin, sehingga 2 jam sesudah
makan kadar gula darah normal kembali, yakni 120 mg%. Insulin akan
merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan dan kemudian memecahnya
menjadi enersi, menyimpannya dalam bentuk glikogen dan mengubahnya menjadi
lemak. Dengan proses tersebut diatas, kadar gula darah akan menurun dan
kembali normal 2 sampai 2 jam sesudah makan.

38

Sebaliknya bila kadar gula darah rendah, hormon glukagon yang dihasilkan
sel-sel pankreas akan rnenstimulasi sintesa glukosa dari asam amino,
menyebabkan terlepasnya glikogen dari hepar, yang akan rneninggikan kadar gula
darah. Jadi, aktifitas hormon insulin dan glukagon berlawanan satu sama lain.
Ada juga hormon lain yang dapat rnernbantu rneninggikan kadar gula darah,
salah satu yang paling penting adalah epinefrin (adrenalin) yang merangsang
pernbebasan glukosa dari glikogen. Hormon epinefrin ini akan disekresikan pada
situasi dimana tubuh dalam keadaan stress ataupun dalarn keadaan bahaya.
Peningkatannya akan menaikkan kadar gula darah, yang akan membantu tubuh
untuk berkelahi atau berlari langkah seribu.
Fungsi karbohidrat di dalam tubuh adalah:
1. Fungsi utamanya sebagai sumber enersi (1 gram karbohidrat menghasilkan 4
kalori) bagi kebutuhan sel-sel jaringan tubuh. Sebagian dari karbohidrat
diubah langsung menjadi enersi untuk aktifitas tubuh, clan sebagian lagi
disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan di otot. Ada beberapa jaringan
tubuh seperti sistem syaraf dan eritrosit, hanya dapat menggunakan enersi
yang berasal dari karbohidrat saja.
2. Melindungi protein agar tidak dibakar sebagai penghasil enersi. Kebutuhan
tubuh akan enersi merupakan prioritas pertama; bila karbohidrat yang di
konsumsi tidak mencukupi untuk kebutuhan enersi tubuh dan jika tidak cukup
terdapat lemak di dalam makanan atau cadangan lemak yang disimpan di
dalam tubuh, maka protein akan menggantikan fungsi karbohidrat sebagai
penghasil enersi. Dengan demikian protein akan meninggalkan fungsi
utamanya sebagai zat pembangun. Apabila keadaan ini berlangsung terus
39

menerus, maka keadaan kekurangan enersi dan protein (KEP) tidak dapat
dihindari lagi.
3. Membantu metabolisme lemak dan protein dengan demikian dapat mencegah
terjadinya ketosis dan pemecahan protein yang berlebihan.
4. Di dalam hepar berfungsi untuk detoksifikasi zat-zat toksik tertentu.
5. Beberapa jenis karbohidrat mempunyai fungsi khusus di dalam tubuh. Laktosa
rnisalnya berfungsi membantu penyerapan kalsium. Ribosa merupakan
merupakan komponen yang penting dalam asam nukleat.
6. Selain itu beberapa golongan karbohidrat yang tidak dapat dicerna,
mengandung serat (dietary fiber) berguna untuk pencernaan, memperlancar
defekasi.
Defisiensi karbohidrat
Manusia membutuhkan karbohidrat dalam jumlah tertentu setiap harinya.
Walaupun tubuh tidak membutuhkan dalam jumlah yang khusus, kekurangan
karbohidrat yang sangat parah akan menimbulkan masalah. Diperlukan sekitar 2
gram karbohidrat per Kg berat badan sehari untuk mencegah terjadinya ketosis.
Secara keseluruhan tubuh harus mempertahankan keseimbangan tertentu
dalam utilisasi karbohidrat, lemak dan protein sebagai sumber enersi.
Jika asupan karbohidrat ditiadakan, maka cadangan lemak dalam jaringan
adiposa akan dimobilisasi sedemikian cepatnya, sehingga tubuh tidak dapat
mengoksidasi karbohidrat seluruhnya menjadi CO2 dan H2O. Sebagian dari hasil
pemecahan lemak itu akan diubah menjadi substansi yang disebut dengan keton
bodies. Walaupun tubuh dapat menggunakan keton bodies ini sebagai penghasil
enersi dan dieksresikan melalui urine, produksi dalam jumlah besar akan teljadi
penumpukan keton bodies di dalam darah dan mengakibatkan terjadinya ketosis.
Hal ini sangat berbahaya dan dapat terjadi pada penderita Diabetes Mellitus
yang tidak terkontrol. Jumlah asupan karbohidrat juga mempengaruhi penggunaan
protein sebagai penghasil enersi. Jika asupan karbohidrat rendah, tubuh akan
memecah asam amino untuk menghasilkan enersi dan mensintesa glukosa tubuh,
sehingga jaringan yang membutuhkan gula ini akan mampu menjalankan
fungsinya. Oleh karena sebagian protein tubuh digunakan untuk tujuan ini, maka
sedikit karbohidrat dapat menyebabkan pemecahan dari jaringan otot untuk
menghasilkan enersi.
Gejala yang timbul akibat asupan karbohidrat yang rendah adalah fatique,
dehidrasi, mual, nafsu makan berkurang, dan tekanan darah kadang-kadang turun
dengan mendadak sewaktu bangkit dari posisi berbaring (hipotensi ortostatik).
40

Asupan karbohidrat yang adekwat, penting untuk mempertahankan cadangan


glikogen yang dibutuhkan pada aktifitas fisik jangka panjang. Peningkatan
glikogen otot dengan adanya proses penumpukan karbohidrat akan menambah
stamina 30-60 menit lebih lama.
Karbohidrat yang tersedia di dalam makanan.
Sumbangan yang berasal dari karbolridrat pada berbagai makanan dapat
dilihat pada tabel. 1 dan 2. Sumber utama karbohidrat yang dapat di cerna berasal
dari nabati. Makanan yang berasal dari tanaman ini juga merupakan satu-satunya
sumber serat.

Makanan yang berasal dari hewan yang mengandung karbohidrat dalam


jumlah cukup banyak adalah susu, tiram dan hati.

41

Kaitan Hiperlipidemia dengan Metabolisme Lemak dan Karbohidrat dengan


Terjadinya Artherosclerosis dan Hipertensi
Mekanisme Biofisiologis
Tingkat kehidupan yang membaik ternyata berpengaruh terhadap pola
kebiasaan hidup dan pola makanan seseorang. Selanjutnya pola hidup akan
meningkatkan konsumsi gula dan lemak jenuh. Konsumsi lemak jenuh dan gula
tinggi akan meningkatkan kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah yang
kemudian berdampak pada terjadinya artherosclerosis.
Kolesterol dibawa oleh beberapa lipoprotein yang diklasifikasikan menurut
densitasnya. Lipoprotein dalam urutan densitasnya yang meningkat adalah
chylomicron, Very Low Density Lipoprotein (VLDL), Low Density Lipoprotein
(LDL) dan High Density Lipoprotein (HDL). Kolesterol dalam jumlah besar
terdapat dalam lipoprotein LDL atau membawa hampir 2/3 kolesterol. Lipoprotein
sebagai alat angkut lipida bersirkulasi dalam tubuh dan dibawa ke sel-sel otot,
lemak dan sel-sel lain begitu juga pada trigliserida dalam aliran darah dipecah
menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh enzim lipoprotein lipase yang berada
pada sel-sel endotel kapiler. Reseptor LDL oleh reseptor yang ada di dalam hati
akan mengeluarkan LDL dari sirkulasi. Pembentukan LDL oleh reseptor LDL ini
penting dalam pengontrolan kolesterol darah. Di samping itu dalam pembuluh
42

darah terdapat sel-sel perusak yang dapat merusak LDL, yaitu melalui jalur sel-sel
perusak yang dpat merusak LDL. Melalui jalur ini (scavenger pathway), molekul
LDL dioksidasi, sehingga tidak dapat masuk kembali ke dalam aliran darah.
Kolesterol yang banyak terdapat dalam LDL akan menumpuk pada dinding
pembuluh darah dan membentuk plak. Plak akan bercampur dengan protein dan
ditutupi oleh sel-sel otot dan kalsium yang akhirnya berkembang menjadi
artherosclerosis.
Berbeda dengan LDL, HDL mempunyai peran sebaliknya yaitu tidak
menyebabkan

artherosclerosis

sehingga risiko terjadinya

PJK menurun.

Mekanisme menurunnya kejadian PJK adalah dengan memindahkan kolesterol


dari jaringan ke hati, tempat kolesterol di metabolisme dan kemudian
diekskresikan dari tubuh.
Salah satu faktor yang menyebabkan kadar kolesterol meningkat adalah kelebihan
berat badan. Kenaikan kadar kolesterol kira-kira 25 mg/dl yang juga tergantung
umur. Di Amerika, rata-rata kenaikan 10 kg berat badan pada usia 25-50 tahun,
kenaikan berat badan ini diikuti dengan kadar kolesterol yang meningkat.
Kebanyakan orang dengan hiperkolesterolemia ringan dan kelebihan berat badan
diperkirakan konsumsi energi berlebih 300-500 kalori/hari.
Karbohidrat mempunyai pengaruh langsung terhadap total kolesterol dan
LDL. Meskipun begitu peningkatan karbohidrat tidak dapat menurunkan asam
lemak jenuh, yang terdapat dalam lipoprotein. Hal ini disebabkan karena
karbohidrat (khususnya polisakarida; serat larut) dapat menurunkan kolesterol dan
LDL. Beberapa peneliti menyarankan agar meningkatkan penggunaan serat
makanan karena memberikan efek kenyang dan akhirnya menurunkan asupan
asam lemak jenuh dan beberapa makanan yang tinggi energi. Beberapa faktor
yang mempengaruhi lemak plasma dapat dilihat pada tabel 1 pada lampiran.
Kemudian beberapa contoh makanan dan kandungan yang mempunyai efek
ertherogenesis dan thrombogenesitas.
Pembuluh darah koroner yang menderita artherosclerosis selain menjadi tidak
elastis, juga mengalami penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam
pembuluh koroner juga naik. Tekanan sistolik yang meningkat karena pembuluh
darah tidak elastis sertanaiknya tekanan diastolik akibat penyempitan pembuluh
darah disebut juga tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Mekanisme lemak dan karbohidrat menjadi hiperlipidemia sampai terjadinya
artherosklerosis dan hipertensi dapat dilihat pada skema di bawah ini :
43

Pemasukan
Lemak

Pemasukan Kalori

Pemasukan
Energi

Penyimpan
an Glikogen

Sel Lemak
Gluteal

Pertukaran
Glukosa

Lipolisis
Basal

Glukosa

Insulin

Trigliserida

Pertukaran
Asam Lemak

Kolesterol :
HDL

LDL
Artherosclero
sis
PJK
Gambar : Patofisiologis Gizi Lebih

Metabolisme karbohidrat menyebabkan terjadinya hiperlipidemia adalah mulai


dari pencernaan karbohidrat di dalam usus halus berubah menjadi monosakarida
galaktosa dan fruktosa di dalam hati kemudian dipecah menjadi glikogen dalam
hati dan otot. Kemudian glikogen dipecah menjadi glukosa dirubah dalam bentuk
piruvat dipecah menjadi asetil KoA sehingga akhirnya terbentuk karbondioksida,
air dan energi. Bila energi tidak diperlukan, asetil KoA tidak memasuki siklus
TCA tetapi digunakan untuk membentuk asam lemak, melakukan esterifikasi
dengan gliserol (diproduksi dalam glikolisis) dan menghasilkan trigliserida.
Kaitan Karbohidrat dengan Obesitas
Terjadinya obesitas merupakan dampak dari terjadinya kelebihan asupan
energy (energy intake) dibandingkan dengan yang diperlukan (energyexpenditure)

44

oleh tubuh sehingga kelebihan asupan energi disimpan dalam bentuk lemak
(Nugraha, 2009).
Makanan merupakan sumber dari asupan energi. Di dalam makanan yang akan
diubah menjadi energi bukan hanya karbohidrat, tetapi protein dan lemak juga
berperan. Apabila asupan karbohidrat berlebih, maka karbohidrat akan disimpan
sebagai glikogen dalam jumlah terbatas dan sisanya lemak, protein akan dibentuk
sebagai protein tubuh dan sisanya lemak, sedangkan lemak akan disimpan sebagai
lemak. Tubuh memiliki kemampuan menyimpan lemak tidak terbatas (Nugraha,
2009).
Faktor-faktor yang berpengaruh dari asupan makanan yang menyebabkan
obesitas adalah kuantitas, porsi sekali makan, kepadatan energi dari makanan yang
dimakan, kebiasaan makan (Nugraha, 2009).
Kaitan Gula Darah yang Tidak Terkontrol dengan Disfungsi Ereksi
Kebanyakan disfungsi ereksi dialami pada penderita yang telah mengidap
diabetes melitus lebih dari 5 tahun. Pada diabetes melitus yang lama dapat terjadi
kelebihan gula darah atau gula darah yang tidak terkontrol, hal ini disebabkan
karena ketidak sadaran dari pasien atau keterlambatan diagnosis karena
kebanyakan pasien akan datang mencari pertolongan dari tenaga medis apabila
penyakit mereka sudah parah. Sebagian dari orang-orang akan menyadarinya
ketika sudah mengalami penurunan berat badan secara tiba-tiba dan beberapa
gejala lainnya. Akibatnya gula darah dalam tubuh yang tidak terkontrol dapat
merusak sel-sel saraf dan pembuluh darah.16 Kerusakan ini diakibatkan adanya
stress oxidative pada endotel akibat tingginya gula darah. Endotel dalam keadaan
normal bisa menghasilkan nitric oxide (NO) yang berguna untuk melebarkan
pembuluh darah termasuk pembuluh darah di penis. Dalam keadaan rusaknya
pembuluh darah, nitric oxide (NO) tidak dihasilkan sehingga pembuluh darah
penis sulit melebar sehingga aliran darah ke organ erektil berkurang sehingga
terjadilah disfungsi ereksi (Sulaifi, 2009).
b. Lemak
Lemak
Lemak (lipid) adalah zat organik hidrofobik yang bersifat sukar larut dalam
air. Namun lemak dapat larut dalam pelarut organik seperti kloroform,eter dan
benzen.
45

