Anda di halaman 1dari 108
Fauzan A Mahanani, S.Pd

Fauzan A Mahanani, S.Pd

After completing this program, the participants are able to understand power electronics circuits and components so

After completing this program, the participants are able to understand power electronics circuits and components so that technicians will be able to maintain them.

1. Basic concept of SCR, DIAC, TRIAC, UJT and PUT 2. Static Switch 3. Zero Voltage
  • 1. Basic concept of SCR, DIAC, TRIAC, UJT and PUT

  • 2. Static Switch

  • 3. Zero Voltage Switching

  • 4. Phase control circuit

  • 5. Motor Control

ELEKTRONIKA DAYA

ELEKTRONIKA DAYA Elektronika daya / Power Electronics Bidang elektronik yang berkaitan dengan konversi dan switching energi

Elektronika daya / Power Electronics

ELEKTRONIKA DAYA Elektronika daya / Power Electronics Bidang elektronik yang berkaitan dengan konversi dan switching energi

Bidang elektronik yang berkaitan dengan konversi dan switching energi listrik untuk aplikasi daya.

Kelebihan peralatan power elektronik:

Lebih murah Lebih ringan dan kecil Efisiensi dan keandalannya lebih tinggi Lebih mudah diperoleh

Komponen yang banyak dipakai dalam elektronika daya:

  • - Power dioda

  • - Power transistor

  • - Thyristor

Klasifikasi thyristor :

Komponen yang banyak dipakai dalam elektronika daya: - Power dioda - Power transistor - Thyristor Klasifikasi

Unidirectional

PNPN Dioda, SCR, LASCR, PUT, SCS

Bidirectional DIAC, TRIAC

Jenis dan simbol Transistor

Jenis dan simbol Transistor Struktur kerja PNPN I A I I B1 G(N) I I C2
Jenis dan simbol Transistor Struktur kerja PNPN I A I I B1 G(N) I I C2
Struktur kerja PNPN I A I I B1 G(N) I I C2 C1 I B2 I
Struktur kerja PNPN
I A
I
I
B1
G(N)
I
I
C2
C1
I
B2
I
G(P)
I
k

Mekanisme yang dapat menghidupkan piranti PNPN:

1. Tegangan (avalance)

Jika tegangan Anoda >> katoda, terjadi “forward break over” dan piranti akan “on” dengan sendirinya.

2. Laju perubahan tegangan

Jika tegangan forward bias pada piranti naik sangat cepat, arus akan mengalir mengisi C cb dari transistor PNP. Arus ini akan mewakili arus base transistor NPN dan selanjutnya terjadi proses regenerasi untuk meng “On” kan piranti PNPN.

3. Temperatur

Pada temperatur yang tinggi, arus bocor akan menjadi kira-kira 2 kali lipat setiap kenaikan temperatur 8 0 C.

  • 4. Aksi Transistor Dengan memberikan arus pada basis transistor ( inilah kerja normal dari keluarga thyristor kecuali light sensitivity thyristor ).

  • 5. Energi cahaya Cahaya yang masuk ke daerah junction akan menghasilkan.

SCR (silicon controlled rectifier)

Simbol SCR

SCR (silicon controlled rectifier) Simbol SCR Karakteristik yang diharapkan dari SCR 1. Tegangan blocking yang tinggi
SCR (silicon controlled rectifier) Simbol SCR Karakteristik yang diharapkan dari SCR 1. Tegangan blocking yang tinggi

Karakteristik yang diharapkan dari SCR

1. Tegangan blocking yang tinggi

  • 2. Mampu melewatkan arus yang besar

  • 3. di/dt

yang tinggi

  • 4. dv/dt yang tinggi

  • 5. Waktu turn off yang singkat

  • 6. Arus pengendali gate yang rendah

Metoda meng-off-kan SCR:

1. Current Interruption

Dengan cara ini SCR akan mengalami dv/dt yang besar. Umumnya cara ini tidak digunakan.

Metoda meng-off-kan SCR: 1. Current Interruption Dengan cara ini SCR akan mengalami dv/dt yang besar. Umumnya
Metoda meng-off-kan SCR: 1. Current Interruption Dengan cara ini SCR akan mengalami dv/dt yang besar. Umumnya

2. Forced Commutation

Pada dasarnya adalah untuk mengurangi arus SCR menjadi nol , baik dengan cara memindahkan arus beban ke jalan lain yang diinginkan atau dengan cara mengurangi arus beban hingga nol.

Klasifikasi dari metoda ini:

  • - : Komutasi sendiri oleh beban yang beresonansi

Kelas A

  • - : Komutasi sendiri oleh rangkaian LC

Kelas B

  • - : C atau LC yang diswitch oleh SCR pembawa beban yang lain

kelas C

  • - : C atau LC yang diswitch oleh SCR tambahan

Kelas D

  • - : Sumber pulsa, eksternal untuk komutasi

Kelas E

  • - : Komutasi tegangan AC

Kelas F

Kelas A : Komutasi sendiri oleh beban yang beresonansi

Kelas A : Komutasi sendiri oleh beban yang beresonansi Kondisi untuk komutasi yaitu rangkaian RLC harus

Kondisi untuk komutasi yaitu rangkaian RLC harus under-damped

Kelas B : Komutasi sendiri oleh rangkaian LC

Kelas B : Komutasi sendiri oleh rangkaian LC komutasi sendiri oleh rangkaian LC

komutasi sendiri oleh rangkaian LC

Kelas C : C atau LC yang di switch oleh SCR pembawa beban yg lain

Kelas C : C atau LC yang di switch oleh SCR pembawa beban yg lain Rangkaian

Rangkaian kelas C dapat diubah menjadi kelas D jika arus beban yang mengalir hanya melalui 1 SCR sedangkan SCR lain hanya berfungsi untuk meng-off-kan saja. Resistor tambahan mempunyai resistor yang jauh lebih besar dari resistor di SCR utama.

Kelas E :

Sumber pulsa eksternal

untuk komutasi

Kelas E : Sumber pulsa eksternal untuk komutasi Kelas F : Komutasi tegangan AC

Kelas F :

Komutasi tegangan AC

Kelas E : Sumber pulsa eksternal untuk komutasi Kelas F : Komutasi tegangan AC

DIAC

DIAC Simbol -V + I MT2 positif +V MT2 negatif - I Karakteristik V- A -

Simbol

-V

+ I MT2 positif +V MT2 negatif - I
+ I
MT2 positif
+V
MT2 negatif
- I

Karakteristik V- A

  • - Tegangan Breakdown DIAC kira-kira 30 V

  • - Dapat meneruskan arus dalam 2 arah

Simbol
Simbol

TRIAC

+ I Kuadran II Kuadran I MT2 positif -V +V MT2 negatif Kuadran III Kuadran IV
+ I
Kuadran II
Kuadran I
MT2 positif
-V
+V
MT2 negatif
Kuadran III
Kuadran IV

- I

Karakteristik V- A

Triggering mode untuk TRIAC:

1. MT2+, Gate+

; I+ ,

Kuadran I, Arus dan tegangan gate positif

  • 2. MT2+, Gate-

; I- ,

Kuadran I, Arus dan tegangan gate negatif

  • 3. MT2- , Gate+

; III+ ,

Kuadran III, Arus dan tegangan gate positif

  • 4. MT2- , Gate-

; III- ,

Kuadran IV, Arus dan tegangan gate negatif

Mode yang paling sensitif

: 1 dan 4

Mode yang sedang

: 2

Mode yang kurang sensitif

: 3

UJT

simbol

E

B 2 B 1
B
2
B
1
B 2 R BB2 E R BB1 B 1 Rangkaian ekivalen
B 2
R BB2
E
R BB1
B 1
Rangkaian ekivalen
  • I E

UJT simbol E B 2 B 1 B 2 R BB2 E R BB1 B 1
  • I EB1

Karakteristik V - A

IV = valley current ( serupa dengan holding current pada SCR )

Intrinsic stand off ratio

R

BB1

R

BB1

R

BB2

Nilai sekitar 0,5 ~ 0,8 Interbase resistance ( R BB )

4,7 K

9,1 K

Tegangan titik puncak V P = V BB + V D

V Contoh : Rangkaian …hal 31……… .. relaksasi menggunakan UJT BB  1  T 
V
Contoh : Rangkaian …hal 31………
..
relaksasi
menggunakan UJT
BB
1
T
R
C
ln  
untuk V
 
V
1
1
D
BB
1
-
1
R B2
f
R 1
T
1
untuk
0,632
maka
ln
 1
1 -
E
sehingga
T
R
C
1
1
C 1
R S1
V
E
V
P
t
t

Hal 31

Bila diinginkan untuk gelombang segitiga dengan slope linier , maka dapat digunakan sumber arus konstan untuk pengisian kapasitornya.

V E

V

P

1

C

I dt

V

BB

V

D

Bila

1

C

t

0

V

D

I dt



V

BB

, maka

V

BB

I adalah arus searah yang konstan

sehingga

I

c

T

T

c

I

V

BB

V

BB

Hal 32 V BB I R B2 C R B1
Hal 32
V
BB
I
R B2
C
R B1
Contoh pemakaian UJT pada rangkaian pengontrol phase R 1 beban R 2 R 3 R 5
Contoh pemakaian UJT pada rangkaian pengontrol phase
R 1
beban
R 2
R 3
R 5
C
1
R 4

PUT ( programmable uni-junction transistor )

Anoda Gate Katoda
Anoda
Gate
Katoda

Simbol

Jika gate dijaga tetap pada potensial tertentu , PUT akan tetap off sampai tegangan anoda melebihi tegangan gate ditambah drop tegangan diode.

Atau PUT akan tetap off bila

VA

(

VG

+ V Dioda

)

Contoh : rangkaian osilator relaksasi menggunakan PUT

Hal 33

E S R T R 1 V D C T R S R 2
E S
R T
R 1
V
D
C
T
R
S
R 2

Bila tegangan drop pada diode ( VD ) diabaikan , maka PUT akan

konduksi bila :

E

S

Misalkan pada t =T , teg V A = V G

Maka ( 1 - e

-T
-T

RT CT

) ES

 

R

  • 2 E

 

R

1

R

2

e

-T R
-T
R

T

C

T

1 -

 

R

2

 

R

1

R

2

R
R

T

T

 

C

T

ln

R

1

R

1

R

2

T

R

T

C

T

ln

R

1

R

R

1

2

V  V A G atau R 2 V  A R  R 1 2
V
V
A
G
atau
R
2
V
A
R
R
1
2
Contoh lain : +V -V R 4 R 5 R 1 R 3 C R 2
Contoh lain :
+V
-V
R 4
R 5
R 1
R 3
C
R 2

S

Static switching circuit

Dapat dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu :

1. AC switching circuit.

2. DC switching circuit.

A. Static AC switches 1. Rangkaian TRIAC sederhana .

R

2 V -  I GM
2
V
-
I
GM

R

L

R

C

R C

I GM

= Tahanan kontak ( bila ada )

= arus puncak dari gate yang diizinkan.

Beban RL R = 100 R C
Beban
RL
R = 100
R C

V rms

  • 2. Rangkaian SCR Inverse - paralel ( “ back to back “ )

Beban R L 47 Thyrector SCR 2 V rms SCR 1 R R C 47 2
Beban
R L
47
Thyrector
SCR 2
V rms
SCR 1
R
R C
47
2
V
R 
-
R
R
R // R
L
C
47
I
GM

Thyrector adalah komponen untuk memotong tegangan transient ( komponen suppresi )

3. Saklar statis dengan sumber pemicu terpisah.

Beban 0,1 F Untuk beban AC induktif 100  OSC Control input Agar distorsi bentuk gelombang
Beban
0,1 F
Untuk beban
AC
induktif
100 
OSC
Control input
Agar distorsi bentuk gelombang pada beban dan R F I yang terjadi sekecil mungkin , maka

frekuensi oscillator harus cukup tinggi untuk meyakinkan agar TRIAC ataupun SCR di trigger pada awal siklus AC

Beban untuk frek A C f  2 KHz R osc AC R osc
Beban
untuk frek A C
f
2 KHz
R
osc
AC
R
osc

50 - 60 Hz

Beban untuk frek A C f  2 KHz R osc AC R osc 50 -

Control input

Sumber daya dari rangkaian oscillator , bisa diperoleh dari sumber AC

4. Bentuk - bentuk lain untuk full wave AC static switching a ) Rangkaian jembatan +
4. Bentuk - bentuk lain untuk full wave AC static switching
a ) Rangkaian jembatan + SCR
dengan beban AC
Beban
AC
Sinyal
pengontrol
Untuk beban induktif
Beban
b ) Rangkaian jembatan + SCR
dengan beban DC
Sinyal
pengontrol
  • c ) Rangkaian jembatan dengan SCR dan dioda ganda untuk beban AC

  • d ) Rangkaian jembatan dengan SCR dan dioda ganda untuk beban DC

Beban AC Sinyal pengontrol - + Sinyal AC Beban + pengontrol -
Beban
AC
Sinyal
pengontrol
-
+
Sinyal
AC
Beban
+
pengontrol
-

e )

DC triggering untuk TRIAC Beban + AC Sinyal pengontrol -
DC triggering untuk TRIAC
Beban
+
AC
Sinyal
pengontrol
-

Untuk beban induktif

5 ) TRIAC latching tecnique

Bekerja pada mode III dan I- sehingga kurang sensitif

Bekerja pada mode I+ dan III

sehingga sensitif

MT 2 Trigger MT “ on “ 1 S 1 F C 1 “ off ”
MT
2
Trigger
MT
“ on “
1
S
1 F
C
1
“ off ”
470
R 1