Struktur Kimia Lemak


Unsur penyusun lemak antara lain adalah Karbon(C), Hidrogenn(H),
Oksigen(O) dan kadang-kadang Fosforus(P) serta Nitrogen(N).
Molekul lemak terdiri dari empat bagian,yaitu satu molekul gliserol dan tiga
molekul asam lemak.Asam lemak terdiri dari rantai Hidrokarbon(CH) dan gugus
Karboksil(-COOH).Molekul gliserol memiliki tiga gugus Hidroksil(-OH) dan tiap
gugus hidroksil berinteraksi dengan gugus karboksil asam lemak.
Pembagian Lemak
Berdasarkan komposisi kimianya lemak terbagi atas tiga,yaitu:
Lemak Sederhana
Lemak sederhana tersusun oleh trigliserida, yang terdiri dari satu gliserol dan
tiga asam lemak.Contoh senyawa lemak sederhana adalah lilin(wax) malam atau
plastisin(lemak sederhana yang padat pada suhu kamar),dan minyak(lemak
sederhana yang cair pada suhu kamar).
Lemak Campuran
Lemak Campuran merupakan gabungan antara lemak dengan senyawa bukan
lemak.Contoh lemak campuran adalah lipoprotein(gabungan antara lipid dan
dengan

protein),Fosfolipid(gabungan

antara

lipid

dan

fosfat),serta

fosfatidilkolin(yang merupakan gabungan antara lipid,fosfat dan kolin).


Lemak Asli (Derivat Lemak)
Derivat lemak merupakan senyawa yang dihasilkan dari proses hidrolisis
lipid.misalnya kolesterol dan asam lemak.Berdasarkan ikatan kimianya asam
lemak dibedakan menjadi 2,yaitu:
Asam lemak Jenuh,bersifat non-esensial karena dapat disintesis oleh tubuh dan
pada umumnya berwujud padat pada suhu kamar.Asam lemak jenuh berasal dari
lemak hewani,misalnya mentega.
Asam lemak tidak jenuh, bersifat esensial karena tidak dapat disintesis oleh
tubuh dan umunya berwujud cair pada suhu kamar.Asam Lema tidak jenuh berasal
dari lemak nabati,misalnyya minyak goreng.
Sumber Lemak
Berdasarkan asalnya,sumber lemak dapat dibedakan menjadi 2,yaitu

46

Lemak yang berasal daari tumbuhan(disebut lemak Nabati).Beberapa bahan


yang

mengandung

lemak

nabati

adalah

kelapa,kemiri,zaitun,kacang

tanah,mentega,kedelai,dll.
Lemak yang berasal dari hewan(disebut lemak hewani).Beberapa bahan yang
mengandung lemak hewani adalah daging,keju,susu,ikan segar,telur,dll.
Fungsi Lemak
Banyaknya lemak yang dibutuhkan oleh tubuh manusia umumnya berbedabeda tetapi umumnya berkisar antara 0,5-1gram lemak per 1kg berat badan per
hari.Orang yang tinggal di daerah bersuhu dingin dan orang yang bekerja berat
membutuhkan lemak lebih banyak.Di dalam tubuh kita,lemak mempunyai
beberapa fungsi penting,diantaranya adalah:
Sebagai pelindung tubuh dari suhu rendah
Sebagai pelarut vitamin A,D,E dan K
Sebagai pelindung alat-alat tubuh vital(antara lain jantung dan lambung),yaitu
sebagai bantalan lemak
Sebagai penghasil energi tertinggi
Penahan rasa lapar,karena adanya lemak akan memperlambat pencernaan.Bila
pencernaan terlalu cepat maka akan cepat pula timbulnya rasa lapar.
Sebagai salah satu bahan penyusun membran sel
sebagai salah satu bahan penyusun hormon dan vitamin(khususnya untuk
sterol)
Sebagai salah satu bahan penyusun empedu,asam kholat (di dalam hati),dan
hormon seks(khususnya untuk kolesterol.Pembawa zat-zat makan esensial
Proses Pencernaan Lemak Dalam Tubuh
Pencernaan lemak tidak terjadi di mulut dan lambung karena di tempat
tersebut tidak terdapat enzim lipase yang dapat menghidrolisis atau memecah
lemak. Pencernaan lemak terjadi di dalam usus,karena usus mengandung lipase.
Lemak keluar daari lambung masuk ke dalam usus sehingga merangsang hormon
kolesistokinin.Hormon kolesistokinin menyebabkan kantung empedu berkontraksi
sehingga mengeluarkan cairan empedu ke dalam duodenum(usus dua belaas
jari).Empedu mengandung garam empedu yang memegang peranan penting dalam
mengemulsikan lemak.Emulsi Lemak merupakan pemecahan lemak yang
berukuran besar menjadai butiran lemak yang berukuran lebih kecil.ukuran lemak
47

yang lebih kecil (trigliserida) yang teremulsi akan memudahkan hidrolisis lemak
oleh lipase yang dihasilkan dari penkreas.Lipase pankreas akan menghidrolisis
lemak teremulsi menjadi campuran asam lemak dan monoligserida (gliserida
tunggal). Pengeluaran cairan penkreas dirancang oleh hormon sekretin yang
berperan dalam meningkatkan jumlah elektrolit (senyawa penghantar listrik) dan
cairan pankreas,serta pankreoenzim yang berperan untuk merangsang pengeluaran
enzim-enzim dalam cairan pankreas.
Absorpsi hasil pencernaan lemak sebagian besar (70%) terjadi di usus halus.Pada
waktu asam lemak dan monogliserida di absorpsi melalui sel-sel mukosa pada
dinding usus,keduanya di ubah kembali menjadi lemak (trigliserida dengan bentuk
partikel-partikel kecil(jaringan lemak.Saar dibutuhkam,timbunan lemak tersenit
akan diangkut menuju hati.

c. Protein
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh, karena
zat ini disamping sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat
pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber asam amino yang mengandung
unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat.
Molekul protein mengandung pula fosfor, belerang dan ada jenis protein yang
mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga (Winarno, 1992). Sebagai zat
pembangun, protein merupakan bahan pembentuk jaringan-jaringan baru yang
selalu terjadi dalam tubuh. Pada masa pertumbuhan proses pembentukan jaringan
terjadi secara besar-besaran, pada masa kehamilan proteinlah yang membentuk
jaringan janin dan pertumbuhan embrio. Protein juga menggantikan jaringan
tubuh yang rusak dan yang perlu di rombak. Fungsi utama protein bagi tubuh
ialah untuk membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah
ada (Winarno, 1992). Protein dapat juga digunakan sebagai bahan bakar apabila
keperluan energi tubuh tidak dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein ikut
pula mengatur berbagai proses tubuh, baik langsung maupun tidak langsung
dengan mengatur keseimbangan cairan dalam jaringan dan pembuluh darah, yaitu
dengan menimbulkan tekanan osmotik koloid yang dapat menarik cairan dari
jaringan ke dalam pembuluh darah. Sifat atmosfer protein dapat bereaksi dengan
48

asam dan basa, dapat mengatur keseimbangan asam-basa dalam tubuh (Winarno,
1992). Dalam setiap sel yang hidup, protein merupakan bagian yang sangat
penting. Pada sebagian besar jaringan tubuh, protein merupakan komponen
terbesar setelah air. Diperkirakan separuh atau 50 % dari berat kering sel dalam
jaringan seperti misalnya hati dan daging terdiri dari protein, dan dalam tenunan
segar sekitar 20 %. Fungsi protein bagi tubuh adalah sebagai enzim, zat pengatur
pergerakan, pertahanan tubuh, alat pengangkut dan lain-lain (Winarno, 1992).
Racun dalam daging tempat berkembang biaknya sel sel kanker. Setiap Sel
mengandung DNA(deoxyribonucleic acid atau asamdeoksiribonukleat),suatu zat
kimia yang berisi peta tubuh dan fungsi fungsinya. Racun dari pencernaan lemak
dan protein hewani yang berlebihan dapatmerusak DNA,dan mengubah sel sel
menjadi sel kanker.Sel-sel kanker mulai berkembang biak dengan sendirinya.
Darah kita mengandung sel-sel darah merah,sel sel darah putih,dalam limfosit.Sel
Sel darah putih dan limfosit menyerang musuh musuh seperti virus &
bakteri,menghancurkan mereka atau menjadikan mereka tidak berbahaya lagi.Jika
Sel ini rusak,mekanisme pertahanan garis depan tubuh akan berhenti
berfungsi,serta dapat berakhir dengan infeksi dan munculnya sel sel abnormal atau
sel kanker.
Protein Menyebabkan Reaksi Alergi
Protein yang belum diuraikan menjadi nutrisi memasuki peredaran darah
melalui dinding usus sebagai zat tak di kenal.Reaksi alergi timbul disebabkan
sebagai zat yang tak di kenal.Alergi Protein sering disebabkan oleh susu dan telur.
Mengkonsumsi protein hewani yang berlebihan dan reaksi alergi yang dihasilkan
dapat menyebabkan meningkatnya kasus-kasus dermatitis atopic,kaligata,penyakit
kolagen,colitis ulserativa dan penyakit Crohn.
Kelebihan Protein Menyebabkan Kerja Hati dan Ginjal Lebih Berat
Protein Berlebih didalam tubuh harus diuraikan dan disingkirkan melaluui
urine dan menimbulkan beban yang sangat berat bagi hati dan ginjal. Konsumsi
Protein Yang Berlebihan Menyebabkan Defisiensi Kalsium dan Osteoporosis Saat
asam amino dibentuk dalam jumlah besar,darah menjadi asam dan membutuhkan
kalsium untuk

menetralisasinya.Dengan

demikian,konsumsi

protein

yang
49

berlebihan menyebabkan berkurangnya kalsium.Tubuh kita sangat memerlukan


kadar fosfor yang tinggi dan darah harus menjaga rasio kalsiumdengan fosfor
antara 1:1 dan 1:2. Makanan yang meningkatkan jumlah fosfor akan
menyebabkan tubuh mengambil kalsium dari gigi dan tulang untuk menjaga
keseimbangan ,sekalipun Tubuh memiliki banyak fosfor dan kalsium dalam tubuh
tapi tubuh tidak dapat menyerap senyawa yang membentuk kalsium fosfat,maka
senyawa in dikeluarkan dan menambah semakin berkurannya kalsium sehingga
tubuh rentan terhadap Osteoporosis. Orang Yang mengkonsumsi protein hewani
yang berlebihan dapat menderita Osteoporosis yang bisa mengakibatkan penipisan
jumlah kalsium.
Kelebihan Protein Dapat Menyebabkan Kekurangan Energi
Energi dalam Jumlah besar diperlukan untuk mencerna makanan.Protein yang
berlebihan tidak dapat dicerna sepenuhnya karena tidak dapat diserap sehingga
menyebabkan pembusukan di dalam usus dan timbulnya racun. Tubuh sangat
membutuhkan energi yang sangat besar untuk menghilangkan racun dari zat-zat
yang ada didalam tubuh. Pada saat Energi yg sangat besar digunakan maka akan
terbentuknya radikal bebas.Radikal bebas bertanggung jawab atas terjadinya
prosese penuaan,kanker,penyakit jantung,dan aterosklerosis.

d. Vitamin
Vitamin adalah zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah yang
kecil dan kebanyakkannya tidak dibentuk oleh tubuh. Vitamin terbagi kepada dua
jenis yaitu vitamin larut lemak ( vitamin A, D, E, K) dan vitamin larut air (vitamin
B1, B2, B6, dan B12, asam pantotenat, asam folat, biotin, vit.C). Vitamin berperan
dalam reaksi metabolisme energi dan pertumbuhan (Tortora G.J. and Derrickson
B., 2005).

Vitamin larut lemak

Vitamin A diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh, berfungsi dalam


penglihatan normal pada cahaya terang dan dalam pertumbuhan tulang dan gigi .
-karotin di dalam vitamin A bertindak sebagai antioksidan terhadap radikal bebas

50

Vitamin D diperlukan untuk absorpsi kalsium dan fosfor dari saluran cerna.
Vitamin D bekerja bersamaan dengan hormon paratiroid dalam mengekalkan
keseimbangan ion kalsium
Vitamin E atau tokoferol terlibat di dalam pembentukan sel darah merah,
penyembuhan luka dan bertindak sebagai antioksidan terhadap radikal bebas
Vitamin K berfungsi sebagai koenzim untuk faktor-faktor pembekuan (Tortora
G.J. and Derrickson B., 2005).