AC

beban

MT 2 Trigger MT 1 “ on “ S AC R “ off ” 2 L
MT 2
Trigger
MT 1
“ on “
S
AC
R
“ off ”
2
L
beban
1

6.1 Negative half cycle slaving tecnique

6.1 Negative half cycle slaving tecnique D 1 R 1 Beban + C 1 - R

D

1 R 1 Beban + C 1 - R 2 SCR 1 SCR 2
1
R 1
Beban
+
C
1
-
R 2
SCR 1
SCR 2

SCR

1

sebagai master

Pada cycle positif :

ketika SCR 1 ditrigger SCR 1 on , C 1 diisi melalui dioda D 1 dan resistor R 1

Pada cycle negatif :

C 1 discharge melalui R 2 dan gate SCR 2 sehingga SCR 2 konduksi

SCR

2

sebagai slave

  • 6.2 SCR slaving and zero voltage switching

beban - L 0,1 H R 20 ohm + SCR 2 slave SCR 1 SCR 3
beban
-
L
0,1 H
R
20 ohm
+
SCR 2
slave
SCR 1
SCR 3
S
master
+
10 K
-

Random

“open”

signal

Mula - mula S tertutup

Mula - mula S tertutup Pada cycle + SCR on , SCR off Pada cycle -

Pada cycle

+

SCR 3 on , SCR 1 off

Pada cycle

-

SCR 3 off , SCR 1 off

Jika tegangan pengontrol tidak ada, SCR 3 akan off, SCR 1 akan “ on “ bila anoda nya mendapat tegangan positif dan SCR 2 akan “ on “ pada 1/2 cycle berikutnya akibat di trigger oleh energi yang tersimpan di L. Jadi arus mengalir pada beban pada seluruh cycle.

Jika diberikan tegangan pengontrol, SCR 3 akan “ on “ ( pada saat tegangan anoda > tegangan katodanya), mengakibatkan SCR 1 off, sehingga pada beban tidak mengalir arus .

Rangkaian ini juga memberikan “ zero voltage switching “

7. DC static switch ( SCR flip - flop )

+ beban C - + SCR 1 SCR 2 on
+
beban
C
-
+
SCR 1
SCR 2
on

off

8. UJT / SCR time delay

+ 28 V R 5 R 1 External load R 3 - R 2 18 V
+
28 V
R 5
R 1
External load
R
3
-
R 2
18 V
SCR 1
SCR 1 mula - mula off
C 1
R
4
GND

R s untuk memberikan holding current yang cukup. (R 1 + R 2 ), C menentukan lamanya delay

9. Mercury thermostart / SCR heater control

heater
heater
SCR
SCR
9. Mercury thermostart / SCR heater control heater SCR 0,1 F 570 K Jika open ,
0,1 F 570 K Jika open , heater
0,1 F
570 K
Jika open , heater
9. Mercury thermostart / SCR heater control heater SCR 0,1 F 570 K Jika open ,

120 V

9. Mercury thermostart / SCR heater control heater SCR 0,1 F 570 K Jika open ,

“ on “

jika closed , heater “ off “

Contoh :

Load
Load

( untuk beban induktif )

BASIC DIAC - TRIAC PHASE CONTROL

Load
Load

BASIC STATIC SWITCH

Zero voltage switching

Untuk menghindarkan adanya RFI pada saat SCR / TRIAC konduksi , maka diharapkan SCR / TRIAC konduksi pada saat tegangan AC masih rendah ( sekitar zero atau pada saat tegangan sesaat kurang dari 5 volt ).

q
q
Zero voltage switching Untuk menghindarkan adanya RFI pada saat SCR / TRIAC konduksi , maka diharapkan

Tegangan rms 24 V 115 V 220 V

Zero voltage switching Untuk menghindarkan adanya RFI pada saat SCR / TRIAC konduksi , maka diharapkan

8, 47 0 1,76 0 0,92 0

1. Basic switching circuit

beban D D 1 3 R 3 R 1 R 4 120 V SCR R 5
beban
D
D
1
3
R 3
R 1
R 4
120 V
SCR
R 5
R 2
10 K
47 K
S
C
D
Q 1
2
+

Prinsip kerja :

Jika Q 1 cut off dan anoda SCR positif

Jika Q 1 konduksi

1. Basic switching circuit beban D D 1 3 R 3 R 1 R 4 120

SCR off

1. Basic switching circuit beban D D 1 3 R 3 R 1 R 4 120

SCR on.

Half wave zero voltage switching circuit

Tegangan jala - jala

Half wave zero voltage switching circuit Tegangan jala - jala Tegangan pada beban S dibuka sembarang
Half wave zero voltage switching circuit Tegangan jala - jala Tegangan pada beban S dibuka sembarang
Half wave zero voltage switching circuit Tegangan jala - jala Tegangan pada beban S dibuka sembarang

Tegangan pada beban

Half wave zero voltage switching circuit Tegangan jala - jala Tegangan pada beban S dibuka sembarang
Half wave zero voltage switching circuit Tegangan jala - jala Tegangan pada beban S dibuka sembarang
 
Half wave zero voltage switching circuit Tegangan jala - jala Tegangan pada beban S dibuka sembarang
 

S dibuka sembarang

S ditutup sembarang

Pada saat S open dan jala - jala pada siklus negatif, C diisi terutama melalui R 1 dan D 1 . Pada saat tegangan jala - jala turun dari puncak negatifnya, C akan discharge melalui D 2 dan R 2 , sehingga Q 1 cut off.

Hal ini menyebabkan SCR bisa on bila anoda nya positip R4 dipilih agar SCR bisa konduksi pada tegangan 3 - 5 volt

R

4

3 V

I

gate

( misal

R

4

3 V

200

A

15 K

R 3 dipilih agar mampu memberikan arus base yang cukup pada saat Q 1 konduksi

misal

R 3

=

15 X

R 4

220 K

R 2 dipilih < R 3

misal

R 2 = 47 K

Time constant R 2 C 1 dipilih agar masih dapat memberikan bias negatif pada base Q 1

pada waktu cycle positif dari jala - jala .

R5 sebagai pembatas arus discharge dari C jika S ditutup.

Untuk kerja full wave, dapat digunakan slaving technique

beban D 1 D 3 R 3 R 4 R 1 120 V SCR R 5
beban
D
1
D
3
R 3
R 4
R 1
120 V
SCR
R 5
R 2
10 K
47 K
S
C
D
Q 1
2
+

2. TRIAC Zero Voltage Switching Circuit

+ 1k2 C R 1 1 3 F 10 w D 2 150  R 2
+
1k2
C
R 1
1
3 F
10 w
D
2
150 
R 2
2 w
D
D
1
3
C
SCR
1 F/200 v
2
beban
1k 
1k 
R 4
R 3
1w

Jika SCR konduksi

Jika SCR konduksi TRIAC off Bila sebelumnya TRIAC sedang on , TRIAC akan off pada saat

TRIAC off

Bila sebelumnya TRIAC sedang on , TRIAC akan off pada saat start cycle berikutnya

Jika SCR off

Jika SCR konduksi TRIAC off Bila sebelumnya TRIAC sedang on , TRIAC akan off pada saat

TRIAC akan konduksi pada cycle positif. Arus trigger

melalui

R 1 , C 1 , R 2 , D 1 , D 2 .

Bila TRIAC konduksi C 2 akan diisi muatan pada C 2 ini akan mentrigger TRIAC pada cycle negatiif , sehingga pada beban terdapat tegangan full cycle.

Jika SCR konduksi TRIAC off Bila sebelumnya TRIAC sedang on , TRIAC akan off pada saat

Kekurangan rangkaian ini ialah TRIAC baru akan konduksi pada tegangan yang lebih tinggi

dari 5 V

(

10 - 15 volt )

Perbaikan rangkaian sebelumnya :

10 k R 1 1 k beban 1 k + 1F
10 k
R 1
1 k
beban
1 k
+
1F

Untuk mencegah agar C tidak dimuati

arah negatif

Vm

I

GT

. R

1

4 . V

D

(

200

A ) ( 10 K )

( 4 ) ( 0,6 V )

4,4 volt

Phase control

Phase control Sequence control Sequence control digunakan untuk pemberian daya pada sistem dengan konstanta waktu yang

Sequence control

Phase control Sequence control Sequence control digunakan untuk pemberian daya pada sistem dengan konstanta waktu yang
Phase control Sequence control Sequence control digunakan untuk pemberian daya pada sistem dengan konstanta waktu yang

Sequence control digunakan untuk pemberian daya pada sistem dengan konstanta waktu yang besar (misalnya pada pengontrolan temperatur).

AC Phase Control

Pemakaian - Pengontrolan daya rata-rata ke beban seperti lampu, heater,

motor, supply DC dan lain-lain.

Bentuk-bentuk :

1 Phase 3 Phase
1 Phase
3 Phase
A. Satu phase 1. Kontrol 1/2 gelombang yang dikontrol
A. Satu phase
1.
Kontrol
1/2 gelombang yang dikontrol

Tegangan pada beban

E
E

= Sudut triggering

2. Kontrol 1/2 gel. yang dikontrol + 1/2 gel. tetap
2.
Kontrol
1/2 gel. yang dikontrol + 1/2 gel. tetap
2. Kontrol 1/2 gel. yang dikontrol + 1/2 gel. tetap 3. Kontrol Kontrol 1 gelombang yang
3. Kontrol Kontrol 1 gelombang yang dikontrol
3.
Kontrol
Kontrol
1 gelombang yang dikontrol
2. Kontrol 1/2 gel. yang dikontrol + 1/2 gel. tetap 3. Kontrol Kontrol 1 gelombang yang

4.

Kontrol
Kontrol

1 gelombang yang dikontrol

4. Kontrol Mempunyai keuntungan dalam pengontrolan karena common cathode 5. Kontrol 1 gelombang yang dikontrol -

Mempunyai keuntungan dalam pengontrolan karena common cathode

5. Kontrol
5.
Kontrol

1 gelombang yang dikontrol

4. Kontrol Mempunyai keuntungan dalam pengontrolan karena common cathode 5. Kontrol 1 gelombang yang dikontrol -
  • - Paling flexible

  • - Kurang efektif karena adanya

tegangan drop pada dioda

Kontrol
Kontrol

1 gelombang yang dikontrol

Kontrol 1 gelombang yang dikontrol - Sederhana - Paling efektif - Andal
  • - Sederhana

  • - Paling efektif

  • - Andal

B. Tiga phase

B. Tiga phase Vd Dapat menggunakan transformator ataupun tidak

Vd

Dapat menggunakan transformator ataupun tidak

Phase control pada beban resistif

Phase control pada beban resistif Tegangan Sumber Tegangan Pada SCR Tegangan Pada beban Arus beban
Tegangan Sumber Tegangan Pada SCR Tegangan Pada beban Arus beban
Tegangan
Sumber
Tegangan
Pada SCR
Tegangan
Pada beban
Arus
beban

Phase control pada beban induktif

Phase control pada beban induktif
Phase control pada beban induktif

Contoh Phase control Untuk ½ gelombang

Contoh Phase control

Untuk 1 gelombang

Contoh Phase control Untuk ½ gelombang Contoh Phase control Untuk 1 gelombang Rangkaian snubber
Rangkaian snubber
Rangkaian
snubber
Penggunaan Phase Control pada pengendalian motor - Kebanyakan motor AC yang dikontrol kecepatan putarnya menggunakan “phase

Penggunaan Phase Control pada pengendalian motor

  • - Kebanyakan motor AC yang dikontrol kecepatan putarnya menggunakan “phase control” karena sederhana dan relatif murah.

  • - Morot-motor pada umumnya tidak dirancang untuk kerja seperti ini. Rating motor didasarkan pada operasi dengan kecepatan tertentu dan berdasarkan kecepatan ini, coolingnya dirancang. Maka bila motor dioperasikan pada kecepatan rendah, motor akan menjadi cepat panas dan ini menjadi masalah.

  • - Dengan phase control akan timbul tegangan harmonis. Adanya harmonis ganjil dapat menghasilkan effek samping pada motor induksi.

Pengendalian Motor Universal - Half wave V2 V1 Universal motor
Pengendalian Motor Universal - Half wave
V2
V1
Universal
motor

Pengendalian Motor Universal - Full wave

CR2 CR3 ARMATURE CR4 CR5
CR2
CR3
ARMATURE
CR4
CR5
Pengendalian Motor Induksi R CR3 CR4 1 R 2 R 3 CR5 CR6 R 4 R
Pengendalian Motor Induksi
R
CR3
CR4
1
R 2
R 3
CR5
CR6
R 4
R 6
C
1
TRIAC
CR1
CR2
DIAC
DC
C
2
CONTROL
R
5

ARMATURE

ADJ. Ref Set PT Zero Power Heater crossing Switch detector Compara tor AC Power Supply Modulation
ADJ. Ref Set PT Zero Power Heater crossing Switch detector Compara tor AC Power Supply Modulation
ADJ. Ref
Set PT
Zero
Power
Heater
crossing
Switch
detector
Compara
tor
AC Power
Supply
Modulation
generator
Power
Cooler
Switch
Temp.
Chamber
Sensor
Losses

Pengendalian Dengan Phase Control System

COOLING OR

HEATER LOAD

22K 1W TEMP SET 120 V 60 Hz AC SUPPLY TRIAC 25 K 2K2 2N4992 ST2
22K
1W
TEMP
SET
120 V
60 Hz
AC SUPPLY
TRIAC
25 K
2K2
2N4992
ST2
10 K
0,1 F