Vitamin larut air

Vitamin B1 atau tiamin berperan dalam metabolism karbohidrat dan sintesa


neurotransmitter acetylcholine.
Vitamin B2 atau riboflavin berfungsi sebagai komponen koenzim contohnya
Flavin Adenin Dinukleotida (FAD) dan Flavin Adenin Mononukleotida (FMN)
dalam metabolism karbohidrat dna protein terutama di dalam sel mata, mukosa
usus dan darah
Niasin adalah komponen essensial Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat
(NADP) dan Nikotinamida Adenin Dinukleotida (NAD) yaitu koenzim bagi reaksi
oksidasi-reduksi. Di dalam metabolism lemak, niasin berfungsi membantu
pemecahan triglaserida dan menginhibisi penghasilan kolesterol
Vitamin B6 tau piridoksin adalah koenzim metabolisme asam amino dan
triglyceride dan membantu dalam pembentukan antibodi.
Vitamin B12 atau kobalamin adalah koenzim yang diperlukan dalam
pembentukan sel darah merah dan asam amino methionine.
Asam folat berperan sebagai koenzim dalam sistem sintesa enzim basa
nitrogen untuk DNA dan RNA. Asam folat juga diperlukan untuk produksi normal
sel darah merah dan sel darah putih (Tortora G.J. and Derrickson B., 2005).
Vitamin C merangsang sintesa protein, penyembuhan luka dan bertindak
sebagai antioksidan.
e. Mineral
Seperti halnya vitamin, mineral adalah nutrisi penting untuk pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit. Mineral dan vitamin bertindak secara
interaksi. Anda perlu vitamin agar mineral dapat bekerja dan sebaliknya. Tanpa
beberapa mineral / vitamin, beberapa vitamin / mineral tidak berfungsi dengan
51

baik. Perbedaan terbesar antara vitamin dan mineral adalah bahwa mineral
merupakan senyawa anorganik, sedangkan vitamin organik.
Mineral dapat diklasifikasikan menurut jumlah yang dibutuhkan tubuh
Anda. Mineral utama (mayor) adalah mineral yang kita perlukan lebih dari 100
mg sehari, sedangkan mineral minor (trace elements) adalah yang kita perlukan
kurang dari 100 mg sehari. Kalsium, tembaga, fosfor, kalium, natrium dan klorida
adalah contoh mineral utama, sedangkan kromium, magnesium, yodium, besi,
flor, mangan, selenium dan zinc adalah contoh mineral minor. Pembedaan jenis
mineral tersebut semata-mata hanya berdasarkan jumlah yang diperlukan,
bukan kepentingan. Mineral minor tak kalah penting dibandingkan mineral
utama. Kekurangan mineral minor akan menyebabkan masalah kesehatan yang
juga serius.
Ketika pola makan Anda sehat dan bervariasi, Anda mendapatkan cukup
mineral. Namun, bila pola makan Anda tidak seimbang atau Anda memiliki
gangguan penyerapan mineral, Anda dapat mengalami kekurangan mineral.
Dalam kondisi tersebut, Anda mungkin perlu mengambil suplemen mineral dan
vitamin.
Berikut adalah jenis-jenis mineral terpenting bagi tubuh kita:
1. Kalsium
Anda mungkin pernah mendengar orangtua Anda mengatakan bahwa susu
baik untuk kesehatan. Susu memang makanan yang baik karena mengandung
banyak kalsium. Meminum susu secara teratur memastikan Anda memiliki
tulang yang kuat dan tumbuh dengan baik. Sampai Anda berulang tahun ke-30,
tulang Anda terus tumbuh dan berkembang. Setelah Anda berusia 30 tahun,
pertumbuhan tulang Anda tidak secepat penyusutannya. Jika Anda tidak
mendapatkan cukup kalsium,tulang Anda akan keropos di usia 50 tahun.
Kalsium dapat memperlambat proses ini.
Kalsium adalah mineral terbesar yang dibutuhkan tubuh Anda. Sekitar 2-3
persen dari berat badan Anda adalah kalsium, di mana 98% tersimpan di dalam
tulang dan gigi dan 1% di darah Anda. Selain untuk pemeliharaan tulang dan
gigi, kalsium juga membantu kontraksi dan relaksasi otot, pembekuan darah,

52

fungsi hormon, sekresi enzim, penyerapan vitamin B12 dan pencegahan batu
ginjal dan penyakit jantung.
Sumber: susu dan produk susu (keju, yoghurt, dll), telur, ikan, kacangkacangan, dan sayuran hijau gelap.
2. Magnesium
Magnesium membantu mengatur kadar kalium dan natrium dalam tubuh,
yang terlibat dalam pengendalian tekanan darah. Magnesium berperan penting
dalam pemeliharaan jaringan gigi, tulang dan otot, mengatur suhu tubuh,
produksi dan transportasi energi, metabolisme lemak, protein dan karbohidrat,
kontraksi dan relaksasi otot. Sebagian besar magnesium disimpan dalam tulang
dan gigi, sebagian lain di dalam darah dan otot. Jika Anda tidak memiliki cukup
magnesium dalam darah, tubuh Anda akan mengambilnya dari tulang Anda,
yang pada gilirannya juga dapat menyebabkan tulang keropos.
Sumber: susu, sayur-sayuran berdaun hijau, alpukat, pisang, coklat, produk
kedelai seperti tempe atau tahu, biji-bijian dan kacang-kacangan.
3. Besi
Disimpan dalam hemoglobin (sel darah merah), zat besi membawa oksigen
ke sel-sel tubuh dan membawa karbon dioksida keluar tubuh, mendukung
fungsi otot, enzim, protein dan metabolisme energi. Kekurangan zat besi
menyebabkan anemia, kelelahan, kelemahan, sakit kepala dan apatis.
Ada dua jenis zat besi dalam makanan: besi heme mudah diserap tubuh dan
ditemukan dalam daging, unggas dan ikan. Besi non-heme lebih sulit diserap
tubuh dan terdapat dalam tumbuh-tumbuhan seperti kacang-kacangan, brokoli,
bayam dan kangkung. Tubuh Anda dapat menyerap 20-40 persen besi dari
sumber hewanidan 5-20 persen besi dari sumber nabati. Anda perlu makan
lebih banyak sayuran untuk mendapatkan zat besi yang Anda butuhkan. Untuk
meningkatkan penyerapan zat besi, Anda perlu bantuan vitamin C.
4. Zinc (seng)
Zinc terdapat di semua sel tubuh Anda, terutama di kulit, kuku, rambut
dan mata. Jika Anda pria, Anda juga menyimpan zinc di prostat Anda. Zinc
53

berperan penting dalam sintesis DNA dan RNA, produksi protein, insulin dan
sperma, membantu dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein dan
alkohol, berperan dalam mengeluarkan karbon dioksida, mempercepat
penyembuhan, pertumbuhan, perawatan jaringan tubuh, dan mendukung indera
seperti penciuman dan perasa. Kekurangan zinc menyebabkan gangguan
pertumbuhan, kehilangan nafsu makan, penyembuhan lambat, rambut rontok,
libido seks rendah, kehilangan rasa dan bau dan kesulitan beradaptasi dengan
cahaya malam.
Sumber: air, makanan berprotein tinggi seperti daging sapi, kambing, dan
unggas, kerang, kepiting, lobster, kacang-kacangan dan biji-bijian.
5. Selenium
Kita membutuhkan selenium dalam jumlah kecil tetapi teratur untuk kesehatan
liver (hati). Selenium banyak ditemukan dalam tanah, sehingga jumlah yang
ditemukan dalam sayuran dan buah tergantung pada tempat penanaman dan
metode pertanian yang digunakan. Tanaman yang dibudidayakan pada tanah
yang terlalu sering diolah akan memiliki selenium yang rendah.
Sumber: daging, ikan dan kacang-kacangan, susu dan produk susu, telur,
susu ayam, bawang putih, bawang merah dan sayuran hijau.
6. Kalium, Natrium dan Klorida
Kalium (sering disebut juga potasium), natrium dan klorida adalah mineral
yang larut dalam darah dan cairan tubuh lainnya. Mereka terpecah menjadi
ion-ion. Ketiga mineral tersebut membuat cairan dalam tubuh Anda tetap
konstan dan tidak berfluktuasi. Mereka juga berperan penting dalam
transportasi glukosa ke dalam sel dan pembuangan limbah, tekanan darah,
transmisi impuls saraf, irama jantung dan fungsi otot. Kekurangan mineralmineral ini menyebabkan mengantuk, kecemasan, mual, kelemahan, dan detak
jantung tidak teratur.
Sumber: hampir semua makanan kecuali minyak, lemak dan gula, tetapi
dapat rusak/hilang jika makanan dimasak.
7. Mineral lainnya
54

Selain mineral-mineral di atas, mineral lain yang dibutuhkan tubuh Anda


adalah boron, kromium, tembaga, flor, yodium, mangan, molibdenum, nikel,
silikon, timbal, dan vanadium. Selain itu, Anda juga membutuhkan dosis yang
sangat kecil dari lithium dan aluminium. Tidak ada yang tahu mengapa Anda
membutuhkan mineral-mineral tersebut dan berapa jumlah yang Anda
butuhkan. Hal itu tidak begitu penting karena hampir tidak ada orang yang
mengalami kekurangan nutrisi tersebut.
2. Kandungan makanan
Mie Instan
Indomie Rasa Soto Mie
- Energi = 340 kkal
- Energi dari lemak = 110 kkal
- Lemak total = 12 gr / 22%
- Lemak jenuh = 4 gr / 19%
- Kolesterol = 0 mg / 0%
- Karbohidrat = 50 gr / 15%
- Serat makanan = 2 gr / 9%
- Gula = 2 gr / 9%
- Protein = 7 gr / 15%
- Natrium = 600 mg / 25%
- Vitamin A = 60% AKG
- Vitamin B12 = 20% AKG
- Vitamin B1 = 40% AKG
- Vitamin C = 6% AKG
- Vitamin B6 = 26% AKG
- Pantotenat = 10% AKG
- Kalsium = 2% AKG
- Niasin = 25% AKG
- Asam folat = 25% AKG
- Zat besi = 30% AKG
Kopi
Kopi adalah bahan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Kopi mengandung energi sebesar 352 kilokalori, protein 17,4 gram,
karbohidrat 69 gram, lemak 1,3 gram, kalsium 296 miligram, fosfor 368 miligram,
dan zat besi 4 miligram. Selain itu di dalam Kopi juga terkandung vitamin A
sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut
didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Kopi, dengan jumlah yang dapat
dimakan sebanyak 100 %.
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Kopi :
Nama Bahan Makanan : Kopi
Nama Lain / Alternatif : Kopi, Bagian Yang Dapat Larut
Banyaknya Kopi yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
55

Bagian Kopi yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %


Jumlah Kandungan Energi Kopi = 352 kkal
Jumlah Kandungan Protein Kopi = 17,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Kopi = 1,3 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Kopi = 69 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Kopi = 296 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Kopi = 368 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Kopi = 4 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Kopi = 0 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Kopi = 0 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Kopi = 0 mg
Khasiat / Manfaat Kopi : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : K
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia serta sumber lainnya.
Crackers
Roma Malkist Crackers

Informasi
Gizi
Energi

per 2
crackers
(18 g)
335 kj
80 kkal

Lemak

3g

Protein

2g

Karbohidrat

13 g

Gula

2g

Sodium

100 mg

Nasi
1 Porsi (105 G) Nasi Putih

Informasi
Gizi

per 1
porsi
(105 g)
565 kj

Energi

135
kkal

Lemak

0,29 g

Lemak

0,08 g
56

Jenuh
Lemak tak
Jenuh

0,079 g

Ganda
Lemak tak
Jenuh

0,092 g

Tunggal
Kolesterol

0 mg

Protein

2,79 g

Karbohidrat

29,3 g

Serat

0,4 g

Gula

0,05 g

Sodium

383 mg

Kalium

37 mg

Ayam Goreng Kfc


KFC Original Recipe Chicken
per 1
Informasi
Gizi

piece
(116,51
g)

Energi
Lemak
Lemak
Jenuh
Kolesterol

544 kj
130 kkal
2g
0,5 g
90 mg

Protein

29 g

Karbohidrat

0g

Sodium

520 mg

Soft Drink
57

1 Kaleng (350 Ml) Soda

Informasi
Gizi
Energi
Lemak
Lemak
Jenuh

per 1
kaleng
(350 ml)
586 kj
140 kkal
0,04 g
0g

Lemak tak
Jenuh

0g

Ganda
Lemak tak
Jenuh

0g

Tunggal
Kolesterol

0 mg

Protein

0,26 g

Karbohidrat

36,05 g

Serat

0g

Gula

33,76 g

Sodium

22 mg

Kalium

4 mg

Dunkin Donut
Kue Donat adalah makanan cemilan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Kue Donat mengandung energi sebesar 357 kilokalori, protein 9,4 gram,
karbohidrat 56,5 gram, lemak 10,4 gram, kalsium 0 miligram, fosfor 0 miligram, dan
zat besi 0 miligram. Selain itu di dalam Kue Donat juga terkandung vitamin A
sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut
didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Kue Donat, dengan jumlah yang
dapat dimakan sebanyak 100 %.
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Kue Donat :
Nama Bahan Makanan : Kue Donat
Nama Lain / Alternatif : Banyaknya Kue Donat yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
58