Pengendalian Dengan Zero Voltage Switching System (IC)

Functional Diagram Of GEL 300

R 1 Zero INHIBIT Crossing CURRENT R Detector 5 Q 1 Q 2 R D 2
R
1
Zero
INHIBIT
Crossing
CURRENT
R
Detector
5
Q 1
Q 2
R
D
2
1
INPUT
OUTPUT
SECTION
POWER SUPPLY AND
ZERO CROSSING DETECTOR

Pengendalian Dengan Zero Voltage Switching System

R A + 8 8 C S 13 9 10 11 100 mF 120 VAC 15V
R A
+
8
8
C
S
13
9
10
11
100 mF
120 VAC
15V
60 Hz
(240 VAC)
2
5
R B
R S
10K, 2W

RESISTANCE

LOAD

SCR + SCR C 1 Beban R 3 CR2
SCR + SCR C 1 Beban R 3 CR2

SCR 1

+

SCR 1

SCR + SCR C 1 Beban R 3 CR2

C

1

Beban
Beban

R 3

CR2
CR2
SCR + SCR C 1 Beban R 3 CR2

Cycloconverter

Mengubah frekuensi daya AC menggunakan SCR dimana komutasinya adalah tegangan AC sendiri

Input Output Output setelah difilter
Input
Output
Output
setelah
difilter
Cycloconverter Mengubah frekuensi daya AC menggunakan SCR dimana komutasinya adalah tegangan AC sendiri Input Output Output
Cycloconverter Mengubah frekuensi daya AC menggunakan SCR dimana komutasinya adalah tegangan AC sendiri Input Output Output
Cycloconverter Mengubah frekuensi daya AC menggunakan SCR dimana komutasinya adalah tegangan AC sendiri Input Output Output

Contoh pemakaian: untuk mendrive motor induksi atau motor sinkron dimana diperlukan tegangan yang frekuensi dan amplitudonya dapat diubah.

Contoh cycloconverter 3 phase 1 phase

Contoh cycloconverter 3 phase

Contoh cycloconverter 3 phase 1 phase

1 phase

Contoh cycloconverter 3 phase 1 phase
  • V R

1 cycle
1 cycle
V R 1 cycle g1 g2 g3 g1 g4 g5 g6 g4 g1 g2 g3 g1
V R 1 cycle g1 g2 g3 g1 g4 g5 g6 g4 g1 g2 g3 g1
g1 g2 g3 g1 g4 g5 g6 g4 g1 g2 g3 g1 g4 g5
g1 g2
g3 g1 g4 g5
g6 g4 g1 g2 g3 g1 g4
g5

Jika rangkaian di trigger seperti Gb di atas dan inputnya dari sistem 3 Phase 60 Hz , bisa diperoleh output dgn frekuensi 20 Hz 1 Phase

Contoh : Cycloconventer 3 Phase Generator 3 Phase
Contoh : Cycloconventer 3 Phase
Generator 3 Phase

Beban 3 Phase

  • DC Converter

  • DC Converter : Mengubah tegangan DC menjadi tegangan DC kembali dengan level

tegangan yang berbeda ( lebih rendah atau lebih tinggi dari tegangan sumber )

  • DC Converter dibagi menjadi

DC Converter DC Converter : Mengubah tegangan DC menjadi tegangan DC kembali dengan level tegangan yang

Direct

Dengan AC Link

a ) Direct

 
  • - Bila selisih level tegangan DC antara input dan output tidak terlalu besar

.

  • - Bila antara tegangan input dan output tidak memerlukan isolasi .

b ) Menggunakan Ac Link - Bila selisih level tegangan Dc antara input dan output cukup besar . - Bila antara tegangan input dan output memerlukan isolasi. Inverter : Me ngubah sinyal DC ke AC

Prinsip dasar

b ) Menggunakan Ac Link - Bila selisih level tegangan Dc antara input dan output cukup

Switch S1 da S2 bekerja secara bergantian .

b ) Menggunakan Ac Link - Bila selisih level tegangan Dc antara input dan output cukup

Salah satu contoh realisasi sbb :

1 2
1
2

Cara kerja :

misalkan mula - mula ke dua SCR sedang off .

  • A) Bila SCR di trigger on , arus mengalir dari ( + ) baterai

 
kumparan L1

kumparan L1

A) Bila SCR di trigger on , arus mengalir dari ( + ) baterai kumparan L1

D1

A) Bila SCR di trigger on , arus mengalir dari ( + ) baterai kumparan L1

SCR 1

SCR 1 ke (-) baterai.

ke (-) baterai.

Sebagian arus mengalir dari (+) baterai

Sebagian arus mengalir dari (+) baterai kumparan L2 D2

kumparan L2

Sebagian arus mengalir dari (+) baterai kumparan L2 D2

D2

Sebagian arus mengalir dari (+) baterai kumparan L2 D2

mengisi C

SCR1

SCR1

ke (-) baterai. Arus ini mengalir hanya sampai C

ke (-) baterai. Arus ini mengalir hanya sampai C

penuh. Sehingga node

2
2

lebih positif dari

1
1

.

  • B) Bila kemudian SCR 2 ditrigger , SCR 2 akan On dan muatan pada C akan memberikan tegangan reverse pada SCR 1 sehingga SCR1 Off. C diisi oleh arus yang melalui D1 sehingga sekarang polaritas nya di node lebih positif dari

2
2

.

1
1
  • C) Bila SCR 1 dan SCR 2 di trigger secara bergantian maka pada L1 dan L2 akan mengalir arus pula secara bergantian , sehingga pada output akan dihasilkan tegangan bolak balik. Jika pada output diberikan (hal 46)………. Maka akan menjadi DC Converter

.

DC Chopper : Single ended inverter untuk mengubah DC ke DC . Dalam beberapa rangkaian elektronik , ada kalanya daya harus ditrarnsfer dari sumber tegangan tinggi E S ke beban dc tegangan rendah ( E O )

R + I E S E O
R
+
I
E S
E O

Transfer daya tidak efisien karena kerugian I 2. R besar

+

( kecuali bila E S

E O )

Maka R diganti dengan L

L S +
L
S
+
E O
E O

E S

E S

( E S - E O ) S + i E O
( E S -
E O )
S
+
i
E O

+

Transfer daya dilakukan dengan menutup dan membuka switch S

Bila S ditutup , maka arus i :

i

Es

-

Eo

t

 

(t)

L

+

Bila S ditutup , maka energi yang tersimpan di L akan di disipasikan sebagai

bunga api

bunga api kerugian

kerugian

e L = E O S - + E S E O
e L = E O
S
-
+
E S
E O

+

Ia E s - E O - E O Ta Tb
Ia
E s - E O
- E O
Ta
Tb

E dan I dalam induktor

Ta = Selang waktu switch S ditutup Tb = Selang waktu L membuang energi ketika S dibuka. Kerja dari switch S pada prakteknya digantikan oleh SCR atau GTO