Bagian Kue Donat yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %
Jumlah Kandungan Energi Kue Donat = 357 kkal
Jumlah Kandungan Protein Kue Donat = 9,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Kue Donat = 10,4 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Kue Donat = 56,5 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Kue Donat = 0 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Kue Donat = 0 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Kue Donat = 0 mg
Khasiat / Manfaat Kue Donat : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : K
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia serta sumber lainnya.
Pizza
Pizza Sapi adalah makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Pizza Sapi mengandung energi sebesar 294 kilokalori, protein 17,9 gram,
karbohidrat 16,1 gram, lemak 17,5 gram, kalsium 269 miligram, fosfor 207 miligram,
dan zat besi 0,8 miligram. Selain itu di dalam Pizza Sapi juga terkandung vitamin A
sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,07 miligram dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut
didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Pizza Sapi, dengan jumlah yang
dapat dimakan sebanyak 100 %.
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Pizza Sapi :
Nama Bahan Makanan : Pizza Sapi
Nama Lain / Alternatif : Banyaknya Pizza Sapi yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Pizza Sapi yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %
Jumlah Kandungan Energi Pizza Sapi = 294 kkal
Jumlah Kandungan Protein Pizza Sapi = 17,9 gr
Jumlah Kandungan Lemak Pizza Sapi = 17,5 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Pizza Sapi = 16,1 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Pizza Sapi = 269 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Pizza Sapi = 207 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Pizza Sapi = 0,8 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Pizza Sapi = 0 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Pizza Sapi = 0,07 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Pizza Sapi = 0 mg
Khasiat / Manfaat Pizza Sapi : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : P
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia serta sumber lainnya.
3. Disfungsi

ereksi

fisiologi,

patofisiologi,

penyebab,

latar

belakang,

penatalaksanaan.
Fisiologi Ereksi
59

Fisiologi ereksi mencakup komponen hormonal, vaskuler, psikologis, neurologis


dan seluler. Suplai darah penis bermula pada arteri pudendal interna, yang bercabang
kedalam arteri penis yang berakhir pada arteri kavernosa, dorsalis dan bulbouretra.
Ereksi psikogenik, dipicu oleh stimulasi fantasi atau visual, yang kemungkinan
dimediasi oleh masukan dari percabangan torakolumbal (T11 sampai L2). Ereksi
refleks disebabkan oleh stimulasi taktil dan dimediasi sistim saraf parasimpatis (S2
dan S4). Secara keseluruhan, sinyal parasimpatetik bertanggung jawab untuk ereksi,
dan sinyal simpatetik bertanggung jawab untuk ejakulasi. Gairah seksual (sexual
arousal) dan sinyal parasimpatetik pada penis memulai perubahan intraseluler yang
diperlukan untuk ereksi.

Refleks ereksi adalah suatu refleks spinal yang dipicu oleh stimulasi
mekanoreseptor yang sangat peka di glans penis, yang menutupi ujung penis. Di
medula spinalis bagian bawah ditemukan ousat pembentuk ereksi. Melalui pusat ini,
stimulasi taktil pada glans akan secara refleks memicu peningkatan vasodilatasi
parasimpatis dan penurunan aktivitas vasokontriksi simpatis artetiol. Akibatnya
vasodilatasi hebat dan cepat arteriol tersebut dan ereksi.
Mekanisme molekuler ereksi penis. Nitric oxide dilepaskan dari terminal nervus
nonadrenergik/nonkolinergik dan sel endotel pada korpus kavernosum. cGMP =
cyclic guanosine monophosphate; GTP = guanosine triphosphate; PDE-5 =
phosphodiesterase type 5. (Sumber : Beckman TJ. Evaluation and Medical
Management of Erectile Dysfunction)
Sel endotel dan nervus terminal melepaskan nitric oxide, yang pada gilirannya
meningkatkan kadar cyclic guanosine monophosphate (cGMP). Kadar cGMP yang
berlimpah menyebabkan relaksasi otot polos arteri dan kavernosa, serta meningkatkan
aliran darah penis. Ketika tekanan intrakavernosa meningkat, venula subtunika penis
terkompresi, sehingga membatasi aliran balik vena dari penis. Kombinasi peningkatan
aliran arteri dan penurunan aliran balik vena mengakibatkan ereksi. Proses ini
60

dibalikkan oleh aktifitas type 5 cGMP phosphodiesterase (PDE), yang memecah


cGMP, menyebabkan penghentian ereksi.

Patofisiologi
Mekanisme terjadinya disfungsi ereksi menurut Hilsted dan Low (1993)
merupakan kombinasi neuropati otonom dan keterlibatan arteriosklerosis arteri
pudenda interna.
Menurut Moreland (sebagaimana dikutip oleh Wibowo, 2007) ada dua pandangan
utama patofisiologi kasus disfungsi ereksi, pada hipotesis pertama perubahan yang
dipengaruhi tekanan oksigen pada penis selama ereksi ditujukan untuk mempengaruhi
struktur korpus kavernosum dengan cara menginduksi sitokin yang bermacam
macam. Faktor vasoaktif dan faktor pertumbuhan pada kondisi tekanan oksigen yang
berbeda akan mengubah metabolisme otot polos dan sintesis jaringan ikat. Penurunan
rasio antara otot polos dengan jaringan ikat pada korpus kavernosum dihubungkan
dengan meningkatnya vena difus dan kegagalan mekanisme penyumbatan vena.
Hipotesis tersebut menyertakan bukti adanya perubahan pada fase ereksi penis
malam hari dan perubahan sirkadian hubungannya dengan oksigenasi yang penting
dalam pengaturan ereksi sehat. Hipotesis yang lain menyatakan bahwa disfungsi
ereksi adalah hasil dari ketidakseimbangan metabolik antara proses kontraksi dan
relaksasi di dalam otot polos trabekula, misalnya dominasi proses kontraksi. Kedua
hipotesis ini dikaitkan dengan strategi penanganan DE.
Menurut Barton dan Jouber (2000), pada kasuskasus dengan penyebab biologis
jelas (misal neuropati diabetika), pengobatan dan akibat dalam jangka panjang
kelainan seksual sekunder tersebut akan terpengaruh juga oleh faktor psikoseksual.
Penyebab organik DE termasuk vaskuler, neurologik (saraf), hormonal, penyakit, atau
61

obatobatan tertentu dan sejumlah orang mempunyai faktor penyebab ganda. Pada
faktor neurologik dapat berupa: stroke, penyakit demielinasi, kelainan dengan
bangkitan atau kejang, tumor atau trauma sumsum belakang dan kerusakan saraf tepi.
Dua pertiga kasus DE adalah organik dan kondisi komorbid sebaiknya dievaluasi
secara aktif. Penyakit vaskular dan jantung ( terutama yang berhubungan dengan
hiperlipidemia, diabetes, dan hipertensi ) berkaitan erat dengan disfungsi ereksi.
Kombinasi kandisi-kondisi ini dan penuaan meningkatkan resiko DE pada usia lanjut.
Permasalahan hormonal dan metabolik lainnya, termasuk hipogonadisme primer dan
sekunder, hipotiroidisme, gagal ginjal kronis, dan gagal hati juga berdampak buruk
pada DE (Vary, 2007).
Penyalahgunaan zat seperti intake alkohol atau penggunaan obat-obatan secara
berlebihan merupakan kontributor utama pada DE. Merokok merupakan salah satu
penyebab arterio oklusive disease. Psikogenik disorder termasuk depresi, disforia dan
kondisi kecemasan juga berhubungan dengan peningkatan kejadian disfungsi seksual
multipel termasuk kesulitan ereksi. Cedera tulang belakang, tindakan bedah pelvis dan
prostat dan trauma pelvis merupakan penyebab DE yang kurang umum (Wibowo,
2007).
DE iatrogenik dapat disebabkan oleh gangguan saraf pelvis atau pembedahan
prostat, kekurangan glisemik, tekanan darah, kontrol lipid dan banyak medikasi yang
umum, digunakan dalam pelayanan primer. Obat anti hipertensi khususnya diuretik
dan central acting agents dapat menyebabkan DE. Begitu pula digoksin
psikofarmakologic agents termasuk beberapa antidepresan dan anti testosteron
hormon. Kadar testosteron memang sedikit menurun dengan bertambahnya usia
namun yang berkaitan dengan DE adalah minoritas pria yang benar-benar
hipogonadisme yang memiliki kadar testosteron yang rendah (Vary,2007).
Walaupun secara garis besar faktor penyebabnya dibagi menjadi penyebab
psikogenik dan organik, tetapi belum tentu salah satu faktor tersebut menjadi
penyebab tunggal DE. Yang termasuk penyebab organik adalah (i) penyakit kronik
(misalnya aterosklerosis, diabetes dan penyakit jantung); (ii) obat-obatan, contoh
antihipertensi (terutama diuretik thiazid dan penghambat beta), antiaritmia digoksin),
antidepresan dan antipsikotik (terutama neuroleptik), antiandrogen, antihistamin II
(simetidin), (alkohol atau heroin); (iii) pembedahan/operasi misal operasi daerah
pelvis dan prostatektomi radikal; (iv) trauma (misal spinal cord injury) dan (v)
radioterapi pelvis. Di antara sekian banyak penyebab organik, gangguan vascular
62

adalah penyebab yang paling umum dijumpai, sedangkan faktor psikogenik meliputi
depresi, stress, kepenatan, kehilangan, kemarahan dan gangguan hubungan personal.
4. Hipertensi
HIPERTENSI
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan

diastolik

lebih

dari

90

mmHg.

Tekanan

darah

diukur

dengan

spygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset
menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi duduk punggung tegak
atau terlentang paling sedikit selama 5 menit sampai 30 menit setelah merokok atau
minum kopi
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi
esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer untuk
membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab-sebab yang
diketahui. Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII)
klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,
prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2.
Etiologi
Faktor penyebab dibedakan menjadi faktor risiko yang tidak dapat dikontrol
dan faltor risiko yang dapat dikontrol
- Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dikontrol
1. Usia
Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan bertambahnya usia
maka risiko hipertensi menjadi lebih tinggi. Insiden hipertensi yang makin meningkat
dengan bertambahnya usia, disebabkan oleh perubahan alamiah dalam tubuh yang
mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon.
Semakin bertambahnya usia, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi
dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50%
di atas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan
darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Peningkatan kasus hipertensi
akan berkembang pada umur lima puluhan dan enam puluhan.
2. Jenis kelamin

63

Faktor jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya penyakit tidak menular tertentu
seperti hipertensi, di mana pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan
wanita dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah sistolik. Pria
mempunyai tekanan darah sistolik dan diastolik yang tinggi dibanding wanita pada
semua suku(ras).

Wanita dipengaruhi oleh beberapa hormon termasuk hormon

estrogen yang melindungi wanita dari hipertensi dan komplikasinya termasuk


penebalan dinding pembuluh darah atau aterosklerosis. Wanita usia produktif sekitar
30-40 tahun, kasus serangan jantung jarang terjadi, tetapi meningkat pada pria. Arif
Mansjoer mengemukakan bahwa pria dan wanita menopause memiliki pengaruh sama
pada terjadinya hipertensi. Ahli lain berpendapat bahwa wanita menopause
mengalami perubahan hormonal yang menyebabkan kenaikan berat badan dan
tekanan darah menjadi lebih reaktif terhadap konsumsi garam, sehingga
mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Terapi hormon yang digunakan oleh
wanita menopause dapat pula menyebabkan peningkatan tekanan darah.
3. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang menderita hipertensi terbukti merupakan faktor risiko
terjadinya hipertensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek dengan riwayat
keluarga menderita hipertensi memiliki risiko terkena hipertensi 14,378 kali lebih
besar bila dibandingkan dengan subjek tanpa riwayat keluarga menderita hipertensi.
Faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut memiliki
risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar natrium
intraseluler dan rendahnya rasio antara kalium terhadap natrium. Penelitian yang
dilakukan oleh Androgue dan Madias mengenai patogenesis kalium dan natrium pada
hipertensi, menyebutkan faktor keturunan berpengaruh terhadap hipertensi primer
melalui beberapa gen yang terlibat dalam regulasi vaskuler dan reabsorpsi natrium
oleh ginjal.
Data statistik juga membuktikan jika salah satu dari orang tua seseorang memiliki
riwayat menderita penyakit tidak menular tertentu, maka dimungkinkan sepanjang
hidup keturunannya memiliki peluang 25% terserang penyakit tersebut, dan jika
kedua orang tuanya yang memiliki riwayat menderita suatu penyakit tidak menular
maka kemungkinan keturunannya mendapatkan penyakit tersebut sebesar 60%.
- Faktor Risiko yang Dapat Dikontrol
1. Konsumsi garam
Garam dapur merupakan faktor yang sangat berperan dalam patogenesis hipertensi.
Garam dapur mengandung 40% natrium dan 60% klorida. Konsumsi 3-7 gram
natrium perhari, akan diabsorpsi terutama di usus halus. Natrium diabsorpsi secara
64

aktif, kemudian dibawa oleh aliran darah ke ginjal untuk disaring dan dikembalikan
ke aliran darah dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan taraf natrium dalam
darah.
Orang-orang peka natrium akan lebih mudah mengikat natrium sehingga
menimbulkan retensi cairan dan peningkatan tekanan darah. Garam memiliki sifat
menahan cairan, sehingga mengkonsumsi garam berlebih atau makan-makanan yang
diasinkan dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Pengaruh asupan garam
terhadap timbulnya hipertensi terjadai melalui peningkatan volume plasma, curah
jantung dan tekanan darah.
2. Konsumsi Lemak
Kebiasaan mengkonsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat
badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan
risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah.
3. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipertensi, sebab
rokok mengandung nikotin. Menghisap rokok menyebabkan nikotin terserap oleh
pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak.
Di otak, nikotin akan memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas
epinefrin atau adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa
jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi.
Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah.
Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa
memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan
tubuh lainnya.
Merokok juga diketahui dapat memberikan efek perubahan metabolik berupa
peningkatan asam lemak bebas, gliserol, dan laktat yang menyebabkan penurunan
kolesterol High Density Lipid (HDL), serta peningkatan Low Density Lipid (LDL)
dan trigliserida dalam darah. Hal tersebut akan meningkatkan risiko terjadinya
hipertensi dan penyakit jantung koroner.
4. Obesitas
Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Pada
penderita hipertensi ditemukan 20-30% menderita berat badan berlebih. Makin besar
massa tubuh, makin banyak pula suplai darah yang dibutuhkan untuk memasok
oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hal ini mengakibatkan volume darah yang
beredar melalui pembuluh darah akan meningkat sehingga tekanan pada dinding arteri
menjadi lebih besar.Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut
jantung dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan kadar insulin menyebabkan tubuh
65

menahan natrium dan air. Obesitas dapat menyebabkan hipertensi dan penyakit
kardiovaskular melalui
mekanisme pengaktifan sistem renin-angiotensin-aldosteron, peningkatkan aktivitas
simpatis, peningkatan aktivitas procoagulatory, dan disfungsi endotel.
5. Aktivitas
Penelitian yang dilakukan oleh Aris Sugiharto bahwa orang yang tidak biasa
berolahraga memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 4,73 kali dibandingkan dengan
orang yang memiliki kebiasaan olahraga ideal dan orang yang biasa melakukan
olahraga tidak ideal memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 3,46 kali dibandingkan
dengan orang yang memiliki kebiasaan olahraga ideal. Hernelahti M, Kujala UM,
Kaprio J, et.al. juga menyatakan bahwa tidak biasa melakukan olahraga akan
meningkatkan risiko terkena hipertensi sebesar 2,33 kali dibanding dengan yang biasa
berolahraga.
Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II
dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang
peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi
oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru,
angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki
peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan
rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal
untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat
sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat
dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan
ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume
darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal.
Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi
NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler
yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
66

5. Obesitas
Definisi
Obesitas dapat didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh. Penentu yang
digunakan adalah indeks massa tubuh (IMT). Sedangkan Overweight adalah tahap
sebelum dikatakan obesitas secara klinis (Guyton, 2007). Obesitas dikatakan terjadi
kalau terdapat kelebihan berat badan 20% karena lemak para pria dan 25% pada
wanita (Ganong,2002).
Etiologi
Faktor penyebab obesitas sangat kompleks. Kita tidak bisa hanya memandang
dari satu sisi. Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama
obesitas. Hal ini didasari oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat
meningkatkan massa otot dan mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas
fisik yang tidak adekuat dapat menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan
adipositas. Oleh karena itu pada orang obese, peningkatan aktivitas fisik dipercaya
dapat meningkatkan pengeluaran energi melebihi asupan makanan, yang berimbas
penurunan berat badan (Guyton, 2007).
Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku
makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah karena
lingkungan dan sosial. Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevalensi obesitas di
negara maju. Sebab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah
psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran
stress. Perilaku makan yang tidak baik pada masa kanak-kanak sehingga terjadi
kelebihan nutrisi juga memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini didasarkan karena
kecepatan pembentukan sel-sel lemak yang baru terutama meningkat pada tahuntahun pertama kehidupan, dan makin besar kecepatan penyimpanan lemak, makin
besar pula jumlah sel lemak. Oleh karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung
mengakibatkan obesitas pada dewasanya nanti (Guyton, 2007).
Dari segi neurogenik, dibuktikan bahwa lesi pada hipotalamus bagian
ventromedial dapat menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan
obese, serta terjadi perubahan yang nyata pada neurotransmiter di hipotalamus berupa
67

peningkatan oreksigenik seperti NPY dan penurunan pembentukan zat anoreksigenik


seperti leptin dan -MSH pada hewan obese yang dibatasi makannya (Guyton, 2007) .
Input dari vagal juga terhitung penting, membawa informasi dari viseral,
seperti peregangan dari usus (Flier et al, 2005).Faktor genetik obesitas dipercaya
berperan menyebabkan kelainan satu atau lebih jaras yang mengatur pusat makan dan
pengeluaran energi dan penyimpanan lemak serta defek monogenik seperti mutasi
MCR-4, defisiensi leptin kogenital, dan mutasi reseptor leptin (Guyton, 2007).
Dari segi hormonal terdapat leptin, insulin, kortisol, dan peptida usus. Leptin
adalah sitokin yang menyerupai polipeptida yang dihasilkan oleh adiposit yang
bekerja melalui aktifasi reseptor hipotalamus. Injeksi leptin akan mengakibatkan
penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah anabolik hormon, insulin
diketahui berhubungan langsung dalam penyimpanan dan penggunaan energi pada sel
adiposa. Kortisol adalah glukokortikoid bekerja dalam mobilisasi asam lemak yang
tersimpan pada trigiserida, hepatic glukoneogenesis, dan proteolisis (Wilborn et al,
2005). Peptida usus seperti ghrelin, peptida YY, dan kolesistokinin yang dibuat di
usus halus dan memberi sinyal ke otak secara langsung ke pusat pengatura
hipotalamus dan/atau melalui nervus vagus (Flier et al, 2005).
Faktor metabolit juga berperan dalam obesitas. Metabolit, termasuk glukosa,
dapat mempengaruhi nafsu makan, yang mengakibatkan hipoglikemi yang akan
menyebabkan rasa lapar. Akan tetapi, glukosa bukanlah pengatur utama nafsu makan
(Flier et al, 2005).
Semua faktor hormonal, metabolit, dan neurogenik yang tadi disebutkan diatas
bekerja melalui ekspresi an pelepasan berbagai peptida hipotalamus seperti NPY,
AgRP, alpha-MSH, an MCH yang terintegrasi dengan serotonergik, kotekolaminergik,
endokannabinoid, dan jalur singnal opioid (Flier et al, 2005).
Faktor terakhir penyebab obesitas adalah karena dampak/sindroma dari
penyakit lain. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan obesitas adalah
hypogonadism, Cushing syndrome, hypothyroidism, insulinoma, craniophryngioma,
gangguan lain pada hipotalamus (Flier et al, 2005).Beberapa anggapan menyatakan
bahwa berat badan seseorang diregulasi baik oleh endokrin dan komponenen neural.

68

Berdasarkan anggapan itu maka disedikit saja kekacauan pada regulasi ini akan
mempunyai efek pada berat badan (Flier et al, 2005).
Prevalensi dan Epidemiologi Obesitas
Menurut WHO (2011) pada tahun 2008, sekitar 1,5 milliar dewasa (20+)
adalah overweight dan lebih dari 200 juta laki-laki dan sekitar 300 juta wanita adalah
obese. WHO juga memprediksi bahwa pada tahun 2015, sekitar 2.3 milliar dewasa
akan mengalami overweight

dan lebih dari 700 milliar akan obese.Sedangkan

menurut RISKESDAS (2007) prevalensi obesitas pada penduduk dewasa di atas 15


tahun di beberapa kota besar di Indonesa cukup tinggi seperti di Sumatera utara
20.9% dengan 17.7% pria dan 23.8% wanita, di DKI Jakarta 26.9% dengan 22.7%
pria dan 30.7% wanita, Jawa Barat 17.0% dengan 14.4% pria dan 29.2% wanita,
Jawa tengah 17.0% dengan 11.6% pria dan 22.0% wanita, DI Yogyakarta 18.7%
dengan 14.6% pria dan 22.5% wanita, Jawa timur 20.4% dengan 15.2% pria dan
25.5% wanita. Dan di Indonesia adalah 19.1% dengan wanita 23.8% dan pria
13.9%.Prevalensi

obesitas

berhubungan

dengan

urbanisasi

dan

mudahnya

mendapatkan makanan serta banyaknya jumlah makanan yang tersedia. Urbanisasi


dan perubahan status ekonomi yang terjadi di negara-negara yang sedang berkembang
berdampak pada peningkatan prevalensi obesitas pada populasi di negara-negara ini,
termasuk Indonesia (Sugondo, 2006). tingginya prevalensi ini, telah membuat obesitas
mendapat perhatian yang cukup singnifikan dalam medis. Obesitas lebih sering terjadi
antara wanita dan yang menyedihkan; prevalensi pada anak-anak juga mengingkat
pada taraf yang mengkhawatirkan.( Flier et al, 2005)
Klasifikasi
Obesitas dapat dibagi menjadi beberapa derajat berdasarkan persen kelebihan
lemak (Misnadiarly, 2007). Antara lain :
a. Mild obesity : Dikatakan mild obesity bila berat badan individu antara 20-30% di
atas berat badan ideal.
b. Moderate obesity: Apabila berat badan individu antara 30-60% di atas berat badan
ideal.

69

c. Morbid : Penderita-penderita obesitas yang berat badannya 60% atau lebih di atas
berat badan ideal. Pada derajat ini risiko mengalami gangguan respirasi, gagal
jantung, dan kematian mendadak meningkat dengan tajam.

6. Atenolol
NAMA GENERIK
Atenolol
NAMA KIMIA
Atenolol: 2-{p-[2-Hydroxy-3-(isopropylamino)proproxy]phenyl}acetamide. .
SIFAT FISIKOKIMIA
Atenolol/ Tenormin (USP 27): Serbuk berwarna putih atau praktis putih, tidak berbau.
Sedikit larut dalam air, dan isopropil alkohol; sangat sedikit larut dalam alkohol;
mudah larut dalam metil alkohol.
DOSIS PEMBERIAN OBAT
Angina pektoris stabil dan kronis: dosis awal atenolol oral 50mg 1 kali per hari. Bila
respon optimum tidak tercapai dalam 1 minggu, dosis harus dinaikkan menjadi 100
mg 1 kali per hari; beberapa pasien mungkin memerlukan dosis atenolol 200 mg.
Dosis penyekat -adrenergik pada angina pektoris biasanya disesuaikan dengan
respon klinis dan untuk menjaga denyut jantung istirahat sekitar 55-60 denyut/menit.
Pada pasien dengan angina tidak stabil atau infark miokard dengan non-ST segmen
elevasi yang beresiko tinggi untuk kejadian iskemik, terapi dapat dimulai dengan
dosis IV bolus (loading dose) penyekat beta (pada pasien yang mentoleransi terapi IV)
dilanjutkan dengan konversi ke oral. IV atenolol dapat diberikan dalam kelipatan 5
mg dengan waktu pemberian selama 2-5 menit, diulangi setiap 5 menit sampai total
10 mg. Pasien yang cocok dengan dosis IV boleh diganti ke oral 1-2 jam setelah dosis
IV terakhir. Terapi oral dapat dimulai dengan dosis atenolol 50-100 mg/hari; setelah
itu dosis pemeliharaan 50-200 mg/hari. Target denyut jantung istirahat dengan
penyekat -adrenergik pada pasien dengan angina tidak stabil adalah 50-60 denyut per
menit tanpa adanya efek samping yang membatasi dosis.1 Infark miokard akut:
pengobatan dengan atenolol harus dimulai segera dengan dosis 2,5-5 mg IV dengan
70

lama pemberian 2-5 menit; bila ditoleransi, dapat diberikan setiap 2-10 menit dengan
dosis tambahan 2,5-5 mg IV dengan kecepatan pemberian yang sama sampai total
dosis 10mg dalam waktu 10-15 menit. Terapi harus dihentikan bila efikasi terapeutik
tercapai (misalnya, melambatnya kecepatan ventrikular pada fibrilasi atrial) atau bila
tekanan darah sistolik atau denyut jantung sudah turun menjadi 100 mmHg atau 50
denyut per menit. Terapi diteruskan dengan atenolol oral 50 mg yang diberikan 10
menit setelah total dosis IV 10 mg tercapai dan 50 mg lagi 12 jam kemudian. Atenolol
oral diteruskan selama 6-9 hari (atau sampai kontraindikasi [misalnya bradikardi atau
hipotensi yang memerlukan pengobatan] terbentuk atau pasien pulang) dengan dosis
100mg/hari sebagai dosis tunggal atau terbagi 2. Bila perlu, dosis oral dapat dikurangi
menjadi 50 mg/hari.1 Fibrilasi atrial. untuk memperlambat respon ventrikular yang
cepat setelah infark miokard akut bila disfungsi ventrikular kiri dan AV blok tidak
ada, atenolol diberikan IV infus 2,5-5 mg dengan lama pemberian 2-5 menit bila perlu
untuk mengontrol kecepatan ventrikular, dosis total sampai 10 mg selama perioda
waktu 10-15 menit. Terapi dihentikan bila efikasi terapeutik tercapai atau tekanan
darah turun sampai < 100 mm Hg atau denyut jantung pelan sampai < 50 denyut per
menit. Untuk pengobatan takiaritmia supraventrikular lainnya (misalnya atrial flutter,
junctional tachycardia, ectopic tachycardia, multifocal atrial tachycardia, paroxysmal
supraventricular tachycardia [PSVT]) pada orang dewasa, atenolol secara IV infus
perlahan dengan dosis 5 mg (waktu pemberian 5 menit) telah digunakan. Bila aritmia
menetap 10 menit setelah dosis pertama dan dosis pertama ditoleransi, dosis kedua 5
mg telah diberikan dengan IV infus perlahan (selama 5 menit).1 Migrain. Walaupun
dosis atenolol untuk pencegahan migrain belum ditetapkan, dosis biasa yang efektif
pada studi kilinis adalah 100mg per hari.
FARMAKOKINETIK
50 % dosis diabsorbsi setelah pemberian oral. Konsentrasi plasma puncak tercapai
dalam 2 - 4 jam. Kelarutan atenolol dalam lemak rendah dan larut dalam air.
Menembus plasenta, terdistribusi dalam ASI dengan konsentrasi lebih tinggi
dibandingkan dengan dalam plasma ibu pernah tercapai. Sejumlah kecil obat
menembus sawar otak, dan ikatan dengan plasma protein minimal. T 1/2 plasma 6-7
jam. Atenolol tidak atau hanya sedikit dimetabolisme di hepar dan ekskresinya
terutama di urin. Obat ini dikeluarkan dengan hemodialisa.
FARMAKODINAMIK
Kerja fisiologi utama atenolol adalah dengan secara kompetitif menghambat stimulasi
71