Dengan mempercepat waktu on dan off switch , maka diperoleh arus -arus sbb :

Ia Ia  Ib Io  2 Ib Arus pada beban Ta Tb t T Ia
Ia
Ia  Ib
Io 
2
Ib
Arus pada beban
Ta
Tb
t
T
Ia
Ib
Arus yang diambil
dari sumber
t
Arus yang mengalir
pada dioda
t

Arus rata - rata yang diambil dari sumber Is selama 1 cycle :

Is Io

Ta

T

atau

Is

Io.f.Ta

Jika dianggap tidak ada kerugian daya , maka :

E s . Is Eo  Eo . Io Es . Is  E o 
E s . Is
Eo
Eo . Io
Es . Is
E o
Io
Es . f. Ta
L
E S
I
R O
O

Jika chopper mensupply beban Ro :

berlaku pula persamaan 2 :

I S = Io . f . Ta Eo = E S .f . Ta

R o

R o

Es

 

Is

Eo

 

Io

Es . f . T a

Is f T a .
Is
f T a
.
 

Ro

f

2

. T a

2

Es

Is

f

2

. T a

2

Jika beban yang tampak oleh sumber adalah RS , maka :

Rs

Es

Is

Ro

f

2

. Ta

2

Contoh : chopper bekerja pada frekuensi 30 Hz dan waktu “ on “ 200 s . Hitung resistansi yang tampak oleh sumber , jika Ro = 36 m.

Jawab :

Rs

contoh soal :

Ro

f

2

. Ta

2

0,036

(30 x 200 x 10

2

)

1000

Diinginkan mengisi baterai 120 V dari sumber dc 600 V menggunakan chopper . Arus pengisian baterai rata 2 harus 20 A dengan ripple 2 Ap-p Jika waktu “ on “ ditetapkan 1 ms , hitunglah :

  • a) arus dc yang diambil dari sumber.

  • b) arus dc pada diode

  • c) frekuensi chopper

  • d) nilai L

jawab :

L Io + + Is 120 V 600 Id - a) Daya yang diberikan ke baterai
L
Io
+
+
Is
120 V
600
Id
-
a)
Daya yang diberikan ke baterai :
I beban 21 20 A 19 t
I beban
21
20 A
19
t

P = 120 X 20 = 2400 watt jika tidak ada kerugian2 , maka daya yang diberikan oleh sumber adalah :

2400 watt.

Maka :

Is

  • 2400 4 A

600

  • b) Id = Io - Is = 20 - 4 = 16 A

  • c) Eo = Es .f .Ta Sehingga perioda T = 5 ms dan Tb = 5 - 1 = 4 ms

  • d) Selama interval waktu Ta , tegangan pada L = 600 - 120 = 480 V Perubahan arus ( ripple ) = 2 A maka

b) Id = Io - Is = 20 - 4 = 16 A c) Eo =

f

Eo

Es . Ta

120

  • 3 200 Hz

  • 600. 10

  • 480

L .

i

  • di L

L

dt

t

2

  • 10 -3

L

  • 480 . 10

-3

2

H

240 mH

Pengontrolan Motor
Pengontrolan Motor

motor DC

Pengontrolan motor

Pengontrolan Motor motor DC Pengontrolan motor motor AC Motor DC Motor listrik dapat dikemudikan agar berfungsi

motor AC

Motor DC Motor listrik dapat dikemudikan agar berfungsi pada berbagai torque dan kecepatan ,

baik arah forward maupun reverse .

+

Pengendalian dapat beroperasi pada kuadran 2 :

 

motor

Generator atau rem Kuadran 2

 

Kuadran 1

 

-

 

+

Kuadran 3 motor

Kuadran 4 Generator atau rem

 

-

Contoh : pada lokomotif listrik , motor dapat berputar CW atau CCW dan torque dapat searah atau berlawanan arah putaran . Dengan perkataan lain , kecepatan dan torque bisa positif maupun negatif.

Bila

berfungsi sebagai motor berarti memberikan daya mekanik ke beban.

Bila

berfungsi sebagai generator atau rem ( brake ) berarti menyerap daya mekanik dari beban.

Kurva tipikal kecepatan vs torque

+ generator 1 rem motor 2 - + 3 4 rem motor - generator
+
generator
1
rem
motor
2
-
+
3
4
rem
motor
-
generator

n

Motor induksi sangkar bajing

rem + 2 1 generator n motor - + motor 4 3 generator
rem
+
2
1
generator
n
motor
-
+
motor
4
3
generator

-

rem

Motor DC

Pengontrolan kecepatan kuadran 1 misal : motor shunt medan eksitasi dibuat tetap ( fixed ) dan kecepatan diatur dengan mengatur tegangan jangkar.

limit setting arus max kec max
limit setting
arus max
kec max

SP arus

  • Gate triggering

limit setting arus max kec max SP arus Gate triggering Sp kecepatan processor Arus jangkar kecepatan

Sp kecepatan

  • processor

limit setting arus max kec max SP arus Gate triggering Sp kecepatan processor Arus jangkar kecepatan

Arus jangkar

kecepatan

limit setting arus max kec max SP arus Gate triggering Sp kecepatan processor Arus jangkar kecepatan

Input dari

hasil pengukuran

 - - - - - - - - G 1 G 2 G 3 G
 - - - - - - - - G 1
G 2
G 3
G 4
G 5
G 6
+
G 1
Ra
G 3
G 5
3 phase
I
f
1
La
2
Ed
3
+
E O
G 2
G 4
G 6
3 phase 6 pulse converter

1,414 E

1,225 E

pentriggeran Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 5 Q 6 Q 1 Q
pentriggeran
Q 1
Q 2
Q 3
Q 4
Q 5
Q 6
Q 1
Q 5 ,Q 6
Q 6 ,Q 1
Q 1 ,Q 2
Q 2 ,Q 3
Q 3 ,Q 4
Q 4 ,Q 5
Q 5 ,Q 6
kondisi
E
E 32
E 13
E 23
E 21
12
E 31
E 32
0
60
120
180
240
300
360
420
480
540

Ed = 1,35 E cos

Ed = Tegangan DC yang dihasilkan oleh converter 3 phase , 6 pulse.

E

= Tegangan efektif jala - jala.

= Sudut triggering.

Gambar diatas untuk = 0 , sehingga Ed = 1,35 E

Keuntungan pengaturan dengan SCR seperti gambar diatas :

Tidak memerlukan tahanan jangkar sehingga tidak ada kerugian I 2 R.

Daya yang hilang pada SCR relatif kecil.

Contoh :

DC motor 750 HP , 250 V , 1200 rpm dihubungkan dengan jala 2 3, 208 V , 60 Hz menggunakan converter bridge 3 phase arus jangkar pada beban penuh , 2500 A . Tahanan jangkar 4 m.

Ditanya :

  • a) Sudut triggering pada kondisi beban penuh .