adrenergik dari reseptor beta-adrenergik dalam miokardium dan otot halus vaskular.
Pada dosis kecil, atenolol secara selektif menghambat reseptor jantung dan reseptor
lipolitik 1-adrenergik dan hanya sedikit efek pada reseptor 2-adrenergik bronki dan
otot halus vaskular. Pada dosis tinggi (>100 mg/hari), selektivitas atenolol untuk
reseptor 1-adrenergik biasanya hilang, dan akan secara kompetitif menghambat
reseptor 1- dan 2-adrenergik. Dengan menghambat reseptor 1-adrenergik
miokardium, atenolol menghasilkan aktivitas kronotropik dan inotropik yang negatif.
Dengan berkurangnya kontraktilitas miokardium dan denyut jantung, dan dengan
turunnya tekanan darah akan mengakibatkan berkurangnya konsumsi oksigen oleh
miokardium. Dan hal inilah yang membuat efektifnya atenolol pada angina pektoris
stabil yang kronis; walaupun begitu, atenolol dapat meningkatkan keperluan oksigen
dengan meningkatkan panjangnya serabut ventrikular kiri dan tekanan end-diastolic,
terutama pada pasien dengan gagal jantung.
STABILITAS PENYIMPANAN
Tablet atenolol harus dilindungi dari panas, cahaya, dan lembab; disimpan pada
wadah tertutup rapat dan tahan cahaya pada temperatur 20-25C. Injeksi atenolol
harus disimpan pada temperatur kamar pada temperatur 20-25C dan dilindungi dari
cahaya. . Manajemen terapi yangdilakukan yaitu dengan memisahkan waktu
pemberian obat, memonitor tekanan darah danmeningkatkan dosis atenolol jika
diperlukan
INDIKASI
-

Hipertensi

Angina pectoris

Mengatasi atau mencegah serangan jantung

KONTRA INDIKASI
Asma, gagal jantung yang tidak terkontrol, Prinzmetal's angina, bradikardi, hipotensi,
sick sinus syndrome, AV blok derajat dua atau tiga (second- or third- degree AV
block), syok kardiogenik, asidosis metabolik, penyakit arteri perifer yang parah,
phaeochromocytoma (selain penggunaan bersamaan dengan penyekat alfa).
INTERAKSI MAKANAN
Konsentrasi serum Atenolol akan menurun jika digunakan bersama makanan.
INTERAKSI OBAT

72

Reserpin: meningkatkan insiden hipotensi dan bradikardi, karena aktivitas reserpin


melenyapkan katekolamin. Obat hipotensif lain (misalnya antagonis kalsium,
hidralazin, metildopa): efek hipotensi aditif; dosis harus disesuaikan bila diberikan
bersamaan dengan atenolol. Klonidin: karena penyekat -adrenergik dapat
menyebabkan eksaserbasi rebound hypertension yang mungkin terjadi bila terapi
klonidin dihentikan, atenolol harus diberhentikan beberapa hari sebelum terapi
klonidin bila terapi klonidin harus diberhentikan pada pasien yang menerima atenolol
dan klonidin bersamaan. Atenolol IV harus digunakan dengan hati-hati pada pasien
yang baru mendapatkan obat lain yang juga mempunyai efek inotropik negatif
terhadap miokardium. Penggunaan atenolol bersamaan dengan verapamil dapat
mengakibatkan reaksi efek samping yang serius, terutama pada pasien-pasien dengan
kardiomiopati yang parah, gagal jantung, atau yang baru menderita infark miokard.
NSAID: pengunaan inhibitor siklooksigenase (misalnya indometasin) dapat
menurunkan efek hipotensif dari penyekat -adrenergik. Interaksi Atenolol dengan
Ampisilin akan menurunkan efek dari atenolol.
EFEK SAMPING
Efek ke jantung: bradikardi (3%); hipotensi; (AV) blok atrioventrikular derajat kedua
atau tiga; dan mempercepat parahnya gagal jantung, yang biasanya terjadi pada pasien
yang sudah mempunyai disfungsi ventrikular kiri. Sick sinus syndrome telah
dilaporkan; dinginnya kaki tangan (0-12%), postural hipotensi (2-4%, dikaitkan
dengan syncope); dan sakit kaki (0-3%). Efek ke SSP: pusing, letih, depresi. Lesu,
mengantuk, mimpi yang tidak biasa, dan vertigo terjadi pada 3% pasien. Sakit kepala
dan halusinasi juga telah dilaporkan. Efek samping lain yang terlihat pada
penggunaan penyekat beta dapat juga terjadi pada penggunaan atenolol seperti
gangguan penglihatan, disorientasi, gangguan memori jangka pendek, emosi yang
labil, psikosis, dan katatonia. Efek ke saluran pencernaan: diare dan mual (2-4%), dan
mulut kering juga telah dilaporkan. Efek endokrin: penggunaan penyekat -adrenergik
pada pasien hipertensi meningkatkan resiko ( 28%) tipe 2 diabetes mellitus.
Penyekat -adrenergik dapat menutupi tanda-tanda dan gejala hipoglikemi (seperti
palpitasi, tahikardi, tremor) dan memperkuat efek hipoglikemi yang disebabkan oleh
insulin. Efek samping yang lain: Ruam, eksaserbasi psoriasis, sindroma lupus, mata
kering, gangguan penglihatan, alopesia yang reversibel, penyakit Peyronie,
antinuclear antibodies (ANA), impoten, meningkatnya konsentrasi enzim liver dan
73

bilirubin, purpura, Raynauld's phenomena, dan trombositopenia juga telah dilaporkan.


Reaksi alergi: demam, sakit kerongkongan, spasme laring, dan respiratory distress.
7. Furosemide
Furosemide adalah salah satu diuretik kuat (water pil) yang digunakan untuk
menghilangkan air dan garam dari tubuh. Diuretik kuat ini mengahambat reabsopsi
NaCl di bagian tebal ansa Henle bagian asendens. Karena kapasitas absorpsi NaCl
besar di segmen ini dan fakta bahwa diuresis tidak dibatasi oleh adanya asidosis
seperti penghambat karbonik anhidrase, obat-obat ini merupakan diuretik yang
tersedia

paling

efektif.

Furosemide,

digunakan

untuk

mengurangi

retensi

pembengkakan dan cairan yang disebabkan oleh berbagai masalah medis, termasuk
penyakit jantung atau hati. Furosemide telah menjadi perawatan standar untuk gagal
jantung selama beberapa dekade. Selain dari tindakan utama diuretik nya, furosemide
juga diduga memiliki efek pada sistem kardiovaskular. Hal ini juga ditetapkan bahwa
furosemide sendiri merangsang pelepasan renin, sehingga meningkatkan tingkat
angiotensin II serta prostaglandin dari ginjal.6 Furosemide juga digunakan untuk
mengobati tekanan darah tinggi. Hal ini menyebabkan ginjal akan membuang air dan
garam yang tidak diperlukan dari tubuh ke dalam urin. Dosis dari Furosemide
Bentuk Dosis dan Kekuatannya
Solusi injeksi
10mg/mL
40mg/5mL

Solusi Oral
10mg/mL
40mg

Tablet
20mg
80mg

Dosis: awal yang biasa dosis oral untuk pengobatan edema pada orang dewasa adalah
20-80 mg sebagai dosis tunggal.1 Dosis yang sama atau peningkatan dosis dapat
diberikan 6-8 jam kemudian.1 Dosis dapat ditingkatkan 20-40 mg setiap 6-8 jam
sampai efek yang diinginkan terjadi.1 Dosis yang efektif dapat diberikan sekali atau
dua kali sehari.1 Beberapa pasien mungkin memerlukan 600 mg setiap hari.1 Dosis
oral awal bagi anak-anak adalah 2 mg / kg.1 Dosis awal dapat ditingkatkan dengan 12 mg / kg setiap 6 jam sampai efek yang diinginkan tercapai.1 Dosis lebih besar dari 6
mg / kg tidak dianjurkan.1 Dosis yang dianjurkan untuk mengobati hipertensi adalah
40 mg dua kali sehari.1 Nama dagang dari furosemide adalah Lasix.1
Manajemen overdosis

74

Dapat menggunakan garam fisiologik untuk mengganti volume, dapat menggunakan


dopamin atau norepinephrine untuk mengobati hipotensi, hentikan pengobatan jika
tidak ada gejala setelah 6 jam
Indikasi lain & Menggunakan
Digunakan ketika fungsi ginjal menurun
Farmakologi dari Furosemide
Half-Life: 30-120 min
Jangka waktu
I.V: 2 jam
PO: 6-8 jam
Permulaan
Efek awal: I.V: 2-5 min, PO: 30-60 min
Max berlaku: I.V: <15 menit, PO: 1-2 jam
Pengeluaran
Urine: 60-90%
Tinja (termasuk empedu): 13-18%
Informasi Lainnya
Absorpsi: PO: 60-80%
Bioavailabilitas: 60-70%
Pengikatan Protein: 91-99%
Vasodilatasi: 0,2 L / kg
Metabolisme: hati, sekitar 10%
Indikasi furosemide digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi.
Menurunkan tekanan darah tinggi membantu mencegah stroke, serangan jantung, dan
ginjal. Obat ini juga mengurangi bengkak / retensi cairan (edema) yang dapat
disebabkan oleh kondisi seperti gagal jantung kongestif, penyakit hati, atau penyakit
ginjal. Hal ini dapat membantu meningkatkan gejala seperti sesak napas.
Kontraindikasi pada pasien dengan anuria dan pada pasien dengan riwayat
hipersensitif terhadap furosemide.
Furosemide memiliki beberapa efek samping diantaranya:
a. Ototoksisitas : Pendengaran dapat terganggu oleh loop duretik terutama bila
digunakan bersama-sama dengan antibiotika aminoglikosida. Kerusakan permanen
dapat terjadi bila terapi dilanjutkan. Fungsi vestibular nampaknya kurang dipengaruhi,
tetapi dapat juga terganggu oleh terapi kombinasi
b. Hiperurisemia : Furosemide dan asam etakrinat bersaing dengan asam urat untuk
sistem sekresi renal dan empedu, jadi menghambat sekresinya dan dengan demikian
menyebabkan munculnya serangan piral.
75

c. Hipovolemia akut : Loop diuretic dapat menyebabkan pengurangan volume darah


yang cepat dan parah, dengan kemungkinan hipotensi, syok dan aritmia jantung.
d. Kekurangan Kalium : Muatan Na+ besar yang terjadi di tubulus renalis rektus
menyebabkan pertukaran Na+ di tubulus dengan K+ dari sel dengan kemungkinan
menyebabkan hipokalemia.10 Hilangnya K+ dari sel dalam pertukaran H+
menyebabkan alkalosis hipokalemia.10 Pengurangan kalium dapat dicegah dengan
menggunakan diuretic hemat kalium diet dengan tambahan K+.
e. Dehidrasi : Mengkonsumsi furosemide berlebihan dapat menyebabkan tubuh
kehilangan air dan mineral (termasuk kalium), kejang otot atau kelemahan,
kebingungan, pusing berat, mengantuk, mulut kering yang tidak biasa atau haus, mual
atau muntah, cepat / tidak beraturan detak jantung, penurunan jumlah urin yang tidak
biasa, pingsan, kejang-kejang.
Furosemide memiliki interaksi dengan obat lain salah satunya:

(* menunjukkan

berat):
* Amikasin: peningkatan risiko ototoxicity.
Amitriptyline: peningkatan risiko hipotensi postural.
Amfoterisin B: meningkatkan resiko hipokalemia.
Karbamazepin: peningkatan risiko hiponatremia.
Klorpromazin: efek hipotensi ditingkatkan.
Cisplatin: peningkatan risiko nefrotoksisitas dan ototoxicity.
Dexamethasone: antagonisme efek diuretic, peningkatan risiko hipokalemia.
Diazepam: efek hipotensi ditingkatkan.
* Digoxin: hipokalemia yang disebabkan oleh kenaikan furosemide toksisitas jantung
digoxin.
* Enalapril: efek hipotensi ditingkatkan.
Etanol: efek hipotensi ditingkatkan.
* Gentamisin: peningkatan risiko ototoxicity.
Halotan: efek hipotensi ditingkatkan.
Hidroklorotiazida: peningkatan risiko hipokalemia.
Hidrokortison: antagonisme efek diuretik, meningkatkan resiko hipokalemia.
Ibuprofen: risiko nefrotoksisitas ibuprofen meningkat, antagonisme efek diuretik.
Insulins: antagonisme efek hipoglikemik.
Ketamin: efek hipotensi ditingkatkan.
Lidocaine: tindakan lidocaine antagonized oleh hipokalemia yang disebabkan oleh
furosemide (interaksi
kecil kemungkinan bila digunakan secara topikal lidocaine).
* Lithium: lithium mengurangi ekskresi (meningkat plasma lithium konsentrasi dan
risiko toksisitas).
Nitrous oksida: efek hipotensi ditingkatkan.
Prednisolone: antagonisme efek diuretik, peningkatan risiko hipokalemia.
Propranolol: efek hipotensi ditingkatkan.
Kinidina *: toksisitas jantung dari kinidina meningkat hipokalemia yang disebabkan
oleh furosemide.
76

Salbutamol: peningkatan risiko hipokalemia dengan dosis tinggi salbutamol.