  • b) Sudut triggering agar motor berputar 600 rpm pada keadaan tanpa beban.

  • c) Sudut triggering agar motor menghasilkan torque ratingnya pada 400 rpm.

  • d) Daya reaktif yang diambil pada soal c .

Jawab : 750 HP = 560 KW

  • a) Ed

= 1,35 E cos

250 = 1,35 X 208 X cos  4 m  = 27 0 3 
250
= 1,35 X 208 X cos 
4 m
=
27 0
3 
 = 27
I
2500 A
f
Ed = 250
+
208 V
60 Hz
-
b) Drop tag pada jangkar pada saat full load = 2500 A X 0,004  = 10 Volt
 E 0 =
250 - 10 = 240 Volt.
Pada 600 rpm :
E 0 =
240 X ( 600 / 1200 ) = 120 Volt.

Drop tegangan tanpa beban diabaikan .

Maka perhitungan sudut triggeringnya : I  0 Ed = 1,35 E cos  3 
Maka perhitungan sudut triggeringnya :
I  0
Ed
= 1,35 E cos 
3 
120
cos 
= 1,35 X 208 cos 
= 0,427
= 64, 7 0
 = 64,7 0
120 V
208 V
I
f
60 Hz

c ) Untuk menghasilkan torque pada ratingnya , maka arus jangkar harus 2500 A. =

E 0 drop pada jangkar IR

=

( 400 / 1200 ) X 240 2500 X 0,004 = 10 volt

=

80 Volt

sehingga sudut triggering :

Ed

=

80 + 10

=

90 volt

Ed

=

1,35 . E cos

  • 90 =

1,35 X 208 cos 71 0

=

d ) Daya yang diserap oleh motor :

P

= Ed . Ed = 90 X 2500 = 225 KW

Bila kerugian 2 pada converter diabaikan , maka daya rata 2 yang diserap

dari sumber juga 225 KW.

Daya reaktif yang diserap dari sumber :

=

P tan 225000 tan 71 0 var

= = 653 kvar makin besar , makin besar . Bandingkan P dan . Maka biasanya converter ………Hal 61…… berfungsi pada   15 0

Pengontrolan 2 kuadran :

1. Menggunakan pembalikan medan .

  • 2. Menggunakan pembalikan jangkar.

  • 3. Menggunakan 2 converter.

  • 4. Menggunakan 2 converter dengan arus sirkulasi

Ad.1

Menggunakan pembalikan medan.

Pada pengaturan kecepatan motor dari kecepatan tinggi ke kecepatan

rendah dapat dilakukan dengan menurunkan tegangan dan membiarkan - Motor menjadi perlahan dengan sendirinya .

Cara ini lambat dan dalam aplikasinya mungkin kurang memenuhi syarat ( seperti pada pengontrolan 1 kwadran).

Pengontrolan 2 kuadran : 1. Menggunakan pembalikan medan . 2. Menggunakan pembalikan jangkar. 3. Menggunakan 2

Untuk mempercepat pengaturan dapat dilakukan antara lain dengan :

  • - Pengereman dinamis menggunakan resistor eksternal .

  • - Pengeraman regeneratif yaitu dengan membuat agar converter beroperasi

sebagai inverter , mengumpan balikan daya ke saluran 3 phase .

Cara ini lebih disukai karena energi kinetik tidak hilang dan pula keluaran

generator dapat di kontrol dengan lebih baik untuk memperoleh laju

perubahan kecepatan seperti yang dikehendaki.

Id Id converter + + + +  Ed Ed Eo Eo I I f f
Id
Id
converter
+
+
+
+
Ed
Ed
Eo
Eo
I I
f f
- -
- -
+ - - + Ed Ed  Eo Eo I I f f converter + -
+ -
-
+
Ed
Ed
Eo
Eo
I I
f f
converter
+ -
-
+

Agar supaya converter berlaku sebagai inverter , polaritas Ed harus dibalik .

Hal ini berarti polaritas E 0 harus dibalik. Selanjutnya Ed harus diatur agar sedikit

lebih kecil dari E 0 untuk mendapatkan arus pengereman yang dikendaki.

Polaritas Ed dapat diubah dalam sesaat dengan memperlambat pulsa 2 gate sebesar

lebih dari 90 0 .

Untuk mengubah polaritas E 0 dapat dilakukan dengan membalik medan ataupun jangkar .

( Perlu peralatan tambahan ).

Pembalikan juga memerlukan waktu .

Setelah phase generator selesai , kita harus membalik kan lagi medan ataupun jangkar

sehingga mesin bekerja sebagai motor kembali .

Langkah 2 pada pembalikan medan.

Step 1:

Perlambat pulsa 2 gate mendekati 180 0 sehingga Ed menjadi cukup besar

dan negatif . Setelah beberapa milisecond , arus Id menjadi nol.

Step 2:

Balikan arus medan secepat mungkin sedemikian agar polaritas E 0

membalik. Total waktu pembalikan dapat mencapai 1 - 2 detik , disebabkan

induktansi medan shunt yang besar . Arus jangkar selama interval ini tetap nol .

Step 3 : Kurangi

sehingga Ed menjadi sedikit lebih kecil dari E 0 agar mengalir

arus jangkar . Motor sekarang bekerja sebagai generator , memberikan daya

balik ke jala 2 . Kecepatan motor berkurang secara cepat menuju setting yang

lebih rendah.

Setelah kecepatan yang lebih rendah dicapai , kita harus segera mengatur lagi agar

mesin DC bekerja sebagai motor .

Step 4 :

Perlambat pulsa 2 gate mendekati 180 0 sehinggga Ed menjadi cukup besar

dan negatif . Setelah beberapa milisecond , arus Id menjadi nol lagi.

Step 5 :

Balikan arus medan secepat mungkin sedemikian agar E 0 positif .

Total waktu pembalikan juga dapat mencapai 1 - 2 detik . Selama interval

ini arus jangkar nol .

Step 6 :

Kurangi sehingga Ed menjadi positif dan sedikit lebih besar dari E 0 agar

arus jangkar mengalir . Sekarang mesin berlaku sebagai motor dan converter

kembali sebagai rectifier.

Ad 2. Menggunakan pembalikan jangkar : -  Eo I Ed - f + 3 3
Ad 2. Menggunakan pembalikan jangkar :
-
Eo
I
Ed
-
f
+
3
3
+
converter

Dalam beberapa pemakaian di industri , delay waktu yang lama seperti pada

pembalikan medan tidak dapat diterima maka digunakan cara

Ad 2. Menggunakan pembalikan jangkar : -  Eo I Ed - f + 3 3

pembalikan jangkar .

Hal ini memerlukan switch pembalik berkecepatan tinggi dan mampu

untuk arus besar . Sistem pengontrolan diatur agar switching terjadi hanya jika

arus jangkar nol ( untuk mengurangi ke ausan dan terjadinya bunga api ).

Karena induktansi jangkar yang rendah , maka jangkar dapat dibalik dalam

waktu kira 2 150 ms .

Untuk mengurangi kecepatan motor , langkah 2 nya seperti pada pembalikan

medan ( hanya saja yang dibalik bukan medan melainkan jangkar ).

Ad 3. Menggunakan 2 konverter .

Jika pengontrolan kecepatan perlu lebih cepat lagi , dapat digunakan 2 konverter

identik yang dihubungkan secara paralel terbalik .

Kedua konveter dihubungkan pada jangkar tetapi pada satu saat hanya 1 yang

bekerja , baik sebagai rectifier ataupun inverter.

Konverter yang sedang stand by siap mengambil alih bilamana daya ke jangkar

perlu dibalik . Jadi tidak perlu membalik jangkar ataupun medan .

Trafo

3

 1  2 L I d + E 0 I f -
 1
 2
L
I
d
+
E 0
I
f
-

Converter 1

Converter 2

Waktu yang ditentukan untuk pindah dari satu converter ke yang lain sekitar 10 ms.

Mengingat satu converter selalu siap mengambil alih terhadap yag lain , maka

tegangan 2 nya hampir mendekati tegangan jangkar baik nilai nya maupun

polaritasnya.

L  1 I I d1 d2 I d1  2 R + + a E
L
 1
I
I
d1
d2
I
d1
 2
R
+
+
a
E d1
E d2
E 0
105 V
105 V
100 V
I
f
Converter 1
Converter 2

Converter 1 yang

sedang bekerja

2

Untuk mengurangi kecepatan , pulsa

gate 1 di delay dan segera setelah arus jangkar

2

menjadi nol , rangkaian pengontrol tidak memberikan pulsa

ke konverter 1 dan bersamaan

dengan itu memberikan pulsa ke konverter 2 .

Converter 1 menjadi tidak aktif dan delay sdt 2 dikurangi sehinggga E d2 menjadi

lebih kecil sedikit dari E 0 . Dan arus reserve I d2 dapat mengalir . Arus ini membalik

torque dan kecepatan motor berkurang dengan cepat

L  1 I d2 I d2  2 R + + a E d1 E
L
 1
I
d2
I
d2
 2
R
+
+
a
E d1
E d2
E 0
95V
100V
95 V
I
f
Converter 1
Converter 2

Converter 2 yang

sedang bekerja

Selama perlambatan , 2 diubah secara otomatis sehingga E d2 mengikuti kecepatan

berkurangnya tegangan E 0 .

Dalam beberapa hal 2 diatur untuk menjaga agar arus pengereman konstant .

Selama periode ini , rangkaian pengontrol terus menghasilkan pulsa 2 untuk konverter

1 dan sudut delay 1 mengawasi ( traching ) 2 sehingga E d1 akan sama dengan E d2 .

Ad 4. Menggunakan 2 konverter dengan arus sirkulasi

Digunakan bila diperlukan pengontrolan kecepatan dan torque yang presisi hingga

ke kecepatan nol Berarti tegangan converter suatu saat mungkin

mendekati nol

Selama perlambatan ,  diubah secara otomatis sehingga E mengikuti kecepatan berkurangnya tegangan E . Dalam

arus konverter bisa tidak kontinu

Selama perlambatan ,  diubah secara otomatis sehingga E mengikuti kecepatan berkurangnya tegangan E . Dalam

sehinggga

pada kecepatan rendah , kecepatan serta torque bisa tidak teratur .

Untuk mengatasi ini digunakan 2 konverter yang bekerja secara simultan..

B C A 7 3 3  2 8 1 L 9 1 + I I
B
C
A
7
3
3 
2
8
1
L
9
1
+
I
I
d1
L
d2
E
E
d2 d2
I = I d1 - I d2
R a
+
E d1
I
P 1
E 0
f
-
P 2
Q 1
L
Q 2
Converter 1
Converter 2
2

Jika satu converter berfungsi sebagai rectifier , maka yang lain berfungsi sebagai

inverter , dan sebaliknya .

Dengan bekerjanya 2 konverter secara kontinue , maka tidak ada delay sama sekali

dalam

switching dari yang satu ke yang lain .

Contoh untuk gambar diatas :

Dik ; Motor DC mempunyai tegangan jangkar 450 V sambil menarik arus 1500 A.

Converter 1 memberikan arus I d1 = 1800 A

converter 2 menyerap arus I d2 = 300 A

Tegangan AC untuk masing 2 converter 360 V .

Hitung :

  • a) Daya dc pada converter 1 dan 2

  • b) Daya yang diambil dari jala 2

3

  • c) Sudut triggering 1 dan

2 .

.

  • d) Daya reaktif yang diambil dari jala 2 3

Electronics Power Converter
Electronics Power Converter

Converter : Peralatan yang menghubungkan jaringan DC ke jaringan AC dan sebaliknya.

Electronics Power Converter Converter : Peralatan yang menghubungkan jaringan DC ke jaringan AC dan sebaliknya. ~
~ - AC DC Rectification Converter Converter Inversion ~ - - - DC Converter
~
-
AC
DC
Rectification
Converter
Converter
Inversion
~
-
-
-
DC Converter

AC Converter

Direct ~ ~
Direct
~
~

Converter

~ -
~
-
- ~ ~ -
-
~
~
-

Menggunakan “link AC”

Electronics Power Converter Converter : Peralatan yang menghubungkan jaringan DC ke jaringan AC dan sebaliknya. ~
Electronics Power Converter Converter : Peralatan yang menghubungkan jaringan DC ke jaringan AC dan sebaliknya. ~
~ - - ~
~
-
-
~
Electronics Power Converter Converter : Peralatan yang menghubungkan jaringan DC ke jaringan AC dan sebaliknya. ~
Electronics Power Converter Converter : Peralatan yang menghubungkan jaringan DC ke jaringan AC dan sebaliknya. ~

Direct

Menggunakan “link DC”

AC Converter

AC Converter mengubah tegangan AC menjadi tegangan AC kembali dengan level tegangan dan/atau frekuensi yang berbeda

AC converter

AC Converter AC Converter mengubah tegangan AC menjadi tegangan AC kembali dengan level tegangan dan/atau frekuensi

Direct

  • - Phase control

AC Converter AC Converter mengubah tegangan AC menjadi tegangan AC kembali dengan level tegangan dan/atau frekuensi
  • - Cyclo Converter

~ ~
~
~

Indirect

~ - - ~
~
-
-
~
ARMATURE R 1 D 3 D 2 R 3 SCR FIELD R 2 C 1 HAL
ARMATURE
R 1
D
3
D
2
R 3
SCR
FIELD
R 2
C
1
HAL 293
100 K 10 K 2V6027 24 V T 1 1 W 0,1 F 100 K
100
K
10 K
2V6027
24 V
T 1
1 W
0,1 F
100
K

TRIAC

Hal 331