* Streptomisin: peningkatan risiko ototoxicity.
Thiopental: efek hipotensi ditingkatkan.
* Vancomycin: peningkatan risiko ototoxicity.
Furosemide adalah obat kehamilan Kategori C, yang berarti berpotensi menimbulkan
bahaya bagi anak anda yang belum lahir. US Food and Drug Administration (FDA)
menggunakan sistem kategori untuk mengklasifikasikan risiko untuk janin bila obat
tertentu diambil selama kehamilan. Kehamilan Kategori C diberikan kepada obat
yang menunjukkan efek samping untuk janin dalam penelitian pada hewan, tetapi
belum ada penelitian pada wanita hamil yang telah dilakukan. Sebuah kehamilan
Kategori C masih dapat diberikan kepada wanita hamil jika penyedia layanan
kesehatan berpendapat bahwa manfaat bagi wanita itu lebih besar daripada risiko
yang mungkin untuk anak yang belum lahir.
Dalam penelitian hewan, furosemide telah menyebabkan kematian yang tidak dapat
dijelaskan baik dari ibu dan bayi yang baru lahir. Penelitian terhadap hewan juga
menyarankan bahwa obat dapat menyebabkan cacat lahir dari ginjal atau sistem
kemih.
Namun, penting untuk dicatat bahwa binatang tidak selalu merespon terhadap obatobatan dalam cara yang sama seperti manusia. Oleh karena itu, sebagaimana
disebutkan, furosemid dapat diberikan kepada wanita hamil jika penyedia layanan
kesehatan berkeyakinan bahwa manfaat yang lebih besar daripada risiko yang
mungkin. Umumnya, obat tersebut harus digunakan pada wanita hamil hanya bila
benar-benar diperlukan. Hal ini umumnya tidak dianjurkan untuk mengobati tekanan
darah tinggi selama kehamilan.
Contoh Obat Furosemide 20 mg-GG
Farmakokinetik

77

Diuretik kuat mudah diserap melalui saluran cerna, dengan derajat yang agak
berbeda-beda. Bioavailabilitas furosemid 65% sedangkan burmetenid hampir 100%.
Obat golongan ini terikat pada protein plasma secara ekstensif, sehingga tidak
difiltrasi di glomerulus tetapi cepat sekali disekresi melalui system transport asam
organic di tubuli proksimal. Dengan cara ini obat terakumulasi di cairan tubuli dan
mungkin sekali ditempat kerja di daerah yang lebih distal lagi. Probenesid dapat
menghambat sekresi furosemid, dan interaksi antara keduanya ini hanya terbatas pada
tingkat sekresi tubuli, dan tidak pada tempat kerja diuretic. Torsemid memiliki masa
kerja sedikit lebih panjang dari furosemid. Kira-kira 2/3 dari asam etakrinat yang
diberikan secara intravena diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh dan dalam
konjugasi dengan senyawa sulfhidril terutama sistein dan N-asetil sistein. Sebagian
lagi diekskresi melalui hati. Sebagian besar furosemid diekskresi dengan cara yang
sama, hanya sebagian kecil dalam bentuk glukoronid.
Farmakodinamik
Diuretik kuat terutama bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit
Na+/K+/2Cl- di ansa Henle asendens bagian epitel tebal; tempat kerjanya di
permukaan sel epitel bagian luminal (yang menghadap ke lumen tubuli). Pada
pemberian secara intravena obat ini cenderung meningkatkan aliran darah ginjal tanpa
disertai peningkatan filtrasi glomerulus. Perubahan hemodinamik ginjal ini
mengakibatkan menurunnya reabsorpsi cairan dan elektrolit di tubuli proksimal serta
meningkatnya efek awal dieresis. Peningkatan aliran darah ginjal ini relative hanya
berlangsung sebentar. Dengan berkurangnya cairan ekstrasel akibat dieresis, maka
aliran darah ginjal menurun dan hal ini akan mengakibatkan meningkatnya reabsorpsi
cairan dan elektrolit ditubuli proksimal. Hal yang terakhir ini agaknya merupakan
suatu mekanisme kompensasi yang membatasi jumlah zat terlarut yang mencapai
bagian epitel tebal Henle asendens, dengan demikian akan mengurangi dieresis.
Masih dipertentangkan apakah diuretic kuat juga bekerja di tubuli proksimal.
Furosemid dan bumetanid mempunyai daya hambat enzim karbonik anhidrase karena
keduanya merupakan derivate sulfonamide, seperti juga tiazid dan asetazolamid,
tetapi aktivitasnya terlalu lemah untuk menyebabkan dieresis di tubuli proksimal.
Asam etakrinat tidak menghambat enzim karbonik anhidrase. Efek diuretic kuat
terhadap segmen yang lebih distal dari ansa Henle asendens epitel tebal belum dapat
dipastikan, tetapi dari besarnya dieresis yang terjadi, diduga obat ini bekerja juga di
segmen tubuli lain. Diuretik kuat juga menyebabkan meningkatnya ekskresi K+ dan
78

kadar asam urat plasma, mekanismenya kemungkinan benar sama dengan tiazid.
Ekskresi Ca2+ dan Mg2+ juga ditingkatkan sebanding dengan peningkatan ekskresi
Na+. Berbeda dengan tiazid, golongan ini tidak meningkatkan re-absorpsi Ca2+ di
tubuli distal. Berdasarkan atas efek kalsiuria ini, golongan diuretic kuat digunakan
untuk pengobatan simptomatik hiperkalsemia. Diuretik kuat meningkatkan ekskresi
asam yang dapat dititrasi (titrable acid) dan ammonia. Fenomena yang diduga terjadi
karena efeknya di nefron distal ini merupakan salah satu factor penyebab terjadinya
alkalosis metabolic. Bila mobilisasi cairan edema terlalu cepat, alkalosis metabolic
oleh diuretic kuat ini terutama terjadi akibat penyusutan volume cairan ekstrasel.
Sebaliknya pada penggunaan yang kronik, factor utama penyebab alkalosis ialah
besarnya asupan garam dan ekskresi H+ dan K+. Alkalosis ini seringkali disertai
dengan hiponatremia, tetapi masing-masing disebabkan oleh mekanisme yang
berbeda.
8. Statin

Statins (or HMG-CoA reductase inhibitors) are a class of drugs used to lower
cholesterol levels by inhibiting the enzyme HMG-CoA reductase, which plays a
central role in the production of cholesterol in the liver, which produces about 70
percent of total cholesterol in the body. High cholesterol levels have been associated
with cardiovascular disease (CVD).[1] Statins have been found to prevent
cardiovascular disease in those who are at high risk. The evidence is strong that statins
are effective for treating CVD in the early stages of a disease (secondary prevention).
The evidence is weaker that statins are effective for those with elevated cholesterol
levels but without CVD (primary prevention).[2][3][4] Side effects of statins include
muscle pain, increased risk of diabetesand abnormalities in liver enzyme tests.[5]
Additionally, they have rare but severe adverse effects, particularly muscle damage.
[6]
79

As of 2010, a number of statins are on the market: atorvastatin (Lipitor), fluvastatin


(Lescol), lovastatin (Mevacor, Altocor),pitavastatin (Livalo), pravastatin (Pravachol),
rosuvastatin (Crestor) and simvastatin (Zocor).[7] Several combination preparations
of a statin and another agent, such as ezetimibe/simvastatin, are also available. The
best-selling statin is atorvastatin which by 2003 became the best-selling
pharmaceutical in history.[8] The manufacturer Pfizer reported sales of US$12.4
billion in 2008.[9] Due to patent expirations, several statins are now available as
inexpensive generics.
Medical uses
Clinical practice guidelines generally recommend people to try "lifestyle
modification", including a cholesterol-lowering diet and physical exercise, before
statin use; statins or other pharmacologic agents may be recommended for those who
do not meet their lipid-lowering goals through diet and lifestyle changes.[12][13]
Primary prevention
Most evidence suggests that statins are effective in preventing heart disease in those
with high cholesterol, but no history of heart disease. A 2013 Cochrane review found
a decrease in risk of death and other poor outcomes without any evidence of harm.
[14] A 2011 review reached similar conclusions.[15] And a 2012 review found
benefits in both women and men.[16] A 2010 review concluded that treating people
with no history of cardiovascular disease reduces cardiovascular events in men but not
women, and provides no mortality benefit in either sex.[17] Two other meta analyses
published that year, one of which used data obtained exclusively from women, found
no mortality benefit in primary prevention.[18][19]
The National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) recommends statin
treatment for adults with an estimated 10 year risk of developing cardiovascular
disease that is greater than 20%.[20] In 2014, NICE issued draft guidance lowering
the threshold to a 10 year risk of 10% or more.[21] Guidelines by the American
College of Cardiology and theAmerican Heart Association recommend statin
treatment for primary prevention of cardiovascular disease in adults with LDL
cholesterol > 190 mg/dL.[22] However, critics such as Steven E. Nissen say that the
AHA/ACC guidelines were not properly validated, overestimate the risk by at least
50%, and recomment statins for patients who will not benefit, based on populations
whose observed risk is lower than predicted by the guidelines.[23] The European
Society of Cardiology and the European Atherosclerosis Society recommend the use
80

of statins for primary prevention, depending on baseline estimated cardiovascular


score and LDL thresholds.[24]
Secondary prevention
Statins are effective in decreasing mortality in people with pre-existing CVD. They
are also currently advocated for use in patients at high risk of developing heart
disease.[2] On average, statins can lower LDL cholesterol by 1.8 mmol/l (70 mg/dl),
which translates into an estimated 60% decrease in the number of cardiac events
(heart attack, sudden cardiac death) and a 17% reduced risk of stroke after long-term
treatment.[25] They have less effect than the fibrates or niacin in reducing
triglycerides and raising HDL-cholesterol ("good cholesterol").
Comparative effectiveness
While no direct comparison exists, all statins appear effective regardless of potency or
degree of cholesterol reduction.[26] There do appear to be some differences between
them, with simvastatin and pravastatin appearing superior in terms of side-effects.[5]
A comparison of atorvastatin, pravastatin and simvastatin, based on their effectiveness
against

placebos,

found,

at

commonly

prescribed

doses,

no

statistically

significantdifferences among agents in reducing cardiovascular morbidity and


mortality.[27]
Children
In children statins are effective at reducing cholesterol levels in those with familial
hypercholesterolemia.[28] Their long term safety is; however, unclear.[28][29] Some
recommend that if lifestyle changes are not enough statins should be started at 8 years
old.[30]
Prevention of contrast induced nephropathy
A recent meta-analysis of randomized controlled trials found that statins could reduce
the risk of contrast-induced nephropathy by 53% in patients undergoing coronary
angiography/percutaneous interventions. The effect was found to be more among
patients with preexisting renal dysfunction or diabetes mellitus.[31]
Choosing a statin for people with special considerations[32]
Condition
kidney
transplantationrecipients
takingciclosporin

Commonly recommended statins

explanation

Pravastatin orFluvastatin

Drug interactions are possible,


but studies have not shown
that these statins increase
exposure to ciclosporin.[33]

81

HIV-positive
peopletaking protease
inhibitors

Significant negative
Atorvastatin,Pravastatin orFluvastatin interactions are more likely
with other choices[34]

persons takinggemfibrozil, a
non-statin cholesterolAtorvastatin
lowering drug

Combining gemfibrozil and a


statin increases risk
of rhabdomyolysis and
subsequently renal failure[35]
[36]

persons taking
theanticoagulant warfarin

any statin

The statin use may require


that the warfarin dose be
changed, as some statins
increase the effect of warfarin.
[37]

The most important adverse side effects are increased concentrations of liver
enzymes, muscle problems, and an increased risk of diabetes.[38][39] Other possible
adverse effects include cognitive loss, neuropathy, pancreatic and hepatic dysfunction,
and sexual dysfunction.[40] The rate at which such events occur has been widely
debated, in part because the risk/benefit ratio of statins in low risk populations is
highly dependent on the rate of adverse events.[41][42][43] A Cochrane group meta
analysis of statin clinical trials in primary prevention found no evidence of excess
adverse events among those treated with statins compared to placebo.[44] Another
meta analysis found a 39% increase in adverse events in statin treated people relative
to those receiving placebo, but no increase in serious adverse events.[45] The author
of one study argued that adverse events are more common in clinical practice than
inrandomized clinical trials.[40] A systematic review by the Canadian Working Group
Consensus Conference that considered published meta analyses of clinical trials,
spontaneous adverse event reports to the FDA, and published cohort studies
concluded that while clinical trial meta analyses underestimate the rate of muscle pain
associated with statin use, the rates of rhabdomyolysis are still "reassuringly low" and
similar to those seen in clinical trials (about 1-2 per 10,000 patient years).[46] A
systematic review co-authored by Ben Goldacre concluded that only a small fraction
of side effects reported by patients on statins are actually attributable to the statin.[47]
Cognitive Effects
82

There are anecdotal reports of significant cognitive decline with statins.[48] There is
no strong evidence to support this effect, but there is no strong evidence to exclude it
either. Two randomized clinical trials found cognitive issues, while two did not.[49]
[Dead link] A systematic review by the Canadian Working Group Consensus
Conference concluded that the available evidence "is not strongly supportive of a
major adverse effect of statins".[50] A meta-analysis reported in Annals of Internal
Medicine concluded that there is moderate quality evidence of no increase in
dementia, mild cognitive impairment or cognitive performance scores, although the
strength of the evidence is limited, particularly for high doses.[51]
Muscles
In observational studies 10-15% of people who take statins experience muscle
problems; in most cases these consist of muscle pain.[6] These rates, which are much
higher than those seen in randomized clinical trials[46] have been the topic of
extensive debate and discussion.
Rare reactions include myopathies such as myositis (inflammation of the muscles) or
even rhabdomyolysis (destruction of muscle cells), which can in turn result in lifethreateningkidney injury. Coenzyme Q10 (ubiquinone) levels are decreased in statin
use;[52] CoQ10 supplements are sometimes used to treat statin-associated myopathy,
though evidence of their efficacy is lacking as of 2007.[53] The gene SLCO1B1
(Solute carrier organic anion transporter family member 1B1) codes for an organic
anion-transporting polypeptidethat is involved in the regulation of the absorption of
statins. A common variation in this gene was found in 2008 to significantly increase
the risk of myopathy.[54]
Graham et al. (2004) reviewed records of over 250,000 patients treated from 1998 to
2001 with the statin drugs atorvastatin, cerivastatin, fluvastatin, lovastatin,
pravastatin, and simvastatin.[55] The incidence of rhabdomyolyis was 0.44 per 10,000
patients treated with statins other than cerivastatin. However, the risk was over 10fold greater if cerivastatin was used, or if the standard statins (atorvastatin, fluvastatin,
lovastatin, pravastatin, or simvastatin) were combined with fibrate (fenofibrate or
gemfibrozil) treatment. Cerivastatin was withdrawn by its manufacturer in 2001.
All commonly used statins show somewhat similar results, but the newer statins,
characterized by longer pharmacological half-lives and more cellular specificity, have
had a better ratio of efficacy to lower adverse effect rates.[citation needed] Some
researchers have suggested hydrophilic statins, such as fluvastatin, rosuvastatin, and
pravastatin, are less toxic than lipophilic statins, such as atorvastatin, lovastatin, and
83

simvastatin, but other studies have not found a connection;[56] the risk of myopathy
was suggested to be lowest with pravastatin and fluvastatin, probably because they are
more hydrophilic and as a result have less muscle penetration.[citation needed]
Lovastatin induces the expression of geneatrogin-1, which is believed to be
responsible in promoting muscle fiber damage.[56]
Diabetes
Statins are associated with a slightly increased risk of diabetes (2-17% in one review).
[57] Higher doses have a greater effect.[58] However, the benefits in cardiovascular
disease outweighed the risks of diabetes.
Cancer
Several meta-analyses have found no increased risk of cancer, and some metaanalyses have found a reduced risk.[59][60][61][62][63]
Statins may reduce the risk of esophageal cancer,[64] colorectal cancer,[65] gastric
cancer,[66][67] hepatocellular carcinoma,[68] and possibly prostate cancer.[69][70]
They appear to have no effect on the risk of lung cancer,[71] kidney cancer,[72] breast
cancer,[73] pancreatic cancer,[74] or bladder cancer.[75]
Drug interactions
Combining any statin with a fibrate or niacin, another category of lipid-lowering
drugs, increases the risks for rhabdomyolysis to almost 6.0 per 10,000 person-years.
[55] Most physicians have now abandoned routine monitoring of liver enzymes and
creatine kinase, although they still consider this prudent in those on high-dose statins
or in those on statin/fibrate combinations, and mandatory in the case of muscle
cramps or of deterioration in renal function.
Consumption of grapefruit or grapefruit juice inhibits the metabolism of certain
statins. Bitter oranges may have a similar effect.[76] Furanocoumarins in grapefruit
juice (i.e.bergamottin and dihydroxybergamottin) inhibit the cytochrome P450
enzyme CYP3A4, which is involved in the metabolism of most statins (however, it is
a major inhibitor of only lovastatin, simvastatin, and to a lesser degree, atorvastatin)
and some other medications[77] (flavonoids (i.e. naringin) were thought to be
responsible). This increases the levels of the statin, increasing the risk of dose-related
adverse effects (including myopathy/rhabdomyolysis). The absolute prohibition of
grapefruit juice consumption for users of some statins is controversial.[78]
The FDA notified healthcare professionals of updates to the prescribing information
concerning interactions between protease inhibitors and certain statin drugs. Protease
inhibitors and statins taken together may increase the blood levels of statins and
increase the risk for muscle injury (myopathy). The most serious form of myopathy,
84

rhabdomyolysis, can damage the kidneys and lead to kidney failure, which can be
fatal.[79]
Mechanism of action
Atorvastatin bound to HMG-CoA reductase: PDB entry 1hwk[80]

The HMG-CoA reductase pathway, which is blocked by statins via inhibiting the rate
limiting enzyme HMG-CoA reductase.
Main article: Cholesterol homeostasis
Statins act by competitively inhibiting HMG-CoA reductase, the first committed
enzyme of the HMG-CoA reductase pathway. Because statins are similar to HMGCoA on a molecular level, they take the place of HMG-CoA in the enzyme and reduce
the rate by which it is able to produce mevalonate, the next molecule in the cascade
that eventually produces cholesterol, as well as a number of other compounds. This
ultimately reduces cholesterol via several mechanisms. A variety of statins are
produced by Penecillium and Aspergillus fungi as secondary metabolites. These
natural statins probably function to inhibit HMG-CoA reductase enzymes in bacteria
and fungi that compete with the producer.[81]
Inhibiting cholesterol synthesis
By inhibiting HMG-CoA reductase, statins block the pathway for synthesizing
cholesterol in the liver. This is significant because most circulating cholesterol comes
85

from internal manufacture rather than the diet. When the liver can no longer produce
cholesterol, levels of cholesterol in the blood will fall. Cholesterol synthesis appears
to occur mostly at night,[82] so statins with short half-livesare usually taken at night
to maximize their effect. Studies have shown greater LDL and total cholesterol
reductions in the short-acting simvastatin taken at night rather than the morning,[83]
[84] but have shown no difference in the long-acting atorvastatin.[85]
Increasing LDL uptake
In rabbits, hepatocytes (liver cells) sense the reduced levels of liver cholesterol and
seek to compensate by synthesizing LDL receptors to draw cholesterol out of the
circulation.[86] This is accomplished via protease enzymes that cleave a protein
called "membrane-bound sterol regulatory element binding protein", which migrates
to the nucleus and causes increased production of various other proteins and enzymes,
including the LDL receptor. The LDL receptor then relocates to the liver cell
membrane and binds to passing LDL and VLDL particles (the "bad cholesterol"
linked to disease). LDL and VLDL are drawn out of circulation into the liver, where
the cholesterol is reprocessed into bile salts. These are excreted, and subsequently
recycled mostly by an internal bile salt circulation.
Decreasing of specific protein prenylation[edit]
Statins, by inhibiting the HMG CoA reductase pathway, simultaneously inhibit the
production of both cholesterol and specificprenylated proteins (see diagram). A 2012
study found that statin treatment increases lifespan and improves cardiac health in
Drosophila by decreasing specific protein prenylation. The study concluded, "These
data are the most direct evidence to date that decreased protein prenylation can
increase cardiac health and lifespan in any metazoan [animal] species, and may
explain the pleiotropic (non-cholesterol related) health effects of statins."[87] This
inhibitory effect on protein prenylation may be involved, at least partially, in the
improvement of endothelial function and other pleiotropic cardiovascular benefits of
statins,[88][89] and may also account for certain of the benefits seen in cancer
reduction with statins.[90]
Other effects[edit]
Statins exhibit action beyond lipid-lowering activity in the prevention of
atherosclerosis. The ASTEROID trial showed direct ultrasound evidence of atheroma
regression during statin therapy.[91] Researchers hypothesize that statins prevent
cardiovascular disease via four proposed mechanisms (all subjects of a large body of
biomedical research):[92]
1.
Improve endothelial function
86

2.
Modulate inflammatory responses
3.
Maintain plaque stability
4.
Prevent thrombus formation
That statins may benefit those without high cholesterol is controversial. In 2008, the
JUPITER study showed benefit in those who had no history of high cholesterol or
heart disease, but only elevated C-reactive protein levels.[93] An independent review
in 2010 concluded that the study was flawed and that its results raised troubling
questions concerning the role of its commercial sponsors.[94]

Statin Pathway
1.
Jump up^ The interactive pathway map can be edited at WikiPathways:
"Statin_Pathway_WP430".
Available forms
The statins are divided into two groups: fermentation-derived and synthetic. They
include, along with brand names, which may vary between countries:

87

Brand name

Derivation

Metabolism[95]

Atorvastatin

Lipitor, Torvast

Synthetic

CYP3A4

Cerivastatin

Lipobay, Baycol.
(Withdrawn from
the market in
August, 2001 due Synthetic
to risk of
seriousRhabdomy
olysis)

various CYP3Aisof
orms [96]

Fluvastatin

Lescol, Lescol
XL

CYP2C9

Lovastatin

Fermentationderived.
Naturally
occurring
Mevacor, Altocor, compound.
CYP3A4
Altoprev
Found
in oyster
mushrooms an
d red yeast
rice.

Statin

Image

Synthetic

88

Brand name

Derivation

Metabolism[95]

Mevastatin

Compactin

Naturally
occurring
compound.
Found in red
yeast rice.

CYP3A4

Pitavastatin

Livalo, Pitava

Synthetic

Pravastatin

Pravachol,
Selektine,
Lipostat

Fermentationderived. (A
fermentation
product of
Non CYP[97]
bacterium Noc
ardia
autotrophica).

Rosuvastatin

Crestor

Synthetic

Zocor, Lipex

Fermentationderived.
(Simvastatin is
a synthetic
derivate of a CYP3A4
fermentation
product
ofAspergillus
terreus.)

Statin

Simvastatin

Image

CYP2C9 andCYP2
C19

89

Statin

Image

Brand name

Derivation

Simvastatin+Ezetimibe

Vytorin

Combination
therapy

Lovastatin+Niacinexten
ded-release

Advicor

Combination
therapy

Atorvastatin+Amlodipi
neBesylate

Caduet

Combination
therapy
Cholesterol+B
lood Pressure

Simvastatin+Niacinexte
nded-release

Simcor

Combination
therapy

Metabolism[95]

LDL-lowering potency varies between agents. Cerivastatin is the most potent,


(withdrawn from the market in August, 2001 due to risk of serious rhabdomyolysis)
followed by (in order of decreasing potency), rosuvastatin, atorvastatin, simvastatin,
lovastatin, pravastatin, and fluvastatin.[98] The relative potency of pitavastatin has not
yet been fully established.
The oyster mushroom, a culinary mushroom, naturally contains lovastatin.
Some types of statins are naturally occurring, and can be found in such foods as oyster
mushrooms and red yeast rice. Randomized controlled trials have found these
foodstuffs to reduce circulating cholesterol, but the quality of the trials has been
judged to be low.[99]Due to patent expiration, most of the block-buster branded
statins have been generic since 2012, including atorvastatin, the largest-selling
branded drug.

Statin equivalent dosages

% LDL
reduction Atorvastatin Fluvastatin Lovastatin Pravastatin Rosuvastatin Simvastatin
(approx.)
90

1020%

20 mg

10 mg

10 mg

5 mg

2030%

40 mg

20 mg

20 mg

10 mg

3040%

10 mg

80 mg

40 mg

40 mg

5 mg

20 mg

4045%

20 mg

80 mg

80 mg

510 mg

40 mg

4650%

40 mg

1020 mg

80 mg*

5055%

80 mg

20 mg

5660%

40 mg

* 80-mg dose no longer recommended due to increased risk of rhabdomyolysis

Starting dose

Starting
dose

1020 mg

If higher
LDL
40 mg if
reduction >45%
goal

Optimal
timing

Anytime

20 mg

1020 mg 40 mg

10 mg; 5 mg if
hypothyroid, 20 mg
>65 yo, Asian

40 mg if
>25%

20 mg if
>20%

--

20 mg if LDL
40 mg if
>190 mg/dL
>45%
(4.87 mmol/L)

Evening

With
evening
meals

Anytime

Anytime

Evening

91